Muhammad Riko (1), Akhmad Ahfas (2)
General Background: Hygiene of baby feeding equipment is essential due to infants’ low immunity and high risk of bacterial contamination. Specific Background: Conventional cleaning and drying methods are often ineffective and less hygienic, while existing sterilization systems lack integrated remote monitoring. Knowledge Gap: Previous studies have not fully integrated UV-C sterilization, heating-based drying, and Internet of Things control in a single system. Aims: This study aims to develop an IoT-based UV-C sterilization device using ESP32 to monitor and control sterilization and drying processes. Results: The drying system reduced moisture to a completely dry state, while sterilization testing showed bacterial counts below SNI thresholds. The IoT system operated up to 60.2 km with an average delay of 4.86 seconds, and the DS18B20 sensor achieved an average error of 0.25°C. Novelty: The integration of UV-C sterilization, heating drying, and long-distance IoT control with real-time monitoring represents the main contribution. Implications: This system provides a practical and hygienic solution for maintaining baby equipment cleanliness with reliable remote operation
Keywords: Uv C Sterilization, Internet of Things, Esp32, Baby Equipment, Temperature Sensor
Drying process achieves complete moisture removal after extended duration
Bacterial testing confirms compliance with microbiological safety standards
Remote operation remains stable across multiple long-distance locations
Muhammad Riko1), Akhmad Ahfas *,2)
1) Program Studi Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
2) Program Studi Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
*Email Penulis Korespondensi: ahfas@umsida.ac.id
Abstract . This research developed a UV-C sterilization device for baby feeding and drinking equipment based on the Internet of Things (IoT). The tool aims to enhance hygiene and safety using UV-C light sterilization and a heating- based drying system, controlled via the Blynk application and ESP32 microcontroller. Tests were conducted on drying effectiveness, bacterial sterilization, temperature sensor accuracy, and remote control capability. The drying system significantly reduced moisture to achieve perfect dryness. The sterilization process proved effective, with ALT values below the SNI standard threshold. The IoT system functioned properly at distances exceeding 60 km, with an average delay of 4.86 seconds. The DS18B20 temperature sensor demonstrated high accuracy, with an average error of only 0.25°C. These results indicate that the developed device is feasible for efficient and modern hygienic treatment of baby utensils
Keywords - UV-C, IoT, ESP32, Baby Equipment, Sterilization, Drying
Abstrak.PenelitianinimengembangkanalatsterilisasiUV-CberbasisInternetofThings(IoT)untukperalatanmakan dan minum bayi. Alat ini dirancang untuk meningkatkan kebersihan dan keamanan dengan sistem sterilisasi menggunakan sinar UV-C serta pengeringan berbasis pemanas, dikendalikan melalui aplikasi Blynk dan mikrokontroler ESP32. Pengujian dilakukan pada efektivitas pengeringan, sterilisasi bakteri, akurasi sensor suhu, sertakemampuankendalijarakjauh.Hasilmenunjukkanbahwasistempengeringanmampumengurangikelembaban secara signifikan hingga mencapai kekeringan sempurna. Sterilisasi terbukti efektif dengan nilai ALT di bawah ambangbatasSNI.SistemIoTmampuberfungsibaikhinggajaraklebihdari60kmdengandelayrata-rata4,86detik. SensorsuhuDS18B20menunjukkanakurasitinggidenganrata-ratakesalahanhanya0,25°C.Hasilinimenunjukkan bahwa alat yang dikembangkan layak digunakan untuk meningkatkan higienitas peralatan bayi secara efisien dan modern.
.
KataKunci-–UV-C, IoT, ESP32, Peralatan Bayi, Sterilisasi, Pengeringan
Dalam kehidupan sehari-hari, membersihkan peralatan bayi memerlukan perhatian ekstra karena bayi masih sangat rentan dan memiliki tingkat imunitas yang rendah[1][2]. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan dan peralatan bayi sangat penting untuk mencegah risiko gangguan kesehatan. Umumnya, risiko kesehatan pada bayi dapat timbul dari kuman atau bakteri yang muncul akibat kebersihan yang kurang terjaga pada peralatan makan bayi[3]. Untuk mengeringkan peralatan makan bayi, metode umumnya menggunakan kain atau tisu, namun hal ini dianggap kurang praktis, efektif, dan higienis[4][5].
