Adinda Syakina Setiawan (1), Hana Catur Wahyuni (2)
This study examines quality control issues in a carton printing company experiencing defect rates exceeding the established standard. General Background: Quality control plays a critical role in maintaining product consistency and competitiveness in manufacturing industries. Specific Background: The observed defect rates in the company surpassed the acceptable threshold, reaching up to 1.6% in recent months. Knowledge Gap: Previous approaches have not fully integrated structured statistical analysis with strategic planning tools to address recurring defects. Aims: This research aims to identify defect types, analyze root causes, and propose improvement strategies using Six Sigma with the DMAIC approach combined with SWOT analysis. Results: The findings indicate an average DPMO value of 3874.569 and a sigma level of 4.16, revealing that the process performance is still below the Six Sigma target. Root causes were identified across five factors: human, machine, method, material, and measurement. Novelty: The integration of Six Sigma and SWOT provides a structured analytical and strategic framework for quality improvement. Implications: The proposed strategies, including SOP standardization, operator training, real-time monitoring, and quality audits, are expected to reduce defects and support sustainable operational performance.
Keywords: Quality Control, Six Sigma, SWOT Analysis, Carton Production, Defect Reduction
Key Findings Highlights
Process capability remains below optimal standards based on sigma level evaluation
Root causes consistently originate from five main production factors
Strategic integration supports structured quality improvement actions
Strategy for Improving Quality of Carton Production Using Si x Sigma And SWOT
[ Strategi Peningkatan Kualitas Produksi Karton Dengan Metode Six Sigma Dan SWOT ]
Adinda Syakina Setiawan1), Hana Catur Wahyuni *,2)
1)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
2)Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
*Email Penulis Korespondensi: hanacatur@umsida.ac.id
Abstract . This study was conducted at a cardboard printing company in Sidoarjo, East Java, to address the increase in the number of defective products that exceeded the company's quality standards over the past three months, surpassing the company's threshold of 1%. In September, the defect rate reached 1.5%, in October 1.6%, and in November 1.6%. The method used was Six Sigma with the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) approach, aimed at identifying, analyzing, and reducing the defect rate in the production process. In the define and measure stages, data was collected through interviews and observations of common types of defects such as inaccurate cuts, tears during cutting, ink smudging, and ink depletion. Calculations of DPMO and sigma level showed an average DPMO of 3874.569 and a sigma level of 4.16, which is still far from the ideal Six Sigma target of 6 sigma. Root cause analysis was carried out using a fishbone diagram, identifying five main contributing factors: man, machine, method, material, and measurement. In the improve stage, improvement strategies were formulated using a SWOT analysis to design strategic solutions based on the company's strengths, weaknesses, opportunities, and threats. These improvement strategies included technical training for operators, implementation of a real-time monitoring system, standardization of SOPs, and periodic quality audits. The control stage was carried out to ensure the sustainability of improvement results through regular evaluations, operator certification, and a production documentation system. This integrated approach is expected to improve the company's quality and competitiveness sustainably.
Keywords - Production Quality; Carton; Six Sigma; SWOT
Abstrak . Penelitian ini dilakukan pada perusahaan percetakan karton di Sidoarjo, Jawa Timur, untuk mengatasi peningkatan jumlah produk cacat yang melebihi standar kualitas perusahaan selama tiga bulan terakhir yang melebihi standar perusahaan sebesar 1% dimana pada bulan September mencapai presentase sebesar 1,5%, pada bulan Oktober sebesar 1,6 %, dan pada bulan November mencapai persentase sebesar 1,6% . Metode yang digunakan adalah Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), yang bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengurangi tingkat kecacatan dalam proses produksi. Pada tahap define dan measure, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi terhadap jenis kecacatan umum seperti potongan tidak presisi, sobek saat pemotongan, tinta meluber, dan kehabisan tinta. Perhitungan DPMO dan nilai sigma menunjukkan rata-rata DPMO sebesar 3874,569 dan level sigma 4,16, yang masih jauh dari target Six Sigma ideal sebesar 6 sigma. Analisis akar masalah dilakukan dengan fishbone diagram, mengidentifikasi lima faktor penyebab utama yaitu manusia, mesin, metode, material, dan pengukuran. Pada tahap improve, strategi perbaikan dirumuskan dengan analisis SWOT untuk merancang solusi strategis berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman perusahaan. Strategi perbaikan mencakup pelatihan teknis bagi operator, penerapan sistem pemantauan real-time, standarisasi SOP, dan audit kualitas secara berkala. Tahap control dilakukan untuk memastikan keberlanjutan hasil perbaikan melalui evaluasi berkala, sertifikasi operator, dan sistem dokumentasi produksi. Pendekatan terpadu ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan daya saing perusahaan secara berkelanjutan .
