Login
Section Innovation in Industrial Engineering

Donut Production Sigma Level and Strategic Positioning

Tingkat Sigma Produksi Donat dan Posisi Strategis
Vol. 26 No. 2 (2025): April:

Hadid Rinaldo (1), Wiwik Sulistiyowati (2)

(1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Quality control and risk management are essential in food-based small enterprises to maintain product consistency and operational stability. Specific Background: UD Darjo’s Donut’s experienced recurring production defects exceeding internal tolerance limits, requiring structured process evaluation and strategic formulation. Knowledge Gap: Limited studies integrate quantitative Six Sigma measurement with strategic SWOT positioning in small-scale donut production systems. Aims: This study aims to measure process capability using the Six Sigma DMAIC framework and formulate business strategies through SWOT analysis. Results: Five dominant defect types were identified, including undercooked dough, burnt surface, inconsistent shape, wrinkled texture, and hollow structure. The average process capability reached 3.78 sigma across six observation periods, with values ranging from 3.64 to 4.00. SWOT mapping positioned the enterprise in Quadrant I, indicating strong internal conditions and favorable market opportunities. Novelty: The study combines sigma-level evaluation with strategic quadrant mapping within a food MSME context. Implications: The findings support structured quality monitoring and aggressive growth strategies aligned with internal strengths and external opportunities.


Keywords: Six Sigma, Quality Control, SWOT Analysis, Process Capability, Food MSME


Key Findings Highlights




  1. Five dominant defect categories were systematically identified in production.




  2. Average process performance reached 3.78 across six periods.




  3. Strategic mapping indicated a strength-opportunity configuration.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

A. Latar Belakang

UD. Novret Collection ialah industri rumahan yang menciptakan serta menawarkan koleksi tas terbaik dengan kualitas terbaik. Berbagai produk yang diproduksi oleh UD. Novret Collection meliputi tas wanita, tas ransel, tergantung pesanan pelanggan. Namun dalam menjalankan proses produksinya, UD. Novret Collection masih sering menghadapi berbagai permasalahan. Salah satu masalahnya adalah praktik pengendalian kualitas yang tidak optimal mengakibatkan kegagalan produk selama proses produksi.

Masalah pada UD. Novret Collection adalah banyak kegagalan produk yang terjadi pada proses produksi karena kurangnya perhatian terhadap pengendalian kualitas. Oleh karena itu, perusahaan harus meningkatkan kualitas untuk meminimalkan kegagalan produk. Industri rumahan ini memproduksi ragam tas wanita dan mengalami masalah terkait kegagalan produksi setiap bulannya. Industri rumahan ini menargetkan kegagalan, yaitu maksimal 5% dari total produksi setiap bulan nya, namun kecacatan yang terjadi melebihi perkiraan [1].

Usaha kecil dan menengah (UKM) ialah unsur pokok pada bidang ekonomi di Indonesia. Peran UKM antara lain

(1) menunjang perekonomian daerah sekitar usahanya yaitu segala sesuatu usaha apa pun yang berada pada satu daerah yang bisa diambil manfaatnya oleh warga sekitar. (2) Menciptakan lapangan kerja adalah proses mengembangkan dan menciptakan lapangan kerja baru dan peluang kerja bagi masyarakat. (3) Meningkatkan penerimaan negara melalui pajak dan ekspor dengan memperhatikan perpajakan baik di dalam dan luar negeri. (4) Usaha kecil dan menengah bertujuan untuk menciptakan inovasi karena dapat memaksimalkan serta menunjang peningkatan kapasitas juga iklim persaingan UMKM [2].

Risiko adalah peluang suatu peristiwa yang mampu mempengaruhi tujuan penting dalam periode waktu tertentu. Kerugian kecil dapat menjadi sebuah risiko, begitu pula kerugian besar yang mempunyai dampak nyata. Manajemen risiko dan perencanaan risiko yang tepat dapat membantu bisnis mencegah ancaman, mengurangi dampak negatif, dan menetapkan metode untuk mengatasi ancaman[3].

Senantiasa ada risiko ketidakpastian yang tidak terduga, yang dapat mengakibatkan kerugian berlipat ganda yang harus diterima oleh bisnis. Hal ini juga berlaku untuk tiap usaha kecil dan menengah (UKM) yang tak mempunyai basis permodalan yang cukup kuat, sehingga menimbulkan risiko yang dapat mengakibatkan terhentinya usaha, kerugian finansial, dan bahkan kebangkrutan[4].

