Yuli Anggraini (1), Farida Yuliaty (2), Taufan Nugroho (3), Vip Paramarta (4), Kosasih Kosasih (5)
General Background Technological advancements mandate hospitals to integrate reliable administration systems for providing accountable healthcare services. Specific Background Hospital Management Information Systems supply crucial data assisting leaders in operational planning and strategic policy formulation. Knowledge Gap Although previous studies correlate system usage with staff performance, research simultaneously integrating information quality, operational capability, and system suitability toward managerial choices remains limited. Aims This study investigates how information quality, user competence, and implementation suitability determine managerial decision-making at RSUD Karangkembang Lamongan. Results Quantitative analysis of 30 employees using multiple linear regression reveals that information quality and user competence partially demonstrate no significant relationship with decision-making. Conversely, implementation suitability displays a positive and significant relationship. Simultaneously, all three variables determine 78.8% of the decision-making variance, establishing implementation suitability as the most dominant determinant. Novelty This research explicitly shifts the analytical focus from general clinical performance to the integration of systemic, human, and organizational factors driving strategic managerial choices. Implications Hospital administrators must prioritize aligning system features with organizational workflows rather than solely focusing on technical training or data availability to ensure optimal strategic planning.
Highlights
Workflow alignment acts as the dominant determinant for strategic planning operations.
Technical competence alone does not directly guarantee better organizational choices without workflow synchronization.
Systemic and human factors collectively determine a massive proportion of strategic choice variance.
Keywords
Hospital Management Information System; Information Quality; User Competence; Implementation Suitability; Managerial Decisions
Kemajuan teknologi informasi berperan penting dalam menunjang kinerja organisasi, termasuk rumah sakit yang dituntut menyediakan layanan kesehatan berkualitas, cepat, tepat, dan akuntabel. Penerapan SIMRS yang andal dan terintegrasi menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
SIMRS menghubungkan proses medis, keperawatan, penunjang, administrasi, dan manajemen. Informasi yang dihasilkan digunakan pimpinan rumah sakit untuk merencanakan kegiatan, melakukan pengendalian, serta menentukan kebijakan operasional maupun strategis. Karena itu, akurasi, ketepatan waktu, kelengkapan, dan relevansi informasi menjadi aspek penting dalam menunjang efektivitas keputusan manajerial [1].
Optimalisasi SIMRS juga ditentukan oleh kesiapan penggunanya, terutama pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan serta manajerial dalam mengoperasikan sistem. Kompetensi pengguna yang rendah dapat menyebabkan kesalahan input data, keterlambatan informasi, serta ketidakoptimalan pemanfaatan SIMRS, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas keputusan manajerial yang diambil.
Selain kualitas informasi dan kompetensi pengguna, faktor lain yang tidak kalah penting adalah kesesuaian implementasi SIMRS dengan kebutuhan organisasi rumah sakit. Implementasi SIMRS yang tidak selaras dengan alur kerja, struktur organisasi, serta kebutuhan manajerial dapat menimbulkan resistensi pengguna, duplikasi pekerjaan, dan informasi yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, kesesuaian antara desain, penerapan, dan pemanfaatan SIMRS dengan kondisi nyata rumah sakit menjadi syarat utama agar sistem tersebut benar-benar mendukung efektivitas manajemen [2].
RSUD Karangkembang berperan penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan telah menerapkan SIMRS untuk mendukung perbaikan tata kelola rumah sakit. Namun, berdasarkan pengamatan awal, masih dijumpai berbagai tantangan dalam pemanfaatan SIMRS, antara lain perbedaan tingkat pemahaman pengguna, variasi kualitas informasi yang dihasilkan, serta belum optimalnya pemanfaatan informasi SIMRS dalam pengambilan keputusan manajerial. Situasi tersebut dapat berdampak pada ketepatan keputusan manajemen dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi kinerja rumah sakit [3].
Regulasi mewajibkan rumah sakit menerapkan sistem informasi terintegrasi untuk mendukung pelayanan dan manajemen. Oleh sebab itu, SIMRS berperan strategis dalam menunjang kinerja dan pengambilan keputusan manajerial. Paramarta, Pujiawati, dan Wirawan (2025) menemukan bahwa penggunaan SIMRS mendukung peningkatan kinerja perawat dan bidan serta mutu pelayanan rumah sakit [4]. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan pemanfaatan SIMRS dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kinerja organisasi apabila didukung oleh kualitas informasi yang baik serta pemanfaatan sistem yang optimal oleh pengguna.
