Login
Section Innovation in Industrial Engineering

Ergonomic Risk Assessment of Fabric Measuring and Cutting Workstations

Penilaian Risiko Ergonomis pada Stasiun Kerja Pengukuran dan Pemotongan Kain
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Iswahyudi (1), Boy Isma Putra (2)

(1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Work-related musculoskeletal disorders are often caused by non-ergonomic working postures in manual activities. Specific Background Fabric measuring and cutting processes are commonly performed in awkward positions such as bending and squatting, increasing ergonomic risk. Knowledge Gap However, limited studies evaluate these activities using combined RULA and NERPA assessment methods. Aims This study aims to analyze the working posture of operators in fabric measuring and cutting processes using RULA and NERPA methods. Results The findings show that the measuring activity obtains a RULA score of 6, indicating moderate risk, while the cutting activity reaches a score of 7, indicating high risk requiring immediate action. Using NERPA, both activities show a score of 6, indicating moderate risk requiring improvement. Novelty This study applies dual ergonomic assessment methods to identify risk levels in specific textile work activities. Implications The results support the need for ergonomic workstation design, including the proposed worktable, to reduce posture-related risks and improve worker safety.


Keywords: Ergonomic Assessment, RULA Method, NERPA Method, Musculoskeletal Disorders, Work Posture


Key Findings Highlights


Cutting task shows highest risk classification


Both techniques indicate need for corrective action


Workstation redesign recommended to reduce strain

Downloads

Download data is not yet available.

Analysis of Work Posture Measuring and Cutting Fabric Using RULA AND NERRPA Methods In INTAKO Cooperation

[ A nalisa P ostur K erja P engukuran dan Pemotongan Kain Menggunakan Metode RULA dan NERPA di Koperasi INTAKO]

Iswahyudi1), Boy Isma Putra *,2)

1)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia Email Penulis Korespondensi: boy@umsida.ac.id

Abstract. The INTAKO Cooperation is one of the handicraft centers for making bags, shoes, belts, wallets and other crafts made of leather and non-leather. The INTAKO cooperation also works on Instrument Case orders, in the process of working on it is still carried out manually and in its production activities, fabric measurement and cutting operators experience complaints of musculoskeletal disorder, thus causing a decrease in production productivity, in 1 month production can produce 150 Instrument Case products in the next production period experiencing a decrease in productivity to 100 – 120 Instrument Case. The purpose of this study is to analyze the process of measuring and cutting fabrics, where workers often experience mosculoskeletal disorders so that they are expected to be able to solve the problems experienced. This study uses the RULA and NERPA methods which are methods used in analyzing body posture when doing activities that cause the risk of mosculoskeletal disorders In this study, it is hoped that it can analyze and provide input or suggestions for improvements to workers in the fabric measurement and cutting process at the INTAKO Cooperation so that the problems experienced can be solved or minimize the risk of developing mosculoskeletal disorders

.

Keywords - Ergonomic, RULA, NERPA .

Abstra k . Koperasi INTAKO merupakan salah satu sentra kerajinan tangan pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang, dompet dan kerajinan lainnya yang terbuat dari kulit maupun non kulit. koperasi INTAKO juga mengerjakan pesanan Instrumen Case, dalam proses pengerjaanya masih dilakukan secara manual dan dalam aktivitas produksinya, operator pengukuran dan pemotongan kain mengalami keluhan musculoskeletal disorder, sehingga menyebabkan menurunnya produktivitas produksi, dalam 1 bulan produksi bisa menghasilkan 150 produk Instrumen case pada periode produksi selanjutnya mengalami penurunan produktivitas menjadi 100 – 120 Instrumen case . Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa proses pengukuran dan pemotongan kain, dimana pekerja sering mengalami gangguan moskuloskeletal sehingga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami. Penelitian ini menggunakan metode RULA dan NERPA merupakan metode yang digunakan dalam menganalisa postur kerja tubuh pada saat melakukan aktivitas yang menyebabkan risiko terkena gangguan moskuloskeletal Pada penelitian ini diharapkan dapat menganalisa dan memberi masukan atau usulan perbaikan pada pekerja proses pengukuran dan pemotongan kain di Koperasi INTAKO sehingga masalah yang dialami dapat teratasi atau meminimalisir risiko terkena gangguan moskuloskeletal

Kata Kunci Ergonomi, RULA, NERPA .

