Salim Rahmatullah (1), Eni Fariyatul Fahyuni (2)
General Background Islamic boarding schools face the challenge of aligning traditional religious values with modern educational demands to produce graduates who are both spiritually grounded and academically competitive. Specific Background Pesantren Ar-Rohmah Putri specifically addresses this by implementing the Kurikulum Integral Berbasis Tauhid, which systematically embeds the Sistematika Nuzulnya Wahyu framework into its national and religious curricula to foster a disciplined educational ecosystem. Knowledge Gap Although studies have explored the application of Sistematika Nuzulnya Wahyu in character education, comprehensive research analyzing this curriculum holistically across all systemic managerial functions remains scarce. Aims This study analyzes the systemic management of the Tauhid-Based Integral Curriculum implemented at Pesantren Ar-Rohmah Putri. Results Employing a qualitative phenomenological design involving interviews, observations, and documentation, the research reveals that curriculum management is structured around integrating Ruhiyah, Aqliah, and Jasadiah dimensions. Planning stems from transcendental goals, organizing involves synergistic coordination among academic and boarding units, and evaluation utilizes a holistic assessment of academic and spiritual progress. Challenges include the dual curriculum burden and the necessity for continuous teacher training to integrate Tauhid concepts into secular subjects. Novelty This study distinctly frames the curriculum not merely as a pedagogical character tool but as a foundational management model where the principles of Tauhid structurally dictate the entire institutional management cycle. Implications Islamic educational institutions can replicate this Tauhid-based management model to successfully fuse secular academic excellence with profound spiritual development within a cohesive curriculum structure.
The curriculum holistically integrates Ruhiyah, Aqliah, and Jasadiah dimensions throughout the entire boarding school ecosystem.
Curriculum management structurally originates from transcendental goals rather than standard academic mapping.
Successful implementation requires continuous professional development to equip teachers to fuse secular and spiritual concepts.
Keywords: Tauhid Based Curriculum, Curriculum Management, Islamic Boarding School, Holistic Education, Spiritual Integration
Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pengetahuan, melainkan juga sebagai proses pembentukan individu seutuhnya, yang memiliki keseimbangan antara aspek ruhiyah, aqliyah, dan jasadiyah, karena sesungguhnya manajemen kurikulum pesantren tidak hanya soal konten akademik, tetapi juga soal nilai integratif yang mencegah ideologi ekstrem dan memperkuat karakter moderat[1]. Kajian terbaru juga menegaskan bahwa integrasi nilai agama ke dalam desain kurikulum dan praktik pembelajaran sangat penting untuk membentuk karakter dan menjaga relevansi pendidikan dalam konteks sosial-kultural Muslim[2]. Menghadapi problematika tersebut, gagasan pendidikan integral berbasis tauhid muncul sebagai alternatif yang konseptual dan praktis, bukan sekadar menambahkan pelajaran agama, melainkan merancang kurikulum dan manajemen pendidikan yang mengintegrasikan dimensi ruhiyah (ketauhidan dan akhlak), aqliyah (intelektual), dan jasadiyah (keterampilan/fisik) sehingga semua aspek pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran penghambaan kepada Allah SWT [3]. Di tengah gelombang globalisasi yang menuntut adaptasi karakter dan kompetensi abad ke-21, lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren, menghadapi tantangan untuk menyelaraskan pendidikan nilai dengan tuntutan teknis modern [4]. Strategi seperti penguatan soft skills dan hard skills berbasis Tauhid menjadi kunci agar lulusan pesantren tetap relevan secara spiritual dan kompetitif[5]. Berbagai penelitian empiris mendokumentasikan model-model integrasi kurikulum pesantren yang menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keislaman secara sistematis, menunjukkan bahwa implementasi yang konsisten dapat memperkuat pembentukan karakter sekaligus tidak mengabaikan penguasaan ilmu umum.[6]
