Login
Section Innovation in Education

Implementation Of Learning Quality Management At Nurul Hidayah Integrated Islamic Elementary School, Papua


Implementasi Manajemen Mutu Pembelajaran Di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Hidayah Papua
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Moh. Nor Fiqni (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Learning quality management is essential for supporting quality education and student character development. Specific Background: SDIT Nurul Hidayah Papua implements learning quality management through curriculum integration, teacher development, academic supervision, facility management, and the Tahfizh Al-Qur’an program. Knowledge Gap: Further examination is needed to understand the implementation of learning quality management in the school context, particularly regarding human resources, facilities, and quality control. Aims: This study describes planning, implementation, and evaluation of learning quality management at SDIT Nurul Hidayah Papua. Results: Using descriptive qualitative methods, the study found structured planning, varied learning methods, continuous teacher development, academic supervision, and ongoing learning evaluation. However, teacher qualification mismatches, limited Tahfizh teachers, and inadequate facilities remain challenges. Novelty: The study presents integrated quality management practices combining academic and Islamic character development. Implications: Continuous strengthening of human resources, facilities, evaluation follow-up, and student-centered learning is required.


Key Findings Highlights


Teacher development involves training, in-house training, workshops, and academic supervision.


Learning activities combine interactive lectures, discussions, questioning, demonstrations, and religious practices.


Evaluation covers knowledge, skills, attitudes, facilities, and ongoing improvement.


Keywords : Learning Quality Management, Teacher Professionalism, Academic Supervision, Tahfizh Al-Qur’an, Continuous Improvement

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Kemajuan suatu negara tidak semata-mata dapat dinilai melalui parameter pertumbuhan ekonomi atau peningkatan kesejahteraan finansial, melainkan juga sangat bergantung pada sejauh mana kemajuan pada sektor pendidikan di negara tersebut tercapai. Pendidikan memiliki peranan esensial dalam membentuk fondasi sumber daya manusia yang berkualitas, mencakup seluruh tingkatan pendidikan mulai dari tingkatan awal pendidikan dini hingga tingkat pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. Peningkatan dan pemerataan kualitas serta aksesibilitas pendidikan di suatu negara secara proporsional akan berpotensi bagi negara tersebut untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di segala aspek kehidupan, seperti sosial, budaya, ekonomi, maupun teknologi.[1]

Pendidikan memegang peranan esensial untuk menghasilkan generasi yang unggul dan kompetitif. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki tanggung jawab signifikan dalam menjamin efektivitas proses pembelajaran.[2] Keberhasilan sebuah sekolah agar tercapainya tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai elemen, salah satunya yaitu mutu pendidikan. Memiliki pendidikan yang bermutu merupakan harapan bagi setiap masyarakat, bangsa dan negara. Sayangnya, pada saat ini, lanskap pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodasi tuntutan masyarakat. Bahkan sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan sebagai pewaris bangsa masih belum mencapai standar ideal apabila ditinjau dari perspektif etika, moral, dan kepribadian pada mayoritas budaya.[3]

Shaleh menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas pendidikan di Indonesia. Pertama, ketidakkonsistenan dalam implementasi kebijakan pendidikan nasional yang mengacu pada pendekatan input-output. Kedua, pengelolaan pendidikan yang cenderung birokratis dan terpusat, ini menyebabkan sekolah bergantung pada keputusan yang memakan waktu dan terkadang tidak selaras dengan kondisi lokal. Ketiga, partisipasi masyarakat khususnya orang tua yang cenderung terbatas pada kontribusi finansial, bukan pada aspek proses seperti keterlibatan dalam pengambilan keputusan, evaluasi, atau akuntabilitas pendidikan.[4]

Secara garis besar, ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian mutu pendidikan. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua: faktor internal yang bersumber dari internal sekolah, seperti peran kepala sekolah, kapabilitas guru, kurikulum yang diadopsi, serta kelengkapan sarana dan prasarana; adapun faktor eksternal berasal dari eksternal sekolah, yang meliputi kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, serta lingkungan sekitar sekolah.[5] Pada dasarnya setiap lembaga pendidikan mempunyai serangkaian kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mendukung keberlangsungan operasional serta manajemen organisasi secara optimal. Kebutuhan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari aspek yang bersifat administratif, akademis, sumber daya manusia, infrastruktur, hingga aspek pengembangan mutu layanan pendidikan. Pemenuhan seluruh kebutuhan tersebut merupakan faktor penentu dalam mewujudkan sistem pendidikan yang tidak hanya efektif, efisien, namun juga berkualitas guna mencapai lembaga pendidikan yang optimal.[6] Demikian diperlukan berbagai langkah strategis dan berkelanjutan yang lebih intensif untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara komprehensif. Peningkatan kualitas pendidikan hendaknya tidak terbatas pada peningkatan fasilitas fisik saja, tetapi juga harus mencakup penguatan kapabilitas tenaga pendidik, pengembangan kurikulum, penyempurnaan sistem manajemen pendidikan, serta peningkatan keterlibatan seluruh elemen terkait demi menciptakan layanan pendidikan yang berkualitas dan relevan sesuai tuntutan zaman.[7]

Pencapaian mutu pendidikan dapat dievaluasi melalui mekanisme pengawasan terhadap implementasi 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang mencakup Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, serta Standar Penilaian Pendidikan. Di antara kedelapan standar tersebut, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menempati posisi strategis karena berfungsi sebagai indikator utama keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dan sebagai dasar penjaminan mutu hasil belajar. Melalui pemenuhan SKL, satuan pendidikan dapat memberikan kepastian kualitas lulusan kepada para pemangku kepentingan, khususnya wali peserta didik. Pendekatan penjaminan mutu berbasis SNP ini selaras dengan praktik pengelolaan pendidikan yang diterapkan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Hidayah Papua, yang secara konsisten menjadikan SNP sebagai acuan peningkatan kualitas pendidikan.

