Login
Section Innovation in Education

The Role of the Religious Environment in Shaping the Integrity and Loyalty of Teachers in Islamic Educational Institutions


Peran Lingkungan Religius Dalam Pembentukan Integritas dan Loyalitas Guru di Lembaga Pendidikan Islam
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Anik Aryani (1), Ida Rindaningsih (2)

(1) Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Religious values are integral to Islamic educational environments and professional conduct. Specific Background: SMA Muhammadiyah 3 Tulangan implements religious practices, Islamic culture, and social interactions to foster professional and moral development. Knowledge Gap: Previous studies have discussed religious values and teacher performance, but limited attention has been given to the interconnected development of integrity and loyalty within an Islamic educational setting. Aims: This study explores the role of the religious environment in shaping teacher integrity and loyalty based on Imam Al-Ghazali’s perspective. Results: Religious practices support honesty, responsibility, discipline, and ethical commitment, although declining spiritual guidance and inconsistent participation have weakened these qualities in recent years. Novelty: The study integrates religious values, integrity, and loyalty through Al-Ghazali’s concept of tazkiyatun nafs. Implications: Sustained spiritual development, moral leadership, and supportive institutional systems are needed to strengthen professional commitment.


Key Findings Highlights


Religious practices support honesty, responsibility, and professional discipline.


Reduced spiritual guidance contributes to declining commitment and participation.


Moral leadership, institutional policies, and consistent practices support sustainable professional commitment.


Keywords: Religious Environment, Teacher Integrity, Teacher Loyalty, Islamic Education, Tazkiyatun Nafs

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan landasan utama dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, bermartabat, dan berdaya saing tinggi. Pendidikan juga merupakan tonggak kemajuan suatu bangsa. Pemerintah bercita-cita menghadirkan pendidikan yang berkualitas seperti yang tercantum dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Melalui pendidikan, nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial ditanamkan secara sistematis agar individu mampu menjadi bagian konstruktif dalam masyarakat [1]. Dalam konteks Pendidikan Islam, aspek religiusitas tidak hanya menjadi pelengkap kurikulum, tetapi merupakan roh yang menghidupkan seluruh sistem dan proses pembelajaran [2], [3]. Salah satu komponen penting dalam ekosistem pendidikan adalah guru, yang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral dan spiritual bagi peserta didik. Seperti yang dikemukakan Mulyasa dalam [4] guru merupakan pendidik profesional karena mereka telah mengorbankan diri untuk memikul tanggung jawab pendidikan secara menyeluruh. Sejalan dengan penelitian Alwi et al. Dalam [5] menyatakan bahwa tugas guru sangat esensial dalam membentuk generasi yang bermoral dan intelektual. Oleh karena itu, kinerja guru menjadi elemen krusial dalam menjamin mutu pendidikan di lembaga pendidikan Islam.

Lingkungan religius yang kuat dalam institusi pendidikan Islam menjadi salah satu faktor yang diyakini mampu mendorong peningkatan integritas dan loyalitas guru. Lingkungan ini dibangun melalui penerapan nilai-nilai Islami dalam keseharian sekolah, baik dalam bentuk praktik ibadah seperti shalat berjamaah, kajian keislaman, dan peringatan hari besar Islam, maupun melalui penguatan nilai-nilai Islami seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung

jawab [6], [7]. Kegiatan-kegiatan ini berfungsi sebagai sistem nilai yang menuntun perilaku seluruh warga sekolah, termasuk guru menunjukkan bahwa kegiatan organisasi yang berbasis nilai-nilai agama berkontribusi positif terhadap kinerja profesional. Dalam lingkungan seperti ini, guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai religius yang menjadi fondasi integritas dan loyalitas terhadap lembaga tempat mereka mengabdi [8], [9].

Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip agama tidak selalu optimal di banyak lembaga pendidikan Islam. Tantangan nyata dalam penerapan nilai-nilai Islami yang menyeluruh, seperti rendahnya disiplin spiritual, kurangnya keteladanan dari tenaga pendidik, dan lemahnya internalisasi syariat Islam pada saat proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada loyalitas guru terhadap organisasi dan rendahnya integritas dalam menjalankan tugas profesionalnya. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya beban kerja, kurangnya penghargaan institusional dan lemahnya pengawasan internal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi stabilitas etos kerja dan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi pendidikan Islam [10], [11].

Secara umum, berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya adalah melalui pengembangan program sekolah yang kondusif dan berorientasi pada nilai. Program sekolah tidak hanya menjadi cermin identitas kelembagaan, tetapi juga menjadi mekanisme kontrol sosial yang dapat membentuk perilaku warga sekolah secara konsisten. Nilai-nilai religius dan motivasi kerja memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kinerja guru. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai religius dapat menjadi solusi strategis untuk membentuk lingkungan kerja yang mendorong integritas dan loyalitas guru. Pendekatan ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga menekankan transformasi nilai dan internalisasi prinsip-prinsip moral dalam setiap aspek kehidupan sekolah [12], [13].

Di sisi lain, pendekatan berbasis nilai religius dalam meningkatkan kinerja guru semakin mendapat perhatian dalam literatur pendidikan Islam. Mahasiswa calon guru juga harus dibekali dengan karakter religius sebagai bagian dari kesiapan mereka menjadi guru berkarakter [14]. Kepuasan kerja guru dapat ditingkatkan melalui komitmen organisasi dan perilaku kewargaan organisasi, yang keduanya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual di lingkungan kerja. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan religius tidak hanya relevan dalam konteks spiritualitas individu, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas profesionalisme guru dalam jangka panjang [15], [16].

