Login
Section Innovation in Education

The Dilemma Facing Top Islamic Educational Institutions in Fostering Students’ Islamic Values


Dilema Lembaga Pendidikan Islam Favorit dalam Pembinaan Keislaman Siswa
Vol. 27 No. 3 (2026): July:

Maulidatul Fitriah (1), Budi Haryanto (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Islamic education in favorite schools seeks to develop students’ spiritual independence and discipline through structured religious guidance. Specific Background: Such guidance includes religious habituation, Qur’an reading and memorization, mentoring, and character development, but students differ in readiness and personal circumstances. Knowledge Gap: The gap between institutional guidance targets and students’ readiness creates dilemmas in maintaining religious standards while addressing students’ needs. Aims: This study analyzes the contribution of Islamic education to student independence and the institutional dilemmas encountered in religious guidance. Results: A qualitative phenomenological study found that religious habituation supports spiritual independence and discipline, while implementation remains uneven among students. Differentiated guidance, personal mentoring, counseling, and collaboration provide contextual responses. Novelty: The study highlights a moderative approach that balances institutional religious ideals with student realities. Implications: Islamic guidance should remain flexible, humanistic, and responsive to student diversity.


Key Findings Highlights


Structured religious habituation supports spiritual discipline.


Personal mentoring responds to differences in student readiness.


School–family collaboration supports sustainable guidance.


Keywords : Islamic Guidance, Student Independence, Favorite Islamic Schools, Religious Development, Moderative Approach

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Istilah "sekolah favorit" ini muncul dan berkembang dalam masyarakat Indonesia yang dilabelkan pada institusi pendidikan tertentu yang dianggap unggul dalam berbagai aspek [1]. Meskipun secara formal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak pernah menetapkan atau mengategorikan satuan pendidikan tertentu sebagai sekolah favorit. Istilah "sekolah favorit" berkembang di tengah masyarakat sebagai sebutan bagi sekolah yang banyak diminati [2].

Persepsi masyarakat terhadap sekolah yang disebut sebagai favorit ternyata tidak selalu didasarkan pada capaian akademik yang tinggi atau dukungan program pemerintah. Sebaliknya, alasan utama dalam memilih sekolah tersebut lebih sering berkaitan dengan tingginya jumlah lulusan yang berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), ketersediaan fasilitas yang memadai, serta adanya kebanggaan atau prestise sosial apabila anak diterima di sekolah tersebut [3]. Keunggulan-keunggulan ini menjadikan sekolah favorit sebagai magnet bagi orang tua dan siswa dalam menetukan pilihan lempaga pendidikan [4].

Fenomena ini memunculkan tradisi di mana masyarakat berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang dianggap favorit, dengan harapan mendapatkan pendidikan terbaik [5] [6]. Namun, persepsi berlebih terhadap sekolah favorit ini dapat menimbulkan ketimpangan dalam sistem pendidikan, di mana sekolah-sekolah lain dianggap kurang berkualitas dan tidak mendapatkan perhatian yang sama dari masyarakat [7] [8] [9].

Untuk memahami lebih dalam mengapa sekolah-sekolah ini mendapatkan label “favorit”, dapat dilihat dari profil sekolah yang umumnya dapat dikenali melalui beberapa kriteria. Setidaknya terdapat tujuh kriteria yang sering melekat pada sekolah favorit, yaitu: 1) sekolah yang pernah memiliki predikat atau label seperti RSBI, sekolah unggulan, ditunjuk sebagai sekolah model dan lain-lain, dan memiliki warisan masa lalu (history culture), 2) sekolah yang memiliki kekhasan tersendiri misalnya berbasis agama atau lainnya, 3) sekolah yang memiliki latar belakang ekonomi orang tua siswa menengah ke atas, kalangan tertentu, dengan latar belakang pendidikan tinggi, 4) sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai, 5) sekolah yang memiliki kerja sama yang baik dengan orang tua, 6) Sekolah yang mampu menumbuhkan budaya belajar positif sehingga mendorong siswa untuk belajar lebih giat, 7) serta menerapkan manajemen disiplin yang baik bagi pendidik maupun peserta didik, dengan pelaksanaan proses pembelajaran yang berkualitas [10]. Kriteria-kriteria ini yang semakin memperkuat citra sekolah Islam favorit sebagai lembaga pendidikan unggulan. Namun, status sebagai sekolah favorit juga membawa tantangan tersendiri yang tidak dapat diabaikan.Bottom of Form

Keberadaan sekolah-sekolah favorit, khususnya yang berbasis Islam, mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama kalangan Muslim di Indonesia. Meskipun biaya pendidikan di sekolah-sekolah tersebut tergolong tinggi, banyak orang tua tetap merasa puas dengan layanan pendidikan yang diberikan, khususnya terkait keberhasilan siswa dalam bidang akademik dan pencapaian kurikulum keagamaan. Namun demikian, di tengah kompetisi yang semakin intensif di dunia pendidikan, sekolah Islam favorit dihadapkan pada tantangan untuk terus mempertahankan relevansi, memastikan keberlanjutan, serta mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang [11].

Sekolah Islam favorit umumnya dipandang sebagai lembaga pendidikan yang unggul, tidak hanya dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter siswa. Citra positif ini menjadikan sekolah Islam favorit tersebut dipercaya mampu menanamkan nilai-nilai Islam dan integritas pribadi melalui sistem pendidikan yang terpadu [12]. Dalam konteks ini, keberhasilan pencapaian target pembinaan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai efektivitas pembentukan karakter [13]. Setiap lembaga pendidikan, termasuk sekolah Islam favorit, menetapkan target-target pembinaan yang mencakup aspek keterampilan, akhlak, dan kepribadian. Standar ini tidak hanya menjadi ukuran administratif, tetapi juga menjadi cerminan sejauh mana siswa mampu mengembangkan kemandirian dalam memenuhi tanggung jawab akademik dan non-akademik [14].

