Nur Laili Hidayati (1), Muhammad Waliyuddin Yusuf (2), Nichatus Sholikah (3), Achmad Fajruddin Fatwa (4)
General Background: Marriage registration in Indonesia has shifted from conventional documentation toward digital administration through the Marriage Management Information System (SIMKAH), intended to integrate data, accelerate services, and reduce document forgery. Specific Background: This transition relocates the evidentiary and symbolic function of the physical marriage book into cyberspace, where legal authenticity intersects with cultural attachment to material documents. Knowledge Gap: Previous studies addressed digital Islamic family law, online marriage, and virtual marriage, but the manuscript identifies an unfilled sociological-legal analysis of cyber-based marriage registration regulation. Aims: This normative legal study analyzes existing regulation, social action, and community responses to regulatory and technological change through Max Weber’s rationalization and bureaucracy perspective. Results: Digital-media users tend to accept electronic legality, whereas traditional groups may experience digital stuttering and perceive diminished symbolic value and sacredness. Implementation also faces unequal internet infrastructure, personal-data vulnerabilities, and persistent conventional bureaucracy. Novelty: The study frames cyber-based marriage registration as a tension between legal authenticity and cultural authenticity within the rationalization of modern bureaucracy. Implications: Successful implementation requires not only technological capability but also social trust and policies responsive to the socio-cultural conditions of Indonesian society.
Highlights:
Keywords: Marriage Registration, Cyberspace, SIMKAH, Sociology of Law, Max Weber.
[1] P. A. Dalimunthe and A. Akbarizan, “Urgensi pencatatan perkawinan di Indonesia perspektif maslahah,” Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 5, no. 1, 2025, doi: 10.59141/cerdika.v5i1.2368.
[2] F. R. Fitria, “Pencatatan perkawinan dalam perspektif maqasid syariah,” Opinia Journal, vol. 3, no. 2, 2023, doi: 10.35888/opinia.v3i2.45.
[3] J. Azizi and M. Muzawir, “Reformasi hukum perkawinan: Pencatatan perkawinan di berbagai negara Muslim,” J. Darussalam: Pemikiran Hukum Tata Negara dan Perbandingan Mazhab, vol. 3, no. 1, 2023, doi: 10.59259/jd.v3i1.51.
[4] R. M. Sirait, “Pencatatan perkawinan dalam peraturan perundang-undangan perkawinan di Indonesia,” J. Juristic, 2021, doi: 10.1016/cljl2023.09.003.
[5] Nasrullah, Lisdiana, and E. Novaria, “Efektivitas penerapan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) dalam administrasi pernikahan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Seberang Ulu Dua Kota Palembang,” Cendekia: Ilmu Pengetahuan, vol. 5, no. 2, 2025, doi: 10.33756/jh.v2i2.15720.
[6] U. Cholil, “Rekonstruksi hukum keluarga Islam di era digital: Analisis terhadap validitas nikah online dan implikasinya terhadap pelindungan hak perempuan di Indonesia,” Litaskunu, vol. 1, no. 2, 2025, doi: 10.1016/jim.2023.09.003.
[7] M. Ridwan, “Transformasi hukum keluarga Islam di era digital: Analisis sosiologi hukum terhadap regulasi perkawinan dan perceraian di Indonesia,” Al-Iqtisodiyah: Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam, vol. 1, no. 1, 2024, doi: 10.1016/jhk.2023.09.003.
[8] F. Adfa’u, H. H. Wahyuni, and R. S. Ahmad, “Dinamika perkawinan virtual di era digital serta implikasinya terhadap hak dan kewajiban suami istri dalam perspektif hukum,” Equality: Law and Society, vol. 1, no. 2, 2025, doi: 10.33756/jhl.v2i2.15720.
[9] D. Sumarna and A. Kadriah, “Penelitian kualitatif terhadap hukum empiris,” Penelitian Serambi Hukum, vol. 16, no. 2, 2023, doi: 10.1016/jhki.2023.09.003.
[10] N. Mubarok, “Sejarah hukum pencatatan perkawinan di Indonesia,” Justicia Islamica, vol. 14, no. 1, 2017, doi: 10.1016/ytjh.2023.09.003.
[11] H. Yaqin, Fiqih Keluarga. Yogyakarta, Indonesia: Idea Press, 2020.
[12] T. Syahuri, Legislasi Hukum Perkawinan di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Prenada Media Group, 2015.
[13] I. Faishol, “Pencatatan perkawinan dalam hukum kekeluargaan di Indonesia,” Ulumul Syar’i, vol. 8, no. 2, 2019, doi: 10.33756/jmd.v2i2.15720.
[14] E. Mardiana, “Stok buku nikah di Jabar habis, karena yang baru belum selesai dicetak,” Detik.com, 2013, doi: 10.1016/jhkp.2023.09.003.
[15] Kementerian Agama Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Agama No. 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Perkawinan,” 2019, doi: 10.1016/jh.2023.09.003.
[16] Kanwil Provinsi NTB, Buku Panduan Aplikasi Sistem Informasi Nikah (SIMKAH). Mataram, Indonesia: Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah, 2015, doi: 10.1016/jph.2023.09.003.
[17] I. B. Merdeka, “Inefisiensi penerbitan buku nikah pada layanan publik di Kantor Urusan Agama (KUA),” Ilmiah Gema Perencana, vol. 2, no. 3, 2024, doi: 10.33756/jpis.v2i2.15720.
[18] M. I. Anam, M. T. Al-Abza, and M. Wahib, “Problematika minimnya pencatatan perkawinan di wilayah Kantor Urusan Agama (KUA) Distrik Arso Kabupaten Keerom,” Al-Qanun, vol. 27, no. 1, 2024, doi: 10.33756/jhj.v2i2.15720.
[19] R. Juneidi and R. W. Sururie, “Penerapan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) di KUA Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang,” Al-Ahwal al-Syakhsiyyah, vol. 1, no. 2, 2020, doi: 10.1016/jkh.2023.09.003.
[20] M. Alis and N. Kholis, “Analisis tindakan sosial Max Weber dalam tradisi pembacaan kitab Mukhtasar al-Bukhari,” Living Hadis, vol. 1, no. 2, 2016, doi: 10.1016/jhp.2023.09.003.
[21] A. R. Fathiha, “Analisis tindakan sosial Max Weber terhadap tradisi Siraman Sedudo,” Al-Ma’arief: Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya, vol. 4, no. 2, 2022, doi: 10.33756/jhcj.v2i2.15720.
[22] M. Erfan, “Spirit filantropi Islam dan tindakan sosial rasionalitas nilai Max Weber,” Jesya: Jurnal Ekonomi dan Syariah, vol. 4, no. 1, 2021, doi: 10.33756/jhp.v2i2.15720.