Arienta Wardatun Nisa Arin (1), Istikomah (2)
General Background: Al-Qur’an memorization learning requires systematic management to organize instructional activities and achieve learning objectives. Specific Background: PKBM Permata Sunnah Sidoarjo implements Tahfidz Al-Qur’an learning through the Ummi method within a structured educational setting. Knowledge Gap: Previous studies have examined Tahfidz learning management in schools and pesantren, while its implementation in a community learning center requires further description. Aims: This study describes Tahfidz learning management and identifies its inhibiting factors at PKBM Permata Sunnah Sidoarjo. Results: Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation, interviews, and documentation. Management covers planning, organizing, implementation, and evaluation. Planning includes learning programs, administrative preparation, and halaqah formation; implementation applies the Ummi method; evaluation is conducted through daily, weekly, and monthly activities. Novelty: The study presents Tahfidz management within a PKBM context. Implications: Systematic management supports learning quality, although gadget use, changing locations, and limited muroja’ah remain challenges.
Key Findings Highlights
Structured evaluation monitors learners’ memorization progress.
Ummi learning applies direct reading, listening, and repetition.
Gadget use and limited muroja’ah remain major challenges.
Keywords : Tahfidz Learning, Learning Management, Ummi Method, PKBM, Qur’an Memorization
Al-Qur'an adalah sebuah naskah suci yang memiliki peranan yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Kitab ini berfungsi sebagai panduan dan standar untuk berinteraksi dengan sesama manusia dan Sang Pencipta. Selain itu, membacanya juga dianggap sebagai bentuk ibadah yang membawa pahala, sebuah keistimewaan yang tidak ada dalam kitab-kitab lainnya. Saat ini, integrasi pendidikan Al-Qur'an menjadi semakin vital dalam lembaga-lembaga pendidikan, Karena hal ini dianggap sebagai elemen kunci dalam pembentukan perkembangan, karakter, dan moral generasi Muslim yang akan datang. Saat ini, banyak lembaga pendidikan Islam yang menawarkan program unggulan yang berfokus pada pendidikan Al-Qur'an dengan beragam metode pembelajaran. Namun, secara keseluruhan pendidikan Al-Qur'an masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal manajemen pembelajaran. Upaya perbaikan seringkali terkendala oleh berbagai masalah, sehingga orientasi pendidikan yang diberikan menjadi semakin kabur. Banyak hasil pendidikan yang tidak memenuhi standar kelulusan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, diperlukan manajemen yang efisien dalam pengelolaannya agar pendidikan dapat mencapai tujuan yang diinginkan dan bermutu. Manajemen yang efektif dalam institusi pendidikan akan mencerminkan pengelolaan yang optimal dari segi sumber daya awal, proses pembelajaran, dan hasil yang dicapai, sehingga lembaga pendidikan Islam dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Saat ini integrasi pendidikan tahfidz Al-Qur’an menjadi semakin penting dalam lembaga pendidikan karena dianggap sebagai komponen penting dalam membangun karakter, moral, dan perkembangan generasi muslim yang akan datang. Saat ini, banyak lembaga pendidikan Islam menawarkan program unggulan yang berpusat pada pembelajaran tahfidz Al-Qur’an dengan berbagai pendekatan pembelajaran[2]. Dewasa ini, semakin banyak orang tua yang berusaha mendorong anak-anaknya untuk menjadi penghafal Qur’an, karena menghafal ayat-ayat Al-Qur’an adalah amalan mulia yang membangun karakter dan kedekatan spiritual seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[3]. Program tahfidz Al-Qur’an adalah proses menghafal Al-Qur’an dengan mengingat ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Hal ini juga mencakup penggunaan pelafalan bunyi yang didasarkan pada kaidah ilmu tajwid yang benar[4]. Artikel ini memuat salah satu program unggulan di PKBM Paket A Permata Sunnah Sidoarjo yaitu target hafalan Qur’an yang harus dicapai oleh santri adalah 3 juz.
Adanya corak perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh adanya lembaga pendidikan yang amat bervariasi, diantaranya yaitu pesantren, madrasah dan sekolah. Baik lembaga formal maupunnon formal. Yang termasuk jenis pendidikan formal diantaranya yaitu mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Sedangkan pendidikan non formal diantaranya yaitu beluk kajian, program tahfidz, termasuk PKBM[5]. Satuan pendidikan non formal (PKBM) memiliki posisi yang baik untuk melakukan gerakan sosial dan mengembangkan pendidikan di lingkungan masyarakat[6]. Menurut Permendikbud No. 81 Tahun 2013, pusat kegiatan masyarakat adalah organisasi pendidikan non formal yang meyelenggarakan berbagai kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhanmasyarakat atas dasar prakarsa dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) didirikan oleh masyarakat dan diperuntukkan untuk masyarakat. PKBM dituntut untuk memiliki kemampuan menggerakkan dan memfasilitasi berbagai aktifitas bersama dalam pengembangan masyarakat[7]. Pengelolaan PKBM secara tidak langsung telah dibantu oleh masyarakat, terutama dari mereka yang tidak menerima pendidikan formal dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan. PKBM didukung oleh adanya ijazah, sertifikat, dan bentuk pelatihan lainnya yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah dan memenuhi kebutuhan masyarakat[5].
Dengan pengelolaan yang efektif, PKBM diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Termasuk pendidikan, keterampilan, dan ekonomi. Salah satu institusi pendidikan non formal di cabang Sidoarjo adalah PKBM Permata Sunnah. Permata Sunnah telah banyak berkiprah dalam terbiyah dan dakwah di Indonesia serta mancanegara sejak berdirinya pada Tahun 1988. Permata Sunnah adalah lembaga pendidikan anak usia (3,5-12 tahun) yang berfokus dalam pendidikan iman dan adab. Merujuk kepada sejarah kegemilangan Islam dan kitab generasi para salafush sholih. Berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah yang menerapkan kembali “Iman sebelum Al-Qur’an, Adab sebelum ilmu, dan Ilmu sebelum amal”. PKBM Permata Sunnah Sidoarjo memiliki Visi yaitu “Bertauhid, Berakhlakul Karimah, dan Cinta Al-Qur’an”. Dan Misi “Menanamkan Nilai Keislaman yang
Sesuai Dengan Akidah”.
Dalam melaksanakan pembelajaran tahfidz di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo diperlukan adanya manajemen. Manajemen pembelajaran dapat dipahami sebagai proses mengelola yang meliputi kegiatan planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan evaluating (evaluasi), proses pembelajaran yang berkaitan dengan seluruh komponen yang ada didalamnya. Namun, pendidikan Al-Qur’an masih banyak menghadapi banyak masalah, terutama dalam hal manajemen pembelajaran. Pendidikan yang diberikan menjadi semakin kabur karena upaya perbaikan sering terkendala oleh berbagai masalah. Banyak hasil pendidikan tidak memenuhi syarat kelulusan. Oleh karena itu, agar pendidikan dapat mencapai tujuan dan berkualitas, manajemen yang efektif diperlukan dalam pengelolaannya[8]. Pengajar akan lebih mampu menciptakan suasana belajar dengan menggunakan strategi dan fasilitas pembelajaran, maka hal ini akan membuat pengelolaan pembelajaran lebih efektif dan efisien[9].
