Gilang Ramadan (1), Teguh Soedarto (2), Mirza Andrian Syah (3)
General Background The palm oil sector serves as a crucial pillar of the national economy and drives rural development. Specific Background Despite cultivating a high-value commodity, smallholder producers continuously face systemic financial pressures, including high operational expenses and unequal access to agricultural resources. Knowledge Gap Household-based prosperity measurement at the micro-level remains highly limited, necessitating a deeper empirical analysis to accurately depict real socioeconomic conditions. Aims This study investigates the financial status of local growers using the Farmer Household Income Exchange Rate approach and identifies the underlying structural determinants. Results Utilizing a snowball sampling method with seven key informants, the evaluation demonstrates an average exchange rate of 91.41, indicating that the majority of households have not achieved a prosperous condition. Furthermore, prosperity disparities are heavily dictated by land area, harvest yields, cost optimization, and alternative revenues. Specifically, fertilizer and labor expenses dominate the variable costs, suppressing net agricultural receipts. Novelty This research contextualizes the application of the Farmer Household Income Exchange Rate to reveal how simultaneous constraints in resource access and production expenses structurally prevent livelihood security. Implications Achieving continuous financial security requires comprehensive strategies prioritizing production cost optimization, alternative revenue diversification, and human resource capacity building rather than solely focusing on aggregate harvest volumes.
Highlights:
Keywords: Palm Oil, Farmer Household Income Exchange Rate, Production Costs, Economic Sustainability, Smallholder Plantations
Kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, baik sebagai sumber devisa, pencipta lapangan kerja, maupun penggerak pembangunan wilayah pedesaan [1], [2]. Peran strategis ini tidak hanya tercermin dari besarnya nilai ekspor minyak sawit dan turunannya, tetapi juga dari kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah berbasis perkebunan. Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia memiliki keunggulan komparatif berupa luas areal perkebunan yang terus berkembang serta tingkat produksi yang meningkat secara konsisten, sehingga menjadikan sektor ini sebagai tulang punggung agribisnis nasional. Selain itu, perkembangan industri kelapa sawit juga memiliki efek pengganda (multiplier effect) terhadap sektor lain, seperti industri pengolahan, transportasi, perdagangan, dan jasa, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan pembangunan ekonomi secara lebih luas. Dengan demikian, keberadaan sektor kelapa sawit tidak hanya penting dalam konteks ekonomi makro, tetapi juga berperan strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan [3].
Namun demikian, peningkatan produksi kelapa sawit secara agregat tidak selalu diikuti oleh peningkatan kesejahteraan petani, khususnya pada sektor perkebunan rakyat yang justru menjadi bagian terbesar dari struktur produksi nasional. Produktivitas kebun rakyat masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan perkebunan besar, yang mencerminkan adanya kesenjangan produksi dan efisiensi yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap tingkat pendapatan petani [4] [5]. Faktor teknis bukanlah satu-satunya penyebab menimbulkan kesenjangan ini namun hal ini berhubungan kuat melalui akses petani yang terbatas pada input produksi yang bermutu, keakuratan dari teknologi budidayanya, juga adanya dukungan pembiayaan dengan lebih memadai [6]. Bukan hanya itu, kapasitas SDM yang rendah pada mengelola usaha tani, tercakup juga pada aspek manajemen, pemupukan, lalu juga pengontrolan hama, yang ikut membuat kondisi produktivitas semakin buruk [7]. Pada banyaknya kasus, petani rakyat ikut merasakan keterbatasan akses pada informasi mengenai jaringan distribusi serta pasar, yang akhirnya membuat posisi tawar menawarnya menjadi lemah. Ditampilkan melalui keadaan tersebut bahwasanya produksi yang meningkat pada tahap nasional masih tidak terbilang inklusif serta tetap dibutuhkan usaha dengan semakin terarah sehingga produktivitasnya meningkat dan juga petani yang berada di sektor perkebunan rakyat menjadi lebih sejahtera.
