Login
Section Innovation in Education

The Effectiveness of Academic Supervision in Achieving Mastery Learning Among Students: A Case Study at TPQ in Pasuruan Regency


Efektivitas Supervisi Akademik Dalam Mencapai Ketuntasan Belajar Santri (Mastery learning) Studi Kasus di TPQ Kabupaten Pasuruan
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Muchammad Fajeril Falaach (1), Taufik Churrahman (2)

(1) Program Studi Magister Menejemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Magister Menejemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

 


General Background: Academic supervision supports teacher development and learning quality in Islamic education, while mastery learning emphasizes students’ attainment of targeted competencies. Specific Background: At TPQ Pagi Roudlotut Tholibin, Pasuruan Regency, mastery learning is practiced in Qur’anic education, but academic supervision has not been formally implemented. Knowledge Gap: The integration of academic supervision and mastery learning in Qur’anic education remains limited. Aims: This study explores academic supervision implementation, mastery learning practices, supervision constraints, and their integration. Results: Using an exploratory qualitative case study, data were collected through interviews, participatory observation, and documentation. Findings show that supervision remains informal and undocumented, while mastery learning is supported through ability-based grouping, repetition, additional guidance, talaqqi, sima’an, and continuous evaluation. Novelty: The study develops an adaptive clinical academic supervision framework based on mastery learning. Implications: Structured planning, observation, feedback, evaluation, remedial activities, and enrichment are recommended.


Key Findings Highlights


Supervision practices remain informal, collaborative, and insufficiently documented.


Learners receive repetition and additional guidance according to reading competencies.


A cyclical clinical framework connects observation, reflection, evaluation, and follow-up.


Keywords : Academic Supervision, Mastery Learning, Qur’anic Education, Clinical Supervision, TPQ

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu pondasi penting dalam kehidupan manusia. Di era global juga membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa juga sangat tergantung pada kualitas pendidikan bangsa tersebut [1]. Pada pandangan keislaman juga menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan pondasi bagi anak dalam kehidupan, sehingga pengaruh Pendidikan Agama Islam sangat penting untuk setiap muslim dan wajib di didik sejak kecil [2]. Pendidikan Agama Islam diartikan sebagai sebuah proses serta memerlukan tujuan yang baik dan suatu rumusan sistem yang baik pula. Unsur yang penting dalam proses pendidikan yaitu sebuah tujuan dari lembaga pendidikan tersebut demi terlaksananya kegiatan belajar mengajar [3]. Oleh karena itu, semua aktifitas kependidikan, unsur pendidikan, sistem pendidikan, komponen pendidikan yang dibangun, harus diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Pendidikan Agama Islam bukan hanya didapatkan melalui lembaga formal saja tetapi bisa didapatkan melalui lembaga non formal seperti Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) [4]. Dari perkembangan zaman, keberadaan TPQ dalam pendidikan non formal berkembang sangat pesat di kalangan masyarakat Indonesia secara luas dan secara khusus dapat mempengaruhi pemahaman mengenai Pendidikan Agama Islam terhadap anak-anak [5]. Dengan ini, dapat diartikan bahwasannya masyarakat muslim Indonesia telah menyadari akan pentingnya pendidikan al-quran bagi generasi mereka [6]. Sebuah lembaga TPQ memiliki tujuan dan fokus untuk pengembangan potensi-potensi yang terdapat pada anak sejak dini terutama pada pembelajaran agama islam berupa al-quran, sehingga mempersiapkan bekal keilmuan anak bukan dari pendidikan formal saja tetapai agama juga didapatkan. TPQ juga memiliki kepala yayasan, pendidik dan tenaga kependidikan. Kepala yayasan di TPQ disebut dengan Mudzir sedangkan pendidik disebut dengan ustadz/ustadzah. Salah satu poin penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas, dibutuhkan kompetensi baik yang dimiliki oleh seorang guru [7]. Bukan hanya pembelajaran saja, melainkan terkait pengasuhan dan perlindungan santri, guru berperan untuk menjaga hal tersebut. Sehingga, guru perlu mendapat supervisi dan pemantauan atau pengawasan langsung oleh Kepala Yayasan [8].

Bukan hanya pada pendidikan lembaga formal saja yang perlu melakukan supervisi, lembaga non formal juga perlu melakukan supervisi untuk mencapai tujuan yang diinginkan [9]. Hal ini melibatkan Kepala Yayasan yang perlu menguasai atau memiliki kompetensi terkait supervisi. Tugas Kepala Yayasan bukan hanya memimpin yayasan, melainkan bertanggung jawab dalam semua kegiatan yayasan dan memastikan berjalannya sistem supervisi bagi guru dan staf. Salah satu tugas pokok diantaranya administrasi pendidikan yaitu melakukan supervisi oleh pengawas dan Kepala Yayasan terhadap pegawai-pegawainya. Supervisi yang harus dilaksanakan oleh Kepala Yayasan terdiri dari berbagai jenis supervisi, diantaranya supervisi manajerial, akademik, dan supervisi klinis [10]. Untuk meningkatkan profesionalitas guru dalam melaksanakan pembelajaran yaitu melalui pelaksanaan supervisi akademik.

Secara umum, Supervisi akademik adalah sebuah pembinaan atau pengawasan yang bertujuan untuk perbaikan dalam aspek proses pengajaran [11]. Untuk mencapai tujuan dalam program supervisi, diperlukan pelaksanaan secara maksimal dan bersungguh-sungguh. Hasil program supervisi yang terbaik yaitu melakukan supervisi secara berkesinambungan serta tidak lepas dari pengawasan, pendampingan dan evaluasi [12]. Hal tersebut menjelaskan bahwasanya program supervisi sangat penting dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk memaksimalkan pelayanan pendidikan dan proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Supervisi juga dapat dilakukan oleh dinas terkait, pengawas sekolah, pimpinan setingkat diatasnya, atau kepala sekolah. Untuk menghasilkan supervisi yang efektif, program supervisi dapat dilakukan langsung oleh kepala sekolah untuk proses belajar mengajar [13]. Hal terpenting dalam mencapai hasil pembelajaran yang efektif yaitu suatu kinerja seorang guru, bukan hanya untuk pembelajaran lembaga formal melainkan lembaga non formal pun sama seperti pembelajaran Al-Qur’an di lembaga TPQ. Guru di lembaga pendidikan TPQ mempunyai tugas yang sama seperti guru pada lembaga formal yakni harus mempersiapkan segala bentuk proses pembelajaran, merencanakan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran [14]. Hal tersebut perlu dilakukan untuk dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an para santri. Pencapaian santri untuk kualitas bacaan Al-Qur’an banyak pengaruh dihasilkan dari kinerja seorang guru yang maksimal, serta guru yang profesional.

