Choirun Selamet (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)
General Background Cultivating religious character constitutes a fundamental dimension of Islamic education aimed at instilling profound moral values within youth. Specific Background SMK Negeri 1 Surabaya systematically implements a Qur'an Reading and Writing (BTQ) program to promote continuous spiritual habituation alongside its technical vocational curriculum. Knowledge Gap Although numerous studies examine identical programs as basic literacy training, qualitative research analyzing specific managerial executions for establishing a sustainable spiritual habitus remains highly limited. Aims This study investigates the administrative execution of the BTQ program and its subsequent role in cultivating a stable religious habitus among vocational students. Results Employing a qualitative case study design involving teachers and students, the analysis reveals that administrators adaptively utilize robust planning, organizing, implementation, and control functions. The framework prioritizes consistent spiritual practices within a humanistic learning environment, heavily supported by strong educator commitment and progressive institutional policies. However, execution faces notable operational challenges, including severely restricted time allocations and highly diverse student proficiencies. Novelty This research distinctly positions the curriculum beyond mere literacy development, demonstrating how targeted educational administration translates routine practices into an enduring institutional culture. Implications Vocational institutions must formally integrate and sustain humanistic spiritual habituation systems to successfully balance technical skills training with essential moral grounding.
A humanistic learning environment successfully translates routine spiritual practices into enduring institutional character.
Strong educator commitment and administrative policies effectively support the consistent execution of moral education.
Technical institutions face significant challenges regarding restricted time allocations and diverse student proficiencies during implementation.
Keywords: Spiritual Development, Institutional Administration, Character Education, Literacy Training; Moral Grounding
Pendidikan karakter religius merupakan bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan Islam yang bertujuan membentuk peserta didik secara utuh, tidak hanya unggul secara intelektual dan keterampilan, tetapi juga memiliki kepribadian, sikap, dan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dalam konteks pendidikan nasional, penguatan karakter religius dipandang sebagai fondasi penting dalam menumbuhkan nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab sosial, serta pengendalian diri peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat [1], [2].
Sikap religius dalam penelitian ini dipahami sebagai perilaku peserta didik yang mencerminkan internalisasi nilai-nilai keislaman melalui pembiasaan keagamaan di sekolah. Sikap religius tidak hanya berkaitan dengan pemahaman kognitif, tetapi tampak dalam perilaku nyata sebagai hasil habituasi yang berkelanjutan dan berlandaskan keteladanan [3], [4]. Sejalan dengan variabel pembiasaan keagamaan (BTQ), sikap religius diukur melalui indikator perilaku seperti kesantunan bertutur kata, ketaatan terhadap guru dan aturan pembelajaran, kedisiplinan mengikuti kegiatan membaca dan menulis Al-Qur’an, kesungguhan dalam aktivitas keagamaan, serta tanggung jawab menjaga adab pembelajaran. Indikator tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembiasaan religius tercermin pada perubahan sikap dan perilaku peserta didik sebagai output afektif dari pelaksanaan program yang sistematis [5].
Berbagai kajian mutakhir menegaskan bahwa pendidikan karakter religius tidak dapat dibangun secara efektif hanya melalui pendekatan kognitif, seperti penyampaian materi atau ceramah keagamaan. Pendidikan karakter menuntut adanya proses pembiasaan dan praktik nyata yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sekolah agar nilai-nilai religius dapat terinternalisasi secara mendalam dan berkelanjutan [6], [7], [8]. Dengan demikian, sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kebiasaan dan budaya religius peserta didik.
Pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penguatan karakter religius menghadapi tantangan yang relatif lebih kompleks. Orientasi pendidikan yang menekankan penguasaan kompetensi vokasional dan kesiapan memasuki dunia kerja sering kali menyebabkan aspek pembinaan karakter, termasuk karakter religius, kurang memperoleh perhatian yang memadai dalam praktik pendidikan sehari-hari [9], [10]. Padahal, perkembangan dunia kerja modern menunjukkan bahwa dunia industri tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi juga integritas, etos kerja, kedisiplinan, serta nilai spiritual sebagai landasan etika profesional [11], [12].
Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, sekolah kejuruan berbasis keislaman mengembangkan berbagai program pembinaan keagamaan yang terintegrasi dalam budaya sekolah. Salah satu program yang banyak diterapkan adalah program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ). Program BTQ pada umumnya bertujuan meningkatkan kemampuan literasi Al-Qur’an peserta didik, namun dalam praktiknya juga memiliki potensi sebagai sarana pembiasaan religius apabila dikelola secara terstruktur dan dilaksanakan secara konsisten [13].
SMK Negeri 1 Surabaya merupakan salah satu sekolah yang mengimplementasikan program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) sebagai bagian dari strategi pembinaan karakter religius peserta didik. Program ini dilaksanakan secara rutin satu kali dalam seminggu dan dilembagakan dalam aktivitas sekolah, khususnya bagi peserta didik kelas ekstrakurikuler BTQ. Konsistensi pelaksanaan BTQ menunjukkan adanya upaya manajerial sekolah dalam menjadikan praktik keagamaan sebagai bagian dari rutinitas pendidikan. Penelitian menunjukkan bahwa program keagamaan yang dilembagakan dan dijalankan secara konsisten di sekolah berpotensi membentuk kebiasaan religius peserta didik secara bertahap [14], [15].
Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pendidikan karakter religius berbasis pembiasaan. Solihah et al. menemukan bahwa implementasi pendidikan karakter religius melalui metode habituasi mampu membentuk perilaku religius peserta didik secara konsisten dalam kehidupan sekolah [16]. Penelitian Ainurohmah menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan keagamaan berperan penting dalam membentuk karakter religius peserta didik sebagai bagian dari rutinitas sekolah [17]. Sementara itu, Nabilatur menegaskan bahwa pembiasaan keagamaan yang dilakukan secara terstruktur mampu meningkatkan sikap religius dan kedisiplinan peserta didik, meskipun penelitian tersebut belum secara spesifik mengkaji pembentukan kebiasaan religius dalam kerangka konseptual habitus [18].
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, pembentukan karakter dipahami sebagai proses internalisasi nilai yang berlangsung melalui praktik sosial yang dilakukan secara berulang, terstruktur, dan dilembagakan dalam suatu ruang sosial tertentu [19], [20]. Konsep habitus menjelaskan bahwa kebiasaan, disposisi, dan kecenderungan perilaku individu terbentuk melalui pengalaman praksis yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, praktik keagamaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah berpotensi membentuk habitus religius peserta didik yang tercermin dalam sikap, kebiasaan, dan cara memaknai aktivitas keagamaan.
Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang umumnya memposisikan Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) sebagai kegiatan literasi keagamaan atau peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an, penelitian ini menghadirkan kebaruan (novelty) dengan menempatkan BTQ sebagai proses pembentukan habitus religius peserta didik melalui pengelolaan program di tingkat sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis pengelolaan Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di SMK Negeri 1 Surabaya berdasarkan fungsi manajemen pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (POAC), serta pelaksanaan Program BTQ dalam membentuk kebiasaan dan sikap religius peserta didik. Penelitian ini juga mengkaji faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan Program BTQ dalam pembentukan habitus religius peserta didik di SMK Negeri 1 Surabaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk mengkaji pengelolaan program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dalam pembentukan habitus religius peserta didik kelas X AK 1 di SMK Negeri 1 Surabaya. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman mendalam terhadap proses pengelolaan program BTQ sebagai praktik institusional sekolah, meliputi perencanaan, pelaksanaan, serta pembiasaan religius dalam konteks Manajemen Pendidikan Islam.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada guru BTQ (kode GBTQ), guru Pendidikan Agama Islam dan/atau wali kelas (kode GPAI/WK), serta 36 peserta BTQ (kode S1–S36) sebagai informan utama. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan BTQ dan suasana pembiasaan religius di sekolah, sedangkan dokumentasi digunakan untuk menelaah dokumen pendukung seperti jadwal kegiatan, program sekolah, dan arsip terkait pelaksanaan BTQ.
Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan [21]. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber (guru dan peserta didik) serta triangulasi teknik (wawancara, observasi, dan dokumentasi), sehingga temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan relevan dengan fokus pengelolaan program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).