Menurut regulasi kesehatan, khususnya Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1098/MENKES/SK/VII/2003 mengenai peralatan makan, peralatan makan yang telah dibersihkan seharusnya dikeringkan secara alami dengan bantuan sinar matahari atau sinar buatan/mesin, dan tidak boleh dilap menggunakan kain[6]. Penggunaan kain dinilai tidak higienis karena kain dapat terkontaminasi oleh tangan dan peralatan lainnya[7]. Penting untuk mencapai hasil negatif untuk angka Escherichiacoli pada peralatan makan, karena bakteri ini dapat menyebabkan penyakit diare[8]. Menurut World Health Organization (WHO), diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak, dengan dua juta anak meninggal setiap tahunnya. Bakteri Escherichiacolidapat masuk ke dalam tubuh melalui air yang digunakan saat mencuci piring. Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu antara 8°C hingga 46°C, dengan suhu optimumnya adalah 37°C dalam medium cair[9].
Sebelumnya, sebuah sterilizer botol susu bayi yang menggunakan heater dengan suhu 100°C sebagai media sterilisasi. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua bakteri atau mikroorganisme akan mati pada suhu 100°C, terutama bakteri hyperthermofilik yang dapat berkembang biak pada suhu di atas 80°C[10]. Selanjutnya dikembangkan lagi pembuatan perangkat sterilisasi peralatan makan bayi dengan fitur safety lock dan display waktu berbasis mikrokontroler ATMega 8 bertujuan untuk mengembangkan dan mewujudkan alat yang mampu melakukan sterilisasi dan pengeringan peralatan makan bayi[11]. Alat ini menggunakan lampu UV sebagai media sterilisasi, heater sebagai pengering, dan mikrokontroler ATMega 8 sebagai pengendali utama. Berikutnya berkembang alat sterilisasi UV-C otomatis pembasmi bakteri dan virus yang dilengkapi konveyor, sensor proximity infrared dan sensor ultrasonic serta box steril yang dipasang 4 buah lampu UV-C Philips (8 watt). Terdapat adanya hubungan antara reduksi bakteri dengan intensitas sinar UV, lama waktu pemaparan dan jarak pemaparan[12][13].
Dari penelitian yang sudah ada, penulis bermaksud menyempurnakan penelitian dengan sistem Internet of Things. Dengan ini penulis mengangkat judul “Rancang Bangun Sterilisasi UV-C pada Peralatan Makan dan Minum Bayi Berbasis Internet of Things“. Penelitian ini menggunakan ESP32 yang terhubung dengan sistem Internet of Things yang dapat dikendalikan dengan smartphone penggunanya. Terdapat sistem sterilisasi yang menggunakan lampu UV-C serta sistem pengering heater. Untuk menghindari kebocoran pada box digunakan sistem safety lock. Ditambahkan LCD I2C untuk menampilkan lama waktu sterilisasi dan pengeringan berlangsung serta suhu pada alat dari pembacaan sensor suhu DS18B20 .Indikator lampu merah untuk mesin mati, kuning untuk pemrosesan, hijau dan buzzer untuk menandakan proses selesai. Terdapat beberapa tombol untuk fitur peralatan makan atau minum yang akan digunakan[14][15].
Penelitian ini menerapkan metode Research and Development (RnD) dengan fokus pada pengembangan sistem sterilisasi pada peralatan bayi. Inovasi yang dihasilkan dari penelitian ini adalah transformasi menjadi berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat dikendalikan dengan smartphone.
