Login
Section Innovation in Social Science

Innovative Multidisciplinary Approach to Gender Awareness Among University Students

Inovasi Pendekatan Multidisiplin pada Kesadaran Gender Mahasiswa
Vol. 27 No. 4 (2026): October:

Suhendra Suhendra (1), Nadya Kharima (2), Elvira Winna Permono (3)

(1) Prodi Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia
(2) Prodi Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia
(3) Prodi Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Understanding socially determined differences between men and women requires recognizing both internal and external developmental factors. Specific Background Within higher education institutions, fostering a zero-tolerance environment for inequality necessitates comprehensive gender-responsive policies and student socialization. Knowledge Gap Previous literature has isolated either domestic communication or religious experiences, leaving a theoretical void regarding their simultaneous contribution to equality perception across multidisciplinary perspectives. Aims This quantitative study tests how Family Communication Patterns and spirituality jointly determine the gender awareness of second-year students at UIN Jakarta. Results Multiple regression analysis of 110 respondents reveals that domestic communication and spirituality positively and significantly predict gender awareness, jointly accounting for 20.3% of the variance. Notably, spirituality demonstrated a higher dominant categorization (77.3%) compared to domestic communication frameworks (59.1%). Novelty This research pioneers an integrated model that merges critical-feminist, domestic communication, and spiritual theories to evaluate equality comprehension among youth. Implications University stakeholders and families must collaboratively cultivate balanced domestic dialogues and emphasize profound spiritual meaning over rigid religious dogma to sustainably advance campus equality.


Highlights




  • Family communication structures and internal spiritual depth positively predict student gender awareness.




  • Spiritual experiences display a higher dominant categorization than domestic communication in shaping equality perception.




  • Stakeholders must emphasize profound spiritual meaning over rigid religious dogma to advance campus equality.




Keywords


Family Communication Patterns; Gender Awareness; Spirituality; University Students; Equality Perception

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Instruksi Presiden No. 9/2000 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) mendorong perempuan Indonesia untuk lebih berperan dalam partisipasi publik. Sebagai konsekuensinya, pemerintah dituntut untuk menyusun kebijakan yang tidak sekedar berpihak pada kesetaraan gender, namun lebih dari itu harus mampu responsif pada setiap kepentingan gender, salah satunya dalam ranah pendidikan di Universitas.

Di kampus, Keberadaan Pusat Studi Gender dan Anak atau Pusat Studi Wanita; profil gender perguruan tinggi; peraturan rektor tentang implementasi PUG; pendidikan dan pengajaran responsif gender; penelitian responsif gender; penelitian masyarakat terintegrasi gender; tata kelola perguruan tinggi yang responsif gender; peran serta sivitas akademika dalam pencegahan sampai dengan evaluasi dan tindak lanjut tri dharma perguruan tinggi yang responsif gender; dan menujunjung zero tolerance kekerasan terhadap laki-laki dan perempuan merupakan aspek-aspek yang penting dalam isu ketidaksetaraan, ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender. Aspek-aspek tersebut merupakan indikator-indikator perguruan tinggi responsif gender yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) (Yuliani dkk., 2023).

Salah satu upaya mendasar untuk mendorong pengarusutamaan gender di universitas, yang mana subjek utamanya adalah mahasiswa/i, adalah dengan menyoroti pentingnya kesadaran gender (gender awareness) di kampus. Kesadaran gender adalah suatu pemahaman tentang perbedaan yang ditentukan secara sosial antara perempuan dan laki-laki berdasarkan perilaku yang dipelajari. Hal ini mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses dan mengontrol sumber daya. Kesadaran ini perlu diterapkan melalui analisis gender ke dalam proyek, program dan kebijakan (Azarbaijani-Moghaddam, 2007).

Beberapa studi mengaitkan kesadaran gender dengan komunikasi di dalam keluarga, di mana keluarga (terutama orang tua) memainkan peranan penting dalam meletakan dasar-dasar pendidikan gender di keluarga. Komunikasi dalam keluarga tidak terjadi secara acak, namun terpola sehingga keluarga menentukan pola komunikasi mana yang tepat diterapkan dalam keluarga. Pola komunikasi persamaan dipandang lebih tepat jika dihubungkan dengan relasi gender, karena pola persamaan akan selalu melihat titik temu diantara gender (Nuraida & Hasan, 2017). Fungsi sosialisasi (komunikasi) keluarga menurut BKKBN ada delapan yaitu: agama; sosial budaya; cinta kasih; perlindungan; reproduksi; pendidikan; ekonomi; dan lingkungan (bkkbn.go.id). Keluarga menjadi arena dalam memperkuat dua fungsi pertama di atas yaitu sosial budaya (gender) dan agama (spiritualitas).

Sebuah studi kuantitatif mengatakan bahwa gender memoderasi hubungan antara spiritualitas dan kesejahteraan psikologis. Dua dimensi spiritualitas: dimensi religius atau vertikal berdasarkan pada hubungan seseorang dengan tuhan (kesejahteraan religius) dan dimensi eksistensial atau horizontal berdasarkan pada kepuasan hidup seseorang, pengalaman hidup, makna dan tujuan (kesejahteraan eksistensial). Diantara komponen-komponen kesejahteraan spiritual, Efek moderasi lebih kuat dalam kesejahteraan eksistensial dibandingkan kesejahteraan religius (Vosloo, Wissing, & Temane, 2016). Jika ditarik secara historis-religius dalam Islam, sejarah Hajar yang merupakan pelayan Sarah berkulit hitam yang berjuang untuk mencari air demi anaknya bisa dijadikan refleksi dari contoh peran spiritualitas dalam kesadaran gender. Kesetaraan gender sebagai bagian penting bagi suksesnya pembangunan masih menjadi tantangan dengan minimnya peran perempuan (Cinu, 2021).

