Aminuddin (1), Nurdyansyah (2)
General Background Character education requires holistic approaches integrating academic instruction and non-formal activities to instill fundamental moral values within students. Specific Background Madrasah Diniyah Al-Islamiyah utilizes extracurricular activities to embed discipline and responsibility into the behavioral habits of its students. Knowledge Gap Although character development through extracurriculars is widely acknowledged, specific qualitative evaluations detailing the systemic application of quality management strategies within informal religious institutions lacking standardized operating procedures remain under-researched. Aims This study investigates the quality management strategies applied within extracurricular activities at Madrasah Diniyah Al-Islamiyah to foster discipline and responsibility among students. Results Utilizing a descriptive qualitative approach with triangulation, the findings reveal that quality management relies heavily on consistent scheduling, teacher role modeling, and deeply rooted local cultural values emphasizing seniority. Discipline is cultivated through strict adherence to activity rules, while responsibility is developed by delegating specific roles to students. However, the institution faces significant challenges, including a lack of formalized standard operating procedures, a shortage of qualified supervisors, and evaluation methods that focus solely on attendance rather than measurable behavioral development. Novelty This research specifically highlights how strong local socio-cultural frameworks and participatory responsibility models can successfully drive character formation even in the absence of formalized administrative protocols. Implications Educational institutions must systematically formalize evaluation rubrics and establish standardized operating procedures to reliably measure and sustain extracurricular character development programs.
Highlights:
Extracurricular discipline is effectively cultivated through consistent scheduling and the habituation of activity rules.
Delegating specific roles to students successfully fosters individual accountability and social responsibility.
The absence of formalized evaluation rubrics limits the systematic measurement of long-term character development.
Keywords: Educational Quality Innovation, Extracurricular Activities, Character Formation, Student Discipline, Social Responsibility
Pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik, tetapi juga bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian dan karakter yang kuat. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembentukan manusia secara utuh, baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik[1]. Dalam konteks pendidikan islam, karakter seperti kedisiplinan dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai fundamental yang mendukung tumbuhnya insan yang berakhlak mulia. Pembentukan akhlak dan karakter menjadi bagian sentral yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Karakter disiplin dan tanggung jawab merupakan dua unsur utama yang mencerminkan kematangan spiritual dan sosial peserta didik[2]. Untuk mencapai tujuan tersebut, lembaga pendidikan seperti madrasah diniyah tidak dapat hanya bergantung pada proses belajar mengajar di dalam kelas. Kegiatan ekstrakurikuler hadir sebagai salah satu pembelajaran non-formal yang berfungsi memperkuat dan memperkaya pendidikan karakter secara aplikatif. Menurut sejumlah pakar pendidikan karakter, proses penanaman nilai-nilai dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, madrasah secara sistematis mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum formal. Kedua, proses pembelajaran karakter juga berlangsung secara alami melalui interaksi sosial antar warga sekolah, meskipun tidak secara eksplisit tercantum dalam struktur kurikulum yang ada[3]. Madrasah memiliki ruang untuk menanamkan nilai-nilai kedisplinan dan tanggung jawab secara langsung dan kontekstual. Namun, keberhasilan kegiatan tersebut sangat bergantung pada bagaimana manajemen mutu pendidikan dijalankan, terutama dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi program ekstrakurikuler secara sistematis[4].
konteks pendidikan Islam modern, Salah satu persoalan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan yang terjadi hampir merata di seluruh jenjang, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, serta di berbagai jenis lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal. Masalah ini tidak hanya mencerminkan ketimpangan dalam akses dan kualitas pembelajaran, tetapi juga berimplikasi serius terhadap upaya negara dalam mencetak generasi sumber daya manusia yang unggul, profesional, dan memiliki keahlian serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional di berbagai sektor strategis, seperti ekonomi, teknologi, kesehatan, dan industri kreatif[5]. Pembentukan karakter peserta didik menjadi salah satu fokus utama yang harus senantiasa dikembangkan seiring dengan tuntutan zaman. Pendidikan tidak lagi dipahami hanya sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembinaan kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, moral, sosial, dan budaya[6]. Hal ini sejalan dengan visi manajemen pendidikan Islam yang menekankan pentingnya integrasi antara aspek akademik dan non-akademik dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Oleh karena itu, madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis keislaman dituntut untuk lebih inovatif dalam menghadirkan program-program pembelajaran yang tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat[7]. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik dalam aspek kognitif, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang berkarakter[8], [9]. Madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis agama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral, spiritual dan sosial melalui kegiatan yang bersifat akademik maupun non-akademik. Salah satu bentuk kegiatan non-akademik yang dapat digunakan sebagai media pembentukan karakter adalah kegiatan ekstrakurikuler.
Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana strategi manajemen mutu diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah dan sejauh mana hal tersebut mampu berkontribusi dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab pada peserta didik. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi strategi guna pengembangan mutu kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada pendidikan karakter. Selanjutnya sikap disiplin pada peserta didik tercermin dari kemampuan mereka dalam mematuhi aturan, mengatur waktu secara konsisten, serta menunjukkan ketekunan dalam menyelesaikan tugas tanpa harus diawasi secara terus-menerus. Disiplin bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan pola pikir yang teratur dan bertanggungjawab terhadap proses belajar mengajar[10], [11], [12]. Disisi lain, karakter bertanggungjawab terlihat dari kesiapan individu untuk melaksanakan kewajiban dengan penuh kesadaran, serta menerima akibat dan tindakan yang diambil[13]. Dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di madrasah diniyah Al-Islamiyah, nilai-nilai ini dapat ditanamkan melalui pengalaman langsung yang melibatkan kedisiplinan waktu, kerja sama tim dan penyelesaian tugas yang menuntut komitmen pribadi. Dengan pembinaan yang terarah dan manajemen mutu yang baik, pembentukan karakter ini dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif dalam kehidupan siswa di lingkungan pendidikan maupun masyarakat[14], [15]. Madrasah diniyah sebagai lembaga pendidikan keagamaan non-formal memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan nilai-nilai islam kepada anak-anak sejak usia dini. Oleh karena itu, pendekataan manajemen mutu yang digunakan harus di sesuaikan dengan kerakteristik kelembagaan dan tujuan pembinaan spiritual siswa[16]. Strategi manajemen mutu dalam konteks ini mencakup tiga aspek utama : perencanaan program ekstrakurikuler yang terstruktur, pelaksanaan kegiatan yang relevan dengan pembentukan karakter, serta evalusi yang berkelanjutan untuk mengukur dampaknya terhadap siswa. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana tiga aspek tersebut di rancang dan diimplementasikan dalam realitas madrasah[17].
