Login
Section Innovation in Mechanical Engineering

Rice Planting Machine Design with Uniform Spacing Mechanism

Desain Mesin Penanam Padi dengan Mekanisme Jarak Tanam yang Seragam
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Muhammad Alriz Nur Aftian (1), Mulyadi (2)

(1) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Agricultural productivity depends on efficient and uniform planting methods. Specific Background Mechanical rice planting tools are developed to replace manual methods and improve consistency. Knowledge Gap However, limited studies focus on design selection based on systematic evaluation methods for rice planting machines. Aims This study aims to design and determine the best concept of a rice planting machine using the Ulrich and Eppinger method. Results The evaluation shows that Concept A achieves the highest score based on manufacturability, operation, maintenance, and cost criteria, and is capable of planting seedlings with a spacing of 25 cm × 25 cm. Novelty The study applies a structured concept selection approach combined with mechanical system design for rice planting. Implications The proposed design provides a practical solution to improve planting uniformity, reduce labor effort, and support agricultural efficiency.


Keywords: Rice Planting Machine, Mechanical Design, Concept Selection, Agricultural Equipment, Planting Mechanism


Key Findings Highlights


Selected design achieved highest evaluation score


Planting pattern maintained consistent grid spacing


Integrated mechanism supports synchronized motion

Downloads

Download data is not yet available.

Design of Rice Planting Equipment with Gasoline Engine Drive to Increase Agricultural Efficiency

[ Desain Alat Tanam Padi Dengan Penggerak Mesin Bensin Untuk Meningkatkan Efisiensi Pertanian ]

Muhammad Alriz Nur Aftian1), Mulyadi2).

1)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

2)Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Email Penulis Korespondensi: mulyadi@umsida.ac.id

Abstract. This research aims to develop a rice planting tool design powered by a gasoline engine as a modern solution to replace manual rice planting methods. This initiative is driven by the need to improve efficiency and productivity in the rice planting process, as well as the need for practical, affordable, and widely usable tools. The rice planting tool design is created using SolidWorks 2018 software to optimize performance and ergonomics. The Ulrich method is used in the design development process through a series of stages, including needs identification, concept creation, and selection of the best concept. The concept selection results indicate that Design A is the optimal choice with a relative value of 44% and an absolute value of 4.65.Strength simulations on Concept A's frame demonstrated a maximum computational strain of 0.0000848, a maximum displacement of 1.064 mm, and a safety factor of 12>1, indicating that this design is safe to use. Concept A stands out for its high efficiency and ease of production, making it the preferred option for further development. The resulting rice planting machine is designed to provide a practical and efficient solution for boosting agricultural productivity. Its robust, simple, and cost-effective design makes it suitable for small and medium-scale farmers, contributing to the modernization of agriculture.

Keywords - Ulrich Method, Design Concept, Frame Strength Simulation, Safety Factor, Modernization of the Agricultural Sector

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menggembangkan desain alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin sebagai solusi modern yang menggantikan penanaman padi secara manual. Inisiatif ini didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam proses penanaman padi. Serta perlunya inovasi alat yang praktis, terjangkau, dan dapat digunakan secara luas. Desain alat tanam padi ini dibuat menggunakan aplikasi solidworks 2018 untuk mengoptimalkan kinerja dan ergonominya. Metode ulrich digunakan dalam proses pengembangan desain melalui serangkaian tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan, pembuatan konsep desain dan pemilihan konsep terbaik. Hasil pemilihan konsep menunjukkan bahwa desain A merupakan pilihan optimal dengan nilai relatif sebesar 44 % dan nilai absolut sebesar 4,65. Sedangkan hasil simulasi kekuatan rangka pada desain konsep A menunjukkan strain komputasi maksimum 0,0000848, displacement maksimum 1,064 mm dan faktor keamanan sebesar 12>1, mengindikasikan desain ini aman untuk digunakan. Konsep A memiliki keunggulan berupa efisiensi tinggi dan kemudahan dalam proses produksi, sehingga dipilih untuk dilanjutkan ke tahap desain selanjutnya. Alat tanam padi ini diharapkan mampu memberikan solusi praktis dan efisien dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Desain yang sederhana, kuat, dan terjangkau menjadikannya cocok untuk petani skala kecil hingga menengah, sekaligus mendukung modernisasi sektor pertanian.

Kata Kunci - Metode Ulrich, Konsep Desain, Simulasi Kekuatan Rangka, Faktor Keamanan, Modernisasi Sektor Pertanian

I. Pendahuluan

Indonesia sangat bergantung pada sektor pertanian yang berkontribusi besar terhadap pendapatan devisa negara. Penggunaan teknologi modern oleh petani menunjukkan perbedaan signifikan dalam kepraktisan dan hasil panen dibandingkan dengan metode tradisional 1. Petani berperan krusial dalam pembangunan pertanian karena mereka adalah pelaku utama yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan produktivitas hasil pertanian . Teknologi pertanian sangat penting karena mayoritas petani di Indonesia berusia lanjut dan dianggap tidak lagi produktif, sedangkan minat generasi muda untuk terjun di sektor pertanian semakin berkurang 23. Tantangan utama sektor ini adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi, terutama di negara dengan populasi tinggi seperti indonesia. Metode tanam padi manual yang masih dominan membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu, sehingga biaya operasional tinggi dan efisiensi rendah. Teknologi dalam sektor pertanian mencakup berbagai inovasi yang mempermudah proses kerja serta meningkatkan kualitas hasil yang diperoleh 4.

Salah satu metode untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan memanfaatkan peralatan dalam proses penanaman padi 5. Teknologi penanaman padi menggunakan alat tanam padi sedang dikembangkan di beberapa daerah. alat ini dirancang ringan dan dapat beroperasi di lahan dengan kedalaman lumpur kurang dari 40 cm serta dilengkapi alat pengapung 6. Penggunaan alat tanam padi di indonesia memiliki potensi yang baik, mengingat indonesia saat ini sedang menghadapi masalah keterbatasan tenaga kerja untuk menanam padi, yang secara langsung memengaruhi tingkat produksi padi 2. Alat penanam padi ini membantu mempercepat proses penanaman. Selain itu, alat ini mengurangi biaya tenaga kerja, sehingga meningkatkan keuntungan petani 7.

Pada penelitian Supriyono dkk yang berjudul pembuatan alat tanam padi manual 4 alur model IRRI masih terdapat kendala berupa lubang kosong pada jalur penananaman, kemungkinan disebabkan oleh kondisi lahan yang datar atau kegagalan penjepitan oleh lengan pemetik 5. Pada penelitian randi saputra yang berjudul rancang bangun alat tanam padi semi mekanik tadah benih horizontal metode rotary masih terdapat kendala dalam menjaga konsistensi jumlah benih yang tertanam, dengan variasi hasil yang menunjukkan kemungkinan pengaruh kondisi lingkungan atau jenis tanah terhadap kinerja alat 8. Pada penelitian wahyu septiawan yang berjudul perancangan mesin tanam padi elektrik, masih terdapat kendala pada desain penancap yang masih memerlukan peningkatan, karena fungsinya belum optimal dan desain kerangka juga perlu diperbaiki agar tidak mengalami deformasi atau pembengkokan pada rangka 9.

