Rohan Rahmat Wisudawan (1), Raja Bani Pilitan (2), Khairul Saleh (3)
General Background Physical education functions as a fundamental component in national educational systems for motor and character development. Specific Background Within special education institutions, physical education delivery is highly complex due to the diverse physical, intellectual, social, and emotional characteristics of the students. Knowledge Gap Despite these pedagogical demands, educators frequently encounter severe facility limitations and lack specialized adaptive training, with limited in-depth research addressing these instructional constraints in specific regional special schools. Aims This study investigates the adaptive learning approaches, instructional constraints, and practical solutions applied by physical education teachers at Muara Bungo State Elementary School for Special Needs. Results Qualitative analysis reveals that teachers implemented instructional modifications involving tailored materials, simplified directions, movement demonstrations, and process-oriented evaluations. To navigate the significant lack of specialized sports infrastructure and formal training, educators utilized environmental objects, such as plastic balls and used bottles, alongside peer teaching and positive reinforcement. Novelty This research demonstrates that teacher creativity and strategic environmental resource utilization successfully compensate for institutional resource deficits in adaptive physical education. Implications Educational authorities and policymakers must urgently provide specialized adaptive physical education training and appropriate instructional infrastructure to support the motor and social independence of students with special needs.
Highlights
Educators modify teaching materials and evaluation systems to accommodate varying student abilities.
Utilizing simple environmental objects successfully mitigates severe shortages regarding specialized sports infrastructure.
Peer collaboration alongside continuous positive reinforcement maintains active participation during athletic activities.
Keywords
Special Education; Motor Development; Inclusive Pedagogy; Process Oriented Assessment; Teaching Modifications
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adalah salah satu elemen utama dalam sistem pendidikan nasional, karena berkontribusi pada pembentukan karakter, pengembangan fisik, motorik, serta peningkatan kesehatan peserta didik. Di Sekolah Luar Biasa (SLB), pembelajaran PJOK menjadi lebih rumit karena perlu disesuaikan dengan keadaan dan keperluan masing-masing peserta didik yang memiliki berbagai keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sosial. Pendidikan jasmani adaptif merupakan layanan yang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan psikomotor peserta didik (Meimulyani 2013). Pembelajaran PJOK di SLB bersifat kompleks karena harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan unik setiap peserta didik. Untuk itu, pendidikan jasmani adaptif diperlukan sebagai sistem layanan menyeluruh yang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dalam ranah psikomotor secara tepat [1].
Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Pasal 11, olahraga pendidikan merupakan bagian dari proses pendidikan yang dilaksanakan secara terencana dan berkelanjutan melalui pendidikan jasmani dan olahraga untuk mengembangkan pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, serta kebugaran jasmani. Pendidikan olahraga merupakan bagian dari proses pendidikan yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, dengan tujuan mengembangkan pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani peserta didik. Oleh dari itu lembaga pendidikan seperti sekolah selayaknya dapat memfasilitasi proses pembelajaran dengan lengkap, juga dengan seorang pendidik yang memiliki kompetensi baik dalam mendidik, terutama pada anak berkebutuhan khusus [2].
Wardany dkk. (2023), pendidik PJOK di SLB diwajibkan memiliki kompetensi pedagogis, didaktik, serta pendekatan yang inklusif dan adaptif. Namun, pada prakteknya, banyak pendidik PJOK mengalami berbagai tantangan saat mengajar peserta didik berkebutuhan khusus. Kendala tersebut dapat meliputi minimnya fasilitas dan infrastruktur olahraga yang memadai, kurangnya pelatihan khusus bagi pendidik, hambatan dalam komunikasi, serta tingginya beban administratif. Pendidik dan penggiat olahraga disabilitas berperan penting dalam keberhasilan pendidikan jasmani adaptif melalui penerapan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus agar pembelajaran berlangsung efektif dan menarik [3].
Pembelajaran berbasis permainan menjadi salah satu strategi yang efektif karena sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus dalam memahami materi pembelajaran [4]. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang pendidik PJOK di SLB memiliki peran penting dalam keberhasilan pembelajaran jasmani adaptif, namun mereka menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya fasilitas, pelatihan khusus, hambatan komunikasi, dan beban administratif. Untuk mengatasi hal tersebut, pendidik dan penggiat olahraga disabilitas harus mampu menerapkan pendekatan yang inklusif, adaptif, dan menyenangkan melalui pembelajaran berbasis permainan, agar peserta didik berkebutuhan khusus tidak merasa jenuh dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik meskipun memiliki keterbatasan dalam penangkapan materi [5].
SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo, sebagai salah satu institusi pendidikan yang mendukung anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Bungo, situasi serupa kemungkinan besar juga berlangsung. Kurangnya penelitian mendalam tentang kendala yang dihadapi pendidik di sekolah ini menjadi alasan utama untuk melakukan studi secara sistematis. Studi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman nyata tentang tantangan yang dihadapi oleh pendidik, sehingga menjadi landasan untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang inklusif dan efektif [6]. Belum banyak penelitian yang mengkaji secara komprehensif strategi pembelajaran pendidikan jasmani adaptif yang diterapkan pendidik, kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran, serta solusi yang dilakukan dalam konteks SD Negeri LB Muara Bungo. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dengan memberikan gambaran kontekstual mengenai strategi pembelajaran pendidikan jasmani adaptif, berbagai kendala yang dihadapi pendidik, serta solusi yang diterapkan dalam mengoptimalkan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus di SD Negeri LB Muara Bungo.
Hasil observasi yang telah peneliti lakukan pada tanggal 21 april 2025 ditemukan bahwa PJOK mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi kepada peserta didik berkebutuhan khusus, terlihat pada proses pembelajaran peserta didik masih banyak yang tidak memperhatikan saat pembelajaran berlangsung, membuat materi yang disampaikan oleh pendidik tidak sampai kepada peserta didik. Selain itu sarana dan prasarana olahraga yang tersedia belum sepenuhnya mendukung pembelajaran. Membuat pembelajaran tidak efektif. Peneliti juga menanyakan kepada PJOK ternyata masih kurangnya pelatihan dan pendampingan bagi PJOK dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Terakhir peneliti menemukan belum optimalnya dukungan dari pihak sekolah dan lingkungan sekitar dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran PJOK di SLB, yang dimana sarana prasaran merupakan komponen penting dalam sebuah proses pembelajaran [7].
Salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam pengembangan potensi peserta didik adalah Pendidikan Jasmani adaptif tidak hanya berperan dalam aspek kebugaran jasmani, tetapi juga dalam pengembangan sosial, emosional, dan keterampilan motorik peserta didik. Bagi anak berkebutuhan khusus, pembelajaran pendidikan jasmani adaptif menjadi wadah untuk melatih koordinasi gerak, disiplin, interaksi sosial, dan rasa percaya diri. Dengan demikian, tidak hanya bersifat fisik semata, tetapi menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter dan kemandirian peserta didik [8].
Namun, pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif bagi peserta didik berkebutuhan khusus tidaklah mudah. pendidik menghadapi tantangan yang cukup kompleks, mulai dari perbedaan kemampuan fisik dan mental peserta didik, keterbatasan alat dan media pembelajaran, hingga kurangnya pelatihan khusus bagi guru dalam menangani siswa berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat, kreatif, dan fleksibel, agar tujuan pembelajaran tetap tercapai tanpa mengabaikan kondisi dan potensi peserta didik [9].
SD Negeri LB Muara Bungo merupakan salah satu lembaga pendidikan khusus yang memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus dari berbagai latar belakang. Sekolah ini memiliki siswa dengan berbagai jenis disabilitas, seperti tunanetra, tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, dan autisme. Keanekaragaman karakteristik peserta didik ini menuntut pendidik untuk mengembangkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tidak hanya adaptif, tetapi juga menyeluruh dan terencana [10].
Banyak pendidik di SD LB dituntut untuk melakukan modifikasi materi, pendekatan individual, serta pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. pendidik juga ditantang untuk membangun suasana belajar yang inklusif, menyenangkan, dan aman, agar siswa dapat terlibat aktif meskipun memiliki keterbatasan tertentu. Strategi-strategi inilah yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini, karena akan berdampak langsung terhadap kualitas dan efektivitas pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di lingkungan SD Negeri LB [11].
Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus untuk mengkaji lebih dalam tentang bagaimana strategi pembelajaran pendidikan jasmani adaptif diterapkan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus di SD Negeri LB Muara Bungo, kendala-kendala yang dihadapi, serta solusi yang dikembangkan untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan model pembelajaran PJOK yang lebih inklusif, aplikatif, dan kontekstual di sekolah luar biasa maupun pendidikan inklusif lainnya [12].