Salah satu konsep yang digunakan dalam implementasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) adalah Sistematika Nuzulul Wahyu (SNW). SNW merujuk pada urutan turunnya 5 surat pertama dalam Al-Qur’an yaitu Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatsir, dan Al-Fatihah sebagai pola bertahap dalam pembentukan insan yang kuat aqidahnya, mulia akhlaknya, semangat dalam beribadah, menjadi Da’i dan membentuk sebuah jama’ah. Pendekatan ini memberi pijakan bagi desain kurikulum yang bersifat bertahap, pengalaman pembelajaran yang berulang-ulang (praktik dan habituasi), serta penekanan pada transformasi jiwa selain transfer pengetahuan. Kajian konsep dan implementasinya dalam konteks lembaga Hidayatullah dan sekumpulan pesantren menunjukkan adanya konsistensi antara rumusan SNW dan praktik pendidikan integral di tingkat madrasah/pesantren[7]. Pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang ideal harus memberikan ruang bagi pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh baik intelektual, spiritual, maupun keterampilan praktis. Pesantren yang berhasil adalah pesantren yang mampu mengelola kurikulum dengan memperhatikan kebutuhan individu santri, mengintegrasikan antara pelajaran umum dan pelajaran keagamaan, serta menumbuhkan kreativitas berbasis nilai-nilai tauhid. Dengan demikian, manajemen kurikulum pesantren perlu memadukan sistem terstruktur dan fleksibilitas spiritual agar tujuan pendidikan Islam dapat tercapai secara utuh. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT), yang berupaya mengembangkan potensi santri secara seimbang dan harmonis.[8]
Dalam ranah pendidikan Islam di Indonesia, Pesantren Ar-Rohmah Putri dikenal salah satu lembaga pendidikan yang menonjol dalam penerapan konsep Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT). Pesantren ini memiliki lebih dari dua ribu santri yang seluruhnya mengikuti sistem pesantren. Pola ini memungkinkan terbentuknya lingkungan pendidikan yang terkontrol, kondusif, dan berbudaya Islami, di mana seluruh aspek kehidupan santri mulai dari belajar, beribadah, dan berinteraksi sosial menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Lingkungan pesantren yang 24 jam berada dalam bimbingan para ustadzah membuat pembinaan karakter dan spiritualitas dapat berjalan secara menyeluruh dan berkesinambungan[9]. Kelebihan sistem pesantren menjadikan para walisantri merasa lebih tenang dan percaya, karena anak-anak mereka tumbuh dalam suasana yang terjaga dari pengaruh negatif pergaulan luar dan media sosial. Oleh karena itu, pesantren tidak sekedar berfungsi sebagai lembaga pendidikan, melainkan juga sebagai lingkungan sosial yang membantu keluarga dalam membentuk moral dan spiritual remaja. Manajemen pesantren tidak hanya diukur dari kemampuan administratif, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Islam mampu menjiwai setiap aspek pengelolaan lembaga [10]. Sistem pendidikan pesantren yang efektif adalah sistem yang menempatkan visi tauhid sebagai poros utama dalam pengambilan keputusan dan perencanaan program. Pendekatan ini memperkuat relevansi manajemen kurikulum berbasis tauhid, karena proses pengelolaannya tidak berdiri di atas logika duniawi semata, tetapi juga berorientasi pada nilai-nilai ilahiah yang menuntun arah pendidikan. Pesantren Ar-Rohmah Putri telah berhasil mengantarkan banyak lulusannya ke perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Muhammadiyah Malang. Prestasi ini menunjukkan bahwa kurikulum berbasis tauhid tidak menghambat keunggulan akademik, justru memperkuat motivasi belajar, disiplin, dan integritas peserta didik [11].
