Disa Sri Ilma Adhitya (1), Mardalena Mardalena (2)
General Background Educational transformations necessitate robust technological competencies to support active and meaningful learning environments. Specific Background The Merdeka Curriculum demands independence, differentiated instruction, collaborative projects, and technological assessment adaptation, presenting unique participation challenges for rural institutions like SMPN 44 Merangin. Knowledge Gap Although existing literature extensively covers online learning, there remains limited quantitative research directly correlating specific DigComp dimensions with learner preparation for this precise curriculum within rural contexts. Aims This study investigates the relationship between technological proficiency and the capacity of junior high schoolers to participate in newly mandated instructional models. Results Analysis of simulated data from 72 participants revealed high technological proficiency (68.43%) and moderate-to-high preparation levels (67.48%), demonstrating a strong positive correlation (r = 0.713, p < 0.001) where technological skills explain 50.9% of the variance in learning capacity. Novelty This research distinctly maps the DigComp 2.2 framework against exact curriculum demands, uncovering critical participant weaknesses specifically regarding online content creation and self-regulated study habits. Implications Educational institutions must systematically integrate safety and content creation training into daily instruction to equip learners for independent and collaborative academic demands.
Highlights
Statistical analysis confirms that technological proficiency significantly dictates student readiness for independent study.
Participants exhibit strong problem-solving capabilities but require targeted support generating multimedia content.
Integrating the DigComp framework reveals critical gaps in self-regulated study habits and online safety.
Keywords
Digital Literacy; Student Readiness; Merdeka Curriculum; Educational Technology; Junior High School
Transformasi digital mendukung akses informasi, kolaborasi, dan pembelajaran aktif, sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan diferensiasi, penguatan kompetensi, proyek, karakter, dan pembelajaran bermakna sesuai Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 dan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025.
Literasi digital mencakup literasi informasi, komunikasi, kreasi konten, keamanan, dan pemecahan masalah [1]. Menurut UNESCO, kompetensi ini mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengelola informasi secara aman [2].
Kebutuhan literasi digital semakin penting karena akses perangkat tidak otomatis menghasilkan kompetensi digital. Studi Hatlevik et al. (2015) pada siswa sekolah menengah menunjukkan adanya keragaman kompetensi digital yang dipengaruhi latar belakang, orientasi penguasaan, dan capaian akademik [3]. Ng (2012) juga menegaskan bahwa peserta didik yang tumbuh di tengah teknologi tetap memerlukan pengalaman belajar yang terarah agar mampu menggunakan teknologi untuk tujuan pendidikan [4]. Temuan ICILS 2018 memperlihatkan bahwa kemampuan menggunakan komputer untuk menyelidiki, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi perlu dikembangkan secara sistematis melalui sekolah [5].
Dalam pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka, kesiapan siswa dapat dipahami sebagai kondisi kognitif, afektif, perilaku, dan teknologis yang memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif. Kesiapan tersebut tercermin dalam kemampuan mengatur proses belajar, mencari sumber belajar, beradaptasi dengan variasi tugas, bekerja dalam proyek, berkolaborasi, mengikuti asesmen, dan bertanggung jawab atas proses belajar. Penelitian Tang dan Chaw (2016) menunjukkan bahwa literasi digital merupakan prasyarat bagi pembelajaran efektif dalam lingkungan blended learning. Mohammadyari dan Singh (2015) menemukan bahwa literasi digital membantu individu beradaptasi terhadap e-learning dan mengelola informasi secara lebih efektif [6]. Prior et al. (2016) juga menunjukkan bahwa literasi digital berkontribusi terhadap efikasi diri dan perilaku belajar daring [7].
