Firdaus Adityaputra (1), Istikomah (2)
General Background Quranic education constitutes a fundamental framework within Islamic pedagogy for shaping students' spiritual and moral character. Specific Background SDIT Ar-Rahmah Surabaya formally integrates a specialized phonetics-based approach to systematically structure its scripture programs alongside the national academic curriculum. Knowledge Gap Although previous research extensively covers recitation techniques and non-formal institutional applications, comprehensive qualitative analyses detailing the systemic administrative execution of this approach specifically within formal integrated primary schools remain limited. Aims This study analyzes the systemic execution of scripture instructional administration across planning, organizing, execution, and evaluation phases at SDIT Ar-Rahmah Surabaya. Results Employing a qualitative case study utilizing interviews, observation, and documentation, findings reveal a highly structured administrative cycle. Planning involves strategic target restructuring based on annual evaluations to accelerate reading proficiency. Organizing strictly separates coordinator and educator roles while maintaining a proportional teacher-student ratio. Execution adaptively follows seven standard pedagogical stages. Furthermore, evaluation incorporates layered internal and external supervision to ensure continuous quality control. Novelty This research distinctly isolates the administrative adaptation of this specific pedagogical framework within a formal primary school, highlighting competence-based organizing and layered quality assurance mechanisms. Implications Educational institutions can replicate this structured administrative model to optimize scripture programs and ensure continuous pedagogical quality.
Highlights:
Strategic planning restructures academic targets to accelerate student reading proficiency within three years.
Organizing separates coordinator and teaching roles to maintain an optimal educator-to-student ratio.
Layered internal and external supervision ensures rigorous quality control throughout the instructional process.
Keywords: Educational Innovation, Pedagogical Strategy, Quality Control, Islamic Primary School, Instructional Supervision
Pendidikan Al-Qur'an merupakan landasan utama dalam kerangka pendidikan Islam, yang secara signifikan mempengaruhi perkembangan agama, etika, dan spiritual pelajar. Dalam evolusi pedagogi Islam kontemporer, ruang lingkup pendidikan Quran telah berkembang melampaui kemahiran semata dalam keterampilan membaca dasar, meliputi penguasaan tajwid, pemahaman makna, dan hafalan sistematis ayat-ayat Quran.[1] Di banyak negara mayoritas Muslim, inisiatif tahfidz Quran telah mulai diasimilasi ke dalam struktur pendidikan formal sebagai pendekatan strategis untuk meningkatkan literasi agama kaum muda sambil secara bersamaan melestarikan tradisi ilmiah Islam yang telah bertahan selama berabad-abad. Ini menegaskan bahwa kecerundungan pendidikan Al-Qur'an memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter dan identitas agama siswa dalam menghadapi transformasi sosial yang semakin rumit. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penguatan literasi Al-Qur’an sejak usia dini dapat mengembangkan kesadaran agama yang signifikan, mengenalkan disiplin akademis, serta memfasilitasi pengembangan karakter dan moral siswa yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, pengembangan model pembelajaran Al-Qur’an yang efektif dan sistematis menjadi kebutuhan penting dalam konteks pendidikan Islam modern. [2][3]
Dalam konteks global, evolusi metodologi untuk pendidikan Al-Qur'an menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam praktik-praktik inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Berbagai strategi pedagogis telah dirumuskan untuk memfasilitasi pemahaman siswa tentang teks-teks Quran dengan cara yang lebih mudah diakses dan sistematis, mencakup teknik berbasis fonetik, metodologi talaqqi, serta pendekatan yang didasarkan pada pembelajaran berulang. Pergeseran metode pendidikan ini telah dibentuk secara signifikan oleh munculnya teori pendidikan kontemporer yang menggarisbawahi pentingnya konsep konstruktivis, partisipatif, dan kontekstual dalam pembelajaran. Dalam kerangka teori yang ada, Al-Qur'an tidak hanya dianggap sebagai usaha dalam pengembangan keagamaan saja, akan tetapi juga sebagai proses pendidikan yang memerlukan strategi pengajaran yang tepat, efektif dan sistematis. Studi terkait dalam bidang pendidikan Islam menunjukkan bahwa kemajuan dan keberhasilan pembelajaran Al-Qur'an sangat dipengaruhi oleh teknik pedagogis yang digunakan, kompetensi pendidik, dan sistem manajemen pembelajaran yang diterapkan dalam lembaga pendidikan.[4][5]
Di Indonesia, perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an semakin meningkat seiring dengan berkembangnya lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan program tahfidz dalam kurikulum sekolah. Sekolah Islam terpadu menjadi salah satu model lembaga pendidikan yang secara aktif menggabungkan pendidikan akademik dengan pembinaan keagamaan, termasuk pembelajaran Al-Qur’an.[6] Program tahfidz Al-Qur’an di sekolah-sekolah tersebut umumnya dirancang sebagai bagian dari kurikulum yang memiliki target hafalan tertentu sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Keberadaan program tahfidz di sekolah dasar menjadi strategi penting dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan karakter siswa.[7]
