Ana Susilowati (1), Ida Rindaningsih (2)
General Background Inclusive education mandates that all children, including those with special needs, receive equal access to quality education, particularly in character and spiritual development programs. Specific Background Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil accommodates special needs students—including those diagnosed with Autism, ADHD, Slow Learning, and Dyslexia—and actively integrates them into daily religious routines through a specialized Qur'anic learning program. Knowledge Gap Although Qur'anic learning methods like Tajdied, Tahfidz, and Tamyiz are widely applied in general education, comprehensive qualitative analyses detailing how these distinct methods are structurally modified and simultaneously implemented as a unified approach for diverse special needs students remain scarce. Aims This study analyzes the implementation strategies of the Qur'anic learning program using the 3T approach for special needs students at Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil. Results Utilizing a qualitative descriptive method involving observations, interviews, and documentation, the research found that the 3T program is systematically adapted to individual capabilities. The Tajdied method employs intensive repetition and audio-visual media to improve articulation. The Tahfidz program establishes flexible memorization targets using audio and talaqqi techniques. Meanwhile, the Tamyiz method utilizes color-coded cards and rhythmic repetition to simplify Arabic grammar and translation comprehension. Novelty This study distinctly maps the pedagogical fusion of three discrete Qur'anic learning methodologies tailored specifically through multisensory and Universal Design for Learning frameworks to accommodate varying cognitive disabilities within an inclusive primary school. Implications Implementing the adaptive 3T methodology provides a practical, replicable framework for inclusive Islamic schools to ensure equitable spiritual education, thereby fostering religious character and self-confidence among special needs students.
Highlights:
The 3T approach integrates Tajdied, Tahfidz, and Tamyiz to provide a comprehensive, adaptable Qur'anic learning framework.
Incorporating multisensory media and rhythmic repetition significantly aids students with ADHD, Autism, and Dyslexia in memorization.
Flexible target-setting within the Tahfidz program reduces learning pressure, thereby increasing special needs students' self-confidence.
Keywords: 3T Method, Qur'anic Learning, Inclusive Education, Special Needs Students, Multisensory Learning
Di tengah kompleksitas isu-isu global kontemporer seperti krisis kemanusiaan, intoleransi, degradasi moral, dan disorientasi nilai, pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk tetap relevan dan solutif[1]. Menghidupkan al-Qur'an dengan strategi sustainability dakwah merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai ajaran Al-Qur'an dapat diinternalisasi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat[2]. Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang dijadikan pedoman hidup (way of life) kaum muslim yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya[3]. Belajar Al-Qur`an menggunakan Tajdied memakai pendekatan global, dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta didik, sehingga siswa dapat mengenal huruf hijaiyah dengan lebih baik. Selain itu program Tahfidz Al-Qur’an dengan pengembangan bakat dan minat dalam pembentukan karakter Islami khususnya siswa inklusi [4]. Pembelajaran nahwu dan sharaf yang telah direncanakan dibutuhkan sebuah manajemen pembelajaran yang baik dan sesuai dengan makna Tamyiz dengan lagu-lagu agar siswa reguler ataupun inklusi cepat hafal kaidah[5]. Oleh karena itu setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Dalam UU tersebut mengatur setiap warga negara di negeri ini berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tidak terkecuali anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (Inklusi). Hal itu sejalan dengan tujuan dari Sekolah inklusi yakni sebagai bentuk pemerataan dan perwujudan pendidikan tanpa didasari diskriminasi, dimana semua anak berkebutuhan khusus dan anak normal pada umumnya bisa mendapatkan pendidikan yang sama [6].