Untuk meningkatkatkan bacaan Al-Qur’an santri, guru yang profesional juga tidak dapat bekerja sendiri melainkan perlu adanya bantuan dari kepala yayasan atau kepala TPQ untuk selalu memberi pengaruh dalam bentuk motivasi [15]. Bentuk motivasi tersebut terbagi menjadi dua, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal yaitu bentuk support atau dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang, apabila dorongan tersebut datangnya dari luar diri seseorang tersebut dinamakan motivasi eksternal [16]. Dimana motivasi eksternal ini dapat diperoleh melalui rekan guru lain, orang tua santri, masyarakat sekitar dan kepala yayasan TPQ sendiri. Hal ini dapat dijelaskan bahwa supervisi yang dilakukan kepala yayasan TPQ merupakan bentuk motivasi eksternal, sehingga dapat berpengaruh pada kinerja seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran Al-Qur’an [17]. Hasil yang tercapai nantinya berupa kelulusan santri yang baik dan berkualitas [18]. Sehingga perlu dilakukan supervisi oleh kepala yayasan TPQ guna memaksimalkan kinerja guru dan mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.

Supervisi yang harus dilakukan adalah supervisi akademik, yaitu serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mendukung guru dalam meningkatkan kemampuannya dalam mengatur proses pembelajaran untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan [19]. Hubungan yang paling dekat dengan supervisi akademik adalah penilaian kinerja guru yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran. Supervisi bukan hanya melakukan evaluasi, mencari kesalahan dan kekurangan seorang guru, melainkan bentuk bimbingan yang diberikan kepada guru guna mengembangkan proses mengajar yang menjadi tugasnya. Salah satu jenis supervisi yang dapat dilakukan pada semua jenjang mulai tingkat pendidikan anak usia dini yakni supervisi akademik. Supervisi akademik bukan sekedar pengawasan administratif, melainkan strategi profesional yang bertujuan menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif, sehingga hasil belajar anak dapat mencapai standar mastery learning.

Konsep mastery learning atau pembelajaran tuntas merupakan teori yang dikembangkan dalam jurnal Bloom (1968) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan apabila diberikan waktu dan bantuan yang cukup sesuai kebutuhan [20]. Hal ini dapat dijelaskan pada lembaga TPQ bahwa mastery learning menjadi penting pada proses pembelajaran Al-Qur’an mulai dari membaca, memahami, serta mengamalkan Al-Qur’an. Pendekatan ini sangat penting pada tercapainya kemampuan anak dalam menguasai bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid, sehingga keberhasilan pembelajaran di TPQ menjadi nyata. Oleh karena itu, supervisi akademik menjadi alat kontrol sekaligus stimulus agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai prinsip-prinsip mastery learning. Beberapa prinsip tersebut yaitu semua santri dapat belajar sesuai waktu, ketuntasan belajar, penilaian formatif, remidial dan pengayaan, kejelasan tujuan pembelajaran, pembelajaran secara individualis [21].

Adapun metode pembelajaran Mastery learning menuntut adanya evaluasi berkelanjutan dan remidi bagi peserta didik yang belum mencapai standar, sesuatu yang kerap diabaikan di TPQ karena keterbatasan metode supervisi akademik [22]. Penerapan supervisi akademik yang berorientasi pada mastery learning dan dilakukan secara sistematis menjadikan peserta didik atau santri mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan, baik dalam kemampuan membaca maupun memahami isi dalam Al-Qur’an. Sehingga supervisi ini dapat membantu guru TPQ dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran berbasis kompetensi. Lembaga yang memiliki sistem supervisi akademik yang baik akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat karena mampu menunjukkan capaian pembelajaran yang terukur, tuntas, dan berdampak pada perilaku keagamaan anak [23]. Menurut Huda, et al (2022) mengatakan bahwa tuntutan masyarakat muslim modern tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga penguasaan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial dari kandungan Al-Qur’an [24].

Menurut penelitian-penelitian terdahulu menyatakan bahwa lembaga pendidikan TPQ masih banyak yang mengandalkan supervisi konvensional yang hanya bersifat administratif dan insidental, sehingga belum mampu mendorong terciptanya pembelajaran yang berkualitas dan tuntas [15]. Bukan hanya itu, kompetensi supervisor masih lemah dalam bidang pedagogik dan supervisi akademik, sehingga menjadi salah satu faktor penghambat dalam optimalisasi capaian pembelajaran [10]. Diperkuat oleh Awalaudin (2024) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pada konteks pendidikan modern, supervisor diharapkan mampu menjalankan supervisi klinis, kolaboratif, dan berbasis data sebagai instrumen peningkatan mutu pembelajaran [6]. Supervisi akademik yang telah dilakukan kepala sekolah atau supervisor kepada gurunya akan membawa keuntungan dan pengaruh positif yaitu dapat meningkatkan kompetensi, memperbaiki metode pengajaran sehingga dapat dikategorikan sebagai guru yang ideal di sekolah atau TPQ.

Terdapat beberapa penelitian sebelumnya oleh Iswanto, (2022); Arifah, (2023); dan Harahap, (2022) dapat membuktikan bahwa peran supervisi akademik pada lembaga pendidikan berhubungan signifikan dalam peningkatan efektivitas proses pembelajaran, bukan pada lembaga pendidikan formal melainkan non formal, termasuk TPQ [25]. Namun demikian, kajian tentang integrasi supervisi akademik dengan pendekatan mastery learning dalam konteks pendidikan Al-Qur’an masih terbatas. Padahal, konsep ini relevan untuk diterapkan karena mampu memastikan keberhasilan seluruh peserta didik dalam mencapai target kompetensi secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengeksplorasi strategi, implementasi, dan dampak supervisi akademik dalam mencapai mastery learning di lembaga TPQ.

