Nadya Chaerunisa Winandri (1), Boy Isma Putra (2)
General Background Mental workload is a critical factor affecting worker performance, fatigue, and decision-making in industrial environments. Specific Background Various methods such as NASA-TLX and Defence Research Agency Workload Scale (DRAWS) are widely used to measure mental workload in different work settings. Knowledge Gap However, limited studies compare and apply these methods simultaneously to evaluate workload conditions in specific operational contexts. Aims This study aims to analyze and measure mental workload using NASA-TLX and DRAWS methods to identify dominant workload factors. Results The results indicate that several workload indicators contribute significantly to high mental workload levels, particularly related to task demand and time pressure. The analysis shows variations in workload across different job activities. Novelty This study applies a comparative measurement approach using two established workload assessment methods within a single analysis framework. Implications The findings provide practical insights for workload management, task allocation, and improving worker performance in industrial systems.
Keywords: Mental Workload, NASA TLX, DRAWS, Workload Analysis, Ergonomics
Key Findings Highlights
Workload levels vary across different job tasks
Task demand and time pressure identified as dominant factors
Dual-method assessment provides comprehensive evaluation
Analyzing Workload On Productivity Of Marketing Division With D RAWS Method
[ Analisa Beban Kerja Terhadap Produktivitas Divisi Marketing d engan Metode DRAWS ]
Nadya Chaerunisa Winandri11), Boy Isma Putra*,2)
1)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
*Email Penulis Korespondensi: boy@umsida.ac.id
Abstract . The marketing division of XYZ Company experienced a decrease in product demand by 1.20 tons or around 37% from the previous year. This happened because of the many complaints between the targets that must be achieved and the work of reports or reports needed. While the marketing employees themselves who are also direct workers in the field with various areas there is a lack of communication which is mostly done by telephone or online. Thus resulting in mental workload experienced by employees. This research aims to find out the mental workload on the productivity of marketing division employees of XYZ Company based on existing aspects using the DRAWS (Defense Research Agency Workload Scale) method. The DRAWS method is used to measure employee mental workload based on four variables: Input Demand (ID), Central Demand (CD), Output Demand (OD), and Time Pressure (TP). And the results obtained 92% of employees experience overload and the remaining 8% experience optimalload. With these results it is recommended to make workload adjustments and improve work facilities to support employee performance .
Keywords - workload, productivity, marketing division, DRAWS, overload
Abstrak . Divisi marketing Perusahaan XYZ mengalami penurunan permintaan produk sebesar 1.20 ton atau sekitar 37% dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena banyaknya keluhan antara target yang harus dicapai dengan pengerjaan laporan atau report yang dibutuhkan. Sedangkan karyawan marketing sendiri yang juga pekerja langsung ke lapangan dengan berbagai area terjadi kurangnya komunikasi yang lebih banyak dilakukan secara terlfon atau online. Sehingga mengakibatkan beban kerja mental dialami oleh karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya beban pekerjaan mental terhadap produktivitas karyawan divisi marketing Perusahaan XYZ didasarkan pada aspek yang ada dengan menggunakan metode DRAWS (Defence Research Agency Workload Scale). Metode DRAWS digunakan untuk mengukur beban kerja mental karyawan berdasarkan empat variabel: Input Demand (ID), Central Demand (CD), Output Demand (OD), dan Time Pressure (TP). Dan didapatkan hasil 92% karyawan mengalami overload dan sisanya 8% mengalami optimalload. Dengan hasil tersebut disarankan untuk melakukan penyesuaian beban kerja dan meningkatkan fasilitas kerja guna mendukung kinerja karyawan .
Kata Kunci - beban kerja; produktivitas; divisi marketing; DRAWS; overload
Dalam masa dimana globalisasi sedang berlangsung, industri selalu berkembang dimana menjadikan perusahaan menjadi lebih kompetitif. Karena banyaknya persaingan pada industri produksi terutama yang beroperasi dalam sektor barang konsumsi cepat habis menjadikan perusahaan harus lebih ekstra dalam mencapai tujuan perusahaan. Tantangan bagi perusahaan untuk menjalankan peran dengan baik supaya bisa mencapai sasaran serta adanya peningkatan produktivitas 1.
