Login
Section Innovation in Mechanical Engineering

Dough Mixer Machine Design Increases Cracker Production Capacity

Desain Mesin Pengaduk Adonan Meningkatkan Kapasitas Produksi Kerupuk
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Muhammad Anggie Cahya Saputra (1), Mulyadi (2), A’rasy Fahruddin (3), Edi Widodo (4)

(1) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(3) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(4) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Productivity and consistency are essential factors in food processing industries, particularly in small and medium enterprises. Specific Background: Manual dough mixing in cracker production often results in low efficiency and inconsistent product quality. Knowledge Gap: Limited studies focus on practical machine design that addresses both productivity and consistency in small-scale cracker production. Aims: This study aims to design and develop a dough mixer machine to improve production capacity and mixing consistency. Results: The developed machine demonstrates improved mixing performance, increased production capacity, and more uniform dough compared to manual processes. Novelty: The study presents a practical machine design tailored for small-scale industries with specific capacity considerations. Implications: The results provide a reference for implementing appropriate technology to support productivity improvement in small-scale food production.


Keywords: Dough Mixer, Machine Design, Productivity, Small Industry, Food Processing


Key Findings Highlights


Mechanical system enables higher output compared to manual mixing


Process uniformity improves through controlled rotation mechanism


Design supports small-scale production requirements

Downloads

Download data is not yet available.

Fabrication of a 10kg Capacity Fish Cracker Dough Mixer for SME Scale [ Fabrikasi Mesin Pengaduk Adonan Kerupuk Ikan Kapasitas 10kg untuk skala UMKM ]

Muhammad Anggie Cahya Saputra1), Mulyadi2) A’rasyFahruddin3) Edi widodo4)

1)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

2)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

3)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

4)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Anggicahya129@gmail.com Mulyadi@umsida.ac.id arasyFahruddin@umsida.ac.id Ediwidodo@umsida.ac.id

Abstract . This research is motivated by the manual process of mixing fish cracker dough, which is currently practiced. This manual process is considered suboptimal because it takes up to 60 minutes for 6 kg of dough, poses a risk to sterility, and is labor-intensive. The aims of this research are to design, manufacture, and test an efficient and effective fish cracker dough mixing machine, considering aspects of design, manufacturing process, production costs, and the performance of the dough on the expansion quality of the crackers, to produce a final product that is technically and economically feasible. The research methods used include observation of the manual mixing process, literature review related to mixing machines, identification of necessary tools and materials, stages of the machine manufacturing process, and performance testi ng of the manufactured machine.

The results of this research detail the machine components such as the frame, mixing tank, mixing blade, electric motor, gearbox, and other supporting systems, with the main drive being a 0.5 HP electric motor transmitted using a speed reducer (gearbox) to transfer rotation through a chain to the mixing shaft using a sprocket. The manufacturing process stages include measurement, cutting, welding, turning, and assembly of components with a total working time of approximately 15.7 hours. The manufacturing cost of the machine is IDR 4,134,075, and the cost of goods sold is IDR 5,517,013 with a profit margin of 20%. Economic simulations indicate that this machine can reduce dependence on manual labor, improve quality consistency, and accelerate the production process. Thus, this prototype has the potential to be an innovative solution for SMEs in optimizing fish cracker production efficiently and sustainably.

Keyword – Manufacturing Process, Performance test , calculation HPP, Efficiency, SMEs

Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi pada proses pengadukan adonan kerupuk ikan yang selama ini dilakukan secara manual, Proses manual yang selama ini digunakan dinilai tidak optimal karena memakan waktu hingga 60 menit untuk 6 kg adonan, berisiko terhadap sterilitas, dan menguras tenaga kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang, dan menguji mesin pengaduk adonan kerupuk ikan yang efisien dan efektif, dengan mempertimbangkan aspek desain, proses manufaktur, biaya produksi, serta performa hasil adonan terhadap kualitas pemekaran kerupuk, guna menghasilkan produk akhir yang layak secara teknis dan ekonomis. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi proses pengadukan manual, studi literatur terkait mesin pengaduk, identifikasi alat dan bahan yang dibutuhkan, tahapan proses manufaktur mesin, dan pengujian performance mesin yang telah dibuat. Hasil penelitian ini menunjukkan rincian komponen-komponen mesin seperti rangka, bak pengaduk, blade pengaduk, motor listrik, gearbox dan sistem pendukung lainnya, dengan penggerak utama berupa motor listrik bertenaga 0,5 HP yang ditransmisikan menggunakan speed reducer atau (gear box) meneruskan putaran melalui rantai ke poros pengaduk menggunakan sprocket. tahapan proses manufaktur yang meliputi pengukuran, pemotongan, pengelasan, pembubutan, dan perakitan komponen dengan total waktu pengerjaan sekitar 15,7 jam. Dengan besaran biaya manufaktur mesin sebesar Rp 4.134.075 dan harga pokok penjualan sebesar Rp 5.517.013 dengan mengambil keuntungan sebanyak 20%. Simulasi ekonomi mengindikasikan bahwa mesin ini mampu mengurangi ketergantungan tenaga manual, meningkatkan konsistensi kualitas, dan mempercepat proses produksi. Dengan demikian, prototipe ini berpotensi menjadi solusi inovatif bagi UMKM dalam mengoptimalkan produksi kerupuk ikan secara efisien dan berkelanjutan.

