Parminah Parminah (1), Rismita Rismita (2)
General Background Environmental degradation necessitates structural educational interventions to cultivate sustainable behaviors among future generations. Specific Background The Adiwiyata Program at UPTD State Elementary School Pondok Cabe Udik 03 attempts to establish comprehensive ecological practices, yet observational data indicates ongoing challenges regarding student compliance and facility maintenance. Knowledge Gap Although numerous institutions achieve Adiwiyata certification, there remains a critical lack of holistic assessments analyzing the internal discrepancies between administrative readiness and practical pedagogical execution within award-winning primary schools. Aims This study examines the Adiwiyata Program implementation using the comprehensive Context, Input, Process, Product (CIPP) model to identify operational constraints and behavioral outcomes. Results Utilizing descriptive qualitative methods involving interviews and observation, the analysis reveals that while foundational resources and institutional goals align with green policies, practical execution remains hindered. Specifically, educators struggle to integrate sustainability concepts into formal teaching modules, and waste management facilities lack consistent maintenance. Novelty This research specifically applies the CIPP framework to diagnose the operational disconnect between structural policies and daily pedagogical integration within a certified Adiwiyata primary institution. Implications Educational institutions must enforce mandatory standardized module integration for educators and establish dedicated facility maintenance protocols to ensure the continuous development of responsible student behavior.
Highlights
The CIPP assessment model successfully identified the operational disconnect between institutional green policies and daily pedagogical execution.
While foundational facilities exist, a lack of consistent maintenance protocols hinders optimal waste and compost management.
Sustainable student behaviors improved primarily through extracurricular participation rather than formal curriculum integration.
Keywords
CIPP Assessment Model; Adiwiyata Policy; Sustainable Student Behavior; Primary Education; Green Infrastructure
Observasi awal pada 7 Januari 2026 menunjukkan bahwa Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 belum optimal. Hal ini terlihat dari pengelolaan kolam ikan, budidaya maggot, dan kompos yang belum maksimal serta masih adanya siswa yang membuang sampah sembarangan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sarana dan pembiasaan perilaku peduli lingkungan.
Selain itu, materi PLH belum terintegrasi optimal dalam modul ajar dan evaluasi program belum dilakukan secara menyeluruh, sehingga ketercapaian Program Adiwiyata belum dapat dinilai secara komprehensif [1].
Lingkungan hidup merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat dan menjadi isu yang terus mendapat perhatian publik. Hal ini disadari sepenuhnya karena lingkungan hidup menjadi problema yang menyangkut kehidupan semua makhluk secara global. Berbagai masalah lingkungan yang terjadi mulai dari pembuangan sampah, kurangnya ruang hijau, polusi udara, hingga perubahan ikhlim secara drastis yang merupakan salah satu krisis lingkungan terbesar dunia, menjadi gambaran nyata dari planet bumi kita yang sedang sakit.
Manusia berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, tetapi pemenuhan kebutuhan yang berlebihan sering mendorong eksploitasi alam secara destruktif sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan [2].
Krisis lingkungan juga berkaitan dengan ketidakseimbangan nilai dan perilaku manusia dalam memperlakukan alam. Oleh karena itu, diperlukan penguatan etika dan moral untuk meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap pelestarian lingkungan [3].
Dalam rangka mengatasi berbagai masalah terkait lingkungan hidup, Pemerintah mengambil kebijakan melalui upaya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 183 Tahun 2024 adalah landasan hukum untuk Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) yang bertugas mengoordinasikan pemerintahan di bidang pengendalian lingkungan hidup. BPLH memiliki tugas dan fungsi yang mencakup perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis, seperti penataan lingkungan hidup, pengendalian pencemaran, pengelolaan sampah, dan penegakan hukum lingkungan. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 Pasal 1 menegaskan bahwa Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) merupakan upaya terpadu untuk menjaga fungsi lingkungan serta mencegah pencemaran dan kerusakan melalui perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum [4]. Pentingnya memelihara lingkungan hidup yang baik telah tercatat dalam Al-Quran surat Ar- Ruum ayat 41-42
Artinya : ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Katakanlah, ”adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.
Kebijakan pendidikan lingkungan hidup diwujudkan melalui Program Adiwiyata yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kementerian Pendidikan sebagai upaya membangun budaya peduli lingkungan di sekolah. Pelaksanaannya mengacu pada Perpres Nomor 183 Tahun 2024 dan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup [5].
Program Adiwiyata bertujuan mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan melalui prinsip partisipatif dan berkelanjutan. Implementasinya mencakup empat komponen utama, yaitu kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana dan prasarana ramah lingkungan. Keempat komponen tersebut menjadi acuan sekolah dalam menjalankan program secara terencana dan berkelanjutan untuk mencapai tujuan Adiwiyata [6].
Penelitian terdahulu umumnya membahas implementasi Adiwiyata, karakter peduli lingkungan, integrasi pendidikan lingkungan, serta faktor pendukung dan penghambat. Namun, evaluasi komprehensif berdasarkan aspek context, input, process, dan product pada sekolah dasar yang telah berpredikat Adiwiyata tetapi masih menghadapi kendala implementasi masih terbatas. Penelitian ini menggunakan model CIPP untuk mengevaluasi kondisi, sumber daya, proses, dan hasil program dalam mendukung perilaku peduli lingkungan peserta didik.
UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan memperoleh penghargaan Adiwiyata tingkat provinsi pada 2020 dan perpanjangan pada 2024 dengan nilai A. Saat ini, sekolah melakukan penyempurnaan program sebagai persiapan menuju Adiwiyata tingkat nasional.
