Rafish Rafish (1), Ika Sari Tondang (2), Dona Wahyuning Laily (3)
General Background Sugarcane is a strategic commodity requiring continuous raw material supply from agricultural producers to maintain national sugar industry operations. Specific Background Sugar factories heavily rely on plasma suppliers, necessitating robust institutional programs to ensure supply certainty, mitigate business risks, and align mutual interests. Knowledge Gap While previous literature independently correlates service quality or technical assistance with relationship continuity, simultaneous evaluations of behavioral and operational predictors within entirely supplier-dependent factories remain limited. Aims This study investigates how plasma supplier satisfaction, confidence, and perceived organizational backing concurrently predict the sustainability of institutional programs at PG Gempolkrep. Results Utilizing a quantitative explanatory design with a purposive sample of 90 active sugarcane suppliers, Partial Least Squares-Structural Equation Modeling reveals that the model explains 61.0 percent of the variance in program continuity. Furthermore, satisfaction, confidence, and organizational backing all demonstrate positive and significant correlations with sustainability, identifying confidence as the most dominant structural predictor. Novelty This research expands the commitment-trust theory by simultaneously quantifying the structural dominance of relational integrity over instrumental assistance in agribusiness alliances. Implications Agribusiness managers must prioritize transparent communication, operational honesty, and consistent policy execution over mere technical provision to secure long-term raw material supply and cultivate enduring supplier alliances.
Highlights
Keywords: Company Support, Plasma Growers, Relational Trust, Agribusiness Sustainability, Structural Equation Modeling
Tebu merupakan komoditas strategis karena menjadi bahan baku utama industri gula nasional. Keberlanjutan industri gula sangat dipengaruhi oleh kesinambungan pasokan tebu dari petani sebagai penyedia bahan baku [1]. Produksi gula nasional yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri menunjukkan bahwa penguatan sektor hulu, termasuk hubungan antara petani dan pabrik gula, masih menjadi kebutuhan penting [2]. Kondisi tersebut menegaskan bahwa keberhasilan industri gula tidak hanya bertumpu pada kinerja pabrik gula, tetapi juga pada kualitas hubungan perusahaan dengan petani tebu sebagai pemasok utama bahan baku.
Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi gula nasional yang memiliki kontribusi penting terhadap industri gula berbasis tebu. Banyak pabrik gula di wilayah ini menghadapi tantangan serupa, yaitu ketergantungan tinggi pada petani rakyat. Ketergantungan tersebut menimbulkan kebutuhan terhadap pola hubungan yang tidak semata-mata transaksional, tetapi mampu menjamin kepastian pasokan, meningkatkan produktivitas petani, dan menjaga kesinambungan kerja sama dalam jangka panjang [3]. Program kemitraan dalam konteks tersebut menjadi perangkat kelembagaan yang penting untuk menyelaraskan kepentingan perusahaan dan petani [4].
Kemitraan dalam agribisnis pada dasarnya dibangun atas prinsip saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan antara pihak-pihak yang terlibat [5]. Melalui kemitraan, perusahaan memperoleh kepastian akses terhadap bahan baku, sedangkan petani memperoleh manfaat berupa kepastian pasar, bantuan sarana produksi, pendampingan teknis, maupun akses pembiayaan [6]. Kemitraan yang dirancang dan dijalankan dengan baik dapat menurunkan ketidakpastian usaha, memperkuat posisi petani dalam sistem agribisnis, serta meningkatkan efisiensi rantai pasok secara keseluruhan [7].
Program kemitraan pada industri gula memiliki karakteristik yang khas. Hubungan petani dan pabrik gula tidak berhenti pada transaksi penjualan tebu, tetapi melibatkan proses yang lebih panjang, seperti pengadaan sarana produksi, budidaya, penjadwalan tebang-angkut, penentuan rendemen, hingga pembayaran hasil. Setiap tahap berpotensi memengaruhi persepsi petani terhadap perusahaan. Perusahaan yang mampu menjaga ketepatan layanan, keterbukaan informasi, dan kesesuaian pelaksanaan dengan kesepakatan akan cenderung memperoleh respons positif dari petani. Sebaliknya, ketidakpastian, keterlambatan, atau kurangnya keterbukaan dapat menurunkan kualitas hubungan dan membuat keberlanjutan kemitraan menjadi rentan [8].