Blok diagram sistem dari alat ini mempunyai inputan, yaitu terdapat 2 button virtual yang ada pada blynk sebagai mode 1 untuk alat makan dan mode 2 untuk alat minum serta terdapat sensor suhu DS18B20 yang mempunyai akurasi suhu mulai -100C hinga 850C. Kemudian sinyal dikirim melalui blynk cloud dikelola dan diproses oleh mikrokontroller ESP32 untuk menghasilkan sinyal output. Output dari ESP32 berupa relay modul 5 VDC 1 untuk sistem pengering, relay modul 5 VDC 2 untuk sistem sterilisasi, LED berwarna hijau sebagai indikator mesin start pada posisi awal, LED berwarna kuning sebagai indikator mesin dalam proses sterlisasi serta LED merah dan buzzer sebagai penanda proses sterilisasi telah selesai. Terdapat juga LCD I2C 16x2 sebagai penampil nilai suhu yang terbaca oleh sensor suhu DS18B20 Sistem sterilisasi berbasis Internet of Things ini menggunakan aplikasi blynk pada smartphone. Berikut merupakan blok diagram sistem yang digunakan pada gambar 1.
Gambar1.Blok Diagram Sistem
Flowchart sistem alat sterilisasi UV-C pada peralatan makan dan minum bayi berbasis Internet of Things menggambarkan alur kerja otomatis dimulai dari menyalakan alat. Setelah itu, pengguna dapat memilih mode sterilisasi dengan menekan virtual button 1 untuk alat makan bayi atau virtual button 2 untuk botol susu bayi, yang kemudian mengaktifkan sensor suhu DS18B20 untuk memantau kondisi lingkungan. Sinyal digital dari proses ini dikirimkan oleh mikrokontroler ESP32 ke platformblynkclouduntuk menginisialisasi perintah. Jika perintah berhasil diterima, maka modul relay akan aktif dan menghidupkan sistem pengering serta lampu UV-C. Proses pengeringan
Gambar2.Flowchart Sistem
Gambar3.Pembuatan Sketch Program pada Arduino IDE
Gambar 3. menunjukkan pembuatan sketchprogrampada Arduino IDE. Alat ini menggunakan boardESP32 dengan library DallasTemperature.h , BlynkSimpleKesp32.h , dan LiquidCrystal_I2C.h.
Gambar4.Pembuatan Template pada Blynk
Gambar 4. memperlihatkan langkah-langkah dalam pembuatan template pada aplikasi Blynk. Template ini dibuat untuk memperoleh auth token yang nantinya diintegrasikan dengan board ESP32. Pada antarmuka Blynk digunakan tombol virtual dengan pin V0 untuk tombol menyalakan mode alat makan bayi, pin V1 untuk tombol menyalakan mode botol susu bayi, dan V2 untuk menampilkan suhu pada ruang sterilisasi.
Dalam perancangan hardware penelitian kali ini harap diperhatikan dari skema rangkaian yang telah dibuat.
Agar diperoleh hasil yang akurat, perlu dilakukan pengujian terhadap perangkat yang digunakan. Pengujian ini bertujuan untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan valid serta dapat dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan sehari-hari.
Pengujian sistem pengeringan dilakukan guna mengetahui tingkat kekeringan pada peralatan makan dan minum bayi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat ukur moisture meter dengan skala 1-10. Alat ini mengukur hambatan yang dialami oleh arus listrik yang mengalir di antara pin, yang letaknya ada di atas meteran
Gambar6.Pengujian Sistem Pengeringan
Berdasarkan hasil pengujian sistem pengeringan yang dilakukan sebanyak 10 kali dengan variasi waktu dan mode sterilisasi, diperoleh bahwa peningkatan waktu pengeringan secara signifikan menurunkan tingkat kelembapan pada alat makan dan minum bayi. Hasil pengukuran menggunakan moisture meter menunjukkan angka kelembapan semakin rendah seiring bertambahnya durasi pengeringan, dan pengecekan visual mendukung temuan tersebut dengan menunjukkan permukaan yang semakin kering. Pada waktu pengeringan di atas 240 detik, seluruh alat menunjukkan kondisi kering sempurna dengan angka moisture meter mencapai 1. Hal ini membuktikan bahwa sistem pengeringan yang diterapkan efektif dan mampu memenuhi standar kekeringan yang dibutuhkan untuk peralatan bayi.
