Login
Section Innovation in Education

Innovation Of Character Building Management In Islamic Boarding Schools


Inovasi Manajemen Pembinaan Karakter Di Pondok Pesantren Islam
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Yusrifah Rachmawati (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:



General Background Religious educational institutions historically function as foundational centers for cultivating ethical values and moral discipline among youth. Specific Background The Elliwa Trawas Islamic Boarding School systematically coordinates its administrative functions to instill specific moral attributes in its students through structured daily routines and residential living. Knowledge Gap Although moral education is a recognized objective, detailed qualitative examinations dissecting the precise administrative functions utilized to navigate diverse student backgrounds remain underexplored. Aims This study investigates the administrative operations employed by the Elliwa Trawas institution to systematically coordinate student development and cultivate moral behavior. Results Utilizing a qualitative case study methodology with interviews, observation, and documentation, findings indicate that moral cultivation is deeply integrated into the institution's core planning and operations. The administration effectively delegates tasks among residential supervisors, enforces educational discipline through daily habituation and role modeling, and provides intensive, humanistic counseling for behavioral correction. However, the institution faces continuous challenges in accommodating diverse demographic backgrounds and aligning academic schedules with moral development programs. Novelty This research distinctly isolates and analyzes the cyclical administrative processes—from strategic planning to humanistic behavioral correction—that sustain moral development within a residential educational framework. Implications Institutional administrators must strictly formalize organizational structures, utilize humanistic counseling approaches, and establish continuous evaluation mechanisms to navigate the complexities of managing student behavioral development.



Highlights:



  • Structuring clear administrative responsibilities streamlines the execution of moral development initiatives.



    DOCX



  • Utilizing humanistic counseling approaches successfully corrects behavioral issues while preserving student dignity.



    DOCX



  • Continuous evaluation mechanisms are strictly required to adapt behavioral programs to diverse demographic backgrounds.




Keywords: Student Development, Administrative Functions, Behavioral Correction, Humanistic Counseling, Moral Habituation



Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan karakter generasi muda. Dengan kurikulum yang mengintegrasikan ajaran agama dan moral, pondok pesantren tidak hanya berfokus pada pengajaran agama, tetapi juga membangun nilai-nilai kehidupan yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi dan sosial peserta didik. Pengaruh globalisasi dan modernisasi saat ini yang membawa berbagai tantangan moral, etika, dan sosial, pesantren tetap menjadi benteng utama dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan [1] Hal ini tidak terlepas dari sistem pembinaan yang diterapkan secara intensif dan berkelanjutan kepada para santri. [2] Pembinaan santri di pesantren tidak hanya berfokus pada aspek kognitif dan hafalan keilmuan agama, tetapi juga menyasar pembentukan akhlak mulia dan kepribadian Islami. [3]

Manajemen yang baik memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang mendukung, pembiasaan perilaku positif, serta relasi harmonis antara santri dan Pembina. [4]. Manajemen adalah sebuah proses dalam merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, serta mengendalikan sebuah pekerjaan organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Sedangkan fungsi Manajemen dari segi perencanaan adalah proses memutuskan tujuan-tujuan apa yang akan di kejar selama jangka waktu yang akan datang dan akan dilakukan, agar tujuan-tujuan itu dapat tercapai.[5] Berdasarkan pengertian di atas yang dimaksud dengan fungsi manajemen adalah proses dalam suatu perencanaan, pengorganisasian dan evaluasi dalam menentukan tujuan dalam jangka kurun waktu agar tujuan tersebut dapat tercapai. Adapun dalam penelitian ini adalah fungsi manajemen dalam pembinaan akhlak santri di pondok pesantren.

Pembianaan adalah suatu langkah yang di lakukan secara yakin dan mengarahkan kepribadian, memberikan bimbingan kepada anak, yang di lakukan secara formal dan nonformal.[6] Pembinaan santri merupakan suatu proses usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna yang diterapkan kepada para santri yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan secara teratur dan terarah, sehingga dapat tercapai apa yang diharapkan.[7] Pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa pembinaan dilakukan sebagai usaha untuk memberikan arahan dan bimbingan guna tercapainya tujuan tertentu. Melalui kegiatan pembinaan yang mana pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan akhlak diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pemahaman. Dalam pembinaan, pelaksanaan manajemen penting dilakukan untuk meningkatkan kinerja pembina dalam mengelola tugasnya. Oleh sebab itu, pembinaan memiliki hubungan yang erat dengan manajemen karena pembinaan tidak dapat dilakukan secara instan, diperlukan manajemen yang tepat agar dapat terinternalisasi dengan baik dan aktualisasinya dapat dirasakan bersama.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.[8] Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 juga tertera tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menegaskan pentingnya integrasi nilai karakter pada seluruh jalur pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan di pondok pesantren. Namun, secara konseptual kebijakan ini lebih banyak dirumuskan dalam kerangka pendidikan formal sehingga implementasinya di pesantren memerlukan penyesuaian dengan kultur kepesantrenan yang berbasis keteladanan, pembiasaan, dan kehidupan berasrama. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi objek kebijakan PPK, tetapi juga memiliki sistem pendidikan karakter yang telah lama berjalan dan justru dapat memperkaya praktik penguatan pendidikan karakter secara nasional. [9]