Kepuasan petani plasma dapat dipahami sebagai evaluasi petani terhadap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kemitraan. Kepuasan muncul ketika petani menilai bahwa pelaksanaan program sesuai atau melebihi harapan mereka [9]. Dalam kemitraan tebu, kepuasan dapat dibentuk oleh pelayanan petugas lapang, penyaluran sarana produksi, dan mekanisme harga atau rendemen. Petani yang menilai aspek-aspek tersebut berjalan baik cenderung memandang kemitraan secara positif dan memiliki kecenderungan lebih besar untuk mempertahankan hubungan kerja sama [10].
Kepercayaan petani plasma mengacu pada keyakinan petani bahwa perusahaan menjalankan kemitraan secara jujur, konsisten, dan dapat diandalkan. Teori commitment-trust menempatkan kepercayaan sebagai fondasi utama dalam pembentukan komitmen relasional dan keberlangsungan hubungan jangka panjang [11]. Dalam konteks kemitraan tebu, kepercayaan tercermin pada transparansi informasi, kejujuran dan akuntabilitas, serta konsistensi pelaksanaan kesepakatan. Tingkat kepercayaan yang tinggi dapat memperkecil persepsi risiko, memperkuat rasa aman petani dalam berinteraksi dengan perusahaan, dan meningkatkan peluang keberlanjutan kemitraan [12].
Dukungan perusahaan juga menjadi unsur yang tidak dapat diabaikan. Konsep dukungan organisasi menunjukkan bahwa pihak yang menerima dukungan akan menilai hubungan kerja sama secara lebih positif apabila merasa kebutuhannya diperhatikan. Dalam kemitraan tebu, dukungan perusahaan dapat berupa penyediaan sarana produksi, pendampingan teknis, serta bantuan akses pembiayaan [12]. Dukungan tersebut berperan dalam menurunkan hambatan usaha tani dan memperkuat persepsi bahwa perusahaan berkomitmen terhadap keberhasilan petani.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kepuasan, kepercayaan, dan dukungan perusahaan memiliki keterkaitan dengan kualitas serta keberlanjutan kemitraan. Azahra et al. [13] menunjukkan bahwa kepuasan petani mitra dipengaruhi oleh kualitas layanan dan ketepatan penyediaan input. Selain itu, Trieanto et al. [14] menunjukkan bahwa tingkat kepuasan petani berperan penting dalam mendukung keberlanjutan kemitraan inti-plasma. Perwitasari et al. [6] menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan kemitraan berpengaruh terhadap keberlanjutan hubungan kerja sama antara perusahaan dan petani. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis pelaksanaan program, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang terbangun antara para pihak yang bermitra.
Penelitian yang menguji kepuasan, kepercayaan, dan dukungan perusahaan secara simultan pada kemitraan tebu di pabrik gula tertentu masih relatif terbatas. Sebagian penelitian sebelumnya menitikberatkan pada salah satu faktor, komoditas yang berbeda, atau pola kemitraan di luar industri gula. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengujian secara simultan tiga faktor utama, yaitu kepuasan petani plasma, kepercayaan petani plasma, dan dukungan perusahaan, dalam menjelaskan keberlanjutan program kemitraan pada pabrik gula yang sepenuhnya bergantung pada pasokan petani plasma. Secara teoritis, penelitian ini memperluas penerapan teori kepuasan, commitment-trust, dan perceived organizational support dalam konteks kemitraan inti-plasma pada industri gula. Secara praktis, penelitian ini memberikan prioritas perbaikan kemitraan berbasis urutan pengaruh variabel, sehingga pengelola program dapat memfokuskan intervensi pada aspek yang paling menentukan keberlanjutan kemitraan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjelaskan ada atau tidaknya pengaruh, tetapi juga menunjukkan faktor yang paling dominan sebagai dasar penyusunan strategi penguatan kemitraan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian diarahkan untuk menguji hubungan kausal antara variabel laten yang telah dirumuskan, yaitu kepuasan petani plasma, kepercayaan petani plasma, dukungan perusahaan, dan keberlanjutan program kemitraan. Desain eksplanatori dipandang sesuai karena penelitian tidak hanya mendeskripsikan fenomena kemitraan, tetapi juga menjelaskan pengaruh antarkonstruk yang diuji dalam model penelitian [13].
Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive di wilayah kemitraan PG Gempolkrep, Kabupaten Mojokerto. Penentuan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa PG Gempolkrep merupakan pabrik gula yang seluruh kebutuhan bahan baku tebunya diperoleh dari petani plasma. Penelitian berfokus pada petani plasma di wilayah Kemlagi dan Jetis yang aktif mengikuti kemitraan dengan PG Gempolkrep.
Populasi penelitian adalah petani plasma tebu yang terdaftar dan aktif memasok tebu ke PG Gempolkrep. Sampel penelitian berjumlah 90 petani plasma. Jumlah sampel sebanyak 90 responden dipandang memadai untuk analisis PLS-SEM karena telah melampaui ukuran minimum yang disarankan dalam aturan praktis PLS-SEM, yaitu 10 kali jumlah indikator terbanyak atau 10 kali jumlah jalur terbanyak yang mengarah pada konstruk endogen. Dalam model penelitian ini, setiap konstruk diukur dengan tiga indikator dan konstruk endogen menerima tiga hubungan langsung, sehingga jumlah minimum sampel secara praktis berada pada kisaran 30 responden. Penggunaan 90 responden memberikan margin yang lebih aman untuk memperoleh estimasi model yang stabil, meningkatkan ketepatan hasil pengujian, serta mengurangi risiko bias akibat data yang tidak lengkap. Penentuan responden dilakukan secara purposive dengan kriteria: petani merupakan petani plasma resmi PG Gempolkrep, petani aktif memasok tebu pada periode penelitian, berusia minimal 18 tahun, dan bersedia menjadi responden [15]. Kriteria tersebut digunakan agar responden benar-benar memiliki pengalaman yang relevan untuk menilai pelaksanaan program kemitraan.
Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden. Kuesioner disusun berdasarkan indikator yang mewakili masing-masing variabel penelitian dan diukur menggunakan skala Likert lima poin, mulai dari skor 1 untuk sangat tidak setuju hingga skor 5 untuk sangat setuju. Penggunaan skala Likert memungkinkan peneliti menangkap persepsi dan penilaian responden terhadap pelaksanaan kemitraan dalam bentuk data kuantitatif.
Variabel penelitian terdiri atas tiga variabel eksogen dan satu variabel endogen. Variabel eksogen meliputi kepuasan petani plasma, kepercayaan petani plasma, dan dukungan perusahaan. Variabel endogen adalah keberlanjutan program kemitraan. Kepuasan petani plasma diukur melalui indikator pelayanan petugas lapang, penyaluran sarana produksi, dan mekanisme harga atau rendemen. Kepercayaan petani plasma diukur melalui indikator transparansi informasi, kejujuran dan akuntabilitas, serta konsistensi pelaksanaan kesepakatan. Dukungan perusahaan diukur melalui indikator ketersediaan sarana produksi, pendampingan teknis, dan akses pembiayaan. Keberlanjutan program kemitraan diukur melalui dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sebelum pengujian hipotesis, instrumen penelitian dievaluasi melalui uji validitas dan reliabilitas konstruk. Uji validitas dilakukan dengan melihat outer loading dan Average Variance Extracted (AVE), sedangkan uji reliabilitas dilakukan melalui Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability. Selain itu, validitas diskriminan diuji menggunakan Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT). Indikator dinyatakan valid apabila outer loading lebih dari 0,70 dan AVE lebih dari 0,50, sedangkan konstruk dinyatakan reliabel apabila Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability lebih dari 0,70. Operasionalisasi variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Operasional Variabel Penelitian
Hubungan antarvariabel dalam model penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram Jalur Penelitian
Mayoritas responden berada pada rentang umur 36–46 tahun, berpendidikan formal tamat SMP, memiliki pengalaman bertani 19–29 tahun, dan mengelola lahan 1,01–1,50 hektar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar petani plasma berada pada usia produktif, memiliki pengalaman usaha tani yang cukup panjang, dan mengelola lahan pada skala menengah. Dominasi responden pada usia produktif menunjukkan bahwa petani plasma pada wilayah penelitian masih memiliki kapasitas kerja yang memadai untuk mengelola usaha tani tebu dan menjalankan kewajiban dalam program kemitraan. Karakteristik responden petani plasma pada penelitian ini disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Responden Petani Plasma
Sumber: Data primer diolah, 2026.
