Login
Section Innovation in Education

Clinical Supervision In Improving Teacher Professionalism Supervisi Klinis Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru


Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Endang Sri Mulyani (1), Anita Puji Astutik (2)

(1) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Teacher professionalism is essential for quality learning and educational outcomes, requiring systematic supervision and continuous professional development. Specific Background: Clinical supervision supports teacher development through structured observation, feedback, collegial relationships, and follow-up. Knowledge Gap: Previous studies have largely examined clinical supervision in partial and context-specific settings without an integrated synthesis of teacher professionalism indicators and sustainable implementation. Aims: This study examines the role and contribution of clinical supervision in teacher professionalism through a Systematic Literature Review. Results: Analysis of 45 journals identified systematic supervision stages, harmonious supervisor–teacher relationships, individualized approaches, and continuous follow-up as key elements supporting professionalism. Novelty: The study integrates these elements into a systematic synthesis using the PRISMA protocol. Implications: The findings provide a reference for continuous supervision practices and educational policy formulation.


Key Findings Highlights


Systematic supervision stages support professional development.


Collegial relationships foster teacher confidence and reflection.


Continuous follow-up sustains professional development.


Keywords : Clinical Supervision, Teacher Professionalism, Systematic Literature Review, PRISMA Protocol, Teacher Professional Development

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan zaman yang menuntut guru adaptif terhadap lingkungan belajar Profesionalisme guru menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran dan hasil output belajar peserta didik. Dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 pendidik yaitu guru profesional yang tugasnya memberikan pendidikan, pengajaran, bimbingan, arahan, pelatihan, penilaian dan evaluasi terhadap peserta didik pada tingkat pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Menjadi guru profesional membutuhkan keahlian khusus di bidangnya dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyampaikan pembelajaran yang efektif dan efisien. Teaching and learning activities are one component of the success of the implementation of education, keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat bergantung pada kegiatan belajar mengajar yang efektif. [1]

Profesional mempunyai arti orang yang ahli atau disebut tenaga ahli. Professionalism adalah sifat profesional, dalam KBBI istilah profesional diartikan sebagai (1)keterkaitan dengan profesi, (2)memerlukan keahlian khusus untuk mengerjakannya, (3) mengharuskan adanya pembiayaan dalam pelaksanaannya. Profesionalitas merupakan sebutan kualitas sikap terhadap derajat pengetahuan dan keahlian dalam melakukan tugas-tugas dengan kaitan profesinya. sedangkan profesionalitas guru adalah keadaan derajat keprofesian sebagai seorang guru dalam sikap, pengetahuan dan pembelajaran.[2] Profesionalisme guru menjadi kunci untuk dapat mewujudkan tujuan Lembaga Pendidikan yakni hasil output peserta didik yang berkualitas dari sisi akademik dan spiritualnya. Guru yang profesional adalah mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan fisik dan mental peserta didik. Mereka membimbing siswa menuju kedewasaan agar mampu menjalankan peran kemanusiaan sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran.[3] Usaha dalam meningkatkan profesionalisme guru diperlukan adanya pengawasan (supervision) sebagai quality control pada pelaksanaan proses kegiatan belajar dan mengajar.

Pelaksanaan supervisi adalah perintah undang-undang yang tertuang dalam PP. No. 19 tahun 2005 pasal 57 yaitu; Supervisi mencakup supervisi manajerial dan akademik yang dilakukan secara rutin, terus-menerus, dan berkelanjutan oleh pengawas serta kepala sekolah atau pimpinan satuan pendidikan.[4] Supervisi adalah kegiatan pembinaan yang diberikan kepada semua staf di sekolah dengan tujuan membantu mereka meningkatkan kemampuan dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih baik. Supervisi klinis adalah pendekatan supervisi akademik yang berfokus pada perbaikan praktik pembelajaran melalui interaksi kolaboratif antara supervisor dan guru. Supervisor dalam supervisi klinis adalah pengawas, kepala sekolah, komite, yayasan dan semua pihak yang bertanggungjawab terhadap mutu sekolah. [5]

Sergiovanni dan Starratt (1979) memberi definisi supervisi klinis sebagai pertemuan tatap muka dengan pendidik berkaitan dengan perbaikan instruksi keputusan pemecahan masalah untuk mencapai kualitas pembelajaran yang lebih baik. Beach dan Reinhartz (2000) menyatakan supervisi adalah proses instruksional dan pemberian informasi kepada guru tentang pengembangan keterampilan guna peningkatan kinerja guru. Supervisi klinis bermula pada tahun 1950 ketika Morris Cogan bersama rekan-rekannya merasa bahwa pembelajaran yang dilakukan tidaklah efektif, kemudian mereka melakukan pengamatan terhadap kelas pembelajaran dan mencatat setiap interaksi dan aktivitas untuk selanjutnya didiskusikan. hasil dari kegiatan ini yang disebut dengan supervisi klinis. setiap tindakan yang diamati dan didiskusikan adalah dibangun diatas prinsip menghubungkan peristiwa pengajaran dan pembelajaran, interaksi guru dan pengawas dalam memfasilitasi perubahan dan pertumbuhan [6], Pada awal implementasi supervisi klinis cogan membuat 8 fase, kemudian dilisensikan Acheon dan Gall (1987) menjadi 3 tahapan yakni; 1)konferensi pra pengamatan 2)Pengamatan 3)Konferensi pasca pengamatan.

