Nurria Peppi Yuwana (1), Hana Catur Wahyuni (2)
General Background: Product quality control is a critical requirement in manufacturing industries to maintain production consistency, reduce defects, and support customer satisfaction. Specific Background: PT. XYZ, a wafer manufacturing company, experienced a packaging defect rate of 1.24% over a 12-month period, exceeding the company’s tolerance limit of 1%, with 7,962 defective packages recorded during production. Knowledge Gap: Previous studies have applied Six Sigma to packaging quality problems; however, limited studies have integrated Six Sigma (DMAIC), Root Cause Analysis (RCA), and a 5W+1H approach using a long-term observation period to identify the root causes of packaging defects in halal food products. Aims: This study aimed to identify the dominant packaging defect, determine its root causes, and formulate improvement recommendations to reduce defects within the company’s tolerance limits. Results: The findings revealed 12 types of packaging defects, with endseal corner tear defects representing the largest proportion at 44% of total defects. The average Defect Per Million Opportunities (DPMO) value was 1,131.46, and the average sigma level was 4.56. Root cause analysis identified five contributing factors: method, machine, man, environment, and material. Novelty: The study integrates Six Sigma DMAIC, RCA, fishbone analysis, and 5W+1H within a 12-month evaluation framework to provide a comprehensive diagnosis of packaging quality issues. Implications: The proposed corrective actions, including machine maintenance, standardized operating procedures, process monitoring, operator training, and material control, can serve as a reference for reducing packaging defects and improving production quality management in halal food manufacturing.Highlights:
Keywords: Six Sigma; Root Cause Analysis; Packaging Quality; Halal Food Products; DMAIC
Manfaat dari penelitian ini adalah: 1) Meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi dengan mengidentifikasi penyebab ketidakstabilan proses. 2) Mengurangi cacat dan memperbaiki pemeliharaan mesin serta evaluasi kinerja operator. 3) Hasil penelitian dapat digunakan untuk pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan pengendalian yang lebih ketat. 4) Meningkatkan daya saing dan kepuasan pelanggan.
Penelitian ini dilakukan selama enam bulan di PT. XYZ, dari bulan September 2024 sampai dengan bulan Februari 2025. Pengambilan data melalui observasi proses produksi secara langsung dan mengidentifikasi titik-titik yang berpotensi menimbulkan masalah kualitas, yaitu proses pengemasan dan pemeriksaan kualitas di line produksi. Wawancara dilakukan secara langsung di lapangan dengan operator produksi, shift leader produksi, dan shift leader quality control. Data defect dan pencapaian target produksi diperoleh dari wawancara dengan supervisor quality control dan supervisor produksi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkatkan kualitas kemasan pada proses produksi menggunakan metode six sigma DMAIC dan Root Cause Analysis (RCA) dengan pendekatan fishbone diagram dan 5W+1H.
Six Sigma merupakan metodologi peningkatan kualitas berbasis data yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan sumber variasi dan penyebab cacat 13. Pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) adalah metode yang diterapkan untuk mengevaluasi dan mengukur keberhasilan penerapan Six Sigma 14.
Define bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dalam proses produksi dengan menentukan aspek-aspek Critical to Quality (CTQ). Pada langkah ini, dilakukan analisis terhadap berbagai jenis cacat yang terjadi beserta jumlahnya 4.
Measure atau pengukuran adalah tahap untuk mengukur masalah yang ada di perusahaan 4. Pada tahap ini, dilakukan pembuatan diagram peta kendali untuk mengidentifikasi variasi yang terjadi selama produksi 11. Berikut merupakan langkah-langkah pembuatan peta kendali:
p= (1)
Sumber: 11, 15, 16
CL = = (2)
Sumber: 11, 16, 17
Dimana:
: jumlah total defect
: jumlah total sampel
: rata-rata defect
UCL = (3)
Sumber: 11, 12, 17
LCL = (4)
n: jumlah produksi
Berikut merupakan rumus perhitungan dalam menentukan DPO, DPMO, dan nilai sigma:
DPO = (5)
Sumber: 4, 18, 19
DPMO = DPO x 1.000.000 (6)
Nilai Sigma = (7)
Tabel . Tingkat Sigma
Sumber: 20.
