Muhammad Kiki Purvandala (1), Hana Catur Wahyuni (2)
General Background: Quality control is a critical element in manufacturing systems, including food-based Micro, Small, and Medium Enterprises, to ensure customer satisfaction and process consistency. Specific Background: UD Darjo’s Donut’s experienced product defects exceeding the internal standard of 4%, affecting production efficiency and sales performance. Knowledge Gap: Limited structured integration of Six Sigma measurement and SWOT strategic formulation has been applied in small-scale food enterprises to simultaneously evaluate process capability and strategic positioning. Aims: This study aims to determine the sigma level of donut production using the Six Sigma DMAIC approach and to formulate improvement strategies through SWOT analysis. Results: The findings reveal five critical defects, namely undercooked dough, burnt surface, inconsistent shape, wrinkled texture, and hollow structure. The highest sigma value was 4.00 in the first period, the lowest was 3.64 in the fifth period, with an average sigma level of 3.78. SWOT analysis positioned the enterprise in Quadrant I, indicating strong internal capabilities and promising market opportunities. Novelty: This research integrates quantitative sigma measurement with strategic quadrant mapping in a food MSME context. Implications: The study provides structured quality monitoring and strategic marketing expansion recommendations to support continuous product consistency and business sustainability.
Keywords: Six Sigma, Quality Control, SWOT Analysis, Food MSMEs, DMAIC
Key Findings Highlights
Five critical defect categories were identified through process mapping and fishbone analysis.
Production capability averaged 3.78 sigma across six months of observation.
Strategic positioning indicates aggressive market expansion through strength–opportunity alignment.
Kualitas merupakan karakteristik pada produk baik berupa barang ataupun jasa yang menunjang kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang telah direncanakan sebelumnya atau segala sesuatu yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan serta bisa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan[1]. Definisi dari kualitas dapat diartikan sebagai fungsi dari variabel yang spesifik dan teratur[2]. Jadi kualitas adalah ketentuan yang digunakan sebagai tolak ukur nilai kebaikan dari suatu prodak yang dihasilkan. Sesuatu bisa dikatakan berkualitas jika memiliki banyak keunggulan dan manfaat terhadap penggunanya. Kualitas Produk merupakan perpaduan dari sifat dan karakteristik untuk menentukan sejauh mana keluaran yang bisa memenuhi kebutuhan pelanggan[3].
Darjo’s Donut’s merupakan suatu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang jenis pangan yang terletak di Jl. Mawar, Dusun Sambirono Wetan, Desa Sidodadi, Kec. Taman, Sidoarjo, Jawa Timur. Usaha yang telah berjalan sejak akhir tahun 2022 ini membuat berbagai macam makanan salah satunya adalah donat. Permasalahan yang terjadi pada UMKM Darjo’s Donut’s adalah dimana dalam proses pembuatan donat sering ditemukan produk yang tidak sesuai dengan standart yang telah ditentukan, baik dari tekstur hingga ukurannya. Standar yang dimiliki oleh mitra untuk kecacatan produk adalah sebesar 4% dari produksi pada setiap bulannya. Pada bulan Juli 2023, mitra menghasilkan produk donat sebanyak 940pcs dengan tingkat kecacatan 3%. Sedangkan pada 2 bulan terakhir terjadi peningkatan jumlah kecacatan yang mencapai 7% dari 980pcs jumlah yang diproduksi. Dampak yang ditimbulkan adalah dimana banyak donat yang tidak bisa dipakai atau diproses dalam tahap selanjutnya karena tidak memenuhi syarat atau standar yang berlaku, dan jika dipaksakan akan berimbas pada tingkat kepuasan konsumen, memicu terjadinya komplain terhadap pemilik usaha/mitra dan pada akhirnya akan menyebabkan penurunan onsep penjualan.
