Login
Section Innovation in Education

Innovation Of Instructional Environments Shaping Parental Elementary School Choice


Inovasi Lingkungan Pembelajaran Dalam Membentuk Keputusan Orang Tua Memilih Sekolah Dasar
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Wahyu Lestari (1), Ida Rindaningsih (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Modern elementary education increasingly integrates diverse instructional environments to fulfill students' developmental needs and create meaningful learning experiences. Specific Background SD Muhammadiyah Bangil implemented both structured indoor learning methodologies and varied outdoor learning programs, which coincided with a significant increase in new student enrollment. Knowledge Gap Although previous studies frequently explore the outcomes of instructional settings on student motivation, quantitative research specifically analyzing these environments as direct determinants of parents' decision-making processes when selecting schools remains highly limited. Aims This study analyzes the partial and simultaneous role of indoor learning and outdoor learning on parents' decisions in choosing SD Muhammadiyah Bangil. Results A quantitative ex post facto causal explanatory design using simple random sampling on ninety prospective parents revealed that outdoor learning exerted a positive and significant role. In contrast, indoor learning had no significant independent role. However, analyzed simultaneously, both variables significantly affected parental decisions, contributing 13.4% to the variance, while 86.6% was attributed to external factors not examined in this model. Novelty This research distinctly positions instructional environments—specifically the contrast between indoor and outdoor learning—as critical marketing and perceptual components dictating consumer choice in education. Implications Educational institutions must strategically develop and promote experiential outdoor learning programs as a primary competitive advantage to attract prospective parents while maintaining high-quality indoor instructional standards.


Highlights:




  • Outdoor learning significantly and positively dictates parents' decisions when selecting an elementary school.




  • Indoor learning, when analyzed independently, does not significantly alter parental school choice preferences.




  • Combined instructional environments contribute 13.4% to the overall variance in parental decision-making.




Keywords: Outdoor Learning, Indoor Learning, Parental Decisions, Educational Innovation, Elementary Schools

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Lingkungan belajar bagi siswa sekolah dasar selazimnya memperhatikan pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik dan memperhatikan hubungan antara lingkungan di sekolah, di rumah, masyarakat, dan lingkungan pembelajaran[1]. Kebutuhan pembelajaran tersebut bisa dikembangkan melalui program pembelajaran indoor dan outdoor learning untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Pembelajaran indoor adalah sebuah proses yang berlangsung di dalam kelas dengan memanfaatkan berbagai media dan strategi pembelajaran terstruktur untuk mencapai tujuan akademik secara optimal [2]. Sementara itu, pembelajaran outdoor lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan sehingga mampu meningkatkan keterlibatan dan pengalaman nyata dalam pembelajaran [3]. Integrasi kedua program tersebut yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik tetapi juga pengembangan minat dan pengalaman belajar siswa secara menyeluruh, menjadi ciri khas sekolah dasar modern saat ini [4].

Program indoor learning di sekolah dasar umumnya meliputi penggunaan metode pembelajaran variatif seperti diskusi, project-based learning, serta pemanfaatan media digital untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di dalam kelas. Slavin Robert mengatakan bahwa pembelajaran di kelas (indoor) akan efektif jika (a) siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, (b) ada interaksi dalam kelas, (c) menggunakan strategi pembelajaran dan (d) melakukan evaluasi hasil belajar [5]. Penelitian di SD Swasta Don Bosco, Sumatera Utara membuktikan bahwa metode pembelajaran diskusi sebagai salah satu pembelajaran indoor mampu meningkatkan keaktifan, kepercayaan diri, serta interaksi sosial siswa sekolah dasar sehingga menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan partisipatif [6]. Selain itu, penelitian luar yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri IP, Canoas, Brazil menunjukkan bahwasannya penerapan project-based learning sebagai salah satu pembelajaran indoor menunjukkan peningkatan keterlibatan dan motivasi belajar siswa, hal ini karena siswa terlibat langsung dalam proses pemecahan masalah dan kegiatan proyek yang kontekstual [7].

