Login
Section Innovation in Industrial Engineering

Logistics Risk Mitigation Strategy Using RBS and HOR Integration

Strategi Mitigasi Risiko Logistik dengan Mengintegrasikan RBS dan HOR
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Sofie Amalia Afifah (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Logistics services play a critical role in supply chain performance, particularly in ensuring timely and accurate goods delivery. Specific Background: PT. APL faces recurring operational issues in delivery activities, including delays, damages, and discrepancies, which lead to financial losses due to customer claims. Knowledge Gap: Existing studies often apply risk analysis methods separately, leaving limited integration between structured risk identification and mitigation prioritization approaches. Aims: This study aims to identify, prioritize, and develop risk mitigation strategies in logistics service operations using an integrated Risk Breakdown Structure (RBS) and House of Risk (HOR) approach. Results: The analysis identified 18 risk events across six delivery stages caused by 29 risk agents, with the highest Aggregate Risk Potential value reaching 2,752. The study proposed four main mitigation priorities based on Effectiveness to Difficulty values, including double checking systems, checklist implementation, employee training, and operational standard setting. Novelty: This research demonstrates a structured integration of RBS and HOR to systematically connect risk identification, prioritization, and mitigation strategy development in logistics operations. Implications: The findings provide practical guidance for logistics companies in reducing operational risks and improving service quality through targeted and prioritized mitigation actions.


Keywords: Logistics Risk, Risk Breakdown Structure, House of Risk, Risk Mitigation, Supply Chain Management


Key Findings Highlights



  1. Identification reveals multiple delivery-stage vulnerabilities with dominant human-related causes

  2. Priority ranking isolates critical sources requiring immediate operational attention

  3. Structured actions focus on procedural control, workforce capability, and verification systems

Downloads

Download data is not yet available.

Strategy for Improving Quality of Logistics Service by Integrating Risk Breakdown Structure and House of Risk Methods

[Strategi Peningkatan Kualitas Layanan Logistik dengan Integrasi Metode Risk Breakdown Structure dan House of Risk]

Sofie Amalia Afifah1), Hana Catur Wahyuni*2)

1)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

2)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

*Email Penulis Korespondensi: hanacatur@umsida.ac.id

Abstract. As a logistics service company, PT. APL experienced several problems that are often faced in goods delivery activities, resulting in incoming insurance claims from customers every month which caused financial losses for the company. The purpose of this research is to develop an effective and optimal mitigation strategy or solution to improve the quality of the goods delivery process. The method used involves a Risk Breakdown Structure (RBS) for risk identification and grouping and a House of Risk (HOR) for the development of mitigation strategies to overcome detected risks. The findings in this study were obtained that as many as 18 risk events detected at 6 stages of the goods delivery process were caused by 29 identified risk agents. The highest ARP value of 2,752 is at the risk cause of A16. There are 4 priorities for proposed mitigation strategies given based on ETD values, including PA2 which is implementing a double checking system on consignments, PA4 which is using a checklist system to ensure that all goods are in accordance with the consignment, PA1 which is improving the quality of employees with regular job training, and PA11 which is setting operational standards for checking goods in each freight delivery process in overcoming 11 risk agents that are detected as mitigation priorities.

Keywords –Risk Management; Logistics Services; Risk Breakdown Structure; House of Risk

Abstrak. Sebagai perusahaan jasa logistik, PT. APL mengalami beberapa permasalahan yang sering dihadapi dalam aktivitas pengiriman barang, sehingga menyebabkan adanya klaim asuransi masuk dari customer setiap bulannya yang menyebabkan kerugian finansial bagi perusahaan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menyusun strategi mitigasi atau solusi yang efektif dan optimal guna meningkatkan kualitas proses pengiriman barang. Metode yang digunakan melibatkan Risk Breakdown Structure (RBS) untuk identifikasi dan pengelompokkan risiko serta House of Risk (HOR) untuk pengembangan strategi mitigasi guna mengatasi risiko yang terdeteksi. Temuan pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa sebanyak 18 risk event yang terdeteksi pada 6 tahap proses pengiriman barang disebabkan oleh 29 risk agent teridentifikasi. Nilai ARP tertinggi sebesar 2.752 yaitu pada penyebab risiko A16. Terdapat 4 prioritas usulan strategi mitigasi yang diberikan berdasarkan nilai ETD antara lain PA2 yaitu menerapkan sistem double checking pada barang kiriman, PA4 yaitu menggunakan sistem checklist untuk memastikan semua barang sesuai kiriman, PA1 yaitu meningkatkan kualitas karyawan dengan pelatihan kerja secara berkala, dan PA11 yaitu menetapkan standar operasional untuk pengecekan barang pada setiap proses pengiriman barang dalam mengatasi 11 risk agent yang terdeteksi sebagai prioritas mitigasi.

Kata Kunci –Manajemen Risiko; Layanan Logistik; Risk Breakdown Structure; House of Risk

I. Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Layanan jasa logistik merupakan serangkaian proses pengangkutan dan penyimpanan produk dari asal yaitu supplier hingga ke tujuan yaitu konsumen yang terlibat dalam suatu rantai pasok dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan . Logistik dan supply chain management merupakan dua elemen yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, terutama dalam proses distribusi, pengemasan, hingga pengadaan . Kegiatan utama logistik adalah penyimpanan, pengadaan, inventarisasi, pengangkutan, layanan gudang, pendistribusian, hingga penanganan terhadap barang dan jasa baik berupa bahan baku, produk setengah jadi, maupun produk jadi . Fungsi logistik meliputi kegiatan atau eksekusi proses yang berkesinambungan di mana proses-proses yang terkait saling berhubungan dan saling mendukung .