Dalam upaya untuk menangani permasalahan tersebut, pada penelitian ini akan mengimplementasikan metode Six Sigma untuk mengidentifikasi kecacatan yang terjadi, mengurangi variasi proses yang pada akhirnya berguna untuk menurunkan biaya produksi tanpa mempengaruhi kualitas[4]. Six Sigma merupakan sebuah alat atau tools yang biasa digunakan untuk memperbaiki suatu proses dan juga bentuk dalam peningkatan kualitas menuju target 3,4 defect per million opportunities (DPMO) dengan tujuan mengurangi tingkat kecacatan yang terjadi[5]. Six Sigma juga bisa didefinisikan sebagai salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan proses bisnis dengan cara menemukan dan mengurangi faktor-faktor yang menjadi penyebab kecacatan, mengurangi waktu siklus serta biaya produksi, meningkatkan produktivitas, memenuhi kebutuhan pelanggan agar mendapatkan hasil yang lebih baik dari segi produksi maupun pelayanan[6]. Metode Six Sigma memiliki lima tahapan untuk memperbaiki suatu sistem proses produksi atau kinerja bisnis, yaitu define, measure, analyze, improve, dan control, bila di singkat menjadi DMAIC.
Analisis SWOT adalah sebuah metode yang bekerja dengan cara mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis yang bertujuan untuk merumuskan strategi perusahaan, analisis ini didasari pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan serta ancaman[7]. Analisis SWOT berisi tentang upaya-upaya dalam mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dapat mempengaruhi sistem atau kinerja pada suatu mitra atau perusahaan. Tujuan penelitian: 1) Mengetahui nilai sigma pada produk donat di UMKM Darjos’ Donut’s. 2) Memberikan usulan strategi dalam hal peningkatan dan memudahkan perusahan dalam pengambilan keputusan.
Dalam implementasinya, pengendalian manajemen kualitas menggunakan Six Sigma sebagai alat untuk menentukan faktor yang menyebabkan kegagalan produk dan SWOT digunakan sebagai penyusunan strategi dalam meningkatkan kekuatan dan peluang serta meminimalisir kelemahan dan ancaman dalam kualitas produk. Dengan cara ini, diharapkan kualitas produk dapat meningkat secara berkesinambungan serta bisa menaikkan onsep penjualan dengan startegi yang lebih tertata.
Metodologi Six Sigma yang akan digunakan dalam perbaikan proses adalah Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control atau yang biasanya disingkat menjadi DMAIC[8]. Metodologi DMAIC adalah kunci utama dari metode Six Sigma yang meliputi langkah-langkah perbaikan secara beruntun, yang dimana pada masing-masing tahap memiliki peranan penting dalam mencapai hasil yang telah ditentukan[9]. Berikut adalah urutan tahap yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang biasa disebut dengan DMAIC, yaitu:
Figure 1.
Sumber : [10].
Sebagai penguat gagasan pada penelitian ini juga akan menerapkan metode SWOT pada tahap improve yang dimana terdapat empat elemen yaitu Strengts (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman) sebagai perencanaan strategi[12]. Dari empat elemen tersebut bisa dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor internal (kekuatan dan kelemahan) serta faktor eksternal (Peluang dan ancaman)[13]. adapun matriks yang digunakan dalam metode SWOT, yang pertama adalah Matriks Internal Factor Analysis Strategic (IFAS) yang dimana digunakan untuk mencari tahu seberapa besar peranan dari faktor-faktor internal yang ada pada bisnis atau usaha[14].
Berikut merupakan flowchart yang menunjukkan tahapan dalam penelitian ini yang ada pada gambar 1. sebagai berikut:
Figure 2. Gambar 1. Diagram Alir Penelitian
Dari data-data yang telah diperoleh, metode Six Sigma dan SWOT digunakan untuk menganalisis tingkat sigma dan mengidentifikasi akar penyebab terjadinya kecacatan dalam proses pembuatan produk.
