Yovita Kamila Devi (1), Ellyana Ilsan Eka Putri (2)
General Background Adolescence represents a critical developmental stage where individuals must adapt to new roles and cultivate psychological maturity. Specific Background Numerous university students from regions with limited access, such as Sintang Regency, must migrate and live away from their parents to pursue better educational opportunities. Knowledge Gap Previous literature predominantly explores general student adaptation, leaving the specific dynamics of emotional independence among migrant adolescents during physical separation largely unexplored. Aims This qualitative study investigates how migrant students from Sintang Regency navigate their emotional development while living apart from their parents for educational purposes. Results In-depth interviews with four students aged 17 to 21 revealed that physical separation forces gradual independence through managing homesickness, overcoming fears, and fulfilling daily needs. The developmental process explicitly reflects four dimensions: nondependency, individuation, viewing parents as people, and de-idealization. Migrant students successfully navigate environmental adaptation challenges without requiring direct parental presence, yet they consistently maintain strong long-distance support. Novelty This research demonstrates that achieving psychological maturity during physical separation does not sever familial bonds but rather transforms direct dependency into a balanced, mature distant relationship. Implications Educational institutions and parents should provide supportive long-distance communication frameworks that encourage self-reliance without restricting the adolescent's independent decision-making processes.
Highlights
Physical separation compels young adults to manage homesickness and fulfill daily obligations independently.
Psychological maturity manifests through nondependency and viewing family figures from highly realistic perspectives.
Consistent long-distance communication preserves supportive bonds while fostering independent decision-making processes.
Keywords
Emotional Autonomy; Migrant Students; Psychological Maturity; Environmental Adaptation; Long Distance Support
Masa remaja adalah salah satu tahapan yang penting dalam perkembangan kehidupan seorang individu. Pada fase ini, individu mengalami perubahan dalam berbagai aspek, baik biologis, psikologis, maupun sosial, yang terjadi secara cepat dan signifikan. Pada fase ini, individu mulai dituntut untuk menyesuaikan diri dengan berbagai peran dan tanggung jawab baru. Salah satu tugas perkembangan yang penting pada masa remaja adalah berkembangnya kemandirian emosional. Kemandirian emosional berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengelola emosi, mengambil keputusan, serta menghadapi berbagai permasalahan tanpa ketergantungan emosional yang berlebihan terhadap orang lain, khususnya orang tua [1].
Kemandirian emosional remaja bukan hanya berkaitan dengan kemampuan diri dalam mengelola emosi secara mandiri, tetapi juga dapat mencerminkan proses dari perkembangan psikologis remaja tersebut dalam melepaskan adanya ketergantungan emosional terhadap orang tua. Kemandirian emosional merupakan aspek kemandirian yang berhubungan dengan perubahan kedekatan individu dengan orang lain, terutama orang tua (Steinberg, 2014). Individu pada fase remaja tidak lagi bergantung kepada orang tuanya ketika membutuhkan bantuan. Menurut Steinberg (2014) kemandirian emosional remaja terdiri atas empat dimensi, yaitu : 1) de-idealized (memandang orang tua bukan sebagai sosok yang ideal), 2) parents as people (memandang orang tua sebagai orang dewasa pada umumnya), 3) nondependency (tidak selalu bergantung pada orang tua dalam menyelesaikan masalah), dan 4) individuation (bagaimana individu memandang dirinya sendiri) [2].
Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran yang sangat penting dalam proses perkembangan emosional remaja. Orang tua sangat berperan sebagai sumber dukungan emosional, tempat berbagi cerita dan juga menjadi sosok yang akan memberikan arahan bagi remaja dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Pola asuh yang suportif, komunikasi yang terbuka, serta hubungan yang hangat antara orang tua dan anak dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan regulasi emosi, rasa percaya diri, serta kemampuan penyesuaian diri yang baik [3]. Salah satu faktor penting yang dapat membantu remaja menghadapi tekanan emosional selama masa perkembangannya adalah kehadiran orang tua secara langsung.
Namun demikian, tidak sedikit individu yang harus tinggal jauh dari orang tua karena tuntutan pendidikan. Dalam konteks penelitian ini, pengalaman tersebut dialami oleh mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar Kabupaten Sintang. Tinggal di luar daerah, asrama, maupun tempat tinggal yang jauh dari rumah merupakan pengalaman yang harus dijalani sebagian mahasiswa untuk memperoleh pendidikan [4]. Di Kabupaten Sintang, kondisi geografis serta adanya keterbatasan akses pendidikan membuat sebagian individu, termasuk calon mahasiswa, harus merantau atau tinggal jauh dari orang tua demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Hal ini menjadikan pengalaman hidup terpisah dari orang tua sebagai fenomena yang cukup umum dialami oleh mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar daerah [5].
Pengalaman tinggal jauh dari orang tua tentunya dapat menghadirkan berbagai tantangan emosional bagi mahasiswa perantau. Mahasiswa perantau harus belajar menghadapi berbagai situasi secara mandiri karena ketidakhadiran orang tua secara langsung. Mereka mulai mengatur kehidupan sehari-hari hingga menghadapi berbagai persoalan pribadi. Berbagai respons emosional yang sering kali muncul antara lain kesepian, stres, rasa rindu terhadap keluarga, serta kesulitan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Santrock (2018) menjelaskan bahwa remaja yang hidup jauh dari keluarga memerlukan proses adaptasi emosional yang lebih kompleks karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri [6]. Kondisi tersebut relevan dengan pengalaman mahasiswa perantau yang menjadi subjek dalam penelitian ini.