Pada tahap analyze dilakukan proses menganalisis penyebab cacat pada produk 4. Pada tahap ini mengidentifikasi Root Cause Analysis (RCA) dilakukan dengan pembuatan diagram pareto yang bertujuan untuk mengetahui banyaknya produk cacat dan fishbone yang bertujuan untuk mengetahui penyebab cacat 11.
Pada tahap ini menggunakan metode Root Cause Analysis (RCA), metode ini dilakukan sebagai upaya perbaikan untuk mengatasi permasalahan sebagai solusi dalam mengurangi tingkat kecacatan produk. Pada tahap improve, tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah dan melakukan perubahan yang diperlukan agar kecacatan produk tidak terulang kembali. Pendekatan 5W+1H dilakukan untuk mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menjadi penyebab kecacatan produk 21.
Tahap control merupakan tahap terakhir dalam proses penerapan six sigma yang berfokus pada pengendalian dan pemantauan perbaikan serta penyelesaian masalah berdasarkan tindakan yang telah ditetapkan 15. Pada tahap control juga bertujuan untuk meninjau apakah perbaikan yang diusulkan berhasil menurunkan jumlah cacat atau tidak 4.
Berikut ini merupakan alur penelitian yang berisi tentang tahapan-tahapan dalam proses penelitian yang terdapat pada gambar 1.
Gambar 1. Alur Penelitian
Tabel 2 merupakan data laporan hasil produksi dan data cacat kemasan dari PT. XYZ pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024:
Tabel 2. Data Produksi dan Cacat Kemasan
Pada tahap ini dilakukan analisis jenis cacat beserta jumlahnya pada proses pengemasan produk wafer di PT. XYZ.
Pada data tabel 3, dapat dilakukan identifikasi Critical to Quality (CTQ) sebagai berikut:
Tabel 3. Critical to Quality (CTQ)
Berdasarkan data pada tabel 3, terdapat 12 jenis cacat Critical to Quality (CTQ) terhadap kualitas kemasan produk wafer. Hasil tersebut diperoleh melalui wawancara dengan masing-masing personil dari 3 grup, terdiri dari dua operator produksi, satu shift leader produksi dan satu shift leader quality control.
Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada proses pengemasan, mulai dari pengaturan awal mesin, pemasangan bahan kemas, proses pengemasan, hingga pengecekan kualitas kemasan. Sehingga diperoleh data mengenai jenis kecacatan pada kemasan.
Tabel 4 merupakan jenis cacat kemasan pada proses produksi wafer di PT. XYZ pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024:
Tabel 4. Data Cacat Kemasan
Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan data secara kuantitatif dan pembuatan diagram peta kendali untuk mengukur kualitas proses produksi pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024. Berikut merupakan perhitungan peta kendali pada cacat kemasan produk wafer yang diperoleh dari persamaan rumus:
p=
p= 0,01129
CL = =
CL = = 0,01239
UCL = 0,01293 + 3
UCL = 0,01293 + 3 (0,00033)
UCL = 0,01293 + 0,00100
UCL = 0,01339
LCL = 0,01293 - 3
LCL = 0,01293 - 3 (0,00033)
LCL = 0,01293 - 0,00100
LCL = 0,01139
Tabel 5 merupakan data perhitungan peta kendali pada bulan Januari 2024 sampai bulan Desember 2024.
Tabel 5. Perhitungan Peta Kendali
Pada tabel 5, diperoleh perhitungan rata-rata nilai proporsi kecacatan sebesar 0,01358, rata-rata perhitungan garis tengah (CL) sebesar 0,01239, rata-rata nilai batas kendali atas (UCL) sebesar 0,01402 dan rata-rata nilai batas kendali bawah (LCL) sebesar 0,01076. Dari hasil perhitungan diatas, dapat dilihat grafik peta kendali pada gambar 2 berikut:
Gambar 2. Peta Kendali
Berdasarkan grafik pada gambar 2, diketahui bahwa masih terdapat data proporsi yang melebihi batasan UCL dan LCL. Hal ini menandakan bahwa proses pengemasan pada produksi di PT. XYZ belum konsisten.