Adanya kesenjangan diantara kesejahteraan beserta produksi itu ikut refleksi pada Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, yang mana petani kelapa sawit rakyat biasanya melakukan pengelolaan lahan pada cakupan kecil melalui adanya akses yang terbatas kepada sumber daya produksinya. Walaupun mayoritas petani sudah mempunyai aset berwujud lahan dengan terbilang produktif, hal itu masih tidak dengan otomatis memberikan jaminan kesejahteraan dari petaninya tercapai. Keadaan tersebut menampilkan bahwasanya kepemilikan aset saja masih belum cukup apabila tidaklah diimbangi melalui pengelolaan maksimal serta dukungan dari faktor eksternal dengan mencukupi. Fluktuasi tarif TBS ataupun kepanjangannya yaitu “Tandan Buah Segar” termasuk dalam faktor utama dengan membuat ketidakstabilan pemasukan petani terpengaruh, sebab tarif yang mengalami perubahan dengan langsung memberikan dampak kepada penerimaan yang didapatkan. Melalui isi lainnya, biaya produksi yang tinggi, utamanya yaitu input misalnya berupa pupuk serta pekerja, ikut memberikan penekanan pemasukan bersih petaninya [8]. Bukan hanya itu, pengolahan usahatani yang lemah, bisa pada aspek teknik ataupun juga manajerial, membuat keadaan itu semakin memburuk sebab mengakibatkan pemakaian input dengan tidaklah efisien serta tidak cukup optimalnya produktivitas [9]. Dengan demikian, kondisi yang terjadi di Kecamatan Manis Mata mencerminkan adanya permasalahan struktural dalam sistem usahatani kelapa sawit rakyat yang memerlukan penanganan secara komprehensif.Secara konseptual, kesejahteraan petani dapat diukur melalui kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu indikator yang umum digunakan adalah Nilai Tukar Petani (NTP), yang mencerminkan perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani [10]. Namun, pengukuran berbasis rumah tangga pada tingkat mikro masih terbatas, sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk menggambarkan kondisi riil petani.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit dengan menggunakan pendekatan Farmer Household Income Exchange Rate (NTPRP) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Pendekatan NTPRP dipilih karena mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi ekonomi rumah tangga petani, tidak hanya dari sisi pendapatan, tetapi juga dalam kaitannya dengan struktur pengeluaran yang harus dipenuhi. Dengan demikian, analisis yang dilakukan tidak sekadar menilai besarnya penerimaan yang diperoleh petani, tetapi juga mengkaji kemampuan riil petani dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengungkap keterkaitan antara faktor internal, seperti luas lahan, produktivitas, dan efisiensi biaya produksi, dengan faktor eksternal yang memengaruhi dinamika kesejahteraan petani. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi kesejahteraan petani kelapa sawit, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi peningkatan kesejahteraan yang lebih tepat dan kontekstual.
Penelitian ini memberikan manfaat secara teoritis dan praktis dalam kajian kesejahteraan petani kelapa sawit. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan metode pengukuran kesejahteraan petani melalui pendekatan Farmer Household Income Exchange Rate (NTPRP) yang mampu menggambarkan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga secara lebih komprehensif. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi petani dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan usahatani serta mengoptimalkan sumber pendapatan. Selain itu, penelitian ini juga memberikan masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani melalui efisiensi biaya produksi, peningkatan produktivitas, dan penguatan ekonomi rumah tangga petani secara berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan di desa Persiapan Danau Pakit, Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang pada jangka waktu 3 bulan dari Februari – April 2026 dengan menggunakan teknik snowball sampling dan metode survei serta wawancara mendalam untuk menganalisis tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit secara objektif dan terukur. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran empiris mengenai kondisi ekonomi rumah tangga petani melalui data numerik yang dapat dianalisis secara sistematis. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit rakyat yang menunjukkan adanya fenomena ketimpangan kesejahteraan antar petani. Keadaan tersebut membuat lokasi penelitian relevan dalam melakukan kajian hubungan yang ada diantara struktur usaha tani lalu juga tingkat kemakmuran dengan lebih menyeluruh.