Penelitian ini hanya dilakukan analisis resiko kualitas produk pada tas, dikarenakan pada UD. Novret Collection produk tas merupakan produk yang sangat banyak diproduksi. Pada bulan Juni sampai dengan bulan November 2023 produksi tas sebanyak 24.000 pcs dengan total kecacatan sebanyak 4540 pcs (5,29%), untuk tas selempang diproduksi sebanyak 6.500 pcs dengan total kecacatan 1290 pcs (5,04%), tas ransel diproduksi sebanyak 7.500 pcs dengan total kecacatan 1405 pcs (5,34%), dan tas hand bag di produksi sebanyak 10.000 pcs dengan total kecacatan 1870 pcs (5,35%). Sehingga hanya produk tas hand bag saja yang akan dianalisis kecacatan produk dikarenakan tas hand bag memiliki persenntase kecacatan tertinggi pada 6 bulan terakhir.

Untuk melakukan analisis resiko kualitas pada penelitian yang dilakasanakan peneliti dengan melibatkan metode House of risk (HOR) yang ada di produksi tas di UD. Novret Collection. Strategi House of risk (HOR) ialah penyempurnaan dari strategi FailureModesandEffectofAnalysis(FMEA) juga model House of Quality (HOQ) yakni berfokus pada pengembangan langkah pencegahan yang mengarah pada berbagai resiko. Metode Houseofrisk(HOR) dilibatkan dalam mengembangkan strategi penanganan guna mengurangi dampak efek yang disebabkan oleh sumber risiko[5]. Metode Houseofrisk(HOR) dipisah jadi 2 langkah diantaranya HOR 1 guna memastikan aspek resiko mana yang harus diperhatikan lebih dulu yang akan diberi langkah penanganan, sedangkan HOR 2 memperhatikan langkah- langkah strategis yang mana yang butuh dilaksanakan pertimbangan yakni di segi bidang sumber daya manusia ataupun pendanaan yang dibutuhkan[6].

Beberapa penelitian yang sudah dilaksanakan sebelumnya dikaji guna memperkuat penelitian yang hendak dilaksanakan yakni didalamnya ada penelitian Mulyaningtyas [7] yang menganalisis tentang identifikasi risiko dan penyebab risiko yang muncul dalam aktivitas proses produksi PT.XYZ dengan menggunakan metode HOR sehingga dapat diberikan usulan dalam menghadapi risiko tersebut. Penelitian dari Romadon membahas tentang Identifikasi dan penganalisisan efek rantai pasok menggunakan metodologi Houseofrisk (HOR) yang punya tujuan guna menunjang identifikasi terkait riskagentserta riskevent, melakukan analisis risiko untuk menentukan prioritas dan merencanakan strategi perbaikan untuk perusahaan[8]. Penelitian dari Purwaningsih membahas tentang resiko kecacatan produk pada PT.Cahaya Maju Bahagia dengan pemakaian metode House of risk (HOR) yang punya tujuan guna mempunyai framework yang bisa menganalisis totalitas proses dalam analisis manajemen risiko. [9] Penelitian dari Ulfah membahas tentang mitigasi resiko yang muncul di UMKM Nicesy lewat Strategi Houseofrisk(HOR) yang bertujuan guan penunjang identifikasi risiko serta sumber risiko yang bisa muncul ketika tindakaan jalannya memproduksi serta memastikan aksi mitigasi yang diprioritaskan di UMKM Nicesy[10].

Dalam penelitian yang dilaksankan ada pembeda di penelitian terdahulu yakni dengan melibatkan langkah House of risk (HOR) yang dilibatkan guna menyusun pemepntingan manajemen konsekuensi yang bertujuan guna meminimalisir akibat dari risiko yang munculnya dari sumber risiko.

Tujuan Penelitian : (1) Mengetahui nilai ARP tertinggi dengan menggunakan metode House of risk (HOR), (2) Adanya strategi guna mitigasi efek dengan menggunakan metode SWOT untuk perbaikan pada produksi tas UD. Novret Collection.

Metode

Dari Juli 2023 hingga Desember 2023, periode enam bulan, didedikasikan untuk proyek penelitian ini. menyelesaikan pengolahan data setelah pengumpulan data. Di Desa Kalisampurno, RT 17 RW 05, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, penghimpunan data diselenggarakan di UD. Novret Collection. Ada 2 data yang dipakai ketika penelitian dilaksanakan yakni: primer juga sekunder. Wawancara serta observasi dilibatkan guna menghimpun data primer. Gambaran umum perusahaan, volume produksi, data banyaknya serta ragam kegagalan produk, juga data banyaknya produksi yang masuk dalam data sekunder yang diperlukan guna penelitian ini yang didapat dari perusahaan.

Berikut merupakan langkah penelitian yang bisa diperhatikan dalam Gambar 1 berikut.

