Dhandy Catur Pamungkas (1), Ribangun Bamban Jakaria (2)
General Background Quality control plays a vital role in liquid soap manufacturing to minimize defect rates and satisfy consumer expectations. Specific Background Refill liquid bodywash packaging lines encounter substantial quality deviations during manual filling and assembly processes. Knowledge Gap Existing research lacks quantitative diagnostic insights regarding root causes of defects in high-volume liquid packaging systems. Aims This investigation applies statistical quality control tools to systematically identify primary defect categories and underlying operational failure modes within a dedicated production line. Results Out of 60,792 total produced units, analysis reveals 1,574 defective packages, where untidy sealing accounts for 36% and tilted sealing represents 30% of total failures, alongside missing lot codes (29%) and leaks (5%). Statistical control charts indicate out-of-control conditions on days 6 and 10, while cause-and-effect diagrams link these errors to inadequate press maintenance, unstable sealing temperature, and operator fatigue. Novelty This work establishes empirical control thresholds and multi-factor cause mappings specifically tailored to manual refill packaging operations. Implications Implementing targeted machine maintenance schedules and operator ergonomics directly decreases defect occurrence and improves manufacturing yield.
Key Findings Highlights
Untidy and tilted sealing constitute 66% of all recorded packaging defects on the refill assembly line.
Process stability analysis detects control limit breaches on specific production days due to operational parameters.
Fishbone analysis traces defects to improper press temperatures, dirty sensors, and operator fatigue.
Keywords Statistical Quality Control, Refill Packaging, Defect Reduction, Filling Assembly, Process Stability
Bodywash atau sabun mandi merupakan salah satu produk perawatan kulit untuk kebutuhan setiap hari guna membersihkan kulit dan menjaga kesehatannya dengan cara yang lebih alami [1]. Proses produksi kemasan di industri seagian besar dibedakan menjadi dua proses yaitu pembuatan tube dan pembuatan bottom. Pada proses awal industri memakai mesin tuber guna untuk membuat logo dan tulisan ada kemasan luar dengan dicetak dan di lem. Proses kedua industri memakai mesin bottomer untuk membentuk bottom pada kemasan [2]. Ada banyak jenis produk bodywash yang terjual dipasaran, salah satunya adalah yang diproduksi oleh PT. XYZ. Perusahaan ini bergerak pada bidang kesehatan dan consumer goods. Perusahaan ini dikenal terutama dalam bidang farmasi, kosmetik dan produk konsumen lainnya yang salah satunya adalah produk bodywash. Produk bodywash yang dihasilkan tersedia dalam beberapa varian serta beberapa pilihan seperti bodywash untuk usia remaja atau dewasa dan juga bodywash untuk usia balita, dengan banyaknya inovasi yang diterapkan diharapkan dapat meningkatkan kepuasaan pelanggan serta memenuhi kebutuhan pasar.
Kualitas adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh konsumen untuk membeli suatu produk. Hal tersebut harus menjadi pandangan kritis bagi para produsen. Dengan kata lain kualitas menjadi hal yang penting bagi konsumen dan produsen. Bagi produsen kualitas akan menjamin kelangsungan bisnisnya sehingga mempunyai efek jangka panjang dari hasil produk yang dibuat, sedangkan pelanggan akan merasa puas dengan produk yang berkualitas tinggi. Proses pembelian memberikan dana pada pelaku bisnis sehingga produsen dapat membiayai setiap aspek usahanya termasuk pengembangan proses, pembayaran karyawan, serta keuntungan atau laba yang diterima. Pada dasarnya pengendalian kualitas ditujukan untuk memperbaiki, mengevaluasi dan menghindari terjadinya produk defect. Dengan melakukan improvisasi pada kualitas akan meningkatkan efisiensi proses produksi dan efektifitas proses produksi sehingga produsen akan semakin untung dan konsumen akan merasa puas karena produk yang dibeli memiliki kualitas yang bagus sesuai dengan harapan. Untuk Penjaminan kualitas adalah aktivitas yang bertujuan memberi jaminan kepada konsumen barang atau jasa yang dibeli atau terima sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Adapun alat untuk melakukan penjaminan kualitas meliputi standar proses, standar kerja, instruksi bekerja, dan dokumen-dokumen pendukung lainnya [3].
