Ahmad Al Farabi (1), Andriani Eko Prihatiningrum (2)
General Background Sustainable agricultural practices require innovative organic-based treatments to substitute synthetic fertilizers and enhance crop productivity. Specific Background The combined application of liquid organic fertilizer derived from pineapple peel and Trichoderma sp. serves as a promising biological approach to support the cultivation of cayenne pepper (Capsicum frutescens ORI 212 variety). Knowledge Gap Detailed interactive mechanisms between organic pineapple peel fertilizers and soil-inoculating microorganisms for specific horticultural crop parameters need further empirical investigation. Aims This study investigates the interactive effects of liquid organic fertilizer derived from pineapple peel and Trichoderma sp. on the vegetative growth and yield parameters of cayenne pepper. Results The findings reveal significant interaction effects on plant height, fruit weight, number of branches, number of leaves, flowering age, number of flowers, and number of fruits, while no significant effect was observed on stem diameter. Novelty This research demonstrates that integrating pineapple peel liquid organic fertilizer with Trichoderma sp. inoculants creates a synergistic biological mechanism that optimizes nutrient uptake and crop development. Implications These findings provide valuable insights and eco-friendly alternatives for agricultural practitioners seeking to improve crop yields and promote sustainable farming methods.
Highlights:
Plant height, fruit weight, number of branches, number of leaves, flowering age, number of flowers, and number of fruits exhibited significant improvements due to the combined application.
Organic-based treatments offer a viable pathway to support sustainable agricultural practices and crop productivity.
Interacting soil treatments optimize nutrient availability and plant development without relying on synthetic inputs.
Keywords: Liquid Organic Fertilizer, Trichoderma Sp, Vegetative Growth, Cayenne Pepper, Pineapple Peel
Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, serta kaya akan nutrisi yang berguna bagi tubuh manusia. Selain itu, cabe rawit biasa digunakan sebagai bumbu masakan, bahan obat-obatan, serta bahan-bahan untuk perawatan tubuh. Banyaknya manfaat serta khasiatnya bagi tumbuhan maka banyak petani yang membudidayakan tanaman tersebut. Seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap cabai rawit, mendorong para petani untuk memproduksi tanaman ini. Di Gorontalo misalnya, banyak petani yang membudidayakan tanaman cabai untuk kebutuhan pangan. Untuk memperoleh tanaman cabai yang berkualitas harus dilakukan pemeliharaan mulai dari tahap penanaman sampai pada pertumbuhan fase vegetatif dan generatifnya. [1] mengemukakan bahwa secara umum tanaman cabai mengalami 2 fase kehidupan yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif adalah masa kehidupan tanaman cabai dari umur 0 sampai 40 hari (setelah tanam) dan fase generatif dari umur 40 sampai 50 hari. Pada fase vegetatif, energi pertumbuhan cenderung mengarah pada perkembangan batang dan perakaran. Pada fase generatif, energi pertumbuhan digunakan untuk pembungaan, pembuahan, perkembangan buah, dan pematangan buah.
Tanaman cabe memerlukan unsur hara sebagai penunjang pertumbuhan dan akan mempengaruhi hasil produksi. Pertumbuhan suatu tanaman bergantung pada jumlah unsur hara yang disediakan bagi tanaman dalam jumlah minimum, sehingga pemberian unsur hara yang seimbang dan kelengkapan unsur hara makro dan mikro sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan produktivitas yaitu dengan pemberian pupuk organic [2]
Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik seperti sisa-sisa sayuran, kotoran ternak dan sebagainya dan juga berasal dari mahkluk hidup yang telah mati. Pembusukan dari bahan-bahan organik dan mahkluk hidup yang telah mati menyebabkan perubahan sifat fisik dari bentuk sebelumnya. Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibedakan menjadi dua, yaitu : pupuk cair dan pupuk padat [3]. Pupuk organik cair (POC) sangat berperan penting dalam memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, untuk perbaikan sifat kimia tanah yaitu dapat meningkatkan unsur hara dan pH serta sifat biologinya yaitu dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas mikroorganisme didalam tanah [4].