Kata Kunci - Kualitas Produksi; Karton; Six Sigma ; SWOT
Pengendalian kualitas menjadi salah satu aspek penting dari suatu perusahaan 1. Pengendalian kualitas berfungsi sebagai alat penting bagi manajemen untuk meningkatkan kualitas produk jika dibutuhkan, menjaga agar kualitas produk yang sudah tinggi tetap terjaga, serta mengurangi jumlah produk yang mengalami kerusakan 2. Dengan membandingkan hasil pengukuran produk yang diinginkan dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, perusahaan dapat mengambil tindakan perbaikan yang tepat jika terdapat perbedaan antara kinerja aktual dan standar 3. Manajemen tersebut mencakup semua sumber daya yang ada di perusahaan dan semua aktivitas yang mendukung terciptanya suatu produk yang berkualitas baik 4. Untuk mengurangi terjadinya produk cacat maka perlu adanya pengawasan kualitas, dimana pengendalian kualitas dijadikan sebagai suatu usaha agar barang yang dihasilkan suatu perusahaan dapat sesuai dengan standar atau spesifikasi yang telah ditetapkan 5.
Industri percetakan mengalami perkembangan pesat seiring dengan transformasi teknologi yang terus berkembang. Percetakan juga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin meningkat akan layanan percetakan yang cepat, efisien, dan berkualitas 6. Industri kemasan karton adalah salah satu industri pendukung yang penting bagi berbagai jenis produk manufaktur, termasuk produk-produk agroindustri dan pangan. Hal ini disebabkan karena kemasan karton merupakan kemasan yang cukup aman untuk digunakan, termasuk bagi produk pangan dan agroindustri 7. PT. XYZ merupakan Perusahaan percetakan yang berada di kabupaten Sidoarjo, perusahaan ini bergerak dalam bidang percetakan yang menyediakan layanan cetak berkualitas tinggi 8. Perusahaan ini melayani berbagai kebutuhan percetakan, Dalam operasionalnya, PT. XYZ cenderung mengutamakan efisiensi dan keandalan waktu pengerjaan, yang menjadi salah satu alasan utama pelanggan memilih layanan mereka. Selain itu, fokus pada inovasi dalam desain untuk menghasilkan produk yang memiliki kualitas tinggi. Kualitas yang tinggi merupakan salah satu cara perusahaan memiliki daya saing yang kuat terhadap perusahaan 9.
Kualitas produk seperti karton dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk proses percetakan dan distribusi. Oleh itu, pengendalian kualitas produk memegang peranan yang sangat vital bagi perusahaan, sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan pasar dan memenangkan persaingan. Perusahaan yang tidak berhasil menjaga kualitas produknya akan berisiko tertinggal dan seiring waktu, menghadapi kemunduran yang signifikan 10. Namun, pada beberapa bulan terakhir perusahaan mengalami peningkatan presentase produk defect yang melebihi standar perusahaan sebesar 1% dimana pada bulan September mencapai presentase sebesar 1,5%, pada bulan Oktober sebesar 1,6 %, dan pada bulan November mencapai persentase sebesar 1,6%. Produk cacat yang terus menerus terjadi dalam proses produksi jika tidak dikendalikan secara baik maka akan menimbulkan kerugian yang sangat signifikan bagi perusahaan, baik kerugian waktu kerja, tenaga dan biaya produksi, hingga dampak yang paling parah adalah hilangnya kepercayaan dari konsumen terhadap kinerja perusahaan 11. Di sinilah peran metode Six sigma sebagai salah satu alternatif dalam prinsip-prinsip pengendalian kualitas, yang memungkinkan perusahaan untuk melakukan peningkatan signifikan melalui terobosan yang nyata. Ini sangat penting bagi manajemen produksi, tidak hanya untuk menjaga dan memperbaiki kualitas produk, tetapi juga untuk mempertahankan standar tersebut. Terlebih lagi, Six Sigma berfokus pada pencapaian peningkatan kualitas dengan tujuan akhir menuju zero defect 12. Selain Six Sigma, pemilihan metode SWOT pada penelitian ini memiliki peran yang sangat penting untuk menentukan strategi perusahaan 13. Analisis SWOT merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait dengan suatu proyek perusahaan 14. Dengan menerapkan analisis SWOT, PT. XYZ dapat merumuskan strategi yang efektif dan menganalisis potensi pemanfaatan strategi tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu perusahaan, khususnya PT. XYZ dalam menjaga dan meningkatkan kualitas produk karton. Mengingat PT. XYZ adalah perusahaan komersil yang bergerak di bidang pembuatan karton dengan produksi besar dan permintaan global yang terus meningkat, penerapan metode manajemen kualitas yang efektif sangat dibutuhkan. Metode Six Sigma berperan dalam mengidentifikasi dan mengurangi cacat produksi melalui tahap DMAIC, sementara analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi perusahaan 15. Kombinasi kedua metode ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, menjaga konsistensi mutu produk, dan menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas tinggi.