Manajemen pembelajaran adalah segala tindakan dalam rangka untuk mencapai proses belajar mengajar yang efektif dan produktif[4]. Dengan demikian, pendidikan merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia.
Tanpa kerjasama yang saling bergantung, pendidikan tidak dapat terwujud. Oleh karena itu, pendidikan harus dikelola, dirancang, dan direncanakan dengan baik[10]. Diharapkan dengan adanya rencana pembelajaran yang baik secara keseluruhan, dapat dipastikan bahwa setiap guru Qu’an memiliki pemahaman yang kuat tentang aspek metodologi pengajaran tahfidz Al-Qur’an dengan benar beserta tahapannya, serta kemampuan untuk mengelola kelas dengan baik. Dengan menerapkan proses kegiatan dalam pengawasan ini, diharapkan dapat membangun dasar sistem untuk memastikan bahwa PKBM Permata Sunnah Sidoarjo mempunyai bekal membaca serta menghafal Al-Qur’an dengan tartil yang sesuai dengan kaidah[11].
Terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang mengulas tentang manajemen pembelajaran tahfidz diantaranya penelitian pertama yang dilakukan oleh Sulaichah, Endang Purbaningrum dan Muhammad Sholeh (2023) yang berjudul “Manajemen Pembelajaran Tahfidz di Sekolah Menengah Pertama Khairunnas Malang”. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penelitian deksriptif, yaitu metode untuk mendeskripsikan realita yang ada di lokasi penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan proses pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di SMP Khairunnas Malang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran tahfidz di SMP Khairunnas Malang dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam tahapan perencanaan, program tahfidz disusun secara sistematis, dengan penetapan tujuan dan penyusunan kurikulum yang sistematis, dengan penetapan tujuan dan penyusunan kurikulum serta alat pembelajaran yang sesuai. Pengorganisasian dilakukan melalui rapat koordinasi awal dan rutin, serta pembagian tugas yang jelas bagi guru, kepala sekolah, dan orang tua. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan metode yang bervariasi dan menyenangkan, serta dilakukan secara rutin baik dalam sesi hafalan baru maupun muraja’ah. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, meliputi penilaian hafalan siswa setiap jam pelajaran, ujian akhir juz, hingga ujian akhir kelulusan yang diikuti seluruh siswa. Selain itu, terintegrasinya program tahfidz dengan kurikulum nasional dan kolaborasi yang baik antara semua pihak turut mendukung keberhasilan program ini[12].
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Rosyida Istiqomah dan Reni Lailiyah Hidayah (2021) yang berjudul
“Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an : Studi Kasus Longitudinal Pondok Pesantren”. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan wawancara kepada informan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pembelajaran Al-Qur’an di pondok pesantren Bahrul Ulum Bondowoso. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pondok pesantren Bahrul Ulum Tangsil Kulon Bondowoso memiliki manajemen pembelajaran Qur’an yang sistematis[13].
Ketiga, penelitian yang diteliti oleh Akhmad Fadli (2019) yang berjudul “Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an dengan metode An-Nadhliyah di TPQ At-Thoyyibiyah Baureno Bojonegoro”. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu field research (penelitian lapangan) yang mendeskripsikan data-data kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara (interview), dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan metode An-Nadhliyah di TPQ AtThoyyibiyah Baureno Bojonegoro. Berdasarkan hasil penelitian bahwasannya TPQ At-Thoyyibiyah Baureno
Bojonegoro menggunakan metode An-Nadhliyah untuk mengajar Al-Qur’an di TPQ dengan baik[14].
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan yang sekarang adalah lokasi dan fokus penelitian, penelitian sebelumnya oleh Sulaichah et al. (2023) berjudul “Manajemen Pembelajaran Tahfidz di Sekolah Menengah Pertama Khairunnas
Malang”. Fokus utama penelitian ini adalah pada manajemen pembelajaran tahfidz di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan lebih menekankan pada tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi secara umum dalam konteks sekolah menengah. Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah penelitian difokuskan pada manajemen pembelajaran tahfidz di tingkat lembaga pendidikan non-formal, yaitu PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Permata Sunnah Sidoarjo, yang lebih spesifik membahas pada konteks manajemen pembelajaran tahfidz di lembaga ini. Metode penelitian, pada penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan kualitatif dan metodologi deskriptif yang mendeskripsikan kondisi di lapangan secara mendalam. Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan juga menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, tetapi menerapkan pengamatan langsung, wawancara, dan dokumentasi secara khusus di PKBM, serta menitikberatkan pada perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan faktor penghambat di lemaga ini. Tujuan dan ruang lingkup, penelitian sebelumnya bertujuan mengungkap proses manajemen tahfidz di SMP dan kaitannya dengan kurikulum nasional serta kolaborasi antar lembaga. Perbedaan yang akan peneliti lakukan adalah bertujuan mendeskripsikan secara detail manajemen pembelajaran tahfidz di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo serta mengidentifikasi faktor penghambat dalam konteks pendidikan masyarakat versi lembaga non formal. Hasil yang diharapakan, pada penelitian sebelumnya menyoroti sistem manajemen secara umum dan aplikatif di sekolah formal. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan adalah berupaya menggali secara spesifik proses manajemen pembelajaran tahfidz di lembaga PKBM dan faktorfaktor penghambat yang mengalami pengaruh langsung dalam konteks pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo. Dengan demikian, perbedaan utama terletak pada lokasi penelitian, konteks pendidikan (formal vs non formal), fokus aspek manajemen yang diangkat, dan lingkup sasaran penelitian.
Dalam konteks ini, penulis ingin melakukan analisis lebih mendalam tentang manajemen dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur'an, yang berfungsi sebagai jaminan kualitas lulusan di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo dan faktor penghambat dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an. Faktor penghambat yang akan penulis paparkan pada artikel ini ialah godaan gadget karena kurangnya kontrol dari orang tua, lokasi pembelajaran yang berpindah-pindah, dan kurangnya melakukan muroja’ah. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi ilmiah yang berharga dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Al-Qur'an di lembaga pendidikan. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat berfungsi sebagai dokumentasi yang berguna bagi lembaga pendidikan dalam menerapkan manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an, desain, dan metode yang digunakan untuk mengajar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman masalah sosial dalam konteks situasi nyata atau lingkungan alami yang mendalam, kompleks, terinci, dan memiliki tujuan tertentu dalam tiap maknanya[15]. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari informasi yang dikumpulkan langsung dari pengamatan di lapangan, sedangkan data sekunder berasal dari berbagai jenis dokumen, seperti laporan, jurnal penelitian, dan sebagainya. Jenis pengumpulan data kami lakukan melalui tahapan observasi, wawancara dan dokumentasi Selanjutnya, data pada penelitian ini akan diproses dan dianalisis sesuai dengan fokus penelitian yang sedang dilakukan[16].