Efektivitas keputusan manajerial rumah sakit berkaitan dengan kualitas informasi SIMRS, kompetensi pengguna, dan kesesuaian penerapan sistem. Meskipun sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas SIMRS dan kinerja organisasi, masih terdapat keterbatasan penelitian yang secara simultan mengkaji pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial, khususnya pada rumah sakit daerah. Kesenjangan penelitian ini tidak semata-mata terletak pada penggunaan variabel yang berbeda atau penerapan penelitian pada lokasi rumah sakit yang berbeda, tetapi juga pada fokus analisis yang mengintegrasikan kualitas informasi SIMRS, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi sistem dalam menjelaskan efektivitas pengambilan keputusan manajerial. Ketiga aspek tersebut mencakup mutu informasi, kemampuan pengguna, dan kesesuaian sistem dengan kebutuhan organisasi yang perlu dianalisis secara terpadu untuk memahami peran SIMRS dalam pengambilan keputusan manajerial.
Studi ini menganalisis pengaruh kualitas informasi SIMRS, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi terhadap efektivitas keputusan manajerial di RSUD Karangkembang tahun 2026. Kebaruannya terletak pada pengujian ketiga faktor secara simultan dengan fokus pada efektivitas keputusan manajerial, bukan sekadar kinerja tenaga kesehatan atau mutu pelayanan. Penelitian ini juga menggunakan hasil studi pendahuluan terhadap 30 pejabat struktural dan fungsional manajerial sebagai dasar untuk mengidentifikasi permasalahan kontekstual, khususnya terkait ketepatan waktu, kelengkapan, dan relevansi informasi, kemampuan pengguna dalam menyelesaikan kendala, serta kesesuaian fitur sistem dengan kebutuhan manajerial. Kajian ini diharapkan memperjelas faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas keputusan manajerial di RSUD Karangkembang.
Temuan penelitian ini diharapkan memperkaya kajian manajemen rumah sakit sekaligus menjadi masukan bagi RSUD Karangkembang dalam mengoptimalkan SIMRS.
Paramarta, Pujiawati, dan Wirawan (2025) menemukan bahwa penerapan SIMRS mendukung peningkatan kinerja perawat dan bidan melalui mutu pelayanan [4]. Temuan ini menegaskan peran SIMRS dalam menunjang pelayanan kesehatan dan efektivitas operasional rumah sakit. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan pemanfaatan SIMRS dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kinerja organisasi apabila didukung oleh kualitas informasi yang baik serta pemanfaatan sistem yang optimal oleh pengguna.
Studi pendahuluan dilakukan terhadap 30 pejabat struktural dan fungsional manajerial pengguna SIMRS di RSUD Karangkembang, termasuk kepala instalasi, kepala ruangan, dan staf manajemen. Survei ini bertujuan mengidentifikasi kondisi awal kualitas informasi, kompetensi pengguna, kesesuaian implementasi SIMRS, serta efektivitas keputusan manajerial.
Instrumen penelitian memakai skala Likert lima poin, dari singkat tidak setuju (1) hingga sangat setuju (5). Data pra-survei ditampilkan pada tabel berikut.
Tabel 1 Studi Pendahuluan Variabel Kualitas Informasi SIMRS (X1)
Tabel 2 Studi Pendahuluan Variabel Kompetensi Pengguna SIMRS (X2)
Tabel 3 Studi Pendahuluan Variabel Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3)
Tabel 4 Studi Pendahuluan Variabel Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (Y)
Berdasarkan hasil studi pendahuluan (pra-survei) yang dilakukan terhadap 30 pegawai RSUD Karangkembang, diperoleh gambaran awal mengenai kondisi kualitas informasi SIMRS, kompetensi pengguna, kesesuaian implementasi SIMRS, serta efektivitas pengambilan keputusan manajerial. Hasil pra-survei sejalan dengan pandangan bahwa kinerja sistem informasi bergantung pada mutu informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian sistem dengan kebutuhan organisasi [5].
Pada variabel kualitas informasi SIMRS (X1), mayoritas responden menilai informasi cukup akurat dan mudah dipahami. Namun, aspek ketepatan waktu, kelengkapan, dan relevansi masih memperoleh penilaian yang beragam, sehingga kualitas informasi SIMRS belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengguna. Laudon dan Laudon (2020) menjelaskan bahwa kualitas informasi yang mendukung pengambilan keputusan perlu memiliki karakteristik akurat, relevan, lengkap, dan tersedia pada waktu yang tepat [5]. Dalam konteks pelayanan kesehatan, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan dan pengambilan keputusan organisasi [6]. Dengan demikian, masih adanya permasalahan pada ketepatan waktu, kelengkapan, dan relevansi informasi menunjukkan perlunya peningkatan kualitas informasi SIMRS agar dapat lebih optimal dalam mendukung pengambilan keputusan manajerial.
Kondisi kualitas informasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari kompetensi pengguna SIMRS (X2). Hasil pra-survei menunjukkan bahwa mayoritas responden telah memiliki pengetahuan dan keterampilan operasional dasar dalam menggunakan SIMRS serta menunjukkan sikap positif terhadap pemanfaatan teknologi. Pada aspek pemecahan masalah, sebagian responden masih memberikan penilaian cukup setuju hingga tidak setuju, yang mengindikasikan bahwa kemampuan mengatasi kendala teknis perlu ditingkatkan. Menurut Spencer dan Spencer, kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, serta kecakapan individu dalam menangani permasalahan saat menjalankan tugas. Lebih lanjut, Laudon dan Laudon (2020) menegaskan bahwa keterbatasan kompetensi pengguna dapat menghambat pemanfaatan sistem informasi secara optimal, meskipun sistem tersebut telah tersedia dan berfungsi [5].