Bagian ini menyajikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengelolaan Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di SMK Negeri 1 Surabaya dalam membentuk habitus religius peserta didik. Hasil dan pembahasan disajikan secara terpadu agar temuan empiris dari wawancara, observasi, dan dokumentasi tidak hanya dideskripsikan, tetapi juga dianalisis untuk memahami proses pembentukan kebiasaan dan sikap religius peserta didik secara mendalam.
Pengelolaan Program BTQ dalam penelitian ini dianalisis menggunakan perspektif manajemen pendidikan dengan mengacu pada fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (POAC). Kerangka ini digunakan sebagai alat analisis konseptual untuk membaca praktik pengelolaan program secara sistematis, namun penyajiannya dilakukan secara naratif agar tetap kontekstual dan sesuai dengan realitas lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di SMK Negeri 1 Surabaya dikelola sebagai program keagamaan yang terlembaga dan berorientasi jangka panjang. Program ini diikuti oleh 25 peserta didik kelas X dan kelas XI, yang terdiri atas siswa yang telah mahir membaca Al-Qur’an dan siswa yang belum mahir. Keberagaman kemampuan ini tidak dipandang sebagai hambatan, tetapi justru menjadi dasar perumusan strategi manajerial dalam pengelolaan program.
Pada tahap perencanaan, BTQ dirancang sebagai kegiatan rutin yang menekankan pembiasaan membaca Al-Qur’an secara konsisten. Guru BTQ menegaskan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari seberapa cepat siswa mampu membaca dengan lancar, melainkan dari terbentuknya kebiasaan membaca yang berkelanjutan:
“Yang kami tekankan itu bukan langsung lancar, tapi supaya mereka terbiasa dulu membaca. Kalau sudah terbiasa, nanti bacanya akan ikut berkembang.” (GBTQ)
Kutipan ini menunjukkan bahwa perencanaan BTQ memiliki orientasi pedagogis dan manajerial yang kuat, karena menempatkan pembiasaan sebagai inti program. Dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam, perencanaan yang berorientasi pada pembiasaan dan kontinuitas praktik dipandang sebagai strategi efektif untuk membentuk karakter religius yang menetap, bukan sekadar perilaku sesaat [22]. Dengan demikian, tahap perencanaan BTQ dapat dipahami sebagai proses awal pembentukan habitus religius melalui desain praktik yang dilakukan secara berulang dan terstruktur.
Dari sisi pengorganisasian, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta BTQ dikelompokkan berdasarkan pemetaan kemampuan membaca Al-Qur’an yang diperoleh melalui tes atau seleksi awal. Siswa yang telah mahir mengikuti BTQ karena motivasi internal untuk memperdalam bacaan dan tajwid, sementara siswa yang belum mahir mengikuti program berdasarkan hasil seleksi kemampuan awal. Hal ini ditegaskan oleh guru BTQ:
“Anak-anak yang sudah bisa itu ikut karena ingin memperdalam, sedangkan yang belum bisa memang dari hasil tes awal.” (GBTQ)
Pengorganisasian ini menunjukkan bahwa manajemen BTQ bersifat adaptif dan responsif terhadap kondisi peserta didik. Pendekatan tersebut tidak hanya memudahkan guru dalam menentukan strategi pembelajaran, tetapi juga mencegah munculnya tekanan psikologis pada siswa yang masih lemah. Dalam kajian manajemen pendidikan kontemporer, pengorganisasian berbasis kebutuhan peserta didik dinilai mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran sekaligus mendukung pembentukan karakter secara lebih manusiawi [23].
Selain itu, pembagian peran antara guru BTQ sebagai pembimbing utama serta guru Pendidikan Agama Islam dan wali kelas sebagai pendukung pembinaan moral menunjukkan adanya koordinasi kelembagaan yang memperkuat keberlangsungan program. Koordinasi ini memperlihatkan bahwa BTQ tidak dijalankan secara individual, melainkan sebagai bagian dari sistem pendidikan sekolah.
