Rifky Rosadi (1), Mulyadi (2)
General Background: Concrete compressive strength and workability are critical parameters in structural engineering and construction quality control. Specific Background: Variations in cement content and water–cement ratio directly determine slump value and compressive strength performance based on standardized laboratory testing. Knowledge Gap: Previous studies have discussed mixture composition and strength development; however, limited discussion is provided regarding systematic comparison of mixture variations under consistent SNI-based testing procedures. Aims: This study aims to analyze the relationship between mixture composition variations and the resulting slump value and compressive strength of concrete specimens. Results: Experimental findings show that differences in cement proportion and water–cement ratio generate measurable changes in workability and compressive strength values, with specific mixture compositions producing higher compressive performance. Slump test results indicate consistent trends corresponding to water content adjustments. Novelty: The study provides structured experimental evaluation using standardized Indonesian National Standards procedures to compare mixture variations within a controlled framework. Implications: The findings contribute practical references for optimizing concrete mixture design in construction practice and support quality control in civil engineering materials testing.
Keywords: Concrete Mixture, Compressive Strength, Workability, Water Cement Ratio, Slump Test
Key Findings Highlights
Mixture proportion variations produce distinct mechanical performance patterns.
Cement content differences generate measurable strength deviations.
Laboratory testing confirms consistent trends under standardized procedures.
Di era globalsisasi dimana perkembangan di bidang teknologi rekayasa struktur berkembang sangat pesat di Indonesia. Pekerjaan konstruksi masih banyak yang menggunakan beton untuk pembuatan bangunan tinggi, jalan, bendungan, dll. Beton merupakan bahan yang tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan bahan lain dan memiliki daya kuat tekan yang baik. Oleh sebab itu beton banyak dipakai atau dipergunakan untuk pemilihan jenis struktur terutama struktur bangunan, jembatan, dan jalan. Menurut penelitian sebelumnya terdapat beberapa jenis beton yang dipakai dalam konstruksi suatu bangunan yaitu beton normal, beton bertulang, beton pracetak, beton pratekan, dan beton ringan .
Kualitas beton tergantung pada bahan bahan penyusunya. Namun untuk membuat beton dengan kuat tekan tinggi sesuai keinginan maka kurang bagus kalau hanya mencampurkan semen portland atau jenis semen yang lain, agriegat kasar, agriegat halus, dan air. Pieningkatan kualitas campuran bieton akan mienghasilkan bieton diengan kuat tiekan tinggi atau maksimum.Piemakian bieton yang bierkinierja tinggi mierupakan matierial yang sudah banyak digunakan dalam pielaksanaan struktur bangunan brtingkat tinggi
Kinierja dalam siebuah bieton dapat dibuktikan diengan nilai kuat tiekan bieton. Kuat tiekan bieton mierupakan kiemampuan bieton untuk mienierima bieban piersatuan luas Bienda uji bieton hancur bila dibiebani diengan gaya tiekan tiertientu yang dihasilkan olieh miesin tiekan. Nilai kuat tiekan bieton sieringkali mienjadi paramietier utama untuk miengienali mutu siebuah konstruksi, kariena kuat tiekan bieton miengidientifikasikan mutu dari siebuah struktur.
Kuat tiekan bieton miengalami kienaikan sieiring biertambahnya hari sampai umur 28. Kuat tiekan bieton dipiengaruhi olieh siejumlah faktor. Menurut penelitian sebelumnya beberapa faktor yang sangat mempengaruhi kekuatan beton, yaitu faktor air semen dan kepadatan, umur beton, jumlah semen, dan sifat agregat [2]. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh variasi jenis pengikat beton terhadap sifat mekanis beton, dengan fokus pada analisis kekuatan mekanis. Jenis pengikat beton memiliki peran kunci dalam membentuk ikatan antar partikiel agregat dan pasta semen, yang pada gilirannya memengaruhi kekuatan tekan.
Dalam konteks ini, variasi jenis pengikat beton mencakup penggunaan pengikat tradisional, pengikat polimier, dan bahan aditif khusus lainnya. Pengamatan terhadap sifat mekans beton pada kondisi tersiebut akan memberikan pemahaman lebih mendalam tentang sejauh mana jenis pengikat beton dapat memengaruhi kekuatan beton dan kinierja strukturalnya.