A.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti menggali informasi yang mendalam melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian.
B.Latar Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo, yang merupakan sekolah khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Alasan pemilihan lokasi ini adalah karena sekolah tersebut merupakan salah satu pusat layanan pendidikan inklusif di daerah tersebut, dan memungkinkan peneliti untuk menggali informasi langsung dari guru PJOK yang aktif mengajar di lingkungan SLB.
C.Instrument Penelitian
1.Pedoman Observasi
Observasi digunakan untuk memperoleh data bentuk-bentuk interaksi guru terhadap siswa berkebutuhankhusus.
2.Pedoman Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data melalui tanya jawab langsung dengan responden.
3.Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan semua dokumen yang berhubungan dengan upaya guru dalam mengajarkan Penjas adaptif untuk siswa berkebutuhan khusus.
D.Teknik Pengumpulan Data
1.Wawancara
Wawancara dilakukan dengan guru PJOK dan kepala sekolah untuk mengetahui strategi pembelajaran jasmani olahraga dan kesehatan pada peserta didik anak berkebutuhan khusus dan strategi apa yang dilakukan dalam proses pembelajaran PJOK kepada peserta didik anak berkebutuhan khusus.
2.Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran PJOK berlangsung di lapangan sekolah. Observasi ini digunakan untuk melihat secara langsung bagaimana guru menyampaikan materi, bagaimana interaksi dengan siswa, dan bagaimana strategi pembelajaran pjok kepada peserta didik anak berkebutuhan khusus [13].
E.Teknik Analisis Data
1.Reduksi Data
Menyeleksi dan menyederhanakan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan berfokus pada informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian.
2.Penyajian Data
Menyusun data yang telah direduksi dalam bentuk uraian deskriptif agar mudah dipahami dan dianalisis.
3.Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Menyimpulkan hasil analisis serta memverifikasi temuan melalui perbandingan data dari berbagai sumber (triangulasi).
F.Jadwal Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian ini direncanakan pada bulan agustus setelah melalui tahap seminar proposal dan persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji [14].
A.Hasil Penelitian
Analisis data penelitian ini menggunakan model Miles & Huberman yang meliputi tiga tahap: reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Data diperoleh dari wawancara dengan guru PJOK, observasi saat pembelajaran berlangsung, serta dokumentasi sekolah.
Reduksi data merupakan tahap awal dalam analisis data kualitatif. Pada tahap ini peneliti berusaha untuk menyederhanakan, mengelompokkan, dan memfokuskan data mentah yang diperoleh dari lapangan, sehingga data yang banyak dan beragam dapat lebih mudah dipahami sesuai fokus penelitian.
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari tiga teknik utama yaitu wawancara dengan guru PJOK dan kepala sekolah, observasi langsung di kelas maupun lapangan, serta dokumentasi berupa foto kegiatan, RPP, dan catatan evaluasi siswa. Seluruh data tersebut kemudian dianalisis, dipilah, dan difokuskan pada empat aspek utama penelitian:
a.Strategi pembelajaran PJOK adaptif yang digunakan guru.
b.Penerapan strategi dalam proses pembelajaran.
c.Hambatan yang dihadapi guru dalam pembelajaran PJOK adaptif.
d.Upaya guru dalam mengatasi hambatan.
Untuk memudahkan analisis, berikut disajikan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dalam bentuk matriks:
a.Strategi Pemberdayaan PJOK Adaptif
b.Penerapan Strategi Dalam Pembelajaran
c.Hambatan Dalam Pembelajaran
d.Upaya Guru Mengatasi Hambatan
B.Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dapat diketahui bahwa guru PJOK di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo menerapkan berbagai strategi pembelajaran adaptif untuk menyesuaikan kondisi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus. Pembahasan berikut disusun sesuai dengan fokus penelitian:
1.Strategi Pembelajaran PJOK Adaptif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PJOK di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo menerapkan strategi pembelajaran adaptif melalui modifikasi materi, penyederhanaan instruksi, pendekatan multisensori, pembelajaran berbasis permainan, serta motivasi dan penguatan positif sesuai kebutuhan peserta didik. Misalnya, bagi siswa tunarungu, guru lebih banyak menggunakan gerakan tubuh, isyarat tangan, dan visualisasi sebagai instruksi; sementara bagi siswa tunagrahita, instruksi diberikan berulang-ulang dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan disertai demonstrasi langsung. Temuan ini menunjukkan bahwa guru secara aktif melakukan penyesuaian strategi berdasarkan kondisi individu, yang sejalan dengan konsep individualized education dalam pendidikan khusus [15].