Penelitian lain menyoroti pentingnya internalisasi nilai-nilai Islami seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan dalam membangun integritas guru [17]. Disiplin dan pengawasan kepala sekolah dapat mendorong peningkatan kinerja dan tanggung jawab guru [18]. Selain itu etika profesi keguruan berperan penting dalam membangun integritas guru, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan [19]. Lingkungan religius yang mendukung internalisasi nilai-nilai tersebut terbukti mampu menciptakan suasana kerja yang sehat, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, yang menjadi dasar loyalitas jangka panjang terhadap lembaga pendidikan [20], [21]

Lebih jauh, literatur menunjukkan adanya hubungan erat antara penerapan nilai Islami dan meningkatnya komitmen serta dedikasi guru. Nilai-nilai Islami di sekolah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kinerja guru karena dapat membentuk jiwa religius yang menumbuhkan kenyamanan, loyalitas, dan motivasi kerja yang tinggi [22] Selain itu keterlibatan guru dalam mengembangkan nilai religius di sekolah mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan membentuk karakter siswa. Namun demikian, masih sedikit studi yang secara khusus mengkaji bagaimana lingkungan religius membentuk dua komponen utama profesionalisme guru, yakni integritas dan loyalitas, secara terpadu dan kontekstual [23].

Dengan menganalisis penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa meskipun banyak penelitian yang membahas hubungan antara prinsip-prinsip agama dan kinerja guru, penelitian yang secara khusus mengkaji peran lingkungan keagamaan dalam membangun integritas dan loyalitas guru di lembaga pendidikan Islam masih kurang. Penelitian skala besar hanya berfokus pada aspek kinerja atau karakter siswa, tanpa mengkaji secara mendalam bagaimana lingkungan keagamaan memengaruhi profesional guru. Perbedan tersebut sebagai langkah awal untuk eksplorasi lebih lanjut terkait proses guru dalam mendalami nilai-nilai agama di sekolah dan pengaruh nilai tersebut terhadap sikap, dedikasi dan profesionalisme mereka.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah secara mendalam tentang peran ingkungan religius dalam pembentukan integritas dan loyalitas guru di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini memberikan perspektif baru dengan menitikberatkan pada pengalaman personal guru dalam membudayakan nilai-nilai Islami di lingkungan sekolah. Selain itu, penelitian ini juga mengintegrasikan konsep nilai religius, integritas, dan loyalitas dalam ruang lingkup pendidikan islam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif kontekstual mengenai nilai, budaya, dan profesionalitas pendidik serta rekomendasi strategis bagi penguatan manajemen pendidikan berbasis islam.

II. Metode

Pendekatan yang diterapkan pada penelitian ini adalah kualitatif fenomenologis. Pendekatan ini sengaja dipilih dengan tujuan mengeksplorasi secara mendalam terkait pengalaman subjektif guru dalam membiasakan nilai-nilai agama di lembaga pendidikan Islam. Melalui kajian fenomenologis, penelitian ini dapat mengetahui lebih dalam makna yang disampaikan oleh individu terhadap suatu kejadian yang dialami langsung secara kontekstual [24], [25]. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan, karena sekolah tersebut memiliki karakter religius yang kuat dalam mengimplementasikan budaya keagamaan pada seluruh kegiatan sekolah. Subjek penelitian adalah guru-guru yang terdiri atas guru Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Prakarya, Informatika, Bimbingan Konseling, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen untuk menggali pengalaman, pemaknaan, serta implementasi guru dalam menciptakan budaya religius dan hubungannya dengan integritas dan loyalitas.

Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan induktif. Teknik triangulasi sumber dana metode dipilih untuk memeriksa validitas data. Selain itu, diperkuat dengan konfirmasi ulang terhadap informan untuk menjamin objektivitas hasil temuan. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian, yang meliputi persetujuan partisipan dan kerahasiaan identitas, sehingga hasil temuannya diharapkan dapat menyajikan pemahaman yang valid dan kontekstual mengenai peran lingkungan religius dalam membentuk integritas dan loyalitas guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan.

III. Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

A. Lingkungan Religius dalam Perspektif Al-Ghazali serta Penerapannya di Lembaga Pendidikan Islam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya religius di sekolah terbukti menjadi salah satu sarana efektif dalam pendidikan karakter untuk membentuk kepribadian warga sekolah yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam. SMA Muhammadiyah 3 Tulangan, sebagai lembaga Islam modern di bawah naungan Pesyarikatan Muhammadiyah, secara konsisten dan sistematis telah membangun iklim religius melalui pembiasaan keagamaan, internalisasi nilai-nilai Islam, serta pembinaan ibadah. Lembaga ini mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh kegiatan baik akademik maupun non akademik, sebagai usaha mencetak lulusan yang berakhlak mulia, disiplin, serta berkarakter.