Kebaruan dalam penelitian ini adalah upaya mengkaji manajemen kurikulum bukan hanya dari dimensi karakter dan pembelajaran sebagai domain penerapan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW), tetapi dari perspektif tauhid dan wahyu sebagai landasan filosofis dan epistemologis. Penelitian ini memperkenalkan gagasan “Tauhid-based Integral curriculum”, yaitu pengelolaan kurikulum yang menjadikan prinsip ketauhidan dan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai kerangka dasar dalam setiap fungsi manajemen yang mencakup tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi[12]. Penelitian yang dilakukan oleh Ilyasin dan Muadin berjudul “Innovative Approach to Character Education Management: Learning Integration of Systematics Nuzulnya Wahyu” berfokus pada penerapan pendekatan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) dalam pengelolaan pendidikan karakter di lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa integrasi SNW mampu membentuk proses pembelajaran yang lebih bermakna, karena setiap materi dan kegiatan pendidikan diorientasikan sesuai urutan turunnya wahyu yang menggambarkan tahapan pembinaan iman, akhlak, dan peradaban manusia.[13] Namun, penelitian tersebut lebih menitikberatkan pada dimensi karakter dan pembelajaran sebagai domain penerapan SNW, belum mengembangkan secara menyeluruh konsep manajemen kurikulum dalam arti sistemik. Berbeda dengan penelitian tersebut, kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengkaji manajemen kurikulum dari perspektif tauhid dan wahyu sebagai landasan filosofis dan epistemologis, bukan sekadar penerapan nilai-nilai wahyu dalam pembelajaran. Penelitian ini memperkenalkan konsep “Tauhid-Based Integral Curriculum”, yaitu model manajemen kurikulum yang menjadikan prinsip ketauhidan dan Sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai kerangka dasar dalam setiap fungsi manajerial, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dengan demikian, penelitian ini memperluas cakupan integrasi SNW tidak hanya pada aspek pendidikan karakter, tetapi juga pada keseluruhan sistem manajemen kurikulum di lembaga pendidikan Islam, menjadikannya lebih komprehensif dan strategis dalam membangun pendidikan integral berbasis tauhid. Dukungan dari kajian empiris dan konseptual yang ada memberikan landasan bahwa upaya integrasi kurikulum di pesantren bukan sahaja mungkin, tetapi juga dapat dimodelkan dan direplikasi dengan adaptasi kontekstual.[14]
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk memahami makna pengalaman para pengelola, guru, dan santri dalam mengimplementasikan manajemen Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di lingkungan alami Pesantren Ar-Rohmah Putri. Sebagaimana dijelaskan oleh beberapa studi metodologis dalam pendidikan Islam, penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menggali makna, motivasi, dan proses-proses internal dalam lembaga keagamaan secara holistik[15]. Studi kasus memungkinkan penelitian secara mendalam terhadap praktik nyata dan kontekstual, mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta mengeksplorasi proses manajemen kurikulum dalam bingkai waktu dan tempat tertentu [16]. Hal ini didukung oleh literatur metodologi studi kasus kualitatif yang menekankan pentingnya analisis kontekstual, triangulasi data, dan validitas internal.[17]
Penelitian dilakukan di Pesantren Ar-Rohmah Putri tepatnya di Jl. Raya Jambu No 1 Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Subjek penelitian terdiri dari beberapa pihak kunci dalam manajemen kurikulum di pesantren tersebut, antara lain 3 kepala unit, 40 guru pengajar (baik pengajaran Diniyah & umum), dan 40 santri sebagai pihak yang mengalami langsung kurikulum. Pemilihan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling agar responden yang dipilih adalah mereka yang benar-benar memahami dan terlibat dalam pengelolaan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT). Tiga teknik utama pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini yang pertama wawancara mendalam (in-depth interview). Peneliti melakukan wawancara semi-terstruktur dengan pihak pengelola (kepala pesantren / pengurus kurikulum), guru, dan santri. Tujuannya menggali persepsi mereka tentang konsep Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT), bagaimana manajemennya (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi), serta hambatan dan strategi yang digunakan.
Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif klasik, meliputi: Reduksi data (data reduction); proses memilah, merangkum, memilih bagian-bagian penting dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian Penyajian data (data display); menyajikan temuan dalam bentuk narasi tematik, tabel ringkasan, kutipan pembicara (interview excerpts), dan gambaran proses manajerial kurikulum berdasar tema utama seperti perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hambatan/dorongan. Ketiga Penarikan kesimpulan (conclusion drawing / verification): kemudian menyimpulkan pola manajemen Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di pesantren berdasarkan data lapangan dan literatur relevan. Teknik validitas dan keabsahan data juga diterapkan, antara lain melalui triangulasi data (membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi), pengecekan anggota (member checking), dan refleksi kritis peneliti[12]. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 2 bulan dari bulan Oktober-November 2025 di lokasi pesantren, dengan tahapan persiapan (izin, pengenalan lokasi, identifikasi informan), pengumpulan data (wawancara, observasi, dokumentasi), analisis awal (transkripsi wawancara, coding tematik), verifikasi data dengan informan (member checking),penyusunan laporan temuan dan pembahasan.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perencanaan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di Pesantren Ar-Rohmah Putri tidak dimulai dari penyusunan mata pelajaran, tetapi dari perumusan tujuan filosofis pendidikan yang berlandaskan tauhid. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, diperoleh keterangan bahwa arah kurikulum diturunkan dari visi pembentukan karakter santri: “Perencanaan kurikulum di Ar-Rohmah tidak dimulai dari mapel, tapi dari tujuan besar pendidikan, yaitu membentuk santri yang bertauhid kuat. Dari situ baru diturunkan ke program, materi, dan kegiatan.”. Hal ini diperkuat oleh guru yang menyatakan bahwa integrasi nilai tauhid menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan pembelajaran: “Kami tidak hanya menyusun materi ajar, tetapi juga memastikan setiap materi itu bisa dikaitkan dengan nilai tauhid.”