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan yang tujuannya untuk menggali data tentang manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo. Wawancara adalah metode pengumpulan data yang melibatkan interaksi langsung antara peneliti dan subjek penelitian, dalam penelitian ini informan yang kami teliti adalah Koordinator Al-Qur’an Paket A dan Kepala Unit Paket A. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang perspektif subjek yang terlibat dalam penelitian dan dokumentasi melibatkan pengumpulan data dari dokumen, arsip, atau bahan tertulis lainnya yang berkaitan dengan subjek penelitian, bukti dokumentasi pada penelitian ini berupa foto dalam serangkaian peristiwa penelitian lapangan[17].
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan model analisis data interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Berikut adalah komponen analisis data Miles, Huberman, dan Saldana : Kondensasi data dalam proses penelitian ini melalui tahapan memilih dan menyederhanakan data yang mendekati sebagian besar catatan lapangan yang tertulis. Setelah itu, transkrip wawancara tersebut dipilah-pilah untuk mendapatkan informasi yang relevan. Kedua, penyajian data (display data) : Penyajian data kami lakukan untuk penyatuan informasi yang disimpulkan. Lalu, menganalisis temuan baru ini untuk membuatnya jelas dengan menggunakan komponen analisis data yaitu kondensasi data (data condensation), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan[18]. Untuk mengetahui keabsahan data yang kami teliti, selanjutnya kami teliti menggunakan konsep triangulasi data adalah teknik pengecekan keabsahan informasi, diluar informasi untuk keperluan pengecekan atau perbandingan. Triangulasi juga bisa dikatakan mencampurkan beberapa macam metode juga sebagai penguat validitas dan reliabilitas informasi guna melengkapi kelengkapan analisis informasi di lapangan. Penyajian data dengan cara memaparkan hasil penelitian secara detail mengenai hal-hal berhubungan dengan manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur'an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, kemudian menarik sebuah kesimpulan yaitu mengambil kesimpulan dari proses analisis yang kemudian dari hasil tersebut disajikan melalui penjelasan yang mudah dipahami[19].
Penelitian ini mencapai kesimpulan bahwa penerapan manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur'an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo telah diverifikasi. Hasil verifikasi ini menunjukkan temuan baru yang sebelumnya kurang jelas, yang membuat data lebih jelas dan terperinci[20].
A. Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo
Manajemen pembelajaran tahfidz merupakan gambaran manajemen dalam sudut pandang Islam. Dalam pandangan syariah menurut Karebet dan Yusanto dalam Mesiono, manajemen dapat dipandang dari dua sisi, yaitu manajemen sebagai ilmjj, manajemen dipandang sebagai salah satu dari ilmu umum yang lahir berdasarkan fakta empiris yang tidak berkaitan dengan nilai, peradaban (hadharah) manapun. Namun sebagai aktivitas, maka manajemen dipandang sebagai sebuah amal yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’al, sehingga ia harus terikat pada aturan syara’, nilai dan hadharah Islam[21].
Kegiatan pembelajaran tahfidz Al-Qur'an membutuhkan manajemen pembelajaran. Menurut Haerana, manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur'an harus ada dan siap untuk dilaksanakan karena merupakan bagian dari tugas guru sebagai manajer kelas, yaitu merencanakan, mengorganisir, melaksanakan, dan mengevaluasi untuk menentukan hasil belajar santri[22].
1)Perencanaan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an
Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo menerapkan model pembelajaran tahfidz Al-Qur’an menggunakan metode Ummi. Metode ummi adalah metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan pada bacaan tahfidz maupun tartil yang sesuai dengan kaidah tajwid, menggunakan pendekatan bahasa ibu yang penuh kasih sayang. Metode ini menerapkan sistem klasikal, yaitu guru dan santri membaca bersama-sama bacaan secara langsung (learning by doing) tanpa terlalu banyak teori, disamping itu karena kami melihat adanya pertimbangan jenjang pendidikan yang masih dini atau setara dengan sekolah dasar. Dengan jaminan mutu yang terstruktur serta melibatkan orang tua dalam prosesnya.
Dalam penelitian ini, peneliti melihat bahwa PKBM Permata Sunnah Sidoarjo melakukan beberapa tahapan dalam proses perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan arahan tim pengawas Ummi, kepala unit dan koordinator Qur’an dalam menunjang pembelajaran lebih baik, ditinjau dari tenaga pendidik yang kompeten dan menguasai tujuh tahapan pembelajaran Ummi, yang sebelumnya dibekali dengan adanya kegiatan sertifikasi Ummi dan kegiatan penunjang lainnya. Adapun proses pembelajaran tahfidz Al-Qur’an terbagi menjadi 4 (empat) tahapan, antara lain sebagai berikut:
Figure 1.
Gambar 1. Skema Tahapan Manajemen Pembelajaran Tahfidz di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo.
Sebelum memulai pembelajaran tahfidz Al-Qur’an, pengajar harus merancang perencanaan pembelajaran untuk mencapai hasil yang tebaik. Perencanaan adalah langkah awal yang harus dilakukan oleh guru dalam setiap program kegiatan. Perencanaan yang cermat sangat penting untuk keberhasilan program dan kegiatan manapun[2]. Perencanaan yang tepat diperlukan untuk keberhasilan proses pembelajaran. Pada hakikatnya dimulai dengan perencanaan yang sangat teliti. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran disusun dan diatur sehingga dapat mencapai tujuan yang akan dicapai oleh satuan pendidikan[23].
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar santri, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun, sedemikian rupa untuk mendukung dan memengaruhi terjadinya proses belajar santri yang bersifat internal kata Aunurrahman. Menurut Hakbim, perencanaan pembelajaran dirumuskan lalu dilaksanakan oleh guru maupun santri dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu[24]. Salah satu tugas guru tahfidz dalam kelompok belajar Al-Qur'an dengan metode Ummi adalah merencanakan kegiatan dan aturan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran Al-Qur'an dengan metode Ummi. Perencanaan ini melakukan peran penting dalam memastikan bahwa setiap tahapan pembelajaran berjalan dengan baik, lengkap, terukur, dan tetap dalam kendali guru. Perencanaan ini berfungsi sebagai panduan bagi guru selama proses pembelajaran, dan hasil yang mereka amati selama proses pembelajaran akan menjadi dasar untuk keputusan tindakan selanjutnya.
Dalam merencanakan pembelajaran Al-Qur'an dengan metode Ummi di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, guru menunjukkan komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Fokus utama adalah persiapan administrasi guru sebelum mengajar, yaitu mencakup pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Jurnal Harian, dan Target Capaian Siswa. Standar yang tinggi diterapkan dalam pembuatan RPP untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar tercakup dalam setiap pertemuan pembelajaran.
Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, memiliki jumlah santri kurang lebih tiga ratus santri, baik santri ikhwan maupun santri akhwat. Pada pembagian halaqah tahfidz Al-Qur’an terutama pada santri kelas 1 mengacu pada hasil tes dengan observasi khusus, kemudian untuk santri kelas dua hingga kelas enam menyesuaikan kelompok sesuai dengan capaian yang telah dibagi oleh koordinator Qur’an. Pedoman pada Ummi Foundation merekomendasikan jumlah antara sepuluh hingga tiga belas santri pada tiap halaqahnya. Setiap sesi Al-Qur’an berlangsung selama enam puluh menit, hal ini memberikan waktu yang cukup bagi santri untuk menyerap dan memahami materi. Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo tempat belajar telah ditentukan di lorong kelas dan di dalam kelas. Prinsip “U” dan meja belajar Qur’an pada tiap santri dari Yayasan Ummi dan kemudian mengarahkan pengaturan ruang kelas untuk menciptakan lingkungan pembelajaran dan fasilitas belajar yang nyaman.
Sesuai dengan pedoman dari Ummi (Unggulan Metode Metode Islamic), guru Al-Qur’an di PKBM Permata
Sunnah Sidoarjo menggunakan metode pendekatan klasikal baca simak murni. Hal ini memproriotaskan proses membaca dan mendengarkan secara menyeluruh. Dari makna pendekatan ini mempunyai tujuan untuk memberikan dasar dan pemahaman yang kuat terhadap Al-Qur’an. Namun terdapat kelas takhassus (kelas khusus) memungkinkan fleksibilitas untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan siswa tertentu. Dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo mengikuti tujuh langkah yang telah ditetapkan oleh Ummi Foundation. Langkah-langkah tersebut berupa pembukaan berupa salam dan do’a menuntut ilmu, apersepsi yaitu proses mengulang materi yang telah diajarkan sebelumnya untuk dikaitkan dengan materi yang akan disampaikan, penanaman konsep yaitu proses menjelaskan materi yang akan diajarkan pada hari itu, pemahaman konsep yaitu memahamkan santri dengan bacaan yang hari itu disampaikan, latihan yaitu proses mengulang-ulang bacaan yang hari itu disampaikan, evaluasi dan penilaian yaitu proses pengamatan sekaligus penilaian pada buku monitoring terhadap kemampuan hafalan bacaan santri, serta penutup yaitu pengondisian santri serta membaca do’a penutup sekaligus salam.
Grand teori pada artikel ini yaitu penelitian ini berfokus pada manajemen pembelajaran yang menggunakan metode Ummi, yaitu metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan pada bacaan tahfidz maupun tartil yang sesuai dengan kaidah tajwid, dan menggunakan pendekatan bahasa ibu.
Dalam halaqah pembelajaran tahfidz Al-Qur’an, terdapat beberapa aspek yang perlu diatur sebagai langkah perencanaan guru, sebagaimana yang diungkapkan oleh Djamarah yaitu :
Pertama, membuat tata letak tempat duduk santri, termasuk posisi berhadapan, posisi setengah lingkaran, dan posisi setengah lingkaran dan posisi berbaris ke belakang. Kedua, penyusunan dan pengaturan perangkat pembelajaran seperti alat peraga. Ketiga, penyusunan dan penataan ruang kelas yang indah dan bersih, termasuk menjaga kebersihan ruang pembelajaran. Keempat, semua langkah ini termasuk persiapan guru untuk membuat lingkungan belajar yang baik dan nyaman bagi santri[2].
Dalam perencanaan pembelajaran Al-Qur’an yang menggunakan metode Ummi di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo. Wajib bagi setiap guru menyiapkan berbagai tugas seperti menyiapkan administrasi pembelajaran, membuat design posisi pembelajaran, dan mengatur tempat duduk bagi guru dan santri. Dalam hal ini design posisi pembelajaran tahfidz Al-Qur’an digunakan di sekolah dengan format bentuk U, dan alat peraga Ummi di tempatkan di samping guru, sehingga dalam hal ini pengaturan sudah sesuai dengan pilihan design posisi pembelajaran Ummi.
Pada ruang pembelajaran Al-Qur’an peserta didik belajar menggunakan meja lipat khusus untuk mewadahi media pembelajaran mereka yaitu berupa Al-Qur’an dan buku monitoring. PKBM Permata Sunnah Sidoarjo memastikan bahwa santri memiliki pengalaman pembelajaran yang efektif dan mendalam dalam mempelajari Al-Qur’an dengan membuat perencanaan pembelajaran yang komprehensif dan mengikuti pedoman Ummi Foundation.
2)Pengorganisasian Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an
Pengorganisasian melibatkan penentuan berbagai kegiatan seperti pembagian pekerjaan ke dalam berbagai tugas khusus, yang harus dilakukan guru dan santri dalam proses pembelajaran, seperti menentukan pengajar, menentukan materi yang dapat menunjang tercapainya tujuan dari penyelenggaraan pendidikan di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo dan menentukan waktu atau jadwal pelaksanaan kegiatan pembelajaran[25].
Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, program pembelajaran Al Qur'an diorganisasikan dengan memilih koordinator, namun dalam konteks ini, koordinator terbagi menjadi dua, yaitu koordinator Qur’an Ikhwan bersama
Ustadz fajar dan koordinator Qur’an Akhwat bersama Ustadzah Laila. Pada koordinator Jenjang Al-Qur'an berfokus pada koordinasi dan pengembangan program pembelajaran dan memastikan kesinambungan pembelajaran. Kepala unit bertanggung jawab atas koordinasi tersebut dan mendukung penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan rencana dan tujuan. Guru Al-Qur'an bertanggung jawab langsung atas pelaksanaan pendidikan Al-Qur'an, sementara ada pembantu atau mahasiswa PPL pada bidang Al-Qur'an membantu dalam pelaksanaannya. Namun, pengorganisasian yang sudah ada di PKBM Permata Sunnah cukup baik; namun, akan lebih baik lagi jika dapat dilakukan secara sadar dan dengan rencana. Kemudian didorong dengan semangat yang kuat dari setiap pelaksana organisasi sesuai dengan amanah yang diberikan kepada mereka.
Untuk mengorganisir guru, kepala unit dan koordinator Al-Qur’an membagi tugas dan tanggung jawab pembelajaran. Sehingga dihaapkan kegiatan belajar mengajar dapat direncanakan dengan baik melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas. Setiap kegiatan pendidikan disampaikan dan diawasi oleh koordinator Qur’an. Di sisi lain, peserta didik bertanggung jawab untuk mematuhi aturan dan mengikuti kegiatan pendidikan baik di sekolah maupun di rumah agar program tahfidz Al-Quran berjalan dengan lancar[26].
