Login
Section Innovation in Education

Innovative Adiwiyata Program Habituation Forms Elementary Student Environmental Care and Responsibility


Inovasi Pembiasaan Program Adiwiyata Membentuk Karakter Peduli Lingkungan dan Tanggung Jawab Siswa Sekolah Dasar
Vol. 27 No. 4 (2026): October:

Karmawanti Karmawanti (1), Sri Imawati (2)

(1) Program Studi Pendidikan Dasar, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Dasar, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Indonesia
Fulltext

Abstract:

General Background: Modern education must extend beyond cognitive knowledge transfer to cultivate moral ethics and ecological sustainability awareness. Specific Background: The Adiwiyata Program establishes environmentally conscious elementary schools through ecological policies, curriculum integration, participatory activities, and supporting facilities. Knowledge Gap: However, many schools focus on administrative compliance without achieving substantive behavioral change, leaving student consistency fluctuating when unsupervised. Aims: This study examines the Adiwiyata Program implementation, school community roles, and supporting or inhibiting factors in forming students' environmental care and responsibility character at SDN Rawa Barat 05. Results: Using a qualitative case study with observation, interviews, field notes, and documentation validated via triangulation, findings show that implementation operates through school policies, learning integration, teacher role modeling, and daily habituation including waste sorting, recycling, composting, eco-enzyme production, plant maintenance, water and energy conservation, and classroom cleaning schedules. While supported by principal leadership, teacher modeling, and available facilities, challenges include inconsistent student behavior, limited facility optimization, and uneven community participation. Novelty: This research captures character internalization dynamics within an urban elementary school facing limited green spaces and instant urban culture. Implications: Sustainable character education requires continuous supervision, periodic evaluation, behavioral control sheets, and optimal utilization of limited facilities so ecological awareness progresses from rule-based compliance into personal consciousness.


Highlights




  • Ecological policies, curriculum integration, participatory activities, plus supporting facilities cultivate pupil cleanliness routines.




  • Teacher role modeling alongside daily practices like waste sorting, plant maintenance, composting, plus classroom cleaning duties build personal accountability.




  • Overcoming inconsistent pupil behavior requires continuous supervision, periodic evaluation, behavioral control sheets, alongside optimal utilization of limited urban spaces.




Keywords


Adiwiyata Program; Environmental Care Character; Student Responsibility; Character Education; Elementary School

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Pendidikan menjadi landasan penting dalam mencerdaskan bangsa sekaligus membentuk karakter generasi muda. Pada era modern ini tantangan dunia pendidikan tidak lagi hanya berkutat pada aspek kognitif dan transfer pengetahuan akademik semata, melainkan juga pad bagaimana membentuk moral, etika, dan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan hidup [1]. Kerusakan lingkungan yang kian masif mulai dari pemanasan global, penumpukan sampah hingga polusi udara sebagian besar disebabkan oleh rendahnya kesadaran manusia dalam mengelola alam. Sekolah perlu mengintegrasikan nilai ekologis dalam pembelajaran untuk membentuk generasi yang cerdas sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan [2].

Secara filosofis dan teologis kewajiban manusia untuk menjaga alam semesta telah ditegaskan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Manusia diciptakan di muka bumi ini mengemban amanah sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) yang berkewajiban memakmurkan dan merawat bumi bukan merusaknya. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kerusakan lingkungan mencerminkan krisis moral manusia. Dalam pendidikan, kepedulian lingkungan merupakan bagian dari keimanan dan upaya mencegah kerusakan. Allah juga berfirman dalam Surah AI-A’raf ayat 56:

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik’’.

Ayat tersebut menegaskan larangan merusak alam serta kewajiban manusia untuk menjaga kelestariannya sebagai makhluk sosial dan ciptaan Allah SWT.

Sekolah Dasar merupakan fase keemasan (golden age) dalam tahapan perkembangan anak dimana internalisasi nilai-nilai karakter lenih mudah dibentuk dan akan melekat hingga dewasa. Menurut (Suryana, 2022:45) pembentukan karakter pada anak usia sekolah dasar memerlukan habituasi yang konsisten dan keteladanan yang nyata dari lingkungan sekitar, karema anak pada usia ini meniru apa yang mereka lihat di lingkungannya secara langsung [3]. Dua karakter krusial yang harus ditumbuhkan sejak dini adalah karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab. Peduli lingkungan merupakan sikap untuk mencegah kerusakan alam, sedangkan tanggung jawab mencerminkan kesadaran atas setiap tindakan yang dilakukan, baik sengaja maupun tidak.

