Login
Section Innovation in Economics, Finance and Sustainable Development

Accountable Corporate Social Responsibility Drives Nutritional Innovation For Toddler Stunting Recovery

Akuntabilitas Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Mendorong Inovasi Gizi Pemulihan Stunting Balita
Vol. 27 No. 4 (2026): October:

Trie Dinda Putri (1), Gusti Ayu Diah Dhyanasaridewi (2), Mungky Hendriyani (3)

(1) Program Studi Akuntansi, Institut Teknologi Dan Bisnis Swadharma Jakarta, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Institut Teknologi Dan Bisnis Swadharma Jakarta, Indonesia
(3) Program Studi Akuntansi, Institut Teknologi Dan Bisnis Swadharma Jakarta, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Corporate social responsibility functions as a fundamental mechanism for corporate entities to support public health interventions. Specific Background In Indonesia, the Denting Nusantara Program systematically addresses child malnutrition by utilizing corporate funding to supply fortified supplementary food. Knowledge Gap However, comprehensive evaluations examining the financial accountability and vertical versus horizontal transparency of these specific nutritional interventions remain scarce. Aims This study analyzes the accountability and transparency frameworks governing corporate fund management within the Denting Nusantara Program in Pluit. Results Qualitative analysis reveals that collaborative fund management successfully supported local resource innovations, specifically fish bone fortification, shifting the focus from high-cost medical formulas. Consequently, the underweight cure rate climbed from 58.3% to 72.7%, while the stunting cure rate increased from 28.6% to 32.6% between 2024 and 2025. Despite high vertical accountability to central management, grassroots horizontal financial transparency remained limited. Novelty This research distinctly demonstrates that integrating local technical innovations with corporate funding creates sustainable nutritional recovery, while exposing critical gaps in community-level financial transparency. Implications Corporations must implement accessible horizontal reporting mechanisms for local healthcare cadres to maintain community trust and ensure the long-term sustainability of public health interventions.


Highlights




  • Corporate funding efficiently supports nutritional interventions utilizing local resources like fortified fish bone waste.




  • Underweight and stunting cure rates systematically climbed following targeted local technical innovations.




  • Vertical corporate reporting mechanisms require horizontal grassroots transparency to maintain community health participation.




Keywords


Corporate Social Responsibility; Financial Accountability; Toddler Nutrition; Stunting Recovery; Social Accounting

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis modern menuntut perusahaan untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian laba, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam perspektif akuntansi, CSR tidak lagi dipahami semata-mata sebagai aktivitas filantropis, melainkan sebagai bagian integral dari akuntansi sosial (social accounting) yang mencakup proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, pelaporan, dan pengungkapan dampak sosial serta lingkungan dari aktivitas perusahaan. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat menyajikan informasi yang objektif, transparan, dan akuntabel mengenai penggunaan sumber daya serta konsekuensi sosial yang ditimbulkan kepada para pemangku kepentingan. Dengan demikian, akuntansi sosial berperan penting dalam memperkuat akuntabilitas perusahaan sekaligus mendukung terciptanya hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dan para pemangku kepentingan [1].

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu elemen penting dalam akuntansi sosial, karena merepresentasikan bentuk komitmen perusahaan dalam merespons berbagai persoalan sosial di masyarakat, termasuk isu kesehatan dan gizi [2]. Di Indonesia, CSR telah menjadi kewajiban bagi perseroan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 dan dipertegas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Di luar aspek kepatuhan terhadap regulasi, CSR juga berperan sebagai strategi bisnis untuk meningkatkan nilai perusahaan sekaligus memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan. Hal ini sejalan dengan temuan [3], [4] yang menunjukkan bahwa pengungkapan CSR berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan dan menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan bisnis.

Dari perspektif akuntansi, pengelolaan dan pelaporan dana CSR perlu dikaji secara komprehensif mengingat keterkaitannya dengan prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam penggunaan dana perusahaan untuk kegiatan sosial. Hal tersebut menegaskan bahwa biaya CSR merupakan bagian dari pengeluaran perusahaan yang wajib dipertanggungjawabkan, termasuk dampak sosial yang dihasilkannya. Oleh karena itu, siklus pengelolaan dana CSR yang baik idealnya mencakup tahapan perencanaan, penganggaran, penggunaan, alokasi, pelaporan, pertanggungjawaban, hingga evaluasi efektivitas program secara terintegrasi. Tanpa pengelolaan dan pelaporan yang memadai, besarnya dana yang dialokasikan tidak serta-merta menjamin tercapainya tujuan sosial yang diharapkan[5].

Stunting merupakan salah satu prioritas nasional dan fokus program Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia. Kondisi akibat kekurangan gizi kronis selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ini ditandai tinggi badan di bawah standar usia. Berdasarkan SSGI 2022, prevalensi stunting mencapai 21,6% [6]. Dampaknya mencakup terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia.

Merespons persoalan tersebut, PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Muara Karang menginisiasi Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam penanganan stunting. Program ini tercatat berhasil menurunkan prevalensi stunting hingga 20% dan mendorong replikasi program ke seluruh kelurahan di wilayah Kecamatan Penjaringan. Namun demikian, hingga saat ini belum ditemukan kajian mendalam yang mengulas pengelolaan dan pelaporan dana CSR pada Program Denting Nusantara dari perspektif akuntansi sosial, khususnya terkait proses perencanaan, penganggaran, penggunaan, dan alokasi dana, serta mekanisme pelaporan, pertanggungjawaban, transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas pengelolaannya.

Celah penelitian ini semakin relevan mengingat sejumlah studi terdahulu mengindikasikan berbagai kendala dalam pelaksanaan program CSR di bidang kesehatan masyarakat. Implementasi CSR dalam pencegahan stunting di beberapa daerah masih terkendala oleh keberlanjutan pendanaan serta lemahnya koordinasi lintas sektor [7]. Sejalan dengan itu, ketiadaan sistem pencatatan, pelaporan, dan evaluasi yang memadai menyulitkan pengukuran dampak dana CSR terhadap perbaikan gizi balita secara akuntabel [8]. Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip akuntansi sosial dalam pengelolaan dan pelaporan dana CSR, agar penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara transparan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana CSR guna mendukung peningkatan gizi balita, dengan mengambil Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit sebagai studi kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR), mulai dari perencanaan, penganggaran, penggunaan, alokasi, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban untuk mendukung perbaikan gizi balita. Temuan penelitian diharapkan menjadi rujukan bagi perusahaan dalam menerapkan tata kelola CSR yang efektif di bidang kesehatan masyarakat.

Kajian Pustaka

Landasan Teori

A.Teori Corporate Social Responsibility (CSR)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan konsep yang menegaskan tanggung jawab perusahaan terhadap dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas operasional dan keputusan bisnisnya. CSR terdiri atas empat dimensi utama, yaitu tanggung jawab ekonomi, hukum, etika, dan filantropi. Keempat dimensi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak semata-mata dituntut untuk mencapai keuntungan ekonomis, tetapi juga berkewajiban menjalankan aktivitas usaha secara patuh terhadap hukum, berlandaskan etika, serta memberikan kontribusi bagi kesejahteraan sosial dan lingkungan [9][5]. Dalam konteks kesehatan masyarakat, CSR dapat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus instrumen strategis dalam pemberdayaan masyarakat guna mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui program-program yang berorientasi pada peningkatan kesehatan dan perbaikan status gizi masyarakat.

B.Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder theory)

Teori Pemangku Kepentingan [10] menjelaskan bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan kepentingan pihak-pihak yang terdampak oleh aktivitasnya, termasuk masyarakat penerima manfaat program CSR. Dalam konteks CSR kesehatan dan penanganan stunting, teori ini menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya dituntut untuk menyalurkan dana, tetapi juga memastikan program yang dijalankan selaras dengan kebutuhan masyarakat, melibatkan pemangku kepentingan terkait, dan menghasilkan manfaat sosial yang nyata [11].