Tabel1.Hasil Pengujian Sistem Pengeringan
Pengujian bakteri pada sistem sterilisasi dilakukan guna memenuhi syarat alat makan dan minum bayi dapat digunakan. Bahan dan peralatan yang digunakan meliputi tabung reaksi, autoklaf, inkubator, kapas steril, bunsen, tisu, label, ose, korek api, cawan petri, alat penghitung koloni, akuades, media Plate Count Agar (PCA), dan NaCl fisiologis. Proses pengambilan sampel melibatkan teknik swab pada alat makan, kemudian sampel diencerkan dengan
tingkat pengenceran berkisar antara 10-1 hingga 10-6. Uji kontaminasi pada peralatan makan dilakukan dengan metode cawan tuang sesuai dengan standar SNI 01.2332.3-2006.
Gambar7.Pengujian Sistem Sterilisasi
Hasil pengujian sistem sterilisasi menunjukkan bahwa proses sterilisasi dengan peningkatan waktu setiap menit secara konsisten menurunkan jumlah koloni bakteri pada alat makan dan minum bayi. Berdasarkan metode cawan tuang dan perhitungan Angka Lempeng Total (ALT), seluruh sampel dari 10 percobaan menunjukkan nilai ALT di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan, yaitu ≤100 CFU/cm², sesuai dengan standar SNI 01.2332.3- 2006. Dengan demikian, sistem sterilisasi yang digunakan terbukti efektif dalam menurunkan kontaminasi mikroorganisme hingga berada dalam kategori Memenuhi Syarat (MS), dan layak digunakan untuk menjaga kebersihan serta keamanan alat makan dan minum bayi.
Tabel2.Hasil Pengujian Sistem Sterilisasi
Keterangan:
Pengujian sistem internet of thing dilakukan guna mengetahui seberapa jauh alat dapat digunakan. Pengujian dilakukan dengan mengendalikan alat dari beberapa lokasi.
Berdasarkan hasil pengujian sistem Internet of Things dengan mengendalikan alat sterilisasi UV-C dari 10 lokasi berbeda yang berjarak hingga 60,2 km dari alat yang berada di Patuk, Gempol, diperoleh rata-rata delay sebesar 4,86 detik. Seluruh pengujian menunjukkan bahwa alat berhasil menyala dan berfungsi sesuai prosedur, meskipun diaktifkan dari lokasi yang sangat jauh. Hal ini membuktikan bahwa sistem Internet of Things pada alat ini mampu bekerja dengan baik untuk kendali jarak jauh, selama jaringan internet tersedia dan stabil. Dengan demikian, sistem ini layak digunakan dalam skenario kendali jarak jauh, baik dalam skala lokal maupun antar kota.
Pengujian suhu dilakukan guna mengetahui suhu yang dihasilkan alat ini. Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil pembacaan sensor DS18B20 dengan alat standart yaitu thermogun.
Tabel4.Hasil Pengujian Sensor Suhu
Berdasarkan hasil 10 kali pengujian suhu menggunakan sensor DS18B20 yang dibandingkan dengan thermogun, diperoleh rata-rata selisih suhu sebesar 0,25°C dan rata-rata persentase kesalahan sebesar 0,55%. Hasil ini menunjukkan bahwa sensor DS18B20 memiliki tingkat akurasi yang cukup baik dan dapat diandalkan, karena selisih yang terjadi sangat kecil dan masih berada dalam batas toleransi pengukuran untuk aplikasi non-medis. Dengan demikian, sensor DS18B20 layak digunakan dalam sistem Internet of Things pada alat sterilisasi UV-C untuk peralatan makan dan minum bayi.