Program Adiwiyata dikembangkan pemerintah untuk membentuk sekolah yang peduli lingkungan melalui kurikulum, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana ramah lingkungan. Penilaian keberhasilan ini sejalan dengan pandangan (Muhaimin, 2020:112) yang menyatakan bahwa implementasi program lingkungan di sekolah tidak boleh hanya bersifat seremonial, melainkan harus menyentuh ranah tata kelola kebijakan yang mendorong perubahan perilaku nyata seluruh warga sekolah [4]. Namun pada Realitasnya pelaksanaan Program Adiwiyata di berbagai sekolah sering kali menghadapi tantangan berat. Banyak sekolah yang terjebak pada pemenuhan aspek administrasi demi mendapatkan penghargaan atau status “Sekolah Adiwiyata”, tanpa diikuti oleh perubahan perilaku substantif pada siswanya.

Hidayat (2021:89) menegaskan bahwa keberhasilan Adiwiyata memerlukan pengawasan konsisten dan komitmen seluruh warga sekolah agar fasilitas lingkungan berdampak edukatif [5]. Kesenjangan antara tujuan program dan praktik masih terlihat, khususnya di sekolah dasar perkotaan dengan keterbatasan ruang hijau dan polusi.

SDN Rawa Barat 05 merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar di Jakarta Selatan yang telah berkomitmen mengadopsi dan menerapkan Program Adiwiyata. Sebagai sekolah yang berada di tengah dinamika masyarakat urban, SDN Rawa Barat 05 menghadapai tantangan ganda dalam menanamkan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab kepada siswanya yang sehari-hari akrab dengan budaya instan dan minim interaksi dengan alam terbuka. Berdasarkan pengamatan awal di SDN Rawa Barat 05 pihak sekolah telah mengupayakan berbagai program mulai dari pemilahan sampah, pembuatan apotek hidup hingga integrasi materi lingkungan ke dalam mata pelajaran. Walaupun demikian pembentukan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab siswa masih menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Sebagian siswa masih kedapatan membuang sampah sembarangan ketika lepas dari pengawasan guru serta kurangnya rasa tanggung jawab dalam menjaga fasilitas sanitasi sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai belum sepenuhnya terwujud secara holistic [6].

Karakter tanggung jawab siswa baik terhadapa tugas akademik maupun tugas sosial menjaga lingkungan memerlukan perhatian khusus agar sejalan dengan prinsip Adiwiyata. Sebagaimana ditegaskan oleh (Wibowo, 2023:134) karakter tanggung jawab tidak dapat tumbuh secara instan, melainkan harus dikontruksi melalui regulasi sekolah yang tegas, apresiasi serta sanksi yang mendidik terus menerus [7]. Mengingat pentingnya menyelaraskan program Adiwiyata dengan output pembentukan karakter, maka diperlukan sebuah penelitian mendalam mengenai bagaimana manajemen implementasi program tersebut berjalan di SDN Rawa Barat 05.

Penelitian ini mengkaji pelaksanaan Program Adiwiyata serta faktor pendukung dan penghambatnya dalam membentuk karakter peduli lingkungan siswa [8]. Kebaruan penelitian terletak pada konteks sekolah dasar perkotaan yang menghadapi keterbatasan ruang hijau dan konsistensi perilaku siswa. Di SDN Rawa Barat 05, program diterapkan melalui pemilahan sampah, apotek hidup, integrasi pembelajaran, pembiasaan, pengawasan, dan partisipasi, meskipun masih terdapat kesenjangan antara program dan perilaku

METODE

A.Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk memahami secara mendalam pelaksanaan Program Adiwiyata dalam konteks nyata. Studi kasus digunakan untuk mengkaji fenomena secara mendalam sesuai kondisi lapangan (Yin, 2018:15).

B.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SDN Rawa Barat 05, Jalan Birah III No. 3 Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Mei–Oktober 2026.

C.Sumber Data

1.Sumber Data Primer

Data primer diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui wawancara, observasi, dan survei untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian (Sugiyono, 2022:194) [9].