Sebelumnya, [3]. melakukan penelitian dengan menggunakan benda uji berbentuk kubus berukuran 150 x 150 x 150 mm dengan variasi Faktor Air Semen (FAS) 0,4 ; 0,5 ; dan 0,6 sedang proporsi jumlah semen bervariasi dari 350kg, 400kg, 450kg, dan 500kg. Benda uji kubus diuji dengan beban tekan pada saat berumur 28 hari. Hasil penelitian mienunjukkan bahwa Faktor Air Semen (FAS) optimum berada pada FAS 0,4 dan dengan jumlah semen 350kg, yaitu sebesar 37,05MPa. Kuat tekan tersebut memenuhi persyaratan beton mutu normal dengan nilai kuat tekan kurang dari 42MPa pada umur 28 hari.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diidentifikasi jenis pengikat beton yang paling cocok untuk kondisi tertentu, sehingga dapat ditingkatkan kualitas dan kekuatan struktur beton. Pemahaman yang lebih baik tentang interaksi antara jenis piengikat beton dan sifat mekanis beton akan membawa kontribusi positif dalam upaya peningkatan keberlanjutan dan kehandalan struktur konstruksi. Pemilihan yang tepat dapat memperbaiki kualitas struktur bangunan, mengurangi risiko kerusakan struktural, dan meningkatkan masa pakai konstruksi.
Selain itu, implikasi penelitian ini dapat merangsang inovasi dalam desain struktural dengan mempertimbangkan variasi jenis pengikat beton. Kemungkinan adopsi pengikat beton yang ramah lingkungan atau menggunakan bahan daur ulang juga dapat mendukung prinsip-prinsip keberlanjutan dalam industri konstruksi. Dengan menyediakan pemahaman yang lebih baik tentang pengaruh jenis pengikat beton terhadap sifat mekanis, penelitian ini dapat menjadi dasar untuk perbaikan standar konstruksi, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan efisiensi keseluruhan proses konstruksi. Dengan demikian, hasil penielitian ini memiliki potensi untuk membentuk perkembangan positif dalam industri konstruksi menuju struktur bangunan yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Dengan Dasar Uraian Di Atas, Menjadi Latar Belakang Untuk Mengadakan Penelitian Di Laboratorium Dan Menuliskan Ke Dalam Bentuk Tugas Akhir Dengan Judul : Pengaruh Variasi Jenis Pengikat Beton Terhadap Kekuatan Mekanis Beton: Analisis Sifat Mekanis Dalam Konteks Penggunaan Pengikat Berbeda.
Rumusan Masalah : 1. Bagaimana variasi jenis pengikat beton, termasuk pengikat tradisional dan polimer, memengaruhi kekuatan tekan beton dalam konteks pembuatan struktur konstruksi?, 2. Sejauh mana jenis pengikat beton berbeda, seperti yang digunakan dalam penelitian ini, dapat mempengaruhi kekuatan tekan beton, serta bagaimana interaksi antar parameter ini dapat memberikan dampak pada sifat mekanis keseluruhan beton?. Batasan Masalah : Pembahasan pada penulisan ini terbatas pada pengujian kuat tekan beton. Tujuan yang dicapai setelah melakukan penelitian adalah : 1. Dapat mengetahui perbandingan kuat tekan pada masing-masing semen, 2.Dapat mengetahui komposisi yang efektif dan dapat memenuhi target yang diinginkan, 3. Dapat mengetahui sifat-sifat fisik beton yang baik dan kurang baik, Manfaat dari penelitian ini adalah : 1.Peningkatan Kinerja Konstruksi, Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja struktur konstruksi dengain memperkenalkan pemahaman yaing lebih baik tentang variasi jenis pengikat beton. Dengan pemilihan yang tepat, struktur konstruksi dapat memiliki kekuatan dan daya tahan yang lebih baik, meningkatkan masa pakai dan keamanan. 2. Pemilihan Material yaing Optimal, Hasil penelitian ini dapat membantu pemangku kepentingan dailam memilih jenis pengikat beton yaing optimal sesuai dengan persyaratan spesifik proyek konstruksi. Pemilihan yang bijak daipat mengoptimailkan penggunaan maiterial dan mencapai kinerja struktural yang diinginkan.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara pengujian di laboratorium sesuai dengan data-data dari studi pustaka, Standar Indonesia. Saimpel yaing aikain dibuait aidailaih beton kerais dengain perbaindingain komposisi caimpurain yaing telaih ditentukain. Jumlaih bendai uji tekain maising-maising 6 buaih berbentuk silinder dengain ukurain diaimeter 15 cm dain tinggi 30 cm.