Kata Kunci – Proses manufaktur, Uji Performa, Perhitungan HPP, Efisiensi, UMKM,

I. Pendahuluan

Proses manufaktur pada mesin pengaduk adonan kerupuk ini dimulai dari desain perencanaan dan cara kerja mesin, serta pemilihan material yang sesuai kebutuhan 8. Proses manufaktur ini bertujuan untuk membentuk suatu mesin yang terpisah dari bagian bagiannya dan tersusun menjadi unit mesin yang berfungsi sesuai karakteristiknya prosedur ini mencakup persiapan seluruh peralatan dan komponen mesin 9. Mesin pengaduk adonan kerupuk ikan kapasitas 10 kg membutuhkan beberapa tahap pembuatan, termasuk pemotongan, pengeboran, pembubutan, milling, perakitan permanen (dengan pengelasan) dan non-permanen (dengan baut dan mur), dan proses finishing 10. Cara kerja mesin pengaduk adonan kerupuk ikan adalah dimulai dari putaran motor listrik bertenaga 0,5 hp yang ditransmisikan ke speed reducer (gear box) melalui bantuan pulley dan sabuk V.Speed reducer (gear box) meneruskan putaran melalui rantai ke poros pengaduk menggunakan sprocket 11.

  • Kabupaten Pasuruan memiliki banyak potensi terkait hal perikanan maupun kelautan. Sehingga memberikan kesempatan bagi warga setempat tentang memulai usaha dibidang pengolahan 1. Salah satu produk yang diunggulkan yaitu kerupuk ikan2.Pembuatan kerupuk ikan memilliki beberapa tahap seperti, pencampuran (mixing), pencetakan (printing), pengukusan (steaming), pengeringan (drying), dan penggorengan (frying).
  • Pada proses pencampuran ialah tahapan dimana membutuhkan tenaga besar dikarenakan menggunakan tenaga manusia, seperti pengadukan menggunakan tangan atau menginjak-injak adonan menggunakan kaki untuk mendapatkan adonan yang rata. Cara tersebut sangat berdampak pada keseterilan adonan kerupuk, apabila diketahui oleh pelanggan akan mempengaruhi selera dan minat secara tidak langsung 3. Selain itu, proses pengadukan secara manual ini membutuhkan waktu kurang lebih 50-60 menit hanya untuk mencampurkan 6 kg adonan, sehingga secara waktu sangat tidak efisien 4. memungkinkan sangat berpengaruh pada kinerja yang dilakukan 5. Faktor yang menentukan kualitas adonan kerupuk yang baik, antara lain dengan komposisi yang benar, ukuran nilai yang tepat, pencampuran dengan baik dan proses yang sesuai.
  • Dengan menerapkan teknologi dalam proses pengelolaan, terutama dalam pengadukan adonan, diharap dapat menghadapi masalah keterbatasan. Penerapan pada mesin pengaduk adonan ini diharapkan mampu mempercepat metode pengadukan adonan, meningkatkan konsistensi pencampuran bahan, serta mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. teknologi ini juga diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dan peningkatan volume produksi tersebut 6.
  • Manufaktur merupakan proses pengubahan bahan mentah menjadi produk jadi dengan melewati serangkaian tindakan yang memerlukan energi, dimana menciptakan perbedaan pada sifat fisik atau kimia pada bahan tersebut. manufaktur meliputi berbagai rangkaian operasi dan kegiatan saling terkait, termasuk desain, pemilihan bahan, perencanaan (planning), pembuatan (manufacturing), penjamianan kualitas, serta pemasaran dan pengolahan produk tersebut 7.
  • Dalam pembuatan kerupuk ikan, mesin pengaduk adonan adalah solusi penting untuk mengatasi masalah efisiensi waktu, tenaga yang digunakan dan kualitas hasil. Tanpa mesin ini, pengadukan manual memakan waktu lama dan tenaga yang diperlukan banyak, seringkali menghasilkan adonan yang tidak merata. Dengan adanya mesin pengaduk, diharapkan proses pembuatan adonan kerupuk ikan menjadi lebih cepat, efisien, dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas 12. Dari pembahasan latar belakang diatas maka tujuan dari penelitian ini ialah untuk pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan dengan kapasitas 10 kg, serta melakukan pengelompokan komponen mesin yang dibuat dan dibeli, melakukan pengujian performa dengan variasi waktu pengadukan, menghitung waktu proses manufaktur, serta menghitung biaya pembuatan dan melakukan perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan).