Program outdoor learning di sekolah dasar umumnya diwujudkan melalui kegiatan seperti outing class, field trip, pembelajaran berbasis lingkungan, serta praktik langsung di luar kelas yang mengaitkan materi dengan kondisi nyata[8][9]. Penelitian di Scots College, Sydney, Australia menunjukkan bahwa kegiatan outdoor learning mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa karena memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan menyenangkan di sekolah tersebut [10]. Penerapan outdoor learning dalam projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) di SD Muhammadiyah 11 Surabaya terbukti juga efektif dalam meningkatkan kemandirian siswa [11]. Menurut Simon, Outdoor learning lebih menekankan pengalaman nyata dan tantangan yaitu melalui (a)Interaksi manusia dengan alam, (b) Aktivitas langsung di lingkungan dan (c) Pembelajaran berbasis petualangan[12].

Pada umumnya, pembelajaran di sekolah dasar masih didominasi oleh kegiatan indoor learning atau pembelajaran di dalam kelas, sementara pemanfaatan outdoor learning belum dilakukan secara optimal dalam proses pembelajaran sehari-hari[13][14]. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang mengintegrasikan program indoor dan outdoor learning mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif dan berdampak positif terhadap perkembangan siswa[15][16]. Tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga turut berperan strategis dalam memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih sekolah, karena kedua pendekatan tersebut mencerminkan kualitas ideal proses pendidikan yang ditawarkan oleh lembaga [2][17].

Persepsi pentingnya indoor dan outdoor learning menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses pengambilan keputusan, di mana orang tua cenderung memilih sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi anak secara menyeluruh [18]. Keputusan orang tua dalam memilih sekolah merupakan suatu proses yang dapat dianalisis menggunakan konsep perilaku konsumen. Menurut Philip Kotler (2021), proses pengambilan keputusan meliputi beberapa tahapan, yaitu (a)pengenalan kebutuhan, (b)pencarian informasi, (c)evaluasi alternatif, (d)keputusan pembelian, dan (e) perilaku pasca pembelian[19]. Dalam konteks pendidikan, tahapan tersebut dapat diadaptasi sebagai proses orang tua dalam menentukan pilihan sekolah bagi anaknya, sehingga indikator tersebut relevan digunakan untuk mengukur variabel keputusan orang tua dalam penelitian ini. Namun demikian, penelitian terkait indoor dan outdoor learning telah banyak dilakukan, sebagian besar berfokus pada motivasi belajar siswa, sementara kajian mengenai pengaruhnya terhadap keputusan orang tua dalam memilih sekolah masih terbatas.

SD Muhammadiyah Bangil telah menerapkan program indoor dan outdoor learning sejak tahun 2008 sebagai bentuk inovasi pembelajaran. Indoor learning dilaksanakan secara kreatif dengan menggunakan berbagai media inovatif serta metode pembelajaran yang variatif. Beberapa kegiatan indoor learning tahunan yaitu Science Day, Outsourching, Tugas Akhir, STEM Week dan Creative Festival. Outdoor learning di sekolah tersebut juga sangat bervariatif mulai dari program field trip, outbound learning, Assembly, Al-Ma’un, dan Sister Study. Sebelum program tersebut diterapkan, jumlah peserta didik mengalami penurunan signifikan yaitu 16 siswa baru pada tahun pelajaran 2006/2007. Setelah integrasi kedua pembelajaran tersebut, jumlah pendaftar berangsur mulai meningkat secara konsisten hingga mencapai 108 siswa baru pada tahun pelajaran 2025/2026, sekaligus diikuti dengan pengakuan sebagai Sekolah Unggul Madya dan sekolah percontohan di Kabupaten Pasuruan. Fenomena ini menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa inovasi pembelajaran tidak hanya berdampak pada kualitas pendidikan, tetapi juga berpotensi memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih sekolah, sehingga perlu dikaji secara ilmiah [19].