2.Sumber Data Sekunder

Data sekunder diperoleh secara tidak langsung melalui dokumen, arsip, laporan, buku, jurnal, dan sumber tertulis lainnya (Sugiyono, 2022:194) [9].

D.Teknik Pengumpulan Data

1.Observasi

Observasi dilakukan dengan mengamati objek penelitian secara langsung untuk memperoleh gambaran kondisi lapangan (Sugiyono, 2022:63) [9].

2.Wawancara

Wawancara dilakukan melalui tanya jawab langsung antara peneliti dan informan.

3.Dokumentasi

Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dokumen yang relevan dengan fokus penelitian (Sulung & Muspawi, 2024:113).

4.Catatan Lapangan

Catatan lapangan digunakan untuk merekam informasi penting selama dan setelah kegiatan observasi (Darmalaksana, 2020:5) [10].

E.Analisis Data

1.Reduksi Data

Data dipilih dan difokuskan pada informasi yang berkaitan dengan implementasi Program Adiwiyata serta pembentukan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab siswa.

2.Penyajian Data

Data terpilih disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan dianalisis.

3.Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan dirumuskan berdasarkan temuan yang diperoleh dan disesuaikan dengan fokus penelitian (Hardani, 2020:170).

F.Keabsahan Data

1.Triangulasi Sumber

Membandingkan informasi dari berbagai sumber untuk memastikan kesesuaiannya.

2.Triangulasi Teknik

Memeriksa informasi dari sumber yang sama dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda.

3.Triangulasi Waktu

Pengumpulan data dilakukan pada waktu yang berbeda untuk menguji konsistensi informasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Analisis Data

1.Identifikasi dan Pemahaman program Adiwiyata dalam Membentuk Karakter Peduli Lingkungan dn Tanggung Jawab.

Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 terlaksana melalui kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan sarana berwawasan lingkungan sebagai bagian dari sistem pendidikan sekolah. Pada aspek kebijakan berwawasan lingkungan sekolah telah mengembangkan berbagai aturan dan pembiasaan yang mendorong warga sekolah untuk menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat penggunaan air dan energi, serta merawat lingkungan. Pemahaman ini tidak hanya terbatas pada siswa, tetapi juga mencakup guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Kebijakan tersebut berfungsi sebagai dasar dalam membangun budaya sekolah. Dalam konteks Pendidikan karakter, kebijakan tersebut berperan sebagai stimulus yang mengarahkan siswa untuk memahami bahwa perilaku peduli lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab pribadi dan sosial. Guru memanfaatkan berbagai pendekatan seperti memberikan contoh perilaku peduli lingkungan, bimbingan secara langsung.

Kepedulian lingkungan diterapkan dalam pembelajaran melalui pemanfaatan taman, halaman, dan kebun sekolah sebagai sumber belajar. Kegiatan menanam dan mengolah barang bekas memberi pengalaman langsung yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa terlibat dalam kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan kerja kelompok, sehingga terbiasa bekerja sama, bertanggung jawab, serta menjaga lingkungan bersama.

Pada aspek pada aspek pengelolaan sarana pendukung, sekolah telah menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung pelaksanaan Program Adiwiyata, seperti tempat sampah, ruang terbuka hijau, taman, dan kebun sekolah. Sarana tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran, kebersihan, penghijauan, dan pembiasaan perilaku peduli lingkungan. Namun, keberadaan sarana tidak secara langsung menjamin terbentuknya karakter siswa. Pemanfaatan sarana tetap memerlukan pembiasaan, pendampingan, dan pengawasan agar siswa memahami fungsi fasilitas tersebut dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Temuan menunjukkan bahwa Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 mengintegrasikan kebijakan, pembelajaran, kegiatan, dan fasilitas yang saling mendukung pembentukan karakter siswa. Program tidak hanya menciptakan sekolah yang bersih, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan [11].

2.Strategi Implementasi Program Adiwiyata dalam Kurikulum dan Kegiatan Sekolah.