Figure 1.

Gambar 1.1 Siklus tiga tahapan

Lovell dan wiles (1983) menyatakan bahwa selama proses pelaksanaan supervisi klinis perbedaan individu guru sering diabaikan bahkan guru tidak dapat menerima adanya satu model bentuk supervisi untuk semua guru. guru membutuhkan fleksibilitas akan pertumbuhan mereka sendiri-sendiri, oleh karenanya dibutuhkan model supervisi lain untuk ditetapkan berdasarkan pada perbedaan dan kebutuhan individu mereka. Gordon (1992) menyoroti bahwa supervisi klinis belum mencapai penerimaan dalam arti luas karena Gordon berasumsi bahwa supervisor akan mampu memenuhi perannya secara penuh dengan otoritasnya, sehingga untuk mendukung pernyataan tersebut Gordon membuat kontrak selama proses pra pengamatan tentang hal-hal yang akan menjadi bahan supervisi, namun hal ini akan merusak komunikasi selama supervisi dikarenakan adanya pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk dapat diajukan oleh supervisor, dan pada akhirnya supervisor akan menghormati kesepakatan yang telah dibuat dan supervisor akan berkonsentrasi pada hal tersebut sehingga tidak mengena pada pola pengajaran yang menjadi sasaran supervisi. Poole (1994) memberi penekanan pada hubungan hirarkis antara supervisor dan guru dimana pada hubungan ini terdapat hubungan atasan dan bawahan sehingga supervisi menjadi tidak efektif. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan keduanya harus mempunyai budaya saling memberikan kepercayaan, dan saling menghormati. kegagalan dalam mengembangkan sikap kolegial pada hubungan supervisi akan menjadikan supervisi ini bersifat inspeksi.

Bukti penelitian terdahulu menunjukkan adanya peningkatan profesionalisme guru, penelitian bertema Supervisi Klinis dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme guru menemukan adanya kolaborasi supervisor dan guru memberi nilai positif dan motivasi pengembangan diri dalam keterampilan profesional personal atau pribadi individu [7]. Supervisi Klinis memberikan hasil evaluasi dalam pengajaran dan menjadi bahan supervisor dalam memberikan umpan balik sebagai solusi terhadap kekurangan dalam proses pengajaran sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya dan memberikan pengajaran yang lebih baik [8]. Penelitian terdahulu yang lain memberi bukti bahwa supervisi klinis terencana dgn partisipatif guru dapat menjadi strategi yang efektif dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran. Ini juga menunjukkan bahwa kepala sekolah sebagai supervisor perlu memahami cara mengatasi kendala yang dihadapi guru [9]. Berdasarkan telaah mendalam pada kajian-kajian peneliti terdahulu yang berfokus pada proses hasil implementasi dengan pendekatan kualitatif maupun penelitian tindakan kelas dan studi kasus yang terdapat kecenderungan bersifat parsial dan kontekstual, pada penelitian terdahulu tidak terdapat indikator profesionalisme guru yang dinyatakan secara eksplisit dan konstruktif, belum adanya temuan peneliti yang mensintesis temuan-temuan secara terpadu sebagai penguatan profesionalisme guru secara berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji secara sistematis integratif peningkatan profesionalisme guru, pola implementasi yang efektif dan berkelanjutan.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA untuk menyajikan sintesis yang komprehensif, objektif, dan berbasis bukti. Dengan menggunakan pendekatan sintesis sistematis terhadap peran supervisi klinis dalam meningkatkan profesionalisme guru melalui metode Systematic Literature Review (SLR) adalah merupakan kebaruan yang belum dilakukan oleh penelitian terdahulu yang pada umumnya masih terbatas pada pendekatan empiris dalam konteks satu lembaga pendidikan. Penelitian ini mengintegrasikan 20 artikel jurnal bereputasi dari platform digital lens.org dan platform google Scholar. Selain daripada itu peneliti juga memberikan pemaknaan profesional guru sebagai hasil dari supervisi klinis yang berkelanjutan tidak hanya merupakan output sesaat dari kegiatan supervisi . Sintesis hasil penelitian ditekankan pada keterkaitan tahapan pelaksanaan supervisi, hubungan kolegial antara supervisor dengan guru serta keberlanjutan tindak lanjut supervisi sebagai faktor kunci peningkatan profesionalisme guru. Strategi pembinaan profesional guru yang adaptif terhadap perbedaan individu, kebutuhan kompetensi, dan dinamik lembaga pendidikan merupakan hasil penelitian yang tidak hany memperkuat temuan-temuan sebelumnya melainkan dapat memberikan kerangka sintesis untuk menggali lebih dalam ; 1) Bagaimana peran supervisi klinis dalam usahanya meningkatkan profesionalisme guru, 2) Kontribusi apa yang diberikan dengan adanya pelaksanaan supervisi klinis pada sebuah Lembaga Pendidikan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi sebagai referensi rujukan perbaikan atau rujukan kebijakan oleh supervisor yaitu kepala sekolah, pengawas, komite, yayasan, dan para pemangku jabatan yang berkepentingan serta semua pihak yang bertanggungjawab dalam upaya peningkatan mutu kualitas Pendidikan, Suprvisi dengan berbagai model implementasinya memberi hasil perbandingan berbagai model supervisi sehingga dapat memberikan solusi penanganan terhadap berbagai permasalahan supervisi pada saat pra-observasi, observasi dan pasca-observasi, dan memberikan tolok ukur atau indikator keberhasilan dari pelaksanaan supervisi.