Secara operasional, perencanaan diawali dengan pemetaan tujuan pendidikan yang mencakup tiga dimensi, yaitu ruhiyah, aqliyah, dan jasadiah. Hasil observasi menunjukkan bahwa struktur kurikulum mengintegrasikan kurikulum nasional, kurikulum diniyah, dan kurikulum asrama khas Hidayatullah. Evaluasi kurikulum juga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan akademik maupun karakter santri. “Setiap tahun kami evaluasi, terutama bagaimana nilai tauhid bisa lebih masuk ke pelajaran umum.” begitu hasil wawancara dengan kepala sekolah. Perencanaan kurikulum kemudian dirumuskan melalui rapat lintas unit yang melibatkan unit akademik, diniyah, dan asrama, untuk memastikan integrasi kurikulum berjalan secara tepat. Perencanaan kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri memiliki karakteristik filosofis dan integratif, di mana kurikulum tidak hanya dipandang sebagai dokumen akademik, tetapi sebagai sistem pembinaan manusia secara utuh. Temuan ini sejalan dengan pandangan manajemen kurikulum dalam pendidikan Islam yang menempatkan nilai-nilai dasar (worldview) sebagai fondasi dalam perencanaan pendidikan[18]. Menurut manajemen kurikulum Islam, perencanaan kurikulum ideal harus dimulai dari perumusan tujuan yang bersifat transendental dan berorientasi pada pembentukan insan kamil, bukan sekadar pencapaian akademik. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menyatakan bahwa pengembangan kurikulum pesantren harus mengintegrasikan nilai keislaman secara sistemik dalam setiap tahap manajerial.[1]
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini sejalan dengan konsep kurikulum integratif yang menekankan keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pendidikan. Dalam pendidikan Islam, keterpaduan tersebut tidak hanya mencakup kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga pembinaan ruhiyah, aqliyah, dan jasadiah secara seimbang. Pendekatan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) dapat menjadi kerangka dalam menyusun tahapan pembinaan pendidikan yang sistematis dan berorientasi pada pembentukan karakter[13]. Selain itu, hasil penelitian ini juga relevan dengan konsep integrasi kurikulum pesantren yang menekankan bahwa keberhasilan integrasi kurikulum terletak pada kemampuan lembaga dalam menyatukan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keislaman dalam satu sistem yang utuh, bukan sekadar penambahan mata pelajaran agama[8]. Dengan demikian, perencanaan kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri dapat dipahami sebagai model perencanaan berbasis tauhid yang menempatkan wahyu sebagai landasan epistemologis sekaligus operasional. Model ini memperluas konsep manajemen kurikulum dari yang bersifat teknis-administratif menjadi filosofis-transformatif, di mana seluruh proses perencanaan diarahkan pada pembentukan kesadaran ketauhidan dalam diri peserta didik. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, diperoleh keterangan bahwa dalam pembagian tugas guru, aspek komitmen keislaman menjadi pertimbangan: “Guru di sini tidak hanya ditugaskan mengajar, tapi juga menjadi pembimbing. Maka yang dipilih bukan hanya yang pintar mengajar, tapi juga yang bisa jadi teladan.”. Hal ini diperkuat oleh keterangan guru yang menyatakan bahwa: “Kami bukan hanya guru mata pelajaran, tapi juga mendampingi santri di luar kelas, termasuk dalam pembinaan ibadah dan adab.”