Terdapat penggunaan data pada dilaksanakannya penelitian ini tersusun melalui Data primer lalu juga data sekunder. Dalam memperoleh data primer yakni lewat wawancara terstruktur bersama informan kunci dengan mempunyai kebun sawit yang maksimalnya yaitu 4 hektar, dengan perancangan yang dilakukan agar dapat mengeksplor informasi dengan lebih rinci perihal pemasukan usahatani, pengeluaran rumah tangganya, juga ciri sosial ekonomi petani. Sedangkan memperoleh data sekunder yaitu melalui instansi terkait beserta literatur relevan agar dapat membuat landasan analisisnya menjadi kuat. Metode dalam mengumpulkan data dilaksanakan lewat dokumentasi, wawancara, kemudian juga observasi, yang akhirnya memberikan kemungkinan validitas beserta akurasi informasinya meningkat melalui triangulasi data [11]. Penggabungan dari teknik tersebut terbilang penting dalam memastikan bahwasanya penggunaan data terefleksi akan keadaan sebenarnya pada lapangan.
Terdapat analisis yang dilakukan pada variabel variabelnya mencakup pemasukan rumah tangga, tarif produksi usahatani, juga konsumsi rumah tangga dengan merefleksikan pengeluaran keseluruhan. Pemasukan rumah tangga dengan melingkupi semua pemasukan yang didapatkan melalui sumber lainnya ataupun melalui usaha tani, sementara itu tarif produksi di dalamnya tercakup pengeluaran dana dengan berhubungan melalui aktivitas budidaya. Terefleksi melalui konsumsi rumah tangga adanya kebutuhan hidup petani bisa berwujud pangan ataupun yang non-pangan, di mana sebagai indikator penting pada melakukan penilaian tingkat kemakmuran dengan menyeluruh. Pada dilaksanakannya penelitian ini terdapat penggunaan data penelitian yang tersusun melalui data primer lalu juga data sekunder. Dalam memperoleh data primer yaitu lewat wawancara langsung melalui setiap responden memakai sebuah kuesioner dengan terstruktur di mana di dalamnya termuat informasi berkaitan dengan penerimaan usahatani, dana yang dihabiskan untuk rumah tangga, juga kepemilikan aset. Sedangkan dalam memperoleh data sekunder melalui instansi berkaitan lewat BPS ataupun kepanjangannya yaitu "Badan Pusat Statistik", dinas perkebunan, lalu juga literatur relevan melalui penelitiannya.
Dalam anak-anak analis kesejahteraan yaitu Melalui penggunaan pendekatan yang berupa NTPRP ataupun kepanjangannya yaitu “Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Petani”, dengan perumusannya dilakukan dalam menjadi perbandingan yang ada diantara total pemasukan beserta keseluruhan pengeluaran rumah tangga dengan dilakukan perkalian 100. Pada interpretasi nilai dari NTPRP kelompokkan ke dalam tiga golongan yakni yang melebihi 100 menampilkan keadaan sejahtera kemudian yang nilainya 100 menampilkan keadaan yang terbilang cukup sejahtera, kemudian untuk yang tidak mencapai 100 termasuk ke dalam kategori belum sejahtera. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi ekonomi rumah tangga petani, karena tidak hanya menilai besarnya pendapatan, tetapi juga memperhitungkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup secara keseluruhan [12], [13].