Hasil evaluasi model pengukuran menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai outer loading di atas 0,70, sehingga setiap indikator dinilai mampu merefleksikan konstruk laten yang diukur secara memadai. Pada variabel kepuasan petani plasma, nilai loading tertinggi terdapat pada indikator K1 sebesar 0,913, diikuti K3 sebesar 0,911. Temuan ini menunjukkan bahwa seluruh indikator pada variabel kepuasan memiliki kekuatan reflektif yang tinggi dan relatif seimbang, meskipun pelayanan petugas lapang tampak sedikit lebih dominan dibanding penyaluran sarana produksi dan mekanisme harga atau rendemen.
Pada variabel kepercayaan petani plasma, indikator dengan loading tertinggi adalah KP3 sebesar 0,916, sedangkan loading terendah adalah KP2 sebesar 0,790. Walaupun seluruh indikator tetap memenuhi kriteria validitas, perbedaan ini menunjukkan bahwa ada aspek kepercayaan yang secara empiris lebih kuat dalam menjelaskan konstruk dibanding aspek lainnya. Secara substantif, kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam kemitraan tebu, petani lebih kuat memaknai kepercayaan melalui pengalaman hubungan yang nyata, terutama yang berkaitan dengan konsistensi dan keyakinan terhadap perusahaan, dibanding sekadar persepsi umum mengenai hubungan kemitraan.
Pada variabel dukungan perusahaan, nilai loading indikator berkisar antara 0,857 sampai 0,887. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan perusahaan diakui petani sebagai konstruk yang cukup kuat, tetapi tidak semua bentuk dukungan memiliki kekuatan reflektif yang sama. Sementara itu, pada variabel keberlanjutan program kemitraan, seluruh indikator juga berada pada kategori sangat layak. Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa seluruh konstruk dalam penelitian memiliki kualitas pengukuran yang baik. Hasil evaluasi model pengukuran menggunakan nilai outer loading, AVE, Cronbach's Alpha, dan Composite Reliability disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Evaluasi Model Pengukuran
Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS, 2026.
Nilai AVE pada seluruh variabel berada di atas 0,50, sedangkan nilai Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability seluruh konstruk berada di atas 0,70. Hasil ini menegaskan bahwa instrumen penelitian tidak hanya valid secara konvergen, tetapi juga reliabel dalam mengukur persepsi petani plasma. Dengan demikian, model pengukuran dalam penelitian ini layak digunakan untuk melanjutkan analisis pada model structural [18]. Hasil pengujian validitas diskriminan menggunakan nilai HTMT dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Nilai HTMT Antarkonstruk
Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh nilai HTMT berada di bawah 0,90, sehingga setiap konstruk dalam model penelitian dapat dibedakan secara empiris dari konstruk lainnya. Nilai HTMT tertinggi terdapat pada hubungan antara kepuasan petani plasma dan keberlanjutan program kemitraan sebesar 0,598, diikuti hubungan antara kepercayaan petani plasma dan keberlanjutan program kemitraan sebesar 0,574. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kedua variabel tersebut memiliki kedekatan konseptual dengan keberlanjutan program kemitraan, keduanya tetap merupakan konstruk yang berbeda dan tidak mengalami tumpang tindih secara berlebihan. Hasil pengujian validitas diskriminan menggunakan nilai HTMT dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 5. Hasil Evaluasi Model Struktural dan Pengujian Hipotesis
Keterangan model: R-square = 0,610; R-square adjusted = 0,597; Q-square = 0,430.