Berikut beberapa aktivitas keagamaan di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan: (1) Pembiasaan mengucapkan salam dan budaya sapa, pembiasaan salam ini menjadi simbol utama budaya keagamaan di lingkungan SMA Muhammadiyah 3 Tulangan. Setiap pagi, guru dan siswa saling menyapa dengan salam sebagai bentuk penanaman nilai ukhuwah, kesopanan, dan penghormatan. Budaya salam ini dapat memperkuat hubungan batin antar warga sekolah serta menumbuhkan rasa aman dan nyaman dalam berinteraksi. (2) Program mengaji pagi (tadarus pagi). Salah satu ciri khas pembiasaan keagamaan di sekolah ini adalah ngaji morning, yaitu membaca Al-Qur’an sebelum pelajaran dimulai. Aktivitas ini dipandu oleh guru agama atau wali kelas. Program ini bertujuan untuk menguatkan hubungan siswa dengan Al-Qur’an, membangun suasana spiritual sebelum kegiatan pembelajaran, melatih ketertiban dan kedisiplinan ibadah, meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Selain itu ada salat berjama’ah, yaitu pada Salat Dhuha, Dhuhur dan Ashar berjamaah yang merupakan kegiatan wajib bagi siswa dan guru. Kegiatan ini dilaksanakan di mushalla sekolah dan dipimpin oleh guru atau siswa secara bergiliran untuk melatih diri menjadi imam. Kegiatan ini memberikan banyak manfaat seperti memperkuat ukhuwah melalui ibadah berjamaah, meningkatkan tanggung jawab dan kemandirian, membiasakan untuk ibadah tepat waktu serta meningkatkan nilai keagamaan warga sekolah. (3) Pembinaan baca Al-Qur’an, SMA Muhammadiyah 3 Tulangan menerapkan metode baca Al Quran UMMI sebagai acuan dalam membaca Al Quran untuk memacu kemampuan membaca Al Quran, mengoptimalkan kualitas bacaan dan mendorong minat siswa. Kegiatan ini dilakukan secara terjadwal dengan pengajar yang sudah memiliki sertifikat mengajar metode UMMI dengan pengajaran yang menekankan pada segi . tartil, makhraj ketepatan, dan kelancaran membaca.

Pembinaan dilakukan secara bertahap dan dievaluasi melalui ujian kenaikan jilid UMMI. (4) Kajian Islam Rutin untuk Guru-Karyawan dan Siswa. Sekolah memiliki tradisi kajian keislaman rutin baik untuk guru-karyawan maupun siswa. Pemateri Kajian Islam dari tokoh-tokoh keagaamaan dari lingkungan kecamatan, kabupaten maupun propinsi. Kajian ini bertujuan memperkaya wawasan keagamaan, meningkatkan keteladanan guru, serta membangun integritas moral seluruh warga sekolah. (5) Program Infaq dan Kepedulian Sosial. Lingkungan religius juga dibentuk melalui kegiatan infaq yang dilakukan secara rutin oleh siswa. Dana infaq dikelola oleh sekolah dan digunakan untuk membantu siswa yang kurang mampu, kegiatan bagi bagi makanan pada hari jum’am, dan program kemanusiaan dan bakti sosial. Kegiatan ini mengajarkan nilai empati, solidaritas, dan kepedulian sosial sejak dini. (6) Kegiatan keagamaan Lainnya, Selain program utama di atas, sekolah juga mengadakan peringatan hari besar Islam (PHBI), pesantren kilat ramadhan, kultum selepas salat berjamaah, ekstrakurikulerseperti tapak suci, IPM, dan tilawah Al-Qur’an. (7) Gerakan Jumat Bersih. Program-program ini memperkaya suasana religius dan membentuk karakter religius yang holistik.

Berikut gambar lingkungan religius dalam perspektif Al-Ghazali,

Figure 1.

B. Pembentukan Integritas Guru dalam Lingkungan Religius

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan religius di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan secara konseptual telah dikembangkan sebagai instrumen pembentuk integritas guru melalui internalisasi nilai-nilai keislaman, keteladanan perilaku, serta penguatan budaya sekolah yang bernuansa religius. Integritas guru dalam penelitian ini tercermin melalui indikator kejujuran, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, komitmen terhadap tugas, serta kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Secara operasional, lingkungan religius sekolah berperan sebagai sistem pengontrol moral dan spiritual yang membimbing guru dalam menjalankan fungsi profesional maupun sosialnya. Namun hasil penelitian mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan integritas guru selama tiga tahun terakhir. Fenomena ini terlihat dari menurunnya konsistensi guru dalam implementasi nilai-nilai religius secara utuh. Hal ini tercermin pada melemahnya disiplin waktu, rendahnya keterlibatan guru dalam kegiatan keagamaan sekolah, serta berkurangnya kesadaran pada sebagian guru dalam memberikan teladan religius kepada peserta didik. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa iklim religius yang telah dibangun belum sepenuhnya efektif menjaga keberlanjutan internalisasi nilai integritas secara maksimal.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa salah satu penyebab yang berkontribusi terhadap penurunan integritas guru adalah pergeseran orientasi kerja yang semakin berfokus pada aspek administratif seiring meningkatnya beban tugas guru. Tekanan profesional, tuntutan kinerja, serta perubahan kebijakan pendidikan memberikan dampak pada semakin berkurangnya kesempatan guru untuk melakukan refleksi spiritual dan penguatan keagamaan. Sehingga nilai-nilai religius yang sebelumnya menjadi dasar moral mulai mengalami pergeseran menjadi kegiatan formal yang dijalankan secara rutin tanpa internalisasi nilai spiritual yang bermakna. Selain faktor tersebut, penelitian ini juga menemukan bahwa intensitas pembinaan religius bagi guru mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Program keagamaan sekolah cenderung lebih terfokus pada peserta didik, sementara penguatan spiritual guru belum dilaksanakan secara terstruktur dan berkesinambungan. Situasi ini menyebabkan proses pembentukan dan penguatan integritas guru melalui lingkungan religius tidak berjalan secara maksimal, sehingga nilai-nilai kejujuran, amanah, dan komitmen moral belum sepenuhnya terinternalisasi secara konsisten dalam praktik keseharian.