PT. APL merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang (logistik) dengan jalur pengiriman via darat. PT. APL adalah perusahaan terusan yang mengalami perubahan identitas dan diresmikan pada tanggal 30 Desember 2019 akibat dari pergantian direksi serta manajemen operasional perusahaan. Pada awalnya, perusahaan ini berfokus pada layanan logistik jenis kargo dengan rute perjalanan Jawa-Bali. Namun, PT. APL telah memperluas cakupan usahanya dengan membuka kantor cabang di Mataram-Lombok. Jenis pengiriman barang sangat beragam, mulai dari barang yang bersifat cair, barang padat, kosmetik, hingga beberapa produk makanan. Konsumen yang dimiliki PT. APL terdiri dari dua jenis, yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi atau perusahaan.

Sebagai perusahaan jasa logistik, PT. APL menghadapi berbagai permasalahan yang sering dihadapi dalam kegiatan operasional pengiriman barang kepada customer. Risiko atau permasalahan yang sering muncul meliputi keterlambatan barang sampai tujuan, kerusakan atau kebocoran barang, ketidaksesuaian barang yang diterima customer, serta kehilangan barang muatan sehingga berdasarkan data historis perusahaan selama enam bulan jumlah defect sebesar 13.768 dari 134.400 total pesanan atau mencapai 10,24% yang mengakibatkan 3 kali klaim garansi masuk dari customer setiap bulannya. Kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas layanan logistik serta dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi perusahaan.

Upaya peningkatan kualitas merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menambah nilai produk atau jasa bagi konsumen dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses . Pengendalian kualitas merupakan langkah pengukuran karakteristik dan kualitas produk atau jasa, membandingkannya dengan spesifikasi produk, serta melakukan perbaikan jika ditemukan ketidaksesuaian antara kinerja aktual dengan standar kinerja . Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan logistik serta meminimalkan risiko yang muncul dalam jaringan distribusi barang PT. APL, diperlukan penerapan manajemen mitigasi risiko yang tepat.

Manajemen mitigasi risiko layanan logistik pada penelitian ini melibatkan tahap identifikasi dan pemetaan risiko, penilaian prioritas risiko, serta penyusunan strategi mitigasi dengan integrasi metode RBS dan HOR. Risk Breakdown Structure (RBS) merupakan metode pengklasifikasian risiko yang memungkinkan perusahaan mengatur dan memilih risiko dari sumber untuk membantu mengelola risiko yang sedang dihadapi . Keunggulan metode RBS yaitu mengelompokkan risiko ke dalam Risk Category (RC) dan Risk Event (RE) dalam struktur hierarki, di mana setiap risk category terdiri dari beberapa risk event sehingga hasil akhir RBS berupa diagram pohon . House of Risk (HOR) berfokus pada pengembangan langkah pencegahan dan penanganan risiko serta memberikan prioritas strategi dalam upaya peningkatan kualitas . Metode HOR juga merupakan pengembangan dari FMEA dan HOQ yang menghasilkan strategi mitigasi untuk mencegah kerugian perusahaan .

Penelitian terdahulu terkait mitigasi risiko proses pengiriman barang oleh , berfokus mengidentifikasikan risiko menggunakan metode HOR mendapatkan 29 risk event dan 28 risk agent serta mendapatkan 18 strategi mitigasi dalam penanganan risiko. Kajian lain oleh , melakukan identifikasi dan analisis risiko pada proses pengiriman barang pada perusahaan logistik dan mendapatkan hasil terdapat 3 risiko utama terdeteksi dengan mengusulkan 3 strategi mitigasi prioritas. Penelitian oleh , menguraikan risiko dengan implementasi metode HOR guna mengatasi risiko yang dapat merugikan perusahaan dengan mengusulkan 13 strategi mitigasi dalam penanganan risiko terdeteksi. Sementara pada kajian yang dilakukan oleh , metode HOR digunakan dalam mitigasi risiko supply chain management guna memprioritaskan risiko dari agen risiko dan memilih tindakan mitigasi yang paling efektif dan optimal, yaitu terdapat 8 strategi mitigasi prioritas yang dihasilkan berdasarkan nilai ETD.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk: (1) Melakukan identifikasi dan pemetaan risiko yang terjadi dalam proses pengiriman barang pada perusahaan logistik PT. APL, (2) Memprioritaskan risiko yang mempengaruhi kualitas pengiriman barang pada perusahaan logistik PT. APL, (3) Menyusun strategi mitigasi atau solusi yang efektif dan optimal guna meningkatkan kualitas proses pengiriman barang pada perusahaan logistik PT. APL.

II. Metode

Penelitian ini dilakukan di Kantor Pusat PT. APL yang bertempat di Jl. Raya Gading Fajar 2 No. 10, Perum King Safira, Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Adapun periode waktu kegiatan penelitian ini berlangsung selama 6 bulan pada bulan September 2024 sampai bulan Februari 2025.

  1. Waktu dan Tempat Penelitian
  2. Pengumpulan Data

Data yang digunakan pada penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder yang digunakan dalam tahap pengolahan data.