Kurikulum Merdeka memberi peluang besar bagi pemanfaatan teknologi, tetapi implementasinya tidak lepas dari tantangan. Rahayu et al. (2022) menekankan pentingnya kesiapan implementasi Kurikulum Merdeka [8]. Rahmadayanti dan Hartoyo (2022) menyatakan bahwa kurikulum ini berorientasi pada kebutuhan siswa [9]. Dewi dan Sunarni (2024) menunjukkan peran literasi digital dalam mendukung pembelajaran, sedangkan Adawiyah (2023) menegaskan penerapannya di berbagai mata pelajaran SMP [10], [11].
Sekolah perdesaan dan pegunungan menghadapi keterbatasan akses teknologi dan dukungan belajar. Kondisi SMPN 44 Merangin penting dikaji karena berbeda dengan sekolah perkotaan. UNESCO (2023) menegaskan bahwa keberhasilan teknologi bergantung pada akses, kesiapan guru, tata kelola, dan integrasi dalam pembelajaran.
Penelitian terdahulu telah membahas literasi digital, pembelajaran daring, dan implementasi Kurikulum Merdeka, tetapi kajian kuantitatif yang secara langsung menguji pengaruh literasi digital terhadap kesiapan siswa mengikuti pembelajaran Kurikulum Merdeka pada SMP di wilayah Merangin masih terbatas. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan dimensi DigComp 2.2 sebagai konstruk literasi digital dan pengembangan konstruk kesiapan siswa yang secara spesifik disejajarkan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka, yaitu kemandirian, diferensiasi, proyek, kolaborasi, pemanfaatan sumber, dan asesmen digital. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan tingkat literasi digital siswa; (2) mendeskripsikan kesiapan siswa mengikuti pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka; dan (3) menganalisis pengaruh literasi digital terhadap kesiapan siswa di SMPN 44 Merangin. Hipotesis penelitian menyatakan bahwa literasi digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan siswa mengikuti pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto, dengan literasi digital (X) sebagai variabel bebas dan kesiapan mengikuti Kurikulum Merdeka (Y) sebagai variabel terikat. Penelitian dilaksanakan di SMPN 44 Merangin, Jangkat, Jambi, selama satu semester dengan analisis korelasi Pearson dan regresi linear sederhana.
Draf menggunakan data simulasi 72 siswa kelas VII-VIII sebagai ilustrasi pengelolaan data. Penelitian aktual dapat menerapkan total sampling atau proportionate stratified random sampling sesuai ukuran populasi. Kriteria responden adalah siswa aktif, telah mengikuti pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka sekurang-kurangnya satu semester, memperoleh persetujuan orang tua/wali, dan bersedia mengisi angket secara sukarela. Identitas responden wajib dianonimkan [11].
Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert lima tingkat, yaitu sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), ragu-ragu (3), setuju (4), dan sangat setuju (5). Instrumen literasi digital terdiri atas 20 butir yang dikembangkan dari lima area DigComp 2.2. Instrumen kesiapan siswa terdiri atas 18 butir yang disusun berdasarkan tuntutan partisipasi siswa dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka. Kisi-kisi variabel disajikan pada Tabel 1 [12].
Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Penelitian
Validitas isi instrumen perlu dinilai oleh sekurang-kurangnya dua ahli yang memahami teknologi pendidikan, evaluasi pembelajaran, dan Kurikulum Merdeka. Setelah revisi ahli, uji coba instrumen dilakukan pada siswa yang memiliki karakteristik serupa tetapi tidak termasuk sampel utama. Validitas empiris dianalisis menggunakan korelasi corrected item-total, sedangkan reliabilitas dianalisis menggunakan koefisien Cronbach’s alpha. Butir dinyatakan memadai apabila korelasi item-total lebih besar dari nilai kritis atau sekurang-kurangnya 0,30, dan instrumen dinyatakan reliabel apabila alpha lebih dari 0,70 [13].
Data dianalisis melalui statistik deskriptif, uji asumsi, dan regresi linear sederhana pada α = 0,05, dengan kontribusi literasi digital diukur melalui R2.