Pendahuluan

Banyaknya industri manfaktur yang masih banyak menggunakan cara manual dalam proses pembuatannya dimana tenaga manusia menjadi dominan dalam melakukan aktivitas produksi. Di dalam industi kecil menegah, Pekerjaan secara manual memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dan kualitas hasil pengerjaan yang lebih baik dari pada menggunakan mesin untuk beberapa proses produksi tertentu. Pengerjaan manual dengan keterlibatan tenaga manusia dapat menimbulkan risiko terkait kesehatan dan keselamatan kerja1. Pada kenyataannya di dunia industri masih banyak terjadi kecelakaan kerja pada pekerja melakukan pekerjaan karena kurang waspada akan bahaya yang menimbulkan potensi terjadinya kecelakaan kerja. Salah satu yang menjadi aspek penelitian adalah muscoskeletal disorder. Pada proses produksi instrumen case di Koperasi INTAKO ini masih mengandalkan tenaga manusia secara manual dalam menjalankan proses produksi. Meskipun kebanyakan proses pengerjaan dilakukan secara manual, namun hasil yang dihasilkan dari proses lainnya

Di sisi lain, jika keluhan tidak segera dilakukan perbaikan dapat menganggu kosentrasi dan mengakibatkan kelelahan pada pekerja yang berdampak pada produktivitas2. Pada pembuatan instumen case ini, terdapat 1 operator pemotongan dan pengukuran kain. Setiap produksi instrumen case, posisi operator saat proses pengukuran kain dalam pengerjaanya duduk membungkuk di bawah dengan posisi kaki ditekuk. Dan posisi saat proses pemotongan dengan badan membungkuk kedepan dengan posisi kaki agak tegak sejajar. Oleh sebab itu, operator pengukuran dan pemotongan kain mengalami keluhan musculoskeletal disorder, sehingga menyebabkan menurunnya produktivitas produksi, dalam 1 bulan produksi bisa menghasilkan 150 produk Instrumen case pada periode produksi selanjutnya mengalami penurunan produktivitas menjadi 100 – 120 Instrumen case.

Berdasarkan permasalahan tersebut tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa proses pengukuran dan pemotongan kain, dimana pekerja sering mengalami gangguan moskuloskeletal sehingga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami. Untuk menghadapi permasalahan yang dialami pekerja, perlu dilakukan sebuah metode pemecahan masalah. RULA (Rapid Upper Limb Assesment) dan NERPA (Novel Ergonomic Postur Assesment) dapat digunakan untuk menghitung faktor risiko ergonomi metode ini bisa memberikan penilaian pada upper arm, lower arm, wrist, neck, trunk, legs dengan mengkelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian A dan bagian B3.

Metode

Gambar1.FlowchartAlur Penelitian

Alat Musik

Alat musik adalah instrumen atau alat yang secara khsusus dibuat dan di ubah agar dapat menghasilkan suara musik. Meskipun pada dasarnya segala sesuatu yang menghasilkan suara dengan irama tertentu yang bisa dimainkan oleh musisi dapat dikategorikan sebagai alat musik, namun secara khusus berupa alat yang di desain hanya untuk musik4

Postur Kerja

Posisi ketika bekerja ataupun perilaku pekerjaan yang sesuai merupakan perilaku pekerjaan dimana membolehkan melakukan aktivitas kerja secara efisien serta dengan usaha otot yang sedikit. Ada prinsip bawah dalam menanggulangi perilaku badan sepanjang bekerja ialah tangkal inklinasi ke depan pada leher serta kepala. Tangkal inklinasi ke depan pada badan, tangkal pemakaian gerak anggota bagian atas dalam kondisi terangkat, tangkal pemutaran tubuh dalam perilaku asimetris, persendian diharapkan dalam rentang sepertiga dari gerakan maksimum serta bila memakai tenaga otot, diharapkan terletak dalam posisi yang menyebabkan kekuatan optimal5. postur kerja adalah posisi tubuh saat melaksanakan aktivitas kerja. Salah satu factor yang dapat menyebabkan risiko cedera (musculoskeletal disorder) yakni postur tubuh yang tidak tepat. Postur tubuh yang tidak tepat merupakan posisi tubuh ketika pekerja melakukan aktivitasnya dengan tidak normal dari biasanya6

Musculoskeletal Disorder

Musculoskeletal disorder (MSDs) merupakan gejala rasa sakit ringan sampai berat yang terjadi pada area otot skeletal. Intensitas pekerjaan berat yang dialami oleh pekerja secara berkepanjangan dengan durasi yang lama mengakibatkan rasa sakit hinga kerusakan pada tendon dan ligamen7. Musculoskeletal disorder (MSDs) adalah kendala pada sistem musculoskeletal yang diakibatkan oleh pekerjaan serta performansi kerja pada pekerjaan semacam postur badan tidak alamiah, beban, durasi serta frekuensi dan aspek orang (umur, masa kerja, merokok, IMT, serta tipe kelamin). Gangguan musculoskeletal ialah gangguan yang terjadi pada area otot skeletal yang dialami pekerja dengan level keluhan rendah sampai tinggi8