Kendatipun demikian, implementasi program tahfidz di lembaga pendidikan formal tidak terlepas dari berbagai hambatan dan tantangan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Salah satu permasalahan yang sering sekali muncul ialah keterbatasan waktu pembelajaran sekolah, dikarenakan harus menyeimbangkan antara kurikulum akademik umum dan nasional dengan program tahfidz yang memiliki target – target tertentu. Selain itu, kompetensi siswa dalam menghafal Al-Qur’an juga sangat variatif sehingga sangat membutuhkan strategi pendekatan pembelajaran yang adaptif dan diferensiatif. Kondisi ini menuntut lembaga pendidikan untuk memiliki sistem manajemen pembelajaran yang efektif agar program tahfidz dapat berjalan secara optimal. Tanpa pengelolaan yang baik, program tahfidz berpotensi mengalami berbagai kendala seperti ketidaksesuaian target hafalan, lemahnya sistem evaluasi, serta kurangnya koordinasi antar guru dalam proses pembelajaran.[8][9]
Dalam perspektif manajemen pendidikan, kesuksesan sebuah program pembelajaran tidak ditentukan dengan hanya kualitas materi yang diajarkan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kecakapan lembaga pendidikan dalam mengelola dan mengatur berbagai sumber daya secara efektif, efisien, dan berkesinambungan. Pengelolaan tersebut mencakup sarana dan prasarana, sumber daya manusia, pengaturan waktu pembelajaran, serta strategi pengajaran yang digunakan dalam proses pendidikan. Manajemen pendidikan merupakan suatu proses sistematis yang melibatkan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, serta evaluasi guna mencapai tujuan pendidikan secara optimal.[10] Melalui manajemen yang terarah dan terukur, lembaga pendidikan dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, terstruktur, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hasil belajar siswa.[11]Dalam pembahasan program tahfidz Al-Qur’an, manajemen pembelajaran memiliki posisi yang sangat penting dikarenakan proses menghafal Al-Qur’an menuntut kedisiplinan, konsistensi serta metode pembelajaran yang tepat sasaran dan berkesinambungan. Program tahfidz tidak hanya berkaitan dengan kecepatan dan kemampuan siswa dalam menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga melibatkan pengelolaan waktu yang efektif dan efisien, pembinaan motivasi belajar siswa, serta pengawasan terhadap kualitas dan ketepatan hafalan yang dihasilkan.[12]
Salah satu metode pembelajaran Al-Qur’an yang berkembang dan banyak diterapkan di berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia adalah metode Ummi. Metode ini dirancang sebagai sebuah sistem pembelajaran membaca Al-Qur’an yang menekankan pada pendekatan bahasa ibu (mother tongue approach) dengan tujuan memudahkan siswa dalam memahami dan melafalkan bacaan Al-Qur’an secara lebih alami, bertahap, dan sistematis. Dalam penerapannya, metode Ummi menggunakan sistem pembelajaran yang terstruktur dan ketat, di mana tahapan-tahapan pengajaran disusun secara runut, sistematis dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik. Disamping itu, metode ini juga memadukan proses evaluasi yang menyeluruh untuk memastikan dan memantau perkembangan kemampuan membaca dan hafalan Al-Qur’an para peserta didik. Pendekatan ini mementingkan pembacaan yang tepat dan lancar (tartil) melalui pengulangan secara terus menerus, penguatan yang konsisten, serta pengawasan yang ketat dari guru, sehingga kualitas dan ketepatan pembacaan para siswa tetap terjaga. [13][14]
Selain menekankan pada aspek teknis membaca Al-Qur’an, metode Ummi juga memiliki sistem mutu pembelajaran yang dirancang secara komprehensif. Sistem mutu tersebut meliputi standar kompetensi guru, standar materi pembelajaran, serta standar evaluasi yang bertujuan untuk menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan. Dalam implementasinya, metode Ummi tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar, tetapi juga menekankan pembentukan karakter religius siswa melalui proses pembelajaran yang disiplin dan berkesinambungan. Meskipun demikian, penerapan metode Ummi dalam program tahfidz di lingkungan pendidikan formal memerlukan kerangka kerja manajemen yang terorganisir dengan baik guna memastikan proses pembelajaran berjalan secara efektif. Program-program semacam itu membutuhkan perancangan kurikulum yang sistematis, peran guru yang jelas, serta pendekatan yang konsisten dalam menilai kemajuan hafalan siswa. Tanpa adanya praktik manajemen yang baik, bahkan metode pengajaran yang sangat efektif pun akan kesulitan mencapai hasil belajar yang optimal.[15][16]
SDIT Ar-Rahmah Surabaya merupakan salah satu sekolah dasar Islam yang menggunakan metode UMMI untuk mengajar Al-Qur’an dan tahfidz secara teratur dan terarah. Metode ini tidak hanya digunakan di kelas, tetapi juga dalam pengelolaan sekolah secara keseluruhan. Semua ini membuat SDIT Ar-Rahmah menjadi salah satu sekolah model yang dibina oleh UMMI Foundation, karena sekolah ini dapat memenuhi standar manajemen yang telah ditetapkan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran Al-Qur’an. Selain itu, perkembangan sekolah ini juga sangat baik, terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas siswa yang mengikuti program tahfidz. Salah satu contoh keberhasilan sekolah ini adalah kemampuan mereka untuk mempersiapkan lebih dari 100 siswa untuk mengikuti ujian munaqosyah dalam satu kali pelaksanaan. Ini menunjukkan bahwa sekolah ini memiliki manajemen pembelajaran yang efektif dan konsisten dalam membina hafalan Al-Qur’an. SDIT Ar-Rahmah dengan metode UMMI ini benar-benar membantu siswa untuk belajar Al-Qur’an dan tahfidz dengan baik.
