Sukeng Tiyas Sari (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)
General Background Quranic education during the formative years strategically builds foundational cognitive abilities and fosters moral habituation. Specific Background PPTQ Al-Madinatul Kamilah implements a specialized scripture program for toddlers, navigating complex pedagogical challenges such as short concentration spans, separation anxiety, and fluctuating parental involvement. Knowledge Gap Existing literature predominantly investigates isolated technical recitation methods, leaving a substantial void regarding comprehensive, developmentally aligned administrative frameworks for toddlers. Aims This study analyzes the comprehensive administrative approach for achieving scripture retention targets and its subsequent role in shaping moral behavior at PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Results A descriptive qualitative approach utilizing interviews, observations, and documentation reveals a highly integrated five-component administrative model. The institution successfully combines child-centered target setting, the right-brain-based WAFA method, a conducive physical and psychological learning environment, continuous evaluation frameworks, and rigorous parental synergy. Consequently, this multidimensional approach significantly increased recitation volume and fluency while concurrently instilling discipline, independence, and responsibility. Novelty This research distinctly transitions the pedagogical focus from rigid target-oriented directives to a holistic, child-development-oriented paradigm that integrates cognitive, emotional, and social dimensions. Implications Islamic educational institutions should adopt this integrated five-component administrative model to successfully balance rigorous scripture retention targets with comprehensive moral habituation in toddlers.
Highlights:
Integrating the WAFA method with right-brain approaches successfully accommodates toddler cognitive stages and learning capabilities.
Continuous evaluation systems and active parental synergy significantly sustain long-term recitation retention outside formal schooling.
Flexible pedagogical target setting successfully instills moral values like discipline and independence without psychological pressure.
Keywords: WAFA Method, Cognitive Stages, Parental Synergy, Toddler Education, Scripture Retention
Menghafal Al-Qur’an merupakan program unggulan di berbagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap moral dan internalisasi nilai agama pada anak [1]. Pelaksanaan program hafalan akan lebih efektif jika dimulai sejak usia dini, mengingat pada fase ini anak mengalami perkembangan kognitif yang pesat, memiliki daya ingat kuat, serta respon yang tinggi terhadap stimulus [2]. Dalam proses pembelajaran, penetapan target hafalan menjadi komponen penting untuk memantau perkembangan, sekaligus meningkatkan motivasi anak, sehingga perlu dirancang secara realistis dan proporsional dengan mempertimbangkan waktu, tenaga pengajar, fasilitas dan kemampuan anak [3]. Selain itu, aspek kualitas seperti ketepatan tajwid, makharijul huruf, dan kelancaran hafalan harus menjadi fokus utama, didukung oleh fashahah dan adab sebagai nilai penguat karakter anak [4].
Di sisi lain, anak usia dini berada pada fase prasekolah di mana umumnya belum memiliki kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung), sehingga menjadi tantangan bagi guru dalam mengajarkan hafalan Al-Qur’an. Anak belum mampu menghafal secara mandiri dan membutuhkan metode khusus yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain keterbatasan kognitif, rendahnya motivasi juga menjadi kendala, karena sebagian anak mengikuti program tahfidz atas dorongan dari orang tua, yang berdampak pada kurangnya minat, sering absen, dan minimnya murojaah di luar lingkungan belajar [5]. Faktor lain seperti kecenderungan anak untuk bermain, kurangnya pengawasan, serta lemahnya kerja sama antara guru dan orang tua turut menghambat proses hafalan [6]. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian target hafalan tidak dapat mengandalkan kemampuan anak semata, melainkan memerlukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu pendidik perlu memperhatikan seluruh aspek perkembangan anak secara holistik, meliputi nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta seni, agar proses pembelajaran tahfidz berjalan efektif dan selaras dengan kebutuhan perkembangan anak [7].
Secara teoritis, pembelajaran pada anak usia dini menekankan pentingnya pengalaman langsung dan interaksi sosial. Menurut Jean Piaget, anak balita berada pada fase praoperasional, anak menunjukkan perkembangan kognitif meskipun belum terorganisir dengan baik. Anak mampu memahami realitas lewat pembelajaran yang konkret, kontekstual, melalui tanda dan simbol. Sejalan dengan itu, menurut Lev Vygotsky, anak usia balita telah memiliki banyak konsep kognitif namun belum tersusun secara sistematis sehingga perlu adanya bimbingan dari luar terutama guru sebagai fasilitator baik di dalam maupun luar lingkungan sekolah [8]. Oleh karena itu, pembelajaran tahfidz pada anak usia dini harus dirancang secara menyenangkan dengan pendekatan belajar sambil bermain. Pembelajaran hafalan Al-Qur’an harus dirancang secara bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan anak. Anak perlu dilibatkan secara aktif, baik secara fisik maupun mental, melalui kegiatan eksploratif, kerja sama, dan kegiatan pengamatan bersama teman sebaya. Pembelajaran sebaiknya bersifat langsung dan kontekstual [9]. Pemberian stimulus pada aspek emosional dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak. Berdasarkan temuan Roger Sperry, pendekatan otak kanan penting dalam proses pembelajaran. Otak kanan berperan dalam pengolahan ritme, warna, emosi, dan visualisasi, sehingga pembelajaran pada anak mudah diserap dan lebih menyenangkan[10]. Disisi lain, menurut perspektif pembelajaran sosial yang dikemukakan Albert Bandura, proses belajar anak terjadi melalui observasi, imitasi dan modeling lingkungan sekitarnya, terutama keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak[11]. Proses ini membantu anak lebih percaya diri dan membentuk karakter anak[12]. Dalam konteks pendidikan tahfidz pada anak usia dini, guru dan orang tua memberikan contoh dalam membaca ayat yang akan dihafalkan atau disebut dengan talqin.
Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji berbagai metode pembelajaran hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini. Latifah menemukan bahwa metode pemenggalan ayat per kata dalam satu ayat dan pengulangan secara konsisten disertai dukungan eksternal serta aktivitas yang diminati anak merupakan strategi efektif yang dapat diterapkan pada anak usia balita [13]. Penelitian lain oleh Mudina mengkaji pelaksanaan hafalan Al-Qur’an pada balita dengan menggunakan metode Tabarak, yaitu metode hafalan dengan mendengarkan murrotal melalui media audio visual berupa rekaman dari Syaikh Tabarak dan Syaikh Kamil. Keberhasilan anak dalam mencapai target hafalan sangat dipengaruhi oleh kenyamanan ruang belajar, kompetensi pengajar, dan dukungan aktif orang tua yang memastikan anak hadir tepat waktu, rutin mendengarkan murrotal, dan mengatur waktu bermain anak [14]. Ramadhan, memberikan tambahan materi berupa penguatan nilai adab, serta pemberian penghargaan untuk membantu aspek perkembangan anak [15]. Sementara itu, Hakim dalam penelitiannya menggabungkan metode pemotongan ayat dan media audio visual dalam tahap utama pembelajaran terstruktur [16]. Namun demikian, kajian-kajian tersebut masih berfokus pada aspek teknis metode pembelajaran di kelas dan belum mengkaji strategi secara komprehensif melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Madinatul Kamilah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab strategis dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, mandiri, serta berpotensi menjadi pemimpin umat melalui penanaman nilai-nilai Al-Qur’an sejak usia dini [17]. Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah program tahfidz bagi anak usia balita (3–5 tahun). Namun demikian, dalam praktik penyelenggaraannya, lembaga ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Tantangan tersebut meliputi rendahnya motivasi, baik pada anak maupun orang tua, yang disebabkan oleh belum optimalnya pemahaman terhadap urgensi menghafal Al-Qur’an sejak dini. Selain itu, karakteristik perkembangan anak juga menjadi faktor penting, seperti belum terbentuknya kemandirian belajar, lambatnya proses adaptasi akibat kecemasan berpisah dengan orang tua, belum tuntasnya toilet training, keterbatasan kemampuan berbahasa, kecenderungan anak yang aktif dengan rentang konsentrasi yang pendek [18]. Aspek lain yang turut memengaruhi adalah rendahnya partisipasi orang tua dalam mendampingi pembelajaran di luar lingkungan pesantren serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Berbagai tantangan tersebut dihadapi melalui strategi komprehensif yang mengintegrasikan berbagai aspek mulai dari perumusan target yang sesuai dengan perkembangan anak, pemilihan metode pembelajaran yang adaptif, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, sistem pengawasan dan evaluasi yang baik, serta hubungan kerjasama yang baik bersama orang tua. Oleh karena itu, lembaga ini relevan untuk dijadikan lokasi penelitian.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih jauh mengenai strategi pencapaian target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah yang mencakup perumusan target, pemilihan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, sistem pengawasan dan evaluasi, serta membangun sinergitas bersama orang tua. Selain itu, penelitian juga menganalisis implikasi strategi pencapaian target hafalan Al-Qur’an terhadap keberhasilan hafalan dan pembentukan karakter anak usia dini. Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan gambaran empiris sekaligus menjadi rujukan bagi lembaga tahfidz lain dalam merumuskan kebijakan strategis yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai strategi dalam pencapaian target hafalan bagi anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Studi kasus dipilih karena berfokus pada pengungkapan secara komprehensif mengenai perumusan target, pemilihan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, sistem pengawasan dan evaluasi, serta membangun sinergi bersama orang tua yang telah diterapkan di lembaga tersebut. Menganalisis implikasi strategi pencapaian target hafalan Al-Qur’an terhadap keberhasilan hafalan dan pembentukan karakter anak usia dini. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Sukorejo RT.04/RW.01 Kec.Buduran Kab. Sidoarjo Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa lembaga tersebut memiliki program khusus hafalan Al-Qur’an bagi anak usia balita serta menerapkan strategi secara komprehensif melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
Subjek dalam penelitian meliputi pimpinan pondok pesantren, koordinator program, guru kelas dan wali santri balita. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, yakni berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan program tahfidz balita.