A. Define
Pada penelitian ini, data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemilik usaha dan pengumpulan data cacat produksi dari Bulan Juli hingga Desember 2023 selama enam bulan terakhir. Tujuannya adalah untuk menentukan sasaran dan tujuan perbaikan pada proses produksi donat. Identifikasi produk ini didasarkan pada standar spesifikasi di UMKM tersebut. Produk yang akan dipasarkan harus bebas dari cacat, dan langkah selanjutnya adalah menentukan Critical To Quality (CTQ). CTQ adalah karakteristik atau kunci yang dapat menyebabkan produk cacat sehingga tidak memenuhi standar atau harapan konsumen. Jenis CTQ pada produk donat ditentukan berdasarkan jenis cacat kritis. Dari hasil pengamatan dan diskusi dengan pihak pemilik usaha, CTQ yang diidentifikasi termasuk bantat, gosong, bentuk bervariasi, keriput, dan berongga.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa bantat, gosong, bentuk bervariasi, keriput, dan kopong merupakan aspek Critical To Quality (CTQ) dari pengusaha UMKM tersebut.
B. Measures
Pada tahap pengukuran ini, dilakukan evaluasi terhadap permasalahan yang telah ditetapkan untuk diselesaikan. Pengukuran dilakukan melalui pengambilan data. Data yang digunakan meliputi jenis cacat produk untuk mengukur karakteristik, untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk perbaikan dan peningkatan. Data yang telah dikumpulkan kemudian digunakan untuk mengukur kinerja awal proses, sehingga dapat menentukan besarnya nilai DPO dan DPMO. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil perhitungan data DPO dan DPMO.
Dari tabel di atas dapat diketahu bahwa nilai sigma tertinggi jatuh pada periode ke-1 dengan nilai 4,00, nilai sigma terendah jatuh pada periode ke-5 dengan nilai 3,64 dan rata – rata level sigma adalah 3,78. Dari data tersebut dapat disimpulkan bawasannya kinerja dari Perusahaan UMKM ini masih dalam kondisi baik dan cukup efisien.
C. Analize
Pada fase analize, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi akar penyebab atau sumber kegagalan produk dengan mencari dan menemukan pokok permasalahan. Langkah ini dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari fase sebelumnya untuk memahami penyebab kecacatan pada setiap Critical To Quality (CTQ). Analisis dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram. Penyebab kecacatan pada masing-masing CTQ akan menjadi faktor yang akan dianalisis lebih lanjut pada tahap perbaikan (improve).
1. Fishbone Diagram
Penggunaan fishbone diagram didasarkan pada Critical To Quality (CTQ) yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pemilik usaha. Hasil analisis dari diagram fishbone menunjukkan adanya dua faktor. Faktor yang tidak dapat dikendalikan meliputi manusia dan lingkungan. Sementara itu, faktor yang dapat dikendalikan meliputi material, metode, dan mesin.
Figure 3.
Gambar 2. Fishbone Diagram Donat Bantat.
Pada diagram fishbone dijelaskan bahwa penyebab donat bantat atau tidak mengembang terdiri dari beberapa faktor. Pertama, faktor material, yaitu kualitas bahan yang tidak sesuai dengan standar yang diperlukan sehingga proses pengembangan adonan kurang optimal. Kedua, faktor metode, yaitu penyimpanan adonan dalam wadah yang kurang tertutup, mengakibatkan proses pengembangan adonan menjadi lebih lambat.
Figure 4.
Gambar 3. Fishbone Diagram Donat Gosong.
Pada diagram fishbone dijelaskan bahwa penyebab donat gosong atau terlalu kecoklatan meliputi beberapa faktor. Pertama, faktor mesin, yaitu penggunaan api yang terlalu besar saat menggoreng donat sehingga bagian luar matang lebih cepat sementara bagian dalam masih belum matang. Kedua, faktor metode, yaitu dalam proses menggoreng donat tidak dibalik secara teratur, menyebabkan donat matang tidak merata dan menjadi gosong atau terlalu kecoklatan.
Figure 5.
Gambar 4. Fishbone Diagram Bentuk Donat Bervariasa.
