Login
Section Innovation in Mechanical Engineering

Ergonomic Assessment of Non Folding Electric Wheelchair Performance

Penilaian Ergonomis terhadap Kinerja Kursi Roda Listrik Non-Lipat
Vol. 26 No. 1 (2025): January:

Anggit Prastio (1), A’rasy Fahruddin (2)

(1) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Electric wheelchairs are widely used to support mobility and daily activities for individuals with physical disabilities. Specific Background: User comfort and operational capability of electric wheelchairs are strongly associated with ergonomic suitability, anthropometric compatibility, and technical performance under different operating conditions. Knowledge Gap: Previous studies have not sufficiently evaluated the relationship between user anthropometry, upper limb posture, and the mechanical performance of non folding electric wheelchairs for users with specific physical limitations. Aims: This study aimed to evaluate the ergonomic suitability and performance characteristics of a non folding electric wheelchair using anthropometric analysis, Rapid Upper Limb Assessment (RULA), and propulsion and steering performance testing. Results: The findings showed several mismatches between user body dimensions and wheelchair dimensions, particularly in footrest height, footrest length, and armrest height. RULA analysis produced a score of 4, indicating that posture modifications are required. Performance testing demonstrated that the wheelchair could carry loads up to 120 kg and travel approximately 15.36 km on a full battery charge, but limitations were identified in climbing ability, maximum speed, steering control, and obstacle clearance. Novelty: This study integrates ergonomic evaluation and technical performance testing on a non folding electric wheelchair designed for users with asymmetric physical conditions. Implications: The results provide practical recommendations for improving wheelchair ergonomics, steering stability, energy efficiency, and mechanical configuration to support safer and more comfortable mobility for users with disabilities.
Highlights:



  • Anthropometric comparison identified dimensional mismatches in armrest and footrest configuration.

  • Postural evaluation indicated corrective adjustment requirements for upper body positioning.

  • Mechanical testing revealed limitations in slope navigation, steering response, and maximum travel speed.


Keywords: Electric Wheelchair; Ergonomic Assessment; Anthropometry; RULA; Wheelchair Performance

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Kursi roda dapat digunakan sebagai alternatifHuntukOmemenuhi kebutuhan aktivitas klien. PemenuhanPkebutuhan aktivitas adalah bagian pentingidalam meningkatkan kemandirian klien=di rumah.[1] Kegiatan sehari-hari biasanya dilakukanffdi atas kursi roda karena tingkat}imobilisasi+lebih rendah daripada di tempat tidur. Dengan adanya kursi roda sedikit banyak membantu mobilisasi pengguna untuk dapat melakukan kegiatan sehari-hari walaupun efisiensinya tidak mengalahkan orang dalam keadaan sehat.[2] Ada beberapa macam bentuk kursi roda salah satunya kursi roda elektrik yang sistem kerjanya menggunakan kinerja motor DC yang disuplay baterai Aki dengan sistem kontrol Arduino dan kendali arah stickjoy.[3]

Mobilitas adalah kebutuhan dasar manusia untuk hidup, tetapi karena gangguan fisik yang mereka alami, mobilitas menjadi sulit bagi mereka.[4] Penyandang{{disabilitas|atau difabel merupakan bagian dari ketidakmampuan secara fisik dan normal+melalui+kesehatan mental yang dialami manusia yang normal.[5] Dalam kehidupan sehari-hari, orang disabilitas sering dilecehkan dan dihindari. Kekurangan fisik serta kekurangan mental dan intelektual seringkali membuat orang yang disabilitas atau diffabel dipandang sebelah mata. anggapan bahwa mereka mengatakan bahwa anggapan manusia normal pada umumnya tidak selalu benar tentang disabilitas.[5] Penggunaan}kursi\roda tidakYdapat membantu keseluruhan aktivitas dari Pengguna dikarenakan setiap penyandang disabilitas memiliki cacat/kekurangan pada anggota tubuh yang berbeda-beda walaupun nama diagnosa cacatnya sama.[1] Salah satunya pengguna kursi roda elektrik ini memiliki kondisi tubuh yang tidak sempurna pada bagian tangan kanan yang mengecil serta tangan dan tidak bisa diluruskan, kedua kaki yang tidak bisa diluruskan, pergelangan kaki yang mengecil , tidak bisa berdiri dan Badan yang mengecil. Dengan kondisi pengguna kursi roda yang seperti itu, efisiensi dari kursi roda elektrik baik secara ergonomi maupun peforma tidak dapat dengan baik.[6]