TPQ sendiri memiliki berbagai metode pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia, dan memiliki tujuan yang sama yaitu mengajarkan kandungan isi Al-Qur’an, tetapi yang membedakan yaitu kebijakan-kebijakan antar satu sama lain. Salah satu metode pada lembaga TPQ yaitu metode Qiraati yang merupakan metode pembelajaran tertua dan banyak digunakan di Indonesia bahkan sampai kepada negara-negara asing seperti Australia, Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam yang tercatat masuk mulai tahun 2000. Metode Qiraati sendiri terdapat beberapa program diantaranya pelaksanaan TPQ pagi, Pra Program Tahfidz Pasca TPQ (Pra PTPT), dan Program Tahfidz Pasca TPQ (PTPT). Pada setiap tahunnya, setiap lembaga Qiraati yang tersebar di berbagai daerah/desa pasti melaksanakan imtihan bagi para santrinya yang telah menyelesaikan pendidikannya, yang biasa dikenal dengan Imtas (Imtihan Akhirussanah).

Lembaga TPQ yang menerapkan metode Qiraati sudah melaksanakan sistem pelaporan secara digitalisasi sejak tahun 2021, sehingga semua santri yang sudah terdaftar sampai proses kelulusan dapat terpantau langsung oleh koordinator, mulai Koordinatir Kecamatan (Korcam), Koordinator Cabang, dan Koordinatir Pusat. Hal ini menjadikan metode Qiraati unggul dalam proses administrasi melalui pelaporan rutin secara digital tersebut sehingga setiap santri dapat terkontrol pada proses pembelajarannya dan dapat meningkatkan mutu pembelajarannya. Salah satu program dari metode qiraati yaitu TPQ Pagi yang memiliki tujuan agar para santri dapat menyelesaikan seluruh pembelajaran lebih cepat dari yang telah ditargetkan pada umumnya (TPQ yang dilaksanakan pada sore hari), salah satu pencapaiannya yakni mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil serta memahami materi Tajwid dan Gharib sebelum mereka masuk di bangku Sekolah Dasar atau setingkatnya. Pada Lembaga Pendidikan Islam atau TPQ mempunyai model pembelajaran bervariasi dan mengacu pada anak-anak yang pada umumnya mempunyai bakat dan kemampuan berbeda-beda setiap individunya, salah satu alasannya yaitu adanya model belajar tuntas (mastery learning).

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, terdapat salah satu TPQ di Kabupaten Pasuruan yaitu TPQ Roudlotut Tholibin yang menggunakan metode Qiraati dalam pembelajarannya serta melakukan program pendidikan TPQ Pagi bagi anak-anak. Program TPQ Pagi ini dikhususkan bagi anak-anak mulai usia minimal 3 tahun sampai sebelum memasuki pendidikan di Sekolah Dasar. TPQ Roudlotut Tholibin ini merupakan salah satu TPQ yang tertua di Kecamatan Beji, berdiri pada tahun 1996 dan sudah meluluskan ratusan lulusan yang mumpuni dalam membaca Al-Qur’an. Melalui wawancara dengan Kepala yayasan lembaga TPQ Roudlotut Tholibin terkait supervisi dan model pembelajaran, TPQ Roudlotut Tholibin menggunakan model pembelajaran mastery learning dan belum terdapat pelaksanaan supervisi untuk lembaga maupun guru secara formal atau berbasis data. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, supervisi akademik di TPQ Pagi Roudlotut Tholibin Kabupaten Pasuruan menarik untuk dikaji lebih mendalam, khususnya terkait bagaimana pelaksanaannya dalam konteks lembaga pendidikan nonformal dan sejauh mana perannya dalam mendukung ketuntasan belajar santri (mastery learning). Selain itu, perlu dikaji pula bagaimana konsep mastery learning diterapkan dalam pembelajaran Al-Qur’an di TPQ, kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi akademik, serta bagaimana integrasi antara efektivitas supervisi akademik dan pencapaian mastery learning dapat diwujudkan secara kontekstual. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada empat permasalahan utama, yaitu implementasi supervisi akademik, penerapan mastery learning di TPQ, kendala supervisi akademik di TPQ, serta integrasi efektivitas supervisi akademik dalam mencapai mastery learning.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksploratif [26]. Penelitian ini dilakukan di TPQ Pagi Roudlotut Tholibin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Penelitian kualitatif ini menggali secara mendalam terkait implementasi supervisi akademik pada Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan melihat bagaimana supervisi tersebut berkontribusi terhadap tercapainya metode pembelajaran mastery learning [27]. Metode studi kasus yang dimaksud yaitu memungkinkan peneliti dapat memahami interaksi antara supervisor, guru, dan santri/santri dalam pelaksanaan pembelajaran serta dapat mengamati realitas di lapangan [28].

Subjek penelitian terdiri dari kepala TPQ, guru Al-Qur’an, serta beberapa orang tua santri sebagai informan tambahan. Pemilihan informan dilakukan dengan memilih individu-individu yang dinilai memiliki informasi yang kaya dan relevan terkait implementasi supervisi akademik serta capaian pembelajaran peserta didik [29]. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pemahaman para informan tentang praktik supervisi dan dampaknya terhadap hasil belajar santri [30]. Observasi dilakukan untuk melihat langsung proses pembelajaran, interaksi guru dan murid, serta bagaimana supervisi dijalankan secara riil. Sementara itu, dokumentasi mencakup analisis terhadap silabus TPQ, laporan supervisi (jika tersedia), buku nilai, serta catatan capaian belajar santri.

Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi [31]. Peneliti memusatkan perhatian pada pola tematik pada hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk menjelaskan keterkaitan pelaksanaan supervisi akademik dengan pencapaian mastery learning. Validitas data diuji melalui teknik triangulasi sumber dan teknik, yakni membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dari berbagai informan untuk memastikan keabsahan dan konsistensi data. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang otentik dan mendalam tentang bagaimana supervisi akademik dapat menjadi instrumen strategis dalam mendorong capaian pembelajaran yang tuntas di lingkungan TPQ.