Dalam teori pendidikan jasmani adaptif, Beltasar Tarigan (2008: 88) menjelaskan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan menyesuaikan materi, lingkungan, dan metode pengajaran sesuai dengan karakteristik siswa. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Winnick (2007), bahwa strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran PJOK untuk siswa berkebutuhan khusus hendaknya berfokus pada partisipasi aktif, bukan pada pencapaian hasil yang sempurna. Dengan demikian, strategi yang diterapkan guru PJOK di Muara Bungo dapat dikatakan telah sejalan dengan teori yang ada, meskipun belum diformulasikan dalam kerangka yang sistematis seperti pada pendidikan inklusif di negara-negara maju [16].
Temuan ini sejalan dengan Fitriani (2020) bahwa modifikasi permainan sederhana meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa. Penggunaan permainan lempar tangkap bola plastik juga efektif melatih keterampilan motorik sekaligus menciptakan pembelajaran yang menyenangkan [17].
2.Penerapan Strategi dalam Proses Pembelajaran
Strategi yang telah direncanakan guru kemudian diterapkan dalam tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan, guru menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran, meskipun dengan keterbatasan sarana yang ada. Penggunaan bola plastik, botol bekas, serta pita warna menunjukkan adanya kreativitas guru dalam memanfaatkan barang sederhana agar dapat dijadikan media pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2014: 217) yang menyatakan bahwa guru harus mampu menggunakan segala sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai alternatif media belajar [18].
Pada tahap pelaksanaan, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan motivator. Observasi menunjukkan bahwa guru membimbing siswa secara individual sesuai kemampuan masing-masing, sehingga tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran. Misalnya, guru mendampingi siswa dengan hambatan motorik secara lebih intensif, sementara bagi siswa dengan hambatan perilaku, guru memberikan motivasi tambahan agar tetap fokus. Penerapan strategi ini sejalan dengan pendekatan differentiated instruction yang menekankan perlunya guru memberikan pengalaman belajar yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan siswa (Tomlinson, 2014).
Pada tahap evaluasi, guru lebih menekankan pada proses partisipasi siswa daripada hasil keterampilan motorik yang dicapai. Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berusaha mengikuti instruksi meskipun belum sempurna, karena yang terpenting adalah keterlibatan aktif mereka dalam aktivitas jasmani. Hal ini sesuai dengan pandangan Mulyasa (2011: 84) yang menekankan bahwa evaluasi dalam pembelajaran hendaknya mengukur keseluruhan proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, penerapan strategi guru PJOK di SLB Negeri Muara Bungo dapat dikatakan telah menekankan pada pendekatan proses oriented, yang sangat relevan dalam konteks pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus [19].
3.Hambatan Dalam Pembelajaran PJOK Adaptif
Meskipun strategi pembelajaran telah diterapkan dengan baik guru masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan sarana dan prasarana olahraga. Kondisi ini mendorong guru memanfaatkan peralatan yang tersedia sebagai alternatif pembelajaran. Hambatan lain yang cukup signifikan adalah minimnya pelatihan khusus yang pernah diikuti guru terkait penjas adaptif. Guru lebih banyak mengandalkan pengalaman mengajar dan pengetahuan mandiri, sehingga keterampilan profesional dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus belum sepenuhnya terasah [20].
Hambatan ini sejalan dengan penelitian Randi (2023), yang menemukan bahwa sebagian besar guru PJOK di SLB belum pernah mendapatkan pelatihan khusus tentang pendidikan jasmani adaptif, sehingga metode yang digunakan seringkali masih bersifat eksperimen pribadi. Selain itu, penelitian Agus Sibagariang et al. (2025) juga memperkuat temuan ini dengan menyebutkan bahwa keterbatasan sarana prasarana menjadi kendala utama dalam pembelajaran PJOK di sekolah luar biasa. Hambatan lainnya adalah heterogenitas karakteristik siswa dalam satu kelas. Keberadaan siswa dengan hambatan berbeda (tunagrahita, tunarungu, autisme) membuat guru sulit memberikan strategi yang benar-benar sesuai untuk semua siswa sekaligus.