Pada tahap pengendalian dan evaluasi, pendidik melakukan pemantauan secara berkelanjutan melalui pengamatan terhadap perkembangan peserta didik. Evaluasi tidak semata-mata difokuskan pada aspek teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada perubahan sikap, kedisiplinan, dan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan keagamaan. Guru BTQ menyampaikan:
“Perubahannya itu kelihatan pelan-pelan, bukan cuma bacanya, tapi sikap dan kebiasaan mereka juga berubah.” (GBTQ)
Pendekatan pengendalian yang bersifat reflektif dan pembinaan ini sejalan dengan prinsip Manajemen Pendidikan Islam yang menekankan kontrol sebagai sarana penguatan nilai dan karakter, bukan sekadar alat penilaian atau sanksi [24] . Dengan demikian, fungsi pengendalian dalam BTQ berperan penting dalam memastikan proses internalisasi nilai religius berjalan secara konsisten.
Pelaksanaan Program BTQ di SMK Negeri 1 Surabaya berlangsung dalam suasana yang kondusif, tenang, dan humanis. Guru menggunakan bahasa yang santun, tidak menghakimi, serta memberikan apresiasi terhadap setiap kemajuan peserta didik. Pendekatan ini menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa aman, terutama bagi siswa yang pada awalnya memiliki hambatan psikologis dalam membaca Al-Qur’an di hadapan teman-temannya.
Hasil wawancara menunjukkan adanya perubahan sikap yang signifikan pada peserta didik setelah mengikuti BTQ secara rutin. Salah satu siswa mengungkapkan, “Dulu saya takut kalau disuruh baca Al-Qur’an di depan teman-teman, sekarang sudah lebih tenang.” (S9). Siswa lain menyampaikan pengalaman serupa, “Sekarang lebih terbiasa, dan tidak malu lagi kalau baca di depan kelas.” (S16). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam BTQ tidak hanya berdampak pada peningkatan keberanian membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada ketenangan, rasa percaya diri, dan kesiapan mengikuti proses pembelajaran.
Temuan lapangan tersebut menunjukkan bahwa Program BTQ tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga berfungsi sebagai wahana pembentukan sikap religius peserta didik. Suasana pembelajaran yang aman dan humanis memungkinkan siswa mengalami proses belajar tanpa tekanan, sehingga nilai-nilai religius dapat terinternalisasi secara lebih efektif. Dengan demikian, BTQ berperan sebagai safe learning space yang mendukung perkembangan afektif peserta didik melalui pengalaman belajar yang positif dan berulang [25].
Pembentukan sikap religius peserta didik melalui Program BTQ berlangsung melalui mekanisme habituasi dan keteladanan guru. Guru tidak menggunakan pendekatan represif atau menghakimi, melainkan menerapkan pembinaan melalui komunikasi yang santun, motivatif, dan menenangkan. Ketika guru memberikan dorongan kepada siswa yang kurang aktif serta mengapresiasi setiap kemajuan, guru secara tidak langsung menampilkan model perilaku religius yang tercermin dalam praktik pembelajaran sehari-hari [8], [26].
Proses tersebut sejalan dengan konsep pembiasaan (habitus), di mana perilaku yang diamati dan dialami secara berulang akan membentuk kecenderungan sikap yang relatif menetap. Sikap santun guru dalam berbicara, kesabaran dalam membimbing, serta keteladanan dalam memperlakukan peserta didik menjadi referensi utama bagi siswa dalam membangun cara berkomunikasi dan bersikap. Akibatnya, siswa tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar menghargai orang lain, mengendalikan emosi, dan merespons proses belajar dengan sikap yang lebih positif.
Melalui interaksi yang berulang antara guru dan peserta didik dalam suasana BTQ yang humanis, nilai-nilai religius secara bertahap terinternalisasi dalam diri siswa. Peserta didik mulai meniru cara guru berbicara, merespons teguran dengan lebih terbuka, serta menunjukkan peningkatan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam mengikuti kegiatan BTQ. Proses ini menegaskan bahwa pembentukan sikap religius tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengalaman praksis yang konsisten dan berkelanjutan [27].
Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan BTQ berfungsi sebagai ruang aman bagi peserta didik untuk mengalami praktik religius secara berulang. Dalam perspektif teori habitus, praktik sosial yang dilakukan secara terus-menerus dalam ruang tertentu akan membentuk disposisi atau kecenderungan sikap yang relatif menetap. Rasa percaya diri dan kenyamanan dalam membaca Al-Qur’an yang muncul pada peserta didik dapat dipahami sebagai hasil dari proses internalisasi nilai religius melalui pengalaman praksis yang berulang, bukan sekadar hasil penguasaan kognitif semata [28].
