Login
Section Innovation in Education

Web-Based Learning Media Improves Concept Understanding and Student Engagement

Media Pembelajaran Berbasis Web Mendorong Pemahaman Konsep dan Keterlibatan Siswa
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Fauzi Nurfatah (1)

(1) Institut Pendidikan Indonesia, Indonesia

Abstract:

Background: Education quality in rural areas often faces challenges due to limited access to technology and conventional teaching methods that reduce student motivation. Specific Background: In SDN 3 Bojong, Bungbulang, traditional teaching dominated by lectures and textbooks resulted in suboptimal learning outcomes and low student engagement, especially in science subjects. Knowledge Gap: Limited studies have examined the use of web-based media in elementary schools in rural areas with restricted infrastructure. Aim: This study investigates how web-based learning media supports concept mastery and engagement in science lessons. Results: Using a quasi-experimental design with pre-test and post-test, significant differences were found between experimental and control groups. Post-test mean scores improved to 88.5, and 96% of students reached the mastery criterion. N-gain analysis showed a medium category improvement (0.6210 or 62.10%). Student interest was categorized as very high (94.44%). Novelty: This study highlights the successful implementation of web-based media in a rural elementary school context, showing its capacity to create interactive and enjoyable learning experiences. Implications: Findings support integrating web-based media as an accessible solution to foster conceptual understanding and engagement in resource-limited educational settings.


Highlight


  • Significant improvement in student concept understanding measured by pre-test and post-test




  • High student engagement and interest after using web-based media




  • Medium category learning gain (N-gain = 0.62) indicates effective learning process




Keyword: Web-Based Learning Media, Concept Understanding, Student Engagement, Interactive Learning, Elementary Education

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan memiliki peran penting dalam pembangunan suatu bangsa, karena kualitas pendidikan mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Dalam konteks Indonesia, pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kemajuan bangsa. Namun, rendahnya kualitas pendidikan di beberapa wilayah, terutama di daerah pedesaan, masih menjadi tantangan yang harus diatasi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah terbatasnya infrastruktur teknologi yang mendukung proses pembelajaran [1].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh [2], rendahnya hasil belajar di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan kurangnya penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Di SD Negeri 3 Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, ditemukan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan masih didominasi oleh ceramah dan penggunaan buku teks, yang kurang interaktif dan menarik bagi siswa. Hal ini berdampak pada rendahnya minat belajar dan hasil belajar siswa, terutama dalam mata pelajaran yang lebih teoritis seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) [1].

Minat belajar siswa memainkan peranan penting dalam keberhasilan pembelajaran. Menurut [3], minat belajar merupakan faktor intrinsik yang dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Semakin tinggi minat belajar siswa, semakin besar kemungkinan mereka untuk terlibat aktif dan mencapai hasil belajar yang lebih baik. Namun, minat belajar siswa dapat terpengaruh oleh banyak faktor, termasuk metode pembelajaran yang digunakan oleh guru [4].

Pemanfaatan teknologi, khususnya media berbasis web, diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan hasil dan minat belajar siswa. Pembelajaran berbasis web, menurut [1], memungkinkan penyampaian materi secara lebih menarik dan interaktif, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri. Selain itu, teknologi berbasis web dapat meningkatkan aksesibilitas materi pembelajaran yang lebih beragam dan fleksibel, yang sangat relevan untuk siswa di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan dalam hal infrastruktur dan akses ke sumber belajar tradisional [5].

Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pemanfaatan media internet berbasis web sebagai sumber belajar dalam meningkatkan hasil belajar dan minat belajar peserta didik kelas IV SD Negeri 3 Bojong. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap literatur pendidikan dengan menyoroti penerapan teknologi dalam pembelajaran di daerah dengan keterbatasan infrastruktur, serta memperkaya pemahaman mengenai manfaat media berbasis web dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experimental design) untuk mengkaji pengaruh pemanfaatan media internet berbasis web terhadap hasil belajar dan minat belajar peserta didik kelas IV SD Negeri 3 Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Desain eksperimen semu dipilih karena kondisi di lapangan tidak memungkinkan untuk menggunakan desain eksperimen murni dengan randomisasi penuh, yang sering kali digunakan dalam penelitian pendidikan untuk menilai hubungan sebab-akibat antara variabel independen dan dependen [6].

A. Pendekatan dan Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan kelompok kontrol yang tidak dipilih secara acak. Dalam desain ini, kelompok eksperimen menggunakan media pembelajaran berbasis web, sedangkan kelompok kontrol mengikuti metode pembelajaran konvensional. Penelitian eksperimen semu sering kali digunakan dalam penelitian pendidikan untuk mengatasi keterbatasan dalam implementasi randomisasi dan untuk menilai efektivitas intervensi dalam kondisi nyata di lapangan [6].

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 3 Bojong yang berjumlah 28 orang. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih kelompok eksperimen dan kontrol, dengan pertimbangan bahwa kedua kelompok memiliki karakteristik yang serupa. Menurut [6], purposive sampling adalah teknik pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.

C. Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki dua variabel utama:

1. VariabelIndependen: Pemanfaatan media internet berbasis web sebagai sumber belajar.

2. VariabelDependen: Hasil belajar dan minat belajar peserta didik. Hasil belajar diukur melalui tes kognitif, sementara minat belajar diukur dengan angket berbasis skala Likert [7].

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Tes Hasil Belajar: Tes yang diberikan sebelum (pre-test) dan setelah (post-test) perlakuan untuk mengukur pemahaman konsep siswa mengenai materi wujud zat dan perubahannya. Tes ini mencakup soal pilihan ganda dan uraian yang valid dan reliabel [7].

2. Angket Minat Belajar: Angket yang dirancang berdasarkan skala Likert untuk mengukur minat belajar siswa terkait penggunaan media berbasis web dalam pembelajaran. Menurut [8], skala Likert merupakan salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mengukur sikap atau minat karena kemudahan dalam pengisian dan analisisnya.

3. Observasi: Observasi dilakukan untuk mendokumentasikan aktivitas belajar siswa selama intervensi, serta untuk mendapatkan data kualitatif mengenai interaksi siswa dengan media berbasis web.

E. Prosedur Penelitian

1. PersiapanPenelitian: Peneliti memperoleh izin penelitian dari pihak sekolah dan menyiapkan instrumen penelitian, termasuk soal tes dan angket minat belajar. Selain itu, peneliti juga mempersiapkan platform media berbasis web yang akan digunakan selama penelitian.

2. Pelaksanaan Penelitian :

a. Pada tahap awal, semua siswa diberikan pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman mereka terhadap materi yang akan dipelajari.

b. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan menggunakan media berbasis web dalam pembelajaran IPA, sementara kelompok kontrol mengikuti pembelajaran konvensional.

c. Setelah perlakuan, kedua kelompok diberikan post-test untuk mengukur peningkatan hasil belajar. Angket minat belajar juga disebarkan untuk mengetahui perubahan minat belajar siswa.

3. Analisis Data: Data yang diperoleh dari tes hasil belajar dan angket minat belajar dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Wilcoxon untuk menguji perbedaan antara pre-test dan post-test. Selain itu, analisis N-gain dilakukan untuk mengukur efektivitas pembelajaran berbasis web dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut [9], analisis N-gain merupakan metode yang digunakan untuk menilai peningkatan pembelajaran secara signifikan dengan mengukur perubahan antara pre-test dan post-test pada masing-masing subjek.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Tes Pre-test dan Post-test: Untuk mengukur perubahan dalam hasil belajar siswa sebelum dan setelah pemanfaatan media berbasis web.

2. Angket Minat Belajar: Digunakan untuk mengukur perubahan minat belajar siswa terhadap pembelajaran berbasis web.

3. Observasi: Dilakukan untuk mendokumentasikan interaksi siswa dengan media berbasis web dan untuk memperoleh data kualitatif terkait pengalaman belajar siswa.

G. Analisis Data

Data dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik seperti SPSS atau Excel. Uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis perbedaan antara pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen dan kontrol. Analisis N-gain digunakan untuk mengevaluasi efektivitas perlakuan dalam meningkatkan hasil belajar siswa, yang merupakan metode yang telah terbukti efektif dalam penelitian pendidikan untuk mengukur efektivitas pembelajaran [7].

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

1. Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas IV Sebelum Diterapkan Media Pembelajaran Berbasis Website

Pretest dilakukan pada satu kelas sampel yaitu kelas IV SDN 3 Bojong Kec. Bungbulang Kab. Garut. Pretest diberikan sebelum kelas sampel diberikan perlakuan berupa media pembelajaran berbasis website sebagai bahan ajar. Siswa kelas IV SDN 3 Bojong Kec. Bungbulang Kab. Garut sendiri berjumlah 28 orang, namun jumlah siswa yang mengerjakan soal pretestsebanyak 27 orang siswa sebab satu orang siswa berhalangan hadir.

Soal yang digunakan dalam pretest merupakan soal yang sebelumnya telah dinyatakan valid dan reliabel yang mana soal berjumlah 20 soal yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan 10 soal uraian. Kisi-kisi soal pretest terlampir pada lampiran 2.x halaman xxdan soal pretest terlampir pada lampiran 2.x halaman xx.

Pada pretest setiap soal pilihan ganda memiliki skor 1 bila benar dan 0 jika salah, sedangkan untuk soal uraian menggunakan penskoran skala 1-3 yang dapat dilihat lebih rinci pada lampiran 2.2 halaman xx. Pemberian soal pretest bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV terkait materi wujud zat dan perubahannya. Sebelum diberikan soal pretest siswa tidak diberikan perlakuan apapun, hal ini bertujuan agar hasil pretest dapat menggambarkan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV secara utuh. Adapun distribusi nilai pretest kemampuan pemahaman konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV disajikan pada tabel 4.1

Nilai Frekuensi Persentase
34,2 1 4%
50 1 4%
60,5 1 4%
63,2 2 7%
65,8 2 7%
68,4 2 7%
71,1 4 15%
73,7 5 19%
76,3 4 15%
78,9 1 4%
81,6 4 15%
Table 1. Distribusi Nilai PretestPemahaman Konsep IPAS

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui nilai tertinggi, nilai terendah, dan nilai rata-rat pretest kemampuan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV menggunakan SPSS Statistics 24 yang disajikan pada tabel 4.2.

Deskriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean
PretestPemahaman Konsep 27 34.2 81.6 70.478
Valid (listwise) 27
Table 2. Statistik Deskriptif Nilai Pretest

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif nilai pretest menggunakan SPSS Staistics 24 diketahui bahwa nilai minimun atau nilai terendah yang diperoleh pada pretest kemampuan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahnnya adalah 34,2 kemudian nilai tertinggi yang diperoleh adalah 81,6 dari jumlah nilai maksimum yaitu 100, dan mean atau nilai rata-rata pretest sebesar 70,4. Hal ini menggambarkan banyak siswa yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) yang telah ditetapkan yaitu ≥ 75. Hasil pretestyang telah diuraikan pada tabel 4.1 dapat dikelompokkanberdasarkankriteriaketercapaiantujuanpembelajaran (KKTP) yang disajikan dalam tabel 4,3.

Kriteria ketuntasan KKTP (≥ 75) Kategori Frekuensi Persentase
Belum mencapai KKTP 18 66%
Mencapai KKTP 9 34%
Table 3. Pengelompokkan Hasil Pretest

Dari tabel 4.3 diketahui bahwa lebih adri setengah jumlah siswa yaitu sebanyak 66% (18 siswa) belum mencapai KKTP (≥ 75), dan baru 34% (9 siswa) yang sudah mencapai KKTP (≥ 75). Hal ini menggambarkan bahwa lebih dari setengah sampel siswa belum memahami konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya sebab nilai pretest siswa secara keseluruhan menunjukkan hasil yang kurang maksimal yaitu rata-rata nilai sebesar 70,4.

Setelah mendapatkan hasil nilai pretestkemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV dilakukanlah uji normalitas guna melihat apakah data berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitiaan ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik shapiro-wilk sebab sampel yang digunakan kurang dari 50 orang. Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

a. Jika nila sig > 0,05, maka data dinyarakan berdistribusi normal.

b. Jika nilai sig <0,05, maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.

Hasil uji normalitas pretest kemampuan pemahaman konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV disajikan dalam tabel 4.4.

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Mean
PosttestPemahaman Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Konsep .191 27 .013 .822 27 .000
Table 4. Hasil Uji Normalitas Nilai Pretest

a. Liliefors Significance Correction

Berdasarkan hasil uji normalitas nilai pretest kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV yang dilakukan berdasarkan uji normalitas shapiro-wilk menggunakan SPSS Statistics 24 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini berarti nilai signifikansi pretest kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV 0,000 < 0,05 artinya data pretest tidak berdistribusi normal.

Kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV terkait materi wujud zat dan perubahannya diukur berdasarkan beberapa indikator pemahaman konsep menurut Anderson & Krathwohl [10] yaitu:

(1) menafsirkan, siswa mampu menafsirkan wujud zat dan perubahan wujud zat; (2) mencontohkan, siswa mampu memberi contoh benda dengan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap); (3) mengklasifikasikan, siswa mampu mengklasifikasikan contoh benda dengan wujud zat (cair, padat, dan gas), dan (4) menjelaskan, siswa mampu menjelaskan proses terjadinya perubahan wujud zat. Adapun kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas Iv pada pretest yang diukur berdasarkan capaian indikator pemahaman konsep yang telah ditentukan disajikan pada gambar 4.1.

Figure 1. Grafik Persentase Capaian Indikator Pemahaman Konsep IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Pretest

Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menafsirkan wujud zat (cair, padat, dan gas) dan perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 63,7%, kemampuan siswa untuk mencontohkan wujud zat (cair, padat, dan gas) dan contoh perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 65,4%, kemampuan siswa untuk mengklasifikasikan contoh wujud zat (cair, padat, dan gas) dan contoh perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 75,9% dan kemampuan siswa untuk menjelaskan proses perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 69,9%. Capaian indikator pemahaman konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya pada pretest jika diurutkan berdasarkan capaian indikator mulai dari yang terendah hingga tertinggi maka dapat dinyatakan yaitu indikator menafsirkan (63,7%), mencontohkan (65,4%), menjelaskan (69,9%), dan mengklasifikasikan (75,9%).

2. Minat Belajar

Deskripsi data variabel minat belajar diperoleh dengan menghitung skor rata-rata dan persentase skor jawaban responden dari masing-masing alternatif jawaban kuesioner 9angket). Secara lebih rinci, tanggapan responden terhadap variabel minat belajar disajikan pada tabel 4.5.