Desain alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga dalam penanaman padi dengan merancang alat tanam padi berbasis mesin bensin. Alat ini diharapkan dapat mempercepat proses penanaman, menjaga keseragaman jarak tanam, dan mempermudah pengguna dalam mengoperasikan alat ini. Proses pengembangan meliputi optimalisasi desain komponen utama, sistem transmisi, serta aspek ergonomi untuk memastikan alat dapat digunakan secara efektif di lapangan. Dalam mendesain alat tanam padi, menggunakan bantuan aplikasi Solidworks 2018 yang berfungsi untuk mengetahui desain rancangan berbentuk 3D guna memastikan hasil rancangan dapat mencapai tingkat kesempurnaan yang diharapkan. Diharapkan alat tanam padi ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan produktivitas pertanian di indonesia dan negara berkembang lainnya. Dengan demikian, pengembangan desain alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi pertanian, tetapi juga berperan dalam mendukung keberlanjutan dan ketahanan pangan di masa depan.

II. Metode

2 .1 Diagram Alir Penelitian

Diagram alir ini disusun untuk memastikan penelitian ini berjalan sesuai dengan tahapan yang diinginkan dan mencapai hasil yang optimal. Berikut adalah flowchart dari penelitian " Desain Alat Tanam Padi Dengan Penggerak Mesin Bensin Untuk Meningkatkan Efisiensi Pertanian " yang ditampilkan pada Gambar 1.

    Gambar 1. FlowchartPenelitian

    2 .2 Konsep Refrensi Alat Tanam Padi

    Pengembangan konsep alat tanam padi dengan penggerak mesin bensinini, berdasarkan pada konsep referensi yang di desain oleh Wahyu Septiawan N. 9. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2, Alat ini merupakan sebuah alat tanam padi elektrik yang menggantikan penanaman padi secara tradisional.

    Gambar2.Desain Referensi

    2.3 Penyusunan List of Requirement

    Daftar kebutuhan produk dapat disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek dengan mengikuti format tabel seperti yang tercantum pada tabel 1 berikut.

    Tabel 1. Daftar Kebutuhan

    No Daftar Kebutuhan
    Uraian Kebutuhan S/H Keterangan
    1 a i a1
    2 b i b1
    3 c i c1
    4 d i d1
    5 f i f1
    6 g i g1
    7 h i h1

    Dari tabel 1 tersebut dijelaskan coding-coding masing-masing kolom adalah

    a-h = uraian kebutuhan

    i = syarat atau harapan

    a1-h1 = keterangan uraian kebutuhan

    2.4 Pemilihan Konsep Desain

    Pemilihan konsep desain merupakan langkah penting dalam proses perancangan, terutama untuk memastikan solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pengguna dan memenuhi kriteria desain yang telah ditentukan. Oleh karena itu dipilih melalui proses pertimbangan berbagai hal seperti fungsi, kegunaan, estetika, keamanan, dan biaya. Dalam penelitian ini, pemilihan konsep desain dilakukan dengan menerapkan metode ulrich. Metode ulrich dan epinger untuk proses pengembangan konsep meliputi perencanaan produk, mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, menghasilkan konsep, memilih konsep, dan menguji konsep 10. Metode ulrich dapat mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan desain, mengatasi kelemahan yang ada, dan memanfaatkan keunggulan yang sudah dimiliki produk tersebut 11. Bentuk matriks dalam penilaian konsep serupa dengan matriks pada tahap penyaringan konsep. Perbedaannya terletak pada kriteria yang digunakan, di mana setiap kriteria diberikan bobot penilaian sesuai dengan tingkat kepentingannya. Contoh model matriks penilaian konsep dapat dilihat pada tabel 2 berikut 12.

    Tabel 2. Matrix Penilaian Konsep

    Matrix Penilaian Konsep
    Keiteria Seleksi Bobot Konsep Produk (A, B & Refrensi)
    Rate Skor Bobot Rate Skor Bobot Rate Skor Bobot
    Manufaktur  A e1 h1 f1 i1 g1 j1
    Pengoperasian  B e2 h2 f2 i2 g2 j2
    Perawatan  C e3 h3 f3 i3 g3 j3
    Biaya  D e4 h4 f4 i4 g4 j4
    Bobot Total (%) x
    Nilai Absolut   k1 l1 k2 L2 k3 l3
    Nilai Relatif (%)   m1 n1 m2 n2 m3 n3

    Dari tabel 2 tersebut dijelaskan coding-coding masing-masing kolom adalah

    a – d = Bobot Penilaian

    e1 – g4 = hasil rate dari kuisioner

    h1 – j4 = hasil dari rate dikali bobot

    k1 – k3 = hasil dari penjumlahan rate

    l1 – l3 = hasil dari penjumlahan skor bobot

    m1 – m3 = hasil dari k1, k2, k3 dibagi k1-k3 dikali 100%

    n1 – n3 = hasil dari n1, n2, n3 dibagi n1 – n3 dikali 100%

    x = total bobot

    Untuk mencari skor bobot dan nilai relatif menggunakan persamaan berikut:

    Skor bobot = Rate x Bobotpers.1

    Nilai Relatif Rate = x 100%pers.2

    Nilai Relatif Skor Bobot = x 100%pers.3

    Dimana:

    Rate = Nilai yang diberikan

    Bobot = Bobot yang sudah ditentukan untuk setiap aspek (%)

    Tahapan penilaian konsep dilakukan melalui pemberian skor antara 1 hingga 5. Semakin tinggi skor yang diberikan, semakin baik kriteria konsep pada produk tersebut. Data penilaian diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden. Penjelasan mengenai skor tersebut dapat dilihat pada tabel 3 yang ada dibawah ini.

    Tabel 3. Keterangan Penilaian Konsep

    Pertanyaan Skor Keterangan
    Apakah proses manufaktur dari desain ini sudah efisien dan mudah dilakukan? 1 Desain ini sulit diproduksi dan menghambat proses manufaktur.
    2 Ada beberapa kendala yang mungkin memperlambat manufaktur.
    3 Desain ini cukup efisien tetapi memerlukan sedikit perbaikan.
    4 Desain ini hampir optimal dan mendukung efisiensi manufaktur.
    5 Desain ini sangat efisien dan mudah diimplementasikan dalam manufaktur.
    Apakah konsep ini mempermudah operasional di lapangan?   1 Operasional menjadi sangat sulit dengan desain ini.
    2 Masih ada kesulitan yang cukup signifikan dalam operasional.
    3 Operasional cukup mudah dengan beberapa penyesuaian.
    4 Operasional sangat dipermudah dengan desain ini.
    5 Operasional menjadi sangat efisien dan praktis dengan desain ini.
    Apakah biaya pembuatan dari desain ini dapat ditekan lebih rendah?   1 Biaya pembuatan sangat tinggi dan sulit ditekan.
    2 Biaya masih cukup tinggi tetapi ada sedikit peluang untuk pengurangan.
    3 Biaya pembuatan dan dapat dioptimalkan lebih lanjut.
    4 Biaya pembuatan sudah cukup rendah dan terkontrol.
    5 Biaya pembuatan sangat rendah dan sangat efisien.
    Apakah desain ini akan membutuhkan perawatan yang rumit atau sederhana?   1 Perawatan sangat rumit dan membutuhkan biaya besar.
    2 Perawatan cukup rumit dan memerlukan banyak sumber daya.
    3 Perawatan cukup sederhana tetapi masih bisa ditingkatkan.
    4 Perawatan sangat sederhana dan mudah dilakukan.
    5 Desain ini hampir tidak memerlukan perawatan sama sekali.