Penelitian ini berhasil merancang dan mengimplementasikan alat sterilisasi UV-C berbasis Internet of Things untuk peralatan makan dan minum bayi. Alat ini terbukti efektif dalam menurunkan kelembaban serta membunuh bakteri sesuai standar SNI. Sistem pengendalian berbasis ESP32 melalui aplikasi Blynk juga berfungsi dengan baik dalam pengujian jarak jauh. Sensor suhu DS18B20 memberikan hasil pengukuran yang akurat dengan tingkat kesalahan yang rendah. Alat ini dapat menjadi solusi praktis dan higienis dalam mendukung kesehatan bayi melalui peralatan yang bersih dan aman digunakan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas dukungan fasilitas dan bimbigan selama proses penelitian. Terima kasih juga kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pengujian alat, baik dari segi teknis maupun akademik. Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak sangat berperan penting dalam keberhasilan penelitian ini.
pp. 1–4, 2016.
[15]I. Sulistiyowati, Y. Findawati, S. K. A. Ayubi, J. Jamaaluddin, and M. P. T. Sulistyanto, “Cigarette detection system in closed rooms based on Internet of Thing (IoT),” J. Phys. Conf. Ser., vol. 1402, no. 4, 2019.
A. Ahfas, D. H. R. S., and A. H. Falah, “Innovative Document Sterilization Ultraviolet C and Heating Approach for Effective Pathogen Elimination,” Academic Open, vol. 8, no. 1, pp. 1–11, 2023.
H. Hariyanto, E. Rohmah, and D. R. Wahyuni, “Correlation of Milk Bottle Hygiene With Acute Respiratory Infection in Infants Aged 1–12 Months,” Jurnal Delima Harapan, vol. 5, no. 2, pp. 1–7, 2008.
E. D. Suda, E. Nabuasa, and I. A. T. Hinga, “Factors Related to Diarrhea Incidence in Toddlers in Buru Kaghu Village,” Lontar Journal of Community Health, vol. 1, no. 4, pp. 119–126, 2019.
S. C. S. Yanti and I. Sulistiyowati, “An Inventory Tool for Receiving Practicum Report Based on IoT Using ESP32-CAM and UV Sterilizer,” Journal of Electrical Technology UMY, vol. 6, no. 1, pp. 49–56, 2022.
Z. Ferreira, “Design of Baby Bottle Sterilizer Based on ATmega 8535 Microcontroller,” 2017.
I. Syahya, “Modification of Baby Bottle Sterilizer Design Based on ATmega 8535 Microcontroller,” 2017.
Triveni, R. G. Maulani, and N. Andolina, “Hygiene Sanitation and Wasting Incidence in Infants Aged 0–59 Months,” Pro Health Journal, vol. 5, no. 1, pp. 320–323, 2023.
B. Indrawati, “Relationship of Complementary Feeding Patterns and Hygiene Sanitation With Infant Nutritional Status,” NBER Working Paper, p. 89, 2013.
A. Kusuma, H. Kusnoputranto, I. M. Djaja, and R. Syarief, “Environmental Sanitation Conditions and Escherichia Coli Contamination in Complementary Feeding,” Kesmas National Public Health Journal, vol. 7, no. 7, p. 291, 2013.
W. W. Siregar et al., “Relationship Between Complementary Feeding and Food Sanitation With Diarrhea Incidence,” Jurnal Penelitian Kebidanan dan Kesehatan Reproduksi, vol. 2, no. 1, pp. 1–5, 2019.
O. D. Cahyono, “Baby Bottle Sterilizer Based on Microcontroller,” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pp. 1–4, 2016.
A. Yolanda, “Baby Equipment Sterilizer,” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pp. 1–33, 2017.
A. D. Astuti and N. Paramytha, “Automatic UV-C Sterilization Device for Bacteria and Virus Removal,” Bina Darma Conference on Engineering Science, pp. 53–66, 2022.
I. Sulistiyowati et al., “Cigarette Detection System in Closed Rooms Based on Internet of Things,” Journal of Physics Conference Series, vol. 1402, no. 4, 2019.