Selain itu, kemandirian siswa juga dapat diukur dari kemampuannya dalam mencapai target-target pembinaan secara tuntas dan tepat waktu, tanpa bergantung pada bantuan atau perlakuan istimewa dari pihak sekolah. Sebaliknya, ketika siswa tidak mampu memenuhi target-target pembinaan dan pihak sekolah memberi toleransi atau bantuan berlebih, hal ini dapat mengindikasikan adanya pola kemanjaan yang dibiarkan berkembang [15]. Dalam konteks ini, kemanjaan dipahami sebagai ketergantungan siswa kepada lembaga atau pihak lain dalam mencapai tujuan pendidikan yang seharusnya dapat dicapai secara mandiri [16]. Dengan demikian, pencapaian target-target pembinaan dalamsebuah lembaga pendidikan Islam favorit menjadi tolak ukur yang konkret untuk menilai tingkat kemandirian siswa. Jika siswa mampu memenuhi target secara mandiri, ini mencerminkan keberhasilan pembinaan karakter. Sebaliknya, jika lembaga sering memberi kelonggran yang kuran mendidik, maka hal ini dapat menunjukan kecenderungan kemanjaan yang dapat menghambat perkembangan karakter siswa.

Fenomena ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan mengingat peserta didik pada jenjang SMA berada dalam fase perkembangan remaja akhir. Menurut Erikson (1993), masa ini adalah tahap penting pencapaian identitas (identity vs. role confusion) dimana remaja membutuhkan ruang untuk belajar bertanggung jawab atas keputusan dan perilakunya sendiri [17]. Dalam hal ini, sekolah Islam favorit yang menerapkan ssitem pendidikan berbasis nilai dan penegakan aturan yang konsisten, diharapkan mampu menyediakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkan kemandirian siswa, terutama dalam pencapaian target-target pembinaan [18]. Kemandirian merupakan bentuk sikap individu yang menunjukkan kemampuan untuk bertindak secara independan, tanpa ketergantungan pada orang lain. Perilaku mandiri mencerminkan kepercayaan diri dan dorongan internal untuk bertindak berdasarkan kesadaran pribadi, bukan karena pengaruh eksternal [12].

Di sisi lain, meskipun belum banyak dirumuskan dalam teori khusus, konsep kemanjaan dalam konteks pendidikan dapat dipahami sebagai bentuk ketergantungan siswa yang berlebihan terhadap dukungan eksternal, baik dari guru, sistem sekolah, atau orang tua. Hal ini sejalan dengan konsep learned helplessness atau overparenting, yang menjelaskan bahwa terlalu banyak intervensi justru melemahkan kemampuan anak untuk mengambil keputusan sendiri [19].

Dalam praktikya, Pendidikan Islam favorit seperti salah satu SMA Islam Favorit di Sidoarjo, target-target pembinaan seperti hafalan Juz 30, pembiasaan ibadah harian dan ketaatan terhadap disiplin sebenarnya dirancang untuk mendorong kemandirian spiritual dan pribadi siswa, namun pada saat yang sama bisa berisiko menimbulkan resistensi atau ketergantungan, terutama jika lembaga terlalu membantu siswa demi mengejar citra keberhasilan. Presentasi pencapaian terhadap target-target ini menunjukkan variasi keberhasilan yang signifikan antar siswa. Misalnya, hanya sekitar 60% siswa yang tuntas menghafal Juz 30 sesuai waktu yang ditetapkan, sedangkan 40% siswa yang belum tuntas, kemungkinan besar disebabkan karena adanya pola pembinaan yang terlalu suportif atau permisif dari pihak sekolah. Sementara itu, target pembacaan Al-Qur’an dengan tartil berhasil dicapai oleh 80% siswa, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan namun tetap memunculkan kelompok siswa yang belum memenuhi standar.

Pada saat yang sama, pihak sekolah juga menyadari bahwa penetapan target yang terlalu tinggi dan banyak dapat memicu tekanan berlebih bagi siswa, menimbulkan rasa takut, stres, dan bahkan resistensi terhadap proses pembelajaran. Orang tua calon siswa cenderung mempertimbangkan jika lembaga dinilai “terlalu ketat” atau “terlalu berat” dalam tuntutan pembinaan, maka bukan tidak mungkin hal tersebut akan berpengaruh pada menurunnya jumlah pendaftar siwa baru. Situasi inilah yang menempatkan sekolah Islam favorit pada posisi dilematis, di satu sisi ingin menjaga standar pembinaan untuk menumbuhkan kemandirian siswa, tetapi di sisi lain khawatir akan berdampak negatif pada kenyamanan siswa dan jumlah peminat baru. Hal ini menuntut bagaimana sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah Islam favorit berkontribusi terhadap pembentukan kemandirian siswa dan bagaimana intensitas dilema yang dihadapi sekolah Islam favorit dalam upaya menumbuhkan kemandirian siswa [20].

Manajemen kesiswaan yang efektif dalam lembaga pendidikan Islam juga dapat berkonstribusi signikan dalam membentuk karakter dan kemadirian siswa. Melalui pengelolaan peserta didik yang baik, lembaga pendidikan Islam dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan kemandirian siswa, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan di masa depan denga percaya diri dan tanggung jawab [21].

Muhammad Zein (2024) menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sangat berpengaruh terhadap kemandirian spiritual dan sosial siswa pada era modern ini, dimana siswa dihadapkan pada berbagai pengaruh eksternal dan internal, kemampuan mereka untuk mandiri secara spiritual dan sosial menjadi sangat krusial [22]. Prawidhy Khairunnisa (2023) menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara disiplin dan kemandirian belajar siswa. Artinya, ketuntasan dalam memenuhi syarat kelulusan sangat dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan pribadi, yang terbentuk melalui sistem pembinaan yang konsisten [18].

