Brillian Vallen Putra Ananda (1), Tedjo Sukmono (2)
General Background Inventory management inefficiencies can lead to either stock accumulation or material shortages if ordering relies purely on subjective estimation. Specific Background PT XYZ operates in the production and distribution of concrete and experiences fluctuating sand material arrivals that complicate optimal order determination. Knowledge Gap Comprehensive quantitative evaluations combining Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock (SS), and Reorder Point (ROP) for sand inventory in concrete manufacturing require systematic validation. Aims This study analyzes sand material control using EOQ, Safety Stock, and ROP methods based on operational data from November 2025 to April 2026 to minimize costs and prevent imbalances. Results The optimal ordering quantity is 2,827.05 tons per order with a frequency of 4 times per period, backed by a safety stock of 2,030.54 tons and a reorder point of 2,339.24 tons, yielding an efficient Total Inventory Cost (TIC) of Rp41,675,539. Novelty The integration of probabilistic safety stock formulas with EOQ and ROP parameters provides an optimized inventory framework tailored specifically to concrete production requirements. Implications Implementing these quantitative methods successfully prevents material imbalances while maintaining continuous and efficient operational continuity for the company.
Key Findings Highlights
The optimal ordering quantity for sand material was calculated at 2,827.05 tons per order with an ideal frequency of 4 times per period.
A safety stock of 2,030.54 tons and a reorder point of 2,339.24 tons were established to mitigate supply uncertainty and delivery delays.
The integrated inventory approach successfully minimized expenditures, achieving an efficient Total Inventory Cost of Rp41,675,539.
Keywords Inventory Control, Economic Order Quantity, Reorder Point, Safety Stock, Material Management
Dalam suatu perusahaan, peramalan digunakan untuk memperkirakan kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap produk pada masa yang akan datang. Peramalan juga dapat membantu perusahaan dalam menyusun perencanaan yang lebih efektif dan efisien, menentukan kebutuhan sumber daya, serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat[1]. Pengendalian persediaan merupakan kegiatan pengelolaan bahan atau barang yang berperan penting dalam mendukung operasional perusahaan. Persediaan perlu dikendalikan secara optimal karena di satu sisi menimbulkan biaya penyimpanan, namun di sisi lain diperlukan untuk menjamin kelancaran pemenuhan permintaan konsumen.[2]. Ketersediaan bahan baku yang terjaga merupakan faktor penting dalam memenuhi permintaan konsumen dan mendukung kelancaran produksi. Pengelolaan persediaan yang tidak optimal dapat menyebabkan kelebihan atau kekurangan stok yang berdampak pada kerugian perusahaan.[3]. Pengendalian persediaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan kelebihan maupun kekurangan stok yang berdampak pada peningkatan biaya dan penurunan pelayanan pelanggan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pemesanan yang optimal untuk memenuhi kebutuhan permintaan secara efektif[4]. Kondisi ini menimbulkan fluktuasi yang besar pada persediaan material sehingga perusahaan mengalami kesulitan dalam menentukan kebijakan pemesanan yang optimal.
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan PT XYZ yang bergerak di bidang produksi dan distribusi beton. Kondisi kedatangan material yang tidak stabil menyebabkan jumlah material yang diterima setiap periode sering mengalami perbedaan, dimana pada waktu tertentu material datang dalam jumlah besar, sedangkan pada periode berikutnya jumlah material yang datang relatif sedikit. Selain itu, perusahaan juga belum memiliki perhitungan yang tepat dalam menentukan jumlah pemesanan material pada setiap periode. Pemesanan masih dilakukan berdasarkan perkiraan dan kondisi kebutuhan saat itu sehingga belum mampu menentukan jumlah pemesanan yang optimal. Kondisi ini menimbulkan fluktuasi yang besar pada persediaan material sehingga perusahaan mengalami kesulitan dalam menentukan kebijakan pemesanan yang optimal.. Apabila terjadi kelebihan persediaan, maka biaya penyimpanan akan meningkat dan material berisiko mengalami penurunan kualitas. Sebaliknya, apabila terjadi kekurangan material, proses produksi dapat terhambat sehingga mempengaruhi kelancaran operasional perusahaan.
Penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan yang optimal sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan [5]. Metode Reorder Point (ROP) digunakan untuk menentukan titik pemesanan kembali agar ketersediaan material tetap terjaga selama lead time[6]. Selain itu, Safety Stock diperlukan sebagai persediaan pengaman untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan dan keterlambatan pasokan material[7]. Metode tersebut jugadigunakan untuk mengurangi risiko kekurangan material akibat peningkatan permintaan atau keterlambatan pengiriman sehingga proses produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan[8]. Melalui penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock diharapkan perusahaan mampu mengoptimalkan pengendalian persediaan material sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan serta kelancaran proses produksi dapat tetap terjaga.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode EOQ, ROP, dan Safety Stock efektif dalam mengoptimalkan pengendalian persediaan, menekan total biaya persediaan, serta menjaga kelancaran proses produksi perusahaan [9].
Selain memberikan penghematan biaya, penggunaan EOQ, ROP, dan Safety Stock juga berkontribusi dalam mengurangi risiko terjadinya kelebihan maupun kekurangan persediaan. Penentuan jumlah pemesanan yang optimal memungkinkan perusahaan menghindari penumpukan material di gudang, sedangkan penetapan titik pemesanan kembali dan persediaan pengaman membantu menjaga ketersediaan material ketika terjadi fluktuasi permintaan atau keterlambatan pasokan dari pemasok[10]. Sementara itu, kajian mengenai penerapan metode tersebut pada industri beton masih relatif terbatas. Padahal, industri beton memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan industri lainnya karena sangat bergantung pada ketersediaan material utama untuk mendukung kelancaran proses produksi dan pemenuhan target proyek[11].
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock pada PT XYZ. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan material yang optimal, menetapkan titik pemesanan kembali yang tepat, serta menghitung kebutuhan persediaan pengaman sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan dan kelancaran proses produksi perusahaan dapat terjaga.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi berdasarkan data yang diperoleh dari objek penelitian dan dianalisis menggunakan pendekatan numerik sehingga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi aktual yang terjadi pada perusahaan. Penelitian ini berfokus pada analisis pengendalian persediaan material pasir menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock untuk memperoleh kebijakan persediaan yang lebih optimal dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan. Penelitian dilaksanakan di PT XYZ dengan objek penelitian berupa material pasir yang digunakan sebagai salah satu bahan baku utama dalam proses produksi beton. Material pasir dipilih karena memiliki tingkat penggunaan yang tinggi dalam kegiatan produksi sehingga ketersediaannya perlu dijaga agar proses produksi dapat berjalan secara berkelanjutan[12].
A. Economic Order Quantity
EOQ adalah metode yang digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan persediaan yang optimal sehingga total biaya persediaan menjadi minimum. Untuk memperoleh jumlah pemesanan yang ekonomis dan meminimalkan total biaya persediaan[13]. Metode EOQ dihitung menggunakan persamaan berikut:
Keterangan:
D = Permintaan/ Demand selama 6 bulan
S = Biaya pemesanan per pesanan
H= Biaya penyimpanan per unit selama periode 6 bulan
Nilai EOQ yang telah diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar dalam menghitung frekuensi pemesanan. Perhitungan frekuensi pemesanan bertujuan untuk mengetahui berapa kali perusahaan harus melakukan pemesanan persediaan dalam satu periode agar kebutuhan bahan baku dapat terpenuhi secara optimal[14]. Adapun rumus frekuensi pemesanan adalah sebagai berikut:
Keterangan :
= Frekuensi Pemesanan
= Jumlah Permintaan (6 Bulan)
EOQ= Jumlah Pembelian Optimal Ekonomis
B. Safety Stock
Sebelum menentukan safety stock perusahaan juga perlu memperhatikan ketidakpastian permintaan yang dapat terjadi selama periode tertentu. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan standar deviasi untuk mengukur tingkat penyimpangan atau variasi data permintaan dari nilai rata-ratanya[15]. Untuk mengetahui besarnya penyimpangan data permintaan terhadap nilai rata-rata, standar deviasi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