Ergonomi

Asal usul ergonomi dari Greece memiliki 2 kata ialah “ergon” artinya kerja serta “nomos” artinya hukum atau peraturan. Ergonomi merupakan kaidah atau norma dalam sistem kerja9. Ergonomi merupakan ilmu yang sistematis dengan berbagai informasi tentang sifat, keterampilan seorang pekerja atau manusia dalam perancangan system kerja sehingga pekerrja bisa melakukan pekerjaan dengan benar10. Konsep ergonomi akan menyesuaikan dan memperhatikan postur pekerja sehingga pekerja bisa melakukan pekerjaanya dengan aman11

Produktivitas Kerja

Produktivitas kerja merupakan kemampuan pekerja dalam melakukan produktivitas produksi yang berbanding dengan input yang digunakan, pekerja dikatakan produktif jika bisa membuat barang atau jassa sesuai dengan standar yang ditetapkan secara efisien12. produktivitas pekerja menjadi hal yang sangat penting penting dalam mempengaruhi kesuksesan dalam usaha. Produktivtas yang maksimal sangat penting untuk perusahaan maupun bagi karyawan dan kesejahteraannya. Produktivitas juga bagian dari kerja keras pekerja dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Oleh karena itu, pengusaha dan pekerja yang ikut berusaha dalam meningkatkan daya produksinya, melalui segala upaya untuk meningkatkan produktivitas13

Novel Ergonomic Postur Assesment (NERPA)

Novel Ergonomic Postur Assesment (NERPA) umumnya diterapkan di industri perancangan otomotof. Ini adalah versi pengembangan atau modifikasi dari metode RULA. Novel ergonomic postur assesment merupakan langkah ergonomis yang penggunannya untuk mengidentifikasi serta menilai postur tubuh bagian atas. Metode novel ergonomic postur assesment mengubah beberapa penilaian pada tubuh yang dianalisa oleh metode RULA. Metode novel ergonomic postur assesment memberikan perubahan pada lengan, leher, punggung dan pergelangan tangan dari metode RULA. Metode novel ergonomic postur assesment masih mempertahankan tabel A, B, C dari metode RULA, ini juga menetapkan tiga rentang skor di lengan atas mengikuti standar ISO 11226:200 14

Gambar 2 Nerpa Wok Sheet Assesment 15

Pada tingkat pertama metode nerpa sama dengan metode RULA, tingkat kedua lebih dari 20°-60° flexion dengan skor 2, dan tingkat ketiga lebih dari 60° flexion dengan skor tiga. Pada bagian pergelangan tangan, untuk posisi pergelangan tangan pertama sebesar 0°-15° dengan skor +1, posisi pergelangan tangan kedua sebesar 0°-45° dengan skor +2, dan untuk posisi pergelangan tangan ketiga sebesar lebih dari 45°. Pada bagian postur leher untuk metode NERPA sama dengan metode RULA tetapi jika leher berputar >10° maka skornya +1, dan jika leher menkuk >10° maka skornya +1. Untuk bagian punggung, untuk pergerakan punggung pertama sebesar 0°-20°, pergerakan punggung kedua sebesar 20°-40°, pergerakan punggung ketiga sebesar 40°-60°, dan pergerakan punggung keempat >60°. Dengan keterangan bagian punggung, apabila leher berputar >10° maka skornya +1, dan apabila leher dalam keadaan ditekuk >10° maka skornya +1 15

RULA ( Rapid Upper Limb Assesment )

RULAmerupakan metode untuk penilaian postur tubuh untuk mengidentifikasi cedera musculoskeletal terutaman pada bagian atas yang di desain oleh Lynn Mc Atamney dan Nigel Corlett (1993). Metode ini juga berguna untuk mengetahui nilai postur tubuh pekerja dengan cara mengambil sampel dari suatu postur pekerjaan yang dianggap memiliki risiko kecelakaan musculoskeletal yang dapat dialami oleh pekerja dengan melakukan penilaian 16

Gambar 3 Rapid Upper Limb Assesment 17

Table 1 Skor Upper Arm18

Score Pergerakan
1 Tangan bagian atas bentuk 20°
2 Tangan bagian atas bentuk 21° sampai 45°
3 Tangan bagian atas bentuk 46° sampai 90°
4 Tangan bagian atas bentuk >90°

apabila bahu mengangkat kemudian tangan bagian bawah memperoleh tekanan, nilai + 1, dan apabila postur pekerja tertopang kebelakang dan tangan tertopang alhasil nilai berkurang 1

Table 2 Skor Lower Arm18

Score Pergerakan
1 Tangan bagian bawah bentuk 60° sampai 100°
2 Tangan bagian bawah bentuk > 60° atau < 100°

Apabila tangan bagian bawah operator menyilang didepan tubuh atau berada di sisi tubuh, nilai +1

Table 3 Skor Wrist18

Score Pergerakan
1 Pergelangan tangan atau wrist pada posisi 0
2 Posisi pergelangan tangan tertekuk membentuk sudut 0°-15°
3 Pergelangan tangan menekuk > 15°

