Login
Section Innovation in Mechanical Engineering

Work Posture Risk Classification Using OWAS QEC and Nordic Body Map

Klasifikasi Risiko Postur Kerja Menggunakan OWAS QEC dan Peta Tubuh Nordic
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Wiji Pranoto (1), Boy Isma Putra (2)

(1) Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Poor work posture in manual tasks is frequently associated with musculoskeletal complaints and reduced occupational safety. Specific Background Ergonomic assessment tools such as Ovako Work Posture Analysis System, Quick Exposure Check, and Nordic Body Map are commonly applied to evaluate physical workload and body discomfort among workers. Knowledge Gap However, integrated evaluation using multiple assessment methods within the same workplace remains limited, resulting in incomplete risk characterization. Aims This study aims to identify work posture risk levels, determine body parts experiencing discomfort, and propose corrective actions through combined OWAS, QEC, and Nordic Body Map assessments. Results Observational scoring and questionnaire analysis reveal several postures categorized as moderate to high risk, with dominant complaints in the back, shoulders, and lower limbs, indicating the need for immediate ergonomic intervention. Novelty The study provides a comprehensive cross-method comparison that strengthens consistency of risk identification within a single case study. Implications The findings support practical redesign of tasks, tools, and working positions to promote safer and more sustainable work systems in industrial settings.


Keywords: Ergonomics, Work Posture, Musculoskeletal Disorders, OWAS, Quick Exposure Check


Key Findings Highlights




  1. Several tasks classified into urgent corrective category




  2. Back and upper limb discomfort most frequently reported




  3. Task redesign proposed to reduce physical strain



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

A. Latar Belakang

PT. Indopack Printing merupakan industri yang bergerak di bidang offset printing dan packaging. PT. Indopack Printing merupakan industri yang bergantung pada job order dari pelanggan. Maka dari itu PT. Indopack Printing sangat mengedepankan kualitas dan inovasi yang terus menerus untuk dapat bersaing dengan kompetitor. Dalam menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi PT. Indopack Printing didukung oleh peralatan yang canggih dengan personil yang kompeten di bidangnya. Sarana dan prasarana produksi terus menerus dilakukan kegiatan

perawatan, perbaikan dan modifikasi untuk peningkatan produktivitas. Inovasi selalu dilakukan baik dari segi proses maupun bahan baku sehingga menciptakan proses yang efisien. Pemeriksaan produk dilakukan di setiap tahap pengerjaan mulai dari bahan baku, proses hingga produk jadi sebelum dikirim ke pelanggan untuk memastikan mutu sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan oleh pelanggan. Untuk menunjang proses produksi, PT. Indopack Printing memiliki 6 unit mesin cetak, 1 unit mesin varnish water base, 1 unit mesin varnish UV, 6 unit mesin plong otomatis, 5 unit mesin lem. Produktivitas karyawan dapat dipengaruhi dengan keadaan tempat kerja dimana operator melakukan pekerjaan. Keadaaan tempat kerja yang kurang baik dapat menurunkan performansi operator, karena operator bekerja dengan keadaaan yang tidak nyaman dan akibat hal tersebut maka akan menimbulkan risiko cedera dalam jangka waktu tertentu.

Permasalahan aktivitas pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama serta beban kerja dalam pekerjaan harus mendapat perhatian besar karena sering kali menimbulkan keluhan pada otot rangka/sistem muskuloskeletal. Dalam kegiatan protol sering kali sikap atau posisi pada saat bekerja yang tidak ergonomis sering diakibatkan oleh para pekerja yang kurang sesuai dengan antropometri, sehingga sangat mempengaruhi kinerja para pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Postur kerja yang tidak alami misalnya postur kerja yang terus-menerus jongkok, membungkuk, mengangkat, dan mengangkut dengan jangka waktu yang lama dapat menimbulkan ketidak nyamanan dan rasa nyeri pada anggota tubuh. Kelelahan dini pada pekerja juga dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat bahkan bisa terjadi kematian. Keluhan yang dirasakan oleh para pekerja bagian protol produksi pada bulan Desember 2021.

