Login
Section Innovation in Industrial Engineering

Six Sigma Analysis of Halal Food Packaging Defects

Analisis Six Sigma terhadap Cacat Kemasan Makanan Halal
Vol. 26 No. 3 (2025): July:

Nurria Peppi Yuwana (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Product quality control is a critical requirement in manufacturing industries to maintain production consistency, reduce defects, and support customer satisfaction. Specific Background: PT. XYZ, a wafer manufacturing company, experienced a packaging defect rate of 1.24% over a 12-month period, exceeding the company’s tolerance limit of 1%, with 7,962 defective packages recorded during production. Knowledge Gap: Previous studies have applied Six Sigma to packaging quality problems; however, limited studies have integrated Six Sigma (DMAIC), Root Cause Analysis (RCA), and a 5W+1H approach using a long-term observation period to identify the root causes of packaging defects in halal food products. Aims: This study aimed to identify the dominant packaging defect, determine its root causes, and formulate improvement recommendations to reduce defects within the company’s tolerance limits. Results: The findings revealed 12 types of packaging defects, with endseal corner tear defects representing the largest proportion at 44% of total defects. The average Defect Per Million Opportunities (DPMO) value was 1,131.46, and the average sigma level was 4.56. Root cause analysis identified five contributing factors: method, machine, man, environment, and material. Novelty: The study integrates Six Sigma DMAIC, RCA, fishbone analysis, and 5W+1H within a 12-month evaluation framework to provide a comprehensive diagnosis of packaging quality issues. Implications: The proposed corrective actions, including machine maintenance, standardized operating procedures, process monitoring, operator training, and material control, can serve as a reference for reducing packaging defects and improving production quality management in halal food manufacturing.
Highlights:



  • Endseal corner tear accounted for 44% of total packaging nonconformities.

  • Average process performance reached 1,131.46 DPMO with a sigma level of 4.56.

  • Five primary causal categories were identified: method, machine, man, environment, and material.


Keywords: Six Sigma; Root Cause Analysis; Packaging Quality; Halal Food Products; DMAIC

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Industri manufaktur saat ini dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas produk dengan tetap mempertahankan efisiensi dan produktivitas proses produksi. Produktivitas merupakan perbandingan antara nilai yang didapatkan (output) dengan nilai masukan (input) yang dilakukan dalam suatu proses produksi. Produktivitas digunakan sebagai alat untuk menganalisis dan mengukur seberapa optimal perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan output yang diharapkan 1.

Kualitas merupakan taraf derajat atau tingkat baik buruknya suatu produk. Kualitas merupakan aspek yang sangat penting dalam sebuah produk, karena berkaitan langsung dengan bisnis dan berfungsi sebagai indikator dalam mengukur tingkat keuntungan suatu perusahaan 2. Pengendalian kualitas adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan dan memastikan kelancaran proses produksi melalui pemeriksaan yang dilakukan secara berkesinambungan. Pengendalian kualitas ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, sehingga dapat menghasilkan produk atau jasa dengan kualitas yang diharapkan 3. Pengendalian kualitas merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjamin mutu produk sebelum dipasarkan kepada konsumen 4.

Produk yang memenuhi standar halal menjadi elemen penting dalam praktik perdagangan dan ekonomi global. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan terhadap standar dan kualitas internasional, demi membangun kepercayaan konsumen di berbagai negara 5. Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Pasal 1 ayat (2) tentang Jaminan Produk Halal (JPH), “Produk Halal adalah produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam” 6. Menyediakan pangan halal dan aman adalah peluang bisnis yang menjanjikan. Produk bersertifikasi halal lebih menarik minat konsumen baik Muslim maupun non-Muslim. Sebaliknya, pemasaran produk tanpa label halal di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia cenderung kurang diminati dan dapat merugikan pelaku usaha 5.

PT. XYZ adalah perusahaan yang beroperasi di sektor industri makanan, dengan produk utama wafer. Setiap perusahaan dituntut untuk memproduksi produk dengan kualitas tinggi dan bersertifikasi halal. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat dan kesadaran akan kualitas yang semakin tinggi. PT. XYZ memiliki visi untuk menjadikan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama dengan menyediakan produk yang aman dan berkualitas. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada produksi di PT. XYZ adalah tingkat kerusakan yang tinggi pada saat proses pengemasan. Berdasarkan laporan harian, pencapaian produksi dalam 12 bulan terakhir adalah 642.584 pcs, dengan tingkat kecacatan kemasan sebanyak 7962 pcs. Sehingga persentase kemasan cacat sejumlah 1,24%, melewati batas toleransi perusahaan sebesar 1% dari total produksi. Kecacatan tersebut terjadi pada proses pengemasan, yaitu kasus kemasan ngejam, endseal sudut melipat, endseal sudut luka/sobek, endseal sudut kurang kuat, centerseal keluar, centerseal kedalaman, centerseal jebol, centerseal kurang kuat, centerseal kepanasan, gambar lari, tidak ada coding, dan coding tergores/terpotong. Hal tersebut menjadi permasalahan bagi perusahaan, oleh karena itu perlu adanya metode perbaikan yang dapat digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas pada proses produksi dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Perusahaan diharapkan mampu meminimalkan kerugian yang disebabkan oleh faktor efisiensi produksi, baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun waktu. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas adalah dengan menerapkan metode six sigma. Six sigma adalah metode yang bertujuan untuk mencapai kinerja operasional dengan tingkat cacat yang sangat rendah, yaitu hanya 3,4 cacat per satu juta peluang atau aktivitas 7. Dalam implementasinya, untuk mengetahui tingkat signifikan dari kecacatan produk, dilakukan melalui penerapan tahapan DMAIC: Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control dalam metode six sigma 8.