Walaupun telah banyak penelitian yang mengkaji manajemen tahfidz, masih terdapat gap yang belum terjawab, salah satunya terkait implementasi manajemen di sekolah dasar islam terpadu. Penelitian oleh Arindo Cahyo Kuncoro menyoroti kemampuan membaca dan hafalan siswa serta implementasi manajemen metode UMMI di SD Muhammdiyyah Wirobrajan II, hasil penelitan tersebut menyatakan bahwa kelancaran hafalan siswa meliputi 3 aspek(kelancaran bacaan, ketepatan kaidah dan kesesuaian makhraj) sedangkan implementasi metode UMMI sudah cukup baik dilaksanakan, tanpa ada kajian implementasi manajemen secara mendalam.[17]
Penelitian lain oleh Mohamad Ghozi berfokus pada penerapan metode UMMI dalam pembelajaran tahfidz di SMPIT Permata Mojokerto dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode ummi pembelajaran takhfidz dilakukan dengan sistematis menggunakan pendekatan fokus pada pembiasaaan membaca, pengenalan makhrojul, pengulangan serta pendampingan intensif dari guru. Penelitian ini berfokus pada siswa SMPIT sehingga dinamika pembelajaran antara siswa SMPIT dan SDIT pasti sangatlah berbeda meskipun menggunakan metode yang sama.[18]
Penelitian lain oleh Atiq Alawiyah tentang implementasi manajemen metode ummi di lembaga non formal yaitu Panti asuhan Tahfidzul Quran yatim piatu Muhammadiyyah Belegondo Ngariboyo Magetan. hasil penelitian ini menjelaskan keberhasilan pembelajaran kegiatan tahfidz menggunakan rancangan standar UMMI dan pemberian reward kepada siswa. Meskipun demikian implementasi lembaga non formal dan formal memiliki dinamika serta struktur manajemen dan karakteristik peserta didik dan lingkungan yang berbeda.[19] Beberapa penelitian sebelumnya belum ada yang membahas secara mendetail dan sistematis terkait implementasi manajemen metode ummi di sekolah dasar islam terpadu. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran secara tepat terhadap praktik manajemen tahfidz pada salah satu sekolah dasar Islam di Surabaya, termasuk didalamnya standardisasi metode, pembinaan guru, serta manajemen kelas
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara rinci implementasi manajemen program tahfidz Al-Qur’an metode Ummi di SDIT Ar-Rahmah Surabaya, terkhusus dalam aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, supervisi, serta evaluasi program tahfidz. Harapan dari penelitian ini ialah memberikan jawaban terhadap strategi manajerial Tahfidz di Sekolah terkhusus pada sekolah Islam Terpadu. Temuan penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi dan gambaran model manajemen tahfidz yang dapat direplikasi oleh sekolah Islam lainnya, sehingga mampu meningkatkan mutu program tahfidz di Indonesia. Dengan begitu, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi secara teoretis terhadap kajian manajemen pendidikan Islam, tetapi juga kontribusi secara praktis bagi lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan program tahfidz yang bermutu dan berkesinambungan.
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menganalisis penerapan manajemen pembelajaran Al-Quran metode Ummi di SDIT Ar Rahmah Surabaya. Studi kasus dipilih karena memberi kesempatan kepada peneliti untuk memahami secara mendalam, menyeluruh, dan kontekstual bagaimana manajemen pembelajaran Al-Quran metode Ummi dirancang, dilaksanakan, dan dinilai di SDIT Ar-Rahmah Surabaya. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mendeskripsikan secara mendalam proses manajerial pembelajaran di SDIT Ar-Rahmah, sehingga dapat memberikan wawasan yang komprehensif dan mendetail mengenai penerapan metode tersebut di satu satuan pendidikan.[20], [21]
Lokasi penelitian ini dilakukan di SDIT Ar-Rahmah Surabaya dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapat melalui informasi langsung para informan seperti koordinator Qur’an, kepala sekolah dan beberapa guru Tahfidz. Para subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling memilih berdasarkan kriteria yaitu memiliki perananan langsung dalam manajerial pembelajaran. Peneliti juga menggunakan snowball sampling melalui rekomendasi informan utama untuk mendapatkan data primer tambahan yang relevan. Untuk data sekunder didapat melalui informasi dan data tidak langsung seperti jurnal pendidikan, makalah maupun karya ilmiah lainnya.
Pengumpulan data penelitian ini menggunakan tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran secara langsung mengenai kondisi di lapangan, observasi yang dilakukan meliputi tersedianya fungsi – fungsi manajemen yang ada adapun wawancara digunakan untuk mengumpulkan informasi dari para informan yang sesuai dan relevan dengan fokus penelitian seperti kepala sekolah, koordinator Qur’an dan pengampu tahfidz. Kedua teknik utama tersebut dilengkapi oleh dokumentasi sebagai data pelengkap. Dokumentasi meliputi pendataan dokumen dan pendataan kegiatan. Proses analisis data merujuk pada model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahapan reduksi data, peneliti melakukan pemilahan dan memfokuskan pada data yang dipeloreh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah diseleksi dan direduksi kemudian disusun dalam bentuk narasi deskriptif serta diklasifikasikan berdasarkan teori kontenporer untuk mempermudah proses pemaparan. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian berlangsung. Adapun validitas data dijaga melalui penerapan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.[22]