= Standar deviasi
= Data ke i
= Rata-rata data
= Jumlah data pengamatan
Nilai standar deviasi yang telah diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar dalam perhitungan safety stock. Safety stock diperlukan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan maupun keterlambatan pengiriman sehingga risiko kehabisan persediaan dapat diminimalkan[13]. Untuk menentukan jumlah persediaan pengaman yang perlu disediakan, safety stock dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
= Standar deviasi permintaan
= Lead time
= Nilai service level
C. Reorder Point
Reorder Point merupakan tingkat persediaan pada saat perusahaan harus melakukan pemesanan kembali, sehingga persediaan yang tersisa cukup untuk memenuhi permintaan selama lead time serta safety stock yang telah ditentukan dengan rumus sebagai berikut[13]:
= Rata-rata permintaan per periode
= Safety Stock
D. Total Inventory Cost
Setelah diketahui titik pemesanan kembali (Reorder Point), maka langkah terakhir dalam analisis pengendalian persediaan adalah menghitung total biaya persediaan. Total biaya persediaan digunakan untuk mengevaluasi efisiensi sistem persediaan yang diterapkan perusahaan. Total Inventory Cost merupakan keseluruhan biaya yang timbul akibat pengelolaan persediaan, yang terdiri dari biaya pemesanan (ordering cost), biaya penyimpanan (holding cost), serta biaya pembelian bahan baku (purchase cost) dalam periode tertentu. Memiliki perhitungan sistematis sebagai berikut[13]:
= Permintaan
= Jumlah pemesanan
= Biaya pemesanan per order
= Biaya penyimpanan per unit
= Harga per unit
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung terhadap aktivitas pengelolaan persediaan material pasir, mulai dari proses penerimaan material, penyimpanan, hingga penggunaan material dalam kegiatan produksi perusahaan. Selain itu, dilakukan wawancara dengan pihak yang bertanggung jawab terhadap pengadaan dan pengendalian persediaan untuk memperoleh informasi mengenai sistem persediaan yang diterapkan perusahaan. Data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan berupa data penggunaan pasir, data pembelian material, data penerimaan material, data persediaan, lead time pengadaan, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan yang digunakan sebagai dasar dalam perhitungan pengendalian persediaan [16].
Data yang digunakan merupakan data aktual perusahaan selama periode November 2025 hingga April 2026. Data tersebut diperoleh secara langsung dari perusahaan sehingga dapat menggambarkan kondisi persediaan material pasir yang sebenarnya selama kegiatan operasional berlangsung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati alur masuk dan keluar material pasir mulai dari material diterima dari pemasok hingga digunakan dalam proses produksi. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi terkait kebijakan pengadaan dan pengendalian persediaan yang diterapkan perusahaan. Sementara itu, dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data historis perusahaan yang berkaitan dengan aktivitas persediaan material sebagai bahan analisis penelitian.
Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock. Metode EOQ digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan material yang ekonomis dengan biaya persediaan minimum. Metode Safety Stock digunakan untuk menentukan jumlah persediaan pengaman guna mengantisipasi ketidakpastian permintaan maupun keterlambatan pengiriman material. Adapun metode Reorder Point (ROP) digunakan untuk menentukan titik pemesanan kembali sehingga perusahaan dapat melakukan pemesanan pada waktu yang tepat dan mengurangi risiko terjadinya kekurangan persediaan selama proses produksi berlangsung[17].
A. Analisis Persediaan Material Pasir
Data persediaan material pasir yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari PT XYZ selama periode November 2025 hingga April 2026 sebagai berikut:
Tabel 1 Data permintaan Pasir pada November-April 2026
Berdasarkan Tabel 1, total permintaan material pasir selama periode November 2025 hingga April 2026 sebesar 11.113 ton dengan rata-rata permintaan 1.852,22 ton per bulan. Permintaan tertinggi terjadi pada bulan April sebesar 2.507,40 ton, sedangkan permintaan terendah terjadi pada bulan Maret sebesar 1.127,94 ton. Selama periode penelitian perusahaan melakukan pemesanan sebanyak 18 kali dengan frekuensi rata-rata 3 kali pemesanan setiap bulan. Selain itu, lead time pengadaan material pasir relatif konstan yaitu 5 hari dengan biaya pemesanan sebesar Rp5.300.000 untuk setiap kali pemesanan.