Teori manajemen pendidikan mengacu pada prinsip-prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement), keterlibatkan seluruh pihak (total participation) dan fokus pada kebutuhan peserta didik. Salah satu pendekatan yang sering di gunakan adalah total quality management (TQM), yang menekankan pentingnya mutu dalam setiap komponen pendidikan[18]. Selain itu, pendekatan struktural fungsional yang dikembangkan oleh Talcott Parsons menekankan bahwa setiap elemen dalam masyarakat memiliki fungsi tertentu guna menjaga keseimbangan sosial. Salah satu kerangka utama dalam teori ini adalah model AGIL yang menggambarkan empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh sistem sosial agar tetap stabil dan berkelanjutan. Keempat kebutuhan tersebut mencakup adaptasi(A), pencapaian tujuan (G), integrasi (I) dan pelestarian pola (L)[19]. Dalam konteks pendidikan, khususnya pada pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, paradigma AGIL dapat dijadikan acuan dalam memahami bagaimana program-program pembinaan non-akademik mampu berkontribusi terhadap kestabilan sistem pendidikan. Ekstrakurikuler dapat dilihat sebagai instrumen institusional yang mendukung proses adaptasi siswa terhadap lingkungan, membantu pencapaian tujuan pendidikan, mempererat hubungan sosial antarindividu, serta mempertahankan nilai-nilai budaya dan karakter yang ditanamkan oleh lembaga[20]. Dalam konteks pendidikan islam, nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab di pandang sebagai bagian dari akhlakul karimah yang harus ditanamkan sejak dini. Dengan demikian, teori pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman turut menjadi landasan dalam peneletian ini. Strategi manajemen mungkin menjadi faktor kunci dan memastikan kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar berdampak pada pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam mengenai bagaimana strategi tersebut diterapkan oleh praktik, khususnya dilingkungan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah. Peneliti mencoba mengeksplorasi pendekatan manajerial yang di gunakan dalam mengelola pendidikan ekstrakurikuler, serta sejauh mana strategi tersebut berkontribusi terhadap pembentukan karakter disiplin dan tanggungjawab siswa.
Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakulikuler berperan positif dalam pengambangan kerakter siswa. Misalnya, studi oleh Eli Masnawati, Didit Darmawan dan Masfufah (2023) bahwa ekstrak urikuler bukan sekedar kegiatan tambahan di luar jam pelajaran, tetapi berperan dalam pembentukan karakter siswa yang tak ternilai, esktrakurikuler juga mampu membuka pintu menuju penemuan diri, pengembangan keterampilan dan penguatan nilai-nilai positif[21]. Penelitian lain oleh Hilda Yulianti (2024) menunjukkan bahwa ekstrakurikuler memiliki kontribusi positif dalam membentuk karakter peserta didik dan mampu memperkuat nilai- nilai kepemimpinan, kemandirian, solidaritas dan rasa tanggungjawab pada peserta didik[22]. Diperkuat oleh Rizkia Ramadhania Nurbani, Yulianti Fitria ni dan Robi Naufal Arzaqi (2024) bahwa implementasi manajemen ekstrakurikuler dapat membentuk karakter nasionalisme anak melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang struktur[23]. Namun demikian, masih terdapat keterbatasan dalam mengkaji bagaimana manajemen mutu diterapkan secara strategis dalam pelaksanaan ekstakuikuler, khususnya di madrasah diniyah yang memiliki karakteristik khas berbasis keagamaan. Inilah celah yang ingin dijawab oleh penelitian ini, yakni menghubungkan pratik manajerial dengan pembentukan kerakter melalui kegiatan ekstrakulikuler.
Sejalan dengan berbagai temuan yang menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi sarana efektif dalam pembentukan karakter peserta didik, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab di lingkungan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah. Penelitian ini memusatkan perhatian pada strategi manajemen mutu dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah sebagai upaya sistematis untuk membentuk karakter peserta didik yang disiplin dan bertanggung jawab. Kegiatan ekstrakurikuler dipandang sebagai ruang alternatif pembelajaran yang mendukung pengembangan nilai-nilai karakter serta potensi diri siswa diluar kegiatan intrakurikuler[24]. Melalui kajian ini, diharapkan dapat diperoleh kontribusi ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan strategi manajerial dalam mengelola pendidikan ekstrakurikuler yang berbasis nilai-nilai karakter dan selaras dengan tujuan pendidikan islam. Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah, dan menganalisis kontribusi kegiatan estrakulikuler dalam membentuk karakter peserta didik yang disiplin dan bertanggung jawab, serta merumuskan rekomendasi strategis bagi pengambangan mutu kegiatan estrakulikuler yang berorientasi pada pendidikan karakter.