C.Pengelolaan dan Pelaporan Dana CSR

Pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan rangkaian proses manajerial yang mencakup perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan, hingga evaluasi program secara sistematis. Dalam perspektif akuntansi, dana CSR tidak hanya dipandang sebagai pengeluaran perusahaan, tetapi juga sebagai sumber daya yang harus diidentifikasi, diukur, dicatat, dan dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan agar selaras dengan prinsip akuntabilitas dan transparansi [12]. Oleh karena itu, pengelolaan CSR yang efektif menuntut adanya mekanisme yang terstruktur sejak tahap awal hingga tahap akhir program. Pada tahap perencanaan dan penganggaran, perusahaan perlu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menetapkan tujuan, menentukan sasaran, serta menyusun alokasi dana secara proporsional agar program yang dirancang tepat guna dan sesuai dengan prioritas sosial. Selanjutnya, penggunaan dana harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan untuk menjaga efektivitas program dan meminimalkan penyimpangan alokasi. Adapun pelaporan dan pertanggungjawaban dana CSR menjadi instrumen utama dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan kepada stakeholder, sehingga informasi mengenai aktivitas dan hasil program dapat disampaikan secara jelas, relevan, dan dapat dipercaya. Tahap evaluasi kemudian berfungsi untuk menilai keberhasilan program CSR dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sekaligus menjadi dasar perbaikan program pada periode berikutnyaEvaluasi Program CSR

D.Akuntabilitas dan Transparansi Dana CSR

Akuntabilitas dan transparansi merupakan prinsip utama pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Akuntabilitas menekankan pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan, sedangkan transparansi memastikan keterbukaan informasi mengenai pengelolaan, penggunaan, dan dampak dana CSR.

E.Efektivitas Pengelolaan Dana CSR

Efektivitas dana Corporate Social Responsibility (CSR) diukur dari keberhasilan mencapai tujuan program dan dampaknya terhadap masyarakat, seperti peningkatan status gizi serta penurunan prevalensi stunting [13]. Pendekatan yang umum digunakan dalam menganalisis efektivitas secara kualitatif adalah pendekatan input-output-outcome. Input merujuk pada sumber daya yang digunakan (dana, tenaga, waktu), output merujuk pada kegiatan dan layanan yang dilaksanakan, sedangkan outcome merujuk pada perubahan kondisi yang dirasakan oleh penerima manfaat.

F.Gizi Balita dan Stunting

Gizi balita merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan gizi dalam jangka panjang dapat menyebabkan stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh yang berdampak pada perkembangan fisik dan kognitif anak. Stunting disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, pola asuh yang tidak tepat, kondisi sanitasi yang buruk, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

G.Program Denting Nusantara

Program Denting Nusantara merupakan inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Muara Karang yang bertujuan untuk membantu mengatasi permasalahan gizi balita di masyarakat, khususnya di Kelurahan Pluit, Jakarta Utara. Program Denting Nusantara (Deteksi Intervensi Stunting Menuai Senyuman Balita dan Keluarga) berfokus pada deteksi dini stunting, intervensi gizi, serta pemberdayaan keluarga melalui edukasi dan penguatan ekonomi.

METODE

A.Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus untuk menganalisis implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) dalam perbaikan gizi balita dan penanganan stunting. Desain ini memungkinkan kajian mendalam pada konteks nyata [14].

B.Objek dan Waktu Penelitian

Objek penelitian ini adalah pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) pada Program Denting Nusantara yang dilaksanakan oleh PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Muara Karang di Kelurahan Pluit, Jakarta Utara.

Waktu penelitian mencakup pelaksanaan Program Denting Nusantara tahun 2024–2025, sedangkan pengumpulan data penelitian dilakukan pada Mei hingga Juni 2026. Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, terhitung sejak April sampai Juli 2026.

C.Instrumen Penelitian

1.Panduan wawancara semi-terstruktur yang disusun sesuai dengan kategori informan;

2.Lembar pedoman observasi sebagai acuan pengamatan di lapangan;

3.Lembar pedoman studi dokumentasi untuk mengidentifikasi dokumen yang relevan;

4.Alat perekam suara dan kamera sebagai alat dokumentasi data lapangan.

D.Sumber Data

1.Data Primer

Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung dari berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program Denting Nusantara, meliputi pengelola program CSR, aparat kelurahan, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat penerima manfaat program. Pelibatan berbagai pihak tersebut dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai proses pengelolaan dana CSR dari berbagai sudut pandang pemangku kepentingan.

2.Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap berbagai dokumen pendukung yang relevan dengan penelitian, antara lain Rencana Anggaran Biaya (RAB), laporan kegiatan program, data posyandu dan puskesmas, dokumentasi foto kegiatan, serta dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan Program Denting Nusantara. Data sekunder ini digunakan untuk melengkapi dan memverifikasi (triangulasi) informasi yang diperoleh dari data primer, sehingga validitas temuan penelitian dapat lebih terjamin .

E.Alat dan Teknik Pengumpulan Data

1.Wawancara Mendalam (In-depth Interview)

Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan Program Denting Nusantara, meliputi pengelola program CSR, aparat kelurahan, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat penerima manfaat program. Teknik ini digunakan untuk menggali informasi secara mendalam mengenai proses pengelolaan dana CSR serta pengalaman langsung masing-masing informan dalam pelaksanaan program.

2.Observasi Non-Partisipatif

Observasi nonpartisipatif dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap pelaksanaan Program Denting Nusantara, meliputi layanan posyandu, pemberian PMT, edukasi gizi, dan koordinasi antarpihak guna melengkapi data hasil wawancara.

3.Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah RAB, laporan program, data posyandu dan puskesmas, serta dokumentasi Program Denting Nusantara sebagai verifikasi data wawancara dan observasi

F.Objektivitas dan Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian kualitatif diperlukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Dalam penelitian ini, keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi. Penelitian ini menggunakan dua jenis triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode.

1.Triangulasi Sumber

Dilakukan dengan membandingkan informasi dari perusahaan, pemerintah kelurahan, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan penerima manfaat.

2.Triangulasi Metode

Dilakukan melalui perbandingan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.

G.Model Analisis Data

1.Reduksi Data

Reduksi dilakukan terhadap data wawancara, observasi, dan dokumentasi terkait pengelolaan serta pelaporan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

2.Penyajian Data

Data disajikan berdasarkan aspek perencanaan, penganggaran, penggunaan, alokasi, pelaporan, pertanggungjawaban dana CSR, serta evaluasi program perbaikan gizi balita.

3.Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menginterpretasikan data yang telah direduksi dan disajikan untuk menemukan makna serta pola dalam penelitian. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi, sehingga diperoleh temuan yang lebih valid dan dapat dipercaya.

H.Prosedur Penelitian

1.Tahap Persiapan

Tahap ini meliputi penyusunan dan pengajuan proposal penelitian, pengurusan izin penelitian kepada PT PLN Nusantara Power UP Muara Karang, Kelurahan Pluit, dan Puskesmas Pluit, penyusunan instrumen penelitian (panduan wawancara, pedoman observasi, pedoman dokumentasi), serta konsultasi dengan dosen pembimbing.

2. Pengumpulan Data

Tahap ini meliputi pelaksanaan wawancara mendalam dengan seluruh informan pada bulan (Mei–Juni 2026), observasi kegiatan program di lapangan, serta pengumpulan dan telaah dokumen yang berkaitan dengan program Denting Nusantara. Setiap wawancara direkam (dengan izin informan) dan dicatat dalam catatan lapangan.

3.Tahap Analisis dan Pelaporan

Tahap ini meliputi transkripsi data wawancara, reduksi data, dan penyajian data. Dalam bentuk uraian deskriptif, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Analisis data mengikuti model interaktif Miles melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Proses Perencanaan, Penganggaran, Serta Penggunaan Dan Alokasi Dana CSR dalam Mendukung Program Perbaikan Gizi Balita pada Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit

1.Tahap Perencanaan

Keberhasilan sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) tidak ditentukan semata-mata oleh besarnya anggaran yang dikucurkan, melainkan oleh ketepatan desain program yang didasarkan pada kebutuhan riil masyarakat dan sinergi lintas sektor. Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit merepresentasikan model pengelolaan CSR yang berbasis pada kebutuhan masyarakat (community-based) dengan menempatkan proses perencanaan dan penganggaran sebagai fondasi utama tata kelola yang akuntabel [15].

Perencanaan program Denting Nusantara diawali dengan social mapping PT PLN Nusantara Power pada 2021 untuk mengidentifikasi kesenjangan kondisi gizi balita di Kelurahan Pluit sebagai dasar penyusunan program.

Pihak perusahaan menyadari bahwa pendekatan kualitatif yang bersifat jangka pendek tidak akan memberikan dampak permanen terhadap penurunan angka stunting. Oleh karena itu, perencanaan diarahkan pada pemecahan masalah yang bersifat sistemik dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, yakni limbah tulang ikan kakap yang melimpah dari hasil tangkapan nelayan di kawasan Muara Angke. Dengan menggandeng keahlian dari tenaga ahli gizi Puskesmas Pembantu Pluit , perencanaan ini diubah menjadi sebuah inovasi teknis pengolahan tepung tulang ikan kakap yang kaya akan kalsium dan protein, yang kemudian diintegrasikan ke dalam menu makanan tambahan bagi balita [16].