Meskipun terjadi peningkatan jumlah peserta didik, fenomena tersebut belum dapat dijelaskan secara ilmiah apakah secara langsung dipengaruhi oleh penerapan program indoor dan outdoor learning atau oleh faktor lain seperti branding sekolah, kualitas layanan, maupun faktor eksternal. Selain itu, penelitian terdahulu cenderung berfokus pada dampak indoor dan outdoor learning terhadap motivasi belajar siswa, sementara kajian yang mengaitkannya dengan proses pengambilan keputusan orang tua dalam memilih sekolah dasar masih sangat terbatas, padahal keputusan tersebut melalui tahapan kompleks mulai dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, hingga penentuan pilihan. Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini menegaskan kebaruan dengan menempatkan pembelajaran indoor dan outdoor learning sebagai determinan langsung dalam proses keputusan orang tua, sehingga tidak hanya dipandang sebagai strategi pembelajaran, tetapi sebagai faktor pembentuk persepsi nilai dan preferensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran indoor dan outdoor learning terhadap keputusan orang tua dalam memilih sekolah dasar, baik secara parsial maupun simultan, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

II. Metode

Judul artikel, nama penulis (tanpa gelar akademis), afiliasi dan alamat afiliasi penulis ditulis rata tengah pada halaman pertama di bawah judul artikel. Jarak antar baris antara judul dan nama penulis adalah 2 spasi, sedangkan jarak antara alamat afiliasi penulis dan judul abstrak adalah 1 spasi. Kata kunci harus dituliskan di bawah teks abstrak untuk masing-masing bahasa, disusun urut abjad dan dipisahkan oleh tanda titik koma dengan jumlah kata 3-5 kata. Untuk artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia, terjemahan judul dalam bahasa Inggris dituliskan di bagian awal teks abstrak berbahasa Inggris (lihat contoh di atas).

Penulis penanggung jawab atau penulis korespondensi atau corresponding author harus ditandai dengan tanda asterisk diikuti tanda koma “*)”. Di bagian kiri bawah halaman pertama harus dituliskan tanda Penulis Korespondensi atau Corresponding Author dan dituliskan pula alamat emailnya (lihat contoh). Komunikasi tentang revisi artikel dan keputusan akhir hanya akan disampaikan melalui email penulis korespondensi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto yang bersifat eksplanatif kausal. Karena menguji pengaruh variabel indoor dan outdoor learning terhadap keputusan orang tua tanpa memberikan perlakuan langsung. Pendekatan kuantitatif dipilih karena data penelitian terdiri dari data numerik, yang dianalisis secara statistik untuk menguji pengaruh antar variabel [20]. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas, yaitu indoor learning (X1) dan outdoor learning (X2), serta satu variabel terikat yaitu keputusan orang tua (Y)

Penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah Bangil pada bulan September 2025 sampai dengan April 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah calon wali murid baru SD Muhammadiyah Bangil inden tahun ajaran 2026/2027 yang berjumlah 113 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata dalam populasi. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, diperoleh jumlah sampel sebanyak 90 responden.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran angket (kuesioner) kepada responden. Instrumen penelitian disusun berdasarkan indikator masing-masing variabel, yaitu indoor learning, outdoor learning, dan keputusan orang tua wali murid. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert dengan rentang penilaian dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Sebelum digunakan, instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan bahwa setiap butir pernyataan layak dan konsisten dalam mengukur variabel penelitian. Selanjutnya, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan statistik inferensial, yaitu analisis regresi linier berganda, untuk menentukan pengaruh indoor learning terhadap keputusan orang tua, pengaruh outdoor learning terhadap keputusan orang tua, serta pengaruh simultan indoor dan outdoor learning terhadap keputusan orang tua. Semua uji statistik dilakukan pada tingkat signifikansi α = 0,05.

Tabel 1. Indikator Variabel

Gambar 1. Hipotesis Penelitian

III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Pengaruh indoor learning terhadap keputusan orang tua

Temuan ini menyajikan hasil analisis statistik yang meneliti pengaruh antara indoor learning terhadap keputusan orang tua. Analisis ini menggunakan korelasi Pearson untuk menentukan kekuatan, arah, dan signifikansi hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil analisis ini disajikan dalam Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Kekuatan hubungan Indoor leraning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 2 menunjukkan hasil uji korelasi Pearson bahwa nilai koefisien korelasi antara pembelajaran indoor dan keputusan orang tua sebesar 0,204 dengan arah positif. Namun, nilai signifikansi sebesar 0,054 lebih besar dari taraf signifikansi (α = 0,05), sehingga secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaran indoor dengan keputusan orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kecenderungan arah hubungan positif, hubungan tersebut tidak cukup kuat untuk digeneralisasikan pada populasi. Dengan demikian, pembelajaran indoor tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan orang tua dalam memilih sekolah.