Jika pergelangan tangan mengalami tekukan pada deviasi ulnar dan radial, maka skor +1

Table 4 Skor Wrist Twist18

Score Pergerakan
1 Apabila perggelangan tangan menekuk di keadaan seimbang atau tengah-tengah
2 Jika pergelangan tangan menekuk di sekitar atau terakhir ketika berputar

Table 5 Skor neck18

Score Pergerakan
1 posisi leher 0°-10°
2 posisi leher 10°-20°
3 posisi leher > 20°
4 posisi leher mengarah ke bagaian bawah dan bagian atas

Apabila leher pekerja sering mengarah dan menekuk ke sisi sebelah kanan atau kiri, nilai+1

Table 6 Skor Trunk18

Score Pergerakan
1 Jika posisi punggung tegak sejajar
2 Posisi batang tubuh 0°-20°
3 Batang tubuh 20°-60°
4 Apabila batang tubuh > 60°

Table 7 Skor Legs18

Score Pergerakan
1 Jika posisi kaki disanggah sempurna ketika posisi duduk kemudian postur mengalami poisis sejajar atau berimbang
2 Posisi tubuh berdiri kita beban badan di alirkan tidak rata tidak seimbang
  1. Skor upper arm
  2. Skor lower arm
  3. Skor wrist
  4. Skor wrist twist
  5. Skor neck
  6. Skor trunk
  7. Skor legs
  8. Skor force/load

Table 8 skor force/load18

Score Pergerakan
0 Beban < 2 kilogram
1 Beban 2 kilogram sampai 10 kilogram
2 Beban 2 kilogram sampai10 kilogram (Statis atau pengulangan)
3 Beban > 10 kilogram dan pengulangan

Hasil dan pembahasan

  1. Hasil Pengukuran Dan Pengolahan Data Posisi Pengukuran Kain RULA.

Penilaian dilakukan langsung pada operatator saat melakukan aktivitas pengukuran kain akan dilakukan penilaian untuk Grup A, Grup B dan Grup C yang kemudian akan diketahui skor akhir dari postur tubuh pekerja proses pengukuran kain

Gambar 4 Aktivitas Pengukuran kain RULA

Tabel skor grup A sebagai berikut:

Table 9 Penilaian Grup A Proses Pengukuran Kain

No Posisi Tubuh Sudut Skor
1 Lengan atas 80° 3
2 Lengan bawah 30° 2
3 Pergelangan tangan 20° 3
4 Perputaran pergelangan tangan - 1

Berputarnya pergelangan tangan diposisi garis tengah, maka diberi nilai 1

Table 10 Score Tabel A

Dari tabel di atas akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup A sebagai berikut:

Table 11 Total skor Grup A

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Satu atau lebih postur badan statis atau diam
2 Beban < 2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup A 5 Skor tabel Grup A (4) + Aktivitas Statik + Beban

Berdasarkan tabel di atas, total skor grup A yaitu 5 di dapat dari hasil penjumlahan skor tabel grup A, skor aktivitas statik dan skor beban kerja

  1. Postur Tubuh Grup A
  2. Postur Tubuh Grup B

Penilaian postur tubuh Grup B sebagai berikut:

Table 12 Penilaian Grup B Proses Pengukuran Kain

No Posisi Tubuh Sudut Skor
1 Leher 20° 2
2 Punggung 55° 3
3 Kaki - 1

Pada bagian kaki pekerja dengan posisi kaki tertopang dan dalam keadaan bobot tersebar merata diberi skor 1

Table 13 Skor Tabel B

Dari tabel diatas, akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup B sebagai berikut:

Table 14 Total Skor Grup B

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Satu atau lebih postur badan statis atau diam
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup B 5 Skor tabel Grup B (4) + Aktivitas Statik + Beban

Setelah di dapatkan hasil total skor Grup A = 5 dan Grup B = 5, maka langkah selanjutnya yaitu rekapitulasi skor akhir dari kedua skor tersebut menggunakan final skor tabel C sebagai berikut:

Table 3.7 Final Score Tabel C

Dari tabel skor Grup C diatas dapat disimpulkan untuk skor akhir pada proses pengukuran adalah 6. Berdasarkan skor tersebut maka kegiatan atau pekerjaan proses pengukuran berada pada level sedang dengan diperlukan tindakan dalam waktu dekat

  1. Hasil Pengukuran Dan Pengolahan Data Posisi Pemotongan Kain RULA

Pada penilaian dan pengolahan data pada posisi pemotongan kain ini dilakukan untuk mencari skor pada Grup A, Grup B dan Grup C yang kemudian akan diketahui skor akhir dari postur tubuh pekerja proses pengukuran kain sebagai berikut:

Gambar 5 Aktivitas Pemotongan Kain RULA

Penilaian postur tubuh Grup A sebagai berikut:

Table 3.8 Penilaian Grup A Proses Pemotongan Kain

No Posisi Tubuh Sudut Skor
1 Lengan atas 50° 3
2 Lengan bawah 25° 2
3 Pergelangan tangan 20° 3
4 Perputaran pergelangan tangan - 1

Perputaran pergelangan tangan berada pada rentang garis menengah, maka diberi skor sama dengan 1

Tabel skor Grup A sebagai berikut:

Table 3.9 Skor Tabel A

Dari tabel 3.9 di atas akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup A sebagai berikut:

Table 10 Total Skor Grup A

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Satu atau lebih postur badan statis atau diam
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup A 5 Skor tabel Grup A (4) + Aktivitas Statik + Beban

Berdasarkan tabel di atas, total skor Grup A yaitu 5 di dapat dari hasil penjumlahan skor tabel grup A, skor aktivitas statik dan skor beban kerja

  1. Postur Tubuh Grup A
  2. Postur Tubuh Grup B

Postur tubuh Grup B sebagai berikut:

Table 11 Penilaian Grup B Proses Pemotongan Kain

No Posisi Tubuh Sudut Skor
1 Leher 25° 3
2 Punggung 103° 4
3 Kaki - 1

Pada bagian kaki pekerja dengan posisi kaki seimbang atau tertopang dan dalam keadaan bobot tersebar merata diberi skor = 1

Table 12 Skor Tabel B

Dari tabel 12 diatas, akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup B sebagai berikut:

Table 13 Total Skor Grup B

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Satu atau lebih postur badan statis atau diam
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup B 6 Skor tabel Grup B (5) + Aktivitas Statik + Beban

Setelah didapatkan hasil skor Grup A dan Grup B, maka langkah selanjutnya yaitu rekapitulasi skor akhir dari kedua skor tersebut. Skor akhir tersebut dapat ditentukan menggunakan tabel untuk menghitung skor akhir. Kemudian skor akhir dari Grup A dan Grup B bisa dilihat pada tabel berikut:

Table 14 Final Skor Tabel C

Dari tabel 14 final skor Grup C diatas dapat disimpulkan untuk skor akhir pada proses pemotongan adalah 7. Dari score itu kegiatan atau pekerjaan proses pengukuran berada pada level tinggi dengan diperlukan tindakan sekarang juga

  1. Hasil Pengukuran Dan Pengolahan Data Posisi Pengukuran Kain NERPA

Penilaian dilaksanakan langsung pada pekerja ketika melakukan pekerjaan pengukuran kain untuk dilakukan penilaian pada Grup A, Grup B dan Grup C yang kemudian akan diketahui hasil akhir dari postur tubuh pekerja proses pengukuran kain sebagai berikut:

Gambar 6 Aktivitas Pengukuran Kain NERPA

Penilaian postur tubuh Grup A sebagai berikut:

Table 15 Penilaian Grup A Proses Pengukuran Kain

No Posisi Tubuh Sudut Score
1 Lengan atas 80° 3
2 Lengan bawah 30° 2
3 Pergelangan tangan 20° 2
4 Perputaran pergelangan tangan - 1

Perputaran pergelangan pada tangan diposisi garis tengah, jadi nilai 1

Tabel skor grup A sebagai berikut:

Table 16 Skor Tabel A

Dari tabel 16 di atas akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup A sebagai berikut:

Table 17 Total Skor Grup A

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Aktivitas pekerjaan operator pengukuran kain dilakukan berulang ulang 4 kali/menit
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup A 5 Skor tabel Grup A (4) + Aktivitas Statik + Beban

Berdasarkan tabel di atas, total skor grup A yaitu 5 di dapat dari hasil penjumlahan skor tabel grup A, skor aktivitas statik dan skor beban kerja

  1. Postur Tubuh Grup A
  2. Postur Tubuh Grup B

Penilaian postur tubuh Grup B sebagai berikut:

Table 18 Penilaian Grup B Proses Pengukuran Kain

No Posisi Tubuh Sudut Score
1 Leher 30° 3
2 Punggung 55° 3
3 Kaki - 1

Pada bagian kaki tertopang seimbang dengan posisi menekuk, diberi skor 1

Table 19 Skor Tabel B

Dari tabel 19 diatas, akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup B sebagai berikut

Table 20 Total Skor Grup B

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Aktivitas pekerjaan operator pengukuran kain dilakukan berulang ulang 4 kali/menit
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup B 5 Skor tabel Grup B (4) + Aktivitas Statik + Beban

Setelah didapatkan hasil skor Grup A dan Grup B, maka langkah selanjutnya yaitu rekapitulasi skor akhir dari kedua skor tersebut. Skor akhir tersebut dapat ditentukan menggunakan tabel untuk menghitung skor akhir. Kemudian skor akhir dari Grup A dan Grup B bisa dilihat pada tabel berikut:

Table 21 Final Skor Tabel C

Berdasarkan tabel 21 diatas maka dapat diketahui penilaian tubuh pada aktivitas pengukuran adalah 6. Nilai ini menandakan bahwa aktivitas pengukuran kain dilakukan perbaikan dalam waktu dekat.