Tabel 5 menunjukkan bahwa seluruh jalur pengaruh dalam model memiliki arah positif, yang berarti peningkatan pada kepuasan petani plasma, kepercayaan petani plasma, dan dukungan perusahaan akan diikuti oleh peningkatan keberlanjutan program kemitraan. Nilai path coefficient tertinggi terdapat pada variabel kepercayaan petani plasma sebesar 0,544, diikuti kepuasan petani plasma sebesar 0,507, sedangkan nilai terendah terdapat pada dukungan perusahaan sebesar 0,282. Temuan ini menunjukkan bahwa di antara ketiga variabel, kepercayaan merupakan faktor yang paling kuat dalam menjelaskan keberlanjutan kemitraan, sedangkan dukungan perusahaan walaupun tetap penting memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil.
Nilai f-square memperkuat temuan tersebut. Variabel kepercayaan petani plasma memiliki nilai f-square sebesar 0,752, yang menunjukkan ukuran pengaruh paling besar dalam model. Nilai kepuasan petani plasma sebesar 0,653 juga berada pada kategori pengaruh besar, sedangkan dukungan perusahaan sebesar 0,200 berada pada kategori pengaruh sedang. Nilai R-square sebesar 0,610 menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 61,0% variasi keberlanjutan program kemitraan. Nilai Q-square sebesar 0,430 menunjukkan bahwa model memiliki relevansi prediktif yang baik [18].
Kepuasan petani plasma berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan program kemitraan. Hasil ini menunjukkan bahwa pengalaman petani terhadap pelayanan petugas lapang, penyaluran sarana produksi, serta mekanisme harga atau rendemen berperan penting dalam menjaga kemauan petani untuk mempertahankan kemitraan [9]. Petani yang merasa kebutuhan dan harapannya terpenuhi cenderung memiliki penilaian positif terhadap program kemitraan dan lebih bersedia untuk terus terlibat dalam hubungan kerja sama [13].
Kepercayaan petani plasma berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan program kemitraan serta menjadi variabel paling dominan. Kepercayaan menjadi variabel paling dominan karena karakter hubungan kemitraan di PG Gempolkrep sangat ditentukan oleh tingkat ketergantungan petani terhadap perusahaan dalam hal rendemen, jadwal tebang-angkut, dan mekanisme pembayaran. Dalam kondisi seperti ini, transparansi informasi, kejujuran, dan konsistensi perusahaan menjadi sinyal utama yang mengurangi ketidakpastian yang dirasakan petani. Dominannya kepercayaan juga dapat dipahami dari karakteristik responden yang sebagian besar berada pada usia produktif, memiliki pengalaman bertani yang cukup panjang, dan mengelola lahan pada skala menengah. Kondisi tersebut membuat petani memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menilai konsistensi tindakan perusahaan, sehingga aspek relasional menjadi lebih menentukan dibanding sekadar dukungan operasional. Hasil ini menunjukkan bahwa transparansi informasi, kejujuran perusahaan, dan konsistensi pelaksanaan kemitraan merupakan fondasi utama dalam menjaga hubungan kerja sama jangka panjang [11]. Petani yang percaya kepada perusahaan akan merasa lebih aman dalam mempertahankan hubungan kemitraan, sekalipun terdapat risiko produksi atau fluktuasi hasil. Temuan ini sejalan dengan teori commitment-trust yang menempatkan kepercayaan sebagai inti pembentukan komitmen relasional [16].
Dukungan perusahaan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan program kemitraan. Hasil ini menunjukkan bahwa penyediaan sarana produksi, pendampingan teknis, dan akses pembiayaan tetap berperan dalam memperkuat keberlanjutan hubungan antara petani dan perusahaan. Petani yang merasakan adanya dukungan konkret dari perusahaan cenderung menilai bahwa perusahaan benar-benar terlibat dalam keberhasilan usaha tani mereka [17].