Sehubungan dengan pelaksaan program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan, kepala sekolah mengungkapkan bahwa terdapat banyak masalah yang dihadapi oleh sekolah dalam proses pelaksanaan program ini, beberapa diantaranya adalah : 1) Pemahaman warga sekolah tentang arti penting sekolah Adiwiyata yang masih kurang; 2) Komitmen seluruh warga sekolah untuk terlibat dalam upaya pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan masih kurang; 3) Dana untuk pembiayaan pengelolaan lingkungan sekolah yang seringkali tidak mencukupi, sementara sebagai sekolah Adiwiyata pengelolaan lingkungan termasuk sarana prasarana membutuhkan biaya yang cukup untuk mendukung pelaksanaan program sesuai dengan standar; 4) Kurangnya sumber daya yang memiliki kompetensi dan kemauan untuk menerapkan pengelolaan lingkungan dalam mengelola benda-benda habis pakai di lingkungan untuk dimanfaatkan kembali.
Beberapa masalah yang diungkapkan di atas memberikan gambaran awal tentang implementasi program di sekolah yang pada kenyataannya menghadapi berbagai masalah. Sehingga dibutuhkan upaya lebih lanjut untuk menggali informasi terkait dengan pelaksanaan program secara nyata di sekolah agar dapat diketahui tindak lanjut yang tepat guna keberlajutan program. Pelaksanaan suatu program memerlukan tindak lanjut yang dapat dilakukan melalui proses evaluasi sehingga dapat diketahui keberlangsungan program, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program, dan informasi lainnya yang akurat dan objektif terkait dengan pelaksanaan program yang pada akhirnya dapat memberikan input untuk mengambil keputusan terhadap keberlanjutan dari suatu program. Evaluasi suatu program dilakukan untuk menentukan tingkat ketercapaian program terhadap tujuan yang telah di tetapkan [7].
UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan belum melakukan evaluasi menyeluruh terhadap input, proses, dan output Program Adiwiyata. Karena itu, evaluasi diperlukan untuk mengukur ketercapaian program dan memastikan pelaksanaannya mendukung tujuan serta manajemen sekolah yang efektif.
Dalam pelaksanaan Program adiwiyata di kota Tangerang Selatan ditemukan beberapa permasalahan yang dapat mempengaruhi efektivitas program Adiwiyata. Seperti keterbatasan dalam bidang operasional dan finansial. Adanya keterbatasan anggaran, kesulitan dana untuk perbaikan fasilitas ramah lingkungan atau pembelian peralatan baru, sistem pengelolaan sampah yang buruk, ketersediaan air bersih terbatas, atau kurangnya akses ke sarana ramah lingkungan mejadi hambatan umum, program adiwiyata sulit dilaksanakan secara konsisten oleh siswa dan staf tanpa pengawasan ketat dari sekolah.
Meskipun pada 2025 Program Adiwiyata di Kota Tangerang Selatan diikuti oleh 38 sekolah tingkat kota, 13 sekolah tingkat provinsi, 4 sekolah tingkat nasional, dan 4 sekolah tingkat mandiri, implementasinya masih belum optimal, khususnya dalam membentuk perilaku peduli lingkungan peserta didik. Penelitian ini dibatasi pada evaluasi implementasi Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang menilai program secara menyeluruh sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.
A.Paradigma dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan data berupa hasil wawancara, observasi, dokumentasi, catatan lapangan, dan dokumen pendukung. Desain penelitian bersifat evaluatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji implementasi Program Adiwiyata dan perilaku peduli lingkungan peserta didik.
B.Tempat dan Waktu Evaluasi
Penelitian dilaksanakan di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan selama enam bulan, yaitu Oktober 2025 sampai Maret 2026.
C.Metode dan Model Evaluasi
Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui pengumpulan, pengelompokan, analisis, dan interpretasi data secara naratif. Evaluasi menggunakan model CIPP yang mencakup aspek konteks (context), masukan (input), proses (process), dan hasil (product) Program Adiwiyata.
D.Subjek Evaluasi
Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, komite sekolah, Tim Adiwiyata, guru dan staf, peserta didik, serta warga sekitar sekolah yang terlibat dalam pelaksanaan program.
E.Standar Evaluasi
Standar evaluasi meliputi kegunaan (utility) untuk memastikan hasil evaluasi bermanfaat bagi pemangku kepentingan; kelayakan (feasibility) agar evaluasi realistis dan dapat dilaksanakan; kepantasan (propriety) untuk menjamin aspek legal dan etis; serta akurasi (accuracy) untuk menghasilkan temuan yang valid dan kredibel [8].
F.Kriteria Evaluasi
Evaluasi Program Adiwiyata menggunakan model CIPP untuk menilai kondisi program, kesiapan sumber daya, pelaksanaan kegiatan, dan hasil yang dicapai, khususnya dalam mendukung peningkatan perilaku peduli lingkungan peserta didik.
G.Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi dari pihak yang terlibat dalam program. Dokumentasi dilakukan dengan menelaah dokumen terkait pelaksanaan Adiwiyata, sedangkan observasi digunakan untuk mengamati secara langsung kondisi dan kegiatan lingkungan di sekolah.
H.Pemeriksaan Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, member check, penggunaan bahan referensi, dan analisis kasus negatif.
I.Teknik Analisis Data
Analisis data meliputi reduksi data, yaitu menyeleksi dan memfokuskan data hasil penelitian; penyajian data, yaitu mengorganisasikan data secara sistematis berdasarkan dimensi anteseden, transaksi, dan hasil; serta penarikan dan verifikasi kesimpulan dengan mengacu pada bukti wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Penelitian ini menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) untuk mengevaluasi aspek konteks, masukan, proses, dan hasil Program Adiwiyata berdasarkan data wawancara, observasi, dan dokumentasi.