Penelitian ini dilaksanakan di PT. XYZ yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Waktu yang digunakan untuk penelitian adalah 6 bulan. Dimulai dari bulan Oktober 2024 sampai Maret 2025.
Dalam penelitian ini, seluruh sumber data diperoleh dari perusahaan melalui metode wawancara terhadap 1 pekerja produksi dan 1 pengawas produksi. Data yang digunakan adalah data jenis kecacatan produk dari 1 September – 30 November 2024. Untuk menunjang kualitas produksinya menggunkan metode Six Sigma merupakan metode alternatif dengan pendekatan sistem yang fleksibel untuk di capai, memberi dukungan, dan memaksimalkan proses usaha untuk perbaikan kualitas, dan membuat keputusan berdasarkan data yang ada di perusahaan dan menggunakan strategi SWOT untuk penunjang faktor internal maupun faktor eksternal
Penilitian ini dimulai dengan melakukan observasi terhadap jumlah data produksi dan jumlah produk cacat di PT. XYZ dan mencari beberapa sumber referensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode six sigma dan SWOT dimana kedua metode ini digunakan untuk meningkatkan kualitas, efisiensi proses produksi dan untuk mengembangkan strategi bisnis yang efektif dalam menghadapi persaingan.
Dalam penerapan Six Sigma terdiri dari lima langkah untuk meningkatkan kinerja bisnis, yaitu define (menentukan), measure (mengukur), analyze (menganalisis), improve (memperbaiki), dan control (mengendalikan). Setiap langkah ini berfungsi untuk memverifikasi dan memperbarui masalah atau peluang, proses, serta kebutuhan pelanggan 16.
DPO = Deffect per Opportunities
CTQ = Critical to Quality
Sumber: 17.
DPMO = Deffect per Millions Opportunities
Sumber: 18.
Analisis SWOT merupakan suatu metode sistematis yang bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Metode ini digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang dihadapi oleh suatu proyek atau spekulasi bisnis 19. Dalam analisis ini, situasi dan kondisi dijadikan sebagai input yang kemudian dikelompokkan berdasarkan kontribusinya masing-masing 2. Ketika diterapkan dengan tepat, pendekatan yang sederhana ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap perancangan strategi yang efektif, serta memberikan informasi berharga untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang ada dalam perusahaan 20.
Alur penelitian ini dibuat untuk menyusun Langkah-langkah agar dapat dilaksanakan secara sistematis dan efisien. Dibawah ini merupakan flowchart dan diagram alir yang akan digunakan dalam penelitian, yang terdapat pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut:
Gambar. 1. Flowchart metode six sigma
Gambar. 2. Diagram alir penelitian
Pada penilitian ini, data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan karyawan quality control perusahaan dan pengumpulan data produk cacat produksi yang melebihi standar perusahaan pada bulan September, Oktober, dan November 2024 selama 3 bulan terakhir. Pada tahap ini, penyebab cacat produk diidentifikasi dengan konsep Critical to Quality (CTQ) yang terdiri dari potongan tidak presisi, tinta meluber, sobek saat proses cutting, dan kehabisan tinta.