Fenomena tersebut juga ditemukan pada mahasiswa asal Kabupaten Sintang yang harus tinggal jauh dari orang tua karena tuntutan pendidikan. Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan terhadap beberapa mahasiswa perantau, ditemukan bahwa mereka mengalami berbagai dinamika emosional selama menjalani kehidupan jauh dari keluarga. Salah satu partisipan mengungkapkan bahwa ia sering kali merasa kesepian ketika pertama kali tinggal jauh dari orang tuanya. Partisipan lain juga menyatakan bahwa hal tersulit yang ia alami adalah ketika mereka harus mengurus diri sendiri saat sedang sakit serta belajar untuk menjalani kehidupan secara mandiri. Terdapat juga partisipan yang mengaku lebih memilih untuk diam ketika menghadapi sebuah masalah sementara partisipan lainnya lebih memilih untuk mencari dukungan dengan bercerita kepada teman maupun dengan cara berdoa. Meskipun demikian, sebagian besar partisipan merasa bahwa pengalaman tinggal jauh dari orang tua ini dapat membuat mereka menjadi lebih mandiri karena mereka mulai terbiasa dalam hal menyelesaikan berbagai kebutuhan dan permasalahan mereka secara mandiri [8].
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua menghadapi proses penyesuaian yang berkaitan dengan kesepian, pengelolaan emosi, dan tuntutan untuk mengambil keputusan secara mandiri. Penelitian tentang kemandirian emosional juga menunjukkan bahwa berkurangnya ketergantungan pada orang tua merupakan bagian dari perkembangan menuju kematangan psikologis [9]. Namun, penelitian tersebut lebih banyak membahas kemandirian atau penyesuaian mahasiswa secara umum dan belum secara khusus menggambarkan dinamika kemandirian emosional mahasiswa asal Kabupaten Sintang berdasarkan pengalaman mereka selama hidup terpisah dari orang tua.
Fenomena mahasiswa perantau yang tinggal jauh dari orang tua semakin banyak ditemukan, tetapi penelitian yang secara khusus membahas dinamika perkembangan kemandirian emosional dalam konteks tersebut masih terbatas, khususnya dalam konteks lokal di Kabupaten Sintang. Padahal, pemahaman mengenai pengalaman emosional mahasiswa perantau dalam kondisi tersebut penting untuk mengetahui bagaimana mereka beradaptasi, mengembangkan kemandirian, serta menghadapi berbagai tantangan emosional selama tinggal jauh dari orang tua [9].
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memahami dinamika perkembangan kemandirian emosional pada mahasiswa asal Kabupaten Sintang yang tinggal jauh dari orang tua karena tuntutan pendidikan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai pengalaman emosional mahasiswa perantau serta memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian psikologi perkembangan, khususnya yang berkaitan dengan kemandirian emosional remaja dalam situasi keterpisahan dengan orang tua [10].
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan kemandirian emosional pada mahasiswa perantau yang tinggal jauh dari orang tua karena tuntutan pendidikan. Pendekatan ini juga dipilih untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai pengalaman dan pemaknaan partisipan terhadap perkembangan kemandirian emosional selama menjalani kehidupan jauh dari orang tua.
Partisipan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni berdasarkan kriteria berikut: (1) berusia 17–21 tahun; (2) berstatus sebagai mahasiswa aktif; (3) berasal dari Kabupaten Sintang; (4) sedang menempuh pendidikan di luar Kabupaten Sintang sehingga tinggal terpisah dari orang tua; (5) telah tinggal jauh dari orang tua selama minimal enam bulan; dan (6) bersedia menjadi partisipan secara sukarela. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan empat partisipan yang telah memenuhi seluruh kriteria yang diberikan dan dipilih karena dinilai mampu memberikan informasi yang relevan serta sesuai dengan fokus penelitian. Jumlah partisipan ditentukan berdasarkan prinsip data saturation atau saturasi data, yaitu ketika informasi yang diperoleh telah berulang dan tidak ditemukan lagi data baru yang relevan dengan fokus penelitian.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur yang disusun berdasarkan dimensi kemandirian emosional menurut Steinberg (2014), yaitu de-idealization, parents as people, nondependency, dan individuation. Wawancara dilakukan secara daring menggunakan Google Meet dengan durasi sekitar 60–90 menit atas persetujuan partisipan. Semua proses wawancara direkam dan ditranskripsikan secara verbatim sebagai sumber data utama penelitian ini.
Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014) yang terdiri dari kondensasi data (data condensation), penyajian data (data display), serta penarikan dan verifikasi kesimpulan (conclusion drawing and verification) [11]. Proses analisis diawali dengan membaca transkrip wawancara secara berulang untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap data. Langkah berikutnya ialah mengidentifikasi unit-unit makna yang relevan dengan fokus penelitian dan memberikan kode pada setiap unit makna. Kode-kode yang memiliki kesamaan disatukan menjadi kategori. Selanjutnya, kategori diintegrasikan menjadi tema-tema yang merepresentasikan dinamika perkembangan kemandirian emosional partisipan. Untuk menjaga konsistensi proses analisis, peneliti menyusun master codebook sebagai acuan dalam proses pengkodean dan pengelompokan kategori.
Keabsahan data dilakukan melalui member checking, yakni dengan mengirimkan hasil transkrip wawancara kepada masing-masing partisipan untuk memastikan bahwa isi transkrip telah sesuai dengan informasi yang disampaikan selama wawancara berlangsung.
A.Dinamika Emosional Mahasiswa Perantau
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mahasiswa yang sedang menjalani kehidupan jauh dari orang tua mengalami berbagai perubahan dan gejolak emosional, khususnya ketika berada pada awal kehidupan di lingkungan perantauan. Perubahan tersebut terlihat dari munculnya kerinduan terhadap orang tua dan rumah, kecemasan, perasaan kesepian, serta tantangan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan emosional yang berbeda dibandingkan saat masih tinggal bersama keluarga. Karena orang tua tidak lagi hadir secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa perlu menghadapi dan mengelola berbagai perasaan yang muncul selama menjalani kehidupan di perantauan.