A.Program Adiwiyata Dilihat dari Konteks Analisis Kebutuhan, Tujuan dan Indikator Pelaksanaan Program di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03
1.Program Adiwiyata Dilihat dari Analisis Kebutuhan Program
UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 meraih predikat Adiwiyata karena konsisten menerapkan kepedulian lingkungan, didukung kondisi sekolah yang bersih dan asri serta pengelolaan sampah yang berjalan baik. Atas kondisi tersebut, DLH Kota Tangerang Selatan menetapkannya sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Kota pada 2017 dan meningkat ke tingkat provinsi pada 2019 (DLH, 2019).
Alasan lain di balik penunjukan tersebut adalah karena UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 telah lama menjadi salah satu titik pantau penilaian Adipura kategori sekolah. Sekolah ini juga berhasil menyabet juara kedua dalam lomba Sekolah Sehat Tingkat Kota selama dua tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2018 dan 2019. Saat ini, pihak sekolah sedang melakukan berbagai persiapan untuk kembali melangkah menuju Adiwiyata Tingkat Nasional, setelah sebelumnya sempat tertunda atau mengalami kegagalan pada tahun 2020.
Pelaksanaan Program Adiwiyata mengacu pada Permen Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2013 dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan hasil penelitian, sekolah menerapkan kegiatan seperti Kamis Bersih, piket kelas, perawatan tanaman, pengelolaan sampah, kerja bakti, dan kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang hijau dan asri, didukung sarana prasarana yang memadai [9].
2.Program Adiwiyata Dilihat dari Tujuan Program Adiwiyata
Hasil wawancara menunjukkan bahwa Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 bertujuan membangun budaya peduli lingkungan, membekali siswa dalam memanfaatkan barang bekas, mengajarkan pengelolaan sampah, serta mewadahi kegiatan pelestarian lingkungan.
Tujuan tersebut sejalan dengan Anggraeni [10] yang menekankan bahwa pendidikan dapat menumbuhkan pemahaman dan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Hal ini juga sesuai dengan Wahyuni (2023) yang menyatakan bahwa kebijakan sekolah, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan fasilitas ramah lingkungan dapat memperkuat kepedulian siswa dan mendukung karakter Profil Pelajar Pancasila, khususnya akhlak terhadap alam.
Temuan Yudianti (2021) menunjukkan bahwa Program Adiwiyata berkontribusi terhadap pembentukan karakter peduli lingkungan peserta didik, dengan 89% siswa berada pada kategori sudah membudaya. Faktor pendukungnya meliputi kebiasaan membawa tempat makan dan tumbler, kegiatan Jumat Bersih, hidroponik, serta penerapan 3R, sedangkan hambatannya berupa kesadaran dan pembiasaan yang belum konsisten di rumah.
Fajar (2021) juga menemukan bahwa peran guru dalam pelaksanaan Program Adiwiyata cukup baik dalam membentuk kepedulian lingkungan siswa, meskipun masih terkendala keterbatasan sarana dan prasarana [11]. Sementara itu, Maulidiawati (2025) menunjukkan bahwa kegiatan PBLHS, seperti pemilahan sampah, kerja bakti, daur ulang, pemanfaatan kebun sekolah, serta pembiasaan hemat energi, mampu memperkuat karakter peduli lingkungan, tanggung jawab, kerja sama, dan disiplin siswa serta mendukung terbentuknya budaya lingkungan yang berkelanjutan.
Diperkuat juga dengan penelitian Noviani sebagai berikut: ”keberhasilan implementasi Program Adiwiyata di kedua sekolah tersebut sangat dipengaruhi oleh tiga faktor kunci: pertama, pemberdayaan guru yang tercermin dari keterlibatan aktif dalam tim lingkungan dan pengintegrasian nilai-nilai peduli lingkungan dalam pembelajaran; kedua, kemitraan yang efektif antara sekolah dengan pemerintah daerah, yayasan, serta masyarakat sekitar; dan ketiga, kepemimpinan kepala sekolah yang bersifat adaptif, kolaboratif, serta mampu membangun budaya sekolah yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Temuan ini memberikan gambaran praktik baik yang dapat dijadikan rujukan oleh sekolah lain dalam mengembangkan program lingkungan yang berkelanjutan dan terintegrasi dalam ekosistem pendidikan” (Noviani, 2025).
Lasno menyatakan bahwa”(1) kepala sekolah berperan dalam perencanaan Program Adiwiyata melalui: (a) pelibatan guru, orang tua, dan komite; (b) perumusan visi, misi, tujuan, sasaran, dan program; serta (c) koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup. (2) Kepala sekolah melaksanakan rencana kerja: (a) mengundang orang tua, komite sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dinas LH dalam pengorganisasian, (b) melakukan pembagian tugas dalam program Adiwiyata, (c) mewujudkan capaian pelaksanaan Adiwiyata sekolah, (d) menyusun APBS untuk penghijauan dan lingkungan, serta melengkapi infrastruktur kebersihan dan keindahan, (e) menerapkan kurikulum berbasis lingkungan dan melaksanakan penghijauan. (3) Kepala sekolah melaksanakan monitoring dan evaluasi Adiwiyata: (a) membagi tugas pengawasan Adiwiyata, (b) wali kelas melakukan pencatatan dalam buku kendali/catatan, (c) koordinator Adiwiyata dan pengawas ruang kelas memantau kegiatan Jumat Bersih, (d) memotivasi orang tua yang peduli, (e) menyediakan instrumen monitoring dan pengawasan, (f) mengganti tanaman yang rusak. (4) Faktor pendukung dan penghambat: (a) guru dan siswa yang aktif, (b) dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan Kabupaten, (c) kebijakan pemerintah, (d) lahan yang mencakup 6000 m², halaman yang luas, (d) siswa saling bekerja sama, (e) pendanaan dari masyarakat, (f) faktor penghambat dari alam, seperti banjir dan suhu udara yang tinggi [12]. Saran: (1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau dan Dinas LH Kabupaten Pulang Pisau disarankan untuk membuat MOU terkait Adiwiyata, serta memberikan bantuan teknis maupun non-teknis. (2) Kepala sekolah disarankan untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar dalam mengembangkan manajemen berbasis partisipatif di sekolah. (3) Guru disarankan untuk mengintegrasikan konsep program Adiwiyata (green school) ke dalam materi pembelajaran dan proses belajar mengajar di kelas, serta berperan aktif sebagai figur teladan pencinta lingkungan bagi siswa di sekolah” (Lasno, 2019).