Penelitian ini melihat dari sisi yang lain bahwa kemandirian dan ketergantungan sebagai suatu spektrum yang berseberangan satu sama lain, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sistem pendidikan di SMA Islam favorit sidoarjo , khususnya melalui penetapan target-target pembinaan seperti hafalan Al-Qur’an, kedisiplinan ibadah, serta pembentukan akhlak dan karakter, dapat berkontribusi terhadap pembentukan kemandirian siswa. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji intensitas dilema yang dihadapi pihak sekolah favorit dalam menetapkan target-target tersebut, di mana di satu sisi lembaga ingin menanamkan kemandirian melalui standar pembinaan yang tinggi, namun di sisi lain khawatir akan munculnya tekanan berlebih pada siswa serta berkurangnya minat calon peserta didik akibat beban yang dianggap berat.

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMA Islam favorit Sidoarjo berdasarkan dua pertimbangan utama. Pertama, sekolah ini secara umum telah diken al sebagai salah satu sekolah Islam favorit di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya, ditandai oleh tingginya animo masyarakat untuk mendaftarkan putra-putri mereka ke sekolah ini, rekam jejak prestasi akademik, fasilitas pendidikan yang memadai, serta citra positif yang melekat di tengah masyarakat. Status tersebut menjadikan sekolah ini representatif untuk menggambarkan bagaimana sistem dan budaya pendidikan di sekolah Islam favorit berjalan. Kedua, Sekolah SMA Islam favorit Sidoarjo memiliki berbagai program pembinaan dengan target capaian tertentu, seperti hafalan Al-Qur'an, praktik ibadah, dan pembinaan akhlak. Setiap program memiliki indikator keberhasilan yang digunakan sebahgai pedoman menilai pencapaian siswa, menciptakan dinamika yang menarik untuk dianalisis, terutama mengenai bagaimana target-target tersebut dapat membantu membangun kemandirian siswa sekaligus menimbulkan dilema bagi lembaga saat harus menyeimbangkan antara tujuan pembinaan yang ideal dan kenyamanan psikologis siswa.

Dengan demikian diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan serta rekomendasi praktis untuk membantu lembaga pendidikan menemukan titik keseimbangan antara tuntutan pembinaan yang ideal dengan pendekatan yang humanis, agar pembentukan karakter tidak hanya menjadi target administratif, tetapi benar-benar membantu siswa tumbuh sebagai individu yang mandiri.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, pendekatan fenomenologi bertujuan untuk mengungkap makna esensial dari suatu fenomena sebagaimana yang dialami oleh individu secara langsung, bukan berdasarkan anggapan atau teori yang sudah mapan [23]. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman yang mendalam terhadap dinamika sistem pendidikan di sekolah Islam favorit, khususnya terkait dengan pembentukan kemandirian siswa dan dilema lembaga dalam menetapkan target-target pembinaan. Penelitian akan dilaksanakan di sekolah SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, dengan subjek penelitian meliputi siswa, guru, dan pihak manajemen sekolah. Pemilihan subjek dilakukan melalui teknik puposive sampling, yaitu memilih individu yang dianggap memiliki informasi relevan dengan topik penelitian [24].

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara mendalam untuk menggali pandangan dan pengalaman subjek terkait fenomena yang teliti, Observasi partisipatif untuk mengamati langsung aktivitas dan interaksi subjek dalam konteks alami mereka. Studi dokumentasi untuk menganalisis dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, yaitu dengan menyaring dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian kemudian penyajian data dengan menysusn data dalam bentuk narasi deskriptif tabel, atau diagram untuk memudahkan pemahaman dan menarik kesimpulan data untuk menemukan pola atau tema yang signifikan [25].

Untuk memastikan validitas data, penelitian ini akan menerapkan triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber atau metode pengumpulan data dan juga member checking untuk meminta konfirmasi dari subjek penelitian terkait interpretasi data yang telah dibuat [26].

III. Hasil dan pembahasan

A. Kontribusi Sistem Pendidikan Terhadap Pembetukan Kemandirian Siswa dalam Pembinaan Keislaman

Hasil wawancara dengan Guru dan Staf mengungkapkan bahwa sistem pendidikan di SMA Islam favorit sidoarjo dirancang dengan tujuan utama untuk menumbuhkan kemandirian siswa melalui pembinaan keislaman yang terintegrasi dengan kegiatan akademik. Program-program seperti pembiasaan shalat dhuha, shalat berjama’ah, tahsin/TBQ, hafalan Al-Qur’an, mentoring keislaman, serta pembinaan karakter melalui tata tertib harian dilakukakan konsisten dan terstruktur. Guru menegaskan bahwa model pembinaan ini membantu siswa belajar mengatur waktu, disiplin dalam beribadah dan belajar, serta memahami tanggung jawab pribadi dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil dari wawancara dengan siswa menunjukan bahwa sebagian besar siswa merasa ada perubahan dalam perilaku setelah mengikuti program pembinaan tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka menjadi lebih mandiri dalam menjalankan ibadah, lebih teratur dalam menyelesaikan tugas sekolah, serta lebih percaya diri dalam mengatasi tuntutan belajar dan pembinaan keagamaan. Bahkan bagi siswa yang sebelumnya kurang memiliki kebiasaan ibadah, bimbingan intensif dari guru membentuk pola perilaku baru yang lebih positif dan mandiri.

Kontribusi sistem pendidikan semacam ini sejalan dengan penelitian Syami’ah dkk (2023) menjelaskan bahwa manajemen budaya sekolah yang terintegrasi dengan nilai keislaman terbukti meningkatkan karakter dan kemandirian siswa [27]. Penelitian lain menegaskan bahwa pembiasaan ibadah dalam rutinitas sekolah meningkatkan kemampuan regulasi diri, kedisiplinan serta pembentukan karakter mandiri pada siswa [28]. Dengan demikian, konstribusi sistem pendidikan berbasis keislaman tidak hanya tampak dalam bentuk aturan atau kegiatan formal, tetapi melalui proses internalisasi nilai yang berlangsung secara berkelanjutan.