Secara manajerial, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya menjaga keberlanjutan kemitraan di PG Gempolkrep perlu diarahkan pada penguatan kualitas hubungan dengan petani plasma. Perusahaan perlu membangun sistem komunikasi yang lebih transparan, konsisten, dan mudah dipahami petani. Keterbukaan terkait mekanisme rendemen, jadwal tebang-angkut, serta pembayaran perlu dijaga agar kepercayaan petani dapat terus meningkat. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa dukungan teknis dan sarana produksi diberikan tepat waktu dan sesuai kebutuhan petani.
Secara praktis, hasil ini menunjukkan bahwa upaya penguatan kemitraan di PG Gempolkrep tidak cukup hanya berfokus pada bantuan input dan pendampingan teknis, tetapi juga harus memperkuat kualitas hubungan melalui keterbukaan informasi, kejelasan prosedur, dan konsistensi pelaksanaan kesepakatan. Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap informasi terkait rendemen, jadwal panen, dan pembayaran disampaikan secara jelas, tepat waktu, dan mudah dipahami petani.
Secara akademik, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan kemitraan di sektor agribisnis dipengaruhi oleh kombinasi faktor relasional dan faktor instrumental. Kepercayaan muncul sebagai faktor dominan, tetapi kepuasan dan dukungan perusahaan juga memiliki kontribusi nyata. Temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan integratif dalam mengkaji kemitraan agribisnis, terutama pada komoditas yang bergantung pada hubungan jangka panjang antara perusahaan dan petani.
Kepuasan petani plasma, kepercayaan petani plasma, dan dukungan perusahaan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan program kemitraan di PG Gempolkrep. Kepercayaan petani plasma merupakan variabel yang paling dominan dalam memengaruhi keberlanjutan program kemitraan, sehingga transparansi informasi, kejujuran, dan konsistensi perusahaan perlu menjadi perhatian utama dalam pengelolaan kemitraan. Kepuasan petani plasma juga memiliki kontribusi besar terhadap keberlanjutan program kemitraan. Pelayanan petugas lapang, ketepatan penyaluran sarana produksi, dan mekanisme harga atau rendemen yang dipersepsikan baik akan memperkuat kemauan petani untuk mempertahankan hubungan kerja sama. Dukungan perusahaan melalui penyediaan sarana produksi, pendampingan teknis, dan akses pembiayaan tetap penting karena memberikan manfaat nyata bagi kelancaran usaha tani tebu. Secara praktis, PG Gempolkrep disarankan memprioritaskan peningkatan kepercayaan petani plasma melalui transparansi informasi, kejujuran dalam pelaksanaan kesepakatan, dan konsistensi kebijakan kemitraan. Selain itu, perusahaan perlu memperbaiki pelayanan petugas lapang, ketepatan penyaluran sarana produksi, serta akses pembiayaan agar kepuasan dan dukungan yang dirasakan petani semakin kuat. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel lain seperti loyalitas petani, komitmen kemitraan, efektivitas komunikasi, produktivitas usaha tani, atau kualitas kelembagaan kelompok tani agar model penjelasan keberlanjutan kemitraan menjadi lebih komprehensif. Oleh karena itu, keberlanjutan kemitraan di PG Gempolkrep perlu dibangun melalui kombinasi kualitas layanan, kepercayaan, dan dukungan perusahaan yang konsisten.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada para petani plasma PG Gempolkrep yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini, serta kepada pihak-pihak yang membantu proses pengumpulan data dan penyusunan naskah.
S. D. Komarrudin, R. D. Mulyaningtiyas, and E. Askafi, “Pola Kemitraan Petani Tebu Dengan Pabrik Gula Djombang Baru,” Manajemen Agribisnis: Jurnal Agribisnis, vol. 24, no. 2, p. 262, Aug. 2024, doi: https://doi.org/10.32503/agribisnis.v24i2.5845.
BPS, Statistik Tebu Indonesia, vol. 14, 2024. Badan Pusat Statistik, 2023.
A. Mayangsari, “Efektivitas Kemitraan Pabrik Gula (PG) Wringin Anom terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Tebu di Kabupaten Situbondo,” AGRIBIOS, vol. 20, no. 1, p. 135, Apr. 2022, doi: https://doi.org/10.36841/agribios.v20i1.1657.
