Dwi Ristinia Putri (1), Abdul Rahman (2), Sinta Satria Dewi Pendit (3), Nurgan Tadeko (4), Hasna Hasanuddin (5)
General Background Education and culture are inseparable, with local wisdom serving as a fundamental foundation for national identity and character building amidst globalization. Specific Background In Central Sulawesi, the rich regional traditions provide highly relevant instructional resources to create contextual educational experiences for elementary pupils. Knowledge Gap However, current pedagogical practices frequently underutilize these traditional assets, leading to uneven participation and suboptimal educational drive. Aims This study describes the utilization of regional arts within the "My Neighborhood" theme to foster pupil enthusiasm at SD Inpres 2 Tondo. Results Qualitative data from observations, interviews, and questionnaires demonstrated that incorporating the Pamonte Dance through video presentations and collectively singing the Posisani Song stimulated positive interest, enthusiasm, attention, perseverance, and curiosity. Nevertheless, active participation remained unequal, particularly among children from different demographic backgrounds who lacked prior exposure to these traditions. Novelty This research specifically highlights the direct motivational outcomes of applying targeted indigenous arts as active, contextual study materials, moving beyond generalized heritage preservation. Implications Educators must implement culturally responsive guidance and diversified multimedia to accommodate diverse demographic backgrounds, ensuring equitable participation in heritage-based pedagogy.
Highlights
Incorporating regional arts like Pamonte Dance stimulates active classroom participation.
Contextual traditional resources generate positive enthusiasm and curiosity during instruction.
Diverse demographic backgrounds necessitate varied media to ensure equitable engagement.
Keywords
Kaili Culture; Contextual Learning; Pamonte Dance; Posisani Song; Learning Motivation
Kearifan lokal merupakan kekayaan dan identitas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, berfungsi sebagai benteng dan paspor utama dalam tata pergaulan global. Konsep ini bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, dan perilaku yang melembaga secara tradisional, bertahan lama karena nilai yang terkandung di dalamnya dianggap baik dan benar. Selain itu, kearifan lokal berfungsi sebagai pondasi pembentuk jati diri bangsa dengan memberikan akar pada budaya suatu bangsa [1].
Data menunjukkan bahwa sejumlah besar bahasa daerah telah berstatus kritis dan mengalami kepunahan. Menghadapi kondisi ini, pengembangan budaya lokal menjadi strategi penting dalam manajemen peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan yang bertujuan untuk membangun karakter bangsa serta menjaga keberlangsungan warisan budaya [2]. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis melalui implementasi program pengembangan budaya lokal di lingkungan pendidikan guna meminimalisir kepunahan tradisi dan bahasa daerah serta menanamkan nilai moral dan karakter positif pada peserta didik [3].
Pendidikan dan budaya merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan, di mana pendidikan adalah bagian inheren dari kebudayaan itu sendiri [4]. Sebagai negara dengan keragaman suku dan budaya yang melimpah, Indonesia sudah seharusnya menonjolkan budaya lokal sebagai identitas dan karakter bangsa. Sekolah sebagai lembaga formal memegang peranan krusial untuk mentransmisi nilai sosial dan budaya kepada peserta didik, dengan tujuan membentuk perilaku dan cara berpikir yang selaras dengan kondisi sosial dan budaya setempat [5]. Namun demikian, warisan budaya dari leluhur ini tengah menghadapi tantangan serius akibat arus globalisasi yang menyebabkan peserta didik mengalami kesenjangan kultural, bahkan mengakibatkan tradisi dan bahasa daerah menjadi terancam punah [6].
Dalam konteks yang lebih spesifik, kondisi tersebut juga terjadi pada kebudayaan lokal di berbagai daerah, termasuk pada masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah. Suku Kaili dikenal memiliki kekayaan budaya lokal yang unik dan wajib dipertahankan [7].
Sejalan dengan hal tersebut, pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga perlu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal sebagai sumber belajar yang dapat memperkaya pengalaman belajar siswa [8]. Kebudayaan lokal Kaili yang melekat di Sulawesi Tengah, khususnya di sekitar daerah Palu, merupakan kekayaan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai kearifan yang dapat dijadikan sumber belajar yang efektif [9].
Namun, kondisi ideal tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam praktik pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru kelas IV SD Inpres 2 Tondo, diketahui bahwa meskipun secara umum motivasi belajar siswa tergolong cukup baik, motivasi tersebut belum merata pada seluruh siswa. Masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif selama pembelajaran berlangsung, kurang fokus terhadap materi yang disampaikan, menunjukkan minat belajar yang berbeda-beda, serta kurang antusias dalam kegiatan seperti membaca dan menulis. Kondisi ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa belum optimal dan masih perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pembelajaran yang mampu mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menarik. Salah satu pendekatan yang dapat mendukung pembelajaran yang bermakna adalah pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Namun demikian, dalam penelitian ini, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar menjadi fokus utama dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi siswa.
Pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran dinilai relevan karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui budaya lokal, siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai budaya yang ada di lingkungan mereka. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, serta mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Penelitian lain di SD 18 Banawa mengkaji bagaimana budaya lokal Kaili seperti cerita rakyat Gonggati, lagu Posisani, dan wisata Pusentase dapat digunakan sebagai sumber belajar pada tema lingkungan tempat tinggal. Pemanfaatan budaya lokal ini tidak hanya mempertahankan tradisi budaya dari generasi ke generasi, tetapi juga memupuk rasa cinta lingkungan dan identitas lokal pada siswa. Namun, pemanfaatan budaya lokal tersebut dalam pembelajaran masih belum optimal, sehingga pemahaman dan apresiasi siswa terhadap kearifan budaya serta peningkatan motivasi belajar belum berkembang secara maksimal [10].
Penelitian ini penting karena menghadirkan upaya pengembangan pembelajaran berbasis budaya lokal yang tidak hanya mempertimbangkan aspek kognitif, tetapi juga nilai-nilai luhur budaya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung bersifat deskriptif, penelitian ini secara khusus menekankan pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar yang berhubungan langsung dengan peningkatan motivasi belajar siswa.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal menjadi salah satu pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan karena mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan kontekstual sesuai dengan lingkungan siswa. Namun, penerapannya dalam pembelajaran masih terbatas [11].
Dengan demikian, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar dalam tema lingkungan tempat tinggalku di kelas IV SD Inpres 2 Tondo diharapkan dapat mendukung motivasi belajar siswa. Motivasi belajar yang tinggi sangat penting dalam mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran serta pencapaian hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengeksplorasi potensi kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar yang kontekstual dan relevan.
A.Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami dan menggambarkan secara mendalam bagaimana kebudayaan lokal Kaili digunakan sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku serta bagaimana penerapannya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV di SD Inpres 2 Tondo.
B.Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres 2 Tondo, yang berlokasi di Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini rencananya akan dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Rentang waktu ini mencakup tahapan persiapan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan hasil penelitian.
C.Subjek Penelitian
Pada penelitian ini, subjek penelitian terdiri atas guru kelas IV dan siswa kelas IV SD Inpres 2 Tondo yang terlibat langsung dalam pembelajaran tema Lingkungan Tempat Tinggalku.
D.Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Desain ini dipilih karena penelitian berfokus untuk mendeskripsikan secara mendalam proses pemanfaaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku serta bagaimana motivasi belajar siswa selama pembelajaran yang memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar di kelas IV SD Inpres 2 Tondo.