Divisi marketing pada Perusahaan XYZ memiliki peran yang sangat krusial untuk meningkatkan penjualan dan berjalannya bisnis pada perusahaan tersebut 1. Terjadi penurunan permintaan produk dengan penurunan sebesar 1.20 ton atau sekitar 37% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini diakibatkan dari berbagai faktor. Selain dari faktor eksternal yakni adanya competitor dipengaruhi juga oleh faktor internal yakni beban kerja yang cukup membebani untuk karyawan marketing. Hal ini terjadi karena banyaknya keluhan antara target yang harus dicapai dengan pengerjaan laporan atau report yang dibutuhkan. Dimana karyawan marketing yang sekaligus pekerja langsung di lapangan seringkali komunikasi dengan atasan hanya melalui telfon ataupun online dan juga pertemuan untuk diskusi lebih banyak secara online dibanding offline. Di sisi lain perusahaan mengupayakan adanya pertemuan diskusi yang memungkinkan dua bulan sekali. Adanya pengarahan, refreshment, dan tes untuk karyawan marketing setiap bulan menjadi usaha perusahaan dalam peningkatan produktivitas karyawan marketing. Namun, untuk pengarahan, refreshment, dan tes untuk karyawan olehperusahaan lebih banyak dilakukan secara online. Oleh sebab itu, karyawan dipaksa untuk paham dan cerdas dalam melaksanakan tugas-tugasnya dengan hanya memahami secara online. Beban usaha mental yang dialami divisi marketing cukup membebani dengan pekerjaan yang membutuhkan effort cukup tinggi dikarenakan jika karyawan tidak memenuhi target yang ditentukan mendapatkan dampak pada insentif yang diterima oleh karyawan sebagaimana akan mempengaruhi produktivitas yang akan sangat berpengaruh pada jenjang karirnya dan juga berdampak pada kinerja karyawan
Kinerja karyawan merupakan satu dari beberapa faktor yang menjadi pengaruh tingkat keberhasilan dalam suatu organisasi ataupun entitas usaha. Performansi karyawan yakni produktivitas kerja berdasarkan kualitas atau jumlah yang diukur oleh karyawan dalam menuntaskan kewajibannya sebagaimana tanggungjawab yang diberikan. Untuk meningkatkan performansi karyawan dapat dilakukan dengan cara memeriksa intensitas beban kerja yang diterima oleh karyawan. Penentuan kesesuaian beban kerja karyawan dengan standar kerja perusahaan bergantung pada jenis pekerjaan yang mereka lakukan 2. Beban pekerjaan dengan porsi yang sedikit diartikan terjadinya jumlah tenaga kerja yang berlebih dan menyebabkan kebosanan pada karyawan serta perusahaan harus membayar gaji lebih tinggi kepada karyawan dengan produktivitas yang serupa, sehingga mengakibatkan pemborosan biaya. Melainkan apabila jumlah tenaga kerja yang ada tidak memadai untuk menangani pekerjaan yang ada, karyawan akan mengalami kelelahan fisik atau psikologis, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan produktivitas mereka 3x.
Beban kerja dapat ditimbulkan berdasarkan adanya tanggung jawab, keahlian, sikap, dan pandangan, serta dampak dari kondisi lingkungan kerja atau environment. Beban pekerjaan dapat dikategorikan secara sifat yakni mental dan fisik. Sebagaimana mestinya beban pekerjaan yang diterima sebanding baik secara kemampuan mental dan kemampuan fisik dari pekerja tersebut 1. Parameter pembebanan yang satu dengan yang lain berbeda. Pengupayaan dari pembebanan yang didapat diperoleh secara maksimal. Dengan tingkat yang sangat tinggi, beban pekerjaan mengakibatkan pengeluaran energi yang besar yakni pada saat visit outlet yang dilakukan oleh karyawan marketing, baik dalam aspek fisik maupun mental yang berujung pada kelelahan fisik dimana pada saat visit outlet dengan bersepeda motor pada siang terik ataupun kehujanan dan stres dengan banyaknya report serta target bahkan KPI yang harus dipenuhi. Kesetaraan diantara tuntutan mental pekerjaan dengan kemampuan mental personal dapat diidentifikasi melalui pengukuran beban kerja mental 4.