Hasil analisis pada peta kendali menunjukkan adanya data ekstrem pada bulan Juni, Juli, dan September, di mana proporsi kecacatan pada bulan-bulan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan lainnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor jumlah produksi yang tidak konsisten, penurunan jumlah produksi berdampak pada peningkatan proporsi kecacatan secara signifikan. Dalam kondisi jumlah produksi yang rendah, dengan jumlah cacat yang tetap tinggi akan berpengaruh pada kenaikan proporsi kecacatan yang ekstrem.
Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan data Defect Per Opportunity (DPO), Defect Per Million Opportunity (DPMO), dan level sigma pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024 menggunakan persamaan berikut:
DPO =
DPO = 0,00094
DPMO = DPO x 1.000.000(6)
DPMO = 0,00094 x 1.000.000
DPMO = 940,46600
Nilai Sigma =
Nilai Sigma = 4,61
Tabel 6 merupakan tabel hasil perhitungan data Defect Per Opportunity (DPO), Defect Per Million Opportunity (DPMO), dan level sigma pada PT. XYZ selama bulan Januari 2024 - Desember 2024
Tabel 6. Perhitungan DPMO Produk Wafer
Pada tabel 6 dapat diketahui nilai total jumlah produksi wafer sebesar 642584 pcs, total nilai jumlah kecacatan sebesar 7962 pcs. Dari data tersebut diperoleh nilai DPMO terbesar yaitu 1961,1328 pada bulan September, sedangkan nilai DPMO terkecil yaitu 867,4252 pada bulan Desember.
Berdasarkan perhitungan pada tabel 6, rata-rata DPMO tercatat sebesar 1131,4644 yang berarti bahwa dari setiap satu juta produksi, sekitar 1131,4644 pcs produk mengalami cacat dalam proses pengemasan. Tingkat level sigma diperoleh rata-rata sebesar 4,56 yang artinya masuk kedalam klasifikasi 4-sigma, dimana nilai DPMO tertinggi adalah sebesar 6210 cacat setiap satu juta produksi. Namun hasil tersebut masih jauh dari standar 6-sigma yang memiliki kriteria nilai DPMO sebesar 3,4 cacat setiap satu juta produksi. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah perbaikan yang efektif untuk mengurangi jumlah cacat dan meningkatkan kualitas produk.
Tahap pertama dalam mengidentifikasi faktor penyebab cacat pada kemasan adalah membuat diagram pareto. Diagram pareto digunakan untuk menganalisis tingkat cacat yang disusun berdasarkan jumlah cacat dari yang terbesar hingga terkecil [16]. Diagram pareto juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah utama dalam memperbaiki kecacatan produk [4]. Berikut merupakan hasil perhitungan dan grafik diagram pareto:
Gambar 3. Diagram Pareto
Pada gambar 3 dapat diidentifikasi bahwa jenis cacat pada kemasan yang paling dominan dari keseluruhan cacat kemasan yang ada yaitu cacat endseal sudut luka atau sobek dengan jumlah cacat sebesar 3482 pcs dan persentase cacat sebesar 44%. Karena cacat kemasan endseal sudut luka atau sobek memiliki persentase kerusakan tertinggi, maka penelitian ini akan difokuskan pada masalah tersebut.