Penelitian ini juga melihat hubungan pola komunikasi keluarga dan spiritualitas dalam studi yang dilakukan sebelumnya. Remaja dengan kecerdasan religius yang baik mampu menyelesaikan masalah dan membuat keputusan yang benar dan positif. Satu diantara faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan spiritual pada remaja adalah faktor komunikasi dari keluarga remaja. Ada hubungan positif yang signifikan antara komunikasi keluarga dan kecerdasan spiritual pada remaja. (Noerwoto&Tjiptorini, 2022).

Berdasarkan uraian di atas, kesadaran gender; pola komunikasi keluarga; dan spiritualitas memiliki potensi penting untuk dijadikan variabel-variabel yang bisa dilihat asosiasinya satu sama lain. Dalam riset ini, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana pola komunikasi keluarga, spiritualitas dan kesadaran gender dari pendekatan kuantitatif.

Setelah menganalisis beberapa penelitian yang berkaitan dengan teori/konsep dan tema-tema kesadaran gender, pola komunikasi keluarga dan spiritualitas (Harris, 2016; Bartual Figuerras et a., 2018; Hodge, 2000; Mullis, 2017; Eipstein&Ward, 2011; Faissel&Saleh, 2017; Lisandini&Amini, No. date; Musek, 2006; Pramono, 2020; KavehFarsani et al., 2020; Rueter&Koerner, 2008), peneliti menyimpulkan bahwa belum ada penelitian yang mencoba melihat hubungan kesadaran gender yang dipengaruhi oleh pola komunikasi keluarga (PKK) dan spiritualitas secara bersamaan. Penelitian sebelumnya banyak mengaitkan kesadaran gender dengan PKK saja; kesadaran gender dengan spiritualitas saja, atau PKK dengan spiritualitas saja. Lebih dari itu, belum ada tinjauan kesadaran gender yang mengaitkan tiga disiplin atau perspektif yang berbeda yaitu dalam perspektif gender (teori sosial kritis-feminis; teori kesejahteraan sosial), perspektif komunikasi (teori pola komunikasi keluarga), dan perspektif studi agama-spiritualitas (teori spiritualitas). Maka, hal tersebut menjadi kebaruan yang coba ditawarkan dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana kesadaran gender dipengaruhi pola komunikasi keluarga dan spiritualitas.

METODE

Populasi diambil dari mahasiswa-mahasiswi program sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2022 yang terdiri dari 13 fakultas dan 56 jurusan. Non probability sampling adalah Sampling yang digunakan dalam penelitian ini. Jumlah Sampel dalam penelitian ini sebanyak 110 orang. Jumlah sampel ini terdiri dari 58 mahasiswa dan 52 mahasiswi yang berasal dari seluruh prodi/jurusan yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu sebanyak 56 prodi atau jurusan. Sedangkan teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Kuota sampling. Alasan digunakannya teknik kuota sampling pada riset ini adalah karena populasi yang diteliti berasal dari 56 prodi/jurusan yang berbeda. Penggunaan teknik kuota sampling diharapkan dapat menghasilkan sampel yang lebih representatif dan mengurangi kemungkinan terjadinya bias. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh dapat mencerminkan mahasiswa-mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah secara keseluruhan. Meskipun demikian, representasi sampel didasarkan sebatas pada jenis gender, yaitu laki-laki dan perempuan, tidak pada persentase rasio jumlah sampel terhadap populasi di seluruh prodi/jurusan yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Karena menggunakan teknik kuota sampling, maka responden ditentukan berdasarkan kriteria (purposive sampling) sehingga non probability sampling sebagai metode pengambilan sampel yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir H. Juanda No. 95, Cempaka Putih, Kec. Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 15412. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah perguruan tinggi terbesar di daerah Tangerang Selatan. Waktu penelitian dilakukan kurang lebih selama 7 bulan terhitung Februari sampai dengan Agustus 2024. Data primer diperoleh dari kuesioner dan diperkuat dengan referensi dari jurnal, buku, media, dann sumber informasi lainnya sebagai sumber data sekunder.

Kesadaran gender didefinisikan sebagai suatu perbedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat secara sosial berdasarkan perilaku yang bisa dipelajari yang berpengaruh pada kemampuan untuk mengakses dan mengendalikan sumber daya. Dalam riset ini skala kesadaran gender diukur dengan menggunakan alat ukur skala yang diolah dari istilah dan definisi gender (Azarbaijani-Moghaddam, 2007). Kuesioner terdiri dari item-item dari konsep-konsep kesadaran gender seperti seks, gender, pengarusutamaan gender, buta gender, kesadaran gender, sensitivitas gender, kesamaan gender, kesataraan gender, analisis gender, data terpisah secara seks, dan perencanaan gender.