    2.5 Desain Konsep Terpilih

    Desain konsep yang terpilih menggunakan metode ulrich melibatkan penentuan kriteria evaluasi, pemberian bobot pada setiap kriteria, dan penilaian alternatif konsep berdasarkan kriteria tersebut. Skor setiap kriteria dihitung dengan mengalikan nilai penilaian dengan bobotnya, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan skor total. Konsep dengan skor tertinggi dipilih sebagai yang terbaik, memastikan proses seleksi yang objektif dan terstruktur.

    2.6 Perhitungan Alat Tanam Padi

    Sebelum merancang sebuah mesin, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyusun perencanaan serta perhitungan terhadap mesin yang akan dibuat 13. Berikut ini adalah perencanaan dan perhitungan untuk alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin tersebut 14:

    1. Menghitung Keliling dan Kecepatan Roda

    Tujuan menghitung keliling roda adalah untuk memastikan bahwa roda berfungsi dengan optimal dan sesuai dengan spesifikasi. Perhitungan ini penting untuk memastikan akurasi dalam pengukuran kecepatan dan kesesuaian ukuran, serta untuk mengoptimalkan performa kendaraan atau mesin yang menggunakan roda tersebut. Dapat dihitung dengan rumus berikut:

    dimana:

    k = keliling roda (m)

    d = diameter roda (m)

    1. k = π x dpers.4
    2. v = k x npers.5

    dimana:

    v = kecepatan roda (m/min)

    k = keliling roda (m)

    n = putaran roda (rpm)

    1. Menghitung Pulleydan V-Belt

    Menghitung pulley dalam sistem transmisi melibatkan beberapa parameter utama yang berperan dalam menentukan efisiensi dan performa sistem. Melibatkan parameter penting seperti diameter pulley, kecepatan putar (rpm), dan rasio transmisi, yang semuanya mempengaruhi bagaimana kecepatan yang ditransmisikan antara pulley penggerak dan pulley yang digerakkan. Adapun persamaan yang digunakan sebagai berikut:

    = pers.6

    dimana:

    d1 = diameter pulley penggerak (m)

    d2 = diameter pulley yang digerakkan (m)

    n1 = putaran pulley penggerak (rpm)

    n2 = putaran pulley yang digerakkan (rpm)

    v = pers.7

    dimana:

    v = kecepatan v-belt (m/s)

    d = diameter pulley (m)

    n = putaran pulley (rpm)

    L= π (r1 + r2) + 2x + pers.8

    dimana:

    L = panjang v-belt (m)

    r = jari-jari pulley (m)

    x = jarak antara pusat dua pulley (m)

    1. Diameter Pulley
    2. Kecepatan v-belt
    3. Menghitung panjang v-belt
    4. Daya dan tegangan transmisi pulley

    P = (T1 – T2) v pers.9

    dimana:

    P = daya transmisi (Kw)

    v = kecepatan v-belt (m/s)

    T1 = tegangan v-belt pada sisi kencang (N)

    T2 = tegangan v-belt pada sisi longgar (N)

    1. Menghitung Kecepatan dan Torsi Gearbox

    Gearbox adalah komponen mekanis yang digunakan untuk mengubah torsi dan kecepatan dari mesin atau motor ke perangkat yang terhubung. Menghitung rasio dan torsi dari gearbox untuk menentukan efisiensi dan performa sistem transmisi, serta memastikan kesesuaian dengan kebutuhan aplikasi yang diinginkan. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:

    1. n output = pers.10

    dimana:

    n input = putaran yang masuk (rpm)

    n output = puataran yang keluar (rpm)

    i = rasio gearbox

    Poros adalah komponen mekanik berbentuk batang yang berfungsi untuk mentransmisikan daya atau putaran dari satu elemen mesin ke elemen mesin lainnya. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:

    a) Menghitung Torsi

    T = pers.11

    Dimana:

    T = Torsi Pada Poros (Nm)

    P = Daya (W)

    n = Kecepatan Poros (rpm)

    b) Diameter Porospers.12

    =

    Dimana:

    d = Diamater Poros (mm)

    T = Torsi Pada Poros (Nmm)

    = Tegangan Geser Material (Mpa)

    1. Menghitung Poros Lengan Penggerak
    2. Menghitung Chain Drive Lengan Penggerak dan Roda

    Chain drive adalah sistem transmisi mekanis yang menggunakan rantai dan sprocket (roda gigi) untuk mentransmisikan tenaga dari satu poros ke poros lainnya. Adapun rumus yang digunakan merancang chain drive sebagai berikut:

    = pers.13

    dimana:

    n1 = putaran roda gigi penggerak (rpm)

    n2 = putaran roda gigi yang digerakkan (rpm)

    T1 = jumlah gigi pada sprocket penggerak

    T2 = jumlah gigi pada sprocket yang digerakkan

    d = p cosec pers.14

    dimana:

    d = diameter roda gigi (m)

    p = pitch rantai

    T = jumlah gigi pada spocket

    v = pers.15

    Dimana:

    v = kecepatan rantai (m/s)

    d = diameter roda gigi (m)

    n = puataran roda gigi penggerak (rpm)

    K = + + pers.16

    dimana:

    K = jumlah mata rantai

    T1 = jumlah gigi sprocket penggerak

    T2 = jumlah gigi sprocket yang digerakkan

    x = jarak antar pusat dua rantai (m)

    p = pitch rantai

    1. Menghitung rasio roda gigi
    2. Menghitung diameter roda gigi
    3. Menghitung kecepatan rantai
    4. Menghitung jumlah mata rantai
    5. Menghitung panjang rantai

    L = K x p pers.17

    Dimana:

    L = panjang rantai (m)

    K = jumlah mata rantai

    p = pitch rantai

    III. Hasil dan Pembahasan

    Penyusunan List of Requirement

    Dari hasil penelitian alat tanam padi daftar kebutuhan (list ofrequirement) disusun dan digunakan sebagai dasar pengembangan produk. Daftar kebutuhan pengembangan alat tanam padi seperti yang terlihat pada tabel 4.

    Tabel 4. Daftar Kebutuhan (List of Requirement)

    No Uraian Kebutuhan S/H Keterangan
    1 Spesifikasi dan Geometri S a. Dimensi alat tanam padisesuai standar
        H b. Bentuk alat tanam padisesuai standar
    2 Aman dan Nyaman S a. Frame alat tanam padi kuat menahan beban
        H b. Nyaman dalam pengoperasiannya.
    3 Material dan Komponen H a. Material dan komponen alat banyak tersedia di pasaran
    4 Fungsi H a. Berfungsi sebagai alat tanam padi modern pengganti cara tanam menggunakan metode tradisional
        H b. Semua Komponen mudah untuk di assembly
    5 Pemeliharaan H a. Setiap part mudah untuk dibersihkan
    6 Manufaktur H a. Semua part bisa di manufaktur dengan proses permesinan konvensional dan non konvensional
    7 Keamanan S a. Memastikan keselamatan operator dan lingkungan sekitar selama alat beroperasi.