  1. Hasil Pengukuran Dan Pengolahan Data Posisi Pemotongan Kain NERPA

Penilaian dilaksanakan langsung pada pekerja ketika melakukan pekerjaan pengukuran kain untuk dilakukan penilaian pada Grup A, Grup B dan Grup C yang kemudian akan diketahui hasil akhir dari postur tubuh pekerja proses pengukuran kain sebagai berikut:

Gambar 7 Aktivitas Pemotongan Kain NERPA

Penilaian postur tubuh Grup A sebagai berikut:

Table 22 Penilaian Grup A Proses Pemotongan Kain

No Posisi Tubuh Sudut Score
1 Lengan atas 50° 2
2 Lengan bawah 25° 2
3 Pergelangan tangan 20° 2
4 Perputaran pergelangan tangan - 1

Perputaran pergelangan pada tangan diposisi garis tengah, jadi nilai 1

Table 23 Skor Tabel A

Dari tabel 23 di atas akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup A sebagai berikut:

Table 24 Total Skor Grup A

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Aktivitas pekerjaan operator pengukuran kain dilakukan berulang ulang 4 kali/menit
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup A 4 Skor tabel Grup A (3) + Aktivitas Statik + Beban
  1. Postur Tubuh Grup A
  2. Postur Tubuh Grup B

Penilaian postur tubuh Grup B sebagai berikut:

Table 25 Penilaian Grup B Proses Pemotongan Kain

No Posisi Tubuh Sudut Score
1 Leher 25° 3
2 Punggung 103° 4
3 Kaki - 1

Pada bagian kaki tertopang seimbang dengan posisi menekuk, diberi skor 1

Table 26 Skor Tabel B

Dari tabel 26 diatas, akan dilakukan penilaian aktivitas, beban dan skor akhir Grup B sebagai berikut:

Table 27 Total Skor Grup B

No Kategori Skor Keterangan
1 Aktivitas statis 1 Aktivitas pekerjaan operator pengukuran kain dilakukan berulang ulang 4 kali/menit
2 Beban <2Kg 0 Beban yang ada dalam proses pemotongan < 2Kg
Total Skor Grup B 6 Skor tabel Grup B (5) + Aktivitas Statik + Beban

Setelah didapatkan hasil skor Grup A dan Grup B, maka lankah selanjutnya yaitu rekapitulasi skor akhir dari kedua skor tersebut. Skor akhir tersebut dapat ditentukan menggunakan tabel untuk menghitung skor akhir. Kemudian skor akhir dari Grup A dan Grup B bisa dilihat pada tabel berikut:

Table 28 Final Skor Tabel C

Berdasarkan tabel 28 diatas maka dapat diketahui penilaian tubuh pada aktivitas pengukuran adalah 6. Nilai ini menandakan bahwa aktivitas pengukuran kain harus dilakukan perbaikan dalam waktu dekat.

  1. Usulan Perbaikan

Berdasarkan hasil Analisa yang didapatkan dari penilaian dan pengamatan pada operator pengukuran dan pemotongan kain, dimana aktivitas banyak dilakukan di lantai atau bawah dan ketika saat pekerja melakukan aktivitas pengukuran dapat dilihat pekerja melakukan aktivitas pengukuran dengan posisi tubuh jongkok dengan kaki ditekuk dengan tangan mengarah kedepan, sedangkan posisi saat pekerja melakukan aktivitas pemotongan bagian kaki lurus sejajar tetapi posisi punggung membungkuk kedepan dengan baian tangan menggantung saat memegang gunting.

Gambar 8 Desain Meja Pemotongan

Dari gambar 8 desain meja pemotongan dirancang sebagai alat bantu pekerja operator pengukuran dan pemotongan kain agar lebih ergonomis dan bisa meminimalisir risko musculoskeletal. Desain meja tersebut memiliki ketinggian 1 Meter dengan lebar 1,5 Meter menyesuaikan dengan lebar kain yang akan dipotong, untuk Panjang meja berukuran 2,5 Meter menyesuaikan dengan tempat bekerja yang terbatas. Kemudian untuk bagian kiri pada desain meja terdapat besi lonjor dengan Panjang menyesuaikan lebar kain dengan fungsi sebagai tempat menaruh atau menggelar kain di bagian atas meja dengan maksud untuk memudahkan operator pengukuran dan pemotongan kain.

SIMPULAN

Berdasarkan Analisa dan penilaian menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment) pada operator pengukuran dan pemotongan kain memiliki hasil yang berbeda, di dapatkan bahwa pada posisi pengukuran mendapatkan skor 6 dengan level risiko sedang dan harus dilakukan tindakan dalam waktu dekat. Sedangkan pada posisi pemotongan mendapatkan skor 7 dengan level risiko tinggi dan harus dilakukan tindakan segera.

