Login
Section Innovation in Education

Innovation Of Etiquette Management In Islamic Boarding Schools


Inovasi Manajemen Pembinaan Adab Di Pondok Pesantren
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Mohamad Yanzhuril Ghulam Miraza (1), Eni Fariyatul Fahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Islamic boarding schools traditionally function as primary institutions for internalizing religious ethics through comprehensive character formation frameworks. Specific Background Ibnu Abbas Bojonegoro Islamic Boarding School implements targeted etiquette cultivation to synthesize general academic subjects with foundational religious values amidst modern globalization challenges. Knowledge Gap Although moral education is widely researched, systematic studies integrating the complete administrative cycle specifically for character formation within formal instructional frameworks remain limited. Aims This research formulates a comprehensive etiquette management model by analyzing the planning, implementation, and evaluation processes at Ibnu Abbas Bojonegoro. Results A qualitative case study utilizing interviews, observation, and documentation reveals that planning integrates classical and contemporary religious literature. Organizing systematically divides educator roles based on teaching competency. Implementation successfully employs continuous mentoring and role modeling, officially embedding behavioral assessments into formal academic reports. However, evaluation mechanisms lack standardized documentation and data-driven instruments, while diverse student backgrounds present ongoing adaptation challenges. Novelty This study uniquely embeds classical character-building concepts throughout the entire modern administrative cycle, creating a contextual and adaptive educational framework responsive to modern demands. Implications Educational institutions must standardize evaluation instruments and systematically document character assessments to ensure continuous moral progress among students.


Highlights:




  • Continuous mentoring and role modeling successfully shape student character over an observational cycle.




  • Assessing moral behavior requires standardized documentation and data-driven evaluation mechanisms to ensure objective reporting.




  • Integrating classical texts with modern academic systems provides a strong theoretical foundation for ethical education.




Keywords: Etiquette Cultivation, Administrative Cycle, Continuous Mentoring, Islamic Ethics, Character Education

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pondok pesantren sudah diketahui sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam melalui dakwah, peran tersebut terlihat dalam usaha pendidikan masyarakat terhadap nilai-nilai Islam juga pembinaan adab yang dilakukan dengan cara pendekatan formal dan nonformal.[1] Banyak lembaga pendidikan Islam pesantren yang melanjutkan metode dalam menjaga ciri khas dengan pengajaran kitab klasik para ulama terdahulu, namun tidak hanya berfokus pada pembelajaran dengan kitab tetapi juga dengan menerapkan metode pembinaan adab; pemberian contoh yang baik berupa keteladanan dari seorang ustaz, kiai atau pembimbing asrama dengan perpaduan kurikulum yang tepat.[1] Pada 10 tahun terakhir ini pondok pesantren tidak hanya sebagai lembaga tradisional tetapi juga menerapkan pendidikan, pengajaran dan pembinaan dengan kurikulum nasional untuk menjawab perubahan zaman.[2] Di tengah era globalisasi perubahan teknologi memang tidak terhindarkan, hal ini juga berdampak pada pondok pesantren terhadap kebutuhan manajemen kurikulum dalam pembinaan adab agar dapat terintegrasi antara kurikulum umum dengan nilai-nilai Islam berbasis adab. Pembinaan adab merupakan aspek yang dibutuhkan agar tercipta pembentukan karakter santri yang memiliki etika sesuai dengan nilai-nilai Islam sekaligus tetap menjaga relevansi pada perubahan zaman, berakar pada ciri khas pendidikan pesantren guna memperkuat integrasi nilai-nilai Islam pada santri melalui penerapan proses manajerial POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), peningkatan efektivitas pembinaan akhlak, kedisiplinan, capaian belajar, serta penyusunan pedoman operasional yang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.[3] Berdasarkan temuan tersebut Sustainable Development Goals (SDGs) mendorong lembaga pendidikan termasuk sekolah Islam untuk menerapkan sistem manajemen berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada administrasi, hasil survei di Malaysia menunjukkan bahwa Islamic Quality Management System (IQMS) efektif meningkatkan kualitas dan karakter adab Islami pada setiap elemen pendidikan Islam dengan meningkatkan kualitas pada lembaga pendidikan.[4]