E.Teknik Pengumpulan Data
1.Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran di kelas IV SD Inpres 2 Tondo yang memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar.
2.Wawancara
Wawancara digunakan untuk memperoleh data yang lebih mendalam mengenai pandangan, pengalaman, serta persepsi guru dan siswa terhadap pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar.
3.Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk melengkapi hasil observasi dan wawancara. Melalui dokumentasi, peneliti mengumpulkan berbagai bahan tertulis maupun visual yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
4.Angket
Dalam penelitian ini, angket digunakan sebagai alat untuk memperoleh data mengenai motivasi belajar siswa setelah pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar. Angket diberikan kepada siswa kelas IV SD Inpres 2 Tondo yang berjumlah 20 orang untuk memperoleh gambaran mengenai motivasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran.
F.Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, alat utama yang digunakan adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar di kelas, termasuk aktivitas guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Sementara itu, pedoman wawancara digunakan untuk menggali informasi secara lebih mendalam mengenai proses pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran serta dampaknya terhadap motivasi belajar siswa. Wawancara dilakukan kepada guru untuk mengetahui perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, serta kepada peserta didik untuk mengetahui pengalaman dan respon mereka selama mengikuti pembelajaran.
G.Teknik Analisis Data
1.Reduksi Data (Data Reduction)
Tahap reduksi data merupakan proses awal dalam menganalisis data yang bertujuan untuk menyederhanakan, menyeleksi, dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian.
2.Penyajian Data (Data Display)
Tahap penyajian data dilakukan dengan cara menyusun hasil reduksi ke dalam bentuk yang terorganisir agar mudah dibaca dan dipahami.
3.Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)
Tahap ini merupakan langkah akhir dalam proses analisis data. Pada tahap ini, peneliti menafsirkan makna dari data yang telah disajikan untuk menemukan temuan-temuan utama penelitian [12].
A.Hasil Penelitian
1.Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan Observasi
Pengumpulan data proses pembelajaran dilakukan melalui observasi langsung untuk menggali pemanfaatan budaya lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku. Berbekal lembar observasi yang telah disusun, pengamatan difokuskan pada aktivitas mengajar guru serta respons siswa selama pembelajaran. Seluruh hasil observasi selanjutnya dikelompokkan ke dalam dua aspek, yakni pelaksanaan pembelajaran oleh guru dan respons siswa.
a.Pelaksanaan Pembelajaran Oleh Guru
Pelaksanaan pembelajaran diamati secara menyeluruh dari tahap pendahuluan hingga penutup. Fokus pengamatan diarahkan pada performa guru di kelas, yang meliputi penyampaian tujuan pembelajaran, pengaitan dan penggunaan contoh budaya Kaili dalam materi, penciptaan interaksi dengan peserta didik, serta pengelolaan kegiatan penutup. Uraian hasil observasi tersebut disajikan pada bagian berikut.
1)Pembukaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan pembukaan yang dilakukan oleh guru sebelum memasuki kegiatan inti. Guru membuka pembelajaran dengan mengondisikan peserta didik agar siap mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, guru memberikan salam dan mengawali pembelajaran bersama peserta didik. Guru juga melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari untuk mengarahkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran. Kegiatan pembukaan tersebut menjadi tahap awal sebelum guru menyampaikan materi pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan, peserta didik mengikuti kegiatan pembukaan yang diarahkan oleh guru dan mulai memusatkan perhatian pada kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2)Penyampaian Tujuan Pembelajaran
Hasil observasi menunjukkan bahwa seusai kegiatan pembukaan, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang mengacu pada modul ajar sebelum beranjak ke kegiatan inti. Guru menjelaskan hal-hal yang targetnya harus dicapai peserta didik secara lisan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Selama proses ini, peserta didik diarahkan untuk menyimak serta memahami gambaran kegiatan yang akan dilakukan sebelum akhirnya guru beralih ke penyampaian materi.
3)Pengaitan Materi Dengan Budaya Kaili
Berdasarkan pengamatan, penanaman nilai budaya lokal Kaili dilakukan melalui kombinasi penjelasan lisan, pemanfaatan media, serta keterlibatan langsung peserta didik. Pada materi Tari Pamonte, guru menayangkan video guna memberikan gambaran konkret mengenai unsur-unsur budayanya. Sementara pada materi Lagu Posisani, guru melengkapi penjelasannya dengan mengajak siswa menyanyikan lagu tersebut secara bersama-sama. Pendekatan multimedia dan interaktif ini secara efektif memfasilitasi partisipasi aktif siswa selama pengenalan budaya Kaili berlangsung.
4)Penggunaan Contoh Budaya Kaili
Penggunaan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran tampak melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan peserta didik. Guru memanfaatkan Tari Pamonte dan Lagu Posisani sebagai contoh budaya Kaili yang diperkenalkan dalam proses pembelajaran. Kedua unsur budaya tersebut tidak hanya disebutkan sebagai bagian dari materi, tetapi juga ditampilkan dan diperkenalkan kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran.
Pada saat membahas Tari Pamonte, guru menggunakan tayangan video untuk memperlihatkan bentuk dan gambaran tarian kepada peserta didik. Peserta didik diarahkan untuk mengamati tayangan tersebut sehingga contoh budaya yang disampaikan dapat mereka lihat secara langsung. Sementara itu, ketika memperkenalkan Lagu Posisani, guru melibatkan peserta didik melalui kegiatan menyanyikan lagu secara bersama-sama. Kegiatan tersebut membuat contoh budaya yang diberikan tidak berhenti pada penjelasan guru, tetapi hadir dalam bentuk pengalaman belajar yang dapat diikuti oleh peserta didik.
5)Interaksi Guru Dan Siswa
Interaksi antara guru dan peserta didik terbangun secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Guru tidak sekadar memaparkan materi, tetapi juga memicu komunikasi dua arah melalui pemantik pertanyaan, pemberian ruang berpendapat, serta pembimbingan saat eksplorasi budaya Kaili. Hal ini terlihat ketika guru memandu pemahaman siswa melalui penayangan video maupun saat memimpin kegiatan bernyanyi Lagu Posisani bersama, sehingga suasana belajar menjadi dinamis dan komunikatif.
6)Penutupan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran, guru menga.rahkan peserta didik untuk meninjau kembali kegiatan dan materi yang telah dipelajari. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran, termasuk materi yang berkaitan dengan kebudayaan Kaili yang telah diperkenalkan selama proses pembelajaran. Setelah itu, guru melakukan refleksi dengan mengajak peserta didik mengingat kembali kegiatan yang telah dilakukan dan hal-hal yang diperoleh selama pembelajaran.
Setelah kegiatan refleksi selesai, guru mengarahkan peserta didik untuk menyiapkan diri mengakhiri pembelajaran. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan salam yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik.
b.Respon Siswa Selama Pembelajaran
Fokus observasi tidak hanya tertuju pada performa mengajar guru, tetapi juga mencakup keterlibatan peserta didik selama kegiatan berlangsung. Pengamatan difokuskan untuk mengukur aspek perhatian, interaksi aktif, semangat belajar, serta kesiapan siswa saat menerima materitermasuk ketika diintrodusir nilai budaya Kaili lewat tayangan visual dan lagu Posisani. Gambaran mengenai respons siswa tersebut diuraikan sebagai berikut.