  1. Data primer berupa observasi langsung meliputi data hasil wawancara dan kuesioner kepada 3 karyawan PT. APL yaitu kepala administrasi dan keuangan, kepala staf gudang, dan driver.
  1. Wawancara: Informasi kejadian risiko dan penyebab risiko yang terjadi selama proses pengiriman barang serta mitigasi risiko yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.
  2. Kuesioner: Penilaian indikator penelitian sebagai data pengolahan HOR fase 1 dan HOR fase 2.
  1. Data sekunder diperoleh dari kegiatan studi literatur berupa uraian teori metode dan indikator penilaian, gambaran umum perusahaan, serta laporan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan isu mitigasi risiko pada proses pengiriman barang.

Risk Breakdown Stucture (RBS) mengelompokkan sumber risiko berdasarkan penyebab atau kategori tertentu untuk meningkatkan efektivitas dan optimalisasi mitigasi risiko. Metode ini bertujuan merinci hasil identifikasi risiko agar dapat digunakan dalam mengembangkan potensi respons terhadap risiko yang telah diidentifikasi . Risk breakdown structure merujuk pada representasi risiko terorganisir dalam bentuk hierarki yang berfungsi sebagai daftar lengkap dalam mengidentifikasi dan mengelompokkan risiko dari berbagai sumber potensial yang dapat mempengaruhi perusahaan . Struktur RBS ditetapkan secara bertahap, dimulai dari level 0 yaitu program atau proses berisiko yang kemudian diuraikan menjadi sub kategori risiko yang lebih spesifik dan kompleks .

  1. Risk Breakdown Structure
  2. House of Risk

House of Risk (HOR) mengadaptasi prinsip FMEA untuk menghitung risiko secara kuantitatif dan prinsip HOQ untuk memprioritaskan risiko, sehingga membantu menentukan langkah pencegahan yang efektif dalam mitigasi risiko . Metode HOR bertujuan mengurangi potensi risiko dengan mengeliminasi faktor-faktor penyebabnya . Langkah-langkah pendekatan HOR yaitu mengurangi kemungkinan terjadinya risiko dan mencegah terjadinya risiko . Perencanaan strategis dengan metode HOR memiliki beberapa tahapan yang terbagi menjadi 2 fase, yaitu identifikasi risiko (HOR fase 1) dan penanganan risiko (HOR fase 2) .

  1. House of Risk Fase 1: Identifikasi Risiko

HOR fase 1 meliputi proses identifikasi dan analisis risiko untuk mengidentifikasi sumber risiko yang akan diprioritaskan dan dilakukan tindakan pencegahan . Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam HOR fase 1 antara lain :

Tabel 1. Kriteria Penilaian Severity

No. Severity Deskripsi
12345678910 No Very s ight Sight Minor Moderate Significant Major Extreme Serious Hazardous Tidak ada dampakTidak menyebabkan dampak berartiMenyebabkan dampak sangat kecil pada performa sistemMenyebabkan dampak kecil pada performa sistemMenyebabkan dampak moderat pada performa sistemMenyebabkan penurunan pada performa sistem tetapi masih dapat beroperasi dan amanMenyebabkan penurunan yang cukup besar pada performa sistem tetapi masih dapat beroperasi dan amanMenyebabkan sistem tidak dapat beroperasi tetapi masih amanBerpotensi menyebabkan dampak yang berbahayaDampak sangat berbahaya

Tabel 2. Kriteria Penilaian Occurrence

No. Occurrence Deskripsi
12345678910 Almost never Remote Very slight Slight Low Medium Moderate high High Very high Almost certain Hampir tidak pernah (1 dari 1.500.000)Sangat jarang (1 dari 150.000)Sedikit jarang (1 dari 15.000)Cukup jarang (1 dari 2.000)Jarang (1 dari 400)Sedikit sering (1 dari 80)Cukup sering (1 dari 20)Sering (1 dari 8)Sangat sering (1 dari 3)Hampir selalu terjadi (1 dari 2)

(1)

Sumber:

Keterangan:

Oi= Tingkat risiko kejadian

Si= Tingkat keparahan risiko

Rij= Korelasi antara faktor risiko j dan risiko i

  1. Identifikasi kejadian risiko dan penyebab risiko.
  2. Evaluasi skala keparahan (severity) dari kejadian risiko dengan skala 1-10 sesuai dengan kriteria yang ditunjukkan pada Tabel 1 di bawah ini.
  3. Identifikasi tingkat peluang terjadi atau occurrence setiap agen risiko dengan skala 1-10 sesuai dengan kriteria yang ditunjukkan pada Tabel 2 di bawah ini.
  4. Menentukan hubungan risk event dan risk agent dengan nilai 0 berarti tidak ada hubungan, nilai 1 berarti hubungan rendah, nilai 3 berarti hubungan sedang, atau nilai 9 berarti hubungan tinggi.
  5. Menentukan nilai ARP untuk menentukan prioritas sumber risiko mana yang harus ditangani terlebih dahulu dan memberikan tindakan preventif terhadap faktor risiko tersebut dengan menggunakan persamaan berikut:
  6. Membuat rangking sumber risiko berdasarkan nilai ARP.
  1. House of Risk Fase 2: Penanganan Risiko

HOR fase 2 merupakan tahap memilih upaya tindakan yang dianggap efektif dalam mengurangi potensi terjadinya sumber risiko . Adapun tahap yang dilakukan dalam HOR fase 2 adalah sebagai berikut :

(2)

Sumber:

Keterangan:

Ejk= Hubungan antara tiap strategi dengan setiap agen risiko.