II. Metode

A. Diagram Alir Penelitian

Proses penelitian yang dilakukan mengikuti alur yang ditunjukkan dalam diagram di bawah ini.

Gambar1.Diagram alir

B . Observasi dan Studi Literatur

Observasi meliputi berbagai sumber yang relevan mengenai teknologi pengadukan adonan, termasuk penelitian sebelumnya tentang mesin pengaduk dan inovasi dalam industri makanan serta dilakukan pengamatan ditempat sekitar. Literatur yang mencakup jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang membahas prinsip-prinsip mekanika dan proses mesin.

C. Bill of Material

Bill of Materials (BOM) adalah daftar lengkap komponen dan material yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu produk yang merinci seluruh material dari komponen yang diproduksi sendiri maupun komponen beli. Daftar ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan volume produksi yang diinginkan.

D . Alat dan Bahan

Alat yang diguanakan dalam pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan adalah seperti pada Tabel 1. Adapun bahan yang digunakan untuk membuat mesin pengaduk adonan kerupuk ikan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel1. Alat yang digunakan

No Nama alat No Nama alat
1 Mesin las listrik 7 Jangka sorong
2 Mesin gerinda 8 Toolkits
3 Mesin Bubut 9 Spidol
4 Mesin bor 10 Penitik
5 Mesin roll 11 Palu
6 Meteran roll 12 Penggaris siku

Tabel2. Bahan yang digunakan

No Nama bahan No Nama bahan
1 Besi siku 10 Rantai
2 Plat stainles steel 11 Bearing
3 Besi as 12 Baut
4 Pipa stainles steel 13 Oli gearbox
5 Dinamo listrik 14 Cat
6 Gear box 15 Saklar
7 Pulley 16 Kabel
8 Sprocket 17 Steker
9 V belt

E . Proses Manufaktur

Pada tahap ini, proses manufaktur dilakukan di bengkel terdekat dari pembuat untuk mempermudah proses. Proses dimulai dengan menyiapkan bahan kemudian dilakukan proses pemotongan material dan pengelasan untuk menyambung komponen, dan proses pengeboran. Setelah selesai kemudian dilakukan proses assembly pada komponen mesin.

F . Uji P erfoma

Pengujian performa pada mesin pengaduk adonan kerupuk ikan ini berfungsi apakah mesin yang dibuat sudah sesuai kriteria. Pengujian ini dilakukan dengan pengadukan pada mesin tersebut dengan kapasitas adonan yang ditentukan dengan waktu pengadukan yang berbeda beda guna untuk mencari hasil waktu kalis pada mesin tersebut, dan dilakukan pengujian pada adonan menggunakan alat texture analyzer, dan dilakukan perhitungan presentase pertambahan kerupuk setelah penggorengan pada setiap adonan.

Tabel 3.Uji performa

No Adonan (Kg) Waktu (menit) Kualitas kalis
1. 10 10 KKP
2. 10 20 KKP
3. 10 30 KKP
4. 10 40 KKP

Kriteria kualitas potongan (KKP):

Bagus : hasil pengadukan berupa adonan yang homogen dan tekstur tidak mudah pecah

Lumayan Bagus : hasil pengadukan berupa adonan yang homogen dan tekstur masih sedikit pecah

Kurang Bagus : hasil pengadukan berupa adonan yang belum homogen dan tekstur mudah pecah

Berikut untuk menghitung pertambahan lebar pada kerupuk dan presentase pada hasil penggorengan kerupuk memiliki rumus dasar untuk menghitung:

pers 1

Dimana:

ΔW= Jumlah pertambahan lebar (cm)

W1= Ukuran sebelum penggorengan (cm)

W2= Ukuran setelah penggorengan (cm)

  1. Pertambahan lebar
  2. Presentase pertambahan panjang

pers 2

Dimana:

ΔW= Jumlah pertambahan lebar (cm)

W1= Ukuran sebelum penggorengan (cm)

III. Hasil dan Pembahasan

A. Bill of Material

Gambar 2.Bill of Material mesin pengaduk adonan kerupuk ikan

Tabel 4.Komponen mesin pengaduk adonan kerupuk ikan

No Komponen Spesifikasi Manufaktur Beli
1 Pulley 1 3 inc
2 Baut, mur M8
3 V belt A 38
4 Pulley 2 4 inc
5 Gearbox wpa 60 Rasio 1:10
6 Rangka Besi siku 3mm (50 mm x 50 mm)
7 Bearing UCP 205-16
8 Dinamo listrik 0,5 Hp 1400 Rpm
9 Tutup bak Stainless stell 304
10 Bak pengadukan Stainless stell 304
11 Cover transmisi Stainless stell 304
12 Gear Sprocket 1 6 cm
13 Gear Sprocket 2 17 cm
14 Bearing UCFL 205-16
15 Blade pengaduk Stainless stell 304
16 Rantai -

