Login
Section Innovation in Education

Modern Islamic Boarding School Management in Developing Global Competitive Capabilities and Character of Santri

Manajemen Pesantren Modern Dalam Mengembangkan Kemampuan Saing Global Dan Karakter Santri
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Sholahuddin Irsyad (1), Heri Widodo (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Modern Islamic boarding schools integrate religious education with programs for students’ skills and character development. Specific Background: Pesantren eLKISI applies structured management to develop santri character, competencies, achievements, and global competitiveness. Knowledge Gap: The management practices connecting character formation and global competitiveness in modern pesantren require closer examination. Aims: This study examines how eLKISI manages its programs to develop santri character and global competitiveness. Results: The findings show that POAC management is implemented through structured planning, task organization, continuous direction, and routine evaluation. The AOD system provides 24-hour supervision, role modeling, and opportunities to develop santri interests and abilities, while international programs, competitions, language activities, and community service support global competitiveness. Novelty: The study highlights the integration of POAC management and 24-hour AOD supervision within a modern pesantren context. Implications: These practices provide a management model for developing responsible, capable, high-achieving, and globally competitive santri.


Key Findings Highlights

Structured POAC management supports the implementation of pesantren programs.


AOD provides continuous supervision, role modeling, and character development.


International programs and student achievements support global competitiveness.


Keywords: Modern Islamic Boarding School, Pesantren Management, POAC Management, Santri Character, Global Competitiveness

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang Khas di Indonesia dan telah berkembang pesat. Perkembangan pesantren tersebut memiliki variasi corak dan ke unikan masing-masing [1], adanya variasi dan corak pesantren dikarenakan pesantren adalah lembaga yang di asuh oleh satu orang atau sekelompok orang yang memiliki gaya dan keunikan tersendiri [2] .

sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa pesantren adalah pendidikan tertua yang sudah ada sejak zaman periode Hindu Budha atau sebelum datangnya Islam ke Indonesia [3]. Kemudian para ulama mendesain sebagaimana ajaran Islam yang ada. Pesantren tradisional merupakan pesantren yang eksis atau mengedepankan kitab klasikal atau fiqh, cara pengajaran juga masih menggunkan metode lama yaitu hafalan, bodongan, sorogan, Ijazah atau amalan yang ditentukan kiyai, dan juga pesantren tradisional tidak terlalu mengedapankan sekolah berjenjang [4]. Hal ini sangat bagus dalam memahami dan mendalami ilmu agama [5], akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan zaman harus menggeser ketradisionalan menuju modern, sehingga kebutuhan masyarakat akan pendidikan terpenuhi dan sesuai dengan porsi masyarakat Indonesia.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Qosos ayat 78 dijelaskan bahwa selain mencari kehidupan akhirat atau mendalami agama, manusia juga diperintahkan untuk memikirkan nasibnya di dunia. Dengan demikian pesantren harus memenuhi pribadi santri dengan hal yang dapat membantu dalam pengembangan diri di kehidupan dunia, dapat dikatakan santri harus memiliki bekal hidup didunia dalam skill individu dan kelompok agar bermanfaat di masa depan [6]. Sehingga santri dapat mengikuti dan membuat perubahan di zaman yang di laluinya dengan skill yang telah diberikan oleh pesantren. Tentunya dengan adanya pesantren modern yang telah menyusun kemajuan pembelajaran yang dapat membantu memenuhi skill dan kebutuhan santri di masa yang akan datang.

Fathurrahman mengatakan bahwa setiap pesantren tidak luput dari Lima hal, yaitu kiyai, santri, masjid, asrama, dan kitab kuning. Hal ini juga diperkuat oleh kementrian agama bidang pondok pesantren. Sehingga dengan demikian pesantren modern adalah pesantren yang pada mulanya pesantren traditional yang terus bergerak dalam waktu ke waktu untuk memperbarui system sesuai dengan zamannya. Secara singkat dapat kita fahami bahwa pesantren terbagi menjadi dua secara garis besar, pesantren modern dan pesantren tradisional [7], pesantren modern adalah pesantren yang mengintregasikan seluruh sistem klasikal dan sekolah ke dalam pesantren. Semua santri yang masuk pesantren terbagi dalam tingkatan kelas sesuai tingkat sekolah, memasukkan pelajaran umum, tetap mempelajari ilmu agama yang telah ditentukan dan memberikan program-program penunjang. sedangkan pesantren tradisional merupakan pesantren yang masih mempertahankan pembelajaran traditional, tanpa tingkatan sekolah dan tanpa pelajaran umum, dan terfokus ke dalam pembelajaran agama atau kitab klasikal dengan metode bandongan dan sorogan[8]

Managemen adalah sebuah proses dari perencanaan, pengorganisasian, penggerak, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya [9], Managemen juga aspek penting dalam pengelolaan sebuah lembaga/instansi termasuk pada lembaga pendidikan, khusunya lembaga pendidikan Islam dan pesantren [10]. Kedua lembaga tersebut tidak bisa terpisahkan dan merupakan tolak ukur pendidikan Islam. Managemen pendidikan Islam atau pesantren memiliki landasan utama yang bersumber pada Al-Qur`an dan Hadist, landasan ini sekaligus sebagai sumber hukum dalam Islam. Managemen pendidikan secara sederhana diartikan sebagai pengelolaan dan penataan pendidikan agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien [11], Menejemen pesantren adalah suatu usaha atau proses perencanaan, pengorganisasian, penggerak dan pengawasan yang melibatkan sumber daya manusia dan non manusia dalam menjalankan lembaga pesantren agar berjalan efektif dan efisien. Dengan adanya menejemen pesantren yang baik maka akan terdapat pesantren yang terus berkembang dan maju. Tentunya dalam kualitas santri untuk bersaing di era globalisasi dan era 5.0 mendatang [12]