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen pembelajaran tahfidz metode UMMI di SDIT Ar-Rahmah Surabaya dilaksanakan secara sistematis melalui empat fungsi utama manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat fungsi ini tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling terintegrasi dalam satu sistem yang utuh dan berkelanjutan. Selain itu, manajemen yang digunakan juga telah sesuai dengan standarisasi yang diterapkan oleh UMMI Foundation, sehingga pelaksanaan pembelajaran tahfidz memiliki arah, mutu, dan mekanisme kontrol yang jelas. Secara konseptual, temuan ini menguatkan teori manajemen pendidikan yang dikemukakan oleh George R. Terry mengenai pentingnya siklus POAC (planning, organizing, actuating, controlling) dalam mencapai efektivitas organisasi pendidikan. Implementasi yang terstruktur ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tahfidz tidak hanya bergantung pada metode, tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana metode tersebut dikelola secara profesional. Sejalan dengan penelitian Hernawan dan Muthoifin yang mengungkapkan bahwa metode UMMI memang dirancang berbasis sistem mutu, sehingga keberhasilan implementasinya sangat dipengaruhi oleh konsistensi penerapan fungsi manajemen tersebut di tingkat lembaga.[23]
Temuan lain juga menunjukkan bahwa Melalui penerapan manajemen pembelajaran yang terstruktur dan perombakan target capaian hafalan, program tahfidz di SDIT Ar-Rahmah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Upaya ini berdampak pada meningkatnya prestasi sekolah, terutama dalam jumlah peserta didik yang mampu mengikuti ujian munaqosyah. Jika pada tahun sebelumnya hanya sekitar 50 siswa dari total kurang lebih 200 siswa yang mengikuti munaqosyah dalam satu semester, maka pada tahun ajaran ini peningkatan terlihat secara nyata. Pada semester pertama saja, sekolah telah berhasil mengikutsertakan 102 siswa dari total sekitar 200 siswa untuk mengikuti munaqosyah hafalan 1 juz s/d 2 juz (juz 30 dan 29). Peningkatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pembelajaran yang sistematis, disertai penyesuaian target yang lebih efektif dan terukur, mampu mendorong optimalisasi kemampuan hafalan siswa dan meningkatkan mutu program tahfidz secara keseluruhan. secara singkat, hasil penelitian disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Meningkatkan mutu program tahfidz
Perencanaan strategis dalam pembelajaran Al-Qur’an merupakan tahapan krusial yang menentukan arah, target, serta keberhasilan program pendidikan secara keseluruhan. Dalam perspektif manajemen pendidikan modern, perencanaan tidak hanya berfungsi sebagai proses administratif, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memastikan keselarasan antara tujuan institusi dan kebutuhan peserta didik.[24] Perencanaan dalam metode UMMI menekankan pada penyusunan target pembelajaran yang terukur, berbasis jenjang, serta disusun secara sistematis sebelum tahun ajaran dimulai.[25] Selain itu, dalam standar mutu yang ditetapkan oleh UMMI Foundation, perencanaan juga mencakup penetapan target mutu pembelajaran Al-Qur’an yang jelas, keberadaan koordinator khusus sebagai penanggung jawab program, kewajiban sertifikasi guru Al-Qur’an, serta pengaturan rasio guru dan siswa yang proporsional agar proses pembelajaran berjalan efektif dan terkontrol. Hal ini diperkuat oleh penelitian Luthfanie yang menyatakan bahwa keberhasilan program tahfidz sangat dipengaruhi oleh kualitas perencanaan yang berbasis evaluasi program sebelumnya, sehingga memungkinkan adanya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).[26]
Kemudian, dalam pembahasan pengembangan kurikulum tahfidz, pendekatan berdasarkan data menjadi salah satu indikator utama dalam perencanaan yang efektif dan efisien. Integrasi antara evaluasi tahunan diakhir tahun ajaran dan perencanaan program baru sebelum tahun ajar memungkinkan lembaga untuk merealisasikan inovasi – inovasi kebutuhan nyata yang terjadi dilapangan. Hal ini juga sejalan dengan konsep evidence-based planning dalam teori pendidikan, di mana kebijakan strategis dapat diputuskan berdasarkan hasil evaluasi empiris, bukan sekadar asumsi normatif belaka. Dengan demikian, perencanaan dalam metode UMMI tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan adaptif terhadap perubahan kondisi siswa, kebijakan lembaga, serta tuntutan capaian pembelajaran Al-Qur’an yang semakin tinggi.[27]
Berdasarkan temuan lapangan, perencanaan pembelajaran tahfidz di SDIT Ar-Rahmah Surabaya melibatkan koordinator Quran dan kepala sekolah sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan strategis. Perencanaan dilakukan pada akhir tahun ajaran dengan mengacu pada hasil evaluasi tahunan, sehingga program yang dirancang benar-benar berbasis kebutuhan dan refleksi dari pelaksanaan sebelumnya. Salah satu hasil penelitian penting adalah adanya perombakan dan perubahan pada target hafalan melalui perpecapatan atau perampingan durasi penyelesaian jilid dari enam tahun menjadi tiga tahun saja, khususnya pada kelas 1 hingga kelas 3. Kebijakan ini mencerminkan adanya fokus pada percepatan prose pembelajaran, yang tidak hanya berfokus pada peningkatkan capaian hafalan, tetapi juga efisiensi waktu belajar siswa dalam menyelesaikan tahapan membaca Al-Qur’an metode UMMI.
Selain itu, perencanaan juga meliputi strategi diferensiasi pembelajaran dengan pembentukan kelas percepatan bagi siswa selain kelas 1 atau kelas 2–5 agar dapat menyesuaikan dengan capaian target baru. Proses ini didukung dengan pelaksanaan placement test di awal pembelajaran untuk mengklasifikasikan kemampuan siswa secara objektif, dan juga memudahkan pengampu atau guru Tahfidz dalam menyesuaikan target yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah dan koordinator Quran. Temuan lain menunjukkan bahwa seluruh pengampu Al-Qur’an diwajibkan memiliki sertifikasi resmi dari UMMI Foundation sebagai bentuk standarisasi kualitas sejak tahap perencanaan. Bagi guru yang belum memiliki sertifikasi, lembaga memberikan dukungan penuh baik secara finansial maupun moral agar dapat menyelesaikan proses sertifikasi tersebut. Di samping itu, pengaturan rasio guru dan siswa yang proporsional juga menjadi bagian penting dalam perencanaan untuk memastikan efektivitas pembelajaran, intensitas bimbingan, serta ketercapaian target hafalan dan bacaan Al-Qur’an secara optimal. Dengan demikian, perencanaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada target akademik, tetapi juga mencakup kesiapan sumber daya manusia, sistem koordinasi, serta strategi implementasi yang terukur, sehingga mencerminkan perencanaan strategis yang komprehensif dan berbasis mutu.