SD Terpadu Nurul Hidayah merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar Islam yang ada di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan. Lembaga ini termasuk salah satu lembaga pendidikan unggulan di Kabupaten Jawijaya.[8] yang jelas kualitasnya meliputi aspek materi pembelajarannya (kognitif, afektif, psikomotorik), metode pembelajaran, sistem administrasi, serta kondisi lingkungan belajarnya yang kondusif.[9] Kualitas pendidikan yang dimaksud ini merujuk pada kualitas hasil lulusan suatu lembaga pendidikan, yang tertuang dalam capaian prestasi siswa, baik akademik maupun non-akademik [10]. Proses peningkatan kualitas ini diupayakan melalui pengelolaan mutu pendidikan yang dikenal dengan konsep Total Quality Management (TQM), yaitu pendekatan manajerial untuk meningkatkan kualitas secara komprehensif dalam lembaga pendidikan[11]. Lebih dari itu, untuk mewujudkan pengelolaan lembaga yang bermutu maka SD Terpadu Nurul Hidayah melakukan program pengembangan sumber daya manusia melalui pemanfaatan peralatan, lahan, kantor, produk, layanan, dan hubungan antar orang dalam organisasi secara efisien [12,13]. Salah satu bentuk programnya adalah SD Terpadu Nurul Hidayah Papua memberikan tawaran program unggulan Tahfidz Al-Qur’an. Program ini menunjukkan terjadinya peningkatan yang berkelanjutan, sebagai tindaklanjut dari keputusan BAN-S/M No. 1885/BAN-SM/SK/2022, yang menyatakan bahwa SD Terpadu Nurul Hidayah terakreditasi B, dengan jumlah siswa saat ini sekitar 129 siswa.[14]

Untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, lembaga pendidikan memiliki wewenang untuk terus melaksanakan program struktur organisasinya serta mengevaluasi secara berkala. [15] Hal ini sesuai sesuai dengan observasi awal yang dilakukan di SD Terpadu Nurul Hidayah. Diketahui SD Terpadu Nurul Hidayah telah memiliki program ungulan tahfizh Al Qur’an dan telah berinovasi dalam pelaporan pencapaian tahfizh kepada wali siswa melalui buku kontrol prestasi siswa, keberadaan buku kontrol prestasi siswa dapat memberikan layanan lebih baik kepada wali siswa sebagai pelanggan. Namun seiring berjalannya waktu masih ada beberapa hambatan pada penggunaan buku kontrol prestasi siswa yang menyebabkan hasil yang didapatkan kurang optimal. Berdasarkan hasil observasi di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Hidayah Papua, ditemukan faktor penghambat dalam pelaksanaan program tersebut karena: (1) Ketidaksesuaian kualifikasi pendidikan bagi staf pendidik, (2) Terbatasanya jumlah pembina tahfzh, (3) Sarana prasarana yang kurang mencukupi, sehingga masih memanfaatkan serambi.

Berdasarkan penelitian [16] dengan judul “Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan Di Sekolah Islam” Pendidikan Islam yang berkualitas memegang peranan yang esensial sebagai tameng dalam menghadapi berbagai dampak negatif dari meningkatnya globalisasi. Melalui pendidikan Islam yang berkualitas, para siswa dibekali dengan pemahaman agama yang kuat, prinsip keimanan yang kokoh, serta pengembangan karakter dan akhlak mulia, sehingga secara kompeten mereka dapat menyaring setiap pengaruh buruk yang dapat merugikan moral, budaya, maupun kepribadian.

Berdasarkan penelitian [17] dengan judul “Implementasi Manajemen Mutu Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar Islam” menunjukkan bahwa perlu dipertegas kembali terkait hakikat utama dari penyelenggaraan pendidikan adalah menciptakan karakter siswa menjadi insan yang ideal, berakhlak mulia, berwawasan luas, serta memiliki kompetensi yang sejalan dengan tujuan dan harapan pendidikan. Oleh karena itu, seluruh proses pendidikan hendaknya terfokus pada pengembangan individua tau sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas dalam akademik, namun juga memiliki kepribadian, etika dan kesiapan yang matang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian dan observasi di atas, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui implementasi manajemen mutu pendidikan khususnya mutu lulusan di sekolah SD Terpadu Nurul Hidayah Papua. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mendorong semua pihak untuk berkontribusi terhadap pengembangan sekolah dan memastikan keberhasilan mutu pdendidikan di sekolah selaras dengan harapan sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah 1. Mendeskripsikan perencanaan mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua. 2. Menganalisis pelaksanaan manejemen mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua. 3. Menganalisis sistem evaluasi dan pengendalian mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua.

Metode

Penelitian ini membahas tentang implementasi manajemen mutu pembelajaran di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Hidayah Papua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dituangkan dalam bentuk deskripsi. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran dan informasi lebih lanjut terkait implementasi manajemen mutu pembelajaran di SD Terpadu Nurul Hidayah Papua.

Penelitian ini dilakukan di SD Terpadu Nurul Hidayah Papua dengan mengamati implementasi kurikulum yayasan serta program yayasan seperti tahfizh Al Quran, fikih ibadah, bahasa arab dan pendidikan akhlak. Adapun variabel yang digunakan adalah SDM (Sumber Daya Manusia) dan sarana prasarana.[18]. Metode pengumpulan data: (1) Observasi dengan cara menelah tindakan atau perubahan pada objek penelitian, (2) dokumentasi dengan menelaah bahan tertulis atau digital pada lokasi penelitian, seperti informasi pustaka atau dokumen lainnya, (3) wawancara dengan mengajukan pertanyaan secara detail dan terstruktur sehingga mendapatkan tanggapan akurat dari kepala sekolah,guru dan orang tua siswa.[19]. Penelitian ini berfokus pada siswa selama proses pembelajaran dan praktik pembelajaran agar sesuai dengan teori dan pustaka.

Hasil penelitian terkait implementasi manajemen mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua menunjukkan proses pembelajaran yang cukup efektif meskipun masih menghadapi beberapa kendala yang perlu terus diatasi. Adapun informan pada penelitian ini mencakup kepala sekolah, guru tahfizh, guru kelas, dan wali murid. Selanjutnya, pengolahan data dilakukan dengan teknik Selanjutnya, pengolahan data dilakukan dengan teknik analisis kualitatif deskriptif menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dikategorikan menjadi tema-tema sesuai fokus penelitian, yaitu (1) pengelolaan SDM (guru dan tenaga kependidikan), (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) sarana dan prasarana, serta (4) efektivitas program unggulan Tahfizh Al-Qur’an. Keabsahan temuan diperkuat melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber (kepala sekolah, guru tahfizh, guru kelas, dan wali murid), serta konfirmasi temuan kepada informan kunci (member check) untuk memastikan konsistensi dan ketepatan interpretasi data.