Alternatif Jawaban f Bobot Hasil Persentase
Skor 5 2 5 10 7,99%
Skor 4 11 4 44 39,81%
Skor 3 13 3 39 49,19%
Skor 2 1 2 2 3,01%
Skor 1 0 1 0 0%
Jumlah 27 95 100%
Rata-Rata 3,52
Table 5. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Minat belajar

Tabel 4.5 memberikan gambaran mengenai skor jawaban responden untun variabel minat belajar yang terpusat pada alternatif jawaban skor 3 yaitu sebesar 49,19%. Sedangkan skor rata-rata jawaban responden untuk variabel minat belajar sebesar 3,53. Apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka tersebut berada pada rentang 3,40 – 4,19 atau pada kategori tinggi. hal ini menunjukkan minat belajar siswa kelas IV pada Mata pelajaran IPAS materi wujud zat dan perubahannya di SDN 3 Bojong, berada pada kategori tinggi. variabel minat belajar dalam penelitian ini diukur melalui empat indikator, yaitu (1) perasaan senang dalam belajar; (2) ketertarikan siswa dalam pembelajaran; (3) keterlibatan siswa dalam pembelajaran; dan 94) perhatian siswa dalam pembelajaran [11].

3. Efektivitas Media Pembelajaran Berbasis Web untuk meningkatkan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas IV

Untuk mengetahui efektivitas dari Media Pembelajaran Berbasis Web, maka dilakukan uji perbedaan nilai pretest dan posttest pemahaman konsep IPAS kelas IV terkait materi eujud zat dan perubahannya kemudian dilakukan juga uji N-gain untuk melihat seberapa jauh tingkat efektivitas media pembelajaran berbasis web yang diberikan pada sampel.

a. Uji Perbedaan Rerata

Uji perbedaan rerata pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxonsebab salah satu data yaitu data pretesttidak berdistribusi normal. Adapun hipotesis dalam uji perbedaan rerata adalah sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata hasil pretestdan posttest

kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV sekolah dasar.

Ha : Terdapat perbedaan rerata hasil pretest dan posttest kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV sekolah dasar.

Dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak (tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan).

b. Jika nilai signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima (terdapat perbedaan rerata yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan).

Hasil uji perbedaan rerata nilai pretest dan posttestmenggunakan uji wilcoxondisajikan dalam tabel 4.5.

Figure 2. Hasil Uji Perbedaan Rerata Wilcoxon

Berdasarkan hasil uji perbedaan rerata antara nilai pretest dan posttest kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV yang dilakukan berdasarkan uji wilcoxon menggunakan SPSS Statistics 24 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima sebab nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara nilai pretest (sebelum diberi perlakuan) dan nilai posttest (setelah diberi perlakuan).

b. Uji N- gain

Setelah didapatkan hasil uji perbedaan rerata nilai pretest dan posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV, selanjutnya dilakukanlah uji N-gain untuk melihat tingkat efektivitas dari perlakuan (treatment). Adapun hasil uji N-gain disajikan dalam tabel 4.6 sebagai berikut.

Figure 3. Hasil Uji N-gain

Berdasarkan hasil uji N-gain yang dihitung menggunakan SPSS Statistic 24 menunjukkan skor N-gain minimum yaitu 0,30, kemudian skor maximum N-gain yaitu 1,00, dan rata-rata skor N-gain sebesar 0,6210 atau dalam persen sebesar 62,10%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan (treatment) yang diberikan berupa media pembelajaran berbasis web untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA berada pada tingkat efektivitas sedang atau bisa dikatakan berada pada tingkat yang cukup efektif. Secara lebih rinci hasil perolehan N-gain terlampir pada lampiran 3.4 halaman 105. Adapun klasifikasi hasil perolehan N- gain siswa disajikan pada tabel 4.7.

No. Perolehan Skor N- gain Kategori Frekuensi
1 0,30 – 0,67 Sedang 18
2 0,70 – 1,00 Tinggi 9
Table 6. Klasifikasi Hasil Uji N-gainSiswa Kelas IV

Berdasarkan klasifikasi perolehan skor N-gain siswa kelas IV yang disajikan pada tabel 4.9 di atas dapat diketahui bahwa sebanyak 18 orang siswa (67%) berada pada kategori sedang artinya terdapat peningkatan pemahaman konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya dalam kategori sedang. Lalu 9 orang siswa (33%) berada pada kategori tinggi artinya terdapat peningkatan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya dalam kategori tinggi.

B. Pembahasan

1. Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas IV Sebelum Diterapkan Media Pembelajaran Berbasis Web

Pemahaman konsep siswa kelas IV pada materi wujud zat dan perubahannya sebelum diberikan perlakuan berupa pemanfaatan media internet berbasis web sebagai sumber belajar dapat dilihat dari hasil pretest yang menunjukkan nilai rata-rata 70,4. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman konsep siswa masih kurang optimal, karena belum mencapai nilai ketuntasan minimal (≥75) yang ditetapkan. Kesulitan siswa dalam memahami konsep, terutama dalam menafsirkan gambar atau teks soal, menghambat pencapaian pemahaman yang optimal [12], [13].