Tabel 3. Kriteria Penilaian Tingkat Kesulitan

No. Tingkat Kesulitan Deskripsi
123 Low Medium High Mudah untuk diterapkanSedikit sulit untuk diterapkanSulit untuk diterapkan

(3)

Sumber:

  1. Identifikasi strategi mitigasi risiko yang efektif untuk mengurangi terjadinya faktor atau agen risiko.
  2. Menentukan hubungan antara risk agent dan strategi mitigasi dengan nilai 0 berarti tidak ada hubungan, nilai 1 berarti hubungan rendah, nilai 3 berarti hubungan sedang, atau nilai 9 berarti hubungan tinggi.
  3. Menghitung nilai efektivitas keseluruhan (TEk) dari setiap strategi mitigasi dengan menggunakan rumus:
  4. Menentukan tingkat kesulitan atau Degree of Difficulty dari setiap strategi mitigasi dengan menggunakan skala tiga poin yang ditunjukkan pada Tabel 3 di bawah ini.
  5. Penilaian efektivitas keseluruhan (TEk) terhadap tingkat kesulitan (Dk) dengan menggunakan persamaan berikut:
  6. Menentukan prioritas dari setiap strategi yang dihasilkan. Hasil peringkat pertama berarti nilai ETD tertinggi. Pemeringkatan strategi mitigasi menunjukkan strategi prioritas apa yang diterapkan perusahaan untuk mengurangi terjadinya sumber risiko yang menyebabkan kejadian risiko.
  1. Alur Penelitian

Berikut ini akan disajikan tahapan atau alur penelitian dalam pelaksanaan penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

Dari Gambar 1 di atas, dapat diketahui bahwa penelitian ini diawali dengan studi literatur berupa tinjauan pustaka dan melakukan observasi langsung terkait permasalahan yang terjadi pada proses pengiriman barang. Kemudian merumuskan masalah utama yang akan diselesaikan dalam penelitian ini dan menetapkan tujuan yang jelas dan terukur dari penelitian yang dilakukan. Pengumpulan data dilakukan dengan proses wawancara dan kuesioner terkait data yang akan diolah dengan metode RBS berupa identifikasi kejadian risiko kemudian melakukan penilaian severity, occurrence, dan korelasi hubungan guna merancang strategi mitigasi dengan implementasi metode HOR. Selanjutnya melakukan analisa hasil strategi mitigasi dan menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

III. Hasil dan Pembahasan

Identifikasi risiko pada layanan logistik menggunakan metode RBS yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara mendapatkan 18 kejadian risiko yang terdeteksi selama proses pengiriman barang. Struktur hierarki kejadian risiko berbasis proses pada layanan logistik dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Risk Breakdown Structure Proses Pengiriman Barang

  1. Identifikasi Risiko
  2. Analisis Risk Event dan Risk Agent

Identifikasi serta penilaian severity pada risk event (kejadian risiko) dan occurrence pada risk agent (penyebab risiko) dilakukan dengan menggunakan metode HOR. Penilaian berdasarkan hasil wawancara dan penilaian indikator kepada narasumber melalui pengisian kuesioner dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 4. Risk Event (Kejadian Risiko)

Proses Aktivitas Kode Kejadian Risiko Kode Severity
Perencanaan Penerimaan pesanan dan perencanaan jadwal pick-up barang C1 Keterlambatan proses pick-up barangDriver tersesat dalam proses pick-up barangPerubahan rencana waktu pick-up barangKesalahan pemberian nomor resi E1E2E3E4 63510
Penerimaan Penerimaan barang dari customer C2 Selisih jumlah atau berat barangKetidakakuratan estimasi biaya E5E5 76
Penyimpanan Penyimpanan barang di gudang C3 Barang rusak saat penyimpanan di gudang logistikTidak memadainya kapasitas gudang E7E8 97
Pembuatan dokumen Pembuatan dokumen pengiriman barang C4 Keterlambatan tersedianya dokumen pengirimanKesalahan input data pada sistemKeterlambatan penyusunan dokumen pengiriman E9E10E11 786
Pendistribusian Pengiriman barang C5 Tidak tersedianya konfirmasi kepada customer barang mulai diantarKeterlambatan barang sampai tujuanKerusakan atau kebocoran barangKehilangan barangKerusakan packaging barang muatanKetidaksesuaian barang yang diterima oleh customer E12E13E14E15E16E17 389948
Klaim Klaim kerugian customer C6 Ketidaksediaan perusahaan dalam penggantian kerugian E18 1

Tabel 5. Risk Agent (Penyebab Risiko)