Selain kompetensi pengguna, hasil pra-survei juga menunjukkan adanya isu pada kesesuaian implementasi SIMRS (X3). Mayoritas responden menilai SIMRS telah mendukung alur kerja, integrasi antarunit, dan tugas manajerial. Namun, kemudahan penggunaan serta kesesuaian fitur masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan SIMRS belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan organisasi. Hal tersebut sejalan dengan Task Technology Fit Theory dari Goodhue dan Thompson, yang menekankan bahwa manfaat teknologi terhadap kinerja bergantung pada kesesuaiannya dengan tugas dan kebutuhan pengguna [7].
Kondisi kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi tersebut tercermin pada efektivitas pengambilan keputusan manajerial (Y). Hasil pra-survei menunjukkan bahwa SIMRS telah membantu meningkatkan ketepatan, kecepatan, dan kualitas keputusan manajerial, namun tingkat efektivitasnya masih didominasi oleh kategori cukup setuju. SIMRS telah dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan, tetapi penerapannya belum maksimal. Keputusan manajerial yang efektif didukung oleh informasi akurat, relevan, dan tepat waktu serta kecakapan pengguna dalam mengolahnya [8].
Pra-survei mengindikasikan bahwa ketiga aspek SIMRS tersebut berkaitan dengan efektivitas pengambilan keputusan manajerial. Temuan empiris ini selaras dengan kajian teori yang menyatakan bahwa kelemahan pada salah satu komponen sistem informasi dapat berdampak pada menurunnya efektivitas keputusan yang dihasilkan. Hasil pra-survei menjadi landasan untuk menguji pengaruh kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi SIMRS terhadap efektivitas keputusan manajerial di RSUD Karangkembang pada 2026 [9].
A. Objek Penelitian
Penelitian ini berfokus pada efektivitas pengambilan keputusan manajerial yang dikaitkan dengan kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi SIMRS berbasis HOT-Fit di RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan.
B. Metode Yang Digunakan
Penelitian menerapkan metode deskriptif-verifikatif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan penilaian responden terhadap setiap variabel penelitian, sedangkan metode verifikatif bertujuan menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen melalui analisis statistik.
C. Jenis dan Sumber Data
1. Data Primer
Data dikumpulkan melalui kuesioner dari pengguna SIMRS yang terlibat dalam pengambilan keputusan manajerial di RSUD Karangkembang.
2. Data Sekunder
Data diperoleh dari profil dan dokumen rumah sakit, regulasi terkait SIMRS, buku, jurnal ilmiah, serta penelitian relevan.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuesioner (Angket)
Kuesioner digunakan untuk memperoleh data dari pegawai pengguna SIMRS yang berperan dalam pengambilan keputusan manajerial.
2. Penyebaran Kuesioner
Instrumen penelitian disampaikan secara langsung kepada pegawai yang telah ditetapkan sebagai responden sampel.
E. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian mencakup seluruh pegawai RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan yang menggunakan SIMRS dan terlibat dalam pengambilan keputusan manajerial. Karena jumlah pegawai yang memenuhi kriteria terbatas, seluruh anggota populasi dijadikan responden penelitian.
F. Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini digunakan untuk menetapkan indikator pengukuran kualitas informasi SIMRS (X1), kompetensi pengguna SIMRS (X2), kesesuaian implementasi SIMRS (X3), dan efektivitas pengambilan keputusan manajerial (Y). Setiap variabel ditentukan berdasarkan dimensi yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan rumah sakit dan penggunaan SIMRS.
G. Pengujian Instrumen Penelitian
1. Uji Validitas
Validitas instrumen diperiksa melalui korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS untuk memastikan setiap pernyataan mampu mengukur variabel yang diteliti.
2. Uji Reliabilitas
Konsistensi instrumen dinilai menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha melalui SPSS.
H. Teknik Analisis Data
1. Pengolahan Data Data kuesioner ditata dan dipersiapkan sebelum memasuki tahap analisis.
2. Analisis Deskriptif Analisis ini digunakan untuk menggambarkan karakteristik data serta tenggapan responden terhadap setiap variabel penelitian.
3. Uji Asumsi Klasik Pengujian mencakup normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas untuk memeriksa kelayakan model regresi linear berganda.
4. Analisis Regresi Linear Berganda Analisis ini digunakan untuk mengukur pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen.