Hal ini yang menjadi dasar utama untuk memberikan penilaian postur kerja dan perubahan posisi kerja agar dapat diketahui tingkat keluhan dan rancangan perbaikan pola kerja sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya work- musculoskeletal disorders pada PT. Indopack Printing. Metode Nordic Body Map merupakan salah satu dari metode penilaian subyektif untuk menilai tingkat keparahan gangguan otot skeletal individu dalam kelompok kerja. Untuk mengetahui letak rasa sakit atau ketidak nyamanan pada tubuh pekerja digunakan body map. Nordic Body Mapmenggunakan lembar kerja kuesioner berupa peta tubuh (body map) yang menunjukkan bagian tubuh mana saja dari 28 bagian otot-otot skeletal yang mengalami gangguan kenyerian atau keluhan rasa sakit. Sedangkan QuickExposureCheck(QEC) merupakan salah satu metode pengukuran beban postur kerja yang diperkenalkan oleh Dr.Guanyang Li dan Peter Buckle. QEC berfokus menilai pada empat area tubuh seperti punggung, bahu atau lengan, pergelangan tangan, dan leher pada pekerja dengan tingkat risiko tertinggi terpapar oleh work-musculoskeletaldisorders(WMSDs) [1].

B. Ergonomi

Ergonomi merupakan ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keselutuhan menjadi lebih baik [2]. Selain itu, ergonomi juga dapat mengurangi beban kerja sehingga keselamatan dan kesehatan kerja pekerja terjamin, menurunnya penyakit akibat kerja, stres kerja berkurang, risiko cedera berkurang kepuasan kerja meningkat dan dan dapat meningkatkan produktivitas [3].

Tujuan penerapan ergonomi secara umum adalah [3]:

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, mencegah terjadinya cedera dan penyakit akibat kerja, mengurangi beban kerja baik fisik maupun mental, serta meningkatkan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan meningkatkan mutu komunikasi antar sesama, mengelola kerja secara efektif serta meningkatkan pertanggungan saat usia produktif ataupun tidak produktif.

3. Menciptakan kesetimbangan logis antar berbagai aspek agar tercipta mutu kerja dan mutu hidup yang tinggi. Secara umum, tujuan ergonomi antara lain: meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental sehingga dapat mencegah cedera dan penyakit akibat kerja, mengurangi beban kerja fisik dan mental, serta mengupayakan kepuasan kerja. Memahami prinsip-prinsip ergonomi akan memudahkan dalam mengevaluasi setiap tugas atau pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus berkembang dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan terus berubah [4]. Tujuan utama penerapan ergonomi adalah pencapaian kualitas hidup manusia secara optimal ditempat manusia itu berada [5].

C. Postur Kerja

Berbagai macam kondisi pada stasiun kerja yang tidak ergonomis dapat mengakibatkan postur kerja yang tidak alamiah seperti jongkok, duduk membungkuk, dan lain sebagainya. Postur kerja adalah posisi tubuh saat melaksanakan kegiatan yang terhubung dalam rancangan stasiun kerja. Posisi tubuh yang tidak alamiah seperti menyimpang secara signifikan dari posisi normal tubuh pada saat melakukan pekerjaan disebut postur janggal (awkward posture). Kelelahan biasanya timbul saat posisi postur jangal dikarenakan perpindahan tenaga otot ke jaringan rangkatubuh tidak normal. Kondisi kegiatan pengulangan waktu lama dalam posisi janggal yang tidak normal adalah posisi tubuh berputar (twisting), memiringkan posturbadan, berlutut, jongkok, memegang dalam kondisi statis [6].

Postur kerja operator yang ergonomis sudah barang tentu baik untuk operator sendiri dan untuk perusahaan

tersebut. Bagi pekerja agar supaya pekerjaan tersebut tidak menimbulkan dampak negative terhadap kesehatan pekerja misalnya kelelahan (fatigue) atau bahkan cidera. Bagi perusahaan dengan terhindarnya pekerja dari cidera maka tidak akan mengganggu kegiatan produksi yang dikarenakan tidak hadirnya pekerja dikarenakan cidera [7].