Pada pembuatan sampel dan pengujian, kami menggunaikan alat, bahan, dan tempat sebagai berikut :
A. Alat
B. Bahan
Figure 1.
C. Kebutuhan Bahan
Dalam penelitiain ini, kami merencanakan membuat sejumlah benda uji beton berbentuk silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.
D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaikukan di Laiboratorium Pengujian Konstruksi Sidoairjo.
Semen
Semen berasal dari bahasa latin cementum. Dimana kata ini mula-mula dipakai oleh bangsa Roma yang berarti bahan atau ramuan pengikat. Dengan kata lain, semen dapat didefinisikan sebagai suatu bahan perekat yang berbentuk serbuk halus, bila ditambah air akan terjadi reaksi hidrasi sehingga dapat mengeras dan digunakan sebagai pengikat.
Semen merupakan salah satu bahan perekat yang jika dicampur dengan air mampu mengikat bahan-bahan padat seperti pasir dan batu menjadi suatu kesatuan kompak. Sifat pengikat semen ditentukan oleh susunan kimia yang dikandungnya [4]. Unsur utama yang terkandung dalam semen dapat digolongkan ke dalam empat bagian yaitu trikalsium silikat (C3S), dikalsium silikat (C2S), trikalsium aluminat (C3A), dan tietrakalsium aluminoifierit (C4AF). Selain itu, pada semen juga terdapat unsur-unsur lainnya dalam jumlah kecil, misalnya MgO, TO2, Mn2O3, K2O dan Na2O [5]. Soda atau potasium (Na2O dan K2O) merupakan komponen minor dari unsur-unsur penyusun semen yang harus diperhatikan, karena keduanya merupakan alkalis yang dapat bereaksi dengan silika aktif dalam agregat, sehingga menimbulkan disintegrasi beton [4].
Massa jenis semen yang diisyaratkan oleh ASTM adalah 3,15 gr/cm3. Pada kenyataannya massa jenis semen diproduksi berkisar antara 3,03 gr/cm3 sampai 3,25 gr/cm3. Variasi ini akan berpengaruh proporsi campuran semen dalam campuran.
a. Semen Gresik
Semen Gresik adalah produk semen dengan mutu kuat tekan awal lebih tinggi serta lebih cepat kering pada penggunaan tipe bangunan apapun. Semen Gresik mudah digunakan dengan kualitas hasil lebih halus. Diproduksi menggunakan bahan baku terpilih sehingga mampu memperkuat konstruksi bangunan Anda. Semen Gresik sudah melalui proses uji coba Sistem Manajemen ISO 14001 dan telah terbukti sebagai produk ramah lingkungan. Kebutuhan spesifik bahan baku untuk membuat 1 ton terak dibutukan 1,7 ton bahan baku, diantaranya 1,45 ton mix material, 0,18 ton batu kapur (high grade), 0,06 ton copper slag, dan 0,02 ton pasir silica. Untuk membuat semen jenis OPC digunakan bahan baku batu kapur, tanah liat, copper slag, gypsum dan fly ash. Sedangkan untuk membuat semen PPC digunakan bahan tambahan berupa trass. Bahan bakar utama yang digunakan adalah batubara, Industrial Diesel Oil (IDO) dan sekam sebagai alternatif fuel.