Dari tabel diatas, diketahui bahwa potongan tidak presisi, sobek saat proses pemotongan, tinta meluber, dan kehabisan tinta merupakan aspek dari citical to quality (CTQ)
Pada tahap ini dilakukannya pengukuran atas permasalahan yang telah di tetapkan untuk diidentifikasi. Pengukuran di lakuan melalui pengambilan data. Data yang digunakan berkaitan dengan karakteristik cacat produk dan berfokus pada pengukuran karakteristik dan kemampuan proses untuk menentukan tindakan apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Data yang diperoleh digunakan untuk mengukur kinerja proses primer untuk menentukan nilai DPO, DPMO, dan Nilai Sigma.
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai DPO selama 3 bulan adalah 0,0038746, rata-rata nilai DPMO sebesar 3874,569 yang menunjukkan jumlah produk cacat dalam setiap satu juta unit produksi, dan rata-rata nilai sigma sebesar 4,16. Pengendalian kualitas masih di kategorikan kurang baik karna belum mendekati 6 nilai sigma yang menetapkan 3,4 cacat per juta peluang atau DPMO.
Tujuan analyze yaitu untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah atau sumber kegagalan dengan mencari dan menemukan pokok permasalahan. Tahapan ini dilakukan dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan dari tahapan sebelumnya untuk memahami penyebab kecacatan pada setiap Critical To Quality (CTQ). Analisis dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram pada Gambar 3 sampai Gambar 6. Penyebab kecacatan pada masing-masing CTQ akan menjadi faktor yang akan dianalisis lebih lanjut pada tahap perbaikan (improve)
Dapat diketahui pada fishbone diagram diatas penyebab terjadinya cacat potongan tidak presisi disebabkan oleh 5 faktor yaitu manusia, mesin, material, metode, dan pengukuran. Pada faktor manusia, kecacatan terjadi karena operator kurang teliti saat megukur alat pemotong, dan konsentrasi operator sedang menurun. Pada faktor mesin, kecacatan terjadi karena pisau pemotong sudah tumpul, dan ada gangguan pada sensor mesin pemotong. Pada faktor material, kecacatan terjadi karena kualitas karton yang tidak sesuai. Pada faktor metode, kecacatan terjadi karena pada teknik pengaturan alat pemotong yang tidak sesuai dengan spesifikasi karton, dan tidak melakukan uji coba terlebih dahulu untuk pemotongan pertama. Pada faktor pengukuran, kecacatan terjadi karena kesalahan dalam pengukuran dimensi karton sebelum proses pemotongan.
Dapat diketahui pada fishbone diagram diatas penyebab terjadinya cacat sobek saat proses pemotongan disebabkan oleh 5 faktor yaitu manusia, mesin, material, metode, dan pengukuran. Pada faktor manusia, kecacatan terjadi karena operator kurang teliti saat megukur alat pemotong, dan konsentrasi operator sedang menurun. Pada faktor mesin, kecacatan terjadi karena pisau pemotong sudah tumpul, dan ada gangguan pada sensor mesin pemotong. Pada faktor material, kecacatan terjadi karena kualitas karton yang tidak sesuai, dan kerton terlalu tipis sehingga mudah sobek. Pada faktor metode, kecacatan terjadi karena pada teknik pengaturan alat pemotong yang tidak sesuai dengan spesifikasi karton, dan tidak melakukan uji coba terlebih dahulu untuk pemotongan pertama. Pada faktor pengukuran, kecacatan terjadi karena kesalahan dalam pengukuran dimensi karton sebelum proses pemotongan.
Dapat diketahui pada fishbone diagram diatas penyebab terjadinya cacat tinta meluber disebabkan oleh 4 faktor yaitu manusia, mesin, metode, dan material. Pada faktor manusia, kecacatan terjadi karena operator tidak mengatur tekanan tinta dengan benar sebelum pencetakan, dan lupa melakukan pemeriksaan pada desain cetak sebelum produksi. Pada faktor mesin, kecacatan terjadi karena sistem distribusi tinta tidak berfungsi secara optimal, dan mesin mengalami kebocoran pada tabung tinta. Pada faktor metode, kecacatan terjadi karena tidak ada prosedur kontrol kualitas selama proses cetak berlangsung, dan tidak melakukan uji coba untuk pemotongan pertama. Pada faktor material, kecacatan terjadi karena karton tidak memiliki daya serap tinta yang sesuai, dan tinta yang digunakan tidak sesuai dengan jenis karton.
