Login
Section Innovation in Education

Innovation Of School Religious Culture In Shaping Elementary Students Religiosity


Inovasi Budaya Religius Sekolah Dalam Membentuk Religiusitas Siswa Sekolah Dasar
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Roviatul Adawiyah (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:



General Background Primary education serves as a fundamental phase for instilling moral character and spiritual values within youth. Specific Background Rapid modernization and technological transitions pose severe challenges, potentially triggering moral degradation and weakening the spiritual grounding of the younger generation. Knowledge Gap Although previous studies consistently demonstrate that pious environments foster positive character traits, analyses separating and explicitly comparing this cultural implementation across both institutional and domestic settings remain highly limited. Aims This study investigates the comprehensive role of a structured School of Religious Culture framework on the piety of learners within the educational environment and at home. Results A quantitative methodology utilizing simple linear regression analysis evaluated survey data from 168 grade IV to VI learners at SD Integral Hidayatullah Probolinggo. The findings indicate that the spiritual framework exerts a highly significant positive correlation with learner piety at the institution, demonstrating a coefficient of determination of 0.607. Furthermore, this framework maintains a substantial positive correlation with learners' domestic piety, yielding a coefficient of 0.557. Novelty This research specifically differentiates and measures the precise quantitative role of structured institutional spiritual initiatives on domestic behavior, highlighting the pervasive reach of educational paradigms into the home. Implications Educational institutions must systematically implement and maintain integrated spiritual programs to successfully counter modern moral degradation and ensure developmental continuity across learning environments.



Highlights:



  • A structured spiritual framework significantly counters modern moral degradation within educational environments.




  • The implementation of an institutional paradigm strongly dictates the pious behavior of learners.




  • Institutional initiatives demonstrate a substantial and measurable role in determining domestic routines and familial devotion.




Keywords: Spiritual Development Moral Degradation, Institutional Paradigm, Pious Behavior Educational Environment



Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

"Pendidikan di tingkat sekolah dasar memegang peranan krusial sebagai landasan utama dalam menginternalisasi nilai-nilai agama serta membangun karakter peserta didik. Hal ini sejalan dengan instruksi UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) yang mewajibkan sistem pendidikan di Indonesia untuk memperkuat aspek ketakwaan, keimanan, sekaligus keluhuran budi pekerti siswa [1]. Terlebih dalam kondisi masyarakat yang majemuk, penyatuan budaya religi ke dalam ekosistem sekolah menjadi instrumen strategis guna membentuk kepribadian yang tetap menjunjung tinggi semangat kebangsaan [2]. Meski demikian, tantangan muncul seiring masifnya perkembangan teknologi dan pergeseran pola hidup modern yang berpotensi melemahkan sisi religiusitas serta memicu degradasi moral pada generasi muda, degradasi spiritualitas pada masa kini mengharuskan penerapan manajemen pendidikan yang lebih komprehensif serta berimbang dalam rangka memperkuat sisi religiusitas peserta didik [3]. Serkan Golkap menyatakan dalam jurnalnya, institusi pendidikan memegang peranan vital untuk menciptakan ekosistem yang mendukung melalui pola interaksi yang komunikatif guna memperkokoh kesehatan mental sekaligus internalisasi nilai spiritual siswa [4]. Keberadaan budaya sekolah yang mapan dengan fondasi nilai keagamaan menjadi faktor penentu dalam mengonstruksi kepribadian religius siswa, yang manifestasinya tampak baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan domestik di rumah [5]. Secara hakiki, orientasi dari keseluruhan sistem pendidikan ini adalah untuk membentuk pribadi yang memiliki ketaatan total kepada Allah Swt., yang mencakup ranah kehidupan pribadi maupun bermasyarakat [6] .

Dalam penelitian ini, School of Religious Culture (SRC) didefinisikan sebagai konsep manajerial yang menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai basis utama dalam seluruh proses pendidikan dan tata kelola sekolah [7]. Kebijakan dan program dirancang secara sistematis dan diintegrasikan ke dalam visi, misi, serta rencana kerja sekolah, termasuk dalam bentuk agenda tahunan dan kegiatan unggulan berbasis keagamaan. Implementasi budaya religius di institusi pendidikan dikelola melalui kebijakan manajerial yang komprehensif, mulai dari integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kurikulum hingga penetapan program pembiasaan rutin. Selain itu, kebijakan ini diperkuat dengan strategi keteladanan dari tenaga pendidik serta pengawasan konsisten terhadap tata tertib sekolah guna memastikan internalisasi karakter religius siswa berjalan secara sistematis [8]. Konsep ini membangun sistem pembiasaan religius yang mencakup kebijakan, aktivitas, lingkungan, keteladanan, budaya, serta evaluasi spiritual siswa. Menurut Ardianto Tola, SRC merupakan upaya untuk mengimplementasikan nilai-nilai agama sebagai kebiasaan dan upaya pembiasaan diri dalam organisasi, yang diikuti oleh semua karyawan sekolah serta terwujudnya nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah [9]. Culture sendiri merupakan pandangan hidup yang dimiliki bersama oleh orang-orang, meliputi cara berpikir, berperilaku, sikap dan nilai, yang tercermin dalam bentuk fisik dan abstrak [10]. Oleh karena itu, penerapan SRC memiliki peran krusial dalam mengembangkan spiritualitas siswa agar menjadi individu yang beriman dan berakhlak mulia. Melalui penciptaan lingkungan keagamaan yang harmonis, pendekatan manajerial ini diharapkan mampu mencapai tujuan pendidikan Islam serta membentuk karakter siswa secara holistik [11].