Kode Penyebab Risiko Occurrence
A1A2A3A4A5A6A7A8A9A10A11A12A13A14A15A16A17A18A19A20A21A22A23A24A25A26A27A28A29 Kemacetan lalu lintasKerusakan armada muatanInformasi lokasi penjemputan yang kurang lengkap dan akuratSistem manajemen jadwal pick-up kurang baikKetidaksesuaian jadwal pick-up dengan kapasitas armadaKetidaktelitian karyawan dalam labeling resiCustomer yang menyeragamkan berat dan jumlah barang antar kardusKesalahan pencatatan atau input jumlah atau berat barangKetidaksesuaian berat barang yang diajukan pelanggan dengan berat sebenarnyaMinimnya pengecekan kondisi barangKurangnya manajemen penataan gudangKetidakpastian ukuran barang angkutanSistem pengelolaan dokumen yang tidak efisienSistem komputer errorKerusakan printerHuman error ketidaktelitian karyawanGangguan sistem internetBeban kerja karyawan terlalu tinggiTidak adanya sistem konfirmasi jadwal pengirimanCuaca burukTidak adanya sistem trucking atau pelacakan barangKecelakaan armada muatanManajemen pendistribusian yang kurang baikPengemasan barang yang kurang baikKesalahan proses sortir barangSalah dalam menumpuk barang muatanPackaging tidak kokohTidak adanya double check barang kirimanKetidaksesuaian perjanjian atau kesepakatan klaim garansi 7646488767783228281041048332292

Analisis penilaian korelasi hubungan antara risk event dan risk agent dilakukan untuk menentukan nilai Aggregate Risk Potential (ARP) yang bertujuan mengetahui prioritas risiko yang akan diberikan strategi mitigasi dapat dilihat pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Perhitungan House of Risk Fase 1

Risk Event Risk Agent S
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 A18 A19 A20 A21 A22 A23 A24 A25 A26 A27 A28 A29
E1 9 3 1 9 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 0 0 0 0 0 0 0 6
E2 0 0 9 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
E3 1 3 0 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 0 0 0 0 0 0 0 5
E4 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10
E5 0 0 0 0 0 1 9 9 9 3 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 7
E6 0 0 0 0 0 0 9 9 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 6
E7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 3 0 9
E8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
E9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 3 3 9 3 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
E10 0 0 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 3 0 9 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8
E11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 9 0 0 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6
E12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 0 1 0 3 0 0 0 0 0 0 3
E13 9 3 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 1 9 3 9 0 9 0 0 0 0 8
E14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 9 9 0 9 9 3 0 9
E15 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 3 0 9 0 9 0 0 9 0 9
E16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 9 0 3 9 3 0 4
E17 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 9 0 9 0 3 0 0 3 0 8
E18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 1
O 7 6 4 6 4 8 8 7 6 7 7 8 3 2 2 8 2 8 10 4 10 4 8 3 3 2 2 9 2
ARP 961 380 157 690 246 2471 1024 960 418 840 623 504 347 236 40 2752 128 1449 240 80 1747 315 2441 381 485 152 209 1837 24
Rank 8 17 24 11 20 2 7 9 15 10 12 13 18 22 28 1 26 6 21 27 5 19 3 16 14 25 23 4 29

Berikut ini merupakan uraian perhitungan nilai ARP pada risk agent A1 sebagai contoh perhitungan Aggregate Risk Potential (ARP) dalam menentukan prioritas risk agent adalah sebagai berikut:

ARP A1=

ARP A1= 7 × ((6,33×9) + (3×0) + (5,33×1) + (10×0) + (7×0) + (6×0) + (9×0) + (7×0) + (7×0) + (8×0) + (6×0) +

(3×0) + (8,33×9) + (9×0) + (9×0) + (4×0) + (8×0) + (1×0))

ARP A1= 7 × (57 + 0 + 5,33 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 75 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0)

ARP A1= 7 × (137,33)

ARP A1= 961

Peringkat tertinggi risk agent berdasarkan hasil nilai ARP diperoleh A16 yaitu dengan nilai ARP sebesar 2.752, sedangkan peringkat terendah diperoleh A29 dengan nilai ARP sebesar 24. Hasil perhitungan pada Tabel 6 di atas kemudian akan disajikan dalam bentuk pengelompokan prioritas risk agent berdasarkan nilai ARP dari tertinggi hingga terendah yang dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Peringkat Risk Agent

Kode Penyebab Risiko ARP Rangking
A16A6A23A28A21A18A7A1A8A10A4A11A12A25A9A24A2A13A22A5A19A14A27A3A26A17A20A15A29 Human error ketidaktelitian karyawanKetidaktelitian karyawan dalam labeling resiManajemen pendistribusian yang kurang baikTidak adanya double check barang kirimanTidak adanya sistem trucking atau pelacakan barangBeban kerja karyawan terlalu tinggiCustomer yang menyeragamkan berat dan jumlah barang antar kardusKemacetan lalu lintasKesalahan pencatatan atau input jumlah atau berat barangMinimnya pengecekan kondisi barangSistem manajemen jadwal pick-up kurang baikKurangnya manajemen penataan gudangKetidakpastian ukuran barang angkutanKesalahan proses sortir barangKetidaksesuaian berat barang yang diajukan pelanggan dengan berat sebenarnyaPengemasan barang yang kurang baikKerusakan armada muatanSistem pengelolaan dokumen yang tidak efisienKecelakaan armada muatanKetidaksesuaian jadwal pick-up dengan kapasitas armadaTidak adanya sistem konfirmasi jadwal pengirimanSistem komputer errorPackaging tidak kokohInformasi lokasi penjemputan yang kurang lengkap dan akuratSalah dalam menumpuk barang muatanGangguan sistem internetCuaca burukKerusakan printerKetidaksesuaian perjanjian atau kesepakatan klaim garansi 2752247124411837174714491024961960840690623504485418381380347315246240236209157152128804024 1234567891011121314151617181920212223242526272829