Gap Analisis dalam penelitian ini terletak pada perbedaan antara pendekatan teoritis dalam manajemen mutu kegiatan ekstrakurikuler dengan kenyataan pelaksanaannya di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah. Kalau dilihat dari konsep kegiatan ekstrakurikuler sebenarnya bisa jadi sarana yang cukup efektif untuk menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab siswa, apalagi kalau dikelola dengan cara yang terencana dan berkelanjutan, seperti pendekatan Total Quality Management (TQM). Tapi dalam praktiknya di lapangan, meskipun kegiatan ini sudah berjalan rutin, kaitannya dengan tujuan pembentukan karakter belum terlihat secara jelas atau belum benar-benar ditonjolkan. Program yang ada belum dirancang secara tematis untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan sikap disiplin dan tanggung jawab melalui metode yang sistematis. Di sisi lain, proses evaluasi yang dilakukan masih cenderung administratif, sebatas menilai tingkat kehadiran dan partisipasi peserta, tanpa didukung oleh indikatoor yang mampu mengukur perkembangan karakter secara lebih mendalam. Padahal dalam perspektif manajemen mutu, evaluasi seharusnya dilakukan secara berkala dengan menggunakan tolak ukur yang jelas terkait perubahan sikap dan perilaku peserta didik. selain itu dukungan dari sisi kelembagaan masih belum optimal, terlihat dari belum adanya kebijakan formal maupun prosedur baku yang dapat menjamin keberlangsungan dan kualitas kegiatan ekstrakurikuler secara menyeluruh. Upaya penanaman nilai spiritual dan moral telah dilaksanakan melalui kegiatan dengan nuansa keagamaan serta pembinaan karakter islami. Namun demikian, penerapan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata, khususnya terkait kedisiplinan dan tanggung jawab, masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Sebagian peserta didik telah memahami nilai tersebut secara konseptual, tetapi belum mampu mengimplementasikannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian meskipun secara konseptual pendekatan pendidikan telah selaras dengan prinsip-prinsip Islam, masih terdapat kesenjangan antara nilai yang diajarkan dengan praktik yang ditunjukkan oleh peserta didik. Temuan ini menjadi bahan refleksi penting bagi pihak madrasah untuk memperkuat proses internalisasi nilai melalui strategi pembinaan yang lebih aplikatif dan berorientasi pada perubahan perilaku secara nyata. Strategi pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler perlu diarahkan secara lebih terstruktur untuk mendorong siswa mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman, khususnya dalam bentuk tindakan disiplin dan tanggung jawab yang berkelanjutan[25]. Dengan demikian, penelitian ini berupaya menutup celah tersebut melalui identifikasi kebutuhan perbaikan dan formulasi strategi yang lebih efektif di lapangan.
Rekomendasi strategi pengembangan manajemen mutu ekstrakurikuler yang berorientasi pada pendidikan karakter adalah salah satunya dengan cara penyusunan SOP dan standar karakter, penguatan sistem evaluasi berbasis karakter, peningkatan kompetensi pembina ekstrakurikuler, penguatan perencanaan program berbasis karakter, optimalisasi peran budaya dan keteladan, penguatan sistem reward dan consequence, serta kolaborasi dengan orangtua. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, kegiatan ekstrakurikuler di madrasah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi berkembang menjadi sistem pembinaan karakter yang terarah, terukur dan berkelanjutan. Integrasi antara manajemen mutu, nilai keislaman, serta budaya lokal menjadi kunci utama dalam menciptakan pendidikan karakter yang efektif dan kontekstual. Keterbaruan penelitian ini terletak dalam 2 hal utama yakni: Keterpaduan strategi manajemen mutu dengan pembentukan karakter di madrasah diniyah dan penekanan pada konteks spesifik madrasah diniyah yang belum tersentuh secara mendalam. Gap penelitian ini terlihat dari fakta bahwa nilai-nilai keislaman sudah diajarkan, namun belum terinternalisasi dalam bentuk perilaku nyata siswa. Penelitian ini ingin menjawab tantangan tersebut melalui strategi manajemen mutu yang sistematis dan kontekstual [26], [27].
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis fenomena sebagaimana adanya[28]. Penelitian dengan metode ini bertujuan untuk memperoleh informasi penting mengenai bagaimana peran ekstrakurikuler sebagai sarana pembentukan karakter disiplin dan bertanggungjawab siswa. Deskriptif kualitatif memiliki tujuan guna menjawab pertanyaan dari peneliti terkait siapa, apa, bagaimana, dimana peristiwa tersebut terjadi yang pada akhirnya akan dilakukan pengkajian lebih lanjut untuk menemukan pola yang terdapat pada peristiwa yang sedang diteliti[29], [30]. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini mengandalkan dua kategori utama sumber informasi, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui interaksi atau observasi secara langsung peneliti dengan berbagai pihak yang terlibat secara aktif dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah.
Wawancara mendalam dilakukan dengan melibatkan kepala madrasah, pembina ekstrakurikuler dan juga beberapa siswa yang aktif ikut kegiatan tersebut. Cara ini dipakai supaya bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang pandangan, pengalaman dan pendapat mereka terkait bagaimana strategi manajemen mutu dijalankan untuk mendukung pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab lewat kegiatan ekstrakurikuler. Disamping itu proses wawancara juga difokuskan untuk menelaah sejauh mana kontribusi kegiatan tersebut dalam memperkuat citra dan identitas madrasah di tengah masyarakat, sebagai bagian dari upaya penguatan kelembagaan yang berlandaskan nilai- nilai budaya serta spiritualitas Islam. Sementara itu, data pendukung digunakan untuk melengkapi temuan dari data utama, yang meliputi literatur yang relevan, hasil penelitian sebelumnya, jurnal ilmiah, catatan lapangan dari guru mengenai perilaku disiplin siswa, serta dokumentasi lainnya berupa foto[31]. Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yang bertujuan untuk memilih individu yang dianggap paling relevan dengan fokus penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti menetapkan tiga informan kunci yang memiliki keterlibatan langsung dalam kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah yakni kepala madrasah, pembina ekstrakurikuler dan siswa pilihan. Penetapan informan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang relevan dan mendalam terkait dengan implementasi strategi manajemen mutu dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik, khususnya dalam hal penguatan nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab.