Strategi implementasi program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 dilakukan melalui integrasi kurikulum, pembiasaan harian, kegiatan ekstrakurikuler, keteladanan guru dan tenaga kependidikan, serta keterlibatan warga sekolah. Pembentukan karakter peduli lingkungan dilakukan melalui pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari. Nilai lingkungan diintegrasikan dengan materi agar siswa memahami kaitannya dengan kehidupan nyata. Kebiasaan menjaga kebersihan, merawat tanaman, membuang sampah, menghemat air dan energi, serta merawat fasilitas sekolah dilakukan secara berulang untuk membentuk perilaku peduli lingkungan. Pengulangan tersebut memungkinkan perilaku yang semula dilakukan karena instruksi berubah menjadi kebiasaan. Strategi lain yang tidak kalah penting adalah keteladanan guru dan tenaga kependidikan. Guru berperan sebagai contoh bagi siswa, Ketika guru menunjukkan perilaku menjaga kebersihan, menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan siswa memperoleh model perilaku yang dapat ditiru.

Strategi ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menekankan pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Karakter peduli lingkungan dibentuk melalui tindakan nyata siswa dalam menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengelola sampah, dan memelihara fasilitas sekolah [12].

3.Peran Warga Sekolah dalam Mendukung Implementasi Program Adiwiyata.

Pelaksanaan Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 tidak terlepas dari peran berbagai pihak. Kepala sekolah memberikan arahan, dukungan, dan kebijakan yang berkaitan dengan program. Guru berperan dalam mengintegrasikan nilai lingkungan ke dalam pembelajaran, memberikan pembiasaan, melakukan pendampingan, serta memberikan keteladanan. Tenaga kependidikan mendukung pengelolaan lingkungan sekolah, sedangkan siswa menjadi pihak yang secara langsung melaksanakan berbagai kegiatan lingkungan.

Peran tersebut menunjukkan bahwa Program Adiwiyata merupakan program yang membutuhkan keterlibatan bersama. Kepala sekolah berperan menetapkan kebijakan dan membangun iklim sekolah, guru membimbing pembelajaran serta pembiasaan, sedangkan siswa menjadi pelaku utama dalam menerapkan karakter peduli lingkungan sehari-hari.

Keterlibatan siswa dalam kegiatan lingkungan juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar bertanggung jawab. Misalnya, pelaksanaan piket kelas tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga mengajarkan siswa untuk menjalankan kewajiban sesuai jadwal. Demikian pula dengan menjaga fasilitas dan merawat tanaman yang mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu yang digunakan dan dirawat secara bersama-sama. Berdasarkan hasil wawancara, siswa memahami tanggung jawab tersebut melalui perilaku tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak fasilitas sekolah, serta melaksanakan piket sesuai jadwal.

Dengan demikian, peran warga sekolah dalam implementasi Program Adiwiyata tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berhubungan langsung dengan proses pembentukan karakter. Kerja sama antarwarga sekolah menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa memperoleh contoh, arahan, dan kesempatan untuk mempraktikkan perilaku peduli lingkungan [13].

4.Kendala dalam Implementasi Program Adiwiyata.

Meskipun implementasi program Adiwiyata telah berjalan, data penelitian menunjukkan adanya beberapa kendala. Kendala utama berkaitan dengan belum konsistensinya perilaku seluruh siswa, keterbatasan dan optimalisasi sarana prasarana, variasi tingkat partisipasi warga sekolah serta tantangan dalam mengintegrasikan nilai lingkungan secara konsisten ke dalam seluruh kegitan pembelajaran. Perbedaan Tingkat kesadaran siswa merupakan hal yang wajar dalam proses Pendidikan karakter. Setiap siswa memiliki latar belakang, kebiasaan, dan tingkat perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu sekolah perlu memberikan pendekatan yang berkelanjutan dan tidak hanya mengandalkan aturan atau hukuman.

Kendala sarana dan prasarana juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Sarana lingkungan yang tersedia perlu dikelola dan dimanfaatkan secara optimal agar benar-benar mendukung perubahan perilaku siswa. Ketersediaan fasilitas saja belum cukup apabila tidak disertai dengan pemahaman dan pembiasaan dalam penggunaannya. Selain itu konsistensi keterlibatan warga sekolah menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program. Program Adiwiyata akan lebih efektif apabila seluruh warga sekolah memiliki pemahaman dan komitemen yang sama. Oleh karena itu koordinasi, komunikasi, monitoring, dan evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan [14].

5.Dampak Implementasi Program Adiwiyata dalam membentuk karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab.