Berdasarkan hasil urutan prioritas risk agent berdasarkan hasil nilai ARP dari tertinggi hingga terendah di atas, selanjutnya data disajikan dalam bentuk diagram pareto. Diagram pareto digunakan untuk mengidentifikasi masalah utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu guna mengurangi potensi kerugian . Diagram pareto prioritas risk agent dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Diagram Pareto Prioritas Risk Agent

Berdasarkan prinsip diagram pareto 80:20 menyatakan bahwa prioritas masalah yang perlu mendapat penanganan atau penyelesaian adalah yang memiliki persentase kumulatif hingga mencapai 80% . Dengan demikian, didapatkan 11 risk agent atau penyebab terjadinya risiko yang menjadi prioritas mitigasi adalah A16, A6, A23, A28, A21, A18, A7, A1, A8, A10, dan A4.

  1. House of Risk Fase 1
  2. House of Risk Fase 2

Berdasarkan hasil penentuan prioritas risk agent yang perlu dilakukan tindakan mitigasi pada HOR fase 1, langkah selanjutnya adalah merancang strategi dan menentukan prioritas tindakan mitigasi pada HOR fase 2. Pada fase ini mencakup penetapan strategi yang akan diambil dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan dalam penerapannya. Analisis strategi penanganan guna memitigasi risk agent prioritas dan penilaian tingkat kesulitannya dapat dilihat pada Tabel 8di bawah ini.

Tabel 8. Preventive Action

Kode Preventive Action D K Keterangan
PA1PA2PA3PA4PA5PA6PA7PA8PA9PA10PA11PA12 Meningkatkan kualitas karyawan dengan pelatihan kerja secara berkalaMenerapkan sistem double checking pada barang kirimanMembuat SOP penyusunan, perlakuan, dan manajemen pengiriman barangMenggunakan sistem checklist untuk memastikan semua barang sesuai pesananMengembangkan sistem pelacakan barang berbasis digital dengan teknologi IoTPenambahan tenaga kerjaMelakukan sosialisasi dan edukasi kepada customer terkait SOP pengukuran berat barangMemanfaatkan aplikasi navigasi untuk memilih rute alternatif yang lebih cepat saat terjadi kemacetanPemantauan kondisi lalu lintas secara real-time dengan IoT dan memberikan pembaruan kepada pengemudiMenerapkan teknologi barcode atau QR code untuk memastikan pencatatan lebih akuratMenetapkan standar operasional untuk pengecekan barang pada setiap proses pengiriman barangOptimalisasi penjadwalan serta membuat SOP yang jelas untuk proses pick-up barang 111133122311 Mudah diterapkanMudah diterapkanMudah diterapkanMudah diterapkanSulit diterapkanSulit diterapkanMudah diterapkanSedikit sulit diterapkanSedikit sulit diterapkanSulit diterapkanMudah diterapkanMudah diterapkan

Setelah didapatkan strategi mitigasi dan penilaian tingkat kesulitan, tahap selanjutnya adalah menghitung nilai Total Effectiveness (TEk) dan nilai Effectiveness to Difficulty (ETD). Kemudian melakukan analisis korelasi guna mengukur sejauh mana hubungan antara strategi mitigasi yang diusulkan dengan risk agent yang perlu penanganan. Analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat efektivitas dari setiap aksi mitigasi yang diterapkan. Perhitungan rasio ETD juga bertujuan guna membantu menentukan prioritas strategi mitigasi. Hasil perhitungan HOR fase 2 untuk mengelola penanganan risiko dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9. Perhitungan House of Risk Fase 2

Risk Agent Preventive Action ARP
PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 PA6 PA7 PA8 PA9 PA10 PA11 PA12
A16 9 9 0 9 0 3 0 0 0 3 0 0 2752
A6 9 9 1 9 0 0 0 0 0 0 9 0 2471
A23 3 0 9 0 9 0 0 3 0 0 0 0 2441
A28 9 9 1 9 0 0 0 0 0 0 9 0 1837
A21 0 0 1 0 9 0 0 0 0 0 0 0 1747
A18 3 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 1449
A7 0 9 9 0 0 0 9 0 0 0 0 0 1024
A1 0 0 9 0 0 0 0 9 9 0 0 0 961
A8 9 9 0 9 0 0 9 0 0 9 9 0 960
A10 1 9 9 3 0 0 0 0 0 0 9 0 840
A4 3 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 9 690
TEk 86764 88961 53448 74705 37685 21297 17856 18044 10722 16896 54977 6210
Dk 1 1 1 1 3 3 1 2 2 3 1 1
ETD 65073 88961 40086 74705 14132 7099 13392 7733 5361 5632 54977 4658
Rank 3 1 5 2 6 9 7 8 11 10 4 12

Berikut ini merupakan uraian perhitungan nilai TEk dan nilai ETD pada preventive action PA1 sebagai contoh perhitungan Total Effectiveness (TEk) dan nilai Effectiveness to Difficulty (ETD) dalam menentukan prioritas preventive action adalah sebagai berikut:

TEk PA1=

TEk PA1= ((2.752×9) + (2.471×9) + (2.441×3) + (1.837×9) + (1.747×0) + (1.449×3) + (1.024×0) + (961×0) +