Pondok pesantren berperan penting dalam internalisasi dan pembinaan adab Islam, namun tidak sedikit pesantren yang menghadapi tantangan pada tahap perancangan dan pelaksanaan metode dalam pembinaan yang efektif pada santri yang berjumlah banyak dengan latar belakang sosial kultural yang juga beragam, begitu juga dengan Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro,[5] dengan belum terancangnya metode pembinaan yang efektif memberikan efek sebagian santri atau siswa hanya mengejar nilai akademik, terfokus pada pembahasan kitab dan hafalan sehingga kurang maksimal dalam aspek kesopanan, pakaian, ucapan[6], dan perilaku padahal adab memiliki peran yang sangat penting bagi seorang santri agar ilmunya lebih bermanfaat karena terdapat banyak dalil dari ayat Al-Quran dan hadis yang menekankan mengenai adab.[7] Manajemen pembinaan adab memastikan proses pembelajaran tidak terpisah antara aspek kognitif dan pembinaan akhlak, melainkan terintegrasi dalam satu ekosistem yang saling mendukung antara pengetahuan, adab, dan karakter santri agar mempertahankan keutuhan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus pembinaan adab dan akhlak, terutama di tengah tuntutan modern yang menghendaki penyesuaian terhadap kompetensi tanpa mengorbankan nilai-nilai keislaman,[8] oleh sebab itu pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro berfungsi untuk menyaring informasi dan budaya asing yang tidak sesuai dengan adab Islam agar santri tetap terjaga dari pengaruh negatif.[9]

Dengan manajemen pembinaan adab yang efektif sesuai dengan Maqasid al-Shariah pada kurikulum pondok pesantren akan memiliki keunggulan dari lembaga pendidikan pada umumnya, peserta didik mampu menolak praktik immoral dan berkembang secara utuh, pendidikan bukan hanya fokus pada kemampuan intelektual santri, melainkan juga memberikan pembinaan emosional, keagamaan, dan akhlak mereka [10], selain dari aspek kurikulum yang terintegrasi dengan pembinaan adab, peran seorang pengasuh atau pembina juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kualitas karakter santri.[11] Merujuk pada sebuah konsep ta'dib dari Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad, ilmu yang tidak mendekatkan diri kepada Allah melalui adab dan akhlak pada akhirnya hanya akan menjadi beban di Hari Akhir. Melalui kerangka pemikiran ini yang diintegrasikan secara sistematis ke dalam tata kelola sebuah lembaga pendidikan, pesantren dapat memperkuat fondasi spiritual dan moral santri. Langkah ini juga menawarkan sebuah arah pembaharuan pendidikan yang tidak hanya holistik, tetapi juga menempatkan adab sebagai poros utamanya.[12] Berdasarkan konteks dan urgensi di atas, penelitian ini diarahkan untuk: (1) mendeskripsikan secara rinci perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro agar santri memiliki kesadaran akan pentingnya adab Islam serta (2) merumuskan model manajemen pembinaan adab yang berdasarkan ciri khas pendidikan pesantren untuk menyelaraskan pembinaan adab Islam dengan santri Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro yang mempunyai latar belakang beragam, penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan manajemen pendidikan Islam dan menjadi pedoman bagi instrumen yang ada di pesantren dalam mengatur skala prioritas, serta menjaga pembinaan adab dan akhlak santri agar mampu mencerminkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.[13] Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dipahami bahwa manajemen pembinaan adab di pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri. Namun demikian, dalam praktiknya masih terdapat berbagai dinamika, baik dari aspek pelaksanaan, peluang dan tantangan, maupun efektivitas evaluasi yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk menjawab beberapa permasalahan sebagai berikut: Bagaimana pelaksanaan manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro? Apa saja peluang dan tantangan dalam penerapan manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro?