Penggunaan NTPRP memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap ketimpangan kesejahteraan antar petani, karena indikator ini secara langsung mencerminkan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran [13]. Melalui itu, adanya pendekatan ini bukan sekedar memiliki fungsi dalam menjadi alat ukur kesejahteraan saja, namun ikut menjadi instrumen analisis dalam melakukan identifikasi berbagai faktor yang memberikan pengaruh kepada keadaan ekonomi rumah tangga dari para petani yang akhirnya bisa dipakai dalam menjadi landasan pada melakukan perumusan strategi kenaikan kesejahteraan dengan semakin efektif serta sesuai target. Dalam menghitung NTPRP itu melalui melakukan perbandingan keseluruhan penerimaan petani melalui keseluruhan pengeluaran dari rumah tangganya pada periode khusus. Secara matematis, NTPRP dapat dirumuskan sebagai berikut:
NTPRP = (Penerimaan / Pengeluaran) × 100
Hasil perhitungan NTPRP kemudian diinterpretasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu NTPRP lebih dari 100 menunjukkan kondisi sejahtera, NTPRP sama dengan 100 menunjukkan kondisi cukup sejahtera, dan NTPRP kurang dari 100 menunjukkan kondisi belum sejahtera. Perhitungan Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Petani (NTPRP) dilakukan berdasarkan prosedur standar perbandingan indeks harga yang diterima (It) dan dibayar (Ib) oleh petani [13]. Analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit di wilayah penelitian, pendekatan ini dipilih agar fenomena sosial ekonomi petani dapat diukur secara objektif melalui angka-angka statistik [15].
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit di lokasi penelitian masih bersifat heterogen dan belum merata antar responden. Variasi ini tercermin dari nilai NTPRP yang menunjukkan bahwa secara agregat rata-rata masih berada di bawah angka 100, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga petani belum mencapai kondisi sejahtera. Keadaan buat bukan sekedar memberikan refleksi akan pendapatan yang rendah, namun ikut menampilkan ditemuinya kemampuan menciptakan pendapatan serta pengeluaran yang tidak seimbang. Melalui kata lainnya, mayoritas dari petani masih berada di keadaan ekonomi rentan, yang mana biaya hidup serta tarif produksi belum seimbang melalui pendapat yang didapatkan oleh petani. Ditunjukkan duit tabel di bawah ini distribusi dari nilai yang dimiliki NTPRP petani yang bertempat pada Desa Persiapan Danau Pakit yaitu berwujud:
Tabel 1. Distribusi Nilai NTPRP Petani [3]
Sumber: Data Primer, diolah 2026.
Berdasarkan Tabel 1, mayoritas petani berada pada kategori belum sejahtera dengan persentase sebesar 57,14%, sedangkan sisanya sebesar 42,86% berada pada kategori sejahtera. Distribusi ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi kesejahteraan petani kelapa sawit di lokasi penelitian masih tergolong rendah dan belum merata. Dominasi petani dengan NTPRP ≤ 100 mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga petani belum mampu menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan ekonomi yang bersifat struktural, dimana pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara optimal. Sementara itu, kelompok petani yang berada pada kategori sejahtera menunjukkan adanya keunggulan dalam aspek tertentu, seperti luas lahan, efisiensi produksi, maupun diversifikasi pendapatan, yang memungkinkan mereka mencapai kondisi ekonomi yang lebih stabil.
Perbedaan tingkat kesejahteraan antar petani dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural yang saling berkaitan. Luas lahan merupakan faktor dominan yang secara langsung menentukan skala produksi dan potensi pendapatan. Petani dengan kepemilikan lahan yang lebih luas memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan volume produksi, sehingga dapat mencapai efisiensi skala (economies of scale) dalam kegiatan usahatani. Hal ini sejalan dengan teori ekonomi pertanian yang menyatakan bahwa skala usaha memiliki hubungan positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani [16]. Sebaliknya, petani dengan lahan terbatas cenderung memiliki keterbatasan dalam meningkatkan output, sehingga pendapatan yang diperoleh relatif lebih rendah. Berikut disajikan data rata-rata karakteristik ekonomi rumah tangga petani:
Tabel 2. Rata-rata Karakteristik Ekonomi Rumah Tangga Petani [3]
Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor utama yang saling berkaitan, yaitu luas lahan, produktivitas, efisiensi biaya produksi, keberadaan pendapatan tambahan, dan pola konsumsi. Petani yang tergolong sejahtera umumnya memiliki luas lahan lebih dari 2 hektar, produktivitas yang optimal, serta kemampuan dalam mengelola biaya produksi secara efisien. Selain itu, keberadaan pendapatan tambahan di luar usahatani menjadi faktor pendukung yang signifikan dalam meningkatkan stabilitas ekonomi rumah tangga. Sebaliknya, petani yang belum sejahtera cenderung memiliki keterbatasan dalam faktor-faktor tersebut, yang menyebabkan rendahnya pendapatan serta tingginya tekanan pengeluaran. Tabel ini mempertegas bahwa kesejahteraan petani tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai aspek produksi dan ekonomi rumah tangga.