Figure 1. Gambar1.Diagram Alir Penelitian

Observasi pendahuluan merupakan langkah awal yang dilakukan untuk menganalisis perusahaan secara umum, dilanjutkan untuk melaksanakan kajian lapangan serta kajian pustaka. Kajian lapangan untuk menggali informasi guna lebih detail mengenai tingkat risiko penyebab terjadinya kegagalan produk pada saat proses produksi tas UD. Novret Collection melalui wawancara dan pengamatan. Studi pustaka untuk mengumpulkan materi serta informasi yang keterhubungan pada penelitian yang dilaksanakan. Yang mana materi yang digunakan oleh peneliti adalah bersumber dari jurnal, buku, serta penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Perumusan masalah dilakukan untuk menganalisa resiko pada produksi tas UD. Novret Collection lewat pemakaian strategi House of risk (HOR), sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya yakni tujuan rekomendasi perbaikan untuk meminimalisir terjadinya risiko. Menentukan batasan dan tujuan dilakukan untuk mendefinisikan tujuan dilakukannya penelitian.

Data yang diambil dalam penghimpunan data yang didalamnya ada 2 data, diantaranya data utama serta data pendukung. Data utama didapatkan lewat jalannya pengamatan juga wawacara. Observasi merupakan tindakan pengamatan yang diselenggarakan pada sisi produksi dan quality control, membuat catatan data lewat pengamatan tersebut, serta mengurai objek yang jadi konsen penelitian guna mendapatkan keterangan yang dibutuhkan seperti data produksi serta ragam kegagalan dimana terjadi pada setiap produk untuk mengidentifikasi aspek yang menyebabkan kecacatan. Karyawan yang bertanggung jawab atas kontrol kualitas serta pemilik mitra diwawancarai. Orang yang diwawancarai merekalah yang ikut serta langsung pada masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah orang-orang yang dipilih untuk prosedur wawancara. Data wawancara berisi rincian mengenai proses produksi dan ragam kesalahan yang muncul dari awal prosedur hingga produk selesai. Data sekunder pada penelitian ini merupakan tinjauan umum yang linier dengan peneitian dan diambil dari base data perusahaan meliputi data banyaknya produksi, data banyaknya kegagalan produk serta data ragam kegagalan produk.

Dalam pengelolaan data peneliti melibatkan strategi House of risk (HOR). Pada pendekatan itu, pengolahan data menjadi dasar pengelolaan konsekuensi yang akan punya fokus di peminimalisiran, yaitu menurunkan kemungkinan terjadinya aspek risiko. Berkaitan dengan hal tersebut, Step awal yang diselenggarakan yakni lewat cara melaksanakan identifikasi masalah risiko serta aspek risiko. Seringkali dalam sebuah produsen bisa menimbulkan banyak masalah risiko [11]. Dalam strategi House of risk (HOR), diselenggarakan lewat 2 tahapan yakni:

1. HOR Tingkatan 1

Yaitu langkah identifikasi efek memilih aspek akibat efek yang haruslah diprioritaskan guna usaha meminimalisir. Setiap tingkatan melaksanakan identifikasi peristiwa efek yang kemungkinan terlaksana di tiap pengerjaan, membuat perkiraan konsekuensi dari beragam kejadian efek, melaksanakan identifikai sumber efek,serta mengevaluasi perkiraan terjadinya dari tiap sumber konsekuensi. Membuat matriks keterhubungan yang berisi daftar keterhubungan antara tiap sumber risiko serta tiap kemunculan risiko adalah tahap selanjutnya. Setelah membuat matriks keterhubungan, sumber-sumber risiko diurutkan seperti pada gabungan kemungkinan konsekuensi. Hal ini dilakukan dengan menghitung himpunan potensi risiko yang diidentifikasi jadi output di perkiraan terjadinya asal risiko yang dimunculkan karna asal risiko. Salah satu aspek dari dampak kegagalan yang terkait dengan keseriusannya adalah tingkat keparahannya dengan kriteria sebagai berikut, 1 neglible severity (pengaruh buruk yang dapat diabaikan), 2-3 mild severity (pengaruh buruk yang ringan), 4-6 Moderate severity (pengaruh buruk menengah), 7-8 high severity (pengaruh buruk yang tinggi), dan 9-10 potential severity (pengaruh buruk yang sangat tinggi) [9]. Selanjutnya penilaian kemungkinan terjadi (occurance) tiap sumber risiko dengan kriteria sebagai berikut, 1 Remote (Penyebab tidak pernah terjadi), 2-3 Low(Penyebab jarang terjadi), 4-6 Moderate(Penyebab sesekali terjadi), 7-8 High(Penyebab sering terjadi), dan Very high (Penyebab tidak bisa dihindari) [9].

Salah satu bagian dari keterhubungan antara kejadian risiko (riskagent) dan korelasi adalah korelasi. menerapkan skala angka keterhubungan pada munculnya konsekuensi serta angka korelasi agen risiko untuk membobotkannya. Peringkat keterhubungan memiliki angka (0) yang berarti tak ada keterhubungan, (1) keterhubungan yang kecil, (3) keterhubungan yang moderat, serta (9) keterhubungan yang besar. Step berikutnya ialah memperhitungkan Aggregate risk potential (ARP) setelah data yang diperlukan terkumpul. Rumus untuk menghitung ARP ialah berikut ini.:

ARPj = Oj Σi Si Rij (2-1)(1)

Sumber: [8]

Keterangan :

ARP= Angka agent risk potensial

Oj= Angka occuancce riskagent

Si= Angka severityriskevent

Rij= Keterhubungan diantara riskeventserta riskagent

Matrik HOR fase 1 ditampilkan pada Tabel1.