Dari waktu ke waktu fungsi pondok pesantren berjalan secara dinamis, berubah dan berkembang mengikuti dinamika sosial masyarakat global, Begitupula manajemen Pesantren yang teratur dan kondisional merupakan salah satu diantara ciri kualitas atau peran fungsi pesantren. Manajemen selalu mengawal dan memberikan arahan pada proses berjalannya sebuah pesantren sehingga dapat terpantau [13]

Pendidikan indonesia saat ini dihadapkan dengan realitas yang sangat mengkhawatirkan, bukan hanya guru dan managemen sekolah, tetapi pendidikan indonesia menghadapi realita yaitu banyaknya generasi muda yang kehilangan arah dari karakter dan persaingan global yang sudah terjadi [14]. Adanya era globalisasi memberikan dampak positif dan juga negatif bagi warga negara Indonesia, Namun tidak setiap warga negara menyikapi dampak negatif globalisasi dengan baik. Adanya penurunan moral bangsa merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi [15].

Seperti yang terjadi dikalangan pelajar dengan maraknya kenakalan remaja seperti penyalah gunaan narkotika, tawuran, klitih bahkan sex bebas. Dengan contoh kasus yang terjadi dikalangan pelajar tersebut, menandakan bahwa konsep pendidikan yang diinginkan belum sepenuhnya berhasil untuk membentuk karakter bangsa Indonesia yang ideal. [16]. Pendidikan yang ada saat ini dari tingkat dasar(SD), SMP, SMA/SMK/MA hingga bangku perkuliahan hanya fokus terhadap penilaian kognitif dan mementingkan penilaian sesuai standar Kompetensi Kelulusan Minimal (KKM) saja. Persoalan seperti ini dikarenakan pendididkan karakter sudah mulai pudar atau nilai-nilai karakter bangsa sudah mulai hilang [17]. Harusnya peran pendidikan adalah sebagai pembentukan pribadi baik atau buruknya manusia. Sehingga peran pemerintah sangat sentral dalam menentukan kebijakan pendidikan yang berkualitas ketika sistem pendidikan dalam kebijakan pendidikan nasional baik, maka diharapkan akan muncul generasi penerus bangsa yang dapat diandalkan, bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara [18].

Dalam menyikapi era globalisasi yang sudah terjadi saat ini, tentunya tidak hanya menyiapkan sumber daya manusia yang berakhlak saja, melainkan pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia yang siap dalam bersaing dan memiliki karakter yag baik [19]. Tentunya hal ini tidak bisa diraih sendiri oleh siswa, tetapi bagaimana pendidikan menyiapkan generasi tersebut agar bisa bersaing di kancah nasional maupaun internsional [20]. Sudah tentunya dalam menyiapkan generasi yang unggul adalah dengan cara menyiapkan generasi tersebut dapat siap menghadapi tantangan zaman yang akan datang, salah satunya adalah bahasa asing dan prestasi siswa, hal itu harus dibentuk didalam keseharian siswa sehingga siswa menjadi terbiasa dalam berbahasa asing yang terkhusus bahasa inggris dan bahasa arab, dan tentunya pesantren harus menyiapkan dan memfasilitasinya, sebagai contoh bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kualitas dan meneruskan bakat prestasi tersebut.

Dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, Indonesia telah mengedepankan proses pengembangan mutu pendidikan dengan berbagai bentuk program salah satunya peningkatan kualitas guru guna meningkatkan capain siswa [21]. Masyarakat diharapkan sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda yang akan menjadi penerus kehidupan bangsa dimasa datang, peningkatan kesadaran itu diwujudkan melalui adanya program pendidikan murah atau gratis dari sekolah tingkat SD hingga SMA di banyak daerah. Dengan program pendidikan murah atau gratis diharapan tak ada lagi anak yang putus sekolah atau tidak mampu sekolah akibat tidak adanya biaya [22]. Sedangkan Peningkatan kualitas siswa diberikan oleh sekolah melalui program-program yang sudah dibentuk dan dikembangkan melalui pemberian bimbingan keterampilan [21]. Dalam hal pengembangan kualitas siswa pesantren tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya [23]. akan tetapi pesantren adalah tempat pembelajaran siswa yang lengkap, sehingga hubungan jiwa dan ruh saling terkait dalam mengembangkan diri, setiap siswa yang menempuh pembelajaran di pesantren akan di pantau kemampuan dan kepribadiannya. Hal ini menjadikan pesantren adalah tempat yang cocok untuk membentuk karakter dan keterampilan siswa [24].