Hasil dan Pembahasan

A.Hasil Penelitian

1.Perencanaan Mutu

Dalam konteks perencanaan mutu, SD Terpadu Nurul Hidayah melakukan perencanaan dalam bidang pembelajaran, sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan), serta sarana prasana. Perencanaan mutu untuk masing- masing bidang dijelaskan sebagai berikut:

a.Perencanaan mutu pembelajaran

SD Terpadu Nurul Hidayah melakukan perencanaan mutu pembelajaran melalui penyusunan kurikulum yayasan yang terintegrasi dengan kurikulum nasional, serta penguatan program unggulan seperti Tahfizh Al-Qur’an, pendidikan akhlak, dan pembiasaan ibadah. Perencanaan ini berfungsi untuk meningkatkan kinerja sekolah [22]. Penyusunan kurikulum dilakukan secara terstruktur dengan berpedoman pada visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter Islami. Lebih dari itu, penyusunan kurikulum dilakukan dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, serta koordinator program unggulan melalui forum rapat kerja dan diskusi internal sekolah, sehingga kurikulum yang disusun dapat merepresentasikan kebutuhan riil peserta didik dan kondisi faktual sekolah. Selanjutnya, berdasarkan kurikulum tersebut, setiap awal semester dilakukan penyusunan/ update rencana pembelajaran.

b.Perencanaan mutu SDM

SDM di SD Terpadu Nurul Hidayah terdiri dari 2, yaitu guru dan tenaga kependidikan. Perencanaan mutu untuk guru dilakukan dengan menyusun rencana penempatan guru sesuai dengan kualifikasi akademik dan kompetensi yang dimiliki. Hasil observasi dan wawancara dengan pimpinan sekolah menunjukkan bahwa 70% SD Terpadu Nurul Hidayah mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan. Khusus untuk program Tahfiz yang dikembangkan oleh sekolah, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perencanaan guru terdapat kekurang sebesar 30% dari jumlah yang seharusnya tersedia. Dampak dari kekurangan ini adalah pada beban kerja guru yang tidak merata.[21].

Figure 1. Gambar 1.kualifikasi guru

Perencanaan lain untuk guru dan tendik dilakukan melalui penyusunan rencana pelatihan internal, in-house training, dan pembinaan rutin pada awal dan pertengahan semester. Pelatihan ini berfungsi untuk meningkatkan kompetensi guru dan tendik [20].

c.Perencanaan mutu sarana prasarana

Perencanaan mutu sarana dan prasarana dilakukan melalui penyusunan rencana kebutuhan untuk memenuhi pembelajaran siswa. Pemenuhan sarana dan prasarana sekolah dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Beberapa sarana prasarana yang direncanakan antara lain kebutuhan ruang kelas, buku, ATK dan lainnya. Perencanaan ini digunakan sebagai dasar pengadaan pada proses pelaksanaan sekolah.

2.Pelaksanaan Mutu

a.Pelaksanaan mutu pembelajaran

Pelaksanaan mutu pembelajaran di SD Nurul Hidayah Papua dilaksanakan sebagai bentuk implementasi dari perencanaan mutu yang telah disusun sebelumnya. Proses pembelajaran dirancang untuk mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum yayasan, sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter Islami peserta didik. Guru menerapkan variasi metode pembelajaran, seperti ceramah interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, demonstrasi, serta pembiasaan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.[23]. Secara operasional, kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan jadwal pembelajaran harian yang telah ditetapkan oleh sekolah dan tertuang dalam dokumen perencanaan seperti kalender akademik, program tahunan, program semester, serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari kegiatan pendahuluan, inti, hingga penutup, yang seluruhnya mengacu pada perencanaan yang telah disusun oleh guru.

Model dan metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru telah disesuaikan dengan perencanaan pembelajaran. Guru menggunakan variasi metode pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, efektif, dan menyenangkan. Metode ceramah interaktif digunakan pada tahap awal pembelajaran untuk menyampaikan konsep dasar dan mengaitkan materi dengan pengalaman peserta didik. Selanjutnya, metode diskusi kelompok diterapkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kerja sama, serta keberanian peserta didik dalam menyampaikan pendapat. Sedangkan untuk Metode tanya jawab digunakan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman siswa dan mendorong partisipasi aktif. Selain itu, guru juga menerapkan metode demonstrasi, khususnya pada mata pelajaran yang membutuhkan praktik langsung atau pemahaman prosedural. Pembiasaan nilai-nilai keagamaan, seperti membaca doa sebelum dan sesudah pembelajaran, pembacaan Al-Qur’an, serta penanaman sikap disiplin, jujur, dan tanggung jawab, menjadi bagian integral dari proses pembelajaran sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan spiritual peserta didik.

Sedangkan untuk kesesuaian Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru telah disesuaikan dengan kurikulum nasional dan diperkaya dengan muatan khas kurikulum yayasan. Materi disusun secara sistematis dan bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik serta mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Guru memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan peserta didik dan selaras dengan nilai-nilai Islam yang menjadi ciri khas sekolah.

b.Pelaksanaan mutu SDM

Pelaksanaan mutu SDM di SD Terpadu Nurul Hidayah Papua dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari perencanaan mutu yang telah ditetapkan oleh sekolah. Pengelolaan SDM diarahkan untuk memastikan bahwa seluruh tenaga pendidik dan kependidikan bekerja secara profesional, disiplin, serta selaras dengan visi dan misi sekolah Islam terpadu.