Hasil dan Pembahasan

Bagian ini menyajikan temuan penelitian mengenai supervisi akademik dan penerapan mastery learning di TPQ Roudlotut Tholibin Kabupaten Pasuruan. Pembahasan difokuskan pada praktik supervisi yang berlangsung di lapangan, strategi pembelajaran yang diterapkan guru, capaian ketuntasan belajar santri, serta berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Seluruh temuan dianalisis dengan mengaitkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan kerangka teori serta hasil penelitian terdahulu, sehingga diperoleh gambaran komprehensif tentang efektivitas supervisi akademik dalam mendukung pembelajaran Al-Qur’an berbasis mastery learning.

1.Implementasi Supervisi Akademik di TPQ Roudlotut Tholibin

Pelaksanaan supervisi akademik di TPQ Roudlotut Tholibin Kabupaten Pasuruan belum dilakukan secara formal dan terjadwal. Kepala TPQ belum memiliki sistem supervisi berbasis instrumen maupun dokumentasi tertulis, sehingga pembinaan guru lebih banyak berlangsung melalui kunjungan kelas secara informal dan diskusi antar guru setelah kegiatan pembelajaran. Meskipun demikian, guru-guru telah menunjukkan inisiatif profesional dengan saling berbagi pengalaman mengajar serta mendiskusikan kendala yang dihadapi santri dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. Praktik ini mencerminkan bentuk supervisi kolaboratif sederhana yang tumbuh dari kesadaran internal para pendidik. Perencanaan pembelajaran disusun guru secara mandiri dalam bentuk program harian dan mingguan yang disesuaikan dengan perkembangan kemampuan masing-masing santri. Guru mengacu pada buku Qiraati sebagai pedoman utama, sekaligus melakukan evaluasi langsung terhadap kelancaran bacaan, hafalan, dan penguasaan tajwid. Penyesuaian rencana pembelajaran yang fleksibel ini menunjukkan bahwa guru telah berupaya mengakomodasi perbedaan kemampuan santri, meskipun belum berada dalam kerangka supervisi akademik yang sistematis. Refleksi pembelajaran juga dilakukan secara tidak resmi oleh guru, baik secara individu maupun bersama rekan sejawat, sebagai upaya memperbaiki kualitas pengajaran.

Temuan ini sejalan dengan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa supervisi akademik tidak hanya berbentuk pengawasan administratif, tetapi juga dapat dilaksanakan melalui interaksi profesional dan dialog reflektif antar guru [8]. Namun demikian, penelitian sebelum lainnya menekankan bahwa supervisi yang tidak terstruktur berpotensi membatasi peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan [33]. Dalam konteks TPQ Roudlotut Tholibin, praktik supervisi yang masih bersifat informal menunjukkan adanya modal awal berupa budaya kolaboratif, tetapi belum mampu memberikan dampak maksimal karena tidak didukung oleh perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut yang terdokumentasi. Dengan demikian, implementasi supervisi akademik di TPQ Roudlotut Tholibin dapat dikategorikan masih pada tahap awal pengembangan. Meskipun guru telah memiliki kesadaran profesional yang baik, peran kepala TPQ sebagai supervisor akademik belum berjalan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan perlunya penyusunan sistem supervisi yang lebih terstruktur, meliputi penjadwalan supervisi, penggunaan instrumen observasi, serta pemberian umpan balik yang berkelanjutan, agar pembinaan guru dapat berlangsung secara lebih terarah dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran Al-Qur’an.

2.Penerapan Prinsip Mastery learning dalam Pembelajaran Al-Qur’an

Penerapan prinsip mastery learning di TPQ Roudlotut Tholibin tercermin dari kebijakan pembelajaran yang menekankan ketuntasan kompetensi sebelum santri diperbolehkan melanjutkan ke tingkat berikutnya. Guru membagi santri ke dalam beberapa kelompok belajar berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, bukan semata-mata berdasarkan usia. Santri yang belum mampu membaca ayat atau surat tertentu dengan lancar serta belum menguasai kaidah tajwid tidak dinaikkan levelnya, melainkan diberikan pengulangan materi dan pendampingan tambahan. Proses pembelajaran didominasi oleh metode talaqqi dan sima’an, di mana guru membacakan ayat terlebih dahulu kemudian diikuti santri secara berulang, serta melakukan evaluasi lisan untuk memastikan ketepatan bacaan.Selain itu, guru menetapkan target hafalan dan bacaan mingguan yang menjadi acuan dalam evaluasi harian. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi langsung terhadap kelancaran bacaan, ketepatan tajwid, dan hafalan santri. Meskipun target pembelajaran tersebut belum tertuang dalam dokumen kurikulum formal, praktik ini menunjukkan bahwa guru telah menerapkan prinsip pembelajaran berbasis capaian kompetensi. Pendekatan ini memungkinkan guru memantau perkembangan setiap santri secara individual dan menyesuaikan ritme pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing.

Ketuntasan belajar santri dalam penelitian ini dimaknai sebagai ketercapaian kompetensi membaca Al-Qur’an secara benar dan lancar, yang ditunjukkan melalui kemampuan melafalkan huruf sesuai makhraj, menerapkan kaidah tajwid dasar, serta membaca dengan kelancaran yang stabil. Ketuntasan juga dilihat dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, yaitu santri tidak dipercepat sebelum menguasai materi, memperoleh bimbingan individual dan pengulangan yang memadai, serta adanya tindak lanjut berupa remedial atau pengayaan. Penentuan ketuntasan dilakukan berdasarkan pengamatan berulang, uji baca lisan, dan pertimbangan profesional guru yang disepakati bersama kepala TPQ, sehingga meskipun bersifat kualitatif, ketuntasan belajar tetap dinilai secara sistematis dan kontekstual sesuai karakter TPQ.