Hasil observasi menunjukkan bahwa koordinasi antar unit dilakukan secara rutin melalui rapat lintas bidang. Dalam forum tersebut, setiap unit menyampaikan perkembangan program serta melakukan sinkronisasi kegiatan agar tidak terjadi tumpang tindih dan tetap menjaga integrasi nilai tauhid. Selain itu, struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas, seperti koordinator akademik, koordinator diniyah, dan pembina asrama, namun seluruhnya berada dalam satu kerangka kurikulum terpadu. Temuan ini menunjukkan bahwa pengorganisasian kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri bersifat integratif dan berbasis nilai, di mana struktur organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pembagian kerja, tetapi sebagai sistem yang mendukung internalisasi nilai tauhid. Hal ini sejalan dengan konsep manajemen pendidikan Islam yang menekankan pentingnya integrasi antara fungsi manajerial dan nilai-nilai spiritual dalam pengelolaan lembaga pendidikan[19]. Penelitian oleh Ahmad Fauzi menyatakan bahwa keberhasilan manajemen pesantren ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan aspek struktural dengan nilai-nilai keislaman dalam praktik kelembagaan[10]. Selain itu, konsep guru sebagai murabbi yang muncul dalam hasil penelitian ini juga selaras dengan teori pendidikan Islam yang menempatkan pendidik sebagai sosok teladan yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter[20]. Penelitian oleh N. Shidqiyah menunjukkan bahwa kurikulum integratif hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh komponen lembaga memiliki visi yang sama dan bekerja dalam koordinasi yang terpadu[6]. Dengan demikian, pengorganisasian kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri dapat dipahami sebagai model integrasi struktural berbasis tauhid, di mana seluruh unit lembaga berfungsi sebagai bagian dari sistem kurikulum yang utuh.
Hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri tidak terbatas pada kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi berlangsung dalam ekosistem pendidikan selama 24 jam yang mencakup pembelajaran formal, pembiasaan ibadah, dan pembinaan karakter. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru mengintegrasikan nilai tauhid ke dalam materi pelajaran. Berdasarkan wawancara dengan guru: “Setiap materi selalu kami kaitkan dengan nilai tauhid, sehingga santri tidak hanya memahami ilmu, tapi juga melihat kaitannya dengan keimanan”. Hasil observasi menunjukkan bahwa kegiatan di asrama seperti shalat berjamaah, halaqah, dan pembiasaan adab menjadi bagian integral dari kurikulum. Santri juga dilibatkan dalam kegiatan kepemimpinan melalui organisasi santri. Santri menyatakan bahwa pembelajaran di pesantren tidak hanya terjadi di kelas: “Di sini belajar tidak hanya di kelas, tapi juga di asrama. Ustadzah selalu mengingatkan kami dalam ibadah dan perilaku sehari-hari”.
Temuan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kurikulum berbasis tauhid di Pesantren Ar-Rohmah Putri bersifat holistik dan kontekstual, di mana proses pendidikan berlangsung dalam seluruh aktivitas kehidupan santri. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan holistik yang menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi dalam seluruh pengalaman hidup peserta didik[21]. Dalam konteks pendidikan, sistem pesantren merupakan lingkungan paling efektif dalam membentuk karakter karena memungkinkan proses pembinaan berlangsung secara berkelanjutan[22]. Selain itu, integrasi nilai tauhid dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi intrinsik dan makna belajar siswa[23]. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri tidak hanya berlangsung melalui kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari santri. Seluruh proses tersebut berjalan dalam satu sistem pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai tauhid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri dilakukan secara multidimensi, mencakup aspek akademik, diniyah, dan karakter. Berdasarkan wawancara dengan guru, evaluasi tidak hanya berfokus pada hasil belajar kognitif: “Kami tidak hanya menilai nilai akademik, tapi juga perkembangan ibadah dan akhlak santri.”. Hasil observasi memperlihatkan bahwa evaluasi dilakukan meliputi penilaian akademik dan diniah yang berupa ujian tulis dan praktik, kemudian evaluasi ibadah harian, penilaian adab santri baik di kelas maupun asrama. Selain itu, dilakukan supervisi rutin pada pembelajaran untuk memastikan apakah integrasi nilai tauhid telah diterapkan dalam pembelajaran.
Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di Pesantren Ar-Rohmah Putri tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perkembangan adab, spiritualitas, dan pembentukan kemandirian santri. Pendekatan ini selaras dengan konsep holistic assessment yang menekankan pentingnya penilaian terhadap seluruh aspek perkembangan peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam, Marlina dan Sutiana juga menjelaskan bahwa evaluasi yang memadukan aspek spiritual dan karakter dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap pembentukan kepribadian siswa[24]. Selain itu, pendekatan evaluasi ini juga sejalan dengan prinsip muraqabah, yaitu kesadaran diri dalam pengawasan Allah, yang menjadi dasar dalam pembentukan karakter dalam pendidikan Islam. Dengan demikian, evaluasi kurikulum di Pesantren Ar-Rohmah Putri mencerminkan model evaluasi berbasis tauhid yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik dan transformasi spiritual sebagai indikator keberhasilan pendidikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) memiliki beberapa peluang strategis dalam mendukung keberhasilan pendidikan di pesantren. Pertama, sistem pesantren memberikan lingkungan yang kondusif untuk pembinaan karakter secara berkelanjutan. Lingkungan yang terkontrol memungkinkan internalisasi nilai tauhid berlangsung secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari santri. Kedua, integrasi kurikulum nasional, diniyah dan kurikulum khas Hidayatullah memberikan peluang bagi santri untuk berkembang secara seimbang antara aspek Ruhiyah, Aqliah, dan Jasadiah. Ketiga, pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap mata pelajaran mampu mendorong motivasi belajar santri, karena belajar dipahami sebagai kewajiban dan bagian dari ibadah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di Pesantren Ar-Rohmah Putri tidak terlepas dari berbagai keterbatasan dan tantangan, baik pada aspek sumber daya manusia, pengelolaan kurikulum, maupun dinamika peserta didik. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan guru dalam mengintegrasikan nilai tauhid ke dalam mata pelajaran umum. Berdasarkan wawancara dengan guru, diperoleh keterangan bahwa tidak semua guru memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan integrasi tersebut: “Tidak semua guru langsung bisa mengaitkan materi pelajaran dengan nilai tauhid. Perlu proses pembinaan dan pembiasaan.” . Selain itu, beban kurikulum yang menggabungkan kurikulum nasional dan kurikulum pesantren juga menjadi tantangan tersendiri. Guru menyampaikan bahwa padatnya jadwal pembelajaran menuntut pengelolaan waktu yang sangat efektif: “Karena ada kurikulum nasional dan pesantren, jadwal menjadi cukup padat, sehingga perlu pengaturan yang baik agar tidak memberatkan santri.”. Dari sisi peserta didik, terdapat tantangan dalam proses adaptasi terhadap sistem pendidikan berbasis pesantren yang menuntut kedisiplinan tinggi. Hasil wawancara dengan santri menunjukkan bahwa pada tahap awal, sebagian santri mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri: “Awalnya cukup berat karena harus mengikuti banyak kegiatan dan aturan, tapi lama-lama terbiasa.”. Hasil observasi juga menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga konsistensi pelaksanaan kurikulum, terutama dalam memastikan bahwa seluruh guru menerapkan integrasi nilai tauhid secara berkelanjutan dalam pembelajaran.
Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) menghadapi tantangan yang bersifat struktural, kultural, dan pedagogis. Tantangan pada aspek kompetensi guru menunjukkan bahwa integrasi kurikulum tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan pengembangan profesional yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan kajian dalam pengembangan profesional guru yang menegaskan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum sangat bergantung pada kesiapan dan kapasitas guru dalam menerjemahkan konsep ke dalam praktik pembelajaran[25]. Selain itu, beban kurikulum ganda (nasional dan pesantren) merupakan fenomena umum dalam lembaga pendidikan Islam terpadu. Integrasi kurikulum seringkali menghadapi tantangan dalam hal keseimbangan beban belajar dan efektivitas pembelajaran[8]. Dari sisi peserta didik, proses adaptasi terhadap sistem pesantren merupakan bagian dari dinamika pembinaan karakter. Penelitian dalam konteks pendidikan berasrama menunjukkan bahwa proses penyesuaian awal merupakan fase penting dalam pembentukan disiplin dan karakter peserta didik[26]. Lebih lanjut, tantangan dalam menjaga konsistensi implementasi juga menunjukkan bahwa kurikulum berbasis nilai memerlukan budaya organisasi yang kuat. Dalam perspektif budaya organisasi pendidikan, keberhasilan implementasi inovasi kurikulum sangat dipengaruhi oleh keselarasan nilai, komitmen, dan praktik di seluruh elemen lembaga[27].