Teknik pengumpulan data melalui tiga metode, yaitu wawancara mendalam terhadap pimpinan pondok pesantren, koordinator, guru dan wali santri untuk menggali informasi terkait strategi dalam pencapaian hafalan Al-Qur’an pada kelas balita. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati pembelajaran secara langsung, mengamati interaksi guru dan anak, penggunaan metode pembelajaran serta implementasi strategi. Studi dokumentasi berupa analisis terhadap dokumen yang relevan seperti buku mutabaah, catatan evaluasi, jadwal program dan dokumen kurikulum atau rencana strategis yang dimiliki lembaga.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif model interaktif, yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan secara berkelanjutan sejak data mulai dikumpulkan hingga penelitian selesai, untuk memastikan keabsahan temuan.
Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dengan membandingkan data dari berbagai informan. Sedangkan triangulasi metode dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu dilakukan pengecekan ulang (member check) kepada informan untuk memastikan data dengan kondisi yang sebenarnya.
3.1.1 Perumusan Target Hafalan Al-Qur’an pada Anak Usia Dini
Penetapan target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah atau dalam hal ini pada kelas balita didasarkan pada hasil evaluasi capaian rata-rata santri pada periode sebelumnya, yaitu satu juz dalam satu tahun pembelajaran. Meski demikian, penetapan target ini tidak bersifat memaksa ataupun wajib untuk dicapai oleh setiap santri. Namun disesuaikan dengan kesiapan usia, emosional dan perkembangan anak. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan target hafalan tidak hanya berorientasi pada capaian kuantitatif semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis anak. Pendekatan ini mengindikasikan adanya pergeseran dari target-oriented menjadi child-development oriented dalam pendidikan tahfidz anak usia dini.
Dari hasil wawancara terhadap pimpinan dan koordinator program tahfidz balita, penetapan target berfungsi sebagai acuan bagi guru untuk menentukan ritme dan perencanaan program pembelajaran sehingga pembelajaran bisa berjalan sistematis dan terarah. Keberhasilan program pendidikan Al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh manajemen yang terencana, guru yang kompeten, serta lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak tidak hanya mampu membaca dan menghafal, tetapi juga nilai Al-Qur’an dapat terinternalisasi dengan baik [19]. Secara teoritis, temuan ini sejalan dengan prinsip perkembangan kognitif anak menurut Piaget, bahwa anak usia praoperasional belum mampu menerima tekanan target yang bersifat abstrak dan kaku, sehingga penetapan target perlu dikonkretkan dan disesuaikan dengan pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, dalam perspektif Vygotsky, target yang fleksibel memungkinkan guru menyesuaikan pembelajaran dalam zona perkembangan proksimal (ZPD), sehingga anak dapat mencapai kemampuan hafalan secara bertahap melalui bantuan yang tepat.
Lebih lanjut, pimpinan PPTQ Al Madinatul Kamilah menyampaikan bahwa perumusan target hafalan tidak hanya berfokus pada aspek kuantitas hafalan. Akan tetapi juga memperhatikan proses belajar yang menyenangkan dan nyaman bersama Al-Qur’an. Konsep ini memadukan antara aspek kognitif dan afektif sehingga proses belajar berlangsung secara menyenangkan, rileks dan humanis. Pendekatan ini didasarkan pada perspektif psikologi perkembangan anak, di mana tekanan dalam proses pembelajaran akan menghambat penyerapan pengetahuan, khususnya pada anak usia dini yang masih berada pada tahap perkembangan emosional yang sensitif [20].
Keberhasilan program tahfidz balita tidak semata-mata dilihat dari jumlah capaian hafalan tetapi juga proses pembiasaan dan pengalaman positif anak bersama Al-Qur’an. Pembelajaran diarahkan untuk persiapan jangka panjang, yaitu menyiapkan generasi yang tangguh dan berakhlak qur’ani sebagaimana tertuang dalam visi PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Menurut Purwasih, program tahfidz balita dapat meningkatkan kedekatan anak dengan Al-Qur’an dan mengoptimalkan fungsi memori anak sejak usia dini [21].
Hasil observasi menunjukkan bahwa guru memberi ruang yang cukup bagi anak untuk bermain, beristirahat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Strategi ini menunjukkan prinsip fleksibilitas dalam pembelajaran anak usia dini. Ketika target hafalan tidak tercapai, anak tidak diberi sanksi, akan tetapi tetap mendapat apresiasi atas usaha yang telah dilakukan serta motivasi untuk tetap semangat menghafal Al-Qur’an. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi berperan penting dalam meningkatkan pembelajaran pada anak khususnya anak usia dini karena berfungsi sebagai penggerak, pengarah dan pendorong. Perhatian guru terhadap kebutuhan anak mampu menumbuhkan motivasi sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna [22].
Perumusan target juga dilakukan secara kolaboratif bersama guru selaku pelaksana teknis. Guru sebagai kunci dalam menciptakan pembelajaran yang efektif berfungsi menyampaikan materi dan menjadi fasilitator dalam menciptakan suasana belajar yang mampu menstimulus rasa ingin tahu sehingga meningkatkan motivasi pada anak [23]. Pengalaman guru sebagai pelaksana teknis memberikan masukan agar target hafalan bisa dicapai secara realitis dan humanis bagi anak.
Secara keseluruhan, perumusan target di PPTQ Al-Madinatul Kamilah merupakan integrasi dari kebijakan pimpinan, pertimbangan perkembangan anak, dan pengalaman empiris guru di lapangan. Target hafalan pada program tahfidz balita dirancang untuk menjadi fondasi awal dalam mewujudkan cita-cita jangka panjang, yaitu membentuk generasi yang tangguh dan berakhlak qur’ani. Hal ini menunjukkan bahwa capaian target hafalan pada anak usia dini tidak hanya berorientasi pada hasil capaian hafalan, tetapi juga pada kebermaknaan proses pembelajaran yang selaras dengan perkembangan anak.
3.1.2 Pemilihan Metode Pembelajaran Tahfidz yang Sesuai dengan Anak Usia Dini
Pemilihan metode pembelajaran pada anak usia dini harus memperhatikan prinsip pembelajaran yang berpusat kepada anak dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Melibatkan seluruh indra dan gerak tubuh dan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab [24]. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga melibatkan aspek sensorimotor dan emosional anak secara simultan.