Kerinduan mahasiswa terhadap rumah atau homesick menjadi salah satu pengalaman emosional yang ditemukan pada mahasiswa perantau. P4 menjelaskan pengalamannya melalui kutipan, “Tapi waktu ditinggal tuh kayak lebih ke homesick sih tepatnya kayak seminggu, apalagi sulit juga beradaptasi di farmasi waktu awal-awal perkuliahan.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jarak dari orang tua pada masa awal merantau dapat menimbulkan rasa rindu, terutama ketika mahasiswa juga harus berhadapan dengan tuntutan akademik dan sosial yang belum familiar. Oleh karena itu, pengalaman emosional pada tahap awal perantauan berkaitan dengan proses penyesuaian mahasiswa terhadap lingkungan baru serta berkurangnya kehadiran orang tua dalam keseharian.
Selain merasakan rindu, mahasiswa juga menghadapi rasa takut ketika berada seorang diri. P1 mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan, “Pertama ngerantau itu aku takut tapi excited jadi satu sisi rasa takutku itu muncul kalau malam atau kalau pas aku lagi sendiri lah di kamar, tapi at the same time aku juga excited...” Pernyataan ini menggambarkan bahwa pengalaman emosional mahasiswa perantau dapat muncul dalam bentuk yang beragam dan bahkan dapat berlangsung secara bersamaan. Ketakutan tersebut dapat muncul bersamaan dengan antusiasme dalam menyambut pengalaman baru. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa proses penyesuaian tidak hanya berkaitan dengan lingkungan tempat mereka tinggal dan berkuliah, tetapi juga dengan perubahan pengalaman emosional ketika mahasiswa mulai menjalani kehidupan jauh dari orang tua.
Pengalaman emosional mahasiswa juga dapat mengalami perubahan setelah mereka menjalani kehidupan perantauan dalam waktu tertentu. Salah satu partisipan menyampaikan bahwa rasa rindu terhadap rumah perlahan berkurang setelah dirinya mulai terbiasa dengan kehidupan di lingkungan baru. Temuan ini juga menunjukkan bahwa kondisi emosional mahasiswa dapat berubah seiring dengan terbentuknya rutinitas dan pengalaman ketika menjalani kehidupan di lingkungan baru. Dengan demikian, homesick, ketakutan, dan hambatan adaptasi yang dirasakan pada awal perantauan merupakan bagian dari dinamika emosional yang dialami mahasiswa selama menjalani kehidupan jauh dari orang tua.
Temuan tersebut dapat dianalisis menggunakan konsep nondependency dalam kemandirian emosional yang dikemukakan oleh Steinberg (2014) [2]. Nondepedency bukan berarti bahwa individu tidak lagi membutuhkan orang tua, melainkan berkaitan dengan kemampuan untuk menghadapi persoalan dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus bergantung kepada orang tua. Dalam penelitian ini, rasa rindu dan takut yang dialami oleh mahasiswa menunjukkan bahwa ikatan emosional dengan orang tua masih tetap terjaga. Namun, ketika mahasiswa mulai mampu menghadapi perasaan tersebut dan tetap menjalankan aktivitas di perantauan, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan aspek nondependency, yakni berkurangnya ketergantungan langsung terhadap orang tua dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu, kemandirian emosional bukan hanya dapat dipahami dari tidak adanya rasa rindu, ketakutan, maupun kebutuhan terhadap orang tua. Kemandirian tersebut lebih terlihat dari kemampuan mahasiswa untuk tetap menjalankan kehidupannya meskipun emosi-emosi tersebut masih dirasakan. Mahasiswa tetap dapat memiliki hubungan emosional dengan orang tua dan memperoleh dukungan dari mereka, tetapi secara bertahap mampu menghadapi tuntutan kehidupan sehari-hari tanpa harus selalu bergantung pada kehadiran langsung orang tua [12].
Jika dikaitkan dengan tema mengenai proses adaptasi mahasiswa perantau, dinamika emosional lebih terarah pada bagaimana mahasiswa menghadapi perubahan perasaan selama menjalani kehidupan jauh dari orang tua. Pengalaman dalam mengurus berbagai kebutuhan sehari-hari secara mandiri memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menghadapi berbagai situasi tanpa pendampingan langsung dari orang tua. Di sisi lain, pengalaman emosional seperti rasa rindu, takut, dan kesepian juga menjadi bagian dari proses tersebut. Kedua pengalaman tersebut saling berkaitan karena kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri turut memberikan pengalaman bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai kondisi emosional selama berada di perantauan.
Secara umum, dinamika emosional yang dialami mahasiswa perantau menunjukkan bahwa kemandirian emosional terbentuk melalui proses yang berlangsung secara bertahap dan tidak serta-merta ditandai dengan terlepasnya keterikatan emosional dengan orang tua. Pada tahap awal kehidupan di perantauan, mahasiswa masih mengalami berbagai respons emosional, seperti kerinduan, rasa takut, serta kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, seiring berlangsungnya proses adaptasi, mahasiswa mulai mengembangkan kemampuan untuk mengelola dan menghadapi berbagai perasaan tersebut sehingga tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Kondisi ini mencerminkan perkembangan aspek nondependency, yaitu berkurangnya ketergantungan mahasiswa terhadap kehadiran fisik orang tua dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tanpa harus menghilangkan kedekatan maupun keterikatan emosional yang tetap terjalin dengan orang tua [13].