Penelitian yang relevan dengan topik kajian ini adalah yang dilakukan oleh Delvin Pratama dkk (2025) yang berjudul Manajemen Pembinaan di Pondok Pesantren melalui Pendekatan Shohbah untuk Pengembangan Karakter Santri. Hasil Penelitian ini adalah pendekatan shohbah yang menekankan peran pengasuh sebagai teladan kehidupan sehari-hari terbukti efektif untuk meningkatkan sikap positif santri, keterampilan social-akademik, adaptasi empati, dan intergritas spiritual. [10] Penelitian oleh Ibn Fatih Assabily dkk (2023) yang berjudul Manajemen Santri dalam Penguatan Karakter Islami. Hasil penelitian ini berfokus pada pembinaan karakter islami yang melibatkan seluruh sstakeholder pondok pesantren, organisasi santri dan pembelajaran. Model Integrasi karakter islami dimasukkan dalam setiap aktivitas pesantren dan kurikulum formal. [11] Penelitian oleh Ali Nurhadi dkk (2022) yang berjudul Manajemen Pembinaan Karakter Disiplin Santriwati di Pondok Pesantren Miftahul Qulub Polagan Pamekasan menelaah bagaimana pengasuh dan pengurus mengelola pembinaan karakter disiplin santriwati melalui fungsi manajerial sistematis dan secara efektif membantu karakter disiplin santriwati. [12] Penelitian yang dilakukan oleh M. Ikbal Choing dkk (2022) berjudul Pola Pembinaan Akhlak Santri Pada Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba merupakan kajian tentang pola pembinaan akhlak melalui metode edukatif seperti keteladanan, nasehat, pembiasaan, serta pengawasan dan juga mengevaluasi faktor-faktor pendukung atau yang mempengaruhi efektivitas pembinaan tersebut.[13]

Namun demikian, tidak semua pesantren memiliki sistem manajemen pembinaan yang optimal. Termasuk, yang dialami Pondok Pesantren Elliwa Trawas yang menghadapi tantangan dalam mengelola sumber daya manusia, fasilitas pendukung, serta strategi pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan karakter santri masa kini. Ketertarikan peneliti untuk mengangkat tema manajemen pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas dilatarbelakangi oleh peran strategis pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi ilmu keagamaan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter dan kepribadian santri. Di tengah tantangan perkembangan zaman, perubahan sosial, serta kompleksitas perilaku remaja, pesantren dituntut memiliki sistem pembinaan yang terstruktur, terencana, dan berkelanjutan. Pondok Pesantren Elliwa Trawas menunjukkan dinamika pembinaan santri yang menarik untuk dikaji, khususnya dalam hal pengelolaan program pembinaan, pendekatan pembinaan karakter, serta peran para pembina dalam membentuk kedisiplinan dan akhlak santri. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk menelaah lebih dalam bagaimana manajemen pembinaan santri diterapkan, sehingga dapat memberikan gambaran praktik baik (best practices) sekaligus kontribusi konseptual bagi pengembangan manajemen pendidikan Islam di lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam praktik manajemen pembinaan santri dalam upaya penguatan karakter, serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model manajemen pembinaan santri yang efektif dan berkelanjutan.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena sosial dan perilaku manusia dalam konteks alami terutama yang berkaitan dengan manajemen pembinaan santri dijalankan di pondok pesantren, sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Desain studi kasus memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi secara menyeluruh berbagai aspek manajerial, seperti perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan evaluasi pembinaan santri dalam penguatan karakter di pondok pesantren.[14] Lokasi penelitian ditentukan secara purposive atau sengaja dipilih, yaitu di Pondok Pesantren Elliwa Trawas. Pondok Pesantren ini dipilih karena telah melaksanakan program pembinaan santri selama lebih dari lima tahun secara konsisten, serta memiliki komitmen kelembagaan yang kuat dalam pengelolaannya. Informan dalam penelitian ini dipilih dengan teknik purposive sampling tidak perlu, yaitu mereka yang dianggap mengetahui dan terlibat langsung dalam manajemen program pembinaan, seperti pimpinan pesantren, pembina santri dan santri sebagai penerima pembinaan.[15]

Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar informan dapat menyampaikan pendapat dan pengalamannya dengan lebih bebas. Observasi dilakukan untuk melihat langsung proses pembinaan santri dan kegiatan manajerial yang terkait. Sedangkan studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa dokumen sekolah seperti jadwal kegiatan, arsip evaluasi, dan dokumen administratif lainnya. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan secara terus-menerus sejak data dikumpulkan hingga proses akhir, agar hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi, baik triangulasi sumber maupun metode. Selain itu, dilakukan member check kepada informan untuk memastikan data yang diperoleh benar dan sesuai, serta diskusi dengan sejawat untuk menghindari subjektivitas peneliti. [16]