5. Koefisien Determinasi (R2) Nilai R2 menunjukkan proporsi variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen.
6. Pengujian Hipotesis
a. Uji t (Parsial)
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara individual.
b. Uji F (Simultan)
Uji F dilakukan untuk menguji pengaruh seluruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
A. Hasil Penelitian
1. Hasil Uji Kualitas Data
a. Uji Validitas
Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel Kualitas Informasi SIMRS (X1)
Sumber: Data primer diolah menggunakan IBM SPSS Statistics, 2026.
Mengacu pada Tabel 1, seluruh item variabel Kualitas Informasi SIMRS (X1) memenuhi kriteria validitas karena nilai Corrected Item-Total Correlation melebihi 0,30. Nilai terendah sebesar 0,540 pada item X1.8 dan tertinggi 0,788 pada X1.11. Hasil ini menegaskan bahwa semua butir layak digunakan sebagai instrumen penelitian.
Tabel 2 Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Pengguna SIMRS (X2)
Berdasarkan Tabel 2, seluruh 12 item variabel Kompetensi Pengguna SIMRS (X2) dinyatakan valid karena nilai Corrected Item-Total Correlation berada pada rentang 0,440-0,855, melampaui batas minimum 0,30, sehingga layak digunakan dalam penelitian.
Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3)
Tabel 3 memperlihatkan bahwa sembilan item variabel Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3) memiliki nilai Corrected Item-Total Correlation sebesar 0,610-0,803, seluruhnya di atas 0,30. Dengan demikian, semua item valid untuk menilai dimensi Human, Organization, dan Technology dalam model HOT-Fit serta dapat dilanjutkan ke tahap analisis berikutnya.
Tabel 4 Hasil Uji Validitas Variabel Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (Y)
Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh 12 item variabel Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (Y) valid, dengan nilai Corrected Item-Total Correlation sebesar 0,616-0,922, melampaui batas 0,30. Nilai tertinggi terdapat pada Y_42 (0,922) dan terendah pada Y_37 (0,616), sehingga semua item layak digunakan dalam penelitian di RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan.
b. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
Tabel 5 Hasil Uji Reliabilitas
Pengujian pada Tabel 5 menghasilkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,914 (X1), 0,910 (X2), 0,916 (X3), dan 0,965 (Y). Seluruh nilai melebihi 0,70, menunjukkan konsistensi internal yang sangat tinggi. Dengan demikian, semua instrumen memenuhi kriteria reliabilitas dan dapat digunakan dalam penelitian.
2. Analisis Deskriptif
Tabel 6 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
Mengacu pada Tabel 6, variabel Kualitas Informasi SIMRS (X1) memiliki rata-rata 46,133 atau 3,84 per item, dengan skor terendah 35, tertinggi 58, dan standar deviasi 5,84. Hasil ini termasuk kategori baik, yang mencerminkan bahwa informasi SIMRS dinilai cukup memenuhi kebutuhan pekerjaan dan mendukung penyediaan informasi bagi manajemen rumah sakit.
Kompetensi Pengguna SIMRS (X2) mencatat mean 47,833 atau 3,99 per item, dengan nilai minimum 38, maksimum 60, dan standar deviasi 5,45. Kategori tersebut mencerminkan bahwa responden cukup kompeten dalam mengoperasikan SIMRS dan menggunakannya untuk mendukung pekerjaan
Variabel Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3) memiliki mean 34,733 atau 3,86 per item, dengan rentang skor 22-44 dan standar deviasi 5,27. Hasil ini termasuk kategori baik, yang menunjukkan bahwa penerapan SIMRS dinilai selaras dengan kebutuhan pengguna, organisasi, dan teknologi dalam menunjang kegiatan operasional serta manajerial RSUD Karangkembang.
Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (Y) mencatat mean 48,167 atau 4,01 per item, dengan skor 33-60 dan standar deviasi 6,82. Temuan ini menggambarkan bahwa responden menilai pengambilan keputusan manajerial telah berlangsung dengan baik melalui dukungan informasi yang tersedia.
Secara keseluruhan, mean setiap variabel berada pada rentang 3,84-4,01 dalam kategori baik. Persepsi responden cenderung positif, sedangkan standar deviasi yang lebih rendah daripada mean menunjukkan penyebaran jawaban yang relatif terkendali.
3. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Tabel 7 Hasil Uji Normalitas
Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada Tabel 7 menunjukkan nilai Z sebesar 0,118 dan signifikansi 0,200 dari 30 responden. Karena signifikansi melebihi 0,05, residual memenuhi asumsi normalitas sehingga analisis regresi linear berganda dapat dilanjutkan ke pengujian berikutnya.
b. Uji Multikolinearitas
Tabel 8 Hasil Uji Multikolinearitas
Tabel 8 memperlihatkan nilai tolerance X1, X2, dan X3 masing-masing sebesar 0,295; 0,436; dan 0,352, dengan VIF sebesar 3,392; 2,296; dan 2,839. Seluruh nilai memenuhi kriteria tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Artinya, model regresi bebas dari gejala multikolineaaritas sehingga ketiga variabel independen dapat diuji bersama terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial.
c. Uji Heteroskedastisitas
Tabel 9 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Merujuk Tabel 9, nilai signifikansi X1, X2, dan X3 berturut-turut adalah 0,564; 0,401; dan 0,069, seluruhnya di atas 0,05. Hasil tersebut mengindikasikan tidak adanya gejala heteroskedastisitas, sehingga model memenuhi asumsi homoskedastisitas dan layak digunakan untuk regresi linear berganda serta pengujian hipotesis.