Dari uraian tersebut, jelas bahwa hambatan dalam pembelajaran PJOK adaptif di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo tidak hanya berasal dari faktor internal sekolah, tetapi juga faktor eksternal seperti kurangnya dukungan dari pemerintah daerah dalam penyediaan sarana prasarana dan program pengembangan profesional guru [21].
4.Upaya Guru Dalam Mengatasi Hambatan
Meskipun menghadapi berbagai hambatan, guru PJOK tetap berupaya mencari solusi kreatif agar pembelajaran dapat berjalan. Upaya yang dilakukan antara lain dengan memanfaatkan benda sederhana dari lingkungan sekitar sebagai pengganti peralatan olahraga, menerapkan peer teaching dengan melibatkan siswa yang lebih mampu untuk membantu temannya, serta memberikan motivasi berkelanjutan berupa pujian dan penghargaan kecil. Guru juga menjalin komunikasi dengan guru kelas dan orang tua siswa untuk mendapatkan dukungan dalam mendampingi pembelajaran [22].
Upaya guru ini sejalan dengan pendekatan humanistik dalam pendidikan jasmani yang dikemukakan oleh Sherril dalam Murtadlo (2007: 147), yaitu bahwa pendidikan jasmani harus memfokuskan pada perkembangan potensi siswa secara maksimal dengan memperhatikan kondisi individualnya. Dalam penelitian ini terlihat bahwa guru tidak memaksakan siswa mencapai hasil tertentu, tetapi lebih mengutamakan bagaimana siswa dapat berpartisipasi aktif dan merasa dihargai [23].
Selain itu, penggunaan strategi peer teaching juga memperkuat interaksi sosial antar siswa, sehingga tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan kerjasama. Hal ini sejalan dengan temuan Qasash Hasyim (2025) yang menyebutkan bahwa keberhasilan PJOK adaptif tidak hanya diukur dari keterampilan fisik, tetapi juga dari terbentuknya sikap sosial positif pada siswa berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, meskipun keterbatasan sarana dan pelatihan masih menjadi hambatan besar, kreativitas, komitmen, dan motivasi guru PJOK menjadi faktor kunci yang membuat pembelajaran tetap terlaksana [24].
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran PJOK di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo berbeda dengan sekolah reguler karena menerapkan strategi, metode, dan pendekatan adaptif sesuai kebutuhan khusus peserta didik.
1.Strategi pembelajaran, guru PJOK menerapkan berbagai bentuk penyesuaian agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Strategi tersebut meliputi modifikasi materi, penyederhanaan instruksi, penggunaan metode multisensori, serta penerapan pembelajaran berbasis permainan. Selain itu, guru memberikan motivasi dan penguatan positif agar siswa lebih percaya diri dalam mengikuti kegiatan. Strategi ini sesuai dengan prinsip pendidikan jasmani adaptif yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif semua siswa, terlepas dari keterbatasan fisik maupun intelektual yang dimiliki. Temuan ini membuktikan bahwa guru di SLB Muara Bungo mampu memodifikasi pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan siswa, meskipun dengan sarana yang terbatas.
2.Penerapan strategi pembelajaran, guru melaksanakan kegiatan secara bertahap, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pada tahap persiapan, guru menyiapkan alat sederhana yang tersedia di lingkungan, seperti bola plastik, botol bekas, maupun pita warna. Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan demonstrasi gerakan, memberikan instruksi secara sederhana dan berulang, serta membimbing siswa secara individual sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Sementara pada tahap evaluasi, guru lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam kegiatan, bukan pada hasil akhir keterampilan. Dengan demikian, evaluasi yang dilakukan lebih berorientasi pada proses (process oriented) dibandingkan hasil (product oriented). Hal ini menunjukkan bahwa guru berupaya menekankan pembelajaran yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
3.Hasil penelitian ditemukan beberapa hambatan yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran PJOK adaptif.
Hambatan utama meliputi keterbatasan sarana olahraga khusus, sehingga guru harus memanfaatkan peralatan sederhana. Selain itu, minimnya pelatihan pendidikan jasmani adaptif membatasi kompetensi guru. Keberagaman karakteristik peserta didik dalam satu kelas juga menuntut penerapan strategi yang berbeda secara bersamaan. Tantangan tersebut semakin diperberat oleh terbatasnya dukungan pemerintah daerah dan lingkungan sekitar.