Berdasarkan hasil penelitian, metode pembelajaran yang digunakan pada program tahfidz balita di PPTQ Al-Madinatul Kamilah adalah metode WAFA. Metode ini menggunakan pendekatan otak kanan yang menekankan pada aspek imajinasi, emosi, dan visualisasi sehingga proses menghafal lebih mudah dan menyenangkan. Temuan ini secara teoretis selaras dengan konsep dominasi fungsi otak kanan menurut Roger Sperry, yang menyatakan bahwa proses belajar pada anak usia dini lebih efektif melalui ritme, visualisasi, dan emosi dibandingkan dengan pendekatan logis-analitis. Pendekatan yang hanya menekankan aspek kognitif-logis dinilai kurang optimal dalam mengembangkan potensi anak [25]. Metode tersebut juga relevan dengan karakteristik anak usia dini yang berada pada tahap praoperasional, di mana anak lebih mudah memahami informasi melalui simbol, gambar dan pengalaman konkret dibandingkan abstraksi [26].
Metode WAFA memberi ruang kepada guru untuk mengemas pembelajaran secara kreatif dengan memadukan konsep kinestetik, auditori dan visual yang mampu mendorong anak untuk lebih semangat dalam menghafal Al-Qur’an. Integrasi multisensori pada proses belajar dapat meningkatkan kemampuan mengingat anak [27]. Metode WAFA juga menerapkan prinsip pembelajaran pada anak usia dini yang menekankan pendekatan belajar dengan bermain yang bermakna dan menyenangkan serta berpusat kepada anak. Namun demikian, pembelajaran tetap terstruktur mulai dari pembukaan, pengalaman, pengajaran, penilaian hingga penutupan atau disingkat menjadi 5P, yang menunjukkan bahwa metode ini bersifat sistematis sekaligus fleksibel [28].
Proses pertama pembukaan, guru memulai pembelajaran dan melakukan pengkondisian kelas melalui aktivitas-aktivitas seperti berdoa, menanyakan kabar, bercerita, bernyanyi dan aktivitas lain yang tujuannya adalah menarik perhatian anak. Namun demikian, pemberian ice breaking atau aktivitas pendukung lain juga diberikan disela-sela pembelajaran, agar anak tidak jenuh dan emosi lebih stabil. Di mana, bermain adalah kunci dalam menjaga motivasi anak untuk tetap antusias mengikuti pembelajaran tahfidz.
Proses kedua yaitu pengalaman, proses ini dilakukan dengan pemberian pengalaman konkret yang melibatkan anak-anak secara langsung. Stimulus ini bisa berupa cerita terkait ayat yang akan dibaca, murojaah dan sholat dhuha. Melalui kegiatan ini diharapkan muncul ketertarikan dan pemahaman awal melalui stimulasi otak kanan (imajinasi, emosi dan visualisasi).
Proses ketiga pengajaran, guru memberikan tambahan ayat dengan cara talaqqi secara langsung kepada anak. Metode talaqqi dinilai efektif dalam membantu proses menghafal pada anak usia dini [29]. Guru menjadi model dalam membaca ayat, yang selanjutnya ditirukan oleh para santri secara bertahap dan berulang. Pemberian contoh dalam menghafal Al-Qur’an dilakukan dengan mengucapkan per kata atau per potongan ayat sehingga mudah ditirukan dan disesuaikan dengan kemampuan pengucapan anak usia dini. Pendekatan ini dinilai efektif karena anak-anak usia dini belum mampu menghafal secara mandiri dan bergantung pada contoh yang diberikan oleh guru [30]. Penggunaan metode talaqqi menunjukkan adanya proses scaffolding. Hal ini sejalan dengan teori Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal, di mana anak dapat mencapai kemampuan tertentu melalui bantuan orang dewasa[31]. Talaqqi berfungsi sebagai modeling yang memungkinkan anak belajar melalui imitasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial Bandura. Dari temuan observasi, guru juga memainkan intonasi suara dalam rangka mempertahankan perhatian anak.
Dalam proses penambahan ayat, pembelajaran juga ditunjang dengan memanfaatkan media audio visual berupa video kartun dengan lantunan murotal suara guru. Media ini berfungsi sebagai penguat dalam menghafal Al-Qur’an sekaligus menjadi strategi untuk menarik perhatian anak. Penggunaan media audio visual ini terbukti membantu anak untuk tetap fokus dalam belajar tanpa merasa terbebani, terutama bagi anak yang mudah terdistraksi atau memiliki kecenderungan aktif secara motorik.
Proses ke-4 yaitu penilaian, guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendemonstrasikan materi yang telah dipahami atau dalam hal ini hafalan yang telah dicapai. Pada tahap ini guru melakukan penilaian melalui pengamatan pada proses pembelajaran dan penilaian secara privat atau setoran satu per satu sebelum pembelajaran ditutup. Catatan dan hasil penilaian ditulis ke dalam buku mutaba’ah sebagai penghubung kepada orang tua sehingga orang tua dapat melihat perkembangan anak sekaligus menjadi panduan orang tua untuk mendampingi murojaah selama di rumah. Pada tahap ini, guru juga melakukan pendampingan tambahan dengan membaca ayat yang disetorkan bersama-sama pada anak yang belum mampu untuk mencapai target yang telah ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian tidak hanya bersifat sumatif, tetapi juga formatif yang berlangsung secara berkelanjutan (assessment for learning). Penilaian ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhan anak.
Tahap terakhir penutupan, materi yang sudah dihafal dikuatkan kembali bersama-sama dan ditutup dengan kegiatan positif seperti pemberian pujian dan motivasi kepada anak. Tujuannya untuk memperkuat ingatan serta meninggalkan kesan yang menyenangkan terhadap pembelajaran Al-Qur’an. Pemberian reward berupa afirmasi positif dan aktivitas yang menyenangkan efektif meningkatkan motivasi belajar anak usia dini. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip dalam pembelajaran untuk anak usia dini yang menekankan bermain sebagai sarana utama dalam belajar [32].
Gambar 1. Proses Tahapan Metode WAFA (5P)
Jika ditinjau dari perspektif teori belajar, metode WAFA menerapkan penggabungan pendekatan konstruktivistik, teori behavioristik dan teori humanistik [33]. Pendekatan konstruktivistik terlihat dari pemberian pengalaman, behavioristik dari pengulangan hafalan, dan humanistic dari suasana belajar yang menyenangkan. Metode wafa membantu mempercepat anak untuk menghafal dan menguasai bacaan Al-Qur’an, serta meningkatkan kemampuan kognitif, bahasa dan seni anak [34]. Pemilihan metode wafa sebagai metode pembelajaran didasarkan pada aspek afektif dan moral anak. Guru tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai aqidah, adab mengaji, serta berbagai sikap positif lain seperti kedisiplinan, kesabaran dan saling menghargai teman melalui cerita dan teladan. Aktivitas-aktivitas sederhana seperti menyapa lewat lagu, senam ringan, bertepuk tangan mampu mendukung perkembangan kognitif dan motorik anak. Kombinasi berbagai aktivitas belajar mampu menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman bagi anak. Penelitian Nasir juga menyebutkan bahwa metode WAFA memiliki keunggulan pada kemudahan dalam membaca, menghafal dan memahami Al-Qur’an melalui pendekatan inovatif dan terstruktur [35].
Secara keseluruhan, pemilihan metode WAFA menunjukkan pendekatan yang adaptif dan berorientasi pada perkembangan anak. Keberhasilan metode ini tidak hanya terletak pada peningkatan hafalan, tetapi juga pada penciptaan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.
3.1.3 Penciptaan Lingkungan Belajar yang Kondusif
Penciptaan lingkungan belajar yang kondusif merupakan salah satu strategi penting dalam mendukung pencapaian target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Lingkungan belajar yang kondusif dimaknai dengan persiapan lingkungan secara fisik dan psikologis sehingga anak merasa aman, nyaman dan memiliki kebebasan dalam belajar. Dalam teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner, lingkungan belajar merupakan bagian dari mikrosistem yang memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan kognitif dan membentuk karakter anak [36]. Lingkungan yang minim tekanan dapat mendukung konsentrasi anak dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an [24]. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar.
