Afifi Alfaniah (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)
General Background Education forms the primary foundation for developing human resources and shaping moral character within Islamic institutions. Specific Background Madrasah Diniyah functions as a non-formal religious institution where instructors frequently struggle with traditional memorization-based teaching methods that misalign with student characteristics. Knowledge Gap Previous studies predominantly explore formal school leadership frameworks, leaving a significant void regarding contextual administrative approaches for abstract subjects within non-formal religious educational settings. Aims This study analyzes the internal and external leadership frameworks utilized by educational administrators to advance the instructional capabilities of linguistics educators in Gempol District. Results A descriptive qualitative approach utilizing participatory observation, in-depth interviews, and documentation reveals that administrators successfully implement dialogic academic supervision, instructional role modeling, and external professional training. These interventions structurally shifted the classroom dynamic from rigid memorization to student-centered, contextual learning, thereby increasing student comprehension of abstract linguistic concepts. Novelty This research specifically diagnoses and models a contextual leadership framework tailored to the unique structural and cultural dynamics of non-formal Islamic education. Implications Educational administrators must actively integrate diagnostic institutional analysis with continuous, dialogic academic supervision to ensure sustainable professional development and responsive classroom instruction.
Dialogic academic supervision structurally transforms traditional memorization methods into student-centered instructional dynamics.
Contextual leadership frameworks successfully address the unique administrative challenges of non-formal religious institutions.
External professional training and instructional role modeling directly increase student comprehension of abstract linguistic concepts.
Keywords: Academic Supervision Innovation, Contextual Leadership, Instructional Dynamics Nonformal Education Student Comprehension
Pendidikan merupakan dasar utama dalam pengembangan sumber daya manusia, berperan penting dalam meningkatkan kualitas individu dan masyarakat. Dalam konteks Pendidikan Islam, Madrasah adalah lembaga yang memiliki ciri khas tersendiri dalam membentuk individu berkualitas melalui layanan pendidikan yang bermutu.Madrasah Diniyah berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang melengkapi pendidikan formal, dengan memberikan pengajaran agama Islam secara komprehensif, khususnya pada aspek yang belum terakomodasi dalam pendidikan formal, melalui sistem pembelajaran klasikal[1],[2]. Lembaga ini berkontribusi dalam pembentukan karakter serta penguatan akhlak peserta didik melalui internalisasi nilai-nilai keislaman. Selain itu, Madrasah Diniyah juga berperan dalam memperdalam pemahaman ajaran agama, menanamkan moralitas yang berbasis pada nilai-nilai Islam, serta membangun kecintaan terhadap tradisi keislaman sejak usia dini[3]. Madrasah Diniyah yang saat ini dikenal sebagai Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam nonformal yang diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang, dengan peran utama sebagai pelengkap pendidikan agama Islam bagi peserta didik. Kehadirannya dilatarbelakangi oleh keterbatasan materi dan waktu pembelajaran agama Islam di sekolah umum, sehingga diperlukan wadah pendidikan khusus yang mampu melengkapi, memperluas, serta memperdalam pemahaman keislaman peserta didik melalui proses pembelajaran yang lebih intensif dan terfokus[4],[5]. Keberadaan Madrasah Diniyah memiliki signifikansi yang harus senantiasa dipertahankan, mengingat mengingatkan dalam mewariskan nilai-nilai moral dan spiritual kepada generasi mendatang. Melalui sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, madrasah berkontribusi dalam mencetak individu yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh kepada Allah[6]. Ditinjau dari klasifikasinya, Madrasah Diniyah terbagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu: (a) Madrasah Diniyah yang berafiliasi dan berada di lingkungan Pondok Pesantren, (b) Madrasah Diniyah yang berada di bawah pembinaan langsung Kementerian Agama, serta (c) Madrasah Diniyah swasta yang menjalankan operasionalnya secara independen di luar struktur Pondok Pesantren[7].
Salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di Madrasah Diniyah adalah Ilmu Nahwu. Nahwu merupakan bidang ilmu yang sangat esensial dan menjadi prioritas utama dalam mempelajari Bahasa Arab [8]. Penguasaan Ilmu Nahwu memiliki peran krusial dalam membantu peserta didik dalam mempelajari berbagai literer Islam yang bersumber menggunakan bahasa Arab, seperti Alquran, hadis, kitab klasik dan kontemporer [9]. Dalam konteks pembelajaran Ilmu Nahwu di Madrasah Diniyah, keberadaan guru yang kompeten dalam bidang tersebut menjadi aspek yang krusial. Guru tidak hanya dituntut memiliki pemahaman yang mendalam terhadap Ilmu Nahwu, tetapi juga harus memiliki kompetensi pedagogik dalam mengajarkannya secara efektif. Pemahaman yang komprehensif terhadap Ilmu Nahwu menjadi suatu keharusan dalam proses pembelajaran di Madrasah Diniyah[10].
Dalam proses pembelajaran, keberadaan guru dengan kompetensi pedagogik yang memadai merupakan suatu kebutuhan utama, karena kompetensi pedagogik merupakan keseluruhan aspek pengetahuan, kecakapan, kemampuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru sebagai bekal professional dalam mengelola pembelajaran dengan baik sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diharapkan bersama agar dapat tercapai dengan sempurna[11]. Merujuk pada Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Pasal 10 Ayat 1 tentang Guru dan Dosen, setiap guru diwajibkan memiliki empat jenis kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Standar kualifikasi dan kompetensi ini harus dipenuhi oleh seluruh tenaga pendidik, karena jika tidak terpenuhi, maka seorang guru dianggap tidak memiliki kapasitas yang mampu dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik[12]. Kompetensi pedagogik dalam pengelolaan pembelajaran mencakup tujuh aspek, yaitu: pemahaman karakteristik peserta didik, penguasaan teori dan prinsip pembelajaran, pengembangan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik, pengembangan potensi peserta didik, komunikasi yang efektif, serta penilaian dan evaluasi. Setiap aspek memiliki indikator yang harus dikuasai dan diterapkan guru untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran[13].