(960×9) + (840×1) + (690×3))

TEk PA1= (24.768 + 22.241 + 7.321 + 16.536 + 0 + 4.347 + 0 + 0 + 8.640 + 840 + 2.070)

TEk PA1= 86.764

Setelah didapatkan nilai TEk, maka langkah selanjutnya adalah menghitung nilai ETD pada preventive action PA1 adalah sebagai berikut:

ETD PA1=

ETD PA1=

ETD PA1= 65.073

Berdasarkan hasil perhitungan HOR fase 2 di atas, peringkat tertinggi strategi mitigasiberdasarkan hasil nilai ETD diperoleh PA2 yaitu dengan nilai ETD sebesar 88.961, sedangkan peringkat terendah diperoleh PA12 dengan nilai ETD sebesar 4.658. Hasil perhitungan di atas kemudian akan disajikan dalam bentuk pengelompokan rank priority strategi mitigasiberdasarkan nilai ETD dari tertinggi hingga terendah yang dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10. Peringkat Strategi Mitigasi

Kode Preventive Action ETD Rangking
PA2PA4PA1PA11PA3PA5PA7PA8PA6PA10PA9PA12 Menerapkan sistem double checking pada barang kirimanMenggunakan sistem checklist untuk memastikan semua barang sesuai pesananMeningkatkan kualitas karyawan dengan pelatihan kerja secara berkalaMenetapkan standar operasional untuk pengecekan barang pada setiap proses pengiriman barangMembuat SOP penyusunan, perlakuan, dan manajemen pengiriman barangMengembangkan sistem pelacakan barang berbasis digital dengan teknologi IoTMelakukan sosialisasi dan edukasi kepada customer terkait SOP pengukuran berat barangMemanfaatkan aplikasi navigasi untuk memilih rute alternatif yang lebih cepat saat terjadi kemacetanPenambahan tenaga kerjaMenerapkan teknologi barcode atau QR code untuk memastikan pencatatan lebih akuratPemantauan kondisi lalu lintas secara real-time dengan IoT dan memberikan pembaruan kepada pengemudiOptimalisasi penjadwalan serta membuat SOP yang jelas untuk proses pick-up barang 8896174705650735497740086141321339277337099563253614658 123456789101112

Berdasarkan hasil urutan prioritas strategi mitigasi berdasarkan hasil nilai ETD dari tertinggi hingga terendah di atas, selanjutnya data rank priority mitigasi risiko disajikan dalam bentuk diagram pareto yang dapat dilihat pada Gambar 4di bawah ini.

Gambar 4. Diagram Pareto Prioritas Strategi Mitigasi

Berdasarkan hasil peringkat strategi mitigasi di atas, dengan mempertimbangkan efektivitas penerapan strategi mitigasi, maka prioritas diberikan pada 4 strategi mitigasi utama yang menghasilkan tingkat efektivitas sebesar 74,31% dari total nilai kumulatif ETD. Oleh karena itu, 4 strategi mitigasi utama yang direkomendasikan untuk diterapkan adalah PA2 yaitu menerapkan sistem double checking pada barang kiriman dengan nilai ETD sebesar 88.961, PA4 yaitu menggunakan sistem checklist untuk memastikan semua barang sesuai pesanan dengan nilai ETD sebesar 74.705, PA1 yaitu meningkatkan kualitas karyawan dengan pelatihan kerja secara berkala dengan nilai ETD sebesar 65.073, dan PA11 yaitu menetapkan standar operasional untuk pengecekan barang pada setiap proses pengiriman barang dengan nilai ETD sebesar 54.977.

IV. Kesimpulan

Hasil identifikasi kejadian risiko berbasis proses yang dihadapi oleh PT. APL menggunakan metode RBS menghasilkan 18 risk event yang terdeteksi pada 6 tahap proses pengiriman barang. Didapatkan 29 risk agent terdeteksi yang menjadi penyebab permasalahan atau risiko pada proses pengiriman barang. Risk agent dengan nilai Aggregate Risk Potential (ARP) tertinggi berasal dari 11 penyebab utama, antara lain human error ketidaktelitian karyawan dengan nilai ARP sebesar 2.752, ketidaktelitian karyawan dalam labeling resi dengan nilai ARP sebesar 2.471, manajemen pendistribusian yang kurang baik dengan nilai ARP sebesar 2.441, tidak adanya double check barang kiriman dengan nilai ARP sebesar 1.837, tidak adanya sistem trucking atau pelacakan barang dengan nilai ARP sebesar 1.747, beban kerja karyawan terlalu tinggi dengan nilai ARP sebesar 1.449, customer yang menyeragamkan berat dan jumlah barang antar kardus dengan nilai ARP sebesar 1.024, kemacetan lalu lintas dengan nilai ARP sebesar 961, kesalahan pencatatan atau input jumlah atau berat barang dengan nilai ARP sebesar 960, minimnya pengecekan kondisi barang dengan nilai ARP sebesar 840, dan sistem manajemen jadwal pick-up kurang baik dengan nilai ARP sebesar 690.