III. Hasil dan Pembahasan

Hasil triangulasi (wawancara, observasi, dokumentasi) menunjukkan bahwa manajemen pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas dilaksanakan secara sistematis dengan enam fungsi manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan pembinaan intensif. Seluruh fungsi tampak konsisten dalam penguatan karakter santri (disiplin, akhlak, tanggung jawab, kemandirian) dan mencerminkan praktik pembinaan yang integral. Temuan ini konsisten dengan penelitian manajemen pesantren lain yang menunjukkan pentingnya fungsi manajemen dalam pembentukan karakter santri secara struktural dan berkelanjutan. [17]

Manajemen Pembinaan Santri dalam Penguatan Karakter

Berdasarkan triangulasi data (wawancara, observasi, dan dokumentasi), manajemen pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas dilaksanakan secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan fokus utama penguatan karakter santri. Temuan penelitian menunjukkan adanya konsistensi antara implementasi praktik manajemen di lapangan dan dokumen resmi pesantren sehingga data dinyatakan kredibel dan valid dalam konteks pendidikan karakter. Temuan dibagi sesuai fungsi manajemen pembinaan berikut :

A. Perencanaan Pembinaan Santri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan karakter santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas dilakukan dengan mengacu pada visi dan misi pesantren yang menekankan nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia.

1. Landasan Perencanaan Pembinaan Santri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas berlandaskan visi, misi, dan nilai dasar pesantren yang menempatkan penguatan akidah Islam dan pembentukan akhlak mulia sebagai tujuan utama pendidikan. Perencanaan pembinaan tidak disusun sebagai program tambahan, tetapi dirancang sebagai inti dari seluruh aktivitas kepesantrenan. Program pembinaan disusun secara sistematis dan terintegrasi dalam seluruh aktivitas santri, baik kegiatan formal (kepesantrenan) maupun nonformal (aktivitas keagamaan dan sosial) dengan tujuan membentuk karakter yang berpacu pada akidah islam sehinga karkter religius, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial dimiliki oleh santri atas kesadaran dan dorongan akidah bukan sekedar paksaan aturan dari pesantren. Temuan ini konsisten dengan penelitian di pesantren lain yang menunjukkan bahwa perencanaan karakter dilakukan melalui penyusunan tujuan yang jelas, program kegiatan terstruktur, dan komitmen seluruh stakeholder untuk mencapai tujuan karakter santri. [18]

2. Perumusan Tujuan dan Nilai Karakter dalam Perencanaan

Hasil observasi dan dokumentasi menunjukkan bahwa tujuan pembinaan santri dirumuskan secara eksplisit dalam bentuk nilai karakter yang ingin dibentuk, meliputi:

a. Ketaatan terhadap seluruh syariat islam

b. Religiusitas,

c. Akhlak mulia,

d. Kedisiplinan,

e. Tanggung jawab,

f. Kemandirian, dan

g. Kepatuhan terhadap norma pesantren.

Nilai-nilai tersebut dirancang untuk diinternalisasikan melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan santri sehari-hari. Perencanaan pembinaan tidak hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran internal santri. Perencanaan pembinaan karakter yang eksplisit terhadap nilai-nilai yang ingin dibentuk akan mempermudah implementasi dan evaluasi pembinaan santri. [19]

3. Integrasi Perencanaan Pembinaan dalam Program Pesantren

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas diintegrasikan ke dalam seluruh program pesantren, baik kegiatan akademik, keagamaan, maupun kehidupan asrama. Jadwal kegiatan harian, mingguan, dan tahunan santri disusun dengan mempertimbangkan muatan pembinaan karakter. Dokumentasi menunjukkan bahwa kegiatan seperti shalat berjamaah, tahfidz Al-Qur’an, upgrading syaksiyah, kegiatan kebersihan, dan organisasi santri merupakan bagian dari strategi pembinaan karakter yang telah direncanakan sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan bersifat holistik dan tidak parsial. Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan karakter di pesantren efektif apabila terintegrasi dalam seluruh aktivitas lembaga, bukan hanya pada kegiatan tertentu. [20]

4. Keterlibatan Unsur Pesantren dalam Perencanaan Pembinaan

Hasil wawancara menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan santri melibatkan berbagai unsur pesantren, seperti pimpinan pesantren, pembina santri, wali kelas, dan pengurus organisasi santri. Keterlibatan ini bertujuan agar perencanaan pembinaan realistis, aplikatif, dan sesuai dengan kondisi santri. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembina santri memahami tujuan dan arah pembinaan yang telah direncanakan, sehingga pelaksanaan pembinaan di lapangan berjalan selaras dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan karakter yang melibatkan banyak pihak meningkatkan efektivitas implementasi dan konsistensi pembinaan santri. [18]