Kepala Madrasah Diniyah (Madin) sebagai pemimpin lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab utama dalam memastikan bahwa proses pembelajaran berlangsung secara optimal dan efektif. Untuk itu, Kepala Madin perlu merancang dan mengimplementasikan strategi-strategi. Strategi dalam lembaga pendidikan berperan penting untuk meningkatkan kualitas dan menjadi daya tarik terhadap lembaga. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu[14]. Adapun upaya kepala madrasah diniyah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Ilmu Nahwu di Madrasah Diniyah, kepala madrasah menerapkan strategi peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan, workshop, supervisi akademik berkala, serta penerapan metode inovatif. Sebagaimana Permendikbud No. 6 Tahun 2018 Pasal 15 huruf c, banhwa melalui fungsi manajerial, kewirausahaan, dan supervisi kepala sekolah memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini, kepala madrasah juga berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang bertanggung jawab terhadap pengembangan profesional guru, khususnya kompetensi pedagogik, melalui forum MGMP dan pelatihan yang relevan[15]. Namun demikian, dalam pelaksanaan strategi peningkatan kompetensi pedagogik guru, kepala madrasah menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan sumber daya, belum optimalnya akses terhadap pelatihan yang berkualitas, serta kurangnya kesadaran guru mengenai pentingnya peningkatan pedagogik sebagai kebutuhan yang mendesak.
Penelitian-penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa strategi pembinaan kompetensi pedagogik guru mencakup dukungan, arahan, motivasi, keikutsertaan dalam MGMP, pelatihan, studi lanjutan, serta diskusi. Faktor pendukung meliputi program pembinaan madrasah, usia guru yang produktif, dukungan administrasi, dan ketersediaan sumber daya. Adapun hambatannya mencakup keterbatasan teknologi, keragaman siswa, kenyamanan metode tertentu, dan keterbatasan waktu[12]. Pada studi lain menegaskan peran kepala madrasah sebagai pemimpin pembelajaran dalam menciptakan iklim organisasi yang kondusif guna meningkatkan kinerja kolektif. Kombinasi gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis berdampak positif terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru dan peningkatan motivasi mengajar[16].
Dalam konteks ini pendidikan di madrasah diniyah memiliki tantangan tersendiri terkait strategi dalam meningkatkan kompetensi pedagogic guru nahwu. Salah satu upaya yang dilakukan kepala madrasah dalam hal ini adalah dengan memberikan bimbingan berbasis interaksi internal dan dorongan motivasi kepada guru agar tetap konsisten mengembangkan kemampuan mengajar nahwu. Agar kompetensi pedagogik dan profesional guru tetap terjaga dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, pengembangan kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan oleh guru secara mandiri. Oleh karena itu, diperlukan peran kepala sekolah sebagai pemimpin dalam memberikan arahan dan dukungan terhadap pengembangan kompetensi guru[17].
Pada observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di madrasah diniyah kecamatan gempol melihat bahwa sebagian guru melakukan metode pembelajaran klasik yang hanya menekankan pada hafalan dan metode ceramah yaitu santri hanya mendengar dan melihat penjelasan guru tanpa bisa memahami pelajaran dengan baik sehingga santri cenderung bosan. Melihat hal ini kepala madrasah melakukan pembinaan internal berbasis interaksi internal dan kekeluargaan untuk memberikan ruang nyaman bagi guru dalam berdiskusi. Madrasah diniyah kecamatan gempol dipilih karena pendidikan madrasah diniyah disini mempunyai ciri khas baik secara organisasi, dan mempunyai kurikulum yang terpusat.
Penelitian ini menghadirkan kontribusi baru yang lebih spesifik dengan menganalisis strategi kepala madrasah dalam upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru Nahwu di Madrasah Diniyah yang secara structural maupun kultural memiliki perbedaan dengan pendidikan formal. penekanan pada pendekatan pedagogis yang relevan dengan karakter ilmu nahwu yang bersifat abstrak menjadi poin penting dalam penelitian ini, sehingga diharapkan mampu memperkaya hazanah pengembangan pendidikan Islam berbasis lokal serta memberikan rekomendasi praktis bagi madrasah nonformal. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis strategis berbasis SWOC sebagai kerangka diagnosis dalam merumuskan strategi kepemimpinan kepala madrasah.
Meskipun terdapat berbagai penelitian sebelumnya yang mengkaji strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru, namun studi tersebut masih berfokus pada konteks pendidikan formal atau madrasah yang berada dalam sistem struktural pesantren. Penelitian-penelitian tersebut umumnya menekankan aspek supervisi akademik, pelatihan, dan manajerial secara normatif, tanpa menggali secara mendalam bagaimana strategi tersebut diadaptasi dalam konteks lembaga pendidikan Islam nonformal seperti madrasah diniyah. Belum terdapat penelitian yang secara spesifik menganalisis strategi kepala madrasah diniyah dalam konteks peningkatan kompetensi pedagogik guru nahwu menggunakan pendekatan analisis strategis.Selain itu, kajian yang secara spesifik menyoroti peningkatan kompetensi pedagogik guru Ilmu Nahwu sebagai disiplin ilmu yang bersifat abstrak dan cenderung diajarkan secara tradisional masih sangat terbatas. Oleh karena itu, terdapat celah penelitian terkait bagaimana kepala madrasah diniyah merancang dan mengimplementasikan strategi kepemimpinan yang kontekstual untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Nahwu sesuai dengan karakteristik santri dan budaya belajar madrasah diniyah.