Penelitian menerapkan etika penelitian anak melalui izin sekolah, persetujuan orang tua dan siswa, kerahasiaan data, hak mengundurkan diri, serta penggunaan data untuk kepentingan ilmiah tanpa meminta informasi pribadi sensitif.
A.Hasil Penelitian
Bagian hasil berikut merupakan contoh keluaran analisis berdasarkan data simulasi 72 responden. Struktur tabel dan cara interpretasi dapat dipertahankan, tetapi seluruh angka wajib diganti dengan hasil penelitian lapangan sebelum naskah disubmit.
Tabel 2. Karakteristik Responden Simulasi
Uji validitas menunjukkan seluruh butir memiliki korelasi corrected item-total di atas 0,30. Koefisien reliabilitas kedua instrumen berada di atas 0,90 sehingga konsistensi internalnya termasuk sangat baik. Dalam penelitian nyata, nilai yang sangat tinggi tetap perlu diperiksa untuk memastikan tidak terjadi pengulangan butir yang berlebihan.
Tabel 3. Ringkasan Validitas dan Reliabilitas Instrumen Simulasi
Statistik deskriptif memperlihatkan bahwa skor literasi digital memiliki rerata 68,43 dari skor maksimum 100. Skor kesiapan siswa memiliki rerata 60,74 dari skor maksimum 90 atau setara 67,48%. Kedua variabel menunjukkan variasi yang cukup, sehingga data memadai untuk menguji hubungan antarvariabel.
Tabel 4. Statistik Deskriptif Variabel Simulasi
Distribusi kategori menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang dan tinggi. Namun, masih terdapat siswa dengan skor rendah dan sangat rendah. Temuan ini penting karena rerata kelompok dapat menutupi kesenjangan kompetensi individual. Sekolah perlu mengidentifikasi siswa yang membutuhkan pendampingan dasar, terutama terkait pencarian informasi, keamanan akun, pengelolaan berkas, dan penyelesaian tugas melalui platform digital.
Tabel 5. Distribusi Kategori Variabel Simulasi
Analisis per dimensi menunjukkan bahwa pemecahan masalah memperoleh persentase tertinggi pada variabel literasi digital (69,86%), diikuti literasi informasi dan data (69,44%). Kreasi konten digital memperoleh persentase terendah (66,60%). Pada variabel kesiapan siswa, kesiapan proyek dan kolaborasi memperoleh persentase tertinggi (68,70%), sedangkan kemandirian belajar memperoleh persentase terendah (66,39%). Pola tersebut mengisyaratkan bahwa siswa relatif mampu berpartisipasi dalam kegiatan bersama, tetapi masih memerlukan penguatan dalam menghasilkan konten digital dan mengelola proses belajar secara mandiri.
Tabel 6. Rerata Setiap Dimensi pada Data Simulasi
Uji asumsi menunjukkan residual berdistribusi normal, hubungan antara ariable bersifat linear, dan tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. Dengan demikian, analisis regresi linear sederhana dapat digunakan.
Tabel 7. Uji Asumsi Regresi pada Data Simulasi
Hasil korelasi Pearson menunjukkan koefisien r sebesar 0,713 dengan nilai p < 0,001. Hubungan tersebut berada pada kategori kuat dan positif. Artinya, semakin baik literasi digital siswa, semakin tinggi kecenderungan kesiapan mereka mengikuti pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka.
Analisis regresi menghasilkan persamaan Y = 14,068 + 0,682X. Koefisien regresi sebesar 0,682 berarti setiap kenaikan satu poin literasi digital diikuti kenaikan prediksi kesiapan siswa sebesar 0,682 poin. Nilai F sebesar 72,529 dan t sebesar 8,516 dengan p < 0,001 menunjukkan model dan koefisien regresi signifikan. Nilai R² sebesar 0,509 menunjukkan bahwa literasi digital menjelaskan 50,9% variasi kesiapan siswa, sedangkan 49,1% lainnya dijelaskan oleh faktor lain seperti motivasi, dukungan guru, sarana, konektivitas, lingkungan keluarga, efikasi diri, dan pengalaman belajar.