Hasil observasi menunjukkan adanya variasi kecepatan belajar antar santri. Sebagian santri mampu menyelesaikan satu jilid Qiraati dalam waktu relatif singkat, sementara sebagian lainnya memerlukan pendampingan yang lebih intensif. Kondisi ini mendorong guru untuk memberikan waktu belajar tambahan bagi santri tertentu, baik melalui pengulangan materi di kelas maupun bimbingan singkat di luar jam pembelajaran. Guru juga menjalin komunikasi dengan orang tua santri untuk memastikan adanya penguatan pembelajaran di rumah, terutama bagi santri yang mengalami keterlambatan dalam mencapai target bacaan atau hafalan. Kolaborasi antara guru dan orang tua ini menjadi faktor pendukung penting dalam keberhasilan penerapan mastery learning. Temuan ini sejalan dengan konsep mastery learning yang dikemukakan Bloom (1968) bahwa setiap peserta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran apabila diberikan waktu dan bantuan yang memadai sesuai kebutuhannya [21]. Menurut penelitian sebelumnya keberhasilan mastery learning sangat bergantung pada evaluasi formatif yang berkelanjutan serta pemberian intervensi bagi peserta didik yang belum mencapai standar kompetensi [35]. Praktik pembelajaran di TPQ Roudlotut Tholibin menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut telah diterapkan secara intuitif oleh guru melalui pembelajaran individual, evaluasi lisan harian, serta pemberian pengulangan materi bagi santri yang belum tuntas.

Dengan demikian, meskipun belum dirumuskan secara sistematis dalam kerangka administrasi pembelajaran, penerapan mastery learning di TPQ Roudlotut Tholibin telah menjadi bagian dari kultur pembelajaran. Guru tidak berorientasi pada penyelesaian materi secara cepat, tetapi lebih menekankan ketepatan dan kelancaran bacaan Al-Qur’an. Penerapan prinsip ini juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan orang tua terhadap lembaga, karena capaian belajar santri dapat dipantau secara nyata melalui perkembangan bacaan dan hafalan. Kondisi ini menunjukkan potensi besar bagi pengembangan pembelajaran berbasis mastery learning yang lebih terstruktur apabila didukung oleh supervisi akademik yang terencana dan berkelanjutan.

3.Ketuntasan Belajar Santri dan Strategi Remedial Pengayaan

Ketuntasan belajar santri di TPQ Roudlotut Tholibin ditentukan melalui evaluasi lisan harian dan mingguan yang dilaksanakan guru secara konsisten. Santri dinyatakan tuntas apabila mampu membaca ayat atau surat tertentu dengan lancar, tepat sesuai kaidah tajwid, serta menunjukkan perkembangan hafalan yang sesuai dengan target pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain aspek kemampuan membaca, guru juga memperhatikan sikap, adab, kedisiplinan hadir, serta kerapian bacaan sebagai bagian dari indikator keberhasilan belajar. Penilaian yang bersifat komprehensif ini menunjukkan bahwa TPQ tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter religius santri. Santri yang belum memenuhi kriteria ketuntasan tidak diperbolehkan melanjutkan ke tingkat berikutnya, melainkan mengikuti proses pengulangan materi hingga mencapai standar minimal. Guru memberikan pendampingan secara individual kepada santri yang mengalami kesulitan, terutama pada aspek makhraj huruf dan penerapan tajwid. Selain bimbingan perorangan, guru juga membentuk kelompok belajar kecil agar santri dapat saling membantu dan belajar bersama. Pendekatan ini dilakukan secara persuasif dan humanis, sehingga santri tidak merasa tertekan dalam proses belajar. Strategi ini sekaligus menciptakan suasana kelas yang suportif dan kolaboratif.

Di sisi lain, santri yang menunjukkan perkembangan lebih cepat memperoleh pengayaan berupa tambahan hafalan surat, latihan bacaan lanjutan, atau keterlibatan dalam kegiatan sima’an. Guru juga memberikan motivasi melalui pujian verbal, pemberian tanda bintang, serta hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian belajar santri. Bentuk penghargaan sederhana ini terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri santri dan menumbuhkan semangat belajar. Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam proses ketuntasan belajar, di mana guru secara rutin menyampaikan perkembangan santri agar orang tua dapat memberikan penguatan pembelajaran di rumah.

Praktik tersebut sejalan dengan prinsip mastery learning yang menekankan pentingnya evaluasi formatif, remedial, dan pengayaan sebagai bagian integral dari siklus pembelajaran. Bloom (1968) menyatakan bahwa ketuntasan belajar hanya dapat dicapai apabila peserta didik yang belum memenuhi standar diberikan waktu tambahan dan intervensi yang sesuai. Menurut penelitian sebelumnya keberhasilan mastery learning sangat dipengaruhi oleh kualitas umpan balik guru serta keberlanjutan dukungan belajar [36]. Temuan penelitian ini juga menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa strategi remedial yang konsisten mampu meningkatkan capaian belajar peserta didik di lembaga pendidikan Islam nonformal [37].

Dengan demikian, ketuntasan belajar santri di TPQ Roudlotut Tholibin tidak hanya dipahami sebagai capaian akademik, tetapi sebagai proses pembinaan yang berkelanjutan dan menyeluruh. Pendekatan yang responsif terhadap perbedaan kemampuan santri memungkinkan setiap anak berkembang sesuai potensinya masing-masing. Namun demikian, agar strategi remedial dan pengayaan dapat berjalan lebih optimal dan terukur, diperlukan dukungan supervisi akademik yang lebih sistematis, termasuk penyusunan indikator ketuntasan yang jelas, pencatatan perkembangan santri secara berkala, serta tindak lanjut pembinaan guru secara berkelanjutan.

