Moh. Rizal Oktadiono (1), Ida Rindaningsih (2)
General Background: Entrepreneurship education is important for developing students’ practical skills, character, and readiness for future challenges. Specific Background: SMP Al-Islam Krian implements entrepreneurship education through an independent local content subject designed around differentiated learning and practical experience. Knowledge Gap: Practical implementation remains constrained by parental academic orientations, teacher competencies, and technical facilities. Aims: This study analyzes strategies and challenges in implementing entrepreneurship education at SMP Al-Islam Krian. Results: A descriptive qualitative study found that students are divided into five business groups based on psychological testing, while learning emphasizes Project-Based Learning (PjBL) through 70% practice and 30% theory. The program also integrates Islamic business ethics and external practitioner collaboration. Novelty: The program combines differentiated practical learning with Islamic entrepreneurial values. Implications: Sustainable implementation requires parental participation, continuous teacher development, practitioner partnerships, and optimal use of available facilities.
Key Findings Highlights
Differentiated learning organizes students into five business groups.
Project-based learning prioritizes 70% practical activities and 30% theory.
Islamic ethics guide entrepreneurial activities through honesty and responsibility.
Keywords : Entrepreneurship Education, Project-Based Learning, Differentiated Learning, Islamic Business Ethics, Teacher Professional Development
Dunia saat ini berada di era disrupsi dengan perubahan pesat yang terjadi di bidang teknologi, ekonomi, dan sosial. Revolusi Industri 4.0 dan fenomena *VUCA* (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) telah menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel namun penuh ketidakpastian [1]. Sistem pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang cukup sulit dalam mempersiapkan generasi muda untuk memiliki keterampilan yang relevan. Keterampilan ini tidak hanya dibutuhkan untuk melamar pekerjaan, namun juga untuk menghasilkan lapangan pekerjaan itu sendiri. Dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang, program kewirausahaan menjadi solusi yang nyata dan strategis. Program ini diyakini dapat membekali peserta didik dengan pola pikir dan keterampilan yang dapat mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan abad ke-21 ini [2]. Di era globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, keterampilan kewirausahaan telah menjadi sebuah keterampilan esensial yang harus dimiliki oleh generasi muda. Keterampilan kewirausahaan ini dapat ditumbuhkan melalui pendidikan dan praktik, sehingga dapat membantu mempersiapkan generasi muda bangsa untuk lebih mandiri dan inovatif dalam memecahkan permasalahan ekonomi di masa mendatang [3]. Kewirausahaan tidak hanya memiliki peran sebagai pencipta lapangan pekerjaan, namun juga melahirkan individu-individu yang inovatif, kreatif dan mandiri. Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berpengetahuan luas secara teori, namun juga keterampilan yang inovatif, kreatif dan dapat memecahkan masalah secara mandiri. Oleh sebab itu, pendidikan kewirausahaan perlu diintegrasikan dengan kurikulum sekolah sebagai strategi agar peserta didik siap menghadapi tantangan di era digital [4].
Adapun aspek krusial saat ini yang dirasa kurang mendapatkan perhatian dalam kurikulum nasional adalah keterampilan kewirausahaan. Faktanya, dunia kerja saat ini tidak hanya menuntut lulusan yang berpengetahuan secara teori, namun juga yang memiliki keterampilan praktis yang kreatif dan inisiatif dalam menghadapi kompleksitas ekonomi [5]. Implementasi pendidikan kewirausahaan di tingkat sekolah dasar dan menengah bukan sekadar tren, namun bentuk upaya mendasar untuk mempersiapkan generasi yang tangguh dalam menghadapi masa transformasi. Implementasi pendidikan kewirausahaan ini juga menjadi langkah krusial untuk generasi saat ini dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 [6]. Pendidikan kewirausahaan di sekolah tidak semata mengajarkan peserta didik untuk berdagang, namun juga bagian dari investasi strategis untuk memperkuat karakter, keterampilan dan pola pikir yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2022 yang memberikan pedoman pada kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah, dan Pemangku Kepentingan dalam pelaksanaan pengembangan kewirausahaan nasional [7]. Pemerintah Indonesia mendorong penggabungan pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum formal mulai dari tingkat dasar hingga menengah sebagai strategi menanamkan semangat kewirausahaan sejak dini. Namun, nyatanya penerapan program ini masih terkendala oleh keterbatasan model pembelajaran yang kontekstual, kurangnya partisipasi industri dan penerapan integrasi nilai-nilai kewirausahaan dalam proses pembelajaran yang belum optimal [8].
Penelitian terdahulu menyatakan bahwasanya pendidikan kewirausahaan dapat dimplementasikan di berbagai macam jenjang pendidikan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini sudah mengimplementasikan model experiental learning dalam pendidikan kewirausahaan. Model ini menerapkan lima tahapan dalam alur pembelajarannya, antara lain pengenalan peluang usaha, penelusuran dan pengamatan secara reflektif, pengalaman yang inspiratif, perumusan konsep abstrak, dan latihan simulasi. Faktanya, experiental learning berhasil diterapkan oleh guru dengan dibuktikan respon peserta didik yang sangat positif dan antusias dalam pembelajaran. Selain itu, experiental learning juga berhasil mengembangkan minat (niat) dan pengetahuan peserta didik [9].