Meski menghadapi kendala, Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 berkontribusi dalam membentuk kepedulian dan tanggung jawab siswa melalui kebijakan sekolah, pembelajaran, pembiasaan, kegiatan partisipatif, dan pemanfaatan sarana lingkungan. Namun demikian, pembentukan karakter siswa belum sepenuhnya mencapai kondisi yang ideal karena masih terdapat perbedaan konsistensi perilaku antar siswa. Oleh karena itu program Adiwiyata perlu dipahami sebagai proses Pendidikan yang berkelanjutan bukan sebagai program yang hanya berorientasi pada pencapaian penghargaan atau kondisi fisik sekolah.

Keberhasilan program Adiwiyata sangat dipengaruhi oleh tiga aspek utama. Pertama adanya kebijakan dan komitmen sekolah yang mendukung budaya lingkungan. Kedua adanya proses pembiasaan dan keteladanan yang dilakukan secara konsisten. Ketiga adanya partisipasi seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan. Implementasi program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 dapat dipandang sebagai strategi Pendidikan karakter yang menghubungkan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Program Adiwiyata tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tentang lingkungan, tetapi juga membentuk perilaku peduli dan bertanggung jawab.

Secara umum, program di SDN Rawa Barat 05 berjalan cukup baik dan berdampak positif pada karakter siswa. Meskipun masih terdapat kendala dalam hal konsistensi perilaku, keterbatasan sarana, dan keberlanjutan partisipasi. Sekolah telah melakukan berbagai Upaya perbaikan melalui pembiasaan, keteladanan, koordinasi, keterlibatan warga sekolah, serta optimalisasi sarana yang tersedia. Keberlanjutan program perlu diarahkan pada penguatan internalisasi nilai sehingga perilaku peduli lingkungan dan tanggung jawab tidak hanya muncul karena aturan dan pengawasan tetapi berkembang menjadi kesadaran dan budaya yang melekat pada diri siswa [15].

B.Pembahasan

Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 menjadi bagian dari pendidikan karakter yang tidak hanya menciptakan lingkungan bersih dan sehat, tetapi juga menumbuhkan kepedulian serta tanggung jawab siswa melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin. Implementasinya melibatkan kebijakan, pembelajaran, pembiasaan, partisipasi, dan sarana lingkungan sesuai empat komponen utama Adiwiyata, yaitu kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan sarana ramah lingkungan. Program tidak sebatas pemenuhan administratif, tetapi diterapkan dalam keseharian siswa melalui kebiasaan menjaga kebersihan, membuang sampah, merawat tanaman, menghemat air dan energi, serta menjaga fasilitas sekolah sehingga pengetahuan lingkungan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata.

Dalam konteks pembentukan karakter, hal tersebut menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai peduli lingkungan telah mulai berlangsung. Namun, proses tersebut belum sepenuhnya selesai. Masih adanya siswa yang memerlukan arahan dan pengawasan menunjukkan bahwa sebagian perilaku peduli lingkungan masih berada pada tahap pembiasaan. Siswa telah mengetahui dan melakukan tindakan yang benar, tetapi belum seluruhnya mampu melakukannya secara konsisten tanpa arahan. Temuan ini justru menjadi bagian penting dari penelitian karena menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dilihat hanya dari terlaksananya kegiatan, tetapi nilai yang ditanamkan melalui kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari perilaku siswa. Dalam penelitian ini, proses menuju kondisi tersebut sudah terlihat, tetapi masih membutuhkan penguatan secara berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan dan keteladanan saling melengkapi dalam membentuk karakter siswa. Pembiasaan mendorong perilaku berulang, sedangkan keteladanan memberi contoh nyata; tanpa keduanya, perilaku peduli lingkungan belum tentu terbentuk secara konsisten. Guru berperan melalui pemberian contoh, bimbingan, pengingat, dan pengawasan [16].

Namun, keberadaan Program Adiwiyata belum menjamin keseragaman perilaku peduli lingkungan pada seluruh siswa. Perbedaan konsistensi perilaku menunjukkan bahwa karakter masih perlu diperkuat melalui proses yang berkelanjutan. Hal ini menjadi salah satu temuan penting penelitian karena menunjukkan adanya jarak antara mengetahui nilai lingkungan, melakukan perilaku peduli lingkungan, dan menjadikan perilaku tersebut sebagai kebiasaan yang muncul dari kesadaran diri.