Kebaruan dari penelitian di Pondok pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro adalah membantu pembinaan adab atau nilai-nilai Islam pada kegiatan sehari-hari.[14] Sebagai pondok pesantren yang terhitung baru dibandingkan dengan pondok pesantren lainnya di Bojonegoro, Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro yang baru berdiri tahun 2022 memiliki potensi dan tantangan dalam merintis lembaga pendidikan yang tidak hanya mengutamakan nilai akademik, melainkan juga pada pembinaan adab Islam dalam seluruh proses pembelajaran.[15] Dengan demikian kebaruan (novelty) dalam hal ini penelitian di Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro adalah santri tidak hanya berfokus pada nilai akademik, namun menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bahan acuan dalam penilaian dan keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren Bojonegoro sehingga santri akan lebih berakhlak dan beradab, menghindari adanya tindakan tidak menyenangkan kepada orang lain di dalam lingkup Pondok maupun di luar serta memperkaya literatur pengembangan pembinaan adab Islam.[16]

II. Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memahami fenomena dengan utuh, metode kualitatif dipilih karena memberikan ruang untuk peneliti dalam mendalami, memahami konteks dan mampu menggali makna di balik kebijakan, dan praktik yang terjadi, [17] khususnya dalam manajemen pembinaan adab pada kurikulum pendidikan pesantren di Ibnu Abbas Bojonegoro dengan data sebagaimana adanya konteks natural (natural setting).[18] Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memperoleh data yang bersifat deskriptif, pendekatan ini juga memungkinkan peneliti memahami realitas sosial secara kontekstual, sebagaimana adanya di lingkungan Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro.

Dengan metode kualitatif, peneliti dapat menganalisis secara terstruktur atas catatan observasi, wawancara, dan dokumen untuk memetakan pembinaan adab Islam di lingkup pondok.[19] Metode penelitian ini masuk dalam kategori studi kasus, karena penelitian hanya berfokus pada satu lembaga yaitu Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro.[20] Penelitian kualitatif ini juga berfungsi untuk menggali lebih detail dan rinci tentang suatu topik yang akan diteliti,[21] untuk mendapatkan data yang lengkap, peneliti memilih menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi (Observation), dokumentasi (Documentation) dan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan pendidikan dan pembinaan di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro.[22]

Tahapan analisis data ini dilakukan melalui langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara iteratif.[23] Peneliti juga menjalankan teknik member checking, peer debriefing, dan ketersediaan referensial untuk memastikan keabsahan data.[24] Lokasi penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro, yang berlokasi di Jl. Monginsidi, desa Sembung, kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, lokasi ini dipilih bertujuan karena memiliki karakteristik yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu adanya upaya sistematis dalam manajemen pembinaan adab Islam.[25]

III. Hasil dan Pembahasan

A. Manajemen Pembinaan Adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro

Temuan penelitian yang diperoleh melalui wawancara dan observasi mengungkapkan bahwa manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro dalam menanamkan akhlak santri dilaksanakan melalui fungsi manajemen yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengendalian (controlling), yang dalam tradisi pesantren dikenal dengan istilah ta’dib. Pada tahap perencanaan (planning), berdasarkan hasil wawancara dengan para pengajar dan pembina pondok, diketahui bahwa rancangan pembinaan adab melalui rapat koordinasi pada setiap awal tahun ajaran baru yang melibatkan seluruh tenaga pengajar. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa rapat ini menjadi forum utama dalam menyusun, menyempurnakan, serta mengevaluasi program pembinaan adab agar tetap selaras dengan visi dan misi pondok. Di samping itu, proses perencanaan diperkaya dengan mengintegrasikan modul ataupun diktat akademis dari kampus di Timur Tengah seperti Islamic University of Madinah dan Imam Mohammad Ibn Saud Islamic University. Perencanaan tersebut disusun berdasarkan pada kombinasi literatur klasik (salaf) dan kontemporer (khalaf), seperti tulisan-tulisan dari Imam An-Nawawi dan juga Ibnu Qayyim al-Jawziyyah. Selain itu, juga berdasarkan risalah-risalah `ilmiyyah dari Syekh Ibn ‘Utsaimin. Kebijakan ini diambil agar proses pembinaan adab memiliki fondasi keilmuan yang kuat, serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, dalam temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam masih menempatkan pemikiran para ulama sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter dan adab santri .[26]