Salah satu cara yang dilakukan sekolah untuk menanamkan perilaku positif kepada siswa adalah dengan memadukan pembelajaran umum dengan kegiatan keagamaan. Salah satu kegiatan keagamaan yang sudah banyak dilaksanakan di berbagai sekolah adalah program tahfidz Al-Qur’an [7]. Permasalahan yang sering ditemukan dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an antara lain kurangnya penggunaan media pembelajaran, sehingga bacaan siswa menjadi kurang fasih karena pembelajaran lebih berfokus pada pencapaian target hafalan daripada kefasihan bacaan [8]. Kemudian Program Tajdied (pembaruan) memperbaiki bacaan, program yang mana pembiasaan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu cara sekolah agar dapat menjadikan Al-Quran sebagai kebutuhan kita dalam kehidupan sehari-hari [9]. Dalam metode ini terdapat beberapa prinsip yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran Al-Qur'an yang dikemas dengan nyanyian, dan susunan kalimat yang menyenangkan, sehingga memudahkan para peserta didik untuk mampu membaca Al-Qur'an sesuai dengan kaidah tajwid [10]. Karena metode tajdied lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses membaca secara cepat dan tepat [11]. Dan juga Metode Tamyiz yang merupakan metode praktis dan mudah dalam memahami bahasa Arab dengan tujuan khusus. Metode ini dalam menerjemahkan Al-Qur’an dengan formulasi teori dasar “quantum nahwu dan sharaf”. Metode Tamyiz dikemas penemunya dengan mudah dan menyenangkan dengan konsep pengulangan membaca dan diiringi dengan lagu-lagu, sehingga secara tidak langsung dapat hapal [12]. Umumnya, metode ini sangat mementingkan pembelajaran tersampaikan dengan cara yang gampang dan lebih efisien [13]. Selain itu, guru menerapkan prinsip multisensory learning. Multisensory yaitu metode dengan cara menggunakan pendengaran, penglihatan, gerakan dan perabaan [14]. Disekolah tersebut juga menerapkan strategi UDL, Universal Design for Learning (UDL) merupakan desain pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dalam proses belajar mengajar [15]. Dengan adanya metode dan strategi yang menyenangkan maka tidak ada perpedaan antara siswa inklusi dengan siswa reguler dari situlah memiliki hak yang sama untuk belajar. Prinsip “Every Child Can Learn” yaitu setiap anak berhak belajar [16].
Tajdied merupakan pembelajaran Al-Qur’an yang dilakukan secara berkelanjutan. Dalam proses pengajarannya, peserta didik diarahkan untuk memahami serta mengetahui cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Metode tajdied juga dikenal praktis dan mudah dipahami karena disajikan dengan cara yang sederhana [17]. Tahfidz berasal dari bentuk masdar haffazho atau kata dasar حفظ berarti "menghafal." kata ini terdiri atas 3 huruf yang mencakup makna memelihara dan mengawasi. Dari makna ini lahirlah konsep menghafal, sebab yang menghafal berusaha menjaga ingatannya dengan baik. Di sisi lain, kata ini juga memiliki makna "tidak lengah," yang menunjukkan sikap untuk selalu waspada dan "menjaga," sebagai bagian dari pengawasan dan pemeliharaan [18]. Tamyiz adalah Pembelajaran terjemah Al-Qur’an disini adalah proses belajar siswa dalam memindahkan bahasa Al-Qur’an kedalam Bahasa indonesia secara kata perkata sesuai dengan susunan dan tertib ayat Al-Qur’an yang disertai dengan pembelajaran nahwu dan sharaf [19].
Siswa inklusi memiliki keterbatasan dalam beberapa kemampuan, baik secara fisik seperti tunanetra dan tunarungu maupun psikologi seperti autism dan ADHD (Attention Deficit Hyperavtive Disorder) [20]. Pemberian layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus secara serentak akan menghasilkan korelasi interaktif saling pengertian, belajar memahami, belajar menerima, menerima perbedaan dengan maksud meningkatkan simpati, empati, saling toleransi, dan belajar bekerja sama di antara seluruh peserta didik [21]. Namun, dalam konteks pendidikan inklusi, proses pembelajaran Al-Qur’an seringkali menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan strategi khusus agar seluruh siswa dapat belajar dengan mudah dan menyenangkan, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, dapat belajar secara optimal. Tentunya cara mengajarnya berbeda menyesuaikan kondisi siswa inklusi tersebut.
Dengan penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan strategi program pembelajaran Al-Qur’an melalui 3T pada siswa inklusi yang belum di miliki sekolah lainnya tentunya dengan metode yang sangat menyenangkan. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terasa sebagai tugas yang membosankan, melainkan sebagai petualangan menyenangkan [22].