Diagram fishbone merupakan salah satu alat yang digunakan dalam upaya peningkatan kualitas. Diagram ini menggambarkan suatu permasalahan beserta berbagai faktor penyebab timbulnya masalah tersebut [16]. Diagram fishbone merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab suatu permasalahan. Penyebab-penyebab tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan faktor-faktor tertentu, seperti analisis tindakan yang mencakup aspek manusia (man), mesin (machine), material (material), metode (method), dan lingkungan (environment) [4]. Gambar 4 merupakan diagram fishbone pada cacat kemasan endseal sudut luka atau sobek yang terjadi selama proses pengemasan produk wafer:
Gambar 4. Diagram Fishbone Endseal Sudut Luka atau Sobek
Pada gambar 4 diagram fishbone, dapat diketahui bahwa kecacatan pada proses pengemasan produk wafer yaitu endsealsudut luka atau sobek,dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti methode, machine, man, environment, dan material. Faktor method disebabkan karena pemasangan allufoil yang tidak presisi dapat mempengaruhi kualitas kemasan karena menyebabkan proses penyegelan dan pemotongan yang tidak sempurna, akibatnya kemasan mudah sobek dan bocor. Setting ukuran mesin tidak konsisten disebabkan sering terjadi pergantian gramasi produk, karena ukuran lebar allufoil berbeda-beda maka kemasan terlalu rapat dengan produk sehingga menyebabkan luka atau sobek. Faktor machine disebabkan karena mesinjaw yang kotor dan gompal berpengaruh terhadap hasil sealing, suhu mesin yang terlalu tinggi akan menyebabkanendseal luka dan sobek karena terlalu panas. Sedangkan speed mesin yang terlalu tinggi menyebabkankemasan mudah sobek karena meningkatnya tegangan tarik pada material, waktu penyegelan yang lebih singkat, serta gesekan yang lebih besar pada roller dan cutter.
Faktor man atau manusia dapat dipengaruhi karena kurangnya pengecenkan kebersihan mesin jaw, hal ini disebabkan karena satu operator mengawasi beberapa mesin packing, sehingga kebersihan mesin jaw tidak dilakukan sesuai SOP dan menjadi penyebab operator kurang konsentrasi karena kelelahan. Keterampilan oprator yang berbeda-beda menyebabkan kesalahan dalam pengaturan mesin, pemasangan bahan kemas, dan kurangnya pengawasan yang berakibat pada kualitas proses pengemasan. Faktor environment disebabkan karena pencahayaan ruangan kurang yang berakibat pada penurunan ketelitian dan konsentrasi, area kerja yang sempit menyebabkan mobilitas terbatas dan harus berhati-hati dalam menjangkau setiap mesin. Faktor material dipengaruhi oleh perbedaan supplier allufoil, di PT. XYZ memiliki supplier bahan kemas sebanyak 4 supplier.
Metode Root Cause Analysis (RCA) digunakan sebagai upaya perbaikan untuk mengatasi permasalahan sebagai solusi dalam mengurangi tingkat kecacatan produk. Dalam penelitian ini, pendekatan 5W+1H dilakukan untuk mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menjadi penyebab kecacatan produk 21. Tahap improve merupakan tahapan pada suatu rencana guna meningkatkan kualitas terhadap cacat yang terjadi saat proses produksi berlangsung 21. Tabel 7 merupakan tabel analisis 5W+1H pada cacat kemasan endsealsudut luka atau sobek.