D. Sahara, T. Dewi, C. O. Handayani, H. Zu’amah, and F. D. Arianti, “Partnerships Between Sugarcane Factories and Farmers: Performance, Waste Management, and Perception Analysis,” Agro Ekonomi, vol. 36, no. 2, p. 193, Dec. 2025, doi: https://doi.org/10.22146/ae.107962.
M. Anwar, Model Kemitraan Bisnis Antar Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Malang, Indonesia: Susanti Institute, 2020.
H. Perwitasari, A. W. Widada, A. Pranyoto, J. H. Mulyo, S. Sugiyarto, and H. Anggrasari, “Keberlanjutan Kemitraan Petani Plasma Teh dan PT. Pagilaran: Bagaimana dan Apa yang Memengaruhi?,” SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, vol. 17, no. 2, p. 156, Feb. 2021, doi: https://doi.org/10.20961/sepa.v17i2.43634.
S. Sjaf et al., “Partnership 4.0: Smallholder Farmer Partnership Solutions,” Heliyon, vol. 8, no. 12, p. e12012, Dec. 2022, doi: https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2022.e12012.
M. Ramin, M. N. Abdillah, D. Hikmah, and A. Putra, “Sinergitas Industri Gula dan Petani Tebu dalam Bagi Hasil Melalui Pemberdayaan Avalis Kredit Ketahanan Pangan dan Energi,” ICO EDUSHA, vol. 3, no. 1, pp. 15–35, 2022. [Online]. Available: https://prosiding.stainim.ac.id/index.php/prd/article/view/222
R. L. Oliver, Satisfaction: A Behavioral Perspective on the Consumer, 2nd ed. New York, NY, USA: Routledge/Taylor & Francis, 2015.
P. Kotler and K. L. Keller, Marketing Management, 15th ed. Harlow, England: Pearson Education, 2016.
R. M. Morgan and S. D. Hunt, “The Commitment-Trust Theory of Relationship Marketing,” J. Mark., vol. 58, no. 3, pp. 20–38, Jul. 1994, doi: https://doi.org/10.1177/002224299405800302.
J. R. de Vries, J. A. Turner, S. Finlay-Smits, A. Ryan, and L. Klerkx, “Trust in Agri-Food Value Chains: A Systematic Review,” International Food and Agribusiness Management Review, vol. 26, no. 2, pp. 175–198, Apr. 2023, doi: https://doi.org/10.22434/IFAMR2022.0032.
S. P. Azahra, A. C. Tridakusumah, T. Karyani, and A. H. Sadeli, “Tingkat Kepuasan Petani Mitra Kentang terhadap Kinerja Kemitraan dengan CV. Bumi Agro Technology (Suatu Kasus Petani Kabupaten Garut),” Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, vol. 9, no. 2, p. 3262, Jul. 2023, doi: http://dx.doi.org/10.25157/ma.v9i2.11005.
P. F. Trieanto, I. Ismiasih, and D. Manumono, “Tingkat Kepuasan Petani dan Strategi Keberlanjutan Kemitraan Inti-Plasma Kelapa Sawit di Kalimantan Barat,” Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology), vol. 3, no. 2, pp. 47–57, 2022, doi: https://doi.org/10.31938/agrisintech.v3i2.393.
B. Sumargo, Teknik Sampling. Jakarta, Indonesia: UNJ Press, 2020.
D. M. Rousseau, S. B. Sitkin, R. S. Burt, and C. Camerer, “Not So Different After All: A Cross-Discipline View of Trust,” Academy of Management Review, vol. 23, no. 3, pp. 393–404, Jul. 1998, doi: https://doi.org/10.5465/amr.1998.926617.
R. Eisenberger, R. Huntington, S. Hutchison, and D. Sowa, “Perceived Organizational Support,” Journal of Applied Psychology, vol. 71, no. 3, p. 500, 1986, doi: https://doi.org/10.1037/0021-9010.71.3.500.
J. F. Hair, G. T. M. Hult, C. M. Ringle, and M. Sarstedt, Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2022