Dalam rangka mewujudkan budaya sekolah yang menanamkan nilai-nilai keagamaan secara terencana dan berkelanjutan maka Indikator dalam penelitian ini meliputi: : Aktivitas Keagamaan, Budaya Sekolah Islami, Suasana Fisik dan Simbolik, Peran Guru dan Tenaga Kependidikan, Evaluasi dan Monitoring, Penerapan Nilai SRC di Luar. Adapun bagan pemetaannya sebagai gambar dibawah ini:

Gambar 1. Indikator School Of Religious Culture

Sumber:[12]–[21]

Gambar 1.1 Menggambarkan indikator School of Religious Culture (SRC) sebagai suatu kerangka manajerial sekolah yang berorientasi pada internalisasi nilai-nilai keagamaan secara menyeluruh. Indikator SRC dalam penelitian ini meliputi berbagai aktivitas keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan berkesinambungan, seperti pembiasaan membaca doa pagi, pelaksanaan salat Dhuha dan Dzuhur secara berjamaah, serta kegiatan pembacaan dan penghafalan Al-Qur’an melalui program tahfidz dan tahsin [13]. Di samping itu, penyelenggaraan peringatan hari besar Islam juga menjadi bagian dari indikator SRC yang berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter religius siswa [14]. Penanaman nilai-nilai keislaman tercermin dalam budaya sekolah sehari-hari, antara lain melalui kebiasaan mengucapkan salam, pelaksanaan kegiatan infak, serta pembentukan komunitas keagamaan siswa. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan secara terencana dan dipantau melalui mekanisme monitoring serta evaluasi berkala yang terdokumentasi sebagai bagian dari tanggung jawab manajerial sekolah [15]. Dengan demikian, budaya sekolah Islami tidak hanya menjadi ciri khas institusi pendidikan, tetapi juga berakar pada ajaran Islam yang tercermin dalam nilai, norma, kebiasaan, dan sikap seluruh warga sekolah. Budaya tersebut terbentuk melalui penerapan prinsip dasar, aturan, serta simbol-simbol keislaman yang memengaruhi pola interaksi dan aktivitas keseharian di lingkungan sekolah [16]. Selain aspek aktivitas dan budaya, kondisi lingkungan fisik dan simbolik sekolah turut berperan dalam menciptakan suasana religius. Hal ini diwujudkan melalui penyediaan sarana ibadah yang memadai, bersih, dan tertata dengan baik [8]. serta pemanfaatan simbol-simbol keislaman seperti kaligrafi Al-Qur’an, slogan religius, dan berbagai ornamen visual bernuansa Islami di lingkungan sekolah [17]. Gambar 1.1 juga menegaskan peran penting guru dan tenaga kependidikan sebagai figur teladan (uswah hasanah) dalam proses internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui pembimbingan ibadah dan penyampaian pesan-pesan moral secara konsisten [18]. Implementasi SRC semakin diperkuat melalui pelaksanaan evaluasi dan monitoring berkelanjutan yang berbasis pada indikator-indikator terukur, seperti kedisiplinan siswa, kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, serta ketepatan waktu kehadiran. Proses ini dilakukan secara reflektif dan kolaboratif dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua [19]. Lebih lanjut, penguatan SRC juga diperluas hingga ke luar lingkungan sekolah melalui sinergi dengan keluarga. Keterlibatan orang tua memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan penerapan nilai-nilai keagamaan siswa di lingkungan rumah [20]. Oleh karena itu, integrasi Tripusat Pendidikan yang meliputi sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi pendekatan holistik dalam membangun karakter religius siswa secara berkesinambungan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari [21]. Indikator School of Religious Culture (SRC) sebagaimana ditampilkan pada Gambar 1.1 selanjutnya diterjemahkan ke dalam bentuk operasional melalui penyusunan instrumen angket penelitian, yang penjelasannya disajikan pada bagian metode penelitian.

Religiusitas pada dasarnya merupakan sebuah sistem doktrin yang memuat serangkaian nilai kehidupan sebagai pedoman bagi penganutnya dalam proses pengambilan keputusan serta tindakan sehari-hari [22]. Selain itu, agama diposisikan sebagai fondasi fundamental yang memandu seluruh tingkah laku manusia dalam kehidupan yang bersumber pada keyakinan terhadap Tuhan, sehingga setiap perilaku yang ditunjukkan merupakan manifestasi dari nilai-nilai ajaran agama tersebut [23]. religiusitas ini juga mencakup kedalaman pemahaman individu terhadap doktrin agamanya, intensitas keyakinan, konsistensi dalam melaksanakan ritual peribadatan, serta sejauh mana seseorang menginternalisasi nilai-nilai agama yang dipeluknya [24].

Dalam konteks penelitian ini, religiusitas siswa diklasifikasikan ke dalam dua dimensi utama, yaitu religiusitas di lingkungan sekolah dan religiusitas di lingkungan rumah. Religiusitas siswa di sekolah meliputi partisipasi dalam ibadah rutin siswa, sikap dan perilaku keagamaan di sekolah, dan pembiasaan nilai-nilai agama. indikator tersebut tercermin melalui perilaku keagamaan dalam ekosistem pendidikan, seperti partisipasi aktif dalam kegiatan doa pagi, muroja’ah, tahfidz Al-Qur’an, serta pelaksanaan ibadah secara berjamaah, yang disertai dengan sikap integritas dalam menjalankan tugas dan kesantunan dalam berinteraksi [25].