Salah satu buah yang dapat dijadikan bahan pupuk organik yaitu buah nanas yang mengandung vitamin A dan C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), dan enzim bromelain. Bromelain, berkhasiat anti radang. Berdasarkan kandungan nutriennya, ternyata kulit buah nanas mengandung karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Buah nanas ini banyak sekali mengandung manfaat yang berpotensi untuk meningkatkan kesuburan tanah. Buah nanas mengandung vitamin A dan C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), dan enzim bromelain [5]
Dalam buah nanas terdapat bahan-bahan organik seperti nitrogen (12 mg), kalium (08,25 ppm) dan fosfor (23,63 ppm). Nitrogen berfungsi untuk pertumbuhan tanaman, secara keseluruhan untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman dan merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun. Fosfor (P) bagi tanaman berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman, merangsang pembungaan, pembuahan, pertumbuhan akar, pembentukan biji, pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel. Kalium (K) berfungsi dalam proses dan organik karbon, fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral, termasuk air, meningkatkan daya tahan atau kekebalan tanaman terhadap penyakit [6]
Pada penelitian [7] melaporkan hasil penelitiannya bahwa pengaruh pupuk organik cair kulit nanas dengan eceng gondok terhadap pertumbuhan tanaman tomat (Lycopersicon esculentum L.) dan Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Aureus. Pada tanaman cabai dengan semakin tinggi suatu konsentrasi (0%, 4%, 8%, 12%) maka hasil yang didapat juga semakin tinggi pada jumlah daun, panjang akar dan bobot kering pada konsentasi P3 (12%). Menurut hasil penelitian [8] pupuk organik dari kulit nanas mengandung unsur hara 0,70% N, 19,98% C, 0,08% S, 0,03% Na,dengan pH 7,9.
Berdasarkan penelitian, maka kulit buah nanas dinilai sangat berpotensi untuk dikembangkan dan diteliti sebagai pupuk organik cair. Informasi mengenai pengaruh pemberian pupuk organik cair kulit buah nanas terhadap pertumbuhan tanaman bayam merah hingga kini masih sulit didapatkan. Maka dari itu peneliti telah melakukan penelitian mengenai pengaruh dari pupuk organik cair kulit buah nanas (Ananas comosus L. merr)
Namun penggunaan pupuk organik memiliki kelemahan yaitu lambat mengurai pada tanah sehingga diperlukan penambahan organisme dalam tanah yang berfungsi untuk mempercepat proses dekomposisi salah satunya penggunaan jamur Trichoderma sp. Menurut [9] Trichoderma sp. yang dapat membantu merangsang pertumbuhan tanaman dengan mengiinfeksi akar tanaman sehingga akar yang terinfeksi Trichoderma Sp. akan lebih banyak dibandingkan dengan akar yang tidak terinfeksi. Perakaran yang banyak tersebut menyebabkan penyerapan unsur hara yanglebih optimal sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Trichoderma sp. Merupakan jamur yang bersifat parasit terhadap jamur lain dan dikenal luas sebagai pupuk biologi tanah. Jamur ini dapat berperan sebagai biodekomposer. Trichoderma sp. Memberikan pengaruh positif terhadap perakaran tanaman, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman. Mekanisme kerjanya dengan menginfeksi akar sehingga akar yang terinfeksi akan tumbuh lebih banyak dibandingkan yang tidak terinfeksi. Perakaran yang banyak menyebabkan penyerapan unsur hara lebih optimum, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik [10] mengurangi ketergantungan dan mengatasi dampak negatif dari pemakaian pupuk kimia. Selain itu, Trichoderma sp. cair juga mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sehingga didapatkan hasil produksi yang optimal. Menurut [10], pemberian Trichoderma sp. Cair sebanyak 10 ml per tanaman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman cabai.
Pertumbuhannya dan produktivitasnya merupakan parameter yang biasanya digunakan untuk mengetahui keberhasilan dalam pembudidayaan suatu tanaman. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas Dan Trichoderma sp. Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Cabe Rawit (Capsicum Frutescens) Varietas ORI 212”.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Januari 2023 sampai bulan April 2023. Di Desa Modong.