Pengorganisasian dalam pembelajaran tahfidz merupakan proses penataan sumber daya manusia dan sistem kerja untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Dalam teori manajemen pendidikan, pengorganisasian berbasis kompetensi menjadi pendekatan yang sangat relevan, terutama dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an yang menuntut keahlian khusus. Efektivitas metode UMMI sangat ditentukan oleh kualitas guru yang memiliki kompetensi pedagogik dan kemampuan tilawah yang terstandarisasi. Kemudian pembagian tugas yang jelas serta penempatan guru sesuai kompetensi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.[28]
Selain itu, konsep pengorganisasian yang fleksibel berfokus pada adaptasi struktur organisasi dalam menanggapi kebutuhan siswa. Dalam hal ini, urgensi keberadaan koordinator program tahfidz menjadi sangat vital sebagai penghubung antara kebijakan lembaga dan implementasi di kelas. Peran koordinator dalam program tahfidz bukan hanya sebagai administrator saja, akan tetapi juga sebagai supervisor akademik yang memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan sesuai standar dan peraturan. Dengan demikian, pengorganisasian yang efektif tidak hanya ditandai dengan struktur yang jelas, tetapi juga dengan adanya mekanisme koordinasi dan pengawasan yang berkelanjutan[29].
Sejalan dengan hal tersebut, UMMI Foundation menetapkan standar pengorganisasian yang menekankan bahwa koordinator Qur’an tidak merangkap sebagai guru Al-Qur’an agar fungsi koordinasi, supervisi, dan pengawasan dapat berjalan lebih optimal dan terfokus. Pemisahan tugas ini menunjukkan adanya pembagian kerja yang profesional sehingga koordinator dapat lebih maksimal dalam mengontrol kualitas pembelajaran, melakukan evaluasi, serta memastikan ketercapaian target program. Selain itu, standar lain yang diterapkan adalah setiap satu guru maksimal mengampu sepuluh siswa dalam satu sesi pembelajaran. Ketentuan ini bertujuan untuk menjaga efektivitas interaksi antara guru dan siswa sehingga proses talaqqi, muroja’ah, maupun pembinaan bacaan Al-Qur’an dapat dilakukan secara lebih intensif dan terarah. Rasio yang proporsional tersebut juga memungkinkan guru memberikan perhatian yang lebih mendalam terhadap kemampuan individual siswa.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian pembelajaran tahfidz di SDIT Ar-Rahmah Surabaya dilakukan secara adaptif dan berbasis kompetensi. Koordinator Quran menjadi penanggung jawab utama seluruh kegiatan pembelajaran tahfidz dan berada di bawah pengawasan langsung kepala sekolah. Struktur ini menekankan adanya garis koordinasi yang jelas serta sistem kontrol yang saling terhubung. Kemudian, para guru atau pengampu dibagi menjadi dua kategori, yaitu guru senior dan junior, ini mencerminkan adanya spesialisasi kompetensi dalam pengelolaan pembelajaran. Pembagian ini tidak hanya bertujuan untuk efektivitas pengajaran, tetapi juga sebagai bentuk mentoring internal antar guru atau pengampu.
Selain itu, setiap pengampu atau guru diberikan tanggung jawab untuk mengampu dua kelas dalam sesi yang berbeda yaitu sesi pertama pada pukul 08.00 pagi dan sesi kedua pada pukul 12.30 atau setelah sholat dhuhur, sehingga memungkinkan adanya pemaksimalan sumber daya manusia tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Penentuan kelas dilakukan berdasarkan kemampuan individu siswa yang mana sudah ditentukan sejak placement test diawal, ini menunjukkan bahwa pengorganisasian tidak hanya berfokus pada guru, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, sistem pengorganisasian yang diterapkan mencerminkan keseimbangan antara efisiensi dan kualitas, serta menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kompetensi mampu mendukung keberhasilan implementasi metode UMMI secara optimal.
Pelaksanaan pembelajaran tahfidz Al-Qur’an merupakan tahapan implementatif yang sangat menentukan keberhasilan keseluruhan proses manajemen pembelajaran, karena pada tahap ini seluruh perencanaan dan pengorganisasian diuji dalam praktik nyata di kelas. Dalam perspektif manajemen pendidikan, pelaksanaan pembelajaran tidak hanya terbatas pada aktivitas penyampaian materi, melainkan mencakup strategi pedagogis yang sistematis, pengelolaan interaksi belajar, serta konsistensi terhadap standar metode yang telah ditetapkan. Pendekatan metode UMMI menekankan pentingnya sistem pembelajaran yang terstruktur dan berjenjang melalui tahapan yang berulang dalam setiap pertemuan, mulai dari kegiatan awal hingga penutup, yang dirancang untuk memastikan ketercapaian kompetensi membaca dan menghafal Al-Qur’an secara optimal. Konsistensi dalam penerapan tahapan tersebut menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas pembelajaran dan keberhasilan program tahfidz.[28], [30] Selain itu, aspek ketepatan tajwid, kefasihan bacaan, serta pencapaian target hafalan menjadi indikator utama yang terus dikontrol dalam setiap proses pembelajaran, sehingga pelaksanaan tidak bersifat fleksibel tanpa arah, melainkan tetap berada dalam koridor standar mutu yang jelas.
Selain itu, UMMI Foundation menetapkan standar pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an yang mewajibkan setiap pertemuan dilaksanakan sesuai tujuh tahapan pembelajaran UMMI secara tepat dan sistematis. Standar ini diterapkan untuk menjaga konsistensi proses belajar agar berlangsung terarah, bertahap, dan sesuai dengan capaian kompetensi yang diharapkan. Setiap tahapan pembelajaran memiliki peran yang saling mendukung, mulai dari kegiatan awal, penyampaian materi, latihan bacaan dan hafalan, hingga evaluasi serta penutupan pembelajaran. Kemudian, pelaksanaan pembelajaran juga diarahkan pada penuntasan materi sesuai target masing-masing siswa yang diampu guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi secara klasikal, tetapi juga menekankan ketercapaian kemampuan individu peserta didik sesuai target jilid maupun hafalan yang telah ditentukan. Dengan demikian, guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap siswa memperoleh pendampingan belajar yang optimal sehingga perkembangan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an dapat tercapai secara maksimal.