Tabel 8. Hasil Regresi Linear Sederhana pada Data Simulasi
Ringkasan model: R = 0,713; R² = 0,509; Adjusted R² = 0,502; F(1,70) = 72,529; p < 0,001.
B.Pembahasan
Hasil simulasi menunjukkan bahwa literasi digital berpengaruh positif terhadap kesiapan siswa dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka. Temuan ini sejalan dengan kompetensi DigComp 2.2 yang mendukung pemanfaatan teknologi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan pengelolaan informasi [1].
Hubungan yang kuat antara literasi digital dan kesiapan belajar sejalan dengan Tang dan Chaw (2016), yang menemukan bahwa kemampuan digital, pengelolaan informasi, dan sikap yang tepat terhadap teknologi berkaitan dengan efektivitas belajar dalam lingkungan blended [14]. Mohammadyari dan Singh (2015) juga menunjukkan bahwa literasi digital meningkatkan kemampuan individu memanfaatkan e-learning dan mengelola informasi [6]. Dalam konteks perilaku belajar, Prior et al. (2016) menjelaskan bahwa literasi digital berkontribusi pada efikasi diri, interaksi dengan sistem pembelajaran, dan keterlibatan dengan rekan [7]. Walaupun studi-studi tersebut banyak dilakukan pada pendidikan tinggi, mekanisme dasarnya relevan bagi siswa SMP karena pembelajaran digital juga membutuhkan kepercayaan diri, keterampilan teknis, pengelolaan informasi, dan regulasi diri.
Meskipun literasi digital tergolong tinggi, sebagian siswa masih memiliki kompetensi rendah. Temuan ini sejalan dengan Hatlevik et al. (2015) yang menyatakan bahwa kompetensi digital tidak berkembang secara otomatis [3]. Ng (2012) juga menegaskan bahwa penggunaan teknologi belum tentu mencerminkan kompetensi digital [4].
Dimensi kreasi konten digital menjadi aspek terendah dalam data simulasi. Kondisi ini dapat terjadi ketika penggunaan teknologi di sekolah lebih banyak berfokus pada konsumsi informasi daripada produksi pengetahuan. Padahal, Kurikulum Merdeka mendorong siswa menghasilkan beragam bentuk bukti belajar, seperti poster, presentasi, laporan, video, portofolio, atau produk proyek. Van Laar et al. (2017) menunjukkan bahwa keterampilan digital abad ke-21 mencakup kreativitas, komunikasi, kolaborasi, pengelolaan informasi, berpikir kritis, dan pemecahan masalah [15]. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan menyusun karya dan mengelola sumber secara bertanggung jawab.
Penguatan keamanan digital juga penting untuk melindungi privasi, memverifikasi informasi, dan mendorong penggunaan teknologi secara bijak. Literasi digital yang aman dan etis akan membantu siswa mengikuti pembelajaran berbasis teknologi tanpa mengabaikan perlindungan diri.
Pada variabel kesiapan siswa, kemandirian belajar menjadi dimensi yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan teknologi perlu disertai regulasi diri. Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi pilihan, variasi aktivitas, dan pembelajaran sesuai kebutuhan, tetapi kebebasan tersebut menuntut kemampuan menetapkan tujuan, mengatur waktu, meminta bantuan, dan mengevaluasi kemajuan. OECD (2024) menempatkan strategi belajar, motivasi, dan keyakinan diri sebagai bagian penting kesiapan siswa untuk belajar sepanjang hayat [16]. Dengan demikian, program literasi digital sebaiknya tidak hanya mengajarkan fitur aplikasi, tetapi juga mengintegrasikan perencanaan belajar, pengelolaan tugas, refleksi, dan disiplin digital.