Selain itu, keberadaan siswa yang telah mahir dan belum mahir dalam satu program BTQ turut memperkuat pembentukan habitus religius. Siswa yang telah mahir berfungsi sebagai model dan sumber keteladanan, sementara siswa yang belum mahir memperoleh dukungan sosial yang membantu mereka beradaptasi secara bertahap. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan BTQ tidak hanya membentuk kemampuan individual, tetapi juga menciptakan ekosistem pembelajaran religius yang mendukung internalisasi nilai secara kolektif [29], [30].
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan Program BTQ didukung oleh komitmen guru, dukungan kebijakan sekolah, dan konsistensi penjadwalan kegiatan. Komitmen guru tercermin dari kesabaran, konsistensi, dan pendekatan humanis dalam mendampingi peserta didik, sementara dukungan kebijakan sekolah memberikan legitimasi kelembagaan yang memungkinkan program berjalan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, faktor penghambat yang ditemukan adalah keterbatasan waktu pelaksanaan dan perbedaan kemampuan membaca Al-Qur’an antar peserta didik. Salah satu siswa menyampaikan:
“Kadang waktunya terasa kurang, jadi belajarnya belum maksimal.” (S18)
Temuan ini sejalan dengan kajian Giantara dan Wahyuni yang menyatakan bahwa keterbatasan waktu dan heterogenitas kemampuan peserta didik merupakan tantangan umum dalam pengelolaan program pendidikan agama [31]. Namun demikian, guru BTQ menerapkan pendekatan adaptif dengan menyesuaikan tempo pembelajaran dan menempatkan pembiasaan sebagai prioritas utama. Pendekatan ini menunjukkan kecakapan manajerial dalam mengelola realitas lapangan secara kontekstual, sebagaimana ditekankan dalam Manajemen Pendidikan Islam kontemporer [32], [33].
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperdalam tersebut, dapat ditegaskan bahwa manajemen Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di SMK Negeri 1 Surabaya berperan strategis dalam membentuk habitus religius peserta didik. Melalui perencanaan yang berorientasi pembiasaan, pengorganisasian berbasis kebutuhan peserta didik, pelaksanaan yang humanis, serta pengendalian yang bersifat pembinaan, BTQ berfungsi tidak hanya sebagai program literasi Al-Qur’an, tetapi sebagai instrumen manajerial pembentukan karakter religius yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa manajemen Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di SMK Negeri 1 Surabaya berperan strategis dalam membentuk habitus religius peserta didik. Program BTQ tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan literasi Al-Qur’an, tetapi juga sebagai proses pembiasaan religius yang dirancang secara terencana, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang. Pengelolaan program yang menekankan konsistensi praktik serta kenyamanan peserta didik menjadi fondasi utama dalam proses internalisasi nilai-nilai religius di lingkungan sekolah.
Ditinjau dari perspektif manajemen pendidikan, pelaksanaan Program BTQ telah mencerminkan penerapan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (POAC) secara adaptif dan kontekstual. Perencanaan difokuskan pada pembentukan kebiasaan membaca Al-Qur’an secara berkelanjutan, pengorganisasian dilakukan berdasarkan pemetaan kemampuan awal peserta didik, pelaksanaan berlangsung dalam suasana yang humanis dan suportif, serta pengendalian dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan sikap dan kebiasaan religius peserta didik. Sinergi antar fungsi manajemen tersebut memungkinkan program berjalan secara efektif meskipun dihadapkan pada keterbatasan waktu dan heterogenitas kemampuan peserta didik.
Dalam konteks pembentukan habitus religius, hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik keagamaan yang dilakukan secara berulang dalam lingkungan sosial yang aman dan mendukung berkontribusi terhadap perubahan disposisi sikap peserta didik. Perubahan tersebut tidak hanya tercermin pada peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada tumbuhnya rasa percaya diri, kenyamanan, serta kebiasaan positif dalam menjalankan praktik religius. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa manajemen Program BTQ yang terencana, adaptif, dan humanis memiliki peran penting dalam penguatan karakter religius peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan di lingkungan sekolah menengah kejuruan.
K. Pendidikan, D. A. N. Teknologi, B. Standar, and D. A. N. A. Pendidikan, “Kementerian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi,” no. 021, 2021.