Dari sisi tanggung jawab, kegiatan seperti piket kelas, menjaga fasilitas, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan menunjukkan bahwa siswa telah diberikan kesempatan untuk menjalankan kewajiban secara langsung. Tanggung jawab dalam penelitian ini tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi diamati melalui tindakan siswa dalam kehidupan sekolah. Dengan demikian, program Adiwiyata memberikan ruang bagi siswa untuk belajar bertanggung jawab melalui tugas-tugas sederhana yang dilakukan secara nyata [17].

Peran seluruh warga sekolah juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan program. Kepala sekolah memberikan kebijakan dan dukungan, guru memberikan pembelajaran dan keteladanan, tenaga kependidikan mendukung pengelolaan lingkungan, sedangkan siswa menjalankan kegiatan secara langsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan budaya peduli lingkungan membutuhkan lingkungan sekolah yang mendukung. Siswa akan lebih mudah membentuk kebiasaan apabila nilai yang sama ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya. Berdasarkan temuan tersebut, dapat dikatakan bahwa faktor pendukung utama implementasi program Adiwiyata adalah adanya kebijakan sekolah, pembiasaan, keteladanan guru, keterlibatan siswa, kegiatan partisipatif, dan ketersediaan sarana lingkungan. Sementara itu, faktor penghambatnya terutama berkaitan dengan belum konsistennya perilaku siswa, perbedaan tingkat kesadaran, keterbatasan dan pemanfaatan sarana, serta belum meratanya keterlibatan seluruh warga sekolah.

Program Adiwiyata merupakan proses pendidikan karakter yang mengintegrasikan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa. Siswa memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan melalui pembelajaran, mengembangkan sikap melalui pembiasaan dan keteladanan, kemudian mempraktikkannya melalui berbagai kegiatan lingkungan. Proses tersebut telah berjalan di SDN Rawa Barat 05, meskipun hasilnya masih perlu diperkuat agar perilaku peduli lingkungan dan tanggung jawab dapat menjadi kebiasaan yang lebih konsisten [18].

Implementasi Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 berjalan cukup baik dan berkontribusi positif terhadap karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab siswa. Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kondisi sekolah dan kegiatan yang terlaksana, tetapi dari kemampuan siswa menerapkan kepedulian lingkungan secara sadar dan konsisten. Karena itu, Adiwiyata perlu dijalankan secara berkelanjutan melalui pembiasaan, keteladanan, partisipasi, pengawasan, evaluasi, dan optimalisasi sarana agar perilaku peduli lingkungan berkembang menjadi kesadaran pribadi siswa.

Pembentukan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab memerlukan proses berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat. Nilai-nilai tersebut perlu terus dihadirkan dalam berbagai aktivitas sekolah agar siswa memperoleh pengalaman yang berulang dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki perilakunya. Dalam hal ini, kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan kelas, melaksanakan piket, merawat tanaman, membuang sampah sesuai tempatnya, serta menggunakan air dan energi secara bijak memiliki makna yang lebih luas dalam proses pendidikan karakter. Kegiatan tersebut menjadi media bagi siswa untuk belajar memahami kewajiban, mempertimbangkan dampak dari tindakannya, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, konsistensi sekolah dalam melaksanakan kegiatan dan memberikan arahan menjadi bagian penting agar nilai yang telah ditanamkan tidak hanya muncul ketika terdapat pengawasan, tetapi perlahan menjadi bagian dari kebiasaan siswa [19].

Selain itu hasil penelitian memperlihatkan bahwa implemnetasi program Adiwiyata perlu disertai dengan evaluasi terhadap perilaku siswa dan pelaksanaan kegiatan secara berkala. Evaluasi tidak hanya diperlukan untuk melihat apakah kegiatan telah terlaksana tetapi juga untuk mengetahui sejauh mana kegiatan tersebut memberikan perubahan terhadap sikap dan perilaku siswa. Evaluasi diperlukan untuk memperbaiki partisipasi siswa, pemanfaatan sarana, dan konsistensi menjaga lingkungan. Program Adiwiyata perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama warga sekolah agar kepedulian dan tanggung jawab lingkungan menjadi perilaku sehari-hari [20]. Dalam kondisi keterbatasan sarana, sekolah dapat mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia melalui penggunaan secara bergilir dan pembagian tanggung jawab pada setiap kelas atau kelompok siswa. Tempat sampah yang tersedia dapat diberi label sesuai jenis sampah agar lebih mudah digunakan, sedangkan lahan terbatas dapat dimanfaatkan untuk tanaman dalam pot, botol bekas, atau wadah sederhana lainnya. Perawatan sarana juga dapat dimasukkan ke dalam jadwal piket sehingga siswa tidak hanya menggunakan fasilitas, tetapi turut bertanggung jawab terhadap pemeliharaannya. Selain itu, guru dapat memanfaatkan bahan bekas sebagai media pembelajaran lingkungan sehingga keterbatasan fasilitas tidak menghambat kegiatan edukatif. Upaya tersebut memungkinkan sarana yang terbatas tetap dimanfaatkan secara optimal sekaligus menjadi bagian dari pembentukan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab siswa.