Penelitian ini diinisisasi untuk mengisi celah literatur pada ranah yang sejauh ini minim dieksplorasi. Fokus utamanya adalah menganalisis bagaimana strtategi kepala madrasah diniyah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru nahwu, sekaligus memetakan implikasi nyata dari kebijakan tersebut. Karena objek kajian berada di lingkup pendidikan nonformal yang memiliki karakteristik tersendiri dalam tata kelola sistem pengajaran. Penelitian ini memberikan perhatian secara khusus pada bagaimana pembelajaran ilmu nahwu diadaptasikan dengan kebutuhan riil para santri. Implikasi dari temuan ini mencakup dua aspek utama. Secara akademis, studi ini berupaya mengisi celah literatur mengenai manajemen pendidikan Islam pada konteks madrasah nonformal. Secara praktis, hasil kajian ini menawarkan rujukan bagi kepala madrasah yang dapat dioptimalkan sebagai basis pengambilan kebijakan terutama dalam merancang program pembinaan guru yang benar-benar menjawab tantangan dan kebutuhan nyata pengajar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena bertujuan untuk memberikan gambaran serta pemahaman secara mendalam dan komprehensif mengenai strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sesuai dengan latar sosial, budaya, dan kelembagaan yang melingkupi madrasah diniyah. Pendekatan kualitatif deskriptif memungkinkan peneliti untuk menelaah fenomena sosial dalam konteks alaminya melalui sudut pandang partisipan yang memiliki keterlibatan langsung dalam realitas yang diteliti[18]. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada makna subjektif yang dibentuk oleh individu atau kelompok berdasarkan pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan sosial. Sehubungan dengan itu, peneliti berperan secara aktif sebagai instrumen utama dalam pengumpulan dan analisis data dengan menjalin keterlibatan langsung bersama informan di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, peran peneliti sebagai instrumen utama dianggap krusial karena memungkinkan penggalian data yang lebih kontekstual dan mendalam melalui interaksi langsung dengan objek penelitian[19].
Subjek utama dalam penelitian ini mencakup kepala madrasah dan para guru pengampu Ilmu Nahwu di lingkungan Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol. Proses pengumpulan data dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Ketiga teknik ini digunakan secara terpadu untuk menghasilkan data yang valid. Dalam konteks penelitian kualitatif, akurasi dan keabsahan data diperoleh melalui penerapan triangulasi teknik untuk mempertajam interprestasi dan memastikan konsistensi informasi dalam kerangka kontekstual yang utuh[18]. Pemilihan subjek dilakukan menggunakan teknik purposive, yaitu dengan menetapkan informan yang dianggap paling mengetahui, memahami, dan terlibat secara aktif dalam aktivitas peningkatan kompetensi pedagogik guru. Pemilihan dengan pendekatan purposive ini dinilai efektif dalam penelitian kualitatif karena memungkinkan peneliti memperoleh data dari individu yang memiliki wawasan serta pengalaman langsung terhadap fenomena yang dikaji[19]. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model dari Miles, Huberman, dan Saldana yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Kondensasi data merupakan proses pemilihan, penyederhanaan, dan pengorganisasian data mentah agar lebih terfokus dan bermakna. Setelah itu, data disajikan dalam bentuk narasi, tabel, atau diagram untuk memudahkan peneliti dalam melihat pola dan hubungan antar data. Tahap terakhir adalah penarikan serta verifikasi kesimpulan yang dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian berlangsung[20]. Analisis data dilakukan melalui reduksi, kategorisasi berbasis kerangka SWOC, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara reflektif-teoretik.
Melalui penerapan metodologi tersebut, penelitian ini diharapkan mampu menyajikan gambaran yang komperehensif dan autentik mengenai strategi kepala madrasah. Gambaran tersebut mencakup dimensi kepemimpinan, pelaksanaan supervisi akademik serta upaya pembinaan guru secara nyata berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi pedagogic dalam proses pembelajaran ilmu nahwu.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa penguatan kapasitas pedagogis guru Nahwu di Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol sangat dipengaruhi oleh interaksi faktor internal dan eksternal dalam ekosistem pembelajaran. Lebih dari sekedar pemahaman teoritis, kompetensi pedagogik di sini mencakup kemahiran guru dalam menyelami karakteristik santri serta mengelola siklus intrksional secara adaptif. Hal ini menjadi krusial karena penguasaan materi Nahwu harus dibarengi dengan fleksibilitas metode yang selaras dengan profil psikologis santri. Dalam upaya ini analisis SWOC digunakan bukan sekedar sebagai alat pemetaan, melainkan sebagai instrumen diagnosis untuk menyingkap kesenjangan antara realitas praktik dengan standar ideal. Pendekatan ini memastikan bahwa langkah strategis yang diambil kepala madrasah bersifat visioner dan berbasis pada data struktural, bukan sekedar respons sesaat terhadap masalah.
Dari sisi kekuatan internal (Strengths), ditemukan adanya peran signifikan kepala madrasah yang terlibat langsung dalam proses pengembangan guru. Kepala madrasah tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga melakukan supervisi akademik yang bersifat dialogis dan reflektif. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan mendorong terjadinya perubahan konkret dalam praktik pembelajaran. Guru nahwu mulai menggeser pendekatan pembelajaran dari metode konvensional berbasis hafalan menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan aplikatif. Selain itu kitab nahwu yang digunakan di madrasah diniyah Gempol adalah ringkasan dari ktab nahwu karangan KH. Khozin Putat yang dikemas dan diringkas dengan perpaduan bahasa arab dan bahasa Indonesia menjadikan materi nahwu lebih mudah dipelajari. Dalam pengajaran materi seperti identifikasi Isim dan Fi’il, guru tidak lagi menekankan definisi tekstual semata, melainkan menyederhanakan konsep dengan menghubungkannya pada objek yang familiar bagi santri, seperti nama benda, orang, hewan, atau buah. Selain itu, pemanfaatan indikator praktis seperti tanda tanwin atau alif lam membantu santri memahami struktur bahasa Arab dengan lebih cepat dan mudah. Perubahan ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran pedagogik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan nyata peserta didik.
Meskipun demikian, temuan penelitian menunjukkan adanya kelemahan (weaknesses) yang menjadi tantangan internal sebagaimana yang diungkapkan kepala madrasah bahwa sebagian guru masih memiliki pemahaman Ilmu Nahwu pada tingkat dasar, terutama bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi keilmuan guru masih menjadi kebutuhan penting yang perlu mendapatkan perhatian secara berkelanjutan.