Ergonomi mencakup sistem kehidupan, fisiologi,[ilmu otak, perancangan, papan, dan rencana atau pengaturan yang juga berkaitan dengan perampingan, efektivitas,Ykesejahteraan,Ykeamanan,*dan kenyamanan manusia*di9lingkungan kerja, di rumah, dan\di tempat hiburan.[7] Hal ini sesuai dengan tujuan ergonomi itu sendiri, dimana pemanfaatan ergonomi hendaknya dilakukan untuk memajukan bantuan pemerintah manusia dan pelaksanaan kerangka umum.[8] Penilaian ergonomis kursi roda bagi penyandang disabilitas penting dilakukan agar penggunaan kursi roda dapat efektif sesuai dengan tujuan yang direncanakan.

Untuk membantu ergonomi diperlukan antropometri khususnya dalam perencanaan perlengkapan dengan memperhatikan standarrergonomi, dimanaaaantropometri berasal dari kata Antro yang berartipmanusia dannnMetri yang berarti9ukuran.[7] Kesimpulannya, antropometrimmerupakan suatu tinjauan yang berhubungan\dengan memperkirakan komponen-komponen tubuh manusia. Antropometri pada0dasarnya menyangkut ukuran atau kemampuan tubuh9manusia yang sebenarnya, termasuk{disini lurus ukuran,&berat,=volume, ruang pengembangan, dan=lain sebagainya. Informasi antropometri*akan&sangat berguna dalam penataan perlengkapan kerja}atau kantor kerja.[7]

Individu penyandang disabilitas mempunyai aspek antropometri yang berbeda dengan individu secara keseluruhan Eksplorasi ini akan menguji dan mengukur pameran kursi roda listrik anti roboh dan juga kemampuan kliennya sehingga dapat mengetahui seberapa baik kualitas dan kenyamanannya. diklaim oleh kursi roda listrik yang tidak bisa roboh. Strategi yang digunakan dalam eksplorasi ini adalah Rapid UpperLimb Assessment (RULA). Suatu strategi pemeriksaan untuk mengeksplorasi permasalahan pada pelengkap atas. Teknik ini tidakkkmemerlukan perangkat keras khusus untuk;menentukan+posisi=leher, punggung,8dan lengannnatas. Setiap gerakan0diberi skor9yang telahhhditentukan sebelumnya.

Peforma adalah suatu pencapain/kinerja yang didapat dari suatu alat yang menjadi tolak ukur untuk alat tersebut.[7] Dengan adanya peforma dapat diketahui suatu alat tersebut dapat beroperasi dengan maksimal sesuai dengan spesifikasi yang tertera.

Dengan berkembangnya teknologi yang kian pesat ini maka penulis mencoba untuk melakukan pengujian Ergonomi dan Peforma pada kursi roda elektrik non lipat ini untuk mengetahui tingkat kenyamanan bagi pengguna yang menderita cacat yang berbeda-beda. Hal tersebut dilakukan kiranya untuk menyempurnakan kursi roda tersebut agar digunakan lebih baik lagi.

Metode

A. Diagram Alir Penelitian

Metode ini akan memberikan penjelasan dalam bentuk diagram skema metode pelaksanaan. Gambar 1. menunjukkan diagram alir +yang dapat digunakan untuk menggambarkan proses penelitian. Pengumpulan data, pengujian alat, analisis data, diskusi hasil, kesimpulan, dan rekomendasi adalah semua langkah-langkah ini.[9]

Figure 1. Diagram Alir Penelitian

B. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan yaitu dengan cara mengumpulkan data primer dan dan data sekunder:

1. Data Primer Pengambilan data primer dilakukan dengan cara: Observasi atau pengamatan langsung saat pengujinan kursi roda elektrik non lipat.[10]

2. Data Sekunder: Data sekunder dikumpulkan melalui penelitian pustaka dari jurnal nasional dan internasional yang relevan. Selain itu, lebih banyak referensi terkait kursi roda elektrik non-lipat ditemukan melalui internet dan sosial media. [11]

C. Pengujian Alat

1. Pengujian Ergonomi

a. Uji Kesesuaian Antropometri pada pengguna (Disabilitas)