Metode

Systematic Literature Review merupakan istilah dalam metode penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan sintesis serta menginterpretasikan hasil penelitian secara sistematis yang relevan dengan pertanyaan peneliti pada bidang, topik atau fenomena tertentu yang menjadi minat peneliti.[10] SLR merupakan metode yang dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi yang jelas, masuk akal, dan tidak bias tentang topik sebuah penelitian [11] Adalah Prisma yang menjadi protokol dan pedoman yang dapat memberikan penilaian terhadap penelitian systematic literature review dan meta analysis. Prisma dapat membantu para penulis dalam menyusun systematic literature review dan meta analysis yang berkualitas Proses penelitian dilakukan dengan cara yang sistematis melalui pendekatan Prisma sebagai penjamin kualitas hasil dari penelitian [12] Terdapat 3 langkah dalam penelitian SLR. dirancang agar tersistematis dan mengurangi bias [13]

Figure 2.

Gambar 2.1 Tahapan SLR

Objek penelitian ini adalah supervisi klinis. Pengambilan topik supervisi klinis sebagai objek penelitian peneliti ingin mendapatkan informasi mendalam tentang pelaksanaan supervisi klinis dalam meningkatkan profesionalisme guru. Research Question atau pertanyaan dari peneliti dalam memenuhi kebutuhan informasi penelitian [14] ;

RQ1: Bagaimana peran supervisi klinis dalam peningkatan profesionalisme guru

RQ2: Apa yang menjadi kontribusi dalam pelaksanaan supervisi klinis pada sebuah Lembaga Pendidikan terhadap peningkatan profesionalisme guru. Basis data yang digunakan dalam strategi pencarian jurnal artikel yang relevan dengan topik penelitian adalah menggunakan platform digital lens.org dan search engine google scholar. Fokus penelitian ini adalah Pemahaman mendalam tentang bagaimana supervisi klinis dapat meningkatkan profesionalisme guru. Proses pengumpulan data dengan menggunakan kata kunci “supervisi klinis” dan “profesionalisme guru” dan berpedoman pada kriteria inklusi dan eksklusi sebagai proses screening data, berikut adalah kriteria inklusi dan eksklusi yang digunakan peneliti dalam melakukan seleksi artikel ( screening) [15] :

Tabel 1.1 data inklusi dan eksklusi

Tahapan SLR Uraian Kegiatan Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi
Identifikasi Penelusuran artikel di basis data lens.org dan google scholar dengan menggunakan kata kunci supervisi klinis and profesionalisme guru Tahun publish artikel jurnal 2021 -2025 Jurnal terpublikasi dibawah tahun 2021
Type dokumen artikel jurnal open acces Type dokumen artikel jurnal bukan open access
Jurnal bereputasi bukan Jurnal bereputasi
Table 1.

Pencarian jurnal ilmiah melalui platform digital dengan mengikuti alur Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) adalah sebagai bentuk penjaminan terhadap kualitas hasil penelitian (Quality Assessment ) dan transparansi untuk agar tidak terjadi adanya bias dalam hasil penelitian [16] :

Figure 3.

Tabel 1.2 Diagram proses seleksi jurnal berdasarkan tinjauan protocol PRISMA

Proses pengumpulan data pada platform lens.org dengan kata kunci 'supervisi klinis' terdapat 929 jurnal, kemudian di filter dengan data range publikasi tahun 2021 sampai dengan 2025 menjadi sejumlah 309 jurnal kemudian di filter kembali dengan jenis type dokumen jurnal artikel terdapat 273 jurnal kemudian diseleksi lagi dari jurnal yang terbuka aksesnya (open access) tinggal 89 jurnal, untuk mendapatkan jurnal yang relevan dengan topik penelitian selanjutnya ditambahkan keyword pada kata kunci 'AND' 'Profesionalisme Guru' menjadi 19 jurnal terpilih yang akan diekstraksi berdasarkan judul, abstrak dan terindex sinta atau bukan sinta. Ekstraksi jurnal terpilih dilakukan untuk menemukan jurnal yang relevan dengan RQ1 dan RQ2 sebagai informasi yang dibutuhkan dalam menjawab rumusan masalah dalam penelitian peneliti. Proses pengumpulan dan ekstraksi data telah disesuaikan dengan alur PRISMA sebagai bentuk transparansi teknik pencarian dan pengumpulan data.

Gambar 2.2 search engine pada platform daring lens.org

Figure 4.

Pada mesin pencari search engine google scholar peneliti mendapatkan tambahan sebanyak 26 jurnal artikel terpilih yang telah diseleksi berdasarkan data inklusi dan eksklusi dengan menggunakan kata kunci “supervisi klinis dalam meningkatkan profesionalisme guru” sesuai topik dari peneliti. Hasil seleksi pengumpulan data tersebut akan diekstraksi relevansinya dengan judul, abstrak, dan terindex sinta atau scopus. Selanjutnya jurnal terpilih akan dijadikan laporan hasil penelitian telaah mendalam terhadap penelitian “supervisi klinis dalam meningkatkan profesionalisme guru”.

Figure 5.