Tabel 2 Biaya Penyimpanan material Pasir pada November-April 2026
Berdasarkan Tabel 2, total biaya penyimpanan material pasir selama periode November 2025 hingga April 2026 sebesar Rp27.300.000 dengan rata-rata biaya penyimpanan sebesar Rp4.550.000 per bulan. Hasil perhitungan menunjukkan biaya penyimpanan per unit material pasir sebesar Rp2.456,51 per ton. Nilai tersebut digunakan sebagai biaya simpan (holding cost) pada perhitungan EOQ.
B. Perhitungan Economic Order Quantity (EOQ)
Berdasarkan data permintaan material pasir, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan yang telah diperoleh, selanjutnya dilakukan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ). Perhitungan EOQ bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan material pasir yang optimal sehingga total biaya persediaan dapat diminimalkan adalah sebagai berikut:
EOQ = = = 6.925 Ton
Jika D menggunakan periode 6 bulan, maka biaya simpan harus selama 6 bulan:
H = 2.456,51 6
= 14.739, 06
Maka :
EOQ =
EOQ = = 2.827,05 Ton
Berdasarkan hasil perhitungan EOQ, diperoleh jumlah pemesanan material pasir yang optimal sebesar 2.827 ton untuk setiap kali pemesanan. Selanjutnya, nilai EOQ tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan frekuensi pemesanan yang optimal selama satu periode sebagai berikut:
F = = = 3,93 kali
F= Frekuensi Pemesanan
D= Jumlah Permintaan
C. Perhitungan safety stock
Sebelum melakukan perhitungan safety stock, pertama kali yang dilakukan yaitu perhitungan standar deviasi permintaan. Standar deviasi bertujuan untuk mengetahui fluktuasi penggunaan material pasir dalam suatu periode. Nilai tersebut berikutnya digunakan sebagai dasar dalam menentukan besarnya safety stockyang diperlukan perusahaan untuk ketidakpastian permintaan maupun keterlambatan pengiriman material.
Tabel 3 Standar Deviasi
= = = 550,57 Ton
Berdasarkan perhitungan, diperoleh nilai standar deviasi permintaan material pasir sebesar 550,57 ton. Indikator tersebut menunjukkan tingkat variasi permintaan material pasir. Meskipun permintaan mengalami fluktuasi pada setiap bulannya, perbedaannya masih berada dalam rentang rentang yang relatif wajar sehingga pola kebutuhan material pasir cenderung stabil.
Setelah nilai standar deviasi diketahui, langkah berikutnya adalah menghitung besarnya Safety Stock yang harus disediakan perusahaan. Perhitungan Safety Stock dilakukan sebagai berikut:
Safety Stock =
= 550,57 1,65
= 550,57 1,65 2,236
= 2.030,54 Ton
Perhitungan safety stock diambil dari nilai standar deviasi permintaan, service level, dan lead time pemesanan material pasir. Tingkat pelayanan menggunakan 95% diperoleh nilai faktor pengaman (service factor) sebesar 1,65 berdasarkan tabel distribusi normal. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai safety stock sebesar 2.030,54 ton.
D. Perhitungan Reorder Point (ROP)
Perhitungan reorder pointbertujuan untuk menentukan kapan pemesanan kembali dilakukan sehingga perusahaan dapat melakukan pemesanan dalam waktu yang tepat dan menghindari terjadinya kekurangan persediaan selama proses produksi berlangsung, dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
ROP=
=
= 308,70 + 2.030,54
= 2.339,24 Ton
Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai sebesar 2.339,24 ton. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan harus segera melakukan pemesanan kembali saat jumlah pasir di gudang sudah mencapai 2.339,24 ton.