Fokus pembahasan dalam kajian ini sebenarnya mengarah pada tiga hal penting. Pertama, mencoba melihat bagaimana cara para pembina merancang sekaligus mengelola kegiatan ekstrakurikuler agar bisa menjadi bagian dari pembelajaran karakter yang menyatu dengan budaya madrasah. Kedua, mengamati berbagai kendala yang muncul selama pelaksanaan, baik dari teknis, semangat siswa maupun dukungan dari lembaga itu sendiri. Ketiga, menelusuri upaya dan solusi yang dilakukan oleh pembina bersama pihak madrasah dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut, supaya kegiatan ekstrakurikuler tetap berjalan dengan baik, berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter peserta didik. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi manajemen mutu kegiatan nonakademik di lingkungan pendidikan Islam. Studi kasus digunakan untuk memperoleh gambaran komprehenshif mengenai fenomena yang diteliti dalam konteks nyata.
Pemilihan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah sebagai lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa madrasah ini memiliki sejarah panjang tetapi belum maksimal dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Subjek dalam penelitian ini meliputi guru pembina ekstrakurikuler, kepala madrasah, serta siswa yang aktif mengikuti kegiatan di masing-masing bidang ekstrakurikulernya. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai peran ekstrakurikuler sebagai media pembentukan karakter disiplin dan bertanggungjawab diri siswa dalam konteks pendidikan di madrasah diniyah[32]. Teknik analisis data menggunakan trianggulasi data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data (menyaring dan memilah data penting dari hasil wawancara, observasi, dan dokumen), penyajian data (data disusun dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, atau model agar mudah dipahami), dan penarikan kesimpulan (kesimpulan sementara ditarik sejak awal proses dan terus diverifikasi selama pengumpulan data berlangsung, menggunakan triangulasi sumber dan metode untuk meningkatkan validitas data)[33].
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Klampis Bangkalan yang merupakan salah satu madrasah diniyah tertua dan cukup diminati oleh masyarakat setempat. Meskipun terdapat beberapa madrasah diniyah baru, madrasah diniyah Al-Islamiyah tetap eksis dengan mempertahankan budaya pendidikan yang telah berlangsung secara turun-temurun dan berlokasi di kawasan strategis, yaitu di sekitar pusat keramaian pasar Kecamatan Klampis. Strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler di madrasah ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab santri, terutama dalam konteks budaya masyarakat Madura yang sangat menghargai pendidikan diniyah sebagai pelengkap pendidikan formal. Hal ini terlihat dari dukungan masyarakat agar anak tetap dapat mengikuti kegiatan di madrasah diniyah meskipun bersekolah di lembaga formal[34], [35], [36]. Di wilayah ini, Madrasah Diniyah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengajaran agama, tetapi menjadi pusat pembentukan moral, adab, dan karakter yang paling dihormati oleh masyarakat. Fenomena banyaknya wali murid yang menuntut agar sekolah formal tidak memperpanjang waktu KBM hingga pukul 13.00 meski tanpa penerapan full day school menunjukkan bahwa masyarakat sangat mendukung keberlangsungan KBM di Madrasah Diniyah tanpa menurunkan kewajiban di sekolah formal. Hal ini mencerminkan bahwa pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab anak perlu di laksanakan dikeduanya yakni sekolah formal maupun non-formal. Namun melalui fakta lapangan ternyata kegiatan di luar KBM seperti ekstrakurikuler banyak di laksanakan oleh lembaga non-formal yakni Madrasah Diniyah, dan dianggap lebih efektif melalui pola pendidikan diniyah termasuk kegiatan ekstrakurikuler Hadrah Al-banjari, Pencak Silat Pagar Nusa hingga MTQ (musabaqah tilawatil qur’an) yang menjadi bagian penting dari rutinitas santri
1. Strategi Manajemen Mutu Pendidikan Ekstrakurikuler dalam Pembentukan Karakter Disiplin
Strategi manajemen mutu dalam pembentukan karakter disiplin pada kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah menggunakan strategi pembiasaan disiplin berbasis sistem (systematic habituation strategy), yang diwujudkan melalui pelaksanaan kegiatan secara terjadwal dan konsisten, penguatan aturan kegiatan, keteladanan guru dan santri senior, serta dukungan budaya madrasah yang membentuk kontrol sosial secara alami. Strategi ini menempatkan disiplin sebagai hasil dari proses pembiasaan yang berulang dan terintegrasi dalam aktivitas ekstrakurikuler, sehingga nilai disiplin tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari santri[37]. Kegiatan seperti Hadrah Al-Banjari, Pencak Silat Pagar Nusa, dan MTQ dilaksanakan secara konsisten sehingga menciptakan pola pembiasaan perilaku disiplin. Pembiasaan tersebut menjadi sarana internalisasi nilai kedisiplinan melalui praktik langsung dalam aktivitas pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya berfungsi sebagai pengembangan minat dan bakat, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter santri. Dengan demikian, strategi pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan pendidikan karakter di madrasah diniyah[38]. Jika dianalisis dari perspektif manajemen mutu pendidikan, strategi tersebut sejalan dengan prinsip Total Quality Management (TQM) yang menekankan perbaikan berkelanjutan dan keterlibatan seluruh unsur lembaga pendidikan. Meskipun madrasah belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) tertulis seperti sekolah formal, praktik manajemen mutu tetap berjalan melalui perencanaan sederhana, pelaksanaan kegiatan rutin, dan evaluasi oleh pembina ekstrakurikuler[39].