Sebelum adanya pendampingan secara intensif, Metode hafalan masih cukup dominan. Tradisi hafalan yang telah lama mengakar menjadikan perubahan pendekatan tidak dapat berlangsung secara instan. Pengembangan kompetensi guru pun masih banyak bergantung pada pembinaan internal berbasis dialog dan belum sepenuhnya terlembagakan dalam sistem pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan. Selain itu keterbatasan waktu guru menunjukkan adanya problem struktural dalam tata kelola madrasah diniyah nonformal yang berdampak pada rendahnya intensitas supervisi pedagogik. Hal ini memperlihatkan bahwa strategi kepala madrasah harus bersifat adaptif terhadap keterbatasan struktural lembaga.
Di sisi lain, terdapat peluang (Opportunities) yang mendorong percepatan pengembangan kompetensi pedagogik. Karakteristik santri madrasah diniyah yang heterogen dan tidak terbiasa dengan pola disiplin pesantren menjadi faktor pendorong lahirnya inovasi pembelajaran. Ketergantungan pada metode hafalan penuh terbukti kurang efektif dalam menjaga motivasi belajar santri, bahkan berdampak pada tingkat kebosanan dan absensi. Kondisi ini memaksa guru dan kepala madrasah untuk mencari pendekatan yang lebih humanistik dan kontekstual. Iklim komunikasi profesional yang suportif antara kepala madrasah dan guru membuka ruang refleksi bersama, sehingga inovasi tidak muncul secara individual, melainkan sebagai bagian dari strategi kelembagaan. Fasilitasi pelatihan eksternal melalui forum FKDT juga menjadi peluang strategis dalam memperluas wawasan pedagogik dan metodologis guru.
Meskipun demikian, tantangan (Challenges) tetap muncul dalam proses transformasi ini. Tradisi pembelajaran berbasis hafalan yang telah mengakar memerlukan perubahan paradigma secara bertahap. Perbedaan kultur belajar antara lingkungan pesantren dan pendidikan nonformal di kampung menyebabkan metode yang efektif di pesantren tidak selalu relevan diterapkan di madrasah diniyah. Selain itu, perubahan yang terjadi masih berada dalam tahap perkembangan dan memerlukan konsistensi serta penguatan sistem agar tidak bersifat temporer. Tanpa pelembagaan program pengembangan kompetensi yang lebih sistematis, terdapat risiko bahwa inovasi pedagogik yang telah dirintis tidak berlanjut secara optimal.
Secara analitis, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi pedagogik guru Nahwu berlangsung karena adanya sinergi antara kepemimpinan instruksional kepala madrasah, pelaksanaan supervisi akademik yang bersifat reflektif, serta adanya dukungan komunikasi profesional. Proses tersebut tidak hanya berpengaruh pada perubahan metode pembelajaran, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran profesional guru untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan yang ada. Perubahan dari pola pembelajaran yang berorientasi pada hafalan menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan adaptif menunjukkan berkembangnya kompetensi pedagogik yang semakin responsif terhadap kebutuhan dan karakteristik santri. Dengan demikian, strategi kepala madrasah dalam melakukan pembinaan dan pendampingan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Nahwu, sehingga menjadi lebih bermakna, relevan, dan selaras dengan karakteristik pendidikan nonformal di Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol.
Strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru nahwu di Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol tidak dapat dipahami sebagai tindakan administratif semata, melainkan sebagai proses kepemimpinan instruksional yang berbasis diagnosis kelembagaan. Berdasarkan temuan lapangan, perumusan strategi diawali dengan identifikasi kondisi internal dan eksternal melalui pembacaan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi madrasah. Proses ini menunjukkan bahwa strategi tidak dirancang secara normatif, tetapi bersifat kontekstual dan responsif terhadap dinamika riil lembaga.
Dalam perspektif manajemen pendidikan, strategi yang efektif lahir dari kemampuan pemimpin dalam mengintegrasikan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi secara adaptif[21]. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa kepala madrasah menjalankan peran tersebut melalui penguatan supervisi akademik, pembinaan pedagogik berkelanjutan, serta penciptaan iklim profesional yang mendukung refleksi pembelajaran. Dengan demikian, strategi yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian administratif, tetapi pada transformasi praktik pedagogik guru secara substantif.
Berdasarkan hasil diagnosis terhadap kondisi tersebut, kepala madrasah kemudian merancang strategi pengembangan kompetensi pedagogik yang dilaksanakan secara bertahap dan disesuaikan dengan konteks kebutuhan di lapangan. Strategi ini mencakup upaya penguatan dari dalam lembaga (internal) sekaligus pemanfaatan dukungan dari luar lembaga (eksternal), sehingga proses pengembangan guru dapat berlangsung lebih sistematis, relevan, dan berkelanjutan.
Strategi internal pertama adalah kepala madrasah melakukan strategi motivasi dan mengarahkan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah secara konsisten mengarahkan dan memotivasi guru nahwu untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih sederhana dan adaptif. Dengan perannya sebagai kepala madrasah yang bertanggung jawab memotivasi guru ini menjadi salah satu strategi yang dilakukan, sebagai bentuk perhatiannya terhadap kualitas kompetensi guru yang berdampak pada pemahaman yang diterima oleh santri. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa peran kepala sekolah sangat penting dalam peningkatan kualitas kinerja guru. kepala sekolah harus mampu meningkatkan kinerja para guru dengan cara memberikan motivasi [22],[23]. Dalam praktiknya, guru diarahkan untuk tidak terlalu menekankan hafalan apabila santri masih mengalami kesulitan memahami materi. Kepala madrasah menilai bahwa penekanan berlebihan pada hafalan justru membuat santri lebih berorientasi pada target setoran dibandingkan pada pendalaman pemahaman kaidah nahwu. Oleh karena itu, guru didorong untuk menyesuaikan metode mengajar dengan kemampuan santri yang beragam serta kondisi pembelajaran madrasah diniyah yang berbeda dengan lingkungan pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa kepala madrasah menginginkan guru nahwu mampu menyesuaikan metode mengajar dengan karakteristik dan kebutuhan santri agar pembelajaran berjalan dengan baik. Strategi yang dilakukan kepala madrasah ini mempunyai prinsip yang sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa Pendekatan yang menekankan karakteristik dan kapasitas personal peserta didik sejatinya bukan merupakan hambatan dalam proses pembelajaran, melainkan sebuah realitas objektif yang harus direspons secara pedagogis melalui perencanaan dan strategi pembelajaran yang tepat [24],[25].