Gambar 2.3 search engine from google scholar

Ekstraksi data terhadap jurnal terpilih meliputi nama penulis dan tahun publikasi, metode penelitian serta hasil temuan dari jurnal tersebut. Data disusun dalam tabel untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis dan mensintesis jurnal terpilih untuk memastikan apakah jurnal tersebut dapat memenuhi kebutuhan pertanyaan penelitian (RQ) yang menjadi rumusan masalah dalam kebutuhan telaah mendalam terhadap penyusunan artikel supervisi dalam meningkatkan profesionalisme guru.

Hasil dan Pembahasan

A.Hasil

Hasil penelusuran 19 jurnal terpilih dari platform digital lens dan 26 jurnal dari google scholar diekstraksi tingkat relevansinya melalui kesesuaian judul dan abstraknya dengan topik penelitian dan memenuhi kebutuhan request question yang menjadi rumusan masalah pada penelitian. Berikut 20 sampel hasil ekstraksi review 45 jurnal terpilih:

Table 3.1

Safrizal dkk., 2023 supervisi klinis dapat membentuk dan meningkatkan profesionalisme guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui proses supervisi klinis yang sistematis, guru dapat memperbaiki kemampuan mengajar mereka, yang berdampak langsung pada peningkatan proses belajar mengajar di kelas.
Hasanah & Fauziah, 2024 Supervisi klinis berperan aktif dan efektif dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru, kemampuan refleksi diri, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Abidin,Z 2023 Supervisi ini dapat meningkatkan profesionalisme guru melalui perbaikan situasi belajar mengajar dan pengembangan kompetensi.
Hartiningsih,Suti. 2024 Supervisi Klinis memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan kompetensi pengajarn dan pengembangan profesi..
Sari, Ibrahim Bafadal, Ahmad Nurabadi, et al, 2023 Tahapan supervii ada tiga yaitu pertemuan awal, obsersvasi dan umpan balik dari evaluasi pengajaran yang berperan penting dalam mengidentifikasi kendala dan pemberian solusi nyata untuk mendapatkan pengalaman perbaikan dalam peningkatan kinerja yang efektif.
Sunardi & Satori , 2024 supervisi klinis memiliki dampak positif terhadap peningkatan kompetensi profesional guru. Guru yang mendapatkan supervisi klinis mengalami perbaikan dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses belajar mengajar, serta evaluasi dan refleksi kegiatan belajar. Selain itu, hubungan kolaboratif antara guru dan supervisor memberikan motivasi tambahan untuk pengembangan profesional berkelanjutan.
Izzah & Islamiyah, 2024 Implementasi supervisi klinis selama 4 tahun berlangsung secara bertahap, dengan supervisi langsung yang dilakukan secara intens oleh supervisor, yang meliputi persiapan mengajar, penilaian selama proses belajar mengajar, dan evaluasi pasca mengajar.
Afghor, dkk. 2024 Supervisi ini berdampak positif terhadap pemahaman tugas guru sebagai pendidik profesional.
Aniq Nasikhatul Murtafi'ah dan Moh. Harun Al Rosid, 2024 Perencanaan supervisi yang dilakukan kepala madrasah meliputi penyamaan persepsi tentang tujuan dan masalah, kontrak jadwal dan instrumen. Observasi kelas bersama supervisor dan guru, fokus pada keterampilan mengajar dan interaksi murid. Evaluasi dan analisis hasil observasi sebagai langkah tindak lanjut perbaikan guru, termasuk pelatihan dan pelibatan dalam forum MGMP Supervisor membantu guru meningkatkan keterampilan dan percaya diri tanpa rasa takut, serta membangun hubungan harmonis. Supervisi klinis sebagai alat kontrol dan pembinaan kualitas guru berbasis teori Mosher dan Purple, serta dilaksanakan di madrasah berbasis pesantren
Dwi Rahmy Zarlis dan Susiati Elfitra Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi klinis secara signifikan meningkatkan kompetensi pedagogis guru, kemampuan mereka dalam merespons perubahan pendidikan, dan memperkuat hubungan profesional antara guru dan supervisor. Supervisi ini juga membantu pengembangan strategi pengajaran yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan edukasi yang terus berkembang.
Table 2.