    Keterangan:

    S = Syarat

    H = Harapan

    Pemilihan Konsep Desain Alat Tanam Padi

    Dalam penelitian ini, dibuat dua konsep desain untuk merancang alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin. Dari kedua konsep ini, akan dipilih satu desain terbaik berdasarkan kriteria pemilihan konsep. Penentuan kriteria seleksi dilakukan berdasarkan spesifikasi yang telah diuraikan sebelumnya, meliputi aspek manufaktur, pengoperasian, perawatan dan biaya.

    Konsep pertama alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin ini memiliki dimensi panjang 1660 mm, lebar 1332 mm dan tinggi 687 mm. Konsep ini terdiri dari sepuluh bagian utama, yaitu: rangka, mesin bensin, gearbox, lengan pengambil bibit, meja penampung bibit, roda, tuas transmisi, sekop, handle dan alas. Bagian rangka alat tanam padi menggunakan besi hollow ukuran 30 x 30 dengan material galvanized steel. Bagian kedua adalah mesin bensin yang menggunakan daya sebesar 1,6 Kw dengan kapasitas mesin 49,9 cc. Pada bagian ketiga alat tanam padi ini menggunakan tiga gearbox yaitu: dua gearbox wpa rasio 1:10 dan beavel gearbox rasio 1:1. Bagian keempat alat ini adalah lengan pengambil bibit yang menggunakan besi hollow 30 x 30 dengan material galvanized steel, pada lengan pengambil bibit ini ada beberapa komponen yaitu lengan bawah, pemegang penanam, bantalan penancap bibit, garpu pengambil bibit, penancap bibit, cam, lengan penggiring dan pegas. Pada bagian kelima alat tanam padi ini adalah meja penampung benih yang menggunkan besi hollow 30 x 30 dengan material galvanized steel dan plat ukuran panjang 610 mm, lebar 1100 mm dan tebal 0,3 mm dengan material zinc AC41A. Bagian keenam adalah roda dengan diameter 400 mm dengan 5 sirip dan menggunakan material besi ST 37. Pada bagian ketujuh adalah tuas transmisi yang nantinya digunakan untuk stopper pulley agar alat berhenti bergerak tetapi mesin tetap hidup. Bagian kedelapan alat ini adalah sekop yang berfungsi untuk menutup bagian tanah yang sudah ditanam padi. Bagian kesembilan alat ini adalah handle yang digunakan agar pengguna lebih mudah saat mengoperasikan alat tanam padi ini. Kemudian bagian kesepuluh adalah alas alat tanam padi menggunakan material Zinc AC41A dengan tebal 0,5 mm. Karena komponen alat tanam padi terlalu banyak, maka yang dicantumkan pada gambar 3 hanya sebagian komponen saja.

    Gambar 3. Alat Tanam Padi Konsep A

    Tabel 5. Nama Bagian Alat Tanam Padi Konsep A

    ITEM NO PART NUMBER ITEM NO PART NUMBER
    1 Rangka 12 Handle
    2 Mesin Bensin 13 Tuas Transmisi
    3 Gearbox WPA 14 Stoper Pulley
    4 Pulley 15 As Penyambung
    5 Chain Drive 16 Beavel Gearbox
    6 Lengan Pengambil Bibit 17 As Roda
    7 Lengan Penggerak Meja 18 Roda
    8 Plat Penggeser Meja 19 Pillow Block
    9 Freewheel 20 Bearing
    10 Chain Drive 21 Penutup Tanah
    11 Meja Penampung Bibit 22 Alas Alat Tanam Padi
    1. Konsep Desain Alat Tanam Padi A
    2. Konsep Desain Alat Tanam Padi B

    Konsep kedua alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin ini memiliki dimensi panjang 2097 mm, lebar 1332 mm dan tinggi 690 mm. Konsep ini terdiri dari sepuluh bagian utama, yaitu: rangka, mesin bensin, gearbox, lengan pengambil bibit, meja penampung bibit, roda, tuas transmisi, sekop, handle dan alas. tampilan konsep desain pertama yang dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini. Bagian rangka alat tanam padi menggunakan besi hollow ukuran 30 x 30 dengan material galvanized steel. Bagian kedua adalah mesin bensin yang menggunakan daya sebesar 1,6 Kw dengan kapasitas mesin 49,9 cc. Pada bagian ketiga alat tanam padi ini menggunakan tiga gearbox yaitu: gearbox wpa rasio 1:10 dan dua beavel gearbox rasio 1:1. Bagian keempat alat ini adalah lengan pengambil bibit yang menggunakan besi hollow 20 x 20 dengan material galvanized steel, pada lengan pengambil bibit ini ada beberapa komponen yaitu lengan bawah, pemegang penanam, bantalan penancap bibit, garpu pengambil bibit, penancap bibit, cam, lengan penggiring dan pegas. Pada bagian kelima alat tanam padi ini adalah meja penampung benih yang menggunkan besi hollow 30 x 30 dengan material galvanized steel dan plat ukuran panjang 610 mm, lebar 1100 mm dan tebal 3 mm dengan material zinc AC41A. Bagian keenam adalah roda dengan diameter 400 mm dengan 5 sirip dan menggunakan material besi ST 37. Pada bagian ketujuh adalah tuas transmisi yang nantinya digunakan untuk stopper pulley agar alat berhenti bergerak tetapi mesin tetap hidup. Bagian kedelapan alat ini adalah sekop yang berfungsi untuk menutup bagian tanah yang sudah ditanam padi. Bagian kesembilan alat ini adalah handle yang digunakan agar pengguna lebih mudah saat mengoperasikan alat tanam padi ini. Kemudian bagian kesepuluh adalah alas alat tanam padi menggunakan material zinc AC41A dengan tebal 0,5 mm. Karena komponen alat tanam padi terlalu banyak, maka yang dicantumkan pada gambar 4 hanya sebagian komponen saja.