Penempatan dan pembagian tugas SDM dilakukan Dalam pelaksanaan penempatan dan pembagian tugas berbasis kompetensi, disampaing menjadi guru kelas juga diberi tugas tambahan sebagai guru tahfizh. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian kelembagaan terhadap keterbatasan jumlah guru tahfizh yang tersedia. Penugasan tambahan tersebut tetap mempertimbangkan kemampuan dasar guru dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an, sehingga pelaksanaan pembelajaran tahfizh tetap berjalan secara efektif meskipun terdapat keterbatasan sumber daya manusia. sementara guru tahfizh ditugaskan berdasarkan kompetensi hafalan Al-Qur’an dan penguasaan metodologi pembelajaran tahfizh.

Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, seluruh SDM bekerja mengacu pada standar kinerja dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh sekolah. Standar kinerja guru mencakup perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, serta pembinaan karakter dan akhlak peserta didik. SOP kerja menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas administratif, kedisiplinan waktu, serta tata cara pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Dengan adanya standar dan SOP tersebut, pelaksanaan tugas menjadi lebih terarah, terukur, dan konsisten, sehingga mendukung tercapainya mutu pembelajaran yang diharapkan. sedangkan Pembinaan disiplin dan budaya kerja dilakukan secara berkelanjutan melalui keteladanan pimpinan, pembiasaan, serta pengawasan rutin. Kepala sekolah dan pimpinan yayasan berperan sebagai teladan dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan etos kerja. Disiplin waktu, kerapian administrasi, serta komitmen terhadap tugas menjadi bagian dari budaya kerja yang terus ditanamkan. Selain itu, pembinaan budaya kerja Islami dilakukan melalui kegiatan keagamaan bersama, seperti doa pagi, pembacaan Al-Qur’an, serta penguatan nilai-nilai keikhlasan, amanah, dan kerja sama. Pendekatan ini bertujuan untuk membentuk lingkungan kerja yang kondusif, harmonis, dan bernilai spiritual.

Pengembangan kompetensi SDM dilakukan melalui berbagai kegiatan peningkatan profesionalisme secara berkelanjutan. Guru didorong untuk mengikuti pelatihan, workshop, seminar pendidikan, serta kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) baik di tingkat sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, setiap bulan sekolah juga menyelenggarakan pembinaan internal, seperti supervisi akademik, diskusi pedagogik, dan sharing praktik baik antar guru. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kurikulum dan kebutuhan peserta didik.

Disamping itu, Sekolah juga menerapkan sistem penghargaan dan konsekuensi sebagai bagian dari pengendalian mutu SDM. Penghargaan diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan yang menunjukkan kinerja baik, dedikasi tinggi, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas, baik dalam bentuk apresiasi non-materi maupun bentuk lain yang bersifat motivasional. Sementara itu, konsekuensi atau pembinaan diberikan kepada SDM yang belum memenuhi standar kinerja atau melanggar ketentuan yang berlaku, melalui mekanisme teguran, pembinaan, dan evaluasi kinerja. Sistem ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, meningkatkan motivasi kerja, serta mendorong perbaikan kinerja secara berkelanjutan.

c.Pelaksanaan mutu sarana prasaranan

SD Tepadu Nurul Hidayah dalam Pelaksanaan mutu sarana dan prasarana dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia secara optimal untuk mendukung proses pembelajaran. Hasil observasi dan wawancara dengan pimpinan sekolah menunjukkan bahwa 70% belum memadai, dan 30% fasilas sudah memadai. Sekolah berupaya menyesuaikan penggunaan ruang kelas, media pembelajaran, serta fasilitas pendukung lainnya agar tetap dapat menunjang kegiatan belajar mengajar meskipun dalam kondisi keterbatasan. Pemanfaatan ruang alternatif, seperti serambi, menjadi solusi sementara dalam mengatasi keterbatasan ruang belajar.[25].

Figure 2. Gambar 2.kondisi sarana prasarana

1)Pengadaan dan Penyediaan Sarana dan Prasarana Sesuai Rencana dan Standar

Pengadaan dan penyediaan sarana dan prasarana dilakukan berdasarkan perencanaan kebutuhan yang disusun oleh sekolah dengan mengacu pada rencana kerja sekolah serta standar sarana dan prasarana pendidikan. Perencanaan ini mempertimbangkan prioritas kebutuhan pembelajaran, ketersediaan anggaran, serta kondisi riil sekolah. Dalam pelaksanaannya, sekolah berupaya menyediakan sarana pokok pembelajaran seperti ruang kelas, meja dan kursi belajar, papan tulis, serta media pembelajaran sederhana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Meskipun belum seluruh sarana terpenuhi secara ideal, pengadaan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan kebutuhan yang paling mendesak.

2)Pemanfaatan Sarana dan Prasarana untuk Pembelajaran

Pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran diatur agar dapat digunakan secara efektif dan merata. Ruang kelas digunakan sesuai jadwal pembelajaran yang telah ditetapkan, sehingga setiap kelas memperoleh waktu dan ruang belajar yang proporsional. Dalam kondisi keterbatasan ruang, sekolah memanfaatkan ruang alternatif, seperti serambi atau area tertentu di lingkungan sekolah, sebagai solusi sementara untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Setiap penggunaan sarana dan prasarana berada di bawah tanggung jawab guru kelas atau guru mata pelajaran yang bersangkutan, sehingga pemanfaatannya dapat terkontrol dan tetap terjaga fungsinya.

3)Pemeliharaan Rutin dan Berkala

Pemeliharaan sarana dan prasarana dilakukan secara rutin dan berkala untuk menjaga kelayakan serta keberlangsungan fungsi fasilitas sekolah. Pemeliharaan rutin meliputi kegiatan kebersihan ruang kelas, perawatan peralatan pembelajaran, serta pengecekan kondisi sarana secara sederhana yang dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui pembiasaan menjaga fasilitas sekolah. Sementara itu, pemeliharaan berkala dilakukan melalui perbaikan ringan maupun perawatan fasilitas yang mengalami kerusakan, sesuai dengan kemampuan sekolah. Upaya pemeliharaan ini bertujuan untuk memperpanjang usia pakai sarana dan prasarana serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

4)Inventarisasi Sarana dan Prasarana

Inventarisasi sarana dan prasarana dilakukan secara administratif melalui pencatatan barang milik sekolah dalam buku atau daftar inventaris. Setiap sarana dan prasarana yang dimiliki dicatat berdasarkan jenis, jumlah, kondisi, serta lokasi penggunaannya. Inventarisasi ini menjadi dasar bagi sekolah dalam melakukan pengawasan, perencanaan pengadaan selanjutnya, serta evaluasi kondisi sarana dan prasarana. Dengan adanya pencatatan inventaris yang tertib, sekolah dapat mengelola sarana dan prasarana secara lebih sistematis meskipun dalam keterbatasan fasilitas.