5. Orientasi Jangka Panjang dalam Perencanaan Pembinaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas tidak bersifat jangka pendek, melainkan dirancang sebagai proses pembinaan berkelanjutan selama santri menempuh pendidikan di pesantren. Pembinaan karakter dipandang sebagai proses bertahap yang memerlukan waktu, pembiasaan, dan pendampingan intensif. Orientasi jangka panjang ini tampak dari konsistensi program pembinaan dan keberlanjutan evaluasi terhadap perilaku santri. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembinaan tidak hanya menargetkan perubahan perilaku sesaat, tetapi pembentukan karakter yang melekat dalam diri santri. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan pentingnya perencanaan strategis jangka panjang dalam mencapai tujuan pembinaan karakter peserta didik. [21]

B. Pengorganisasian Pembinaan Santri

Pengorganisasian dalam manajemen pembinaan santri merupakan bagian kritis yang memastikan seluruh kegiatan pembinaan terstruktur, terkoordinasi, dan terlaksana sesuai dengan tujuan penguatan karakter santri. Pada Pondok Pesantren Elliwa Trawas, temuan penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian pembinaan karakter santri dilakukan secara formal, kolaboratif, dan berbasis tugas yang jelas.

1. Struktur Organisasi Pembinaan

Hasil wawancara dan dokumentasi menunjukkan bahwa pesantren memiliki struktur pengorganisasian yang jelas. Struktur ini mencakup pimpinan pesantren, pengurus bagian pendidikan dan pembinaan, pembina santri, wali kelas, dan organisasi santri sebagai komponen pelaksana pembinaan. Setiap unsur memiliki job description dan tanggung jawab yang spesifik sesuai dengan fungsi pembinaan karakter yang tercantum dalam visi pesantren. Penataan struktur yang jelas ini membantu memastikan pembinaan berjalan terarah, tidak terjadi tumpang tindih tugas, dan setiap komponen memahami perannya dalam membentuk karakter santri. Pengorganisasian pembinaan karakter di pesantren lebih efektif jika diimbangi dengan struktur kelembagaan yang formal dan fungsional. [17]

2. Pembagian Tugas dan Koordinasi Antar Unsur

Data wawancara dengan pembina santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas menunjukkan bahwa pengorganisasian pembinaan dijalankan secara kolaboratif. Peran pembina santri, wali kelas, dan organisasi santri dibagi berdasarkan aspek pembinaan, berupa:

a. Pembina asrama fokus pada pengawasan adab, kebiasaan ibadah, dan disiplin harian;

b. Wali kelas bertugas memonitor kemajuan pembelajaran dan karakter di kelas;

c. Organisasi santri bertanggung jawab mendukung kegiatan pembiasaan karakter dalam aktivitas kepesantrenan.

Pembagian seperti ini selaras dengan model pengorganisasian kelembagaan yang efektif, di mana kolaborasi antar unit bertujuan untuk memaksimalkan fungsi pembinaan di seluruh konteks kehidupan santri. Pengorganisasian efektif memerlukan pembagian tugas yang jelas dan koordinasi lintas unit pesantren. [21]

3. Mekanisme Pengorganisasian dalam Kegiatan Pembinaan

Selain struktur dan pembagian tugas, pengorganisasian pembinaan di Pondok Pesantren Elliwa Trawas juga mencakup mekanisme koordinasi harian dan periodik, seperti:

a. Rapat evaluasi mingguan antar pembina;

b. Pertemuan koordinasi antar unit (asrama, pendidikan, organisasi santri);

c. Jadwal kegiatan harian yang terintegrasi dalam program pembinaan pesantren.

Mekanisme seperti ini memastikan bahwa program pembinaan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai jadwal, serta memberikan ruang untuk refleksi dan perbaikan rutin. Hal ini menunjukkan pentingnya musyawarah dan koordinasi rutin dalam pengorganisasian pembinaan karakter di pesantren agar prosesnya efektif dan adaptif terhadap kondisi santri. [22]

C. Pelaksanaan Pembinaan Santri

Pelaksanaan pembinaan santri merupakan tahap implementatif dari perencanaan dan pengorganisasian pembinaan yang telah disusun oleh pesantren. Berdasarkan hasil triangulasi data wawancara, observasi, dan dokumentasi, pelaksanaan pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas dilakukan secara intensif, terintegrasi, dan berorientasi pada pembiasaan nilai-nilai karakter Islami dalam kehidupan sehari-hari santri.