Alat yang di gunakan:
a) polybag ukuran 35cm x 35cm
b) Botol Aqua besar 1,5 Liter
c) Gelas Aqua kecil
d) Tong plastik 60 Liter
e) Penggaris
f) Gunting
g) Cetok
h) Timbangan digital
i) Meteran
j) Kamera
k) Bulppoint
l) Kertas label
Bahan yang digunakan :
a) Benih cabe rawit Varietas ORI 212
b) Tanah top soil
c) Thricoderma sp.
d) Pupuk kandang kambing
e) Arang Sekam padi.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) di susun secara faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu dosis pemberian Pupuk organik cari (POC) Kulit Nanas dan Thricoderma sp. Di tanam pada polybag ukuran 35cm x 35cm masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Sehingga dapat di peroleh 12 kombinasi dan menghasilkan 36 unit percobaan.
Faktor pertama: Pupuk organik cair (POC) Kulit Nanas
1. P0 : 0% = 0 ml POC + 1000 ml air = 1L (kontrol/tanpa perlakuan)
2. P1 : 4% = 40 ml POC + 960 ml air = 1L
3. P2 : 8% = 80 ml POC + 920 ml air = 1L
4. P3 : 12% =120 ml POC + 880 ml air = 1L
Faktor kedua: Trichoderma sp.
1. T0: tanpa Trichoderma sp. (kontrol/tanpa perlakuan)
2. T1: Trichoderma 3 ml
3. T2: Trichoderma 4 ml
Pupuk organik cair nanas:
P0: Kontrol
P1 : Perlakuan dengan kadar pengenceran 4%
40 ml POC + 960 ml air = 1L
P2 : Perlakuan dengan kadar pengenceran 8%
80 ml POC + 920 ml air = 1L
P3 : Perlakuan dengan kadar pengenceran 12%
120 ml POC + 880 ml air = 1L
Media tanam cabe rawit Varietas ORI 212 terdiri dari tanah dan arang sekam padi dengan Kemudian ditambah dengan dosis pupuk kandang sesuai dengan ssesuai perlakuan. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil dan sudah bersih dari gulma kemudian dicampur dengan pupuk kandang dan arang sekam diaduk secara merata kemudian dimasukkan ke dalam polybag ukuran 35cm x 35cm serta diberi label sesuai dengan perlakuannya. Lalu bibit cabe rawit Varietas ORI 212 di pindahkan ke dalam polybag yang telah diberi label sesuai dengan kode perlakuannya.
Bahan Pupuk Organik Cair Kulit Nanas
1. 10 kg kulit nanas
2. 10 liter air cucian beras atau air leri
3. 500 ml MOL Tape (mikroorganisme lokal) EM4 Pertanian
4. 500 ml molase, atau bisa juga menggunakan gula merah atau gula pasir sebagai sumber energi/makanan bagi mikroorganisme.
5. Urine Kelinci 2 Liter
6. Blender
7. Tong Plastik 60 Liter
Persiapan pembuatan POC nanas. Berikut ini beberapa tahap pembuatan pupuk organik cair nanas :
1. Kulit Nanas pada blender dengan air leri.
2. Kulit Nanas yang sudah di blender dengan air leri ke tong plastik.
3. Gula Merah ke dalam tong plastik.
4. Yakult ke dalam tong plastik.
5. Urine Kelinci ke dalam tong plastik.
6. Tutup rapat tong plastik ini kurang lebih 7-14 hari.
7. saring untuk memisahkan ampas dan kita bisa dapatkan hasilnya.
8. Dari hasil tersebut menghasilkan pupuk organik cair.
9. Tetapi ini masih dalam kondisi sangat pekat , jadi harus di larutkan dulu dengan air perbandigan 1:100 untuk membuat kadar asam berkurang.
10. Setelah di campurkan dengan air non klorin 1:100 bisa di siramkan ke tanaman.
11. Dari Ampas kulit nanas yang telah terfemtasi kurang lebih 2 minggu kita bisa menguburkan dalam tanah di kebun kita
12. Tetapi bila kita tidak punya kebun, kita bisa ambil tanah dan campurkan dengan tanah dalam wadah tertutup untuk membuat kompos.