Walaupun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan religius di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan masih memiliki potensi yang signifikan sebagai media revitalisasi integritas guru. Nilai-nilai Islam, budaya sekolah, serta visi keislaman lembaga tetap menjadi landasan yang kokoh. Apabila lingkungan religius tersebut diperkuat melalui pembinaan spiritual guru yang sistematis, keteladanan pimpinan sekolah, serta pengembangan budaya religius yang menekankan substansi nilai, maka kecenderungan penurunan integritas guru dapat ditekan dan diarahkan kembali pada penguatan karakter profesional dan moral.

Perspektif Teori Al-Ghazali dan Temuan Empiris di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan

No Indikator Integritas Guru Perspektif Teori Al-Ghazali Temuan Penelitian di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan
1 Kejujuran (Ṣidq) Menurut Al-Ghazali, kejujuran menjadi pilar utama akhlak sekaligus indikator kebersihan hati. Sebaliknya, ketidakjujuran mencerminkan pengaruh dominan hawa nafsu serta rendahnya kesadaran spiritual Temuan di lapangan menemukan adanya penurunan konsistensi kejujuran dalam pelaksanaan tugas administratif dan akademik, terutama terlihat dari ketidaksesuaian antara laporan tertulis dan praktik nyata.
2 Tanggung Jawab (Amanah) Amanah sebagai guru merupakan tanggung jawab moral yang bersifat vertikal dan horizontal, sebab guru bertanggung jawab baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah Swt. Menunjukkan berkurangnya tanggung jawab profesional pada sebagian guru, terutama dalam optimalisasi proses pembelajaran dan pendampingan peserta didik.
3 Kedisiplinan Dalam pandangan Al-Ghazali, disiplin merupakan bentuk mujāhadah an-nafs yang harus dibiasakan secara berkelanjutan. Adanya penurunan pada aspek kedisiplinan waktu, terutama dalam hal kehadiran, ketepatan memulai proses pembelajaran, serta partisipasi dalam kegiatan keagamaan di sekolah.
4 Teladan Moral Dalam pandangan Al-Ghazali, pendidik adalah teladan utama, di mana keteladanan perilaku lebih efektif daripada nasihat lisan Keteladanan moral guru cenderung melemah. Hal ini tampak dari berkurangnya partisipasi aktif guru dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan bersama peserta didik.
5 Komitmen moral berbasis Nilai Religius Al-Ghazali menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai spiritual harus dilakukan melalui kesadaran dan pembiasaan yang diterapkan secara konsisten, bukan sebatas formalitas praktik ibadah. Aktivitas spiritual guru cenderung dijalankan secara administratif dan belum sepenuhnya dipahami sebagai kebutuhan spiritual yang bersifat personal.
6 Konsistensi Ucapan dan Perbuatan (Integritas perilaku) Al-Ghazali menyebutkan bahwa ketidaksesuaian antara ilmu dan amal merupakan penyakit hati yang merusak integritas moral. Adanya ketidakharmonisan antara nilai religius yang diajarkan dengan implementasi keseharian sebagian guru.
Table 1.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penurunan integritas guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan gejala sebagaimana yang digambarkan Al-Ghazali, yakni melemahnya kontrol spiritual dan dominannya aspek lahiriah dalam praktik pendidikan. Lingkungan religius yang semula berfungsi sebagai media tazkiyatun nafs, cenderung bergeser menjadi rutinitas simbolik yang kurang menyentuh aspek batiniah guru. Menurut Al-Ghazali, keberlangsungan akhlak dan integritas hanya dapat terjaga apabila iklim religius diciptakan dengan diiringi pembinaan batiniah yang berkesinambungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan intensitas pembinaan spiritual guru sangat berdampak secara langsung pada penurunan nilai amanah, kejujuran, dan kedisiplinan. Oleh karena itu, penguatan kembali lingkungan religius secara substantif menjadi kebutuhan mendesak dalam upaya merekonstruksi integritas guru.

C. Pembentukan Loyalitas Guru dalam Lingkungan Religius

Berdasarkan hasil penelitian di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan, ditemukan bahwa tingkat loyalitas guru dalam tiga tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun. Penurunan tersebut tercermin dari melemahnya komitmen terhadap lembaga, berkurangnya partisipasi dalam kegiatan sekolah di luar kewajiban formal, serta menurunnya konsistensi dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaan. Hal ini mengindikasikan bahwa loyalitas pendidik tidak sekedar dipengaruhi oleh aspek struktural dan administratif saja, melainkan berakar kuat pada kualitas iklim religius yang mendasari orientasi nilai dan etos kerja guru. Selaras dengan perspektif Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa lingkungan religius diposisikan sebagai faktor utama yang berkontribusi pada terbentuknya akhlak dan kesadaran moral individu. Dalam pandangannya menekankan bahwa hati manusia bersifat lembut dan secara alamiah sangat responsif terhadap pengaruh lingkungan sosialnya. Ketika lingkungan religius melemah, baik dari aspek keteladanan, pembiasaan ibadah, maupun penguatan nilai spiritual, maka orientasi kerja individu akan bergeser dari landasan keikhlasan menuju pola pikir yang lebih pragmatis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian guru mulai memaknai profesinya sekadar sebagai tugas administratif, bukan lagi sebagai amanah dan salah satu bentuk ibadah, sebagaimana yang ditekankan dalam konsep pendidikan Al-Ghazali.