Konteks SMPN 44 Merangin menuntut strategi yang adaptif terhadap kondisi lokal. Penguatan literasi digital tidak selalu membutuhkan perangkat canggih atau penggunaan internet terus-menerus. Sekolah dapat menggunakan pendekatan bertahap melalui perangkat bersama, materi yang dapat diakses secara luring, perpustakaan digital lokal, jadwal laboratorium, tugas kelompok, dan pemanfaatan aplikasi ringan. UNESCO (2023) menegaskan bahwa teknologi harus dipilih berdasarkan kebutuhan pembelajaran dan kondisi sistem, bukan sekadar mengikuti tren [17]. Kualitas desain pembelajaran, pendampingan guru, dan keberlanjutan dukungan lebih penting daripada jumlah aplikasi yang digunakan.
Koefisien determinasi sebesar 50,9% mengindikasikan bahwa literasi digital merupakan faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penentu kesiapan siswa. Variabel lain yang perlu dikaji pada penelitian lanjutan adalah motivasi belajar, efikasi diri, dukungan guru, dukungan orang tua, ketersediaan perangkat, kualitas konektivitas, budaya sekolah, kemampuan membaca, dan pengalaman menggunakan platform. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan desain multivariat, membandingkan tingkat kelas, atau menguji program intervensi literasi digital melalui kuasi-eksperimen [18].
Implikasi praktisnya, sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran, memperkuat keamanan dan etika penggunaan AI, serta membantu siswa dengan akses teknologi terbatas. Penelitian ini terbatas pada data simulasi, desain cross-sectional, dan penggunaan angket yang dapat memengaruhi penarikan kausalitas dan menimbulkan bias persepsi. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan tes kinerja, observasi, dokumentasi, atau wawancara untuk memperoleh temuan yang lebih valid. Selain itu, penggunaan penilaian kinerja (performance assessment) dan analisis portofolio digital dapat dipertimbangkan sebagai data pendukung sehingga hasil penelitian tidak hanya bergantung pada persepsi responden melalui angket, tetapi juga didukung oleh bukti empiris mengenai kemampuan literasi digital dan kesiapan siswa. Generalisasi juga perlu dilakukan secara hati-hati karena karakteristik sekolah, konektivitas, dan dukungan keluarga dapat berbeda antarwilayah [20].
Hasil analisis menunjukkan bahwa literasi digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan siswa mengikuti Kurikulum Merdeka, dengan kontribusi sebesar 50,9%. Penguatan diperlukan pada aspek kreasi konten, keamanan digital, kemandirian belajar, dan asesmen digital untuk mendukung pembelajaran yang mandiri, kolaboratif, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, sekolah perlu mengoptimalkan peran guru dalam mengintegrasikan literasi digital ke dalam kegiatan pembelajaran melalui tugas-tugas autentik, pendampingan penggunaan teknologi, serta pembiasaan praktik digital yang aman dan etis sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan peserta didik di sekolah. Kesimpulan empiris final hanya dapat ditetapkan setelah seluruh data simulasi diganti dengan data lapangan yang sah.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak SMPN 44 Merangin dan Universitas Merangin yang akan mendukung pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih final perlu disesuaikan berdasarkan pihak yang benar-benar memberikan izin, pendampingan, pendanaan, atau kontribusi ilmiah.
R. Vuorikari, S. Kluzer, and Y. Punie, DigComp 2.2: The Digital Competence Framework for Citizens—with New Examples of Knowledge, Skills and Attitudes. Luxembourg: Publications Office of the European Union, 2022, doi: 10.2760/115376.
N. Law, D. Woo, J. de la Torre, and G. Wong, A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills for Indicator 4.4.2, UIS Information Paper No. 51. Montreal, QC, Canada: UNESCO Institute for Statistics, 2018.