Tabel 5.Proses manufaktur

No Komponen Manufaktur
1 Rangka Las SMAW, Gerinda, Bor
2 Bak pengaduk Las SMAW, Gerinda, Bor
3 Tutup bak, cover sistem transmisi Las SMAW, Gerinda, Bor
4 Blade pengaduk Las SMAW, Gerinda, Milling, Bubut, Tap, Bor

Untuk proses manufaktur pada mesin pengaduk adonan kerupuk ikan dapat dilihat pada gambar 2

Gambar 3.Proses Manufaktur Mesin Pengaduk Adonan Kerupuk Ikan

Untuk hasil proses manufaktur mesin pengaduk adonan kerupuk ikan dapat dilihat pada gambar 3

Gambar 4. Hasil Proses Manufaktur 1. (Tampak depan) 2. (Tampak samping) 3. (Tampak isometri)

B . Uji performa

Pengujian performa ini dilaksanakan dengan sesuai ketentuan yang sudah dijabarkan diatas. Dengan bahan yang digunakan meliputi: daging ikan dan udang, tepung tapioka, bawang putih, penyedap rasa, telur dan air. Berikut hasil pada pengujian performa mesin pengaduk adonan kerupuk ikan:

Tabel 6.Uji performa

No Adonan (Kg) Waktu (menit) Kualitas kalis
1. 10 10 Kurang bagus
2. 10 20 Kurang bagus
3. 10 30 lumayan bagus
4. 10 40 bagus

Berikut merupakan gambar hasil pengadukan pada pengujian performa, dapat dilihat pada tabel :

Tabel 7.Hasil pengadukan

Waktu pengadukan(menit) Hasil pengadukan Hasil analisa
10 Pada hasil pengadukan adonan kerupuk ikan mendapatkan kualitas yang belum baik dikarenakan adonan terlihat tidak tercampur dan masih berupa tepung kering dan beberapa sudah mulai lembap.
20 Pada hasil pengadukan adonan kerupuk ikan mendapatkan kualitas yang belum baik, dikarenakan adonan masih belum tercampur rata masih terdapat adonan kering yang belum terbasahi sempurna, serta adonan masih banyak bagian yang rapuh dan mudah pecah.
30 Pada hasil pengadukan adonan kerupuk ikan mendapatkan kualitas yang lumayan baik dikarenakan adonan mulai tercampur rata tetapi dengan tekstur yang masih rapuh dan mudah pecah saat ditekan.
40 Pada hasil pengadukan adonan kerupuk ikan mendapatkan kualitas yang sangat baik adonan terlihat homogen dan merata tanpa ada bagian gumpalan tepung yang kering dan tekstur terasa kalis dan adonan tidak mudah rapuh serta pecah saat dibentuk.

Tekstur merupakan parameter yang erat kaitannya dengan kualitas kalis, hasil rata-rata adonan kerupuk yang memenuhi standar (SNI) dengan nilai sensori adonan kerupuk udang/ikan yaitu minimal 7N 13. Jika hasil menunjukkan jauh diatas nilai minimum bisa dinyatakan hasil pengujiannya kurang bagus. Berikut merupakan tabel hasil pengujian tekstur.

Tabel 8.Hasil Pengujian Texture Analyzer

No Variasi Pengadukan(Menit) Hasil Pengujian
1. 10 50.09 N
2. 20 43.08 N
3. 30 29.18 N
4. 40 10.99 N

Berikut merupakan gambar pengujian menggunakan alat Texture Analyzer:

Gambar 5. Pengujian Tekstur A.(Alat Texture Analyzer) B. (Hasil Parameter Pengujian)

Berikut merupakan gambar hasil perbedaan penggorengan setiap varisi adonan, dapat dilihat pada tabel :

Tabel 9. Hasil Penggorengan

N0 Waktu pengadukan kerupuk sebelum digoreng kerupuk setelah digoreng Analisa
1. 10 terdapat selisih ukuran setelah penggorengan sebanyak 2,5 cm, dimana sebelum penggorengan berukuran 5,1 cm menjadi 7,6 cm setelah penggorengan
2. 20 terdapat selisih ukuran setelah penggorengan sebanyak 2,9 cm, dimana sebelum penggorengan berukuran 5,1 cm menjadi 8 cm setelah penggorengan
3. 30 terdapat selisih ukuran setelah penggorengan sebanyak 4,3 cm, dimana sebelum penggorengan berukuran 5,1 cm menjadi 9,4 cm setelah penggorengan.
4. 40 terdapat selisih ukuran setelah penggorengan sebanyak 6,7 cm, dimana sebelum penggorengan berukuran 6,8 cm menjadi 12,1 cm setelah penggorengan