Dimensi Antropometri Data Antropometri Pengguna (Disabilitas) Dimensi Kursi Roda Dimensi Kursi Roda Pengguna (Disabilitas) Note
D23 (forearm length) Panjang Handrest Sesuai
D16 (Popliteal Height) Tinggi pijakan kaki ke tempat duduk Tidak Sesuai
D31 Lebar telapak kaki Lebar Pijakan kaki bawah Sesuai
D30 Panjang telapak kaki Panjang pijakan kaki bawah Tidak Sesuai
D11 (armsrest height Tinggi handrest dari tempat duduk Tidak Sesuai
D17 (Shoulder side width) Lebar sandaran duduk Sesuai
D10 (Shoulder Height on seat position Tinggisandaran duduk Sesuai
D19 (hip width) Lebar kursi roda Sesuai
Table 1. Uji Kesesuaian Antropometri

b. Uji Kesesuaian Antropometri pada pengguna (Disabilitas) Analisa postural pengguna (Disabilitas) dengan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA)

No Pergerakan Adjust Skor
1 Posisi+lengan atas
2 Posisi=lengan bawah
3 Posisi =pergelangan tangan
4 Posisi\leher
5 Posisi badan
Table 2. Analisa Postural metode RULA

    2. Pengujian Peforma

    a. Uji Coba Peforma Sistem Pendorong

    Item Pengujian Kriteria Keberterimaan Hasil Keterangan
    Peforma Sistem Pendorong Elektrik Sistem Pendorong elektrik mampu mendorong kursi roda dengan beban hingga 120 kg
    Sistem Pendorong elektrik mampu mendorong kursi roda pada lintasan menajak hingga 15 derajat (2x sudut ramp, 7 derajat)
    Sistem pengendali mampu mengubah kecepatan dari nol hingga kecepatan maksimum
    Kecepatan gerak kursi roda dapat diubah tanpa menibulkan sentakan atau beban kejut
    Ketinggian rinangan (obstacle) yang dapat dilalui kursi roda (mm)
    Konsums energi (Wh)
    Jarak tempuh maksimm untk battery terisi penuh (km)
    Table 3. Uji Peforma Sistem Pendorong

    b. Uji Coba Peforma Sistem Kendali Arah

    Item Pengujian Kriteria Keberterimaan Hasil Keterangan
    Peforma Sistem Kendai Arah Radius belok maksimum kursi roda (derajat)
    Arah belok-kiri dan kanan memiliki radius yang sama.
    Table 4. Uji Peforma Sistem Kendali

    D . Analisis Data

    Setelah dilakukan pengujian ergonomi pada kesesuaian antropometri postural tubuh pengguna (Disabilitas) dan Analisa postural pengguna dengan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan pengujian peforma pada sistem pendorong, sistem kendali arah dapat di analisa bahwa kursi roda elektrik non lipat ini apakah masih ada kekurangan yang dapat menimbulkan tingkat kenyaman bagi penggunanya.[12]

    E . Hasil dan Pembahasan

    Hasil dari penelitian pengujian ergonomi dan pengujian peforma kursi roda elektrik non lipat . Pengujian ergonomi yang terdiri dari pengujian kesesuaian anthropometri postural tubuh pengguna (Disabilitas) dan pengujian postural pengguna dengan metode Rapid Upper) Limb Assessment (RULA) adalah suatu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pengguna tersebut untuk mengoperasikan kursi roda elektrik non lipat tersebut dan pengujian peforma yang terdiri pengujian sistem pendorong, kendali arah adalah pengujian yang bertujuan untuk memastikan bahwa kursi roda elektrik mampu digunakan dalam berbagai kondisi lintasan.[12]

    F . Kesimpulan dan Saran

    Setelah proses pengujian dilakukan makaDdapat{ditarik kesimpulan dan saran yang bertujuan untuk memberikan masukan agar kedepannya kursi roda elekrik non lipat ini dapat lebih disempurnakan lagi serta untuk penelitian, referensi dan pandangan untuk menciptakan kursi roda elektrik yang lebih baik lagi.