Selain temuan tersebut, lingkungan sekolah yang berbasis nilai keislaman turut berperan dalam memperkuat kemandirian Siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan utama yang memperlihatkan konsistensi ibadah dan akhlak dalam interaksi sehari-hari, sehingga siswa belajar tidak hanya melalui instruksi tetapi juga melalui pengamatan sehari-hari. Pola pembiasaan ini sesuai dengan konsep modelling dalam teori belajar sosial, bahwa perilaku kemandirian terbentuk melalui interaksi yang intens antara Siswa dan Guru sebagai figur signifikan Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa pembiasaa ibadah dan penguatan nilai akhlak di sekolah berdampak positif pada pengembangan regulasi diri dan kontrol emosional siswa, terutama di sekolah Islam yang memiliki agenda pembinaan intensif [29].

Namun, hasil observasi lapangan menunjukan bahwa pelaksanaan pembiasaan keislaman tidak selalu berjalan secara sempurna untuk semua siswa. Misalnya, dalam kegiatan shalat dhuha, tidak semua siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Beberapa siswa terlihat berada di luar area masjid saat sholat berlangsung, sementara itu, mekanisme pengabsenan dilakukan pada saat do’a bersama setelah sholat berjama’ah. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi sebagian siswa untuk tidak terlibat sepenuhnya dalam kegiatan pembiasaan ibadah. temuan serupa juga terlihat pada kegiatan tahfidz Al-Qur’an, meskipun program tahfidz telah dijadwalkan secara rutin, dalam praktiknya masih terdapat siswa yang belum mencapai target hafalan yang ditetapkan, bahkan sebagian siswa memilih meninggalkan kelas saat kegiatan berlangsung.

Fenomena tersebut tidak secara langsung dapat dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap pembinaan keislaman, melainkan sebagai gejala penghindaran pasif dalam proses internalisasi nilai. Siswa tidak secara terbuka menolak kegiatan pembiasaan, tetapi memilih menjauh atau tidak terlibat penuh ketika terdapat celah pengawasan.

Dalam perpektif perkembangan remaja, perilaku semacam ini juga dapat dipahami sebagai perilaku coba-coba, yakni upaya menguji batasan aturan dan respons lingkungan sekolah. Ketika tindakan tersebut tidak mendapatkan teguran atau konsekuensi langsung, perilaku penghindaran cenderung berulang dan dianggap sebagai hal yang wajar oleh siswa.

Kondisi tersebut tidak menghilangkan peran sistem pendidikan terhadap pembentukan kemandirian siswa, melainkan menunjukan bahwa peran tersebut bersifat kontekstual dan terus berubah. Keberhasilan dalam pembinaan tidak hanya ditentukan oleh rancangan program, tetapi juga oleh konsistensi dalam pelaksanaannya, pengawasan di lapangan, serta hubungan sehari-hari antara guru dan siswa. Dengan demikian, sistem pendidikan berbasis keislaman di SMA Islam favorit Sidoarjo memberikan kontribusi dalam membentuk kemandirian siswa, meskipun dalam penerapannya masih menghadapi tantangan untuk memastikan semua siswa terlibat secara merata.

B. Diskrepansi Idealisme Pembinaan dan Kesiapan Siswa dalam Proses Internalisasi Nilai Keislaman

Hasil penelitian menunjukan adanya ketidaksesuaian antara idealisme pembinaan keislaman yang ditetapkan sekolah dengan kesiapan siswa yang beragam. Sekolah sebagai lembaga pendidikan Islam favorit memiliki visi kuat untuk membentuk siswa yang mandiri secara spritual melalui target-target pembinaan yang terukur seperti hafalan Al-Qur’an, kedisiplinan dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah, serta integrasi perilaku religius dalam rutinitas sehari-hari. Namun dalam praktiknya, tidak semua siswa berada pada titik kesiapan yang sama untuk memenuhi target tersebut.

Guru mengungkapkan bahwa perbedaan latar belakang religius siswa memiliki faktor utama munculnya diskrepansi tersebut, Sebagian siswa berasal dari keluarga dengan budaya ibadah yang kuat, anak inklusi, siswa mu’allaf, atau siswa yang sebelumnya menempuh pendidikan di lingkungan non religius, masih berada pada tahap adaptasi awal terhadap budaya keislaman sekolah. Kondisi ini menyebabkan capaian pembinaan tidak berjalan seragam dan menuntut sekolah untuk melakukan penyesuaian dalam implementasi program.

Temuan observasi lapangan memperkuat kondisi tersebut. Dalam kegiatan pembiasaan shalat dhuha, misalnya, tidak seluruh siswa mengikuti kegiatan secara konsisten. Ketidakkosintenan tersebut terlihat dari pola kehadiran siswa yang fluktuatif, dimana beberapa siswa tidak mengikuti kegiatan secara utuh sejak awal hingga akhir, beberapa siswa terlihat berada diluar masjid tidak mengikuti sholat dhuha dan kembali ke masjid setelah selesai sholat untuk membaca do’a setelah sholat dan absen. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun target pembinaan telah ditetapkan secara jelas, penginternalisasian nilai kedisiplinan ibadah belum sepenuhnya terinternalisasi secara merata pada seluruh siswa.

Kondisi serupa juga ditemukan pada kegiatan tahfidz Al-Qur’an. Pada waktu yang telah dijadwalkan untuk kegaiatan hafalan, masih terhadap siswa yang belum mencapai target hafalan, bahkan sebagian siswa memilih keluar dari kelas ketika kegiatan berlangsung. Fenomena ini tidak secara langsung mencerminkan penolakan terhadap program pembinaan, melainkan menunjukan adanya kesenjangan antara tuntutan ideal pembinaan dengan kesiapan psikologis, motivasi, dan kedisiplinan siswa dalam mengikuti proses yang bersifat rutin dan berjangka panjang.