4. Analisis Regresi Linear Berganda
Tabel 10 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Persamaan Regresi
Persamaan regresi linear berganda yang diperoleh adalah:
Y= 3,216+ 0,057X_1+ 0,166X_2+0,990X_3
Konstanta sebesar 3,216 menunjukkan nilai prediksi Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial ketika ketiga variabel independen dianggap tetap pada kondisi nol. Koefisien Kualitas Informasi SIMRS sebesar 0,057 dan Kompetensi Pengguna SIMRS sebesar 0,166 menunjukkan hubungan positif dengan efektivitas pengambilan keputusan. Sementara itu, Kesesuaian Implementasi SIMRS memiliki koefisien 0,990, yang merupakan nilai terbesar di antara ketiga variabel independen.
5. Uji Hipotesis
a. Uji Parsial (Uji t)
Tabel 11 Hasil Parsial (Uji t)
Berdasarkan Tabel 11, hasil pengujian parsial menunjukkan bahwa:
1) Kualitas Informasi SIMRS (X1) memperoleh nilai t hitung 0,312 dengan signifikansi 0,758 (> 0,05). H1 ditolak karena variabel ini tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial.
2) Kompetensi Pengguna SIMRS (X2) memiliki nilai t hitung 1,024 dan signifikansi 0,315 (> 0,05). Dengan demikian, H2 ditolak karena pengaruh signifikan variabel ini belum terbukti.
3) Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3) mencatat nilai t hitung 5,313 dengan signifikansi 0,000 (< 0,05). H3 diterima karena variabel ini berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial di RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan.
Secara parsial, hanya Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3) yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap variabel Y, sedangkan Kualitas Informasi SIMRS (X1) dan Kompetensi Pengguna SIMRS (X2) tidak menunjukkan pengaruh signifikan.
b. Uji Simultan (Uji F)
Tabel 12 Hasil Uji Simultan (Uji F)
Hasil uji F pada Tabel 12 menunjukkan nilai F hitung sebesar 37,015 dengan signifikansi 0,000 (< 0,05), sehingga H4 diterima. Artinya, Kualitas Informasi SIMRS (X1), Kompetensi Pengguna SIMRS (X2), dan Kesesuaian Implementasi SIMRS (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (Y). Meskipun secara parsial hanya X3 yang berpengaruh signifikan, pengujian bersama menunjukkan bahwa ketiga variabel secara kolektif berkontribusi terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial.
c. Koefisien Determinasi (R²)
Tabel 13 Hasil Koefisiensi Determinasi (R2)
Tabel 13 menunjukkan nilai R sebesar 0,900 yang menandakan hubungan sangat kuat antara ketiga variabel independen dan efektivitas pengambilan keputusan manajerial. Nilai R Square 0,810 berarti 81% variasi efektivitas keputusan dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut, sedangkan 19% dipengaruhi faktor lain. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,788 menunjukkan kemampuan model menjelaskan variasi variabel dependen setelah penyesuaian sebesar 78,8%.
B. Pembahasan
1. Pengaruh Kualitas Informasi SIMRS terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (H1)
Uji parsial menghasilkan koefisien regresi 0,057, t hitung 0,312, dan signifikansi 0,758 (> 0,05), sehingga H1 tidak didukung. Artinya, kualitas informasi SIMRS yang tergolong baik belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial. Keputusan rumah sakit kemungkinan turut dipengaruhi kebijakan organisasi, koordinasi antarunit, pengalaman pimpinan, serta pertimbangan profesional dalam pelayanan kesehatan. Laudon dan Laudon (2020) menjelaskan bahwa sistem informasi menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas, pengendalian, dan pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam mendukung berbagai aktivitas manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian [5]. Dengan demikian, kualitas informasi yang baik perlu didukung oleh pemanfaatan informasi yang tepat dalam proses manajerial agar dapat memberikan kontribusi terhadap pengambilan keputusan.
Temuan ini berbeda dengan Parker et al. (2024), yang menyatakan bahwa kualitas informasi meningkatkan efektivitas keputusan organisasi melalui kepercayaan pengguna. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh karakteristik organisasi, kematangan SIMRS, dan budaya pengambilan keputusan.