Root Cause Analysis (RCA) adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab utama dari suatu masalah atau kejadian yang tidak diinginkan. Pendekatan ini membantu dalam menjawab pertanyaan mengenai apa yang terjadi di lini produksi pengemasan, bagaimana hal tersebut bisa terjadi, serta mengapa hal tersebut dapat terjadi, sehingga solusi yang efektif dapat dirancang dan diterapkan di perusahaan 9.

Berikut merupakan penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya terkait penerapan metode six sigma. Penelitian dari Sahelangi 10 yang membahas analisa pada kemasan produk menggunakan metode six sigma (DMAIC), menyatakan jenis cacat terbanyak adalah geset melipat, faktor penyebab terjadi pada faktor manusia, material, mesin, dan metode. Penelitian Izzah 11 yang membahas tentang tingkat kerusakan produk rebana sebesar 144.835 DPMO, dengan cacat utama berupa meletus (40%), retak (38%), dan suara kendur (22%). Perbaikan disarankan pada faktor manusia, mesin, dan material untuk mengurangi kecacatan tersebut. Penelitian Kusuma 4 yang membahas cacat kemasan menggunakan metode six sigma, menyatakan bahwa jenis cacat yang terjadi pada kemasan sekunder yaitu sobek, print dan kotor, DPMO pada penelitian ini sebesar 7090,88 (sigma 4,0). Faktor penyebabnya yaitu faktor manusia, mesin dan metode. Penelitian Sabillah 12 yang membahas tingkat kerusakan kemasan mie instan menggunakan metode six sigma, menyatakan bahwa jenis cacat terbanyak terjadi pada proses suhu sambungan dan bumbu oil bocor, nilai sigma yang dihasilkan pada penelitian ini sebesar 4,96 dengan faktor penyebabnya adalah faktor manusia. Beda penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah menggabungkan metode six sigma (DMAIC), Root Cause Analysis (RCA) dan pendekatan 5W+1H untuk mengidentifikasi akar penyebab cacat. Penelitian ini menyajikan periode pengamatan yang lebih panjang selama 12 bulan yang dapat memberikan cakupan data analisis yang lebih luas terhadap variasi produksi.

Pada penelitian ini menggunakan dua metode utama, yaitu Six Sigma dan Root Cause Analysis (RCA), yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi cacat produk. Metode Six Sigma diterapkan untuk pengendalian kualitas dan pengurangan tingkat cacat produk secara sistematis melalui pendekatan DMAIC. Sementara Root Cause Analysis (RCA) digunakan untuk mencari penyebab utama dari cacat yang terjadi dengan fishbone diagram dan 5W+1H. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap kecacatan pada proses pengemasan yaitu endseal sudut luka/sobek, menemukan akar penyebab masalah dan merancang rekomendasi perbaikan yang efektif dan berkelanjutan. Tujuan akhir dari penelitian adalah untuk menekan tingkat cacat hingga berada dalam batas toleransi yang ditetapkan oleh perusahaan.

Manfaat dari penelitian ini adalah: 1) Meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi dengan mengidentifikasi penyebab ketidakstabilan proses. 2) Mengurangi cacat dan memperbaiki pemeliharaan mesin serta evaluasi kinerja operator. 3) Hasil penelitian dapat digunakan untuk pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan pengendalian yang lebih ketat. 4) Meningkatkan daya saing dan kepuasan pelanggan.

II. Metode

Penelitian ini dilakukan selama enam bulan di PT. XYZ, dari bulan September 2024 sampai dengan bulan Februari 2025. Pengambilan data melalui observasi proses produksi secara langsung dan mengidentifikasi titik-titik yang berpotensi menimbulkan masalah kualitas, yaitu proses pengemasan dan pemeriksaan kualitas di line produksi. Wawancara dilakukan secara langsung di lapangan dengan operator produksi, shift leader produksi, dan shift leader quality control. Data defect dan pencapaian target produksi diperoleh dari wawancara dengan supervisor quality control dan supervisor produksi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkatkan kualitas kemasan pada proses produksi menggunakan metode six sigma DMAIC dan Root Cause Analysis (RCA) dengan pendekatan fishbone diagram dan 5W+1H.

Six Sigma merupakan metodologi peningkatan kualitas berbasis data yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan sumber variasi dan penyebab cacat 13. Pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) adalah metode yang diterapkan untuk mengevaluasi dan mengukur keberhasilan penerapan Six Sigma 14.

  1. Six Sigma
  2. Tahap DMAIC

Define bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dalam proses produksi dengan menentukan aspek-aspek Critical to Quality (CTQ). Pada langkah ini, dilakukan analisis terhadap berbagai jenis cacat yang terjadi beserta jumlahnya 4.