D. Quick Exposure Check (QEC)

QEC adalah bagian dari penilaian risiko pekerjaan yang terkait dengan masalah otot, digunakan untuk memutuskan bahaya cedera pada masalah stuktur otot dengan menilai 4 bagian tubuh seperti bahu dan lengan, leher, punggung, dan pergelangan tangan yang terpapar risiko terjadinya gangguan musculoskeletal disorders pada seorang operator [8]. QEC merupakan satu dari beberapa metode untuk menilai tingkat risiko kerja terkait dengan gangguan pada otot saat bekerja. Metode ini memeriksa posisi leher, bahu, punggung dan pergelangan tangan. QEC berguna dalam mencegah gangguan musculoskeletal seperti gerakan berulang, gaya tekan, postur tubuh yang buruk, dan pekerjaan yang berkepanjangan [9]. Tahap-tahap dalam menggunakan metode Quick Exposure Check (QEC) sebagai berikut [10]:

1. Menentukan Exposure Score

Terdapat dua jenis data kuesioner yang diberikan kepada pengamat dan operator.

Figure 1. Tabel1. Standar QuickExposureCheckPengamat

Figure 2. Tabel2. Standar QuickExposureCheckOperator

Dari standar quickexposurecheckpengamat dan operator tersebut didapatkan data yang digunakan untuk penentuan exposure score pada setiap area tubuh. Hasil dari kuesioner pengamat dan operator akan dikombinasikan oleh lembar kerja exposure scoring sheet yang kemudian diberikan skor sesuai dengan pilihan yang ada.

Score Exposure Score
Low Moderate High Very High
Punggung (Statis) 8-15 16-22 31-40 41-56
Punggung(Bergerak) 10-20 21-30 31-40 41-56
Bahu/Lengan 10-20 21-30 31-40 41-56
PergelanganTangan 10-20 21-30 31-40 41-56
Leher 4-6 8-10 12-1 16-18
Table 1. Tabel 3. Exposure Score

Sumber: [1]

Figure 3. Gambar1. ExposureScore

Total skor untuk area tubuh ditentukan dari interaksi antara exposure level untuk factor sakit tubuh yang relvan dengan faktor lainnya. Faktor lainnya seperti pada tabel 2.

Punggung Bahu/Lengan Tangan/Pergelangan Leher
Beban Berat Beban Berat Kekuatan Durasi
Durasi Durasi Durasi Postur
Frekuensi Pergerakan Beban Berat Frekuensi Pergerakan Permintaan Visual
Pergerakan Postur Frekuensi Pergerakan Postur
Table 2. Tabel4.Faktor Quick Exposure Check

a. Penentuan Exposure Level

Untuk mendapatkan nilai exposure level, diberikan perhitungan hasil besar persentase dari pembagian total skor (X) dengan total maksimum skor (Xmax). Formula perhitungannya sebagai berikut:

Figure 4.

Sumber: [1]

b. Penentuan Kategori Resiko

Dari perhitungan exposure score, kemudian melakukan pengkategorian resiko dan level tindakan yang perlu dilakukan untuk aktivitas kerja tersebut sesuai dengan tabel 3.

Total ExposureLevel Action
<40% Normal
40-49% Perlu ditinjau dengan penelitian lanjutan
50-69% Ditinjau penelitian lanjutan dan perbaikan
≥70% Dilakukan penelitian dan perbaikan segera
Table 3. Tabel5.Penentuan Kategori Resiko

c. Teknik Analisis Antropometri

1. Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data berguna untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dapat dianggap mencukupi. Perlu ditentukan derajat ketelitian (s) yang menunjukan pentimpangan maksimum, serta tingkat kepercayaan (k) yang menunjukan keyakinan pengukur akan ketelitian data antropometri.

Figure 5.

Sumber: [11]

Data dapat dianggap sudah mencukupi jika memenuhi persyaratan N’≤ N, dengan kata lain jumlah data secara teoritis lebih kecil daripada jumlah data pengamatan sebenarnya.

2. Uji Keseragaman Data

Uji keseragaman data dilakukan untuk membuat data berada didalam batas kontrol, data yang berada diluar batas control dibuang guna mendapatkan data yang seragam. Sevelum melakukan uji keseragaman data perlu dilakukannya mean dan standar deviasi untuk mengetahui BKA dan BKB.

Figure 6.

Sumber: [11]

3. Perhitungan Persentil

Persentil merupakan suatu nilai untuk menunjukan presentase tertentu untuk orang-orang yang mempunyai ukuran tertentu atau lebih rendah. Pada umumnya persentil yang digunakan adalah P5, P50, P95.

Figure 7.