Daya saing global di bidang pendidikan bagi sebuah lembaga pendidikan dapat diartikan sebagai kemampuan lembaga pendidikan tersebut untuk menciptakan sistem pendidikan yang efisien inklusif dan berkualitas tinggi yang akan menghasilkan individu-individu yang berpengetahuan, terampil dan berdaya saing di pasar global. Mencakup kemampuan lembaga pendidikan untuk menyediakan akses pendidikan yang inovasi dan memadai dari segi pengajaran, kurikulum serta capaian siswa yang dapat relevan dan berdaya saing dalam berbagai sektor di dunia nyata nanti [25]. Lembaga pendidikan yang dapat bersaing global yaitu dilihat dari indikator sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan, pendidikan yang bermutu terletak pada keterampilan tenaga pengajar untuk menyampaikan pembelajaran atau pengajarannya, kedua kedisiplinan tenaga pengajar pendidik harus memiliki sebuah rasa tanggung jawab hingga dapat dicontoh oleh peserta didik dan juga dapat mengevaluasi dan memberikan penilaian kepada peserta didik, ketiga infrastruktur pendidikan yang ada di dalam lembaga pendidikan harus memadai dan kebutuhan siswa harus terlengkapi, keempat kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat lembaga pendidikan harus memiliki wadah bagi peserta didik untuk dapat mengabdi ke tengah-tengah masyarakat sehingga dapat mengetahui secara langsung dan dapat menjadi target santri [26]

Pesantren eLKISI ialah pesantren berbasis keummatan yang mencetak para santrinya sebagai da’I di masyarakat luas. Dalam arti nama singkatan ialah Lembaga Kajian Islam Intensif, pesantren ini berdiri pada tahun 2010 dan memiliki perkembangan yang sangat besar, dalam kurun waaktu 13 tahun elkisi dapat menunjukkan aksi nyata dalam perkembangan pendidikannya, mulai dari SDM pengajar, program nasional hingga international, prestasi santri dan juga karakter santrinya.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomologi, Fenomologi pada dasarnya mengajarkan orang untuk berinteraksi dan belajar lebih banyak dari fenomena sehingga makna realitas dan esensi alami dari realitas dapat dipahami oleh pengamat [27]. Studi literature juga digunakan untuk penelitian ini guna menyelesaikan persoalan dengan menelusuri sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya. Kemudian peneliti mengolah refrensi dan menyusun kesimpulan [28]. Hasil kompilasi dan observasi dari pengumpulan penelitian digunakan untuk menyimpulkan: 1. Bagaimana menejemen pesantren modern, 2. Bagaiamana pesantren mengembangkan karakter santri, 3. Bagaimana pesantren menghasilkan santri yang dapat berdaya saing global.

Prosedur dalam penelitian ini dilaksanakan dengan langkah sebagai berikut: 1. Menentukan tema, 2. Explorasi informasi memilih arah penelitian, 4. Mengumpulkan sumber data, 5. Penyajian data, 6. Menyusun laporan Teknik. Kemudian peneliti memilah, membandingkan dan menggabungkan data-data yang telah diperoleh sehingga data tersebut menjadi data yang relevan [29], kemudian peneliti menggunakan manajemen POAC untuk memudahkan peneleiti dalam melihat dan menjelaskan keadaan yang ada di pesantren eLKISI. Setelah itu Pengecekan antar pustaka dan pemerhatian terhadap komentar pembimbing dilakukan guna menjaga keabsahan proses evaluasi, mencegah dan menghilangkan informasi yang salah merupakan kesalahan yang mungkin timbul karena kurangnya penulis pustaka [30]

    III. Hasil dan Pembahasan

    A. PROFIL PESANTREN ISLAMIC CENTER eLKISI

    eLKISI “Lembaga Kajian Islam Intensif”, adalah kumpulan dari beberapa orang yang mempunyai kesamaan fikrah dalam bidang social keummatan, diawalai dengan perkumpulan beberapa ustadz yang memiliki pergerakan dakwah secara aktif kedalam daerah yang rawan pemurtadan untuk mengembalikan aqidah. Kegiatan tersebut dengan disaign secara periodik dengan contohnya yaitu menyembelih hewan qurban di tempat tersebut, berdakwah di masjid-masjid dan perkampungan, kegiatan yang dikemas ini mendapatkan sambutan yang baik dari para jamaah di daerah Jawa Imur, Jawa Tengah, dan Yogyakata. Selain itu, para ustadz ini memiliki binaan majlis ta’lim, dan juga aktif bersama sama untuk membuat aksi peduli masyarakat korban bencana, kegiatan bakti sosial ini telah di mulai dari tahun 2000, beberapa contoh para ustadz dan jama’ah melakukan kegiatan ini pada waktu tsunami Pancer Banyuwangi 2002, tsunami Aceh 2004, tanah longsor Jember 2005, banjir di Lamongan, Tuban dst, Lapindo, erupsi Gunung Kelud dan kegiatan itu masih berkelanjutan hingga saat ini.

    Pesantren eLKISI diawali dengan para asatidz hanya membuka pesantren sabtu ahad dan taman belajar Al Qurán yang sering disebut dengan LQC (Learning Question Children), kemudian tumbuh semangat untuk mendirikan pesantren yang bebasis keummatan guna melanjutkan perjuangan rintisan awal, maka terbentuklah pesantren modern eLKISI, kemudian berubah menjadi Islamic center eLKISI yang berdiri kokoh di kecamatan pungging desa kemuning-mojodadi tersebut.

    B . MANAJEMEN PESANTREN eLKISI

    Dalam bahasa Inggris manajemen berasal dari kata to manage yang berarti pengaturan atau mengatur, dalam istilah manajemen adalah proses atau rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu sama lain meskipun tidak ikut rangkaian yang sistematis. Rangkaian berisikan mengatur, menggerakkan, membimbing, serta mengawasi orang lain dalam berbuat sesuatu dalam kelompok maupun individu.