3.Evaluasi Mutu

a.Evaluasi mutu pembelajaran

Evaluasi mutu pembelajaran di SD Terpadu Nurul Hidayah dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya penjaminan mutu pendidikan. Evaluasi dilakukan melalui penilaian formatif dan sumatif, observasi sikap, serta penilaian keterampilan dan pengetahuan peserta didik. Evaluasi mutu pembelajaran di SD Terpadu Nurul Hidayah Papua dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran serta menjadi dasar perbaikan proses pembelajaran secara berkesinambungan.

1)Waktu Pelaksanaan Evaluasi

Evaluasi pembelajaran dilakukan pada beberapa tahapan waktu. Penilaian formatif dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung, baik pada akhir satu pertemuan maupun setelah penyelesaian satu submateri. Evaluasi ini bertujuan untuk memantau perkembangan belajar peserta didik secara berkelanjutan.

Sementara itu, penilaian sumatif dilaksanakan pada akhir satuan waktu tertentu, seperti akhir tema, akhir tengah semester, dan akhir semester. Selain itu, evaluasi sikap dan pembiasaan nilai keagamaan dilakukan secara kontinu melalui pengamatan harian selama peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran dan aktivitas sekolah.

2)Bentuk Evaluasi Pembelajaran

Bentuk evaluasi pembelajaran yang diterapkan bersifat beragam dan disesuaikan dengan karakteristik kompetensi yang dinilai. Evaluasi tertulis digunakan untuk mengukur penguasaan pengetahuan, seperti melalui tes pilihan ganda, isian, dan uraian. Evaluasi lisan dilakukan melalui tanya jawab, presentasi, serta hafalan, khususnya pada mata pelajaran tertentu dan program tahfizh Al-Qur’an. Selain itu, evaluasi keterampilan dilakukan melalui penilaian praktik, unjuk kerja, dan penugasan, sedangkan evaluasi sikap dilakukan melalui observasi langsung terhadap perilaku peserta didik selama proses pembelajaran dan kegiatan keagamaan sehari-hari.

3)Indikator Penilaian

Indikator penilaian disusun mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Indikator pengetahuan meliputi pemahaman konsep, kemampuan menjawab soal, dan penguasaan materi pembelajaran. Indikator keterampilan mencakup kemampuan mempraktikkan keterampilan tertentu, ketepatan dalam menyelesaikan tugas, serta kemandirian dalam belajar.Sementara itu, indikator sikap meliputi kedisiplinan, tanggung jawab, keaktifan, kerja sama, serta penerapan nilai-nilai Islami dalam perilaku sehari-hari. Indikator-indikator tersebut digunakan sebagai dasar dalam menentukan capaian hasil belajar peserta didik sekaligus sebagai bahan refleksi bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik sekaligus sebagai dasar refleksi bagi guru dalam memperbaiki strategi pembelajaran.

Pelaksanaan evaluasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akhir belajar, tetapi juga pada proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Evaluasi langsung proses pembelajaran dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas. Evaluasi ini dilaksanakan secara berkelanjutan, baik pada saat pembelajaran harian maupun dalam rentang waktu tertentu, seperti mingguan dan bulanan. Guru melakukan pengamatan langsung terhadap keaktifan peserta didik, interaksi guru dan siswa, penerapan metode pembelajaran, serta keterlaksanaan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Dengan demikian, evaluasi mutu pembelajaran berfungsi sebagai instrumen pengendalian mutu yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.[26]. Hasil evaluasi pembelajaran, baik yang berfokus pada proses maupun hasil belajar, disampaikan kepada orang tua peserta didik secara terstruktur. Penyampaian dilakukan terutama dalam bentuk laporan hasil belajar pada akhir semester yang memuat nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, informasi terkait perkembangan belajar dan sikap peserta didik juga disampaikan melalui buku penghubung, rapor, serta komunikasi langsung antara guru dan orang tua, baik pada saat pertemuan wali murid maupun dalam forum konsultasi tertentu.

b.Evalusi mutu SDM

Pelaksanaan Evaluasi mutu sumber daya manusia di SD Terpadu Nurul Hidayah dilakukan melalui penilaian kinerja guru dan tenaga kependidikan, yang mencakup aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta tanggung jawab profesional. Evaluasi ini dilaksanakan melalui supervisi akademik, rapat evaluasi internal, dan refleksi kinerja secara berkala.[27]. Pelaksanaan mutu sumber daya manusia di SD Terpadu Nurul Hidayah difokuskan pada upaya peningkatan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan melalui pembinaan berkelanjutan. Sekolah melaksanakan supervisi akademik secara rutin yang dilakukan oleh kepala sekolah, meliputi observasi proses pembelajaran, penelaahan perangkat pembelajaran, serta pemberian umpan balik konstruktif kepada guru. Supervisi ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan pembelajaran dengan perencanaan yang telah ditetapkan serta meningkatkan kualitas kinerja guru.[24] sedangkan Supervisi akademik dilaksanakan secara rutin dan terjadwal, umumnya dilakukan minimal satu kali dalam satu semester. Selain supervisi terjadwal, kepala sekolah juga melaksanakan supervisi insidental apabila ditemukan kebutuhan khusus, seperti adanya kendala dalam proses pembelajaran atau hasil evaluasi belajar peserta didik yang belum optimal. Pelaksanaan supervisi disesuaikan dengan kalender akademik sekolah agar tidak mengganggu proses pembelajaran, sehingga supervisi dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun Bentuk supervisi akademik dilakukan melalui beberapa teknik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Supervisi langsung dilaksanakan melalui observasi kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara nyata, mencakup metode pembelajaran yang digunakan, pengelolaan kelas, interaksi guru dan peserta didik, serta penerapan nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran. Selain observasi, supervisi juga dilakukan melalui wawancara atau dialog reflektif antara kepala sekolah dan guru untuk menggali kendala, kebutuhan, serta persepsi guru terhadap pelaksanaan pembelajaran.