Hasil wawancara dengan siswa menunjukan bahwa beberapa siswa merasakan tekanan ketika harus menyeimbangkan tuntutan pembinaan keislaman dengan beban akademik yang cukup padat. Target pembinaan yang dianggap sempurna oleh sekolah, menurut sebagaian siswa, terasa berat karena belum sepenuhnya sesuai dengan kesiapan psikologis dan kemampuan pribadi mereka. Kesiapan psikologis siswa terlihat dari kondisi siswa yang masih belajar beradaptasi dengan budaya religius sekolah, kesulitan dalam menjaga konsistensi mengikuti pembinaan, serta munculnya rasa tertekan saat harus mencapai target pembinaan sambil mengadapi tugas akademik yang berat.

Di sisi lain, kemampuan personal siswa yang beragam, baik dalam pengelolaan waktu, konsentrasi, maupun komitmen ibadah, menyebabkan capaian pembinaan tidak berjalan seragam. Situasi ini memperlihatkan bahwa proses internalisasi nilai keislaman tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas program pembinaan, tetapi juga oleh kondisi psikologis, emosional, dan sosial siswa sebagai subjek pendidikan.

Guru juga membenarkan bahwa kondisi tersebut menempatkan lembaga pada posisis dilematis. Di satu sisi, sekolah berkepentingan menjaga standar pembinaan sebagai identitas dan keunggulan instituasional. Di sisi lain, penerapan standar yang terlalu kaku berpotensi menimbulkan resistensi siswa, kelelahan psikologis, bahkan penurunan motivasi dalam mengikuti pembinaan. Dilema ini semakin kompleks karena sekolah favorit juga menghadapi ekspetasi masyarakat yang tinggi, baik dalam aspek prestasi akademik maupun pembinaan keislaman, serta pertimbangan keberlanjutan lembaga yang berkaitan dengan minat calon peserta didik pada spmb tahun berikutnya.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Muttaqin (2023) menjelaskan bahwa lembaga pendidikan Islam sering menghadapi ketidaksinkronan antara visi pembinaan ideal dan karakter awal siswa, sehingga proses internalisasi nilai tidak dapat dilakukan secara seragam dan membutuhkan pendekatan adaptif [30]. Penelitian lain juga menegaskan bahwa keberhasilan internalisasi nilai keislama sangat bergantung pada kesiapan psikologis siswa, bukan semata pada idealisme kurikulum atau intensitas program pembinaan yang diterapkan [31].

Perbedaan antara tujuan pembinaan dan kemampuan siswa menunjukan bahwa pembinaan keislaman di sekolah tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama untuk semua siswa. Sebaliknya, pembinaan ini adalah proses yang terus berubah, di mana nilai- nilai yang diajarkan perlu dinegosiasikan antara sekolah dan siswa. Sekolah tidak hanya fokus pada capaian target, tetapi juga pada proses bimbingan yang memperhatikan perkembangan psikologis dan sosial siswa.

Oleh karena itu, dilema yang dihadapi sekolah bukan hanya persoalan cara pelaksanaan program, tetapi dilema institusional yaitu sekolah tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman secara ideal tanpa mengabaikan prinsip pendidikan yang humanis. Dalam konteks sekolah Islam favorit, dilema ini juga berkaitan dengan kemampuan lembaga untuk terus menarik minat calon siswa, sehingga standar pembinaan tidak selalu bisa diterapkan secara kaku.

Kondisi ini menyebabkan adanya kelonggaran pengawasan terhadap beberapa kegiatan pembiasaan, yang secara tidak langsung memberi kesempatan bagi siswa untuk tidak ikut berpartisipasi secara penuh. Temuan ini mempertegas bahwa keberhasilan pembinaan keislaman tidak hanya ditentukan oleh penetapan standar pembinaan, tetapi juga oleh kemampuan lembaga menyeimbangkan idealisme nilai, realitas kesiapan siswa, serta dinamika institusional yang dihadapi.

C. Pendekatan Moderatif Lembaga d alam Menyelaraskan Target Pembinaan Keislaman d engan Kebutuhan Siswa

Hasil penelitian menunjukan bahwa di SMA Islam favorit Sidoarjo ini tidak hanya berhadapan dengan ketidaksesuaian antara idealisme pembinaan dan kesiapan siswa, tetapi juga merespons ketidaksesuaian tersebut dengan menerapkan berbagai pendekatan. Pendekatan-pendekatan ini disusun sesuai kebutuhan untuk menjaga konsistensi nilai keislaman yang menjadi identitas sekolah, sekaligus mempertimbangkan keberagaman latar belakang, kemampuan, dan kondisi psikologis siswa di lapangan. Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan penelitian yang menjelaskan bahwa lembaga pendidikan Islam perlu menyesuaikan budaya sekolahnya dengan karakter siswa agar pembinaan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan[27]. Strategi ini juga dapat menjadi instrumen penting untuk menjebatani antara visi ideal lembaga dan realitas perkembangan siswa.

Dari hasil wawancara, Guru menyampaikan bahwa langkah pertama adalah pendekatan pembinaan berbasis diferensiasi. Sekolah tidak memberlakukan target pembinaan yang sama untuk seluruh siswa, terutama bagi siswa dengan kemampuan dasar keagamaan yang lebih rendah, siswa mu’allaf, atau siswa dengan karakteristik tertentu, Program TBQ (Tahsin Baca Qur’an) disesuaikan menjadi beberapa tingkatan sehingga setiap siswa dapat belajar dengan pola yang sesuai kemampuan masing-masing.

Pendekatan diferensiasi ini tidak hanya mempermudah siswa dalam mencapai target pembinaan tetapi juga terbukti membantu siswa membangun kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan membaca Al-Qur’an, dan meminimalisir rasa tertekan ketika harus memenuhi target pembinaan yang lebih tinggi. Strategi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan pembinaan keislaman tidak selalu ditentukan oleh kecepatan pencapaian target, melainkan oleh proses internalisasi nilai secara bertahap dan berkelanjutan. Pendekatan diferensiasi ini juga sejalan dengan penelitian Resi (2024) bahwa sekolah Islam perlu menerapkan strategi adaptif yang fleksibel agar pembinaan berjalan efektif bagi siswa yang memiliki latar belakang kemampuan yang berbeda [32].