Pengendalian mutu statistik merupakan upaya pengendalian mutu yang memberikan informasi melalui bentuk statistik. Tujuan dari pengendalian kualitas dengan metode statistik adalah untuk mengetahi penyebab dari variasi dan cacat siklus melalui penelitian informasi. Sehingga dapat diketahui bahwa pengendalian mutu statistik merupakan metode yang bermanfaat untuk memproduksi barang sebagaimana dimaksud dari awal siklus hingga akhir. Gunakan lembar pengujian untuk mengumpulkan data dan gunakan kartu pengendali sebagai analisis apakah produk defect masih dalam batas pengendalian. Selanjutnya, buat diagram Pareto untuk mengidentifikasi jenis kesalahan yang paling umum, dan gunakan diagram tulang ikan atau tulang untuk melacak penyebabnya [4].
Penelitian terkait pengendalian kalitas yang dilakukan oleh R. M Sugengriadi et al., 2024 dengan hasil mengetahui jumlah produk defect wiring harness (body kabel) dengan menggunakan Statistical Quality Control untuk mengendalikan, dan memperbaiki produk defect [5]. Selanjutnya percobaan yang dilakukan oleh Kamal Husein et al., 2021 metode SQC digunakan untuk mengetahui persentase kecacatan, dan faktor utama penyebab kecacatan pada produk bogie menggunakan metode Statistical Quality Control (SQC) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) . Hasilnya adalah cacat yang paling besar pada kualitas bogie adalah Crack (52,2%), diikuti Pinhole (28,9%), Sinter (11,6%), dan Roughness (7,2%). Berdasarkan FMEA diketahui penyebab kecacatan dengan RPN tinggi sebesar 392 yaitu karyawan tidak berhati-hati saat memotong raser [6]. Penelitian terkait pengendalian kulaitas dengan metode SQC juga dilaksanakan oleh Suryatman et al., 2020 Penelitian ini memiliki maksud atau tujuan mengidentifikasi faktor penyebab adanya cacat produk biskuit roma di PT. Mayira Indah Jatake dengan cara metode statistik. Hasil yang didapat dalam proses produksi masih terdapat defect biskuit yang tinggi sebesar 19,28 [7].
Dari penelitan terdahulu yang dijadikan rujukan serta sudah dipelajari, maka penulis bermaksud menggunakan metode SQC dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya produk defect yang sering terjadi pada proses filling-assembling produk bodywash sehingga diharapkan jumlah produk defect dapat berkurang dan proses produksi berjalan lebi efisien.
a.Subject Penelitian
Subject penelitian yang dilibatkan adalah produk bodywash yang dihasilkan dari proses filling-assembling pada line manual di PT. XYZ.
b.Jenis Data
Jenis data yang diperlukan dan dipakai dalam penelitian merupakan data primer atau utama yang berupa data hasil pengamatan lapangan dan wawancara mendalam kepada operator produksi dan pengawas produksi. Sedangkan data sekunder berupa hasil laporan jumlah kerusakan produksi serta studi literature dan penelitian terdahulu.
c. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data ini berfungsi untuk mendapatkan informasi data yang diperlukan sebagai bahan dasar mengetahui penyebab defect pada produk yang dihasilkan. Dalam penelitian yang dilakukan menggunakan metode wawancara langsung kepada atasan produksi serta operator produksi untuk mendapatkan data dan informasi lengkap. Selain itu juga dilakukan observasi atau pengamatan secara langsung dilapangan dengan cara mengamati proses kerja dan sistem kerja dan mengamati jalannya proses produksi dari awal proses hingga akhir proses.