Keteladanan (uswah hasanah) menurut Imam Al-Ghazali merupakan inti dalam pembentukan akhlak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keteladan moral di lingkungan sekolah belum terlaksana secara optimal dan berkesinambungan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berdampak pada penurunan proses internalisasi nilai-nilai religius guru. Tanpa keteladanan moral, dalam perspektif Al-Ghazali, akan menghambat terbentuknya etos kerja yang berlandaskan kejujuran, tanggungjawab, dan kesetiaan. Sehingga loyalitas guru terhadap lembaga pun cenderung menurun. Selain itu, kegiatan religius yang bersifat pembiasaan dan reflektif memiliki peran strategis dalam menumbuhkan loyalitas intrinsik guru. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan religius di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan cenderung dilaksanakan sebagai formalitas saja dan belum sepenuhnya menyentuh dimensi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Menurut Al-Ghazali, ibadah yang tidak disertai penghayatan nilai spiritual hanya akan melahirkan kepatuhan lahiriah, bukan kesadaran batiniah. Oleh sebab itu, loyalitas yang terbentuk menjadi rapuh dan mudah melemah ketika menghadapi tekanan kerja atau kepentingan pribadi. Penurunan loyalitas guru berhubungan dengan melemahnya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lembaga. Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesamaan dalam nilai, tujuan, dan praktik religius akan menciptakan ikatan emosional dan spiritual antar individu dalam sebuah komunitas. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa solidaritas religius antar guru belum terbentuk secara kokoh. Sehingga relasi kerja cenderung bersifat individual dan transaksional. Hal inilah yang kemudian berdampak pada rendahnya komitmen guru untuk berkorban dan bertahan demi kemajuan lembaga.

Dengan demikian, menurut perspektif teori lingkungan religius Al-Ghazali, penguatan loyalitas guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan menuntut penguatan ulang dimensi spiritual, keteladanan, serta pembiasaan nilai-nilai religius secara substantif. Lingkungan religius tidak semestinya dipahami sekadar sebagai simbol atau rutinitas, melainkan harus berperan sebagai ruang internalisasi nilai yang menumbuhkan kesadaran profesi guru sebagai amanah dan bentuk ibadah. Apabila lingkungan religius dapat dihidupkan kembali sesuai dengan prinsip Al-Ghazali, maka loyalitas guru diharapkan tidak hanya pulih, tetapi berkembang menjadi loyalitas yang bersifat intrinsik, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan lembaga.

D. Dinamika Nilai Religius, Integritas, dan Loyalitas di Lembaga Pendidikan Islam

Dinamika nilai religius, integritas, dan loyalitas dalam lembaga pendidikan Islam menunjukkan keterkaitan yang erat dan berkembang secara simultan. Temuan penelitian di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan mengindikasikan bahwa ketiga unsur tersebut tidak berada dalam kondisi yang tetap, melainkan mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh suasana religius sekolah, kebijakan manajerial, serta keteladanan yang ditampilkan oleh pimpinan dan tenaga pendidik. Sebagai fondasi pembentukan integritas dan loyalitas guru terhadap lembaga, internalisasi nilai-nilai religius dapat diwujudkan melalui rutinitas keagamaan, pembiasaan budaya Islami, serta pola interaksi sosial yang berlandaskan ajaran Islam. Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, nilai religius lahir dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang berlangsung secara berkelanjutan dalam lingkungan yang kondusif. Al-Ghazali menegaskan bahwa jiwa manusia bersifat adaptif dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan serta atmosfer sekelilingnya. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan yang bernuansa religius tidak hanya berfungsi sebagai media transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembinaan moral. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pelaksanaan nilai-nilai religius secara konsisten di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan melalui keteladanan dan pembiasaan, memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan integritas guru. Kejujuran, tanggungjawab, dan komitmen etis dalam menjalankan tugas profesional menjadi wujud dari hal tersebut.

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan adanya perubahan dinamika loyalitas guru, termasuk indikasi penurunan dalam beberapa periode tertentu. Kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui pemikiran Al-Ghazali yang menyatakan bahwa integritas dan loyalitas tidak semata-mata dibentuk oleh regulasi formal, melainkan oleh kesadaran internal yang ditumbuhkan melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan. Apabila nilai religius hanya diwujudkan dalam bentuk simbolik dan kurang menyentuh dimensi batiniah, maka penguatan integritas menjadi tidak optimal, sehingga berimplikasi pada melemahnya loyalitas terhadap lembaga. Dalam pandangan Al-Ghazali, loyalitas termasuk dalam kategori akhlak terpuji (akhlaq mahmudah) yang tumbuh dalam iklim keadilan, rasa aman, dan keteladanan dari pemimpin. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa loyalitas guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan sekolah, mutu relasi antar warga sekolah, serta teladan dari pimpinan dalam menerapkan nilai-nilai Islam. Ketidakharmonisan antara nilai normatif yang dikemukakan dengan praktik kelembagaan berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang mempengaruhi sikap afektif guru terhadap lembaga.

Dengan demikian, interaksi antara nilai religius, integritas, dan loyalitas dalam lembaga pendidikan Islam bersifat fleksibel dan sangat ditentukan oleh kualitas iklim religius yang dibangun. Menurut Al-Ghazali, penguatan ketiga elemen tersebut memerlukan pendekatan yang komprehensif, yang mencakup aspek spiritual, moral, dan struktural. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam perlu menata dan memelihara lingkungan religius yang bermakna, sehingga nilai-nilai keislaman tidak hanya bersifat formalitas, melainkan mampu membentuk integritas dan loyalitas secara mendalam dan konsisten.

Berikut gambar nilai religius, integritas dan loyalitas yang saling berkesinambungan.,

Gambar 2

Figure 2.