    Gambar 4. Alat Tanam Padi Konsep B

    Tabel 6. Nama Bagian Alat Tanam Padi Konsep B

    ITEM NO PART NUMBER ITEM NO PART NUMBER
    1 Rangka 14 Beavel Gaerbox
    2 Mesin Bensin 15 Chain Drive
    3 Gearbox WPA 16 Lengan Pengambil Bibit
    4 Pulley 17 Lengan Penggerak Meja
    5 Chain Drive 18 Plat Penggeser Meja
    6 Chain Drive 19 Freewheel
    7 As Roda 20 Chain Drive
    8 Roda 21 Meja Penampung Bibit
    9 Handle 22 Pillow Block
    10 Tuas Transmisi 23 Bearing
    11 Stopper Pulley 24 Penutup Tanah
    12 Chain Drive 25 Alas Alat Tanam Padi
    13 As Penyambung    

    Setelah merancang dua konsep alat tanam padi, proses pemilihan konsep dilakukan menggunakan model matriks keputusan dengan tahapan penilaian konsep. Berdasarkan metode ulrich untuk pemilihan konsep, terdapat dua langkah utama, yaitu penyaringan konsep diikuti oleh penilaian konsep. Namun, dalam penelitian ini, hanya dilakukan tahap penilaian konsep tanpa penyaringan, karena hanya terdapat dua konsep yang dibandingkan. Proses pemilihan konsep desain dilakukan melalui evaluasi terhadap konsep desain yang ada. Dalam tabel 7 dijelaskan bobot kriteria seleksi yang telah dianalisis sebelumnya, sebagai berikut:

    Tabel 7. Kriteria Bobot Konsep Desain

    Kriteria Seleksi Bobot Keterangan
    Manufaktur 30% Setiap konsep desain akan diberikan bobot sebesar 30%, karena kemudahan dalam perakitan sangat memengaruhi jumlah pekerjaan yang dibutuhkan, yang pada akhirnya berdampak pada biaya produksi.
    Pengoperasian 35% Setiap konsep desain akan diberi bobot sebesar 35%, dengan penekanan pada aspek operasional. Hal ini untuk memastikan mesin dirancang agar mempermudah operator dalam pengoperasiannya.
    Perawatan 20% Setiap konsep desain akan diberi bobot sebesar 20%, karena alat ini diharapkan mudah dirawat sehingga setelah penggunaannya tidak memperpanjang waktu kerja secara signifikan.
    Biaya 15% Setiap konsep desain akan diberikan bobot sebesar 15%, karena aspek biaya hanya digunakan untuk mengetahui total pengeluaran dan mencari opsi yang paling ekonomis.

    Berikut tabel matriks penilaian konsep desain alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin yang telah disesuaikan dengan aspek-aspek penilaian serta bobot pemilihan yang telah ditentukan.

    Tabel 8. Matrix Penilaian Konsep

    Matrix Penilaian Konsep
    Keiteria Seleksi Bobot Konsep A Konsep B Existing
    (%) Rate Skor Bobot Rate Skor Bobot Rate Skor Bobot
    Manufaktur 30% 5 1,5 3 0,9 3 0,9
    Pengoperasian 35% 5 1,75 3 1,05 3 1,05
    Perawatan 20% 4 0,8 3 0,6 3 0,6
    Biaya 15% 4 0,6 3 0,45 3 0,45
    Bobot Total 100%
    Nilai Absolut    18 4,65  12 3 12 3
    Nilai Relatif (%)    43 %  44 %  28 %  28 % 28 % 28 %

    Penilaian konsep didasarkan pada data yang diperoleh dari jawaban kuesioner. Data ini mencerminkan preferensi dan kebutuhan pengguna, yang kemudian digunakan untuk memberikan bobot penilaian pada setiap aspek yang dinilai. Dari tabel 8 matrix penilaian konsep dapat disimpulkan bahwa konsep desain yang dipilih adalah konsep desain A. Konsep ini memiliki nilai relatif (skor bobot) sebesar 44 % dan nilai absolut (skor bobot) sebesar 4,65.

    Desain Konsep Terpilih

    Berdasarkan hasil analisis mendalam menggunakan metode ulrich dan epinger, konsep desain A dipilih sebagai solusi terbaik karena memiliki berbagai keunggulan yang mencakup kemudahan dan efisiensi dalam proses manufaktur, stabilitas serta efektivitas operasional, kemudahan perawatan, dan kemampuan untuk menekan biaya pembuatan.

    Gambar 5. Alat Tanam Padi Konsep A (Terpilih)

    Perhitungan Alat Tanam Padi

    Berdasarkan persamaan 4-17 maka didapat hasil perhitungan mekanisme alat tanam padi dirancang dengan jarak yang direncanakan adalah 25 cm, oleh karena itu jarak ini penting untuk memastikan bahwa bibit padi ditanam dengan kerapatan ideal yang dapat meningkatkan hasil panen serta memaksimalkan penggunaan lahan. Setiap komponen mekanik telah diperhitungkan agar alat tanam padi bekerja secara optimal sesuai dengan parameter desain yang telah ditentukan. Maka hasil perhitungan alat tanam padi bisa dilihat pada tabel 9 berikut.

    Tabel 9. Perhitungan Alat Tanam Padi

    No Perhitungan Alat Tanam Padi Nilai Unit
    1 Mesin Bensin    
      Daya 1,6 kW
      Putaran Output 2500 rpm
      Berat 5,5 kg
      Kapasitas Mesin 49,9 cc
      Torsi 3,04/4500 Nm/rpm
      Kapasitas Tangki 1,2 liter
    2 Roda  
      Keliling 1,256 m
      Diameter 0,4 m
      Kecepatan Roda 31,4 m/menit
    3 Pulley  
      Diameter Pulley Motor 0,1 m
      Diameter Pulley Gearbox 0,1 m
      Panjang V-Belt 0,82 m
      Kecepatan V-Belt 13,083 m/s
      Tegangan V-Belt 122,29 N
    4 Gearbox 1:10  
      Putaran Input 2500 rpm
      Putaran Output 250 rpm
    5 Chain Drive Lengan Penggerak  
      Roda Gigi Sprocket Gearbox 1:10 12  
      Roda Gigi Sprocket Poros 24  
      Putaran Roda Gigi Sprocket Poros Output Gearbox 1:10 250 rpm
      Putaran Roda Gigi Sprocket Poros Lengan 125 rpm
      Diameter Sprocket Gearbox 61,3 mm
      Diameter Sprocket Poros 121,5 mm
      Kecepatan Rantai 0,8 m/s
      Jumlah Mata Rantai 77  
      Panjang Rantai 1222 mm
    6 Poros Lengan Penggerak    
      Putaran Poros 125 Rpm
      Torsi 122,29 Nm
      Tegangan Geser Material ST 37 82,64 Mpa
      Diameter Poros 20 mm
    7 Chain Drive Penggerak Roda    
      Gigi Sprocket Gearbox 1:50 12  
      Gigi Sprocket Gearbox 1:10 12  
      Putaran Roda Gigi Sprocket Poros Output Gearbox 1:10 250 rpm
      Putaran Roda Gigi Sprocket Poros Input Gearbox 1:10 250 rpm
      Diameter Sprocket Gearbox 61,3 mm
      Diameter Sprocket Poros 61,3 mm
      Kecepatan Rantai 0,8 m/s
      Jumlah Mata Rantai 71  
      Panjang Rantai 1127 mm
    8 Gearbox 1:10  
      Kecepatan Input 250 Rpm
      Kecepatan Output 25 Rpm

    Prinsip Kerja Alat Tanam Padi

    Prinsip kerja alat tanam padi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam menanam bibit padi dibandingkan metode manual. Dengan prinsip kerja ini, alat tanam padi membantu meningkatkan produktivitas, menjaga pola tanam yang seragam, dan mengurangi beban kerja petani. Prinsip kerja Alat tanam padi dapat dijelaskan melalui gambar dan diagram skema yang terlampir berikut:

    Gambar 6. Kerja Mekanik Lengan Pengambil Bibit

    Tabel 10. Nama Bagian Kerja Mekanik Lengan Pengambil Bibit

    ITEM NO PART NUMBER ITEM NO PART NUMBER
    1 Gearbox WPA 1:10 7 Pegas
    2 Chain Drive 8 Lengan Pemegang
    3 Poros Lengan Penggerak 9 Garpu Pengambil Bibit
    4 Lengan Bawah Pengambil Bibit 10 Bantalan Penancap
    5 CAM 11 Penancap Benih
    6 Lengan Penggiring 12 Bearing

    Mekanisme alat tanam padi untuk mengambil bibit dimulai dari poros utama yang digerakkan oleh gearbox 1:10 dengan putaran output 250 rpm. Poros ini terhubung ke sprocket dengan rasio 1:2 untuk mengurangi kecepatan putar sehingga putaran pada poros lengan penggerak 125 rpm. Lengan pengambil bibit ini dirancang untuk bergerak secara teratur mengikuti putaran poros lengan penggerak, sehingga dapat mengambil bibit secara efisien. Gerakan penancap bibit dikontrol oleh mekanisme cam yang bekerja secara sinkron dengan poros penggerak. Lengan pengambil bibit memiliki 4 garpu sejajar dan berputar 5 kali per putaran roda. Dalam setiap putaran lengan, bibit pada garpu ditanam secara bersamaan dalam 4 baris menyamping dengan jarak antar bibit 25 cm. Pola tanam yang dihasilkan oleh mesin ini adalah 25 cm x 25 cm baik secara maju maupun samping.

    Gambar 7. Kerja Mekanik Penancap Bibit

    Tabel 11. Nama Bagian Kerja Mekanik Penancap Bibit

    ITEM NO PART NUMBER
    1 C AM
    2 Lengan Penggiring
    3 Pegas
    4 Penancap Benih
    5 Lengan Pemegang

    Kerja mekanis penancap bibit pada alat tanam padi diatur oleh cam yang berputar. Ketika cam berputar hingga sudut 270°, lengan pemegang dan penancap benih akan terangkat ke atas dikarenakan lengan penggriring mendapatkan tekanan oleh cam. Setelah mencapai posisi tersebut, pegas menarik lengan pemegang ke bawah dengan cepat, diikuti oleh gerakan turun lengan penggiring dan penancap benih. Sehingga bibit yang ada pada garpu akan didorong oleh penancap benih ketanah dengan cepat.

    Gambar 8. Kerja Mekanik Meja Penampung Bibit

    Tabel 12. Nama Bagian Kerja Mekanik Meja Penampung Bibit

    ITEM NO PART NUMBER ITEM NO PART NUMBER
    1 Meja Penampung Bibit 6 Chain Drive
    2 Lintasan Meja 7 Plat Pengatur Chaindrive
    3 Lengan Penggerak Meja 8 Pin Pegas
    4 Plat Penggeser Meja 9 Pegas
    5 Freewheel    

    Kerja mekanis meja penampung bibit pada alat tanam padi diatur oleh lengan pengambil bibit. Ketika lengan pengambil bibit bergerak turun, lengan penggerak meja yang terhubung dengan pelat penggeser meja akan menggerakkan freewheel untuk menggerakkan chaindrive. Chain drive penggerak ini berputar untuk menggeser meja penampung bibit. Kemudian pin pegas akan mendorong lengan pengerak seperti posisi semula. Dengan demikian, pergeseran meja dan gerakan lengan pengambil bibit akan bergerak secara sinkron. Jarak pergeseran meja diatur melalui lubang jarak yang terdapat pada pelat, jarak pada plat antara 25 mm – 30 mm. untuk mengatur mengencangkan rantai bisa menggunakan plat pengatur rantai.

    1. Prinsip Kerja Pengambil Bibit
    2. Prinsip Kerja Penancap Bibit
    3. Prinsip Kerja Meja Penampung Bibit
    4. Prinsip Kerja Roda Alat Tanam Padi

    Gambar 9. Kerja Mekanik Roda Alat Tanam Padi

    Tabel 13. Nama Bagian Kerja Mekanik Roda

    ITEM NO. PART NUMBER ITEM NO. PART NUMBER
    1 Gearbox WPA 1:50 6 Pillow Block
    2 Gearbox WPA 1:10 7 Bearing
    3 Chain Drive 8 Beavel Gearbox 1:1
    4 As penyambung 9 As Roda
    5 U joint 10 Roda

    Gerakan kerja mekanik roda agar seragam dan sesuai jarak tanam yang sudah direncanakan adalah poros gearbox rasio 1:10 dengan putaran output 250 rpm yang dihubungkan oleh chain drive dengan roda gigi rasio 1:1 pada gearbox rasio 1:10 sehingga putaran output poros gearbox 1:10 adalah 25 rpm. Untuk menggerakkan roda maka poros output gearbox rasio 1:10 dihubungkan oleh as penyambung dan U joint pada beavel gearbox rasio 1:1. Kemudian poros kanan dan kiri beavel gearbox akan dihubungkan oleh as roda untuk menggerakkan roda. Pada perhitungan pada tabel 9, roda memiliki diameter 0,4 m, keliling 1,256 m dan putaran roda 25 rpm sehingga kecepatan roda menjadi 31,4 m/menit. Dengan kecepatan tersebut, mesin dapat menanam bibit dengan jarak antar

    bibit 25 cm dalam arah maju. Dengan ini mesin alat tanam padi sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, yaitu 25 cm x 25 cm.

    Skema gerakan penanaman padi dapat dilihat pada gambar 10 di bawah ini. Gambar tersebut menunjukkan mekanisme gerakan yang dirancang untuk memastikan bibit padi ditanam pada posisi yang tepat dan jarak yang seragam.

    Gambar 10. Skema Gerakan Alat Tanam Padi

    Mekanisme dari alat tanam padi ini adalah mesin bensin yang dihubungkan dengan pulley ke poros gearbox pertama, yang kemudian putaran output dari gearbox pertama dihubungkan menggunakan chain drive ke poros penggerak sehingga lengan penggerak berputar dan menarik lengan bawah menyebabkan bagian depan lengan atas terangkat. Sementara bagian belakangnya bergerak ke belakang akibat penahanan lengan atas. Dalam posisi ini cam akan menekan tuas penggiring yang terhubung dengan penancap benih. Penancap benih kemudian terangkat untuk mengambil benih padi dari meja penanam. Setelah itu, penancap benih akan turun karena cam tidak lagi memberikan tekanan dan ditarik oleh pegas, sehingga benih padi tertancap ke tanah. Kemudian putaran output dari gearbox pertama juga dihubungkan dengan chain drive ke poros gearbox kedua yang nantinya putaran output dari gearbox kedua ini bisa menggerakkan roda alat tanam padi ini. Sehingga putaran dari lengan penggerak dan juga roda bisa diatur sesuai jarak tanam yang diinginkan.

    Analisa Simulasi Kekuatan Rangka Pada Alat Tanam Padi

    Pada rangka alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin ini menggunakan material galvanized steel dengan profil besi hollow 30 x 30 dan rangka ini memliki dimensi panjang 1163 mm, lebar 1332 mm dan tinggi 470 mm yang berfungsi sebagai penopang beban. Analisis pembebanan pada rangka dilakukan untuk mengetahui besarnya regangan, perubahan bentuk, dan faktor keamanan menggunakan software solidworks 2018. Perhitungan kekuatan rangka didasarkan pada dimensi desain yang telah dibuat. Simulasi pembebanan pada rangka alat tanam padi ini dapat dilihat pada gambar 11 berikut, yang menggambarkan distribusi beban dan tegangan yang terjadi selama alat beroperasi.