Risk Events Risk Agent Si
A1 A2 A3 A4 A5
E1 R11 R12 R13 ... ... S1
E2 R21 R23 ... ... ... S2
E3 R31 ... ... ... ... S3
E4 ... ... ... ... ... S4
E5 ... ... ... ... ... S5
Oj O1 O2 O3 O4 O5 O6
ARPj ARP1 ARP2 ARP3 ARP4 ARP5 ARP6
Pj P1 P2 P3 P4 P5 P6
Table 1. Tabel1.MatrikHOR Fase 1

2. HOR tingkatan 2

HOR tingkatan 2 menentukan aspek risiko dengan prioritas tertinggi, melakukan identifikasi strategi mitigasi/respon, mengidentifikasi keterhubungan antara aspek risiko dan mengevaluasi efektivitas strategi mitigasi/respon, menentukan tingkat kesulitan strategi dan memastikan peringkat. [12] Untuk menurunkan kemungkinan terjadinya suatu agen risiko, beberapa langkah yang efisien dipilih selama HOR Tingkatan 2. Analisis Pareto dari ARPj digunakan pada langkah awal untuk mengidentifikasi berbagai sumber risiko yang berpotensi memiliki prioritas tinggi. Hasil keputusan akan ditampilkan di area (what) di sisi kiri HOR 2. Menemukan tindakan yang sesuai untuk diambil untuk menghentikan sumber risiko adalah tahap kedua. Kelemahan ialah sebuah asal risiko yang bisa diatasi lewat beberapa langkah, yang masing-masing dapat mengurangi kemungkinan munculnya sumber risiko lainnya. Tindakan ini muncul di HOR 2 sebagai "How" pada baris teratas. Selanjutnya, pastikan keterhubungan antara setiap sumber risiko. Antara tindakan dan sumber, angka (0, 1, 3, 9) memaparkan tak ada keterhubungan, keterhubungan kecil, sedang, serta kuat. Keterhubungan ini dapat dilihat sebagai indikator seberapa baik suatu kegiatan bekerja untuk mengurangi kemungkinan sumber risiko terwujud. Dengan menggunakan rumusdi bawah ini, tentukan efektivitas setiap tindakan secara keseluruhan :

TEk = ΣjARP j Ejk(2)

Sumber: [8] Berikut ialah rumus penghitungan keseluruhan efektifitas perlakuan.

ETD = TEk / D(3)

Sumber: [8]

Keterangan :

TEk= Total efektivitas dari tiap perlakuan

Ej= Hubungn tiap perlakuan serta tiap asal risiko

D= Tingkat derajat kesulitas dalam melakukan tiap tindakan Matrik HOR fase 2 ditampilkan pada Tabel 2.

PreventiveAction(P Ak) Aggregate Risk Potential (ARPj)
Tobetreatedriskagent(Aj) PA1 PA2 PA3 PA4 PA5
A1 E11 E12 E13 ... ... ARP1
A2 E21 E22 ... ... ... ARP2
A3 E31 ... ... ... ... ARP3
A4 ... ... ... ... ... ARP4
A5 ... ... ... ... Ejk ARP5
TotalEffectiveness(TEk) TE1 TE2 TE3 TE4 TE5
Tingkat kesulitan (D) D1 D2 D3 D4 D5
Effectivenesstodifficultyratio(ETDk) ETD1 ETD2 ETD3 ETD4 ETD5
Rank priority R1 R2 R3 R4 R5
Table 2. Tabel2.Matrik HOR Fase 2

Langkah selanjutnya adalah menghitung tingkat kesulitan untuk setiap tindakan pencegahan dengan menggunakan rumus, menentukan total efektivitas untuk rasio tingkat kesulitan, dan memberi peringkat untuk setiaptindakan. Bobot

(3) guna tindakan penanggulangan yang gampang dilakukan, Bobot (4) guna tindakan mitigasi yanglumayan sukar dilakukan, dan Bobot (5) guna tindakan penanggulangan yang sulit dilakukan merupakan kriteria pada bobot pemberian nilai DegreeofDifficultyofPerformingAction, ataupun tingkat kesukaran penyelenggaraan meminimalisir pada angka yang sesuai.