    Hasil dan Pembahasan

    A. Uji Ergonomi

    1. Uji Kesesuaian Antropometri pada pengguna (Disabilitas)

    Figure 2. Antropometri Tubuh Pengguna (Disabilitas)

    Tabel 5. Dimensi Antropometri Tubuh Pengguna (Disabilitas)
    Dimensi Nilai (cm)
    Tinggi posisi +duduk (D8) 72,5
    Tinggi bahu +posisi duduk (D10) 10,8
    Tinggi +siku posisi duduk (D11) 18,5
    Panjang lutut (D13) 57
    Panjang popliteal (D14) 48
    Tinggi lutut (D15) 42
    Tinggi popliteal (D16) 34,5
    Lebar sisi bahu (D17 41
    Lebar pinggul (D19) 25,5
    Panjang lengan+ atas (D22) 35,3
    Panjang +lengan bawah (D23) 26
    Panjang rentang +tangan kedepan (D24) 72
    Lebar tangan (D29) Kiri : 9,0Kanan : 9,6
    Panjang telapak kaki (D30) 22
    Lebar telapak kaki (D31) 8
    Table 5.

    Figure 3. Kursi Roda Pengguna (Disabilitas)

    Dimensi (Kursi roda elektrik non lipat) Nilai (cm)
    Handrest ke Controler 47
    Panjang Handrest 39
    Tinggi pijakan kaki ke tempat duduk 30,5
    Lebar Pijakan kaki bawah 15,5
    Panjang pijakan kaki bawah 16,5
    Tinggi handrest dari tempat duduk 28
    Panjang ujung handrest ke controler 7
    Panjang bantalan handrest 36,5
    Lebar bantalan handrest 5
    Tinggi handrest ke rod 22
    Diameter roda kecil belakang 49,2
    Diameter roda besar 62
    Diamaetre roda kecil depan 20
    Lebar sandaran duduk 49
    Tinggi sandaran duduk 43
    Tinggi keseluruhan 92
    Lebar kursi roda 47,3
    Tinggi pijakan kaki dari tanah 14
    Table 6. Dimensi Kursi Roda Pengguna (Disabilitas)

      2. Analisis Perbandingan Dimensi Antropometri Tubuh Pengguna dengan Kursi Rodanya

      Dimensi Antropometri Data Antropometri Pengguna (Disabilitas) Dimensi Kursi Roda Dimensi Kursi Roda Pengguna (Disabilitas) Note
      D23 (forearm length) 26 Panjang Handrest 39 Sesuai
      D16 (Popliteal Height) 34.5 Tinggi pijakan kaki ke tempat duduk 30.5 Tidak Sesuai
      D31 Lebar telapak kaki 8 Lebar Pijakan kaki bawah 15.5 Sesuai
      D30 Panjang telapak kaki 22 Panjang pijakan kaki bawah 16.5 Tidak Sesuai
      D11 (armsrest height 10.8 Tinggi handrest dari tempat duduk 28 Tidak Sesuai
      D17 (Shoulder side width) 41 Lebar sandaran duduk 49 Sesuai
      D10 (Shoulder Height on seat position 37.75 Tinggisandaran duduk 43 Sesuai
      D19 (hip width) 25.5 Lebar kursi roda 47.3 Sesuai
      Table 7. Analisis Perbandingan Dimensi Antropometri

      Dari hasil Dimensi Antropometri Tubuh Pengguna (Disabilitas) dan Dimensi Kursi Roda Pengguna (Disabilitas) dapat disimpulkan bahwa :

      • Secara umum proporsi tubuh sisi kiri dan kanan pengguna (Disabilitas) tidak sama. Bahu kanan terlihat lebih tinggi dibandingkan bahu kiri.
      • Popliteal height lebih panjang dari jarak antara dudukan dan pijakan kursi roda sehingga menyebabkan posisi kaki menekuk/menyerong
      • Jarak antara handrest/sandaran tangan dan dudukan kursi roda lebih panjang dibandingkan tinggi lengan atas pada posisi duduk. Oleh karenanya, posisi bahu kanan terangkat ke atas pada saat lengan bawah diletakkan di handrest dan tangan mengoperasikan kontroler.
      • Panjang pijakan telapak kaki bawah lebih pendek dibandingkan panjang kaki sehingga tidak seluruh permukaan kaki pengguna (Disabilitas) dapat disupport oleh pijakan.
      • Lebar dan tinggi sandaran kursi roda sudah cukup dan sesuai ukuran antropometri pengguna (Disabilitas)

        3. Analisa postural pengguna (Disabilitas) dengan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA)

        Metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dipakai untuk menilai postur tubuh Mas Bagus saat duduk di kursi roda. Metode ini dipakai untuk mengetahui tingkat bahaya muskuloskeletal akibat postur yang kurang sesuai.[10]

        Figure 4. Skor Analisa Metode RULA

        Skor pada RULA didapatkan hasil sebesar 4 yang berarti agar mendapatkan postur tubuh bagian atas pengguna (Disabilitas) yang lebih ideal, beberapa perubahan perlu dilakukan.