Tindak lanjut dari supervisi akademik dilakukan dalam bentuk pemberian umpan balik konstruktif dan pembinaan profesional kepada guru. Hasil supervisi disampaikan secara personal melalui pertemuan individu, dengan menekankan pada aspek yang telah baik serta aspek yang perlu ditingkatkan. Selain itu, hasil supervisi juga menjadi bahan pembahasan dalam rapat evaluasi internal untuk merumuskan langkah perbaikan secara kolektif. Tindak lanjut lainnya berupa pendampingan, bimbingan teknis, serta rekomendasi untuk mengikuti pelatihan atau kegiatan pengembangan kompetensi guru. Dengan demikian, supervisi akademik tidak hanya berfungsi sebagai alat penilaian, tetapi juga sebagai sarana pembinaan dan peningkatan mutu sumber daya manusia secara berkelanjutan. Evaluasi proses pembelajaran tidak selalu disampaikan secara rinci dalam bentuk angka kepada orang tua, tetapi lebih banyak disampaikan dalam bentuk deskripsi perkembangan sikap, keaktifan, dan perilaku belajar peserta didik. Informasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh kepada orang tua mengenai perkembangan anak serta mendorong terjalinnya kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

c.Evaluasi mtu sarana prasaranan

Evaluasi mutu sarana dan prasarana dilakukan melalui peninjauan berkala terhadap kondisi dan pemanfaatan fasilitas pembelajaran. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian sarana yang tersedia dengan kebutuhan pembelajaran serta menentukan prioritas pengadaan dan perbaikan fasilitas.[28] Oleh karena itu, evaluasi mutu sarana dan prasarana perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan pengembangan fasilitas yang lebih sistematis agar dapat mendukung peningkatan mutu pembelajaran secara optimal.[29]

1.Evaluasi Ketersediaan Sarana dan Prasarana

Evaluasi ketersediaan dilakukan dengan membandingkan jumlah dan jenis sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah dengan kebutuhan pembelajaran yang telah direncanakan. Peninjauan ini mencakup ketersediaan ruang kelas, perabot pembelajaran, media belajar, serta fasilitas pendukung lainnya.

2.Evaluasi Kelayakan Sarana dan Prasarana

Evaluasi kelayakan dilakukan dengan menilai kondisi fisik sarana dan prasarana, seperti tingkat kerusakan, fungsi, dan kenyamanan penggunaannya. Penilaian ini dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan kondisi fasilitas. Sarana yang masih layak digunakan dipertahankan dan dirawat, sementara sarana yang mengalami kerusakan ringan maupun berat dicatat sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan atau penggantian.

3.Evaluasi Keamanan Sarana dan Prasarana

Aspek keamanan menjadi bagian penting dalam evaluasi mutu sarana dan prasarana. Sekolah melakukan peninjauan terhadap potensi risiko yang dapat membahayakan peserta didik dan warga sekolah, seperti kondisi bangunan, perabot, serta fasilitas pendukung lainnya. Sarana yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan diidentifikasi dan ditindaklanjuti dengan perbaikan sederhana atau pembatasan penggunaan. Evaluasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.

4.Evaluasi Pemanfaatan Sarana dan Prasarana

Evaluasi pemanfaatan dilakukan dengan meninjau sejauh mana sarana dan prasarana yang tersedia digunakan secara optimal dalam proses pembelajaran. Penilaian ini mencakup kesesuaian penggunaan ruang kelas, media pembelajaran, serta ruang alternatif yang dimanfaatkan dalam kondisi keterbatasan. Evaluasi pemanfaatan juga melihat keteraturan penggunaan fasilitas sesuai jadwal dan tanggung jawab pengguna, sehingga sarana yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan tidak mengalami pemborosan.

5.Evaluasi Efektivitas Biaya

Evaluasi efektivitas biaya dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian antara anggaran yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari penggunaan sarana dan prasarana. Sekolah menilai apakah pengadaan dan pemeliharaan fasilitas telah memberikan kontribusi nyata terhadap kelancaran dan kualitas pembelajaran. Dalam kondisi keterbatasan anggaran, sekolah mengutamakan penggunaan biaya secara efisien dengan memaksimalkan sarana yang ada dan merencanakan pengadaan secara bertahap berdasarkan skala prioritas.

B.Pembahasan

1.Perencanaan Mutu Pembelajaran dalam Perspektif Manajemen Mutu Pendidikan

Temuan penelitian menunjukkan bahwa perencanaan mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua pada dasarnya telah mengadopsi dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen mutu pendidikan secara cukup konsisten, khususnya dalam dimensi perencanaan strategis dan upaya pencegahan permasalahan sejak tahap awal. Hal ini tercermin dari adanya perumusan visi dan misi sekolah yang jelas, pengembangan kurikulum yang terstruktur, serta penyelenggaraan program-program unggulan yang dirancang sebagai instrumen penjaminan mutu pembelajaran.

Dengan demikian, perencanaan tersebut menunjukkan adanya komitmen kelembagaan yang kuat dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran, hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa perencanaan pada aspek sumber daya manusia dan sarana prasarana belum sepenuhnya optimal. Keterbatasan dalam pemetaan kebutuhan tenaga pendidik serta ketercukupan fasilitas pembelajaran menunjukkan adanya kesenjangan antara perencanaan yang telah disusun dengan kondisi faktual di lapangan. Oleh karena itu, perencanaan mutu pembelajaran masih memerlukan penguatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan riil sekolah serta mendukung pencapaian mutu pembelajaran secara optimal.[36]

2. Pelaksanaan Manajemen Mutu Pembelajaran sebagai Implementasi Perencanaan

Pelaksanaan manajemen mutu pembelajaran menunjukkan bahwa pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk mengimplementasikan perencanaan yang telah disusun ke dalam praktik pembelajaran secara nyata dan operasional. Hal ini tercermin dari penerapan beragam metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan secara berkala sebagai bentuk pembinaan profesional guru, serta keberlangsungan program tahfizh yang dijalankan secara konsisten sebagai bagian dari program unggulan sekolah. Berbagai praktik tersebut dapat dipandang sebagai indikator positif bahwa prinsip-prinsip manajemen mutu pembelajaran telah mulai diinternalisasikan dalam proses pembelajaran.