Sementara itu, Religiusitas siswa di rumah merupakan wujud pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga yang tercermin melalui kedisiplinan ibadah dirumah, sikap santun dan hormat terhadap keluarga, dan tanggung jawab di rumah. Indikator tersebut dapat ditunjukkan melalui konsistensi menjalankan salat lima waktu dan kebiasaan berdoa, sementara sikap religius tercermin dalam kesantunan, kepatuhan, dan tanggung jawab siswa dalam kehidupan keluarga. Selain itu, keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan keluarga, seperti membaca Al-Qur’an, menunjukkan keberlanjutan internalisasi nilai religius yang diperoleh di sekolah [26], [27][28].

Tinjauan pustaka menunjukkan sejumlah penelitian relevan terkait "Madrasah Religious Culture on Students' Religious Moderation Attitude: Quantitative Correlation at MAN 1 Jombang" Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara budaya religius di madrasah dengan sikap moderasi beragama siswa [11]. Penelitian oleh Tanzilur Rizki dkk menyatakan bahwa budaya religious berpengaruh terhadap akhlak siswa [12]. Sedangkan menurut Nuraeni dkk menyatakan bahwa Budaya sekolah berpengaruh signifikan terhadap karakter religius siswa [29]. Selain itupenelitian lain menyatakan budaya religious dan Self Regulated berpengaruh terhadap perilaku keagamaan siswa [30]. Meskipun berbagai studi tersebut telah mengkaji dampak budaya religius terhadap karakter dan perilaku, terdapat celah penelitian (research gap) yang mendasar. Penelitian-penelitian sebelumnya cenderung mengukur religiusitas secara umum atau hanya terbatas pada lingkungan sekolah saja. Berbeda dengan hal tersebut, kebaruan dalam penelitian ini terletak pada analisis pengaruh School Of Religious Culture (SRC) yang secara spesifik memisahkan dan membandingkan dampaknya terhadap dua ranah sekaligus, yaitu religiusitas siswa di lingkungan sekolah dan religiusitas siswa di lingkungan rumah.

Perubahan dalam masyarakat modern membawa dampak signifikan terhadap proses penanaman nilai-nilai spiritual pada peserta didik. Kondisi ini menuntut institusi pendidikan untuk mengembangkan model pembelajaran yang tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga mengintegrasikan pembinaan keagamaan secara terstruktur dan berkelanjutan. Dalam kerangka tersebut, penelitian ini menetapkan SD Integral Hidayatullah Probolinggo sebagai lokasi studi karena sekolah tersebut telah mengimplementasikan School of Religious Culture (SRC) sebagai landasan budaya sekolah yang tercermin dalam visi, misi, dan praktik pendidikan sehari-hari.Implementasi SRC terseebut diwujudkan melalui program keagamaan yang terstruktur, peran aktif pendidik sebagai pembina nilai, serta penciptaan lingkungan belajar yang mencerminkan karakter Islami, sehingga mendorong terbentuknya kepribadian siswa secara menyeluruh [31]. Kehadiran School of Religious Culture (SRC) di sekolah tidak hanya berperan dalam memperkuat pembentukan karakter religius peserta didik di lingkungan pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan orang tua dalam menentukan pilihan sekolah, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan waktu dalam melakukan pendampingan keagamaan di rumah. Namun demikian, penguatan budaya religius yang diterapkan di sekolah tidak serta-merta terimplementasi secara optimal dalam praktik keberagamaan siswa di lingkungan keluarga.Perbedaan intensitas pembiasaan religius antara sekolah dan rumah menunjukkan bahwa internalisasi nilai spiritual masih menghadapi tantangan dalam lintas lingkungan. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji secara empiris pengaruh School of Religious Culture terhadap religiusitas siswa dalam dua ranah lingkungan, yaitu religiusitas di sekolah dan religiusitas di rumah. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian akademik mengenai pengembangan budaya religius sekolah serta menjadi rujukan dalam merumuskan strategi pendidikan yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam membentuk karakter religius peserta didik.

II. Metode

Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal yang bertujuan untuk mengkaji pengaruh School of Religious Culture (SRC) terhadap religiusitas siswa pada dua ranah lingkungan, yaitu lingkungan sekolah dan lingkungan rumah di SD Integral Hidayatullah Probolinggo. Pendekatan kuantitatif digunakan karena mampu memberikan gambaran objektif mengenai hubungan antarvariabel melalui pengolahan data numerik menggunakan teknik analisis statistic [32]. Dalam penelitian ini, SRC berperan sebagai variabel bebas (X), sedangkan religiusitas siswa di sekolah (Y₁) dan religiusitas siswa di rumah (Y₂) ditetapkan sebagai variabel terikat. Berdasarkan hal ini, maka peneliti membuat rancangan kerangka berpikir sebagai acuan dalam penelitian sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka Konseptual Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir penelitian, hipotesis yang diajukan meliputi: (1) School of Religious Culture memiliki pengaruh positif terhadap religiusitas siswa di lingkungan sekolah; dan (2) School of Religious Culture memiliki pengaruh positif terhadap religiusitas siswa di lingkungan rumah.