Teori Pola Komunikasi Keluarga berdasar pada asumsi bahwa kreasi realitas sosial bersama adalah fungsi dasar komunikasi keluarga. Keluarga berbagi realitas melalui dua perilaku komunikasi: orientasi percakapan (conversation) dan orientasi kesesuaian (conformity), yang sebaliknya mempengaruhi hubungan dan keluaran keluarga. Dua orientasi membedakan tipe keluarga ke dalam empat jenis, yaitu Keluarga Consensual (tinggi dalam orientasi percakapan dan kesesuaian); Keluarga Pluralistic (orientasi percakapan tinggi, orientasi kesesuaian rendah); Keluarga Protective (orientasi percakapan rendah, orientasi kesesuaian tinggi); Keluarga Laissez-faire (rendah dalam orientasi percakapan dan kesesuaian). Dalam riset ini, Skala yang digunakan untuk mengukur Pola komunikasi keluarga adalah kuesioner pola komunikasi keluarga yang dikembangkan dan dimodifikasi oleh Ritchie & Fitzpatrick (1990).

Spiritualitas adalah kondisi personal, non-institusional, non-tradisional dari kepercayaan dan praktik yang berorientasi terhadap diri, alam atau transenden (Ancic & Jerolimov, 2011; Bender and McRoberts, 2012 dalam Jugovic & Ancic, 2014). Skala spiritualitas diukur dengan memasukan signifikansi yang dipersepsi tentang hal-hal spiritual dalam kehidupan dan interaksi seseorang yang diukur dengan Spiritual Perspective scale (Reed 1986, dalam Rich, 2012); aktivitas dalam organisasi religius; keterlibatan dalam komunitas; dan kajian untuk tujuan pencerahan spiritual, di mana tiga aspek ini diadaptasi dari Church Involvemenet Scale (Mattis & Jagers 2022, dalam Rich, 2012).

Riset menggunakan skala likert rentang 1-6, mulai dari sangat tidak setuju; tidak setuju; agak tidak setuju; agak setuju; setuju; dan sangat setuju. Setelah instrumen diujicobakan kepada 30 responden mahasiswa/mahasiswi di luar sampel target, 10 aitem pernyataan tidak valid dari total 28 aitem (X1); 10 aitem pernyataan dinyatakan valid (X2); dan 20 aitem pernyataan tidak valid dari total 40 aitem. Berdasarkan penjelasan ahli, semua aitem pernyataan yang dianggap tidak valid bisa tetap digunakan dalam instrumen riset dengan memodifikasi struktur kalimat supaya lebih mudah dipahami oleh responden penelitian. Dengan argumen tersebut, aitem-aitem yang tidak valid diperbaiki dan tetap digunakan untuk kuesioner penelitian. X1 bernilai 0.817; X2 bernilai 0.722; Y bernilai 0.811, nilai Cronbach’s Alpha > 0.60, maka dapat disimpulkan bahwa item pernyataan variabel PKK, Spiritualitas, dan kesadaran gender dinyatakan reliabel.

Data diolah melalui proses menyunting data mengkode data dan mentabulasi data. Data dianalisis melalui serangkaian teknik seperti Uji Asumsi Klasik (Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, dan Uji Heteroskedastisitas); lalu Uji Hipotesis melalui Uji Regresi Berganda (Uji Koefisien Determinasi, Uji T, dan Uji F).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Deskripsi Karakteristik Responden Penelitian

Karakteristik responden didasarkan berdasarkan umur, jenis kelamin, status perwalian, afiliasi ormas Islam, suku Ayah, suku Ibu, dan pendidikan sebelum di Universitas. Adapun hasil lengkapnya ditunjukan tabel berikut:

Tabel 1 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel 2 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Table 3 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perwalian

Tabel 4 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Afiliasi Ormas Islam

Tabel 5 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Suku Ayah

Tabel 6 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Suku Ibu

Tabel 7 Persentase Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan sebelum di Universitas

B.Tingkat Kategorisasi Kesadaran Gender, PKK, dan Spiritualitas

Penentuan tingkat kategorisasi variabel X1, X2, dan Y dalam riset ini bermaksud untuk mendeskripsikan dan untuk mengetahui seberapa tinggi dan rendahnya Tingkat kesadaran gender, PKK, dan spiritualitas mahasiswa- mahasiswi tingkat kedua di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tabel 8 Kategorisasi Variabel Kesadaran Gender

Tabel 9 Kategorisasi Variabel Pola Komunikasi Keluarga

Tabel 10 Kategorisasi Variabel Spiritualitas

C.Hasil Analisis Data

Berdasarkan uji asumsi klasik, data terdistribusi normal (0,355 > 0,05); tidak terdapat masalah multikolinearitas (1,173 < 5); dan variable X1 dan X2 tidak memiliki masalah heteroskedastisitas (X1 0,621 > 0,05; X2 0,993 > 0,05).

Uji hipotesis dilakukan melalui uji regresi linear berganda, di mana X1 0,222 (t 2,380; 0,019 < 0,05) berpengaruh secara signifikan terhadap kesadaran gender (Y). Selanjutnya, X2 0,316 (t 3,376 ; 0,001 < 0,05) berpengaruh secara signifikan terhadap kesadaran gender (Y). Persamaan garis regresi Y = 114,073 + (0,261) X1 + (0,744) X2, maka arah hubungannya positif dan setiap peningkatan nilai pada X1 dan X2, maka terjadi pula peningkatan nilai terhadap Y.