B.Proses Adaptasi Mahasiswa Perantau
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kehidupan yang jauh dari orang tua membuat mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Proses adaptasi tersebut meliputi penyesuaian terhadap lingkungan tempat tinggal, kegiatan perkuliahan, kebiasaan sehari-hari, serta kondisi sosial yang berbeda dari lingkungan asal mereka. Pada masa awal perantauan, berbagai perubahan tersebut dapat menimbulkan perasaan asing dan tidak nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, mahasiswa mulai menemukan cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan menjalani kehidupannya secara lebih mandiri.
P2 menggambarkan perubahan tersebut ketika mulai belajar hidup sendiri. Ia menjelaskan, “Itu adalah perihal kalau kita biasanya di rumah apa-apa itu sudah disiapkan, baik itu dari segi makanan, kemudian pakaian, dan seterusnya. Namun ketika awal-awal saya mulai belajar untuk hidup sendiri...” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perubahan tanggung jawab yang dialami mahasiswa setelah tidak lagi tinggal bersama orang tua. Berbagai kebutuhan yang sebelumnya sudah tersedia ketika berada di rumah mulai harus diperhatikan dan dipenuhi oleh mahasiswa secara mandiri. Kondisi tersebut membuat mahasiswa perlu menyesuaikan kebiasaan serta mulai mengambil tanggung jawab terhadap berbagai kebutuhan sehari-hari.
Proses adaptasi juga terlihat dari pengalaman mahasiswa ketika menghadapi lingkungan sosial dan akademik yang baru. P4 mengungkapkan bahwa pada awal perkuliahan dirinya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri sekaligus merasakan homesick. Ia mengatakan, “Tapi waktu ditinggal tuh kayak lebih ke homesick sih tepatnya kayak seminggu, apalagi sulit juga beradaptasi di farmasi waktu awal-awal perkuliahan.” Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses adaptasi mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga mencakup tuntutan akademik dan lingkungan sosial yang harus dihadapi setelah meninggalkan lingkungan asal.
Pengalaman P1 juga menggambarkan adanya proses penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. P1 menceritakan bahwa setelah merantau, dirinya mengalami culture shock, terutama karena adanya perbedaan cuaca, harga kebutuhan, dan jenis makanan. Berbagai perbedaan tersebut menjadi pengalaman baru yang perlu dihadapi selama menjalani kehidupan di tempat perantauan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi yang sebelumnya tidak ditemukan atau belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan asal.
Bagi mahasiswa asal Kabupaten Sintang, perpindahan dari lingkungan asal menuju daerah pendidikan juga mempertemukan mereka dengan perbedaan kondisi sosial dan kehidupan sehari-hari. Latar belakang sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah dengan karakter lingkungan yang berbeda dari tempat mereka menempuh pendidikan membuat proses adaptasi tidak hanya berupa penyesuaian pribadi, tetapi juga penerimaan terhadap kebiasaan dan lingkungan baru.
Walaupun pada awalnya mahasiswa menghadapi berbagai kesulitan, proses adaptasi yang berlangsung secara bertahap membuat mereka mulai terbiasa dengan kehidupan di lingkungan baru. Perubahan tersebut terlihat dari kemampuan mahasiswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi yang berbeda dibandingkan ketika masih tinggal bersama orang tua. Pengalaman hidup sendiri juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar mengatur kebutuhan pribadi, menentukan cara menghadapi berbagai situasi yang muncul, serta menyesuaikan kebiasaan dengan tuntutan kehidupan selama berada di perantauan.
Proses tersebut dapat dianalisis melalui dimensi nondependency dalam kemandirian emosional yang dikemukakan oleh Steinberg (2014) [2]. Nondependency berkaitan dengan kemampuan individu untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua dalam menghadapi persoalan dan menjalani kehidupannya. Dalam konteks penelitian ini, keterpisahan dari orang tua membuat mahasiswa perlu mengambil alih berbagai tanggung jawab yang sebelumnya lebih banyak dilakukan atau dibantu oleh orang tua. Pengalaman P2 dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari menunjukkan bahwa kehidupan di perantauan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mulai menjalankan tanggung jawab tersebut secara lebih mandiri.
Namun, perkembangan nondependency tidak berarti bahwa mahasiswa sepenuhnya terlepas dari dukungan orang tua. Mahasiswa masih dapat berkomunikasi dengan orang tua, meminta pendapat, maupun memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan. Perbedaannya terlihat dari semakin besarnya tanggung jawab mahasiswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, proses adaptasi yang dialami mahasiswa perantau dapat menjadi pengalaman yang mendorong berkurangnya ketergantungan terhadap kehadiran langsung orang tua, sekaligus memberikan ruang bagi berkembangnya kemampuan mahasiswa dalam mengelola kehidupannya sendiri.
Selain nondependency, pengalaman beradaptasi dengan lingkungan baru juga dapat dikaitkan dengan individuation. Ketika tinggal jauh dari orang tua, mahasiswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melihat dirinya sebagai individu yang memiliki tanggung jawab dan kemampuan dalam menentukan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai keputusan yang sebelumnya dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga mulai perlu dipertimbangkan dan ditentukan sendiri. Meskipun proses tersebut berlangsung secara bertahap, pengalaman ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenali kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai tuntutan kehidupan [14].
Dengan demikian, proses adaptasi mahasiswa perantau bukan hanya berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan baru, tetapi juga menjadi pengalaman yang mendorong perubahan dalam cara mahasiswa menjalankan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Keterpisahan dari orang tua membuat mahasiswa berhadapan dengan berbagai kebutuhan dan situasi yang perlu diatasi secara lebih mandiri. Dalam perspektif Steinberg (2014), pengalaman tersebut menunjukkan berkembangnya nondependency sekaligus memberikan ruang bagi munculnya individuation. Proses adaptasi tersebut kemudian menjadi salah satu pengalaman penting dalam perkembangan kemandirian emosional mahasiswa selama menjalani kehidupan jauh dari orang tua.