Di sisi lain, pelaksanaan pembelajaran tahfidz juga perlu mempertimbangkan pendekatan pedagogi yang adaptif terhadap karakteristik peserta didik yang beragam. Proses pembelajaran tidak dapat dilakukan secara seragam karena setiap siswa memiliki kemampuan, kecepatan belajar, serta latar belakang yang berbeda, sehingga diperlukan fleksibilitas dalam penerapan metode agar pembelajaran tetap efektif dan inklusif[21]. Selain itu, efektivitas pelaksanaan juga sangat dipengaruhi oleh pengelolaan waktu yang proporsional, intensitas latihan yang konsisten, serta kesinambungan antar sesi pembelajaran [31]. Dalam pembahasan metode UMMI, pengulangan atau drilling menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat kemampuan mengingat siswa terhadap hafalan Al-Qur’an. Dengan begitu, Implementas pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi secara kognitif, tetapi juga pada pembiasaan belajar yang disiplin, terstruktur, dan berkelanjutan, sehingga mampu mencapai target capaian hafalan yang berkualitas dalam jangka panjang.
Berdasarkan temuan di lapangan, Implementasi pembelajaran tahfidz di SDIT Ar-Rahmah Surabaya tetap mengacu pada standar UMMI Foundation, khususnya dalam penggunaan tahapan – tahapan pembelajaran. Namun, terdapat beberapa penyesuaian pada bagian pembukaan dan penutupan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi kelas dan misi sekolah. Waktu pelaksanaan dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi pukul 08.00–09.00 untuk kelas kecil (kelas 1–3) dan sesi siang pukul 12.30–13.30 untuk kelas besar (kelas 4–6). Pembagian ini mengindikasikan adanya penilaian pedagogis terkait kondisi serta konsentrasi siswa pada waktu tertentu.
Selain itu, pengelompokan kelas berdasarkan jenjang (junior dan senior) menandakan yaitu pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara berjenjang dan terstuktur. Meskipun metode yang digunakan sama setiap gurunya, guru tetap diberikan ruang untuk menyesuaikan dan mengeskplorasi gaya dan cara pendekatan dengan kebutuhan siswa di kelas. Dalam hal ini menunjukkan bahwa implementasi metode UMMI di SDIT Ar-Rahmah tidak bersifat rigid atau kaku, melainkan adaptif dan kontekstual. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran tidak hanya mengikuti prosedur baku, tetapi juga mempertimbangkan efektivitas proses belajar siswa secara keseluruhan.
Evaluasi dan supervisi dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an merupakan bagian integral dari sistem penjaminan mutu pendidikan yang berfungsi untuk memastikan bahwa seluruh proses pembelajaran berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Evaluasi tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa capaian hafalan siswa, tetapi juga mencakup proses pembelajaran yang berlangsung di kelas serta kinerja pengajar dalam menyampaikan materi. Dalam kerangka metode UMMI, sistem evaluasi dirancang secara komprehensif dan berlapis, dimulai dari evaluasi harian hingga evaluasi eksternal yang melibatkan lembaga otoritatif, sehingga mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kualitas pembelajaran yang berlangsung [32] Selain itu, kegiatan supervisi menjadi instrumen penting dalam menjaga konsistensi penerapan metode di lapangan melalui observasi kelas, pembinaan guru, serta monitoring terhadap implementasi standar pembelajaran[33]. Dengan demikian, evaluasi dan supervisi tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai mekanisme untuk menjaga stabilitas mutu pembelajaran secara berkelanjutan.
Selain itu, UMMI Foundation juga menetapkan sistem evaluasi dan supervisi yang dilakukan secara internal maupun eksternal sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an secara berkelanjutan. Evaluasi internal meliputi supervisi dan pembinaan yang dilakukan oleh koordinator terhadap guru pengampu, serta pelaksanaan tes kenaikan jilid dan surat yang diuji langsung oleh koordinator Quran. Sistem ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan sesuai standar metode UMMI serta target kemampuan siswa dapat tercapai secara optimal. Di samping itu, evaluasi eksternal dilaksanakan melalui supervisi lembaga oleh tim UMMI Foundation, pembinaan guru dan koordinator oleh tim UMMI Foundation, serta pelaksanaan munaqosyah siswa yang diuji langsung oleh penguji dari UMMI Foundation. Keterlibatan pihak eksternal dalam proses evaluasi menunjukkan adanya mekanisme kontrol mutu yang objektif dan terstandarisasi sehingga kualitas pembelajaran dapat dipantau secara menyeluruh, baik dari aspek pengelolaan program, kompetensi guru, maupun capaian kemampuan siswa. Dengan demikian, sistem evaluasi dan supervisi yang diterapkan tidak hanya berfungsi sebagai alat penilaian, tetapi juga sebagai sarana pembinaan dan pengembangan mutu pembelajaran tahfidz secara berkesinambungan.
Lebih lanjut, dalam perspektif manajemen pendidikan modern, evaluasi dan supervisi diposisikan sebagai bagian dari siklus peningkatan mutu berkelanjutan atau continuous quality improvement. Proses evaluasi tidak hanya berhenti pada pengukuran, tetapi harus diikuti dengan refleksi dan tindak lanjut yang konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di masa mendatang[34]. Dalam hal ini, supervisi yang efektif tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga harus mampu memberikan umpan balik yang konstruktif bagi guru sebagai dasar untuk pengembangan profesional berkelanjutan.[35] Dengan adanya sistem evaluasi dan supervisi yang terstruktur dan berkesinambungan, lembaga pendidikan dapat memastikan bahwa pembelajaran tahfidz Al-Qur’an tidak hanya mencapai target kuantitatif, tetapi juga memenuhi standar kualitas yang diharapkan, baik dari aspek proses maupun hasil pembelajaran.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran tahfidz di SDIT Ar-Rahmah Surabaya dilaksanakan secara berlapis dan komperehensif. Evaluasi siswa dilakukan pada setiap akhir pertemuan kelas untuk memastikan ketercapaian target harian. Selain itu, terdapat ujian kenaikan jilid yang diuji langsung oleh koordinator Quran, ini menandakan adanya kontrol kualitas internal yang ketat dan berbasis mutu. Evaluasi juga dilakukan melalui kegiatan tasmi’, munaqosyah, dan khatmil Qur’an dengan melibatkan penguji dari UMMI Foundation, sehingga menjamin objektivitas penilaian.