Berdasarkan hasil observasi, suasana belajar disusun secara fleksibel tanpa tekanan. Guru memberi ruang untuk bermain, bergerak dan beristirahat sesuai kondisi anak. Temuan ini mengindikasikan penerapan prinsip child-centered learning yang menjadikan kebutuhan dan kenyamanan anak sebagai prioritas utama dalam proses pembelajaran. Dalam perspektif konstruktivistik, kebebasan eksplorasi memungkinkan anak membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata (experiential learning). Lantunan ayat Al-Qur’an juga diperdengarkan meskipun dalam kondisi bermain dan beristirahat. Hal ini untuk membantu mendekatkan anak terhadap Al-Qur’an meskipun tidak dalam kondisi formal belajar.
PPTQ juga menyediakan sarana dan prasarana penunjang, seperti Perpustakaan, media audio visual, dan alat permainan edukatif. Ketersediaan fasilitas menunjukkan bahwa lingkungan fisik dirancang sebagai stimulus belajar. Desain ruang belajar yang menarik, dan sesuai dengan karakter anak usia dini memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak. Penataan ruang kelas yang meliputi pengaturan tempat duduk, pemilihan warna, ventilasi, pencahayaan dan penyediaan ruang bermain dapat meningkatkan konsentrasi dan rasa ingin tahu anak melalui aktivitas belajar sambil bermain. Desain ruang dengan nuansa edukatif-religius dapat menjadi sarana dalam mendukung penanaman nilai-nilai moral dan karakter anak [37]. Oleh karenanya, guru harus memahami bahwa perencanaan ruang belajar yang holistic dengan berbasis kebutuhan anak sangat penting dalam membantu menstimulus kemampuan anak termasuk dalam menghafal Al-Qur’an [38]. Meski demikian, hasil observasi menunjukkan bahwa fasilitas ruang kelas masih terbatas, terutama berkaitan dengan aspek kenyamanan fisik seperti sirkulasi udara dan pendingin ruangan. Hal ini menjadi tantangan yang perlu diperhatikan untuk perbaikan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
Lingkungan kondusif juga dibangun melalui interaksi dan komunikasi yang efekif antara guru dan anak. Komunikasi efektif berfungsi sebagai sarana dalam membangun suasana belajar aman dan menyenangkan [39]. Interaksi dua arah, sikap empatik guru dan kesempatan terhadap anak untuk dapat mengekspresikan kemauan dan perasaannya menunjukkan bahwa lingkungan sosial-emosional memiliki peran penting dalam membangun rasa aman pada anak. Anak merasa dihargai karena respon hangat yang diberikan oleh guru sehingga lebih percaya diri dan secara aktif mengikuti proses pembelajaran. Komunikasi tidak hanya bersifat informatif dan edukatif, tetapi juga membentuk iklim sosial emosional yang positif di kelas [40]. Guru menggunakan bahasa sederhana, memberikan umpan balik dan secara aktif mendengarkan anak ketika berbicara dapat memberikan rasa aman secara psikologis. Selain itu, guru menghindari penggunaan pola komunikasi negatif seperti kalimat perintah dengan suara keras, menyalahkan maupun membandingkan anak.
Lebih lanjut, lingkungan belajar yang kondusif diwujudkan dengan fleksibilitas dalam merespons kondisi anak ketika pembelajaran. Guru memberi ruang kepada anak untuk sejenak beristirahat jika menunjukkan tanda kelelahan atau mengantuk. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar berorientasi pada kebutuhan anak (child-center learning). Pendekatan child-centered learning merupakan strategi pedagogis yang menempatkan anak sebagai pusat proses belajar, di mana anak terlibat secara aktif dalam pengalaman berdasar minat dan kebutuhan perkembangan individualnya. Dalam kajian teoritis, pendekatan ini dikaitkan dengan pembelajaran yang mendukung eksplorasi, bermain, dan interaksi sosial, yang diyakini mampu mengoptimalkan perkembangan holistik anak usia dini. Pendekatan ini menuntut guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang merangsang keterlibatan, interaksi, dan aktivitas belajar anak agar mereka dapat secara aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri berdasarkan pengalaman nyata mereka [41]. Selain itu, paradigma child-centered menggeser peran guru dari pemberi informasi menjadi fasilitator yang merancang kegiatan dan lingkungan belajar sesuai minat dan kebutuhan anak [42]. Pendekatan ini juga mendorong praktik kelas yang responsif terhadap kemampuan dan karakteristik unik setiap anak, sehingga pembelajaran dapat berlangsung bermakna dan kontekstual bagi perkembangan individu mereka [43]. Temuan ini sejalan dengan penelitian Latif, Munafiah dan Rachmawati bahwa pemberian kebebasan kepada anak untuk belajar melalui bermain, bereksplorasi sesuai minat dan guru sebagai fasilitator dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak [44].
Dengan demikian, lingkungan belajar di PPTQ Al-Madinatul Kamilah tidak hanya fokus pada pemenuhan aspek fisik, tetapi juga kedekatan emosional, spiritual, dan sosial yang mendukung kenyamanan anak. Lingkungan yang demikian terbukti mampu mendukung proses menghafal dan internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an pada anak usia dini.
3.1.4 Sistem Pengawasan dan Evaluasi Pencapaian Target Hafalan
Sistem pengawasan dan evaluasi merupakan komponen yang digunakan untuk memastikan ketercapaian target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini berjalan sesuai dengan perencanaan. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh pimpinan PPTQ melalui supervisi yang dilakukan secara rutin setiap jumat secara bergantian. Supervisi ini berfungsi untuk memantau proses pembelajaran, kesesuaian metode yang digunakan serta interaksi guru bersama anak selama kegiatan belajar berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi kontrol dalam manajemen pendidikan dijalankan secara sistematis sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran.
Hasil supervisi disampaikan secara langsung kepada guru melalui diskusi dan refleksi bersama. Temuan ini mengindikasikan bahwa supervisi tidak hanya bersifat evaluatif, tetapi juga pembinaan yang berorientasi pada peningkatan profesionalitas guru. Pimpinan menilai bahwa supervisi sebagai usaha pembinaan menuju arah perbaikan. Pembinaan yang dimaksud adalah dengan cara memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan serta profesionalisme guru. Dari supervisi, pimpinan memperoleh data yang akurat terkait pembelajaran dan ke depan bisa dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan [45]. Fungsi supervisi sebagai proses pembinaan guru profesional akan tercapai dan selanjutnya berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran jika dilakukan secara sistematis dan kolaboratif [46]. Kuncinya terletak pada pendampingan langsung oleh pimpinan, evaluasi berkelanjutan dan adanya umpan balik yang bersifat membangun [47].
Evaluasi capaian hafalan dilakukan secara berjenjang dan sistematis. Mulai dari harian hingga semester. Evaluasi harian dilakukan melalui setoran dan murajaah surat yang telah dipelajari pada hari tersebut. Hal ini sejalan dengan konsep assessment for learning, di mana evaluasi berfungsi sebagai alat diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar anak dan memberikan intervensi yang tepat [48]. Proses penilaian tidak diposisikan sebagai kegiatan akhir, namun sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Pada tahap ini, guru memantau langsung kelancaran hafalan anak.
Setelah satu surat dinyatakan tuntas, guru tidak langsung menambah hafalan baru, tetapi terlebih dahulu melakukan penguatan hafalan. Strategi ini penting dalam konteks pendidikan anak usia dini karena kemampuan memori, konsentrasi dan kestabilan emosi anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga hafalan membutuhkan proses pengulangan secara intensif agar hafalan tersimpan dengan baik. Praktik evaluasi melalui setoran dan penguatan hafalan tersebut sejalan dengan konsep tasmi’ dalam pendidikan tahfidz Al-Qur’an. Tasmi’ merupakan kegiatan memperdengarkan hafalan kepada orang lain untuk melihat kekurangan bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Tasmi’ berfungsi sebagai sarana memperkuat hafalan karena santri terdorong melakukan murojaah sebelum mengikuti tasmi’ [49]. Hal ini menunjukkan evaluasi harian melalui setoran tidak hanya menjadi penilaian administratif tetapi juga strategi pedagogis dalam menjaga hafalan.