Analisis indikator pemahaman konsep menunjukkan beberapa kesulitan. Indikator menafsirkan wujud zat dan perubahannya memperoleh capaian terendah, dengan siswa mengalami kesulitan dalam mengartikan gambar atau teks soal. Hal ini sejalan dengan pendapat Watson yang menyatakan bahwa persepsi adalah salah satu kesulitan siswa dalam pembelajaran yang menghambat kemampuan mereka dalam mengenali informasi yang diterima [10]. Indikator mencontohkan peristiwa perubahan wujud zat memperoleh capaian 65,4%, dengan banyak siswa yang tertukar antara contoh perubahan wujud zat menguap dan mengembun. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan miskonsepsi pada siswa terkait contoh perubahan wujud zat [14].

Capaian tertinggi terdapat pada indikator mengklasifikasikan dengan 75,9%, meskipun masih ada kesulitan dalam mengklasifikasikan peristiwa perubahan wujud zat, terutama pada contoh menguap. Hal ini disebabkan oleh miskonsepsi pada indikator mencontohkan. Sedangkan indikator menjelaskan proses perubahan wujud zat mencapai 69,9%, dengan banyak siswa yang belum dapat menjelaskan proses perubahan wujud zat secara tepat [15].

Kesulitan ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep IPA siswa masih rendah, yang disebabkan oleh miskonsepsi dalam memberikan contoh perubahan wujud zat. Beberapa faktor yang menyebabkan miskonsepsi ini antara lain persepsi awal yang kurang tepat, pemahaman sebelumnya yang tidak lengkap, bahan ajar yang kurang mendukung, serta metode dan model pembelajaran yang tidak kontekstual [16], [17], [18]. Selain itu, kurangnya partisipasi dan respons siswa dalam pembelajaran juga berperan dalam kesulitan mereka memahami konsep [19].

2. Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas IV Setelah Diterapkan Media Pembelajaran Berbasis Web

Dengan diterapkannya media pembelajaran berbasis web dalam pembelajaran IPA materi wujud zat dan perubahannya, siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga memberikan siswa pengalaman secara langsung. Melalui langkah-langkah saintifik yang dipadukan dengan media Google Sites, siswa dapat mengkonstruksi pemahamannya mengenai wujud zat dan perubahannya dengan menyenangkan. Pembelajaran yang dilakukan dengan paduan permainan edukatif dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar, meningkatkan keterampilan kognitif, sosial, dan emosional mereka, serta memberikan pengalaman belajar yang menarik [20].

Setelah diberikan perlakuan (treatment)pendekatan saintifik berbantuan media pembelajaran berbasis web, dilaksanakan posttest yang bertujuan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV terkait materi wujud zat dan perubahannya setelah diberi perlakuan (treatment). Soal posttest dikerjakan oleh 27 orang siswa sebab 1 orang siswa berhalangan hadir, soal posttest terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan 10 soal uraian yang telah dinyatakan valid dan reliabel, secara rinci kisi-kisi soal posttestterlampir pada lampiran 2.8halaman93dan soal posttest terlampir pada

lampiran 2.9 halaman 96. Adapun distribusi nilai posttest pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV disajikan dalam tabel 4.6. Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui nilai tertinggi, nilai terendah dan nilai rata-rata pretest kemampuan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV menggunakan SPSS Statistics 24 yang disajikan pada tabel 4.9.

Nilai Frekuensi Persentase
71,1 1 4%
78,9 1 4%
81,6 5 19%
84,2 3 11%
86,8 3 11%
89,5 4 15%
92,1 4 15%
94,7 1 4%
97,4 1 4%
100 4 15%
Table 7. Distribusi Nilai Posttest Pemahaman Konsep IPAS
Deskriptive Statistics
N Minimum Maxium Mean
PosttestPemahaman Konsep 27 71.1 100 88.500
Valid (listwise) 27
Table 8. Statistik Deskriptif Nilai Posttest

Berdasarkan hasil statistik deskriptif nilai posttest menggunakan SPSS Statistics 24 diketahui bahwa setelah diberikan perlakuan (treatment) berupa pendekatan saintifik berbantuan media pembelajaran berbasis web nilai minimum atau nilai terendah dalam posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV materi wujud zat dan perubahannya adalah 71,1 kemudian nilai tertinggi yang diperoleh adalah 100 dari jumlah nilai maksimum 100, sedangkan meanatau nilai rata-rata dari hasil posttestadalah 88,5. Hal ini menggambarkan hampir seluruh siswa sudah mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) yang telah ditetapkan yaitu ≥75. Hasil posttest yang telah diuraikan pada tabel 4.9 dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) yang disajikan dalam tabel 4.10.

Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa hampir seluruh siswa sudah mencapai KKTP (≥75) yaitu sebanyak 26 siswa (96%) sudah mencapai KKTP (≥75), dan hanya 1 siswa (4%) yang belum mencapai KKTP (≥75). Hal ini menggambarkan bahwa siswa dapat memahami konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya dengan optimal dan dapat dikatakan siswa berhasil mengikuti pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbantuan permainan pos berangkai dilihat dari hasil ketuntasan posttest mencapai (96%).

Kriteria ketuntasan KKTP (≥ 75) Kategori Frekuensi Persentase
Belum mencapai KKTP 1 4%
Mencapai KKTP 26 96%
Table 9. Pengelompokkan Hasil Posttest

Sama halnya dengan hasil nilai pretest yang kemudian dilakukan uji normalitas, setelah mendapatkan hasil nilai posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV dilakukan pula uji normalitas dengan menggunakan teknik shapiro-wilk guna melihat apakah data berdistribusi normal atau tidak. Adapun kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai sig. > 0,05, maka data dinyatakan berdistribusi normal.

b. Jika nilai sig. <0,05, maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.

Hasil uji normalitas nilai posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV disajikan dalam tabel 4.11.

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Mean
PosttestPemahaman Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Konsep .191 27 .013 .822 27 .000
Table 10. Hasil Uji Normalitas Nilai Posttest

*. This is a lower bound of the true significance.

a. Lilliefors Significance Correction

Hasil uji normalitas nilai posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV yang dilakukan berdasarkan uji normalitas shapiro-wilk menggunakan SPSS Statistics 24 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,235. Hal ini berarti nilai signifikansi posttest kemampuan pemahaman konsep IPA siswa kelas IV 0,235 > 0,05 artinya data posttest berdistribusi normal.

Figure 4. Grafik Persentase Capaian Indikator Pemahaman Konsep IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Pretest

Berdasarkan hasil analisis soal posttest dengan indikator kemampuan pemahaman konsep IPA yang kemudian disajikan dalam grafik perentase pada gambar 4.2 dapat diketahui bahwa masing-masing indikator pemahaman konsep pada posttest mencapai 85%, yang pertama kemampuan siswa dalam menafsirkan wujud zat (cair, padat, dan gas) dan perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 93,3%, kemudian kemampuan siswa untuk mencontohkan wujud zat (cair, padat, dan gas) dan contoh perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 88,9%, lalu kemampuan siswa untuk mengklasifikasikan contoh wujud zat (cair, padat, dan gas) dan contoh perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 92,0% dan kemampuan siswa untuk menjelaskan proses perubahan wujud zat (mencair, membeku, dan menguap) mencapai 86,2%. Capaian indikator pemahaman konsep IPAS materi wujud zat dan perubahannya pada posttestjika diurutkan berdasarkan capaian indikator mulai dari yang terendah hingga tertinggi maka dapat dinyatakan yaitu indikator menjelaskan (86,2%), mencontohkan (88,9%), mengklasifikasikan (92%), dan menafsirkan (93,3%).

4. Efektivitas Media Pembelajaran Berbasis Web Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas IV

Efektivitas media pembelajaran berbasis web dilihat berdasarkan hasil uji perbedaan rerata dan uji N-gain. Hasil analisis uji perbedaan rerata menunjukkan nilai signifikansi 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak dan Ha diterima sebab terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara nilai pretest (sebelum diberi perlakuan) dan nilai posttest (setelah diberi perlakuan), berdasarkan hasil uji N-gain yang menunjukkan hasil sebesar 0,6210 atau 62,10% mengartikan bahwa pendekatan saintifik berbantuan permainan pos berangkai cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya.

Figure 5. Grafik Persentase Peningkatan Capaian Indikator Pemahaman Konsep IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Siswa kelas IV

Meningkatnya pemahaman konsep IPAS siswa kelas IV terkait materi wujud zat dan perubahannya juga dilihat berdasarkan peningkatan capaian indikator pemahaman konsep yaitu menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, dan menjelaskan. Berikut merupakan peningkatan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV sekolah dasar yang dilihat berdasarkan peningkatan capaian indikator pemahaman konsep yang disajikan pada gambar 4.3.

Berdasarkan gambar 4.3 diketahui bahwa masing-masing indikator pemahaman konsep mengalami peningkatan. Indikator pertama dalam pemahaman konsep yaitu menafsirkan pada saat pretest hanya mencapai 63,7% kemudian setelah diberi perlakuan, indikator menafsirkan mencapai 93,3% artinya indikator menafsirkan meningkat sebesar (29,6%) yang mana ini merupakan peningkatan tertinggi diantara peningkatan indikator pemahaman konsep lainnya. Hal ini didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada kegiatan mengamati melalui tayangan video mencapai 92,6%. Melalui kegiatan mengamati video siswa dapat distimulasi untuk belajar dengan lebih fokus dan terarah menemukan informasi baru yang berkaitan dengan materi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar [21].