O. E. Hatlevik, G. B. Guðmundsdóttir, and M. Loi, “Examining factors predicting students’ digital competence,” Journal of Information Technology Education: Research, vol. 14, pp. 123–137, 2015, doi: 10.28945/2126.
W. Ng, “Can we teach digital natives digital literacy?,” Computers & Education, vol. 59, no. 3, pp. 1065–1078, 2012, doi: 10.1016/j.compedu.2012.04.016.
J. Fraillon, J. Ainley, W. Schulz, T. Friedman, and D. Duckworth, Preparing for Life in a Digital World: IEA International Computer and Information Literacy Study 2018 International Report. Cham, Switzerland: Springer, 2020, doi: 10.1007/978-3-030-38781-5.
S. Mohammadyari and H. Singh, “Understanding the effect of e-learning on individual performance: The role of digital literacy,” Computers & Education, vol. 82, pp. 11–25, 2015, doi: 10.1016/j.compedu.2014.10.025.
D. D. Prior, J. Mazanov, D. Meacheam, G. Heaslip, and J. Hanson, “Attitude, digital literacy and self-efficacy: Flow-on effects for online learning behavior,” The Internet and Higher Education, vol. 29, pp. 91–97, 2016, doi: 10.1016/j.iheduc.2016.01.001.
R. Rahayu, R. Rosita, Y. S. Rahayuningsih, A. H. Hernawan, and P. Prihantini, “Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah penggerak,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 6313–6319, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3237.
D. Rahmadayanti and A. Hartoyo, “Potret Kurikulum Merdeka, wujud merdeka belajar di sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 7174–7187, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3431.
Z. R. Dewi and S. Sunarni, “Peran literasi digital dalam implementasi Kurikulum Merdeka: Adaptasi dan transformasi di era digital,” Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, vol. 4, no. 1, pp. 9–14, 2024, doi: 10.30872/jimpian.v4i1.2916.
R. Adawiyah, “Telaah ruang literasi digital siswa dalam Kurikulum Merdeka di jenjang sekolah menengah pertama,” Profesi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Keguruan, vol. 12, no. 2, pp. 65–80, 2023.
M. Alanoglu, S. Karabatak, and H. Yang, “Understanding university students’ self-directed online learning in the context of emergency remote teaching: The role of online learning readiness and digital literacy,” Journal of Computing in Higher Education, vol. 38, pp. 651–677, 2026, doi: 10.1007/s12528-025-09458-0.
A. Angga, C. Suryana, I. Nurwahidah, A. H. Hernawan, and P. Prihantini, “Komparasi implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar Kabupaten Garut,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 5877–5889, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3149.
C. M. Tang and L. Y. Chaw, “Digital literacy: A prerequisite for effective learning in a blended learning environment?,” Electronic Journal of e-Learning, vol. 14, no. 1, pp. 54–65, 2016.
E. van Laar, A. J. A. M. van Deursen, J. A. G. M. van Dijk, and J. de Haan, “The relation between 21st-century skills and digital skills: A systematic literature review,” Computers in Human Behavior, vol. 72, pp. 577–588, 2017, doi: 10.1016/j.chb.2017.03.010.
OECD, PISA 2022 Results, Volume V: Learning Strategies and Attitudes for Life. Paris, France: OECD Publishing, 2024, doi: 10.1787/c2e44201-en.
UNESCO, Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education—A Tool on Whose Terms? Paris, France: UNESCO, 2023.
L. Boeskens and A. Echazarra, Using Digital Resources for Learning: Policy Insights from PISA 2022, OECD Education Working Papers, no. 340. Paris, France: OECD Publishing, 2025, doi: 10.1787/eb9453f3-en.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Materi Pendukung Literasi Digital. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
A. Martin and J. Grudziecki, “DigEuLit: Concepts and tools for digital literacy development,” Innovation in Teaching and Learning in Information and Computer Sciences, vol. 5, no. 4, pp. 249–267, 2006, doi: 10.11120/ital.2006.05040249.