I. R. Fithri, Z. Zulfa, D. Adrianda, I. A. Fitriani, and Rivaldi, “Implementasi pembentukan karakter religius melalui kegiatan pembiasaan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Bunayya,” Cendikia J. Pendidik. dan Pengajaran, vol. 2, no. 4, pp. 150–156, 2024.
A. Kurnia, Supiana, A. Hasanah, and S. Gumilar, “Internalisasi nilai-nilai karakter religius melalui budaya sekolah untuk meningkatkan sikap religius peserta didik,” PESHUM J. Pendidik., Sos. dan Hum., vol. 4, no. 6, pp. 10394–10406, 2025, doi: 10.56799/peshum.v4i6.12914.
A. F. Zahroh and M. S. Asyhari, “Internalisasi nilai pendidikan agama Islam melalui pendidikan karakter,” J. Educ., vol. 6, no. 3, pp. 17101–17111, 2024.
M. Sari, F. Ismail, and M. W. Afgani, “Pembiasaan nilai-nilai keagamaan sebagai kunci pembentukan karakter religius,” Adiba J. Educ., vol. 3, no. 3, pp. 380–388, 2023.
M. Munawarsyah and H. Fakhrurridha, “Character education for teenagers in the era of Society 5.0 Thomas Lickona’s perspective,” Edukasia J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 5, no. 2, pp. 127–138, 2024, doi: 10.62775/edukasia.v5i2.984.
S. Kurniawan and F. N. Fitriyani, “Thomas Lickona’s idea on character education which builds multicultural awareness: Its relevance for school/madrasah in Indonesia,” Al-Tadzkiyyah J. Pendidik. Islam, vol. 14, no. 1, pp. 33–53, 2023.
A. Abidin, “Pengembangan karakter religius peserta didik berbasis keteladanan guru dalam pembelajaran PAI,” Paradig. J. Filsafat, Sains, Teknol. dan Sos. Budaya, vol. 30, no. 4, pp. 1–12, 2024.
I. Habibi and S. Muntafi, “Pengaruh kegiatan keagamaan terhadap karakter religious siswa di SMK Al Fattah Kalitidu Bojonegoro,” J. Al-Muharrik J. Pendidik. Agama Islam, vol. 1, no. 2, pp. 79–94, 2024.
S. Faradilla, “Implementasi penguatan pendidikan karakter religius pada siswa di lingkungan sekolah,” Selami IPS, vol. 17, no. 2, pp. 132–137, 2024.
M. Kamil, I. Fauziah, M. R. Listiawan, N. W. Junika, S. Aulia, and P. Anggaraini, “The importance of work ethic and professional ethics in shaping career development in the modern workplace,” Interdiscip. J. Glob. Multidiscip., vol. 1, no. 3, pp. 399–406, 2025.
I. Mesalaen, A. P. Angraini, and R. Zulaikha, “Pentingnya ethos kerja dan etika serta dampaknya terhadap profesi dan perkembangan karir seseorang di dunia kerja,” Socius J. Penelit. Ilmu-Ilmu Sos., vol. 3, no. November, pp. 369–375, 2025.
B. A. M. Sofwan Manaf and Rokimin, “Efektivitas metode pembelajaran baca tulis Al-Qur’an (BTQ) terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an santri cilik TPQ Darunnajah Jakarta,” Bisma J. Pengabdi. Masy., vol. 1, no. 2, pp. 172–181, 2023.
Z. Fajri and S. Hadi, “The religious habits program’s implementation as an attempt to mould students’ Islamic character,” Indones. J. Educ. Res., vol. 6, no. 4, pp. 464–472, 2025, doi: 10.37251/ijoer.v6i4.2109.
A. Azis, F. Liadi, G. Supriadi, and N. Wardah, “Penanaman karakter religius melalui kegiatan keagamaan di SMA IT Al-Madaniyah Samuda Kabupaten Kotawaringin Timur,” Edukasi Islam. J. Pendidik. Islam, vol. 12, no. November, pp. 2721–2732, 2023, doi: 10.30868/ei.v12i04.4242.