1)Perhatian Siswa Terhadap Penjelasan Guru
Selama proses pembelajaran berlangsung, peserta didik menunjukkan perhatian terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru. Ketika guru menjelaskan materi, peserta didik diarahkan untuk memperhatikan informasi yang diberikan dan mengikuti tahapan pembelajaran yang berlangsung. Perhatian peserta didik juga terlihat ketika guru mulai memperkenalkan unsur kebudayaan Kaili sebagai bagian dari materi pembelajaran. Perhatian tersebut tampak ketika peserta didik menyimak penjelasan guru serta mengamati tayangan video yang digunakan untuk memperkenalkan Tari Pamonte. Peserta didik juga memperhatikan ketika guru menjelaskan mengenai Lagu Posisani sebelum kegiatan menyanyikan lagu dilakukan. Selama kegiatan tersebut berlangsung, peserta didik mengikuti arahan guru dan tetap mengikuti jalannya pembelajaran.
2)Keaktifan Siswa Dalam Bertanya Atau Menjawab
Keaktifan siswa selama pembelajaran tercermin dari peran aktif mereka dalam merespons pertanyaan guru. Saat pertanyaan dilemparkan, siswa diberi ruang untuk mengemukakan jawaban maupun tanggapan sesuai dengan pemahaman masing-masing, baik pada sesi materi umum maupun saat pengenalan budaya Kaili. Keterlibatan interaktif ini menunjukkan adanya komunikasi dua arah yang hidup sepanjang proses belajar-mengajar.
3)Antusiasme Siswa Selama Pembelajaran
Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran menunjukkan tingkat ketertarikan yang beragam. Pengenalan unsur kebudayaan Kaili melalui tayangan visual dan kegiatan praktis terbukti ampuh memantik rasa ingin tahu sebagian siswa. Namun, antusiasme tersebut belum terbangun secara kolektif. Beberapa siswa masih kurang terlibat dan asyik dengan kegiatannya sendiri. Hal ini juga didorong oleh faktor latar belakang budaya, sebab siswa yang berasal dari luar suku Kaili cenderung merasa kurang relevan dengan materi kebudayaan yang diperkenalkan.
4)Kondisi Siswa Selama Pembelajaran
Respons siswa terhadap rangkaian kegiatan pembelajaran menunjukkan dinamika yang beragam. Sebagian siswa mampu menyimak dengan baik serta menunjukkan ketertarikan saat materi dikaitkan dengan budaya Kaili. Kendati demikian, rasa ingin tahu tersebut belum terbangun secara merata. Sebagian siswa lainnya justru memperlihatkan indikasi bosan dan terdistraksi dengan bermain sendiri di tengah kegiatan. Dengan demikian, aspek “siswa tidak bosan selama pembelajaran” belum terpenuhi secara optimal dalam pelaksanaan pembelajaran ini.
2.Tanggapan Guru Dan Siswa Terhadap Pembelajaran
Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, wawancara dilakukan kepada guru dan siswa yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Melalui teknik ini, peneliti menghimpun tanggapan mendalam mengenai kesan, kendala, serta respons siswa saat unsur kebudayaan lokal Kaili dimanfaatkan dalam materi. Adapun hasil wawancara tersebut dikelompokkan dan diuraikan berdasarkan subjek informan berikut.
a.Tanggapan Guru Terhadap Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili Dalam Pembelajaran
Hasil wawancara bersama guru mengungkap berbagai pandangan mengenai pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran. Poin-poin yang digali mencakup efektivitas budaya lokal sebagai sumber belajar, keunggulan metode, dinamika respons dan pemahaman siswa, hingga peningkatan motivasi belajar. Selain itu, guru turut memaparkan kesesuaian materi dengan karakteristik siswa, kendala di lapangan, serta rekomendasi untuk perbaikan pembelajaran. Rincian hasil wawancara tersebut diuraikan sebagai berikut.
1)Pandangan Guru Terhadap Pemanfaatan Budaya Lokal Kaili Sebagai Sumber Belajar
Guru memberikan tanggapan positif terhadap pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dalam proses pembelajaran. Menurut guru, penggunaan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar dapat membuat materi pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kedekatan materi dengan kehidupan siswa tersebut juga dinilai dapat meningkatkan antusiasme siswa selama mengikuti pembelajaran.
Guru menyampaikan:
“Menurut saya bagus sekali, karena materinya jadi lebih dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari dan mereka jadi lebih antusias.” (Q1)
Selain memberikan tanggapan positif terhadap kedekatan materi dengan kehidupan siswa, guru juga memandang bahwa penggunaan budaya lokal dalam pembelajaran merupakan hal yang penting. Menurut guru, perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi dapat menggerus budaya daerah. Oleh karena itu, guru memandang bahwa kebudayaan Kaili perlu diintegrasikan dan dikembangkan dalam materi pembelajaran siswa.
“Penggunaan budaya lokal dalam pembelajaran itu sangat penting. Mengingat pengaruh globalisasi dan perkembangan zaman yang perlahan mulai menggerus budaya daerah, kita sebagai pendidik perlu mengintegrasikan dan mengembangkan kebudayaan Kaili ke dalam materi pembelajaran siswa.” (Q2)
2)Kelebihan Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili Dalam Pembelajaran
Berdasarkan pemaparan guru, salah satu poin plus dari pendekatan ini adalah terciptanya kedekatan emosional bagi siswa yang aktif berbahasa Kaili dalam keluarga. Pemanfaatan bahasa daerah di sekolah membuat siswa merasa bahasa ibu mereka dihargai, sehingga memicu partisipasi yang lebih aktif. Meskipun tidak seluruh siswa mahir berbahasa Kaili, dinamika dan respons siswa di kelas dinilai tetap positif.
“Kelebihannya, siswa yang di rumahnya terbiasa berbahasa Kaili jadi jauh lebih antusias karena merasa bahasanya diakui dan digunakan di sekolah. Walaupun tidak semua anak fasih, respon mereka kemarin cukup bagus.” (Q3)
3)Respon Dan Keaktifan Siswa Selama Pembelajaran
Hasil wawancara mengonfirmasi bahwa siswa memberikan respons positif terhadap pemanfaatan budaya lokal Kaili. Siswa merasa senang saat materi pelajaran bersinggungan dengan budaya yang familiar bagi mereka, terutama dalam penggunaan bahasa Kaili. Antusiasme ini bahkan ditunjukkan melalui permintaan langsung siswa agar guru mengajar menggunakan bahasa Kaili, yang menegaskan tingginya ketertarikan mereka terhadap materi berbasis kearifan lokal.
“Anak-anak justru senang sekali, apalagi menyangkut bahasa mereka sendiri. Bahkan mereka sampai request ke saya, ‘Ibu, pakai bahasa Kaili ini lagi!’. Padahal saya juga masih sama-sama belajar dengan mereka. Jadi kalau untuk dialek lain seperti Kaili Rai karena saya bisanya Ledo saya jujur ke anak-anak kalau pemahaman saya masih terbatas, jadi kita belajar sama-sama.” (Q4)
Tak hanya menunjukkan respons positif, siswa tampak lebih hidup dan aktif sewaktu topik budaya daerah dibahas. Guru menilai bahwa sifat alamiah siswa kelas IV yang gemar bergerak dan mencoba hal baru menjadi motor penggerak utama yang mendorong keterlibatan fisik maupun mental mereka dalam kegiatan belajar.