Berdasarkan hasil analisis visual pada Gambar 1, dapat disimpulkan bahwa tema Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi [GAD1] merupakan fokus perhatian utama dengan porsi pembahasan terbesar, yaitu mencapai 26,1%. Hal ini menunjukkan bahwa jalannya program/penelitian ini secara fundamental bertumpu pada efektivitas intervensi gizi berbasis teknis, sementara aspek tata kelola dan pengawasan CSR bertindak sebagai instrumen pendukung pembentuk sistem.

Gambar 1 Analisis Visual Tema Penelitian

(Sumber: Olah Data NVivo)

Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar informan memberikan penekanan pada berbagai bentuk inovasi dan intervensi yang dilakukan dalam Program Denting Nusantara sebagai upaya penanggulangan stunting dan perbaikan status gizi balita. Dominannya tema ini mengindikasikan bahwa implementasi program tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan makanan tambahan, tetapi juga mencakup inovasi pemanfaatan sumber daya lokal berupa limbah tulang ikan kakap yang diolah menjadi produk pangan bergizi untuk balita.

Tema Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat juga memiliki proporsi yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa para informan banyak membahas perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan, baik dalam bentuk peningkatan berat badan balita, perbaikan status gizi, peningkatan pengetahuan ibu mengenai gizi anak, maupun berkurangnya beban ekonomi keluarga penerima manfaat. Besarnya proporsi tema ini menunjukkan bahwa Program Denting Nusantara dinilai memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat sasaran.

Di sisi lain, tema Transparansi dan Pengawasan Program serta Latar Belakang dan Pembentukan Program juga muncul dengan intensitas yang cukup tinggi. Kemunculan kedua tema tersebut menggambarkan bahwa proses pelaksanaan program tidak terlepas dari tahapan perencanaan yang didasarkan pada identifikasi kebutuhan masyarakat serta adanya mekanisme pengawasan terhadap penggunaan dana CSR. Informan menjelaskan bahwa program dibentuk berdasarkan hasil social mapping yang menemukan tingginya angka stunting di Kelurahan Pluit, kemudian dilanjutkan dengan proses monitoring, pelaporan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkala oleh pihak perusahaan dan stakeholder terkait.

Tema koordinasi dan peran stakeholder juga menjadi salah satu aspek yang sering muncul dalam hasil wawancara. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan Program Denting Nusantara tidak hanya bergantung pada dukungan dana CSR, tetapi juga pada keterlibatan berbagai pihak seperti PT PLN Nusantara Power, Puskesmas Pluit, Kelurahan Pluit, kader posyandu, serta masyarakat penerima manfaat. Koordinasi yang dilakukan melalui pertemuan rutin, rapat kerja, dan evaluasi program menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan program sekaligus mengarahkan penggunaan dana CSR agar sesuai dengan kondisi lapangan.

Visualisasi treemap NVivo menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Denting Nusantara merupakan hasil integrasi antara proses perencanaan berbasis kebutuhan masyarakat, koordinasi lintas stakeholder, pengelolaan dana CSR yang transparan, serta pelaksanaan intervensi gizi yang inovatif. Keterkaitan antartema tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dialokasikan, tetapi juga oleh kualitas perencanaan, kolaborasi antarpihak, dan efektivitas intervensi yang diberikan kepada masyarakat sasaran [2].

Berdasarkan hasil analisis NVivo pada kategori Latar Belakang dan Pembentukan Program, proses perencanaan Program Denting Nusantara diawali dengan kegiatan social mapping yang dilakukan oleh PT PLN Nusantara Power untuk mengidentifikasi permasalahan dan potensi yang terdapat di Kelurahan Pluit. Hasil pemetaan tersebut menunjukkan bahwa kasus stunting di wilayah Pluit tergolong tinggi sehingga membutuhkan intervensi yang terencana dan berkelanjutan. Sebagaimana disampaikan oleh Informan 1:

"Jadi program Denting Nusantara dibentuk itu kan juga awalnya dari hasil social mapping. Jadi sebelum kita melakukan program CSR itu, kita melakukan social mapping untuk memetakan masalah dan potensi yang ada di Kelurahan Pluit. Nah, dari hasil social mapping itu memang ditemukan ada masalah stunting ini, Pluit kan termasuk tinggi, ya, dan itu akhirnya dijadikan rekomendasi program karena termasuk yang urgent untuk dilaksanakan. "

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tahap perencanaan program dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat (needs assessment), bukan semata-mata berdasarkan kebijakan perusahaan. Tingginya angka stunting yang ditemukan melalui proses pemetaan sosial menjadi dasar bagi perusahaan untuk menetapkan fokus program CSR pada isu perbaikan gizi balita[17].

Selain mengidentifikasi permasalahan, proses perencanaan juga mempertimbangkan potensi lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai solusi program. Berdasarkan hasil coding NVivo, ditemukan bahwa inovasi Denting Nusantara lahir dari kolaborasi antara perusahaan dan puskesmas yang memanfaatkan limbah tulang ikan kakap sebagai bahan pangan bergizi. Informan 1 menjelaskan:

"Setelah kita berdiskusi, akhirnya kita menemukan inovasi nih, pemanfaatan tulang ikan menjadi tepung tulang ikan dari hasil penelitiannya Mbak Mira, ahli gizi Puskesmas Pluit. Kita juga sejalan dengan potensi di Kelurahan Pluit, di mana banyak nelayan dan ada limbah tulang ikan kakap yang tidak dipakai dari hasil filetan. Akhirnya kita mengembangkan inovasi sosial itu. "

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan program tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah gizi balita, tetapi juga mengoptimalkan sumber daya lokal sehingga program memiliki nilai keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, dari sisi pelaksana program, kebutuhan akan inovasi tersebut juga didasarkan pada kondisi tingginya kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Pluit. Informan 3 menyatakan:

”Saat itu, pada tahun 2021, ketika kita sudah new normal dari COVID-19, data stunting kita paling tinggi di Kecematan Penjaringan. Maka dibutuhkan inovasi ini. "

Pernyataan tersebut memperkuat bahwa proses perencanaan Program Denting Nusantara dilatarbelakangi oleh kondisi kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan segera melalui pendekatan yang inovatif.

2.Tahap Penganggaran

Pada tahap penganggaran, hasil analisis NVivo pada kategori Koordinasi dan Peran Stakeholder menunjukkan bahwa penyusunan program dan alokasi dana CSR dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak. PT PLN Nusantara Power tidak menetapkan program secara sepihak, melainkan melibatkan masyarakat dan stakeholder terkait dalam proses perencanaan. Informan 1 menjelaskan:

"Biasanya kita itu rapat bareng sama masyarakat. Jadi, kita mengadakan rapat kerja di akhir tahun atau awal tahun untuk penentuan program-program yang akan kita lakukan di tahun yang akan berjalan. Program-program ini juga berdasarkan masukan-masukan dari masyarakat dan hasil evaluasi pelaksanaan program pada tahun sebelumnya."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penganggaran dana CSR dilakukan secara partisipatif dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan hasil evaluasi program sebelumnya. Dengan demikian, alokasi dana yang disusun lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penerima manfaat.

Proses koordinasi juga melibatkan kader, puskesmas, dan pihak perusahaan secara rutin. Informan 4 menjelaskan:

"Kalau menurut saya, koordinasinya baik ya, cukup terjaga lah. Pokoknya, di setiap ada kegiatan, mau ada kegiatan atau tidak, kita tetap mengadakan pertemuan yang rutin. Biasanya sebulan sekali minimal, kita ketemuan dengan pihak puskesmas dan juga pihak PLN."

Pihak kelurahan juga turut terlibat dalam proses koordinasi dan pengawasan program. Informan 2 menyatakan:

"Kalau untuk koordinasi atau kerja sama dengan PT PLN Nusantara Power, alhamdulillah sampai sekarang itu lancar dan kita selalu berkomunikasi."

Informan 2 menjelaskan adanya forum evaluasi yang digunakan untuk meninjau pelaksanaan program dan merencanakan kegiatan berikutnya:

"Jadi, apa yang sudah dilaksanakan selama setahun itu sudah berjalan seperti apa, terus nanti untuk tahun depannya itu kira-kira mau berbuat apa, karena kan sesuai dengan kebutuhan di wilayah."