Tabel 7. Analisis 5W+1H
Tahap control dalam metode six sigma merupakan langkah terakhir yang bertujuan untuk memastikan bahwa perbaikan yang dilakukan pada tahap improve dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Berikut beberapa usulan yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kualitas kemasan pada proses produksi wafer:
Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Six Sigma (DMAIC) dan Root Cause Analysis (RCA) pada proses pengemasan wafer di PT. XYZ, ditemukan 12 jenis kecacatan, dengan tingkat kecacatan tertinggi adalah endseal sudut luka/sobek sebesar 44%, sementara kecacatan terendah adalah tidak ada coding yaitu 1,51%. Oleh karena itu, perusahaan memprioritaskan perbaikan pada cacat endseal sudut luka/sobek guna meningkatkan kualitas proses pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi kecacatan dalam proses pengemasan, yaitu method, machine, man, environment, dan material. Dimana faktor method, machine, dan man menjadi faktor yang dominan pada penyebab kecacatan kemasan. Faktor method berkaitan dengan ketidaktepatan dalam pemasangan allufoil, yang menyebabkan proses penyegelan dan pemotongan tidak sempurna sehingga kemasan mudah sobek atau bocor. Selain itu, pengaturan ukuran mesin yang tidak konsisten akibat perbedaan gramasi produk juga mengakibatkan kemasan terlalu ketat terhadap produk. Faktor machine meliputi kondisi mesin jaw yang kotor, suhu mesin yang terlalu tinggi,dan kecepatan mesin yang dapat menyebabkan kemasan luka atau sobek. Faktor man atau sumber daya manusia berkontribusi terhadap kecacatan karena kurangnya pengecekan kebersihan mesin jaw, yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah operator. Setiap operator harus mengawasi beberapa mesin sekaligus, sehingga kebersihan mesin tidak terjaga sesuai dengan SOP, dan kelelahan operator mengakibatkan menurunnya konsentrasi kerja. Selain itu, perbedaan keterampilan antar operator menyebabkan ketidaksesuaian dalam pengaturan mesin dan pemasangan bahan kemasan, yang berpengaruh pada kualitas pengemasan. Alternatif perbaikan yang dapat digunakan untuk mengurangi cacat yaitu melakukan perbaikan preventif terhadap mesin packing dan mengadakan pelatihan atau briefing rutin terhadap setiap operator produksi dan karyawan yang terlibat selama proses produksi.
Dengan usulan perbaikan yang diberikan berdasarkan analisis akar permasalahan, diharapkan dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk melakukan proses perbaikan guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas proses produksi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas dalam proses pengemasan wafer di PT. XYZ perlu difokuskan pada perbaikan faktor method, machine, dan man.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiya Sidoarjo dan perusahaan atas dukungan dan fasilitas dalam penyelesaian penelitian ini.
Suseno, & Sitorus, M. F. (2022). Analisis produktivitas pada bagian produksi menggunakan metode objective matrix dan root cause analysis (studi kasus UMKM Barokah Jaya Bakery). Journal TRINISTIK: Jurnal Teknik Industri, Bisnis Digital dan Teknik Logistik, 1(2), 80–88. https://doi.org/10.20895/trinistik.v1i2.638
Heriyanto, & Pahmi, M. A. (2020). Perbaikan kualitas produk dengan metode Six Sigma DMAIC di perusahaan keramik. JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri, 1(1), 47–57. https://doi.org/10.37373/jenius.v1i1.20
Lestari, F. A., & Purwatmini, N. (2021). Pengendalian kualitas produk tekstil menggunakan metoda DMAIC. Jurnal Ecodemica: Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Bisnis, 5(1), 79–85.
Kusuma, T. Y. T., & Azizah, A. F. (2024). Analisis cacat kemasan menggunakan metode Six Sigma pada perusahaan cokelat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Industrial Xplore, 9(1), 331–340. https://journal.ubpkarawang.ac.id/index.php/teknikindustri/article/download/6145/4469/
Warto, W., & Samsuri, S. (2020). Sertifikasi halal dan implikasinya bagi bisnis produk halal di Indonesia. Al Maal: Journal of Islamic Economics and Banking, 2(1), 98–112. https://doi.org/10.31000/almaal.v2i1.2803
Astuti, M. (2020). Pengembangan produk halal dalam memenuhi gaya hidup halal (halal lifestyle). Iuris Studia: Jurnal Kajian Hukum, 1(1), 14–20. https://doi.org/10.55357/is.v1i1.16
Sirine, H., & Kurniawati, E. P. (2017). Pengendalian kualitas menggunakan metode Six Sigma (studi kasus pada PT Diras Concept Sukoharjo). Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship, 2(3), 2477–3824.