Dapat diketahui pada fishbone diagram diatas penyebab terjadinya cacat kehabisan tinta disebabkan oleh 4 faktor yaitu manusia, material, metode, dan mesin. Pada faktor manusia, kecacatan terjadi karena operator lupa atau terlambat dalam mengisi tinta, dan tidak melakukan pemeriksaan pada tabung tinta secara berkala. Pada faktor material, kecacatan terjadi karena karton tidak memiliki daya serap tinta yang sesuai, dan tinta yang digunakan tidak sesuai dengan jenis karton. Pada faktor metode, kecacatan terjadi karena tidak ada prosedur kontrol kualitas selama proses cetak berlangsung, dan tidak melakukan uji coba untuk pemotongan pertama. Pada faktor mesin, kecacatan terjadi karena mesin mengalami kebocoran pada tabung tinta, dan sistem distribusi tinta tidak berfungsi secara optimal.
Tahap selanjutnya adalah improve, yang bertujuan merencanakan tindakan yang dirancang untuk meningkatkan
kualitas produksi. Dalam tahapan ini, digunakan strategi SWOT untuk mengidentifikasi penyebab kecacatan pada perusahaan, kemudian dilanjutkan menyusun rekomendasi serta usulan langkah-langkah strategi perbaikan SO, WO, ST, dan WT yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kerusakan produk secara keseluruhan.
Berikut ini adalah hasil dari strategi SWOT yang diperoleh dari orang yang expert pada bidangnya serta referensi dari penelitian terdahulu
Berdasarkan analisis akar penyebab kegagalan pada potongan tidak presisi, sobek saat proses pemotongan, kehabisan tinta, dan tinta meluber perusahaan perlu mengantisipasi faktor – faktor penyebab terjadinya produk rusak dan kegiatan produksi dapat dilakukan dengan lebih optimal, adapun alternatif usulan perbaikan untuk mengantisipasi dengan empat strategi perbaikan yaitu SO, WO, ST, dan WT yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kerusakan produk secara keseluruhan adalah sebagai berikut: perusahaan perlu mengadakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan karyawan terutama bagi karyawan baru secara bertahap agar dapat tercapai sumber daya manusia yang berkualitas, memberikan instruksi kerja dengan jelas kepada karyawan, hal ini bisa dilakukan pada saat awal sebelum proses produksi dimulai ataupun pada saat proses produksi berlangsung dan diberikan penjelasan secara tertulis dengan disertai penjelasan lisan secara terperinci yaitu dengan melaksanakan briefing secara rutin disetiap awal dan akhir kerja, memeriksa mesin produksi tidak hanya dilakukan ketika mesin tersebut mengalami kerusakan namun harus dilakukan secara rutin atau secara berkala, pembentukan standar ketebalan takaran tinta sehingga didapat hasil cetakan dan desain yang sesuai.
Tahap terakhir adalah control. Pada tahapan ini digunakan untuk memastikan bahwa perbaikan yang telah dilakukan dapat dipertahankan dan terus-menerus ditingkatkan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan pada produksi karton:
Berdasarkan penelitian diatas yang bertujuan untuk mengurangi tingkat produk cacat yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, melalui pendekatan Six Sigma (DMAIC) dan analisis SWOT, penelitian ini mengidentifikasi jenis-jenis kecacatan seperti potongan tidak presisi, sobek saat pemotongan, tinta meluber, dan kehabisan tinta serta akar penyebabnya yang meliputi faktor manusia, mesin, metode, material, dan pengukuran. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai DPMO sebesar 3874,569 dan nilai sigma 4,16 yang masih jauh dari target Six Sigma (3,4 cacat per sejuta peluang). Berdasarkan hasil fishbone diagram dan SWOT, disusun strategi perbaikan yang mencakup pemantauan rel-time, standarisasi dan sosialisai SOP, evaluasi dan sertifikasi operator, checklist harian dan dokumentasi kinerja, serta mengadakan pelaksanaan audit kualitas. Implementasi metode ini diharapkan mampu menurunkan tingkat kecacatan produk dan meningkatkan efisiensi serta daya saing perusahaan dalam jangka panjang.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan PT. XYZ atas kerjasama yang telah diberikan sebagai tempat pelaksanaan penelitian ini.