Analisa dan pembahsan merupakan tahap pengolahan seluruh data. Rekomendasi perbaikan diberikan melalui analisa SWOT. Langkah analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, dan threats). Strength merupakan aspek internal perusahaan dari segi kelebihan dan keuntungan bag pertumbuhan perusahaan [13]. Weakness merupakan kelemahan yang menggambarkan seberapa jau aspek yang menjadi kelemahan dalam perusahaan [14]. Opportunities merupakan peluang yang menguntungkan pada lingkungan perusahaan seperti perubahan teknologi ataupun peningkatan keterhubungan antaa perusahaan dengan konsumen [15]. Threats merupakan ancaman ataupun situasi buruk bagi perusahaan sekarang ataupun yang diinginkan perusahaan misalnya peraturan pemerintah [13]. Selanjutnya bisa diambil kesimpulan seperti pada penelitian yang dilaksanakan juga guna kelanjutan dari penelitian yang linier.

Hasil dan Pembahasan

A. Identifikasi Risk event dan Risk agent

Proses produki tas dimulai dari proses pemotongan bahan (cutting), dilanjutkan dengan pengeleman, penjahitan, pemasangan merk logo, penjahitan resleting, pemasangan tali panjang, dan diakhiri dengan finishing. Penguraian sebab konsekuensi (risk agent) serta efek risiko (risk event) didapatkan dari observasi di lapangan dan wawancara kepada owner UMKM serta pekerja yang bertugas guna membuat tas tersebut. Identifikasi risk event didapatkan sejumlah 7 risiko dapat dilihat pada Tabel 3 dan risk agent didapatkan sejumlah 9 risiko pada Tabel 4.

Risk event Kode
Bentuk tas tidak presisi E1
Lem out of the line E2
Part tidak terekat E3
Estetika berkurang E4
Fungsionalitas menurun E5
Kepuasan pelanggan menurun E6
Resleting sulit dibuka ataupun ditutup E7
Table 3. Tabel3.Kajian riskevent
Risk agent Kode
Pemotongan bahan tidak tepat dengan outline desain A1
Lem yang diberikan terlalu banyak A2
Lem yang diberikan terlalu sedikit A3
Ada bagian yang tidak terjahit A4
Penjahitan kurang merekat A5
pemasangan logo tidak presisi A6
Resleting terbalik A7
Pengukuran panjang tali tidak tepat A8
Kurang ketelitian A9
Table 4. Tabel4.Kajian riskagent

B. House of risk Tingkatan I

Penilaian skala severitydi riskeventserta skala occurancepada riskagentberdasarkan pengisian kuesioner kepada narasumber berdasarkan tabel 3 dan tabel 4 sehingga didapat pada outputpengisian kuesioner tiap narasumber dengan output di Tabel 5.

Kode E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7
Severity 7 4 5 5 6 8 5
Kode A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9
Occurance 3 3 4 2 3 4 1 4 2
Table 5. Tabel5.Penillaian severitypada riskeventserta occurancedi riskagent

Sumber: hasil pengisian kuesioner narasumber

Dengan melibatkan skala 0 (tak ada keterhubungan), 1 (keterhubungan rendah), 3 (keterhubungan sedang), dan 9 (keterhubungan tinggi), angka Aggregate risk potential (ARP) dihitung. Guna setiap konsekuensi, analisis keterhubungan dilakukan. Matriks ARP pada Tabel 6 menggabungkan hasil evaluasi.

Kode A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 Severity(Si)
E1 9 1 1 1 1 0 0 1 9 7
E2 9 1 0 0 1 0 0 0 3 4
E3 3 1 9 3 9 1 0 0 3 5
E4 9 3 1 3 3 1 3 1 3 5
E5 1 1 1 3 3 0 9 1 1 6
E6 3 1 3 3 1 1 9 3 3 8
E7 0 0 0 0 0 0 9 0 3 5
Occurance(Oj) 3 3 4 2 3 4 1 4 2
Sigma S x R 189 45 87 79 97 18 186 42 150
ARP 567 135 348 158 291 72 186 168 300
Ranking 1 8 2 7 4 9 5 6 3
Table 6. Tabel6.Kalkulasi ARP

Sumber: hasil wawancara yang telah diolah

Ranking tertinggi berdasarkan Angka ARP didapatkan pada A1 dengan Angka ARP 567 dan terendah pada A6 dengan Angka ARP 72. Selanjutnya data disajikan di diagram pareto guna mengurangi sumber risiko yang menjadi prioritas. Diagram pareto bisa diperhatikan pada Gambar 1.

Figure 2. Gambar1.Diagram Pareto HOR Fase 1

Sesuai dengan prinsip diagram pareto yang menyatakan bahwa prioritas permasalahan yang harus diberi penanggulangan ataupun diselesaikan merupakan masalah dengan persentase kumulatif hingga 80% [16]. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab risiko yang menjadi prioritas yaitu A1, A3, A9, A5, dan A7. Risk agent prioritas disajikan di Tabel 7.