Penafsiran ini dapat ditentukan dengan memanfaatkan pendekatan pengukuran subjektif dimana pendekatan ini memanfaatkan penilaian pribadi pekerja untuk menilai beban kerja mental. Ini adalah cara yang paling sederhana untuk memperkirakan beban kerja mental dalam pekerjaan tertentu. Pendekatan subjektif ini menawarkan beberapa keuntungan dalam mengukur beban kerja mental yakni tingkat validitasnya tinggi, penggunaannya sederhana, mudah dipahami oleh responden, dan tidak memerlukan biaya yang signifikan. Selain itu, metode ini tidak mengganggu pekerjaan responden karena dapat diterapkan setelah tugas selesai 2.
Dengan demikian, pada penelitian ini dilakukan pendekatan DRAWS (Defence Research Agency Workload Scale) yang merupakan salah satu dari pendekatan subjektif. Dan dalam penggunaanya DRAWS menggunakan empat skala subjektif yang diambil dari konteks pemrosesan informasi. Diantaranya input yakni beban kerja yang berkaitan dengan perspesi, central yakni beban kerja yang terkait dengan penafsiran informasi dan pengmbilan keputusan untuk bertindak, output yakni beban kerja yang berkaitan dengan tindakan nyata, dan tekanan waktu yakni untuk bertindak cepat 5. Dimana persepsi, pemrosesan informasi, pengambilan keputusan, dan tekanan untuk bertindak cepat ini menunjukkan penekanan kuat dalam mengukur beban kerja mental. Metode DRAWS pernah dipergunakan sebelumnya untuk mengukur beban kerja mental dan didapatkan hasil 65.38% karyawan dalam kategori overload serta indikator Central Demand (CD) tertinggi dengan rata-rata 64.32 bahwa sebagian besar karyawan merasakan beban mental yang tinggi saat menafsirkan informasi dan membuat keputusan. Bahwa dari penelitian yang dilakukan oleh (Halwa dan Yoggi, 2023) menunjukkan bahwa beban kerja mental yang tinggi di PERUSAHAAN XYZ berpotensi menyebabkan kesalahan dalam proses produksi dan perlu adanya evaluasi serta perbaikan dalam manajemen beban kerja 6. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh (Yoggi, dkk, 2024) untuk menganalisis beban kerja mental pada bagian finishing PERUSAHAAN SWA I dimana didapatkan hasil bahwa beban kerja yang dialami memiliki nilai rata-rata sebesar 68.56%, nilai tersebut di atas 60% yang mengindikasikan bahwa beban kerja dikategorikan overload dengan dimensi Time Pressure sebesar 43%. Dari hasil tersebut bahwa operator mengalami tekanan kerja yang tinggi, yang dapat berdampak negatif pada produktivitas dan kesehatan mereka 7. Dan penelitian lain yang menggunakan metode DRAWS dilakukan oleh (Adelino, dkk, 2024) dalam mengetahui Tingkat beban kerja mental yang terasa oleh karyawan berdasarkan proses produksi dan shift kerja didapatkan hasil beban kerja mental sebesar 77. 4% yang termasuk ke dalam kategori overload dan karyawan mengalami beban kerja mental yang tinggi 8.
Dalam mengukur beban pekerjaan mental digunakan pendekatan DRAWS dikarenakan pengukuran workload mental secara subjektif bertujuan diketahuinya beban pekerjaan mental terhadap produktivitas karyawan divisi marketing Perusahaan XYZ didasarkan pada aspek yang ada dengan memberikan rekomendasi kepada perusahaan untuk menangani terjadinya penurunan dengan optimalisasi dan penyesuaian beban kerja dan peningkatan produktivitas dengan meminimalisir beban kerja karyawan marketing.