Pada tahap pengorganisasian (organizing), berdasarkan hasil observasi, pondok telah melakukan pembagian tugas secara sistematis dengan menempatkan pengajar sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa struktur pengajaran (tadris) disusun secara jelas dan terbuka sehingga setiap elemen dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan teori manajemen modern yang menekankan pentingnya spesialisasi kerja dan kejelasan struktur organisasi untuk meningkatkan efektivitas kinerja, sedangkan pada tahap pelaksanaan (actuating), pembinaan adab melibatkan kolaborasi dari seluruh elemen pondok, mulai dari musyrif, pengajar (mudarris), wali kelas, organisasi santri, sampai pada bagian keamanan dan pengelola koperasi. Secara detail, proses pembentukan karakter ini pada penerapannya melalui dua pendekatan utama, yaitu uswah hasanah dan mulazamah, yang keduanya dijalankan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk memastikan bahwa pelaksanaannya berlangsung dengan efektif. Pertama, pendekatan uswah hasanah berupa keteladanan. Metode ini mengarahkan pada pembiasaan rutinitas ibadah keseharian santri, semisal kedisiplinan saat salat berjamaah di masjid dan membaca Al-Qur'an. Dalam SOP pelaksanaannya, proses keteladanan tersebut mensyaratkan agar para pengajar dan musyrif berperan sebagai role model yang datang lebih awal di masjid dan kegiatan sebelum memberikan intruksi kepada santri. Proses ini diawasi secara kontinu melalaui CCTV dan seluruh elemen Pondok. Apabila terdapat pelanggaran dari santri pada SOP yang telah disepakati maka sistem sanksi yang diterapkan bersifat edukatif dan bertahap (dimulai dengan teguran secara lisan, peringatan dengan tulisan, hingga menambah porsi hafalan dan tugas). Dampak perubahan yang ditunjukan dari sistem keteladanan dan sanksi edukatif ini adalah lahirnya kesadaran intrinsik pada diri sebagian santri. Mereka mulai terbiassa melaksanakan ibadah dengan kedisiplinan dan ketertiban karena keteladanan yang mereka amati, bukan karena dipaksa atau takut dengan hukuman. Kedua, pendekatan mulazamah pendampingan berkelanjutan, metode ini dijalankan dengan adanya interaksi positif dan pendampingan yang terus menerus antara musyrif dan para santri. Berdasarkan SOP pondok, proses mulazamah diharuskan berlangsung selama 24 jam penuh di lingkungan pondok, dan musyrif tidak hanya mengawasi saja, tetapi membaur ke dalam aktivitas keseharian santri, seperti makan bersama, bimbingan halaqah al-Qur`an, dan sesi olahraga. Apa bila didapati pelanggaran dalam proses interaksi ini seperti kurang sopan dalam berkata-kata atau bertindak, maka hukuman yang diberikan lebih mengedepankan pembinaan karakter melalui refleksi diri dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Hukuman tersebut dapat berupa kewajiban tambahan hafalan, membersihkan area tertentu dari, atau menyampaikan hadis dan ayat di depan masjid. Deengan proses mulazamah ini, perubahan perlahan terlihat pada terbangunnya ikatan kebersamaan antara santri dan pendidik, yaitu santri menjadi lebih terbuka, memiliki adab dan akhlak kepada pengajar dan sesama santri.

Selain itu, pembinaan adab juga terintegrasi dalam pembelajaran formal di kelas. Hasil observasi menunjukkan bahwa materi adab tidak hanya diajarkan secara kognitif, tetapi juga menjadi bagian dari penilaian akademik dalam rapor. Temuan ini menunjukkan kesesuaian dengan kerangka teoritis dengan temuan jurnal sebelumnya[27] yang menyatakan bahwa integrasi nilai karakter dalam kurikulum formal dapat memperkuat internalisasi nilai pada peserta didik. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dan observasi, ditemukan bahwa pelaksanaan pembinaan adab masih menghadapi tantangan, khususnya dalam menjaga konsistensi penerapan di tengah latar belakang santri yang beragam. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pembinaan dan standarisasi agar hasil yang dicapai lebih merata. Temuan ini sejalan dengan teori manajemen pendidikan yang menekankan pentingnya konsistensi implementasi sebagai faktor keberhasilan program.