Tabel 3. Pengaruh Indoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 3 menunjukkan hasil Uji ANOVA (Uji F) yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara simultan (dalam model) berpengaruh terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,054, yang lebih besar dari taraf signifikansi α = 0,05. hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang dibangun tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, variabel indoor secara keseluruhan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan orang tua.

Tabel 4. Kontribusi Indoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 4 menunjukkan hasil analisis Model Summary, Nilai R sebesar 0,204 menunjukkan bahwa pengaruh antara variabel pembelajaran indoor dengan keputusan orang tua tergolong lemah. Hal ini sejalan dengan hasil uji korelasi sebelumnya yang juga menunjukkan pengaruh rendah. Nilai R Square sebesar 0,042 mengandung arti bahwa variabel pembelajaran indoor hanya mampu menjelaskan sebesar 4,2% variasi dalam keputusan orang tua. Dengan kata lain, sebagian besar variasi keputusan orang tua, yaitu sebesar 95,8%, dipengaruhi oleh faktor lain di luar model yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Tabel 5. Koefisien Regresi Indoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 5 menunjukkan hasil analisis regresi linear sederhana, diperoleh nilai konstanta sebesar 13,571 dan koefisien regresi variabel Indoor sebesar 0,214. Dengan demikian, persamaan regresi yang terbentuk adalah:

Y=13,571+0,214X1

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa variabel indoor learning memiliki arah pengaruh positif terhadap variabel keputusan orang tua. Artinya, setiap peningkatan satu satuan pada pembelajaran indoor akan diikuti dengan peningkatan keputusan orang tua sebesar 0,214 satuan, dengan asumsi variabel lain dianggap konstan.

Hasil uji parsial (t-test) menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,054 atau sedikit lebih tinggi dibanding batas signifikansi 0,05. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa indoor learning belum memberikan pengaruh yang kuat terhadap keputusan orang tua. Nilai beta terstandarisasi sebesar 0,204 juga menunjukkan bahwa kontribusi pembelajaran di dalam kelas terhadap keputusan tersebut masih relatif rendah. Sehingga, outdoor learning sebenarnya tidak memiliki peran besar dalam menjelaskan variasi keputusan orang tua.

Pengaruh outdoor learning terhadap keputusan orang tua

Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana untuk melihat hubungan outdoor learning dengan keputusan orang tua. Hubungan antarvariabel dianalisis melalui koefisien korelasi product moment. Dari hasil analisis yang dilakukan, outdoor learning terbukti memiliki keterkaitan yang signifikan terhadap keputusan orang tua dalam memilih sekolah.

Tabel 6. Kekuatan hubungan antara Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 6. menunjukkan bahwa hasil analisis korelasi Pearson mengindikasikan hubungan positif dan signifikan secara statistik antara outdoor learning dan keputusan orang tua. Koefisien korelasi Pearson (r = 0,366) dengan nilai signifikansi 0,000<0,05. Hal menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel adalah positif dan signifikan. Nilai koefisien berada pada kategori sedang, yang berarti peningkatan kualitas pembelajaran outdoor cenderung diikuti oleh peningkatan keputusan orang tua dalam memilih sekolah.

Tabel 7. Pengaruh Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 7 menunjukkan bahwa model regresi secara statistik signifikan berdasarkan hasil ANOVA, seperti yang ditunjukkan oleh nilai F sebesar 13,601 (p=0,000). Karena nilai p berada di bawah tingkat signifikansi (α = 0,05), model tersebut dianggap sesuai untuk menjelaskan variabel dependen.