Populasi yaitu seluruh unsur yang dijadikan sumber data utama dalam penelitian, baik berupa benda, makhluk hidup, gejala, nilai pengujian, individu, informan, peristiwa, maupun lokasi, yang memiliki karakteristik tertentu sesuai dengan fokus penelitian, Sedangkan Sampel adalah sebagian kecil dari objek atau subjek yang mewakili keseluruhan populasi dalam suatu penelitian [33]. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas IV hingga kelas VI SD Integral Hidayatullah Probolinggo dengan jumlah keseluruhan 168 siswa yang tersebar dalam sembilan kelas. Kelas-kelas tersebut terdiri atas kelas VI C (36 siswa), VI A (16 siswa), VI B (17 siswa), kelas V C (23 siswa), V A (29 siswa), V B (19 siswa), serta kelas IV C (25 siswa), IV A (17 siswa), dan IV B (16 siswa). Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Proportionate stratified random sampling, pengambilan sampel berdasarkan strata jenjang kelas secara proporsional jumlah sampel kelas dihitung menggunakan rumus :ni = Ni/N× n Dari perhitungan tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 54 siswa. Setelah jumlah sampel tiap strata ditetapkan, responden dipilih secara acak. sehingga setiap jenjang kelas memperoleh keterwakilan yang seimbang sesuai proporsi jumlah siswanya dan mampu menggambarkan kondisi populasi secara lebih representative.

Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket yang dirancang untuk mengukur tingkat religiusitas siswa baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Untuk mendukung keakuratan data, teknik dokumentasi dan observasi juga digunakan sebagai data pelengkap. Instrumen penelitian disusun menggunakan skala Likert empat poin tanpa opsi netral. Skala ini bertujuan untuk memperoleh respons siswa secara lebih tegas terhadap pernyataan-pernyataan yang diajukan. Data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS statistics 26.0 melalui beberapa tahapan yaitu uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji liniearitas, dan analisis regresi linier sederhana.

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh School Of Religious Culture (SRC) Terhadap Religiusitas Siswa disekolah dan di rumah. Pengaruh variabel X terhadap variabel Y1 dan Y2 dapat diketahui dengan uji parsial menggunakan uji t, sedangkan untuk mengetahui besar kontribusi pengaruhnya menggunakan koefisien determinas (R²), seluruh Langkah-langkah analisis dilakukan secara sistematis supaya hasil yang diperoleh dari penelitian menjadi akurat dan sejalan dengan tujuan penelitian.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Uji asumsi instrumen

Uji Validitas

Dalam asumsi instrumen uji validitas, itu digunakan untuk memastikan bahwa setiap butir pertanyaan dalam kuesioner bener-bener mengukur konstruk yang dimaksud [34]. Pengujian dilakukan dengan mengorelasikan skor tiap item dengan skor total variabel menggunakan teknik Pearson Product Moment. Suatu item dinyatakan valid apabila memiliki nilai signifikansi (p-value) < 0,05 dan nilai korelasi lebih besar dari r tabel. Dengan jumlah responden (n = 54) dan taraf signifikansi 5%, diperoleh r tabel sebesar 0,294. Artinya, item pertanyaan dianggap valid apabila r hitung > 0,294 dan signifikan(p<0,05).

Berdasarkan hasil analisis, seluruh item pada variabel School of Religious Culture, Religiusitas siswa di sekolah, dan Religiusitas Siswa di Rumah memiliki r hitung yang melampaui r tabel serta nilai signifikansi < 0,05. Dengan demikian, seluruh butir pertanyaan pada ketiga variabel tersebut dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian.

Uiji Reliabilitas

Untuk memberikan hasil yang konsisten dalam penggunaan data secara berulang-ulang perlu digunakan Uji reliabilitas, untuk mengetahui Sejauh mana alat ukur (instrumen) dapat digunakan. Uji reliabilitas yang biasa digunakan yaitu Cronbach’s Alpha. Metode ini biasanya digunakan untuk skor yang berbentuk skala likert 1-4 atau skor rentang 0-10, reliabilitas < 0,6 adalah kurang baik, 0.7 dapat diterima, dan > 0,8 adalah baik.

Tabel 1.Hasi Uji Reabilitas Instrumen

Nilai Cronbach’s Alpha dalam tabel tersebut sudah menunjukkan bahwa instrument penelitian memiliki nilai yang reliabel untuk digunakan uji asumsi selanjutnya. Artinya data yang diperoleh dari kuesioner dapat d percaya dan stabil.

B. Uji asumsi klasik

Uji Normalits

Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov–Smirnov, seluruh variabel penelitian menunjukkan nilai signifikansi di bawah 0,05 pada salah satu atau kedua metode uji. Variabel Pengaruh SRC memiliki nilai Sig 0,200 pada Kolmogorov–Smirnov dinyatakan berdistribusi normal. Sementara itu, variabel Religiusitas disekolah dan Religiusitas dirumah keduanya memiliki nilai signifikansi jauh di bawah 0,05 pada kedua metode uji, sehingga secara konsisten dinyatakan tidak berdistribusi normal.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas

Dengan demikian, data pada ketiga variabel menunjukkan bahwa variable SRC berdistribusi normal sedangkan variable religiusitas siswa disekolah dan di rumah tidak berdistribusi normal. Namun demikian, ketidak normalan variabel tidak menghalangi penggunaan analisis regresi linier sederhana, karena dalam regresi yang wajib berdistribusi normal adalah residual model, bukan data variabelnya. Oleh karena itu, penelitian tetap dapat dilanjutkan ke tahap analisis regresi dengan syarat dilakukan pemeriksaan asumsi klasik pada residual setelah model regresi dijalankan.