Untuk memungkinkan perbandingan kerupuk berdasarkan perubahan ukuran sebelum dan sesudah penggorengan secara akurat, penelitian ini dibatasi pada sampel kerupuk dengan dimensi awal yang seragam dan digoreng pada kondisi yang identik, dengan pengukuran lebar dilakukan pada titik yang sama menggunakan penggaris ukur.

Berikut hasil perhitungan pertambahan lebar pada kerupuk dan presentase pada hasil penggorengan kerupuk:

  • Presentase pertambahan lebar setelah penggorengan.

a. Perubahan lebar

ΔW = W2​−W1​

= 7,6 cm − 5,1 cm = 2,5 cm

b. Presentase pertambahan lebar

x 100% =

x 100% = 49%

a. Perubahan lebar

ΔW = W2​−W1​

= 8 cm – 5,1 cm = 2,9 cm

b. Presentase pertambahan lebar

x 100% =

x 100% = 56,8%

a. Perubahan lebar

ΔW = W2​−W1​

= 9,4 cm – 5,1 cm = 4.3 cm

b. Presentase pertambahan lebar

x 100% =

x 100% = 84,3%

  1. Hasil pada pengadukan 10 menit.
  2. Hasil pada pengadukan 20 menit.
  3. Hasil pada pengadukan 30 menit.
  4. Hasil pada pengadukan 40 menit.

a. Perubahan lebar

ΔW = W2​−W1​

= 12,1 cm – 6,8 cm = 6,8 cm

b. Presentase pertambahan lebar

x 100% =

x 100% = 98,5 %

C . Perhitungan biaya manufaktur

Perhitungan biaya manufaktur yang diperlukan untuk membuat prototype mesin pengaduk adonan kerupuk ikan ini terdiri dari beberapa komponen utama: waktu proses pengerjaan, biaya bahan, biaya listrik, dan upah tenaga kerja. Biaya bahan mencakup semua material dan komponen yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara biaya listrik dihitung secara matematis 14. Biaya upah kerja dihitung berdasarkan tarif sesuai UMR pada kabupaten Pasuruan dan perhitungan harga pokok penjualan (HPP).

Tabel 10. Perhitungan waktu aktual

No. Komponen Proses manufaktur Waktu cycle(menit) Waktu set-up(menit) Waktu tunggu (menit) Waktu total(menit)
1. Rangka mesin GerindaLas SMAWBorPengecatan 55352515 2555 95 242
2. Bak pengaduk Las SMAW GerindaRollingBor 3040510 5253 90 190
3. Tutup bak, cover sistem transmisi Las SMAW GerindaBor 203010 555 70 145
4. Blade pengaduk Las SMAWGerindaBubut TapMillingBor 152520253014 55104105 120 288
5 Assembly 45 10 25 80
Waktu total 945

Waktu proses manufaktur pada komponen mesin pengaduk adonan kerupuk yaitu :

1. Rangka = 242 menit

2. Poros, Blade pengaduk = 288 menit

3. Bak pengaduk = 190 menit

4. Tutup bak, Cover sistem transmisi = 145 menit

5. Assembly = 80 menit

Dari perhitungan waktu proses pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan diperlukan sejumlah waktu sebanyak 945 menit, untuk mengkonversi menit ke jam sebagai berikut:

Total waktu manufaktur = = = 15,75 jam

Tabel 11. Perhitungan biaya bahan baku

No Nama komponen Spesifikasi Jumlah Harga (Rp)
Besi siku 3 mm (50 x 50 mm) 7800 mm 330.000
Plat stainless stell 304 (1,2 mm) 1200 x 1200 mm 650.000
Besi as Ø 25 mm 700 mm 96.900
Plat strip stainless stell 304 (4 mm) 30 x 600 mm 35.500
Pipa stainless stell Ø 27 mm 500mm 75.000
Pipa holo stainless steel 20 x 40 mm 2000 mm 199.000
Bearing UCFL 205-16 - 66.000
Bearing UCP 205-16 - 62.000
Pulley 3 inchi - 28.000
Pulley 4 inchi - 38.000
Sprocket 1 6 cm - 34.000
Sprocket 2 17 cm - 50.000
V belt A 38 - 27.000
Rantai - - 57.000
Motor listrik 0,5 HP 1400 Rpm - 1.100.000
Gear box Wpa 60 ratio 1:10 - 665.000
Cat - - 55.000
Steker Broco - 9.000
Saklar On-Off Handle 15 A - 31.000
Kabel NYM 2 x 1,5 mm 2000 mm 64.000
Oli Gear box oil - 15.000
22 Elektroda NK 68 E 6013 1 38.000
23 Elektroda Niko E 308 S 1 156.000
24 Baut, mur stainless stell M8 50 mm 2 8.240
25 Baut, mur stainless stell M8 30 mm 4 13.200
26 Baut, mur M8 40 mm 10 6.500
27 Baut, mur M8 30 mm 2 1.260
28 Baut, mur M10 60 mm 4 4.500
29 Pisau gerinda potong - 5 15.000
30 Pisau gerinda amplas - 2 10.000
31 Pisau gerinda poles - 1 16.400
Total biaya 3.951.500
  1. Perhitungan waktu pembuatan alat
  2. Perhitungan biaya bahan baku
  3. Perhitungan tarif pemakaian listrik