4.Kendala Pelaksanaan Supervisi Akademik dan Strategi Penguatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala utama dalam pelaksanaan supervisi akademik di TPQ Roudlotut Tholibin adalah belum adanya sistem supervisi yang dirancang secara formal dan berkelanjutan. Kepala TPQ belum memiliki jadwal supervisi yang terstruktur, instrumen observasi pembelajaran, maupun mekanisme umpan balik tertulis bagi guru. Akibatnya, kegiatan supervisi masih berlangsung secara sporadis dan lebih bersifat informal melalui kunjungan kelas, komunikasi personal, serta diskusi ringan antar guru. Selain itu, kepala TPQ juga masih terlibat langsung dalam kegiatan mengajar, sehingga waktu dan fokus untuk melaksanakan supervisi akademik secara optimal menjadi terbatas. Kondisi tersebut berdampak pada belum terbangunnya sistem administrasi pembelajaran yang terstandar, seperti dokumen hasil supervisi, catatan perkembangan kinerja guru, serta tindak lanjut pembinaan yang terstruktur. Guru pada umumnya mengandalkan pengalaman pribadi dan pertukaran praktik antar rekan sejawat dalam meningkatkan kualitas pengajaran. Meskipun pola ini mampu menumbuhkan solidaritas dan budaya kolaboratif, namun belum cukup kuat untuk menjamin peningkatan mutu pembelajaran secara konsisten dan terukur. Minimnya pelatihan pedagogik dan supervisi akademik juga menjadi hambatan tersendiri, karena guru membutuhkan penguatan kompetensi secara berkelanjutan agar mampu menerapkan pembelajaran berbasis mastery learning secara lebih optimal.

Selain aspek manajerial, keterbatasan sarana pembelajaran seperti media bantu tajwid, alat peraga, dan perangkat audiovisual turut mempengaruhi efektivitas proses belajar mengajar. Guru menyampaikan harapan akan adanya media pembelajaran yang lebih variatif dan interaktif agar santri lebih mudah memahami materi serta lebih termotivasi dalam belajar. Keterbatasan fasilitas ini menunjukkan bahwa penguatan supervisi akademik juga perlu diiringi dengan peningkatan dukungan sarana dan prasarana pembelajaran sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu lembaga. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa supervisi akademik memerlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut yang sistematis agar mampu meningkatkan profesionalitas guru [8]. Menurut penelitian sebelumnya lainnya juga menekankan pentingnya supervisi klinis dan kolaboratif berbasis data dalam konteks pendidikan Islam modern [38]. Tanpa sistem supervisi yang terstruktur, peningkatan kualitas pembelajaran cenderung bergantung pada kesadaran individu guru, bukan pada mekanisme kelembagaan. Hal ini diperkuat penelitian sebelum lainnya yang menyatakan bahwa supervisi akademik yang efektif berkontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu pembelajaran di lembaga pendidikan Islam [39].

Berdasarkan kondisi tersebut, strategi penguatan supervisi akademik di TPQ Roudlotut Tholibin perlu diarahkan pada pembangunan sistem supervisi yang terencana dan berkelanjutan. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membekali kepala TPQ dengan pelatihan teknis supervisi akademik agar mampu menjalankan peran sebagai supervisor secara profesional. Selanjutnya, TPQ perlu menetapkan jadwal supervisi rutin, misalnya secara bulanan, serta menyusun instrumen supervisi berupa lembar observasi pembelajaran, panduan refleksi guru, dan format umpan balik tertulis. Penyusunan indikator kinerja guru dan indikator ketuntasan belajar santri juga penting agar proses supervisi dapat difokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sekadar aspek administratif.

Penguatan supervisi akademik juga perlu diintegrasikan dengan prinsip mastery learning, terutama melalui penguatan evaluasi formatif, pencatatan perkembangan belajar santri secara berkala, serta pelaksanaan program remedial dan pengayaan yang terencana. Keterlibatan guru dalam refleksi bersama, pelibatan orang tua dalam pemantauan perkembangan santri, serta kerja sama dengan koordinator metode Qiraati menjadi langkah strategis untuk membangun budaya supervisi yang partisipatif. Dengan penerapan strategi tersebut secara konsisten, TPQ Roudlotut Tholibin berpotensi mengembangkan model supervisi akademik berbasis mastery learning yang tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga menjamin ketuntasan belajar santri secara lebih terukur dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap mutu lembaga.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyusun sebuah bagan model supervisi akademik yang dikombinasikan dengan pendekatan klinis sebagai representasi konseptual dari praktik supervisi yang berlangsung di lapangan. Bagan ini tidak dimaksudkan sebagai model normatif yang baku, melainkan sebagai hasil sintesis temuan empiris penelitian yang dapat dijadikan acuan adaptif bagi TPQ lain dengan karakteristik serupa. Berikut bagan alur model supervisi akademik-klinis berbasis mastery learning di TPQ

Figure 1.