Selain luas lahan, tingkat produktivitas kebun juga menjadi faktor penentu yang tidak kalah penting. Produktivitas sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan usahatani, termasuk penggunaan input produksi seperti pupuk, pestisida, serta penerapan teknik budidaya yang tepat. Petani yang mampu mengelola kebun secara optimal cenderung menghasilkan produksi yang lebih tinggi dan lebih stabil. Sebaliknya, keterbatasan dalam penggunaan input, baik karena faktor modal maupun pengetahuan, menyebabkan rendahnya produktivitas yang berdampak langsung pada pendapatan.
Pada sisi lain, tingginya biaya produksi menjadi faktor penghambat utama dalam peningkatan kesejahteraan petani. Struktur biaya yang didominasi oleh pengeluaran untuk pupuk dan tenaga kerja menyebabkan tingginya beban biaya variabel yang harus ditanggung oleh petani. Kondisi ini secara langsung mengurangi pendapatan bersih yang diperoleh, terutama ketika peningkatan biaya tidak diimbangi dengan peningkatan produksi atau harga jual yang memadai. Dengan demikian, efisiensi dalam pengelolaan biaya produksi menjadi aspek krusial dalam menentukan keberlanjutan ekonomi usahatani, karena tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga dengan kemampuan petani dalam mengendalikan pengeluaran [17]. Untuk memperjelas gambaran tersebut, berikut disajikan tabel data rata-rata struktur biaya produksi usahatani kelapa sawit:
Tabel 3. Rata-rata Struktur Biaya Produksi Usahatani Kelapa Sawit [3]
Berdasarkan Tabel 3, komponen biaya produksi didominasi oleh pengeluaran untuk pupuk, yang mencapai proporsi terbesar dibandingkan komponen lainnya. Tarif dari pupuk yang terbilang tinggi menampilkan bahwasanya input produksi sebagai suatu faktor utama pada aktivitas usahatani yang berupa kelapa sawit, tetapi sekaligus sebagai beban ekonomi dengan wujud signifikan untuk petaninya. Bukan hanya itu, tarif dari pekerja ikut mempunyai kontribusi dengan terbilang cukup besar pada pengeluaran total, dengan merefleksikan ketergantungan petani kepada pekerja pada tahap produksi. Proporsi kecil ditunjukkan melalui tarif transportasi kemudian juga unsur lainnya, tetapi tetaplah memberikan kontribusi kepada total tarif produksinya. Ditunjukkan melalui struktur biaya tersebut bahwasanya tarif variabel sebagai faktor utama dengan memberikan penekanan kepada pemasukan bersifat petani, yang akhirnya efisiensi pada pemakaian input produksi sebagai suatu kunci penting pada membuat kesejahteraan meningkat.