Sumber: [10]

Pada rumus tersebut nilai 1.645 merupakan ketetapan (konstanta). Setelah mendapatkan nilai persentil untuk masing-masing data antropometri maka tahap berikutnya ialah perhitungan ukuran rancangan. Adapun jenis data antropometri yang digunakan dalam perancangan sebagai berikut [10]:

a. Tinggi sandaran kursi

Penentuan tinggi sandaran kursi menggunakan pengukuran tinggi bahu duduk (TBD) dengan persentil 50 bertujuan supaya bisa mencangkup pengguna dengan persentil 5 dan persentil 95.

b. Tinggi sandaran alas menulis

Penentuan tinggi sandaran alas menulis menggunkan data pengukuran tinggi siku duduk (TSD) dengan persentil 5 bertujuan supaya pengguna dengan populasi terkecil dapat menggunakan fasilitas tersebut.

c. Tinggi alas duduk

Penentuan tinggi alas duduk menggunakan data pengukuran tinggi popliteal (TP) dengan persentil 5 bertujuan supaya populasi minimal dapat menggunakan fasilitas tersebut

d. Lebar alas duduk

Penentuan lebar alas duduk menggunakan data ukuran lebar pinggul (LP) dengan persentil 50 bertujuan supaya pengguna dengan populasi 5 dan populasi 95 dapat menggunakan fasilitas tersebut.

e. Panjang alas menulis

Penentuan panjang alas menulis memakai data pengukuran panjang lengan bawah (PLB) dengan persentil 5 bertujuan supaya pengguna dengan persentil 5 dapat menyesuaikan dengan fasilitas tersebut.

f. Panjang kursi

Penentuan panjang kursi menggunakan data pengukuran pantat popliteal (PPO) dengan persentil 5 bertujuan supaya pengguna dengan persentil 5 dapat menggunakan fasilitas tersebut.

E.Nordic Body Map

Nordic body map (NBM) merupakan sebuah kuesioner yang paling sering digunakan untuk meneliti rasa sakit yang dirasakan oleh tubuh. Kuesioner yang berisi gangguan bagian area tubuh akan diisi oleh responden sesuai keluhan yang dialami. NBM digunakan untuk mengetahui lokasi secara detil letak keluhan atau nyeri pada tubuh saat dalam kondisi bekerja. Dengan metode ini dapat diketahui letak dan diberikan penilaian keluhan nyeri yang dialami. Kuesioner ini sering digunakan untuk mengetahui rasa tidak nyaman dan keluhan karena sudah terstandarisasi [12]. Adapun kelebihan dari kuesioner NBM adalah bersifat subjektif yang berarti keberhasilan sangat bergantung pada dan situasi yang dialami oleh pekerja dan keahlian dari analisis observer. Juga metode ini dirasa memiliki validitas dan reabilitas yang cukup [5].

Figure 8. Gambar 2.Kuesioner NordicBodyMap

Figure 9. Gambar 2.Kuesioner NordicBodyMap

Penilaian penulisan kuisioner pembobotan NordicBodyMapdapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Bobot untuk skala tidak sakit dilambangkan dengan angka 1.
  2. Bobot untuk skala agak sakit dilambangkan dengan angka 2.
  3. Bobot untuk skala sakit dilambangkan dengan angka 3.
  4. Bobot untuk skala sangat sakit dilambangkan dengan angka 4.

Untuk menunjukkan lebih jelas tingkat resiko pada masing–masing bagian tubuh. Setelah itu diberikan tanda yang berbeda pada pekerjaan yang berbeda, sesuai ketentuan seperti pada tabel 5.

Range Tingkat Resiko Warna
28-49 Rendah Biru
50-70 Sedang Hijau
71-91 Tinggi Kuning
92-112 Sangat Tinggi Merah
Table 4. Tabel6.Kategori Warna Berdasarkan Tingkat Resiko

Sumber: [2]

Metode

A. Waktu Dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Indopack Printing bertempat di Desa Tempuran, Kecamatan Pungging kabupaten Mojokerto. Penelitian ini dilakukan secara langsung ke lapangan dan bekerja sama dengan bagian protol produksi. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 5 bulan, mulai dari bulan 1 September 2021 sampai dengan bulan Maret 2022.