Upaya untuk menghitung biaya listrik yang digunakan, pentingnya harus mengetahui tarif lsitrik yang berlaku sesuai ketentuan. Berdasarkan ketentuan saat ini, yang ditetapkan sebesar Rp 1.699 Rupiah per kWh.

Berikut adalah perhitungan biaya pemakaian listrik pada proses pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan:

Daya mesin = 0,9 kW

Lama waktu pengerjaan = 1,6 jam

Biaya listrik = 0,9 x 1.699 x 1,6

= Rp 2.466

Daya mesin = 0,84 kW

Lama waktu pengerjaan = 2,5 jam

Biaya listrik = 0,84 x 1.699 x 2,5

= Rp 3.567

Daya mesin = 0,4 kW

Lama waktu pengerjaan = 1 jam

Biaya listrik = 0,4 x 1.699 x 1

= Rp 679

Daya mesin = 6 kW

Lama waktu pengerjaan = 0,3 jam

Biaya listrik = 6 x 1.699 x 0,3

= Rp 3.058

  1. Tarif listrik mesin las
  2. Tarif listrik mesin gerinda
  3. Tarif listrik mesin bor
  4. Tarif listrik mesin bubut
  5. Tarif listrik mesin Frais

Daya mesin = 1,5 kW

Lama waktu pengerjaan = 0,5 jam

Biaya listrik = 1,5 x 1.699 x 0,5

= Rp 1.274

Tabel 12. Perhitungan biaya listrik

No Mesin Daya Listrik per kWh Lama pengerjaan Tarif listrik
1 Las listrik 0,9 kW Rp 1.699 1,6 jam Rp 2.446
2 Gerinda 0,84 kW Rp 1.699 2,5 jam Rp 3.567
3 Bor 0,4 kW Rp 1.699 1 jam Rp 679
4 Bubut 6 kW Rp 1.699 0.3 jam Rp 3.058
5 Milling 1,5 KW Rp 1.699 0,5 jam Rp 1.274
Total biaya Rp 11.474
  1. Perhitungan baiaya upah tenaga kerja

Dari tabel 5 bahwa waktu pengerjaan yang dibutuhkan untuk pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan yaitu 15,75 jam. Untuk mengkonversi jam ke hari, jika jumlah jam kerja perharinya yaitu 8 jam. dari perhitungan waktu pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan menggunakan rumus sebagai berikut.

Total waktu manufaktur = = = 1,9 hari

Sisa waktu : 0,9 x 8 = 7,2 jam

Jadi waktu aktual pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan adalah 1 hari 7 jam 12 menit (karena 0,2 jam = 12 menit).

Berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Pasuruan saat ini sebesar Rp 4.866.800 per bulan, maka untuk menentukan tarif upah dalam per jam :

Tarif upah per jam = = = Rp 28.969/jam

Dengan waktu yang dikerjakan pada pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan yaitu 15,75 jam, sehingga total upah pekerja tersebut:

  • Biaya upah pekerja = Jumlah jam kerja x Upah per jam

= 15,75 jam x Rp 28.969

= Rp 451.962

  1. Perhitungan harga pokok penjualan

Perhitungan HPP pada mesin pengaduk adonan kerupuk ikan ini meliputi biaya bahan baku, serta dana safety sejumlah 5% dari total biaya bahan baku, upah karyawan, dan biaya listrik. Serta pengambilan 20% keuntungan dari penjualan mesin tersebut 15.