Kemudian untuk Analisa dan penilaian menggunakan metode NERPA (Novel Ergonomic Postur Assesment) pada pengukuran dan pemotongan kain mendapatkan hasi skor yang sama yakni 6 dengan level risiko sedang dan harus dilakukan penindakan dalam waktu dekat

U CAPAN T ERIMA K ASIH

Ungkapan terima kasih yang teramat besar ditujukan kepada ketua dan personalia serta pekerja pada bagian proses pengukuran dan pemotongan di Koperasi INTAKO yang bersedia menjadi tempat dan objek penelitian, meskipun penelitian ini masih jauh dari kata sempurna tetapi semoga dengan hasil penelitian ini dapat memberikan ilmu dan referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

R EFERENSI

[2]N. Evadarianto, “Postur Kerja Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders Pada Pekerja Manual Handlingbagian Rolling Mill,” Indones. J. Occup. Saf. Heal., vol. 6, no. 1, p. 97, 2017, doi: 10.20473/ijosh.v6i1.2017.97-106.

[3]F. Salimi, M. J. Sheikhmozafari, S. Tayebisani, and O. Ahmadi, “Risk Assessment of Musculoskeletal Disorders Prevalence in Female Hairdressers using RULA and NERPA Techniques,” Int. J. Musculoskelet. Pain Prev., vol. 6, no. 3, pp. 545–553, 2021, doi: 10.52547/ijmpp.6.3.545.

[4]Zulfan and Baihaqi, “Pengembangan Materi Dan Kegiatan Pembelajarannya Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bidang Seni Musik,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2018.

[5]T. I. Oesman, E. Irawan, and P. Wisnubroto, “Analisis Postur Kerja dengan RULA Guna Penilaian Tingkat Risiko Upper Extremity Work-Related Musculoskeletal Disorders. Studi Kasus PT. Mandiri Jogja Internasional,” J. Ergon. Indones. (The Indones. J. Ergon., vol. 5, no. 1, p. 39, 2019, doi: 10.24843/jei.2019.v05.i01.p06.

[6]H. Tannady, S. M. Sari, and E. Gunawan, “Analisis Postur Kerja Pembuat Gula Srikaya dengan Metode Quick Exposure Checklist,” Pros. SNATIF, pp. 759–762, 2017.

[7]B. P. Nino, B. Widjasena, and Ekawati, “Hubungan Tingkat Risiko Ergonomi Dan Beban Angkut Terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders (Msds) Pada Pabrik Pemotongan Kayu X Mranggen, Demak,” J. Kesehat. Masy., vol. 6, no. 3, pp. 248–253, 2019.

[8]B. N. A. Djuarsah and Herlina, “Pengaruh Kondisi Kerja Tidak Ergonomi terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Finishing di PT Wika Gedung Depok,” J. Persada Husada Indones., vol. 5, no. 19, pp. 51–61, 2018, [Online]. Available: http://jurnal.stikesphi.ac.id/index.php/kesehatan

[9]Tarwaka and S. H. A. Bakri, Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. 2016. [Online]. Available: http://shadibakri.uniba.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/Buku-Ergonomi.pdf

[10]S. Ashary Aznam, D. Mardi Safitri, and R. Dwi Anggraini, “Ergonomi Partisipatif Untuk Mengurangi Potensi Terjadinya Work-Related Musculoskeletal Disorders,” J. Tek. Ind., vol. 7, no. 2, pp. 94–104, 2017, doi: 10.25105/jti.v7i2.2213.

[11]S. Wachidatul Bahiyyah and B. Isma Putra, “Analisa Postur Kerja untuk Mengukur Risiko Cedera Dengan Metode Cornell Musculoskeletal Discomfort Questionnaires, Rapid Upper Limb Assessment dan Rapid Entire Body Assessment,” JATI UNIK J. Ilm. Tek. dan Manaj. Ind., vol. 7, no. 2, pp. 111–123, 2024, doi: 10.30737/jatiunik.v7i2.5408.

[12]S. Sinaga, “Pengaruh Motivasi Dan Pengalaman Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Pada Pt. Trikarya Cemerlang Medan,” J. Ilm. METADATA, vol. 2, no. 2, pp. 159–169, 2020, doi: 10.47652/metadata.v2i2.28.

[13]R. Z. Pitriyani P, Halimi A, “Pengaruh Sikap Kerja Dan Keterampilan Kerja,” E-Journal Bisma, vol. 1, no. 2, pp. 58–64, 2019.

[14]A. G. Azwar, “Analisis Postur Kerja Dan Beban Kerja Dengan Menggunakan Metode Nordic Body Map Dan Nasa-Tlx Pada Karyawan Ukm Ucong Taylor Bandung,” Techno-Socio Ekon., vol. 13, no. 2, p. 90, 2020, doi: 10.32897/techno.2020.13.2.424.