  1. Define
  2. Measure

Measure atau pengukuran adalah tahap untuk mengukur masalah yang ada di perusahaan 4. Pada tahap ini, dilakukan pembuatan diagram peta kendali untuk mengidentifikasi variasi yang terjadi selama produksi 11. Berikut merupakan langkah-langkah pembuatan peta kendali:

p= (1)

Sumber: 11, 15, 16

CL = = (2)

Sumber: 11, 16, 17

Dimana:

: jumlah total defect

: jumlah total sampel

: rata-rata defect

UCL = (3)

Sumber: 11, 12, 17

  1. Menghitung Proporsi Kecacatan (p)
  2. Menghitung Garis Tengah (Center Line / CL)
  3. Menghitung Batas Kendali Atas (Upper Control Limit / UCL)
  4. Menghitung Batas Kendali Bawah (Lower Control Limit / LCL)

LCL = (4)

Sumber: 11, 12, 17

Dimana:

: rata-rata defect

n: jumlah produksi

Berikut merupakan rumus perhitungan dalam menentukan DPO, DPMO, dan nilai sigma:

DPO = (5)

Sumber: 4, 18, 19

DPMO = DPO x 1.000.000 (6)

Sumber: 4, 18, 19

Nilai Sigma = (7)

Sumber: 4, 18, 19

  1. Menghitung Defect Per Opportunity (DPO)
  2. Menghitung Defect Per Million Opportunity (DPMO)
  3. Menghitung Nilai Sigma Menggunakan Microsoft Excel
  4. Klasifikasi Level Sigma

Tabel . Tingkat Sigma

Tingkat Pencapaian Sigma DPMO Keterangan
1-sigma 691.462 Sangat tidak kompetitif
2-sigma 308.538 Rata-rata industri Indonesia
3-sigma 66.807 -
4-sigma 6.210 Rata-rata industri USA
5-sigma 233 -
6-sigma 3,4 Industri kelas dunia

Sumber: 20.

Pada tahap analyze dilakukan proses menganalisis penyebab cacat pada produk 4. Pada tahap ini mengidentifikasi Root Cause Analysis (RCA) dilakukan dengan pembuatan diagram pareto yang bertujuan untuk mengetahui banyaknya produk cacat dan fishbone yang bertujuan untuk mengetahui penyebab cacat 11.

Pada tahap ini menggunakan metode Root Cause Analysis (RCA), metode ini dilakukan sebagai upaya perbaikan untuk mengatasi permasalahan sebagai solusi dalam mengurangi tingkat kecacatan produk. Pada tahap improve, tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah dan melakukan perubahan yang diperlukan agar kecacatan produk tidak terulang kembali. Pendekatan 5W+1H dilakukan untuk mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menjadi penyebab kecacatan produk 21.

  1. Analyze
  2. Improve
  3. Control

Tahap control merupakan tahap terakhir dalam proses penerapan six sigma yang berfokus pada pengendalian dan pemantauan perbaikan serta penyelesaian masalah berdasarkan tindakan yang telah ditetapkan 15. Pada tahap control juga bertujuan untuk meninjau apakah perbaikan yang diusulkan berhasil menurunkan jumlah cacat atau tidak 4.

  1. Alur Penelitian

Berikut ini merupakan alur penelitian yang berisi tentang tahapan-tahapan dalam proses penelitian yang terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Alur Penelitian

III. Hasil dan Pembahasan

Tabel 2 merupakan data laporan hasil produksi dan data cacat kemasan dari PT. XYZ pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024:

Tabel 2. Data Produksi dan Cacat Kemasan

Periode Jumlah Produksi Jumlah Cacat Persentase Cacat (%)
Januari 109786 1239 1,13
Februari 70545 738 1,05
Maret 32518 414 1,27
April 58662 611 1,04
Mei 37704 469 1,24
Juni 36085 606 1,68
Juli 14600 286 1,96
Agustus 41455 504 1,22
September 28130 662 2,35
Oktober 87388 1019 1,17
November 100925 1156 1,15
Desember 24786 258 1,04
TOTAL 642584 7962 1,24
  1. Pengumpulan Data
  2. Tahap Define

Pada tahap ini dilakukan analisis jenis cacat beserta jumlahnya pada proses pengemasan produk wafer di PT. XYZ.

Pada data tabel 3, dapat dilakukan identifikasi Critical to Quality (CTQ) sebagai berikut:

Tabel 3. Critical to Quality (CTQ)

No Jenis Cacat Kemasan Penyebab Kecacatan
1 Kemasan ngejam Kecepatan mesin tidak stabil, pusher tidak singkron (posisi wafer berantakan)
2 Endseal sudut melipat Gaset tidak presisi, baut gaset kendor
3 Endseal sudut luka/ sobek Jaw kotor, suhu terlalu tinggi, speed tidak stabil, setting panjang kemasan terlalu rapat
4 Endseal sudut kurang kuat Baut endseal kendor, perlu dilakukan setting kerapatan
5 Center seal keluar Kemasan tidak presisi pada jalur center seal
6 Center seal kedalaman Setting lebar kemasan terlalu rapat
7 Center seal jebol Perak allufoil tidak menempel, suhu sealing tidak stabil
8 Center seal kurang kuat Baut mesin seal tidak rapat, suhu sealing tidak stabil
9 Center seal kepanasan Suhu sealing terlalu tinggi sehingga hasil sealing keriting
10 Gambar lari Cut position tidak sesuai
11 Tidak ada coding Tinta habis, sensor coding error
12 Coding tergores/ terpotong Head print kotor, sensor coding error

Berdasarkan data pada tabel 3, terdapat 12 jenis cacat Critical to Quality (CTQ) terhadap kualitas kemasan produk wafer. Hasil tersebut diperoleh melalui wawancara dengan masing-masing personil dari 3 grup, terdiri dari dua operator produksi, satu shift leader produksi dan satu shift leader quality control.

Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada proses pengemasan, mulai dari pengaturan awal mesin, pemasangan bahan kemas, proses pengemasan, hingga pengecekan kualitas kemasan. Sehingga diperoleh data mengenai jenis kecacatan pada kemasan.

  1. Penentuan Nilai Critical to Quality (CTQ)
  2. Data Cacat Kemasan

Tabel 4 merupakan jenis cacat kemasan pada proses produksi wafer di PT. XYZ pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024:

Tabel 4. Data Cacat Kemasan

Periode Jenis Cacat Jumlah Cacat
Kemasan ngejam Endseal sudut melipat Endseal sudut luka/ sobek Endseal sudut kurang kuat Center seal keluar Center sealke- dalam-an Center seal jebol Center seal kurang kuat Center seal ke-panas-an Gambar lari Tidak ada coding Coding tergores/ terpotong
Januari 150 162 480 151 85 57 19 29 33 11 22 40 1239
Februari 103 89 273 89 48 48 13 14 21 6 11 23 738
Maret 42 33 129 74 27 31 13 16 6 4 13 26 414
April 62 43 272 70 29 51 10 15 18 19 9 13 611
Mei 44 41 178 84 41 21 7 10 9 10 7 17 469
Juni 83 53 187 112 50 32 13 11 16 18 5 26 606
Juli 30 33 116 43 10 8 10 6 4 13 5 8 286
Agustus 66 30 262 6 25 21 16 6 3 38 9 22 504
September 72 22 275 141 48 11 18 21 8 9 12 25 662
Oktober 80 26 539 182 64 19 17 25 16 9 14 28 1019
November 98 30 673 154 57 36 32 26 18 6 9 17 1156
Desember 29 14 98 34 23 18 10 9 7 1 4 11 258
TOTAL 859 576 3482 1140 507 353 178 188 159 144 120 256 7962
  1. Tahap Measure
  1. Peta Kendali

Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan data secara kuantitatif dan pembuatan diagram peta kendali untuk mengukur kualitas proses produksi pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024. Berikut merupakan perhitungan peta kendali pada cacat kemasan produk wafer yang diperoleh dari persamaan rumus:

p= (1)

p=

p= 0,01129

CL = = (2)

CL = =

CL = = 0,01239

UCL = (3)

UCL = 0,01293 + 3

UCL = 0,01293 + 3 (0,00033)

UCL = 0,01293 + 0,00100

UCL = 0,01339

  1. Perhitungan proporsi kecacatan (p) bulan Januari
  2. Menghitung Garis Tengah (Center Line / CL)
  3. Menghitung Batas Kendali Atas (Upper Control Limit / UCL)
  4. Menghitung Batas Kendali Bawah (Lower Control Limit / LCL)

LCL = (4)

LCL = 0,01293 - 3

LCL = 0,01293 - 3 (0,00033)

LCL = 0,01293 - 0,00100

LCL = 0,01139

Tabel 5 merupakan data perhitungan peta kendali pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024.

Tabel 5. Perhitungan Peta Kendali

Periode Jumlah Produksi Jumlah Cacat Proporsi CL UCL LCL
Januari 109786 1239 0,0113 0,0124 0,0134 0,0114
Februari 70545 738 0,0105 0,0124 0,0136 0,0111
Maret 32518 414 0,0127 0,0124 0,0142 0,0106
April 58662 611 0,0104 0,0124 0,0138 0,0110
Mei 37704 469 0,0124 0,0124 0,0141 0,0107
Juni 36085 606 0,0168 0,0124 0,0141 0,0106
Juli 14600 286 0,0196 0,0124 0,0151 0,0096
Agustus 41455 504 0,0122 0,0124 0,0140 0,0108
September 28130 662 0,0235 0,0124 0,0144 0,0104
Oktober 87388 1019 0,0117 0,0124 0,0135 0,0113
November 100925 1156 0,0115 0,0124 0,0134 0,0113
Desember 24786 258 0,0104 0,0124 0,0145 0,0103
TOTAL 642584 7962

Pada tabel 5, diperoleh perhitungan rata-rata nilai proporsi kecacatan sebesar 0,01358, rata-rata perhitungan garis tengah (CL) sebesar 0,01239, rata-rata nilai batas kendali atas (UCL) sebesar 0,01402 dan rata-rata nilai batas kendali bawah (LCL) sebesar 0,01076. Dari hasil perhitungan diatas, dapat dilihat grafik peta kendali pada gambar 2 berikut:

Gambar 2. Peta Kendali

Berdasarkan grafik pada gambar 2, diketahui bahwa masih terdapat data proporsi yang melebihi batasan UCL dan LCL. Hal ini menandakan bahwa proses pengemasan pada produksi di PT. XYZ belum konsisten.

Hasil analisis pada peta kendali menunjukkan adanya data ekstrem pada bulan Juni, Juli, dan September, di mana proporsi kecacatan pada bulan-bulan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan lainnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor jumlah produksi yang tidak konsisten, penurunan jumlah produksi berdampak pada peningkatan proporsi kecacatan secara signifikan. Dalam kondisi jumlah produksi yang rendah, dengan jumlah cacat yang tetap tinggi akan berpengaruh pada kenaikan proporsi kecacatan yang ekstrem.