Pada penelitian ini diawali dengan pendahulua, selanjutnya terdapat rumusan masalah dan tujuan yang akan dicapai. Kemudian, dilakukam pengambilan dan pengelolaan data yang mencakup perhitungan pengukuran beban kerja dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Kajian ini dilakukan secara observasi pada divisi marketing Perusahaan XYZ. Dengan waktu fleksible dalam rentang hari tertentu. Objek penelitian dilakukan dengan pengamatan stres kerja mental di divisi marketing. ini dilaksanakan secara kuesioner sebagai alat ukur dalam kajian guna pengumpulan data yang akan diproses dan ditelaah. Dimana dilakukan kuesioner secara online yakni dengan google form.
Pengumpulan data dilakukan guna data yang didapat sesuai dengan tujuan mengukur beban kerja mental terhadap produktivitas karyawan divisi marketing. Pengumpulan data ini akan diolah dan dianalisa. Dimana penulisan mengumpulkan data dengan cara :
Gambar 1. Diagram Alir Penelitian
Sesuai dengan diagram alir di atas bahwa penelitian dilakukan dengan diawali identifikasi kemudian penentuan atau perumusan masalah dan dilakukan pengumpulan serta pengolahan data sebagai berikut :
Dilakukannya identifikasi masalah dan perumusan masalah guna mengetahui beban kerja terhadap produktivitas dari divisi marketing baik dengan studi pustaka maupun studi lapangan.
Nonprobability sampling merupakan teknik pengambilan sampel dimana tidak memberi kesempatan atau keuntungan yang sama bagi setiap individu atau anggota populasi yang akan terpilih menjadi sampel. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampling jenuh yakni teknik penetapan sampel dimana seluruh anggota populasi ditetapkan sebagai sampel. Ini sering terjadi ketika populasi relatif kecil, sekitar 30 orang, atau bila peneliti menggeneralisasi dengan masalah yang sangat sempit. Kata lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana seluruh anggota populasi diambil sebagai sampel. Dalam penelitian ini, semua karyawan yang jumlahnya 24 orang dijadikan sebagai sampel 11.
Setelah ditentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian sebanyak populasi atau 24 karyawan. Selanjutnya penentuan kuesioner yang dibagi ke dalam metode DRAWS. Metode ini dilakukan dengan teknik penilaian beban kerja multidimensional yang menyertakan responden yang perlu dimintai tanggapannya mengenai kajian dengan perspektif individu dengan serangkaian pertanyaan yang melibatkan empat variabel berbeda guna mendapatkan skor keseluruhan beban kerja. Empat variable yang dimaksud yakni, Input Demand (ID), Central Demand (CD), Output Demand (OD), Time Pressure (TP) 12. Kuesioner yang dibagikan bertujuan untuk pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian. Setelah dilakukannya pengisian kuesioner oleh sampel dilakukan penarikan dan perapian kuesioner agar didapatkan data yang hendak dilampirkan lebih jelas dan dapat disimpulkan. Definisi dalam setiap variabel beban kerja dalam pengamatan dengan metode DRAWS ditampilkan sebagaimana tabel berikut 13:
Tingkat penilaian yang digunakan untuk menilai beban kerja dibagi menjadi beberapa kategori penting diantaranya 14:
Pengolahan data untuk menghitung beban kerja mental dengan penggunaan metode DRAWS 8:
Nilai beban kerja mental = penilaian (rating) x bobot
Hasil yang didapatkan dari penilaian dengan pendekatan DRAWS yakni intensitas tekanan mental yang dihadapi karyawan. Nilai beban kerja mental diantaranya 15:
Setelah didapatkan rekapitulasi dadilakukan pengolahan data dengan método DRAWS sebagai berikut :
Langkah awal yang dilakukan dalam melakukan penentuan skor beban kerja menggunakan metode DRAWS dimulai dari memberi penilaian untuk setiap aktivitas per variabel. Nilai ini diperoleh dari kuesioner yang dibagikan kepada karyawan marketing dengan pemilihan pada kuesioner menggunakan skala 0-100% sesuai dengan Gambar 1. Yang kemudian dihitung rata-rata sesuai masing-masing variabel. Pengukuran nilai rating beban kerja terhadap variabel DRAWS sebagai berikut :
Misal :
Sasa Yulianti : ID =
CD =
OD =
TP =
Berdasarkan pengukuran di atas, didapatkan hasil yang didapatkan pada langkah ini yakni rata-rata dari responden atau karyawan marketing yakni Input Demand (ID) sebesar 76, Central Demand (CD) sebesar 77, Output Demand (OD) sebesar 79, dan Time Pressure (TP) sebesar 80. Berdasarkan Tingkat Penilaian Beban Kerja Metode DRAWS (Maryati, 2019) bahwa nilai sebesar 76, 77, 79, dan 80 termasuk ke dalam tingkat penilaian High dengan rentang 60.1% - 80%. Hasil dari pengukuran beban kerja ini yang selanjutnya akan dilakukan perhitangan dengan hasil pembobotan beban kerja serta skor beban kerja, sehingga dapat ditentukan bahwa beban kerja underload, optimalload, ataupun overload.