Bagan model supervisi akademik–klinis berbasis mastery learning menggambarkan alur pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di TPQ Pagi Roudlotut Tholibin yang bersifat siklik dan berkelanjutan. Model ini diawali dengan tahap perencanaan supervisi akademik, di mana kepala TPQ menentukan fokus supervisi yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, khususnya ketercapaian ketuntasan membaca Al-Qur’an santri. Perencanaan supervisi tidak disusun dalam bentuk dokumen formal yang kaku, melainkan melalui kesepakatan internal dan pemahaman bersama mengenai standar bacaan yang harus dikuasai santri sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Tahap selanjutnya adalah observasi pembelajaran dengan pendekatan klinis. Pada tahap ini, supervisor mengamati proses pembelajaran secara langsung, termasuk metode mengajar guru, interaksi guru dan santri, serta respon santri terhadap pembelajaran. Observasi dilakukan secara natural tanpa suasana inspeksi, sehingga guru tidak merasa diawasi, tetapi didampingi. Temuan ini sejalan dengan karakter TPQ sebagai lembaga pendidikan nonformal yang menekankan pendekatan kekeluargaan dan nilai tarbiyah dalam proses pembinaan. Hasil observasi kemudian ditindaklanjuti melalui refleksi dan umpan balik antara supervisor dan guru. Refleksi dilakukan melalui dialog terbuka yang membahas kelebihan dan kekurangan pembelajaran, khususnya terkait ketuntasan belajar santri. Umpan balik diberikan secara personal dan konstruktif, bukan dalam bentuk penilaian administratif. Praktik ini menunjukkan bahwa supervisi akademik di TPQ lebih menekankan pada pembinaan profesional guru dibandingkan pengawasan formal, sebagaimana ditemukan dalam hasil wawancara dengan kepala TPQ dan guru. Tahap refleksi mendorong guru untuk melakukan perbaikan strategi pembelajaran, baik melalui pengulangan materi, variasi metode mengajar, maupun pendampingan individual bagi santri yang belum mencapai ketuntasan. Perbaikan ini dilakukan secara fleksibel dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan santri. Pada tahap inilah prinsip mastery learning mulai tampak secara nyata, yaitu santri tidak dipercepat dalam menyelesaikan materi, tetapi diberi waktu dan bimbingan hingga benar-benar menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Pembelajaran berbasis ketuntasan (mastery learning) dalam penelitian ini tidak dimaknai sebagai penerapan model mastery learning secara formal dan prosedural, melainkan sebagai orientasi pembelajaran yang menekankan ketercapaian kompetensi membaca Al-Qur’an secara benar dan lancar. Ketuntasan belajar tidak hanya diukur dari kenaikan jilid, tetapi dari kemampuan santri dalam menerapkan makhraj dan tajwid secara tepat serta menunjukkan kelancaran bacaan yang konsisten. Evaluasi ketuntasan belajar santri dilakukan secara berkelanjutan melalui pengamatan langsung dan tes lisan dalam praktik membaca Al-Qur’an. Evaluasi ini bersifat kualitatif dan kontekstual, sesuai dengan karakter TPQ, sehingga belum menggunakan instrumen penilaian baku secara tertulis. Meskipun demikian, evaluasi tersebut menjadi dasar bagi guru dan supervisor untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran. Tahap terakhir dalam model ini adalah tindak lanjut supervisi, yang meliputi pemberian remedial bagi santri yang belum tuntas, pengayaan bagi santri yang telah mencapai ketuntasan, serta pendampingan lanjutan bagi guru melalui supervisi klinis. Tindak lanjut ini menunjukkan bahwa supervisi akademik tidak berhenti pada observasi, tetapi berlanjut pada upaya perbaikan berkelanjutan guna menjamin mutu pembelajaran Al-Qur’an. Secara keseluruhan, bagan model supervisi akademik-klinis berbasis mastery learning ini merepresentasikan praktik supervisi yang adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada ketuntasan belajar santri. Model ini merupakan sintesis dari temuan penelitian dan dapat dijadikan rujukan konseptual bagi TPQ lain dalam mengembangkan supervisi akademik yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing lembaga.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, supervisi akademik di TPQ Pagi Roudlotut Tholibin Kabupaten Pasuruan dapat dinyatakan efektif secara kualitatif karena mampu mendukung ketercapaian mastery learning melalui pendekatan klinis yang menekankan observasi, refleksi, dan tindak lanjut pembelajaran, meskipun belum sepenuhnya terstruktur secara administratif dan masih menghadapi kendala keterbatasan waktu, belum adanya instrumen baku, serta variasi kompetensi guru. Efektivitas tersebut tampak pada orientasi pembinaan guru dan fokus pada ketuntasan kompetensi membaca Al-Qur’an secara benar dan lancar, bukan sekadar penyelesaian materi. Oleh karena itu, disarankan agar supervisi akademik dikembangkan secara lebih terencana dan terdokumentasi tanpa menghilangkan fleksibilitas khas TPQ, disertai penyusunan instrumen supervisi dan indikator ketuntasan belajar yang sistematis, serta penguatan model supervisi akademik-klinis berbasis mastery learning sebagai kerangka konseptual peningkatan mutu pembelajaran Al-Qur’an.

References

Zervas and E. Stiakakis, “Economic Sustainable Development Through Digital Skills Acquisition: The Role of Human Resource Leadership,” Sustainability, vol. 16, no. 17, p. 7664, 2024, doi: 10.3390/su16177664.

M. Jannah and J. Usman, “The Competencies of the Islamic Primary Madrasah Student Teachers in Developing K 13-Based Lesson Plan in Aceh,” Al-Ta’lim J., vol. 26, no. 3, pp. 215–224, Feb. 2020, doi: 10.15548/jt.v26i3.456.

H. Hartini, S. Sapinah, K. M. N. N., A. Wardhana, and R. Rahmawati, “The Effect of Social Capital Dimension on Lecture Performance,” Al-Tanzim J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 7, no. 1, pp. 26–40, Jan. 2023, doi: 10.33650/al-tanzim.v7i1.4458.

Iswanto and R. Mubarok, “Fungsi Supervisi Kepala Unit Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Terhadap Kinerja Guru Al-Qur’an,” Tarb. Wa Ta’lim J. Penelit. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 9, no. 1, pp. 29–40, Mar. 2022, doi: 10.21093/twt.v9i1.3940.

N. Arifah, “Standarisasi Kurikulum TPQ Dalam Mencapai Ketuntasan Belajar Santri (Mastery Learning),” Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2023.

D. P. Awaludin, T. F. A. D. Sintya, N. A. Purwanto, and Hermanto, “Supervision in Inclusive Islamic Early Childhood Education: Strategies Approach for an Integrated Program,” Ta’dib J., vol. 27, no. 2, pp. 299–310, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.uinmybatusangkar.ac.id/ojs/index.php/takdib

Syauqi et al., Supervisi Pendidikan Islam, 1st ed. Yogyakarta, Indonesia: Aswaja Presindo, 2016.

E. Setiawan, E. Hanifah, S. S. Chairiyah, and Warman, “Implementasi Supervisi Akademik Digital,” Literasi Almaata, vol. 15, no. 2, pp. 141–151, 2024. [Online]. Available: www.ejournal.almaata.ac.id/literasi

Salmiah, “Peran Supervisi Pengawas Dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Di MIN 3 Lombok Tengah,” Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Mataram, Indonesia, 2022.

Kholiq and A. Mufidhatul Jannah, “Fungsi dan Jenis-Jenis Supervisi Pendidikan Islam,” Sasana J. Pendidik. Agama Islam, vol. 1, no. 1, pp. 21–26, Aug. 2022, doi: 10.56854/sasana.v1i1.61.

T. Y. Lestari and F. Bedi, “Supervision Strategies for Improving Learning Outcomes in Islamic-Based General Education Institutions,” J. Islam. Educ. Res., vol. 6, no. 1, pp. 19–34, Jan. 2025, doi: 10.35719/jier.v6i1.452.