Strategi internal kedua adalah pendampingan, Selain memberikan arahan secara umum, kepala madrasah juga melakukan pendampingan mengajar kepada guru nahwu. Pendampingan ini sebagai strategi internal yang dilakukan dengan menyediakan ruang dan waktu sebelum guru memasuki kelas untuk memberikan penguatan materi serta membahas cara mengajar yang akan digunakan. Berdasarkan hasil observasi, kepala madrasah membantu guru memahami materi nahwu dengan mengaitkannya pada contoh-contoh konkret melalui penta‘biran terhadap hal-hal sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar santri. Pendekatan ini bertujuan agar pembelajaran nahwu menjadi lebih mudah. Selain itu dalam proses ini, kepala madrasah membangun komunikasi profesional yang dialogis dan suportif, sehingga guru merasa nyaman dan tidak tertekan dalam menjalankan tugas mengajar. Pola komunikasi ini mendorong keterbukaan guru dalam menyampaikan kesulitan pembelajaran serta memotivasi mereka untuk mampu berperan aktif mengembangkan kompetensi pedagogik, terutama dalam memahami karakteristik santri dan memilih metode pembelajaran yang sesuai. Hal ini sejalan dengan penelitian yang sebelumnya bahwa perolehan pengetahuan dan kemampuan mengajar guru bergantung pada dorongan terhadap peran aktif guru dalam pengembangan kompetensinya[26].
Strategi internal ketiga adalah keteladanan. Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa kepala madrasah memberikan keteladanan secara langsung dalam proses pembelajaran. Kepala madrasah melaksanakan pembelajaran nahwu di kelas dengan menerapkan metode yang sebelumnya telah disampaikan kepada guru. Pada saat tersebut, guru nahwu berperan sebagai pengamat untuk melihat secara langsung penerapan metode pembelajaran yang kontekstual dan komunikatif. Keteladanan ini menjadi salah satu strategi utama kepala madrasah dalam meningkatkan penguasaan prinsip pembelajaran guru, karena guru memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui praktik nyata.
Strategi Eksternal, kepala madrasah melakukan kerjasama dengan FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah). Selain strategi internal, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah juga menerapkan strategi pengembangan penguasaan teori dan prinsip pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan eksternal. Pelatihan ini dipandang sebagai sarana untuk memperluas wawasan pedagogik guru, terutama bagi guru nahwu yang berlatar belakang non-pesantren atau merupakan alumni internal madrasah diniyah yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang ilmu nahwu dan pendekatan pembelajarannya. Melalui keterlibatan dalam pelatihan eksternal, guru memperoleh pengalaman baru serta kesempatan untuk bertukar pikiran dengan guru dari lembaga lain, yang kemudian diharapkan dapat diadaptasi dalam konteks pembelajaran nahwu di madrasah diniyah.
Sebagai bagian dari siklus manajemen strategis, kepala madrasah juga melaksanakan fungsi pengawasan dan evaluasi dengan memantau hasil belajar santri, baik melalui ujian tulis maupun lisan. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menilai efektivitas strategi yang telah dijalankan sekaligus melihat perkembangan kompetensi pedagogik guru dalam praktik pembelajaran di kelas. Dengan demikian, upaya pengembangan yang dilakukan tidak berhenti pada tahap perencanaan dan pelaksanaan saja, tetapi berlanjut pada proses refleksi, evaluasi, dan perbaikan secara berkelanjutan, sehingga kualitas pembelajaran dapat terus ditingkatkan secara sistematis dan berkesinambungan.
Secara analitis, perpaduan antara diagnosis SWOC dan penerapan strategi internal–eksternal menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi pedagogik guru Nahwu di Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol berlangsung melalui pendekatan manajerial yang kontekstual dan reflektif. Kelemahan dalam penguasaan materi serta kecenderungan penggunaan metode hafalan direspons melalui pelaksanaan program pendampingan dan pelatihan. Tantangan yang berkaitan dengan karakteristik santri direspon dengan pendekatan yang lebih humanis dan adaptif. Di sisi lain, kekuatan kepemimpinan instruksional dioptimalkan melalui motivasi, supervisi yang berkelanjutan, serta keteladanan dalam praktik pembelajaran, sementara peluang eksternal digerakkan untuk memperkuat kapasitas profesional guru. Kondisi tersebut mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran, dari pola konvensional yang dominan focus pada hafalan ke arah pembelajaran nahwu yang lebih kontekstual, komunikatif, dan menekankan pada pemahaman. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan santri.
Strategi kepala madrasah menyesuaikan pendekatannya dengan karakteristik madrasah diniyah sebagai lembaga pendidikan nonformal yang memiliki keterbatasan sumber daya sekaligus struktur yang lebih fleksibel. Dalam konteks tersebut, peningkatan kompetensi pedagogik guru nahwu ditopang oleh intensitas interaksi pedagogik, keteladanan dari pimpinan, serta pelaksanaan supervisi yang konsisten dan berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada kegiatan pelatihan formal. Pendekatan ini memungkinkan proses pengembangan guru berlangsung secara lebih alami, berkesinambungan, dan selaras dengan dinamika kebutuhan di lapangan.
Temuan yang dihimpun melalui observasi dan wawancara mendalam mengkonfirmasi adanya transformasi positif pada kapasitas pedagogis pengajar ilmu nahwu. Fenomena ini tidak sekedar tercermin pada pembaruan metodologi intruksional di kelas, namun juga menyentuh aspek fundamental seperti pergeseran paradigma mengajar, tingginya akseptabilitas terhadap supervisi, hingga terciptanya dialog pembelajaran yang lebih hidup dan bermakna antara guru dan santri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kepala madrasah berdampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru nahwu di madrasah diniyah Kecamatan Gempol. Dampak tersebut terlihat pada perubahan paradigma pembelajaran, penguatan kemampuan adaptif guru, serta meningkatnya motivasi profesional dalam mengembangkan praktik pedagogis yang kontekstual. Secara teoretis, temuan ini menguatkan pandangan bahwa kompetensi pedagogik tidak berkembang secara individual semata, melainkan melalui proses supervisi akademik dan kepemimpinan instruksional yang berkelanjutan [27].