Pembahasan

Lingkungan religius di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan berperan signifikan dalam membentuk nilai religius, integritas, dan loyalitas guru melalui pembiasaan ibadah, budaya Islami, dan interaksi sosial bernuansa keagamaan. Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, lingkungan yang religius merupakan prasyarat penting bagi proses tazkiyatun nafs, karena jiwa manusia mudah dipengaruhi oleh kebiasaan dan keteladanan yang terus berlangsung. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penerapan nilai-nilai keislaman secara konsisten sangat berperan dalam memperkuat integritas guru, terutama pada aspek kejujuran dan tanggungjawab, meskipun pada praktiknya, masih terdapat dinamika internalisasi nilai yang berdampak pada naik turunnya loyalitas. Dalam pandangan Al-Ghazali, loyalitas termasuk dalam kategori akhlaq mahmudah yang tumbuh dalam iklim keadilan, rasa aman, dan keteladanan dari pemimpin. Oleh karena itu, keselarasan antara nilai religius dan praktik kelembagaan menjadi faktor kunci dalam menjaga loyalitas guru terhadap lembaga. Kebiasaan ibadah juga memberikan kerangka mental bahwa segala aktivitas dilakukan sebagai ibadah, sehingga terbentuk kesadaran religius yang konsisten.Temuan ini selaras dengan penelitian lain juga menegaskan bahwa rutinitas religius berperan sebagai sarana efektif pembentukan karakter moral warga sekolah.[26].

Interaksi yang terjalin menunjukkan adanya dimensi sosio-kurtural dengan berlandaskan rasa cinta dan hormat sesama. Guru dan siswa saling menghormati, namun tetap dapat berkomunikasi dengan akrab dan sesuai etika, menjaga keseimbangan, serta menjauhi konflik merupakan budaya yang mengandung nilai moral yang benar-benar diterapkan di sekolah tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat membentuk lingkungan sekolah yang nyaman dan aman. Hal ini sesuai dalam pendidikan Islam, kerukunan sosial merupakan sarana dalam menerapkan ajaran moral seperti kebersamaan, toleransi dan kerendahan hati yang tertuang dalam dimensi sosial budaya yang berfungsi sebagai wadah pengembangan karakter [27]. Dimensi ini dinyatakan dalam bentuk aturan sekolah, kode etik, SOP, monitoring dan pembinan akhlak secara sistematis. Adanya berkas-berkas formal merupakan bukti bahwa keagamaan di sekolah bukan sekadar budaya yang tidak tertulis, namun sudah terancang dalam sistem. Peraturan internal menjadikan nilai agama tidak hanya jatuh pada individu melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Keberadaan SOP dan monitoring, warga sekolah diarahkan untuk terbiasa bersikap sesuai nilai agama dan moral, sekaligus struktur kelembagaan membantu dalam memperkokoh kesadaran spiritual agar tidak mudah tergerus.

Literatur lain menegaskan bahwa integrasi nilai religius dalam sistem kelembagaan sekolah merupakan faktor kunci pembentukan integritas profesional guru.Dimensi fisik terlihat dari fasilitas yang tersedia, seperti mushalla, ruang pembinaan karakter, poster-poster dakwah, kutipan ayat dan hadits, serta lingkungan yang tertata bersih dan Islami. Simbol-simbol tersebut berfungsi sebagai pengingat visual bagi guru dan siswa untuk selalu berperilaku sesuai nilai Islam[28], [29]. Lingkungan fisik islami dapat menciptakan suasana psikis yang menumbuhkan kebiasaan keagamaan. Demikian dapat menunjang identitas sekolah sebagai lembaga pendidikan islam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan mempunyai integritas yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan keselarasan antara ucapan dan tindakan, disiplin dalam mengajar, tanggung jawab serta menghindari praktik tidak etis. Integrasi tersebut dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (1) Pendalaman nilai-nilai agama, Guru berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan, kajian moral dan kegiatan lainnya. Upaya ini dapat memupuk kesadaran guru bahwa profesi ini bagian dari ibadah dan amanah, sehingga dapat memunculkan sikap tekun, disiplin dan sungguh-sungguh dalam bekerja. (2) Keteladanan sikap pimpinan, sekolah mempunyai pemimpin yang dapat meneladani dan mencontohkan nilai-nilai agama dan etika. Keteladan ini dapat mendorong terciptanya tujuan moral guru dan juga ditunjang dengan keberadaan kode etik, SOP, monitoring, serta evaluasi karakter. Keselarasan antara nilai-nilai keagamaan dan kebijakan formal lembaga dapat membentuk integritas yang konsisten.

Temuan ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa integritas tidak hanya bertumpu pada nilai-nilai personal, melainkan juga pada nilai keagamaan serta kebijakan institusi yang selaras. Para guru di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan diketahui menunjukkan loyalitas yang tinggi. Hal ini tercermin dari komitmen mereka dalam memenuhi ketentuan formal, keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah, upaya menjaga citra lembaga, serta rasa bangga menjadi bagian dari institusi tersebut. Mereka juga menjalani profesinya sebagai bentuk pendidikan dan pelatihan [30], [31]. Loyalitas guru terbentuk oleh lingkungan religius yang kondusif, hubungan yang harmonis, serta rasa nyaman secara emosional dan spiritual. Guru yang berintegritas tinggi cenderung memiliki komitmen organisasi yang kuat, sejalan dengan temuan penelitian lain mengenai peran pemberdayaan, kepercayaan, dan kepemimpinan spiritual [32]. Penelitian ini menunjukkan bahwa religiusitas, integritas, dan loyalitas guru saling berkaitan dalam satu sistem yang dinamis. Lingkungan dan budaya keagamaan ini digunakan sebagai kendali moral yang dapat membentuk integritas guru. Integritas yang kuat dapat membentuk loyalitas, karena guru menganggap ini adalah bagian ibadah dan amanah pada lembaga. Di samping itu, lingkungan keagamaan juga menunjang loyalitas melalui motivasi keagamaan seperti rasa tulus pada diri guru. Ketiga aspek tersebut mampu menciptakan siklus yang saling bersinergi untuk menumbuhkan integritas sehingga dapat menjaga keberlanjutan budaya keagamaan sekolah.