Dan berkaitan dengan penelitian Maulani menyatakan bahwa ”praktik zero waste (bebas sampah), termasuk penggunaan peralatan makan pribadi, pemilahan sampah harian, dan kegiatan lingkungan, telah diintegrasikan secara efektif ke dalam budaya sekolah melalui pembiasaan yang konsisten, sehingga mendorong internalisasi prinsip-prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Program ini berjalan lebih baik karena ekosistem sekolah, khususnya para siswa, terlibat secara aktif. Selain itu, program ini berhasil mengurangi sampah plastik serta meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan. Komitmen internal terbukti lebih penting daripada pendanaan eksternal. Penelitian ini memberikan kontribusi inovatif dengan menampilkan model terintegrasi antara zero waste, Adiwiyata, dan pendidikan karakter berbasis nilai Islam di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, serta menegaskan potensinya sebagai kerangka kerja yang dapat direplikasi untuk pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan”.
Fazira (2023) menegaskan bahwa Program Adiwiyata tidak hanya membentuk karakter siswa, tetapi juga menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan peduli lingkungan sejak dini hingga menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Sunarto (2023) mengukur literasi lingkungan melalui tiga indikator, yaitu (1) pengetahuan ekologis, (2) afeksi lingkungan, dan (3) perilaku. Hasilnya menunjukkan kategori baik hingga sangat baik, yang dipengaruhi oleh pendidikan lingkungan, partisipasi siswa, dan pengetahuan lingkungan. Kendalanya meliputi minat warga sekolah yang belum merata dan keterbatasan biaya [13].
Suryani (2022) menemukan bahwa implementasi Adiwiyata mencakup kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan fasilitas. Program direncanakan melalui RKAS, dilaksanakan melalui pembiasaan siswa, serta dievaluasi secara berkala oleh guru dan kepala sekolah untuk mendukung pencapaian tujuan program.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 cukup efektif dan sesuai dengan tujuan program, yaitu membentuk warga sekolah yang bertanggung jawab terhadap perlindungan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan siswa, guru, dan staf terlihat dari meningkatnya kepedulian serta terjaganya lingkungan sekolah yang hijau dan kegiatan lingkungan yang rutin. Namun, sebagian siswa masih membuang sampah sembarangan, sementara keterampilan pengolahan sampah belum optimal [14].
3.Program Adiwiyata Dilihat dari Indikator Pelaksanaan Program Adiwiyata
Penilaian keberhasilan Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 dilakukan dengan mengacu pada ketercapaian indikator sesuai komponen dan standar Adiwiyata. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2025 tentang Pedoman Adiwiyata, program ini mencakup empat standar, salah satunya kebijakan berwawasan lingkungan.
a.Kebijakan Berwawasan Lingkungan
Kebijakan berwawasan lingkungan merupakan pedoman sekolah yang mengintegrasikan nilai kepedulian dan pengelolaan lingkungan serta mendorong keterlibatan warga sekolah, orang tua, dan masyarakat [Fridantara, 2015: 80]. Standar ini mencakup dua aspek, yaitu kurikulum dan RKAS. Kurikulum sekolah telah memuat upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan, yang tercermin dalam keselarasan visi dan misi dengan nilai kelestarian lingkungan serta kompetensi lulusan yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan [15]. Selain itu, RKAS telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung program lingkungan, meliputi kegiatan kesiswaan, pembelajaran, peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, serta penyediaan sarana dan prasarana ramah lingkungan.
b.Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan
Indikator kedua Program Adiwiyata adalah penerapan kurikulum berbasis lingkungan. Adam (2014: 167) menjelaskan bahwa materi lingkungan dapat disampaikan melalui berbagai metode dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan pemahaman serta kepedulian warga sekolah terhadap kelestarian lingkungan. Di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03, materi lingkungan telah diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran, seperti Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan IPAS. Namun, penerapannya belum optimal karena belum seluruh modul ajar memuat materi lingkungan. Hal ini sejalan dengan Hamzah (2013: 50) yang menekankan bahwa kemampuan guru berperan penting dalam mengembangkan materi lingkungan dalam pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dilakukan melalui silabus dan modul ajar terintegrasi, dengan metode seperti diskusi, praktik, dan bermain peran. Namun, belum semua guru menerapkannya; hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kurang dari 70% guru menyusun silabus dan modul ajar berbasis lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan belum efektif sehingga peningkatan kapasitas guru diperlukan untuk mendukung pencapaian tujuan Program Adiwiyata [16].
c.Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipasif
Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif merupakan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam upaya perlindungan serta pengelolaan lingkungan [Fridantara, 2015: 90]. Di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03, kegiatan ini mencakup dua standar, yaitu pelaksanaan PPLH yang terencana dan kemitraan dengan pihak eksternal [Kementerian Lingkungan Hidup, 2012: 15]. Program yang dilaksanakan meliputi Jumat Bersih, piket kelas, perawatan tanaman, pengolahan sampah, kebersihan lingkungan, dan kerja bakti. Kegiatan rutin seperti Jumat Bersih, piket, pengolahan sampah, dan perawatan tanaman telah berjalan cukup efektif, sedangkan kerja bakti massal dan aksi kebersihan masih bersifat insidental [17].