Pada tahapan pengendalian (controlling), skema evaluasi pembinaan adab dijalankan dengan terstruktur dan berkelanjutan. Mengacu pada hasil wawancara, proses ini dijalankan melalui rapat evaluasi mingguan di tingkat pengajar dan musyrif serta konsolidasi bersama jajaran pembina pondok dalam jangka bulanan. Observasi di lapangan menggambarkan bahwa forum evaluasi ini memiliki fungsi ganda: tidak hanya berfokus memastikan kesesuaian antara perencanaan dan realisasi program, tetapi juga untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang didapati selama proses pembinaan. Data yang diperoleh dari evaluasi inilah yang nantinya akan dijadikan sebuah pijakan esensial untuk merumuskan langkah perbaikan. Namun, berdasarkan hasil dari observasi, evaluasi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro masih lebih banyak disampaikan dengan ucapan dan belum didukung oleh dokumentasi yang disusun dengan sistematis, dan kondisi tersebut dapat berpengaruh pada efektivitas evaluasi apabila diterapkan dalam jangka yang tidak pendek, disebabkan hal ini diperlukan pengembangan sistem dokumentasi agar peningkatan mutu pengelolaan pada bidang pendidikan secara berkelanjutan. Bersumber dari hasil wawancara dan observasi, penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro telah menggabungkan fungsi manajemen modern (POAC) dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang menerapkan konsep ta’dib. Model ini memiliki keunggulan pada aspek keteladanan dan integrasi kurikulum, serta didukung oleh landasan ilmiah dari literatur ulama. Hal ini sejalan dengan teori manajemen pendidikan yang menekankan pentingnya perencanaan sistematis, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang terarah, dan evaluasi berkelanjutan dalam mencapai tujuan pendidikan secara optimal.[28]

B. Peluang dan tantangan penerapan manajemen pembinaan adab

Berdasarkan hasil penelitian di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro, penerapan manajemen pembinaan adab memiliki sejumlah peluang dan tantangan. Dari sisi peluang, lingkungan pesantren yang sudah didukung oleh sistem asrama memberikan wadah bagi proses pembinaan adab untuk berjalan secara berkesinambungan selama 24 jam dengan pengawasan dan pembiasaan sehari-hari. Selain itu juga, kedisiplinan para pengajar dan pembina, seperti ustaz dan musyrif, mengambil peran dalam memberikan contoh atau panutan, baik dalam pelaksanaan ibadah maupun interaksi harian santri. Integrasi materi adab ke dalam pembelajaran formal sekaligus sistem penilaian akademik juga menjadi faktor yang mendukung dalam menanamkan nilai-nilai Islam secara lebih terarah dan sistematis. Di samping itu, komitmen kelembagaan yang ditunjukkan melalui rapat rutin dan koordinasi antar pengajar memperkuat pengelolaan pembinaan adab secara terstruktur.[29] Namun demikian, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya. Keberagaman latar belakang santri mempengaruhi perbedaan karakter dan tingkat pemahaman tentang adab, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih adaptif. Selain itu, kecenderungan sebagian santri yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pembinaan adab dan praktik pembelajaran, tantangan lainnya adalah keterbatasan sistem evaluasi yang masih bersifat lisan dan belum terdokumentasi secara sistematis, serta perlunya konsistensi pengawasan dari seluruh elemen pondok dalam pelaksanaan pembinaan adab.