Adanya pemasukan pada luar usaha tani ikut memberikan bukti dalam menjadi faktor yang menopang dengan wujud signifikan pada menstabilkan ekonomi rumah tangga petaninya. Dengan petani yang mempunyai sumber pemasukan tambahan condong mempunyai tingkat ketahanan ekonomi dengan jauh lebih baik sebab tanpa sepenuhnya memiliki ketergantungan kepada hasil usahatani dengan memiliki sifat fluktuatif. Fungsi dari pemasukan non-usahatani jadi mekanisme diversifikasi risiko dengan bisa menutupi kekurangan pemasukan melalui sektor utama, yang akhirnya memberikan bantuan dalam melindungi keseimbangan diantara pemasukan serta pengeluarannya. Persoalan tersebut selaras melalui konsep diversifikasi pemasukan pada ekonomi pedesaan dengan memberikan penekanan kepada seberapa penting kombinasi sumber pemasukan bagi menciptakan peningkatan ekonomi rumah tangga yang kuat [18], [19].
Ditinjau melalui sisi konsumsinya, petani yang mempunyai nilai ntprp rendah condong mempunyai proporsi pengeluaran dengan jauh lebih besar kepada kebutuhan dasarnya di mana keterbatasan mempengaruhi pada kenaikan mutu hidup. Tingginya beban konsumsi ini mencerminkan bahwa sebagian besar pendapatan masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sehingga tidak menyisakan ruang untuk tabungan atau investasi. Fenomena ini sesuai dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah cenderung mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan pangan, sedangkan peningkatan pendapatan akan diikuti oleh pergeseran konsumsi ke kebutuhan non-pangan [20]. Dengan demikian, pola konsumsi yang diamati dalam penelitian ini menjadi indikator penting dalam menilai tingkat kesejahteraan petani.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan kesejahteraan antar petani yang dipengaruhi oleh perbedaan akses terhadap sumber daya, teknologi, dan peluang ekonomi. Petani yang memiliki akses lebih baik terhadap faktor-faktor tersebut cenderung memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan, sehingga mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya, keterbatasan akses akan mempersempit peluang petani dalam mengembangkan usahatani secara optimal. Kondisi ini sejalan dengan teori pembangunan pertanian yang menyatakan bahwa kesejahteraan petani sangat ditentukan oleh akses terhadap faktor produksi, teknologi, serta pasar sebagai bagian dari sistem agribisnis yang terintegrasi [21].
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit di Kecamatan Manis Mata masih tergolong rendah dan belum merata, yang tercermin dari nilai NTPRP yang umumnya berada di bawah 100, sehingga menunjukkan bahwa sebagian besar petani belum mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya secara optimal serta masih rentan terhadap tekanan ekonomi. Ketimpangan kesejahteraan tersebut dipengaruhi oleh faktor utama seperti luas lahan, produktivitas, efisiensi biaya produksi, dan keberadaan pendapatan tambahan, dimana petani dengan akses sumber daya dan diversifikasi pendapatan yang lebih baik cenderung memiliki kondisi ekonomi yang lebih stabil. Oleh karena itu, peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi, tetapi perlu dilakukan secara komprehensif melalui efisiensi biaya produksi, diversifikasi sumber pendapatan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan ekonomi rumah tangga petani.
Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan jumlah sampel yang lebih luas dan pendekatan longitudinal agar mampu menangkap dinamika kesejahteraan petani dalam jangka panjang, serta mengembangkan analisis yang lebih komprehensif dengan memasukkan variabel kelembagaan, akses pembiayaan, kebijakan pemerintah, dan indikator kesejahteraan multidimensional guna menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan strategi peningkatan kesejahteraan yang lebih efektif.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi dalam penyelesaian penelitian ini. Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada para petani kelapa sawit di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, yang telah bersedia menjadi informan kunci dan memberikan data serta informasi yang sangat berharga bagi penelitian ini. Selain itu, apresiasi disampaikan kepada instansi dan pihak terkait yang telah membantu dalam penyediaan data pendukung serta kelancaran pelaksanaan penelitian di lapangan. Tidak lupa, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan rekan-rekan yang telah memberikan dukungan moral dan motivasi, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta menjadi bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit.[10]
Y. Fauzi, Y. E. Widyastuti, I. Satyawibawa, and R. Hartono, Kelapa Sawit: Budi Daya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisis Usaha dan Pemasaran, Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Penebar Swadaya, 2008.