Sekolah juga telah menjalin kemitraan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam mendukung kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan.Bentuk kerja sama jangka menengah yang telah direncanakan bersama PT. Sinar Mas Land meliputi pengembangan rumah manggot guna menampung sekaligus mengelola limbah yang ada di sekolah.
Selain dengan PT. Sinar Mas Land, sekolah juga bermitra dengan puskesmas setempat untuk memantau dan memeriksa kesehatan jajanan di kantin sekolah secara rutin, serta menjalin hubungan baik dengan pihak kelurahan. Seharusnya, kemitraan ini terus diperluas dengan merangkul lebih banyak pihak agar pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah dapat berjalan lebih efektif dan optimal. meskipun demikian, pihak sekolah saat ini masih melakukan berbagai pertimbangan sebelum menjalin kerja sama dengan instansi atau pihak luar lainnya.
d.Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan
Pengelolaan sarana prasarana bertujuan menyediakan fasilitas yang memadai agar kegiatan belajar dan program Adiwiyata dapat berjalan efektif. Standar ini mencakup ketersediaan serta pengelolaan sarana ramah lingkungan [Kementerian Lingkungan Hidup, 2012: 11]. UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 telah memiliki berbagai fasilitas pendukung, seperti air bersih, TOGA, rumah kompos, biopori, dan tempat sampah terpilah. Namun, meskipun sarana yang tersedia cukup lengkap dan memenuhi komponen Adiwiyata, pemeliharaannya belum optimal sehingga pemanfaatannya belum sepenuhnya sesuai fungsi. Kondisi tersebut dipengaruhi belum adanya petugas khusus yang bertanggung jawab atas perawatan sarana dan prasarana, sehingga pengelolaannya perlu ditingkatkan.
Selama ini, tanggung jawab perawatan dibebankan kepada seluruh warga sekolah. Akibatnya, jika tingkat kesadaran warga sekolah masih rendah, fasilitas yang ada tidak akan terawat dengan baik. Contoh nyatanya terlihat pada kondisi kolam sekolah yang cukup kotor, dengan kondisi air yang tampak keruh dan menghitam akibat pertumbuhan lumut yang tidak terkendali. Sekolah perlu menetapkan petugas khusus untuk melakukan perawatan sarana secara berkala agar seluruh fasilitas tetap terjaga dan dapat berfungsi optimal dalam mendukung Program Adiwiyata.
B.Program Adiwiyata Dilihat dari Input, Kompetensi Guru dan Siswa, Ketersediaan Sarana Prasarana Serta Pelaksanaan Kurikulum di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03
1.Program Adiwiyata Dilihat dari Kompetensi Guru
Pada awal Program Adiwiyata, guru dan tenaga kependidikan mendapat pembinaan serta pelatihan pendidikan lingkungan dari DLH Kota Tangerang. Hamzah menegaskan bahwa guru sebagai pendidik lingkungan perlu memiliki kesiapan dan kompetensi yang memadai. Namun, tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama, terutama guru baru yang belum mendapat sosialisasi atau pelatihan terkait Adiwiyata. Kondisi ini menyebabkan penerapan program dalam pembelajaran belum berjalan efektif.
Kementerian Lingkungan Hidup mensyaratkan sebagian guru menyusun rancangan pembelajaran yang memuat pendidikan lingkungan. Namun, di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03, kurang dari sebagian guru mengintegrasikan materi lingkungan dalam silabus dan modul ajar, yang umumnya hanya diterapkan pada Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan IPAS. Hal tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemahaman dan kapasitas guru agar implementasi Adiwiyata dalam pembelajaran lebih efektif [18].
2.Program Adiwiyata Dilihat dari Kompetensi Peserta Didik
Peserta didik merupakan anggota masyarakat yang mengembangkan potensi melalui proses pendidikan [UU No. 20 Tahun 2003]. Menurut Fridantara, partisipasi siswa menjadi kunci Program Adiwiyata karena mereka terlibat langsung dalam menjalankan kebijakan dan kegiatan lingkungan. Keaktifan siswa turut menentukan keberhasilan program. Menurut Hamzah, siswa bisa dikatakan aktif jika mereka menunjukkan beberapa ciri berikut:
1)Mampu berpikir kritis.
2)Bisa membangun kerja sama kelompok saat belajar.
3)Tahu cara belajar yang paling efektif untuk diri mereka sendiri.
4)Punya semangat untuk terus belajar seumur hidup.
Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kegiatan Adiwiyata berjalan cukup efektif, ditandai antusiasme sebagian besar siswa dalam Jumat Bersih, perawatan tanaman, dan piket kelas. Namun, beberapa siswa masih kurang konsisten mengikuti kegiatan seperti Jumat Bersih dan kerja bakti. Siswa juga belum memperoleh pelatihan khusus tentang lingkungan sehingga pemahamannya masih bergantung pada arahan dan keteladanan guru. Karena itu, konsistensi guru dalam memberikan contoh, bimbingan, dan praktik lingkungan menjadi penting dalam membentuk pengetahuan serta keterampilan siswa.