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Residual

Berdasarkan hasil uji normalitas, residual Religiusitas siswa disekolah dan Religiusitas siswa di Rumah sama-sama menunjukkan nilai signifikansi 0,200, dengan menggunakan Kolmogorov–Smirnov sehingga residual dinyatakan berdistribusi normal.

Uji Linearitas

Pengujian linearitas yang pertama bertujuan untuk menilai pola hubungan antara SRC dan Religiusitas Siswa di Sekolah. Uji ini dilakukan menggunakan test of Liniearity melalui analisis Anova. Hubungan antar variable dinyatakan linier apabila nilai signifikansi pada komponen Linearity kurang dari 0,05 dan nilai Deviation From Linearity lebih besar dari 0,05. Hasil ujian disajikan pada table berikut.

Tabel 4. Hasil Uji Liniaritas di Sekolah

Pengujian linearitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada komponen Linearity lebih kecil dari 0,05, sedangkan nilai Deviation from Linearity lebih besar dari 0,05. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan linier antara School of Religious Culture dan religiusitas siswa di sekolah, sehingga asumsi linearitas terpenuhi untuk penerapan analisis regresi linier sederhana.

Tabel 5. Hasil Uji Linearitas di Rumah

Berdasarkan hasil pengujian linearitas, diperoleh nilai signifikansi pada aspek Linearity sebesar 0,000 (< 0,05) dan pada aspek Deviation from Linearity sebesar 0,408 (> 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara School of Religious Culture dan religiusitas siswa di rumah mengikuti pola linier tanpa adanya penyimpangan yang bermakna, sehingga memenuhi prasyarat untuk dilakukan analisis regresi linier sederhana.

C. Uji hipotesis

Pengaruh School of Religious Culture terhadap Religiusitas Siswa di Sekolah

Uji hipotesis yang pertama dilakukan untuk mengetahui pengaruh SRC terhadap Religiusitas Siswa di Sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0.607 yang berarti SRC membrikan konstribusi sebesar 60,7% terhadap Religiusitas Siswa Disekolah, sedangkan 39,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar model penelitian.

Tabel 6. Model Summary

Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis coefiicients

Hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05)dengan koefisien regresi bernilai positif. Hal ini menunjukkan bahwa SRC berpengaruh secara signifikan terhadap religiusitas siswa disekolah. Dengan demikian, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa SRC berpengaruh terhadap religiusitas siswa disekolah dapat diterima.

Pengaruh School Of Religious Culture terhadap Religiusitas Siswa di Rumah

Uji hipotesis yang kedua dilakukan untuk mengetahui SRC terhadap religiusitas siswa dirumah. Hasil regresi linier sederhana menunjukkan nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,557 yg berarti bahwa SRC memberikan kontribusi sebesar 55,7% terhadap religiusitas siswa dirumah, sedangkan 44,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model peneitian .

Tabel 8. Model Summary

Tabel 9. Hasil Uji Hipotesis coefiicients

Hasil uji signifikansi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05) dengan koefisien regresi bernilai positif. Hal ini menunjukkan bahwa SRC berpengaruh secara signifikan terhadap religiusitas siswa di rumah. Dengan demikian, hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat diterima.

D. Pembahasan

Hasil analisis menunjukkan bahwa School of Religious Culture (SRC) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap tingkat religiusitas siswa di lingkungan sekolah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi sebesar 0,324 dengan signifikansi 0,000 < 0.05 sehingga hipotesis alternatif diterima. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,607 mengindikasikan bahwa SRC mampu menjelaskan 60,7% variasi religiusitas siswa di sekolah, sedangkan proporsi sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar kerangka penelitian. Besarnya kontribusi SRC terhadap religiusitas siswa di sekolah mengindikasikan bahwa pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang terintegrasi dalam budaya sekolah memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku religius peserta didik [35]. Tingginya capaian religiusitas siswa di sekolah dapat di pahami dari karakteristik implementasi SRC yang berlangsung secara sistematis, terstruktur, dan berada dalam mekanisme kontrol yang konsisten. Lingkungan sekolah meneyediakan aturan, jadwal kegiatan keagamaan, keteladanan guru, serta pengawasan langsung yang membentuk pola pembiasaan religius secara kolektif. Kondisi ini menciptakan suasana yang mendukung internalisasi nilai melalui pengulangan aktivitas religius yang dilakukan secara rutin dan terarah.

Selain itu keberadaan figur guru sebagai teladan, suasana lingkungan yang seragam dalam menjalankan ativitas keagamaan, serta adanya regulasi yang mengikat seluruh siswa menjadikan praktik religius di sekolah tidak hanya bersifat individual, tetapi menjadi budaya bersama. Pembiasaan yang dilakukan dalam sistem seperti ini cenderung lebih efektif dalam membentuk perilaku religius karena siswa berada dalam lingkungan yang secara terus menerus mengingatkan, mengarahkan, dan mengontrol pelaksanaan aktivitas keagamaan. Hal inilah menyebabkan indikator-indikator religiusitas di sekolah menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan di lingkungan rumah yang tidak memiliki sistem pengawasan yang serupa.Program keagamaan yang terstruktur, keteladanan guru, serta lingkungan belajar yang bernuansa Islami berfungsi sebagai mekanisme internalisasi nilai yang berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan [36]. Temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya sekolah yang dirancang dan diterapkan secara sistematis memiliki peran strategis sebagai sarana yang efektif dalam membangun dan menguatkan karakter religius peserta didik.