E. Total Inventory Cost (TIC)
Perhitungan TIC dilakukan untuk mengetahui total biaya persediaan yang dikeluarkan berdasarkan jumlah pemesanan optimal yang diperoleh dari nilai EOQ, perhitungan dari TIC sebagai berikut:
Subtitusi: TIC =
Terdapat biaya pemesanan:
= 3,93 5.300.000
= Rp. 20.841.881
Biaya penyimpanan material di gudang:
= 1.413,5 14.739,06
= Rp. 20.833.658
Maka Total Inventory Cost(TIC) menggunakan metode EOQ:
TIC = 20.841.881 + 20.833.658
TIC = Rp 41.675.539
Berdasarkan perhitungan Total Inventory cost(TIC)dengan menggukan metode Economic Order Quantity(EOQ) terhadap persediaan material pasir adalah senilai Rp 41.675.539.
F.. Analisis Hasil Perhitungan EOQ, ROP, Safety Stcok, dan biaya TIC
Setelah hasil perhitungan dari metode EOQ, ROP, safety stock, dan biaya total inventory cost pada persediaan material pasir pada perusahaan PT XYZ, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 3 Hasil Perhitungan EOQ, ROP, Safety Stock, dan TIC
Berdasarkan data pada Tabel 3, terlihat secara jelas integrasi nilai parameter yang dihasilkan dari perhitungan metode EOQ, ROP, dan safety stock dalam mengoptimalkan pengelolaan material pasir pada PT XYZ. Dengan kuantitas pemesanan ekonomis sebesar 2.827 ton yang dilakukan sebanyak 4 kali dalam satu periode, perusahaan dapat menjaga stabilitas stok di gudang secara efisien. Titik pemesanan kembali (ROP) sebesar 2.339 ton yang didukung oleh ketersediaan safety stock sebanyak 2.030 ton menjadi acuan waktu yang presisi bagi perusahaan untuk melakukan pengadaan ulang sebelum terjadi kekosongan material. Akumulasi dari kebijakan pemesanan yang terukur ini pada akhirnya mampu menekan total biaya persediaan (TIC) menjadi sebesar Rp41.675.539.
Secara keseluruhan, hasil analisis ini menunjukkan bahwa penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock memberikan solusi yang jauh lebih terukur dibandingkan dengan kebijakan konvensional perusahaan yang selama ini masih mengandalkan perkiraan semata. Fluktuasi material pasir yang masuk ke gudang dapat diredam secara optimal melalui penyediaan safety stock yang telah memperhitungkan faktor risiko keterlambatan pengiriman dan variasi permintaan. Lebih lanjut, penentuan waktu pemesanan kembali yang didasarkan pada perhitungan ROP mampu menjadi sistem peringatan dini agar proses produksi beton tidak terhambat akibat kendala kehabisan bahan baku. Dengan demikian, kombinasi ketiga metode ini tidak hanya berhasil meminimalkan total biaya persediaan melalui penghematan biaya simpan dan biaya pesan, melainkan juga mampu menjaga kontinuitas operasional PT XYZ secara berkelanjutan dan efisien.
Berdasarkan hasil analisis pengendalian persediaan material pasir di PT XYZ yang dilakukan selama periode November 2025 hingga April 2026, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode kuantitatif mampu mengoptimalkan kebijakan pengadaan persediaan pasir. Perhitungan metode Economic Order Quantity (EOQ) menghasilkan jumlah pemesanan optimal sebesar 2.827,05 ton untuk setiap kali pesan dengan frekuensi ideal sebanyak 4 kali dalam satu periode. Untuk mengantisipasi ketidakpastian pengiriman dan fluktuasi permintaan, perusahaan perlu menyediakan persediaan pengaman (safety stock) sebesar 2.030,54 ton. Berdasarkan volume safety stock tersebut, ditetapkan bahwa titik pemesanan kembali (reorder point) harus dilakukan saat volume material pasir di gudang berada pada tingkat 2.339,24 ton. Implementasi dari seluruh kebijakan persediaan yang terintegrasi ini terbukti mampu meminimalkan pengeluaran perusahaan dengan menghasilkan Total Inventory Cost (TIC) yang efisien, yaitu sebesar Rp41.675.539. Melalui penerapan formula ini, PT XYZ dapat menghindari risiko penumpukan maupun kekurangan material terutama pasir, sekaligus menjaga kelancaran aktivitas operasional dan pelayanan terhadap konsumen.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak manajemen dan seluruh staf PT XYZ yang telah menyediakan data historis persediaan material yang diperlukan dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada dosen pembimbing dan rekan-rekan yang telah memberikan masukan, kritik, serta dukungan teknis selama pelaksanaan kegiatan penelitian hingga artikel ini dapat diselesaikan dengan baik.