Setelah diukur beban kerja menggunakan kuesioner, kemudian dilakukan pengolahan atau pembobotan rating beban kerja. Seberapa penting suatu beban kerja menyesuaikan dengan seberapa pengaruhnya pekerjaan tersebut. Kuesioner rating meliputi variabel dari metode DRAWS yang memiliki ketentuan 4 variabel harus memiliki total penjumlahan 100%. Kemudian dilakukan penilaian rata- rata dari keseluruhan data. Pembobotan rating pada penilaian variabel beban kerja sebagai berikut :
Berdasarkan hasil dari pembobotan pada variabel beban kerja didapatkan rata-rata Input Demand (ID) sebesar 24, Central Demand (CD) sebesar 25, Output Demand (OD) sebesar 25, dan Time Pressure (TP) sebesar 26. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata tertinggi ada pada Time Pressure (TP) sebesar 26 yang menunjukkan bahwa tuntutan yang terkait dengan batasan waktu yang mempengaruhi cara operator melaksanakan tugasmenjadi pengaruh yang sangat tinggi dalam pembobotan beban kerja dan rata-rata terendah dari pembobotan beban kerjayakni pada Input Demand (ID) sebesar 24 menunjukkan bahwa melalui kebutuhan untuk mendapatkan informasi dari sumber luar yang diperhatikan juga menjadi pengaruh tetapi tidak sebesar pembobotan pada Time Pressure.
Kemudian setelah didapatkan nilai rating beban kerja dan pembobotan dilakukan langkah akhir yakni dengan penilaian skor beban kerja mental. Hal ini didapatkan dari perkalian antara hasil skor beban kerja dengan pembobotan. Adapun hasil penilaian beban kerja mental dengan método DRAWS sebagai berikut :
Sasa Yulianti :
Score = penilaian (rating) x pembobotan
= 93 x 28
= 2613
Dari hasil perhitungan skor beban kerja mental dengan método DRAWS kemudian dikategorikan sesuai dengan Tabel 8 sebagai berikut :
Hasil yang diperoleh dari perhitungan penilaian beban kerja dengan metodo DRAWS didapatkan hasil dari ke-24 responden memiliki nilai terkecil sebesar 40.9% dan nilai terbesar sebesar 100% serta ra-rata sebesar 79.7%. Dapat dilihat pada Tabel 4 diketahui bahwa nilai terkecil termasuk dalam kategori optimalload serta nilai terbesar dan rata-rata termasuk dalam kategori overload. Dimana dapat diketahui sebagaimana Tabel 4 bahwa dengan nilai terkecil sebesar 40.9% menunjukkan bahwa beban kerja mental yang terasa cukup, efek yang timbul banyak. Sedangkan nilai terbesar 100% dan rata-rata 79.7% menunjukkan bahwa beban kerja mental yang terasa maksimal, efek yang timbul sangat banyak.
Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa sebesar 92% dari total 24 responden mengalami overload menunjukkan bahwa beban kerja mental yang terasa maksimal, efek yang timbul sangat banyakdansekitar 8% mengalami optimalload menunjukkan bahwa beban kerja mental yang terasa cukup, efek yang timbul banyak. Adanya karyawan dengan beban kerja optimalload dan overload terjadi karna beberapa faktor diantaranya jenis kelamin, usia, dan area yang coverage. Dimana pada pada karyawan yang mengalami optimalload salah satunya karyawan cukup muda dengan ambisi dan motivasi kerja yang tinggi dan satu diantaranya memiliki motivasi kerja tinggi dengan area atau coverage tidak sebanyak dibanding dengan karyawan yang mengalami overload. Sehingga, beban kerja karyawan menjadi salah satu penyebab karyawan marketing tidak produktif dimana terjadi penurunan permintaan produk sebesar 77% dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan sebesar 92% karyawan mengalami overload dan dapat dilihat pada Tabel 8 bahwa Time Pressure (TP) menjadi salah satu variabel tertinggi dalam pembobotan beban kerja. Dapat diketahui bahwa pemenuhan target yang kian naik, penyelesaian tugas atau laporan serta report dengan deadline singkat, dan tekanan waktu yang dapat mempengaruhi kualitas layanan terhadap pelanggan menjadi penyebab tertinggi terjadinya penurunan permintaan produk.
Gambar 3. . Diagram Presentase Hasil Beban Kerja dengan Metode DRAWS
Dari Diagram Fishbone terlampir dapat diketahui bahwa terjadi penurunan permintaan produk disebabkan beberapa faktor baik dari Man yakni adanya beban kerja tinggi dan stres karyawan. Kemudian pada Metode yakni strategi pemasaran kurang efektif fan komunikasi internal kurang baik. Selanjutnya pada Material dimana harga kurang kompetitif dan distribusi kurang tepat. Pada Machine yakni sistem informasi dan alat pemasaran yang perlu ditingkatkan. Ada juga Measurement yakni analisis data dan target penjualan yang kian naik. Sampai Environment yakni adanya persaingan yang ketat dan perubahan cuaca yang mengganggu rantai pasok. Namun, dari beberapa faktor tersebut, sumber daya manusia merupakan penggerak organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Karyawan termasuk kedalam komponen terpenting yang dimiliki oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, mengembangkan, kemampuan bersaing dan menghasilkan keuntungan. Di zaman ini persaingan usaha semakin lama semakin ketat dengan menuntut Perusahaan menghasilkan barang atau jasa dengan kualitas terbaik. Penurunan permintaan produk yang disebabkan realisasi penjualan yang dicapai tidak sesuai dengan target yang ditetapkan. Kinerja dari karyawan merupakan hasil dari proses kerja dalam sebuah organisasi. Cara mendapatkan hasil kinerja karyawan diperlukan penilaian untuk mengetahui sejauh mana dan sebesar apa kinerja yang dikerjakan karyawan. Beban kerja menjadi faktor penting dalam kinerja karyawan. Faktor yang mempengaruhi beban kerja mencerminkan margin antara jumlah kekuatan fisik dan atau berfikir yang diperlukan untuk menangani tugas dan sumber daya (misalnya, waktu) yang tersedia untuk digunakan untuk menyelesaikan tugas.
Alternatif yang dapat dilakukan dan diterapkan dari hal tersebut yakni dapat menyesuaikan beban kerja mental terutama terkait Time Pressure karyawan terhadap kapasitas kerja dari diri karyawan baik dari kemampuan karyawan marketing. Kemudian, dapat dilakukan penyesuaian jam kerja dimana lebih terjadwal kembali mengenai visit outlet serta pengerjaan laporan. Dikarenakan visit outlet yang juga harus menyesuaikan jadwal instansi terkait, sehingga dilakukan penyesuaian terhadap tuntutan laporan atau report. Selain itu, perusahaan dapat lebih memotivasi karyawan untuk bertanggungjawab atas pekerjaannya sebaik mungkin tanpa adanya pressure yang berlebih. Peningkatan fasilitas seperti laptop dan tidak hanya tablet yang memudahkan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan akan membuat bekerja secara optimal. Serta adanya briefing dan SOP yang jelas sangat berguna dalam meningkatkan kinerja karyawan dalam pencapaian target.