d.Metodelogi
Pengendalian mutu atau kualitas dengan metode SQC memiliki tujuh alat utama yang digunakan sebagai alat untuk mengendalikan serta menganalisis kualitas produk yaitu melalui pengumpulan data dengan check sheet. Diagram Scatter untuk menentukan kemungkinan dimana lokasi permasalahan terjadi dan hubungannnya dengan faktor penyebab. Diagram pareto untuk mengkoordinir kesalahan atau cacat produk serta mengupayakan pemecahan masalah. Histogram yang digunakan untuk menyajikan data secara grafis dengan jelas dan informatif. Peta kendali digunakan untuk megetahui apakah produk yang dihasilkan masih berada pada batas kontrol yang telah dieteapkan hal ini sebagai alat pengontrol. Diagram fishbone atau tulang ikan digunakan untuk mengidentifikasi sebab dan akibat yang dapat memicu terjadinya produk cacat seingga dapat diminimalkan.
Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data hasil pengamatan secara langsung yang dimulai dari tanggal 26 Agustus 2024 sampai dengan tanggal 20 September 2024 dengan mengikuti planning produksi produk bodywash. Data yang terkumpul kemudian dilakukan pengolahan serta analisis menggunakan metode SQC sebagai berikut :
1. Pengumpulan data dengan mengunakan Checksheet
Check sheet digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Biasanya berupa tabel atau fromulir yang berfungsi sebagai pencatatan frekuensi kejadian tertentu, atau untuk memeriksa jumlah item dalam daftar.
Tabel 1. Data Hasil Produksi
Tabel 1. Data Hasil Produksi dapat dilihat hasil pengamatan serta pengumpulan data yng dilakukan selama 30 hari pada produksi produk bodywash pada line filling-assembling manual produk yang dihasilkan memiliki beragam varian dan juga jumlah produksi menghasilkan 60.792 pcs dengan hasil produk setiap shift yang dihasilakn berkisar diantara 1700-6000 pcs tergantung dari size ukuran kemasan. Dari hasil produksi tersebut juga terdapat produk defect yang disebabkan karena bocor, sealing miring, sealin terlipat atau tidak rapi, dan tidak ada nomer inject kode produksi atau inject tidak terbaca dengan jelas.
2. Pengolahan data dengan menggunakan Histogram
Histogram representasi grafis dari distribusi data, biasanya berupa diagram batang. Pada histogram, data dibagi menjadi interval atau kelas dan tinggi setiap batang menunjukkan frekuensi atau jumlah kejadian dalam interval tersebut.
Figure 1.
Diagram 1. Pengolahan Data
Diagram 1. Pengolahan Data dapat diketahui bahwa hasil pengamatan serta pengambilan data selama 30 hari jenis defect produk bodywash yang sering terjadi pada line filling-assembling manual adalah pertama karena bocor dengan jumlah kebocoran 71 pcs. Kedua jenis defect yang disebabkan karena sealing miring sebanyak 476 pcs. Ketiga jenis defect yang disebabkan karena sealingtidak rapi atau terlipat sebanyak 567 pcs, Keempat jenis defect yang disebabkan karena tidak ada inject kode produksi atau kode produksi tidak terbaca dengan jelas sebanyak 460 pcs.
3. Pengolahan data dengan Diagram Pareto
Diagram pareto merupakan gambaran grafis untuk mendapatkan informasi permasalahan atau faktor-faktor paling signifikan pada suatu proses produksi. Prinsip diagram pareto yaitu menerangka bahwa sekitar 80% dari efek berasal dari 20% dari penyebab. Diagram pareto berupa grafik batang yang menunjukkan kategori masalah disumbu horizontal dan frekuensi atau dampak disumbu vertikal.
Figure 2.
Diagram 2. Persentase Kecacatan Produk
Diagram 2. Persentase Kecacatan Produk menunjukkan jenis produk defect tertinggi pada produk bodywash adalah disebabkan oleh sealing terlipat atau tidak rapi dengan persentase defect sebesar 36%. Selanjutnya jenis defect yang disebabkan karrena sealing miring dengan persentase sebesar 30%. Kemudian jenis defect yang disebabkan karena tidak ada inject kode produksi atau inject tidak terbaca dengan jelas dengan persentase 29%. Dan yang terendah adalah jenis defect yang disebabkan karena bocor dengan persentase hanya 5%.