Evaluasi capaian juga dilakukan secara periodik pada akhir semester melalui munaqosyah internal oleh guru PPTQ dan munaqosyah eksternal wafa bagi santri yang telah dinyatakan lulus dalam munaqosyah internal. Evaluasi berlapis menjadi kontrol untuk menjaga standar mutu hafalan dengan menjaga objektivitas penilaian melalui penguji ekternal. Pola evaluasi ini menunjukkan adanya integrasi antara evaluasi proses, evaluasi hasil dan pengendalian standar kualitas pembelajaran. Evaluasi program yang dilakukan secara sistematis mampu memberikan gambaran menyeluruh terhadap keberhasilan pelaksanaan program. Penilaian tidak hanya difokuskan pada hasil akhir hafalan, tetapi juga mencakup proses pembelajaran, kesiapan sumber daya, serta kesesuaian program dengan kebutuhan anak [50].
Hasil supervisi dan evaluasi ini selanjutnya menjadi bahan diskusi untuk memperbaiki strategi dalam pencapaian target hafalan pada anak usia dini. Sehingga hasil tidak sekedar menjadi alat ukur ketercapaian program tetapi juga berfungsi sebagai instrument dalam meningkatkan mutu yang berkelanjutan (continuous improvement). Temuan-temuan yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki metode, pengelolaan kelas dan strategi pendampingan guru maupun orang tua. Dengan demikian, evaluasi dipandang sebagai instrument penting dalam menjaga kualitas program tahfidz serta meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.
3.1.5 Sinergitas Lembaga dan Orang Tua dalam Pencapaian Target Hafalan
Sinergitas antara lembaga dan orang tua merupakan faktor kunci keberhasilan dalam mencapai target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini. Karakter anak usia dini yang belum mampu menghafal secara mandiri menjadikan pendampingan orang tua menjadi elemen strategis dalam menjaga kesinambungan proses menghafal selama di luar lingkungan pondok. Karena kunci kuatnya hafalan terletak pada murojaah yang dilakukan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tahfidz tidak hanya ditentukan oleh proses lembaga, tetapi juga kesinambungan pembelajaran di lingkungan keluarga.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa sinergitas antara PPTQ dan orang tua telah terjalin sejak awal penyamaan persepsi tentang tanggung jawab pendidikan Al-Quran. PPTQ menyampaikan secara eksplisit kepada orang tua bahwa pendidikan Al-Qur’an pada anak 70% menjadi tanggung jawab orang tua, dan 30% pada lembaga. Lembaga bertanggung jawab pada proses penambahan hafalan, sedangkan orang tua membantu menjaga hafalan yang diperoleh melalui pendampingan murojaah. Kerjasama ini dikuatkan melalui surat komitmen yang ditanda tangani oleh orang tua ketika awal mendaftarkan anaknya di program tahfidz balita. Proporsi ini mengindikasikan adanya model kolaborasi pendidikan berbasis keluarga (family-based learning) yang menempatkan orang tua sebagai pelaku utama dalam penguatan hafalan anak [51]. Pola pembagian ini menunjukkan bahwa keberhasilan capaian hafalan harus dipahami sebagai kerja kolaboratif antara orang tua dan lembaga, bukan tanggung jawab guru semata.
Keterlibatan orang tua dalam pendampingan murojaah dengan berbagai metode, seperti memperdengarkan murrotal secara rutin, murojaah bersama di atas kendaraan ketika perjalanan, dan mendampingi murojaah sebelum tidur menunjukkan adanya praktik pembelajaran kontekstual di rumah. Hal ini menegaskan bahwa proses belajar tidak terbatas di ruang kelas. Pemanfaatan media audio visual sangat efektif membantu proses murojaah sekaligus membantu mengatasi permasalahan keterbatasan kompetensi orang tua dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an [52]. Temuan ini sejalan dengan penelitian Satingi yang menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dalam menghafal Al-Qur’an dapat meningkatkan minat dan fokus anak karena stimulus suara dan gambar, serta memudahkan orang tua selama pendampingan di rumah [53].
Namun demikian, pemanfaatan media digital sebagai media belajar harus diimbangi dengan pengawasan dari orang tua secara bijak. Penggunaan media digital yang kurang tepat, justru dapat menjadi penghambat bagi anak dalam proses menghafal Al-Qur’an [54]. Penggunaan media yang tidak terkontrol dapat menimbulkan distraksi dan penurunan efektivitas pembelajaran. Meskipun sebagian orang tua mengakui adanya kendala seperti anak mudah bosan dan lelah, atau lebih tertarik bermain, mereka tetap mengupayakan agar anak tetap dekat bersama Al-Qur’an. Konsistensi orang tua dalam mendampingi anak dalam murojaah lebih penting dibanding dengan panjang durasi yang dihabiskan untuk belajar namun tidak istiqomah.
Sinergitas lembaga dan orang tua juga diperkuat melalui komunikasi intensif dengan memanfaatkan berbagai macam media komunikasi. Media komunikasi yang digunakan antara lain buku mutabaah, grup whatsapp kelas, serta pertemuan dan pembinaan orang tua dalam seminar parenting maupun kelas mengaji dewasa. Melalui media komunikasi ini, PPTQ menyampaikan capaian hafalan, pengingat murojaah dan kondisi perkembangan anak selama di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi menjadi jembatan koordinasi dalam memperkuat sinergitas antara kedua pihak. Keterbukaan komunikasi membantu orang tua memahami karakter anak dan menyesuaikan pola pendampingan selama di rumah.
Lebih lanjut, orang tua juga berperan sebagai teladan sekaligus sumber motivasi bagi anak. Lingkungan keluarga menjadi faktor penting dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Beberapa orang tua bahkan memulai pembiasaan mendengarkan Al-Qur’an sejak dalam kandungan dan berlanjut hingga masa balita. Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran sosial pada keluarga Islam yang menekankan pada keteladanan dan pembiasaan sebagai metode pendidikan [55].
Dengan demikian, sinergitas yang terbentuk tidak hanya bersifat administratif, tetapi menjadi bagian yang strategis dalam mencapai target hafalan pada anak usia dini. Kerja sama yang dibangun melalui pembagian peran yang jelas, komunikasi intensif, serta dukungan baik secara emosional maupun spiritual selama di rumah terbukti efektif dalam mendukung keberhasilan program tahfidz balita di PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Zahara yang menyebutkan bahwa penggunaan teknologi digital, lingkungan yang mendukung, pengawasan personal, rutinitas menghafal setiap hari, serta dukungan doa dan motivasi dari orang tua membantu meningkatkan daya ingat dan kemampuan hafalan Al-Qur’an pada anak [56].
Model konseptual strategi pencapaian target hafalan pada anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah menunjukkan adanya integrasi yang sistematis antara lima komponen utama, yaitu perumusan target, pemilihan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar, sistem evaluasi, serta sinergi dengan orang tua.
Gambar 2. Model Konseptual Strategi Pencapaian Hafalan
Perumusan target menjadi fondasi awal yang menentukan arah pembelajaran, di mana target disusun secara fleksibel dan berbasis perkembangan anak. Target ini kemudian diimplementasikan melalui pemilihan metode pembelajaran yang adaptif, yaitu metode WAFA yang berbasis pendekatan otak kanan dan pembelajaran multisensori. Metode ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga melibatkan dimensi emosional dan pengalaman belajar anak secara langsung.
Selanjutnya, efektivitas metode pembelajaran diperkuat oleh penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, baik secara fisik maupun psikologis. Lingkungan ini berperan sebagai stimulus yang mendukung kenyamanan dan keterlibatan aktif anak dalam proses belajar.
Dalam pelaksanaannya, sistem pengawasan dan evaluasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol untuk memastikan ketercapaian target secara berkelanjutan. Evaluasi dilakukan tidak hanya sebagai penilaian hasil, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran (assessment for learning) yang memungkinkan adanya perbaikan strategi secara terus-menerus.
Di sisi lain, sinergi antara lembaga dan orang tua menjadi faktor penguat yang memastikan keberlanjutan proses hafalan di luar lingkungan belajar formal. Keterlibatan orang tua melalui pendampingan murojaah, komunikasi intensif, dan pemberian teladan memperkuat internalisasi hafalan sekaligus pembentukan karakter anak.