Catatan Lapangan

Pada saat melakukan pengamatan di lingkungan SDN Rawa Barat 05 terlihat bahwa lingkungan sekolah telah dilengkapi dengan beberapa sarana yang mendukung pelaksanaan program Adiwiyata. Di beberapa bagian sekolah terdapat tempat sampah dan area yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Sarana yang tersedia tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas sekolah, tetapi juga dapat digunakan sebagai media bagi siswa untuk belajar mengenal dan menjaga lingkungan. Pada saat kegiatan sekolah berlangsung, siswa terlihat melakukan kegiatan kebersihan sesuai dengan pembiasaan yang diterapkan sekolah. Siswa melaksanakan piket kelas dan membersihkan area yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan dilakukan dengan membagi tugas kepada beberapa siswa.

Guru membimbing siswa menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya serta memberikan teguran bagi siswa yang belum menjalankan tugas. Kegiatan kebersihan telah menjadi rutinitas, meskipun sebagian siswa masih memerlukan pengingat. Siswa juga terlibat dalam perawatan tanaman melalui kegiatan menyiram dan menjaga area tanaman. Arahan guru mendorong siswa merawat lingkungan secara bersama melalui praktik langsung.

Guru mengaitkan materi dengan lingkungan sekitar dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Siswa juga dilibatkan dalam mengolah barang bekas menjadi benda yang dapat digunakan kembali, sehingga memperoleh pengalaman langsung tentang pemanfaatan sampah. Pemanfaatan barang bekas melibatkan siswa secara langsung dengan arahan dan contoh dari guru. Kegiatan sederhana ini membiasakan siswa menjaga kebersihan, merawat lingkungan, dan menggunakan kembali barang yang masih layak, sehingga kepedulian lingkungan terbentuk melalui pengalaman sehari-hari.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 menjadi bagian dari pendidikan karakter, khususnya kepedulian dan tanggung jawab lingkungan. Program diterapkan melalui kebijakan sekolah, integrasi lingkungan dalam pembelajaran, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana pendukung. Penerapannya tampak dalam kebiasaan menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat air dan energi, merawat tanaman dan fasilitas, serta melaksanakan piket. Kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan mendorong siswa beralih dari perilaku berdasarkan aturan menuju kesadaran dan inisiatif pribadi. Perubahan terlihat dari konsistensi hasil observasi dan wawancara, meskipun sebagian siswa masih membutuhkan arahan dan pengawasan. Temuan ini menunjukkan bahwa Adiwiyata berkontribusi membentuk karakter melalui keterkaitan pengetahuan, pembiasaan, sikap, dan perilaku.

Pelaksanaan Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 didukung oleh kepala sekolah, guru, siswa, dan warga sekolah lainnya. Guru berperan melalui keteladanan, arahan, pengawasan, serta integrasi nilai lingkungan dalam pembelajaran dan keseharian. Siswa terlibat dalam kebersihan, piket, perawatan tanaman, pengelolaan lingkungan, dan pemeliharaan fasilitas bersama. Temuan ini menunjukkan bahwa karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab terbentuk melalui kerja sama, keteladanan, pembiasaan, serta komitmen seluruh warga sekolah, bukan sekadar aturan.