C.Perubahan Relasi dengan Orang Tua
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman tinggal jauh dari orang tua turut membawa perubahan dalam hubungan antara mahasiswa dan orang tua. Perubahan tersebut tidak berarti bahwa hubungan emosional menjadi terputus, tetapi lebih pada adanya penyesuaian dalam pola komunikasi, bentuk dukungan, serta keterlibatan orang tua dalam kehidupan mahasiswa. Ketika masih tinggal bersama keluarga, orang tua dapat memberikan perhatian dan bantuan secara langsung karena berada di lingkungan yang sama. Namun, setelah mahasiswa tinggal di perantauan, keterlibatan orang tua lebih banyak dilakukan melalui komunikasi dan pemberian dukungan dari jarak jauh. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mulai menjalankan berbagai tanggung jawab secara lebih mandiri, sementara hubungan emosional dengan orang tua tetap dipertahankan.
Salah satu perubahan yang terlihat adalah adanya pergeseran bentuk dukungan orang tua, dari keterlibatan secara langsung menjadi dukungan yang diberikan melalui komunikasi. P2 menceritakan bahwa ketika mengalami kesulitan dalam mengatur pola makan selama tinggal sendiri, dirinya masih berkomunikasi dengan orang tua dan menyampaikan kesulitan yang dialaminya. Orang tua kemudian memberikan pengingat bahwa P2 perlu mulai mampu mengatur pola makan sendiri karena mereka tidak lagi dapat mengawasi dan memberikan perhatian secara langsung seperti ketika berada di rumah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa meskipun orang tua masih memberikan perhatian, tanggung jawab untuk mengatur kebutuhan sehari-hari mulai beralih kepada mahasiswa.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa jarak fisik tidak secara langsung mengurangi kedekatan emosional antara mahasiswa dan orang tua. Mahasiswa masih dapat menceritakan pengalaman dan kesulitan yang dialami kepada orang tua, serta memperoleh nasihat atau dukungan ketika membutuhkannya. Namun, bentuk dukungan yang diterima tidak lagi selalu berupa bantuan secara langsung. Mahasiswa perlu menerapkan sendiri nasihat yang diberikan dan menghadapi berbagai situasi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kehidupan perantauan membuat mahasiswa mulai mengalami perubahan dalam cara menerima dan memanfaatkan dukungan dari orang tua.
Dalam perspektif Steinberg (2014), perubahan tersebut dapat dianalisis melalui dimensi nondependency. Nondepedency berkaitan dengan kemampuan individu untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua dalam menghadapi persoalan dan menjalani kehidupan. Dalam konteks penelitian ini, mahasiswa masih dapat meminta pendapat atau memperoleh dukungan dari orang tua, tetapi tidak selalu menjadikan orang tua sebagai pihak yang harus menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Pengalaman P2 menunjukkan bahwa orang tua masih berperan dalam memberikan pengingat mengenai pola makan, tetapi tanggung jawab untuk mengatur dan menjalankannya tetap berada pada P2. Kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari proses berkurangnya ketergantungan mahasiswa terhadap bantuan langsung dari orang tua.
Selain nondependency, perubahan hubungan tersebut juga dapat dikaitkan dengan dimensi parents as people. Steinberg (2014) menjelaskan bahwa dimensi ini berkaitan dengan kemampuan individu untuk memandang orang tua sebagai individu yang juga memiliki kehidupan, kebutuhan, dan keterbatasan sendiri [2]. Ketika tinggal jauh dari orang tua, mahasiswa secara langsung mengalami kondisi ketika orang tua tidak selalu dapat hadir saat dibutuhkan. Keterbatasan jarak membuat bantuan yang sebelumnya dapat diberikan secara langsung berubah menjadi dukungan melalui komunikasi. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa orang tua juga memiliki keterbatasan dalam keterlibatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tersebut juga berkaitan dengan dimensi de-idealization, yaitu perubahan cara pandang terhadap orang tua menjadi lebih realistis. Mahasiswa mulai memahami bahwa orang tua tidak selalu dapat hadir, membantu, atau memberikan solusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi. Namun, perubahan cara pandang tersebut tidak harus ditunjukkan melalui penolakan atau konflik dengan orang tua. Dalam penelitian ini, proses tersebut dapat terlihat dari penerimaan mahasiswa bahwa terdapat situasi tertentu yang perlu dihadapi sendiri karena orang tua tidak dapat memberikan bantuan secara langsung. Dengan demikian, mahasiswa mulai melihat hubungan dengan orang tua dalam konteks yang lebih realistis sesuai dengan kondisi kehidupannya [15].
Meskipun demikian, temuan penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kemandirian tidak membuat mahasiswa sepenuhnya melepaskan dukungan dari orang tua. Komunikasi tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan hubungan tersebut. Mahasiswa masih dapat bercerita mengenai pengalaman yang dialami, meminta masukan, maupun memperoleh dukungan emosional ketika menghadapi kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian emosional tidak identik dengan semakin jauhnya hubungan mahasiswa dengan orang tua. Sebaliknya, mahasiswa mulai belajar mempertahankan kedekatan emosional sambil secara bersamaan mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap kehidupannya sendiri.