Uji determinasi (R2) 0,203, artinya pengaruh X1 dan X2 sebesar 20,3%, dana sisanya 79,7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar riset ini. Uji T nilai signifikansi X1 0,019 dan X2 0,001 < 0,05 menyatakan bahwa pola komunikasi keluarga (X1) dan spiritualitas (X2) memiliki pengaruh secara parsial terhadap kesadaran gender (Y). Begitu pun dengan Uji F didapati nilai signifikansi 0,000 < 0,05, menyatakan bahwa pola komunikasi keluarga (X1) dan spiritualitas (X2) secara bersama- sama berpengaruh signifikan terhadap kesadaran gender (Y).

Pengaruh Pola Komunikasi Keluarga terhadap Kesadaran Gender

Hasil pengujian hipotesis riset memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh pola komunikasi keluarga terhadap kesadaran gender mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan demikian, hipotesis nol (H0) dalam penelitian ini ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Adapun bunyi hipotesis alternatif (Ha) adalah bahwa terdapat pengaruh pola komunikasi keluarga (X1) terhadap kesadaran gender (Y) pada mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan hasil pengujian koefisien korelasi regresi secara parsial (uji t) di mana nilai signifikansi variabel pola komunikasi keluarga yang didapatkan adalah sebesar 0,019 < 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,380 > t tabel 0,67679 . Nilai t hitung positif menunjukkan bahwa variabel pola komunikasi keluarga (X1) memiliki pengaruh ke arah positif terhadap kesadaran gender (Y), artinya apabila terjadi peningkatan pada pola komunikasi keluarga (X1) maka akan terjadi pula peningkatan pada kesadaran gender (Y).

Hasil riset ini menunjukkan bahwa pola komunikasi keluarga memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesadaran gender. Artinya, semakin tinggi tingkat pola komunikasi keluarga seseorang maka akan semakin tinggi kemungkinan seseorang tersebut mengalami kesadaran gender. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa individu dengan pola komunikasi yang protektif dan laissez-faire cenderung lebih patriarkis (Mulis, 2017). Dengan demikian, pola komunikasi konsensual dan pluralistik bisa menjadi potensi penting untuk menantang konstruksi dan nilai dominan yang keliru tentang gender di masyarakat.

Riset lain yang memperkuat temuan dalam riset ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang maju dan berkembang akan memberikan landasan nilai dan moral yang kokoh bagi individu dalam memahami gender. Komunikasi keluarga yang tradisional dan otoriter menciptakan kepercayaan gender yang lebih tradisional (Eipstein&Ward, 2011). Penelitian Eipstein&Ward (2011) juga menilai jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak berbeda dalam hal menerima pesan sosialisasi gender walaupun interpretasi beberapa pesan bisa beragam oleh tiap gender. Selain itu, riset ini juga mengungkap bahwa pendidikan sebelum di Universitas lebih besar memberikan peluang untuk membuat sosialisasi kesadaran gender berhasil. Hal-hal tersebut juga merupakan bagian temuan yang ada dalam riset ini di mana peneliti melihat jenis pendidikan sebelum di Universitas sebagai salah satu faktor dalam meningkatkan kesadaran gender.

Meskipun demikian, riset yang dilakukan oleh Faissel&Saleh (2017) menemukan bahwa mahasiswa laki-laki di Irak memiliki kesadaran gender yang tinggi terhadap perempuan desa di masyarakat yang tradisional. Hal ini tidak berbeda diantara mahasiswa berdasarkan variabel tipe universitas, tempat tinggal, dan status sosial. Sedangkan dalam riset, peneliti melihat aspek status perwalian, afiliasi ormas Islam, dan suku dari orang tua sebagai informasi demografi penting untuk melihat pengaruhnya secara tidak langsung pada kesadaran gender. Riset Faissel&Saleh (2017) juga mengindikasikan bahwa pemahaman gender bisa terus berlanjut dan semakin kuat walaupun seorang remaja melanjutkan pendidikan ke universitas.

Di dalam keluarga, penting dibangun pola komunikasi yang mengarahkan pada aktivitas peningkatan kesadaran gender. Perempuan menjadi lebih sensitif terhadap isu-isu ketimpangan gender seperti ketidaksamaan pada akses, partisipasi, dan jejaring sosial setelah diberikan perlakuan dan diskusi tentang pentingnya kesadaran gender (Bartual- Figueras, et al., 2018). Keluarga yang menanamkan komunikasi gender sejak anak di usia dini akan menciptakan generasi yang lebih sensitif gender sehingga bisa membangun keharmonisan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan temuan statistik, deskriptif dan kaitan penelitian dengan teori yang digunakan maupun penelitian-penelitian lainnya, ada beberapa implikasi sosial yang peneliti temukan dalam kaitan pengaruh spiritualitas terhadap kesadaran gender. Pertama, Komunikasi dalam keluarga menjadi dasar pembentukan pemahaman dan kesadaran gender. Orang tua yang mengajarkan tentang pentingnya saling menghormati antar gender, saling memahami karakteristik dan kesetaraan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan; serta pentingnya mengkomunikasikan tugas dan fungsi anak yang adil secara gender akan berdampak pada pembentukan kesadaran gender anggota keluarga. Kedua, keseimbangan antara peraturan dan diskusi di rumah mejadi dasar penting untuk membangun pola komunikasi ideal yang mendukung iklim kesadaran gender. Dalam keluarga, terlalu ketat dalam aturan akan menciptakan keluarga yang otoriter sehingga akan mengganggu perkembangan dan stabilitas mental anak. Akan tetapi, terlalu memberikan kebebasan kepada anak pun akan menciptakan keluar yang permisif yang juga sama akan mengganggu perkembangan dan stabilitas mental anak. Keseimbangan antara kesesuaian/peraturan dan diskusi/percakapan di rumah (consensual) akan mendorong peningkatan kesadaran gender.