Pengumpulan data deskriptif. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan cara mengumumpulkan Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi,dan dokumentasi aktivitas program 3T pada siswa inklusi di Sekolah kreatif SD Muhammadiyah Bangil. Proses observasi difokuskan pada penerapan proses 3T terhadap pemahaman siswa inklusi selama pembelajaran dengan verifikasi triangulasi data yang membandingkan hasil observasi dan wawancara [24]. Subjek penelitian adalah Kepala sekolah, koordinator shadow, guru pendamping shadow.informasi dipilih secara purposive sampling berdasarkan peran dan pengetahuan mereka terhadap pelaksanaan program 3T yaitu Tajdied,tahfiidz dan tamyiz tersebut. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model interaktif miles dan Hubernen melalui tiga tahap : reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik [25]. Dengan metode ini, diharapkan penelitian mampu memberikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai Strategi Program Pembelajaran Al Qur'an melalui 3T (Tajdied, Tahfidz, Tamyiz) mampu diaplikasikan kepada siswa inklusi dengan baik .
Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berupaya menerapkan prinsip pendidikan inklusi dengan mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam. Sekolah tersebut memiliki jumlah siswa 495 anak. Untuk siswa inklusi sebanyak 33 dan guru pendamping siswa tersebut sebanyak 33 orang. Berdasarkan hasil interview menunjukkan bahwa terdapat berbagai macam diagnosa diantaranya slow learner yaitu lambat belajar, Gangguan spektrum Autisme ASD yaitu kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, ADHD yaitu sulit fokus ,hiperaktif, dan diskleksia adalah kesulitan membaca Perbedaan diagnosis tersebut menjadikan pembelajaran 3T memiliki cara yang berbeda dalam penyampaian menyesuaikan kebutuhan siswa. Berikut berbagai diagnosa siswa inklusi disekolah dan mereka hanya memiliki kefokusan belajar dengan keterbatasan berkosentrasi sesuai kebutuhannya masing-masing.
Tabel 1. Diagnosa siswa inklusi di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil
Dalam praktiknya, sekolah berinovasi dalam pembelajaran Al-Qur’an melalui program 3T . program ini dirancang sebagai pendekatan pembelajaran yang komprehensif untuk mempermudah siswa memahami, menghafal, dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan adaptif terhadap perbedaan kemampuan siswa. kebiasaan atau rutinitas di Sekolah setiap pagi memulai dengan ngaji morning kurang lebih 60 menit sebelum pembelajaran dimulai. Tentunya berlangsung dengan khidmat dan siswa langsung di camp ngaji morning masing-masing baik siswa normal ataupun siswa inklusi. Tentunya satu siswa inklusi didampingi oleh guru shadow di ruang yang berbeda ketika ngaji morning, jika pembelajaran dimulai siswa inklusi bergabung kembali dalam satu kelas dengan siswa reguler. Program 3T diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan model pembelajaran Al-Qur’an yang lebih inklusi, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa di sekolah serta dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan Islam lainnya dalam mengimplementasikan pembelajaran Al-Qur’an yang adaptif terhadap keberagaman peserta didik. Program pembelajaran Al-Quran 3T di sekolah tersebut menunjukkan bahwa sekolah telah mengembangkan strategi adaptif yang mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik reguler maupun siswa inklusi.
Program 3T terdiri atas kegiatan tajdied, tahfidz, dan tamyiz yang dirancang untuk mendukung kemampuan membaca, menghafa, serta memahami Al-Quran pada peserta didik. Pada program tadjid ,peserta didik dibiasakan membaca Al-Qur’an menggunakan nada hijaz melalui metode talaqqi,yaitu pengulangan bacaan dari guru secara berulang-ulang agar siswa mampu mengenal huruf hijaiyah,makhrijul huruf,dan hukum tajwid dasar dengan lebih baik.program Tahfidz berfokus pada kegiatan menghafal ayat-ayat Al –Quran secara bertahap dan berkesinambungan.Dalam pelaksanaannya digunakan metode murojaah atau pengulangan hafalan agar hafalan siswa tetap terjaga dan berkembang. Seentara itu ,Program Tamyiz diarahkan pada pemahaman makna ayat serta pengenalan dasar struktur bahasa arab,seperti isim dan dhomir,yang disampaikan melalui metode sederhana dan menyenangkan, termasuk dengan nyanyian agar siswa lebih mudah memahami materi.