Temuan penelitian ini juga menegaskan adanya pengaruh yang signifikan dari School of Religious Culture (SRC) terhadap religiusitas siswa di lingkungan keluarga. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,367 dengan signifikansi 0,000<0,05 sehingga hipotesis penelitian diterima. nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,557 menunjukkan bahwa SRC menyumbang sebesar 55,7% terhadap variasi religiusitas siswa di rumah. Hasil analisis membuktikan bahwa Pengaruh SRC tidak hanya ditanamkan melalui kegiatan disekolah saja akan tetapi nilai tersebut juga berpotensi di lingkungan keluarga [21]. Meskipun hasil analisis di lingkungan keluarga lebih rendah daripada hasil yang di dapatkan di sekolah, dampak yang didapatkan juga masuk dalam kategori kuat. Berdasarkan analisis butir angket pada indikator religiusitas siswa dirumah terdapat tiga indikator, dua diantaranya kedisiplinan ibadah dirumah dan sikap santun dan hormat terhadap keluarga mendapatkan skor yang standar karena dalam lingkungan masyarakat pengaruh latar belakang keagamaan orang tua yang berbeda mempunyai dinamika yang lebih sistemik dengan berbagai pola asuh dan pendampingan keluarga. akan tetapi terdapat satu indikator yang mendapatkan skor rendah, yaitu tanggung jawab di rumah, berdasarkan analisis rendahnya skor tersebut didasarkan dalam konteks sosial siswa, dimana Sebagian besar responden berasal dari keluarga dengan Tingkat ekonomi menengah ke atas yang memiliki pola pengasuhan dengan dukungan asisten rumah tangga. Dalam situasi ini, berbagai kebutuhan harian anak cenderung telah difasilitasi, sehingga ruang pembentukan kemandirian tanggung jawab menjadi relative terbatas. Akibatnya, praktik religius di rumah lebih banyak bersifat situasional dan belum sepenuhnya menjadi kebiasaan personal yang lahir dari kesadaran sendiri.

Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan manajemen SRC yang sudah diterapkan di sekolah memerlukan kesinambungan pola pembiasaan yang terkontrol dirumah dengan menggunakan buku kontrol harian yang sudah disiapkan dari sekolah. Tanpa adanya mekanisme monitoring dan penguatan dari keluarga, nilai-nilai religius yang telah terinternalisasi di sekolah berpotensi mengalami pelemahan ketika siswa berada di lingkungan rumah. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pihak sekolah dan orang tua melalui sistem monitoring religiusitas yang sudah disiapkan sekolah seperti buku kontrol ibadah harian, komunikasi rutin walikelas dengan orangtua serta kelibatan orang tua dalam program pembiasaan religiusitas, agar proses internalisasi nilai dapat berlangsung secara konsisten di dua lingkungan utama kehidupan siswa. Dengan demikian, internalisasi nilai religius yang diperoleh di sekolah memerlukan dukungan lingkungan keluarga agar dapat teraktualisasi secara optimal.

Hasil penelitian ini mengonfirmasi sekaligus mengembangkan temuan-temuan sebelumnya mengenai pentingnya budaya religius sekolah dalam membentuk religiusitas peserta didik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sugianto, Salahuddin, dan Asfahani [37] menunjukkan bahwa implementasi budaya religius di SD Terpadu Ainul Ulum Ponorogo berada pada tingkat tinggi (73%) dan diikuti oleh dominasi sikap spiritual siswa pada kategori baik (62,2%), yang mengindikasikan adanya keterkaitan yang erat antara iklim religius sekolah dan perkembangan sikap spiritual siswa. Sejalan dengan temuan tersebut, penelitian ini melalui analisis statistik inferensial membuktikan bahwa School of Religious Culture (SRC) memberikan kontribusi sebesar 60,7% terhadap religiusitas siswa di lingkungan sekolah dan 55,7% terhadap religiusitas di lingkungan keluarga, sehingga menunjukkan bahwa nilai-nilai religius yang dibangun di sekolah tidak hanya berfungsi secara formal, tetapi juga terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari siswa di rumah. Sementara itu, penelitian Sandi dan Siraj [30] menemukan bahwa budaya religius yang dikombinasikan dengan self-regulated learning menyumbang 27,2% terhadap perilaku keagamaan siswa, yang menegaskan bahwa pengaruh budaya sekolah akan semakin optimal apabila diperkuat oleh kesadaran dan pengendalian diri peserta didik. Oleh karena itu, SRC dapat dipahami sebagai perangkat manajerial yang strategis karena mampu menjelaskan pengaruh yang lebih besar dan lebih luas lintas konteks dibandingkan temuan-temuan sebelumnya.

IV. Simpulan

Penelitian ini menbuktikan bahwa School Of Religious Culture (SRC) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap religiusitas siswa di lingkungab sekolah maupun di lingkungan rumah. Implementasi SRC terstruktur melalui aktivitas keagamaan, budaya sekolah islami, suasana fisik dan simbolik, keteladanan guru, evaluasi dan monitoring serta penerapan nilai src di luar terbukti efektif dalam membentuk perilaku religius siswa.

Pengaruh SRC tampak lebih kuat pada religiusitas siswa di sekolah dibandingkan di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sekolah memiliki sistem kontrol, pembiasaan kolektif, serta pengawasan yang lebih terstruktur sehingga internalisasi nilai religius berlangsung lebih optimal. Sementara itu, di lingkungan rumah, praktik religius siswa sangat dipengaruhi oleh pola asuh keluarga, latar belakang orang tua, serta tingkat kemandirian siswa dalam menjalankan tanggung jawab personal.

Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan budaya religius di sekolah memerlukan kesinambungan pembiasaan di lingkungan keluarga agar internalisasi nilai religius dapat berlangsung secara konsisten pada dua lingkungan utama kehidupan siswa. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan orang tua melalui sistem monitoring religiusitas menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan karakter religius siswa.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya penelitian ini, kepada pihak sekolah tempat penelitian yang telah memberi izin dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian mengenai penerapan School of Religious Culture (SRC). Apresiasi turut diberikan kepada para siswa serta orang tua/wali yang telah berpartisipasi sebagai responden sehingga pengumpulan data dapat berjalan dengan baik. Selain itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa Program Studi S2 Manajemen Pendidikan Islam atas dukungan dan kerja sama selama proses penyusunan penelitian ini. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi penguatan budaya religius di SD Integral Hidayatullah khusus serta memperkaya kajian manajemen pendidikan Islam secara umum.

References

A. Asrulla, K. I. Rosadi, F. Jeka, D. A. Saksitha, and D. Wahyuni, “Kontribusi aspek sosial dan budaya dalam aplikasi kebijakan pendidikan nasional Indonesia,” J. JIPDAS (J. Ilm. Pendidik. Dasar), vol. 5, no. 1, pp. 404–423, 2025, doi: 10.37081/jipdas.v5i1.2579.

F. K. Dewi, “Principal management in building a religious school culture based on Islamic values,” Indones. J. Res. Islam. Stud., vol. 1, no. 2, pp. 76–83, 2024.

H. R. S. H. Syaiful Rahman and H. Muhammad Nasir, “Pengaruh sistem pengukuran kinerja terhadap kejelasan peran, pemberdayaan psikologis dan kinerja manajerial (pendekatan),” Simposium Nasional Akuntansi X, vol. 6, pp. 1–35, 2023.

F. R. Silva and A. Pinto, “European Journal of Educational Management,” Eur. J. Educ. Manag., vol. 4, no. 1, pp. 1–11, 2023. [Online]. Available: https://pdf.eujem.com/EUJEM_6_1_45.pdf

S. M. Siti Wardatul Janah, “Strategi sekolah dalam membentuk karakter religius pada anak usia dini: Studi di PAUD Laskar Pelangi Srikaton,” Αγαη, vol. 15, no. 1, pp. 37–48, 2024.

M. Hidayat and J. Subando, “Strategi penanaman nilai-nilai karakter dalam mencegah degradasi moral siswa pada era digital,” Didakt. J. Kependidikan, vol. 13, no. 1, pp. 523–534, 2024.

A. Tola, A. M. Daeng Pawero, and N. H. Tabiman, “Pengembangan religious culture melalui manajemen pembiasaan diri berbasis multikultural,” J-MPI, vol. 5, no. 2, pp. 147–159, 2020, doi: 10.18860/jmpi.v5i2.10638.

M. Y. Hadi, D. Siamika, and T. Prayogi, “Managing Islamic school culture to develop students’ religious character,” J. Educ. Res. Pract., vol. 3, no. 2, 2025, doi: 10.70376/jerp.v3i2.304.

I. Istiqomah, S. Enggar Kencana Dewi, and N. Kholidin, “Pengaruh budaya sekolah terhadap karakter peserta didik di sekolah dasar,” FingeR J. Elem. Sch., vol. 1, no. 1, pp. 11–19, 2022, doi: 10.30599/finger.v1i1.94.

N. Elvianti, J. Jusmawati, E. Fitriana HS, and C. Cayati, “Pengaruh budaya sekolah terhadap karakter siswa di UPT SPF SD Inpres Unggulan BTN Pemda Kota Makassar,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 8, no. 4, pp. 2703–2708, 2023, doi: 10.29303/jipp.v8i4.1654.

F. N. S. Hilyah Ashoum and L. I. Rofi’ah, “Madrasah religious culture on students’ religious moderation attitude: Quantitative correlation at MAN 1 Jombang,” J. Palapa, vol. 12, no. 1, pp. 78–94, 2024.

T. R. Asania, L. N. Atiqoh, B. Dina, and B. Cahyanto, “Pengaruh budaya religius terhadap akhlak siswa di MI Roudlotun Nasyiin Singosari Malang,” JPMI J. Pendidik. Madrasah Ibtidaiyah, vol. 4, no. 2, pp. 57–73, 2022. [Online]. Available: http://riset.unisma.ac.id/index.php/JPMI/index

L. Zakiyah, U. Khoiroh, M. Rofiki, and E. Diana, “Integrating religious culture in every school activity: Steps towards character education,” Proc. Int. Conf. Educ. Soc. Humanit., vol. 2, no. 2, pp. 1502–1511, 2024.

S. Fuadi and E. Wuryandini, “Implementation of religious culture through mentoring in elementary schools,” JP (J. Pendidik.) Teor. dan Prakt., pp. 106–115, 2025.

N. Dwi Cahyani, R. Luthfiyah, V. Apriliyanti, and M. Munawir, “Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam penanaman budaya religius untuk meningkatkan pembentukan karakteristik Islami,” Mimb. Kampus J. Pendidik. dan Agama Islam, vol. 23, no. 1, pp. 477–493, 2023, doi: 10.47467/mk.v23i1.5383.