Penelitian ini juga dapat memperlebar pemahaman terkait keagamaan dalam pendidikan islam yang berperan sebagai identitas, namun juga sebagai pondasi pembentukan integritas dan loyalitas. Model perpaduan yang didapatkan dapat menjadi rujukan teoritis dalam kajian karakter guru dan manajemen. Kebijakan formal seperti SOP dan kode etik tetap perlu diperbarui agar tetap sesuai dengan perkembangan kebutuhan guru. Kepemimpinan sekolah harus menjadi teladan moral dan spiritual. Implikasi bagi Pengembangan Guru : (1) Guru perlu diberikan pelatihan spiritual dan moral secara rutin. (2) Pengembangan kompetensi melalui program penguatan integritas seperti workshop etika profesi. (3) Upaya pemberdayaan guru hendaknya difokuskan pada penguatan rasa memiliki, kepercayaan diri, serta peneguhan komitmen terhadap lembaga [33], [34]. Model integratif ini memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan Islam dapat meraih mutu unggul melalui melalui keterpaduan antara nilai spiritual, moral, dan komitmen organisasi. Temuan tersebut dapat dijadikan landasan dalam merancang model pembinaan guru di seluruh sekolah Muhammadiyah.

Simpulan

Lingkungan religius yang dikembangkan di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan dan perkembangan nilai religius, integritas, serta loyalitas guru dalam konteks pendidikan Islam. Praktik keagamaan yang dilaksanakan secara rutin, penguatan budaya Islami, dan pola interaksi sosial yang berlandaskan nilai keislaman berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai yang memengaruhi perilaku profesional guru. Internalisasi nilai-nilai tersebut mendorong terbentuknya integritas yang tampak dalam kejujuran, rasa tanggung jawab, dan komitmen etis dalam pelaksanaan tugas. Meskipun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa integritas dan loyalitas guru bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh konsistensi iklim religius, kebijakan pengelolaan sekolah, serta keteladanan pimpinan dan pendidik.

Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, hal ini menekankan bahwa pembentukan integritas dan loyalitas merupakan hasil dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang membutuhkan pembinaan spiritual yang konsisten dalam lingkungan yang kondusif. Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa jiwa manusia mudah dibentuk melalui pembiasaan, sehingga penerapan nilai religius yang konsisten dan bermakna akan melahirkan loyalitas sebagai perwujudan akhlaq mahmudah. Sebaliknya, jika nilai-nilai keagamaan hanya ada pada tataran formal dan simbolik, integritas tidak akan berkembang secara optimal dan berpotensi melemahkan kestabilan loyalitas guru terhadap lembaga. Oleh karena itu, penguatan nilai religius, integritas, dan loyalitas di lembaga pendidikan Islam perlu diupayakan melalui pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan struktural agar dapat membangun komitmen guru yang konsisten.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan koreksi secara sabar serta berkesinambungan. Keteladanan dan dedikasi beliau menjadi inspirasi dalam penyelesaian tesis ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kepala SMA Muhammadiyah 3 Tulangan atas izin dan dukungan yang memudahkan proses penelitian, serta kepada seluruh dewan guru yang telah menyediakan waktu, data, dan pengalaman berharga sehingga penelitian dapat berlangsung dengan baik. Peneliti menyadari masih adanya keterbatasan dalam tesis ini dan sangat mengharapkan kritik serta saran konstruktif. Semoga seluruh bantuan dan kebaikan yang diberikan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT.

References

Y. Fitrianti and P. Eka Nur Anisa, “Kinerja Guru Profesional Sekolah Dasar,” 2022.

D. Herwansah and R. Susanto, “Analisis Kajian Keterkaitan Kompetensi Profesional dengan Kinerja Guru,” Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran, vol. 4, no. 2, pp. 268–273.

Rahmi, “Hubungan Kepemimpinan Islami Kepala Sekolah dan Budaya Sekolah Islami Terhadap Pembentukan Kepribadian Islam Siswa di Sekolah Tahfiz Plus Homeschooling Se-Kalimantan Selatan,” vol. 13.

L. Safriani, A. Kusumah, and R. R. Ramadan, “Pengaruh Lingkungan Fisik, Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja Guru MA Nurul Iman Mahato Rokan Hulu,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Merdeka EMBA, vol. 3, no. 2, pp. 1166–1181, 2024.

W. S. A. Arum, N. Karnati, D. K. Robby, T. N. Ramadita, H. Sanjaya, and L. Hidayaty, “Development of Learning Supervision Model Website Based on Improving Teacher Performance at Elementary School,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 43–54.

N. Hidayati, “Implementasi Budaya Islami Sebagai Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di SMP Muhammadiyah 1 Mlati,” 2023.

A. K. Mantau and R. A. Buhungo, “The Culture and Tradition of Educational Practice In Madrasah,” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education, vol. 5, no. 2, pp. 202–216.

V. Virgana and S. Kasyadi, “The Effect of Organizational Culture, Personality, Job Satisfaction, and Trust on School Supervisor Performance,” Journal of Education and Learning (EduLearn), vol. 14, no. 3, pp. 434–441, Aug. 2020.