    Manajamen juga menempatkan kegiatan dalam kelompok untuk mencapai tujuan organisasi secara baik dan universal. Dalam pelaksanaan manajemen terdapat tugas-tugas yang harus di lakukan dan dilaksanakan, tugas itulah yang disebut fungsi manajamen sehingga arah organisasi dapat ditentukan untuk masa depan, menciptakan kegiatan organisasi, mendorong terbinananya kerjasama antar sesama anggota organisasi, serta mengawasi kegiatan dalam mencapai tujuan organisasi agar efektif dan efisien, maka itulah pentingnya manajemen harus difungsikan di dalam setiap organisasi.

    Terry mengemukakan bahwa fungsi manajemen terdiri dari perencanaan/planning, pengorganisasian/organizing, pengarahan/actuating, dan pengaturan/. Dalam proses observasi dan wawancara di pesantren eLKISI telah di dapatkan bahwa dalam maju dan berkembangnya pesantren ini adalah di sebabkan manajemen yang dijalankan dengan baik, mulai dari perencanaan yang terus menerus dan terstruktur, pengorganisasian guru karyawan yang utuh, pengarahan yang selalu mengarah ke go international hingga kontrol atau evaluasi yang dilakukan setiap hari.

    Dalam manajemen hal tersbut dapat disingkat menjadi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), manajemen ini sangat membantu dalam menggambarkan bagaiamana manajemen berjalan dalam suatau instans atau organisasi, POAC ini juga sangat membantu meningkatkan kualitas pengelolaan serta mengurangi timbulnya resiko kesalahan atau kegagalan yang akan di hadapi [31].

    Planning

    Manajemen diawali dengan planning atau perencanaan, perencanaan adalah upaya agar suatu instansi atau organisasi mencapai tujuan melalui pemanfaatan sumberdaya yang ada secara maksimal. Perencanaan sangat penting dalam menejemen untuk mengurangi kesalahan pengambilan keputusan yang terjadi saat instansi atau organisasi tersebut berjalan, dengan perencanaan juga dapat meningkatkan peluang keberhasilan melalui pemanfaatan sumberdaya yang ada [32]. Begitu juga yang telah dilakukan oleh pesantren modern eLKISI ini, dalam perencanaan awal telah terencana bahwa pesantren eLKISI harus terus berkembang dan maju sesuai dengan perkembangan zaman dan tantangan globalisasi saat ini, terlebih periode 5.0 telah memulai langkahnya di dunia dan telah masuk kedalam Indonesia, maka pesantren eLKISI menjawab tantangan tersebut dengan eLKISI go International pada tahun 2024 ini dengan cara menjalin kerjasama dan membuka program international.

    Dalam planning pesantren eLKISI tidak hanya menyiapkan go international, akan tetapi terdapat juga jadwal harian, mingguan, bulanan hingga tahunan yang telah ditentukan oleh pesantren dan wajib dijalankan oleh seluruh warga pesantren. Contoh program harian dan mingguan adalah kegiatan evalusi guru, jadwal yaumiyah santri yang telah tersusun mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali dan juga capaian target hafalan yang sudah ditentukan, jadwal bulanan dan tahunan contohnya adalah munaqosyah tahunan, praktek dakwah ramadhan, raker, bakti social dst. Dalam menjadikan santri yang memiliki daya saing global tidaklah mudah, akan hal itu pesantren modern merumuskan dan merencanakan program dan cara agar mencapai tujuan tersebut. Daya saing dapat diartikan suatu kekuatan usaha untuk menjadi unggul dalam capaian atau kompetensi tertentu oleh kelompok atau perorangan [12], sedangkan global adalah posisi atau tingkat persaingan terjadi. Maka pesantren memiliki program yang telah di susun untuk mentargetkan hal tersebut

    Tabel 1 program pesantren yang telah dijalankan

    No. Program Pesantren
    1 Kelas Azhari
    2 Kelas Kader Ulama
    3 Tahfidz Maudhuí
    4 Praktek Dakwah Ramadhan
    5 Berbagai Macam Life Skill
    6 Organisasi Santri
    7 Tukar Pelajar International
    8 Pengabdian Masyarakat
    9 Elkisi Mengajar
    10 Elkisi Institut
    Table 1.

    Tabel diatas menampilkan program pesantren yang telah berjalan sampai saat ini, disamping itu terdapat hal yang mendukung program tersebut , beberapa contoh ialah kesiapan laboratorium bahasa, fisika, kimia, komputer serta perpustakaan digital dan konvensional. para santri juga sering menggunkan bahasa asing dan suka membaca buku, hal ini pula salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh penerus yang akan datang, seperti pepatah Cina mengatakan “mempelajari bahasa berarti memiliki satu jendela lagi untuk melihat dunia

    Dalam pelaksanaan observasi, peneliti menemukan bahwa pesantren sering mengikuti kegiatan perlombaan tingkat nasional, dari keagamaan, olahraga, eksakta maupun non eksakta serta bahasa, dan para santri pun sangat sering mendapatkan juara di perlombaan tersebut, ini menunjukkan bahwa pesantren modern tidak pernah tertinggal dalam capaian dan kompetisi dengan sekolah negeri atau umum.

    Figure 1.