Tabel 8. Kontribusi Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 8 menunjukkan bahwa koefisien korelasi (R) adalah 0,366, yang mengindikasikan pengaruh positif antara outdoor learning dan keputusan orang tua. Nilai R Kuadrat (R²) sebesar 0,134 menunjukkan bahwa efektivitas outdoor learning menjelaskan 13,4% varians dalam keputusan orang tua, sedangkan sisanya sebesar 86,6% disebabkan oleh faktor-faktor di luar model penelitian.

Tabel 9. Koefisien regresi untuk Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 9 menunjukkan bahwa hasil analisis regresi linier sederhana menghasilkan nilai konstanta sebesar 8,743 dan koefisien regresi untuk outdoor learning (X2) sebesar 0,469. Dengan demikian, persamaan regresi dapat dinyatakan sebagai Y = 8,743+0,469X2. Konstanta tersebut menunjukkan bahwa ketika outdoor learning bernilai nol, keputusan orang tua diprediksi sebesar 8,743. Selain itu, koefisien regresi positif (0,469) menunjukkan pengaruh positif (satu arah), yang berarti bahwa setiap peningkatan satu unit dalam outdoor learning dikaitkan dengan peningkatan 0,469 dalam keputusan orang tua.

Pengaruh Indoor dan Outdoor learning terhadap keputusan orang tua

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh simultan indoor dan outdoor learning terhadap keputusan orang tua. Kekuatan hubungan antar variabel dianalisis menggunakan koefisien korelasi dengan interpretasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa indoor dan outdoor learning secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan dengan keputusan orang tua, sehingga mendukung hipotesis pengaruh simultan.

Tabel 10. Kekuatan hubungan antara Indoor dan Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 10. menunjukkan koefisien korelasi (R) sebesar 0,366, yang mengindikasikan pengaruh positif antara variabel independen (Indoor dan Outdoor learning) dan variabel dependen (Keputusan Orang Tua). Nilai R Square sebesar 0,134 mengindikasikan bahwa sebesar 13,4% variasi dalam keputusan orang tua dapat dijelaskan oleh variabel pembelajaran indoor dan outdoor secara simultan. Sementara itu, sisanya sebesar 86,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian yang tidak diteliti. Selain itu, perubahan R Kuadrat (R Square Change) sebesar 0,134, dengan nilai F Change sebesar 6,724 dan tingkat signifikansi < 0,002, menunjukkan bahwa penambahan variabel independen ke dalam model secara signifikan meningkatkan kemampuan model untuk menjelaskan variabilitas variabel dependen. Dengan demikian, meskipun kontribusi model relatif kecil, kedua variabel independen secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan dalam menjelaskan variasi keputusan orang tua.

Tabel 11. Pengaruh Gabungan Indoor dan Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 11 menunjukkan bahwa nilai F-hitung adalah 6,724, dan nilai signifikansinya < 0,002. Hasil ini menunjukkan bahwa model regresi secara statistik signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Dengan demikian, model regresi yang digunakan dinyatakan sesuai untuk menjelaskan pengaruh antar variabel penelitian. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa indoor dan outdoor learning secara bersama-sama memengaruhi keputusan orang tua dapat diterima.

Tabel 12. Model Summary Pengaruh Indoor dan Outdoor learning terhadap Keputusan Orang Tua

Berdasarkan hasil analisis regresi pada Tabel 12, diperoleh nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0,366, yang menunjukkan adanya hubungan positif dengan kategori rendah antara variabel indoor dan outdoor learning terhadap keputusan orang tua. Nilai R-square sebesar 0,134 menunjukkan bahwa variabel independen dalam model menjelaskan 13,4% variasi keputusan orang tua. Sedangkan sisanya sebesar 86,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar model.

Tabel 13. Koefisien regresi Indoor dan Outdoor Learning terhadap Keputusan Orang Tua

Tabel 13 menunjukkan hasil analisis regresi linear berganda, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y=8,769-0,005X1+0,472X2

Nilai konstanta sebesar 8,769 menunjukkan bahwa ketika variabel pembelajaran indoor dan outdoor bernilai nol, maka keputusan orang tua berada pada nilai tersebut. Koefisien regresi variabel Indoor sebesar -0,005 menunjukkan arah pengaruh negatif yang sangat lemah, sedangkan variabel Outdoor sebesar 0,472 menunjukkan arah pengaruh positif, di mana peningkatan pembelajaran outdoor cenderung diikuti peningkatan keputusan orang tua.