Program 3T dan aktivitas pembelajaran yang bisa dilakukan anak-anak inklusi atau berkebutuhan khusus kemampuan siswa inklusi disekolah kreatif berbeda-beda,misalnya slow learner dari 10 siswa hanya 4 yang mampu ditajdied mampu mengenal huruf hijaiyah,makhroj sederhana,dan hukum tajwid dasar hanya saja mereka perlu pengulangan berulang-ulang dengan rutin. Di tahfidznya ada 5 siswa inklusi mampu hafal 10 surah pendek juz 30 walaupun mereka belum jelas melafadzkannya tapi mereka tetap harus konsisen pengulangan dalam menghafal dengan cara didengarkan murotal .sedangkan tamyiznya kurang lebih dari 10 siswa 6 mampu mengikuti Tamyiz dengan menyanyi menghafalkan kolom dhomir.Siswa ASD Atau Autisme karena mereka kesulitan dalam interaksi, tajdiednya hanya 5 siswa mampu membaca dengan baik dengan menggunakan metode visual,audio dan rutinitas yang konsisten.Tahfidz dari 10 siswa ada 8 siswa yang mampu menghafal 19 surah juz 30 ,siswa ASD justru lebih banyak yang mampu menghafal karena mereka memiliki hafalan yang kuat yang penting dalam kondisi nyaman. Sedangkan Tamyiznya mereka sangat terbatas ada dua siswa yang mampu mengenal makna sederhana ,belum memahami secara mendalam . Siswa diagnosa ADHD karena mereka memiliki sedikit kosentrasi rentang perhatiannya pendek diTajdiednya ada 3 siswa yang mampu membaca walaupun membaca dalam durasi pendek dengan metode yang menarik seperti game ,gerakan,ataupun Audio.Tahfidznya ada 2 siswa yang mampu menghafal surah pendek juz 30 ,sedangkan Tamyiznya sangat terbatas masih belum ada yang mampu ditamyiznya hanya saja mereka belum ke pemahaman yang mendalam tapi guru sedow tetap mengenalkannya.Siswa diagnosa Diklesia mereka mengalami kesulitan dalam membaca ,namun kecerdasan umumnya normal sehingga dibagian Tajdied ada 3 siswa yang mampu mengikuti walaupun dalam pendekatan khusus seperti metode visualisasi husuf dan pengulangan intensif, Tahfidnya 2 siswa yang mampu menghafal walaupun hanya melalui audio. Sedangkan Tamyiznya 1 siswa yang mampu fokus pada pemahaman lisan sederhana. Jadi program 3T tetap dapat diterapkan secara adaptif agar semua siswa termasuk inklusi mampu belajar Al-Quran sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Program Al-Qur’an dengan 3T di Sekolah merupakan sebuah inovasi kurikulum yang mengintegritasikan pendekatan tahsin, hafalan, dan literasi huruf arab dalam satu sistem pembelajaran terpadu. Dalam konteks sekolah inklusi Situasi di sekolah inklusif memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas dan non-disabilitas untuk saling belajar . Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka [27]. Sekolah yang dianggap tepat untuk anak berkebutuhan khusus adalah sekolah inklusi. Program 3T memiliki keunggulan karena bersifat struktural, sistematis, dan fleksibel untuk dimodifikasikan sesuai kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa guru tidak hanya menerapkan program 3T secara teknik, tetapi juga melakukan penyesuaian pedagogis melalui modifikasi materi, diferensiasi pembelajaran, serta dukungan emosional. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan inklusi yang menegaskan bahwa pembelajaran harus mampu mengakomodasikan keragaman kemampuan siswa. Prinsip “Every Child Can Learn” yaitu setiap anak berhak belajar. Tampak dalam cara guru memberikan ruang bagi siswa inklusi untuk belajar tanpa tekanan kemampuan akademik. Selain itu pelaksanaan program 3T di sekolah ini berorientasi pada capaian spiritual dan karakter, bukan semata keterampilan membaca Al-Qur’an bagi siswa inklusi. Keberhasilan mereka bukan hanya pada kemampuan menghafal atau membaca dengan tajwid yang sempurna, tetapi juga pada peningkatan minat, kedisiplinan, kemandirian, serta kedekatan emosional mereka dengan kegiatan ibadah.