P. Guru Pendidikan Agama Syarnubi and D. Sdn, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Religiusitas Siswa Kelas IV di SDN Pengarayan,” 2019.

Arfandi and M. A. Samsudin, “Peran Guru Profesional sebagai Fasilitator dan Komunikator dalam Kegiatan Belajar Mengajar,” Edupedia: Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam, vol. 5, no. 2, pp. 37–45.

Y. Arsini, L. Yoana, and Y. Prastami, “Peranan Guru Sebagai Model Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik,” Jurnal Mudabbir (Journal Research and Education Studies), vol. 3, no. 2.

S. Rofifah, A. Sirojuddin, M. A. Ma'arif, and M. M. Mitra Zuana, “The Influence of Organizational Culture and Work Motivation on Teacher Performance at the International Standard School, Amanatul Ummah Mojokerto,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 6, no. 1, pp. 27–40.

M. Kusuma Dewi, “Pembentukan Karakter Islami Melalui Budaya Religius (Studi Kasus di MI Al Huda Kedonglo Ngronggot Nganjuk),” 2020.

F. Firmansyah and Y. Fadilah, “Pendidikan Dasar Islam dan Era Society 5.0: Peluang dan Tantangan Mahasiswa PGMI Menjadi Guru Berkarakter,” Jurnal JIPDAS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar), vol. 5, no. 1, pp. 319–329.

Kartiko, G. A. Wibowo, L. Van Gobel, A. Wijayanto, and N. Saputra, “Improving Teacher Job Satisfaction Through Organizational Commitment and Organizational Citizenship Behavior in The Digitalization Era,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 8, no. 2, pp. 315–327, Oct. 2023.

U. A. Mu’min, “Construction of Islamic Character Education Values Based on Local Wisdom in Culture Kasepuhan and Kanoman Palaces,” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education, vol. 4, no. 2, pp. 305–318, Jun. 2023.

Nurafiah and A. Gaffar Haris, “Revitalisasi Pemikiran Pendidikan Islam Klasik Dalam Konteks Pendidikan Indonesia Masa Kini Menumbuhkan Pendidikan Islam yang Berbasis Nilai dan Karakter,” Dec. 2024.

Marlina, “Pengaruh Pola Pembinaan Dan Pengawasan Kepala Sekolah Terhadap Disiplin Dan Kinerja Guru,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 4, pp. 1690–1698, Jun. 2021.

F. Lase and B. P. Lase, “Peran Etika Profesi Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Kejujuran melalui Pembelajaran PPKn.”

V. F. Purba et al., “Membangun Integritas Guru: Studi Literatur Tentang Pengaruh Etika Profesi Keguruan Terhadap Kualitas Pendidikan,” 2024.

Umar, A. Ghufron, and W. Wuryandani, “Integrating Maja Labo Dahu Culture in Islamic Education: A Module for Character Development in Elementary Students,” Journal of Education and Learning, vol. 19, no. 2, pp. 711–723, May 2025.

R. A. Cristanty, I. Bafadal, and A. Y. Sobri, “Budaya Islami Sekolah dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Pegawai,” Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, vol. 2, no. 4, pp. 296–306, Apr. 2022.

M. Fahri Salam and M. Fahim Tharaba, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengembangkan Budaya Islami di MTs pada Masa Pandemi Covid-19,” 2024.

M. Rijal Fadli, “Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif,” vol. 21, no. 1, pp. 33–54, 2021.

M. Nina Adlini, A. Hanifa Dinda, S. Yulinda, O. Chotimah, and S. Julia Merliyana, “Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,” 2022.

R. Firdaos et al., “Peran Pendidikan Tinggi Islam Dalam Membangun Karakter dan Integritas Mahasiswa Muslim,” Irfani: Jurnal Pendidikan Islam.

S. Bukhori and I. Rindaningsih, “Peran Penting Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Lembaga Pendidikan,” Perisai: Jurnal Pendidikan dan Riset Ilmu Sains, vol. 4, no. 1, pp. 10–21, Feb. 2025.

F. Sakinah and N. Hidayat, “Religious-Based Character Education: A Case Study of Sekolah Mengaji,” 2024.

Darlan, S. S. Pettalongi, and R. Rustina, “The Roles of Islamic Education in Building Students’ Character within Indonesia Public Schools,” International Journal of Contemporary Islamic Education, vol. 3, no. 2, 2021.

N. Hidayati and Muh. Hanif, “Loyalitas Tenaga Pendidik: Faktor Penentu dan Implikasinya pada Sekolah di SMPN 4 Satu Atap Karangjambu,” Ide Guru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, vol. 10, no. 1, pp. 797–805, Jan. 2025.

Medina, H. Asy’ari, and M. Syukur, “Pengaruh Pemberdayaan Guru Terhadap Loyalitas Guru di MAN 4 Jakarta,” Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam.

M. Prodi, P. Agama, I. Stai, and J. T. Lhoksukon, “Integrasi Pendidikan Karakter (Studi Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam),” Al-Madãris, vol. 3, no. 2, 2022.

K. Anjarrini and I. Rindaningsih, “Peran Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Sekolah sebagai Unggulan Sekolah di MI Muhammadiyah 1 Jombang,” Manazhim, vol. 4, no. 2, pp. 452–474, Aug. 2022.

Purwanto and I. Rindaningsih, “Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Komitmen dan Kinerja Guru,” Perisai: Jurnal Pendidikan dan Riset Ilmu Sains, vol. 2, no. 2, pp. 248–256, Jun. 2023.