3.Program Adiwiyata Dilihat dari Sarana Prasarana
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 memiliki berbagai sarana pendukung Program Adiwiyata, meliputi ruang kelas, TOGA, taman sekolah, tempat sampah, komposter, biopori, dan rumah maggot. Secara umum, sarana yang tersedia cukup lengkap, tetapi sekolah belum memiliki fasilitas untuk meredam kebisingan, getaran, atau radiasi sesuai standar Kementerian Lingkungan Hidup. Untuk pengembangan sarana, sekolah bekerja sama dengan PT Sinar Mas Land merencanakan optimalisasi rumah maggot agar mampu menampung dan mengolah sampah sekolah secara lebih efektif.
4.Program Adiwiyata Dilihat dari Pelaksanaan Kurikulum
Hamzah menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan lingkungan mencakup unsur empirik, kepedulian, estetik, dan sosial. Unsur empirik diwujudkan melalui kesempatan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan, sedangkan unsur kepedulian diterapkan melalui Jumat Bersih, piket kelas, dan perawatan tanaman. Unsur estetik menekankan pentingnya lingkungan yang asri, nyaman, dan menumbuhkan tanggung jawab, sementara unsur sosial diterapkan melalui kegiatan Pramuka, seperti pertolongan pertama dan pemanfaatan tanaman TOGA sebagai obat.
UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 juga memiliki muatan lokal Pengembangan Diri dan Lingkungan yang mengajarkan kepedulian terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan. Program ini cukup efektif, terlihat dari meningkatnya perhatian siswa terhadap lingkungan. Namun, integrasi Adiwiyata dalam kegiatan ekstrakurikuler belum optimal karena materi lingkungan baru diterapkan pada kegiatan tertentu, terutama Pramuka.
C.Pelaksanaan Kegiatan Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03
a.Proses Belajar Mengajar
Menurut PP No. 32 Tahun 2013 Pasal 19 ayat (1), pembelajaran perlu berlangsung interaktif, menyenangkan, dan mendorong kreativitas serta keaktifan siswa. Di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03, prinsip tersebut diterapkan melalui kegiatan praktik, seperti perawatan tanaman dan pemanfaatan barang bekas. Hamzah dan Rusilowati menekankan bahwa materi lingkungan dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran melalui pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Namun, implementasi Adiwiyata di sekolah masih terbatas pada beberapa materi dalam Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan IPAS. Mata pelajaran lainnya belum memiliki modul ajar yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, sehingga penerapan Adiwiyata dalam proses pembelajaran belum berjalan efektif.
Penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan materi, seperti proyektor untuk membahas bencana akibat kerusakan lingkungan dan praktik pemanfaatan barang bekas menjadi berbagai produk. Yusuf dalam Hamzah menganjurkan pendekatan integratif dengan mengaitkan pendidikan lingkungan pada berbagai mata pelajaran melalui pembelajaran kontekstual. Hasil observasi menunjukkan bahwa beberapa guru telah menerapkan metode kontekstual yang membantu siswa memahami materi lingkungan, meskipun sebagian masih menggunakan metode ceramah pada pembelajaran tertentu, seperti Pendidikan Pancasila [19].
b.Kegiatan Terkait Program Adiwiyata
UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 melaksanakan berbagai kegiatan lingkungan untuk mendukung Program Adiwiyata, baik rutin maupun insidental, seperti Jumat Bersih, piket kelas, perawatan tanaman, dan lomba kebersihan. Namun, pengolahan sampah dan penggunaan komposter belum berjalan efektif. Sesuai standar kegiatan partisipatif, sekolah perlu membangun kemitraan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Saat ini, kerja sama baru dilakukan dengan BLH, sedangkan kemitraan dengan pihak lain belum direncanakan dalam waktu dekat.
Berdasarkan pelaksanaannya, kegiatan Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 sudah berjalan cukup efektif. Meski demikian, sekolah masih menghadapi kendala, seperti adanya sebagian siswa yang belum berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Selain itu, belum ada seminar khusus atau pelatihan lingkungan di luar jam pelajaran resmi. Hal ini dirasa kurang optimal karena penyampaian materi lingkungan saat proses pembelajaran di kelas cenderung terbatas oleh tuntutan kurikulum mata pelajaran lainnya.
D.Hasil Pelaksanaan Program Adiwiyata Terkait Sikap dan Perilaku Warga Sekolah Terhadap Kepedulian Lingkungan di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03
Evaluasi komponen hasil bertujuan menilai ketercapaian tujuan Program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03, yaitu membentuk warga sekolah yang bertanggung jawab dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Hamzah menekankan bahwa pendidikan lingkungan tidak hanya membentuk pengetahuan dan kepedulian, tetapi juga sikap bertanggung jawab serta keterampilan dalam menjaga lingkungan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan Adiwiyata selama sekitar lima tahun meningkatkan pemahaman serta perilaku peduli lingkungan guru dan siswa. Meskipun integrasi materi lingkungan dalam pembelajaran masih kurang optimal, kegiatan lingkungan di luar kelas berjalan lebih efektif sehingga tetap memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter peduli lingkungan warga sekolah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku peduli lingkungan tidak hanya dibentuk melalui materi Adiwiyata dalam pembelajaran, tetapi juga melalui pembiasaan, keteladanan guru, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan rutin. Jumat Bersih, piket kelas, perawatan tanaman, pengelolaan sampah, serta arahan langsung guru memberi pengalaman nyata bagi siswa untuk menerapkan kepedulian lingkungan. Dengan demikian, meskipun integrasi dalam kurikulum belum optimal, konsistensi pembiasaan di sekolah tetap berkontribusi terhadap perubahan perilaku siswa.