Tabel 2. Implementasi Strategi Pembelajaran Tajdied, Tahfidz, dan Tamyiz pada Konteks Inklusi
Tabel tersebut menunjukkan bahwa implementasi strategi pembelajaran Tajdid, Tahfidz, dan Tamyiz dalam konteks inklusi dirancang secara sistematis dan adaptif untuk mengakomodasi keragaman kemampuan siswa. Pada aspek Tajdid (perbaikan bacaan), pendekatan bertahap yang menekankan perbaikan makharijul huruf, panjang-pendek, serta hukum bacaan didukung oleh metode modeling, pengulangan intensif, dan pemanfaatan media visual-audio, sehingga selaras dengan prinsip pembelajaran multisensori. Sementara itu, pada Tahfidz (hafalan), penetapan target yang fleksibel sesuai kemampuan individu siswa diperkuat melalui teknik talaqqi, tikrar, pemberian reward, serta pendampingan individual, yang mencerminkan penerapan prinsip Universal Design for Learning (UDL) dalam mengurangi tekanan belajar. Adapun pada Tamyiz (pemahaman), pengenalan kosakata, pola kalimat, dan makna sederhana dilakukan melalui penyederhanaan konsep, penggunaan kartu warna, dan pendekatan tematik guna meningkatkan literasi Al-Qur’an serta daya ingat siswa. Secara keseluruhan, ketiga program tersebut menunjukkan integrasi strategi pedagogis yang inklusif, diferensiatif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Pelaksanaan program 3T dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung meliputi kompetensi dan kreativitas guru dalam mengajar, dukungan kepala sekolah serta budaya Islami Muhammadiyah yang kuat, partisipasi aktif orang tua, ketersediaan media pembelajaran 3T, serta lingkungan kelas yang kondusif. Sementara itu, faktor penghambat yang ditemukan antara lain adanya perbedaan tingkat kemampuan antar siswa berkebutuhan khusus yang cukup signifikan, keterbatasan waktu pembelajaran, konsentrasi siswa yang mudah berubah, serta kurangnya pendamping khusus di beberapa kelas. Meskipun demikian, hambatan-hambatan tersebut masih dapat diatasi melalui modifikasi strategi pembelajaran dan pengaturan ulang durasi belajar yang lebih fleksibel.Pendekatan 3T juga terbukti relevan bagi siswa berkebutuhan khusus. Penerapan metode ini mampu membantu siswa dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an, menambah hafalan sesuai dengan kemampuan masing-masing, serta memahami pola sederhana bahasa Al-Qur’an. Selain itu, pendekatan ini juga berkontribusi dalam menumbuhkan kepercayaan diri siswa dan membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari. Fleksibilitas dan pendekatan personal dalam pembelajaran menjadikan kegiatan belajar tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter Islami yang sejalan dengan nilai-nilai sekolah Muhammadiyah.