13. Peran hasil Bokashi dengan tanah agar semua terurai sempurna.
14. Agar semuanya menjadi kompos probiotik dalam waktu 2 minggu setelah tercampur dengan tanah.
15. dan setelah itu siap menjadi media tanah untuk tanaman kita yang kaya akan unsur hara dan nutrisi serta mikroba unggul yang membuat tanaman dan tanah menjadi sehat dan subur.
Benih cabai yang digunakan direndam dalam air selama satu jam. Benih yang tenggelam diambil kemudian dikecambahkan pada talang persemaian. Setelah benih berumur 2 minggu, benih dipindahkan ke polybag ukuran 8 x 10 cm yang sebelumnya telah diisi dengan media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1.
Penanaman pada polybag perlakuan dilakukan saat bibit sudah memiliki 4-6 helai daun atau sudah berumur 21-24 hari setelah semai (HSS). Bibit yang ditanam adalah bibit yang pertumbuhannya baik, tegak, segar dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Polybag yang telah ditanami segera disiram kemudian diatur sesuai dengan denah perlakuan.
1. Pemberian air
Pemberian air dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore dengan menggunakan gelas aqua kecil. Penyiraman disesuaikan dengan kondisi cuaca, apabila hujan maka tidak perlu lagi dilakukan penyiraman. Untuk penyiraman sendiri dilakukan dengan takaran 50ml per polybag. Menggunakan air sumur. Sehingga dilakukan sebanyak 50 kali penyiraman sampai tanaman berusia 1 bulan 7 hari. Dilakukan setelah masa pindah tanam
2. Pengendalian gulma
Pengendalian dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh dengan tangan. Penyiangan dilakukan dengan interval seminggu sekali atau dengan memperhatikan pertumbuhan gulma di lapangan.
3. Pemberian pupuk
Untuk pemupukan dilakukan dengan menggunakan POC kulit nanas, sesuai dosis perlakuan yang telah di berikan. Pemberian air kelapa dilakukan saat tanaman berusia 3 hari setelah pindah tanam (HSPT) dengan interval pemberian seminggu sekali. pemberian di lakukan sampai tanaman berusia 4 minggu/siap panen. Sebanyak 4 kali pemupukan. Pemberian POC kulit nanas yaitu dengan cara mencampurkan POC kulit nanas sesuai dosis perlakuan kemudian di tambah satu liter air.
4. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan adalah pengendalian dengan menggunakan air rendaman tembakau, dengan cara menyemprotkan cairan tersebut kepada tanaman cabe rawit secara langsung
Data dianalisis menggunakan analisis ragam (anova) untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan selanjutnya, jika terjadi pengaruh dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ).
1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan interval pengamatan seminggu sekali dari umur 14, 28, 42, 56 70 hingga 90 HST. Tinggi tanaman diukur dengan cara mengukur dari pangkal tanaman sampai ujung daun tanaman. Diukur menggunakan penggaris.
Tabel1.Rerata pertumbuhan tinggi (cm) tanaman cabe rawit pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan tinggi tanaman cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 sebesar 64,95cm dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan tinggi tanaman sebesar 26,03, perbedaan yang signikfikan terdapat pada setiap perlakuan interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap tinggi tanaman cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi tinggi tanaman pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
2. Diameter Batang
Pengukuran diameter batang dilakukan disaat panen pertama (90 HST). Pengukuran diameter batang dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.
Tabel2. Rerata Diameter batang (mm) tanaman cabe rawit pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan diameter batang tanaman cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 dan T0P1 denga diameter batang sebesar 6 mm dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan diameter batang sebesar 5mm. kemudian dilakukan pengujian anova, dihasilkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap tinggi tanaman cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212
3. Bobot Buah
Bobot buah pertanaman dilakukan dengan menimbang seluruh buah pada setiap polibeg, mulai dari panen pertama sampai panen terakhir. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan digital
Tabel 3. Rerata bobot buah (gr) tanaman cabe rawit pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan bobot buah cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 sebesar 56,67 gr dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan bobot buah sebesar 1433 gr. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap bobot buah cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi bobot buah pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
4. Jumlah Cabang
Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah cabang lateral yang produktif. Penghitungan dilakukan pada saat tanaman sudah membentuk cabang sampai cabang-cabang selanjutnya fase percabangannya berhenti.