Strategi kepala madrasah diniyah yang telah dilaksanakan menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi pedagogic guru nahwu, khususnya dalam aspek pemahaman karakteristik santri, berdasarkan hasil wawancara, guru menyadari bahwa pembelajaran di madrasah diniyah berbeda dengan budaya belajar di pesantren yang masih menekankan budaya hafalan. Melalui pembinaan kepala madrasah terjadi pergeseran pendekatan pembelajaran dari yang semula berorientasi pada hafalan menuju metode yang lebih kontekstual dan mudah dipahami oleh santri, seperti penggunaan perumpamaan yang dekat dengan pengalaman belajar mereka. Perubahan ini menunjukkan bahwa strategi kepala madrasah tidak bersifat administratif tapi menyentuh aspek subtantif pembelajaran. Peningkatan kompetensi pedagogic tersebut karena adanya sinergi antara kepala madrasah sebagai perancang strategi dan guru sebagaik pelaksana di kelas. Kerjasama yang dibangun secara sadar ini menjadi factor penting dalam keberhasilan strategi. Temuan ini sejalan dengan standar kompetensi pedagogik guru yang menekankan pentingnya pemahaman karakteristik peserta didik sebagai dasar perancangan pembelajaran [28]. Secara konseptual, pembelajaran yang efektif menuntut guru untuk mengidentifikasi kebutuhan, kemampuan awal, serta konteks sosial peserta didik agar proses belajar berlangsung optimal[29]. Dengan demikian, strategi kepala madrasah berimplikasi pada pergeseran orientasi guru dari berpusat pada materi menuju berpusat pada peserta didik.
Adanya perubahan dari pola pembelajaran berbasis hafalan ke pendekatan yang lebih kontekstual dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai bentuk transformasi pedagogik. Transformasi tersebut tidak hanya menyangkut perubahan pada teknik atau metode mengajar, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran paradigma, dari pola pembelajaran yang berpusat pada guru sebagai penyampai materi (teacher-centered transmission) menuju peran guru sebagai fasilitator yang secara adaptif memediasi proses belajar (adaptive pedagogical mediation) sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik santri. Dalam konteks pendidikan nonformal, transformasi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik berkembang melalui proses reflektif yang dipicu oleh kepemimpinan instruksional, bukan semata-mata melalui pelatihan formal. Dalam menjelaskan konsep Isim, misalnya, guru mengaitkan materi dengan contoh konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari santri dan memanfaatkan indikator praktis seperti tanwin dan alif lam untuk mempermudah identifikasi jenis kata. Perubahan ini menunjukkan penguatan Pedagogical Content Knowledge yaitu kemampuan guru untuk mengintegrasikan penguasaan materi dengan strategi penyampaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik[30]. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, kemampuan adaptif guru dalam menyederhanakan konsep abstrak menjadi konkret merupakan faktor penting dalam meningkatkan keterpahaman siswa[31]. Dengan demikian, dampak strategi kepala madrasah tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis mengajar, tetapi juga merekonstruksi cara guru mentransformasikan materi nahwu agar lebih kontekstual dan bermakna.
Penelitian ini juga menemukan adanya peningkatan motivasi dan kesadaran profesional guru, khususnya bagi guru yang berlatar belakang non-pesantren. Guru menunjukkan keterbukaan terhadap pendampingan, refleksi, serta pelatihan eksternal yang difasilitasi kepala madrasah. Kondisi ini menandakan berkembangnya sikap profesional dan komitmen terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Secara teoretis, kepemimpinan instruksional yang efektif berfokus pada peningkatan kualitas proses belajar melalui dukungan langsung terhadap pengembangan kompetensi guru[32]. Dalam konteks pendidikan Indonesia, peran kepala sekolah sebagai supervisor akademik dan motivator terbukti berkontribusi terhadap peningkatan kinerja dan kompetensi pedagogik guru[33]. Dampak strategi kepala madrasah ini tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis dan profesional, sehingga guru terdorong untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Perubahan kompetensi pedagogik guru berdampak langsung pada kualitas pembelajaran nahwu. Guru melaporkan bahwa santri lebih mudah memahami materi dan menunjukkan respons belajar yang lebih positif dibandingkan sebelumnya. Metode yang lebih komunikatif dan kontekstual mampu mengurangi kejenuhan yang selama ini muncul akibat dominasi hafalan. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa penerapan pembelajaran nahwu berbasis pendekatan komunikatif dan kontekstual mampu meningkatkan pemahaman peserta didik serta mendorong keterlibatan belajar yang lebih aktif dibandingkan metode tradisional yang berorientasi pada hafalan [34]. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas guru merupakan faktor utama yang menentukan efektivitas proses pembelajaran. Dalam konteks madrasah diniyah, peningkatan kompetensi pedagogik guru menjadi faktor yang sangat strategis dalam mewujudkan proses pembelajaran yang mampu beradaptasi dengan karakteristik pendidikan nonformal. Kemampuan dalam metode, pendekatan, serta strategi pembelajaran yang menyesuaikan kondisi, kebutuhan dan latar belakang santri merupakan kompetensi pedagogic yang baik, sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih efektif, fleksibel dan bermakna. Secara keseluruhan, strategi yang diterapkan kepala madrasah mendorong terjadinya transformasi pedagogik dalam praktik pembelajaran. Transformasi tersebut ditandai oleh pergeseran paradigma, dari pembelajaran yang berorientasi pada hafalan menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan variatif. Selain itu, terjadi penguatan kompetensi pedagogik, terutama pada aspek pemahaman terhadap karakteristik peserta didik serta kemampuan melaksanakan pembelajaran yang adaptif. Di sisi lain, terlihat pula peningkatan motivasi dan kesadaran profesional guru untuk terus mengembangkan diri. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi kepala madrasah berimplikasi langsung terhadap perubahan paradigma pedagogik. Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa kompetensi pedagogik tidak berkembang secara otomatis melalui rutinitas mengajar semata, tetapi tumbuh melalui proses reflektif yang dipicu dan diperkuat oleh intervensi strategis dari pimpinan.