L. R. Pradanti, “Pembentukan sikap religiusitas siswa melalui budaya sekolah Islami di SD Islam Plus Muhajirin,” 2025.

V. I. Ahmad, N. Ali, and I. A. Zuhriyah, “Islamic values in environmental school culture: Character formation and challenges,” EDUKASIA J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 6, pp. 267–280, 2025, doi: 10.62775/edukasia.v6i1.1400.

L. Iwan, E. Jakandar, Y. Pantiwati, H. Sunaryo, and A. Fikriah, “Integration of religious values in character education: Building the morals of the golden generation,” Al-Hayat J. Islam. Educ., 2025.

A. Ahmad Zaki Ilman Nasution, Firman, and Nurfarhanah, “Budaya sekolah dalam penguatan karakter disiplin siswa: Kajian sistematis tentang pendekatan dan implementasinya di sekolah,” EDUNOVA J. Educ. Innov. Adv., vol. 1, no. 2, pp. 48–58, 2025.

C. Purwaningsih and A. Syamsudin, “Pengaruh perhatian orang tua, budaya sekolah, dan teman sebaya terhadap karakter religius anak,” J. Obs.: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 6, no. 4, pp. 2439–2452, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i4.2051.

T. Ningsih, T. Ernawati, and W. Sakban, “The influence of Islamic religious education in family and school religious culture on students’ religious discipline,” Al-Ishlah: J. Pendidik., vol. 15, pp. 3914–3922, 2023, doi: 10.35445/alishlah.v15i3.

D. Putranto, “Penanaman nilai-nilai religiusitas melalui kegiatan keagamaan di SD Dharma Mulia,” Al-Madrasah J. Ilm. Pendidik. Madrasah Ibtidaiyah, vol. 9, no. 2, pp. 842–855, 2025, doi: 10.35931/am.v9i2.4786.

M. J. K. Putri Alfia Wardatun, “Penguatan nilai religiusitas terhadap pengembangan diri siswa di MAN 2 Probolinggo,” Ta’lim: J. Stud. Pendidik. Islam, vol. 8, no. 1, pp. 107–121, 2025.

N. Khasanah, “Pembentukan religiusitas siswa melalui kegiatan keagamaan di Ma’arif NU,” 2024.

M. Majdiyah and U. Hasanah, “Penerapan nilai-nilai religiusitas dalam pembentukan aspek afektif siswa sekolah dasar Ad-Dzikir Desa Pragaan Laok Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Tahun 2023,” Hikmah J. Stud. Pendidik. Agama Islam, vol. 2, no. 3, 2025.

T. Riziq and H. Afif, “The relationship between religious teachers’ competence and parental support on the level of religiosity of teenagers in Islamic high schools in Medan City,” FIKROTUNA: J. Pendidik. dan Manaj. Islam, 2025.

C. Studies, I. Ummah, P. Karakter, A. Siswa, M. Tsanawiyah, and N. Surakarta, “Hubungan antara religiusitas dan pendidikan karakter di rumah terhadap akhlak siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Surakarta,” CENDEKIA, vol. 15, no. 1, pp. 117–127, 2021, doi: 10.30957/cendekia.v15i1.663.2019.

M. I. Dzulfikar and M. Amrullah, “The effect of the COVID-19 pandemic on discipline character habituation in students at SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo,” 2021.

I. Nuraeni and E. Labudasari, “Pengaruh budaya sekolah terhadap karakter religius siswa di SD IT Noor Hidayah,” DWIJA CENDEKIA J. Ris. Pedagog., vol. 5, no. 1, p. 119, 2021, doi: 10.20961/jdc.v5i1.51593.

S. Pratama, A. Siraj, and M. Yusuf, “Pengaruh budaya religius dan self-regulated terhadap perilaku keagamaan siswa,” J. Pendidik. Islam, vol. 8, no. 2, pp. 331–346, 2022.

H. M. Ulfa and U. M. Malang, “Peran guru dalam meningkatkan religiusitas siswa di SD Integral Hidayatullah Probolinggo Hanina,” 2025.

D. Amelia et al., Metode Penelitian Kuantitatif. 2023.

P. Candra Susanto, D. Ulfah Arini, L. Yuntina, J. Panatap Soehaditama, and N. Nuraeni, “Konsep penelitian kuantitatif: Populasi, sampel, dan analisis data (sebuah tinjauan pustaka),” J. Ilmu Multidisplin, vol. 3, no. 1, pp. 1–12, 2024, doi: 10.38035/jim.v3i1.504.

C. M. Sari and A. Ridwan, “Validity and reliability of the questionnaire learning environment of numeracy,” 2024, doi: 10.15804/tner.2024.75.1.12.

U. L. Fitriah, “Developments of religious character education in primary schools in the last five years,” J. Innov. Res. Prim. Educ., vol. 4, no. 3, pp. 585–593, 2025.

L. Retnasari, A. P. Hakim, H. Hermawan, and D. Prasetyo, “Cultivating religious character through school culture,” Int. J. Educ. Qual. Quant. Res., vol. 2, no. 1, pp. 27–34, 2023, doi: 10.58418/ijeqqr.v2i1.29.

O. Sugianto, M. Salahuddin, and I. Sunan Giri Ponorogo, “Pengaruh budaya religius terhadap sikap spiritual peserta didik SD Terpadu Ainul Ulum Pulung Ponorogo: The influence of religious culture on the spiritual attitudes of students SD Terpadu Ainul Ulum Pulung Ponorogo,” J. Art Sci. Prim. Educ., vol. 2, no. 2, 2022.