Berdasarkan sintesis pembahasan yang menggabungkan temuan lapangan dengan teori pendidikan inklusi, dapat disimpulkan bahwa program 3T sangat kompatibel dengan karakteristik siswa inklusi karena mengedepankan pengulangan, visualisasi, dan penyederhanaan konsep[28]. Keberhasilan implementasi strategi ini sangat bergantung pada profesionalitas guru dalam memodifikasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Selain itu, kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan demikian, program 3T tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan bacaan dan hafalan, tetapi juga memperkuat pemahaman serta spiritualitas siswa secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai implementasi strategi program pembelajaran Al-Qur’an melalui pendekatan 3T (Tajdied, Tahfidz, dan Tamyiz) pada siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bangil, dapat disimpulkan bahwa program 3T merupakan model pembelajaran yang efektif, adaptif, dan inklusif dalam mengakomodasi keragaman karakteristik peserta didik. Implementasi program 3T dilaksanakan secara sistematis dengan mengintegrasikan prinsip pembelajaran multisensori, diferensiasi instruksi, serta pendekatan Universal Design for Learning (UDL), sehingga mampu menyesuaikan kebutuhan individual siswa inklusi. Program Tajdied berperan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui strategi pengulangan, modeling, serta pemanfaatan media visual-audio. Program Tahfidz dilaksanakan dengan pendekatan hafalan bertahap dan target fleksibel sesuai kemampuan siswa, yang diperkuat melalui teknik talaqqi, tikrar, dan pendampingan intensif. Sementara itu, program Tamyiz berkontribusi dalam mengembangkan pemahaman bahasa Al-Qur’an melalui pendekatan tematik, visual, dan kinestetik yang sederhana dan mudah dipahami. Jadi hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan yaitu untuk mengimplementasikan strategi program pembelajaran Al-Qur’an melalui 3T pada siswa inklusi yang belum di miliki sekolah lainnya tentunya dengan metode yang sangat menyenangkan.
M. F. Saidina, “Revitalisasi pendidikan Islam humanis dalam menanggapi isu-isu,” Arba: J. Stud. Keislaman, vol. 1, no. 3, pp. 197–214, 2025.
N. Asia, Suryati, and S. Duku, “AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan,” J. Keislam. dan Kemasyarakatan, vol. 6, no. 2, pp. 160–182, 2022. [Online]. Available: http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/4441
S. Maghfiroh, “Strategi guru PAI dalam implementasi program membaca dan menulis Al-Quran di Sekolah Dasar Islamic Global School Malang,” pp. 1–129, 2016.
A. N. An et al., “Pelatihan metode Tajdied untuk peningkatan membaca Al-Qur’an siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat (Tajdied method training to improve Al-Qur’an reading for Muhammadiyah elementary school students Kottabarat special program),” J. Pema Tarb., vol. 50, no. 1, p. 54, 2023. [Online]. Available: http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id/index.php/pematarbiyah
A. Arif, M. Mannan, and A. Darim, “Manajemen pembelajaran Nahwu Sharaf menggunakan metode Tamyiz pada masa pandemi Covid-19,” Kharisma: J. Adm. dan Manaj. Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 59–68, 2023, doi: 10.59373/kharisma.v1i1.6.
B. Barsihanor and D. Anindia Rosyida, “Implementasi pendidikan inklusi pada Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Firdaus Banjarmasin,” J. Tarbiyatuna, vol. 10, no. 2, pp. 147–166, 2019, doi: 10.31603/tarbiyatuna.v10i2.2712.
R. Febrina, N. Yani, R. Hutabarat, and A. Amra, “Manajemen efektif program Tahfidz Al-Quran dalam mewujudkan generasi Islami di SD Islam Al-Muttaqin,” J. Pendidik. dan Pembelajaran Indones., vol. 4, no. 4, pp. 1394–1404, 2024, doi: 10.53299/jppi.v4i4.780.
A. D. I. S. Dasar and R. Solihin, “Jurnal Asy-Syukriyyah,” J. Asy-Syukriyyah, vol. 21, pp. 154–163, 2020.
N. Salsabillah, U. Muhammadiyah, and S. Utara, “Manajemen program pembiasaan membaca Al-Quran di SMA Muhammadiyah 18 Sunggal,” Educ. J. Ilmu Pendidik. dan Pengajaran, vol. 1, no. 2, pp. 117–132, 2022, doi: 10.56114/edu.v1i2.268.
P. Membaca and A. A. N. Di, “Efektivitas metode Tajdied dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat,” 2022.
S. P. Collins et al., “Meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui metode Tajdied,” pp. 167–186, 2021.
R. Hidayat and M. I. Arief, “Implementasi metode Tamyiz dalam pembelajaran terjemah Alquran di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin,” Al Qalam: J. Ilm. Keagamaan dan Kemasyarakatan, vol. 16, no. 5, p. 1876, 2022, doi: 10.35931/aq.v16i5.1245.