Indikator pemahaman konsep yang kedua yaitu mencontohkan, pada saat pretest hanya mencapai 65,4% kemudian setelah diberi perlakuan, indikator mencontohkan mencapai 88,9% artinya indikator mencontohkan meningkat sebesar (23,5%).

Kemudian pada indikator ketiga yaitu mengklasifikasikan pada saat pretest mencapai 75,9% setelah diberi perlakuan, indikator mengklasifikan mencapai 92.0% artinya indikator mengklasifikasikan meningkat sebesar (16,1%). Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan indikator sebelumnya yaitu mencontohkan, kemampuan siswa dalam mencontohkan membuat siswa mampu mengklasifikasikan contoh wujud zat dan contoh perubahan wujud zat.

Indikator pemahaman konsep yang keempat yaitu menjelaskan, pada saat pretest mencapai 69,9%, kemudian setelah diberi perlakuan dan dilakukan posttest, indikator menjelaskan mencapai 86,2%, artinya indikator menjelaskan meningkat sebesar 16,3%. Pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis web membuat siswa belajar dengan menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dapat membuat siswa terlibat aktif dan menciptakan lingkungan belajar yang positif sehingga siswa termotivasi untuk menjelaskan konsep [22], [23].

Adanya peningkatan ini memberikan arti bahwa pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis web dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Penggunaan media pembelajaran berbasis web dalam pembelajaran dapat menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang konsep sains sehingga meningkatkan pemahaman siswa [24]. Hal ini juga diperkuat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh [25] bahwa media pembelajaran berbasis web dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam materi IPA. Pendekatan saintifik yang dipadukan dengan permainan pos berangkai menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan, sehingga siswa dapat berperan aktif dalam pembelajaran dan memaksimalkan pemahaman siswa. Metode pembelajaran yang menyenangkan menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa [26].

Hal ini diperkuat dengan hasil observasi pada saat pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis web pada hasil uji perbedaan rerata menunjukkan signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest yang mana hasil rata-rata posttest siswa jauh lebih baik setelah menggunakan media pembelajaran berbasis web, dan hasil uji N-gain yang menunjukkan skor sebesar 0,6210 atau 62,10% yang artinya efektivitas media pembelajaran berbasis web berada pada kategori sedang atau cukup efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis web cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA materi wujud zat dan perubahannya siswa kelas IV sekolah dasar.

5. Minat Belajar Peserta Didik Menggunakan Media Pembelajaran Berbasis Web

[27] mengemukakan bahwa minat belajar adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Peserta didik kelas IV SDN 3 Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut melaksanakan pembelajaran mulai pukul 09.30-10.50 WIB. Satu jam pembelajaran umumnya berdurasi 40 menit, pada jam siang hari fokus belajar peserta didik mulai terbagi, sehingga minat belajar peserta didik menurun dan peserta didik cenderung ingin segera pulang ke rumah. Menurut [11], minat adalah suatu kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat belajar merupakan suatu keinginan tinggi yang dimiliki oleh peserta didik dalam usaha mendapatkan suatu pengetahuan. Minat belajar peserta didik dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik, bila peserta didik memiliki minat belajar yang tinggi maka akan menghasilkan hasil belajar yang baik.

Banyak hal yang dapat menarik minat belajar peserta didik yaitu 1) Guru memberi bantuan pada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. 2) Guru perlu melakukan variasi dalam mengajar agar peserta didik menjadi lebih semangat. 3) peserta didik perlu dilibatkan dalam suatu kegiatan selama proses pembelajaran. 4) Memanfaatkan media pembelajaran agar peserta didik mudah memahami materi dan semangat dalam belajar.

Media pembelajaran yang baik tentunya dapat menarik minat belajar beserta didik dengan memberikan rasa senang, perhatian, dan partisipasi peserta didik dalam menggunakan media tersebut. Melalui ketiga aspek tersebut dapat menjadikan peserta didik ingin terus menjelajahi materi pembelajaran yang telah disampaikan, sehingga kegiatan belajar tidak hanya semata-mata memaparkan materi saja. Melalui angket yang telah disebarkan pada peserta didik kelas IV mengenai minat belajar menggunakan media pembelajaran berbasis Google Sites pada aspek rasa senang diperoleh nilai 93,8% indikator dalam aspek rasa senang terdiri dari mempelajari materi pengukuran sudut akan bermanfaat bagi saya, media Google Sites yang

ditampilkan menarik dan membuat saya senang, media Google Sites sangat bervariasi membuat saya semangat dalam belajar, saya tidak merasa kesulitan mempelajari materi pengukuran sudut menggunakan media Google Sites, dan menggunakan media Google Sites membuat saya ingin belajar terus menerus. Dalam aspek perhatian diperoleh persentase nilai 90,8% dengan indikator pernyataan berikut saya kesulitan dalam menggunakan media Google Sites, menggunakan Google Sites membuat saya mudah memahami materi, dan menggunakan Google Sites membuat saya fokus belajar. Pada aspek partisipasi diperoleh persentase nilai 98,75% dengan indikator pernyataan berikut saya dapat menjawab soal evaluasi dengan baik setelah belajar menggunakan media Google Sites.