Peta kontrol alat yang diaplikasikan dalam statistik untuk memantau dan mengendalikan proses produksi. Peta kendali berfungsi membantu dalam megidentifikasi variansi dalam suatu proses dan menentukan apakah variansi tersebut disebabkan oleh faktor alami atau faktor khusus. Peta kendali membantu suatu organisasi dalam mendeteksi masalah dan mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki proses.
Dari hasil data yang didapatkan pengendalian kualitas dengan menggunakan peta kendali dilakukan dengan langkah berikut:
Figure 3.
Figure 4.
Diagram 3. Peta Kendali Hasil Produksi
Diagram 3. Peta Kendali Hasil Produksi dapat diketahui bahwa data prosentase kerusakan memiliki data yang beragam. Dari gambar peta kontrol diketahui bahwa jumlah prosentase kerusakaan yang melebihi Upper Contol Level (UCL) terjadi pada hari ke-6 dengan prosentase kerusakaan sebesar 0,66 dan pada hari ke -10 dengan prosentase kerusakan sebesar 0,69. Sedangkan data prosentase pada hari-hari lainnya masih terkendali karena data menunjukkan ditengah antara Upper Control Level (UCL) dan Lower Control Level (LCL).
5. Analisis data menggunakan Diagram Scatter
Diagram scatter atau diagram sebar menggambarkan keterkaitan antara dua variabel. Dalam digram ini setiap titik mewakili satu hubungan nilai dari dua variabel yang diukur dengan satu variabel di sumbu horizontal (sumbu x) dan yang lainnya di sumbu vertikal (sumbu y). Diagram scatter membantu dalam mengidentifikasi pola, tren, atau hubungan potensia antara variabel, seperti korelasi positif, negatif, atau tidak ada hubungan sama sekali.
Figure 5.
Diagram 4. Scatter Plot Hasil Produksi
Diagram 4. Scatter Plot Hasil Produksi menunjukkan hubungan positif karena peningkatan dari variabel X akan diikuti dengan peningkatan dari variabel Y, yang mana berarti semakin banyka jumlah produksi yang dihasilkan maka akan bertambah pula jumlah produk cacat yang akan dihasilkan hal ini menunjukkan adanya hubungan korelasi antara variable tersebut.. Dengan melihat tampilan grafik diagram scatter pada gambar 4 dapat disimpulkan bahwa titik-titik menyebar berhimpitan disekitar garis diagonal , serta penyebarannya mendekati atau hampir mendekati garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal.
6. Analisis dan identifikasi masalah dengan Fishbone Diagram
Diagram sebab akibat atau fishbone berfungsi untuk mengetahui dan mencari tahu penyebab dari akar permasalahan yang terjadi dari beberapa aspek faktor. Baik dari faktor pekerja, mesin, metode yang digunakan, material yang digunakan, dan juga lingkungan kerja.
Diagram Fishbone Defect Bocor
Figure 6.
Diagram 5. Defect Bocor
Diagram 5. Defect Bocor dikarenakan faktor machine yaitu speed press tidak sesuai dengan SOP, dan kurangnya maintanance. Faktor Man yaitu kurangnya keterampilan operator dalam melakukan press kemasan, dan terburu-buru saat melakukan press kemasan.
Diagram Fishbone Defect Sealing Miring
Figure 7.
Diagram 6. Defect Sealing Miring
Diagram 6. Defect Sealing Miring diketahui penyebab dari terjadinya defect sealing miring pada kemasan yaitu dari faktor machine adalah kurangnya maintanance. Faktor methode yaitu speed press tidak sesuai dengan SOP. Dan faktor man yaitu operator kelelahan serta terburu-buru saat melakukan press kemasan.
Diagram Fishbone Defect Sealing Tidak Rapi
Figure 8.
Diagram 7. Defect Sealing Tidak Rapi
Daigram 7. Defect Sealing Tidak Rapi pada kemasan dipengaruhi oleh faktor machine yaitu kurangnya maintanance serta bagian gigi press yang kotor. Dan faktor man yaitu operator kurang terampil dalam melakukan press kemasan serta operator yang terburu-buru saat melakukan press pada kemasan.