Table 3.2

Muhammad Yunus, Suaningrat, Afifah Mardiah, dan Almahfuz, 2025 Implementasi supervisi klinis secara sistematis dan reflektif oleh kepala sekolah mampu meningkatkan kualitas kompetensi guru di aspek pedagogik, profesional, sosial kepribadian. Supervisi berkontribusi terhadap peningkatan inovasi metode mengajar dan refleksi diri guru, yang berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran.
Leni Rasyanti, 2024 Perencanaan supervisi kepala sekolah dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan jadwal yang ditetapkan dan kesepakatan dengan guru. Pelaksanaan supervisi berjalan tanpa mengganggu pembelajaran, bahkan memberi motivasi kepada siswa dan dukungan kepada guru. Tindak lanjut supervisi berupa pertemuan pribadi antara kepala sekolah dan guru untuk memberi umpan balik dan membahas kekurangan secara solutif. Hasil supervisi menunjukkan peningkatan kinerja guru, ditunjukkan dari: Perencanaan pembelajaran yang sesuai standar. Penguasaan materi dan variasi metode mengajar. Evaluasi pembelajaran yang relevan dan partisipatif. Guru Agama Islam yang disupervisi memperoleh skor kinerja kategori “baik” dalam semua aspek.
Titania Amelia Putri Novita Sari Syarifah Hidayani, 2025 Perencanaan supervisi klinis dilakukan secara sistematis, berdasarkan analisis kebutuhan guru dan kondisi pembelajaran. Pelaksanaan supervisi melibatkan observasi langsung, umpan balik konstruktif, dan bimbingan praktis, bukan hanya evaluasi. Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan guru dan siswa sebagai pelaksana proses pembelajaran dan kepala madrasah sebagai sumber dukungan terkuat dalam peningkatan kompetensi dan kualitas pembelajaran
Zailani Aza Putra Zaddam Riamizad Ryan Rahman Raihan Habib Arasy, 2025 Supervisi klinis mapu membuktikan peningkatan kompetensi dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi hasil pembelajarannya. Kualitas pembelajaran guru meningkat. Karena adanya hubungan kolegial antara guru dan supervisor. Tahapan implementasi supervisi klinis:meliputi; Persiapan, Pertemuan awal, Proses observasi supervisi dan Pertemuan balikan (umpan balik dan tindak lanjut).
Dwi Wahyulianti Muhammad Sholeh Murtadlo, 2025 Supervisi klinis berkontribusi positif dalam meningkatkan profesionalisme guru, terutama dalam keterampilan bertanya dalam pembelajaran berdiferensiasi.Penelitian mengidentifikasi tiga langkah supervisi klinis konvergensi di SMPN 6 Sidoarjo: (1) Perencanaan program supervisi (2) Pelaksanaan supervisi dengan observasi keterampilan bertanya (3) Evaluasi dan tindak lanjut melalui saran, refleksi, dan apresiasi
Farihatun & Sudadi, 2024 temuan penelitian yang menyatakan supervisi klinis makimal melalui bimbingan langsung dan evaluasi menyeluruh serta umpan bali yang memabngun peningkatan kompetensi pedagogik guru dapat lebih mahir dalm perancangan pembelajaran yang memenuhi kebtuhan pembelajaran srt pengelolaan kelas yang efektif
Hanafiah, R. Sufyan Sauri, Yayu Nurhayati Rahayu, dan Opan Arifudin, 2022 Kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi klinis dengan 3 tahapan yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan dan memberi tindak lanjut. Supervisi ini membantu guru memahami kompetensi dasar dan meningkatkan kemampuan mengajar serta profesionalisme guru secara umum, dengan hasil peningkatan kompetensi yang terlihat dari proses dan refleksi yang dilakukan.
Virginia H. Saneba, Joulanda A.M. Rawis, Mozes Markus Wullur, dan Viktory N.J. Rotty, 2021 Upaya pengawas dalam meningkatkan keterampilan profesional guru melalui supervisi klinis sudah dilakukan dengan rencana dan program yang cukup baik. Pelaksanaan supervisi klinis belum sepenuhnya sesuai tahapan yang ditetapkan. Pengaruh supervisi klinis terhadap guru dan civitas akademika di SMA Negeri 10 Manado masih kecil. Supervisi membantu guru memecahkan masalah pembelajaran, tetapi belum optimal dan belum berpengaruh signifikan terhadap peningkatan profesionalisme guru
Muhammad Asrofi Awali Mursalin, 2022 Supervisi klinis yang efektif mampu meningkatkan kualitas dan profesionalisme pengajar.Pendekatan yang adaptif terhadap lingkungan sekolah, termasuk sekolah agama, akan membantu keberhasilan program.Peran supervisor dan guru harus kolaboratif dan fokus pada pengembangan kompetensi
Ahmad Afghor Fahruddin, Warti’ah, dan Supriyanto, 2024 Program supervisi klinis yang terencana dan sistematis mampu meningkatkan pemahaman dan profesionalisme guru.Dukungan manajerial seperti rapat dan peraturan serta dukungan ekonomi penting dalam keberhasilan supervisi.
Table 3.

Berdasarkan hasil penelusuran jurnal terpilih, setelah proses ekstraksi melalui judul dan abstrak, peneliti menyimpulkan bahwa supervisi klinis merupakan alat dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan kompetensi profesional guru. Peningkatan kompetensi profesional guru dalam aspek perencanaan pembelajaran, penguasaan materi, pemilihan metode, dan penilaian pembelajaran, yang diimplementasikan melalui tahapan pra-observasi, observasi, dan pasca-observasi, dapat membantu guru secara sistematis dan berkelanjutan merefleksikan praktik pengajaran mereka, yang dikonfirmasi oleh hasil penelitian dalam artikel oleh Safrizal dkk. (2023), Sunardi dan Satori (2024), Hasanah dan Fauziah (2024). Peran tahapan supervisi klinis dalam efektivitas peningkatan profesionalisme, hasil tinjauan artikel menunjukkan adanya model 3 tahap (pra-observasi, observasi, dan pasca-observasi) yang dikembangkan oleh Acheson dan Gall, yang konsisten dengan hasil penelitian oleh Sari dkk. (2023), Zailani dkk. (2025), dan, serta Aniq Nasikhatul Murtafi’ah & Moh. Harun Al Rosid (2024) yang Ditekankan bahwa supervisi klinis terstruktur dapat mengidentifikasi hambatan dalam pembelajaran dan merumuskan rekomendasi yang tepat untuk peningkatan guru. temuan hasil penelitian yang lain tentang hubungan kolegial, pendekatan non-direktif menunjukkan tingkat keharmonisan dalam supervisi klinis mampu meningkatkan motivasi individu dalam mengembangkan kompetensi pribadi dan kepercayaan diri meningkat. Sunardi dan Satori (2024), Dwi Rahmy Zerlis dan Susiati Elfitra (2024), dan Hanafiah dkk. (2022) memberikan penegasan dengan menjadikan supervisor sebagai mitra profesional lebih efektif dari pendekatan yang bersifat intimidatif. Keberlanjutan dan kelanjutan supervisi klinis merupakan hasil dari temuan Leni Rosyanti (2024), Muhammad Yunus dkk. (2025), dan Dwi Wahyu Lianti dkk. (2025), yang menunjukkan bahwa tindak lanjut dalam bentuk pembinaan berkelanjutan, diskusi reflektif, pelatihan, Keterlibatan guru dalam forum MGMP berkontribusi pada penguatan kompetensi dan profesionalisme guru dalam jangka panjang. Tantangan dan keterbatasan implementasi supervisi klinis dibahas dalam sebuah artikel jurnal oleh Virginia H. Saneba dkk. (2021), yang menemukan bahwa supervisi klinis dengan tidak mengikuti langkah-langkah dan prinsip-prinsip kolegialitas memiliki dampak yang relatif kecil dalam meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini konsisten dengan teori Gordon (1992) dan Lovell dan Wiles (1983), yang mempunyai sudut pandang berbeda tentang supervisi klinis dengan potensi resistensi guru terhadap supervisi, yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengintimidasi.