        B. Uji Peforma

        1. Peforma Sistem Pendorong

        Item Pengujian Kriteria Keberterimaan Hasil Keterangan Saran
        Peforma Sistem Pendorong Elektrik Sistem Pendorong elektrik mampu mendorong kursi roda dengan beban hingga 120 Kg Kursi roda mampu berjalan dengan beban hingga 120 Kg
        Sistem Pendorong elektrik mampu mendorong kursi roda pada lintasan menajak hingga 15 derajat (2x sudut ramp, 7 derajat) X Tidak mampu melewati jalan tanjakan dengan kemiringan 5,6 º Kedepanya dapat memilih motor dengan Rpm yang lebih tinggi lagi dan menyesuaikan ukuran perbandingan gear yang dipakai
        Sistem pengendali mampu mengubah kecepatan dari nol hingga kecepatan maksimum Dapat dilakukan perpindahan kecepatan dengan kontan
        Kecepatan gerak kursi roda dapat diubah tanpa menibulkan hentakan atau beban kejut Kecepatan untuk perpindahan tidak menimbulkan hentakan
        Ketinggian rintangan (obstacle) yang dapat dilalui kursi roda (mm) Mampu melewati obstacle ≤ 15 mm, Tidak mampu melewati obstacle ≥ 20 mm
        Konsumsi energi (Wh) Konsumsi energi yang diperlukan adalah sebesar 250 Wh dan kapasitas aki dalam Wh sebesar 24 v X 20 Ah = 480 Wh. Waktu operasi = KapasitasAki/Daya Motor480Wh/250Watt=1,92 jam
        Jarak tempuh maksimm untuk battery terisi penuh (Km) Jarak tempuh maksimum pada baterai pada saat terisi penuh hingga habis sekitar 15,36 Km
        Kecepatan maksimum 15 km/jam(ISO 7176-6:2018(E)) X Kecepatan maks. 10 km/jam (Diuji dengan menggunakan software speedometer di hp) Kedepanya untuk motor penggerak dapat diganti dengan Rpm yang lebih tinggi , penyesuaian pemakian perbandingan gear serta pemasangan spedometer yang lebih aktual
        Table 8. Uji Peforma Sistem Pendorong. [11]

        2. Peforma Sistem Kendali Arah

        Item Pengujian Kriteria Keberterimaan Hasil Keterangan Saran
        Peforma Sistem Kendai Arah Radius belok maksimum kursi roda (derajat) Radius belok minimum 2 meter dengan sudut belok maksimum roda sekitar ±15 º
        Arah belok-kiri dan kanan memiliki radius yang sama. X - Arah belok ke kiri tidak berfungsi dengan baik pada saat digunakan pada kondisi awal / sedang melaju. – Arah belok kanan hanya berfungsi Ketika kondisi awal diam Kedepanya agar program dari kontroler lebih disempurnakan lagi dan pada bagian roda-roda dapat ditata kembali baik segi ukuran ban maupun AS roda yang lebih diperbesar lagi ukurannya
        Table 9. Uji Peforma Sistem Kendali Arah.[12]

        Simpulan

        Berdasarakan dari analisa dan penelitian dari “ Uji Ergonomi dan Uji Peforma Kursi Roda Elektrik Non Lipat” dapat disimpulkan sebagai berikut :

        1. Terdapat perbedaan signifikan antara dimensi tubuh pengguna dengan dimensi kursi roda. Beberapa aspek seperti tinggi dan lebar bagian-bagian tertentu tidak sepenuhnya sesuai, misalnya tinggi pijakan kaki dan tinggi handrest.
        2. Evaluasi postur menggunakan metode RULA menunjukkan skor yang menyarankan perlu ada perubahan agar postur pengguna dalam kursi roda lebih optimal dan mengurangi risiko cedera muskuloskeletal.
        3. Meskipun sistem pendorong mampu menangani beban tertentu dan lintasan menanjak dengan kemiringan tertentu, sistem ini memiliki masalah dengan konsumsi energi, jarak tempuh maksimum, dan stabilitas pengendalian.
        4. Pada sistem kendali arah terdapat masalah dengan kemampuan belok kursi roda, terutama pada arah kiri dan saat digunakan dalam kondisi bergerak.
        5. Masalah utama terletak pada sistem pengereman yang tidak mampu memberikan perlambatan pada kursi roda dalam kondisi tertentu, seperti pada lintasan miring.
        6. Secara ergonomis, kursi roda masih membutuhkan penyesuaian lebih lanjut untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengguna, terutama dalam hal sesuai dengan dimensi antropometri.
        7. Performa kursi roda menunjukkan adanya kekurangan yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal efisiensi energi, kestabilan pengendalian, dan sistem pengereman yang dapat diandalkan.