“Anak-anak pasti aktif semua kalau membahas budaya lokal, apalagi usia anak kelas IV ini kan memang lagi aktif-aktifnya bergerak dan mencoba hal baru.” (Q7)
4)Perubahan Motivasi Belajar Siswa Setelah Pembelajaran
Hasil wawancara mengindikasikan adanya pergeseran motivasi belajar siswa setelah materi diintegrasikan dengan budaya lokal Kaili. Siswa yang semula pasif atau mudah jenuh tampak lebih bersemangat saat mempelajari konteks budaya yang dekat dengan keseharian mereka. Guru mengamati suasana kelas menjadi lebih dinamis berkat meningkatnya antusiasme dan rasa ingin tahu siswa. Meski keterlibatan ini belum terbentuk secara merata pada seluruh siswa, secara umum guru menilai antusiasme belajar siswa jauh lebih tinggi dibandingkan saat pembelajaran hanya berpaku pada buku teks.
“Iya, kelihatan sekali perubahannya. Anak-anak yang biasanya diam atau cepat bosan, langsung jadi lebih semangat pas kita kaitkan materi dengan budaya Kaili. Kelas jadi lebih ramai dan hidup, karena mereka merasa ini hal yang biasa mereka lihat di rumah. Memang belum semua anak konsisten terus-terusan begitu, tapi secara umum antusias dan rasa ingin tahu mereka naik sekali dibanding kalau cuma belajar pakai buku biasa.” (Q5)
5)Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili Dalam Membantu Pemahaman Materi
Berdasarkan penuturan guru, tingkat pemahaman siswa terhadap materi berbasis budaya lokal dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan mereka. Bagi siswa yang telah mengenal tradisi Kaili, skema pengetahuan awal tersebut mempermudah mereka dalam menyerap materi. Namun bagi siswa non-Kaili, keterbatasan pemahaman terhadap budaya lokal tersebut menjadi hambatan tersendiri dalam proses pembelajaran.
“Siswa yang sudah paham budaya Kaili tentu cepat mengerti, tapi untuk siswa yang latar belakangnya berbeda, memang agak kesulitan.” (Q6)
6)Kesesuaian Pembelajaran Berbasis Kebudayaan Lokal Kaili Dengan Karakteristik Siswa
Tingkat pemahaman siswa terhadap materi berbasis budaya lokal sangat dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan mereka. Bagi siswa yang telah mengenal tradisi Kaili, skema pengetahuan awal tersebut mempermudah mereka menyerap pelajaran. Namun bagi siswa non-Kaili, keterbatasan pemahaman terhadap budaya lokal menjadi hambatan tersendiri dalam proses belajar.
“Setiap siswa kan beda-beda karakternya, jadi metode pembelajarannya harus kita sesuaikan dengan kebutuhan mereka. Supaya pemahamannya merata dan tidak cuma sebagian anak yang paham, saya memadukan berbagai metode dengan pendekatan budaya Kaili. Sejauh ini respon mereka sangat antusias, bahkan anak-anak yang bukan dari suku Kaili pun ikut bersemangat.” (Q8)
7)Kendala Dalam Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili Dalam Pembelajaran
Pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran masih menemui sejumlah hambatan di lapangan. Keterbatasan bahan ajar menjadi kendala utama karena buku paket yang tersedia berorientasi nasional, sehingga guru dituntut mencari dan mengemas sendiri materi budaya daerah secara mandiri. Di samping itu, keberagaman latar belakang siswa turut memengaruhi penyerapan materi. Sebagian siswa terutama yang berasal dari luar etnis Kaili atau kurang familiar dengan bahasa daerah membutuhkan pemahaman ekstra dan penjelasan tambahan di awal pembelajaran.
Karakter individu siswa memegang peranan penting dalam menentukan tingkat keaktifan kelas. Siswa yang berkarakter aktif cenderung konsisten berpartisipasi, sementara siswa pasif terutama yang berasal dari luar Kota Palu menunjukkan keterlibatan yang lebih rendah karena menganggap budaya Kaili sebagai hal yang asing. Guru menyampaikan:
“Ini kembali ke karakter anak-anak lagi. Siswa yang memang aktif dari awal pasti akan aktif terus. Cuma untuk anak-anak yang pasif, apalagi yang dari luar Kota Palu, mereka merasa budaya Kaili ini agak asing buat mereka. Jadi itu yang bikin mereka kurang aktif di kelas.” (Q9)
Keterbatasan penguasaan dialek bahasa daerah oleh guru menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran. Meskipun fasih menggunakan dialek Ledo, guru masih memiliki keterbatasan dalam menguasai dialek Rai. Menghadapi situasi tersebut, guru dan siswa saling berkolaborasi untuk membedah dan memahami penggunaan dialek yang belum sepenuhnya dikuasai di kelas
8)Saran Guru Terhadap Perbaikan Pembelajaran
Perbaikan kualitas pembelajaran berbasis budaya lokal berfokus pada diversifikasi materi dan kontekstualisasi contoh di kelas. Guru merekomendasikan agar eksplorasi kearifan lokal Kaili tidak hanya terbatas pada topik tertentu, melainkan diperluas dengan menghadirkan bukti konkret yang memudahkan siswa memahami abstraksi konsep budaya tersebut.
“Perbaikannya ke depan lebih ke bagaimana kita bisa mengekspos materi budaya ini secara lebih luas dan memberikan contoh-contoh yang benar-benar nyata kepada anak-anak.” (Q10)
b.Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran Dengan Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili
Perspektif siswa digali untuk melengkapi pemahaman mengenai dampak pembelajaran berbasis budaya Kaili. Sesi wawancara ini melibatkan 10 siswa kelas IV sebagai sampel mewakili total 20 siswa dengan cakupan pertanyaan meliputi tingkat kenyamanan belajar, pemahaman materi, motivasi, kendala, hingga ketertarikan mereka terhadap kearifan lokal. Gambaran umum mengenai respons siswa tersebut dipaparkan berdasarkan aspek-aspek berikut
1)Kesenangan Dan Hal Yang Disukai Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Kebudayaan Lokal Kaili
Mayoritas dari 10 siswa kelas IV yang diwawancarai menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pembelajaran berbasis budaya Kaili. Keterikatan emosional dan identitas kesukuan menjadi salah satu pemantik utama, di mana siswa merasa bangga dapat mempelajari bahasa, tradisi, serta asal-usul daerah mereka sendiri. Di samping itu, daya tarik pembelajaran diperkuat oleh aktivitas kelompok dan pengenalan materi seni lokal, khususnya Tari Pamonte dan Lagu Posisani. Keterlibatan dalam seni tari serta kesempatan menyanyikan lagu daerah di kelas menjadi elemen yang paling diminati oleh siswa.
Salah satu siswa menyampaikan:
“Tarian Pamonte dan menjawab soal, karna hobiku menari jadi aku menyukainya.” (Z)
Siswa lain menyampaikan:
“Tarian Pamonte, lagu Posisani karna aku suka.” (A)
Di tengah tingginya penerimaan positif mayoritas kelas, terdapat variasi respons dari siswa yang kurang tertarik dengan pembelajaran berbasis budaya Kaili. Salah seorang siswa, A, secara terbuka menyatakan ketidaktertarikannya terhadap materi lokal tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun kecenderungan umum siswa mengarah pada respons positif, dinamika penerimaan di tingkat individu tetap menunjukkan keberagaman.