B.Pembahasan

Laporan penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian (RQ1) dengan mengumpulkan data jurnal yang berkaitan dengan laporan penelitian: apakah pern pelaksanaan supervisi akademik secara klinis pada peningkatan kemampuan profesionalisme guru ? berikut adalah hasil temuan yang menunjukkan peran strategisnya dalam upaya peningkatan kompetensi profesionalisme guru melewati proses pembinaan yang sistematis, reflektif, dan kolaboratif. Para peneliti telah mengkonfirmasi bahwa supervisi klinis dapat secara langsung meningkatkan kompetensi profesional guru, terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, serta evaluasi dan refleksi proses pembelajaran [17][7]. Supervisi klinis memberikan guru sarana refleksi objektif melalui observasi kelas dan umpan balik konstruktif, dan menciptakan ruang untuk dialog profesional antara supervisor dan guru, memungkinkan guru untuk mendapatkan bimbingan untuk peningkatan pengajaran yang berkelanjutan. Aspek psikologis dan motivasi guru juga merupakan hasil dari supervisi klinis. Secara tidak langsung. Mendorong hubungan kolegial antara guru dan supervisor, yang meningkatkan rasa aman, kepercayaan diri, dan motivasi guru untuk mengembangkan profesionalisme mereka lebih lanjut. Menurut Hanafiah dkk. (2022), supervisi klinis menempatkan guru sebagai mitra profesional yang lebih efektif daripada pendekatan supervisi hierarkis. Peran supervisi klinis berkembang sebagai strategi pengembangan profesional guru yang berfokus pada pembelajaran reflektif dan peningkatan kualitas berkelanjutan [18].

Apa kontribusi penerapan supervisi klinis untuk meningkatkan profesionalisme guru di lembaga pendidikan? (RQ2) Supervisi klinis secara signifikan berkontribusi pada peningkatan profesionalisme guru di tingkat individu dan institusional. Supervisi klinis membantu guru meningkatkan keterampilan pedagogis dan profesional mereka serta melakukan evaluasi pembelajaran yang reflektif dan partisipatif. [19][20]. Supervisi klinis membantu guru merespons secara lebih adaptif terhadap dinamika perubahan pendidikan melalui bimbingan dan umpan balik yang konstruktif.[18] Pada tingkat institusional, supervisi klinis berkontribusi dalam menciptakan iklim akademik yang menguntungkan yang berfokus pada peningkatan kualitas.[21] Supervisi klinis bukan semata-mata tanggung jawab supervisor individu tetapi merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu internal suatu lembaga pendidikan. Penelitian oleh Virginia, H. Saneby dkk. (2021) menunjukkan bahwa supervisi klinis memiliki dampak yang relatif kecil dalam meningkatkan profesionalisme guru karena suboptimal atau tidak selalu mengikuti langkah-langkah supervisi dan bersifat evaluatif dan hierarkis.