Pada konteks RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan manajerial masih didasarkan pada berbagai sumber informasi, seperti hasil rapat koordinasi, kebijakan manajemen, pengalaman pimpinan, serta kondisi operasional rumah sakit. Dengan demikian, informasi yang dihasilkan oleh SIMRS belum menjadi satu-satunya dasar dalam pengambilan keputusan manajerial [11].Kualitas informasi SIMRS berperan dalam mendukung kebutuhan informasi manajerial, tetapi di RSUD Karangkembang belum terbukti berpengaruh langsung terhadap efektivitas pengambilan keputusan.
2. Pengaruh Kompetensi Pengguna SIMRS terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (H2)
Uji parsial menghasilkan koefisien regresi 0,166, nilai t hitung 1,024, dan signifikansi 0,315 (> 0,05), sehingga H2 ditolak. Artinya, kompetensi pengguna SIMRS belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial [12]. Robbins dan Judge (2022) menjelaskan bahwa kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menjalankan pekerjaan [13]. Sementara itu, Laudon dan Laudon (2020) menegaskan pentingnya kompetensi pengguna dalam pemanfaatan sistem informasi [5]. Namun, penerapannya secara optimal tetap memerlukan dukungan kualitas sistem dan organisasi.
Temuan ini sejalan dengan Model HOT-Fit dari Yusof et al. (2008), yang menekankan keterkaitan aspek manusia, organisasi, dan teknologi dalam keberhasilan sistem informasi [14]. Karena itu, kompetensi pengguna perlu didukung oleh organisasi dan pemanfaatan sistem yang optimal agar menunjang keputusan manajerial. Namun, hasil ini berbeda dari Longhini et al. (2024), yang menemukan pengaruh positif kompetensi digital terhadap keberhasilan sistem informasi kesehatan [15]. Perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan karakteristik responden dan cakupan penelitian. Pada penelitian ini, responden tidak seluruhnya merupakan pengambil keputusan utama di rumah sakit, sehingga kompetensi dalam mengoperasikan SIMRS belum secara langsung memengaruhi efektivitas keputusan manajerial.
Pada RSUD Karangkembang, sebagian besar pengguna SIMRS bertugas melakukan input dan pengelolaan data pelayanan, sedangkan keputusan strategis dan manajerial tetap berada pada pimpinan rumah sakit dan kepala unit. Oleh karena itu, kompetensi pengguna lebih berperan dalam mendukung operasional sistem dibandingkan secara langsung memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan.Kompetensi pengguna mendukung keberhasilan SIMRS, tetapi belum terbukti memengaruhi efektivitas keputusan manajerial secara langsung di RSUD Karangkembang.
3. Pengaruh Kesesuaian Implementasi SIMRS terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (H3)
Nilai koefisien regresi sebesar 0,990, t hitung 5,313, dan signifikansi 0,000 (< 0,05) membuktikan bahwa kesesuaian implementasi SIMRS berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial, sehingga H3 diterima. Semakin selaras SIMRS dengan kebutuhan pengguna, organisasi, dan teknologi, semakin efektif keputusan yang dihasilkan.
Hasil ini didukung Model HOT-Fit Yusof et al. (2008), yang mengaitkan keberhasilan sistem informasi dengan kesesuaian unsur manusia, organisasi, dan teknologi [14]. Wager, Lee, dan Glaser (2021) menegaskan bahwa integrasi informasi kesehatan mendukung keputusan melalui data yang akurat dan lengkap [6]. Laudon dan Laudon (2020) juga menjelaskan bahwa sistem yang sesuai kebutuhan organisasi membantu pelaksanaan fungsi menajemen secara efektif [5].
Temuan ini sejalan dengan Paramarta, Pujiawati, dan Wirawan (2025), yang menyatakan bahwa penerapan SIMRS sesuai kebutuhan organisasi dapat memperbaiki pelayanan dan pengelolaan rumah sakit melalui penyediaan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu [4]. Hasil tersebut juga didukung Longhini et al. (2024), yang menunjukkan bahwa kesesuaian implementasi sistem informasi berperan dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan organisasi kesehatan [15].
Pada RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan, implementasi SIMRS telah mendukung integrasi data antarunit pelayanan sehingga informasi dapat diperoleh dengan lebih cepat dan mudah. Kondisi tersebut mempermudah manajemen dalam melakukan pemantauan kinerja, evaluasi pelayanan, serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan operasional rumah sakit. Kesesuaian penerapan SIMRS menjadi faktor paling berpengaruh terhadap efektivitas keputusan manajerial di RSUD Karangkembang.
4. Pengaruh Kualitas Informasi SIMRS, Kompetensi Pengguna SIMRS, dan Kesesuaian Implementasi SIMRS secara Simultan terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan Manajerial (H4)
Uji F memperoleh nilai 37,015 dengan signifikansi 0,000 (<0,05), sehingga kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi SIMRS secara simultan berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,788 menunjukkan bahwa model menjelaskan 78,8% variasi efektivitas keputusan, sedangkan 21,2% sisanya dipengaruhi faktor di luar penelitian.