    Diagram 1 jumlah prestasi santri 2 tahun terakhir

    Diagram diatas tentunya tidak secara tiba-tiba dapat diraih oleh para santri, melainkan para santri dalam kesaharian telah banyak melakukan interaksi dengan bahasa asing di dalam pesantren walaupun tidak menyeluruh, prestasi yang lain juga para santri menyalurkan keminatannya dan kemudian dikemas dan difasilitasi oleh pesantren, sehingga minat bakat santri dapat di rangkul dan di asah secara mendalam.

    Fungsi dari perencanaan sangat menonjol dan menentukan untuk masa depan organisasi, organisasi atau instansi yang telah merencanakan perencanaan akan lebih efektif dan efisien saat menentukan sebuah keputusan, dan juga lebih siap dalam menghadapi masalah atau tantangan.

    Organizing

    Pengorganisasian adalah upaya untuk mengatur berbagai kegiatan atau program, membagi tugas, wewenang untuk menyatukan sumberdaya hingga digunakan dengan maksimal dan agar rencana yang telah ditentukan dapat berjalan. Pesantren eLKISI dalam pengorganisasian tidaklah hanya sekedar pembagian tugas dan wewenang, akan tetapi tugas dan wewenang itu adalah hasil dari keputusan yang dikeluarkan oleh yayasan, seperti contohnya pesantren eLKISI menentukan kepala sekolah, kepala pesantren, kepala kesantrian dst, maka dengan tugas yang dibagikan tersebut dapat dimiliki tanggung jawab oleh penerima jabatan. Dengan adanya pembagian tugas dan wewenang diharapkan perencanaan yang ditetapkan dapat terkontrol dan terorganisir dengan baik. Berikut adalah bagan organisasi yang diterapkan

    Figure 2.

    Gambar 1, Struktur organisasi pesantren eKISI

    Menurut siregar kunci utama pengorganisasian agar berjalan baik adalah dengan pembagian kerja untuk terbentuknya organisasi yang terus saling bersinergi. Dapat dilihat melalui beban kerja individu dan kelompok, hubungan antar personal, wewenang yang diemban serta pemanfaatan fasilitas yang dimiliki instansi. Kualifikasi personal yang rendah diberikan beban kerja yang mudah dan begitu sebaliknya, hingga tupoksi kualifikasi dan beban kerja dapat bersanding baik dan tidak membuat kebosanan, keletihan serta hilangnya motoivasi bekerja dapat dihindari [33].

    Actuating

    Menurut Gerge R. Terry berpendapat bahwa actuating (pengarahan/penggerak) dianggap sebagai fungsi menejemen yang paling utama. Pelaksanaan actuating dalam menejemen adalah usaha untuk menggerakkan organisasi atau kelompok sehingga mereka dapat bekerja dan berusaha mencapai target kelompok maupun individu yang telah ditentukan sebelumnya [34].

    Actuating juga dapat kita fahami sebagai upaya agar perencanaan dan pengorganisasian menjadi kenyataan, dengan cara serangkaian kegiatan pengarahan ataupun motivasi agar anggota atau karyawan dapat melaksanakan kegiatan dan tanggung jawab secara maksimal sesuai peran masing-masing. Tanpa adanya actuating perencanaan dan pengorganisasian tidak akan membuahkan hasil yang di inginkan, hal itu disebabkan actuating adalah kegiatan nyata sebagai wujud penggerak program yang telah direncanakan dan di organisasikan. Pun demikian apabila manajemen tidak menggunakan planning, pengorganisasian dan hanya menggunakan actuating saja, maka instansi atau kelompok tersebut tidak akan dapat berkembang secara baik dan sukar dalam memutuskan sebuah permasalahan yang dihadapi.

    Pesantren eLKISI dalam melaksanakan actuating sebagai contohnya adalah pengarahan dari pimpinan pesantren untuk menjalankan program yang telah tersusun, tidak hanya pengarahan bersifat perintah, akan tetapi sebagai contoh agar actuating berjalan maksimal di pesantren eLKISI. Berikut adalah tindakan pesantren diantaranya Melakukakn kordinasi atau menyelaraskan tujuan dan presepsi bersama, Memberikan motivasi kepada guru, karyawan dan seluruh warga pesantren, Memperhatiakn komunikasi yang baik antar karyawan, warga pesantren dan komunikasi atasan dengan bawahan dst. Kemudian Berhati-hati dalam memberikan arahan atau komando kepada karyawan, sehingga tidak terjadi ketimpangan, kesewenangan dan penyalah gunaan jabatan

    Dalam menejemen actuating tentunya hal yang mendasar adalah sumber daya manusia yang ada di dalam pesantren, kepala pesantren mengatakan bahwa untuk menguatkan menejemen pesantrem maka pesantren harus memperkuat sumber daya manusia yang ada didalamnya, guru atau asatid harus menambah dan memperbarui keilmuan yang dimiliki ke jenjang yang lebih tinggi, guru atau asatid harus di kuatkan posisinya didalam pesantren hingga asatid memiliki rasa cinta dan tanggung jawab yang besar terhadap pesantren. Dengan demikian akan muncul ide perencanaan yang terstruktur, organisasi yg bagus, pengarahan yang baik dan control atau evaluasi dapat di jalankan secara efektif.