2)Kemudahan Siswa Dalam Memahami Materi Pembelajaran
Tingkat pemahaman 10 siswa kelas IV terhadap materi berbasis budaya Kaili memperlihatkan pencapaian yang bervariasi. Sebagian siswa mengaku telah menguasai materi secara utuh, sementara sisanya merasa baru memahami sebagian konsep dan masih menemui titik krusial yang sulit. Variasi ini juga terlihat pada aspek keterpahaman materi yang paling mudah, di mana siswa mengunggulkan kegiatan latihan soal, sesi tanya jawab, hingga pembahasan Lagu Posisani. Keberagaman jawaban ini mengindikasikan adanya perbedaan daya serap dan preferensi belajar pada tiap individu.
“Paham.” (R)
Sementara itu, siswa lain menyampaikan:
“Agak paham, tapi agak sulit.” (A)
Adapun mengenai bagian pembelajaran yang paling mudah dipahami, salah satu siswa menyampaikan:
“Menyanyikan lagu Posisani, karena agak sulit tapi tetap mengerjakan.” (A)
Mayoritas siswa pada dasarnya berhasil menguasai materi yang diajarkan, sekalipun tingkat penguasaannya tidak sepenuhnya merata. Ketika sebagian siswa masih membutuhkan pendampingan pada topik yang rumit, aktivitas penugasan mandiri, responsif dalam tanya jawab, dan materi Lagu Posisani justru menjadi poin yang paling cepat dipahami oleh kelas.
3)Semangat Dan Keinginan Siswa Untuk Mengikuti Pembelajaran Serupa
Suasana belajar yang memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili secara nyata mendongkrak semangat siswa di kelas. Peningkatan motivasi ini dirasakan oleh sebagian besar siswa dengan tingkatan yang beragam, mulai dari terdorong hingga sangat antusias. Respons positif tersebut dibuktikan lebih lanjut melalui harapan mayoritas siswa yang menginginkan kegiatan pembelajaran serupa dapat diterapkan kembali pada kesempatan berikutnya.
“Iya, karna aku jadi bahagia dan merasa lebih semangat belajar.” (Z)
“Iya, karena seru.” (A)
Respon positif siswa tercermin dari tingginya antusiasme serta harapan untuk kembali merasakan pembelajaran berbasis kearifan lokal Kaili. Kendati tingkat semangat yang ditunjukkan siswa bervariasi pada tingkat individu, keberlanjutan minat belajar ini menegaskan penerimaan yang baik terhadap pendekatan budaya yang diterapkan
4)Kesulitan Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran
Identifikasi kendala belajar pada 10 siswa kelas IV menunjukkan bahwa kesulitan utama terpusat pada sesi evaluasi. Siswa seperti Z dan A mengakui hambatan dalam menyelesaikan tugas akibat pemahaman konsep yang belum utuh. Bentuk kesulitan ini juga teridentifikasi secara spesifik pada nomor soal tertentu, seperti yang dialami SR dan F pada soal nomor 4 dan 5. Di sisi lain, sebagian siswa menganggap pengerjaan soal sebagai rutinitas kelas tanpa kendala berarti, bahkan beberapa di antaranya mengaku mampu mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran tanpa hambatan.
“Sulit mengerjakan soal karna aku belum terlalu paham.” (Z)
Siswa lainnya menyampaikan:
“Sulit mengerjakan, karena belum paham.” (A)
Hambatan selama proses pembelajaran tidak dirasakan secara seragam oleh setiap siswa. Ketika sebagian siswa masih memerlukan pendampingan akibat belum menguasai materi secara penuh, siswa lainnya justru dapat menyelesaikan rangkaian kegiatan belajar tanpa kendala khusus.
5)Pengetahuan Awal Siswa tentang Kebudayaan Lokal Kaili
Pengetahuan awal mengenai kebudayaan Kaili telah dimiliki oleh mayoritas dari 10 siswa kelas IV sebelum pembelajaran dimulai, meskipun terdapat dua siswa yang mengaku belum pernah mengenalnya. Akses terhadap informasi budaya tersebut diperoleh dari kanal yang bervariasi. Sosialisasi dalam keluarga dan interaksi dengan orang tua menjadi sumber utama, yang kemudian diperkaya melalui literasi media seperti buku, guru, teman sebaya, hingga pemanfaatan gawai (smartphone).
Adapun siswa yang sebelumnya telah mengenal kebudayaan Kaili melalui keluarga menyampaikan:
“Pernah dari keluargaku.” (Z)
Sementara itu, siswa lainnya menyampaikan:
“Pernah dari teman, guru dan orangtua.” (SR)
Ketiadaan pengetahuan awal mengenai kebudayaan Kaili teridentifikasi pada siswa bernama A dan R, yang secara terbuka mengaku belum pernah mengenal tradisi lokal tersebut sebelum pembelajaran dimulai. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan latar belakang pengetahuan di dalam kelas. Sebagian besar siswa telah memiliki bekal pemahaman budaya dari pelbagai kanal informasi, sedangkan sebagian kecil lainnya memulai pembelajaran dari kondisi tanpa paparan budaya lokal sama sekali
6)Keaktifan Siswa selama Mengikuti Pembelajaran
Keterlibatan aktif siswa kelas IV terkonfirmasi secara merata pada seluruh sampel wawancara. Pola keaktifan dominan muncul dalam bentuk respons verbal saat merespons stimulasi pertanyaan dari guru. Lebih lanjut, integrasi elemen seni tradisi berfungsi sebagai katalis partisipasi; kepemilikan ruang ekspresi seperti aktivitas menari mampu membangkitkan keaktifan Z, sebagaimana keterlibatan dalam materi lagu Posisani mengoptimalkan keaktifan A.
“Lebih aktif saat menjawab.” (A)
“Iya, karna pembelajaran tarian menari.” (Z)
Selain itu, Aqila menyampaikan:
“Iya, karena pembelajaran lagu posisani.” (A)
Bentuk keterlibatan aktif siswa di kelas terwujud secara konkrit melalui dua jalur utama, yakni keberanian merespons pertanyaan guru serta partisipasi langsung dalam praktik seni lokal. Kehadiran Tari Pamonte dan Lagu Posisani terbukti efektif melatih keberanian siswa untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun kinestetik.
7)Ketertarikan Siswa Untuk Mengenal Budaya Kaili
Paparan materi berbasis kearifan lokal berhasil memicu kepedulian budaya pada mayoritas dari 10 siswa kelas IV. Setelah mengikuti rangkaian pembelajaran, siswa tidak sekadar menerima informasi di kelas, melainkan menunjukkan dorongan internal yang kuat untuk mendalami identitas dan tradisi Kaili secara mandiri maupun pada sesi pembelajaran selanjutnya.
G dan S menyatakan bahwa mereka menjadi lebih tertarik untuk mengenal kebudayaan lokal Kaili. G menyampaikan:
“Lebih tertarik.” (G)
Sementara itu, S juga menyampaikan:
“Lebih tertarik.” (S)
Selain itu, beberapa siswa lainnya menunjukkan ketertarikan dengan memberikan jawaban “iya” ketika ditanyakan mengenai ketertarikan mereka untuk mengenal kebudayaan lokal Kaili. A menyampaikan:
“Iya, karna belajar.” (A)
Respon siswa terhadap upaya pengenalan tradisi daerah pada akhirnya bermuara pada dua kutub yang berlawanan. Ketika dorongan belajar mayoritas siswa meningkat pesat, siswa seperti A dan R justru belum tergerak untuk mengeksplorasi budaya Kaili lebih jauh. Keberadaan dikotomi respon ini mempertegas bahwa keberhasilan penanaman rasa cinta budaya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan dan persepsi awal masing-masing siswa.