Pada diagram fishbone dijelaskan bahwa penyebab bentuk donat bervariasi meliputi beberapa faktor. Pertama, faktor manusia, yaitu kurangnya pengalaman SDM dalam mencetak adonan karena donat masih dibuat secara manual tanpa alat bantu. Kedua, faktor material, yaitu bahan yang digunakan tidak sesuai standar sehingga adonan tidak dapat mengembang dengan sempurna, menyebabkan ukuran donat bervariasi. Ketiga, faktor metode, yaitu dalam proses pembuatan donat adonan tidak ditimbang dengan alat, menyebabkan perbedaan berat adonan.
Figure 6.
Gambar 5. Fishbone Diagram Bentuk Donat Keriput.
Pada diagram fishbone dijelaskan bahwa penyebab donat keriput antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor material, yaitu penggunaan bahan pengembang yang berlebihan sehingga adonan mengembang terlalu besar atau over. Kedua, faktor lingkungan, yaitu suhu tempat penyimpanan adonan yang terlalu tinggi menyebabkan adonan mengembang lebih cepat dari biasanya. Ketiga, faktor metode, yaitu penyimpanan adonan yang terlalu lama sehingga adonan mengembang terlalu besar.
Figure 7.
Gambar 6. Fishbone Diagram Bentuk Donat Berongga.
Pada diagram fishbone dijelaskan bahwa penyebab donat kopong atau berongga pada bagian dalamnya antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor manusia, yaitu proses mengaduk adonan terlalu keras sehingga adonan menjadi terlalu padat. Hal ini menyebabkan gas dalam adonan sulit untuk keluar selama proses pengembangan, akhirnya gas tersebut mengendap atau terjebak di dalam adonan. Kedua, faktor metode, yaitu penyimpanan adonan yang terlalu lama setelah adonan terlalu padat, menyebabkan gas yang terperangkap semakin banyak dan menghasilkan donat yang berongga.
D. Improve
Tahap selanjutnya adalah Improve, yang merupakan serangkaian aktivitas untuk menentukan, mengevaluasi, dan memilih beberapa alternatif perbaikan (improvement) guna meningkatkan kinerja perusahaan dalam aspek kualitas produk. Dalam tahap ini, digunakan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary) untuk merumuskan strategi perbaikan, yang meliputi pendekatan SO (Strengths-Opportunities), WO (Weaknesses-Opportunities), ST (Strengths-Threats), dan WT (Weaknesses-Threats). Berikut ini adalah usulan hasil analisis SWOT yang diperoleh dari hasil wawancara dengan dua orang responden (owner) yang expert pada bidangnya.
Berikut ini adalah hasil analisis matriks IFAS dan EFAS yang diperoleh dari hasil wawancara dengan dua orang responden (owner) yang expert pada bidangnya.
Tabel 5. Matriks Internal Factor Analysis Strategic (IFAS) Strength.
Tabel 6. Matriks Internal Factor Analysis Strategic (IFAS) Weakness.
Matriks yang kedua yaitu Matriks Eksternal Factor Analysis Strategic (EFAS), yang biasa digunakan untuk mengetahui seberapa besar peranan dari faktor-faktor eksternal yang ada pada bisnis atau usaha[15].
Tabel 7. Matriks Eksternal Factor Analysis Strategic (EFAS) Opportunity.
Tabel 8. Matriks Eksternal Factor Analysis Strategic (EFAS) Treats.
Berikut ini adalah hasil analisis matriks SWOT yang diperoleh dari hasil wawancara dengan dua orang responden (owner) yang expert pada bidangnya serta referensi dari penelitian terdahulu[16].
Tabel 9. Analisis Matriks SWOT.
Figure 8.
Matrik SWOT berguna sebagai pembanding antara faktor-faktor strategis internal dan eksternal agar memperoleh strategi terhadap masing-masing faktor, dari hasil yang diperoleh agar dapat menentukan fokus rekomendasi strategi maka dijabarkan sebagai berikut[14]:
1. Strategi SO (strength dan opportunities)
Strategi ini dilakukan untuk memanfaatkan kekuatan dari suatu pengusaha dengan tujuan menangkap peluang yang dimiliki pengusaha.