Faktor pendukung Program Adiwiyata di SDN Rawa Barat 05 meliputi kebijakan sekolah, keterlibatan guru dan siswa, pembiasaan rutin, keteladanan guru, serta sarana pendukung. Adapun hambatannya mencakup perilaku siswa yang belum konsisten, perbedaan kesadaran, keterbatasan pemanfaatan sarana, dan keterlibatan warga sekolah yang belum merata. Integrasi nilai lingkungan dalam pembelajaran juga perlu diperkuat. Karena pembentukan karakter berlangsung bertahap, pembiasaan, keteladanan, pengawasan, dan evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kepedulian dan tanggung jawab lingkungan menjadi kebiasaan siswa.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, sekolah dapat memperkuat pembiasaan melalui pembagian tugas dan lembar kontrol perilaku, disertai pendampingan serta apresiasi. Penggunaan sarana dioptimalkan melalui pelabelan dan petunjuk, dengan penanggung jawab yang jelas. Partisipasi warga sekolah diperkuat melalui pembagian peran dan evaluasi rutin, sementara pembelajaran lingkungan dapat diintegrasikan dalam tugas setiap mata pelajaran. Upaya ini diharapkan meningkatkan konsistensi kepedulian lingkungan dan tanggung jawab siswa, seperti membuang sampah, melaksanakan piket, merawat tanaman, menjaga fasilitas, serta menghemat air dan energi. Guru dapat melakukan pemeriksaan secara berkala dan memberikan umpan balik langsung kepada siswa yang belum konsisten. Siswa yang menunjukkan perilaku positif secara konsisten dapat diberikan apresiasi sederhana, sedangkan siswa yang masih memerlukan arahan diberikan pendampingan dan penguatan secara bertahap. Strategi ini dapat membantu sekolah mengetahui perkembangan perilaku siswa, memberikan tindak lanjut sesuai kebutuhan, dan memperkuat kebiasaan peduli lingkungan serta tanggung jawab hingga tidak lagi bergantung pada pengawasan guru.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak SDN Rawa Barat 05, kepala sekolah, guru, dan siswa yang telah memberikan dukungan serta berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penelitian hingga penyusunan artikel ini. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi sekolah dalam mengembangkan Program Adiwiyata serta memperkuat karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab siswa.

References

H. Hardani, H. Andriani, J. Ustiawaty, E. F. Utami, R. R. Istiqomah, D. J. Sukmana, and R. A. Fardani, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta, Indonesia: CV Pustaka Ilmu, 2020.

S. Hutapea, Faktor-Faktor Budaya dan Psikologis dalam Pembentukan Karakter Remaja. Medan, Indonesia: Kebun Buku, 2023.

Y. Suryana, Psikologi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar dan Internalisasi Nilai. Jakarta, Indonesia: Prenadamedia Group, 2022.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta, Indonesia: Raja Grafindo Persada, 2020.

T. Hidayat, Manajemen Lingkungan Sekolah dan Implementasi Kebijakan Ekologis. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

D. N. K. Wardani, “Analisis implementasi Program Adiwiyata dalam membangun karakter peduli lingkungan,” Southeast Asian Journal of Islamic Education Management, vol. 1, no. 1, 2020.

A. Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah: Konsep, Struktur, dan Aplikasi. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2023.

M. Samani and Hariyanto, Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Era Disrupsi. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2020.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 2nd ed., cet. 29. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

W. Darmalaksana, Metode Penelitian Kualitatif Studi Lapangan. Bandung, Indonesia: Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2020.

S. Darmayani, R. Hidana, and Suyati, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung, Indonesia: Widina Bhakti Persada, 2021.

S. A. Deliza and T. Wahyuningsih, “Implementasi Program Adiwiyata dalam menanamkan karakter peduli lingkungan pada Generasi Alpha di SDN 021 Sungai Kunjang,” Jurnal MADINASIKA, vol. 7, no. 1, pp. 193–201, 2025.

E. Haris, Panduan Pengelolaan Sekolah Adiwiyata: Teori dan Praktis. Jakarta, Indonesia: Esensi, 2018.

H. Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

J. Saldaña, M. B. Miles, and A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2020.

P. A. Keddy, Plant Ecology: Origins, Processes, Consequences, 2nd ed. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2017.

T. Lickona, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility, trans. Jumaedu. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2019.

A. A. Mattunruang, Langkah-Langkah Dasar Penelitian Kualitatif: Grounded Theory. Makassar, Indonesia: Universitas Negeri Makassar, 2019.

M. C. Molles, Jr. and A. A. Sher, Ecology: Concepts and Applications, 8th ed. New York, NY, USA: McGraw-Hill Education, 2019.

S. Nuzulia and H. Sukamto, “Pendidikan lingkungan hidup melalui implementasi Program Sekolah Adiwiyata,” Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran, vol. 11, no. 1, pp. 45–56, 2023.