Tabel 13. Harga pokok penjualan (HPP)

Biaya Produksi Harga Pokok Produksi
1. Biaya Bahan Baku Rp 3.951.500
2. Dana Safety 5%
Total Biaya Pokok Produksi Rp 4.134.075
Biaya Operasional
1. Upah karyawan Rp 451.962
2. Biaya listrik Rp 11.474
Total Biaya Operasional Rp 463.436
Jumlah Biaya Manufaktur Rp 4.597.511
Harga jual
Keuntungan (%) 20%
Harga Pokok Penjualan Rp 5.517.013

IV.Simpulan

Berdasarkan hasil dari proses manufaktur mesin pengaduk adonan kerupuk ikan ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Dalam fabrikasi mesin pengaduk adonan kerupuk, beberapa elemen krusial yang perlu diperhatikan. Meliputi rancangan desain, komponen mesin (baik produksi sendiri maupun pembelian), tahapan manufaktur beserta estimasi waktu pembuatan, proses perakitan, dan menentukan harga jual produk akhir.
  2. Pada pengujian performa dilakukakan beberapa sampel pengadukan dengan waktu yang berbeda beda yaitu 10 menit, 20 menit, 30 menit, 40 menit. Dan dilakukan pengujian pada tekstur adonan menggunakan texture analyzer serta presentase hasil pemekaran pada kerupuk.
  3. Terlihat adanya variasi yang cukup signifikan dalam nilai kekerasan antar sampel adonan kerupuk. Sampel dengan nilai 50.09 N menunjukkan kekerasan tertinggi, dimana hasil pemekaran kerupuk hanya sebesar 49% ,sementara sampel dengan nilai 10.99 N menunjukkan kekerasan terendah, dan pada hasil pemekaran kerupuk sebesar 98,5 %.
  4. Proses pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan membutuhkan waktu sebanyak 15,75 jam, jika dikonversikan ke hari menjadi 1,9 hari.
  5. Total biaya pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ikan sebanyak Rp. 4.597.511.
  6. Pengambilan keuntungan pada mesin pengaduk adonan kerupuk ikan ini sebesar 20% dengan harga penjualan sebesar Rp 5.517.013, sehingga untung yang diperoleh sebesar Rp 919.502.

Ucapan Terima Kasih

Dengan penuh hormat, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), khususnya Program Studi Teknik Mesin. Ungkapan terima kasih yang tulus juga ditujukan kepada Bapak Dr. Mulyadi, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berharga dalam setiap tahapan penelitian dan penulisan artikel ini. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada keluarga tercinta atas doa, motivasi, dan dukungan emosional yang tak pernah putus selama proses penyelesaian karya ilmiah ini. Apresiasi yang tinggi juga penulis berikan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah berkontribusi dan memberikan saran serta dukungan moral yang sangat berarti selama proses penelitian ini berlangsung.

Referensi

[2]B. Plate and P. Hopper, “E-ISSN : XXXXX JUSTI (Jurnal Sistem Dan Teknik Industri),” pp. 42–48, 2013.

[3]F. Herdian, R. J. Jabbar, F. Y. Batubara, Z. Zulnadi, I. Anas, and Y. Yudistira, “Rancang Bangun Alat Pengaduk Kerupuk Adonan Tipe Horizontal,” J. Appl. Agric. Sci. Technol., vol. 3, no. 1, pp. 157–165, 2019, doi: 10.32530/jaast.v3i1.84.

[4]H. Rahmad, “Rancang Bangun Pengaduk pada Mesin Pengaduk Adonan untuk Meningkatkan Produktifitas Kerupuk pada UMKM Ashoy Fajriya di Desa Padangan Kabupaten Kediri,” J. Pengabdi. pada Masy. Ilmu Pengetah. dan Teknol. Terintegrasi, vol. 7, no. 1, pp. 23–31, 2022, doi: 10.33795/jindeks.v7i1.363.

[5]R. B. Jakaria and M. Mulyadi, “Efektifitas Produksi Krupuk pada Home Industri Di Sidoarjo,” J. ABDINUS J. Pengabdi. Nusant., vol. 2, no. 1, p. 1, 2018, doi: 10.29407/ja.v2i1.11820.

[6]E. Sulistyo and E. Yudo, “Rancang Bangun Mesin Pengaduk Adonan Ampiang,” Manutech J. Teknol. Manufaktur, vol. 8, no. 01, pp. 7–11, 2019, doi: 10.33504/manutech.v8i01.76.

[7]2022) (Iqbal, “RANCANG BANGUN ALAT PENGADUK ADONAN KERUPUK KAPASITAS 60 KG GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UMKM,” הארץ, no. 8.5.2017, pp. 2003–2005, 2022, [Online]. Available: www.aging-us.com

[8]M. Sirril, W. Abror, M. Kabib, and H. Setiawan, “Proses Manufaktur Mesin Pengaduk Sirup Parijoto Dengan Kapasitas 10 Liter Setiap Proses,” Pros. SNATIF, vol. 6, pp. 270–276, 2019.