Efektivitas SIMRS dalam menunjang keputusan manajerial bergantung pada mutu informasi dan cara penggunaannya. Laudon dan Laudon (2020) menyatakan bahwa sistem informasi membantu pelaksanaan fungsi manajemen serta menyediakan data untuk pengambilan keputusan [5]. Temuan ini mendukung model HOT-Fit Yusof et al. (2008) mengenai pentingnya keselarasan unsur manusia, organisasi, dan teknologi [14]. Meski secara parsial hanya kesesuaian implementasi SIMRS yang signifikan, ketiga variabel secara simultan terbukti memengaruhi efektivitas keputusan manajerial.
Hasil ini sejalan dengan Paramarta, Pujiawati, dan Wirawan (2025), yang menunjukkan bahwa pemanfaatan SIMRS secara optimal dapat mendukung mutu pelayanan dan pengelolaan rumah sakit [4]. Di RSUD Karangkembang, efektivitas keputusan manajerial merupakan hasil keterkaitan antara kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian penerapan SIMRS dengan kebutuhan organisasi. Ketiganya secara simultan mendukung pelaksanaan fungsi manajemen dan pengambilan keputusan. Model penelitian mampu menjelaskan efektivitas tersebut, meskipun faktor lain di luar variabel yang diteliti masih berpotensi memengaruhinya dan dapat dikaji dalam penelitian berikutnya.
Penelitian di RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan menghasilkan kesimpulan mengenai pengaruh kualitas informasi, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi SIMRS terhadap efektivitas keputusan manajerial sebagai berikut.
1. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa keempat variabel penelitian termasuk kategori baik. Temuan ini mencerminkan penilaian positif responden terhadap informasi SIMRS, kemampuan pengguna, kesesuaian penerapan sistem, serta efektivitas keputusan manajerial di RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan.
2. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa kualitas informasi SIMRS (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial (Y), dengan nilai signifikansi 0,758 (> 0,05), sehingga H1 ditolak. Artinya, kualitas informasi belum terbukti memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap efektivitas keputusan. Secara praktis, kondisi ini dapat terjadi karena informasi SIMRS belum sepenuhnya menjadi dasar utama pengambilan keputusan, sehingga manajemen masih mempertimbangkan laporan manual, pengalaman, dan koordinasi langsung antarunit. Dengan demikian, ketersediaan informasi yang berkualitas belum tentu berdampak langsung terhadap keputusan apabila informasi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dalam proses manajerial.
3. Kompetensi pengguna SIMRS (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial (Y), ditunjukkan oleh nilai signifikansi 0,315 (> 0,05), sehingga H2 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengoperasikan sistem belum tentu disertai kecakapan menganalisis informasi untuk pengambilan keputusan. Selain itu, pengambilan keputusan juga dapat dipengaruhi oleh kewenangan jabatan, pengalaman, kebijakan pimpinan, dan koordinasi antarunit, sehingga kompetensi teknis pengguna saja belum cukup untuk meningkatkan efektivitas keputusan. Penjelasan ini merupakan interpretasi yang perlu dikonfirmasi melalui data pendukung penelitian.
4. Kesesuaian implementasi SIMRS (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial (Y), dengan signifikansi 0,000 (< 0,05), sehingga H3 diterima. Artinya, keselarasan sistem dengan kebutuhan organisasi, alur kerja, dan pengguna mendukung keputusan yang lebih efektif.
5. Secara simultan, ketiga variabel SIMRS berpengaruh signifikan terhadap efektivitas keputusan manajerial, ditunjukkan oleh F hitung 37,015 dan signifikansi 0,000. Nilai Adjusted R Square 0,788 menunjukkan bahwa 78,8% variasi efektivitas keputusan dijelaskan oleh model, sedangkan 21,2% sisanya berasal dari faktor lain.
Manajemen RSUD Karangkembang Kabupaten Lamongan disarankan untuk mengevaluasi kesesuaian implementasi SIMRS melalui penyempurnaan fitur, penyederhanaan alur kerja, integrasi data antarunit, serta pelibatan pengguna dalam mengidentifikasi kendala dan memberikan umpan balik. Kualitas informasi dan kompetensi pengguna juga perlu ditingkatkan melalui pemeriksaan data secara berkala, pelatihan, dan pendampingan teknis. Efektivitas perbaikan dapat dipantau melalui ketepatan waktu laporan, kelengkapan data, kesalahan input, penyelesaian kendala, dan pemanfaatan laporan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, manajemen perlu mengevaluasi faktor lain, seperti dukungan pimpinan, budaya organisasi, infrastruktur teknologi, dan koordinasi antarunit, sebagai dasar penyusunan program peningkatan SIMRS secara bertahap dan berkelanjutan.