Risk agent Rank Kode ARP
Pemotongan bahan tidak tepat dengan outline desain 1 A1 567
Lem yang diberikan terlalu sedikit 2 A3 348
Kurang ketelitian 3 A9 300
Penjahitan kurang merekat 4 A5 291
Resleting terbalik 5 A7 186
Table 7. Tabel7.Riskagentprioritas

Tahap selanjutnya yaitu menentukan usulan perbaikan ataupun preventive action melalui brainstorming bersama ownerdan pekerja. Preventiveactiondirumuskan bedasarkan strategi penganalisisan SWOT guna mengurai dari segi strength, weakness, opportunity, serta threats. Analisis SWOT disajikan dalam Tabel 8.

Figure 3. Tabel8.Analisis SWOT

Sumber: hasil brainstormingdengan narasumber

Selanjutnya analisis matriks IFAS dan EFAS didapatkan dari hasil wawancara kepada narasumber. Perhitungan disajikan pada Tabel 9.

Strength Responden 1 Responden 2 Total Bobot Rating Skor
Sudah memiliki pasar 4 4 8 0,22 4 0,89
Kebutuhan semua orang 4 5 9 0,25 4,5 1,13
Harga terjangkau 4 5 9 0,25 4,5 1,13
Penjualan dapat secara grosir dan ecer 5 5 10 0,28 5 1,39
Total 36 1 18 4,53
Weakness
Banyaknya produksi terbatas 3 4 7 0,33 3,5 1,17
Waktu pengerjaan lebih lama 3 3 6 0,29 3 0,86
Sumber daya terbatas 4 4 8 0,38 4 1,52
Table 8. Tabel9.Matriks perhitungan IFAS dan EFAS
Total 21 1 10,5 3,55
Opportunity
Kolaborasi dengan mitra luar lebih terbuka 3 3 6 0,26 3 0,78
Dapat menyesuaikan tren pasar 4 4 8 0,35 4 1,39
E-commerce berpeluang besar guna pertumbuhan UMKM 5 4 9 0,39 4,5 1,76
Total 23 1 11,5 3,93
Threats
Saingan dengan brand yang lebih terkenal 5 4 9 0,41 4,5 1,84
Perubahan harga bahan baku yang tidak pasti 4 3 7 0,32 3,5 1,11
Produksi masih menggunakan alat semi manual 3 3 6 0,27 3 0,82
Total 22 1 11 3,77
Table 9. Tabel9.Matriks perhitungan IFAS dan EFAS

Sumber: hasil wawancara yang telah diolah

Berdasarkan perhitungan Tabel 9, didapatkkan perhitungan Internal Factor Analysis Strategic (IFAS) aspek strength 4,53 dan aspek weeakness 3,55. Hasil perhitungan External Factor Analysis Strategic (EFAS) aspek opportunity3,93 dan aspek threats3,77. Strategi penanggulangan didapatkan dari 4 ragam trategi yang disajikan pada Tabel 10.

Figure 4. Tabel 10. Matriks SWOT strategi penanggulangan

Sumber: hasil wawancara yang telah diolah

Tabel 10 merupakan matrik strategi preventive action atau penanggulangan berdasarkan faktor strength yang disilangkan dengan faktor opportunity sehingga didapatkan penanggulangan pada strategi SO, faktor strength yang disilangkan dengan faktor threats sehingga didapatkan penanggulangan pada strategi ST, faktor weakness yang disilangkan dengan faktor opportunitysehingga didapatkan penanggulangan pada strategi WO, serta faktor weakness yang disilangkan dengan faktor threats sehingga didapatkan penanggulangan pada strategi WT.

C. House of risk Tingkatan II

Setelah mendapatkan draf strategi penanggulangan, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi tingkat kesulitan implementasi strategi dengan menggunakan sistem penilaian 5 poin: 1 mewakili langkah yang sangatlah gampang diimplementasikan, 2 mewakili langkah yang mudah diimplementasikan, 3 mewakili langkah yang lumayan gampang diimplementasikan, 4 mewakili langkah yang sulit diimplementasikan, dan 5 mewakili langkah yang sangatlah sulit diimplementasikan [16]. Tabel 11 menampilkan hasil evaluasi tingkat kesulitan solusi penanggulangan.

Preventive Action PAi Tingkat kesulitan (D)
Memanfaatkan pasar sebagai upaya guna memperluas mitra PA1 2
Mengikuti tren pasar yakni harga yang makin murah dibanding harga pasar lewat penjualan secara grosir PA2 2
Memastikan supplier bahan baku tetap agar harga dapat terkontrol PA3 4
Meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan pasar yang lebih besar PA4 2
Meningkatkan sumber daya guna memenuhi kebutuhan pasar secara cepat PA5 3
Meningkatkan banyaknya produksi guna meningkatkan keuntungan berdasarkan penjualan secara grosir PA6 3
Penggunaan alat otomatis guna mempersingkat proses produksi PA7 4
Meningkatkan kualitas sumber daya agar lebih up to date terhadap model tas yang sedang tren di pasar PA8 3
Table 10. Tabel11.Hasil penilaian tingkat kesulitas langkah penanggulangan

Sumber: hasil pengisian kuesioner yang telah diolah

Setelah didapatkan penilaian tingkat kesulitan, selanjutnya dilakukan perhitungan angka effectiveness to dificulty ratio (ETDk) dengan menilai keterhubungan diantara risk agent serta derajat kesulitan (D). Penguraian house of risk tingkatan II disajikan di Tabel 12.