Keberhasilan kebijakan yang diterapkan terletak pada jembatan operasional yang menghubungkan temuan evaluatif dengan pembaruan metodologi pengajaran. Strategi ini melampaui fase identifikasi kendala, ia berfungsi sebagai katalisator yang mengubah hambatan menjadi aksi konkret di lapangan. Hasilnya, terjadi pergeseran kualitas pembelajaran di kelas yang didorong oleh pembacaan tajam terhadap dinamika dan kebutuhan nyata lembaga.
Dengan demikian berdasarkan integrasi temuan penelitian di atas, peneliti berkesimpulan bahwa strategi kepala madrasah berlangsung dengan tiga mekanisme utama. Pertama, diagnosis kelembagaan dengan menganalisis kondisi internal dan eksternal sebagai dasar pengambilan kebijakan. Kedua, intervensi pedagogik melalui kegiatan supervisi akademik dan pembinaan profesional yang bertujuan meningkatkan praktik pembelajaran. Ketiga, memperkuat keberlanjutan pengembangan melalui jaringan eksternal serta membetuk motivasi dan komitmen profesional guru. Ketiga mekanisme tersebut membentuk sebuah pola kepemimpinan (pattern of leadership) yang berbasis pada realitas. Dalam model ini, ketajaman kepala madrasah dalam mendiagnosis kondisi objektif lembaga menjadi fondasi krusial bagi penguatan kompetensi pedagogic guru Nahwu. Hal ini menegaskan bahwa efektifitas pengembangan kompetensi guru tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan program, melainkan pada sejauh mana strategi yang diambil mampu merespon dinamika dan kebutuhan spesifik yang berkembang di lingkungan madrasah.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kompetensi pedagogik guru Nahwu di Madrasah Diniyah Kecamatan Gempol berakar pada strategi kepemimpinan berbasis data. Strategi tersebut tidak lahir secara instan, melainkan hasil diagnosis kelembagaan yang komperehensif terhadap dinamika internal serta tantangan eksternal Madrasah. Pola ini menunjukkan bahwa efektivitas manajerial kepala madrasah sangat ditentukan oleh akurasi dalam memetakan kondisi riil organisasi sebelum merumuskan program pengembangan guru.
Melalui analisis SWOC, kepala madrasah mampu membaca kondisi riil lembaga secara lebih utuh baik dari segi kekuatan dan peluang yang dapat dikembangkan, maupun kelemahan serta tantangan yang perlu diatasi sehingga strategi yang dihasilkan bersifat adaptif, kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan nyata pengembangan kompetensi guru.
Dari sisi teoritis studi ini memuat argumen bahwa efektivitas kepemimpinan di institusi nonformal, seperti madrasah diniyah, sangat bergantung pada kepekaan pemimpin dalam membaca realitas lembaga. Keberhasilan strategi kepemimpinan tidak lagi sekadar berpijak pada aspek normatif-manajerial, melainkan pada pendekatan kontekstual-adaptif yang berbasis diagnosis internal. Hal ini menjadi kebaruan penting mengingat kepala madrasah diniyah memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan pendidikan formal, terutama dalam mengelola pembelajaran Ilmu Nahwu yang bersifat abstrak dan memerlukan pendekatan pedagogis khusus.
Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya kepala madrasah melakukan diagnosis kelembagaan secara berkala dan melaksanakan supervisi akademik secara sistematis guna memastikan peningkatan kompetensi pedagogik guru berlangsung secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kepemimpinan strategis kepala madrasah serta pengembangan budaya refleksi pedagogik di kalangan guru menjadi kebutuhan yang mendesak dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran nahwu.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak lembaga tempat penelitian dilaksanakan yaitu madrasah diniyah kecamatan gempol atas izin, dukungan, dan kerja sama yang diberikan selama proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para kepala madrasah diniyah, para guru dan informan yang telah berpartisipasi secara aktif serta memberikan informasi yang konstruktif bagi penyempurnaan penelitian ini. Selain itu, ucapan terimakasih kami sampaikan kepada rekan sejawat masiswa S2 MPI yang saling memberikan dukungan positif dalam proses penyelesaian penelitian ini. Harapan kami penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat khusus nya kepada madrasah diniyah kecamatan gempol dan menambah khazanah keilmuan pendidikan islam di madrasah diniyah secara umum.
A. Fauzi, “Pelaksanaan pendidikan madrasah diniyah di Kota Serang: Implementation of Islamic education in Serang City,” J. Pendidik. dan Kebud., vol. 1, no. 2, pp. 157–178, 2016.
A. Budairi, “Strategi kepala madrasah dalam mendayagunakan tenaga pendidik di Madrasah Diniyah Al-Bazariyyah Tempursari Wungu Madiun,” Pharmacogn. Mag., vol. 75, no. 17, pp. 399–405, 2021.
F. A. Djakfar, “Analisis problematika manajemen pendidikan pada Madrasah Diniyah Takmiliyah,” vol. 1, no. 1, pp. 14–27, 2024.
A. Indramawan, B. G. H., D. Miftahul, and K. Ketawang, “Pendampingan peningkatan mutu kinerja ustadz dan ustadzah dalam pembelajaran di Madrasah Diniyah Miftahul Khoirot Ketawang Gondang Nganjuk,” vol. 2, no. 2, pp. 145–158, 2023.
I. Suhayati, A. Desilawati, and R. Anwar, “Strategi peningkatan kompetensi guru madrasah Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya,” vol. 2, no. 1, pp. 1–19, 2023.
T. Nurlaela, J. A. Nasucha, and M. H. Rofiq, “Pemberdayaan Madrasah Diniyah: Meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam,” Interdiscip. J., vol. 1, no. 1, pp. 1–14, 2024.
N. Ainiy and Isnainiyah, “Pendampingan pengelolaan kurikulum Madrasah Diniyah di pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam,” La-Syaka J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 1–20, 2024.