Meskipun demikian, hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan manajemen mutu pembelajaran belum sepenuhnya mencapai kondisi yang ideal. Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran masih menjadi faktor penghambat dalam mengoptimalkan proses pembelajaran, khususnya dalam mendukung inovasi dan pemanfaatan media pembelajaran yang lebih variatif. Selain itu, penerapan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student-centered learning) belum dilaksanakan secara optimal, sehingga berdampak pada tingkat partisipasi aktif dan kemandirian belajar siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun implementasi manajemen mutu pembelajaran telah berjalan, masih diperlukan upaya penguatan dan perbaikan berkelanjutan agar mutu pembelajaran yang ideal dapat terwujud secara lebih optimal dan berkesinambungan.[37]

3. Evaluasi dan Pengendalian Mutu sebagai Upaya Perbaikan Berkelanjutan

Sistem evaluasi dan pengendalian mutu pembelajaran yang dilaksanakan oleh sekolah pada dasarnya telah mencerminkan penerapan prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) dalam pengelolaan pendidikan. Hal ini terlihat dari pelaksanaan evaluasi pembelajaran secara rutin serta evaluasi terhadap program tahfizh yang dijadikan sebagai instrumen untuk menilai ketercapaian tujuan pembelajaran dan efektivitas program unggulan. Hasil evaluasi tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan manajerial, khususnya dalam merumuskan langkah-langkah perbaikan pembelajaran dan pengembangan program sekolah.

Meskipun demikian, temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas sistem pengendalian mutu pembelajaran masih memerlukan peningkatan, terutama pada aspek tindak lanjut hasil evaluasi. Mekanisme evaluasi yang telah berjalan belum sepenuhnya diiringi dengan perencanaan dan implementasi tindak lanjut yang sistematis, terukur, dan berkesinambungan. Kondisi ini berimplikasi pada belum optimalnya fungsi pengendalian mutu sebagai sarana peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, penguatan sistem tindak lanjut evaluasi menjadi kebutuhan penting agar proses evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi mampu mendorong peningkatan mutu pembelajaran secara konsisten dan berkelanjutan.[38]

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran pada Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Hidayah Papua dilaksanakan dengan cukup baik melalui penerapan prinsip perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan bersifat variatif dan kontekstual, disesuaikan dengan karakteristik peserta didik serta kurikulum yayasan, meskipun pemanfaatan model pembelajaran berpusat pada siswa (student-centered learning) dan teknologi pembelajaran masih belum optimal.

Pengelolaan sumber daya manusia menunjukkan adanya upaya peningkatan profesionalisme guru melalui pelatihan, in-house training, serta supervisi akademik yang dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan. Namun demikian, masih ditemukan ketidaksesuaian kualifikasi pada sebagian pendidik serta keterbatasan jumlah guru tahfizh yang memiliki kompetensi dan kualifikasi sesuai standar, sehingga berdampak pada pemerataan beban tugas dan efektivitas pembelajaran tahfizh.

Dari aspek sarana dan prasarana, kondisi fasilitas sekolah belum sepenuhnya memenuhi standar mutu pembelajaran, terutama keterbatasan ruang kelas dan media pembelajaran, yang mengharuskan pemanfaatan ruang alternatif seperti serambi masjid. Meskipun demikian, dukungan orang tua dan yayasan menjadi faktor pendukung penting dalam menjaga keberlangsungan dan kualitas layanan pendidikan.

Secara keseluruhan, implementasi manajemen mutu pembelajaran di SDIT Nurul Hidayah Papua memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik berbasis nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, penguatan pada aspek pengembangan sumber daya manusia, penyediaan sarana prasarana, serta optimalisasi pembelajaran berpusat pada siswa perlu terus dilakukan guna mencapai mutu pembelajaran yang lebih optimal dan berkelanjutan.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti menyampaikan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada SD Terpadu Nurul Hidayah Papua, yang telah memberikan kesempatan, kepercayaan, dan akses penuh selama proses pengumpulan data berlangsung.

Apresiasi mendalam juga peneliti sampaikan kepada kepala sekolah, guru tahfizh, guru kelas, serta para wali murid yang telah meluangkan waktu, memberikan informasi, serta berbagi pengalaman berharga yang sangat membantu dalam memperkaya temuan penelitian.

Penghargaan yang sama peneliti tujukan kepada Yayasan Nurul Hidayah atas dukungan kelembagaan dan fasilitas yang diberikan selama proses observasi dan studi lapangan. Tidak lupa, peneliti berterima kasih kepada rekan-rekan akademisi, dosen pembimbing, serta seluruh pihak yang turut memberikan masukan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.

Semoga segala bantuan, kerja sama, dan kontribusi yang diberikan memperoleh balasan kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT.

References

Mawan, Ardi Ris, and Hana Catur Wahyuni, “The Development of Education Quality Based on Total Quality Management in Disruption Era: Pengembangan Mutu Pendidikan Berbasis Total Quality Management di Era Disrupsi.”

N. Suhaeni, “Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motifasi Kerja dalam Meningkatkan Kinerja Guru,” J. Accounting, Manag. Econ. Bus., vol. 1, no. 1, p. 32, 2022.

Kurniawan, “Apakah Total Quality Management Meningkatkan Mutu Sekolah Menengah Atas Di Kota Cirebon,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 79–90, 2020.

T. Kuntoro, “Manajemen Mutu Pendidikan Islam,” Jurnal Kependidikan, vol. 7, no. 1, pp. 84–97, 2019.

Priatna, “Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah,” Jurnal Administrasi Pendidikan, vol. 15, no. 1, pp. 80–90, 2018.

N. R. Sonia, “Implementasi Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMDIK) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo,” Southeast Asian Journal of Islamic Education Management, vol. 1, no. 1, pp. 94–104, 2020.