1. Pembinaan melalui Keteladanan (Uswah Hasanah)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan pembina santri menjadi strategi utama dalam pelaksanaan pembinaan karakter. Pembina tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai figur teladan dalam sikap, tutur kata, kedisiplinan, dan pelaksanaan ibadah. Santri belajar nilai-nilai karakter melalui interaksi langsung dan pengamatan terhadap perilaku pembina dalam kehidupan pesantren. [23] Observasi lapangan menunjukkan bahwa pembina secara langsung menjadi role model dalam pelaksanaan ibadah, kedisiplinan waktu, cara berbicara, serta adab pergaulan. Selain itu, pembina selalu hadir dalam kegiatan harian santri (shalat berjamaah, pengajian, kegiatan kebersihan) sehingga santri melihat praktik nyata, bukan hanya instruksi. Teguran kepada santri dilakukan dengan bahasa santun dan mendidik, menunjukkan akhlak yang ingin ditanamkan. Temuan ini menegaskan bahwa pembinaan karakter lebih efektif ketika dilakukan melalui contoh nyata dibandingkan instruksi verbal semata.

2. Pembinaan melalui Pembiasaan Kegiatan Harian Santri

Hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan karakter di Elliwa Trawas dilakukan melalui pembiasaan (habituation) yang terstruktur dalam kegiatan harian santri. Kegiatan tersebut meliputi shalat berjamaah, kegiatan tahfidz Al-Qur’an, kebersihan lingkungan, disiplin waktu, dan kepatuhan terhadap tata tertib pesantren. Pembiasaan ini dirancang agar nilai-nilai karakter tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi dipraktikkan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan dan bagian dari kepribadian santri. Dokumentasi kegiatan pesantren menunjukkan bahwa seluruh aktivitas santri memiliki muatan pembinaan karakter. [24]

3. Pembinaan melalui Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Pelaksanaan pembinaan karakter santri juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang selain dilaksanakan setiap hari, adapula yang terjadwal pekanan seperti pengajian rutin, kajian kitab, kegiatan organisasi santri, dan kerja bakti.Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan nilai religiusitas, kepedulian sosial, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan organisasi santri menjadi sarana efektif untuk melatih kemandirian dan kepemimpinan santri, sekaligus menginternalisasi nilai tanggung jawab dan kerja sama. Pelaksanaan pembinaan tidak hanya bersifat instruksional, tetapi memberikan ruang bagi santri untuk belajar melalui pengalaman langsung. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa keterlibatan santri dalam kegiatan organisasi dan sosial pesantren memperkuat internalisasi nilai karakter melalui pembelajaran kontekstual. [25]

4. Pelaksanaan Pembinaan Disiplin dan Tata Tertib

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan disiplin dilakukan melalui penerapan tata tertib pesantren yang bersifat edukatif dan persuasif. Pelanggaran yang dilakukan santri tidak langsung diberi hukuman, tetapi melalui proses pembinaan bertahap, seperti nasihat, pembinaan personal, dan pendampingan oleh pembina. Selain peringatan lewat tata tertib dan pengawasan, juga dilaksakan kegiatan bulanan dan persemester seperti pelatihan Leadership, outbond, pelatihan untuk menumbuhkan kemampuan softskill berbahasa, memasak, dan public speaking. Dalam pelatihan dan kegiatan tersebut pesantren mengundang ahli dari luar kalangan pesantren dan berlokasi diluar pesantren dengan fasilitas mendukung demi optimalisasi kegiatan. Hasil dari kegiatan yang dilaksanakan akan dipantau oleh organisasi santri bagian tata tertib dan didampingi langsung oleh ustdzah pembina asrama. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan lebih menekankan pada proses perbaikan perilaku daripada sanksi semata. Observasi menunjukkan bahwa santri memahami aturan sebagai bagian dari pembinaan karakter, bukan sebagai tekanan. [26]

D. Pengawasan dan Evaluasi Pembinaan Santri

Pengawasan dilaksanakan secara berkelanjutan oleh pembina asrama dan wali kelas melalui pemantauan perilaku santri baik di ruang kelas maupun asrama. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui catatan perilaku, rapat pembina, dan forum evaluasi santri. Rapat pembina dilaksanakan secara berkala dan terjadwal, umumnya dilakukan satu kali dalam satu bulan, serta dapat dilaksanakan secara insidental apabila terdapat permasalahan mendesak terkait perilaku atau kedisiplinan santri. Selain rapat rutin bulanan, pembina juga melakukan rapat evaluasi khusus pada momen-momen tertentu, seperti setelah pelaksanaan kegiatan besar pesantren, akhir semester, atau menjelang penilaian akhir santri. Forum evaluasi santri dilaksanakan secara rutin setiap awal pecan bersama seluruh santri dan seluruh pembina asrama. forum evaluasi juga melibatkan pengurus organisasi santri untuk memberikan masukan terkait dinamika sosial santri di lingkungan pesantren. Keterlibatan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi santri dari perspektif sebaya.

Hasil rapat pembina dan forum evaluasi santri ditindaklanjuti melalui beberapa langkah strategis. Pertama, pesantren menetapkan rekomendasi pembinaan lanjutan bagi santri yang memerlukan perhatian khusus. Rekomendasi ini dapat berupa pembinaan intensif, pendampingan personal oleh pembina tertentu, atau penguatan pengawasan dalam aktivitas harian santri. Kedua, pembina menyusun strategi pembinaan individual bagi santri bermasalah dengan pendekatan yang bersifat humanis dan dialogis. Santri dipanggil secara personal untuk diberikan arahan, nasihat, dan motivasi, serta diajak untuk memahami konsekuensi dari perilaku yang ditunjukkan. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran internal santri, bukan sekadar kepatuhan formal.