A. S. Hidayatullah and I. Fauji, “Bridging theory and practice in Arabic language education,” Indones. J. Islam. Stud., vol. 11, no. 4, pp. 1–13, 2024, doi: 10.21070/ijis.v11i4.1724.
A. Supardi, A. Gumilar, R. Abdurohman, S. Al, and H. Tasikmalaya, “Pembelajaran Nahwu dengan metode deduktif dan induktif,” J. Keislam. dan Pendidik., vol. 3, no. 1, pp. 23–32, 2022.
I. Aziza, S. M. Mardhiyah, and D. Hilmi, “Efektivitas penggunaan metode Al Miftah Lil Ulum dalam pembelajaran Nahwu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bulupayung Malang,” Ebtida’ J. Pendidik. Dasar Islam, vol. 1, no. 2, pp. 106–116, 2021, doi: 10.33379/ebtida.v1i2.1031.
Rismawati et al., “Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru Madrasah Diniyah Nurul Jadid Pragaan Daya Sumenep,” Edupreneur J. Pendidik. dan Ekon., vol. 1, no. 1, pp. 21–32, 2023.
I. K. Putra, M. A. Wafa, and R. D. Rahmawati, “Strategi pembinaan kompetensi pedagogik dalam meningkatkan profesionalitas guru di Madrasah Aliyah Negeri 10 Jombang,” vol. 1, pp. 1–14, 2025.
J. Mandasari, M. E. Waluyo, and E. Harista, “Implementasi kompetensi pedagogik guru dalam mengelola pembelajaran di SD Negeri 2 Fajar Indah Kabupaten Bangka Selatan,” LENTERNAL: Learning and Teaching Journal.
I. F. Siti Amanah and M. Munawaroh, “Manajemen strategi kepala madrasah dalam memotivasi masyarakat menyekolahkan anaknya ke Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Darussalamah Losari Cirebon,” J. Islam. Educ. Manag., vol. 10, no. 1, pp. 1–52, 2022, doi: 10.21608/pshj.2022.250026.
P. M. P. N. RI, “Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah,” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pp. 1–21, 2018.
T. Arasoki, A. R. Abun, and A. Mashar, “Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru di MTs Muhammadiyah 1 Natar Lampung Selatan,” Unisan J., vol. 1, no. 3, pp. 916–925, 2022.
M. N. Prastiko and A. Supriyanto, “Strategi kepala sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru melalui peningkatan berkelanjutan,” Sch. J. Pendidik. dan Kebud., vol. 14, pp. 232–244, 2020.
P. M. Zaini et al., Metodologi Penelitian Kualitatif, 2023.
M. Nashrullah, E. F. Fahyuni, N. Nurdyansyah, and R. S. Untari, Metodologi Penelitian Pendidikan (Prosedur Penelitian, Subyek Penelitian, dan Pengembangan Teknik Pengumpulan Data). Sidoarjo: UMSIDA Press, 2023, doi: 10.21070/2023/978-623-464-071-7.
J. S. Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis, 3rd ed. United Kingdom: SAGE Publications Ltd., 2015.
Sidik Eli Lahagu, S.Si., M.Pd., and D. B. Kustiawan, Manajemen Pendidikan: Teori & Referensi Komprehensif untuk Pengembangan dan Kemajuan Pendidikan di Indonesia, 1st ed. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia, 2024.
H. I. Musnani and M. E. Mahmud, “Strategi kepala madrasah dalam meningkatkan motivasi dan kinerja guru,” Edusaintek J. Pendidik., Sains dan Teknol., vol. 11, no. 3, pp. 1039–1054, 2024, doi: 10.47668/edusaintek.v11i3.1093.
C. H. Zuharisdin Yusuf and A. Adib, “Model kepemimpinan kepala madrasah dalam peningkatan kompetensi pedagogik guru mata pelajaran Aqidah Akhlaq,” Unisan J., vol. 4, no. 9, pp. 264–272, 2025.
M. S. H. Feri Riski Dinata and Ermayanti, “Pendampingan implementasi pembelajaran diferensiasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif pada program diniyah,” Al-Khidmah J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 2, pp. 17–24, 2026.
D. Sugiarto and A. Kurniawati, “Pembelajaran berdiferensiasi sebagai pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik,” in Pros. Semin. Nas. Pendidik., 2021, pp. 45–52.
Y. C. and R. T. Yanli Li, “Linking instructional leadership and school support to teacher expertise: The mediating effect of teachers’ professional development agency,” Sustainability, vol. 15, no. 4, p. 3440, 2023, doi: 10.3390/su15043440.
C. C. Pratiwi and R. N. Sasongko, “School principal leadership in transmigration areas to improve the quality of education,” J. Konseling dan Pendidik., vol. 13, no. 3, 2025.
B. Sudibyo, “Permendiknas,” Jakarta, 2007.
M. I. Jauhari, “Upaya guru Fiqih dalam meningkatkan kompetensi pedagogik di madrasah,” Tarb. J. Ilm. Pendidik., vol. 4, no. 2, 2020.
S. Rizqiyah, “Pendekatan baru dalam pengembangan kompetensi pedagogical content knowledge,” Elem. J. Pendidik. Dasar, vol. 3, no. 1, pp. 14–19, 2025.
Zulhanan, “Pembelajaran bahasa Arab berbasis karakteristik peserta didik,” Arab. J. Pendidik. Bhs. Arab, vol. 5, no. 1, 2018.
P. Hallinger, “Instructional leadership and the school principal: A passing fancy that refuses to fade away,” Leadersh. Policy Sch., vol. 4, no. 3, 2005, doi: 10.1080/15700760500244793.
A. Rowikarim, “Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru di MTs. Ar-Rahmah Kota Tasikmalaya,” Hasbuna, vol. 6, no. 1, 2025.
Z. Cholidah and F. A. Muid, “Inovasi pembelajaran Nahwu dalam kurikulum bahasa Arab modern,” J. Pract. Learn. Educ. Dev., vol. 4, no. 3, pp. 184–189, 2024, doi: 10.58737/jpled.v4i3.352.