N. Rahmadani, “Supervisi Dalam Pendidikan Islam,” Medan, Indonesia, 2021.

L. P. Hadiningrum, “Islamic Education Reconstruction: Mastery Learning Based in Modern Islamic Boarding School,” Hunafa J. Stud. Islam., vol. 14, no. 1, pp. 1–15, 2017.

D. Tarigan, P. Madya, K. Agama, and K. Batam, “Implementation of Academic Supervision as an Effort to Improve the Ability of Se-Sagulung Elementary Christian Religion Teachers in Implementing the Mastery Learning Process in Semester II of 2018/2019 Academic Year,” 2023. [Online]. Available: https://journal.unilak.ac.id/index.php/jlp

H. M. Sastraatmadja, A. Nawawi, A. Rivana, Indri, Muliyani, and Arifannisa, Supervisi Pendidikan Islam: Konsep Dasar dan Implementasi Nilai-Nilai Islami. Bandung, Indonesia: Widina Media Utama, 2024.

Suhartini, R. Kariadinata, and Oneng, “Mastery Learning Approach and Students’ Learning Motivation: Case in Islamic Religious Learning,” SCITEPRESS—Science and Technology Publications, pp. 141–149, 2022, doi: 10.5220/0008214900002284.

Muawanah and S. Islamiyah, “Strategi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kuantitas Peserta Didik Baru di SMK Salafiah Kejayan Pasuruan,” J. Inov. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 2, no. 1, pp. 1–11, Jan. 2023, doi: 10.38073/jimpi.v2i01.664.

N. Nabilah, M. Rukhsotun Nu, and S. Al-Urwatul Wutsqo Jombang, “Implementasi Supervisi Kepala Sekolah Dalam Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru di SMPN 2 Diwek Jombang,” J. Stud. Kemahasantrian, vol. 2, no. 3, 2022. [Online]. Available: https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/irsyaduna

T. Setiawati Maulana, N. Pettasolong, and A. Mala, “Manajemen Pendidik dan Peserta Didik Perspektif Al-Qur’an dan Hadist,” J. Islam. Educ. Manag. Res., vol. 2, no. 1, 2023.

S. Bloom, “Learning for Mastery,” Eval. Comment, vol. 1, no. 2, pp. 1–12, 1968.

T. R. Guskey, “Mastery Learning,” in International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, 2nd ed. Amsterdam, The Netherlands: Elsevier, 2015, pp. 752–759, doi: 10.1016/B978-0-08-097086-8.26039-X.

Sumarto, Supervisi Pendidikan Islam. Bengkulu, Indonesia: Penerbit Buku Literasiologi, 2019.

Y. Dwikurnaningsih, “Implementasi Supervisi Akademik di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini,” J. Manaj. dan Supervisi Pendidik., vol. 4, no. 3, pp. 182–190, Aug. 2020, doi: 10.17977/um025v4i32020p182.

S. Huda, N. Ahid, H. S. Tortop, F. Lestari, and A. E. Prasetiyo, “The Role of Islamic Education as the First Step Moral Education in Era Society 5.0: Implications for Indonesian and Turkish Education Systems,” J. Iqra’ Kaji. Ilmu Pendidik., vol. 7, no. 1, pp. 77–87, May 2022, doi: 10.25217/ji.v7i1.1947.

H. S. Harahap and N. Hidayah, “Supervisi Akademik Dalam Membangun Mutu Pendidikan Madrasah Di Lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy,” WAHANA J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 6–12, 2022.

R. Adolph, Qualitative Inquiry Research Design, 4th ed. India: SAGE Publication, 2016.

F. Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, 1st ed. Bandung, Indonesia: Harfa Creative, 2023.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 3rd ed. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2021.

J. W. Creswell, Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publication, 2007.

Suyitno, Metode Penelitian Kualitatif. Tulungagung, Indonesia: Akademia Pustaka, 2018.

M. B. Miles and A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis, vol. 1304. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publication, 1994.

S. Huda, N. Ahid, H. S. Tortop, F. Lestari, and A. E. Prasetiyo, “The Role of Islamic Education as the First Step Moral Education in Era Society 5.0: Implications for Indonesian and Turkish Education Systems,” J. Iqra’ Kaji. Ilmu Pendidik., vol. 7, no. 1, pp. 77–87, May 2022, doi: 10.25217/ji.v7i1.1947.

N. Arifah, L. Heshinta, A. Sutopo, and S. Anif, “Supervisi Akademik Kepala Sekolah Terhadap Guru,” J. Riset dan Inovasi Pembelajaran, vol. 4, no. 2, pp. 1018–1025, 2024, doi: 10.51574/jrip.v4i2.1437.

H. Hanafiah, R. S. Sauri, Y. N. Rahayu, and O. Arifudin, “Upaya Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Melalui Supervisi Klinis Kepala Sekolah,” JIIP—J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 10, pp. 4524–4529, 2022, doi: 10.54082/jupin.52.

L. Lasino, “Penerapan Supervisi Observasi Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif di SMA Negeri 1 Toba Tahun Pelajaran 2020/2021,” J. Penelit. Inovatif, vol. 2, no. 1, pp. 95–114, 2022.

M. Saman and E. Hasanah, “Peran Kepala Sekolah dalam Melaksanakan Supervisi Akademik Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Guru,” JIIP—J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 7, no. 2, pp. 1913–1920, 2024, doi: 10.54371/jiip.v7i2.2512.

P. Pujianto, Y. Arafat, and A. A. Setiawan, “Pengaruh Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri Air Salek,” J. Educ. Res., vol. 1, no. 2, pp. 106–113, 2020, doi: 10.37985/joe.v1i2.8.

H. Dalanggo, “Strategi Perencanaan Supervisi Akademik Kepala Madrasah,” Ideas J. Pendidik., Sos. dan Budaya, vol. 5, no. 4, pp. 381–388, 2019.

Imah, “Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru SD Negeri Se-Kecamatan Air Kumbang Kabupaten Banyuasin,” Ad-Man-Pend J. Adm. Manaj. Pendidik., vol. 1, no. 2, pp. 65–77, 2019.