[9]Henry Widya Prasetya, Akbar Zulkarnain, and Diki Wahyu Arobi, “Pembuatan Alat Bantu Kerja Pneumatik Pelepas Rubber Journal Spring Pada Bogie K5,” V-MAC (Virtual Mech. Eng. Artic., vol. 8, no. 2, pp. 28–32, 2023, doi: 10.36526/v-mac.v8i2.3020.

[10]A. Kristanto, “Buku Kuliah Proses Manufaktur Universitas Ahmad Dahlan,” Buku Kuliah, pp. 1–145, 2011, [Online]. Available: http://eprints.uad.ac.id/24682/1/MODUL MATAKULIAH PROSES MANUFAKTUR.pdf

[11]D. W. Karmiadji and Z. S. Tampa, “PERANCANGAN MESIN PENGADUK PAKAN TERNAK BERKAPASITAS 75 kg MENGGUNAKAN SISTEM ARDUINO,” Poros, vol. 17, no. 2, pp. 89–99, 2021, doi: 10.24912/poros.v17i2.20037.

[12]D. P. Imawan, “Polishing Machine Manufacturing Process Using Double Plates for the Metalography Process [ Proses Manufaktur Mesin Poles Menggunakan Piringan Ganda Untuk Proses Metalografi ],” pp. 1–17.

[13]F. Multazam, retno ayu Kurniasih, and apri dwi Anggo, “Pengaruh Rasio Tepung Udang Rebon (Acetes sp.) dan Tepung Tapioka Terhadap Karakteristik Sensori, Fisik dan Kimia Kerupuk,” J. Ilmu Dan Teknol. Prikanan, vol. 5, no. 1, pp. 10–18, 2023.

[14]D. Rahmatika, A. T. Subekti, and I. Juliansyah, “Analisis Penentuan Harga Jual Mesin Pengaduk Dodol Menggunakan Metode Cost Plus Pricing,” J. Manaj. Terap. dan Keuang., vol. 11, no. 01, pp. 157–170, 2022, doi: 10.22437/jmk.v11i01.17300.

[15]M. F. Dharmawan, “Planning the Manufacturing Process of a Potato Cutting Machine into Stick Shapes Driven by an Electric Motor [ Perencanaan Proses Manufaktur Mesin Pemotong Kentang Menjadi Bentuk Stik dengan Penggerak Motor Listrik ],” no. 3, pp. 1–17.

References

H. Handayani, “Stunting Prevention in Pasuruan Through Snakehead Fish Processing Training,” Jurnal Dedicators Community, vol. 6, no. 1, pp. 59–65, 2022.

B. Plate and P. Hopper, “JUSTI Journal of Industrial Systems and Engineering,” pp. 42–48, 2013.

F. Herdian et al., “Design of Horizontal Dough Mixer for Crackers,” Journal of Applied Agricultural Science and Technology, vol. 3, no. 1, pp. 157–165, 2019.

H. Rahmad, “Design of Dough Mixer Machine to Improve Productivity in SMEs,” Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terintegrasi, vol. 7, no. 1, pp. 23–31, 2022.

R. B. Jakaria and M. Mulyadi, “Cracker Production Productivity in Home Industry in Sidoarjo,” Jurnal ABDINUS, vol. 2, no. 1, p. 1, 2018.

E. Sulistyo and E. Yudo, “Design of Ampiang Dough Mixer Machine,” Manutech Journal of Manufacturing Technology, vol. 8, no. 1, pp. 7–11, 2019.

Iqbal, “Design of 60 kg Capacity Cracker Dough Mixer Machine to Increase SME Productivity,” 2022.

M. Sirril et al., “Manufacturing Process of Syrup Mixer Machine with 10 Liter Capacity,” Proceedings SNATIF, vol. 6, pp. 270–276, 2019.

H. W. Prasetya, A. Zulkarnain, and D. W. Arobi, “Pneumatic Tool Design for Rubber Spring Removal,” V-MAC, vol. 8, no. 2, pp. 28–32, 2023.

A. Kristanto, Manufacturing Process Lecture Book. Universitas Ahmad Dahlan, 2011.

D. W. Karmiadji and Z. S. Tampa, “Design of Animal Feed Mixer Machine Using Arduino,” Poros, vol. 17, no. 2, pp. 89–99, 2021.

D. P. Imawan, “Polishing Machine Manufacturing Process Using Double Plates,” pp. 1–17.

F. Multazam et al., “Effect of Shrimp Flour and Tapioca Ratio on Cracker Characteristics,” Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan, vol. 5, no. 1, pp. 10–18, 2023.

D. Rahmatika et al., “Selling Price Determination of Mixer Machine Using Cost Plus Pricing,” Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan, vol. 11, no. 1, pp. 157–170, 2022.

M. F. Dharmawan, “Manufacturing Process Planning of Potato Cutting Machine,” pp. 1–17.