Tabel 4. Rerata jumlah cabang tanaman cabai pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan jumlah cabang cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 sebesar 17,33 cabang dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan jumlah cabang sebesar 8 cabang. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap jumlah cabang cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi jumlah cabang pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
5. Jumlah daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan interval pengamatan 1 minggu sekali yaitu pada umur 7, 14, 21, 35, 42 HST. Dengan cara menghitung jumlah daunnya, Daun yang dihitung adalah daun yang sudah terbuka secara sempurna. Mengukurnya dengan cara menghitung daun yang terbuka sempurna.
Tabel 5. Rerata jumlah daun (helai) tanaman cabe rawit pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan jumlah daun cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 sebesar 81,7 helai daun dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan jumlah daun sebanyak 34,3 helai daun. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap jumlah daun cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi jumlah daun pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
6. Umur Berbunga (hari)
Pengamatan umur berbunga dilakukan cara menghitung berapa lama (hari) bunga muncul pertama dalam setiap tanamanan.
Tabel 6. Rerata Umur berbunga (HST) tanaman cabai pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan umur berbunga cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tercepat pada perlakuan T2P3 sebesar 51 hari terlah muncul bunga dan rata-rata terlama pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma dengan waktu 65,67 hari baru muncul bunga. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap umur berbunga cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi percepat muncul bunga pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
7. Jumlah Bunga (bunga)
Pengamatan jumlah berbunga dilakukan dengan interval 1 minggu, dengan cara menghitung bunga dalam setiap tanamanan. Mengukur dengan cara menghitung jumlah setiap bunga dalam 1 tanaman cabe setiap perlakuan
Tabel 7. Rerata jumlah bunga tanaman cabai pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan jumlah bunga cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T1P2 sebesar 19,33 bunga dan rata-rata terendah pada perlakuan T1P0 dengan jumlah buah sebanyak 5,67. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap jumlah bunga cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi jumlah daun pada perlakuan T1P2 yaitu kombinasi Trichoderma 3 ml dan 80 ml POC
8. Jumlah Buah (buah)
Pengamatan jumlah buah dilakukan dengan interval 1 minggu, dengan cara menghitung buah cabe dalam setiap tanamanan. Mengukur dengan cara menghitung jumlah setiap buah cabe dalam 1 tanaman cabe setiap perlakuan
Tabel 8. Rerata jumlah buah tanaman cabai pada hari ke-90 HST
Berdasarkan tabel dan grafik diagram batang diatas, dapat dijelaskan bahwa rerata pertumbuhan jumlah bunga cabe pada hari ke hari ke-90 HST, rata-rata tertinggi pada perlakuan T2P3 sebesar 36, dan rata-rata terendah pada perlakuan T0P0 atau tanpa perlakuan POC maupun trichoderma sebesar 14,33. Berdasarkan anova diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. terhadap jumlah buah cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, dan perlakuan yang paling mempengaruhi jumlah buah pada perlakuan T2P3 yaitu kombinasi Trichoderma 4 ml dan 120 ml POC
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengujian olah data, dapat dijelaskan bahwa Interaksi Pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas dan Tricoderma sp. berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, bobot buah, jumlah cabang, jumlah daun, umur berbunga, jumlah bunga dan jumlah buah) cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212
Menurut hasil penelitian Salim (2008), pupuk organik dari kulit nanas mengandung unsur hara 0,70% N, 19,98% C, 0,08% S, 0,03% Na, dengan pH 7,9. Pada pupuk organik cair (POC) memiliki keunggulan yaitu mampu memperbaiki kualitas tanah seperti sifat fisika, kimia dan biologi tanah serta mampu memperbaiki dan mengembalikan struktur tanah. Pemberian POC kulit nanas mempunyai kelebihan yaitu tidak menghasilkan residu obat-obat ataupun pupuk sintetik seperti yang sering digunakan pada lahan pertanian, sehingga pupuk cair yang dihasilkan terbebas dari residu. Pupuk POC kulit nanas yang diberikan mampu meningkatkan daya larut unsur seperti P, K, Ca dan Mg, mampu meningkatkan C organik serta peran tanah dalam mengangkut air [6].