H. Hendrian, “Analisis Total Quality Management (TQM) dalam Manajemen Pendidikan Tinggi terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia,” Indo-MathEdu Intellectuals Journal, vol. 5, no. 2, pp. 2146–2161, 2024.

“Hasil Wawancara Kepala Sekolah SD Terpadu Nurul Hidayah, Tanggal 20 Mei 2025.”

R. Tanjung, Y. Supriani, A. Mayasari, and O. Arifudin, “Manajemen Mutu dalam Penyelenggaraan Pendidikan,” Jurnal Pendidikan Glasser, vol. 6, no. 1, pp. 29–36, 2022.

K. Holis, S. Quraisy, and A. Nurhadi, “Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Stakeholder Madrasah Aliyah,” Consilium: Education and Counseling Journal, vol. 3, no. 1, pp. 140–152, 2023.

M. Hasan, A. Warisno, N. Harahap, and N. H. Murtafiah, “Implementasi Manajemen Mutu Terpadu dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di SMP IT Wahdatul Ummah Kota Metro,” An Naba, vol. 5, no. 2, pp. 34–54, 2022.

Jemani, “Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Islam Berbasis Total Quality Management Di Era Disrupsi,” Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, vol. 13, no. 2, pp. 158–188, 2020.

N. Hidayati and N. I. Kumala, “Kontribusi Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Upaya Meningkatan Mutu Pendidikan Madrasah Aliyah Al-Amiriyyah Banyuwangi,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Darussalam, vol. 2, no. 2, pp. 377–397, 2020.

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, “Nomor 1885/BAN-SM/SK/2022.”

Y. Purwaningsih, “Implementasi Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMDIK) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah,” Borobudur Educational Review, vol. 2, no. 2, pp. 68–76, 2022.

M. Febrina and Z. Sesmiarni, “Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan di Sekolah Islam: Implementation of Educational Quality Management in Islamic Schools,” Thawalib: Jurnal Kependidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 433–452, 2024.

Listia, N. H. Murtafiah, and S. Fatmawati, “Implementasi Manajemen Mutu Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Islam,” UNISAN JURNAL, vol. 2, no. 2, pp. 671–680, 2023.

F. Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, 2023.

D. S. Purnia, M. F. Adiwisastra, H. Muhajir, and D. Supriadi, “Pengukuran Kesenjangan Digital Menggunakan Metode Deskriptif Berbasis Website,” Evolusi: Jurnal Sains dan Manajemen, vol. 8, no. 2, pp. 79–92, 2020.

D. P. Sari and A. Rahman, “Analisis Penempatan Guru Berdasarkan Kompetensi dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Administrasi Pendidikan, vol. 28, no. 2, pp. 112–123, 2021.

D. Kurniawan, “Kesesuaian Kualifikasi Akademik Guru terhadap Kinerja Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, vol. 6, no. 1, pp. 55–68, 2020.

Susanto and A. Muslim, “Pengembangan Profesional Guru Melalui Pelatihan Internal dan In-House Training,” Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 14, no. 1, pp. 45–59, 2022.

D. Mulyani, “Peran Pelatihan dan Workshop dalam Membangun Budaya Mutu Guru di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 30, no. 2, pp. 118–130, 2023.

S. Istiqomah and Wahyudi, “Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran,” Jurnal Administrasi Pendidikan, vol. 27, no. 1, pp. 77–89, 2020.

H. Siregar and S. Suyanto, “Supervisi Dialogis dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru,” Jurnal Manajemen dan Supervisi Pendidikan, vol. 5, no. 2, pp. 134–145, 2021.

L. Fitriani, “Analisis Hambatan Pengembangan SDM Pendidik di Sekolah Berbasis Islam Terpadu,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 88–102, 2020.

N. Maulida and Syamsuddin, “Analisis Kecukupan Sarana dan Prasarana dalam Mendukung Mutu Pembelajaran Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, vol. 7, no. 2, pp. 89–103, 2021.

S. Harahap, “Ketersediaan Fasilitas Sekolah dan Pengaruhnya terhadap Proses Pembelajaran,” Jurnal Infrastruktur Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 12–25, 2022.

F. Hamdani and M. Yusuf, “Manajemen Program Tahfidz di Sekolah Dasar Berbasis Islam Terpadu,” Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 10, no. 2, pp. 150–162, 2022.

Nurhadi, “Efektivitas Pembinaan Tahfidz Berbasis Evaluasi Berkala di Sekolah Dasar,” Jurnal Studi Qur’an dan Pendidikan Islam, vol. 3, no. 1, pp. 77–89, 2021.

S. R. Yuliana and L. Hakim, “Evaluasi Pembelajaran Komprehensif Berbasis Kompetensi di Sekolah Dasar,” Jurnal Evaluasi Pendidikan, vol. 12, no. 2, pp. 102–116, 2021.

F. Wijayanti, “Pengaruh Minimnya Media Pembelajaran Digital terhadap Kualitas Proses Belajar Mengajar,” Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 23, no. 2, pp. 120–133, 2021.

N. Maulida and Syamsuddin, “Analisis Kecukupan Sarana dan Prasarana dalam Mendukung Mutu Pembelajaran Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, vol. 7, no. 2, pp. 89–103, 2021.

Setyawan, “Kolaborasi Sekolah dan Yayasan dalam Pengadaan Sarana Prasarana Pendidikan,” Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 12, no. 2, pp. 155–167, 2020.

Rahmawati and A. Maulana, “Peran Partisipasi Orang Tua dalam Peningkatan Mutu Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan dan Kebijakan Sekolah, vol. 5, no. 1, pp. 29–41, 2023.

Munastiwi and W. Kustiningsih, “Penerapan Total Quality Management (TQM) dalam Pendidikan Dasar,” Jurnal Manajemen Mutu Pendidikan, vol. 8, no. 1, pp. 55–67, 2020.

T. Riyadi and A. Rohman, “Continuous Improvement dalam Manajemen Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar,” Jurnal Administrasi Pendidikan, vol. 29, no. 2, pp. 201–214, 2021.

M. Fikri, “Stakeholder Engagement dalam Implementasi Manajemen Mutu Sekolah,” Jurnal Kepemimpinan Pendidikan, vol. 5, no. 2, pp. 170–185, 2022.