Secara khusus, karena kesesuaian implementasi SIMRS terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas pengambilan keputusan manajerial, pihak RSUD Karangkembang perlu menjadikan kesesuaian sistem dengan kebutuhan kerja sebagai prioritas perbaikan. Tindak lanjut yang dapat dilakukan meliputi pemetaan kebutuhan setiap unit, evaluasi kesesuaian fitur dengan alur kerja manajerial, penyesuaian sistem berdasarkan masukan pengguna, serta penetapan evaluasi berkala bersama pengelola SIMRS dan pimpinan unit. Hasil evaluasi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui perbaikan fitur dan prosedur kerja, kemudian dipantau berdasarkan peningkatan kemudahan penggunaan sistem, kelancaran koordinasi antarunit, dan pemanfaatan informasi SIMRS dalam pengambilan keputusan.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada RSUD Karangkembang Lamongan serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas informasi SIMRS, kompetensi pengguna, dan kesesuaian implementasi sehingga dapat mendukung efektivitas pengambilan keputusan manajerial serta peningkatan kualitas pengelolaan layanan rumah sakit. Dalam penyusunan artikel ini, teknologi Artificial Intelligence (AI) digunakan secara terbatas sebagai alat bantu penyuntingan bahasa dan tata tulis. Hasil penggunaan AI telah ditinjau dan diverifikasi oleh penulis, yang tetap bertanggung jawab penuh atas keakuratan, orisinalitas, dan integritas isi artikel sesuai dengan kebijakan penggunaan AI yang berlaku.
R. Mahendra and W. W. Widiyanto, “Evaluating the performance of hospital information systems using the HOT-Fit model: A case study of outpatient registration at Nur Hidayah Hospital, Bantul,” International Journal of Health and Medicine, vol. 2, no. 3, 2025, doi: 10.62951/ijhm.v2i3.472.W. Pratiwi, V. Paramarta, Kosasih, and F. Yuliaty, “Dampak penerapan SIMRS terhadap kepuasan pasien menggunakan metode HOT-Fit di Indonesia: Literature review,” Journal of Economics and Management Scienties, vol. 7, no. 3, 2025, doi: 10.37034/jems.v7i3.103.F. Rahman, L. Lazuardi, and A. W. Widayanti, “Tinjauan sistematik terhadap penerapan HOT-Fit sebagai framework evaluasi keberhasilan sistem informasi rumah sakit,” Journal of Pharmascience, vol. 12, no. 2, 2024, doi: 10.20527/jps.v12i2.21542.P. Pujiawati, V. Paramarta, and C. Wirawan, “Analisis sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) terhadap kinerja perawat dan bidan melalui kualitas pelayanan di Rumah Sakit Hamori Subang,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 5, no. 2, pp. 1994–2003, 2025, doi: 10.31004/innovative.v5i2.18571.K. C. Laudon and J. P. Laudon, Management Information Systems: Managing the Digital Firm, 16th ed. Pearson, 2020.K. A. Wager, F. W. Lee, and J. P. Glaser, Health Care Information Systems: A Practical Approach for Health Care Management, 4th ed. Jossey-Bass, 2021.R. W. Griffin, Management, 13th ed. Cengage Learning, 2020.C. Hardiyanti, S. Kusumadewi, and R. Kurniawan, “Evaluation of success and failure factors for maternal and child health in integrated healthcare center information systems (IHCIS) using the HOT-Fit method,” Journal of Information Systems Engineering and Business Intelligence, vol. 10, no. 1, pp. 152–166, 2024, doi: 10.20473/jisebi.10.1.152-166. R. Haryanti, Kosasih, Rulia, V. Paramarta, and F. Yuliaty, “Pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan dan sikap pengguna terhadap penggunaan aktual SIMRS di Rumah Sakit Medika Utama Permata Balikpapan,” Jurnal Ners, vol. 9, no. 4, 2025, doi: 10.31004/jn.v9i4.50054. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, 2022.J. Xu and W. Lu, “Developing a human–organization–technology fit model for information technology adoption in organizations,” Technology in Society, vol. 70, 2022, doi: 10.1016/j.techsoc.2022.102010.S. Wahyuni and E. M. Rosa, “Implementation of electronic medical records: A qualitative study of success factors using the HOT-Fit model,” Ahmar Metastasis Health Journal, vol. 5, no. 4, 2025, doi: 10.53770/amhj.v5i4.828.S. P. Robbins and T. A. Judge, Organizational Behavior, 18th ed. Pearson, 2022.M. M. Yusof, J. Kuljis, A. Papazafeiropoulou, and L. K. Stergioulas, “An evaluation framework for health information systems: Human, organization and technology-fit (HOT-Fit),” International Journal of Medical Informatics, vol. 77, no. 6, pp. 386–398, 2008, doi: 10.1016/j.ijmedinf.2007.08.011.J. Longhini et al., “Digital competencies and health information systems use: Implications for managerial decision-making in hospitals,” Journal of Medical Systems, vol. 48, no. 2, 2024.