Untuk menjamin pelaksanaan yang efektif, pengurus dan penanggung jawab khusus tahfidz dibentuk secara fungsional. Pada tahun sebelumnya, telah dibentuk koordinator Al-Qur’an untuk mengatur pembelajaran tahfidz Qur’an metode Ummi ini. Setiap pendidik di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo memiliki tanggung jawab untuk menerima setoran hafalan dari santri, membantu santri dalam proses muroja’ah dengan baik, dan memberikan penghargaan agar santri lebih termotivasi untuk belajar. Dalam praktiknya, pembagian tugas kerja belum sepenuhnya terorganisir karena kurangnya sumber daya manusia yang mengajar. Terkadang apabila ada salah satu pengajar yang berhalangan hadir di sekolah, santri pada halaqah tersebut dilebur ke halaqah lainnya. Oeh karena itu, dengan adanya pertambahan santri pada halaqah tersebut, hal ini berdampak proses setoran menjadi tidak efektif. Seharusnya agar menjadikan efektif dalam proses pembagian tugas kerja, maka perlu ditambahnya pengajar tahfidz Qur’an.
3)Pelaksanaan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an
Guru melakukan pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana kelas yang baik untuk belajar. Peraturan pembelajaran di sekolah mengarahkan guru dalam menjalankan pembelajaran tahfidz. Peraturan ini mengatur bagaimana seorang pendidik bertindak dan tata tertib pelaksanaan pembelajaran. Peraturan ini juga mencakup cara menangani santri yang sering terlambat masuk ke halaqah, santri yang buku monitoringnya masih kosong dari tanda tangan walisantri, santri yang membuat kegaduhan di kelas, dan santri yang membuat kegaduhan hingga diberi sanksi. Namun, sanksi tersebut akhirnya dikembalikan ke santri. Namun, jika Jika santri tidak dapat ditanangi, mereka diserahkan kepada pihak waka kesantrian dalam hal ini, bekerjasama dengan kepala sekolah.
Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran tahfidz Al-Qur’an, hal ini dilakukan secara sistematis. Pembelajaran Tahfidz Al-Quran di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo dilakukan dalam beberapa tahap. Diantaranya yaitu pembukaan, berisi salam, bertanya kabar dan membaca do’a menuntut ilmu. Apersepsi yaitu mengulang materi hafalan sebelumnya, untuk mengaitkannya dengan materi atau hafalan baru. Penanaman konsep, yaitu santri diajarkan materi baru secara langsung sebelum mereka berlatih mengulang contoh hafalan selanjutnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hafalan di surat tersebut. Selanjutnya, mereka dilatih dalam keterampilan bacaan klasikal atau baca-simak secara benar dan tartil sebelum masuk ke hafalan. Metode ini menekankan pendekatan langsung, pengulangan, dan kasih sayang. Selanjutnya yaitu, pemahaman konsep merupakan langkah penting dalam metode tahfidz Ummi, di mana guru membantu santri untuk memahami konsep bacaan baru (seperti hukum tajwid tertentu) dengan melatih pengucapan contoh yang ada di buku tahfidz menggunakan metode klasikal individual, bacasimak murni dengan nada dasar yang mudah atau yang biasa disebut dengan nada Rost, hal ini bertujuan membangun dasar tahsin yang kuat sebelum dilanjutkan ke latihan intensif dan evaluasi hafalan. Kemudian yaitu evaluasi pembelajaran atau yang disebut dengan penilaian, dalam hal ini proses untuk mengukur aspek kelancaran dan pemahaman hafalan santri, yang kemudian dituangkan dalam bentuk nilai pada buku monitoring santri, dan yang terakhir ialah penutup, berisikan sedikit nasihat mengenai tetap semangat dalam menuntut ilmu dan kemudian do’a kafarotul majelis disertai salam.
Pada proses tahapan pembelajaran diatas, dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan meresap terhadap materi hafalan Al-Qur'an. Disamping itu, pada penggunaan media pembelajaran dapat memfasilitasi proses pembelajaran dengan lebih mudah, menjadikan pembelajaran lebih menarik dan beragam, mencegah santri mengalami kebosanan atau kejenuhan, meningkatkan keinginan santri untuk tetap semangat menghafal Al-Qur’an, dan memungkinkan santri untuk lebih memahami dan mengingat materi dengan baik[27].
Pada pembelajaran tahfidz Ummi di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, menggunakan berbagai media untuk mengajar tahfidz Al-Qur'an, seperti alat peraga, buku hafalan Ummi, buku monitoring harian santri, dan jurnal mengajar. Semua media ini berfungsi untuk membuat pembelajaran menjadi interaktif, menarik, dan memudahkan siswa memahami ayat-ayat pada Al-Qur'an.
4)Evaluasi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an
Dalam manajemen, Ar-Riqabah, disebut juga evaluasi, adalah proses untuk memastikan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai atau tidak dengan perencanaan sebelumnya. Ayat dalam Al-Qur'an yang berkaitan dengan evaluasi adalah pada Surat Al Infitar 82:10-12 berbunyi : وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحََََٰ ِف ِظيننَ ِكرَامًا كََََٰ ِت ِبينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُو نَ
Artinya : “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah
Ta’ala dan yang mencatat pekerjaaan itu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, evaluasi pembelajaran tahfidz Al-Qur'an dilakukan dengan cara yang terstruktur untuk memantau kemajuan santri dalam memahami dan menghafal Al-Qur'an. Pertama, evaluasi harian dilakukan guna melihat kemampuan hafalan santri, kemudian hasil bacaan santri dinilai dan dicatat dalam buku monitoring setiap hari, yang memungkinkan pengawasan terus-menerus terhadap kemajuan mereka dalam membaca dan menghafal. Kemudian dalam hal ini, apabila santri sudah memiliki pemahaman dan kelancaran dalam menghafal surah tersebut, guru halaqah wajib untuk menginformasikan kepada Koordinator Qur’an untuk menjadwalkan tes surah yang akan diujikan. Setelah dilakukannya tes kenaikan surah, yang dengan ini, bertujuan untuk menilai kemampuan santri dalam menyelesaikan hafalan pada surah tersebut kepada Koordinator Al-Qur’an Akhwat, dan sebagai syarat untuk dapat melanjutkan hafalan ke surah selanjutnya, apabila mendapatkan nilai baik setara dengan A atau B. Adapun apabila santri tersebut sudah mencapai target hafalan sebanyak satu juz, maka guru halaqah menginformasikan kepada Koordinator Qur’an Akhwat untuk dilakukan penjadwalan Tasmi’, yaitu proses uji kemampuan hafalan dengan sekali duduk. Pada tahapan selanjutnya yaitu Pra Munaqasyah dan Munaqasyah, dalam hal ini guna menilai kemampuan santri dalam membaca dan menghafal Al-Qur'an dengan langsung diuji oleh pihak Ummi Foundation. Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo dilakukan kegiatan Pra Munaqasyah dan Munaqasyah sebanyak dua kali, pada akhir semester ganjil dan akhir semester genap. Pada tahap terakhir, yaitu kegiatan Imtihan Kubro, santri diuji di hadapan orang tua untuk menunjukkan kemampuan mereka. Hal ini menunjukkan tingkat pencapaian mereka secara keseluruhan setelah mereka menyelesaikan seluruh program pembelajaran Al-Qur'an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tahfidz Al-Qur'an dengan metode Ummi, diperlukan kegiatan monitoring yang berkelanjutan. Dalam supervisi pembelajaran, evaluasi berfungsi untuk menilai kinerja guru dengan mengamati dan mengumpulkan data dan fakta tentang kinerja mereka. Tujuan dari proses evaluasi dan pengamatan ini adalah untuk meningkatkan kinerja guru secara keseluruhan, menggunakan data dan informasi yang diperoleh untuk meningkatkan kinerja mereka dalam konteks pembelajaran. Di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, peran supervisor pembelajaran, yang diwakili oleh Koordinator Ummi dan Pentashih Ummi, memiliki peran strategis untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. Sebagai supervisor, penting untuk menyadari bahwa setiap langkah yang diambil bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar dengan fokus pada perubahan perilaku guru ke arah yang lebih baik[28].