Sayangnya, perubahan positif ini belum merata ke seluruh warga sekolah. Di lapangan, masih ditemukan dua sampai tiga siswa yang tampak acuh terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Jika ditinjau dari keseharian, guru dan karyawan sudah konsisten memberikan keteladanan yang baik dalam menjaga serta melestarikan lingkungan sekolah. Sebagian besar siswa telah terbiasa membuang sampah sesuai jenis, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan sekolah. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang membuang sampah sembarangan atau menyelipkannya di tanaman. Kesadaran dalam menghemat air dan energi juga telah terbentuk dengan baik [20]. Hal ini terlihat dari kebiasaan mereka yang selalu memastikan keran air tertutup rapat setelah mencuci tangan. Selain itu, air bekas tampungan wudu dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman, dan tidak ada lagi keran di kamar mandi yang dibiarkan terbuka hingga air di dalam ember meluap. Dalam hal efisiensi energi, siswa juga sudah disiplin mematikan kipas angin serta lampu kelas jika sudah tidak digunakan. Dari hasil observasi tersebut bisa dikatakan bahwa tujuan dari program Adiwiyata di UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 telah tercapai secara efektif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan mengenai evaluasi implementasi Program Adiwiyata di UPTD Sekolah Dasar Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan sebagai berikut:
1.Program Adiwiyata Dilihat dari Konteks (Analisis Kebutuhan, Tujuan, dan Indikator Pelaksanaan Program)
a.Secara kontekstual, pelaksanaan Program Adiwiyata di UPTD SDN Pondok Cabe Udik 03 memiliki landasan hukum yang kuat dan relevan, baik di tingkat nasional maupun daerah, seperti Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 183 Tahun 2024 serta Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023.
b.Visi, misi, dan tujuan sekolah telah selaras dengan prinsip Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) serta mendukung pelaksanaan Program Adiwiyata. Keselarasan tersebut menunjukkan bahwa sekolah telah memiliki arah kebijakan yang mendukung kepedulian lingkungan, meskipun penerapannya dalam menjawab kebutuhan riil warga sekolah, khususnya terkait kebersihan dan pengelolaan sampah di wilayah urban, masih perlu diperkuat.
c.Pada analisis kondisi awal, program ini dinilai belum sepenuhnya optimal karena masih adanya keterbatasan pemahaman dan komitmen sebagian warga sekolah dalam memahami dan menjalankan prinsip Adiwiyata secara konsisten.
2.Program Adiwiyata Dilihat dari Input (Kompetensi Guru dan Siswa, Ketersediaan Sarana Prasarana, serta Pelaksanaan Kurikulum)
a.Aspek masukan (input) menunjukkan bahwa sekolah memiliki kesiapan dasar yang memadai, didukung oleh pembentukan Tim Adiwiyata serta kompetensi guru dan peran aktif siswa dalam kegiatan lingkungan.
b.Dari segi kurikulum, sekolah telah berupaya merancang integrasi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) ke dalam Kurikulum Merdeka meskipun penerapannya dalam modul ajar belum merata pada seluruh guru dan mata pelajaran.
c.Dengan demikian, aspek input menghadapi hambatan signifikan pada awal pengamatan, di mana persentase guru yang mengintegrasikan PLH ke dalam modul ajar belum sepenuhnya direalisasikan. Kondisi ini perlu ditindaklanjuti melalui sosialisasi dan pendampingan bagi guru, penyusunan contoh modul ajar yang mengintegrasikan materi lingkungan pada berbagai mata pelajaran, serta monitoring secara berkala agar penerapannya lebih merata dan konsisten.
3.Proses Pelaksanaan Kegiatan Program Adiwiyata
a.Evaluasi proses (process) menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan Program Adiwiyata secara umum belum berjalan dengan baik, terstruktur, dan berkesinambungan melalui berbagai pembiasaan harian. Namun, beberapa kegiatan rutin telah berjalan cukup efektif dan memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menerapkan perilaku peduli lingkungan.
b.Aktivitas partisipatif seperti piket kebersihan, program "Jumat Bersih", pembuatan lubang biopori, pemisahan jenis sampah organik dan anorganik, hingga mekanisme kampanye peduli lingkungan telah diimplementasikan oleh warga sekolah.
c.Faktor penghambat utama yang dideteksi selama proses pelaksanaan adalah masalah konsistensi, keterbatasan waktu operasional, serta belum meratanya partisipasi aktif dan pengawasan ketat terhadap seluruh siswa di beberapa jenis aktivitas luar kelas.
4.Hasil Pelaksanaan Program Adiwiyata Terkait Sikap dan Perilaku Warga Sekolah Terhadap Kepedulian Lingkungan
a.Evaluasi produk (product) membuktikan adanya dampak positif berupa transformasi sikap dan peningkatan perilaku peduli lingkungan di kalangan peserta didik, seperti meningkatnya karakter disiplin, tanggung jawab, pengurangan penggunaan sampah plastik, dan inovasi daur ulang.
b.Keberhasilan ini juga terbukti secara dokumenter melalui pencapaian prestasi UPTD SDN Pondok Cabe Udik 03 yang berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Provinsi Banten sejak tahun 2020 serta perpanjangan pada tahun 2024 dengan perolehan Nilai "A". Dampak produk ini berhasil memperkuat nilai positif sekolah dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup secara berkelanjutan. Dengan demikian, meskipun integrasi Program Adiwiyata dalam pembelajaran belum sepenuhnya optimal, pembiasaan kegiatan lingkungan, keteladanan guru, serta keterlibatan siswa dalam aktivitas nyata di sekolah tetap memberikan kontribusi terhadap terbentuknya perilaku peduli lingkungan.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada UPTD SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Kota Tangerang Selatan, kepala sekolah, guru, peserta didik, serta seluruh pihak yang telah mendukung penelitian ini. Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan evaluasi dan masukan untuk meningkatkan pelaksanaan Program Adiwiyata serta memperkuat perilaku peduli lingkungan peserta didik. Dalam penyusunan artikel ini, penulis memanfaatkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) secara terbatas untuk membantu penyuntingan bahasa dan meningkatkan keterbacaan naskah. Seluruh hasil yang diberikan telah ditinjau, diverifikasi, dan disesuaikan oleh penulis. Penulis bertanggung jawab penuh atas keakuratan, integritas, orisinalitas, dan isi ilmiah artikel ini.