A. M. Solihah, U. Sugara, A. Fathoni, and B. Saptono, “Teacher’s role: Implementation of religious character education through the habituation method in elementary,” J. Ilm. Sekol. Dasar, vol. 8, no. 3, pp. 402–412, 2024.
I. A. Sleman, “Character building of students through religious habit formation program at MTs Irsyadul Anam Sleman,” Khatulistiwa J. Islam. Stud., vol. 15, no. 2, pp. 162–171, 2025, doi: 10.24260/khatulistiwa.v15i2.3938.
R. N. Rofifah, “Habituation of religious activities in strengthening character education of Pancasila student profile in the dimension of faith and piety,” J. Gentala Pendidik. Dasar, vol. 10, no. 2, pp. 291–308, 2025.
E. W. Sukmah, Z. Hartati, and M. R. Anshari, “Implementasi religious habituation dalam membentuk karakter disiplin siswa di SMK Al-Ishlah Palangka Raya,” J. Pendidik. Indones., vol. 6, no. 8, pp. 3508–3518, 2025.
N. Handayani, “Internalisasi pendidikan karakter berbasis budaya sekolah (studi pada SMKN 2 Mataram),” Sosiol. J. Ilm. Kaji. Ilmu Sos. dan Budaya, vol. 24, no. 1, pp. 55–72, 2022.
M. B. Miles and A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 1994. [Online]. Available: https://books.google.co.id/books?id=U4lU_-wJ5QEC
M. S. Saimima, “Management of Islamic education based on religious culture,” 12 Waiheru, vol. 8, no. 2, pp. 197–205, 2022, doi: 10.47655/12waiheru.v8i2.16.
A. M. Paduppai et al., “The effectiveness of implementing the student centered,” Educ. J. Inov. Pendidik. Pengajaran, vol. 5, no. 3, pp. 712–721, 2025.
M. Arjuni and S. Fatmawati, “Manajemen pendidikan Islam dalam upaya pembentukan karakter,” Tadzkirah J. Pendidik. Dasar, vol. 3, pp. 54–64, 2022, doi: 10.55510/tadzkirah.v3i1.65.
I. Subqi, R. Hariyadi, and B. Zaman, “Internalization of humanist-religious education in child-friendly madrasahs in Indonesia,” J. Tarbiyatuna, vol. 13, no. 2, pp. 163–177, 2022.
M. A. Furqon, “Pelaksanaan program pembiasaan keagamaan dalam pembentukan karakter religius peserta didik,” J. Ris. Madrasah Ibtidaiyah, vol. 3, no. 1, pp. 78–88, 2023.
I. A. C. A. Rahayu, “Habituation model in forming character religious at SMP Negeri 1 Gatak,” J. Educ. Sci., vol. 9, no. 4, pp. 2506–2515, 2025.
A. Djuaini, “Internalization of Islamic religious education values in moral development of students in madrasah,” Afkaruna Int. J. Islam. Stud., vol. 3, no. 1, pp. 1–17, 2025, doi: 10.38073/aijis.v3i1.3330.
M. Shodiq, “Strategi pembentukan karakter religius siswa melalui pendidikan berbasis keteladanan dan pembiasaan,” Arsy J. Study Islam, vol. 8, no. 2, pp. 192–202, 2024.
M. Iqbal and U. Al-Muslim, “Strengthening character education through the application of religious culture to support the Pancasila Student Strengthening Project (P5) in junior high schools,” Scaffolding J. Pendidik. Islam dan Multikulturalisme, vol. 6, no. 1, pp. 176–196, 2024, doi: 10.37680/scaffolding.v6i1.4986.
U. P. Indonesia, I. Religious, and P. Study, “Phenomenological study: Probelmatics of Islamic religious education teachers in teaching the Quran in schools,” Edureligia J. Pendidik. Agama Islam, vol. 9, no. 2, pp. 192–208, 2025.
H. Khairi, “Isu-isu kontemporer manajemen pendidikan Islam,” JURPERU J. Pendidik. dan Kegur., vol. 3, no. 9, pp. 1219–1238, 2025.
Akmal, Ilham, and Mukmin, “Islamic education management strategies in increasing students’ active participation in the classroom: A special approach perspective,” Mapendis J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 3, no. 1, pp. 1–10, 2025, doi: 10.37758/mapendis.33i1.368.