Berdasarkan hasil coding NVivo, koordinasi yang dilakukan secara rutin tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas kegiatan yang akan didanai oleh CSR, sehingga penggunaan dana dapat lebih tepat sasaran.

Setelah proses perencanaan dan penganggaran dilakukan, dana CSR kemudian dialokasikan untuk mendukung berbagai kegiatan dalam Program Denting Nusantara. Berdasarkan hasil wawancara, dana CSR digunakan untuk membiayai berbagai bentuk intervensi yang tidak dapat dibiayai melalui anggaran pemerintah. Informan 3 menjelaskan:

"Terbantu untuk seluruh program inovasi Denting Nusantara ini memang semuanya di-cover oleh CSR. Karena pemerintahan kan terbatas baik dari perencanaan maupun penganggarannya. "

Dana CSR tersebut digunakan untuk membangun rumah produksi, mengembangkan komunitas pengolah makanan bergizi, memberikan pelatihan pemasaran produk, serta mendukung distribusi makanan tambahan bagi balita. Informan 3 menjelaskan:

"Sangat terbantu oleh CSR yang memfasilitasi kami di rumah produksi, yang memberikan kami pemberdayaan masyarakat dengan terbentuknya komunitas kita yang mengolah dan memproduksi makanan tinggi protein ini."

Dana CSR juga digunakan untuk mendukung berbagai bentuk intervensi gizi seperti pemberian makanan tambahan berbasis tepung tulang ikan kakap, vitamin D bagi balita stunting dan berisiko stunting, serta kegiatan edukasi gizi kepada ibu balita dan ibu hamil. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam strategi perbaikan status gizi yang dijalankan melalui Program Denting Nusantara.

Dalam aspek transparansi dan pertanggungjawaban penggunaan dana, hasil coding NVivo menunjukkan adanya mekanisme pelaporan dan monitoring yang dilakukan secara berkala. Informan 1 menjelaskan:

"Kita kirimin ke kantor pusat rincian kegiatan, rencana kerjanya, RAB-nya. Dan setiap bulan itu kita melaporkan realisasinya berapa. Jadi, kantor pusat juga ikut memonitor pelaksanaan dan penggunaan dananya apakah sudah sesuai."

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Informan 2 yang menyatakan:

"Kalau selama ini yang saya ketahui, mereka berkomunikasi, jadi memang transparanlah, jadi disampaikan ini ada program dengan dana segini."

Hasil analisis NVivo menunjukkan bahwa proses perencanaan, penganggaran, penggunaan, dan alokasi dana CSR dalam Program Denting Nusantara dilakukan secara sistematis. Tahap perencanaan diawali dengan social mapping dan analisis kebutuhan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan koordinasi berbagai stakeholder dalam penyusunan program dan anggaran. Dana CSR selanjutnya dialokasikan untuk mendukung berbagai kegiatan intervensi gizi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi kesehatan. Adanya mekanisme pelaporan, monitoring, dan evaluasi secara berkala menunjukkan bahwa pengelolaan dana CSR dilakukan secara transparan dan akuntabel sehingga mampu mendukung pelaksanaan Program Denting Nusantara dalam upaya menurunkan angka stunting di Kelurahan Pluit.

3.Tahap Penggunaan Dana CSR

Setelah proses perencanaan dan penganggaran dilakukan, dana CSR kemudian digunakan untuk mendukung pelaksanaan Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit. Berdasarkan hasil analisis NVivo pada kategori Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat dan Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi, penggunaan dana CSR tidak hanya difokuskan pada penyaluran bantuan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan intervensi yang secara langsung menyentuh kebutuhan balita dan keluarga penerima manfaat. Hal ini menunjukkan bahwa dana CSR benar-benar direalisasikan dalam bentuk kegiatan yang memiliki dampak nyata di lapangan.

Informan 3 menjelaskan bahwa program inovasi Denting Nusantara sangat terbantu karena seluruh kebutuhan utama kegiatan banyak difasilitasi oleh CSR. Ia menyatakan:

“Terbantu untuk seluruh program inovasi Denting Nusantara ini memang semuanya di-cover oleh CSR. Karena pemerintahan kan terbatas baik dari perencanaan maupun penganggarannya.’’

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dana CSR memiliki peran penting dalam menopang pelaksanaan program yang tidak sepenuhnya dapat dibiayai oleh anggaran pemerintah. Dengan adanya dukungan CSR, program dapat berjalan lebih optimal karena kebutuhan-kebutuhan teknis di lapangan dapat dipenuhi secara lebih memadai.

Dalam praktiknya, dana CSR digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan yang mendukung intervensi gizi balita. Informan 3 menjelaskan bahwa dana tersebut tidak hanya dipakai untuk kegiatan operasional, tetapi juga untuk mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan program. Ia menuturkan:

“Sangat terbantu oleh CSR yang memfasilitasi kami, rumah produksi, yang memberikan kami pemberdayaan masyarakat dengan terbentuknya komunitas kita yang mengolah dan memproduksi makanan tinggi protein ini.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat agar mampu terlibat aktif dalam penyediaan makanan bergizi. Dengan demikian, penggunaan dana CSR dalam Program Denting Nusantara memiliki nilai pemberdayaan sekaligus intervensi gizi yang berkelanjutan.

Dana CSR juga digunakan untuk mendukung kegiatan pemberian makanan tambahan berbasis tepung tulang ikan kakap, pemberian vitamin D bagi balita stunting dan berisiko stunting, serta edukasi gizi kepada ibu balita dan ibu hamil. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari strategi perbaikan status gizi karena menyasar langsung faktor-faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan balita. Melalui penggunaan dana yang terarah ini, program mampu menjangkau aspek promotif, preventif, dan intervensi teknis secara bersamaan.

Hasil coding NVivo juga menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR berkaitan erat dengan meningkatnya efektivitas program di tingkat penerima manfaat. Informan 5 dan Informan 6 menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena mendukung kegiatan pendampingan dan pemantauan balita secara rutin. Hal ini memperlihatkan bahwa penggunaan dana CSR tidak hanya menghasilkan output berupa terselenggaranya kegiatan, tetapi juga mendorong perubahan dalam perilaku dan partisipasi masyarakat terhadap program perbaikan gizi balita[18].

Dalam aspek transparansi dan pertanggungjawaban penggunaan dana, hasil coding NVivo menunjukkan adanya mekanisme monitoring yang dilakukan secara berkala. Dana yang telah digunakan dilaporkan kepada pihak perusahaan melalui laporan kegiatan dan realisasi anggaran. Mekanisme ini memperlihatkan bahwa penggunaan dana tidak dilakukan secara bebas, tetapi tetap berada dalam koridor pengawasan agar sesuai dengan tujuan program. Dengan begitu, penggunaan dana CSR dapat dipertanggungjawabkan secara administratif sekaligus secara sosial kepada masyarakat penerima manfaat.

Berdasarkan hasil analisis NVivo, dapat disimpulkan bahwa penggunaan dana CSR dalam Program Denting Nusantara dilakukan secara sistematis, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan program. Dana yang tersedia digunakan untuk mendukung kegiatan intervensi gizi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi kesehatan yang semuanya berkontribusi pada upaya perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR tidak hanya berfungsi sebagai pelaksanaan anggaran, tetapi juga sebagai instrumen untuk mewujudkan dampak nyata bagi penerima manfaat.

4.Tahap Alokasi Dana

Setelah proses perencanaan dan penganggaran dilakukan, dana CSR kemudian digunakan untuk mendukung pelaksanaan Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit. Berdasarkan hasil analisis NVivo pada kategori Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat dan Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi, penggunaan dana CSR tidak hanya difokuskan pada penyaluran bantuan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan intervensi yang secara langsung menyentuh kebutuhan balita dan keluarga penerima manfaat. Hal ini menunjukkan bahwa dana CSR benar-benar direalisasikan dalam bentuk kegiatan yang memiliki dampak nyata di lapangan.

Informan 3 menjelaskan bahwa program inovasi Denting Nusantara sangat terbantu karena seluruh kebutuhan utama kegiatan banyak difasilitasi oleh CSR. Ia menyatakan:

“Terbantu untuk seluruh program inovasi Denting Nusantara ini memang semuanya di-cover oleh CSR. Karena pemerintahan kan terbatas baik dari perencanaan maupun penganggarannya.’’