Diagram Fishbone Defect Inject Kode Produksi
Figure 9.
Diagram 8. Defect Inject Kode Produksi
Diagram 8. Defect Inject Kode Produksi berupa inject kode produksi tidak ada atau kode produksi tidak terbaca dengan jelas dipengaruhi atau disebabkan oleh faktor machine yaitu sensor inject kotor dan diperlukan pembersihan, muncul warning untuk dilakukan pengisian tinta. Faktor man yaitu operator kelelahan, operator tidak memperhatikan posisi FG dan mesin inject. Faktor methode yaitu posisi FG saat melewati sensor inject tidak tepat. Dan faktor material yaitu tinta pada mesin inject habis.
Berdasarkan data yang terkumpul melalui check sheet diketahui hasil produksi selama periode pengamatan sebanyak 60.792 pcs, dengan total produk defect sebesar 1574pcs. Dari data histogram diketahui jenis produk defect pada produk bodywash karena bocor sebanyak 71 pcs, defect karena sealing miring sebanyak 476 pcs, defect karena sealing terlipat atau tidak rapi sebanyak 567 pcs dan defect karena tidak ada inject kode produksi atau inject tidak terbaca dengan jelas sebanyak 460 pcs. Dari data dari diagram pareto bahwa jenis defect yang tertinggi yaitu terjadi karena sealing terlipat dengan persentase 36%, defect karena sealing miring dengan persentase sebesar 30%, defect karena tidak ada inject kode produksi dengan persentase 29%, dan yang terendah defect karena bocor dengan persentase 5%.
Hasil analisis kerusakan produk dengan peta kendali data prosentase kerusakan yang melebihi Upper Contol Level (UCL) terjadi pada hari ke-6 dengan prosentase kerusakaan sebesar 0,66 dan pada hari ke -10 dengan prosentase kerusakan sebesar 0,69. Sedangkan data prosentase pada hari-hari lainnya masih terkendali karena data menunjukkan ditengah antara Upper Control Level (UCL) dan Lower Control Level (LCL). Bentuk diagram scatter yang dihasilkan menunjukkan bahwa peningkatan jumlah produksi akan diimbangi dengan peningkatan jumlah produk cacat hal ini berarti terajadi hubungan korelasi antara dua varabel tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya defect pada produk menurut diagram fishbone atau diagram sebab akibat defect produk bocor yaitu machine dan man. Defect sealing miring dipengaruhi oleh methode, machine dan man. Defect produk sealing tidak rapi atau terlipat dipengaruhi oleh machine dan man. Sedangkan defect produk tidak ada inject kode produksi atau kode tidak terbaca dengan jelas dipengaruhi oleh methode, machine, man dan material.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih penulis aturkan kepada PT. Tempo Utama Sejahtera dan pihak-pihak terkait yan telah memfasilitasi dan membantu berjalannya penelitian ini.
K. Mulyono and Y. Apriyani, "Analisis Pengendalian Qualitas Produk dengan Metode SQC (Statistical Quality Control)," JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri, vol. 2, no. 1, pp. 41–50, 2021, doi: 10.37373/jenius.v2i1.93.
K. Husein and R. Rochmoeljati, "Meminimasi Cacat Produk Bogie Tipe S2E-9C Menggunakan Metode Statistical Quality Control (SQC) dan Failure Mode Effect Analysis (FMEA) pada PT XYZ," Juminten, vol. 2, no. 2, pp. 168–179, 2021, doi: 10.33005/juminten.v2i2.250.
M. F. Adi, A. W. Rizqi, and D. Andesta, "Pengendalian Kualitas Produk Kardus Menggunakan Metode Statistical Quality Control pada CV. XYZ," Jurnal Serambi Engineering, vol. 7, no. 2, pp. 3155–3162, 2022.
M. H. C. Dinata, D. Andesta, and H. Hidayat, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk Tangga Besi PT. AJG untuk Mengurangi Kecacatan Produk Menggunakan Metode Statistik Quality Control (SQC)," Journal of Industrial Engineering and Operation Management, vol. 5, no. 1, pp. 27–36, 2022, doi: 10.31602/jieom.v5i1.7181.