Secara keseluruhan, kelima komponen tersebut saling terintegrasi dan membentuk suatu sistem pembelajaran yang holistik. Integrasi ini menghasilkan output berupa keberhasilan hafalan, pembentukan karakter Qur’ani, serta terciptanya pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi anak usia dini.
Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu menjadi perhatian dan perbaikan selanjutnya, antara lain motivasi anak dan pemahaman orang tua yang belum merata, karakteristik perkembangan anak usia dini yang membutuhkan pendekatan khusus, serta keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. Selain itu, tingginya ketergantungan anak terhadap orang tua dalam penguatan hafalan selama di rumah menjadi tantangan tersendiri.
Penelitian ini menunjukkan kebaruan dalam bentuk model strategi dalam pembelajaran tahfidz pada anak usia dini yang mengintegrasikan lima komponen utama, yaitu perumusan target berbasis perkembangan anak, pemilihan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, sistem evaluasi berkelanjutan, serta sinergitas antara lembaga dan orang tua. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung menitikberatkan pada aspek metode, penelitian ini menempatkan seluruh komponen tersebut sebagai kesatuan utuh berbasis perkembangan anak usia dini.
Berdasarkan hasil penelitian, strategi pencapaian target hafalan Al-Qur’an di PPTQ Al-Madinatul Kamilah memberikan implikasi yang nyata terhadap keberhasilan hafalan dan pembentukan karakter anak usia dini. Implikasi tersebut terlihat dari keterkaitan antara perumusan target yang fleksibel, metode pembelajaran WAFA, lingkungan belajar yang kondusif, sistem evaluasi yang berkelanjutan, serta sinergi dengan orang tua.
3.2.1 Implikasi Terhadap Keberhasilan Hafalan
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah hafalan anak, dengan rata-rata penambahan sekitar lima ayat per hari. Data wawancara guru dan laporan tahunan lembaga menguatkan bahwa capaian hafalan mengalami peningkatan secara signifikan. Kelancaran hafalan juga menunjukkan perkembangan yang baik, meskipun pada anak usia 3–4 tahun masih ditemukan keterbatasan pada aspek makharijul huruf karena faktor perkembangan bahasa. Menurut Islamiati, perkembangan bahasa anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan keterlibatan aktif orang tua dalam pengasuhan [57]. Pola asuh demokratis memberikan hasil positif, sedangkan otoriter cenderung menghambat perkembangan bahasa anak. Hamidah menambahkan selain faktor fisik anak dan pola asuh keluarg, perkembangan bahasa anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial [58]. Sementara itu, ketepatan tajwid relatif baik karena anak belajar melalui metode talaqqi dengan menirukan bacaan guru secara langsung.
Dari aspek retensi hafalan, sebagian besar anak, khususnya pada anak yang sudah menginjak usia 4-5 tahun, mampu mengulang hafalan tanpa bantuan yang menunjukkan adanya daya ingat yang cukup kuat. Hal ini diperkuat oleh kebiasaan murojaah yang dilakukan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Peran orang tua dalam mendampingi murojaah terbukti menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan hafalan, meskipun pelaksanaannya masih dipengaruhi oleh kondisi emosional anak.
Selain itu, strategi pembelajaran yang menyenangkan melalui cerita, permainan, dan pemberian reward terbukti mampu meningkatkan motivasi dan antusiasme anak dalam menghafal Al-Qur’an. Dengan demikian, keberhasilan hafalan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan kognitif anak, tetapi juga oleh pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini.
3.2.2 Implikasi Terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini
Strategi yang diterapkan juga memberikan implikasi signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Dari hasil wawancara dan observasi, nilai karakter yang paling menonjol adalah kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an. Pembentukan ini membantu menyiapkan anak agar memiliki sifat dan kepribadian yang kuat sehingga mampu bersaing dimasa yang akan datang [59].
Kedisiplinan terlihat dari kemampuan anak mengikuti alur pembelajaran secara tertib, meskipun masih terdapat beberapa kendala seperti keterlambatan yang dipengaruhi oleh kesiapan anak di rumah. Kesabaran anak dalam mengikuti pembelajaran juga tergolong baik, yang didukung oleh suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menekan. Penanaman nilai moral lewat cerita saat pembelajaran lebih mudah dipahami dan dipraktekkan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari [60].
Kemandirian anak mengalami perkembangan yang cukup signifikan, ditunjukkan dengan kemampuan anak mengikuti pembelajaran tanpa harus ditunggu orang tua, serta mampu melakukan aktivitas sederhana secara mandiri seperti merapikan barang, ke kamar mandi, dan duduk dengan tertib ketika murojaah. Sikap tanggung jawab juga mulai terbentuk melalui kebiasaan menjaga kebersihan dan mengikuti aturan kelas.
Selain itu, kecintaan terhadap Al-Qur’an tampak dari antusiasme anak untuk mengikuti pembelajaran, kerinduan untuk kembali mengaji, serta kebiasaan murojaah di rumah. Bahkan, beberapa anak menunjukkan inisiatif untuk menjadi imam dalam sholat, yang mencerminkan internalisasi nilai keagamaan dan kepemimpinan. Aspek adab juga berkembang, seperti kebiasaan berdoa, bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, serta menirukan nasihat-nasihat guru.
Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi pencapaian target hafalan yang diterapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan hafalan, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter anak secara holistik. Keberhasilan ini merupakan hasil dari integrasi antara pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan anak, dukungan lingkungan belajar yang kondusif, serta keterlibatan aktif orang tua dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan Zilfan bahwa pendidikan tahfidz dapat membentuk karakter anak untuk lebih mencintai dan menjaga Al-Qur’an, memiliki sikap kerja keras, disiplin, gemar membaca, dan bertanggung jawab [61].
Dengan demikian, strategi yang diterapkan di PPTQ Al-Madinatul Kamilah dapat dipahami sebagai model pembelajaran tahfidz berbasis perkembangan anak yang tidak hanya berorientasi pada hasil hafalan, tetapi juga pada pembentukan karakter Qur’ani sejak usia dini.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi pencapaian target hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini di PPTQ Al-Madinatul Kamilah, dapat disimpulkan bahwa strategi yang diterapkan bersifat komprehensif dan terintegrasi melalui lima komponen utama, yaitu perumusan target hafalan, pemilihan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, sistem pengawasan dan evaluasi, serta sinergi antara lembaga dan orang tua.
Pertama, perumusan target hafalan dilakukan secara fleksibel dan berbasis perkembangan anak, tidak hanya berorientasi pada capaian kuantitatif, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis dan emosional anak. Hal ini menjadikan proses pembelajaran lebih humanis dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Kedua, pemilihan metode pembelajaran menggunakan metode WAFA berbasis pendekatan otak kanan yang mengintegrasikan aspek visual, auditori, kinestetik, serta emosi anak. Metode ini terbukti mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan efektif dalam membantu proses hafalan Al-Qur’an.
Ketiga, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif dilakukan melalui pengaturan suasana belajar yang aman, nyaman, fleksibel, serta didukung oleh interaksi sosial-emosional yang positif antara guru dan anak. Lingkungan ini berperan penting dalam meningkatkan konsentrasi, motivasi, dan keterlibatan anak dalam pembelajaran.
Keempat, sistem pengawasan dan evaluasi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui supervisi, setoran harian, serta evaluasi semester yang bersifat formatif dan sumatif. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pengukuran hasil, tetapi juga sebagai dasar perbaikan pembelajaran secara terus-menerus.
Kelima, sinergi antara lembaga dan orang tua menjadi faktor penguat utama dalam keberhasilan hafalan. Keterlibatan orang tua dalam murojaah, komunikasi intensif, serta pembiasaan di rumah memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan hafalan anak di luar lingkungan sekolah.
Secara keseluruhan, strategi yang diterapkan di PPTQ Al-Madinatul Kamilah tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga berimplikasi pada pembentukan karakter anak usia dini seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dengan demikian, model strategi ini dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan pembelajaran tahfidz pada anak usia dini yang lebih holistik, adaptif, dan berbasis perkembangan anak.