4.Penelitian ini juga menemukan adanya berbagai upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan. Guru berusaha memanfaatkan benda-benda sederhana dari lingkungan sekitar untuk dijadikan alat pembelajaran, misalnya menggunakan botol plastik sebagai penanda lintasan lari atau tali rafia sebagai pengganti net. Guru memotivasi siswa melalui pujian, tepuk tangan, hadiah sederhana, peer teaching, serta kerja sama dengan guru kelas dan orang tua. Upaya ini menunjukkan kreativitas dan komitmen guru dalam mendukung perkembangan siswa.
Dengan demikian, Keberhasilan PJOK adaptif dipengaruhi oleh kemampuan guru mengoptimalkan strategi, sumber daya yang tersedia, dan motivasi meskipun dihadapkan pada keterbatasan sarana, prasarana, serta dukungan eksternal. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak keberhasilan pembelajaran adaptif, sekaligus menyoroti perlunya dukungan dari sekolah, orang tua, dan pemerintah untuk memperbaiki sarana, meningkatkan pelatihan guru, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah daerah diharapkan menyediakan sarana olahraga adaptif, meningkatkan pelatihan guru PJOK, serta memperkuat koordinasi, monitoring, dan evaluasi agar kualitas pembelajaran pendidikan jasmani adaptif bagi peserta didik berkebutuhan khusus di SD Negeri Luar Biasa Muara Bungo semakin baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak Sekolah Dasar Negeri Luar Biasa (SDLB) Muara Bungo yang telah memberikan izin, dukungan, dan kerja sama selama pelaksanaan penelitian. Apresiasi juga disampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik
A. S. Lengkana and N. S. N. Sofa, “Kebijakan pendidikan jasmani dalam pendidikan,” Jurnal Olahraga, vol. 3, no. 1, pp. 1–12, 2017.
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
J. P. Kotter, Leading Change. Boston, MA, USA: Harvard Business Review Press, 2012.
A. Kurniawati, “Pelatihan penjas adaptif bagi guru PJOK dan guru SLB serta penggiat olahraga disabilitas,” JPM: Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 2, no. 1, p. 179, 2023, doi: 10.52434/jpm.v2i1.2494.
A. Abdoellah, Pendidikan Jasmani Adaptif. Jakarta, Indonesia: Depdiknas, 1996.
A. Smart, Anak Cacat Bukan Kiamat. Yogyakarta, Indonesia: KataHati, 2012.
B. M. Bass and R. E. Riggio, Transformational Leadership, 2nd ed. Mahwah, NJ, USA: Lawrence Erlbaum Associates, 2006.
B. Taringan, Penjas Adaptif. Jakarta, Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2000.
J. M. Bryson, Strategic Planning for Public and Nonprofit Organizations: A Guide to Strengthening and Sustaining Organizational Achievement, 5th ed. Hoboken, NJ, USA: Jossey-Bass, 2018.
C. H. S. Widati and Murtadlo, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Adaptif. Jakarta, Indonesia: Depdiknas Dikti Direktorat Ketenagaan, 2007.
F. R. David, F. R. David, and M. E. David, Strategic Management: A Competitive Advantage Approach, Concepts and Cases, 17th ed. Harlow, U.K.: Pearson Education, 2020.
E. Siregar and H. Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor, Indonesia: Ghalia Indonesia, 2010.
M. Fullan, The New Meaning of Educational Change, 5th ed. New York, NY, USA: Teachers College Press, 2016.
W. K. Hoy and C. G. Miskel, Educational Administration: Theory, Research, and Practice, 9th ed. New York, NY, USA: McGraw-Hill, 2013.
Husdarta, Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2009.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta, Indonesia: Kemendikbudristek, 2022.
Kementerian Pendidikan Nasional, Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta, Indonesia: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2010.
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya, 2022.
N. Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung, Indonesia: Sinar Baru Algensindo, 2005.
P. G. Northouse, Leadership: Theory and Practice, 9th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2021.
OECD, OECD Future of Education and Skills 2030: OECD Learning Compass 2030. Paris, France: OECD Publishing, 2019.
S. P. Robbins and M. Coulter, Management, 15th ed. Harlow, U.K.: Pearson Education, 2021.
E. Sallis, Total Quality Management in Education, 3rd ed. London, U.K.: Routledge, 2014.
P. M. Senge, The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York, NY, USA: Doubleday, 2006.