Perubahan tersebut memperlihatkan adanya penyesuaian dalam posisi mahasiswa dalam relasi dengan orang tua. Ketika masih tinggal bersama, orang tua memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengetahui kondisi mahasiswa dan memberikan bantuan secara langsung. Setelah merantau, mahasiswa memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan bagaimana kebutuhan dan persoalan dalam kehidupannya akan dihadapi. Orang tua tetap menjadi sumber pertimbangan dan dukungan, tetapi mahasiswa mulai memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menentukan dan menjalankan tindakannya sendiri [16].
Dengan demikian, perubahan relasi dengan orang tua pada mahasiswa perantau menunjukkan adanya pergeseran dari hubungan yang sebelumnya banyak ditandai oleh kehadiran dan bantuan langsung menuju hubungan yang tetap dekat secara emosional, tetapi memberikan ruang yang lebih besar bagi kemandirian mahasiswa. Melalui nondependency, mahasiswa mulai mengurangi ketergantungan terhadap bantuan langsung dari orang tua. Melalui parents as people, mahasiswa mulai memahami keterbatasan dan kehidupan orang tua di luar perannya sebagai orang tua. Sementara itu, de-idealization terlihat dari berkembangnya pemahaman yang lebih realistis bahwa orang tua tidak selalu dapat hadir atau menyelesaikan setiap persoalan. Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman tinggal jauh dari orang tua dapat menjadi konteks bagi mahasiswa untuk membangun hubungan yang lebih seimbang dengan orang tua tanpa harus kehilangan kedekatan emosional dengan mereka [17].
D.Perkembangan Kemandirian Emosional Mahasiswa Perantau
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman tinggal jauh dari orang tua memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemandirian emosional. Perkembangan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi terbentuk melalui berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan di perantauan. Mahasiswa mulai belajar mengurus kebutuhan pribadi, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, mengelola kondisi emosional, serta menjalankan tanggung jawab tanpa kehadiran langsung orang tua. Meskipun demikian, perkembangan kemandirian tersebut tidak membuat mahasiswa sepenuhnya melepaskan hubungan maupun dukungan dari orang tua.
Pengalaman P2 menunjukkan adanya perubahan dalam cara menjalani kehidupan setelah tinggal jauh dari orang tua. P2 menjelaskan bahwa ketika masih berada di rumah, berbagai kebutuhan seperti makanan dan pakaian telah disiapkan oleh orang tua. Namun, ketika mulai hidup sendiri, kebutuhan tersebut perlu diurus oleh dirinya sendiri. P2 mengatakan, “Itu adalah perihal kalau kita biasanya di rumah apa-apa itu sudah disiapkan, baik itu dari segi makanan, kemudian pakaian, dan seterusnya. Namun ketika awal-awal saya mulai belajar untuk hidup sendiri...” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan perantauan memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk mengambil alih tanggung jawab yang sebelumnya banyak dibantu oleh orang tua.
Perubahan tersebut menjadi salah satu bentuk perkembangan nondependency dalam kemandirian emosional menurut Steinberg (2014) [2]. Nondependency berkaitan dengan kemampuan individu untuk menjalani kehidupan dan menghadapi persoalan tanpa terus-menerus bergantung kepada orang tua. Dalam pengalaman P2, kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya dipenuhi dalam lingkungan keluarga mulai menjadi tanggung jawab pribadi setelah tinggal sendiri. Kondisi tersebut menunjukkan adanya proses pergeseran tanggung jawab dari orang tua kepada mahasiswa.
Namun, kemandirian yang berkembang tidak berarti bahwa mahasiswa harus melakukan segala sesuatu tanpa bantuan dari orang lain. P2 masih berkomunikasi dengan orang tua ketika menghadapi kesulitan, salah satunya berkaitan dengan pengaturan pola makan. Orang tua tetap memberikan perhatian dan pengingat, tetapi P2 perlu menerapkan dan menjalankan pengaturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih dapat memperoleh dukungan dari orang tua sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
Selain nondependency, pengalaman tersebut juga dapat dikaitkan dengan individuation. Steinberg (2014) menjelaskan individuation sebagai proses ketika individu mulai melihat dirinya sebagai pribadi yang memiliki pemikiran, kemampuan, dan tanggung jawab sendiri [2]. Kehidupan jauh dari orang tua memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menghadapi situasi yang tidak selalu berada di bawah pengawasan langsung keluarga. Mahasiswa perlu menentukan tindakan, memenuhi berbagai kebutuhan, serta menghadapi konsekuensi dari pilihan yang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.
Proses individuation juga terlihat melalui pengalaman mahasiswa ketika menghadapi berbagai situasi tanpa selalu dapat mengandalkan kehadiran orang tua. Pada awal perantauan, P1, misalnya, merasakan ketakutan ketika berada seorang diri, terutama pada malam hari, meskipun pada saat yang sama juga merasakan antusiasme terhadap pengalaman baru. P1 mengatakan, “Pertama ngerantau itu aku takut tapi excited jadi satu sisi rasa takutku itu muncul kalau malam atau kalau pas aku lagi sendiri lah di kamar, tapi at the same time aku juga excited...” Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa mulai berhadapan secara langsung dengan situasi yang sebelumnya mungkin lebih banyak dijalani dalam lingkungan keluarga.
Perkembangan kemandirian emosional juga terlihat dari kemampuan mahasiswa dalam menghadapi emosi yang muncul selama menjalani kehidupan di perantauan. P4 mengalami homesick pada masa awal setelah tinggal jauh dari orang tua dan pada saat yang sama mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan. P4 mengatakan, “Tapi waktu ditinggal tuh kayak lebih ke homesick sih tepatnya kayak seminggu, apalagi sulit juga beradaptasi di farmasi waktu awal-awal perkuliahan.” Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses menjadi mandiri secara emosional tidak ditandai dengan hilangnya rasa rindu terhadap orang tua. Sebaliknya, kemampuan untuk menghadapi rasa rindu dan tetap menjalankan kehidupan di lingkungan perantauan menjadi bagian dari proses belajar dalam menghadapi kondisi emosional secara lebih mandiri.