Keunggulan Produk :
Aplikasi Produk :
b. Semen Tiga Roda
Semen Tiga Roda jenis PCC (Portland Composite Cement) ini biasanya digunakan untuk bangunan-bangunan pada umumnya, sama dengan penggunaan Semen Portland Tipe I dengan kuat tekan yang sama. Hanya saja PCC mempunyai panas hidrasi yang lebih rendah selama proses pendinginan dibandingkan dengan Semen Portland Tiga Roda Tipe I, sehingga pengierjaannya akan lebih mudah dan menghasilkan permukaan beton atau plesteran yang lebih rapat dan biasanya lebih halus.
Semen Tiga Roda jenis PCC digunakan dalam konstruksi beton umum yang mengutamakan durabilitas atau ketahanan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Semen Tiga Roda jenis PCC diproduksi dengan bahan baku terbaik dengan mengedepankan aspek keberlanjutan mulai dari proses produksi sampai kepada performance produk.
c. Semen Merah Putih
Semen Merah Putih merupakan semen berkualitas premium yang memberikan hasil akhir bangunan yang lebih kuat dan tahan lama. Semen Merah Putih dikembangkan untuk memenuhi persyaratan standar mutu Indonesia [6]. Pemenuhan pada standar tersebut untuk menjamin kualitas Semen Merah Putih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan semen berkualitas premium [7]. Semen Merah Putih tersedia di berbagai kota besar di Indonesia dalam kemasan kantong 40 kg dan 50 kg.
2.1 Pembuatan Benda Uji
Mempersiapkan material yang akan digunakan dalam pembuatan benda uji terliebih dahulu. Pada perancangan beton tidak ditentukan mutu beton yang direncanakan, tetapi ditentukan oleh faktoir air semen. Sebelum melakukan pengecoran, jumlah takaran material yang sudah disiapkan dicek kembali.
a. Agregat Halus
Kebutuhan pasir dicek terlebih dahulu dalam satu kali pengadukan, sehingga hasil rencana campuran tercapai
b. Agregat Kasar
Dilakukan pengecekan ulang untuk mengetahui takaran kebutuhan agregat kasar dalam satu kali pengadukan dan menyamakan kondisi agregat dengan hasil analisa agregat. Agar hasil rencana campuran tercapai.
c. Semen
Dilakukan pengecekan takaran berat semen dan kondisi fisik semen, sudah tierjadi pengerasan atau belum. Kalau sudah terjadi pengerasan sebagian pada semen, semen tidak bisa digunakan dan harus diganti dengan koindisi yang bagus.
d. Air
Persiapan air dilakukan pada saat melakukan pengecoran, jumlah air yang digunakan sesuai dengan jumlah air yang tielah direncanakan.
Berikut adalah kompoisisi dalam pembuatan benda uji :
3. Prosedur
Piengujian ini dilakukan untuk miencari nilai slump pada bietoin siegar, mielihat pierbandingan antara nilai slump diengan kuat tiekan bietoin yang tiercapai.
Pengujian ini dilakukan untuk mencari nilai berat isi beton siegar.
Figure 2.
Pengujian ini dilakukan untuk mencari nilai waktu ikat beton segar, mencari hubungan waktu ikat pada beton segar dengan suhu pada waktu pengujian.
Pengujian kuat tekan dilakukan untuk membandingkan kuat tekan pada jenis pengikat yang berbeda.
3. Perhitungan
Figure 3.
Keterangan :
P= beban maksimun (kg)
A= luas benda uji (cm)
n= jumlah benda uji
3.1 ANALISIS KUAT T EKAN B ETO N
Metode penelitian ini dilaksanakan dengan cara pembuatan beton normal. Pertama dilaksanakan persiapan alat dan bahan untuk uji pendahuluan bahan pembuat beton [12]. Setelah itu dilaksanakan perhitungan mix desain beton berdasarkan hasil uji pendahuluan bahan. Kemudian tahap selanjutnya adalah pembuatan beton dan menguji beton–beton tersebut pada usia 24 jam (1 hari) dan 3 hari. Beton dibuat menggunakan benda uji silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.
Figure 4.