L. Lastari and R. Hidayat, “Analisis penggunaan metode Tahfidz Al-Quran dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak usia 5–6 tahun di PAUD Roudlotul Quran Desa Cicapar,” J. Intisabi, vol. 2, no. 1, pp. 1–16, 2024, doi: 10.61580/itsb.v2i1.47.
Ramadan Lubis et al., “Karakteristik perkembangan anak usia sekolah TK (0–5) tahun,” Harmoni Pendidik.: J. Ilmu Pendidik., vol. 2, no. 2, pp. 21–33, 2025, doi: 10.62383/hardik.v2i2.1227.
JUHRI, “Manajemen pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an (studi kasus pada SD Islam Athirah Racing Centre),” CENDEKIA J. Ilmu Pengetah., vol. 3, no. 4, pp. 202–210, 2023, doi: 10.51878/cendekia.v3i4.2579.
M. Mizan, N. F. Febiyana, N. E. Eviona, N. Latifatul, and Inayati, “Evaluasi program Tahfidz di SMP Al Islam Kartasura,” Cendikia J. Pendidik. dan Pengajaranan, vol. 3, no. 1, p. 22, 2024.
H. Hasan, D. Budiarti, K. Khadijah, and N. I. Hasanah, “Problematika dalam menghafal Al-Qur’an bagi anak balita di Rutaba Hijrah Sulingan,” Al-Khidma J. Pengabdi. Masy., vol. 4, no. 1, p. 18, 2024, doi: 10.35931/ak.v4i1.853.
R. A. S. and A. Wirman, “Penerapan metode Talaqqi dalam membiasakan anak menghafal Al-Qur’an,” J. Educ. Res., vol. 4, no. 1, pp. 7–12, 2023, doi: 10.37985/jer.v4i1.122.
Kementerian Pendidikan Nasional RI, “Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini No. 137 Tahun 2014,” Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pp. 1–76, 2014. [Online]. Available: https://portaldik.id/assets/upload/peraturan/PERMEN%20KEMENDIKBUD%20Nomor%20137%20Tahun%202014%20STANDAR%20NASIONAL%20PENDIDIKAN%20ANAK%20USIA%20DINI.pdf
L. Ardiati, “Perbandingan teori perkembangan kognitif anak usia dini Jean Piaget dan Lev Vygotsky serta relevansinya terhadap pendidikan Islam,” Institut Agama Islam Negeri Bengkulu, 2021.
G. S. Morrison, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 5th ed. Jakarta, Indonesia: PT Indeks, 2017.
J. M. S. Pearce, “The ‘split brain’ and Roger Wolcott Sperry (1913–1994),” Rev. Neurol., vol. 175, no. 4, pp. 217–220, 2019, doi: 10.1016/j.neurol.2018.07.007.
B. O. R. Novia and A. Listiana, “Peran pendidik anak usia dini berdasarkan kajian teori belajar sosial kognitif Albert Bandura,” CERIA (Cerdas Energik Responsif Inov. Adapt.), vol. 6, no. 3, pp. 333–341, 2023.
K. Pramudiantoro, H. Maharini, and B. A. Nindiatma, “Upaya guru dalam mengimplementasi teori belajar sosial Albert Bandura di kelas,” J. At-Tarbiyyah J. Pendidik. Islam, vol. 11, no. 1, pp. 17–24, 2025.
N. Latifah, “Pembelajaran Al-Qur’an pada program Tahfidz balita dan anak usia dini,” J. Instr. Dev. Res., vol. 1, no. 1, pp. 41–47, 2021, doi: 10.53621/jider.v1i1.17.
S. Mudina, “Analisis penggunaan metode Tabarak dalam menghafal Al-Qur’an Juz 30 di Markaz Tahfidz Balita Raudhatu Tilawatil Qur’an Dumai,” NANAEKE Indones. J. Early Child. Educ., vol. 5, no. 2, pp. 100–111, 2022.
S. Ramadhan, N. Guswanti, E. Rahayu, Z. Zalisman, and Y. Akhyar, “Early childhood Tahfizh education: Optimization the aspects of children’s development and religious soul of children in the golden age,” AL-ISHLAH J. Pendidik., vol. 14, no. 2, pp. 2031–2042, 2022, doi: 10.35445/alishlah.v14i2.377.
T. I. Hakim, “Pembelajaran menghafal Al-Qur’an dengan metode Zahrawain di Sekolah Tahfidz Balita Zahrawain Indonesia Kleco Surakarta,” ANSIRU PAI: Pengemb. Profesi Guru Pendidik. Agama Islam, vol. 7, no. 1, p. 7, 2023, doi: 10.30821/ansiru.v7i1.14979.
L. Azzahra and D. Irawan, “Pentingnya mengenalkan Al-Qur’an sejak dini melalui pendidikan agama Islam,” Pengertian J. Pendidik. Indones. (PJPI), vol. 1, no. 1, pp. 13–20, 2023.
R. Nurasyiah and C. Atikah, “Karakteristik perkembangan anak usia dini,” Khazanah Pendidik. J. Ilm. Kependidikan, vol. 17, no. 1, pp. 75–81, 2023.
M. Hanafi, F. Muhammad, and N. Wiyono, “Quran memorization and early childhood development: A case-control with neuroscience approach,” Bali Med. J., vol. 10, no. 2, pp. 697–700, 2021, doi: 10.15562/bmj.v10i2.2265.
Nurdin, “Penerapan konsep pembelajaran inovatif dan kreatif melalui pembelajaran berbasis edutainment dalam pembelajaran di PAUD,” Murhum J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 2, no. 1, pp. 56–67, 2021.
W. Purwasih, “Program Tahfidz Al-Qur’an anak usia dini di TK Qurrota A’yun Yogyakarta,” Abna J. Islam. Early Child. Educ., vol. 1, no. 1, pp. 17–38, 2020.
Nunzairina, C. Octavia, and A. H. Sa’dia, “Peran motivasi dalam meningkatkan pembelajaran anak usia dini,” Al Abyadh, vol. 5, no. 2, pp. 69–74, 2022.
A. M. Diputera et al., “Memahami konsep pendekatan deep learning dalam pembelajaran anak usia dini yang meaningful, mindful dan joyful: Kajian melalui filsafat pendidikan,” Bunga Rampai Usia Emas, vol. 10, no. 2, pp. 108–120, 2024.
N. M. S. Laksmi, I. M. Suardana, and I. Arifin, “Implementasi pembelajaran dan penilaian berbasis metode Montessori,” J. Pendidik. Teor. Penelitian, dan Pengemb., vol. 6, no. 5, pp. 827–834, 2021.
A. R. Lestari and Y. Yasin, “Analisis peran dan interaksi otak kiri dan kanan dalam fungsi kognitif,” Al-Ihsan J. Islam. Guid. Couns., vol. 1, no. 2, 2024.
S. T. Huda and E. T. Susdarwono, “Hubungan antara teori perkembangan kognitif Piaget dan teori belajar Bruner,” J. Muassis Pendidik. Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 54–66, 2023.
M. R. Zaenulloh, A. A. Fauzi, and A. Khoirunnisa, “Pengaruh penggunaan metode multisensori terhadap kemampuan mengingat huruf hijaiyah anak usia dini,” J. Pendidik. Islam dan Manaj. Ekon., vol. 3, no. 2, 2025.
A. A. I. Hakim and Suyadi, “Penggunaan metode WAFA untuk meningkatkan hafalan Al-Qur’an anak usia dini di RA Insan Mulia, Yogyakarta,” Early Stage J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 38–51, 2023.
D. N. Putri and D. A. Romadlon, “Application of Talaqqi method in learning Tahfidz Al-Qur’an in early children: Penerapan metode Talaqqi dalam pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini,” Indones. J. Educ. Methods Dev., vol. 18, no. 1, 2022, doi: 10.21070/ijemd.v21i.706.
R. A. Jivi, Syamsurizal, E. Saputra, M. Delvia, and A. Movitaria, “Metode pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an bagi anak usia dini di Yayasan Darul Furqon Santok Kota Pariaman,” J. Islam. Educ. AN NABA, vol. 8, no. 2, pp. 88–102, 2022.