Supervisi adalah tindakan pelatihan yang dirancang untuk membantu guru dan pegawai melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Supervisi dalam metode Ummi sangat penting karena bertujuan untuk memastikan bahwa setiap guru pengajar al-Qur'an metode Ummi memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam pengajaran tahfidz Al-Qur'an metode Ummi. Selain itu, supervisi juga berfungsi sebagai alat untuk memastikan bahwa guru mengikuti tahapan pembelajaran tahfidz Al-Qur'an yang sesuai, seperti yang dijelaskan selama sertifikasi guru Al-Qur'an metode Ummi. Ustadz Iswahyudi, S., S. Atau yang akrab disapa dengan nama Ustadz Is, beliau adalah salah satu supervisor di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo. Di bawah bimbingan Ustadz Iswahyudi, S., S. supervisi internal dilakukan di sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, baik tahfidz maupun tartil Al-Qur'an metode Ummi. Supervisi internal ini terdiri dari tiga tingkatan. Pertama yaitu supervisi harian mencakup pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran sehari-hari, seperti pengaturan tempat duduk, manajemen kelas, dan pengisian jurnal oleh guru, hal ini dilakukan oleh Koordinator Qur’an Akhwat baik Ikhwan, guna melakukan observasi lapangan untuk memastikan standar pembelajaran dan mencatat area yang perlu perbaikan dan yang harus dipertahankan. Tujuan dari supervisi harian ini adalah untuk memantau keberlangsungan pembelajaran. Kedua yaitu supervisi yang dilakukan setiap bulan bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana setiap kelas melakukan pembelajaran. Setiap akhir bulan, guru melaporkan hasil belajar siswa kepada Koordinator untuk melihat perbandingan antara capaian dari berbagai halaqah yang mungkin berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Data ini membantu menemukan halaqah yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan supervisi bulanan ini, pencapaian pembelajaran dapat diukur dengan lebih baik. Ketiga, terdapat supervisi tahunan sebanding dengan supervisi harian dalam hal pengawasan pembelajaran secara langsung. Namun, yang membedakan adalah seberapa detail penilaian dilakukan. Supervisi tahunan melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam tentang berbagai aspek pembelajaran. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kualitas pembelajaran tahfidz Al-Qur'an menggunakan metode Ummi.
Hasil evaluasi pembelajaran yang dilakukan koordinator kepada guru menunjukkan bahwa semakin baik guru mengajar, semakin baik pemahaman siswa tentang materi. Maka, proses pembelajaran tahfidz Al-Qur'an akan lebih efektif. Hal ini sejalan dengan pendapat Jerry H. Makawimbang, yang menyatakan bahwa pemantauan, pengawasan, evaluasi, dan tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah semua bagian dari supervisi. Hal ini termasuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan profesional pengajar, menentukan dan meningkatkan tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi proses pembelajaran.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saat pelaksanaan supervisi sudah cukup baik, kata pengawas terhadap para pimpinan sekolah dan Koordinator Qur’an ketika ada pertemuan setelah melakukan kegiatan supervisi, harapan nya nanti untuk kedepan KBM Permata Sunnah Paket A bisa menjadi Role Model karena sudah banyak menghasilkan lulusan ataupun santri yang masih pada tahap pembelajaran Ummi dengan kategori kualitas sangat baik, terutama pada kelas Akhwat. Sehingga hal ini menunjukkan praktik baik yang dapat ditiru oleh sekolah lain guna meningkatkan kualitas target hafalan Qur’an santri secara keseluruhan.
Hasil pembelajaran tahfidz Al-Qur'an metode Ummi di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo ada pengaruh terhadap fasilitas pembelajaran seperti lokasi pembelajaran yang tidak dilakukan di kelas seluruhnya, karena pembelajaran
AlQur’an dilakukan dalam dua sesi, yaitu untuk sesi satu bagi kelas bawah, meliputi kelas satu hingga kelas tiga. Sesi dua bagi kelas atas mulai dari kelas empat hingga kelas enam, baik santri Ikhwan maupun santri Akhwat, karena jumlah kelas yang terbatas oleh karena itu pembelajaran pada tiap halaqah tidak hanya di tempatkan di kelas saja, melainkan ada yang di lorong, gazebo dan juga Masjid. Namun dengan seiringnya waktu, kemungkinan pembangunan untuk ruang belajar akan terus ditambah.
Proses evaluasi pembelajaran tahfidz Al-Qur'an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo sudah semakin terstruktur dan berkelanjutan, walaupun ini adalah tahun ketiga, lembaga menggunakan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Ummi dan sudah semakin menunjukkan kualitas pembelajaran yang baik, dan jumlah lulusan yang sudah banyak mencapai target hafalan sebanyak tiga juz atau lebih, tidak lain karena kesungguhan lembaga dalam menjalankan proses pembelajaran yang telah ditetapkan, dilaksanakan dan dan terus diperbaiki. Dan tak lupa, evaluasi dilakukan setiap hari, pekanan, dan bulanan untuk memantau kemajuan siswa dan kualitas pembelajaran. Evaluasi harian dan bulanan memberikan gambaran menyeluruh tentang pencapaian santri di setiap tahapan pembelajaran. Diharapkan melalui proses evaluasi yang sistematis ini. Pembelajaran Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo akan terus berkembang dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam bagi santri PKBM Permata Sunnah Sidoarjo.