Risk agent PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 PA6 PA7 PA8 ARP
A1 0 1 3 9 3 0 9 1 567
A3 0 1 0 3 0 3 1 0 348
A9 3 3 1 9 1 3 3 9 300
A5 0 0 0 3 0 1 3 1 291
A7 0 1 0 3 0 0 1 3 186
TotalEffectiveness(TEk) 900 2001 2001 10278 2001 2235 7410 4116
Tingkat kesulitan (D) 2 2 4 2 3 3 4 3
Effectivenesstodifficulty ratio (ETDk) 450 1000,5 500,25 5139 667 745 1852,5 1372
Rank priority 8 4 7 1 6 5 2 3
Table 11. Tabel12. Perhitungan houseofrisktingkatan II

Sumber: hasil wawancara yang telah diolah

Tabel 12 merupakan matriks perhitungan HOR tingkatan II dengan hasil akhir yaitu nilai Effectivenesstodifficulty ratio (ETDk) dari preventive action (PA). Nilai ETD1 sebesar 450, nilai ETD2 sebesar 1000,5, nilai ETD3 sebesar 500,25, nilai ETD4 sebesar 5139, nilai ETD5 sebesar 667, nilai ETD6 sebesar 745, nilai ETD7 sebesar 1852,5, dan nilai ETD8 sebesar 1372. Berdasarkan hasil perhitungan ETDk selanjutnya diurutkan berdasarkan rank priority atau urutan dengan nilai ETDk terbesar yang menjadi prioritas. Hasil perhitungan house of risk tingkatan II didapatkan prioritas preventive action pada Tabel 13.

Preventive Action PAi Rank priority
Meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan pasar yang lebih besar PA4 1
Penggunaan alat otomatis guna mempersingkat proses produksi PA7 2
Meningkatkan kualitas sumber daya agar lebih up to date terhadap model tas yang sedang tren di pasar PA8 3
Mengikuti tren pasar dengan harga yang makin terjangkau dari taksiran pasar lewat penjualan secara grosir PA2 4
Meningkatkan banyaknya produksi guna meningkatkan keuntungan berdasarkan penjualan secara grosir PA6 5
Meningkatkan sumber daya guna memenuhi kebutuhan pasar secara cepat PA5 6
Memastikan supplier bahan baku tetap agar harga dapat terkontrol PA3 7
Memanfaatkan pasar sebagai upaya guna memperluas mitra PA1 8
Table 12. Tabel13.Prioritas preventiveaction

Berdasarkan hasil urutan ranking PA pada Tabel13,didapatkan hasil bahwa prioritas penanggulangan yang paling utama yaitu meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan pasar yang lebih besar yang merupakan bagian dari strategi ST dengan Angka ETD4 sebesar 5139. Rank priority kedua terletak pada bagian strategi WT dengan Angka ETD7 sebesar 1852,5, yaitu penggunaan alat otomatis guna mempersingkat proses produksi. Rankpriorityketiga pada ETD8 terletak pada strategi WT dengan angka 1372 yaitu meningkatkan kualitas sumber daya agar lebih up to date terhadap model tas yang sedang tren di pasar. Seperti yang dilakukan oleh Magdalena untuk meningkatkan kualitas yaitu dengan melakukan evaluasi produksi, memberikan pelatihan pada penggunakan alat yang lebih modern, serta perlunya pembuatan SOP produksi [6].

Simpulan

Penyebab terjadinya kegagalan produk pada saat proses produksi lewat pemakaian strategi House of risk (HOR) didapatkan outputyakni pemotongan bahan tidak tepat dengan outline desain dengan angka ARP tertinggi yaitu 567, lem yang diberikan terlalu sedikit 348, kurang ketelitian 300, penjahitan kurang merekat 291, dan resleting terbalik

186. Berdasarkan 9 riskagentyang teridentifikasi, hasil tersebut didapatkan berdasarkan perhitungan kumulatif ARP, yaitu 80% dari Angka kumulatif ataupun ranking 1, 2, 3, 4, dan 5.