Dengan demikian, keterbatasan dan tantangan yang ditemukan dalam penelitian ini tidak hanya menjadi hambatan, tetapi juga memberikan gambaran realistis mengenai dinamika implementasi Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT). Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan model kurikulum ini sangat bergantung pada penguatan kapasitas guru, pengelolaan beban kurikulum, serta konsistensi budaya kelembagaan.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditegaskan bahwa manajemen Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) di Pesantren Ar-Rohmah Putri merupakan model pengelolaan kurikulum yang bersifat integratif dan transformatif, dengan menjadikan nilai tauhid sebagai landasan utama dalam seluruh fungsi manajerial pendidikan. Pada aspek manajemen, kurikulum dikelola secara sistematis melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling terintegrasi. Perencanaan kurikulum dimulai dari perumusan tujuan pendidikan integral berbasis tauhid. Pengorganisasian kurikulum dilakukan melalui kerjasama antar unit akademik, diniyah, dan asrama, dengan peran guru sebagai murabbi yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan. Pada tahap pelaksanaan kurikulum, ekosistem pendidikan di lingkungan pesantren memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara seimbang selama 24 jam. Sementara itu, evaluasi kurikulum dilakukan secara multidimensi dengan menilai aspek akademik, spiritual, dan karakter sebagai satu kesatuan. Pada aspek peluang, implementasi kurikulum ini didukung oleh lingkungan pesantren yang kondusif dalam membentuk karakter, integrasi kurikulum nasional dan diniyah yang memperkuat keseimbangan kompetensi santri, serta pembelajaran berbasis nilai tauhid yang mampu meningkatkan motivasi intrinsik peserta didik.Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan, antara lain kesiapan guru dalam mengintegrasikan nilai tauhid dalam pembelajaran, beban kurikulum yang relatif padat, serta proses adaptasi awal santri terhadap sistem pesantren.
Penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) tidak hanya menggabungkan kurikulum umum dan keagamaan, tetapi juga menyatukan aspek spiritual, intelektual, dan praktik kehidupan dalam satu sistem pendidikan. Model ini dapat menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam yang lebih holistik dan berbasis nilai tauhid.
M. Subekhan and N. Suryapermana, “Curriculum development management in Islamic boarding schools: Effective strategies in countering radicalism,” Tarbawi: J. Keilmuan Manaj. Pendidik., vol. 10, no. 1, pp. 125–134, 2024, doi: 10.32678/tarbawi.v10i01.8294.
Fidiana, N. Handayani, and E. Dwi, “Creating spiritual value: The Islamic way to integrate environmental and social responsibilities,” Int. J. Account. Bus. Soc., vol. 30, pp. 380–399, 2022, doi: 10.21776/ijabs.2022.30.3.679.
A. Busra and E. Roza, “Konsep pendidikan Islam berbasis tauhid pada masa Rasulullah,” Al-Mikraj: J. Stud. Islam dan Humaniora, vol. 4, no. 2, pp. 1093–1103, 2024, doi: 10.37680/almikraj.v4i02.5077.
A. Ihsannudin, N. Syifana, and N. Mutiah, “Tauhid-based student management in Islamic schools: A case study at SDIT Hidayatullah Yogyakarta,” J. Islamic Educ. Manag. Res., vol. 2, no. 2, pp. 139–150, 2024, doi: 10.14421/jiemr.2024.22-05.
Dace and S. Budi, “Curriculum management in Islamic boarding schools: Integrating Islamic values and global needs,” J. Islamic Educ., vol. 4, pp. 399–409, 2025, doi: 10.61159/edukasiana.v4i1.
Shidqiyah, N. Rafika, Munawwir, and Al-Amin, “Improving the quality of Islamic education through an integrated curriculum,” 2024.
T. Sanyoto, N. Fadli, R. I. Rosyadi, and M. Muthoifin, “Implementation of tawhid-based integral education to improve and strengthen Hidayatullah basic education,” Solo Universal J. Islamic Educ. Multiculturalism, vol. 1, no. 1, pp. 30–41, 2023, doi: 10.61455/sujiem.v1i01.31.
M. Islam and E. F. Fahyuni, “Management of Islamic boarding school curriculum integration in improving the quality of madrasah education,” Halaqa: Islamic Educ. J., vol. 5, p. 1, 2021, doi: 10.21070/halaqa.v5vi1i.1325.
A. Arrasyidin and M. Zakki Azani, “Islamic education boarding school program for strengthening Qur’anic knowledge and character,” Halaqa: Islamic Educ. J., 2025, doi: 10.21070/halaqa.v9i2.1753.
Ahmad Fauzi, Model Manajemen Islamic Boarding School, vol. 1, 2025.