Berdasarkan uji parsial (uji t), variabel Indoor memiliki nilai signifikansi sebesar 0,970 (> 0,05), sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan orang tua. Sebaliknya, variabel Outdoor memiliki nilai signifikansi sebesar 0,003 (< 0,05), sehingga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan orang tua, dengan nilai beta sebesar 0,369 yang menunjukkan pengaruh relatif lebih kuat dibandingkan variabel indoor. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam model ini hanya outdoor learning yang berperan signifikan dalam memengaruhi keputusan orang tua.

B. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel indoor dan outdoor learning berpengaruh signifikan terhadap keputusan orang tua (F = 6,724; Sig = 0,002). Temuan ini memperkuat konsep dalam pendahuluan bahwa kombinasi strategi pembelajaran berkontribusi membentuk persepsi orang tua terhadap kualitas layanan pendidikan yang ditawarkan sekolah. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pengalaman belajar siswa secara menyeluruh [4], sehingga variasi program menjadi faktor penting dalam menarik minat orang tua.

Namun demikian, secara parsial indoor learning tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan orang tua (t = 1,954; Sig = 0,054). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran di dalam kelas belum menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini sejalan dengan teori pembelajaran yang menyatakan bahwa aktivitas belajar di kelas cenderung bersifat rutin dan umum diterapkan di berbagai sekolah (Slavin, 2012)[5][21], sehingga tidak memberikan diferensiasi yang kuat. Selain itu, meskipun metode diskusi dan pembelajaran kontekstual telah diterapkan [6][7], implementasinya belum cukup menjadi daya tarik utama bagi orang tua dalam memilih sekolah.

Sebaliknya, outdoor learning terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan orang tua (t = 3,688; Sig = 0,000; B = 0,469). Hasil ini konsisten dengan kajian dalam pendahuluan yang menyatakan bahwa outdoor learning memberikan pengalaman belajar langsung melalui interaksi dengan lingkungan [8][12], serta mampu meningkatkan keterlibatan dan perkembangan sosial siswa [10][13]. Dengan demikian, program outdoor learning menjadi nilai tambah yang nyata dan mampu membedakan sekolah dari lembaga lain. Temuan ini juga diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman di luar kelas berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran[22][23][24] dan persepsi positif masyarakat terhadap sekolah [25]

Dominasi pengaruh outdoor learning (Beta = 0,472) dibandingkan indoor learning (Beta = -0,005) menegaskan bahwa orang tua lebih mempertimbangkan aspek inovasi dan pengalaman belajar dibandingkan pembelajaran konvensional. Hal ini selaras dengan teori pemasaran pendidikan yang menyatakan bahwa keputusan konsumen (orang tua) dipengaruhi oleh persepsi terhadap nilai dan keunggulan layanan yang ditawarkan (Kotler, 2021) [19][26]. Dengan kata lain, program outdoor learning berperan sebagai daya tarik utama dalam membangun citra sekolah.