Keteladanan guru dan santri senior juga berperan dalam menjaga kedisiplinan selama kegiatan berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kegiatan tidak hanya ditentukan oleh sistem administrasi formal, tetapi juga oleh budaya organisasi yang berkembang di lingkungan lembaga. Namun demikian, terdapat kesenjangan antara konsep manajemen mutu yang ideal dengan praktik yang masih bersifat sederhana. Gap tersebut terlihat dari belum adanya sistem evaluasi yang terstruktur untuk mengukur perkembangan karakter disiplin santri[40]. Di samping faktor manajerial, pembentukan sikap disiplin santri juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosial budaya Masyarakat Madura yang memang sangat peduli terhadap pendidikan diniyah. Di wilayah Klampis, madrasah diniyah bukan sekedar tempat belajar agama, tapi juga jadi wadah penting dalam membentuk moral dan karakter generasi muda. Hal ini bisa dilihat dari dukungan masyarakat, terutama para wali santri yang tetap mendorong anak-anaknya untuk aktif mengikuti kegiatan diniyah, meskipun mereka juga sudah menjalani pendidikan formal di sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial turut memperkuat proses pendidikan karakter yang dilakukan madrasah[41]. Apabila dianalisis menggunakan teori AGIL Talcott Parsons, strategi pengelolaan ekstrakurikuler di madrasah ini mencerminkan fungsi adaptasi dan integrasi dalam sistem sosial pendidikan. Fungsi adaptasi terlihat dari kemampuan madrasah menyesuaikan jadwal kegiatan dengan aktivitas sekolah formal dan kehidupan masyarakat. Pengaturan jadwal kegiatan yang ditempatkan pada sore hari atau ba’da isya’ sebenarnya menunjukkan adanya penyesuaian dengan kondisi dan aktivitas para santri. Di sisi lain terlihat juga adanya fungsi integrasi melalui budaya senioritas yang berkembang di lingkungan madrasah. Dalam hal ini santri yang lebih senior secara tidak langsung berperan sebagai pengarah sekaligus pengingat bagi santri junior agar tetap disiplin dan tertib dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Mekanisme sosial seperti ini cukup membantu menjaga ketertiban jalannya kegiatan, meskipun tidak selalu didukung oleh sistem pengawasan yang benar-benar formal dan ketat. Walaupun cara tersebut terbilang cukup efektif dalam menumbuhkan kedisiplinan santri, penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan di lapangan. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia, khususnya para pembina ekstrakurikuler yang belum semuanya memiliki kemampuan manajerial yang memadai dalam merancang maupun megevaluasi kegiatan secara terarah. Selain itu proses evaluasi yang dilakukan masih cenderung sederhana, lebih banyak berfokus pada kehadiran dan keaktifan santri. Akibatnya perkembangan karakter disiplin belum sepenuhnya terukur secara sistematis dan mendalam. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik kegiatan ekstrakurikuler dengan sistem manajemen mutu pendidikan yang ideal. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan kapasitas pembina serta penyusunan pedoman kegiatan agar pengelolaan ekstrakurikuler menjadi lebih sistematis. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, kegiatan ekstrakurikuler di madrasah diniyah dapat semakin optimal dalam membentuk karakter disiplin santri.
Tabel 1. Strategi Pembentukan Karakter Disiplin
2. Strategi Manajemen Mutu Pendidikan Ekstrakurikuler dalam Pembentukan Karakter Tanggung Jawab Strategi manajemen mutu dalam pembentukan karakter tanggung jawab pada kegiatan ekstrakurikuler di
Madrasah Diniyah Al-Islamiyah menggunakan strategi pemberian amanah berbasis partisipasi (participatory responsibility strategy), yang diwujudkan melalui pemberian tugas dan peran kepada santri sesuai dengan kemampuan mereka, keterlibatan aktif dalam setiap kegiatan, serta pembiasaan tanggung jawab dalam aktivitas organisasi dan keagamaan. Strategi ini diperkuat oleh keteladanan guru dan budaya madrasah yang menekankan nilai amanah dan kerja sama, sehingga tanggung jawab tidak hanya dipahami sebagai kewajiban, tetapi terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari santri[42].
Selain itu, karakter tanggung jawab juga berkembang melalui kegiatan organisasi santri, latihan ibadah, kegiatan baca kitab, dan kesenian religius yang menuntut kerja sama dan konsistensi. Keterlibatan santri dalam berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan karakter berlangsung melalui pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari. Dalam perspektif manajemen mutu pendidikan, strategi ini menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikelola sebagai bagian dari proses pembentukan kualitas santri secara menyeluruh[43]. Hal ini sejalan dengan konsep manajemen mutu yang menekankan pentingnya proses pembinaan yang berkelanjutan dalam mencapai tujuan pendidikan. Namun demikian, dalam praktiknya pengelolaan kegiatan masih bersifat sederhana dan belum didukung oleh sistem evaluasi karakter yang terstruktur. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep manajemen mutu yang ideal dengan praktik pengelolaan kegiatan di madrasah.
Nilai tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi santri ke generasi berikutnya sehingga membentuk budaya perilaku yang relatif stabil di lingkungan madrasah. Keteladanan menjadi mekanisme penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai pendidikan karakter. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan melalui aturan formal, tetapi juga melalui proses internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, budaya madrasah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan karakter[44]. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan manajemen mutu kegiatan ekstrakurikuler. Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan utama, terutama pembina ekstrakurikuler yang belum seluruhnya memiliki kompetensi manajerial dalam merancang dan mengevaluasi kegiatan secara sistematis[45]. Selain itu, evaluasi kegiatan masih berfokus pada tingkat kehadiran dan partisipasi santri, sehingga perkembangan karakter tanggung jawab belum diukur secara terstruktur. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan kegiatan dengan sistem manajemen mutu pendidikan yang ideal. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan kapasitas pembina serta penyusunan pedoman sederhana sebagai acuan evaluasi kegiatan. Dengan pengelolaan yang lebih sistematis, kegiatan ekstrakurikuler di madrasah diniyah dapat lebih optimal dalam membentuk karakter tanggung jawab santri.
Tabel 2. Strategi Pembentukan Karakter Tanggung Jawab
Berdasarkan hasil penelitian, strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al- Islamiyah dalam membentuk karakter santri dapat diklasifikasikan ke dalam dua pendekatan utama, yaitu strategi pembiasaan disiplin berbasis sistem (systematic habituation strategy) dan strategi pemberian amanah berbasis partisipasi (participatory responsibility strategy). Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya masyarakat Madura. Budaya senioritas, kepatuhan terhadap guru, serta penghormatan tinggi terhadap lembaga diniyah menjadi modal sosial yang kuat dalam mendukung keberhasilan pembentukan karakter santri. Dalam perspektif manajemen mutu, praktik yang dilakukan madrasah selaras dengan prinsip Total Quality Management (TQM), khususnya pada aspek keterlibatan seluruh unsur madrasah, fokus pada kebutuhan peserta didik, serta perbaikan berkelanjutan melalui pembiasaan[46]. Meskipun belum didukung oleh SOP tertulis, kualitas kegiatan tetap terjaga karena dikontrol oleh nilai-nilai adab, religiusitas, dan struktur sosial tradisional.