indikator yang menunjukkan bahwa supervisi klinis dinyatakan berhasil; (1) meningkatkan skill kompetensi guru dalam manajemen perencanaan belajar, pelaksanaan dan evaluasi proses pembelajaran, (2) kualitas pembelajaran menjadi lebih baik dan berpengaruh pada kualitas hasil belajar siswa, (3) terbentuknya ikatan partnership antara pengawas sekolah dengan guru kelas dalam pencarian solusi masalah pembelajaran dan tugas profesi. Dari model supervisi klinis yang diterapkan serta diimplementasikan oleh para supervisor pada Lembaga Pendidikan, terdapat bermacam-macam strategi dalam pelaksanaanya sesuai kebutuhan masing-masing guru dalam perilaku kepribadian dan kompetensinya; (1) untuk guru profesional, supervisi klinis yang diterapkan adalah menggunakan strategi non direktif, yaitu strategi pemecahan masalah yang bersifat tidak langsung, supervisor bersikap mendengarkan, memberi penguatan, penjelasan, dan memecahkan masalah yang ada. Supervisor tidak banyak memberi masukan melainkan berdialog dan berdiskusi, dimungkinkan guru tersebut memiliki prestasi yang baik. (2) untuk guru tukang kritik, supervisor menggunakan strategi supervisi kolaboratif yaitu perpaduan strategi direktif dan non direktif, supervisor bersikap menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, pemecahan masalah dan bernegosiasi. (3) supervisi klinis untuk guru yang terlalu sibuk, strategi yang digunakan adalah kolaboratif dimana supervisor memberikan penjelasan dan pemahaman bahwa tugas pokok dari guru adalah sesuai pedoman yang berlaku sedangkan tugas dan tanggungjawab lainnya tidak boleh mendapatkan prioritas lebih daripada kewajiban pokok dari tugas yang sebenarnya. (4) supervisi untuk guru yang tidak bermutu strategi yang digunakan adalah direktif atau bersifat langsung dalam memberikan penguatan dan bahkan hukuman. supervisor bersikap memberikan penjelasan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menetapkan titik keberhasilan atau tolok ukur dan menguatkan. [22]

Implikasi pelaksanaan supervisi klinis secara teoritis menguatkan landasan konsep supervisi klinis Cogan, Acheon & Gall dan Sergiovanni & Starratt menunjukkan bahwa pembinaan yang bersifat kolaboratif dan bukan otoriter serta penggunaan data observasi kelas sebagai basis data perbaikan adalah secara efektif dapat meningkatkan profesionalisme guru yang signifikan. Implikasi praktis supervisi klinis bagi guru dan supervisor adalah adanya kegiatan umpan balik dari supervisi klinis yang memberikan pendampingan selama proses supervisi klinis dan perbaikan strategi pengajaran yang lebih reflektif setelah kegiatan supervisi klinis. Bagi supervisor supervisi klinis memberi ruang dalam memberikan umpan balik yang konstruktif, mempererat hubungan kolegial karena supervisor bertindak selaku pembimbing bukan penilai. Bagi lembaga pendidikan supervisi klinis memberikan referensi atau rujukan kebijakan dalam supervisi berkelanjutan, dirancang secara terstruktur sesuai PRISMA dan rujukan yang membutuhkan dukungan penuh kepala sekolah dan dan pengawas, sehingga supervisi menjadi salah satu kebijakan pembinaan guru dalam strateginya meningkatkan profesionalisme guru.

Simpulan

Penelitian terhadap pelaksanaan supervisi klinis dalam meningkatkan profesionalisme guru dengan metode Systematic Literature Review mengambil Kesimpulan pada pelaksanaan supervisi klinis adalah terdapat peningkatan profesionalisme guru dengan melalui tahapan-tahapan dalam implementasi supervisi klinis secara tepat sehingga menghasilkan transformasi kompetensi guru dalam hal ini yakni profesionalisme guru. Profesionalisme guru tidak berhenti pada terselenggaranya supervisi klinis melainkan dapat memberi dampak berkelanjutan dimana kepala sekolah dan pengawas sebagai supervisor terus memberikan tindak lanjut akan setiap proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, sehingga tidak serta merta berlepas tanggung jawab setelah proses supervisi melainkan terus menerus mengembangkan kompetensi diri sehingga meningkatkan profesionalisme guru yang memberikan kontribusi terhadap lembaga pendidikan terutamanya pada peserta didik. Implementasi yang baik dapat mengatasi kekurangan dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta profesionalisme guru. Kesimpulan dari pelaksanaan supervisi klinis tidaklah dapat diterapkan untuk semua guru, melainkan adalah dengan pengawasan sesuai kebutuhan dan preferensi masing-masing guru dan apapun bentuk pendekatan yang digunakan dengan berdasarkan atas collegiality, kepercayaan dan saling menghormati serta dialog atau komunikasi yang jauh dari kata pengawas adalah ahli.

Supervisi dengan tidak mengabaikan perbedaan individu dari berbagai aspek serta memperhatikan kebutuhan pengajaran menjadi lebih efektif dan efisien serta tepat sasaran pada apa yang harus menjadi perbaikan. Pengawasan berkelanjutan dapat lebih mengoptimalkan terhadap hasil supervisi klinis, hubungan kolegial menjadi lebih harmonis, karena pengawasan intens menjadi suatu bentuk perhatian atas setiap langkah yang diambil dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang terencana dan terlaksana dengan baik adalah hasil dari meningkatnya kemampun guru dalam mengelola pembelajaran dikelas sehingga hasil pembelajaran menjadi maksimal dan terwujudnya sekolah mutu pada lembaga pendidikan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada semua pihak yakni dosen pembimbing, teman-teman seangkatan, dan keluarga yang selalu memberikan dukungan sehingga penyusunan TESIS sebagai persyaratan tugas akhir perkuliahan S2 Manajemen Pendidikan Islam Universitas Sidoarjo, dapat terselesaikan dengan tepat waktu, semoga keberkahan dan kebermanfaatan ilmu menjadi motivasi peningkatan kompetensi diri dan reviewer artikel. Artikel merupakan karya tulis ilmiah yang menjadi rujukan dalam menambah ilmu pengetahuan tentang topik topik yang menjadi pembahasan artikel. Tidak ada keraguan dalam mengimplementasikan, terdapat bukti konkret yang menjadikan keyakinan ingin mencoba mempraktikkan. Artikel merupakan sumber referensi yang otentik dalam ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Berkreasi, berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kompetensi menjadi guru profesional.