Di sisi lain, evaluasi tidak hanya difokuskan pada siswa saja, akan tetapi juga pada guru melalui supervisi internal yang diampu oleh koordinator tahfidz setiap bulannya dan supervisi eksternal setiap enam bulan sekali yang diampu oleh koordinator UMMI Foundation. Evaluasi tahunan menjadi dasar dan acuan dalam merancang strategi pembelajaran pada tahun ajaran berikutnya, termasuk kebijakan perampingan target yang ditemukan dalam penelitian ini. Dengan demikian, sistem evaluasi yang dilaksanakan mencerminkan pendekatan berbasis mutu yang menyeluruh, mencakup aspek input, proses, dan output, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran tahfidz secara berkesinambungan.
Studi ini menunjukkan bahwa implementasi manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an metode UMMI di SDIT Ar-Rahmah Surabaya dilaksanakan secara sistematis, terstruktur, dan berbasis mutu melalui empat fungsi utama manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta evaluasi dan supervisi pembelajaran. Kami ringkas sebagai berikut
1. Pada aspek perencanaan, lembaga menerapkan perencanaan strategis berbasis evaluasi tahunan dengan melibatkan kepala sekolah dan koordinator Quran dalam penyusunan target, pengembangan program, serta penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan peserta didik.
2. Dalam aspek pengorganisasian, pembagian tugas dilakukan secara adaptif dan berbasis kompetensi melalui pemisahan peran koordinator dan guru, pengelompokan guru senior dan junior, serta pengaturan jumlah siswa yang terbatas dalam setiap sesi pembelajaran.
3. Pada tahap pelaksanaan, pembelajaran dilaksanakan secara terstruktur melalui penerapan tujuh tahapan pembelajaran UMMI dengan tetap memberikan ruang adaptasi bagi guru sesuai karakteristik siswa.
4. Pada aspek evaluasi dan supervisi, lembaga menerapkan evaluasi berlapis melalui supervisi internal dan eksternal, tes kenaikan jilid, munaqosyah, serta pembinaan guru secara berkala.
Implementasi manajemen pembelajaran tahfidz metode UMMI di SDIT Ar-Rahmah Surabaya menunjukkan adanya integrasi antara sistem manajemen pendidikan modern dengan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Oleh karenanya, hasil penelitian ini diproyeksikan sebagai bahan rujukan secara akademik maupun secara praktis bagi pengembangan manajemen pembelajaran tahfidz di berbagai lembaga pendidikan melalui diversifikasi konteks, pendekatan, maupun variabel penelitian pada studi-studi selanjutnya. Dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya bisa dengan meneliti efektivitas penggunanaan manajemen dan metode ini secara komprehensif dan mendalam.
U. Jenal, A. Nabriz, and A. A. Fauzan, “The implementation and principles of Quranic learning using the Tilawati method as the foundation of Islamic thought based on the Quran,” AL-GHAZALI, vol. 2, no. 2, pp. 130–142, 2022.
E. V. Setiawan and E. F. Fahyuni, “Innovative Quranic teaching methods shape moral character in students,” Indones. J. Islam. Stud., vol. 12, no. 4, 2024, doi: 10.21070/ijis.v12i4.1737.
Hikmaturuwaida, Husin, Muyassarah, and A. Rashid, “Implementation of Al-Quran learning on the development of religious and moral values in early childhood,” Int. Conf. Educ. Soc. Sci. Technol., vol. 1, no. 1, pp. 99–108, 2022, doi: 10.55606/icesst.v1i1.173.
D. I. Aditya, M. Dasuki, and H. A. B. Haruna, “The implementation of the Tahsin Binnadhor method in Quranic education at an Islamic boarding school,” IJIBS, vol. 2, no. 2, pp. 145–160, 2024.
A. Basir, “Enhancing Qur’an reading proficiency in madrasahs through teaching strategies,” Nazhruna, vol. 7, no. 2, pp. 373–389, 2024, doi: 10.31538/nzh.v7i2.4985.
M. Nur, “The development of Tahfizd institution and PAI in Indonesia,” TOFEDU, vol. 2, pp. 310–316, 2022.
N. R. Putra and R. Q. Amarullah, “Implementasi program pembiasaan Tahfizul Qur’an dalam membentuk karakter Islami di SDIT Assyafiiyah Kabupaten Garut,” Khidmatussifa, vol. 2, pp. 1–10, 2022, doi: 10.56146/khidmatussifa.v1i3.69.
A. Chusniyah and I. Makruf, “Manajemen kurikulum Tahfidz Al-Qur’an di Kuttab Al Faruq Sukoharjo,” ISLAMIKA, vol. 6, pp. 381–396, 2024, doi: 10.36088/islamika.v6i1.4387.
U. Y. Oktiawati, D. Tarihoran, A. Hamid, C. Dana, and N. P. Solong, “Management of learning Tahfidz Al-Qur’an in Tahfidz House,” El-Hekam, vol. 8, no. 1, p. 13, 2023, doi: 10.31958/jeh.v8i1.8630.
D. R. N. Sibarani, N. Taraigan, Amini, H. P. Meliala, and R. Simanjuntak, “Peran manajemen sumber daya manusia dalam pendidikan,” ALIGNMENT, vol. 6, pp. 84–92, 2023.