Jika dikaitkan dengan teori AGIL Talcott Parsons, kegiatan ekstrakurikuler di madrasah diniyah telah menjalankan fungsi adaptasi (A) tercermin dari bagaimana kegiatan ekstrakurikuler dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan religius masyarakat Madura, khususnya di wilayah Kecamatan Klampis, Fakta lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki orientasi kuat terhadap pendidikan diniyah sebagai fondasi pembentukan akhlak anak[47]. Madrasah Diniyah Al-Islamiyah mampu menyesuaikan diri dengan realitas tersebut dengan menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang tidak bertentangan, bahkan justru selaras dengan nilai-nilai lokal, seperti hadrah Al-Banjari, pencak silat Pagar Nusa, MTQ, serta kegiatan organisasi santri. Penjadwalan kegiatan pada waktu ba’da Isya’ atau sore hari juga merupakan bentuk adaptasi terhadap jadwal sekolah formal dan aktivitas sosial masyarakat, sehingga santri tetap mampu mengikuti kegiatan tanpa konflik peran. Penyesuaian yang dilakukan ini menunjukkan kalau pengelolaan mutu di madrasah diniyah tidak hanya bertumpu pada pendekatan yang sifatnya teknis atau kaku, tapi lebih pada kemampuan memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat sekitar. Dengan menyesuaikan bentuk kegiatan, waktu pelaksanaan dan jenis ekstrakurikuler, madrasah bisa menghadirkan suasana belajar yang lebih sesuai dan mudah diterima oleh santri maupun wali santri. Kalau dilihat dari sisi pencapaian tujuan (G), hal ini sebenarnya sudah tampak dalam keseharian santri, seperti datang tepat waktu, mengikuti jadwal latihan dengan tertib, mematuhi arahan pebina dan santri senior, serta menjalankan tugas yang diberikan. Nilai disiplin disini tidak diajarkan lewat teori, tapi dibentuk lewat kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Begitu juga dengan tanggung jawab, yang ditanamkan melalui kepercayaan langsung, misalnya menjadi koordinator, mengurus perlengkapan atau terlibat dala kepanitian kegiatan. Walaupun belum ada indikator tertulis atau alat evaluasi formal, pembentukan karakter ini tetap bisa dirasakan hasilnya secara nyata. Ini menunjukkan bahwa tujuan yang ingin dicapai lebih bersifat nilai dan moral, bukan sekedar administrasi. Kalau dilihat dari sudut pandang AGIL kondisi ini masih bisa dianggap berjalan dengan baik dalam tujuan utamanya tercapai dan diakui oleh semua pihak yang terlibat, baik santri, guru maupun masyarakat. Sementara itu disisi integrasi (I), budaya senioritas yang sudah kuat di lingkungan Madura punya peran besar. Santri senior biasanya jadi contoh sekaligus pengingat adik kelasnya, sehingga kedisiplinan dan tanggung jawab tetap terjaga tanpa harus bergantung pada aturan tertulis yang kaku. Pola hubungan seperti ini sudah diterima secara budaya dan juga nilai keagamaan jadi jarang menimbulkan penolakan. Selain itu dukungan dari masyarakat dan wali murid juga ikut memperkuat hubungan antara madrasah dengan lingkungan sekitarnya. Kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya dilihat sebagai program internal, tapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas. Jadi integrasi yang terjadi bukan hanya di dalam madrasah saja, tapi juga terjalin dengan baik antara madrasah dan masyarakat di sekitarnya. Serta pemeliharaan pola (L) Kegiatan ekstrakurikuler menjadi medium penting dalam melestarikan nilai-nilai tersebut[48]. Melalui keteladanan guru dan santri senior, nilai disiplin dan tanggung jawab tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam praktik nyata. Nilai-nilai ini terus direproduksi dari satu generasi santri ke generasi berikutnya, sehingga membentuk pola perilaku yang relatif stabil. Namun demikian, temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pemeliharaan pola ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal konsistensi perilaku seluruh santri. Sebagian santri telah memahami nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab secara konseptual, tetapi belum sepenuhnya menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi latency perlu diperkuat melalui evaluasi karakter yang lebih terarah tanpa menghilangkan pendekatan kultural yang telah menjadi kekuatan madrasah. Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman nilai karakter secara konseptual dengan penerapan perilaku secara konsisten pada seluruh santri. Hal ini menunjukkan bahwa strategi manajemen mutu perlu diperkuat, khususnya pada aspek evaluasi berbasis indikator karakter agar dampak kegiatan ekstrakurikuler dapat terukur secara lebih sistematis.
Tabel 3. Gabungan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter santri di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Klampis Bangkalan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler dalam membentuk karakter disiplin dilakukan melalui strategi pembiasaan disiplin berbasis sistem (systematic habituation strategy), yaitu dengan penerapan kegiatan yang terjadwal secara rutin, penguatan aturan, serta keteladanan guru dan santri senior. Strategi ini terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap disiplin santri yang ditunjukkan melalui kebiasaan hadir tepat waktu, kepatuhan terhadap aturan, serta konsistensi dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Namun demikian terdapat beberapa kendala, seperti belum adanya standar operasional prosedur (SOP) yang tertulis secara formal serta evaluasi yang masih terbatas pada aspek kehadiran dan partisipasi, sehingga pengukuran disiplin belum dilakukan secara komprehensif.
b. Strategi manajemen mutu pendidikan ekstrakurikuler dalam membentuk karakter tanggung jawab dilakukan melalui strategi pemberian amanah berbasis partisipasi (participatory responsibility strategy), yaitu dengan memberikan tugas dan peran aktif kepada santri dalam setiap kegiatan, serta melibatkan mereka dalam proses pelaksanaan kegiatan secara langsung. Strategi ini menunjukkan efektivitas dalam membentuk sikap tanggung jawab, baik secara individu maupun sosial, yang tercermin dari kemampuan santri dalam menyelesaikan tugas, bekerjasama dan menjalankan amanah yang diberikan. Adapun kendala yang dihadapi meliputi belum meratanya pembagian peran kepada seluruh serta belum adanya sistem evaluasi yang terstruktur dalam menilai tingkat tanggung jawab secara mendalam.