Pendekatan berikutnya yaitu pembinaan personal melalui mentoring dan konseling, terutama bagi siswa yang kesulitan dalam menjalankan rutinitas ibadah maupun penyesuaian diri terhadap budaya sekolah. Guru menyampaikan bahwa banyak siswa menjadi lebih stabil, termotivasi, dan mampu mencapai target pembinaan ketika pendekatan persoanal dilakukan secara konsisten. Pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek religius, tetapi juga efektif dan emosional siswa yang terbukti lebih efektif dibandingkan metode pembinaan seragam. Beberapa siswa menyampaikan bahwa mereka menjadi lebih nyaman menjalankan pembinaan ketika Guru memahami latar belakang dan kondidsi mereka. Temuan ini diperkuat dengan hasil observasi lapangan, menunjukan bahwa siswa yang mendapat pendampingan lebih intens, perubahan tersebut tampak pada kehadiran siswa dalam kegiatan ibadah, berkurangnya perilaku meninggalkan kelas saat jam tahfidz dan munculnya inisiatif siswa untuk tetap hadir dan mengikuti kegiatan meskipun capaian hafalan belum optimal. Peneliti lain juga menegaskan bahwa efektivitas pembinaan keislaman di sekolah sangat bergantung pada kapasitas Guru dalam menerapkan pendekatan personal, empatik, dan berkelanjutan [33].

Selain pendekatan diferensiasi dan pendampingan personal yang bersifat pedagogis, hasil observasi lapangan juga menemukan adanya praktik penyesuaian non formal dalam implementasi pembinaan yang muncul di tingkat pelaksana. Praktik ini tidak berasal dari kebijakan resmi sekolah, melainkan merupakan inisiatif individual sebagai respons atas keterbatasan kemampuan sebagian siswa dalam memenuhi target pembinaan, khususnya pada program hafalan Al-Qur’an.

Kondisi tersebut menunjukan adanya kelonggaran implementasi yang secara normatif tidak sepenuhnya sejalan dengan aturan pembinaan yang telah ditetapkan lembaga. Praktik ini mencerminkan posisi dilematis pelaksana pembinaan ketika dihadapkan pada tuntutan pencapaian target ideal di satu sisi dan realitas kemampuan siswa di sisi lain. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan praktik tersebut, tetapi untuk menegaskan bahwa diskrepansi antara idealisme pembinaan dan kesiapan siswa dapat melahirkan deviasi implementatif di lapangan, sehingga memerlukan penguatan kebijakan dan pendampingan kelembagaan agar tujuan pembinaan keislaman tetap terjaga.

Sekolah juga menerapkan pendekatan lain yaitu dengan memperkuat kerjasama antara Guru, Wali Kelas, bimbingan konseling, dan Orang tua dalam mengatasi masalah pembinaan yang lebih kompleks. Guru menjelaskan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh struktur sekolah, tetapi juga oleh kerja sama yang baik antara lingkungan sekolah, keluarga, dan komunitas siswa. Dengan melibatkan orang tua dalam diskusi soal perkembangan ibadah, kedisiplinan, dan keseharian siswa maka proses pembinaan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Hasil wawancara dengan siswa juga menyebutkan bahwa dukungan keluarga ikut memperkuat motivasi mereka dalam mengikuti pembinaan keislaman disekolah. Ketika nilai-nilai yang ditanamkan disekolah sejalan dengan pola pembinaan dirumah, siswa cenderung lebih konsisten dan bertanggung jawab dalam menjalankan ibadah serta aturan sekolah. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang menyatakan bahwa pembinaan karakter berbasis nilai Islami hanya dapat berjalan optimal apabila sekolah, Guru, dan Orang tua menjalankan peran kolaboratif yang saling mendukung [34].

Pedekatan pengelolaan yang ditetapkan sekolah menunjukan bahwa lembaga tidak bersikap kaku dalam menghadapi diskrepansi antara target pembinaan dan kesiapan siswa. Sebaliknya, sekolah berupaya menempatkan pembinaan keislaman sebagai proses pedagogis yang fleksibel, humanis dan responsif terhadap dinamika siswa. Pendekanatan ini menjadi upaya nyata lembaga dalam menjaga idealisme nilai keislaman sekaligus memastikan pembinaan dapat diterima dan dijalankan oleh siswa.

Sebagai refleksi atas dilema institusional yang dihadapi sekolah, temuan penelitian ini menujukkan bahwa fenomena yang muncul tidak sepenuhnya mengarah pada kemandirian maupun kemanjaan secara ekstrem, melainkan berada pada spektrum yang beririsan. Di satu sisi, sebagian siswa menunjukkan perkembagan kemandirian spritual dan kedisiplinan, terutama pada siswa yang mampu menyesuaikan diri dengan ritme pembinaan dan mendapatkan dukungan pembinaan yang memadai. Namun, disisi lain, terdapat kecenderungan munculnya perilaku ketergantungan pada sistem kelonggaran, pembinaan intensif, dan toleransi tertentu dalam pelaksanaan pembinaan.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada sebagian siswa, pembinaan belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai kesadaran personal, tetapi masih dipahami sebagai kewajiban yang bergantung pada kontrol dan kebijakan lembaga. Dengan demikian, Fenomena yang paling dominan bukanlah kemtergantungan dalam arti permisif, melainkan kemandirian yang masih bersifat bertahap dan situasional, yang terus dinegosiasikan oleh lembaga melalui pendekatan moderatif agar pembinaan tetap berjalan tanpa menimbulkan resistensi, kelelahan psikologis, maupun penurunan minat terhadap sekolah.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, sistem pendidikan berbasis keislaman di SMA Islam favorit Sidoarjo memberikan konstribusi dalam bentuk kemandirian siswa, khususnya dalam aspek spritual, kedisiplinan. Program pembiasaan ibadah, membaca Al-Qur’an, hafalan Al-Qur’an, serta pembinaan karakter yang terintegrasi dalam rutinitas sekolah mendorong sebagian besar untuk lebih mandiri dalam menjalankan ibadah. Namun, demikian, hasil observasi lapangan menunjukan bahwa pengaruh tersebut tidak berlangsung secara merata. Pada beberapa kegiatan pembiasaan, masih ditemukan siswa yang tidak mengikuti kegiatan secara penuh, menunjukan partisipasi yang fluktuatif, serta adanya toleransi atau kelonggaran pengawasan pada situasi tertentu. Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun sistem pendiidkan berpengaruh terhadap pembentukan kemandirian siswa, implementasinya di lapangan masih menghadapi tantangan dalam memastikan keterlibatan dan internalisasi nilai keislaman secara konsisten pada seluruh siswa.

Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan antara tujuan target dalam pembinaan keislaman yang ditetapkan sekolah dengan tingkat kesiapan siswa yang beragam. Perbedaan latar belakang keagamaan, dan tuntutan akademik membuat tidak semua siswa mampu merespons target pembinaan dengan baik. Dalam situasi ini, menghadapi dilema antara mempertahankan standar pembinaan sebagai identitas lembaga dan menyesuaikannya dengan kondisi nyata siswa. Dampak dari dilema tersebut memunculkan fenomena yang beririsan antara kemandirian dan ketergantungan, di mana sebagaian siswa telah menunjukkan kemandirian yang berkembang, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan kontrol, pendampingan, dan toleransi tertentu dalam menjalankan pembinaan. Sebagai respon terhadap kondisi tersebut, sekolah menerapkan berbagai pendekatan untuk menyelaskan target pembinaan keislaman dengan kebutuhan siswa. Seperti pembinaan berbasis diferensiasi, pendampingan personal melalui mentoring dan konseling, serta penguatan kolaborasi antara guru, wali kelas, BK, dan orang tua

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, dan masukan yang diberikan selama proses penelitian dan penyusunan jurnal ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pihak sekolah, guru, dan siswa yang telah bersedia menjadi partisipan penelitian. Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua serta teman-teman yang telah memberikan dukungan, do’a, dan motivasi selama proses penyelesaian penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembang kajian pendidikan Islam.

References

R. F. Bambang Suwardi Joko, C. D. Fajarini, R. Astuti, and R. Fransisca, Persepsi Masyarakat terhadap Sekolah yang Dianggap Favorit, vol. 11, no. 1, 2020.

B. S. Joko, C. D. Fajarini, and R. Astuti, “Persepsi Masyarakat terhadap Sekolah Favorit,” Risalah Kebijakan, p. 32, 2020. [Online]. Available: http://puslitjakdikbud.kemendikbud.go.id

Bela and B. Haryanto, “Sistem Zonasi dan Sekolah Favorit (Pergeseran Profil Sekolah Favorit Pasca Sistem Zonasi),” Jurnal PAI Raden Fatah, vol. 6, no. 2, pp. 622–633, 2024.

M. N. Khasbulloh, “Preferensi Masyarakat dalam Pemilihan Lembaga Pendidikan Islam: Studi pada SD NU Insan Cendekia Kediri,” JoIEM (Journal of Islamic Education Management), vol. 1, no. 2, pp. 51–66, 2022, doi: 10.30762/joiem.v1i2.99.

A. Putu, R. Dewi, N. Suharsono, and M. A. Meitriana, “Persepsi Warga Sekolah dan Orang Tua Siswa terhadap Sistem Zonasi,” Jurnal Pendidikan Ekonomi, vol. 11, no. 2, pp. 552–561, 2019.

A. Binsa, “Fenomena Pemilihan Sekolah Dasar Islami dalam Perspektif Minat Masyarakat Ngawi,” vol. 2, no. 2, pp. 161–171, 2024.

Mareta, I. Ayuningtyas, D. Rosa, and N. W. I. Islamiah, “Analisis Kebijakan Zonasi: Terampasnya Hak Sekolah dan Siswa dalam Pendidikan,” Jurnal Pendidikan, vol. 30, no. 2, p. 235, 2021, doi: 10.32585/jp.v30i2.1522.

F. Sidik, “Pelaksanaan Kebijakan Zonasi Sekolah dan Dampaknya terhadap Kualitas Sekolah pada Jenjang Sekolah Menengah Pertama: Studi Kasus di Kabupaten Sleman Yogyakarta,” Humanika, vol. 24, no. 1, pp. 47–56, 2024, doi: 10.21831/hum.v24i1.68551.

R. T. Widyastuti, “Dampak Pemberlakuan Sistem Zonasi terhadap Mutu Sekolah dan Peserta Didik,” Edusaintek: Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi, vol. 7, no. 1, pp. 11–19, 2020, doi: 10.47668/edusaintek.v7i1.46.

R. Werdiningsih, “Kebijakan Sistem Zonasi dalam Perspektif Masyarakat Pendidikan,” Public Service and Governance Journal, vol. 1, no. 2, p. 181, 2020, doi: 10.56444/psgj.v1i02.1562.

Y. Asmara, M. Muazza, and K. Waldo, “Value Capture pada Sekolah Swasta Berbasis Islam Terpadu,” Jurnal Perspektif Pendidikan, vol. 18, no. 2, pp. 178–184, 2024, doi: 10.31540/jpp.v18i2.3307.

E. Herawati, “Konsep Pendidikan Islam dalam Menumbuhkan Kemandirian Siswa Sekolah Dasar Negeri 38 Bengkulu Selatan,” Jurnal Pendidikan Islam Al-Affan, vol. 4, no. 1, pp. 106–116, 2023, doi: 10.69775/jpia.v4i1.160.