Peluang yang dimiliki menunjukkan bahwa sistem pendidikan pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro memiliki keunggulan dalam pembinaan adab, khususnya melalui pendekatan uswah hasanah dan ta’dib sebagai metode utama dalam pembentukan karakter dikarenakan jumlah santri yang belum terlalu banyak sehingga lebih mudah dalam memberikan uswah dan ta`dib.[30] Penyelarasan manajemen pembinaan adab dalam kurikulum formal juga mencerminkan upaya menggabungkan pendekatan tradisional pesantren dengan sistem pendidikan modern. Namun, dengan berbagai tantangan yang terjadi menunjukkan bahwa pembinaan adab di pesantren masih sangat memerlukan penyempurnaan pada pelaksanaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya yang sesuai untuk meningkatkan integrasi antara pembelajaran yang bersifat kognitif dengan pembinaan sikap dan perilaku santri. Selain itu juga, sistem manajemen pembinaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan setiap santri. Salah satu tantangan yang didapati dalam proses pembinaan ini ialah perizinan santri untuk keluar dari lingkungan asrama atau pondok. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang kurang baik, terutama ketika santri berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang belum sepenuhnya memperhatikan nilai adab dan etika, khususnya dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Dari sisi evaluasi, efektivitas manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro dapat dikategorikan cukup efektif, namun belum optimal. Hal ini terlihat dari adanya evaluasi rutin mingguan dan bulanan yang mencerminkan penerapan fungsi controlling dalam manajemen pendidikan.[31] Pengawasan langsung oleh musyrif selama 24 jam menjadi keunggulan dalam pelaksanaan evaluasi yang berkelanjutan, sementara sinkronisasi penilaian adab dalam rapor menunjukkan adanya upaya sistematis dalam mengukur aspek afektif santri. Meskipun demikian, efektivitas evaluasi masih menghadapi kendala, antara lain belum adanya dokumentasi yang sistematis sehingga hasil evaluasi sulit ditelusuri, serta belum tersusunnya instrumen baku yang menyebabkan penilaian cenderung subjektif. Dalam perspektif manajemen pendidikan modern, evaluasi yang efektif memerlukan sistem yang terstruktur, indikator yang jelas, serta dokumentasi yang berkelanjutan berbasis data (data-driven decision making).[32] Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem evaluasi yang lebih terstandar, seperti penyusunan rubrik penilaian adab, pencatatan perkembangan santri secara berkala, serta digitalisasi data pembinaan. Dengan demikian, meskipun evaluasi pembinaan adab telah berjalan secara rutin dan berkontribusi dalam pembentukan karakter santri, penguatan pada aspek sistematisasi, standarisasi, dan dokumentasi masih diperlukan untuk mencapai efektivitas yang optimal.

I V . Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro telah dilaksanakan secara sistematis melalui penerapan fungsi manajemen yang meliputi planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC) yang diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan Islam berbasis ta’dib. Proses perencanaan dilakukan secara terstruktur melalui rapat koordinasi rutin dengan landasan rujukan dari literatur ulama klasik dan kontemporer, sehingga memberikan legitimasi normatif dan konseptual dalam pembinaan adab. Pada aspek manajemen, pembagian tugas disesuaikan dengan kompetensi masing-masing disertai dengan adanya struktur yang jelas menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan pesantren telah dilaksanakan dengan profesional. Adapun pada tahap pelaksanaannya, pembinaan adab dijalankan dengan berbagai pendekatan, seperti keteladanan, pembiasaan, dan pengintegrasian ke dalam pembelajaran formal. Dengan proses tersebut, penanaman nilai tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan santri, tetapi juga sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, pada aspek pengendalian, evaluasi pembinaan adab telah dilaksanakan secara rutin melalui mekanisme evaluasi pekanan dan bulanan, meskipun masih memerlukan penguatan dalam hal sistem dokumentasi dan standarisasi instrumen penilaian. Penelitian ini juga menemukan bahwa lingkungan pesantren yang berbasis asrama, keteladanan pengajar, serta integrasi kurikulum menjadi peluang utama dalam keberhasilan pembinaan adab. Namun, terdapat sejumlah tantangan, seperti keberagaman latar belakang santri, kecenderungan orientasi akademik semata, adanya perizinan santri keluar pondok serta belum optimalnya sistem evaluasi yang berbasis data.

Dengan demikian, manajemen pembinaan adab di Pondok Pesantren Ibnu Abbas Bojonegoro dapat dikatakan telah berjalan dengan cukup baik, meskipun masih didapati beberapa aspek yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih pada penetapan standar pembinaan, konsistensi dalam pelaksanaan, serta pengembangan sistem evaluasi yang terdokumentasi dengan baik serta didukung oleh data yang jelas agar proses perbaikan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dari sisi teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa memadukan antara konsep manajemen modern dengan nilai-nilai pendidikan Islam berbasis ta’dib dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam membentuk karakter santri secara menyeluruh, sekaligus tetap mampu menyesuaikan dengan perkembangan pendidikan pada era modern.