Pengaruh Spiritualitas terhadap Kesadaran Gender

Hasil pengujian hipotesis riset menunjukkan bahwa terdapat pengaruh spiritualitas terhadap kesadaran gender mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan demikian, hipotesis nol (H0) dalam riset ini ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Adapun bunyi hipotesis alternatif (Ha) adalah bahwa terdapat pengaruh Spiritualitas (X2) terhadap Kesadaran Gender (Y) pada mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan hasil pengujian koefisien korelasi regresi secara parsial (uji t) di mana nilai signifikansi variabel spiritualitas yang didapatkan adalah sebesar 0,001 < 0,05 dan nilai t hitung sebesar 3,376 > t tabel 0,67679. Nilai t hitung positif menunjukkan bahwa variabel Spiritualitas (X2) memiliki pengaruh ke arah positif terhadap kesadaran gender (Y), artinya apabila terjadi peningkatan spiritualitas (X2) maka akan terjadi pula peningkatan pada kesadaran gender (Y).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesadaran gender. Artinya, semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang maka akan semakin tinggi tingkat kesadaran gendernya. Hasil riset ini juga sejalan dengan hasil riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh signifikan terhadap kesadaran gender. Gender memoderasi hubungan spiritualitas dan resiliensi orang dewasa pada stressor non-traumatik sehari-hari. Walaupun dilihat sebagai variabel yang memoderasi, ada korelasi antara spiritualitas dan kesadaran gender pada riset tersebut. Selain itu, dalam riset itu dilihat bahwa perempuan dan laki-laki mengatasi stressor secara berbeda-beda. Ini mengindikasikan bahwa ada perbedaan fungsi dan peran perempuan dan laki-laki yang membuat perbedaan gender menjadi isu penting yang perlu diperhatikan (Harirs, 2016). Pengembangan sumber daya laki-laki dan perempuan seyogyanya memperhatikan kondisi perempuan yang sering tidak diperlakuan adil dan tidak diberikan kesempatan yang sama oleh sistem yang dipandang baik-baik saja selama ini.

Hasil riset ini juga memperkuat riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa spiritualitas dan transformasi diri yang cenderung ditumbuhkan di luar institusi agama formal mendorong tingkat kesadaran gender perempuan. Perempuan-perempuan ini tidak hanya memahami isu gender dirinya sendiri, tetapi melalui pengalaman spiritual yang dialaminya mendalami proyek pengembangan gender diri mereka masing-masing (Bandel et al., 2021). Spiritualitas bisa timbul dari pengaruh keluarga, teman, atau bahkan orang asing sekalipun. Selain itu, spiritualitas juga bisa muncul dari bahan bacaan dan perilaku ibadah atau aktivitas spiritualitas non keagamaan seperti kontemplasi yang bisa menentukan pengambilan keputusan penting dalam kehidupan seseorang. Mahasiswa/i yang notabene remaja yang berada dalam masa perkembangan kognitif yang pesat sering kali dihadapkan dengan bahan bacaan, kajian atau organisasi kemahasiswaan baik berbasis agama maupun non agama yang bisa memberi potensi peningkatan spiritualitas mereka. Pengalaman spiritualitas ini yang kemudian mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka dalam berpikir dan menyikapi isu gender yang selama ini sering kali tertutup oleh doktrin pemahaman tradisional, bahkan sering kali datang dari institusi agama formal.

Berdasarkan temuan statistik, deskriptif dan kaitan penelitian dengan teori yang digunakan maupun penelitian-penelitian lainnya, ada beberapa implikasi sosial yang peneliti temukan dalam kaitan pengaruh spiritualitas terhadap kesadaran gender. Pertama, spiritualitas mendorong peningkatan kesadaran gender melampaui keterbatasan relijiusitas. Misalnya, seseorang yang memiliki spiritualitas yang baik akan memiliki potensi untuk melihat kesetaraan laki-laki dan perempuan seutuhnya sebagai makhluk yang dibedakan secara biologis maupun secara sosial. Hal ini sering bertentangan dengan realita di masyarakat di mana relijiusitas, sebagai istilah yang mirip dengan spiritualitas, sering kali digunakan sebagai alat justifikasi adanya relasi superior-inferior antar gender laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya satu ajaran agama yang ditafsirkan di mana seorang laki-laki lebih utama dalam beribadah dan berperan dalam ritual agama maupun peran sosial di kehidupan sehari-hari. Kedua, Dunia akademik dan non-akademik kampus bagi mahasiswa bisa menjadi arena yang kuat untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kesadaran gender, memperkuat pemahaman bawaan yang sudah dibangun di keluarga maupun pengalaman spiritualitas mahasiswa. Pengarusutamaan gender yang digaungkan dari pemerintah yang meresap pada akar kegiatan mahasiswa di kampus seharusnya mampu mengikis isu ketidaksetaraan, ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender di dunia kampus. Sebaliknya, mahasiswa dengan tingkat spiritualitas dan kesadaran gender yang rendah memiliki resiko yang tinggi untuk menjadi pelaku atau bahkan korban yang tidak berdaya dari kekerasan berbasis gender.