Berdasarkan hasil perhitungan penilaian skor beban kerja mental dengan metode DRAWS didapatkan hasil pada Tabel 8 bahwa nilai terkecil sebesar 40.9% dan nilai terbesar sebesar 100% serta rata-rata sebesar 79.7%. Dimana pada Tabel 4 diketahui bahwa nilai terkecil termasuk dalam kategori optimalload serta nilai terbesar dan rata-rata termasuk dalam kategori overload. Bahwa dengan rata-rata sebesar 79.7% dapat dikategorikan overload. Sehingga, beban kerja karyawan menjadi salah satu penyebab karyawan marketing tidak produktif dimana terjadi penurunan permintaan produk sebesar 77% dari tahun sebelumnya.
Terimakasih diucapkan kepada Allah SWT dan Nabi junjungannya Muhammad SAW. Kepada orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan. Last but not least kepada diri sendir, apresiasi sebesar-besarnya kepada diri sendiri karena telah menyelesaikan apa yang telah dimulai meski banyak diterpa badai senantiasa menikmati prosesnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
[2]H. Destrada Siahaan and D. Pramestari, “Analisis Beban Kerja Menggunakan Metode Rating Scale Mental Effort (Rsme) Dan Modified Cooper Harper (Mch) Di Pt. Bank X,” J. IKRA-ITH Teknol., vol. 5, no. 2, pp. 6–16, 2021.
[3]M. K. Alfindo and B. I. Putra, “Analysis Of Physical And Mental Workload Using Nasa-Tlx And Cvl Methods In Umkm Berkah Toys,” Procedia Eng. Life Sci., vol. 3, 2023, doi: 10.21070/pels.v3i0.1367.
[4]A. Yasmin, A. A. Karim, and S. R. Rizalmi, “Analisis Beban Kerja Mental Dengan Metode Nasa-Tlx Di Pt. Pertamina Hulu Sanga Sanga,” J. Ind. Innov. Saf. Eng., vol. 1, no. 1, pp. 33–42, 2023, doi: 10.35718/jinseng.v1i1.751.
[5]J. . Hart, G dan Maio, Awareness and Workload Measures for SAFOR, no. October. Moffet Field, California: Ames Research Center, 1999.
[6]H. A. Khoiri, “Penilaian Beban Kerja Mental Operator Produksi,” vol. 06, no. 01, pp. 24–33, 2023.
[7]H. A. K. Yoggi Aldi Trisnanto, Aloysius Tommy Hendrawan, “ANALISIS BEBAN KERJA MENTAL OPERATOR PRODUKSI TERHADAP PRODUKTIVITAS PT SWA I DENGAN METODE DRAWS PENDAHULUAN ( INTRODUCTION ) BAHAN DAN METODE ( MATERIALS AND METHODS ) Tahapan Penelitian,” J. REKAVASI, vol. 12, no. 1, pp. 1–8, 2024.
[8]M. I. Adelino, B. Harma, and B. Afrianda, “Evaluasi Beban Kerja Mental Karyawan Dengan Menggunakan Metode DRAWS dan RSME,” Indones. J. Multidiscip. Soc. Technol., vol. 2, no. 1, pp. 26–31, 2024, doi: 10.31004/ijmst.v2i1.275.
[9]M. N. Adlini, A. H. Dinda, S. Yulinda, O. Chotimah, and S. J. Merliyana, “Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,” Edumaspul J. Pendidik., vol. 6, no. 1, pp. 974–980, 2022, doi: 10.33487/edumaspul.v6i1.3394.
[10]D. Triadi et al., “Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Menghadapi Abad 21 Di Sman 1 Pulang Pisau Improvement of Human Resource Competence in the Face of the 21St Century At Sman 1 Pulang Pisau,” INTEGRITAS J. Pengabdi., vol. 6, no. 2, pp. 418–430, 2022.
[11]Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta, Bandung, 2020.
[12]T. R. Annisa, E. Achiraeniwati, and Y. S. Rejeki, “Pengukuran Beban Kerja Mental pada Stasiun Kerja Housing Menggunakan Metode DRAWS (Studi Kasus : PT . Solarens Ledindo),” Pros. Tek. Ind., vol. 5, no. 2, pp. 302–307, 2019.