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dana CSR memiliki peran penting dalam menopang pelaksanaan program yang tidak sepenuhnya dapat dibiayai oleh anggaran pemerintah. Dengan adanya dukungan CSR, program dapat berjalan lebih optimal karena kebutuhan-kebutuhan teknis di lapangan dapat dipenuhi secara lebih memadai.

Dalam praktiknya, dana CSR digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan yang mendukung intervensi gizi balita. Informan 3 menjelaskan bahwa dana tersebut tidak hanya dipakai untuk kegiatan operasional, tetapi juga untuk mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan program. Ia menuturkan:

“Sangat terbantu oleh CSR yang memfasilitasi kami dengan rumah produksi, yang memberikan kami pemberdayaan masyarakat dengan terbentuknya komunitas kita yang mengolah dan memproduksi makanan tinggi protein ini.’’

Pernyataan ini menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat agar mampu terlibat aktif dalam penyediaan makanan bergizi. Dengan demikian, penggunaan dana CSR dalam Program Denting Nusantara memiliki nilai pemberdayaan sekaligus intervensi gizi yang berkelanjutan.

Dana CSR juga digunakan untuk mendukung kegiatan pemberian makanan tambahan berbasis tepung tulang ikan kakap, pemberian vitamin D bagi balita stunting dan berisiko stunting, serta edukasi gizi kepada ibu balita dan ibu hamil. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari strategi perbaikan status gizi karena menyasar langsung faktor-faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan balita. Melalui penggunaan dana yang terarah ini, program mampu menjangkau aspek promotif, preventif, dan intervensi teknis secara bersamaan.

Informan 5 menyampaikan bahwa setelah program berjalan, masyarakat menjadi lebih paham pentingnya menjaga asupan gizi anak dan lebih aktif mengikuti kegiatan yang ada. Ia mengatakan:

“Setelah program berjalan, kami jadi lebih paham pentingnya menjaga asupan gizi anak dan lebih aktif mengikuti kegiatan yang ada.’’

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa penggunaan dana CSR menghasilkan dampak edukatif, karena masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pemahaman baru terkait pentingnya gizi balita. Sementara itu, Informan 6 menegaskan bahwa pelayanan dalam program ini berlangsung dengan sangat baik dan disertai informasi yang jelas. Ia menyampaikan:

“Pelayanan sangat baik banget dan semua dijelaskan secara detail. Informasi semua juga sangat jelas, akurat, dan responnya cepat.’’

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR dijalankan dengan komunikasi yang terbuka dan responsif, sehingga penerima manfaat merasa dilibatkan secara aktif dalam program.

Informan 7 juga menegaskan adanya perubahan nyata setelah program berjalan. Ia menjelaskan:

“Dulu beberapa balita kurang terpantau, tetapi setelah program berjalan, pemantauan jadi lebih rutin dan orang tua lebih aktif datang ke posyandu.’’

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa penggunaan dana CSR berkontribusi pada peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemantauan gizi balita. Dengan pemantauan yang lebih rutin, program menjadi lebih efektif dalam menjangkau balita yang membutuhkan perhatian khusus.

Dalam aspek transparansi dan pertanggungjawaban penggunaan dana, hasil coding NVivo menunjukkan adanya mekanisme monitoring yang dilakukan secara berkala. Dana yang telah digunakan dilaporkan kepada pihak perusahaan melalui laporan kegiatan dan realisasi anggaran. Mekanisme ini memperlihatkan bahwa penggunaan dana tidak dilakukan secara bebas, tetapi tetap berada dalam koridor pengawasan agar sesuai dengan tujuan program. Dengan begitu, penggunaan dana CSR dapat dipertanggungjawabkan secara administratif sekaligus secara sosial kepada masyarakat penerima manfaat.

Berdasarkan hasil analisis NVivo, dapat disimpulkan bahwa penggunaan dana CSR dalam Program Denting Nusantara dilakukan secara sistematis, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan program. Dana yang tersedia digunakan untuk mendukung kegiatan intervensi gizi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi kesehatan yang semuanya berkontribusi pada upaya perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dana CSR tidak hanya berfungsi sebagai pelaksanaan anggaran, tetapi juga sebagai instrumen untuk mewujudkan dampak nyata bagi penerima manfaat[19].

B.Pelaporan Dan Pertanggungjawaban Dana CSR pada Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit ditinjau dari Prinsip Akuntabilitas Dan Transparansi

Perencanaan Program Denting Nusantara diawali dengan social mapping PT PLN Nusantara Power pada 2021 untuk mengidentifikasi kesenjangan kondisi gizi balita di Kelurahan Pluit sebagai dasar penyusunan program.

Pelaporan yang baik menunjukkan bahwa dana yang dikeluarkan dapat dipertanggungjawabkan secara prosedural, sedangkan transparansi menunjukkan bahwa informasi program dapat diakses, dipahami, dan diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pelaksanaan CSR, keterbukaan dan pertanggungjawaban yang konsisten menjadi unsur yang menentukan kualitas hubungan antara perusahaan, pemerintah setempat, dan masyarakat penerima manfaat[20].

Akuntabilitas pengelolaan dana CSR PT PLN Nusantara Power dalam Program DENTING Nusantara tercermin dari ketepatan penyerapan pagu anggaran yang mencapai tingkat penyerapan 100% dengan varians Rp 0 pada setiap tahun anggaran. Namun demikian, terjadi pergeseran strategi pengalokasian dana secara fundamental dari Tahun 2024 dan Tahun 2025.(lampiran 1 dan 2 )

Tabel 1 Analisis Komparatif Alokasi Anggaran CSR Program DENTING Nusantara

Sumber: RAB PT PLN NP, diolah peneliti (2026)

Berdasarkan Tabel 1, alokasi dana pada tahun 2024 menitikberatkan pada intervensi kuratif berbiaya tinggi melalui Susu Formula Medis PKMK (43,6%). Sebaliknya, pada tahun 2025, alokasi anggaran direkonstruksi untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui pengadaan produk makanan tambahan beku (frozen food) hasil fortifikasi 15% tepung tulang ikan kakap yang melesat hingga 55,6% dari total anggaran program. Struktur penganggaran ini berhasil menekan total pengeluaran dari Rp151.290.000 pada tahun 2024 menjadi Rp129.600.000 pada tahun 2025, yang berarti program berhasil melakukan efisiensi biaya makro sebesar 14,3% tanpa mengurangi kuantitas sasaran intervensi.

Data rinci sebagaimana tersaji pada Tabel 1 di atas merupakan hasil rekapitulasi internal yang hanya tersedia dan dilaporkan pada tingkat manajemen perusahaan menuju kantor pusat. Pada tingkat pelaksana lapangan, seperti pengelola komunitas dan penerima manfaat, bentuk pelaporan yang diterima umumnya hanya berupa laporan kegiatan (aktivitas program, jumlah sasaran yang terlayani, dan dokumentasi pelaksanaan), tanpa disertai rincian angka realisasi anggaran per komponen belanja seperti yang ditampilkan pada Tabel 1 Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan tingkat transparansi finansial antara level manajerial dan level operasional, di mana akuntabilitas keuangan secara kuantitatif baru terwujud secara vertikal (dari pelaksana ke pusat), namun belum sepenuhnya terwujud secara horizontal kepada pihak-pihak yang terlibat langsung di lapangan.

Usulan perbaikan dalam mengatasi kesenjangan tersebut, perusahaan disarankan menyusun bentuk pelaporan keuangan yang lebih sederhana dan mudah dipahami (misalnya ringkasan infografis realisasi anggaran per-komponen kegiatan) untuk dibagikan kepada pengelola program di tingkat lapangan, kader posyandu, dan perwakilan penerima manfaat secara berkala. Dengan demikian, prinsip transparansi tidak hanya terpenuhi secara administratif ke pusat, tetapi juga dirasakan langsung oleh pihak-pihak yang menjadi sasaran maupun pelaksana program di lapangan[21].

Untuk mengetahui bagaimana prinsip tersebut dijalankan dalam Program Denting Nusantara, dilakukan analisis menggunakan Matrix Coding Query dengan lima kategori utama, yaitu: A: Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat, B: Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi, C: Koordinasi dan Peran Stakeholder, D: Latar Belakang dan Pembentukan Program, dan E: Transparansi dan Pengawasan CSR. Hasil matriks menunjukkan bahwa kategori E muncul pada sebagian besar informan, terutama I1, I2, I3, dan I5, sedangkan I4 tidak menunjukkan keterhubungan pada kategori tersebut. Pola ini memperlihatkan bahwa transparansi dan pengawasan CSR merupakan tema yang cukup dominan dalam pengelolaan program, walaupun tingkat keterlibatan dan pemaknaan informan terhadap tema ini berbeda-beda.