Meskipun outdoor learning terbukti berpengaruh signifikan, nilai R Square sebesar 0,134 mengindikasikan bahwa model hanya mampu menjelaskan 13,4% variasi keputusan orang tua. Hal ini berarti masih terdapat 86,6% faktor lain yang memengaruhi keputusan orang tua, seperti kualitas branding sekolah (Kotler, 2021) [19], reputasi sekolah, kualitas layanan administrasi, biaya pendidikan, lokasi strategis, serta pengaruh lingkungan sosial dan rekomendasi dari kerabat [18][27]. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan variabel-variabel tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Temuan dari penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi manajemen pendidikan di SD Muhammadiyah Bangil. Dalam hal ini, pengembangan outdoor learning perlu terus diperkuat mengingat pendekatan tersebut merupakan salah satu aspek paling menonjol yang disukai oleh masyarakat. Misalnya field trip tematik dapat lebih dioptimalkan melalui integrasi kegiatan berbasis lapangan yang terstruktur dengan nilai pendidikan yang kuat. Selain itu, kegiatan pembelajaran yang langsung terkait dengan lingkungan alam terbukti menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan bagi siswa. Namun, meskipun metode pembelajaran di kelas konvensional belum menunjukkan pengaruh dominan dalam penelitian ini, kualitas proses indoor learning harus terus dijaga secara konsisten. Hal ini penting karena pembelajaran berbasis kelas tetap menjadi standar dasar kualitas pendidikan yang umumnya diharapkan oleh orang tua dalam menilai sekolah. Kemudian, sekolah perlu mengidentifikasi faktor-faktor lain yang memengaruhi keputusan orang tua (seperti branding dan reputasi) untuk memaksimalkan upaya peningkatan jumlah pendaftar.

IV. Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran indoor dan outdoor learning secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan orang tua dalam memilih SD Muhammadiyah Bangil. Namun, ketika dianalisis secara parsial, outdoor learning menjadi aspek pembelajaran yang memberikan pengaruh positif dan signifikan, sedangkan indoor learning belum menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan di luar kelas menjadi salah satu nilai yang lebih mudah dipersepsikan oleh orang tua sebagai keunggulan sekolah. Adapun kontribusi pembelajaran indoor dan outdoor learning dalam menjelaskan keputusan orang tua sebesar 13,4%, sehingga masih terdapat faktor lain di luar penelitian yang turut memengaruhi keputusan tersebut.

Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan program outdoor learning dapat menjadi salah satu strategi sekolah dalam meningkatkan daya tarik dan keunggulan layanan pendidikan. Sekolah dapat terus mengoptimalkan kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman, seperti kegiatan lapangan, pembelajaran kontekstual, dan aktivitas yang melibatkan lingkungan sekitar agar menjadi karakteristik pembeda dibandingkan sekolah lainnya. Di sisi lain, pembelajaran indoor tetap perlu dipertahankan dan dikembangkan karena menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran yang terstruktur. Penelitian ini juga memberikan peluang bagi penelitian selanjutnya untuk mengkaji faktor lain yang berperan dalam keputusan orang tua memilih sekolah, seperti faktor pembiayaan, citra sekolah, kualitas pelayanan, reputasi lembaga, maupun faktor lingkungan sosial.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada SD Muhammadiyah Bangil yang telah memberikan izin dan memfasilitasi pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh calon wali murid baru inden tahun ajaran 2026/2027 yang telah bersedia menjadi responden sehingga proses pengumpulan data dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas dukungan akademik selama pelaksanaan penelitian ini.

References

I. Rindaningsih, W. D. Hastuti, and Y. Findawati, “Desain lingkungan belajar yang menyenangkan berbasis flipped classroom di sekolah dasar,” 2019, doi: 10.21070/picecrs.v2i1.2452.

H. N. Azizah and H. Ulfa, “Penerapan outdoor learning dalam meningkatkan motivasi belajar IPA siswa sekolah dasar,” vol. 5, no. 1, pp. 350–359, 2025, doi: 10.37081/jipdas.v5i1.2530.

S. N. Fadila and C. A. S. Suyanto, “Analisis penerapan outdoor learning dalam mengembangkan rasa ingin tahu anak,” vol. 9, pp. 21341–21347, 2025.

I. Abimanyu, H. Narulita, and L. L. D. Purwani, “Kajian outdoor learning proses dalam pembelajaran siswa sekolah dasar: Studi pustaka,” vol. 6, no. 1, pp. 25–33, 2024.

R. E. Slavin, Educational Psychology. Pearson Education, 2012.

E. Y. Tini and E. B. Jebua, “The use of discussion methods in efforts to improve the learning activity of elementary school students,” pp. 153–161, 2025.

F. Villan and R. P. dos Santos, “ChatGPT as co-advisor in scientific initiation: Action research with project-based learning in elementary education,” vol. 25, no. 6, pp. 60–117, 2023, doi: 10.17648/acta.scientiae.7474.