    Gambar 11. Pembebanan Rangka

    Hasil simulasi analisis rangka ini menunjukkan nilai maksimum dan minimum strain, displacement serta safety factor yang dapat dilihat secara langsung di layar solidworks 2018.

    Gambar 12. Simulasi Strain

    Gambar 12 menampilkan hasil simulasi maksimum strain sebesar 0,0000848, yang ditunjukkan dengan warna merah pada diagram, mengindikasikan nilai jauh dari batas kekuatan maksimum material. Sementara itu, strain minimum sebesar 0,000 ditunjukkan dengan warna biru pada diagram, menandakan area tanpa pembebanan.

    Gambar 13. Simulasi Perubahan Bentuk (Displacement)

    Berdasarkan hasil simulasi, displacement maksimum pada rangka alat tanam padi dengan material galvanis steel mencapai 1,064 mm, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 13 dengan area berwarna merah yang menandakan zona dengan pembebanan tinggi. Sebaliknya, displacement minimum sebesar 0 mm terlihat pada area dengan warna biru, yang menunjukkan bahwa pembebanan pada bagian tersebut relatif rendah atau tidak signifikan.

    1. Hasil Simulasi Regangan (Strain)
    2. Hasil Simulasi Perubahan Bentuk (Displacement)
    3. Hasil Simulasi Faktor Keamanan (Safety Factor)

    Gambar 14. Simulasi Faktor Keamanan (Safety Factor)

    Berdasarkan hasil analisis pada gambar 14, penentuan faktor keamanan (safety factor) untuk memastikan bahwa suatu desain dapat dianggap aman dilakukan melalui perhitungan berikut:

    Regangan yield:

    ε yield =

    ε yield =

    ε yield = 0,001019715 = 0,00102

    Safety fa c tor:

    n =

    n =

    n = 12 > 1

    Dimana:

    n = Safety Factor

    σ yield = Yield Strength

    ε yield = Yield Strain

    = Maximum Computed Strain

    E = Modulus Elastisitas

    Desain dikategorikan aman apabila faktor keamanannya lebih besar dari 1, dan dianggap tidak aman jika kurang dari 1. Berdasarkan hal tersebut, desain rangka alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin konsep A di atas dapat dianggap aman dan siap untuk proses perakitan komponen, karena faktor keamanan yang dimilikinya sebesar 12 yang melebihi angka 1.

    3.7 Pembahasan

    Dalam upaya meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga dalam proses penanaman padi, telah dirancang sebuah konsep alat tanam padi berbasis mesin bensin. Desain ini untuk mengatasi tantangan yang dihadapi petani dalam proses tanam manual, seperti keterbatasan tenaga kerja, waktu yang lama, serta efisiensi biaya operasional. Alat tanam padi ini menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama, sehingga mampu bekerja lebih cepat, stabil, dan dapat digunakan secara berkelanjutan di berbagai kondisi lahan. Dari perhitungan mesin bensin yang dipakai menggunakan daya sebesar 1,6 kW, putaran output (setting mesin) sebesar 2500 rpm dengan kapasitas mesin 49,9 cc. Sistem transmisi ini menggunakan pulley dengan rasio 1:1, chain drive dengan roda gigi rasio 1:2 dan chain drive dengan roda gigi rasio 1:1, dan juga menggunakan dua buah gearbox wpa rasio 1:10 serta beavel gearbox rasio 1:1. Alat tanam padi ini dirancang untuk mempercepat proses penanaman padi sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Selain itu, alat ini juga memastikan keseragaman jarak tanam antar bibit, yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman agar lebih optimal.

    Pada alat tanam padi ini jika ingin merubah jarak tanam sesuai yang direncanakan, maka ada beberapa komponen yang harus disesuaikan lagi seperti lengan pengambil bibit, meja penampung bibit serta roda agar jarak yang direncanakan sesuai. Pada alat ini jika ingin merubah kedalaman bibit padi maka pada alat ini bisa diatur bagian di lengan samping untuk mengatur seberapa kedalaman padi yang diinginkan. Dan pada alat tanam padi ini juga bisa diatur untuk berapa bibit yang bisa diambil pada pemegang penanam. Lebih lanjut, alat ini dibuat dengan desain yang ergonomis dan mudah dioperasikan, sehingga pengguna, baik petani pemula maupun berpengalaman, dapat menggunakannya tanpa kesulitan. Berdasarkan penelitian dari wahyu septiawan yang berjudul perancangan mesin tanam padi elektrik masih terdapat kendala pada desain penancap yang masih memerlukan peningkatan karena fungsinya belum optimal dan desain kerangka juga perlu diperbaiki agar tidak mengalami deformasi atau pembengkokan pada rangka 9.

    Dari hasil penelitian ini kekurangan dan kelebihan pada desain wahyu septiawan sudah dilakukan perbaikan. Proses pengembangan meliputi serangkaian langkah untuk menyempurnakan alat tanam padi yang sudah ada, yang mencakup penyempurnaan desain komponen utama, peningkatan kinerja sistem transmisi, serta perbaikan aspek ergonomi. Penyempurnaan desain komponen utama seperti pada bagian-bagian inti alat tanam padi seperti mekanisme lengan pengambil bibit, mekanisme penancap bibit, mekanisme kerja roda serta bagian rangka. Tujuan penyempurnaan desain komponen utama adalah agar komponen lebih kokoh dan tahan lama dalam berbagai kondisi lapangan, alat bekerja lebih cepat dan hemat energi, penanaman lebih tepat dengan jarak tanam yang seragam. Sistem transmisi alat ini juga dikembangkan agar mampu mentransfer tenaga secara lebih efektif sehingga performa alat dapat diandalkan dalam berbagai kondisi lapangan. Selain itu, aspek ergonomi diperhatikan agar memastikan kenyamanan pengguna dalam mengoperasikan alat serta mendukung produktivitas yang lebih tinggi saat digunakan dalam jangka waktu lama di lapangan. Pada sistem transmisi alat tanam padi ini bisa merubah pada bagian pulley dan roda gigi agar alat bisa disesuaikan kecepatan antara lengan pengambil bibit dan roda.