B. Hambatan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo
Disamping itu, setiap hambatan pada proses pembelajaran tahfidz Al-Qur’an akan selalu ada. Karena berhasil atau tidaknya proses manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an, tergantung bagaimana seorang pengajar mengaplikasikan pembelajaran tahfidz Al-Qur’an dengan baik[29]. 1. Godaan Gadget karena Kurangnya Kontrol dari Orangtua
Tanpa disadari, smartphone bukan saja diperuntukkan oleh orang dewasa sebagai alat komunikasi dan bekerja, terlebih dikalangan anak-anak yang bahkan dijadikan ajang untuk menuangkan rasa bosan mereka terhadap menghafal Al-Qur’an ataupun memuroja’ah hafalan Qur’an yang sudah mereka miliki. Oleh karena itu, dalam hal ini sangat mempengaruhi kefokusan pembelajaran Al-Qur’an santri terlebih saat proses ziyadah hafalan. Padahal, dalam proses penyerapan ilmu sangatlah dibutuhkan yang namanya fokus terhadap apa yang dipelajari. Hal ini, bahkan menjadi permasalahan utama yang membuat santri kesulitan dalam hal memahami dan menghafalkan Al-Qur’an akibat tidak fokus saat pembelajaran tahfidz Qur’an. Maka, hal ini juga sangat mempengaruhi tidak tercapainya target Al-Qur’an dalam satu semester karena disamping hambatan ini juga berasal dari kurangnya kontrol dan pengawasan orang tua. Hal ini terjadi tidak pada semua santri, namun ada beberapa Asatidz menemukan penemuan santri-santri yang semacam ini ketika pembelajaran di Halaqah.
2.Lokasi Pembelajaran yang Berpindah-Pindah
Lokasi pembelajaran yang sering berpindah-pindah dapat menciptakan ketidakstabilan dalam lingkungan pembelajaran. Perpindahan lokasi ini menyebabkan kesulitan dalam menjaga kontinuitas pembelajaran. Santri dan pengajar perlu menyesuaikan diri dengan perubahan lokasi, yang dapat mengganggu alur pembelajaran dan konsentrasi santri dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran tahfidz Al-Qur'an. Keterbatasan fasilitas seperti ruang belajar khusus, meja lipat, dan tempat yang ramai juga menjadi penghambat bagi kelancaran proses pembelajaran.
3.Kurangnya Melakukan Muroja’ah
Salah satu cara untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an agar hafalan tetap berada pada ingatan seseorang adalah dengan selalu melakukan muroja’ah. Akan tetapi, di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo, santri lebih dikuatkan untuk menambah hafalan yang baru. Sedangkan, untuk waktu muroja’ah santri sangatlah kurang, sehingga kualitas hafalan para santri cenderung melemah. Hal ini juga diperkuat dari adanya temuan saat di halaqah, apabila santri selesai menyetorkan hafalan nya kepada pengajar, apabila lalai dari pandangan mata, yang terjadi akhirnya ada beberapa santri saling mengobrol tentang hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali dengan pembelajaran. Contohnya membahas tentang game dan lain sebagainya.
Hal ini juga diketahui melalui buku monitoring yang telah diberikan oleh sekolah[30]. Yang mana buku monitoring ini sebagai penghubung antara walisantri dan pengajar, apabila santrinya tidak muraja’ah hafalan di rumah, maka yang terjadi pada buku tersebut tidak diberi tanda tangan oleh orang tua.
SARAN TINDAK LANJUT
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tahfidz Al-Qur'an dengan metode Ummi, disarankan agar pengajar tetap melaksanakan tahapan pembelajaran tahfidz Al-Qur'an sesuai dengan aturan Ummi Foundation, memperhatikan media dan penggunaan pembelajaran, melakukan pengawasan yang berkelanjutan, dan menyesuaikan durasi pembelajaran. Seluruh pembahasan terkait pembelajaran dan administrasi guru di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh Ummi Foundation dan kebutuhan untuk perencanaan yang cermat, namun tidak menyinggung isu perubahan atau penghentian penggunaan kurikulum yang lama. Saran untuk semeseter selanjutnya supaya sudah tidak menggunakan RPP, namun menggunakan pembelajaran mendalam (deep learning).
Manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di PKBM Permata Sunnah Sidoarjo dilaksanakan dengan tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan pembelajaran dilakukan dengan mempersiapkan administrasi dan perangkat pembelajaran, menentukan jumlah santri tiap halaqah serta peraturan halaqah. dan telah memberikan dampak positif terhadap kemampuan santri dalam memahami dan menghafalkan Al-Qur’an. Pengorganisasian meliputi pembagian tugas bagi masing-masing Asatidz maupun Ustaadzaat. Pelaksanaan yang dilakukan dimulai dengan tahap persiapan pembelajaran, pembukaan, pengulangan materi sebelumnya, penyampaian materi baru, menanamkan pemahaman kepada santri, dan kemudian penilaian serta evaluasi materi yang dipelajari pada hari tersebut, serta diakhiri dengan memberikan motivasi dalam belajar kemudian penutup. Kemudian evaluasi meliputi pelaksanaan ujian kenaikan surat, tasmi’, pra munaqosyah, munaqosyah serta imtihan kubro, berikut serangkaian ujian yang harus dilaksanakan oleh para santri apabila sudah memenuhi syarat ujian serta target yang telah ditentukan oleh sekolah. Disamping itu, manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur’an dengan metode Ummi mengalami beberapa hambatan diantaranya yaitu godaan gadget karena kurangnya kontrol dari orangtua, lokasi pembelajaran yang berpindah-pindah, serta kurangnya melakukan muroja’ah hafalan.
Ucapan Terima Kasih
Dengan rendah hati, peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Istikomah, M.Ag selaku pembimbing utama, atas bimbingan, masukan, dan dukungannya dalam menyelesaikan penelitian ini. Kemudian kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Budi Haryanto, S.Pd. M.Pd, serta Ibu Dr. Anita Puji Astutik, M.Pd.I atas dedikasi serta bimbingan untuk menyempurnakan thesis ini. Kesadaran peneliti terhadap kelemahan dan keterbatasan dalam penulisan artikel ilmiah ini diakui sebagai hasil dari keterbatasan pribadi. Penyusunan thesis ini melibatkan bimbingan dan dukungan dari berbagai sumber. Penulis ingin memberikan ucapan terimakasih banyak yang mendalam kepada orang tua, ibu dan bapak dosen serta keluarga besar PKBM Permata Sunnah Sidoarjo yang terlibat dalam penelitian ini, yang senantiasa memberi dukungan dan motivasi tiada henti.
S. Mustopa, “Manajemen Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dalam Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan PKBM (Studi Tentang Efektivitas Pengelolaan PKBM Bonti Sukses Abadi, PKBM Setia Mandiri Dan PKBM Peduli Anak Bangsa Di Kota Bandung),” Edukasia: J. Pendidik. Dan Pembelajaran, vol. 33, no. 1, pp. 1–12, 2022.
Syaroni, “Management of Qur’an Learning With Ummi Method at SDIT Insan Kamil Sidoarjo [Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an Metode Ummi Di SDIT Insan Kamil],” pp. 1–12.