2. Strategi ST (strength dan threats)
Strategi ini digunakan karena dimana kekuatan yang dimiliki oleh pengusaha digunakan untuk mengatasi ancaman yang mungkin akan terjadi.
3. Strategi WO (weakness dan opportunities)
Strategi ini diimplementasikan pada saat munculnya peluang yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman usaha.
4. Strategi WT (weakness dan threats)
Strategi ini diimplementasikan pada saat pengusaha harus mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki perusahaan agar terhindar dari ancaman usaha yang dihadapi.
Adapun rumus untuk menentukan titik koordinat pada metode SWOT adalah sebagai berikut:
Figure 9.
Dari hasil perhitungan di atas, maka akan ditentukan titik koordinat dengan menggunakan diagram cartesius sebagai berikut:
Figure 10.
Gambar 7. Diagram Cartesius.
Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa usaha tersebut berada pada kuadran I, yang menunjukkan bahwa usaha ini memiliki kekuatan dan peluang yang baik. Usaha ini disarankan untuk menerapkan strategi jemput bola, yang berarti tindakan yang perlu dilakukan oleh UD Darjo’s Donut’s untuk meningkatkan konsep penjualan adalah dengan meningkatkan serta memperluas pemasaran seperti melalui pembukaan lapak online. Selain itu, menjaga dan meningkatkan ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi sangat penting agar saat memproduksi produk, meminimalisir kendala dan jumlah yang rusak atau cacat.
E. Control
Tahap terakhir adalah control atau pengendalian. Fase ini digunakan untuk mengendalikan hasil-hasil peningkatan Six Sigma. Untuk melakukan tahap kontrol pada proses pembuatan donat, berikut adalah beberapa usulan pengendalian yang dapat diterapkan di UD Darjo's Donut's:
Pengukuran menggunakan metode Six Sigma pada UD Darjo’s Donut’s menunjukkan bahwa nilai sigma tertinggi terdapat pada periode pertama dengan nilai 4,00, sedangkan nilai sigma terendah pada periode kelima dengan nilai 3,64, dengan rata-rata level sigma sebesar 3,78. Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa kinerja UMKM ini masih dalam kondisi baik dan cukup efisien. Strategi yang diperoleh dari hasil analisis SWOT adalah analisis S-O (Strengths-Opportunities). Hal ini karena hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ini berada pada kuadran I, yang berarti memiliki banyak kekuatan dan peluang. Strategi yang cocok untuk diterapkan adalah strategi jemput bola yang berarti tindakan yang perlu dilakukan oleh UD Darjo’s Donut’s untuk meningkatkan konsep penjualan adalah dengan meningkatkan serta memperluas pemasaran seperti melalui pembukaan lapak online. Selain itu, menjaga dan meningkatkan ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi sangat penting agar saat memproduksi produk, meminimalisir kendala dan jumlah yang rusak atau cacat.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan UD Darjo's Donut's atas kerjasama yang telah diberikan sebagai tempat pelaksanaan penelitian ini.
[1] N. T. Putri, Manajemen Kualitas Terpadu, 1st ed. Sidoarjo: Indomedia Pustaka, 2019.
[2] J. R. Evans and W. M. Lindsay, Pengantar Six Sigma, 1st ed. Jakarta: Salemba Empat, 2007.
[3] C. L. R. Winasis, H. S. Widianti, and B. Hadibrata, “Determinasi Keputusan Pembelian: Harga, Promosi Dan Kualitas Produk (Literature Review Manajemen Pemasaran),” Jurnal Ilmu Manajemen Terapan, vol. 3, no. 4, pp. 452–462, 2022, doi: 10.31933/jemsi.v3i4.