Ketiga, hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perbaikan program pembinaan pesantren. Apabila ditemukan pola pelanggaran atau permasalahan yang bersifat kolektif, pesantren melakukan penyesuaian program, seperti penguatan jadwal pembiasaan, penambahan kegiatan karakter, atau revisi tata tertib yang lebih edukatif. Keempat, pembina melakukan monitoring lanjutan terhadap santri pasca-evaluasi. Perkembangan santri dicatat dalam buku pembinaan atau laporan internal pesantren untuk memastikan adanya perubahan perilaku yang positif dan berkelanjutan. Monitoring ini menjadi dasar evaluasi berikutnya sehingga proses pembinaan bersifat siklus dan berkesinambungan. Temuan tersebut konsisten dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa pengawasan berkelanjutan dan evaluasi rutin merupakan elemen penting dalam manajemen pembinaan karakter di pesantren. [27]

E. Pembinaan Intensif terhadap Santri Bermasalah

Santri yang mengalami permasalahan perilaku di Pondok Pesantren Elliwa Trawas tidak langsung diberikan sanksi yang bersifat represif, melainkan memperoleh pembinaan intensif melalui pendekatan personal, konseling, dan dialog yang humanis. Secara teknis, pembinaan intensif diawali dengan identifikasi masalah perilaku santri yang dilakukan oleh pembina asrama atau wali pembina melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas keseharian santri. Permasalahan yang teridentifikasi meliputi pelanggaran hukum syariat islam, pelanggaran tata tertib, rendahnya kedisiplinan atau konflik antar santri yang dinilai fatal. Temuan awal ini kemudian dicatat dalam laporan pembinaan untuk dibahas dalam forum pembina.

Setelah permasalahan santri teridentifikasi, pembina melakukan pemanggilan personal terhadap santri yang bersangkutan. Pemanggilan dilakukan secara individual di ruang pembina atau tempat yang kondusif dan tidak bersifat mengintimidasi. Pada tahap ini, pembina membangun suasana dialogis dan penuh empati agar santri merasa aman dan terbuka dalam menyampaikan permasalahan yang dihadapi. Pembina tidak langsung menegur atau menyalahkan, melainkan melakukan tabayyun untuk menggali faktor penyebab permasalahan baik internal dan eksternal, mengajak santri untuk merefleksikan perilaku yang ditunjukkan serta dampaknya terhadap diri sendiri dan lingkungan pesantren. Konseling dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, tidak hanya sekali pertemuan, sehingga pembina dapat memantau perkembangan sikap dan respons santri terhadap arahan yang diberikan.

Sebagai tindak lanjut dari konseling, pembina menyusun kesepakatan pembinaan bersama santri. Kesepakatan ini berisi komitmen santri untuk memperbaiki perilaku tertentu, seperti meningkatkan kedisiplinan ibadah, mematuhi tata tertib, atau memperbaiki sikap dalam pergaulan. Kesepakatan tersebut disampaikan secara lisan dan disertai pengawasan langsung oleh pembina dalam aktivitas keseharian santri. Apabila santri menunjukkan perkembangan positif, pembinaan intensif secara bertahap dikurangi dan santri kembali mengikuti pola pembinaan reguler. Namun, apabila permasalahan belum menunjukkan perubahan signifikan, pesantren dapat melibatkan pihak lain, seperti pimpinan pesantren atau wali santri, untuk mencari solusi pembinaan yang lebih komprehensif. Pembinaan intensif berbasis pendekatan humanis efektif dalam memperkuat karakter santri bermasalah. [28]

Di bawah ini merupakan bagan alur (flowchart) untuk memperjelas proses manajemen pembinaan santri dalam penguatan karakter di Pondok Pesantren Elliwa Trawas

Tantangan Manajemen Pembinaan Santri dalam Penguatan Karakter

A. Heterogenitas Latar Belakang Santri

Salah satu tantangan utama manajemen pembinaan di Pondok Pesantren Elliwa Trawas adalah menyesuaikan program dengan beragam latar belakang santri seperti sosial, budaya, dan kepribadian santri. Variasi ini berdampak pada proses adaptasi nilai karakter yang tidak bisa distandarisasi seragam. Tantangan ini juga dilaporkan dalam penelitian lain yang menemukan bahwa heterogenitas latar belakang santri memengaruhi kecepatan adaptasi terhadap sistem pembinaan pesantren maupun terhadap internalisasi karakter. [11]

B. Keterbatasan Supervisi dan Kapasitas Pembina

Beberapa studi mencatat kelemahan pengawasan akibat keterbatasan kapasitas pembina yang tinggal di pesantren, sehingga efektivitas pengawasan karakter bisa menurun. Hal tersebut juga menjadi tantangan di beberapa pesantren yang menekankan perlunya supervisi yang lebih kuat. [17]