Pemberian inokulum pada POC kulit nanas mampu menjadikan senyawa-senyawa kompleks terdekomposisi dan terdegradasi menjadi senyawa-senyawa organik yang lebih sederhana. Tanah yang subur yaitu tanah yang mengandung unsur hara yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan tanaman. pertumbuhan tanaman yang optimal disebabkan oleh kebutuhan nutrient tanaman yang terpenuhi. Pada penelitian ini, pertumbuhan vegetatif tanaman cabai diindikasikan parameternya meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, kadar klorofil, berat basah dan berat kering tanaman, serta rasio akar pucuk [11].
Pada penelitian yang dilakukan, POC kulit nanas yang kombinasikan pemberian inokulum fungi ligninolitik (Trichoderma sp.) berperan sebagai penginduksi dekomposisi dalam membantu dan mempercepat proses pengomposan. Pada proses pengomposan terjadi proses dekomposisi bahan lignin oleh Trichoderma sp. yang mampu memecahkan polimer yang kompleks menjadi monomer glukosa dan unsur-unsur yang lebih kecil dan sederhana. Kemudian unsur-unsur ini lah yang akan dijadikan sebagai sumber nutrien pada tanah, sehingga tanah menjadi subur dan pertumbuhan tanaman menjadi optimal. Kompos ini akan diaplikasikan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman cabe (Capsicum frutescens). Tujuan digunakan tanaman cabai pada penelitian ini dikarenakan tanaman cabe rawit merupakan tanaman budidaya yang penting di Indonesia karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, Menurut [9] Trichoderma sp. yang dapat membantu merangsang pertumbuhan tanaman dengan mengiinfeksi akar tanaman sehingga akar yang terinfeksi Trichoderma Sp. akan lebih banyak dibandingkan dengan akar yang tidak terinfeksi. Perakaran yang banyak tersebut menyebabkan penyerapan unsur hara yanglebih optimal sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan suata tanaman khususnya pada fase vegetatif seperti pertumbuhan batang dan daun, kandungan yang paling banyak dibutuhkan adalah kandungan nitrogen (N), sebab unsur nitrogen dalam bokashi dan pupuk cair berperan penting dalam proses pembentukan klorofil yang berguna dalam proses fotosintesis. Proses fotosintesis ini berfunsi untuk memperoleh dan juga menghasilkan makanan bagi tanaman, dengan kandungan klorofil yang cukup dapat memacu pertumbuhan tanaman terutama dalam merangsang organ vegetatif pada suatu tanaman. Menurut [12] bahwa tanaman muda akan dapat menyerap unsur hara dalam jumlah yang sedikit, sejalan dengan umur tanaman, kecepatan penyerapan unsur hara tanaman akan meningkat jika umur bertambah sesuai siklus hidupnya. Kualitas hidup tanaman juga sangat bergantung dari ketercukupan hara dari lingkungannya serta kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur hara dalam menunjang fase vegetatif tanaman. Seperti dikemukakan oleh Musnamar (2003) bahwa pupuk organik memiliki sifat lambat menyediakan unsur hara bagi tanaman karena memerlukan waktu untuk proses dekomposisinya
Menurut [13] bahwa unsur makro N, P, K mempunyai peranan masing-masing untuk tanaman diantaranya unsur nitrogen dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pembentukan batang serta cabang. Unsur fosfor diperlukan bagi tanaman untuk perkembangan biji dan akar. Sementara unsur kalium berfungsi untuk membentuk bunga dan buah serta membantu tanaman melawan penyakit. Sesuai dengan pernyataan [14] yang menyatakan bahwa ketersedian unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman mempengaruhi tinggkat produktivitas tanaman. Sedangkan menurut [15] ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas suatu tanaman. Pada dasarnya jenis dan jumlah unsur hara yang tersedia didalam tanah harus cukup dan seimbang untuk pertumbuhan agar tingkat produktivitas yang diharapkan dapat tercapai.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian [7] melaporkan hasil penelitiannya bahwa pengaruh pupuk organik cair kulit nanas dengan eceng gondok terhadap pertumbuhan tanaman tomat (Lycopersicon esculentum L.) dan Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Aureus. Pada tanaman cabai dengan semakin tinggi suatu konsentrasi (0%, 4%, 8%, 12%) maka hasil yang didapat juga semakin tinggi pada jumlah daun, panjang akar dan bobot kering pada konsentasi P3 (12%). Menurut hasil penelitian [8] pupuk organik dari kulit nanas mengandung unsur hara 0,70% N, 19,98% C, 0,08% S, 0,03% Na,dengan pH 7,9. Dan penelitian [10], pemberian Trichoderma sp. Cair sebanyak 10 ml per tanaman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman cabai.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terdapat interaksi pengaruh pemberian pupuk organik cair (POC) kulit nanas berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif yaitu tinggi tanaman, bobot buah, jumlah cabang, jumlah daun, umur berbunga, jumlah bunga dan jumlah buah cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, namun pada pengamatan diameter batang tidak terdapat pengaruh
2. Terdapat interaksi pengaruh pemberian Tricoderma sp. berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif yaitu tinggi tanaman, bobot buah, jumlah cabang, jumlah daun, umur berbunga, jumlah bunga dan jumlah buah cabe rawit (Capsicum frutescens) Varietas ORI 212, namun pada pengamatan diameter batang tidak terdapat pengaruh
Topan, W. dan M., Panen Cabai di Pekarangan Rumah. Jakarta: Agromedia Pustaka, 2018.