References

Syakura, A., Nurhosifah, S., & Yuliana, R. W. (2021). Pengembangan kursi roda yang efektif dalam menurunkan dampak negatif imobilisasi lama pada penyandang disabilitas fisik dengan kelumpuhan: Sistematis review. Professional Health Journal, 3(1), 1–8. https://doi.org/10.54832/phj.v3i1.168

Fatoni, M. H., Suprayitno, E. A., Arifin, A., Hikmah, N. F., Sardjono, T. A., & Nuh, M. (2022). Pemanfaatan kursi roda elektrik dengan kendali joystick guna meningkatkan kemandirian siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa D Yayasan Pembinaan Anak Cacat Surabaya. Sewagati, 7(2), 167–175. https://doi.org/10.12962/j26139960.v7i2.446

Wicaksono, B. A. (2023). Rancang bangun kursi roda elektrik dengan sistem kontrol joystick dan smartphone Android. Journal of Engineering Research, 1(1), 1–10.

Rahmawati, R. Y., & Sunandar, A. (2018). Peningkatan keterampilan orientasi dan mobilitas melalui penggunaan tongkat bagi penyandang tunanetra. Jurnal Ortopedagogia, 4(2), 100–103. https://doi.org/10.17977/um031v4i12018p100

Sinaga, M. E., & Gulo, Y. (2020). Konseling lintas budaya dan agama (Nilai-nilai pada masyarakat suku Batak dalam melakukan pendampingan terhadap disabilitas). Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya, 5(2), 96–104. https://doi.org/10.24114/antro.v5i2.14217

Sariadji, M. A., Poesoko, A. S., Setyono, B., & Kameswara, R. B. (2024). Analisis kinematik linkage kursi roda pasien multi fungsi. Prosiding SENASTITAN Seminar Nasional Teknologi Industri Berkelanjutan, 4, 1–8.

Jurnal Ekonomi dan Akuntansi. (2024). Meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan di tempat kerja: Peran ergonomi dalam meningkatkan produktivitas karyawan, 2, 671–680.

Jurnal Ilmu dan Kajian Sosial. (2019). Penyandang disabilitas di Indonesia: Perkembangan istilah dan definisi, 20, 127–142.

Budianto, A. G. (2021). Analisis penyebab ketidaksesuaian produksi flute pada ruang handatsuke dengan pendekatan fishbone diagram, piramida kualitas dan FMEA. Jurnal JIEOM, 4(1), 17–25.

Dan, K., Daerah, A., & Dalam, D. (2010). Kinerja dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah (DPPKAD) dalam pengelolaan aset daerah. Jurnal Administrasi Publik, 1(1), 1–12.

Ningrum, E. (2016). Peranan customer service dalam manajemen komplain ke BPD Card (Studi kasus di Bank Jateng Capem Syariah Semarang Barat) (Tugas akhir). Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Raffi, M. (2023). Final project analysis of design and improvement of work posture in corn crips snack production activities using the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) method (Studi kasus UMKM Pipik’s Snack). Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Nova, T. S., & Hariastuti, N. L. P. (2022). Analysis of occupational safety and health risk using the HAZOPS method and ergonomics approach (RULA and REBA) at UD. Sekar Surabaya. Journal of SENOPATI Sustainable Ergonomics Optimization and Application in Industrial Engineering, 3(2), 63–73. https://doi.org/10.31284/j.senopati.2022.v3i2.2382

Laboratorium Mekanika dan Benda Padat. (2023). Hasil uji performa kursi roda elektrik, 1–2.

International Organization for Standardization. (2018). Determination of maximum speed of electrically powered wheelchairs (ISO 7176-6:2018).