C. Kompleksitas Manajemen Kurikulum Karakter

Integrasi kurikulum formal dan nonformal menjadi tantangan tersendiri karena perlu penyelarasan strategi pembinaan dengan kegiatan akademik. Kegiatan akademik yang bertarget pada orientasi ilmu umum maupun islami dengan kegiatan pembinaan yang berada dijam siluar pembelajaran. Penelitian tentang manajemen kurikulum karakter di pesantren lain menunjukkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam manajemen kurikulum karakter butuh sinkronisasi lebih lanjut agar efektif. [29]

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai manajemen pembinaan santri dalam penguatan karakter di Pondok Pesantren Elliwa Trawas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembinaan santri telah berjalan secara sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan. Manajemen pembinaan tidak diposisikan sebagai kegiatan tambahan, melainkan menjadi inti dari seluruh proses pendidikan pesantren yang berorientasi pada pembentukan karakter Islami santri.

Perencanaan pembinaan santri disusun berdasarkan visi, misi, dan nilai dasar pesantren yang menekankan penguatan akidah Islam dan pembentukan akhlak mulia. Perencanaan tersebut dirancang secara holistik dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh aktivitas pesantren, baik kegiatan akademik, keagamaan, maupun kehidupan asrama. Perencanaan pembinaan diarahkan untuk membentuk karakter religius, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial santri secara berkelanjutan.

Pengorganisasian pembinaan santri dilaksanakan melalui struktur kelembagaan yang jelas dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang terdefinisi antara pimpinan pesantren, pembina santri, wali kelas, dan organisasi santri. Pola pengorganisasian yang bersifat kolaboratif ini memungkinkan seluruh unsur pesantren berperan aktif dalam proses pembinaan karakter, sehingga pelaksanaan pembinaan berjalan selaras dengan perencanaan yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan pembinaan santri dilakukan melalui pendekatan keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari santri. Pembina santri berperan sebagai teladan dalam sikap, perilaku, dan praktik ibadah, sementara pembiasaan kegiatan harian pesantren menjadi sarana utama internalisasi nilai karakter. Pembinaan juga dilaksanakan melalui kegiatan keagamaan, sosial, dan organisasi santri, serta penerapan disiplin yang bersifat edukatif dan persuasif, sehingga pembinaan tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membangun kesadaran internal santri.

Pengawasan dan evaluasi pembinaan santri dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pemantauan perilaku santri, pencatatan pembinaan, dan forum evaluasi pembina. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian program pembinaan agar tetap relevan dengan perkembangan karakter santri dan dinamika pesantren. Selain itu, santri yang mengalami permasalahan perilaku mendapatkan pembinaan intensif melalui pendekatan personal dan dialog yang bersifat humanis, sehingga perubahan perilaku diarahkan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, manajemen pembinaan santri di Pondok Pesantren Elliwa Trawas memberikan dampak positif terhadap penguatan karakter santri, khususnya dalam aspek religiusitas, akhlak mulia, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penguatan karakter santri sangat ditentukan oleh konsistensi penerapan fungsi manajemen pembinaan yang terintegrasi, berbasis nilai-nilai keislaman, serta didukung oleh keteladanan pembina dan budaya pesantren yang kondusif.

References

A. Rohaeni, I. Wasliman, D. Rostini, and Y. Iriantara, “Management of noble moral education for Madrasah Aliyah students at Persatuan Islam Boarding School,” vol. 2, no. 4, pp. 154–171.

P. Purwanto and A. Alimni, “Strategi pembinaan akhlak santri di Pondok Pesantren Al-Quraniyah Manna Bengkulu Selatan,” Tahdzib Al-Akhlaq J. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 2, pp. 342–350, 2023, doi: 10.34005/tahdzib.v6i2.3447.

Z. Zulqarnain, S. Sukatin, I. Lusiana, I. Istikomah, and A. Antoni, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam, vol. 1, no. 5, 2022, doi: 10.59188/jcs.v1i5.162.

A. A. Maulana and R. Raharjo, “Pengaruh lingkungan pondok pesantren dan pembelajaran Ta'limul Muta'allim terhadap prestasi belajar siswa di SMP Askhabul Kahfi Semarang,” J. Budi Pekerti Agama Islam, vol. 2, no. 3, pp. 89–98, 2024, doi: 10.61132/jbpai.v2i3.303.

F. Nata, “Fungsi manajemen dalam pembinaan akhlak santri di Pondok Pesantren Modern Makkah Karta Jaya Way Kanan,” 2022.

A. Amelia, A. S. Simangunsong, R. Akmalia, S. M. Diastami, S. Halawa, and A. Tanjung, “Manajemen pembinaan peserta didik pada lembaga pendidikan,” J. Educ., vol. 5, no. 2, pp. 3394–3403, 2023, doi: 10.31004/joe.v5i2.1016.