3.Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan Angket
Angket diberikan kepada 20 siswa kelas IV SD Inpres 2 Tondo setelah mengikuti pembelajaran dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku. Angket digunakan sebagai instrumen pendukung untuk memperoleh gambaran mengenai tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, khususnya yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa. Angket terdiri atas 10 pernyataan yang disusun berdasarkan lima indikator, yaitu ketertarikan, semangat, perhatian, ketekunan dan keinginan berhasil, serta rasa ingin tahu. Setiap pernyataan memiliki empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Hasil jawaban angket dari 20 siswa kemudian disajikan secara deskriptif berdasarkan jumlah siswa pada setiap pilihan jawaban. Rekapitulasi hasil angket siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1 Hasil Angket Siswa
Penyajian data angket memperlihatkan bahwa tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili menunjukkan kecenderungan yang positif. Hal tersebut terlihat dari jawaban siswa yang sebagian besar berada pada kategori Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) pada setiap indikator.
Pencapaian pada indikator ketertarikan mencatat sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran yang memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili. Siswa menyatakan merasa senang dan tertarik mengikuti pembelajaran yang menggunakan kebudayaan lokal Kaili. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kebudayaan lokal Kaili dalam pembelajaran dapat menarik perhatian dan minat siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
Penilaian pada indikator semangat juga didominasi oleh jawaban Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S). Siswa menunjukkan bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili membuat mereka lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Meskipun terdapat beberapa siswa yang memberikan jawaban Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS), jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang memberikan tanggapan positif.
Tinjauan pada indikator perhatian mengindikasikan sebagian besar siswa memperhatikan penjelasan guru dan fokus mengikuti kegiatan pembelajaran. Jawaban siswa yang didominasi oleh kategori Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) menunjukkan bahwa siswa memberikan perhatian terhadap pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili.
Gambaran pada indikator ketekunan dan keinginan berhasil merekam sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif. Siswa menunjukkan adanya usaha untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin serta tetap berusaha memahami materi ketika mengalami kesulitan. Hal tersebut terlihat dari dominannya jawaban Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) pada kedua pernyataan dalam indikator ini.
Perolehan pada indikator rasa ingin tahu turut didominasi oleh tanggapan positif dari sebagian besar siswa. Siswa menunjukkan ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak mengenai kebudayaan Kaili serta mencari informasi tambahan mengenai kebudayaan tersebut setelah pembelajaran selesai. Hal ini terlihat dari jumlah jawaban Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) yang lebih banyak dibandingkan dengan jawaban Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Kecenderungan secara keseluruhan dari data angket menegaskan bahwa sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran dengan memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili. Tanggapan tersebut terlihat pada aspek ketertarikan, semangat, perhatian, ketekunan dan keinginan berhasil, serta rasa ingin tahu siswa. Data ini selanjutnya berfungsi sebagai pendukung untuk memperkuat temuan penelitian yang diperoleh melalui observasi dan wawancara.
B.Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku memberikan gambaran mengenai keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Pemanfaatan kebudayaan lokal dalam pembelajaran dilakukan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan kebudayaan yang dekat dengan lingkungan siswa, yaitu Tari Pamonte dan Lagu Posisani. Penggunaan kebudayaan lokal tersebut tidak hanya membantu menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan lingkungan dan budaya yang mereka kenal. Temuan penelitian selanjutnya dibahas berdasarkan pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar serta kaitannya dengan motivasi belajar siswa.
1.Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Sebagai Sumber Belajar Pada Tema Lingkungan Tempat Tinggalku
Pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku dilakukan dengan mengaitkan unsur kebudayaan di sekitar siswa ke dalam proses pembelajaran. Kebudayaan lokal yang dimanfaatkan meliputi Tari Pamonte dan Lagu Posisani, di mana keduanya dihubungkan dengan materi pembelajaran agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang dekat dengan lingkungan serta kehidupan mereka sehari-hari.
Penerapan Tari Pamonte dalam pembelajaran memberi ruang bagi siswa untuk mengenal kebudayaan lokal Kaili secara langsung. Tari Pamonte tidak sekadar diperkenalkan sebagai bentuk kesenian daerah, melainkan difungsikan sebagai sumber belajar yang membantu siswa memahami materi melalui contoh konkret dari lingkungan budaya mereka sendiri.
Penggunaan Lagu Posisani turut melengkapi Tari Pamonte sebagai sumber belajar di kelas. Lagu Posisani menghadirkan pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara aktif, sehingga mereka dapat mengenal unsur kebudayaan Kaili sekaligus menghubungkannya dengan materi yang sedang dipelajari. Hal ini membuktikan bahwa sumber belajar tidak terbatas pada buku teks di sekolah, tetapi juga bersumber dari lingkungan sosial dan budaya siswa. Keterkaitan ini sejalan dengan pandangan Hatibu et al,. (2025) yang mengemukakan bahwa pemanfaatan lingkungan dan warisan budaya lokal secara umum sebagai sumber belajar mampu mendukung terciptanya pembelajaran yang lebih kontekstual bagi siswa sekolah dasar [13].
Temuan tersebut juga diperkuat oleh Khasyia et al,. (2025) yang menegaskan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran sekolah dasar dapat digali dari berbagai sumber yang berasal dari lingkungan budaya siswa [14]. Pemanfaatan kearifan lokal tersebut dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus memberikan ruang bagi penanaman nilai budaya dalam proses pembelajaran. Dalam konteks penelitian ini, Tari Pamonte dan Lagu Posisani tidak hanya digunakan untuk mengenalkan kebudayaan Kaili kepada siswa, tetapi juga menjadi bagian dari sumber belajar yang menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan budaya siswa.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku dilakukan dengan mengintegrasikan Tari Pamonte dan Lagu Posisani ke dalam kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan tersebut menjadikan kebudayaan lokal sebagai sumber belajar yang dekat dengan lingkungan siswa dan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Dengan demikian, kebudayaan lokal Kaili tidak hanya berfungsi sebagai materi pengenalan budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mendukung proses pembelajaran di sekolah.
2.Pemanfaatan Kebudayaan Lokal Kaili Untuk Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Berdasarkan hasil penelitian, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku menunjukkan adanya perubahan positif pada motivasi belajar siswa kelas IV SD Inpres 2 Tondo. Pemanfaatan Tari Pamonte dan Lagu Posisani dalam pembelajaran memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan lingkungan budaya siswa. Kedekatan tersebut terlihat dari meningkatnya ketertarikan, semangat, perhatian, keaktifan, ketekunan, serta rasa ingin tahu siswa selama mengikuti pembelajaran.
Hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan unsur kebudayaan lokal dalam pembelajaran dapat menciptakan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Ketika Tari Pamonte diperkenalkan melalui tayangan video, siswa diarahkan untuk mengamati bentuk dan unsur tarian secara langsung. Sementara itu, pada pengenalan Lagu Posisani, siswa dilibatkan dalam kegiatan menyanyikan lagu secara bersama-sama. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk tidak hanya menerima penjelasan secara lisan, tetapi juga terlibat secara langsung dalam pengalaman belajar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan budaya lokal dapat memberikan variasi kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk lebih aktif mengikuti proses pembelajaran.