  1. Perhitungan DPMO dan Level Sigma

Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan data Defect Per Opportunity (DPO), Defect Per Million Opportunity (DPMO), dan level sigma pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024 menggunakan persamaan berikut:

DPO = (5)

DPO =

DPO =

DPO = 0,00094

DPMO = DPO x 1.000.000(6)

DPMO = 0,00094 x 1.000.000

DPMO = 940,46600

  1. Menghitung Defect Per Opportunity (DPO) bulan Januari
  2. Menghitung Defect Per Million Opportunity (DPMO) bulan Januari
  3. Menghitung Nilai Sigma menggunakan Microsoft Excel bulan Januari

Nilai Sigma = (7)

Nilai Sigma =

Nilai Sigma = 4,61

Tabel 6 merupakan tabel hasil perhitungan data Defect Per Opportunity (DPO), Defect Per Million Opportunity (DPMO), dan level sigma pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024

Tabel 6. Perhitungan DPMO Produk Wafer

Periode Jumlah Produksi Jumlah Cacat CTQ DPO DPMO Level Sigma
Januari 109786 1239 12 0,00094 940,4660 4,61
Februari 70545 738 12 0,00087 871,7840 4,63
Maret 32518 414 12 0,00106 1060,9509 4,57
April 58662 611 12 0,00087 867,9668 4,63
Mei 37704 469 12 0,00104 1036,5832 4,58
Juni 36085 606 12 0,00140 1399,4735 4,49
Juli 14600 286 12 0,00163 1632,4201 4,44
Agustus 41455 504 12 0,00101 1013,1468 4,59
September 28130 662 12 0,00196 1961,1328 4,38
Oktober 87388 1019 12 0,00097 971,7200 4,60
November 100925 1156 12 0,00095 954,5042 4,60
Desember 24786 258 12 0,00087 867,4252 4,63
TOTAL 642584 7962
Rata-rata 1131,4644 4,56

Pada tabel 6 dapat diketahui nilai total jumlah produksi wafer sebesar 642584 pcs, total nilai jumlah kecacatan sebesar 7962 pcs. Dari data tersebut diperoleh nilai DPMO terbesar yaitu 1961,1328 pada bulan September, sedangkan nilai DPMO terkecil yaitu 867,4252 pada bulan Desember.

Berdasarkan perhitungan pada tabel 6, rata-rata DPMO tercatat sebesar 1131,4644 yang berarti bahwa dari setiap satu juta produksi, sekitar 1131,4644 pcs produk mengalami cacat dalam proses pengemasan. Tingkat level sigma diperoleh rata-rata sebesar 4,56 yang artinya masuk kedalam klasifikasi 4-sigma, dimana nilai DPMO tertinggi adalah sebesar 6210 cacat setiap satu juta produksi. Namun hasil tersebut masih jauh dari standar 6-sigma yang memiliki kriteria nilai DPMO sebesar 3,4 cacat setiap satu juta produksi. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah perbaikan yang efektif untuk mengurangi jumlah cacat dan meningkatkan kualitas produk.

  1. Tahap Analyze

Tahap pertama dalam mengidentifikasi faktor penyebab cacat pada kemasan adalah membuat diagram pareto. Diagram pareto digunakan untuk menganalisis tingkat cacat yang disusun berdasarkan jumlah cacat dari yang terbesar hingga terkecil [16]. Diagram pareto juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah utama dalam memperbaiki kecacatan produk [4]. Berikut merupakan hasil perhitungan dan grafik diagram pareto:

Gambar 3. Diagram Pareto

Pada gambar 3 dapat diidentifikasi bahwa jenis cacat pada kemasan yang paling dominan dari keseluruhan cacat kemasan yang ada yaitu cacat endseal sudut luka atau sobek dengan jumlah cacat sebesar 3482 pcs dan persentase cacat sebesar 44%. Karena cacat kemasan endseal sudut luka atau sobek memiliki persentase kerusakan tertinggi, maka penelitian ini akan difokuskan pada masalah tersebut.

  1. Diagram Pareto
  2. Diagram Fishbone

Diagram fishbone merupakan salah satu alat yang digunakan dalam upaya peningkatan kualitas. Diagram ini menggambarkan suatu permasalahan beserta berbagai faktor penyebab timbulnya masalah tersebut [16]. Diagram fishbone merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab suatu permasalahan. Penyebab-penyebab tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan faktor-faktor tertentu, seperti analisis tindakan yang mencakup aspek manusia (man), mesin (machine), material (material), metode (method), dan lingkungan (environment) [4]. Gambar 4 merupakan diagram fishbone pada cacat kemasan endseal sudut luka atau sobek yang terjadi selama proses pengemasan produk wafer:

Gambar 4. Diagram Fishbone Endseal Sudut Luka atau Sobek

Pada gambar 4 diagram fishbone, dapat diketahui bahwa kecacatan pada proses pengemasan produk wafer yaitu endsealsudut luka atau sobek,dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti methode, machine, man, environment, dan material. Faktor method disebabkan karena pemasangan allufoil yang tidak presisi dapat mempengaruhi kualitas kemasan karena menyebabkan proses penyegelan dan pemotongan yang tidak sempurna, akibatnya kemasan mudah sobek dan bocor. Setting ukuran mesin tidak konsisten disebabkan sering terjadi pergantian gramasi produk, karena ukuran lebar allufoil berbeda-beda maka kemasan terlalu rapat dengan produk sehingga menyebabkan luka atau sobek. Faktor machine disebabkan karena mesinjaw yang kotor dan gompal berpengaruh terhadap hasil sealing, suhu mesin yang terlalu tinggi akan menyebabkanendseal luka dan sobek karena terlalu panas. Sedangkan speed mesin yang terlalu tinggi menyebabkankemasan mudah sobek karena meningkatnya tegangan tarik pada material, waktu penyegelan yang lebih singkat, serta gesekan yang lebih besar pada roller dan cutter.

Faktor man atau manusia dapat dipengaruhi karena kurangnya pengecenkan kebersihan mesin jaw, hal ini disebabkan karena satu operator mengawasi beberapa mesin packing, sehingga kebersihan mesin jaw tidak dilakukan sesuai SOP dan menjadi penyebab operator kurang konsentrasi karena kelelahan. Keterampilan oprator yang berbeda-beda menyebabkan kesalahan dalam pengaturan mesin, pemasangan bahan kemas, dan kurangnya pengawasan yang berakibat pada kualitas proses pengemasan. Faktor environment disebabkan karena pencahayaan ruangan kurang yang berakibat pada penurunan ketelitian dan konsentrasi, area kerja yang sempit menyebabkan mobilitas terbatas dan harus berhati-hati dalam menjangkau setiap mesin. Faktor material dipengaruhi oleh perbedaan supplier allufoil, di PT. XYZ memiliki supplier bahan kemas sebanyak 4 supplier.

Metode Root Cause Analysis (RCA) digunakan sebagai upaya perbaikan untuk mengatasi permasalahan sebagai solusi dalam mengurangi tingkat kecacatan produk. Dalam penelitian ini, pendekatan 5W+1H dilakukan untuk mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menjadi penyebab kecacatan produk 21. Tahap improve merupakan tahapan pada suatu rencana guna meningkatkan kualitas terhadap cacat yang terjadi saat proses produksi berlangsung 21. Tabel 7 merupakan tabel analisis 5W+1H pada cacat kemasan endsealsudut luka atau sobek.

Tabel 7. Analisis 5W+1H

Faktor What Why Where Who When How
Method Pemasangan allufoil tidak presisi Setting mesin tidak konsisten, perubahan ukuran gramasi produk menyebabkan perbedaan lebar allufoil Area mesin packing Operator produksi, shift leader produksi Proses sealing Melakukan pengawasan secara rutin 21, 22.
Melakukan setting mesin packing pada awal jalan Area mesin packing Operator produksi dan Teknik Proses sealing Melakukan aging pada mesin packingdan rutin melakukan kalibrasi 22, .
Machine Jaw kotor Sisa material atau remahan wafer menempel pada jaw Area mesin packing Operator produksi dan Teknik 1 jam sekali Membersihkan jaw sesuai SOP dengan frekuensi waktu yang ditentukan, dengan cara disemprot angin atau dikikir. Memberikan ceklist inspeksi mesin jaw 22, 23.
Suhu sealer tidak stabil Sistem kontrol suhu tidak stabil, mesin terlalu panas Area mesin packing Operator produksi Proses sealing Memastikan monitor suhu mesin secara rutin 23.
Speed mesin terlalu tinggi Speed tinggi menyebabkan kemasan tertarik dan meningkat-kan gesekan yang menyebab-kan cacat Area mesin packing Operator produksi Proses sealing Mengatur kontrol speed mesin sesuai standar dan spesifikasi kemasan 22.
Man Mesin tidak diperiksa secara rutin Operator mengoperasikan lebih dari satu mesin, keterbatasan waktu karena target produksi Area mesin packing Operator produksi, shift leader produksi dan Quality Control Proses sealing Mengatur jadwal pengecekan, menerapkan ceklist inspeksi mesin packing22.
Kurang konsentrasi Karena kelelahan dan area kerja Area mesin packing Operator produksi, shift leader produksi Proses sealing Memberikan waktu istirahat yang cukup 22, dengan pembagian waktu istirahat antar operator (15 menit awal shift, 30 menit pertengahan shift, 15 menit akhir shift)
Tingkat keterampilan berbeda Kurangnya pelatihan, pengalaman kerja Area mesin packing Operator produksi, shift leader produksi Proses sealing Mengadakan pelatihan secara rutin, membuat SOP yang jelas dan mudah diikuti 22, .
Environment Ruang kerja terbatas, sehingga menghambat pekerjaan Tata letak mesin packing yang kurang optimal Area mesin packing Seluruh pekerja Ketika volume produksi meningkat Melakukan re-layout area kerja dan memastikan jalur pergerakan operator aman dan efisien 22.
Material Perubahan supplier Berpengaruh terhadap spesifikasi bahan kemas dan perlu setting ulang Area mesin packing Operator produksi Proses setting kemasan Melakukan aging, setting mesin, dan trial sebelum menggunakan bahan kemas dari supplier yang berbeda 23.
  1. Tahap Improve
  2. Tahap Control