Oktavia, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk Menggunakan Pendekatan Statistical Quality Control (SQC) di PT. Samcon," Industri Inovatif: Jurnal Teknik Industri, vol. 11, no. 2, pp. 106–113, 2021, doi: 10.36040/industri.v11i2.3666.
H. A. Fadhilah and W. Wahyudi, "Analisa Pengendalian Kualitas Produk Packaging Karton Box PT. X dengan Menggunakan Metode Statistical Quality Control (SQC)," Jurnal Serambi Engineering, vol. 7, no. 2, pp. 2948–2953, 2022, doi: 10.32672/jse.v7i2.3987.
N. Tsaniya, T. Aspiranti, and A. Mustika, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk Brokoli dengan Menggunakan Metode SQC untuk Meminimumkan Produk Cacat," Prosiding Manajemen, vol. 6, no. 2, pp. 832–837, 2020, doi: 10.29313/.v6i2.23209.
Julianda, T. Aspiranti, and U. A. A. Anwar, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan Menggunakan Metode Statistical Quality Control untuk Meminimumkan Jumlah Produk Cacat," Bandung Conference Series: Business and Management, vol. 4, no. 1, pp. 677–682, 2024, doi: 10.29313/bcsbm.v4i1.11682.
D. T. Setiyawan, S. Soeparman, and R. Soenoko, "Minimasi Waste untuk Perbaikan Proses Produksi Kantong Kemasan dengan Pendekatan Lean Manufacturing," Jurnal Rekayasa Mesin, vol. 1, no. 1, pp. 8–13, 2013.
M. R. Darmawan, A. W. Rizqi, and M. D. Kurniawan, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk Tempe dengan Metode Statistical Quality Control (SQC) di CV. Aderina," SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri, vol. 19, no. 2, pp. 295–300, 2022.
H. C. Wahyuni and W. Sulistyowati, Buku Ajar Pengendalian Kualitas Industri Manufaktur dan Jasa. Sidoarjo, Indonesia: UMAHA Press, 2020.
Ramdani, M. Satori, and N. R. A. Ahmad, "Perbaikan Kualitas pada Produk Pembuatan Tas Backpack Menggunakan Metode Statistical Quality Control (SQC) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)," Prosiding Teknik Industri, vol. 6, no. 1, pp. 9–17, 2020.
L. Sahara, S. P. Lestari, and B. Barlian, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan Metode Statistical Quality Control (SQC) pada Perusahaan Roti Aldina Bakery Kota Tasikmalaya," PPIMAN: Pusat Publikasi Ilmu Manajemen, vol. 1, no. 4, pp. 214–231, 2023, doi: 10.59603/ppiman.v1i4.137.
T. H. Suryatman, M. E. Kosim, and S. Julaeha, "Pengendalian Kualitas Produksi Roma Sandwich Menggunakan Metode Statistik Quality Control (SQC) dalam Upaya Menurunkan Reject di Bagian Packing," Jurnal Industri & Manufaktur, vol. 5, no. 1, pp. 1–8, 2020, doi: 10.31000/jim.v5i1.2429.
P. Rahayu, "Analisis Pengendalian Kualitas Produk Menggunakan Metode Statistical Quality Control (SQC) pada Divisi Curing Plant PT. Gajah Tunggal, Tbk," Jurnal Teknik, vol. 9, no. 1, pp. 1–10, 2020, doi: 10.31000/jt.v9i1.2278.
R. M. Sugengriadi and M. Luthfi, "Menurunkan Produk Defect pada Assy 32100-K2V-N410-IN dengan Menggunakan Metode SQC (Statistical Quality Control) dan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) di PT XYZ," Jurnal Infotex, vol. 2, no. 2, pp. 177–190, 2024.
N. Yuniarsih, E. A. Kristiani, F. S. Nur, I. N. Fitri, and S. A. Noviyanti, "Literature Review Artikel: Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Body Wash Ekstrak Etanol Bunga Telang," Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, vol. 9, no. 16, pp. 1–23, 2023.