    IV. Simpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan yaitu mendesain alat tanam padi dengan penggerak mesin bensin yang dikerjakan menggunakan aplikasi CAD, konsep desain terpilih adalah konsep desain A. Dapat disimpulkan bahwa:

    1. Alat tanam padi berbasis mesin bensin dengan daya sebesar 1,6 kW, putaran output sebesar 2500 rpm dengan kapasitas mesin sebesar 49,9 cc mampu bekerja secara cepat dan stabil di berbagai kondisi lahan, mendukung percepatan penanaman, serta memastikan jarak tanam yang seragam untuk pertumbuhan padi yang optimal. Selain itu, jarak tanam dapat diatur dengan menyesuaikan komponen seperti lengan pengambil bibit, meja penampung bibit, dan roda, sementara kedalaman bibit dan jumlah yang diambil dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.
    2. Pengembangan alat ini melibatkan penyempurnaan desain komponen, peningkatan sistem transmisi, dan perbaikan aspek ergonomi. Desain yang diperbaiki difokuskan untuk menghasilkan alat yang lebih kokoh, hemat energi, akurat, dan andal di berbagai kondisi lahan. Perubahan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna sehingga produktivitas kerja dapat lebih optimal.
    3. Salah satu fitur unggulan adalah sistem transmisi yang memungkinkan penyesuaian kecepatan antara lengan pengambil bibit dan roda melalui modifikasi pada pulley dan roda gigi. Fleksibilitas ini memberikan kemudahan pengaturan saat digunakan, menjadikan alat ini lebih efisien terhadap berbagai kebutuhan proses penanaman padi.
    4. Dari hasil perhitungan komponen penggerak alat tanam padi diketahui: mesin bensin dengan daya sebesar 1,6 kW dengan kapasitas mesin 49,9 cc, dua gearbox wpa rasio 1:10, beavel gearbox rasio 1:1, chain drive dengan roda gigi rasio 1:1 dan chain drive dengan roda gigi rasio 1:2.

    Dengan demikian, alat tanam padi ini diharapkan dapat memberikan solusi efisien dan efektif dalam proses penanaman padi, serta mendukung keberlanjutan pertanian di berbagai kondisi lahan

    Ucapan Terima Kasih

    Saya mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Teknik Mesin Universita Muhammadiyah Sidarjo yang telah memberikan ilmu dan wawasan yang bermanfaat, serta kepada teman-teman saya yang telah membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini.

    Referensi

    [2]Y. Sihombing, “Penerapan Inovasi Teknologi Pertanian Berbasis Sistem Usaha Pertanian Inovatif Mendukung Ketahanan Pangan,” Proc. Ser. Phys. Form. Sci., vol. 4, pp. 461–467, 2022, doi: 10.30595/pspfs.v4i.537.

    [3]R. Saferi, A. Yanto, and A. Bintarnel, “Pengembangan Desain Alat Tanam Bibit Padi dengan Metode Quality Function Deployment Design Development of Rice Transplanter with Quality Function Deployment Method,” J. Tek. Mesin, vol. 12, no. 1, pp. 2089–4880, 2022, [Online]. Available: https://jtm.itp.ac.id/index.php/jtm

    [4]S. Sujita, N. H. Sari, S. Sinarep, A. Zainuri, and R. Sutanto, “148-Article Text-683-1-10-20230420,” vol. 5, no. 1, pp. 29–34, 2023.

    [5]K. Tani, W. Ayu, K. Di, and A. Tamiang, “Meningkatkan Efektifitas Proses Penanaman Padi Pada,” vol. 6, no. 3, pp. 226–230, 2022.

    [6]D. J. Abadi, A. Y. Maulidia, E. Kurnia, N. Sari, and K. Kunci, “Pembuatan Alat Tanam Padi Manual 4 Alur Model IRRI ( International Rice Research Institute ) ( Design and manufacture of Manual Rice Planting Tools 4 Grooves IRRI Model ),” vol. 1, no. 1, pp. 49–59, 2023.

    [7]S. Umar et al., “Evaluasi Penggunaan Mesin Tanam Bibit Padi (Rice Transplanter) Sistem Jajar Legowo Di Lahan Pasang Surut Evaluation of Rice Transplanter With Jajar Legowo System in Tidal Swampland,” J. Tek. Pertan. LampungVol, vol. 6, no. 2, pp. 105–114, 2017.

    [8]A. G. H. Hadir Salam, A.Muh Suprianto, Rancang Bangun Alat Penanam Bibit Padi. 2018. doi: 10.1088/1751-8113/44/8/085201.

    [9]Randi Saputra, Rancang Bangun Alat Tanam Padi Semi Mekanik Tadah Benih Horizontal Metoda Rotary. 2023.

    [10]W. Septiawan, Perancangan Mesin Tanam Padi Elektrik. 2020.

    [11]S. D. E. Karl T. Ulrich, Product design and development. McGraw-Hill Education. doi: 10.2166/9781789061840_0019.

    [12]A. Sholeh, A. Iviana Juniani, and Y. Novrita Devi, “Analisis dan Perancangan Sepeda Statis untuk Rehabilitasi Penderita Stroke,” Politek. Perkapalan Negeri Surabaya, pp. 11–16, 2018.

    [13]R. Indrawan, S. D. Ulhaque, and D. A. Purnomo, “Pemilihan Konsep Desain Jig dan Fixture Bearing Housing Pada Mesin CNC Turning Vertical,” pp. 48–59, 2024.

    [14]D. Hendri, H. Susanto, and A. Munawir, “Desain Mesin Produksi Santan Sistem Sentrifugal Kapasitas 10 Liter/ Jam,” J. Mekanova, vol. 6, no. 1, pp. 85–94, 2020.

    [15] j. . G. R.S. KHURMI, Machine design. 2005. doi: 10.1038/042171a0.

References

F. N. Aini and M. Y. Ichwan, “Planting Machines and Traditional Planting Tools,” Universitas Nusantara PGRI Kediri, vol. 1, no. 14111004, pp. 1–7, 2017.

Y. Sihombing, “Application of Agricultural Technology Innovation Based on Innovative Farming Systems to Support Food Security,” Proceedings Series on Physical and Formal Sciences, vol. 4, pp. 461–467, 2022.

R. Saferi, A. Yanto, and A. Bintarnel, “Design Development of Rice Transplanter with Quality Function Deployment Method,” Jurnal Teknik Mesin, vol. 12, no. 1, 2022.

S. Sujita, N. H. Sari, S. Sinarep, A. Zainuri, and R. Sutanto, “Design Study of Agricultural Equipment,” vol. 5, no. 1, pp. 29–34, 2023.

K. Tani et al., “Improving Rice Planting Process Efficiency,” vol. 6, no. 3, pp. 226–230, 2022.

D. J. Abadi et al., “Design and Manufacture of Manual Rice Planting Tool Four Groove IRRI Model,” vol. 1, no. 1, pp. 49–59, 2023.

S. Umar et al., “Evaluation of Rice Transplanter with Jajar Legowo System in Tidal Swampland,” Jurnal Teknik Pertanian Lampung, vol. 6, no. 2, pp. 105–114, 2017.

A. G. H. Hadir Salam and A. Muh Suprianto, “Design of Rice Planting Tool,” 2018.

R. Saputra, “Design of Semi-Mechanical Rice Planting Tool with Rotary Method,” 2023.

W. Septiawan, “Design of Electric Rice Planting Machine,” 2020.

K. T. Ulrich and S. D. Eppinger, Product Design and Development, McGraw-Hill Education, 2005.

A. Sholeh et al., “Design of Static Bicycle for Stroke Rehabilitation,” 2018.

R. Indrawan et al., “Selection of Jig and Fixture Design Concept for CNC Machine,” 2024.

D. Hendri et al., “Design of Coconut Milk Production Machine with Centrifugal System,” Jurnal Mekanova, vol. 6, no. 1, pp. 85–94, 2020.

R. S. Khurmi and J. K. Gupta, Machine Design, 2005.