Tahap control dalam metode six sigma merupakan langkah terakhir yang bertujuan untuk memastikan bahwa perbaikan yang dilakukan pada tahap improve dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Berikut beberapa usulan yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kualitas kemasan pada proses produksi wafer:

  1. Perbaikan pada Faktor Method
  • Menyusun dan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP).
  • Menetapkan standar setting pada mesin untuk setiap gramasi produk dan supplier bahan kemas agar lebih stabil saat proses pengemasan berjalan.
  • Melakukan pengawasan mesin secara berkala, agar permasalahan dapat diidentifikasi sedini mungkin.
  • Melakukan kalibrasi mesin packing secara rutin.
  1. Perbaikan pada Faktor Machine
  • Melakukan tindakan preventif pada mesin jaw untuk memastikan tidak ada kotoran atau mesin aus, yang dapat mempengaruhi kualitas sealing.
  • Melakukan modifikasi ulang plat dough-T agar remahan wafer tidak menempel pada mesin packing.
  • Melakukan pemantauan terhadap suhu mesin packing untuk menghindari suhu yang tidak stabil.
  • Mengatur speed mesin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pada Instruksi Kerja.
  1. Perbaikan pada Faktor Man
  • Meningkatkan keterampilan operator dalam pengoperasian mesin packing.
  • Memberi sanksi atau peringatan kepada operator yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai Instruksi Kerja.
  • Memperketat pengawasan terhadap SOP.
  1. Perbaikan pada Faktor Environment
  • Melakukan re-layout agar lebih ergonomis dan aman.
  • Jika re-layout tidak dapat dilakukan, perusahaan dapat membuat akses untuk mempermudah pergerakan operator dari mesin satu ke mesin yang lain.
  1. Perbaikan pada Faktor Material
  • Melakukan uji kualitas bahan kemas sebelum digunakan untuk proses produksi.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Six Sigma (DMAIC) dan Root Cause Analysis (RCA) pada proses pengemasan wafer di PT. XYZ, ditemukan 12 jenis kecacatan, dengan tingkat kecacatan tertinggi adalah endseal sudut luka/sobek sebesar 44%, sementara kecacatan terendah adalah tidak ada coding yaitu 1,51%. Oleh karena itu, perusahaan memprioritaskan perbaikan pada cacat endseal sudut luka/sobek guna meningkatkan kualitas proses pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi kecacatan dalam proses pengemasan, yaitu method, machine, man, environment, dan material. Dimana faktor method, machine, dan man menjadi faktor yang dominan pada penyebab kecacatan kemasan. Faktor method berkaitan dengan ketidaktepatan dalam pemasangan allufoil, yang menyebabkan proses penyegelan dan pemotongan tidak sempurna sehingga kemasan mudah sobek atau bocor. Selain itu, pengaturan ukuran mesin yang tidak konsisten akibat perbedaan gramasi produk juga mengakibatkan kemasan terlalu ketat terhadap produk. Faktor machine meliputi kondisi mesin jaw yang kotor, suhu mesin yang terlalu tinggi,dan kecepatan mesin yang dapat menyebabkan kemasan luka atau sobek. Faktor man atau sumber daya manusia berkontribusi terhadap kecacatan karena kurangnya pengecekan kebersihan mesin jaw, yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah operator. Setiap operator harus mengawasi beberapa mesin sekaligus, sehingga kebersihan mesin tidak terjaga sesuai dengan SOP, dan kelelahan operator mengakibatkan menurunnya konsentrasi kerja. Selain itu, perbedaan keterampilan antar operator menyebabkan ketidaksesuaian dalam pengaturan mesin dan pemasangan bahan kemasan, yang berpengaruh pada kualitas pengemasan. Alternatif perbaikan yang dapat digunakan untuk mengurangi cacat yaitu melakukan perbaikan preventif terhadap mesin packing dan mengadakan pelatihan atau briefing rutin terhadap setiap operator produksi dan karyawan yang terlibat selama proses produksi.

Dengan usulan perbaikan yang diberikan berdasarkan analisis akar permasalahan, diharapkan dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk melakukan proses perbaikan guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas proses produksi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas dalam proses pengemasan wafer di PT. XYZ perlu difokuskan pada perbaikan faktor method, machine, dan man.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiya Sidoarjo dan perusahaan atas dukungan dan fasilitas dalam penyelesaian penelitian ini.

References

Suseno, & Sitorus, M. F. (2022). Analisis produktivitas pada bagian produksi menggunakan metode objective matrix dan root cause analysis (studi kasus UMKM Barokah Jaya Bakery). Journal TRINISTIK: Jurnal Teknik Industri, Bisnis Digital dan Teknik Logistik, 1(2), 80–88. https://doi.org/10.20895/trinistik.v1i2.638

Heriyanto, & Pahmi, M. A. (2020). Perbaikan kualitas produk dengan metode Six Sigma DMAIC di perusahaan keramik. JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri, 1(1), 47–57. https://doi.org/10.37373/jenius.v1i1.20

Lestari, F. A., & Purwatmini, N. (2021). Pengendalian kualitas produk tekstil menggunakan metoda DMAIC. Jurnal Ecodemica: Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Bisnis, 5(1), 79–85.