Suhadak, & Sukmono, T. (2020). Improving product quality with production quality control. PROZIMA: Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering, 4(2), 41–50. https://doi.org/10.21070/prozima.v4i2.1306
Wibowo, K., Sugiyarto, & Setiono. (2018). Akar penyebab dan biaya sisa material konstruksi proyek pembangunan kantor kelurahan di Kota Solo, sekolah, dan pasar menggunakan root cause analysis (RCA) dan fault tree analysis (FTA). Matriks Teknik Sipil, 15(1), 72–86. https://doi.org/10.25130/sc.24.1.6
Sahelangi, M. M., & Wulandari, L. M. C. (2023). Analisa pengendalian kualitas menggunakan metode Six Sigma pada kemasan produk X di PT GF. JISO: Jurnal Industrial System Optimization, 6(1), 1–8. https://doi.org/10.51804/jiso.v6i1.1-8
Izzah, N., & Rozi, M. F. (2019). Analisis pengendalian kualitas dengan metode Six Sigma-DMAIC dalam upaya mengurangi kecacatan produk rebana pada UKM Alfiya Rebana Gresik. Jurnal Ilmiah Soulmath: Jurnal Edukasi Pendidikan Matematika, 7(1), 13–25. https://doi.org/10.25139/smj.v7i1.1234
Sabillah, A. S. S., Negoro, Y. P., & Hidayat. (2024). Analisis tingkat kerusakan kemasan mie instan goreng menggunakan metode Six Sigma dan FMEA pada PT Karunia Alam Segar. G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 8(2), 1261–1271. https://doi.org/10.33379/gtech.v8i2.4227
Al-Rifai, M. H. (2024). Lean Six Sigma.
Wilujeng, F. R., & Wijaya, T. (2019). Penerapan metode DMAIC untuk pengendalian kualitas pada UKM Tempe Semanan. Prosiding Seminar Intelektual Muda, 1(1), 266–271. https://doi.org/10.25105/psia.v1i1.5959
Pramono, A., Pratiwi, I., & Andalia, W. (2021). Analisis kecacatan kemasan bihun dengan metode Six Sigma. Jambura Industrial Review, 1(2), 58–65. https://doi.org/10.37905/jirev.1.2.58-65
Sugiharto, P. B., Furqon, E., & Kustiadi, O. (2023). Analisis perbaikan defect pada produk bata ringan dengan menggunakan metode RCA (root cause analysis) pada salah satu perusahaan bata ringan di Serang Timur. Jurnal Ilmiah Teknik dan Manajemen Industri, 3(1), 157–170.
Andriansyah, A. R., & Sulistyowati, W. (2021). Product quality control using lean Six Sigma and FMECA method (failure mode and effect criticality analysis): Case study at PT Maspion III. PROZIMA: Productivity, Optimization and Manufacturing System Engineering, 4(1), 47–56. https://doi.org/10.21070/prozima.v4i1.1272
Retnowati, D., Priyanto, R. A., Ardhyani, I. W., & Anshori, M. (2024). Enhancing product quality and process capability in the Indonesian furniture industry through Six Sigma DMAI implementation: A case study on laminating defects. IQTISHADequity Journal of Management, 6(1), 101–109.
Juwito, A., & Al-Faritsy, A. Z. (2022). Analisis pengendalian kualitas untuk mengurangi cacat produk dengan metode Six Sigma di UMKM Makmur Santosa. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(12), 3295–3314. https://doi.org/10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v1i12.3193
Gaspersz, V. (2002). Pedoman implementasi program Six Sigma terintegrasi dengan ISO 9001:2000, MBNQA, dan HACCP.
Wahyudiyanto, T., & Wahyuni, H. C. (2023). Pengendalian kualitas untuk mengurangi kecacatan pada produksi keramik menggunakan metode Six Sigma dan root cause analysis. Indonesian Journal of Innovation Studies, 22(4), 6–14. https://doi.org/10.21070/ijins.v22i.1041
Khoiri, H. A., Kusuma, Y. A., & Aryaningtyas, D. (2024). Implementasi Six Sigma pada produksi kain rayon lebar PT XYZ, 23(2), 126–135.
Waruwu, A., Tampubolon, V. R., Pratama, M. A., & Putri, D. (2022). Pengendalian kualitas metode Six Sigma untuk mengurangi tingkat kerusakan produk kalender di PT KLM. IMTechno: Journal of Industrial Management and Technology, 3(2), 82–90. https://doi.org/10.31294/imtechno.v3i2.1186