[4] A. Ridwan, F. Arina, and A. Permana, “Peningkatan Kualitas Dan Efisiensi Pada Proses Produksi Dunnage Menggunakan Metode Lean Six Sigma (Studi Kasus Di PT. XYZ),” Teknik: Jurnal Sains Dan Teknologi, vol. 16, no. 2, pp. 186–199, 2020, doi: 10.36055/tjst.v16i2.9618.
[5] A. Widodo and D. Soediantono, “Manfaat Metode Six Sigma (DMAIC) Dan Usulan Penerapan Pada Industri Pertahanan: A Literature Review,” International Journal Of Social And Management Studies, vol. 3, no. 3, pp. 1–12, 2022.
[6] S. K. Dewi and D. M. Ummah, “Perbaikan Kualitas Pada Produk Genteng Dengan Metode Six Sigma,” Jurnal Teknik Industri, vol. 14, no. 2, pp. 87–92, 2019, doi: 10.14710/jati.14.2.87-92.
[7] A. M. I. Astuti and S. Ratnawati, “Analisis SWOT Dalam Menentukan Strategi Pemasaran (Studi Kasus Di Kantor Pos Kota Magelang 56100),” Jurnal Ilmu Manajemen, vol. 17, no. 2, pp. 58–70, 2020.
[8] M. R. Wahyudi, I. Baihaqi, and P. Prihananto, “Implementasi Six Sigma Untuk Perbaikan Proses Bisnis Dan Perancangan Prosedur Operasional Standar: Studi Kasus Pada Nasi Krawu Bu Tiban Gresik,” Jurnal Teknik ITS, vol. 9, no. 2, pp. 137–142, 2021, doi: 10.12962/j23373539.v9i2.54031.
[9] Suhadak and T. Sukmono, “Improving Product Quality With Production Quality Control,” PROZIMA (Productivity, Optimization And Manufacturing System Engineering), vol. 4, no. 2, pp. 41–50, 2021, doi: 10.21070/prozima.v4i2.1306.
[10] F. Ahmad, “Six Sigma DMAIC Sebagai Metode Pengendalian Kualitas Produk Kursi Pada UKM,” Jurnal Integrasi Sistem Industri, vol. 6, no. 1, pp. 11–17, 2019.
[11] H. C. Wahyuni and W. Sulistiyowati, Pengendalian Kualitas Industri Manufaktur Dan Jasa, 1st ed. Sidoarjo: UMSIDA Press, 2020.
[12] F. Romadhon and Lathifah, “Analisis Kepuasan Masyarakat Terhadap Penggunaan Aplikasi Dana Menggunakan Metode SWOT,” Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi, vol. 3, no. 1, pp. 20–26, 2022, doi: 10.32795/widyamanajemen.v5i2.3682.
[13] A. Setiawan and H. C. Wahyuni, “Integrasi Metode SWOT Dan AHP Untuk Merumuskan Strategi Pemasaran (Studi Kasus: PT. Rattan Craft Indonesia),” PROZIMA (Productivity, Optimization And Manufacturing System Engineering), vol. 2, no. 1, pp. 12–19, 2018, doi: 10.21070/prozima.v2i1.1298.
[14] M. Z. Arifin, E. Desembrianita, and S. M. Agung, “Strategi Pemasaran Aka Coffee Gresik Di Era Pandemi Covid-19 Melalui Analisis SWOT,” Jurnal Senopati, vol. 2, no. 2, pp. 92–101, 2021.
[15] N. Chaerani et al., “Strategi Dalam Mengembangkan Minat Dan Bakat Mahasiswa Melalui Analisis SWOT (Studi Kasus: Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Mataram),” vol. 5, no. 2, pp. 439–449, 2023.
[16] G. A. Gunawan, A. Prakoso, A. Naufal, M. Daffa, and M. M. Ilham, “Analisis Permasalahan Healthy Food Dengan Menggunakan Metode SWOT,” pp. 65–72.
[17] Sungkumo, Bandar Udara Enclave Civil Berbasis Pembangunan Berkelanjutan: Konsep Dan Studi Etnometodologi Di Indonesia, 1st ed. Malang: UB Media, 2022.