B. Krisnamurthi, Ekonomi Kelapa Sawit. Bogor, Indonesia: IPB Press, 2017.
T. Mardikanto, Sistem Penyuluhan Pertanian. Surakarta, Indonesia: UNS Press, 2018.
I. Jelsma, G. C. Schoneveld, A. Zoomers, and A. C. M. van Westen, “Unpacking Indonesia’s Independent Oil Palm Smallholders: An Actor-Disaggregated Approach to Identifying Environmental and Social Performance Challenges,” Land Use Policy, vol. 69, pp. 281–297, Dec. 2017, doi: https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2017.08.012.
L. S. Woittiez, M. T. van Wijk, M. Slingerland, M. van Noordwijk, and K. E. Giller, “Yield Gaps in Oil Palm: A Quantitative Review of Contributing Factors,” European Journal of Agronomy, vol. 83, pp. 57–77, Feb. 2017, doi: https://doi.org/10.1016/j.eja.2016.11.002.
S. Anantanyu, “Kelembagaan Petani: Peran dan Strategi Pengembangan Kapasitasnya,” vol. 7, no. 2, pp. 102–109, 2011, doi: https://doi.org/10.20961/sepa.v7i2.48895.
J. H. V. Purba and T. Sipayung, Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit. Jakarta, Indonesia: Penebar Swadaya, 2021.
A. Syahza, “Percepatan Ekonomi Pedesaan melalui Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit,” Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan, vol. 12, no. 2, pp. 297–310, 2011, doi: https://doi.org/10.23917/jep.v12i2.200.
L. Rist, L. Feintrenie, and P. Levang, “The Livelihood Impacts of Oil Palm: Smallholders in Indonesia,” Biodiversity and Conservation, vol. 19, no. 4, pp. 1009–1024, 2010, doi: https://doi.org/10.3929/ethz-b-000016972.
Badan Pusat Statistik, Ed., Indikator Pertanian Nasional dan Nilai Tukar Petani. Jakarta, Indonesia: Badan Pusat Statistik, 2023.
I. Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25, 9th ed. Semarang, Indonesia: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2018.
M. Rachmat, “Nilai Tukar Petani: Konsep, Pengukuran dan Relevansinya sebagai Indikator Kesejahteraan Petani,” Forum Penelitian Agro Ekonomi, vol. 31, no. 2, pp. 111–122, 2013, doi: https://doi.org/10.21082/fae.v31n2.2013.111-122.
A. Sefrian and Q. Atikah, “Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Desa Sumber Bakti Kabupaten Nagan Raya,” Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, vol. 8, no. 1, pp. 1–12, 2024, doi: https://doi.org/10.32585/ags.v8i1.4995.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 2nd ed. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.
R. Hanafie, Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Andi, 2010.
I. Pahan, Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta, Indonesia: Penebar Swadaya, 2018.
C. B. Barrett, T. Reardon, and P. Webb, “Nonfarm Income Diversification and Household Livelihood Strategies in Rural Africa: Concepts, Dynamics, and Policy Implications,” Food Policy, vol. 26, no. 4, pp. 315–331, 2001, doi: https://doi.org/10.1016/S0306-9192(01)00014-8.
F. Ellis, Rural Livelihoods and Diversity in Developing Countries. Oxford, United Kingdom: Oxford University Press, 2000.
R. Khlifa, D. A. Angers, and A. D. Munson, “Understory Species Identity Rather than Species Richness Influences Fine Root Decomposition in a Temperate Plantation,” Forests, vol. 11, no. 10, pp. 1–13, Oct. 2020, doi: https://doi.org/10.3390/f11101091.
M. P. Todaro and S. C. Smith, Economic Development, 12th ed. Harlow, England: Pearson Education Limited, 2015.