Kusuma, T. Y. T., & Azizah, A. F. (2024). Analisis cacat kemasan menggunakan metode Six Sigma pada perusahaan cokelat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Industrial Xplore, 9(1), 331–340. https://journal.ubpkarawang.ac.id/index.php/teknikindustri/article/download/6145/4469/

Warto, W., & Samsuri, S. (2020). Sertifikasi halal dan implikasinya bagi bisnis produk halal di Indonesia. Al Maal: Journal of Islamic Economics and Banking, 2(1), 98–112. https://doi.org/10.31000/almaal.v2i1.2803

Astuti, M. (2020). Pengembangan produk halal dalam memenuhi gaya hidup halal (halal lifestyle). Iuris Studia: Jurnal Kajian Hukum, 1(1), 14–20. https://doi.org/10.55357/is.v1i1.16

Sirine, H., & Kurniawati, E. P. (2017). Pengendalian kualitas menggunakan metode Six Sigma (studi kasus pada PT Diras Concept Sukoharjo). Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship, 2(3), 2477–3824.

Suhadak, & Sukmono, T. (2020). Improving product quality with production quality control. PROZIMA: Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering, 4(2), 41–50. https://doi.org/10.21070/prozima.v4i2.1306

Wibowo, K., Sugiyarto, & Setiono. (2018). Akar penyebab dan biaya sisa material konstruksi proyek pembangunan kantor kelurahan di Kota Solo, sekolah, dan pasar menggunakan root cause analysis (RCA) dan fault tree analysis (FTA). Matriks Teknik Sipil, 15(1), 72–86. https://doi.org/10.25130/sc.24.1.6

Sahelangi, M. M., & Wulandari, L. M. C. (2023). Analisa pengendalian kualitas menggunakan metode Six Sigma pada kemasan produk X di PT GF. JISO: Jurnal Industrial System Optimization, 6(1), 1–8. https://doi.org/10.51804/jiso.v6i1.1-8

Izzah, N., & Rozi, M. F. (2019). Analisis pengendalian kualitas dengan metode Six Sigma-DMAIC dalam upaya mengurangi kecacatan produk rebana pada UKM Alfiya Rebana Gresik. Jurnal Ilmiah Soulmath: Jurnal Edukasi Pendidikan Matematika, 7(1), 13–25. https://doi.org/10.25139/smj.v7i1.1234

Sabillah, A. S. S., Negoro, Y. P., & Hidayat. (2024). Analisis tingkat kerusakan kemasan mie instan goreng menggunakan metode Six Sigma dan FMEA pada PT Karunia Alam Segar. G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 8(2), 1261–1271. https://doi.org/10.33379/gtech.v8i2.4227

Al-Rifai, M. H. (2024). Lean Six Sigma.

Wilujeng, F. R., & Wijaya, T. (2019). Penerapan metode DMAIC untuk pengendalian kualitas pada UKM Tempe Semanan. Prosiding Seminar Intelektual Muda, 1(1), 266–271. https://doi.org/10.25105/psia.v1i1.5959

Pramono, A., Pratiwi, I., & Andalia, W. (2021). Analisis kecacatan kemasan bihun dengan metode Six Sigma. Jambura Industrial Review, 1(2), 58–65. https://doi.org/10.37905/jirev.1.2.58-65

Sugiharto, P. B., Furqon, E., & Kustiadi, O. (2023). Analisis perbaikan defect pada produk bata ringan dengan menggunakan metode RCA (root cause analysis) pada salah satu perusahaan bata ringan di Serang Timur. Jurnal Ilmiah Teknik dan Manajemen Industri, 3(1), 157–170.

Andriansyah, A. R., & Sulistyowati, W. (2021). Product quality control using lean Six Sigma and FMECA method (failure mode and effect criticality analysis): Case study at PT Maspion III. PROZIMA: Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering, 4(1), 47–56. https://doi.org/10.21070/prozima.v4i1.1272

Retnowati, D., Priyanto, R. A., Ardhyani, I. W., & Anshori, M. (2024). Enhancing product quality and process capability in the Indonesian furniture industry through Six Sigma DMAI implementation: A case study on laminating defects. IQTISHADequity Journal of Management, 6(1), 101–109.

Juwito, A., & Al-Faritsy, A. Z. (2022). Analisis pengendalian kualitas untuk mengurangi cacat produk dengan metode Six Sigma di UMKM Makmur Santosa. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(12), 3295–3314. https://doi.org/10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v1i12.3193

Gaspersz, V. (2002). Pedoman implementasi program Six Sigma terintegrasi dengan ISO 9001:2000, MBNQA, dan HACCP.

Wahyudiyanto, T., & Wahyuni, H. C. (2023). Pengendalian kualitas untuk mengurangi kecacatan pada produksi keramik menggunakan metode Six Sigma dan root cause analysis. Indonesian Journal of Innovation Studies, 22(4), 6–14. https://doi.org/10.21070/ijins.v22i.1041

Khoiri, H. A., Kusuma, Y. A., & Aryaningtyas, D. (2024). Implementasi Six Sigma pada produksi kain rayon lebar PT XYZ, 23(2), 126–135.

Waruwu, A., Tampubolon, V. R., Pratama, M. A., & Putri, D. (2022). Pengendalian kualitas metode Six Sigma untuk mengurangi tingkat kerusakan produk kalender di PT KLM. IMTechno: Journal of Industrial Management and Technology, 3(2), 82–90. https://doi.org/10.31294/imtechno.v3i2.1186