Hal tersebut sejalan dengan pemahaman bahwa kemandirian emosional tidak sama dengan keterpisahan emosional dari orang tua. Mahasiswa masih dapat merasa rindu, membutuhkan dukungan, maupun berkomunikasi dengan orang tua ketika menghadapi kesulitan. Perbedaannya terletak pada kemampuan mahasiswa untuk tetap menjalankan kehidupannya meskipun orang tua tidak hadir secara langsung. Dengan demikian, dukungan orang tua dan kemandirian emosional dapat berjalan secara bersamaan karena mahasiswa mulai mampu menjalani kehidupannya secara lebih mandiri tanpa harus menghilangkan hubungan emosional dengan orang tua [18].
Perubahan tersebut juga dapat dipahami melalui dimensi parents as people. Setelah tinggal jauh dari orang tua, mahasiswa mulai mengalami kondisi bahwa orang tua tidak selalu dapat hadir secara langsung dalam berbagai situasi. Orang tua tetap memiliki kehidupan, aktivitas, serta keterbatasan masing-masing. Kondisi tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami orang tua tidak hanya sebagai pihak yang memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga sebagai individu yang memiliki keterbatasan dalam memberikan bantuan secara langsung.
Selanjutnya, pengalaman tersebut berkaitan dengan dimensi de-idealization, yaitu berkembangnya pandangan yang lebih realistis terhadap orang tua. Kehidupan perantauan membuat mahasiswa mengalami secara langsung bahwa orang tua tidak selalu dapat hadir, membantu, atau menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Namun, proses tersebut tidak harus muncul dalam bentuk konflik atau penolakan terhadap orang tua. Pemahaman bahwa terdapat persoalan yang perlu dihadapi sendiri dapat menjadi bagian dari perubahan cara mahasiswa memandang peran dan kemampuan orang tua [19].
Dalam konteks lokal Kabupaten Sintang, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keterpisahan dari keluarga bukan hanya menjadi konsekuensi pendidikan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kemampuan diri di luar lingkungan asal. Pengalaman meninggalkan keluarga dan menghadapi lingkungan baru dapat memperkuat proses belajar mengambil keputusan, mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Hal ini menjadi karakteristik penting dalam memahami perkembangan kemandirian emosional mahasiswa asal Sintang yang menjalani pendidikan di luar daerah.
Jika dilihat secara keseluruhan, keempat dimensi kemandirian emosional Steinberg (2014) saling berkaitan dalam pengalaman mahasiswa perantau [2]. Nondependency terlihat melalui berkurangnya ketergantungan terhadap bantuan langsung dari orang tua, sedangkan individuation berkaitan dengan semakin besarnya ruang bagi mahasiswa untuk mengambil tanggung jawab dan menentukan tindakan bagi dirinya sendiri. Sementara itu, parents as people dan de-idealization berkaitan dengan perubahan cara mahasiswa memahami orang tua secara lebih realistis, termasuk memahami keterbatasan orang tua dalam memberikan bantuan secara langsung.
Dengan demikian, perkembangan kemandirian emosional mahasiswa perantau merupakan proses bertahap yang terbentuk melalui pengalaman hidup jauh dari orang tua. Mahasiswa belajar mengurus kebutuhan sendiri, menghadapi berbagai kondisi emosional, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap kehidupannya, sementara hubungan emosional dengan orang tua tetap dipertahankan. Oleh karena itu, tinggal jauh dari orang tua tidak menjadikan mahasiswa sepenuhnya terlepas dari keluarga, tetapi memberikan ruang bagi terbentuknya hubungan yang lebih seimbang, di mana mahasiswa semakin mampu berdiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri tanpa kehilangan dukungan emosional dari orang tua [20].
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian emosional pada mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua terbentuk melalui proses yang berlangsung secara bertahap. Kehidupan di perantauan membuat mahasiswa menghadapi situasi yang menuntut mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri, serta mengelola kondisi emosional yang dialami. Perasaan seperti rindu terhadap keluarga, rasa takut, kekhawatiran, maupun kesulitan dalam menyesuaikan diri menjadi bagian dari pengalaman yang turut mendorong proses perkembangan tersebut.
Kemandirian emosional terlihat dari kemampuan mahasiswa dalam menentukan pilihan dan menyelesaikan berbagai permasalahan sehari-hari tanpa harus selalu meminta bantuan atau bergantung pada orang tua. Seiring dengan pengalaman hidup di perantauan, mahasiswa juga mulai melihat orang tua sebagai individu yang memiliki kebutuhan, aktivitas, dan kehidupannya sendiri. Pemahaman tersebut membantu mahasiswa membangun hubungan yang lebih seimbang dengan orang tua tanpa harus menghilangkan kedekatan emosional yang telah terjalin. Dengan demikian, menjadi mandiri secara emosional bukan berarti menjauh atau melepaskan keterikatan dengan orang tua, tetapi menunjukkan kemampuan untuk menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai situasi secara lebih mandiri dengan tetap memperoleh dukungan emosional dari keluarga.