    Pesantren eLKISI terus mengupayakan para asatid untuk selalu mengasah dan menambah keilmuan, hal ini peneliti kaetahui dengan keharusan asatid harus tetap berkuliah ditengah kesibukan menjalankan kewajiban sebagai guru, jumlah asatid yang sedang proses menyelesaikan strara 1 berjumlah 26 asatid dan telah menyelesaikan strata 1 berjumlah 35 asatid, strata 2 berjumlah 18 asatid, proses strata 3 berjumlah 5 asatid dan yang telah menyelesaikan 2 asatid. Dengan pengalaman asatid tersebut maka terumuskan sebuah sistem untuk membentuk karakter santri secara komperhensif, yaitu memaksimalkan dan tidak membedakan antara guru mapel dan peran asatid terhadap santri.

    Sistem ini disingkat yaitu AOD (Asatid On Duty) yaitu tugas guru dan asatid yang ke 2 selain menjadi wali kamar, guru kelas dan guru mapel, AOD memiliki 2 sift, sift satu dimulai saat santri masuk madrasah sampai pulang, kemudian sift ke dua di mulai saat santri pulang dari madrasah sampai masuk ke madrasah kembali. System ini memiliki dampak yang sangat luar biasa berpengaruh terhadap aktifitas santri, dengan AOD ini santri akan terus terawasi dan dapat mencontoh sikap dan tutur kata yang baik oleh guru dan asatid yang bertugas. Maka tak heran banyak lulusan eLKISI yang sifatnya berubah menjadi lebih baik dikarenakan system percontohan secara langsung yang telah berjalan baik. Selain percontohan secara langsung sistem pembelajaran juga dirancang pesantren dengan baik, salah satunya dengan menempelkan slogan tentang akhlaq, tentang adab-adab seorang penuntut ilmu dan juga interaksi guru saat memberikan pelajaran, motivasi atau nasihat. Kemampuan interaksi guru sangat dibutuhkan saat menghadapi santri [35], terlebih santri berkomunikasi dan bersentuhan secara langsung dengan guru atau asatid tersebut. Selain pengawasan dari guru dan asatid yang berjaga, terdapat organisasi santri yang disingkat menjadi (ISMI) Ikatan Santri Ma’had eLKISI dengan tugas utama mengawal kegiatan yaumiyah santri dan membantu asatid. Maka system AOD ini akan mampu menjadikan santri terawasi dengan baik selama 24 jam dan juga minat bakat santri akan muncul dengan interaksi secara intens.

    Controlling

    Controlling ( pengendalian ) bertugas untuk memastikan bahwa kinerja anggota dan karyawan bekerja sesuai dengan arahan dan rencana. Hal ini menunjukkan kinerja sudah sesuai dengan standar atau sop atau belum, apabila ditemukan kinerja anggota dan karyawan yang standar kerjanya kurang, maka harus segera dilakukan tindakan yang sesuai salah satunya adalah mengoreksi kekurangan dan memperbaikinya sehingga target dapat di capai. Salah satu fungsi controlling adalah untuk menentukan perencanaan awal apabila perlu untuk direvisi, dan untuk melihat hasil kerja dari perencanaan tersebut [36]. Menurut George R. Terry controlling atau pengendalian adalah menilai pelaksaaan dan apabila perlu adanya perbaikan atau revisi hingga pelaksaaan yang terjadi sesuai dengan perencanaan yang telah disusun, dan juga controlling adalah sebuah tindakan kebijakan yang diambil untuk menyelesaikan masalah dilapangan [37].

    Dalam system POAC, controlling adalah bagian terakhir untuk melihat sebaik mana perkembangan menejemen yang telah berjalan, dalam pesantren untuk mewujudkan menejemen yang baik, eLKISI selalu mengadakan rapat evaluasi harian, hal ini dipergunakan untuk melihat sebaik mana kinerja para guru karyawan pada hari itu dan guna mempersiapkan langkah yang harus di ambil untuk ke esokan harinya, rapat asatidah pun tidak hanya dilakukan harian, terdapat juga rapat rutinitas oleh yayasan untuk mengembangkan pesantren dan meninjau kekurangan pesantren.

    Rapat pesantren eLKISI yang diadakan bertujuan lebih mendasar sebagai berikut:

    1. Mencegah dari penyimpangan dan kesalahan, dengan sebuah pengawasan atau pengendalian yang tegas dan rutin dilakukan
    2. Jika penyimpangan telah terjadi, maka harus ada pengendalian untuk mencari jalan keluar dan cara memperbaikinya
    3. Memperkuat rasa tanggung jawab, dengan adanya pengawasan dan perhatian dari pihak yang berwenang, maka rasa tanggung jawab yang diemban akan semakin tinggi.

    V. Simpulan

    Pesantren eLKISI dalam membentuk karakter dan menjadikan santri dapat bersaing ialah melalui manajemen yang dijalankan dengan baik, perencanaan dan pelaksanaan program dan system yang telah diterapkan, yaitu dengan system (AOD) Asatidz On Duty, yaitu tugas jaga para guru untuk mengawasi, memberikan contoh secara langsung dan mengasah kemampuan santri setiap harinya, juga pesantren telah membentuk oraganisasi santri yang bertugas mengawal kegiatan santri setiap harinya, hal ini juga menjadikan santri memiliki jiwa yang bertanggung jawab sejak muda.