Pengaruh Pola Komunikasi Keluarga dan Spiritualitas terhadap Kesadaran Gender

Hasil pengujian hipotesis riset menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pola komunikasi keluarga dan spiritualitas terhadap kesadaran gender mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil pengujian koefisien korelasi regresi secara simultan (uji f), di mana nilai f hitung yang didapat lebih besar dari f tabel yaitu (13,628 > 2,69) dan dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi keluarga (X1) dan spiritualitas (X2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kesadaran gender (Y). Kemudian berdasarkan hasil uji koefisien determinasi (R2) dapat diketahui bahwa pola komunikasi keluarga (X1) dan spiritualitas (X2) mampu mempengaruhi kesadaran gender (Y) pada mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebesar 20,3%, sementara sisanya sebesar 79,7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar riset ini.

Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh pola komunikasi keluarga dan spiritualitas terhadap kesadaran gender pada mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasil riset menunjukkan bahwa kedua variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Kedua variabel bebas berkontribusi dalam membantu mahasiswa/i tahun kedua memahami kesadaran gender. Riset ini menekankan pada pentingnya integrasi antara kedua faktor yang mempengaruhi kesadaran gender yakni pola komunikasi keluarga sebagai faktor eksternal dan spiritualitas sebagai faktor internal. Kedua faktor ini secara bersama-sama memberikan landasan yang kuat untuk memahami isu gender yang tidak hanya berfokus pada pengembangan manusia seutuhnya, tapi juga memperhatikan posisi mereka yang tertindas dan kurang beruntung dalam sistem tatanan sosial.

Pola komunikasi keluarga yang baik dan kondusif menciptakan suasana interaksi keluarga yang harmonis, saling mendukung di antara anggota keluarga, dan mendorong anggota keluarga untuk berkembang tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Sementara pengalaman spiritualitas yang bermakna dalam kehidupan mahasiswa/i memberikan kesadaran penuh akan pentingnya eksistensi laki-laki dan perempuan yang saling melengkapi, berkolaborasi dan menguatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran agama yang komprehensif dan rahmatan lil alamin (kebaikan universal), gender merupakan isu sosial yang perlu dijaga keadilan dan kesetaraannya. Namun sebaliknya, bisa jadi ajaran agama yang parsial dan cenderung tekstual, sering kali melanggengkan ketimpangan gender sebagai bagian dari sesuatu yang kultus dan seolah berdasar pada hukum alam yang tidak bisa diubah.

Gabungan antara pola komunikasi keluarga dan spiritualitas membuktikan bahwa keduanya saling melengkapi dalam menyediakan landasan kuat bagi kesadaran gender yang tepat bagi individu termasuk mahasiswa/i di Universitas. Kampus sebagai tempat yang paling sering terjadi tindakan kekerasan dan ketidakadilan berbasis gender perlu memitigasi isu gender dengan baik melalui peran pola komunikasi keluarga dan spiritualitas. Mahasiswa/i perlu diberikan dorongan untuk membangun pola komunikasi yang baik di keluarga dan meningkatkan pemaknaan kehidupan yang berkualitas tidak hanya dengan pengalaman Religiusitas, tetapi lebih dari itu menjadikannya pengalaman spiritualitas yang tidak terbatas di organisasi dan komunitas keagamaan.

Berdasarkan temuan statistik, deskriptif dan kaitan penelitian dengan teori yang digunakan maupun penelitian-penelitian lainnya, ada beberapa implikasi sosial yang peneliti temukan dalam kaitan dua variabel independen sekaligus yaitu pengaruh pola komunikasi keluarga dan spiritualitas terhadap variabel dependen kesadaran gender. Pertama, Pola komunikasi keluarga dan spiritualitas berperan sebagai faktor eksternal dan internal yang mendorong peningkatan kesadaran gender. Di satu sisi, komunikasi dalam keluarga menjadi fondasi dasar dan sekolah gender pertama yang didapatkan oleh mahasiswa sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas. Ajaran untuk saling menghargai setiap jenis gender baik laki-laki maupun perempuan biasanya orang tua tanamkan sedari dini, begitu pun ketika seorang anak berperan baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Di sisi lain, pemaknaan hidup melalui spiritualitas menjadi faktor lain yang memperkuat pemahaman kesadaran gender mahasiswa yang sudah didapatkan dalam komunikasi di keluarga. Dengan spiritualitas yang baik, seseorang akan mampu melihat hakikat keberadaan ia baik sebagai seorang laki-laki maupun perempuan dan dapat memahami peran apa yang akan dijalankan diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan Kedua, kesadaran gender yang baik secara timbal balik akan melahirkan kualitas komunikasi dan spiritualitas yang baik pula dari mahasiswa ketika berinteraksi terhadap lingkungannya maupun dalam melihat konsep dirinya sendiri. Seorang mahasiswa akan berkomunikasi dengan baik dengan gender yang berbeda (contohnya mahasiswi), misal dengan tidak melakukan serangan verbal secara langsung, karena mengerti bahwa ia pun berkomunikasi dengan gender yang berbeda di rumah dan tahu cara menghargainya. Begitu pun dalam memaknai kehidupannya sendiri, misal seorang mahasiswa tidak akan ragu untuk mengaktualisasikan diri dan meraih cita-cita yang tinggi serta mengejar passion dalam kehidupannya tanpa takut pandangan orang lain atas stigma berbasis gender, terutama stigma dari laki-laki atau dari calon pasangannya kelak.