Strategi penanggulangan risiko dengan menggunakan metode SWOT guna perbaikan pada produksi tas UD. Novret Collection didapatkan berdasarkan hasil analisa SWOT dan perhitungan HOR tingkatan II. Penanggulangan risiko tersebut dipilih berdasarkan perhitungan ETDk dengan Angka 3 tertinggi. Penanggulangan risiko tersebut yaitu meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan pasar yang lebih besar yang merupakan bagian dari strategi ST dengan Angka ETDk sebesar 5139. Rankprioritykedua terletak pada bagian strategi WT dengan Angka ETDk sebesar 1852,5, yaitu penggunaan alat otomatis guna mempersingkat proses produksi. Rank priority ketiga terletak pada strategi WT dengan Angka 1372 yaitu meningkatkan kualitas sumber daya agar lebih up to date terhadap model tas yang sedang tren di pasar.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan UD. Novret Collection sebagai tempat penelitian dilaksanakan.

References

[1] D. A. Walujo, T. Koesdijanti, and Y. Utomo, Pengendalian Kualitas. Surabaya, Indonesia: Scopindo Media Pustaka, 2020.

[2] T. Novianti, Manajemen Risiko. Malang, Indonesia: Media Nusa Creative, 2017.

[3] I. Marodiyah, A. S. Cahyana, and I. R. Nurmalasari, “Integrasi Metode QRM dan FMEA dalam Manajemen Risiko Petani Tebu,” Jurnal Produktivitas, vol. 2, no. 3, pp. 1–5, 2022.

[4] W. U. Maulidah and H. C. Wahyuni, “Food Safety and Halal Risk Mitigation in Fish Crackers Supply Chain with FMECA and AHP,” Procedia of Engineering and Life Science, vol. 1, no. 1, pp. 1–9, 2021, doi: 10.21070/pels.v1i1.844.

[5] H. C. Wahyuni and W. Sulistyowati, Pengendalian Kualitas Industri Manufaktur dan Jasa. Sidoarjo, Indonesia: Umsida Press, 2020.

[6] R. Magdalena and V. Vannie, “Analisis Risiko Supply Chain dengan Model House of Risk pada PT Tatalogam Lestari,” J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri, vol. 14, no. 2, pp. 53–62, 2019.

[7] D. Mulyaningtyas and Meyliyani, “Analisis Risiko Aktivitas Proses Produksi Wire Rope Sling di PT XYZ dengan Metode House of Risk,” Matrik: Jurnal Manajemen dan Teknik Industri, vol. 14, no. 1, pp. 95–108, 2023.

[8] R. Wali et al., “Analisis Manajemen Risiko pada PT Nusa Indah Metalindo Menggunakan Metode House of Risk,” Jurnal Teknologi dan Manajemen, vol. 3, no. 2, pp. 75–84, 2022, doi: 10.31284/j.jtm.2022.v3i2.3092.

[9] R. Purwaningsih and F. A. Akhsan, “Analisis Strategi Mitigasi Risiko Cacat Part Hopper Menggunakan Metode House of Risk di PT Cahaya Maju Bahagia,” Industrial Engineering Online Journal, vol. 12, no. 4, pp. 1–8, 2023.

[10] M. Ulfa, “Mitigasi Risiko Rantai Pasok Produk Donat Menggunakan Metode House of Risk di UMKM Nicesy,” Journal Industrial Services, vol. 6, no. 1, pp. 49–54, 2020.

[11] W. N. Tanjung et al., “Risk Management Analysis Using FMECA and ANP Methods in the Supply Chain of Wooden Toy Industry,” IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, vol. 528, no. 1, pp. 1–8, 2019, doi: 10.1088/1757-899X/528/1/012007.

[12] F. R. Supoyo and R. A. Darajatun, “Analisis Pengendalian Kualitas Guna Mengurangi Defect Parking Brake dengan Metode FMEA di PT XYZ,” Jurnal Serambi Engineering, vol. 8, no. 1, pp. 4438–4444, 2023.

[13] M. Mashuri and D. Nurjannah, “Analisis SWOT sebagai Strategi Meningkatkan Daya Saing,” JPS (Jurnal Perbankan Syariah), vol. 1, no. 1, pp. 91–112, 2020.

[14] F. Y. Tampubolon and Nursito, “Risiko pada Berbagai Sektor Bisnis dan Analisis SWOT dalam Perspektif Manajemen Risiko,” Kinerja: Jurnal Ekonomi dan Manajemen, vol. 19, no. 4, pp. 761–768, 2022.

[15] A. Y. Ningrum, N. Handayani, and W. Sabardi, “Business Development Strategy Selection for Cracker Enterprises with SWOT and ANP Approaches,” PROZIMA (Productivity, Optimization, and Manufacturing Systems Engineering), vol. 7, no. 2, pp. 84–93, 2023.

[16] I. B. Suryaningrat and D. Paramudita, “Analisis Risiko Rantai Pasok Kopi Green Bean Menggunakan Metode House of Risk,” Agrointek, vol. 16, no. 1, pp. 54–64, 2023.