    Dalam mengembangkan daya saing global eLKISI telah memiliki strategi dengan program-progam yang dibutuhkan oleh masyarakat dan sudah berjalan, beberapa yaitu program (Azhari) yaitu program kerja sama international, pertukaran pelajar luar negeri, pengabdian masyarakat, serta mendorong para santri agar terus menoreh prestasi di bidang apapun, hal itu terbukti dengan banyaknya santri yang mengikuti lomba dan banyak pula yang menjuarainya. Hal ini membuktikan bahwa system POAC dapat menjadikan organisasi berjalan dengan baik sesusi dengan arah tujuan pengguna. Menejemen tanpa perencanaan tidak akan membuahkan hasil yang maksimal, sedangkan perencanaan tanpa gerakan tidak akan berjalan dan begitu seterusnya.

    penulis memberikan saran agar tetap istiqomah dan terus berbenah diri untuk menjadikan santri menjadi lebih baik dari sebelumnya, kemudian memaksimalkan program bahasa, meskipun banyak santri yang telah menggunakan bahasa asing di kesehariannya hal itu akan menjadi lebih baik dan nilai tambah untuk pesantren apabila bahasa asing diterapkan secara menyeluruh.

    Sedangkan saran untuk peneliti selanjutnya ialah agar lebih komperhensif di setiap bidang yang di cakup oleh pesantren, sehingga tulisan akan lebih bermanfaat untuk banyak orang dalam melihat bagaimana pesantren berjalan dalam mendidik peserta didiki.

    Ucapan Terima Kasih

    Penulis mengucapkan banyak terimakasih terhadap pihak-pihak terkait yang telah memberikan dan berpartisipasi terhadap pembuatan naskah artikel ini, terkhususnya kepada pesantren Islamic Center eLKISI yang berkenan menerima dan mengizinkan untuk melakukan study penelitian, observasi dan penulisan karya ilmiah ini.

References

Y. T. Nugraheni and A. Firmansyah, “Model Pengembangan Pendidikan Karakter di Pesantren Khalaf (Studi Kasus di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta),” Quality, vol. 9, no. 1, p. 39, 2021, doi: 10.21043/quality.v9i1.9887.

R. M. Fauzi, “Otoritas Kyai Dalam Menentukan Karakteristik Model Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi,” J. Al-Ijtimaiyyah, vol. 4, no. 2, p. 80, 2018, doi: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v4i2.4780.

M. Khuailid, “Sistem Pendidikan Pesantren Tradisional di Pesantren Buntet pada Masa Kepemimpinan KH. Abdullah Abbas,” Tsaqafatuna J. Ilmu Pendidik. Islam, vol. 1, no. 1, pp. 42–59, 2018.

M. S. Djazilam, “Relevansi Sistem Pendidikan Pesantren Tradisional dalam Era Modernisasi,” Al-Insyiroh J. Stud. Keislam., vol. 5, no. 1, pp. 89–105, 2019, doi: 10.35309/alinsyiroh.v5i1.3398.

U. Latifah, “The Inhibitory Factor of Santri Participate Learning Kitab With Sorogan Method During Pandemic Until Post-Pandemic,” Santri J. Pesantren Fiqh Sos., vol. 3, no. 1, pp. 31–50, 2022, doi: 10.35878/santri.v3i1.332.

Sadali, “Eksistensi Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam,” ATTA’DIB, vol. 1, p. 13, 2020.

Fadli, “Pesantren: Sejarah dan Perkembangannya,” EL-HIKAM J. Pendidik. dan Kaji. Keislam., vol. 5, no. 1, pp. 29–42, 2012.

Aliyah, “Pesantren Tradisional sebagai Basis Pembelajaran Nahwu dan Sharaf dengan Menggunakan Kitab Kuning,” Al-Ta’rib J. Ilm. Progr. Stud. Pendidik. Bhs. Arab IAIN Palangka Raya, vol. 6, no. 1, pp. 1–25, 2018, doi: 10.23971/altarib.v6i1.966.

M. Lubis, A. Amin, A. Alimni, and I. Artikel, “Soliditas Guru di Era Digital dan Pengaruhnya terhadap Efektivitas Manajemen Sekolah Dasar,” Int. J. Eval. Res. Educ., vol. 12, no. 2, 2023, doi: 10.11591/ijere.v12i2.24948.

D. Ariani and Syahrani, “Manajemen Pesantren dalam Persiapan Pembelajaran 5.0,” Cross-Border, vol. 5, no. 1, pp. 611–621, 2022.

D. A. An, “Konsep dan Prinsip Manajemen Pendidikan dalam Al-Qur’an,” vol. 12, no. 1, pp. 32–49, 2018.

M. F. Amirudin, “Hubungan Pendidikan dan Daya Saing Bangsa,” BELAJEA J. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 1, p. 35, 2019, doi: 10.29240/belajea.v4i1.723.

S. Kahfi and R. Kasanova, “Manajemen Pondok Pesantren di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Pondok Pesantren Mambaul Ulum Kedungadem Bojonegoro),” J. Pendidik. Berkarakter, vol. 3, no. 1, pp. 26–30, 2020.

Z. Nuryana, I. Nurcahyati, A. Rahman, F. Setiawan, and D. Fadillah, “The Challenges and Solutions of Teachers’ Problems to Achieve Education Golden Era,” Univers. J. Educ. Res., vol. 8, no. 2, pp. 583–590, 2020, doi: 10.13189/ujer.2020.080230.

Ruhana, “Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Vs Daya Saing Global,” J. Profit, vol. 6, no. 1, pp. 50–56, 2012.

Anshori, “The Role of School Student Organizations in Improving Character Education,” At-Tarbiyat J. Pendidik. Islam, vol. 5, no. 1, pp. 62–70, 2022.