A. Syafi’i, A. Alallah, and A. A. Rahman, “Problematika penerapan metode Tamyiz dalam pembelajaran Qawa’id di MA DDI As-Salman Allakuang Sidrap,” Lisan An Nathiq: J. Bhs. dan Pendidik. Bhs. Arab, vol. 5, no. 2, pp. 321–335, 2023.
V. Shofiah and Y. S. Aulia Mawaddah, “Meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak melalui metode multisensori,” Personifikasi: J. Ilmu Psikol., vol. 9, no. 1, pp. 58–69, 2020, doi: 10.21107/personifikasi.v9i1.6763.
H. B. Firmansyah, S. Santoso, and L. Lindrawati, “Desain pembelajaran Universal Design for Learning (UDL) berbasis adaptive e-learning system dalam program Merdeka Belajar,” SENADIKA: Semin. Nas. Akad., vol. 1, no. 1, pp. 286–293, 2024.
R. Ariastuti and V. D. Herawati, “Optimalisasi peran sekolah inklusi,” J. Pengabdi. Pada Masy., vol. 1, no. 1, pp. 38–47, 2016, doi: 10.30653/002.201611.7.
Ahmad and O. M. Man Arfa Ladamay, “Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan kesadaran tadarus Al-Qur’an siswa,” Tarlim: J. Pendidik. Agama Islam, vol. 7, no. 2, pp. 221–230, 2024, doi: 10.32528/tarlim.v7i2.2440.
I. I. J. Rifka Alkhilyatul Ma’rifat and I. M. Suraharta, “Metode Tahfidz Wahdah mengandalkan pengulangan ayat secara bertahap,” vol. 2, pp. 306–312, 2024.
Kementerian PUPR et al., “Manajemen pembelajaran terjemah Al-Qur’an dengan metode Tamyiz di SDIT Tahfidz Daarul Mu’minin Cilegon,” vol. 53, no. 1, pp. 1–19, 2023.
N. Sholihah and I. Istikomah, “Peran shadow teacher dalam mendampingi siswa inklusi di sekolah dasar,” JIIP: J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 8, no. 3, pp. 2848–2855, 2025, doi: 10.54371/jiip.v8i3.7291.
H. Abdullah, “Penerapan kelas inklusi melalui pendamping guru shadow untuk meningkatkan prestasi siswa ABK di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya,” Stud. Relig.: J. Pemikir. dan Pendidik. Islam, vol. 7, no. 2, pp. 220–228, 2023, doi: 10.30651/sr.v7i2.20533.
S. Jaya, “Meningkatkan literasi Al-Qur’an anak-anak di lingkungan Masjid Al Masyithoh Lingkar Timur melalui kegiatan Magrib Mengaji,” KENDURI: J. Pengabdi. dan Pemberdaya. Masy., vol. 3, no. 3, pp. 137–147, 2024, doi: 10.62159/kenduri.v3i3.1004.
D. S. Ruhansih, “Efektivitas strategi bimbingan teistik untuk pengembangan religiusitas remaja (penelitian kuasi eksperimen terhadap peserta didik kelas X SMA Nugraha Bandung tahun ajaran 2014/2015),” QUANTA: J. Kaji. Bimbing. dan Konseling dalam Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 1–10, 2017, doi: 10.22460/q.v1i1p1-10.497.
ل. ملاحي, “تقنية Mind Mapping وتعليم الترجمة,” مجلة المترجم, vol. 10, p. 187, 2021, doi: 10.46314/1704-021-001-010.
M. B. Miles, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. SAGE, 2014.
U. Latifah and I. Rindaningsih, “Implementasi flipped classroom dalam mendukung Merdeka Belajar untuk meningkatkan kemandirian belajar,” J. Papeda: J. Publ. Pendidik. Dasar, vol. 5, no. 2, pp. 156–166, 2023, doi: 10.36232/jurnalpendidikandasar.v5i2.4447.
K. et al., “Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan sekolah ramah anak di sekolah inklusi,” vol. 2, pp. 167–186, 2021.
N. R. Jannah, “Program Studi Pendidikan Agama Islam,” Metod. Penelitian, vol. 5, p. 126, 2024. [Online]. Available: https://doi.org/10.53649/taujih.v3i1.93