Perubahan motivasi belajar juga terlihat dari hasil wawancara dengan guru. Guru menyampaikan bahwa siswa yang sebelumnya cenderung diam atau mudah bosan menjadi lebih bersemangat ketika materi pembelajaran dikaitkan dengan budaya Kaili. Suasana kelas juga dinilai menjadi lebih ramai dan hidup karena siswa merasa bahwa materi yang dipelajari merupakan sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Guru menyatakan bahwa antusiasme dan rasa ingin tahu siswa secara umum meningkat dibandingkan ketika pembelajaran hanya menggunakan buku teks. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kedekatan antara materi pembelajaran dengan lingkungan budaya siswa dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung munculnya motivasi dalam belajar.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Indriyani et al,. (2024) yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat berperan dalam memotivasi minat belajar siswa sekolah dasar [15]. Pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan lingkungan siswa sehingga dapat mendorong ketertarikan mereka terhadap kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini, kedekatan tersebut terlihat melalui penggunaan Tari Pamonte dan Lagu Posisani sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal budaya daerah sekaligus mengikuti kegiatan secara aktif.
Peningkatan motivasi belajar juga terlihat dari respons siswa selama pembelajaran. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa senang mengikuti pembelajaran yang memanfaatkan kebudayaan lokal Kaili. Beberapa siswa secara khusus menyebutkan Tari Pamonte dan Lagu Posisani sebagai bagian yang mereka sukai. Ketertarikan tersebut juga berkaitan dengan kesempatan siswa untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengan minat mereka, seperti menari dan menyanyikan lagu daerah. Dengan demikian, pemanfaatan budaya lokal tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kebudayaan daerah, tetapi juga menghadirkan kegiatan yang dapat membuat siswa merasa lebih senang dan terlibat dalam pembelajaran.
Selain rasa senang, motivasi belajar siswa terlihat melalui semangat dan keinginan mereka untuk mengikuti pembelajaran serupa. Sebagian besar siswa yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka merasa lebih semangat setelah mengikuti pembelajaran berbasis kebudayaan Kaili dan menginginkan kegiatan pembelajaran serupa dilakukan kembali. Salah satu siswa menyampaikan bahwa dirinya menjadi bahagia dan lebih semangat belajar, sedangkan siswa lainnya menyatakan bahwa pembelajaran tersebut terasa seru. Respons tersebut menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang melibatkan unsur budaya lokal dapat memberikan kesan positif bagi siswa dan mendorong keinginan untuk kembali mengikuti kegiatan pembelajaran yang serupa.
Motivasi belajar siswa juga tampak pada aspek keaktifan dan rasa ingin tahu. Berdasarkan hasil wawancara, siswa menunjukkan keaktifan dalam menjawab pertanyaan guru serta mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan Tari Pamonte dan Lagu Posisani. Beberapa siswa menyatakan bahwa mereka menjadi lebih aktif ketika pembelajaran melibatkan kegiatan menari dan menyanyikan lagu Posisani. Selain itu, sebagian besar siswa juga menunjukkan ketertarikan untuk mengenal kebudayaan Kaili lebih jauh setelah mengikuti pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kebudayaan lokal dapat mendorong siswa untuk tidak hanya mengikuti pembelajaran secara pasif, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari.
Temuan tersebut diperkuat oleh hasil angket yang digunakan sebagai instrumen pendukung. Berdasarkan jawaban 20 siswa, sebagian besar siswa memberikan respons positif pada lima indikator motivasi belajar, yaitu ketertarikan, semangat, perhatian, ketekunan dan keinginan berhasil, serta rasa ingin tahu. Pada indikator ketertarikan, sebagian besar siswa menyatakan merasa senang dan tertarik mengikuti pembelajaran dengan menggunakan kebudayaan lokal Kaili. Pada indikator semangat, mayoritas siswa menyatakan lebih bersemangat dan antusias selama mengikuti pembelajaran. Pada indikator perhatian, sebagian besar siswa menyatakan memperhatikan penjelasan guru dan mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir. Sementara itu, pada indikator ketekunan dan keinginan berhasil serta rasa ingin tahu, sebagian besar siswa juga memberikan respons positif terhadap pernyataan yang diberikan.
Hasil angket tersebut memperkuat temuan dari observasi dan wawancara bahwa pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili memberikan respons yang cenderung positif terhadap motivasi belajar siswa. Data angket tidak digunakan sebagai dasar utama untuk menentukan peningkatan motivasi secara kuantitatif, melainkan sebagai data pendukung untuk memperkuat hasil penelitian yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Dengan demikian, kecenderungan positif yang terlihat dari jawaban siswa menjadi lebih kuat karena didukung oleh temuan dari berbagai teknik pengumpulan data.
Pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili juga dapat memberikan manfaat dalam membangun hubungan antara siswa dengan lingkungan budaya di sekitarnya. Siswa yang sebelumnya telah mengenal budaya Kaili melalui keluarga, orang tua, guru, teman, maupun media memiliki pengetahuan awal yang dapat membantu mereka memahami materi. Sebaliknya, beberapa siswa yang belum memiliki pengetahuan awal mengenai kebudayaan Kaili membutuhkan penjelasan lebih lanjut agar dapat memahami materi yang diberikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap siswa karena dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman mereka sebelumnya.
Meskipun menunjukkan kecenderungan positif, peningkatan motivasi belajar melalui pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili belum terjadi secara merata pada seluruh siswa. Hasil observasi menunjukkan masih terdapat siswa yang kurang terlibat, bermain sendiri, dan menunjukkan tanda-tanda bosan selama pembelajaran. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa terdapat siswa yang kurang tertarik terhadap materi kebudayaan Kaili. Selain itu, siswa yang berasal dari luar lingkungan budaya Kaili atau belum memiliki pengetahuan awal mengenai kebudayaan tersebut cenderung membutuhkan penjelasan dan pendampingan lebih. Oleh karena itu, pemanfaatan kebudayaan lokal sebagai sumber belajar perlu disertai dengan pemilihan metode, media, dan contoh yang sesuai dengan karakteristik serta keberagaman latar belakang siswa.
Kondisi tersebut sejalan dengan temuan guru bahwa karakteristik siswa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran berbasis budaya lokal. Guru menyampaikan bahwa siswa memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga metode pembelajaran perlu disesuaikan agar pemahaman dan keterlibatan siswa dapat lebih merata. Keterbatasan bahan ajar mengenai budaya lokal serta keterbatasan penguasaan guru terhadap beberapa dialek bahasa Kaili juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, pemanfaatan kebudayaan lokal sebagai sumber belajar memiliki potensi dalam mendukung motivasi belajar siswa, tetapi penerapannya tetap membutuhkan penyesuaian terhadap kondisi kelas dan karakteristik siswa.
Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Sijabat et al,. (124) yang menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar [16]. Pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal dapat menciptakan kegiatan belajar yang lebih menarik dan mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan temuan dalam penelitian ini, di mana pemanfaatan Tari Pamonte dan Lagu Posisani sebagai sumber belajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung melalui kegiatan mengamati, menari, dan menyanyikan lagu daerah. Kegiatan tersebut menunjukkan adanya respons positif siswa berupa ketertarikan, semangat, dan keaktifan selama mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada tema Lingkungan Tempat Tinggalku menunjukkan kecenderungan dapat mendukung peningkatan motivasi belajar siswa kelas IV SD Inpres 2 Tondo. Hal tersebut terlihat dari perubahan positif pada semangat, ketertarikan, keaktifan, perhatian, ketekunan, dan rasa ingin tahu siswa yang ditemukan melalui observasi, wawancara, serta diperkuat oleh hasil angket. Pemanfaatan Tari Pamonte dan Lagu Posisani memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan melibatkan siswa secara langsung. Meskipun demikian, respons siswa tidak sepenuhnya seragam sehingga peningkatan motivasi belajar tetap dipengaruhi oleh karakteristik, pengalaman, dan latar belakang budaya masing-masing siswa. Dengan demikian, kebudayaan lokal Kaili dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mendukung peningkatan motivasi belajar siswa apabila diintegrasikan melalui kegiatan pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan disesuaikan dengan kondisi siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar pada Tema Lingkungan Tempat Tinggalku untuk peningkatan motivasi belajar siswa kelas IV di SD Inpres 2 Tondo, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili dilakukan dengan mengintegrasikan Tari Pamonte dan Lagu Posisani ke dalam kegiatan pembelajaran. Tari Pamonte diperkenalkan melalui tayangan video untuk diamati oleh siswa, sedangkan Lagu Posisani digunakan melalui kegiatan menyanyikan lagu secara bersama-sama. Pemanfaatan kedua kebudayaan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan lingkungan budaya siswa serta melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.
Pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili menunjukkan kecenderungan positif dalam mendukung motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, siswa menunjukkan ketertarikan, semangat, perhatian, keaktifan, ketekunan dan keinginan berhasil, serta rasa ingin tahu selama mengikuti pembelajaran. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil angket yang diberikan kepada seluruh 20 siswa, yang menunjukkan respons positif pada lima indikator motivasi belajar, yaitu ketertarikan, semangat, perhatian, ketekunan dan keinginan berhasil, serta rasa ingin tahu. Wawancara terhadap 10 siswa yang dipilih secara acak memberikan informasi lebih mendalam mengenai pengalaman dan tanggapan mereka terhadap pembelajaran. Meskipun demikian, respons siswa tidak sepenuhnya seragam. Sebagian siswa masih kurang aktif, mudah bosan, atau kurang tertarik terhadap materi kebudayaan Kaili. Hambatan ini terutama ditemukan pada siswa yang berasal dari luar suku Kaili atau belum memiliki pengetahuan awal mengenai Tari Pamonte dan Lagu Posisani, sehingga mereka membutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk memahami konteks budaya yang dipelajari. Dengan demikian, pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar dapat mendukung motivasi belajar siswa melalui pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan melibatkan siswa secara langsung.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru perlu memberikan pengenalan budaya secara bertahap, menjelaskan makna dan konteks Tari Pamonte serta Lagu Posisani, menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, dan melibatkan siswa melalui kegiatan interaktif serta pendampingan sesuai kebutuhan. Dengan langkah tersebut, pembelajaran berbasis kebudayaan lokal diharapkan dapat menjangkau siswa dengan latar belakang budaya yang beragam dan mendorong keterlibatan mereka secara lebih merata.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak SD Inpres 2 Tondo, guru, siswa kelas IV, dan semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengembangan pembelajaran yang kontekstual melalui pemanfaatan kebudayaan lokal Kaili sebagai sumber belajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
S. Sumartias, A. A. Unde, I. P. Wibisana, and A. R. Nugraha, “The importance of local wisdom in building national character in the industrial age 4.0,” in Proc. 3rd Int. Conf. Learning Innovation and Quality Education (ICLIQE 2019), 2020, doi: 10.2991/assehr.k.200129.159.
S. A. Sakti, S. Endraswara, and A. Rohman, “Integrating local cultural values into early childhood education to promote character building,” International Journal of Learning, Teaching and Educational Research, vol. 23, no. 7, pp. 84–101, 2024, doi: 10.26803/ijlter.23.7.5.
M. Hayudiyani, A. Supriyanto, and A. Timan, “Manajemen peningkatan mutu pendidikan melalui pengembangan budaya lokal,” JAMP: Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 102–109, 2020.
M. Veronika, Firman, and R. Ahmad, “Conceptual analysis of the relationship between culture and education,” Schoulid: Indonesian Journal of School Counseling, vol. 6, no. 1, p. 1, 2021, doi: 10.23916/08740011.
S. Koç, F. Altınay, A. Koç, Z. Altınay, and G. Dagli, “Cooperation of emotional intelligence and social activities in education: Effects on school culture and value acquisition,” Sustainability, vol. 16, no. 14, Art. no. 6022, 2024.
Kasiyarno and S. Apriyanto, “Influence of globalisation on the shift in local language and cultural identity,” Journal Corner of Education, Linguistics, and Literature, vol. 4, no. 3, pp. 372–383, 2025, doi: 10.54012/jcell.v4i3.435.
S. S. Utomo, A. Ande, and A. Saefudin, “Preserving local cultural heritage in the era of globalisation: Reflections of the barkcloth tradition,” International Research Journal of Multidisciplinary Scope, vol. 5, no. 3, pp. 504–513, 2024, doi: 10.47857/irjms.2024.v05i03.0992.
F. M. Jannah, M. Ridwan, N. A. Sari, M. Sholihah, and N. Rohman, “Peran manajemen sekolah dalam mengembangkan pendidikan berbasis budaya lokal: Studi Sekolah Dasar Negeri 01 Karanggondang,” Jurnal Cakrawala Pendidikan Indonesia, vol. 2, no. 3, pp. 112–121, 2025.
A. Syahid, “Nilai-nilai kearifan budaya lokal Kaili dalam pembelajaran multikultural,” in Prosiding Kajian Islam dan Integrasi Ilmu di Era Society (KIIIES) 5.0, vol. 1, no. 1, pp. 386–391, 2022.
Rizal, Herlina, Surahman, S. R. Yunus, and M. F. M. Yaakob, “Integration of Kaili local culture in learning the theme of my living environment in elementary schools,” Tekno-Pedagogi: Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 15, no. 1, pp. 147–159, 2025, doi: 10.22437/teknopedagogi.v15i1.42214.
N. Alaudin and Nurjanah, “Efektivitas model pembelajaran berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan motivasi belajar siswa,” Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan, vol. 1, no. 2, pp. 58–66, 2024, doi: 10.63866/pendiri.v1i2.61.
S. Sugiono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, ed. ke-19. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.
H. Hatibu, A. D. R. Tati, A. Pada, and I. Burhan, “Eksplorasi Taman Arkeologi Leang-Leang sebagai sumber belajar kontekstual dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar,” CJPE: Cokroaminoto Journal of Primary Education, vol. 8, no. 2, pp. 491–500, 2025, doi: 10.30605/cjpe.v8i2.5890.
D. S. Khasyia, N. Azzahra, and Y. Wahyuningsih, “Implementasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berbasis kearifan lokal di sekolah dasar,” Harmony: Jurnal Pembelajaran Kekinian dan Pengabdian Masyarakat, vol. 10, no. 2, pp. 148–154, 2025, doi: 10.15294/harmony.v10i2.
W. E. Indriyani, N. Fajrie, and I. Fathurohman, “Peran pembelajaran IPA berbasis kearifan lokal dalam memotivasi minat belajar di sekolah dasar,” Jurnal Prakarsa Paedagogia, vol. 7, no. 1, pp. 192–203, 2024, doi: 10.24176/jpp.v7i1.12933.
D. Sijabat, E. Thesalonika, and M. O. Sitanggang, “Pengaruh metode diskusi berbasis kearifan lokal terhadap motivasi dan hasil belajar siswa SD,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 4, pp. 4152–4160, 2024, doi: 10.31004/edukatif.v6i4.7454.