Jika dibandingkan berdasarkan tinggi, sedang, dan rendahnya kategorisasi variabel-variabel yang diuji, Kesadaran Gender mempunyai kategorisasi dominan sedang (99.1%), Pola Komunikasi Keluarga mempunyai kategorisasi dominan sedang (59,1%), dan Spiritualitas mempunyai kategorisasi dominan tinggi (77%). Ini bisa jadi mengindikasikan bahwa spiritualitas mahasiswa/i di dunia kampus paling berpengaruh dalam peningkatan kesadaran gender. Dunia kampus sebagai gerbang menuju gudang-gudang ilmu pengetahuan memberikan pengalaman spiritualitas yang baik bagi mahasiswa/i sehingga mampu memberikan pengalaman bermakna dalam kehidupan. Di sisi lain, pola komunikasi yang sedang bisa mengindikasikan bahwa masih banyak hal perlu dibenahi dalam pola komunikasi keluarga mahasiswa/i di rumah. Rumah sebagai pendidikan pertama dan utama bagi anak maupun remaja belum sepenuhnya mampu menjadi dasar penanaman kesadaran gender.

KESIMPULAN

Terdapat pengaruh signifikan ke arah positif antara variabel Pola Komunikasi Keluarga terhadap Kesadaran Gender; dan Spiritualitas terhadap Kesadaran Gender mahasiswa mahasiswa/i tahun kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, Pola Komunikasi Keluarga dan Spiritualitas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Kesadaran Gender. Adapun kontribusi pengaruh variabel Pola Komunikasi Keluarga dan Spiritualitas terhadap Kesadaran Gender adalah sebesar 20,3%, di mana sisanya sebesar 79,7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar riset ini. Pola Komunikasi Keluarga menjadi faktor eksternal, sementara Spiritualitas menjadi faktor internal yang mempengaruhi pemahaman Kesadaran Gender di kalangan mahasiswa/i. Penting bagi pemangku kepentingan, terutama yang berkaitan dengan pembuat kebijakan khususnya di dunia pendidikan atau pun wali anak, untuk terus mengarusutamakan kesadaran gender melalui kampanye pentingnya membangun pola komunikasi keluarga yang sehat bagi iklim peningkatan kesadaran gender di lingkungan keluarga dan kampus. Selain itu, institusi agama perlu didorong untuk memberikan ruang kesadaran gender tidak hanya melalui kegiatan ritual dan doktrin tekstual keagamaan semata (relijiusitas), tapi menyadarkan pentingnya kebermaknaan hidup (spiritualitas) sehingga kesetaraaan dan keadilan gender bisa terjaga dan terus meningkat. Dalam penelitian ini, Spiritualitas memberikan pengaruh lebih tinggi dibandingkan dengan Pola Komunikasi Keluarga dalam memberikan dampak pada Kesadaran gender jika di lihat dari kategorisasi skala respon yang diberikan oleh responden (rentang skala muali dari rendah, sedang, dan tinggi).

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas dana hibah penelitian yang diberikan kepada peneliti dan tim sehingga proses penelitian ini dari awal sampai akhir bisa berjalan baik dan lancar.

[1]

References

R. H. Adzovie dan D. E. Adzovie, “Family communication patterns and adolescent sexual and reproductive health: Experiences from coastal communities in ghana.” Technium Social Sciences Journal, vol. 9, pp. 195-210, Agustus 2020, https://doi:10.47577/tssj.v9i1.1175

A. C. Alexander dan C. Welzel, “Empowering women: Four theories tested on four different aspects of gender equality,” European Journal of Political Research, vol. 41, pp. 1-40, 2012, https://researchportal.uc3m.es/individual/rev186070

S. Arikunto, Prosedur peneltian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006. Pp. 123-135.

S. Azarbaijani-Moghaddam, Gender awareness and development manual: Resource material for gender trainers. Kabul: Gender Equality, UNDP Afghanistan, 2007. Pp. 22-70.

K. Bandel, et al., “Jalan gender, jalan spiritual: Menggali pembentukan gender project dalam konteks pengalaman keberagaman perempuan.” Paradigma Jurnal Kajian Budaya, vol. 11 no. 3, pp. 263-285, Januari 2021, https://doi:10.17510/paradigma.v11i3.560

M. T. Bartual-Figueras, et al., “Gender awareness at the university: Is there a gender gap?” presented at 12th Int. Conf. on Technology, Education and Development Conference (IATED). 2018 https://doi:10.21125/inted.2018.1948

A. N. Bryant, ‘Gender differences in spiritual development during the college years,” Sex Roles, vol. 56 No. 11-12, pp. 835–846, Juni 2007, https://doi10.1007/s11199-007-9240-2

S. Cinu, “Feminisme: Sebuah komunikasi spiritualitas menuju penguatan sistem sosial,” Kinesik, vol. 8 No. 2, pp. 189-200, Agustus 2021, https://doi.org/10.22487/ejk.v8i2.166