P. Musnaeni and S. Abidin, “Pentingnya manajemen strategi dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” vol. 2, no. 2, pp. 98–104, Apr. 2022. [Online]. Available: https://jurnalp4i.com/index.php/cendekia/article/view/1168/1143
N. P. Lestari, B. H. Khosiyono, B. H. Cahyani, A. F. Nisa, S. N. Kesugihan, and U. S. Tamansiswa Yogyakarta, “Analisis penerapan P5 untuk pembentukan karakter mandiri pada siswa SD,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 8, pp. 4091–4097, Dec. 2023.
S. Munawaroh, “Nilai-nilai pendidikan karakter moderat dalam ekstrakurikuler Pagar Nusa di MI Tahassus Ma’arif NU Pedan Kabupaten Klaten tahun ajaran 2022/2023,” Surakarta, Indonesia, Jun. 2023.
U. Albab, “Perencanaan pendidikan dalam manajemen mutu terpadu pendidikan Islam,” vol. 5, no. 1, 2021. [Online]. Available: https://jurnal.unugha.ac.id/index.php/pancar/article/view/104
N. Ristianah, T. Ma’sum, S. Tinggi, A. Islam, and D. Nganjuk, “Konsep manajemen mutu pendidikan,” Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam, pp. 45–55, Jun. 2022. [Online]. Available: http://e-journal.stai-iu.ac.id/index.php/tabyin
N. Tifal I., “Pendidikan jasmani dan olahraga sebagai sarana pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik,” Karawang, Indonesia, Jun. 2023. [Online]. Available: https://journal.sabajayapublisher.com/index.php/jpko/article/view/47
“Konsepsi manajemen, manajemen mutu dan manajemen mutu pendidikan,” pp. 56–63, Jan. 2022. [Online]. Available: https://www.pusdikra-publishing.com/index.php/jesa/article/view/390/333
N. Amelia and F. Dafit, “Strategi guru dalam menanamkan karakter disiplin siswa sekolah dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 7, no. 1, pp. 142–149, Mar. 2023, doi: 10.23887/jipp.v7i1.59956.
S. Rahmawati, K. Nurachadija, J. L. Balandongan Sirnagalih, J. Begeg No, K. Citamiang Kota Sukabumi, and J. Barat, “Inovasi pendidikan dalam meningkatkan strategi mutu pendidikan,” vol. 1, no. 5, Jul. 2023, doi: 10.51903/bersatu.v1i5.303.
N. Indriani, I. Suryani, and L. Mukaromah, “Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik di sekolah dasar,” Khazanah Pendidikan, vol. 17, no. 1, p. 242, Apr. 2023, doi: 10.30595/jkp.v17i1.16228.
R. Addawiyah and K. Kasriman, “Peran sekolah dalam pembentukan karakter disiplin siswa,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 9, no. 3, pp. 1516–1524, Oct. 2023, doi: 10.31949/educatio.v9i3.5837.
E. Rianti and D. Mustika, “Peran guru dalam pembinaan karakter disiplin peserta didik,” Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 360–373, Oct. 2023, doi: 10.37985/murhum.v4i2.325.
R. Handayani, I. Ghifary Noor, and R. Sari Dewi, “Peran pendidikan karakter peduli lingkungan di sekolah dalam membentuk generasi cerdas dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam,” pp. 372–377, Sep. 2024. [Online]. Available: https://journal.ainarapress.org/index.php/ainj/article/view/560/457
G.-J. Teologi et al., “Pendidikan karakter dewasa awal membentuk generasi yang bertanggung jawab,” Jurnal Teologi, vol. 5, no. 2, pp. 84–96, Dec. 2023.
F. Farid and R. Aziz, “Pengembangan karakter tanggung jawab siswa melalui penguatan aktivitas guru di dalam kelas,” pp. 115–121, Oct. 2023, doi: 10.21831/jpka.v14i2.57985.
I. H. Fanani and F. Anwar, “Implementasi manajemen strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan.” [Online]. Available: https://jurnalpasca.uqgresik.ac.id/index.php/pendidikan
H. G. Adilah and Y. Suryana, “Manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan Madrasah Ibtidaiyah,” Jurnal Isema: Islamic Educational Management, vol. 6, no. 1, pp. 87–94, Jun. 2021, doi: 10.15575/isema.v6i1.11037.
M. Noprika, N. Yusro, and S. Sagiman, “Strategi kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan,” Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam, vol. 2, no. 2, pp. 224–243, Aug. 2020, doi: 10.36671/andragogi.v2i2.99.
“I. Kegiatan Ekstrakurikuler et al., Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam,” pp. 376–383, 2023, doi: 10.17467/mk.v22i2.2950.
D. Setyaningsih, S. Tinggi, A. Islam, N. Sultan, and A. K. Riau, “Implementasi manajemen strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan,” 2021.
E. Masnawati and D. Darmawan, “Peran ekstrakurikuler dalam membentuk karakter siswa,” vol. 1, no. 4, pp. 305–318, Oct. 2023, doi: 10.59603/ppiman.v1i4.347.
H. Yulianti, U. Kiai, H. Achmad, and S. Jember, “Implementasi layanan ekstrakurikuler Pramuka dalam pembentukan karakter peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Jember,” Mataazir: Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan.