H. K. Surtikanti, “Field trips (outdoor learning) untuk melatih berpikir kritis dan peduli lingkungan pada materi perubahan lingkungan: Literature review,” vol. 12, no. 1, pp. 22–35, 2024.

M. Y. P. Putra, S. Mardliyah, and H. Susilo, “Analisis model outdoor learning untuk meningkatkan hasil belajar IPS Kejar Paket B,” pp. 259–266, 2024, doi: 10.32884/ideas.v10i2.1708.

J. Mann, T. Gray, and S. Truong, “Does growth in the outdoors stay in the outdoors? The impact of an extended residential and outdoor learning experience on student motivation, engagement and 21st century capabilities,” pp. 1–15, 2023, doi: 10.3389/fpsyg.2023.1102610.

F. Hazimi and B. Martati, “Penerapan outdoor learning dalam projek penguatan profil pelajar Pancasila pada karakter kemandirian siswa kelas 1 sekolah dasar,” vol. 5, no. 3, pp. 1161–1174, 2025.

S. Priest, Outdoor Learning in Canada. eCampusOntario / Pressbooks, 2024.

Rosmaria and S. Mamonto, “Learning doesn’t have to be about sitting still: The revolution of active learning in elementary schools through outdoor learning methods,” vol. 2, no. 1, pp. 39–48, 2025.

R. Hu and S. Mou, “Outdoor education for sustainable development: A systematic literature review,” 2025.

A. Deschamps and R. Scrutton, “School-based outdoor education and teacher subjective well-being: An exploratory study,” pp. 1–10, 2022, doi: 10.3389/feduc.2022.961054.

R. Sinaga, J. Dongoran, S. A. Simbolon, G. F. Pandiangan, and L. Belakang, “Integrasi teori dan praktik dalam pendidikan dasar: Refleksi program asistensi mengajar mahasiswa PGSD Universitas Katolik Santo Thomas di UPT SD Negeri 060935 Medan Johor,” 2025.

L. Kiviranta, E. Lindfors, M. Rönkkö, and E. Luukka, “Outdoor learning in early childhood education: Exploring benefits and challenges,” Educ. Res., vol. 66, no. 1, pp. 102–119, 2024, doi: 10.1080/00131881.2023.2285762.

A. F. Alviana and R. R. N. Setyowati, “Motivasi orang tua dalam penentuan pendidikan tinggi anak di Kelurahan Meri Kota Mojokerto,” vol. 11, no. 20, pp. 494–509, 2023.

P. Kotler, Marketing Management. Pearson, 2021.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.

G. Marie et al., “Pupils’ experiences of affordances in school-based physical activity in Norway and Estonia,” vol. 141, 2024, doi: 10.1016/j.tate.2024.104500.

A. H. Akarsu, “Beyond the walls: Investigating outdoor learning experiences of social studies teacher candidates in Türkiye,” Teach. Teach. Educ., vol. 154, p. 104876, 2025, doi: 10.1016/j.tate.2024.104876.

L. Pulido et al., “The effects of outdoor teaching on academic achievement and its associated factors—A scoping review,” pp. 1–26, 2025.

S. N. Alfiani, “The influence of outdoor learning method towards learning outcomes and interests,” vol. 8, no. 3, pp. 220–228, 2021, doi: 10.20527/bipf.v8i3.9230.

C. Becker, G. Lauterbach, S. Spengler, U. Dettweiler, and F. Mess, “Effects of regular classes in outdoor education settings: A systematic review on students’ learning, social and health dimensions,” pp. 1–20, 2017, doi: 10.3390/ijerph14050485.

E. Vercelli, J. Pertiwi, T. Pradiani, A. Info, and A. History, “Pengaruh kualitas pelayanan, fasilitas, dan word of mouth terhadap keputusan orang tua memilih sekolah di,” vol. 7, pp. 10381–10387, 2024.

H. Jabbar, H. Tracy, E. Germain, S. W. Lenhoff, and J. Alonso, “The double burden of school choice,” vol. 11, no. 1, pp. 1–25, 2025, doi: 10.1177/23328584251349179.