D. Darmawan, Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016. Pp. 87-103.

M. Epstein dan L. M. Ward, “Exploring parent-adolescent communication about gender: Results from adolescent and emerging adult samples,” Sex Roles, vol. 65 no. 1-2, pp. 108-118, Juli 2011, https://doi:10.1007/s11199-001-9975-7

S. M. Faissel dan A. A. Saleh, “Gender awareness of role of women in society for students of university,” Baghdad University and University of Al-Qadisiya, Iraq, pp. 1-24, 2017, https://www.researchgate.net/publication/324528967

A. Fedele, “The Routledge Internasional Handbook of Spirituality in Society and the Profession. London: Routledge, 2019. Pp. 135-141,

M. A. Generous, “The influence of family communication patterns on sexual communication in romantic relationships: A dyadic analysis,” Ph.D. dissertation, Arizona State University, Amerika Serikat, 1-168, 2016.

L. Harris, “Effects of Gender and Spirituality on Adults’s Resilience to Daily Non-Traumatic Stressors,” Ph.D. dissertation, Walden University, Amerika Serikat 1-152, 2016,

D. R. Hodge, “Spirituality: Towards a theoretical framework,” Journal of Religion and Spirituality in Social Work, vol. 19 no. 4, pp. 1-20. Januari 2000, https://doi:10.1080/15426432.2000.9960271

I. Jugovic dan B. Ancic Effects of Religiosity and Spirituality on Gender Roles and Homonegativity in Croatia and Slovenia. Zagreb: Annales University Press, 2013. Pp. 93-118.

Z. KavehFarsani, R. Kelishadi, K. Beshlideh, “Study of the effect of family communication and function, and satisfaction with body image, on psychological well- being of obese girls: the mediating role of self-esteem and depression, Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, vol. 14 no. 39, pp. 1-10, 2020, https://doi.org/10.1186/s13034-020-00345-3

A. F. Koerner dan M. A. Fitzpatrick, “Communication in intact families” In A. Vangelisti (Ed.), Handbook of Family Communication. London: Routledge, 2004: pp. 177–195.

C. Lisandini dan A. R. Amini, “Persepsi mahasiswa UIN syarif hidayatullah terhadap kesadaran gender, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia, 2015, pp. 1-19

N. Martono, Metode Penelitian Sosial: Konsep Konsep Kunci. Jakarta: Rajawali, 2016. Pp. 10-15.

M. D. Mullis, Faction before blood: Family communication patterns and gender in the dystopian teen drama film divergent. Magister (Tesis). Auburn University, 2017, pp. 1-82.

J. Musek, “The theories of religion and spirituality in psychology and cognitive sciences,” University of Ljubljana, pp. 1-17, Oktober 2006.

Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara, 2001. Pp. 26-37.

K. Noerwoto dan S. Tjiptorini, “The relationship between family communication patterns with spiritual intelligence in adolescents,” in Advances in Social Science, Education and Humanities Research: Proc. of the 3rd Tarumanagara Internasional Conference on the Application of Social Sciences and Humanities, TICASH 2021, Jakarta, Indonesia, 2021, vol. 655, pp. 1584-1587. http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/.

Nuraida, dan Z. B. Hassan, “Pola komunikasi gender dalam keluarga,” Wardah, vol. 18 no. 2, pp. 181-200, 2017. https://doi.org/10.19109/wardah.v18i2.1780

F. Pramono, “Analysis of the family’s communication pattern and the benefits of mother school program for building a harmonious family,” Informasi, vol. 5 no. 1, pp. 1-14, Juli 2020. https://doi.org/10.21831/informasi.v50i1.30136

S. Raharjo, “Cara Melakukan Uji Validitas Product Moment Dengan SPSS,” SPSS Indonesia, para. 2, Januari 2 2023. [Online]. Available: https://www.spssindonesia.com/2014/01/uji validitas-product-momen-spss.html. [Accessed Des. 13, 2025].

A. Rich, “Gender and spirituality: Are women really more spiritual?,” Master Thesis, Liberty University, Amerika Serikat, 2012, pp. 1-35.

M. A. Rueter dan A. F. Koerner, “The effect of family communication patterns on adopted adolescent adjusment,” Journal of Marriage and Family, vol. 70 no. 3, pp. 715-727, Agustus 2008. https://doi:10.1111/j.1741-3737.2008.00516.x.

D. Sayers, The Psychology of Women and Gender. New York: Sage Publictions, Inc., 2022. Pp. 37-52.

C. Sweetman, Gender; Religion; and Spirituality. Oxford: Oxfam GB, 1998. Pp. 10-24.

H. Sarjono dan W. Julianita, SPSS Vs LISREL: Sebuah Pengantar Aplikasi untuk Riset. Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013. Pp. 52-77.

Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods) (cetakan ke 8). Bandung: Alfabeta, 2016. Pp. 145-186

B. Teater et al., Quantitative Research Methods for Social Work: Making Social Work Count. New York: Palgrave, 2017. Pp. 112-143.

C. Vosloo, M. P. Wissing, Q. M. Temane, “Gender, spirituality and psychological well-being,” Journal of Psychology in Africa, vol. 19, no. 2, pp. 155-160, 2009. https://doi.org/10.1080/14330237.2009.10820274