Strategi mitigasi dalam mengatasi risk agent prioritas berdasarkan nilai ETD tertinggi dalam upaya meningkatkan kualitas layanan logistik atau pengiriman barang mencakup 4 prioritas utama, yaitu menerapkan sistem double checking pada barang kiriman, menggunakan sistem checklist untuk memastikan semua barang sesuai pesanan, meningkatkan kualitas karyawan dengan pelatihan kerja secara berkala, dan menetapkan standar operasional untuk pengecekan barang pada setiap proses pengiriman barang.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan PT. APL yang telah mendukung terlaksananya penelitian ini.

Referensi

References

R. Kusumawardani, A. R. Rehaldy, and N. A. Savitri, “Optimizing Distribution Center Network Design for a Cosmetic Manufacturer: A Case Study on Lightening Series Package Product,” PROZIMA (Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering), vol. 8, no. 1, pp. 11–24, Jun. 2024, doi: 10.21070/prozima.v8i1.1681.

S. Fahreza, S. P. Walansari, H. D. Putri, and D. R. Fenanlampir, “Logistics and Supply Chain Management,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, vol. 9, no. 15, pp. 622–628, Aug. 2023.

M. I. Maulana and H. C. Wahyuni, “Improving Supply Chain System Quality Using Lean Six Sigma and AHP,” Procedia of Engineering and Life Science, vol. 1, no. 1, Mar. 2021.

K. Rujianto and H. C. Wahyuni, “Product Quality Control Using SQC and HRA Methods,” PROZIMA (Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering), vol. 2, no. 1, pp. 1–11, Jun. 2018, doi: 10.21070/prozima.v2i1.1065.

S. D. Adham and A. Nugraha, “Material Procurement Risk Mitigation Using House of Risk,” Applied Industrial Engineering Journal, vol. 6, no. 2, pp. 56–64, Dec. 2022.

M. Bepari, B. E. Narkhede, and R. D. Raut, “Project Risk Management with Risk Breakdown Structure,” International Journal of Construction Management, vol. 24, no. 6, pp. 673–682, Sep. 2024, doi: 10.1080/15623599.2022.2124657.

Y. Satria and R. Lubis, “Application of House of Risk in Risk Management Systems,” Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika, vol. 9, no. 2, pp. 69–77, Oct. 2020.

B. Prasetyo, W. E. Y. Retnani, and N. L. M. Ifadah, “Supply Chain Risk Mitigation Strategy Using HOR,” Jurnal Tekno Kompak, vol. 16, no. 2, pp. 72–84, Aug. 2022.

R. A. Sahulata and E. Gumabo, “Supply Chain Risk Management Analysis Using HOR,” Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi Informasi, vol. 12, no. 1, pp. 111–122, Apr. 2023.

A. P. Saputra, M. Sayuti, and A. I. Waluya, “Risk Mitigation Analysis Using SCOR and HOR,” Jurnal Neraca Manajemen Ekonomi, vol. 8, no. 4, pp. 1–14, Aug. 2024, doi: 10.8734/mnmae.v1i2.359.

T. P. Lumbantobing and A. Jamil, “Application of HOR in Warehouse Risk Management,” Centive Conference Proceedings, vol. 4, no. 1, pp. 512–526, Dec. 2024.

D. Novianto, A. Nugroho, and B. P. Samadikun, “Risk Management in High Rise Building Projects,” Jurnal Profesi Insinyur Indonesia, vol. 1, no. 7, pp. 292–299, Oct. 2023, doi: 10.14710/jpii.2023.23855.

M. Ilham, P. Prabowo, and W. Yuwono, “Business Risk Management Planning Analysis,” Jurnal Bangkit Indonesia, vol. 12, no. 2, Oct. 2023.

Y. A. Kusuma and A. Z. Muttaqin, “Quality Control and Risk Management Implementation,” Jurnal Teknik Industri, vol. 11, no. 2, pp. 125–132, Jul. 2021.

M. A. Chatra et al., Supply Chain Management, 1st ed. Jambi: PT Sonpedia Publishing Indonesia, 2023.

M. D. Saputra and S. Perdana, “Risk Mitigation in Delivery Process Using HOR,” Prosiding Seminar Nasional Universitas Islam Syekh Yusuf, vol. 1, no. 1, pp. 1098–1106, Dec. 2020.

M. G. Lantana, R. Vikaliana, and G. Kurnia, “Raw Material Procurement Risk Mitigation Using HOR,” TIN: Terapan Informatika Nusantara, vol. 4, no. 9, pp. 544–558, Feb. 2024, doi: 10.47065/tin.v4i9.4873.

R. A. L. A. Fergisya and R. Rochmoeljati, “Application of HOR in Procurement Activities,” Jurnal Kendali Teknik dan Sains, vol. 2, no. 1, pp. 63–71, Jan. 2024, doi: 10.59581/jkts-widyakarya.v2i1.2284.

D. M. Ikasari et al., Agroindustry Risk Management Theory and Application, 1st ed. Malang: UB Press, 2021.

H. T. Irawan et al., “Risk Identification and Mitigation in Construction Projects Using HOR,” Jurnal Optimalisasi Teknik Industri, vol. 10, no. 1, pp. 80–89, Apr. 2024.

D. Paramudita and I. B. Suryaningrat, “Supply Chain Risk Analysis of Coffee Green Bean Using HOR,” Agrointek: Jurnal Teknologi Industri Pertanian, vol. 16, no. 1, pp. 54–64, Feb. 2022, doi: 10.21107/agrointek.v16i1.11301.