References

P. Astutik, Lismawati, R. Salahuddin, and A. F. Jannah, Achieving Consistency in Goals: A Prescriptive Evaluation of Islamic Religious Education, vol. 1. Atlantis Press SARL, 2023.

D. Sutiono, “Profesionalisme Guru,” Tahdzib Al-Akhlaq J. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 2, pp. 16–25, 2021, doi: 10.34005/tahdzib.v4i2.1569.

P. Astutik, “Implementasi Pembelajaran Kecerdasan Spiritual untuk Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Islam,” Halaqah Islam. Educ. J., vol. 1, no. 1, pp. 9–16, 2017, doi: 10.21070/halaqa.v1i1.818.

Permendiknas, “Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005,” Kemendikbud, pp. 1–54, 2005, [Online]. Available: https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/PP_tahun2005_nomor19 (Standar Nasional Pendidikan).pdf.

Sholihudin, A. P. Astutik, et al., “Supervisi Kepala Sekolah dalam Membina Kompetensi Pedagogik Guru PAI,” vol. 11, pp. 980–990, 2024.

Bencherab and A. Al Maskari, “Clinical Supervision: A Genius Tool for Teachers’ Professional Growth,” Univers. Acad. Res. J., vol. 3, no. 2, pp. 51–57, 2021, doi: 10.17220/tuara.2021.02.11.

S. Sunardi and S. Satori, “Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi Profesionalisme Guru,” Ngaos J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 2, no. 2, pp. 95–103, 2024, doi: 10.59373/ngaos.v2i2.47.

S. Safrizal, A. S. Chamidi, and F. Al-Jihad, “Implementasi Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru,” An-Nidzam J. Manaj. Pendidik. dan Stud. Islam, vol. 10, no. 1, pp. 93–107, 2023, doi: 10.33507/an-nidzam.v10i1.1140.

L. A. Sari, I. Bafadal, A. Nurabadi, A. F. Husna, F. F. Unsa, and A. F. Akhbar, “Pelaksanaan Supervisi Klinis Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Guru di Sekolah Dasar.”

N. I. Watajdid, A. Lathifah, D. S. Andini, and F. Fitroh, “Systematic Literature Review: Peran Media Sosial Instagram Terhadap Perkembangan Digital Marketing,” J. Sains Pemasaran Indones. (Indonesian J. Mark. Sci.), vol. 20, no. 2, pp. 163–179, 2021, doi: 10.14710/jspi.v20i2.163-179.

T. Informasi and T. Informasi, “Otomasi Tinjauan Literatur Sistematis: Tinjauan Literatur Sistematis Otomatisasi Tinjauan Literatur Sistematis: Tinjauan Literatur Sistematis,” 2021.

M. J. Page et al., “The PRISMA 2020 Statement: An Updated Guideline for Reporting Systematic Reviews,” BMJ, vol. 372, 2021, doi: 10.1136/bmj.n71.

R. S. Wahono, “A Systematic Literature Review of Software Defect Prediction: Research Trends, Datasets, Methods and Frameworks,” J. Softw. Eng., vol. 1, no. 1, pp. 1–16, 2015.

E. Triandini, S. Jayanatha, A. Indrawan, G. Werla Putra, and B. Iswara, “Metode Systematic Literature Review untuk Identifikasi Platform dan Metode Pengembangan Sistem Informasi di Indonesia,” Indones. J. Inf. Syst., vol. 1, no. 2, p. 63, 2019, doi: 10.24002/ijis.v1i2.1916.

N. Akmal, N. Maelasari, T. Ilmu, and P. Islam, “Pemahaman Deep Learning dalam Pendidikan: Analisis Literatur melalui Metode Systematic Literature Review (SLR),” vol. 8, 2025.

E. Philosophy, F. Anggraini, A. Sabila, D. Oktageri, M. Akbar, and U. N. Padang, “Alacrity: Journal of Education,” vol. 5, no. 1, pp. 234–247, 2025.

A. I. A. Aceh, I. Kebumen, and U. Cilacap, “Implementasi Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru,” vol. 10, no. 1, pp. 72–86, 2023.

R. Zarlis and S. Elfitra, “Supervisi Klinis dalam Menghadapi Dinamika Pendidikan,” vol. 2, pp. 17–28, 2024.

M. P. Islam, U. Islam, N. Sultan, A. Muhammad, and I. Samarinda, “Optimalisasi Supervisi Klinis untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru: Studi Kasus di MAN Insan Cendekia Paser,” vol. 13, no. 6, pp. 452–459, 2024, doi: 10.32832/tadibuna.v13i4.18104.

Wahyulianti and M. Sholeh, “Supervisi Klinis Konvergensi untuk Meningkatkan Profesional Guru dalam Menerapkan Keterampilan Bertanya pada Pembelajaran Berdiferensiasi di SMP Negeri 6 Sidoarjo,” vol. 8, 2025.

Nasikhatul, “Supervisi Klinis dalam Pembinaan Profesionalisme Guru MA Amanatulloh Banyuwangi,” vol. 5, no. 1, pp. 33–46, 2024.

M. Nurcholiq, “Supervisi Klinis,” J. Eval., vol. 1, no. 1, p. 1, 2018.