A. Syarifudin, “Implementasi pendidikan karakter di Pondok Pesantren Islam Terpadu Ihsanul Fikri,” vol. 16, no. 2, pp. 39–55, 2015.

J. Janingsih et al., “Manajemen pembinaan santri dalam mengembangkan prestasi nonakademik di Pondok Pesantren Al-Murtadlo Ponjong Gunungkidul dalam membentuk karakter santri,” no. 1, 2025.

Saparwadi, “Pondok pesantren sebagai penguatan pendidikan karakter: Tinjauan filsafat pendidikan Islam,” vol. 3, no. 2, pp. 205–220, 2024, doi: 10.38073/aljadwa.v3i2.1771.

D. Pratama, M. I. Esha, A. Nasith, and M. Marzuqi, “Manajemen pembinaan di pondok pesantren melalui pendekatan shohbah untuk pengembangan karakter santri,” JIIP - J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 8, no. 3, pp. 3517–3522, 2025, doi: 10.54371/jiip.v8i3.7521.

I. F. Assabily, A. R. Badruddin, and Rahman, “Manajemen santri dalam penguatan karakter Islami di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Jauzi Dramaga Bogor,” no. 4, pp. 1–35, 2023.

A. Nurhadi and D. Wulandari, “Manajemen pembinaan karakter disiplin santriwati di Pondok Pesantren Miftahul Qulub Polagan Pamekasan,” pp. 258–272, 2022.

M. I. Coing, A. Hamzah, and M. Anis, “Pola pembinaan akhlak santri pada Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba,” J. Al-Ilmi J. Ris. Pendidik. Islam, vol. 2, no. 2, pp. 18–31, 2022, doi: 10.47435/al-ilmi.v2i2.878.

E. Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif, 1st ed. Yogyakarta: LP2M Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Press, 2020.

A. F. Nasution, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: CV. Harfa Creative.

H. N. Naamy and M. Si, Metodologi Penelitian Kualitatif. Mataram, Indonesia: Pusat Penelitian dan Publikasi Ilmiah LP2M UIN Mataram.

T. Badi and B. Barnoto, “Manajemen pendidikan pondok pesantren dalam membentuk karakter santri di Pondok Pesantren Putri Al Azhar Sidowayah Beji,” vol. 3, 2025.

D. Asiah, “Implementasi manajemen pesantren dalam membentuk karakter santri di Pondok Pesantren Miftahul Jannah Kecamatan Cigugur,” vol. 4, no. 2, pp. 262–270, 2025.

M. F. Al Azizi and P. E. N. Aziza, “Pesantren sebagai wadah building character santri: Studi komparasi karakter siswa yang tinggal di pesantren dan tidak di pesantren,” 2022.

I. Nugraha and M. S. Nugraha, “Peran musyrif dalam pembinaan karakter di Pondok Pesantren Al-Musyarrofah,” vol. 5, no. 2, pp. 120–132, 2025.

H. Pardede and Z. E. Hasibuan, “Manajemen boarding school dalam pembinaan karakter santri di Pesantren Al-Mukhtariyah Nagasaribu Kecamatan Padang Bolak Tenggara Kabupaten Padang Lawas Utara,” vol. 8, no. 1, pp. 8797–8809, 2024.

A. Muid, Suherman, and Yulianti, “Manajemen pendidikan karakter santri: Studi di Pondok Pesantren Al-Furqon Wedoroanom Driyorejo Gresik,” pp. 1–85, 1980.

A. Musadad, S. Nahidloh, K. Nasik, M. Choiri, and T. Pujiati, “Islamic character education strategies at Pesantren Manbaul Hikam: Integrative cultural-spiritual model,” vol. 6, pp. 27–42, 2025, doi: 10.62775/edukasia.v6i1.1377.

D. N. Safitri, I. Rosmilawati, and D. Darmawan, “Implementation of santri character education through Tahfidz and language club programs at Al Muhaimin Modern Islamic Boarding School,” vol. 1, no. 1, pp. 2831–2841, 2024.

M. Imdad, D. Hafidhuddin, and S. Arif, “Balancing tradition and modernity: The role of Aqidah education management in shaping santri character,” vol. 9, no. 3, pp. 766–778, 2025.

Y. Fachrudin and P. Nurina, “Worship in shaping the disciplinary character of students at,” pp. 34–45.

M. Komarodin and A. Rofiq, “Islamic boarding school management in forming the religious character of students,” vol. 3, pp. 11–19, 2023.

Hariyanto, “Peran pengasuh dalam pembinaan moral santri melalui peraturan asrama di SMP Islam Integral Luqman Al-Hakim 02 (Islamic Boarding School Batam) tahun pelajaran 2018/2019,” vol. 2, 2019.

S. Ahmad, A. Shah, and N. Khamim, “Management of character education curriculum in Islamic boarding school,” vol. 3, no. 1, pp. 12–23, 2023.