R. Erna Wijayanti, “Manajemen Strategi Membangun Citra Sekolah Menengah Kejuruan Favorit,” Jurnal Manajemen dan Ekonomi, vol. 1, no. 2, pp. 118–135, 2023.

S. Nurhamidah and K. Nurachadijat, “Project Based Learning dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa,” Jurnal Inovasi, Evaluasi dan Pengembangan Pembelajaran, vol. 3, no. 2, pp. 42–50, 2023, doi: 10.54371/jiepp.v3i2.272.

Y. Nailufar, S. M. Marmoah, and H. H. Hadiyah, “Analisis Kemandirian Belajar Siswa dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 di Sekolah Dasar,” Didaktika Dwija Indria, vol. 9, no. 1, pp. 93–97, 2022, doi: 10.20961/ddi.v9i1.49864.

M. Mulyadi and A. Syahid, “Faktor Pembentuk dari Kemandirian Belajar Siswa,” Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 197–214, 2020, doi: 10.46963/alliqo.v5i02.246.

E. Rerung, “Peran Orang Tua dalam Menciptakan Kepercayaan Diri Anak Usia 18 Tahun Menggunakan Teori Psikososial Erik Erikson,” Harati: Jurnal Pendidikan Kristen, vol. 3, no. 1, pp. 45–60, 2023, doi: 10.54170/harati.v3i1.123.

P. Khairunnisa, S. Hardjo, and M. A. Parinduri, “Hubungan Disiplin dan Tanggung Jawab dengan Kemandirian Belajar Siswa di Sekolah SMA Swasta An-Nizam Medan,” JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 3, pp. 2083–2091, 2023, doi: 10.54371/jiip.v6i3.1511.

D. Cobos-Sanchiz, M. J. Perea-Rodriguez, J. A. Morón-Marchena, and M. C. Muñoz-Díaz, “Positive Adult Education, Learned Helplessness and the Pygmalion Effect,” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 19, no. 2, 2022, doi: 10.3390/ijerph19020778.

Adelia and O. Mitra, “Permasalahan Pendidikan Islam di Lembaga Pendidikan Madrasah,” Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, vol. 21, no. 1, pp. 32–45, 2021, doi: 10.32939/islamika.v21i01.832.

S. Al Syaifullah, N. Ulfah Nasution, and N. Sofiah Sinaga, “Relevansi Manajemen Kesiswaan Guna Menopang Kelembagaan Pendidikan Islam,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 2, no. 8, pp. 1420–1428, 2021, doi: 10.59141/japendi.v2i08.254.

M. Zein, “Pengaruh Pendidikan Islam terhadap Kemandirian Spiritual dan Sosial Siswa di Madrasah,” vol. 2, no. 2, pp. 168–177, 2024.

R. Suhartini, Penelitian Kualitatif Pendekatan Phenomenologi dan Makna Pengaturan Sosial, 2021. [Online]. Available: http://repository.uinsa.ac.id/id/eprint/2691

Z. Saleh, “Metode Penelitian,” Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, vol. 1, pp. 9–25, 2021. [Online]. Available: http://repository.iainpare.ac.id/2732/

L. Pebriati, “Analisis Deskriptif tentang Minat Belajar Siswa,” pp. 1–23, 2019.

S. Hanyfah, G. R. Fernandes, and I. Budiarso, “Penerapan Metode Kualitatif Deskriptif untuk Aplikasi Pengolahan Data Pelanggan pada Car Wash,” Semnas Ristek (Seminar Nasional Riset dan Inovasi Teknologi), vol. 6, no. 1, pp. 339–344, 2022, doi: 10.30998/semnasristek.v6i1.5697.

M. R. S. A. Syam’iyah and M. R. S. Agil, “Management of School Culture Change in Islamic Education and Its Impact on Madrasah Tsanawiyah Administrative Performance in Ciparay Bandung,” SYAMIL: Journal of Islamic Education, vol. 11, no. 2, pp. 261–274, 2023, doi: 10.21093/sy.v11i2.9247.

L. D. H. Laila, U. Qoyyimah, M. Solichin, M. Mukhlisin, and D. Hakim, “Manajemen Program Pendidikan Karakter Siswa Berbasis Islamic Boarding School,” At-Tazakki: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam dan Humaniora, vol. 8, no. 2, 2024.

L. Nurlaela, E. I. Musliha, and K. A. A. Saputra, “Strategi Manajemen Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Nilai Agama dan Moral di Era Digital,” Jurnal Madinasika: Manajemen Pendidikan dan Keguruan, vol. 6, no. 1, pp. 8–20, 2024, doi: 10.31949/madinasika.v6i1.11533.

I. Muttaqin, “Institutional Adaptation of Islamic Boarding Schools in Indonesia: Balancing Tradition and Modern Education,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 9, no. 3, pp. 1016–1029, 2025, doi: 10.33650/al-tanzim.v9i3.11585.

P. Sari, S. Citra, and A. Aprina, “The Role of Islamic Cleric Leadership in Improving the Quality of Traditional Islamic School Education,” Dinamika: Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 9, no. 2, pp. 1–13, 2024, doi: 10.32764/dinamika.v9i2.5052.

R. Dazia and N. Wardatushobariah, “Strategi Adaptif Sekolah Menengah Pertama Islam Menghadapi Disrupsi Sosial dan Teknologi,” Tanzhimuna: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 136–145, 2024, doi: 10.54213/tanzhimuna.v4i2.629.

R. Azis and A. Mudlofir, “Strategi Lembaga Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Hard Skill Guru PAI melalui Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran,” vol. 23, no. 2, pp. 81–99, 2025.

M. A. Akbar, M. Sularno, and F. M. A. Akbar, “Strategi Manajemen Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Siswa Berbasis Akhlak Islam,” Ar Rasyiid: Journal of Islamic Studies, vol. 3, no. 1, pp. 39–48, 2025, doi: 10.70367/arrasyiid.v3i1.27.