GRAFIK HASIL UJI PENGIKAT KUAT TEKAN BETON
Figure 5. Gambar 3.1. Grafik Hasil Uji Pengikat Kuat Tekan Beton Semen Gresik
Pada grafik di atas, terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen gresik tidak selalu sama. Kuat tekan yang dihasilkan sampel tiga (SG 1.3) mengalami penurunan yang drastis. Hal tersebut disebabkan oleh homogen yang dihasilkan berbeda.
Figure 6. Gambar 3.2. Grafik Hasil Uji Piengikat Kuat Tiekan Bietoin Siemien Tiga Roida
Pada grafik di atas, terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen gresik tidak selalu sama. Ada saat dimana posisinya menurun, yaitu pada uji SG 1.3, namun penurunannya hanya sedikit saja.
Figure 7.
Figure 8. Gambar 3.3. Grafik Hasil Uji Piengikat Kuat Tiekan Bietoin Siemien Mierah Putih
Pada grafik di atas, terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen merah putih awalnya tinggi. Namun pada sampel dua hasil uji kuat tekannya menurun, dan sedikit naik kembali di sampel ketiga.
Figure 9. Gambar 3.1. Grafik Hasil Uji Pengikat Kuat Tekan Beton Semen Gresik
Pada grafik di atas terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen gresik memiliki kuat tekan yang sangat berbeda drastis. Pada sampel pertama, kuat tekan yang dihasilkan rendah. Pada sampel kedua, kuat tekannya sangat tinggi. Namun, kuat tekan yang dihasilkan sampel ketiga menurun drastis dari sampel kedua.
Figure 10. Gambar 3.2. Grafik Hasil Uji Pengikat Kuat Tekan Beton Semen Tiga Roda
Pada grafik di atas terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen tiga roda berbanding terbalik dengan kuat tekan yang dihasilkan jenis pengikat sebelumnya. Kuat tekan yang dihasilkan oleh jenis pengikat menggunakan semen tiga roda rendah pada sampel kedua, sedangkan sampel satu dan tiga sangat tinggi.
Figure 11.
Figure 12. Gambar 3.3. Grafik Hasil Uji Piengikat Kuat Tiekan Bietoin Siemien Mierah Putih
Pada grafik di atas terlihat bahwa hasil uji kuat tekan menggunakan semen merah putih tidak selalu sama. Namun, kuat tekan yang dihasilkan merupakan kuat tekan yang tergolong lebih stabil dari dua jenis pengikat lainnya. Hal ini terlihat dari grafik yang menunjukkan bahwa kuat tekan yang dihasilkan tinggi.
Figure 13.
GRAFIK PERBANDINGAN UJI PENGIKAT KUAT TEKAN BETON
· Bietoin Umur 1 Hari
Figure 14. Gambar 3.4. Grafik Uji Kuat Tiekan Bietoin diengan Variasi Piengikat Lama Proisies Satu Hari
· Bietoin Umur 3 Hari
Figure 15. Gambar 3.5. Grafik Uji Kuat Tekan Beton dengan Variasi Pengikat Lama Proses Tiga Hari
Dari hasil analisa pengujian kuat tekan beton, didapatkan kesimpulan bahwa uji kuat tekan beton dengan umur 1 hari pada sampel pertama, semen tiga roda memiliki kuat tekan yang sangat kecil dibanding dua semen lainnya. Untuk sampel berikutnya, ketiga semen memiliki kuat tekan yang hampir sama. Pada sampel terakhir, semen Gresik mengalami penurunan kuat tekan. Sedangkan kuat tekan dua semen lainnya masih sama seperti di percobaan kedua [13].
Sedangkan pada uji kuat tekan beton dengan umur 3 hari, ketiga jenis semen memiliki kuat tekan yang berbeda. Semen gresik memiliki kuat tekan yang paling kecil. Pada sampel kedua, kuat tekan ketiga semen menduduki posisi yang sama [14]. Pada sampel ketiga, kuat tekan yang dihasilkan oleh semen gresik mengalami penurunan. Sedangkan dua semen lainnya mengalami kenaikan kuat tekan [15].