[15]A. Sanchez-Lite, M. Garcia, R. Domingo, and M. Angel Sebastian, “Novel Ergonomic Postural Assessment Method (NERPA) Using Product-Process Computer Aided Engineering for Ergonomic Workplace Design,” PLoS One, vol. 8, no. 8, pp. 1–12, 2013, doi: 10.1371/journal.pone.0072703.

[16]L. Susanti, H. Zadry, and B. Yuliandra, Pengantar Ergonomi Industri. 2015.

[17]I. S. A. Wijaya and A. Muhsin, “Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula) Pada Oparator Mesin Extruder Di Stasiun Kerja Extruding Pada Pt Xyz,” Opsi, vol. 11, no. 1, p. 49, 2018, doi: 10.31315/opsi.v11i1.2200.

[18]Siswiyanti and Rusnoto, “Analisa Postur Kerja Pada Pewarnaan Batik Tulis (Celup Tradisional) Dan (Celup Mesin) Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula),” Pros. Semin. Nas. Multi Disiplin Ilmu Call Pap. Unisbank Ke-3, pp. 263–272, 2017.

References

N. Khairani, “Effect of Manual Handling on Musculoskeletal Disorders Complaints Among Transport Workers,” PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 5, no. 2, pp. 969–974, 2021.

N. Evadarianto, “Work Posture and Musculoskeletal Disorders Complaints in Rolling Mill Workers,” Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, vol. 6, no. 1, pp. 97–106, 2017.

F. Salimi, M. J. Sheikhmozafari, S. Tayebisani, and O. Ahmadi, “Risk Assessment of Musculoskeletal Disorders Using RULA and NERPA Techniques,” International Journal of Musculoskeletal Pain Prevention, vol. 6, no. 3, pp. 545–553, 2021.

Zulfan and Baihaqi, “Development of Learning Materials in Education Curriculum,” Journal of Chemical Information and Modeling, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2018.

T. I. Oesman, E. Irawan, and P. Wisnubroto, “Work Posture Analysis Using RULA for Upper Extremity Musculoskeletal Disorder Risk Assessment,” Jurnal Ergonomi Indonesia, vol. 5, no. 1, p. 39, 2019.

H. Tannady, S. M. Sari, and E. Gunawan, “Work Posture Analysis Using Quick Exposure Checklist Method,” Prosiding SNATIF, pp. 759–762, 2017.

B. P. Nino, B. Widjasena, and Ekawati, “Relationship Between Ergonomic Risk Level and Load on Musculoskeletal Disorders in Wood Industry Workers,” Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 6, no. 3, pp. 248–253, 2019.

B. N. A. Djuarsah and Herlina, “Effect of Non-Ergonomic Working Conditions on Musculoskeletal Disorders in Workers,” Jurnal Persada Husada Indonesia, vol. 5, no. 19, pp. 51–61, 2018.

Tarwaka and S. H. A. Bakri, Ergonomics for Occupational Safety, Health, and Productivity, 2016.

S. Ashary Aznam, D. Mardi Safitri, and R. Dwi Anggraini, “Participatory Ergonomics to Reduce Work-Related Musculoskeletal Disorders,” Jurnal Teknik Industri, vol. 7, no. 2, pp. 94–104, 2017.

S. Wachidatul Bahiyyah and B. Isma Putra, “Work Posture Analysis Using CMDQ, RULA, and REBA Methods,” JATI UNIK Journal, vol. 7, no. 2, pp. 111–123, 2024.

S. Sinaga, “Effect of Motivation and Work Experience on Employee Productivity,” Jurnal Ilmiah Metadata, vol. 2, no. 2, pp. 159–169, 2020.

R. Z. Pitriyani and A. Halimi, “Effect of Work Attitude and Skills on Performance,” E-Journal Bisma, vol. 1, no. 2, pp. 58–64, 2019.

A. G. Azwar, “Work Posture and Workload Analysis Using Nordic Body Map and NASA-TLX,” Techno-Socio Ekonomi, vol. 13, no. 2, p. 90, 2020.

A. Sanchez-Lite, M. Garcia, R. Domingo, and M. A. Sebastian, “Novel Ergonomic Postural Assessment Method Using Computer-Aided Engineering,” PLoS One, vol. 8, no. 8, pp. 1–12, 2013.

L. Susanti, H. Zadry, and B. Yuliandra, Introduction to Industrial Ergonomics, 2015.

I. S. A. Wijaya and A. Muhsin, “Work Posture Analysis Using RULA Method in Extruder Machine Operators,” Opsi Journal, vol. 11, no. 1, p. 49, 2018.

Siswiyanti and Rusnoto, “Work Posture Analysis in Batik Coloring Using RULA Method,” Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu, pp. 263–272, 2017.