M. P. Maharani and T. Sari, "Pengendalian Persediaan Bahan Baku Menggunakan Metode Analisis ABC, Peramalan, dan Economic Order Quantity (EOQ) Pada PT. XYZ," vol. 20, no. 2, 2025.
Tumbel et al., "Pengendalian Persediaan Barang Dagang Pendahuluan," J. Jemai, vol. 2, no. 3, pp. 102–110, 2023.
D. Savira, R. Miharja, and U. S. Karawang, "Pengendalian Persediaan Bahan Baku Menggunakan Metode Analisis AC (Studi Kasus Pada Perusahaan Interior Design 'XYZ' Karawang)," J. Ilmu Manaj. dan Akutansi, vol. 12, no. 2, pp. 119–126, 2024.
E. Simarmata et al., "Perencanaan Pengendalian Persediaan Produk Beras dan Minyak Goreng Menggunakan Metode Reorder Point dan Regresi Linier," JTMTI, vol. 5, no. 2, pp. 821–830, 2026.
Wiranata, D. Widyaningrum, J. T. Industri, and U. M. Gresik, "Analisis Manajemen Persediaan Bahan Baku Kayu Log dengan Metode EOQ dan JIT," vol. VII, no. 4, pp. 3692–3702, 2022.
P. T. Abc, D. Metode, S. Pakpahan, and G. Sirait, "Pengendalian Persediaan Suku Cadang Maintenance di PT," J. Comaise, vol. 07, no. 07, 2022.
Nani, "Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Metode EOQ (Studi Kasus pada Bahan Baku Masakan Ikan Mas di Warung Nasi)," J. Ulil Albab, vol. 1, no. 9, pp. 3092–3099, 2022.
P. Persediaan, B. Baku, and G. Pt, "Pengendalian Persediaan Bahan Baku Gulapada PT. XYZ Musdirwan," J. Innov., vol. 2, no. 1, pp. 778–789, 2022.
R. O. P. Di and R. Kotamobagu, "Pengendalian persediaan obat dengan metode eoq dan rop di rsud kotamobagu," J. Pharmacon, vol. 13, no. 2, pp. 602–610, 2024, doi: 10.35799/pha.13.2024.54784.
O. W. Nugroho, N. S. K. Telaumbanua, T. H. Saepudin, and H. A. Roberta, "Pemenuhan kebutuhan bahan baku produksi sabun menggunakan metode economic order quantity dan safety stock," J. Jenius, vol. 4, no. 1, pp. 31–38, 2023.
J. Ekonomi, M. Akuntansi, and W. Kusnia, "Penerapan Metode Economic Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point (ROP) pada Pengendalian Persediaan Bahan Baku di UMKM Asinan Betawi Dapur Ummi Kuliner," J. Neraca, vol. 2, no. 1, pp. 95–105, 2024.
R, "Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Konsep Economic Order Quantity (EOQ) pada CV Bregas Likupang Timur Minahasa Utara," J. Going Concern, vol. 18, no. 1, pp. 24–34, 2023.
J. Heizer and B. Render, Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management, 11th ed. Boston: Pearson, 2014.
F. W. Harris, "How Many Parts to Make at Once," Factory, Mag. Manag., vol. 10, no. 2, pp. 135–136, 152, 1913.
R. E. Walpole, Probability and Statistics for Engineers and Scientists, 9th ed. Boston: Pearson, 2012.
F. Azzahrah, A. Pawennari, and M. F. Hafid, "Evaluasi Pengendalian Persediaan Pelindung Ore dengan Metode EOQ dan POQ di PT. CNI," J. Japsi, vol. 3, no. 2, pp. 67–73, 2025.
E. Meiyana, B. Hermansyah, and A. N. Azizah, "Analisis dan Perancangan ROP, EOQ, Safety Stock Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada Rumah Makan Warung Bakso," J. Trigonometri, vol. 1, no. 2, pp. 44–53, 2024.