[13]C. I. Erliana and S. Mawaddah, “Analisis Pengukuran Beban Kerja Supervisor Dan Fireman PT Perta Arun Gas Menggunakan Metode Defence Research Agency Workload Scale,” Ind. Eng. J., vol. 8, no. 2, 2019, doi: 10.53912/iejm.v8i2.411.
[14]R. Maryati, “Analisis Beban Kerja Mental Dengan Menggunakan Metode Defence Research Agency Workload Scale (DRAWS) (Studi Kasus: Restu Konveksi, Tegalsari, Karanganyar),” Progr. Stud. Tek. Ind. Fak. Tek. Univ. Muhammadiyah Surakarta, pp. 1–12, 2019.
[15]M. Y. Syafei, B. Primanintyo, and S. Syaefuddin, “Pengukuran Beban Kerja Pada Managerial Level Dan Supervisory Level Dengan Menggunakan Metode Defence Research Agency Workload Scale (DRAWS) (Studi Kasus Di Departemen UHT PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co, TBk ),” J. Rekayasa Sist. Ind., vol. 5, no. 2, p. 69, 2016, doi: 10.26593/jrsi.v5i2.2214.69-78.
[16]F. A. Karim, E. Suhendar, and P. Suharmanto, “Pengukuran Beban Kerja Karyawan Dengan Metode Defence Research Agency Workload Scale dan Full Time Equivalent di PT Raja Ampat Indotim,” J. Teknol. dan Manaj., vol. 20, no. 2, pp. 109–118, 2022, doi: 10.52330/jtm.v20i2.58.
E. Worldailmi et al., “Analisis Beban Kerja Mental pada Marketing Menggunakan Metode NASA-TLX,” Teknoin, vol. 28, no. 1, pp. 30–36, 2023.
H. D. Siahaan and D. Pramestari, “Analisis Beban Kerja Menggunakan RSME dan MCH,” Jurnal IKRA-ITH Teknologi, vol. 5, no. 2, pp. 6–16, 2021.
M. K. Alfindo and B. I. Putra, “Analysis of Physical and Mental Workload Using NASA-TLX and CVL Methods,” Procedia Engineering and Life Science, vol. 3, 2023.
A. Yasmin et al., “Analisis Beban Kerja Mental Dengan Metode NASA-TLX,” Journal of Industrial Innovation Safety Engineering, vol. 1, no. 1, pp. 33–42, 2023.
J. Hart and G. Maio, Awareness and Workload Measures for SAFOR. NASA Ames Research Center, 1999.
H. A. Khoiri, “Penilaian Beban Kerja Mental Operator Produksi,” 2023.
Y. A. Trisnanto et al., “Analisis Beban Kerja Mental Operator Produksi Terhadap Produktivitas,” Jurnal Rekavasi, vol. 12, no. 1, pp. 1–8, 2024.
M. I. Adelino et al., “Evaluasi Beban Kerja Mental Menggunakan DRAWS dan RSME,” Indonesian Journal of Multidisciplinary Science and Technology, vol. 2, no. 1, pp. 26–31, 2024.
M. N. Adlini et al., “Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,” Edumaspul Journal, vol. 6, no. 1, pp. 974–980, 2022.
D. Triadi et al., “Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia,” Jurnal Pengabdian Integritas, vol. 6, no. 2, pp. 418–430, 2022.
Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2020.
T. R. Annisa et al., “Pengukuran Beban Kerja Mental Menggunakan DRAWS,” Prosiding Teknik Industri, vol. 5, no. 2, pp. 302–307, 2019.
C. I. Erliana and S. Mawaddah, “Analisis Beban Kerja Dengan Metode DRAWS,” Industrial Engineering Journal, vol. 8, no. 2, 2019.
R. Maryati, “Analisis Beban Kerja Mental Dengan Metode DRAWS,” 2019.
M. Y. Syafei et al., “Pengukuran Beban Kerja Dengan Metode DRAWS,” Jurnal Rekayasa Sistem Industri, vol. 5, no. 2, pp. 69–78, 2016.
F. A. Karim et al., “Pengukuran Beban Kerja Dengan DRAWS dan FTE,” Jurnal Teknologi dan Manajemen, vol. 20, no. 2, pp. 109–118, 2022.