E. Regiani and D. A. Dewi, “Pudarnya Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Masyarakat di Era Globalisasi,” J. Kewarganegaraan, vol. 5, no. 1, pp. 30–38, 2021, doi: 10.31316/jk.v5i1.1402.

Jailani, C. Rochman, and N. Nurmila, “Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Jujur pada Siswa,” Al-Tadzkiyyah, vol. 10, no. 2, pp. 257–264, 2019.

P. Sakti, “Upaya Peningkatan Guru Profesional dalam Menghadapi Pendidikan di Era Globalisasi,” Attadib J. Elem. Educ., vol. 4, no. 1, p. 74, 2020, doi: 10.32507/attadib.v4i1.632.

A. Setiono, “Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0,” J. Apl. Pelayaran Dan Kepelabuhanan, vol. 9, no. 2, pp. 179–185, 2019, doi: 10.30649/japk.v9i2.36.

K. B. Sastrawan, “Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Perencanaan Mutu Strategis,” J. Penjaminan Mutu, vol. 5, no. 2, p. 203, 2019, doi: 10.25078/jpm.v5i2.763.

Rahman and A. Nasihin, “Mampukah Sekolah Gratis Mencapai Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan?,” Ta’dibuna J. Pendidik. Islam, vol. 9, no. 1, p. 102, 2020, doi: 10.32832/tadibuna.v9i1.2863.

E. Kusumaningrum, R. B. Sumarsono, and I. Gunawan, “Berbasis Pesantren,” Ilmu Pendidik., vol. 2, no. 2, pp. 139–150, 2019.

R. Saadah and H. Asy’ari, “Manajemen Sekolah Berbasis Pesantren dalam Membentuk Karakter Peserta Didik,” Kharisma J. Adm. dan Manaj. Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 1–11, 2022, doi: 10.59373/kharisma.v1i1.1.

L. D. Sanga and Y. Wangdra, “Pendidikan Adalah Faktor Penentu Daya Saing Bangsa,” Pros. Semin. Nas. Ilmu Sos. dan Teknol., vol. 5, no. September, pp. 84–90, 2023, doi: 10.33884/psnistek.v5i.8067.

S. Arifin, “Human Capital Investment: Meningkatkan Daya Saing Global Melalui Investasi Pendidikan,” J. Educ. Dev., vol. 11, no. 2, pp. 174–179, 2023, doi: 10.37081/ed.v11i2.4672.

Nuryana, P. Pawito, and P. Utari, “Pengantar Metode Penelitian kepada Suatu Pengertian yang Mendalam Mengenai Konsep Fenomenologi,” Ensains J., vol. 2, no. 1, p. 19, 2019, doi: 10.31848/ensains.v2i1.148.

R. S. W. Hartanto and H. Dani, “Studi Literatur: Pengembangan Media Pembelajaran dengan Software AutoCAD,” J. Kaji. Pendidik. Tek. Bangunan, vol. 1, no. 1, pp. 1–6, 2016.

A. Putri, D. Bramasta, and S. Hawanti, “Studi Literatur tentang Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Menggunakan Model Pembelajaran The Power of Two di SD,” J. Educ. FKIP UNMA, vol. 6, no. 2, pp. 605–610, 2020.

M. S. Anshori, Cendekiawan Muslim dalam Perspektif Pendidikan Islam, 1st ed. Sidoarjo, Indonesia: Nizamia Learning Center, 2020.

Y. Pratiwi and R. Mulyono, “Implementasi Pola POAC dalam Manajemen Laboratorium di SMA Kesatuan Bangsa,” Didakt. J. Ilm. PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 1, pp. 707–716, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v9i1.723.

M. Yasin, “Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Pesantren dalam Membentuk Karakter Mandiri Santri,” DIAJAR J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 1, no. 1, pp. 72–79, 2022, doi: 10.54259/diajar.v1i1.192.

N. Utami, M. Y. Aditia, and B. N. Asiyah, “Penerapan Manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling) pada Usaha Dawet Semar di Kabupaten Blitar,” vol. 2, no. 2, pp. 36–48, 2023. [Online]. Available: https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jekombis/article/view/1522/1506

D. Muhammad, “Implementasi Fungsi Actuating (Penggerakan/Pelaksanaan) dalam Manajemen Program Bahasa Arab di MI Manarul Islam Malang,” Mahira, vol. 2, no. 1, pp. 13–32, 2022, doi: 10.55380/mahira.v2i1.194.

P. Rumondor, “Pola Interaksi Guru PAI dengan Siswa dalam Meningkatkan Hasil Belajar,” J. Al-Hikmah, vol. 2, no. 2, pp. 160–172, 2020.

S. Sukma Ayu and Z. M. Nawawi, “Penerapan Planning, Organizing, Actuating, and Controlling (POAC) dalam Manajemen Bisnis Islam,” Bisnis dan Manaj., vol. 3, no. 1, pp. 51–68, 2024. [Online]. Available: https://doi.org/10.58192/ebismen.v3i1.1733

Saputra and H. Ali, “Penerapan Manajemen POAC: Pemulihan Ekonomi serta Ketahanan Nasional pada Masa Pandemi Covid-19 (Literature Review Manajemen POAC),” J. Ilmu Manaj. Terap., vol. 3, no. 3, pp. 316–328, 2022, doi: 10.31933/jimt.v3i3.733.