R. Pablo-Huamani, W. García-Vásquez, and R. K. Alejandro-Bustamante, “Pedagogical management: The key to enhancing academic performance and educational quality,” 2024, doi: 10.56294/sctconf2024640.
Z. Mustofa and A. Nurulloh, “Optimizing the management of the Tahfidz learning program at NU Islamic Elementary School: Instilling Qur’anic values from an early age,” vol. 4, no. 2, pp. 125–137, 2024.
Sahroni and Ruwandi, “Implementasi metode UMMI dalam pembelajaran Al-Qur’an,” Syntax Idea, vol. 4, no. 12, 2022.
G. Aulia, F. Fadilah, I. Tabroni, and M. Fauzan, “Ummi method in early children learning the Qur’an,” ESA, vol. 1, no. 1, pp. 9–14, 2022.
V. I. Nianti, N. A. Adilah, and A. Prasetyo, “Implementasi metode UMMI dalam program Tahfidzul Qur’an di SD 02 Pucung Lor,” Fondatia, vol. 8, no. 1, pp. 88–97, 2024, doi: 10.36088/fondatia.v8i1.4553.
F. Rozi and T. Qomariyah, “Enhancing madrasah student learning outcomes: Management strategies for boosting learning motivation through spiritual guidance,” MANAGERE, vol. 4, no. 3, pp. 279–289, 2022.
A. C. Kuncoro and A. Febrianto, “Implementasi metode Ummi dalam pembelajaran membaca dan hafalan Al-Qur’an siswa di SD Muhammadiyah Wirobrajan II,” MIDA J. Pendidik. Dasar Islam, vol. 5, no. 1, 2022.
M. Ghozi, “Penerapan metode UMMI dalam pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an pada siswa takhosus di SMPIT Permata Mojokerto,” Pena Islam J. Pendidik. Agama Islam, vol. 8, no. 2, pp. 68–80, 2025.
A. A. Ramadhani and W. Werdiningsih, “Implementasi metode Ummi dalam pembelajaran Tahfidz di Panti Asuhan Tahfidzul Quran Yatim Piatu Muhammadiyah Belegondo Ngariboyo Magetan,” MA’ALIM J. Pendidik. Islam, vol. 3, pp. 21–32, 2022.
E. N. Megawati, S. Jariyah, S. Syaropah, and S. Hafifah, “The implementation of Qur’an learning through the Ummi method at Islamic Kindergarten Widya Cendekia,” IJIE, vol. 1, no. 1, 2022.
R. Umamah and I. Istikomah, “Management of Qur’anic learning through the Ummi method at Muhammadiyah Elementary School,” Pedagog. J. Islam. Elem. Sch., vol. 8, no. 3, pp. 1325–1341, 2025.
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. SAGE Publications, 2018.
D. Hernawan and Muthoifin, “Penerapan metode UMMI dalam pembelajaran Al-Quran,” Profetika, vol. 19, no. 1, pp. 27–35, 2018.
A. S. Rambe, A. Putra, and K. S. Harahap, “Management of Islamic education: The concept of planning reviewed in the verses of the Qur’an,” ALMUFIDA, vol. 8, no. 1, pp. 1–7, 2023.
B. D. Kurniawan, A. Ikhwan, W. Setiawan, and A. Redho, “Improving the quality of Qur’an learning through the Ummi method,” vol. 16, no. 1, pp. 1–13, 2025.
D. Luthfanie, M. Ali, and D. Cahyani, “Manajemen strategi dalam mengatasi kekurangan guru metode UMMI berbasis bahasa ibu di MI Al Ishlah Bobos Cirebon,” vol. 14, no. 1, pp. 180–187, 2026.
Safariah and Masykur, “Strategi Tahfidzul Qur’an di Dayah Ulumul Qur’an Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya,” vol. 5, no. 2, pp. 182–193, 2023.
D. Fefdianti and D. M. Zandra, “Analisis faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an metode UMMI di sekolah dasar Islam,” FATAWA, vol. 5, no. 2, pp. 68–76, 2025.
S. Sulastri, N. A. Wiyani, and A. R. Shafwatul, “Management of Tahfidz Quran programs in shaping elementary students’ character,” El-Tarbawi, vol. 17, no. 1, pp. 41–62, 2024, doi: 10.20885/tarbawi.vol17.iss1.art3.
Kurniawan, S. Shofiyah, and Hadiyan, “Pelaksanaan dakwah melalui program Tahsin Tahfidz metode Ummi di Lembaga Cordova Quran Academy Indonesia,” vol. 19, no. 1, pp. 179–194, 2025.
Damayanty, M. Rezza, N. Rahman, and R. Indrayani, “Pembelajaran Al-Qur’an dan Tahfidz di SMP Fastabiqul Khairat Samarinda: Tinjauan TQM siklus PDCA,” vol. 8, no. 2, pp. 1653–1663, 2025.
T. Achmad, “Manajemen mutu pendidikan Al-Qur’an metode UMMI di SDIT Nur Hikmah Bekasi,” Institut PTIQ Jakarta, 2021.
Ruqoyyah and Wasik, “Supervisi penerapan metode UMMI dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an,” Tarbiyatuna, vol. 8, no. 2, pp. 129–142, 2023.
W. Widodo, A. Azis, and T. Pangarsa, “Implementasi metode Ummi dalam pembelajaran Al-Qur’an bagi remaja di Pondok Pesantren Taman Tahfidzul Qur’an Al Ikhlash Dau, Kabupaten Malang,” vol. 11, no. 36, pp. 105–114, 2026.
I. A. Mubarok and H. Z. Shofa, “Penerapan metode UMMI dalam meningkatkan keterampilan membaca Al-Qur’an bagi anak berkebutuhan khusus di TK Muslimat NU VI Dasuk Pademau Pamekasan,” vol. 11, pp. 288–304, 2024.