Tabel 2 Matriks Keterlibatan Informan dan Intensitas Kategori Transparansi dan Pengawasan CS

(Sumber : Olah Data NVivo)

Untuk melengkapi bukti kualitatif transparansi yang telah ditunjukkan melalui matriks keterlibatan informan di atas, tingkat keterhubungan informan terhadap Kategori E (Transparansi dan Pengawasan CSR) disajikan lebih rinci melalui visualisasi matriks koding berikut:

Tabel 3 Matriks Hubungan Informan terhadap Kategori E (Transparansi dan Pengawasan CSR)

Sumber: Hasil Olah Data NVivo v12 (2026)

Hasil matriks coding query pada Tabel 3 menunjukkan bahwa tema Transparansi dan Pengawasan CSR dipahami secara struktural birokratis (top-down). Hubungan yang sangat kuat pada Informan 1 (I1) berjalan linier dengan laporan administrasi bulanan yang dikirimkan ke kantor pusat untuk memonitor kesesuaian realisasi terhadap rancangan RAB awal. Tidak munculnya keterhubungan koding pada Informan 4 (kader posyandu) menegaskan bahwa di tingkat tapak (grassroots), para kader lebih memprioritaskan pemantauan kepatuhan konsumsi harian balita ketimbang persoalan birokrasi penyusunan anggaran keuangan korporasi.

Berdasarkan Tabel 2, informan I1 berperan dominan pada kategori C, D, dan E sebagai penanggung jawab pelaporan dan pengawasan dana CSR. Penggunaan dana dipantau melalui pelaporan berjenjang yang disampaikan setiap bulan kepada kantor pusat.

Mekanisme ini menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan sistem pengawasan internal yang ketat agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana. Dengan demikian, akuntabilitas dijalankan secara vertikal melalui struktur perusahaan dan sekaligus diarahkan untuk mendukung keberlanjutan program di tingkat lokal.

Keterlibatan I2 juga memperkuat temuan tersebut. I2 memiliki keterhubungan pada kategori C, D, dan E, yang berarti bahwa pihak kelurahan memahami adanya keterbukaan dalam pengelolaan program serta proses komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan. Informan menyatakan bahwa perusahaan terbuka terkait alokasi dana, tujuan, dan penggunaan program. Transparansi tersebut mendukung pengawasan pemerintah kelurahan serta menunjukkan komitmen perusahaan membangun komunikasi yang baik dengan stakeholder lokal.

Sementara itu, I3 menunjukkan pola keterlibatan yang paling lengkap karena terhubung dengan seluruh kategori A, B, C, D, dan E. Hal ini menunjukkan bahwa informan tersebut memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap program, mulai dari latar belakang pembentukan, koordinasi stakeholder, transparansi dana, hingga manfaat yang dirasakan penerima. Keterhubungan I3 pada kategori E menunjukkan bahwa transparansi tidak hanya dipahami sebagai penyampaian laporan keuangan, tetapi juga sebagai keterbukaan dalam seluruh rangkaian pelaksanaan program. Dengan kata lain, program dinilai transparan apabila pihak-pihak terkait mengetahui proses, tujuan, dan hasil kegiatan yang dijalankan.

Pada I5, kategori E muncul bersama dengan kategori A dan B. Pola ini menunjukkan bahwa penerima manfaat menilai transparansi tidak semata-mata dari keberadaan laporan tertulis, tetapi dari kejelasan informasi yang mereka terima selama program berlangsung. Informan ini memandang bahwa bantuan yang diberikan, seperti vitamin, makanan bergizi, dan pendampingan balita, disalurkan secara jelas dan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Bagi masyarakat, keterbukaan pengelolaan dana CSR meningkatkan kepercayaan bahwa bantuan disalurkan sesuai tujuan. Dengan demikian, transparansi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik.

Berbeda dengan informan lainnya, 14 hanya terkait dengan kategori C dan D, yang menunjukkan fokus pada koordinasi dan pembentukan program tanpa menyoroti aspek transparansi maupun pengawasan dana. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemaknaan terhadap transparansi belum merata pada seluruh informan. Artinya, meskipun perusahaan telah menjalankan pelaporan secara sistematis, pemahaman mengenai keterbukaan informasi masih dipengaruhi oleh posisi dan pengalaman masing-masing aktor dalam program[22].

Hasil matriks coding didukung oleh temuan pada kode “Transparansi dan Pengawasan CSR’’, yang menunjukkan bahwa keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Program Denting Nusantara. Pihak kelurahan menyatakan perusahaan secara rutin menyampaikan informasi program, alokasi dana, dan perkembangan kegiatan melalui pertemuan bulanan yang melibatkan perusahaan, puskesmas, dan masyarakat. Forum ini berfungsi sebagai sarana pemantauan, evaluasi, dan komunikasi partisipatif untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan.

Di tingkat penerima manfaat, transparansi tercermin dari keterbukaan informasi mengenai bantuan, jadwal penyaluran, dan penanganan cepat terhadap kendala. Praktik tersebut memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus mencerminkan akuntabilitas sosial melalui penyampaian informasi yang jelas, konsisten dan mudah diakses.

Berdasarkan seluruh temuan, dapat disimpulkan bahwa pelaporan dan pertanggungjawaban dana CSR pada Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit telah berjalan cukup baik ditinjau dari prinsip akuntabilitas dan transparansi. Akuntabilitas terlihat dari adanya pelaporan berjenjang, pengawasan internal, dan pertanggungjawaban kepada manajemen pusat. Transparansi diwujudkan melalui komunikasi rutin, pelibatan stakeholder, dan keterbukaan informasi kepada penerima manfaat. Pelaporan CSR tidak hanya memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga menjaga kepercayaan dan keberlanjutan program.

Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan CSR ditopang oleh akuntabilitas dan transparansi. Ketika laporan disusun secara sistematis dan informasi program dibuka kepada stakeholder, kepercayaan masyarakat akan meningkat dan partisipasi dalam program juga lebih terjaga. Dalam Program Denting Nusantara, kondisi tersebut menjadi faktor penting yang mendukung kesinambungan intervensi gizi balita dan memperkuat legitimasi program di tingkat lokal.

C.Kontribusi Pengelolaan Dana CSR dalam Mendukung Keberhasilan Program Perbaikan Gizi Balita pada Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit

Dampak dari pergeseran pembiayaan tersebut dievaluasi secara klinis melalui indikator antropometri berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) balita sasaran di Kelurahan Pluit yang diinput secara digital.

Tabel 4 Rekapitulasi Tingkat Kesembuhan (Cure Rate) Balita Hasil Intervensi Terpadu

Sumber: Logbook Klinis e-PPGBM Puskesmas Pluit dan Komunitas KITA, diolah (2026)

Data longitudinal di atas menunjukkan tingkat konsistensi keberhasilan program yang stabil. Melalui intervensi pangan inovatif lokal, tingkat kesembuhan (cure rate) tertinggi secara konsisten dicapai oleh kelompok balita underweight (58,3%). Pada tahun 2024 dan meningkat menjadi (72,7%) pada tahun 2025, sementara kelompok wasting justru mengalami penurunan tajam dari (57,7%) menjadi (17,2%) pada periode yang sama. Efektivitas intervensi spesifik ini juga berhasil membawa Kelurahan Pluit menempati peringkat pertama dengan tingkat kesembuhan stunting tertinggi se-Kecamatan Penjaringan secara konsisten selama dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2024, tingkat kesembuhan stunting Kelurahan Pluit mencapai 28,6%, jauh di atas rata-rata kecamatan yang hanya sebesar 19,5%. Capaian ini masih bertahan pada peringkat pertama di tahun 2025 dengan tingkat kesembuhan sebesar 32,6%, dibandingkan rata-rata kecamatan yang berada pada angka 18,2%.