Saptana, A. Daryanto, H. K. Daryanto, dan K., “Strategi Manajemen Resiko Petani Cabai Merah pada Lahan Sawah Dataran Rendah di Jawa Tengah,” tahun tidak dicantumkan.
S. Hadisuwito, Membuat Pupuk Organik Cair. Jakarta: Agromedia Pustaka, 2019.
Y. H. Indriani, Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta: Penebar Swadaya, 2018.
Y. Sawano, K. Hatano, T. Miyakawa, and M. Tanokura, “Absolute side-chain structure at position 13 is required for the inhibitory activity of Bromei,” Journal of Biological Chemistry, vol. 283, pp. 36338–36343, 2018.
N. Susi, S. Surtinah, and M. Rizal, “Pengujian kandungan unsur hara pupuk organik cair (POC) limbah kulit nenas,” Jurnal Ilmiah Pertanian, vol. 14, no. 2, pp. 46–51, 2018, doi: 10.31849/jip.v14i2.261.
I. A. Kusuma Pramushinta, “Pembuatan pupuk organik cair limbah kulit nanas dengan enceng gondok pada tanaman tomat (Lycopersicon esculentum L.) dan tanaman cabai (Capsicum annuum L.),” Journal of Pharmacy and Science, vol. 3, no. 2, pp. 37–40, 2018, doi: 10.53342/pharmasci.v3i2.115.
R. Nyanjang, A. A. Salim, and Y. R., “Penggunaan pupuk majemuk NPK 25-7-7 terhadap peningkatan produksi mutu pada tanaman teh menghasilkan di tanah Andosolia,” PT. Perkebunan Nusantara XII, 2018.
M. S. R. Maulana, “Identifikasi jamur endofit asal tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) dalam menghambat Xanthomonas albilineans L. penyebab vaskular bakteri,” Ekp, vol. 13, no. 3, pp. 1576–1580, 2018.
Arsensi, “Pengaruh pemberian ekstrak rimpang kencur terhadap intensitas serangan hama terhadap tanaman selada (Lactuca sativa L.),” Jurnal Media Sains, vol. 4, no. 4, 2019.
T. Djarwaningsih, “Capsicum spp. (Cabai): Asal, persebaran dan nilai ekonomi,” Biodiversitas, vol. 6, no. 4, pp. 292–296, 2018.
M. Silvia, H. Susanti, S. Samharinto, and G. M. S. Noor, “Produksi tanaman cabe rawit (Capsicum frutescens L.) di tanah Ultisol menggunakan bokashi sampah organik rumah tangga dan NPK,” EnviroScienteae, vol. 12, no. 1, p. 22, 2019, doi: 10.20527/es.v12i1.1096.
J. Supiandi, “Produksi enzim kitinase dan selulase Trichoderma sp. isolat perkebunan lada di Lampung,” 2019.
A. H. Talanca, “Status penyakit bulai pada tanaman jagung dan pengendaliannya,” in Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Serealia, 2019.