Mustabsyirah, A. B. Santosa, and Suyatno, “Shaping character through the implementation of a tauhid-based integral curriculum: A case study in Indonesia,” Asian J. Educ. Soc. Stud., vol. 51, no. 9, pp. 758–775, 2025, doi: 10.9734/ajess/2025/v51i92413.
Z. Zakaria, D. Citraningsih, R. Ricky, and S. Wiranata, “Pendidikan Islam lansia: Memotret metode pembelajaran di Pesantren Lansia Ahsanu ’Amala,” J. Kajian Pendidik. Islam, vol. 2, 2023, doi: 10.58561/jkpi.v2i2.92.
M. Ilyasin and A. Muadin, “Innovative approach to character education management: Learning integration of Systematics Nuzulnya Wahyu,” Al-Hayat: J. Islamic Educ., vol. 8, pp. 30–44, 2024.
A. Abdurrohman and M. Firman, “Metode kualitatif dan kuantitatif pada studi Islam,” Ar Rasyiid: J. Islamic Stud., vol. 2, no. 2, pp. 95–112, 2024, doi: 10.70367/arrasyiid.v2i2.23.
Y. R. Jannah, “Manajemen pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam berbasis pesantren: Studi kasus di SMP As-Siddiqy Situbondo,” Managiere: J. Islamic Educ. Manag., vol. 3, no. 2, pp. 145–154, 2025, doi: 10.35719/managiere.v3i2.1986.
M. N. Adlini, A. H. Dinda, S. Yulinda, O. Chotimah, and S. J. Merliyana, “Metode penelitian kualitatif studi pustaka,” Edumaspul: J. Pendidik., vol. 6, no. 1, pp. 974–980, 2022, doi: 10.33487/edumaspul.v6i1.3394.
N. Nordin, M. F. A. Ghani, and A. Ghani, “Islamic boarding school’s curriculum management modernization,” JIEMAN: J. Islamic Educ. Manag., vol. 4, no. 1, 2022, doi: 10.35719/jieman.v4i1.97.
H. Setiawan, M. Yaskur, and M. Al Mufti, “Manajemen kurikulum integratif dalam meningkatkan karakter religius di Pesantren Tahfidz Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi,” UNISAN J., 2025. [Online]. Available: https://journal.an-nur.ac.id/index.php/unisanjournal
D. Tiya, “Manajemen kurikulum pembelajaran Islam di pesantren menghadapi era modern,” AKSI: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 3, no. 3, pp. 161–174, 2025, doi: 10.37348/aksi.v3i3.624.
S. Sriyanta, K. Mujahid, and Muh. Suranto, “Pendidikan holistik dalam pengembangan karakter siswa,” TSAQOFAH, vol. 5, no. 2, pp. 1639–1646, 2025, doi: 10.58578/tsaqofah.v5i2.4899.
Sukadi, “Boarding school as a model for character education development to realize the profile of Pancasila students,” ASANKA: J. Soc. Sci. Educ., vol. 6, no. 1, pp. 85–95, 2025.
Afrilianti Nabila, “Integrasi nilai-nilai Islam dalam pembentukan niat dan motivasi belajar siswa melalui Pendidikan Agama Islam: Telaah psikologi pendidikan,” IHSANIKA: J. Pendidik. Agama Islam, vol. 3, no. 3, pp. 104–114, 2025, doi: 10.59841/ihsanika.v3i3.2853.
E. H. Marlina, D. Sutiana, S. Zakiyah, and M. Aminuddin, “Evaluasi efektivitas integrasi nilai tauhid dalam Kurikulum Merdeka untuk pembentukan karakter Islami siswa di SD IT Attaqwa Nurul Fahmi,” J. Educ. Res., vol. 6, no. 3, 2025.
T. Arumsari, J. E. Nasution, T. Widiyan, G. Kridayani, J. Resdianto, and Y. Apriliani, “Integrasi pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an dalam pengelolaan kurikulum di lembaga pendidikan,” Indones. J. Islamic Stud., vol. 1, no. 1, pp. 23–33, 2025, doi: 10.62567/ijis.v1i1.411.
P. Utomo, “The role of school environment and its influence on students’ discipline and politeness character in primary school students,” Indones. J. Character Educ. Stud., 2024.
“Improving the quality of the curriculum at the Integrated Tahfidzul Qur’an Elementary School in Banjarmasin City,” Madrosatuna, 2024, doi: 10.21070/madrosatuna.v8i2.1614.