References

A. Karim et al., “Islamic spiritual leadership of kyai in fostering santris’ entrepreneurial spirit and independence in boarding school,” Soc. Sci. Humanit. Open, vol. 12, no. March, p. 101817, 2025, doi: 10.1016/j.ssaho.2025.101817.

M. Ari, S. Dorloh, and S. Abdullah, “A systematic literature review of Islamic boarding school (Pesantren) education in Indonesia (2014–2024),” Tribakti, vol. 35, pp. 161–180, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.uit-lirboyo.ac.id/index.php/tribakti/article/view/5330/1755

A. Purwowidodo and M. Zaini, “Developing a value-based moderate Islamic education model: A case study of Pesantren Sidogiri Pasuruan,” J. Pendidik. Agama Islam (J. Islamic Educ. Stud.), vol. 12, no. 1, pp. 43–62, 2024, doi: 10.15642/jpai.2024.12.1.43-62.

S. Sudirman, R. Ramadhita, S. Bachri, and Y. Whindari, “The transformation of state Islamic higher education institutions into World-Class University: From globalisation to institutional values,” Soc. Sci. Humanit. Open, vol. 12, no. June, p. 101705, 2025, doi: 10.1016/j.ssaho.2025.101705.

N. Muhammad, N. Alias, K. A. Jamaludin, and H. Zulnaidi, “Skills-based curriculum design for culinary course in traditional Tahfiz institutions,” Heliyon, vol. 8, no. 6, p. e09591, 2022, doi: 10.1016/j.heliyon.2022.e09591.

M. Effendi, I. Warsah, and S. Bahri, “Implementasi manajemen pendidikan karakter berbasis adab di sekolah dasar Islam terpadu,” vol. 7, no. 2, pp. 513–523, 2024.

A. Fitri, R. Risnawati, and N. Za’ba, “Pengaruh pembelajaran Akidah Akhlak dan lingkungan madrasah terhadap adab pergaulan peserta didik,” Ainara J.: J. Penelit. dan PKM Bid. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 3, pp. 378–385, 2024, doi: 10.54371/ainj.v5i3.561.

T. Al-Mishbah, I. K. Sofiani, M. Hijratunnisak, and M. Nabila, “Analisis etika pendidik dalam perspektif Al-Qur’an,” vol. 5, no. 2, pp. 1–12, 2023.

N. S. Daeng, “Strategi santri Pondok Pesantren Bustanul Mansuriyah dalam menghadapi tantangan globalisasi,” vol. 1, pp. 23–29, 2024.

H. I. Sulayman, “Values-based curriculum model: A practical application of integrated ‘Maqasid Al-Sharia’ for wholeness development of mankind,” Procedia Soc. Behav. Sci., vol. 123, pp. 477–484, 2014, doi: 10.1016/j.sbspro.2014.01.1447.

D. Gwada, J. Tondeur, B. Bruggeman, S. Liyala, and S. O. Abeka, “Bridging higher educators’ beliefs and practice in online education: A qualitative systematic review,” Comput. Educ. Open, vol. 9, no. July, p. 100286, 2025, doi: 10.1016/j.caeo.2025.100286.

R. K. Ningtias et al., “Al-Ghazali’s ethical paradigm and its relevance in aqidah-akhlak instruction at Islamic boarding school-based Madrasah Aliyah Tarbiyatut Tholabah,” vol. 1, pp. 91–103, 2025, doi: 10.58518/gajie.vii24..2779.

A. M. Arif, N. Nurdin, and E. Elya, “Character education management at Islamic grassroots education: The integration of local social and wisdom values,” Al-Tanzim: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 7, no. 2, pp. 435–450, 2023, doi: 10.33650/al-tanzim.v7i2.5468.

G. Kepanduan, H. Wathan, and S. Dasar, “Application of child friendly schools through the Hizbul Wathan in Indonesia and Malaysia elementary schools,” vol. 4, no. 1, pp. 1–8, 2020, doi: 10.21070/halaqa.v4i1.171.