R. R. Nurbani, Y. Fitriani, and R. N. Arzaqi, “Implementasi manajemen ekstrakurikuler tari dalam pembentukan karakter nasionalisme,” Aulad: Journal on Early Childhood, vol. 7, no. 3, Dec. 2024, doi: 10.31004/aulad.v7i3.859.
L. S. Romlah, “Manajemen mutu pendidikan Islam dalam upaya meningkatkan prestasi PTKIN,” no. 8, pp. 213–227, 2024.
P. Danuwara and G. Giyoto, “Penanaman karakter religius dan karakter disiplin melalui pembiasaan sholat Dhuha di Madrasah Ibtidaiyah,” Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, vol. 7, no. 1, pp. 31–40, Apr. 2024, doi: 10.54069/attadrib.v7i1.716.
I. Keolahragaan and F. Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, “Analisis kondisi fisik atlet pencak silat putra kategori usia 14–17 tahun Pimpinan Anak Cabang Pagar Nusa Pucuk,” Surabaya, Indonesia, Mar. 2024. [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-kesehatan-olahraga/article/view/55888
W. R. Al-Nur, C. Viranda, W. Handayani, and F. Irawan, “Pengaruh religiusitas dan pendidikan karakter siswa (disiplin, jujur, sopan santun dan bertanggung jawab) terhadap agresivitas di MI Istiqlal Jakarta,” Jurnal Kependidikan, vol. 11, no. 2, pp. 275–288, Nov. 2023, doi: 10.24090/jk.v11i2.9195.
P. Liana and Sahri, “Taman Pendidikan Al-Quran sebagai sarana pembentukan karakter anak di Desa Semawot,” Semarang, Indonesia, Dec. 2020. [Online]. Available: https://publikasiilmiah.unwahas.ac.id/PROGRESS/article/view/3956
A. N. Khairani and M. Rosyidi, “Penerapan strategi karakter religius peserta didik untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar,” Didaktika Tauhidi: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 9, no. 2, pp. 199–210, Oct. 2022, doi: 10.30997/dt.v9i2.6317.
L. N. Fadhilah, “Pembentukan karakter religius melalui pencak silat Pagar Nusa di SMPI Abu Ghonaim Bumiaji Kota Batu,” Malang, Indonesia, Jul. 2021. [Online]. Available: https://jim.unisma.ac.id/index.php/TRSN/article/view/12513
A. Sahabsari and I. Made Suwanda, “Strategi guru PPKn dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik melalui pembelajaran daring di SMA Negeri 16 Surabaya,” Kajian Moral dan Kewarganegaraan, vol. 10, pp. 196–210, 2022. [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-kewarganegaraa/article/view/42651
N. Nur’asiah, S. Sholeh, and M. Maryati, “Peran guru PAI dalam pembentukan karakter siswa,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, vol. 6, no. 2, pp. 212–217, Jul. 2021, doi: 10.29303/jipp.v6i2.203.
N. Kual, R. M. Sina, H. H. Siburian, S. Tinggi, and T. Tawangmangu, “Pembelajaran daring: Tantangan pembentukan karakter dan spiritual peserta didik,” Tawangmangu, Indonesia, Dec. 2020. [Online]. Available: http://peada.iakn-toraja.ac.id
J. Firdausi and I. Muhsin, “The integration of Islam and local culture in Okol tradition in Madura,” vol. 22, no. 1, pp. 15–26, 2024.
M. I. Ahmad, “Sulawesi Tenggara Educational Journal,” vol. 5, no. 1, 2025.
W. T. Maulana, Z. A. Achmad, “Studi netnografi terhadap budaya Madura di akun Instagram @fuadsasmitaa,” vol. 8, 2025.
B. Dan, S. Indonesia, M. A. Alatas, and M. H. Effendy, “Implementasi Kurikulum Merdeka pada muatan lokal Bahasa Madura di MI Kabupaten Pamekasan: Pendekatan ekologis dalam pendidikan karakter dan budaya,” pp. 363–375, 2024, doi: 10.19105/ghancaran.vi.17359.
S. I. Zahro, F. A. Putri, and M. Fathurrobbani, “Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan: Sebuah literature review sistematik terhadap tren dan kontribusi pada kepuasan stakeholder (2020–2025),” Nov. 2025.
B. Dan, S. Indonesia, H. Mubarok, and S. Y. Sudikan, “Representasi kemuliaan seorang ibu perspektif budaya Madura dalam puisi D. Zawawi Imron: Kajian semiotika Roland Barthes,” no. 2, pp. 301–320, doi: 10.19105/ghancaran.vi.21677.
D. I. Lestari and H. Kurnia, “Kearifan lokal suku Madura dalam menjaga tradisi nilai sosial dan identitas budaya modern,” vol. 3, no. 2, pp. 124–133, 2025.
B. Kurniawan, S. N. Hidayah, A. Rahmawati, and U. T. Madura, “Pengaruh penggunaan Bahasa Indonesia terhadap,” vol. 2, no. 7, 2024.
M. S. Rizal, “Komunikasi lintas budaya di era digital sebagai strategi mengurangi stereotip terhadap masyarakat Madura,” 2025.
T. Lickona, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York, NY, USA: Bantam Books, 1991.
D. Koesoema A., Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta, Indonesia: Grasindo, 2010.
A. Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta, Indonesia: Kencana, 2012.
M. Fadhil, A. Ramadhani, S. B. Agung, C. Nagata, and M. Mintowati, “Pengaruh faktor sosial dan budaya terhadap pemerolehan kalimat bahasa kedua pada anak suku Madura, Batak, dan Jawa,” vol. 8, no. 1, pp. 128–134, 2024.
M. A. Syaifuddin and E. F. Fahyuni, “Penguatan pendidikan karakter melalui kurikulum muatan lokal di SMP Muhammadiyah 2 Taman,” PALAPA: Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan, vol. 7, no. 2, pp. 267–285, 2019. [Online]. Available: https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/palapa
E. Rohati, R. Oktafia, and I. Istikomah, “Application of the fingerprint system as a discipline control tool for educators and education personnel,” in Proc. ICECRS, 2020.