Tinggal terpisah dari orang tua untuk memenuhi tuntutan pendidikan menjadi pengalaman yang dapat mendukung terbentuknya kemandirian emosional mahasiswa perantau. Proses tersebut berkembang melalui pengalaman beradaptasi, kemampuan mengelola berbagai emosi, keberanian dalam memperoleh sebuah keputusan, serta meningkatnya tanggung jawab terhadap kebutuhan dan kehidupan pribadi. Di samping itu, komunikasi dan dukungan yang terus diberikan oleh orang tua turut menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Oleh sebab itu, kemandirian emosional mahasiswa perantau tidak hanya berkaitan dengan kemampuan untuk hidup secara mandiri, tetapi juga dengan kemampuan mempertahankan hubungan emosional yang tetap dekat dengan orang tua. Temuan penelitian ini tercermin dalam empat dimensi kemandirian emosional, yaitu nondependency melalui berkurangnya ketergantungan pada bantuan langsung orang tua, individuation melalui kemampuan menentukan dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri, parents as people melalui pemahaman terhadap kehidupan dan keterbatasan orang tua, serta de-idealization melalui pandangan yang lebih realistis terhadap orang tua.
Secara praktis, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan dari perguruan tinggi dan orang tua dalam membantu mahasiswa perantau mengembangkan kemandirian emosional. Perguruan tinggi dapat menyediakan layanan pendampingan dan kegiatan adaptasi bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, sedangkan orang tua dapat memberikan dukungan emosional melalui komunikasi yang konsisten tanpa terlalu membatasi kemandirian mahasiswa dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya para partisipan yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi pengalaman. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa perantau dalam memahami dan mengembangkan kemandirian emosional, serta menjadi masukan bagi orang tua dan lembaga pendidikan dalam memberikan dukungan psikologis dan sosial selama mahasiswa menjalani pendidikan jauh dari keluarga.
C. Saarni, The Development of Emotional Competence. Guilford Publications, 1999.
L. D. Steinberg, Adolescence. McGraw-Hill, 2014.
W. S. Grolnick, The Psychology of Parental Control: How Well-Meant Parenting Backfires. L. Erlbaum Associates, 2003.
A. N. Husna and E. Wungu, “Kemandirian emosional pada remaja awal: Studi di SMPN 1 Margaasih Kabupaten Bandung,” JPSP: Jurnal Psikologi Sains dan Profesi, vol. 2, no. 3, pp. 222–228, 2018, [https://doi.org/10.24198/jpsp.v2i3.21599].
N. Ikrima and R. N. Khoirunnisa, “Hubungan antara attachment (kelekatan) orang tua dengan kemandirian emosional pada remaja jalanan,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 8, no. 9, pp. 37–47, 2021, [https://doi.org/10.26740/cjpp.v8i9.41918].
J. W. Santrock, A Topical Approach to Lifespan Development. McGraw-Hill Education, 2017.
J. J. Arnett, Ed., The Oxford Handbook of Emerging Adulthood. Oxford University Press, 2016.
F. Fasrin, N. Fakhri, and P. Kusuma, “Kelekatan orangtua dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau,” Jurnal Talenta Mahasiswa, vol. 3, no. 4, pp. 64–69, 2024, [https://doi.org/10.26858/jtm.v3i4.59233].
M. S. Gunandar and M. S. Utami, “Hubungan antara dukungan sosial orang tua dengan penyesuaian diri mahasiswa baru yang merantau,” Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP), vol. 3, no. 2, pp. 98–109, 2017, [https://doi.org/10.22146/gamajop.43441].
J. Kruse and S. Walper, “Types of individuation in relation to parents: Predictors and outcomes,” International Journal of Behavioral Development, vol. 32, no. 5, pp. 390–400, 2008, [https://doi.org/10.1177/0165025408093657].
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. SAGE Publications, 2014.
C. N. Ahmat, R. Fauzia, and M. U. Tanau, “Peran pola asuh otoritatif terhadap kemandirian emosional pada remaja di SMAN 1 Tebing Tinggi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan,” Jurnal Kognisia, vol. 5, no. 2, pp. 134–139, 2022, [https://doi.org/10.20527/kognisia.2022.010.006].
F. N. Islami, V. Zulfa, and M. Faesal, “Pengaruh dukungan sosial keluarga terhadap kemampuan adaptasi mahasiswa rantau di Universitas Negeri Jakarta,” JKKP: Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan, vol. 12, no. 1, pp. 27–38, 2025, [https://doi.org/10.21009/JKKP.121.03].
S. D. Lamborn and L. Steinberg, “Emotional autonomy redux: Revisiting Ryan and Lynch,” Child Development, vol. 64, no. 2, pp. 483–499, 1993, [https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.1993.tb02923.x].
W. Meeus, J. Iedema, G. Maassen, and R. Engels, “Separation-individuation revisited: On the interplay of parent-adolescent relations, identity and emotional adjustment in adolescence,” Journal of Adolescence, vol. 28, no. 1, pp. 89–106, 2005, [https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2004.07.003].
A. Nuralisa, Machmuroch, and S. Astriana, “Hubungan antara adversity quotient dan dukungan sosial teman sebaya dengan penyesuaian diri mahasiswa perantauan tahun pertama Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta,”Wacana, vol. 8, no. 2, [n.d.], [https://doi.org/10.13057/wacana.v8i2.96].
J. J. Arnett, Emerging Adulthood: The Winding Road from the Late Teens Through the Twenties. Oxford University Press, 2014.
J. R. Paratore and D. A. Robertson, Talk That Teaches: Using Strategic Talk to Help Students Achieve the Common Core. Guilford Publications, 2013.
L. Steinberg and S. B. Silverberg, “The vicissitudes of autonomy in early adolescence,” Child Development, vol. 57, no. 4, pp. 841–851, 1986, [https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.1986.tb00250.x].
T. Supri, M. Widyastuti, A. Y. Salsabila, and M. Widjanarko, “Dukungan sosial dan religiusitas dalam penyesuaian diri mahasiswa perantau,” Jurnal Psikologi Perseptual, vol. 9, no. 2, pp. 258–271, 2024, [https://doi.org/10.24176/perseptual.v9i2.13607].