Secara keseluruhan minat belajar peserta didik menggunakan media pembelajaran berbasis Google Sites sangat tinggi dari hasil akumulasi nilai angket diperoleh nilai 94,44% yang mana termasuk kategori sangat baik. Hal tersebut membuktikan bahwasannya media pembelajaran berbasis Google Sites dapat menarik minat belajar peserta didik khususnya dalam mempelajari pelajaran IPAS materi wujud zat dan perubahannya.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media internet berbasis web sebagai sumber belajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar dan minat belajar peserta didik kelas IV SD Negeri 3 Bojong. Penggunaan media berbasis web tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), tetapi juga mampu meningkatkan minat belajar siswa secara substansial.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang menggunakan media berbasis web mengalami peningkatan hasil belajar yang lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Selain itu, minat belajar siswa di kelompok eksperimen juga mengalami peningkatan yang lebih besar, yang menunjukkan bahwa media berbasis web dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan fleksibel, sesuai dengan temuan dari literatur terkait.

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya integrasi teknologi dalam proses pembelajaran, terutama di daerah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi. Media berbasis web memberikan akses yang lebih luas terhadap sumber belajar dan dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih mandiri dan personal. Dengan demikian, penggunaan media berbasis web seharusnya dipertimbangkan sebagai solusi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam literatur pendidikan, terutama dalam penerapan teknologi untuk meningkatkan hasil belajar dan minat belajar siswa. Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan untuk mengeksplorasi penggunaan berbagai jenis media berbasis web dan menguji efektivitasnya di berbagai konteks pendidikan lainnya.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Kepala Sekolah dan Guru di SD Negeri 3 Bojong, yang telah memberikan izin serta dukungan penuh dalam kelancaran penelitian ini. Terima kasih juga kami haturkan kepada orang tua siswa yang telah memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Kami juga menyampaikan rasa terima kasih kepada rekan-rekan peneliti yang telah memberikan saran dan masukan berharga selama proses penelitian, serta kepada lembaga pendidikan dan penerbit yang telah menyediakan literatur dan sumber daya yang sangat membantu dalam penyusunan penelitian ini. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada keluarga penulis yang senantiasa memberikan dorongan moral dan materiil dalam menyelesaikan penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran di sekolah dasar.

References

1. Mayer, R. E. (2009). Multimedia Learning (2nd ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511811678

2. Hattie, J. (2017). *Visible Learning: A Synthesis of Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement*. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203887332

3. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation. Psychological Science, 11(4), 227-268. https://doi.org/10.1111/1467-9280.00235

4. Deterding, S., Dixon, D., Khaled, R., & Nacke, L. (2011). From game design elements to gamefulness. Proceedings of the 15th International Academic MindTrek Conference, 9-15. https://doi.org/10.1145/2181037.2181040

5. Kapp, K. M. (2012). The Gamification of Learning and Instruction: Game-based Methods and Strategies for Training and Education. Pfeiffer. https://doi.org/10.1145/2207270.2211316

6. Gee, J. P. (2003). What video games have to teach us about learning and literacy. Computers in Entertainment, 1(1), 20-20. https://doi.org/10.1145/950566.950595

7. Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological pedagogical content knowledge: A framework for teacher knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017-1054. https://doi.org/10.1111/j.1467-9620.2006.00684.x

8. Selwyn, N. (2016). Is Technology Good for Education? Polity Press. https://doi.org/10.1080/00131857.2017.1370440

9. Cuban, L. (2001). Oversold and Underused: Computers in the Classroom. Harvard University Press. https://doi.org/10.4159/9780674030107

10. Bloom, B. S. (1984). The 2 sigma problem: The search for methods of group instruction as effective as one-to-one tutoring. Educational Researcher, 13(6), 4-16. https://doi.org/10.3102/0013189X013006004

11. Tomlinson, C. A. (2014). The Differentiated Classroom: Responding to the Needs of All Learners (2nd ed.). ASCD. https://doi.org/10.1177/0042085914528256

12. Warschauer, M. (2003). Technology and Social Inclusion: Rethinking the Digital Divide. MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/6699.001.0001

13. Gardner, H. (2011). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (3rd ed.). Basic Books. https://doi.org/10.1080/00405841.2014.921370

14. Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House. https://doi.org/10.5860/choice.44-1823

15. Resnick, M. (2017). Lifelong Kindergarten: Cultivating Creativity through Projects, Passion, Peers, and Play. MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/11017.001.0001

16. van Dijk, J. (2020). The Digital Divide. Polity Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780190918472.001.0001

17. Tamim, R. M., Bernard, R. M., Borokhovski, E., Abrami, P. C., & Schmid, R. F. (2021). What forty years of research says about the impact of technology on learning. Review of Educational Research, 91(2), 155-192. https://doi.org/10.3102/0034654321990715