[2]Y. F. Tupan, J. M, Hatumena, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Koran Dengan Metode Six Sigma Dan Swot Pada Pt. Percetakan Fajar Utama Intermedia Cabang Ambon,” Arika, vol. 11, no. 1, 2017.
[3]A. F. Shiyamy, S. Rohmat, dan A. Sopian, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Dengan Statistical Process Control,” J. Ilm. Manaj., vol. 2, no. 2, pp. 32–45, 2021.
[4]F. Wanantari, B. Suroso, And I. Wijaya, “Potential Utilization Of Pgpr From Bamboo Roots And Fertilizing Of Cow States On The Growth And Production Of Soybean Edamame (Glycin Max (L.) Merrill),” 2022.
[5]A. Agustin dan A. M. Azis, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Mie Dengan Metode Statistical Process Control,” Analisis, vol. 14, no. 01, pp. 16–32, 2024.
[6]A. M. Hidayat, Ika Anggrainy Wibowo, dan Kristina Sisilia, “Mengoptimalkan Efisiensi Operasional Dan Kepuasan Pelanggan: Perancangan Service Blueprint Pada Startup Digital Printing,” J. Manaj. dan Bisnis Performa, vol. 20, no. 2, pp. 223–231, 2024.
[7]N. Azmi, I. Jamaran, Y. Arkeman, And D. Mangunwidjaja, “Penjadwalan Pesanan Menggunakan Algoritma Genetika Untuk Tipe Produksi Hybrid And Flexible Flowshop Pada Industri Kemasan Karton,” J. Tek. Ind., vol. 2, no. 2, pp. 176–188, 2012.
[8]A. S. Wibowo And D. K. Sari, “Democratic Leadership And Work Environment Impact On Employee Performance,” Acad. Open, vol. 7, pp. 1–16, 2022.
[9]A. P. Wardana, “Penerapan DMAIC Dan FMEA Untuk Pengendalian Kualitas Produk Kemasan Kertas Perusahaan Percetakan PT.XYZ,” J. Senopati Sustain. Ergon. Optim. Appl. Ind. Eng., vol. 5, no. 1, pp. 47–55, 2023.
[10]I. B. Suryaningrat, W. Febriyanti, dan W. Amilia, “Identifikasi Risiko Pada Okra Menggunakan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) Di PT. Mitratani Dua Tujuh Di Kabupaten Jember,” J. Agroteknologi, vol. 13, no. 01, p. 25, 2019.
[11]S. Imam dan W. Prastiwinarti, “Analisis Tingkat Kecacatan Produk Cetak Kemasan Karton Lipat Dengan Pendekatan Dmaic Six Sigma,” J. Poli-Teknologi, vol. 19, no. 2, pp. 161–168, 2020.
[12]Novan dan Suhartini, “Pengendalian Kualitas Menggunakan Pendekatan Six Sigma Sebagai Upaya Perbaikan Produk Defect (Studi Kasus : Departemen Produksi PT . Semen Indonesia (Persero) Tbk),” 2021.
[13]B. P. Mutiara, “Analisis Matriks Ifas Dan Efas PT Unilever Tbk Pada Pandemik Covid-19,” vol. 14, no. 02, pp. 363–371, 2021.
[14]M. Kurniawan, I. Santoso, dan H. M. Silaban, “Sari Belimbing Business Development Strategy Planning With Swot Method And Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fahp)(Case Study Of CV Angkasa Jaya Blitar),” Prozima, vol. 3, no. 1, pp. 26–31, 2019.
[15]A. Y. Ningrum, N. Handayani, W. Sabardi, P. T. Industri, F. Teknik, And U. Samudra, “Business Development Strategy Selection For Cracker Enterprises With Swot And Anp” Prozima, vol. 7, no. 2, pp. 84–93, 2023.
[16]H. Sirine dan E. P. Kurniawati, “Pengendalian Kualitas Menggunakan Metode Six Sigma (Studi Kasus Pada Pt Diras Concept Sukoharjo),” Ajie-Asian J. Innov. Entrep., vol. 02, no. 03, pp. 2477–3824, 2017.
[17]Hana Catur Wahyuni dan M. Wiwik Sulistiyowati, Buku Ajar Pengendalian Kualitas Industri Manufaktur Dan Jasa. Umsida Press, 2019
[18]Rosyidi M, R. Pengendalian dan Penjaminan Mutu Bku Ajar, Malang, Ahlimedia Press. 2020.