Kesimpulan :
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada bab-bab sebelumnya mengenai pengaruh variasi jenis pengikat betoin terhadap kekuatan mekanis beton, maka dapat dihasilkan sebagai berikut :
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa :
Adapun saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan ini, yaitu :
Ucapan Terima Kasih
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai tugas akhir skipsi sarjana S1 Akuntansi. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala sesuatu tanpa batas.
2. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan semangat serta dukungan.
3. Teman-teman seperjuangan yang telah banyak membantu peneliti dalam mempersiapkan penelitian artikel
ilmiah ini.
4. Dan seluruh pihak yang sudah terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan artikel ilmiah
ini.
Penulis berharap semoga artikel ilmiah ini dapat memberikan banyak pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua
[1] T. Mulyono, Teknologi Beton. Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Andi, 2004.
[2] N. S. Sahay, “Pengaruh Penambahan Kawat Bendrat Pada Campuran Beton Terhadap Kuat Tekan Beton,” Jurnal Sipil, vol. 5, no. 2, pp. 35–50, 2010.
[3] Badan Standardisasi Nasional, SNI 03-4804-1998 Metode Pengujian Berat Isi dan Rongga Udara dalam Agregat. Jakarta, Indonesia, 1998.
[4] Badan Standardisasi Nasional, SNI 1972:2008 Cara Uji Slump Beton. Jakarta, Indonesia, 2008.
[5] Badan Standardisasi Nasional, SNI 1974:2011 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder. Jakarta, Indonesia, 2011.
[6] D. D. Astanti and P. Saelan, “Studi Mengenai Hubungan Antara Kelecakan dengan Faktor Air Semen dan Kadar Air dalam Campuran Beton Berdasarkan SNI pada Kondisi Agregat Kering Udara,” Jurnal Teknik Sipil ITENAS, vol. 4, pp. 53–60, 2018.
[7] M. A. Maramis, “Pengaruh Variasi Jumlah Semen dengan Faktor Air yang Sama terhadap Kuat Tekan Beton,” Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan, vol. 12, no. 1, 2012.
[8] A. Widodo and M. A. Basith, “Analisis Kuat Tekan Beton dengan Penambahan Serat Roving pada Beton Non Pasir,” Jurnal Sipil dan Perencanaan, vol. 19, no. 2, pp. 155–162, 2017.
[9] R. A. I. Sari, S. E. Wallah, and R. S. Windah, “Pengaruh Jumlah Semen dan FAS terhadap Kuat Tekan Beton dengan Agregat dari Sungai,” Jurnal Teknik Sipil, 2015.
[10] H. Widhiarto and B. Sujatmiko, “Analisis Campuran Beton Berpori dengan Agregat Bergradasi Terpisah Ditinjau terhadap Mutu dan Biaya,” Jurnal Teknik Sipil, vol. 5, no. 2, 2012.
[11] A. M. Ximenes, A. Halim, and A. Suraji, “Pengaruh Komposisi Campuran Beton dan Jenis Semen terhadap Kelecakan dan Kuat Tekan Beton,” in Proc. 4th Conf. Innovation and Application of Science and Technology, 2021.
[12] Firnanda, “Kuat Tekan Beton dan Waktu Ikat Semen Portland Komposit (PCC),” Jurnal Online Mahasiswa Bidang Teknik dan Sains, vol. 1, no. 1, pp. 1–11, 2014.
[13] Sudirman and H. Santoso, “Pengujian Kuat Tekan Briket Biomassa Berbahan Dasar Arang Tempurung Kelapa,” Jurnal Pendidikan Teknik Mesin, vol. 8, no. 2, pp. 101–108, 2021.
[14] I. A. Ahmad, N. A. S. Taufieq, and A. H. Aras, “Analisis Pengaruh Temperatur terhadap Kuat Tekan Beton,” Jurnal Teknik Sipil ITB, vol. 16, no. 2, pp. 63–70, 2009.
[15] Nurzal and Z. Zakir, “Pengaruh Komposisi Fly Ash terhadap Kuat Tekan pada Pembuatan Paving Block,” Jurnal Teknik Mesin, vol. 4, no. 1, 2014.