Hasil analisis menggunakan Matrix Coding Query menunjukkan bahwa tema yang paling dominan dalam menjawab rumusan masalah ketiga adalah Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat dan Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi. Dominasi kedua tema tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi pengelolaan dana CSR dalam

Gambar 2 Matrix Coding Query

(Sumber: Olah Data NVivo)

Berdasarkan visualisasi Matrix Coding Query, informan I1, I2, dan I3 memperlihatkan keterhubungan yang relatif lengkap terhadap hampir seluruh kategori, yaitu Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat, Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi, Koordinasi dan Peran Stakeholder, Latar Belakang dan Pembentukan Program, serta Transparansi dan Pengawasan CSR. Pola ini menunjukkan bahwa ketiga informan tersebut memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai program, baik dari sisi proses perencanaan, pelaksanaan, maupun hasil yang dicapai. Sementara itu, informan I5 dan I6 menunjukkan keterhubungan yang sangat kuat pada tema efektivitas dampak dan inovasi intervensi gizi, sehingga keduanya menjadi informan kunci dalam menjelaskan hasil langsung program pada penerima manfaat.

Tema Efektivitas Dampak pada Penerima Manfaat menunjukkan bahwa Program Denting Nusantara memberikan perubahan nyata bagi keluarga dan balita sasaran, ditandai meningkatnya pemahaman orang tua tentang gizi, keteraturan pemantauan balita, serta partisipasi masyarakat dalam posyandu dan pendampingan kesehatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya menghasilkan manfaat material, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan kepedulian terhadap kesehatan balita.

Sementara itu, tema Inovasi Teknis dan Intervensi Gizi menunjukkan bahwa dana CSR dialokasikan pada intervensi yang sesuai kebutuhan, meliputi pemberian vitamin, makanan bergizi, edukasi gizi, pendampingan balita, dan pemantauan pertumbuhan anak.

Inovasi teknis ini penting karena masalah gizi balita tidak dapat diatasi hanya dengan bantuan finansial, tetapi memerlukan pendekatan yang terencana, berkesinambungan, dan sesuai kebutuhan penerima manfaat. Oleh karena itu, keberadaan dana CSR menjadi efektif ketika dikelola melalui mekanisme yang dapat menjembatani sumber daya finansial dengan kebutuhan kesehatan masyarakat secara langsung.

Hasil matriks menunjukkan bahwa informan 15 dan 16 paling kuat menggambarkan dampak program dari perspektif penerima manfaat. Keduanya menyatakan bahwa program meningkatkan pemahaman tentang gizi anak serta mendorong partisipasi keluarga dalam kegiatan kesehatan. Temuan ini menunjukkan bahwa dana Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan kepedulian terhadap gizi balita.

Visualisasi data juga memperlihatkan keterkaitan erat antara pengelolaan dana CSR dan keberhasilan program. Informan I1 sebagai penyedia dana terhubung dengan seluruh tema, menunjukkan peran sentral dalam pengelolaan, pengawasan, dan pemanfaatan dana agar tepat sasaran. Sementara itu, keterlibatan I2 dan I3 dalam tema koordinasi, transparansi, dan pembentukan program memperlihatkan bahwa keberhasilan program merupakan hasil kerja bersama antara perusahaan, pemerintah lokal, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Dengan demikian, pengelolaan dana CSR yang efektif tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas aktor.

Berdasarkan kesaksian penerima manfaat dan pola hubungan antartema dalam Matrix Coding Query, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan dana CSR berkontribusi langsung terhadap keberhasilan Program Denting Nusantara dalam mendukung perbaikan gizi balita. Keberhasilan program didukung oleh pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat sasaran, intervensi sesuai kebutuhan, dan keterlibatan stakeholder. Sinergi ketiga aspek tersebut berkontribusi terhadap perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit.

Jika dilihat secara lebih luas, temuan ini menegaskan bahwa program CSR di bidang kesehatan masyarakat akan lebih efektif apabila pengelolaannya tidak hanya menekankan pada distribusi dana, tetapi juga pada cara dana tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Dalam Program Denting Nusantara, pengelolaan dana yang tepat sasaran telah mendorong terciptanya manfaat yang dirasakan langsung oleh balita dan keluarga. Oleh karena itu, pengelolaan dana CSR dapat dinyatakan sebagai salah satu faktor penting dalam mendorong keberhasilan program perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit [23].

D.Keterkaitan Temuan dengan Teori CSR dan Stakeholder

1.Keterkaitan dengan Teori Corporate Social Responsibility

Teori Corporate Social Responsibility menekankan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap pencapaian keuntungan, tetapi juga memiliki kewajiban moral dan sosial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Program Denting Nusantara menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) tidak sekedar diwujudkan sebagai kegiatan filantropi, tetapi sebagai tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendukung perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit.

Temuan pada rumusan masalah pertama menunjukkan bahwa perencanaan, penganggaran, penggunaan, dan alokasi dana CSR dilaksanakan secara sistematis berdasarkan kebutuhan masyarakat, sehingga mendukung intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, temuan pada rumusan masalah kedua menunjukkan bahwa pelaporan dan pertanggungjawaban dana mencerminkan penerapan akuntabilitas, sehingga penggunaan sumber daya perusahaan dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan adanya pelaporan berjenjang dan monitoring rutin, penelitian ini menunjukkan bahwa CSR dilaksanakan sebagai komitmen sosial yang terukur.

Pada rumusan masalah ketiga, kontribusi pengelolaan dana CSR terhadap keberhasilan program perbaikan gizi balita memperlihatkan bahwa CSR mampu menghasilkan dampak sosial yang nyata. Ini sesuai dengan pandangan bahwa CSR yang ideal adalah CSR yang menciptakan nilai bersama, baik bagi perusahaan maupun masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan program Denting Nusantara membuktikan bahwa CSR tidak hanya menjadi kewajiban moral perusahaan, tetapi juga instrumen untuk mendorong kesejahteraan sosial.

2.Keterkaitan dengan Teori Pemangku Kepentingan

Teori pemangku kepentingan menyatakan bahwa perusahaan harus memperhatikan kepentingan berbagai pihak yang terdampak oleh aktivitasnya, bukan hanya pemegang saham. Dalam penelitian ini, stakeholder yang terlibat meliputi perusahaan penyandang dana, pemerintah kelurahan, puskesmas, kader posyandu, dan masyarakat penerima manfaat. Semua pihak tersebut memiliki peran dalam perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi program.

Pada rumusan masalah pertama, keterlibatan berbagai stakeholder dalam proses perencanaan dan penganggaran menunjukkan bahwa pengelolaan dana CSR dilakukan secara partisipatif. Hal ini sesuai dengan teori stakeholder yang menekankan pentingnya dialog, koordinasi, dan partisipasi antarpihak agar keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan bersama. Program Denting Nusantara tidak dirancang secara sepihak oleh perusahaan, melainkan melalui koordinasi dengan pihak-pihak yang memahami kondisi lapangan.

Pada rumusan masalah kedua, transparansi dan akuntabilitas pelaporan dana CSR menunjukkan bahwa perusahaan berupaya menjaga hubungan baik dengan stakeholder. Dalam perspektif stakeholder theory, transparansi merupakan sarana untuk membangun kepercayaan dan legitimasi sosial. Ketika perusahaan menyampaikan laporan penggunaan dana dan melibatkan pihak lokal dalam pengawasan, hal tersebut menunjukkan pengakuan terhadap hak stakeholder untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan program.

Pada rumusan masalah ketiga, keberhasilan program perbaikan gizi balita menunjukkan bahwa kepentingan stakeholder dapat diakomodasi secara seimbang. Penerima manfaat memperoleh dukungan gizi, tenaga kesehatan mendapatkan ruang untuk menjalankan fungsi pendampingan, pemerintah kelurahan terbantu dalam upaya penanggulangan masalah sosial, dan perusahaan memperoleh legitimasi sosial melalui program yang berdampak positif. Dengan demikian, teori stakeholder membantu menjelaskan bahwa keberhasilan program CSR terjadi ketika kepentingan berbagai pihak dikelola secara harmonis [24].

3.Sintesis Teoritis terhadap Temuan Penelitian

Jika kedua teori tersebut digabungkan, penelitian ini menunjukkan bahwa Program Denting Nusantara merupakan bentuk implementasi CSR yang tidak hanya memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga mengakomodasi kepentingan para pemangku kepentingan. Proses perencanaan dan penganggaran menunjukkan adanya orientasi pada kebutuhan masyarakat. Pelaporan dan pertanggungjawaban menunjukkan adanya komitmen akuntabilitas. Sementara itu, kontribusi program terhadap perbaikan gizi balita membuktikan bahwa CSR dapat menghasilkan manfaat sosial yang konkret.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas Corporate Social Responsibility (CSR) bergantung pada keterlibatan stakeholder, transparansi, dan kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat. Pada Program Denting Nusantara, hal ini tercermin dari meningkatnya pemahaman gizi, pelayanan yang lebih responsif, dan pemantauan balita, yang menegaskan manfaat nyata pengelolaan dana CSR.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan dana pelaporan dana Corporate Social Responsibility (CSR) pada Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit dilaksanakan secara sistematis melalui perencanaan, penganggaran, penggunaan, dan alokasi dana berbasis kebutuhan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dana CSR kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan intervensi gizi, pemberdayaan masyarakat, edukasi kesehatan, serta pemantauan balita yang menjadi sasaran utama program. Alokasi dana dilakukan secara terarah agar mendukung kegiatan yang memiliki dampak langsung terhadap perbaikan gizi balita di Kelurahan Pluit.