B.   Pengolahan Data

Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data maupun keterangan yang didapat secara langsung dari sumbernya, sementara itu data sekunder yaitu keterangan yang didapat dari pihak kedua, dapat berupa orang ataupun catatan seperti buku dan lain-lain, laporan yang bersifat dokumentasi. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu

1. Wawancara

Wawancara adalah metode tanya jawab dengan responden PT. Indopack Printing guna mendapatkan data yang diinginkan serta keterangan responden yang berhubungan dengan objek penelitian berdasarkan pada tujuan penelitian. Informasi yang dibutuhkan adalah informasi mengenai kuluhan pada pekerja bagian protol produksi.

2. Observasi

Observasi adalah sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung di tempat penelitian. Observasi biasanya dilakukan dengan cara turun secara langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku serta aktivitas individu yang berada di lokasi penelitian. Metode ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana aktivitas para pekerja protol produksi di PT. Indopack Printing yang meliputi aktivitas produksi.

3. Kuisoner

Kuesioner adalah sebuah metode dengan cara mengumpulkan data dengan memberikan atau menyebarkan pertanyaan kepada responden dengan tujuan para responden bisa memberikan respon secara real terhadap pernyataan yang diberikan.

4. Dokumentasi

Dokumentasi adalah sebuah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yang digunakan untuk mendapatkan data sekunder serta informasi yang relevan dan bersumber dari tulisan ataupun dokumentasi yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Metode dokumentasi digunakan untuk menelusuri data historis dengan meneliti dokumen, catatan, arsip serta laporan penelitian yang sudah ada sehingga bisa menunjang pelaksanaan penelitian tersebut yang didapat dari sumber – sumber resmi yang bisa dipertanggung jawabkan.

C. Alur Penelitian

Berikut merupakan diagram alir penelitian terlihat pada gambar 4 yang akan digunakan sebagai acuan peneliti selama melakukan proses penelitian agar penelitian yang dilakukan ini dapat diselesaikan dengan terarah serta tersusun dengan baik untuk mempermudah dalam proses penganalisaan penelitian dengan cara membuat langkah- langkah dari penelitian.

Figure 10. Gambar3.Diagram Alir Penelitian

Hasil dan Pembahasan

A. Rekapitulasi Score Kuesioner Nordic Body Map

Setelah kuesioner Nordic Body Map terisi kemudian akan dilakukan rekapitulasi score untuk mengetahui tingkat resiko operator. Rekapitulasi score dapat dilihat pada tabel 6.

Stasiun Kerja Operator Score Tingkat Resiko Warna
Protol Darto 64 Sedang Hijau
Khoirul 61 Sedang Hijau
Table 5. Tabel7.Rekapitulasi Score Kuesioner NordicBodyMap

Berdasarkan tabel 6 total score dari stasiun kerja protol menunjukkan tingkat resiko cidera kerja pada operator Darto dan Khoirul menghasilkan tingkat resiko kerja yang sedang sesuai dengan tabel 5 untuk tingkat resiko sedang bewarna hijau.

Dari rekapitulasi score tersebut terdapat keluhan sakit sekali pada bagian punggung dan untuk tingkat keluhan sakit yang dirasakan pekerja protol produksi yaitu pada bagian leher atas, bahu bagian kanan, pinggang, bokong, pantat, pergelangan tangan kanan, untuk tingkat keluhan agak sakit yang dialami oleh pekerja protol produksi yaitu terjadi pada bagian leher bagian bawah, lengan atas kanan, siku kanan, lengan bawah kanan, pergelangan tangan kanan, sakit pada lengan kanan, pada kaki kiri, dan juga pada kaki kanak. Hal tersebut disebabkan karena posisi para pekerja yang berubah-ubah dari tegak hingga membungkuk dalam proses protol produksi. Untuk mengoptimalkan kinerja dan meningkatkan kenyamanan pekerja maka hasil akan dianalisis lebih lanjut dengan analisis metode QuickExposureCheck(QEC).

B. Data Rekapitulasi Kuisioner Quick Exposure Check (QEC)

Penilaian postur kerja dengan penyebaran kuesioner QuickExposureCheck(QEC) terdiri dari kuesioner pengamat (observer) dan kuisioner pekerja dengan mengamati 2 orang pekerja bagian protol produksi. Data rekapitulasi nilai exposure score dari pekerja bagian protol produksi yang bekerja pada di PT. Indopack Printing pada tabel 7.