[19]M. Mashuri dan D. Nurjannah, “Analisis SWOT Sebagai Strategi Meningkatkan Daya Saing,” Jps (Jurnal Perbank. Syariah), vol. 1, no. 1, pp. 97–112, 2020.
[20]A. Mayang, I. Astuti, dan S. Ratnawati, “Analisis SWOT Dalam Menentukan Strategi Pemasaran (Studi Kasus Di Kantor Pos Kota Magelang 56100).”
N. Kadek and R. Sari, “Analisis Pengendalian Kualitas Proses Produksi Pie Susu Pada Perusahaan Pie Susu Barong Di Kota Denpasar,” vol. 7, no. 3, pp. 1566–1594, 2018.
Y. F. Tupan and J. M. Hatumena, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Koran Dengan Metode Six Sigma Dan SWOT Pada PT Percetakan Fajar Utama Intermedia Cabang Ambon,” Arika, vol. 11, no. 1, 2017.
A. F. Shiyamy, S. Rohmat, and A. Sopian, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Dengan Statistical Process Control,” Jurnal Ilmiah Manajemen, vol. 2, no. 2, pp. 32–45, 2021.
F. Wanantari, B. Suroso, and I. Wijaya, “Potential Utilization of PGPR From Bamboo Roots and Fertilizing of Cow States on the Growth and Production of Soybean Edamame,” 2022.
A. Agustin and A. M. Azis, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Mie Dengan Metode Statistical Process Control,” Analisis, vol. 14, no. 1, pp. 16–32, 2024.
A. M. Hidayat, I. A. Wibowo, and K. Sisilia, “Perancangan Service Blueprint Pada Startup Digital Printing,” Jurnal Manajemen dan Bisnis Performa, vol. 20, no. 2, pp. 223–231, 2024.
N. Azmi, I. Jamaran, Y. Arkeman, and D. Mangunwidjaja, “Penjadwalan Pesanan Menggunakan Algoritma Genetika,” Jurnal Teknik Industri, vol. 2, no. 2, pp. 176–188, 2012.
A. S. Wibowo and D. K. Sari, “Democratic Leadership and Work Environment on Employee Performance,” Academic Open, vol. 7, pp. 1–16, 2022.
A. P. Wardana, “Penerapan DMAIC dan FMEA Untuk Pengendalian Kualitas,” Jurnal Senopati, vol. 5, no. 1, pp. 47–55, 2023.
I. B. Suryaningrat, W. Febriyanti, and W. Amilia, “Identifikasi Risiko Pada Okra Menggunakan FMEA,” Jurnal Agroteknologi, vol. 13, no. 1, p. 25, 2019.
S. Imam and W. Prastiwinarti, “Analisis Tingkat Kecacatan Produk Cetak,” Jurnal Poli-Teknologi, vol. 19, no. 2, pp. 161–168, 2020.
Novan and Suhartini, “Pengendalian Kualitas Menggunakan Six Sigma,” 2021.
B. P. Mutiara, “Analisis Matriks IFAS dan EFAS PT Unilever,” vol. 14, no. 2, pp. 363–371, 2021.
M. Kurniawan, I. Santoso, and H. M. Silaban, “Business Development Strategy Planning With SWOT and FAHP,” Prozima, vol. 3, no. 1, pp. 26–31, 2019.
A. Y. Ningrum et al., “Business Development Strategy Selection With SWOT and ANP,” Prozima, vol. 7, no. 2, pp. 84–93, 2023.
H. Sirine and E. P. Kurniawati, “Pengendalian Kualitas Menggunakan Six Sigma,” AJIE, vol. 2, no. 3, 2017.
H. C. Wahyuni and M. W. Sulistiyowati, Buku Ajar Pengendalian Kualitas Industri Manufaktur dan Jasa. Umsida Press, 2019.
R. M. Rosyidi, Pengendalian dan Penjaminan Mutu. Malang: Ahlimedia Press, 2020.
M. Mashuri and D. Nurjannah, “Analisis SWOT Sebagai Strategi Meningkatkan Daya Saing,” Jurnal Perbankan Syariah, vol. 1, no. 1, pp. 97–112, 2020.
A. Mayang, I. Astuti, and S. Ratnawati, “Analisis SWOT Dalam Menentukan Strategi Pemasaran,” 2020.