H. Mustofa, M. Jazeri, E. Mu’awanah, E. Setyowati, and A. Wijayanto, “Strategi pembelajaran scaffolding dalam membentuk kemandirian belajar siswa,” Al Fatih, vol. 1, no. 1, pp. 42–52, 2021.
D. Asti, E. Maryani, E. Hs, S. Arif, and S. Watini, “Implementasi Reward Asyik membangun motivasi belajar anak usia dini di TK Bina Tunas Bangsa,” JIIP, vol. 6, no. 6, pp. 3709–3717, 2023.
A. Saidah, I. Yunita, H. Asrohah, and H. S. Zainiyati, “Implementasi metode WAFA dalam mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an yang bermutu di SDIT Insan Permata Bojonegoro,” Al-Madrasah J. Ilm. Pendidik. Madrasah Ibtidaiyah, vol. 9, no. 4, pp. 1824–1838, 2025, doi: 10.35931/am.v9i4.5133.
W. E. Z. Munawaroh and S. Muthohar, “Efektifitas penggunaan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur’an di RuTaba (Rumah Tahfidz Balita),” Murhum J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 37–49, 2024, doi: 10.37985/murhum.v5i2.707.
M. Nasir, Choeroni, and A. Muchtar, “Strategi penggunaan metode WAFA dalam pencapaian target pembelajaran Al-Qur’an di SDIT Al-Insan Kabupaten Pinrang,” Tajdid J. Pemikir. Keislam. dan Kemanus., vol. 9, no. 2, pp. 138–156, 2025.
A. N. Maulani, Musdalifa, Muslimah, N. S. R, and Widiyanto, “Hakikat perkembangan anak dan pendidikan karakter: Telaah teori ekologi Bronfenbrenner dan hadis dalam konteks pendidikan Indonesia,” J. Keilmuan dan Pengajaran, vol. 10, no. 1, pp. 19–39, 2026.
D. P. Astuti, R. Wulandari, and Fahmi, “Analisis desain ruang belajar dan perkembangan kognitif anak usia dini,” Child. Educ. J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, pp. 1–10, 2024.
F. N. Sholikhah, R. Faizah, and H. Munawaroh, “Desain interior Pendidikan Anak Usia Dini di RA Ar-Raudah,” J. Tunas Cendekia, vol. 7, no. 1, pp. 23–30, 2024.
T. R. S. Pakpahan, J. Fadila, and H. S. G. Ginting, “Pentingnya komunikasi efektif dalam pendidikan bagi anak usia dini,” Ta’rim J. Pendidik. dan Anak Usia Din., vol. 5, no. 3, pp. 37–44, 2024.
F. Khairurizky et al., “Pentingnya fungsi komunikasi efektif pada anak usia dini,” DUNIA ANAK: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 8, no. 1, pp. 20–32, 2025.
T. Thi et al., “Early childhood education through a child-centered approach: Theoretical foundations and key issues,” Macrolinguistics and Microlinguistics, vol. 6, no. 2, pp. 74–84, 2025, doi: 10.21744/mami.v6n2.40.
H. Catalano, A. Rus, G. Mestic, and A.-I. Dohotaru, “The child-centered paradigm and its implications for the continuous professional development of early childhood teachers,” IJSEI, pp. 7–26, 2024, doi: 10.5281/zenodo.14775576.
J. Cade, F. Wardle, and J. Otter, “Quality early care and learning: Exploring child-centered pedagogy: A qualitative multi-case study,” Cogent Educ., vol. 9, no. 1, 2022, doi: 10.1080/2331186X.2022.2144589.
M. A. Latif, N. Munafiah, and Y. D. Rachmawati, “Merdeka Belajar anak usia dini dalam mengembangkan kognitif anak: Sebuah kajian fenomenologi,” J. PG-PAUD Trunojoyo J. Pendidik. dan Pembelajaran Anak Usia Dini, vol. 9, no. 2, pp. 61–68, 2022.
Y. M. Sari and A. Huzairin, “Manajemen supervisi dalam lembaga PAUD di TK Negeri Pembina Nasal,” PAUDIA, vol. 10, no. 2, pp. 187–196, 2021.
E. S. Herlina, R. Silaban, A. M. Tambunan, and S. Nababan, “Eksplorasi fenomena supervisi akademik pada satuan pendidikan anak usia dini,” J. Obs.: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 6, pp. 7350–7361, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i6.5831.
V. F. Musyadad, R. Tanjung, and O. Arifudin, “Supervisi akademik untuk meningkatkan motivasi kerja guru dalam membuat perangkat pembelajaran,” JIIP: J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 6, pp. 1936–1941, 2022.
G. Anisah, “Kerangka konsep Assessment of Learning, Assessment for Learning, dan Assessment as Learning serta penerapannya pada pembelajaran,” Al-Aufa J. Pendidik. dan Kaji. Keislam., vol. 3, no. 2, pp. 65–76, 2021.
J. Chahnia, M. Kustati, and R. Amelia, “Pendampingan Tahfiz Al-Qur’an santri menggunakan metode Tasmi’ di MDTA Nurul Yaqin Bukittinggi,” RENATA J. Pengabdi. Masy. Kita Semua, vol. 1, no. 3, pp. 99–106, 2023.
R. Anggraeni, Ansori, and P. Kartika, “Evaluasi program pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an anak usia dini (TAUD) di PKBM Nurul Islam Al-Husna,” J. COMM-EDU, vol. 8, no. 2, pp. 425–431, 2025.
A. K. Adzim, “Konsep pendidikan karakter anak berbasis keluarga Islami era Society 5.0,” TA’LIMUNA, vol. 10, no. 1, pp. 14–23, 2021.
Niharotussadiah, A. Darmiyanti, and N. Riana, “Kolaborasi orang tua dan guru dalam mendampingi anak usia dini 5–6 tahun menghafal Al-Qur’an secara daring,” JCE (J. Child. Educ.), vol. 5, no. 1, pp. 224–239, 2021.
R. N. Satingi, S. W. Laiya, and I. Sutisna, “Efektivitas media audio visual dalam pembelajaran menghafal Al-Qur’an pada anak kelompok B,” Student J. Early Child. Educ., vol. 3, no. 2, pp. 324–338, 2023.
Sutarto, “Analisis hafalan Al-Qur’an pada anak usia dini,” J. Obs.: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 6, no. 6, pp. 7016–7023, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i6.3440.
N. Wahyuni and W. Fitriani, “Relevansi teori belajar sosial Albert Bandura dan metode pendidikan keluarga dalam Islam,” Qalam: J. Ilmu Kependidikan, vol. 11, no. 2, pp. 60–66, 2022, doi: 10.33506/jq.v11i2.2060.
F. N. Zahara, H. Rahmah, M. A. Syah, M. Zalnur, and M. Kosim, “Studi literatur: Pemanfaatan media audio visual untuk meningkatkan motivasi anak usia dini dalam menghafal Al-Qur’an,” Edu Soc. J. Pendidik., Ilmu Sos. dan Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 5, no. 2, pp. 938–945, 2025.
D. Islamiati and W. Hendriani, “Pola asuh orang tua terhadap perkembangan bahasa anak usia dini: Systematic literature review,” J. Obs.: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 9, no. 5, pp. 1992–2001, 2025, doi: 10.31004/obsesi.v9i5.7035.
N. H. Hamidah and I. P. Fauziah, “Permasalahan perkembangan bahasa anak usia dini dan faktor yang mempengaruhinya,” MURANGKALIH J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, pp. 30–38, 2024.
U. Hasanah and N. U. R. Fajri, “Konsep pendidikan karakter anak usia dini,” EDUKIDS J. Inov. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 116–126, 2022, doi: 10.51878/edukids.v2i2.1775.
D. Mike Oktavia and J. Dewi Madya, “Upaya penanaman pendidikan akhlak melalui metode cerita bergambar pada anak usia dini,” J. Heal. Sains, vol. 2, no. 2, pp. 203–217, 2021, doi: 10.46799/jhs.v2i2.186.
M. Zilfan, Ilham, and D. Masitha, “Implementasi program Tahfidz Qur’an dalam pembentukan karakter religius pada siswa madrasah ibtidaiyah,” J. Instr. Dev. Res., vol. 4, no. 4, pp. 223–233, 2024.