Anggota Tubuh yang Diamati Nilai Exposure Score pekerja protol produksi
Darto Khoirul
Punggung (Statis) 30 24
Punggung (Bergerak) - -
Bahu/Lengan 40 26
Pergelangan Tangan 28 32
Leher 16 16
Pengoperasian 1 1
Getaran - -
Kecepatan Kerja 4 4
Stres 4 4
Total Nilai Exposure Score 123 107
Table 6. Tabel8.Rekapitulasi Score Kuesioner QuickExposureCheck (QEC)

Berdasarkan Tabel8menunjukkan bahwa pada proses pekerja protol Darto nilai exposurescorepada punggung sebesar 30 berdasarkan Tabel6, nilai exposurescoreuntuk tingkat resiko terjadinya cidera pada punggung termasuk dalam kategori sedang. Nilai exposure score pada bahu atau lengan sebesar 40 dalam kategori tinggi. Nilai exposurescorepada pergelangan tangan sebesar 28 dalam kategori sedang dan nilai exposure score pada leher sebesar 16, termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Berdasarkan Tabel8menunjukkan bahwa pada proses protol untuk pekerja Khoirul nilai exposurescorepada punggung sebesar 24 berdasarkan Tabel6, nilai exposurescoreuntuk tingkat resiko terjadinya cidera pada punggung termasuk dalam kategori sedang. Nilai exposurescorepada bahu atau lengan sebesar 26 dalam kategori sedang. Nilai exposurescorepada pergelangan tangan sebesar 32 dalam kategori tinggi dan nilai exposurescorepada leher sebesar 16, termasuk dalam kategori sangat tinggi.

C. Perhitungan Nilai Exposure Score Level Berdasarkan Metode Quick Exposure Check (QEC)

Berdasarkan hasil nilai exposure score, maka selanjutnya dilakukan perhitungan nilai exposure level. Berikut ini adalah perhitungan nilai exposure level untuk masing-masing pekerja protol Darto dan Khoirul:

Figure 11.

Figure 12.

Hasil dari nilai exposure level dikelompokkan berdasarkan action level metode Quick Exposure Check (QEC). Berdasarkan Tabel 5 adapun action level untuk postur kerja protol 1 dan protol 2 pada PT. Indopack Printing yaitu untuk pekerja protol 1 berdasarkan hasil diatas maka action perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan, sedangkan untuk pekerja protol 2 berdasarkan hasil diatas maka action level nya perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan.

D. Usulan Perbaikan

Figure 13.

Dari rancangan meja tersebut merupakan penambahan fasilitas kerja pada bagian protol produksi untuk menghindari kelelahan yang berlebihan dan lebih nyaman dengan posisi berdiri dalam pekerjaan protol produksi. Penilaian postur kerja pada pekerja protol produksi setelah dilakukan perbaikan posisi yaitu pungung tegak posisi siku tangan lurus dan posisi leher tidak menunduk. Berikut gambar posisi pekerja sebelum adanya perbaikan dan setelah perbaikan, dengan adanya penambahan meja kerja pada area protol produksi.

Figure 14. Sebelum

Figure 15. Sesudah

Hasil analisia postur kerja setelah perbaikan untuk mengetahui baik tidaknya tingkat risiko postur kerja maka akan dilakukan perbandingan antara postur kerja awal yaitu postur kerja sebelum diadakannya perbaikan dengan usulan postur kerja yang baru yaitu postur kerja yang telah dilakukan perbaikan. Sebelum perbaikan postur kerja protol pada saat meletakkan barang, pekerja dengan posisi membukuk dan leher menunduk yang berlebihan, setelah dilakukan perbaikan dengan adanya penambahan meja kerja pada area protol produksi di PT Indopack Printing pekerja sudah tidak perlu membungkuk dan leher tidak menunduk lagi, sehingga dengan adanya perbaikan postur kerja tersebut dapat menurunkan tingkat risiko cedera pada pekerja protol produksi dapat bekerja lebih aman dan nyaman.