R. Ramadani and M. Jinan, “Manajemen Program Kelas Tahfidz Dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Siswa Di SMA Muhammadiyah 1 Klaten,” Kamaya: J. Ilmu Agama, vol. 8, no. 2, pp. 162–173, 2025, doi: 10.37329/kamaya.v8i2.4242.
M. Anni, “Manajemen Pembelajaran Program Tahfidz Dalam Membentuk Akhlak Qur’ani Pada Jurusan Keagamaan Di MAN 2 Kota Madiun,” 2023.
N. Yanti, “Novia Yanti: Sejarah Dan Dinamika,” Mau’izhah, vol. 9, no. 1, pp. 135–164, 2019.
N. Hidayah and W. Nusantara, “Pengelolaan PKBM Dalam Perspektif Pengembangan Potensi Sumber Daya Manusia Lokal,” J. Pendidik. Untuk Semua, vol. 4, no. 2, pp. 26–35, 2020.
R. Yoseptri, T. Ratnawulan, A. Rahman, A. Suhandi, and N. Nurlaela, “Peran PKBM Dalam Meningkatkan Pendidikan Di Daerah Pinggiran Kota (Studi Kasus Pada PKBM Hidayah),” Univ. Islam Nusantara, Indones., vol. 12, no. 1, pp. 395–407, 2024.
M. Thontawi, M. My, F. Chaniago, A. Fiqhi, I. N. Hazairin, and Y. Afifah, “Tahfidz Al-Qur’an: A Study of Learning Management Systems in Higher Education,” Al-Tanzim: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 1, pp. 574–585, 2022, doi: 10.33650/al-tanzim.v6i2.3535.
R. Saragih, M. Mesiono, and I. Nasution, “The Management of Tahfidz Al-Qur’an Learning at Homeschooling Public Learning Center,” Nidhomul Haq: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 3, pp. 537–547, 2021, doi: 10.31538/ndh.v6i3.1704.
J. Juhri, “Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an (Studi Kasus Pada SD Islam Athirah Racing Centre),” Cendekia: J. Ilmu Pengetah., vol. 3, no. 4, pp. 202–210, 2023, doi: 10.51878/cendekia.v3i4.2579.
F. Sajidin, “Manajemen Pembelajaran Tahsin Metode Ummi Dalam Meningkatkan Kualitas Bacaan Santri Di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo,” Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2025.
S. Sulaichah, E. Purbaningrum, and M. Sholeh, “Manajemen Pembelajaran Tahfidz Di Sekolah Menengah Pertama Khairunnas Malang,” Edukasia: J. Pendidik. Dan Pembelajaran, vol. 4, no. 2, pp. 2317–2324, 2023, doi: 10.62775/edukasia.v4i2.580.
R. Istiqomah and R. Hidayah, “Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an: Studi Kasus Longitudinal Di Pondok Pesantren,” J. Pendidik. Agama Islam Al-Thariqah, vol. 6, no. 1, pp. 138–150, 2021, doi: 10.25299/althariqah.2021.vol6(1).6932.
Fadli, “Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an Dengan Metode An-Nahdliyah Di TPQ At-Thoyyibah Baureno Bojonegoro,” Mudir: J. Manaj. Pendidik., vol. 1, no. 2, pp. 88–98, 2019. [Online]. Available: http://ejournal.insud.ac.id/index.php/mpi/index
Kaharuddin, “Kualitatif: Ciri Dan Karakter Sebagai Metodologi,” Equilibrium: J. Pendidik., vol. 9, no. 1, pp. 1–8, 2021. [Online]. Available: http://journal.unismuh.ac.id/index.php/equilibrium
R. Fauziyah and K. Hikmah, “Implementation Online Based Arabic Language Learning at the Al-Iman Surabaya Arabic Language Course,” pp. 1–9, 2024, doi: 10.21070/ups.4347.
G. Daruhadi and P. Sopiati, “Pengumpulan Data Penelitian,” J-Ceki: J. Cendekia Ilmiah, vol. 3, no. 5, pp. 5423–5443, 2024.
H. Wanto, “Strategi Pemerintah Kota Malang Dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik Berbasis Konsep Smart City,” JPSI: J. Public Sect. Innov., vol. 2, no. 1, pp. 39–43, 2018, doi: 10.26740/jpsi.v2n1.p39-43.
Wardatun Nisa and K. Hikmah, “Implementation of Merdeka Curriculum in Arabic Language Learning at SMA Muhammadiyah 1 Jombang Movers School,” UMSIDA, p. 8, 2024, doi: 10.21070/ups.4527.
M. A. Thalib, “Pelatihan Analisis Data Model Miles Dan Huberman Untuk Riset Akuntansi Budaya,” Madani: J. Pengabdi. Ilm., vol. 5, no. 1, pp. 23–33, 2022, doi: 10.30603/md.v5i1.2581.
R. Saragih, “Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an Di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Homeschooling Abi And Ummi Tingkat SMP Yayasan Pendidikan Islam Baiti Jannati Medan Helvetia,” Pharmacogn. Mag., vol. 75, no. 17, pp. 399–405, 2021.
Darminto and Nurdyansyah, “Tahfidz Al Quran Extracurricular Learning Management at SMK Muhammadiyah 1 Prambon,” UMSIDA Preprints Server, 2023, doi: 10.21070/ups.558.
W. Astuty and A. W. B. Suharto, “Desain Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Daring Dengan Kurikulum Darurat,” J. Penelitian Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 81–96, 2021, doi: 10.36667/jppi.v9i1.624.
Y. Badrudin and O. R. Al Islami, “Manajemen Pembelajaran Tahfizh Al-Qur’an Dalam Mencetak Santri Berkarakter Di MDTA Al-Masthuriyah Sukabumi,” vol. 13, no. 1, pp. 10–20, 2023.
D. I. Pondok, P. E. S. Antren, T. Madinatul, and Q. U. R. An, “Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an,” vol. 5, no. 1, pp. 55–66, 2022, doi: 10.47732/adb.v5i1.173.
Prayoga, R. S. Noorfaizah, Y. Suryana, and M. Sulhan, “Manajemen Pembelajaran Tahfidzul Quran Berbasis Metode Yaddain Di MI Plus Darul Hufadz Sumedang,” Nidhomul Haq: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 2, pp. 140–156, 2019, doi: 10.31538/ndh.v4i2.326.
Y. Febrita and M. Ulfah, “Peranan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa,” Diskusi Panel Nasional Pendidikan Matematika, vol. 5, no. 1, pp. 181–188, 2019.
Ubabuddin, “Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Sebagai Upaya Meningkatkan Tugas Dan Peran Guru Dalam Mengajar,” 2019.
Fatimatuzzahroh, “Implementasi Manajemen Kurikulum Bahasa Arab,” J. Pendidik. Ilm., vol. 7, no. 1, pp. 45–62, 2022.
S. Alfarisyi, “Problematika Pembelajaran Tahfidz Qur’an Di Pondok Pesantren Darul Qur’an Desa Bandar Klipa,” vol. 1, pp. 181–190, 2022.