D. Y. Aditya and G. Kencanawaty, “Analisis kebijakan program Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK PK) di Indonesia dengan CIPP,” Jurnal Bintang Manajemen, vol. 2, no. 1, pp. 85–100, 2024, doi: 10.55606/jubima.v2i1.2618.
S. Arikunto and C. S. A. Jabar, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoretis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2018.
N. P. N. Azizah and N. Amalia, “Kegiatan adiwiyata sebagai sarana penanaman profil pelajar Pancasila di Sekolah Dasar,” Jurnal Moral Kemasyarakatan, vol. 8, no. 1, pp. 46–63, 2023, doi: 10.21067/jmk.v8i1.8422.
D. Fortuna, M. F. Muttaqin, and P. Amrina, “Integrasi karakter peduli lingkungan dalam program sekolah Adiwiyata di SDN Cipondoh 5,” Jurnal Elementaria Edukasia, vol. 6, no. 4, pp. 2088–2100, 2023, doi: 10.31949/jee.v6i4.7557.
K. C. Guzman and N. Oktarina, “Strategi komunikasi eksternal untuk menunjang citra lembaga,” Economic Education Analysis Journal, vol. 7, no. 1, 2018.
A. Husin, Pendidikan Lingkungan Hidup di Masyarakat. Bening Media Publishing, 2025.
I. Nasution, F. N. Monalisa, S. L. Fadla, E. P. Wildyani, P. F. Aulia, and A. R. H. Wijaya, “Kompetensi evaluator dalam pelaksanaan evaluasi program pendidikan,” Jurnal Jendela Pendidikan, vol. 3, no. 2, 2023.
A. Novianti and Q. Mushafanah, “Analisis nilai karakter pada siswa sekolah adiwiyata SD Negeri Pleburan 04 Semarang,” Elementary School: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Ke-SD-an, vol. 6, no. 2, 2019.
M. A. F. Rabani, I. Magdalena, and D. R. Puspita, “Evaluasi implementasi program adiwiyata di Sekolah Dasar Mulya Asri Cikupa Kabupaten Tangerang melalui model CIPP,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 10, no. 3, 2025.
F. S. Rangkuti, Badaruddin, and R. T. Siregar, “Evaluasi implementasi program sekolah Adiwiyata di Sekolah Swasta Nur Cahaya Kota Medan,” Jurnal Perspektif, vol. 11, no. 4, pp. 1529–1538, 2022, doi: 10.31289/perspektif.v11i4.7426.
A. Suryadin, W. P. Sari, and Nurfitriani, Evaluasi Program Model CIPP (Context, Input, Process, and Product): Antara Teori dan Praktiknya. Yogyakarta, Indonesia: Samudra Biru, 2022.
A. E. Tikho and G. Gunansyah, “Studi analisis: Implementasi program adiwiyata di Sekolah Dasar,” Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 9, no. 9, 2021.
H. Widodo, “Budaya sekolah adiwiyata (Studi kasus di SD Muhammadiyah Bodon Bantul Yogyakarta),” Tajdidukasi: Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 1–18, 2018.
Y. Fitri and W. Indra, Pengembangan Model Pembelajaran PBL Berbasis Digital untuk Meningkatkan Karakter Peduli Lingkungan dan Literasi Sains. Yogyakarta, Indonesia: Deepublish, 2020.
D. Ilmasari, Suyitno, and E. E. Subekti, “Implementasi program sekolah adiwiyata dalam pembentukan karakter peduli lingkungan Sekolah Dasar,” Prosiding Sendika, vol. 3, no. 1, 2023.
A. Kartiansyah, I. El Khuluqo, S. Astuti, M. H. I. Wibowo, M. D. Pratiwi, and A. N. Khoirunnisa, “Evaluation of the implementation of the Adiwiyata program at State Senior High School 4 Bogor,” Inovasi Kurikulum, vol. 22, no. 4, 2025.
L. O. Angga, N. Siahaya, I. Martiansyah, H. Fitrinawati, M. Pattiwael, Nurmaladewi, Halid, I. Hidana, W. S. Ratri, M. Sandalayuk, A. Masyruroh, H. G. Yudawisastra, and D. Wakano, Pendidikan Lingkungan Hidup. Bandung, Indonesia: Widina Bhakti Persada, 2023.
A. F. Bahri, Evaluasi Program Pendidikan. Medan, Indonesia: UMSU Press, 2022.
M. Baiah and M. Fadiana, “Pendidikan karakter peduli lingkungan dengan penerapan budaya sekolah berwawasan lingkungan,” Jurnal Basicedu, vol. 8, no. 3, pp. 1700–1710, 2024, doi: 10.31004/basicedu.v8i3.7455.
Sulistyorini, J. Andriesgo, W. Indadihayati, B. Watunglawar, A. Suradi, Mavianti, A. Nuramini, S. Wahyuningsih, E. Purnomo, and R. Sugiyanto, Supervisi Pendidikan. DOTPLUS Publisher, 2021.