Kesimpulan

Dari hasil pengolahan data di atas postur kerja protol produksi pada saat mengerjakan barang, pekerja dengan posisi membungkuk, tangan terlalu kebawah dan leher menunduk yang berlebihan yang menyebabkan resiko keluhan cedera otot yang besar dan cepat lelah pada saat pengerjaan protol. Postur kerja pada stasiun kerja protol produksi pada saat penataan barang dengan posisi punggung membungkuk, tangan yang tertekuk yang menyebabkan cepat lelah dan memiliki risiko cidera otot Musculoskeletal Disorders (MSDs). Fasilitas kerja yang diusulkan pada proses protol produksi berupa meja tinggi yang digunakan dalam proses protol produksi baik untuk penataan ataupun pengerjaan barang. Sehingga pekerja bisa bekerja dengan lebih efisien dan nyaman, dan tidak menimbulkan risiko cidera bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih diberikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan pihak PT. Indopack Printing sebagai tempat penelitian.

References

[1] D. Purbasari, “Body Posture Analysis of Workers Using the Ovako Work Posture Analysis System Method,” Jurnal Teknik Industri, vol. 1, no. 2, 2017.

[2] Tarwaka, S. HA, Bakri, and L. Sudiajeng, Ergonomi Untuk Keselamatan Kesehatan Kerja Dan Produktivitas. Surakarta: UNIBA Press, 2004.

[3] I. Mindhayani, “QEC Method for Worker Posture Assessment at Metal Tower Industry,” Jurnal Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri, vol. 16, no. 1, pp. 90–100, 2019.

[4] A. N. Amri and B. I. Putra, “Ergonomic Risk Analysis of Musculoskeletal Disorders Using ROSA and REBA Methods on Administrative Employees,” Journal of Applied Engineering and Technological Science, vol. 4, no. 1, pp. 104–110, 2022.

[5] Tarwaka, Penilaian Risiko Gangguan Sistem Muskuloskeletal Dalam Ergonomi Industri. Solo: Harapan Press, 2010.

[6] A. Purbasari, M. Azista, and B. A. H. Siboro, “Ergonomic Work Posture Analysis on Printing Operators Causing Musculoskeletal Risk,” Sigma Teknika, vol. 2, no. 2, pp. 143–150, 2019.

[7] H. A. Hutabarat, Eddy, and N. Panjaitan, “Work Posture Analysis Using Quick Exposure Check Method,” Jurnal Simetri Rekayasa, vol. 2, no. 1, pp. 91–99, 2020.

[8] E. Pertiwi, I. Sujana, and T. Wahyudi, “Work Posture Improvement Proposal Using Nordic Body Map and Quick Exposure Check,” Integrate Industrial Engineering and Management System, vol. 6, no. 1, pp. 1–7, 2022.

[9] A. Y. Mufied and D. Herwanto, “Worker Posture Analysis Using Quick Exposure Checklist and Rapid Upper Limb Assessment in Bag Filling Section,” Jurnal Serambi Engineering, vol. 8, no. 2, pp. 5720–5728, 2023.

[10] Anwardi, Harpito, and M. R. Ridha, “Design of Assistive Tool to Improve Employee Posture Using Quick Exposure Checklist,” Jurnal Teknik Industri, vol. 4, no. 2, pp. 118–125, 2018.

[11] F. Hadiyansyah, S. Juhara, and M. Rahayu, “Ergonomic Lecture Chair Redesign Using Anthropometric Approach,” Jurnal Pendidikan dan Aplikasi Teknik, vol. 8, no. 2, pp. 102–106, 2021.

[12] R. Krismanto and A. N. Hidayat, “Ergonomic Risk Identification Using Nordic Body Map on Final Inspection Operators,” in Prosiding SAINTEK Sains dan Teknologi, vol. 1, no. 1, 2022.

[13] A. S. Rezki, A. H. Maksum, D. Herwanto, and M. T. Rachmat, “Work Posture Risk Analysis Using Nordic Body Map, RULA, and REBA in Manual Material Handling,” Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri, vol. 7, no. 2, pp. 86–94, 2023.

[14] N. F. Dewi, “Ergonomic Risk Identification Using Nordic Body Map on Outpatient Nurses,” Jurnal Sosial Humaniora Terapan, vol. 2, no. 2, 2020.

[15] A. Zulfahmi, I. Sujana, and Y. E. Prawatya, “Design of Seasoning Mixer Tool Using Nordic Body Map and Anthropometric Approach,” Jurnal Teknik Industri Universitas Tanjungpura, vol. 4, no. 2, pp. 30–36, 2020.