A. Saepudin, “Holistic Islamic education: Assessing the impact of integrative curricula on moral and spiritual development in secondary schools,” vol. 6, no. 1, pp. 1072–1083, 2024.

L. D. Tangan, “Anti-bullying characters based on Hadith: Controlling your mouth and hands,” vol. 9, no. 1, 2025, doi: 10.21070/halaqa.v9i1.1710.

I. I. J. Rifka Alkhilyatul Ma’rifat and I. Made Suraharta, “Transformasi manajemen pondok pesantren menuju pesantren digitalisasi di tengah tantangan globalisasi,” vol. 2, pp. 306–312, 2024.

J. K. Fieldhouse et al., “The intersection of artificial intelligence with qualitative or mixed methods for communicable disease research: A scoping review,” vol. 248, no. August, 2025.

R. R. Anggraini and E. F. Fahyuni, “Science-based inquiry learning with Islamic values to improve critical thinking: Pembelajaran berbasis penyelidikan ilmiah dengan nilai-nilai Islam untuk meningkatkan pemikiran kritis,” vol. 6, pp. 1–13, 2025, doi: 10.21070/adabiyah.v6i1.1732.

I. Rosadi, K. I. M. Santosa, and Y. Lesmana, “Upaya pondok pesantren dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia: Studi kasus di Pondok Pesantren Ar Rohmah Kosambi,” Indones. Res. J. Educ., vol. 4, no. 4, pp. 310–315, 2024, doi: 10.31004/irje.v4i4.1047.

A. Ghanad, “An overview of quantitative research methods,” vol. 6, no. 8, pp. 3794–3803, 2023, doi: 10.47191/ijmra/v6-i8-52.

V. Heaslip, S. Docherty, U. Obioha, K. Breheny, J. Pleat, and M. P. Brewin, “Jo u of,” Burns, p. 107772, 2025, doi: 10.1016/j.burns.2025.107772.

T. Concept et al., “Educational Science Journal,” pp. 10–14, 2025.

D. Mairita, S. Kholil, and L. Khairani, “The strategy of communication to develop tourism in Islamic education is based on the heritage of the Islamic kingdom,” pp. 2233–2244, 2023, doi: 10.30868/ei.v12i02.4838.

S. Penelitian, “Metodologi penelitian pendidikan,” Metodol. Penelit. Pendidik., 2025.

A. E. Management, “Muhammad Hambal Shafwan: Management in Islamic boarding school,” no. Sinta 3, pp. 1–17, 2025.

A. F. Sopyan, Y. M. Nasrullah, and F. M. Nazib, “Manajemen kepemimpinan pondok pesantren dalam meningkatkan pembinaan akhlak santri (penelitian di Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango),” 2025.

A. U. Ashari, M. Usman, and Khuriyah, “Innovation and implementation of Adab curriculum: Ta’Dib education approach in character formation,” Islam. Manag. J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 8, no. 2, pp. 813–826, 2025, doi: 10.30868/im.v8i02.8605.

A. F. P. Koswara and R. Rusnilawati, “Optimizing problem-solving competencies through inquiry-based learning and gamified formative assessment in primary mathematics,” Profesi Pendidik. Dasar, pp. 274–290, 2025, doi: 10.23917/ppd.v11i3.12040.

K. Ta, D. I. B. Syed, and M. Naquib, “An-Nur: Jurnal Studi Islam,” vol. 13, no. 1, pp. 32–50, 2021.

W. Hidayat and N. Hidayat, “Islamic boarding school management: A comprehensive analysis of a special program for fostering students’ disciplinary character in Madrasah Ibtidaiyah,” Heutagogia: J. Islamic Educ., vol. 3, no. 2, pp. 225–236, 2023, doi: 10.14421/hjie.2023.32-07.

N. R. Nadiyah and M. Z. Azani, “Nilai-nilai akhlak dalam Kitab Hadits Arba’in An-Nawawi: Relevansi dan integrasinya terhadap pembelajaran akhlak di madrasah,” vol. 14, no. 3, pp. 4113–4122, 2025.