Selanjutnya, pelaporan dan pertanggungjawaban dana CSR pada Program Denting Nusantara telah berjalan dengan cukup baik ditinjau dari prinsip akuntabilitas dan transparansi. Perusahaan menerapkan pelaporan berjenjang dan monitoring berkala, didukung komunikasi rutin serta evaluasi bersama stakeholder, sehingga pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) berlangsung secara akuntabel dan transparan. Meskipun demikian, keterbukaan tersebut masih bersifat informasi umum mengenai jalannya program, sementara rincian angka realisasi anggaran masih terbatas pada tingkat manajemen, sehingga transparansi hingga ke tingkat pelaksana lapangan seperti kader posyandu masih dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, penyusunan media informasi sederhana, seperti infografis anggaran dan capaian program yang dapat diakses oleh pelaksana lapangan, dapat menjadi upaya untuk memperkuat transparansi dan pemahaman seluruh stakeholder terhadap pelaksanaan CSR.

Pengelolaan dana CSR memberikan kontribusi yang nyata terhadap keberhasilan Program Denting Nusantara dalam mendukung perbaikan gizi balita. Hal ini didukung oleh hasil intervensi yang menunjukkan peningkatan cure rate balita underweight dari 58,3% pada tahun 2024 menjadi 72,7% pada tahun 2025. Selain itu, cure rate balita stunting juga meningkat dari 28,6% pada tahun 2024 menjadi 32,6% pada tahun 2025. Capaian tersebut menempatkan Kelurahan Pluit sebagai wilayah dengan tingkat kesembuhan stunting tertinggi di Kecamatan Penjaringan selama dua tahun berturut-turut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dikelola secara tepat mendukung perbaikan gizi balita melalui intervensi gizi dan pemberdayaan masyarakat. Kondisi ini meningkatkan pemahaman orang tua, partisipasi masyarakat, dan pemantauan balita, sehingga memperkuat keberhasilan Program Denting Nusantara.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penelitian ini, khususnya tim Program Denting Nusantara di Kelurahan Pluit dan dosen pembimbing atas kerja sama, arahan, serta bimbingannya. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan kajian Corporate Social Responsibility (CSR) dan menjadi referensi dalam peningkatan efektivitas program tanggung jawab sosial perusahaan.

References

Berikut adalah daftar pustaka Anda tanpa nomor, dan saya telah merapikan jeda barisnya agar lebih mudah dibaca dan disalin:

I. G. Ayu, D. Dhyanasaridewi, E. Murwaningsari, dan S. Mayangsari, “The Effect Of Sustainability Innovation, Proactive Sustainability Strategy, And Digital Transformation On Corporate Sustainability Performance,” Rev. Gestão Soc. e Ambient., vol. 18, no. 6, hal. 1–23, 2024.

I. R. Ekaningrum, Triyani, Agus, Hadi, dan S. M. Nor Siti Maisyaroh Bakti Pertiwi, M. Fatchurrohman, “Social Accounting: Assessing Corporate Commitment to Combatting Stunting in Indonesia through CSR Initiatives,” J. Ilm. Akunt., vol. 9, no. 2, hal. 497–519, 2024, doi: 10.23887/jia.v9i2.84270.

I. G. A. D. Dhyanasaridewi, “The Role of Sustainability Innovations and E-Bussiness, in Achieving Firm Performance with A Sustainable Competitive Advantage as Mediation,” vol. 3, hal. 38–49, 2021.

Santika, Sisca, Kusno, H. Sanjaya, Arazy, dan D. Rozaqi, “Green Accounting, Corporate Social Responsibility, Business Strategy, and Firm Value: Evidence from Indonesia,” vol. 17, no. 1, hal. 188–197, 2025, doi: 10.26740/jaj.

A. M. Priyo, “Analisis Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Laporan Kebelanjutan Berdasarkan Global Reporting Initiative (Gri) Standard,” Diponegoro J. Account., vol. 11, no. 2017, hal. 1–15, 2022.

I. Ssgi, “Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022,” 2022.

M. A. Rachman, Arafat, dan S. Baso, “Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam Tbk UBPN Kolaka dalam Mendukung Program Pencegahan Stunting di Desa Tambea Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka.,” 2024, [Daring]. Tersedia pada: https://doi.org/10.57250/ajsh.v4i2.604

S. S. Samara, S. Selawati, M. T. Sari, dan Z. K. Kurnia Amelia, Danan Panggih Wisastra, “Evaluasi Program Kawasan Sehat di Wilayah Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Nusa Tenggara Barat dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting. Amerta Nutrition,” hal. 537-548., 2024.

Evaningtyas, A. Marina, dan F. Nuraini, “Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Dan Bisnis 1 Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendapatan Nelayan Udang Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Dan Bisnis 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas,” hal. 328–333, 2020.

R. Edward Freeman, Strategic Management: A Stakeholder Approach. Springer International Publishing, 1984. doi: 10.1186/s40991-024-00094-y.

S. G. Winter, Sidney G. Winter University of Pennsylvania, Wharton School of Business, Philadelphia, PA, USA. 2018.

Arifin et al., “Implementasi Kebijakan Intervensi Program Corporate Social Responsibility Pt. Adaro Indonesia Dalam,” vol. 9, hal. 274–286, 2025.

R. Chairiyah, U. N. Karim, dan A. I. Susanti, “Evaluation of Supplementary Feeding Program (SFP) on Risk of Stunting,” J. Polkesban, 2025.

F. R. Fiantika et al., Metodologi penelitian kualitatif. 2022.

S. Fia, D. Panjaitan, C. Eka, P. Dewi, N. I. Sari, dan S. Apandi, “Analisis Sustainability Reporting Terhadap Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan BUMN,” Balanc. Media Inf. Akunt. dan Keuang., vol. 16, no. 2, hal. 82–89, 2024.

D. Winda; dan Chaerani, “Rumah Gizi Gampong – Posyandu Kenari Sebagai Ruang Aman dan Shelter Inklusif : Implementasi CSR Pada Pencegahan Stunting,” Syntax Lit. J. Ilm. Indones., vol. 10, no. 9, hal. 7953–7969, 2025.

R. A. Hapsari dan Z. W. Asis, “Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Corporate Social Responsibility,” vol. 2, 2023.

M. P. Prof. Dr. Sapto Haryoko, M. P. Drs. Bahartiar, dan M. Fajar Arwadi, S.Pd., Analisis Data Penelitian. 2020.

M. J. A. Putra, “Implementasi CSR dalam Meningkatkan Citra Perusahaan,” hal. 20–37, 2021.

Rahayu dan Sumatra, “Pengaruh Pengungkapan dan Biaya Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur,” Indones. J. Econ. Manag. Account., vol. 2, no. 6, hal. 1906–1914, 2025.

N. Rahmawati, D. Mawaddah, dan Ramona, “Peran Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas,” vol. 2, no. 6, hal. 57–67, 2024.

F. Salsabila, H. Zahrah, N. S. Wulandari, M. F. Syima, dan Program, “Etika Bisnis Dan Tanggung Jawab Sosial BUMN: Studi Kasus Kontroversi Kebijakan Tarif Dasar Listrik,” J. Ilm. Ekon., vol. 1, no. 3, hal. 697–708, 2024, doi: 10.63822/pyhe2k31.

S. Apriyeni, D. Satyayoni, A. Maulana, V. G. Bawanto, dan M. A. Firnadi, “Study of the Effectiveness of the CSR Program of PT PLN Nusantara Power UP Muara Karang ‘Denting Nusantara’ Through SROI Analysis,” vol. 5, no. 2, 2024.

R. V. Wasiat, S. H. R., & Salomo, “Collaborative Governance in Accelerating Stunting Reduction through Corporate Social Responsibility.,” Vol. 8 No. 1 (2024): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora. [Daring]. Tersedia pada: https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/santhet/article/view/3948