Pada pendidikan tingkat menengah atas telah dikembangkan model pembelajaran berbasis proyek kepramukaan sebagai bagian dari pembelajaran ekonomi. Implementasi pembelajaran kewirausahaan telah diterapkan secara aktif dan menunjukkan rasa percaya diri dalam berwirausaha pada diri peserta didik di salah satu sekolah daerah Sulawesi Selatan. Selain itu, hasil dari implementasi pendidikan ini, peserta didik memiliki pemikiran kritis, mampu merancang ide, serta memiliki kreativitas dan inovasi tinggi yang disertai dengan kemampuan kolaborasi selama proses pembelajaran dan kegiatan gelar karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) [10]. Pendidikan kewirausahaan ini juga dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah berbasis pesantren. Contohnya salah satu Madrasah Aliyah berbasis pesantren di Jember telah menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan dapat diterapkan secara terstruktur dan baik serta diintegrasikan dengan nilai-nilai islami. Implementasi pendidikan kewirausahaan di sekolah tersebut dilakukan dalam dua model, yakni pembelajaran prakarya dan kegiatan ektrakurikuler kewirausahaan yang meliputi teknologi rekayasa, bisnis dan manajemen, tata boga, tata busana dan tata rias [11]. Sementara itu, peserta didik tingkat sekolah dasar dapat menerapkan pendidikan kewirausahaan seperti mengembangkan suatu produk melalui proyek STEAM dan menjualnya dalam kegiatan pasar hari atau bazar. Salah satunya sekolah dasar negeri di daerah Jawa Tengah memberikan kebebasan kepada para peserta didiknya untuk memilih produk yang akan dirancang dan dijual, sehingga kegiatan ini dapat mendukung peserta didik untuk selalu inovatif dan kreatif dalam membuat suatu produk. Melalui kegiatan ini, peserta didik dapat belajar menangani risiko, mencoba ide baru, dan siap menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya serta bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan usahanya bersama [12].
Meskipun pendidikan kewirausahaan dianggap sebagai elemen krusial dalam membangun karakter dan keterampilan abad ke-21, namun masih banyak ditemukan lembaga pendidikan di Indonesia yang belum menerapkannya secara optimal, baik dari segi praktik dan pengaplikasiannya [13]. Sebagian besar penerapannya di lembaga pendidikan masih terbatas pada teori. Dengan kata lain, hanya sekadar memperkenalkan konsep kewirausahaan tanpa melibatkan peserta didik untuk praktik langsung secara nyata [14]. Sebaliknya, sekolah yang telah menerapkan pendekatan for dan through entrepreneurship dapat memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan kewirausahaan seperti simulasi bisnis, proyek bisnis peserta didik, dan kerja sama dengan pelaku usaha [15]. Kesenjangan ini menggambarkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara sekolah yang hanya memberikan pemahaman teoretis dengan sekolah yang sudah menerapkan kewirausahaan sebagai bagian dari praktik pembelajaran yang kontinu [13]. Tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan pendidikan ini antara lain keterbatasan sumber daya manusia, terbatasnya pelatihan bagi guru, serta kurangnya dukungan kebijakan dan kemitraan yang memadai. Dengan demikian, penting untuk mendukung implementasi pendidikan kewirausahaan yang berbasis praktik langsung di sekolah. Pendidikan kewirausahaan apabila diterapkan secara efektif terbukti dapat mengembangkan kreativitas, inovasi dan rasa percaya diri peserta didik serta menjadikan peserta didik mampu memecahkan masalah dan siap menghadapi tantangan di masa mendatang [16].
Penelitian ini sangat penting dilakukan guna memperkaya informasi mengenai implementasi pendidikan kewirausahaan di Sekolah Menengah Pertama, khususnya di SMP Al-Islam Krian, sebuah lembaga pendidikan swasta yang terletak di Jl. Kyai Mojo No.18, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Sekolah ini telah mencoba membangun pendidikan karakter dan keterampilan abad ke-21 dengan menerapkan program pendidikan kewirausahaan sejak tahun 2024. Program ini tidak semata mengajarkan peserta didik keterampilan dasar kewirausahaan, namun juga memperkuat karakter peserta didik yang responsif, inovatif, mandiri, siap menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab. Peserta didik berpartisipasi aktif dalam aktivitas kewirausahaan, baik di dalam maupun di luar kelas dan melalui model pembelajaran ini dapat memberikan peserta didik pengalaman belajar yang nyata dan bermakna.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi dan tantangan dalam melaksanakan pendidikan kewirausahaan di SMP Al-Islam Krian. Fokus kajian pada penelitian ini adalah upaya sekolah dalam menerapkan pendidikan kewirausahaan yang meliputi langkah langkah perancangan, implementasi, dan evaluasi program tersebut. Di samping itu, terfokus pada analisis kendala yang dihadapi sekolah dalam mengimplementasikan program. Adapun tujuan lainnya dari penelitian ini yaitu mengetahui lebih dalam terkait guru pembina, peserta didik dan sistem sekolah dalam mengelola program kewirausahaan serta dalam lingkup luasnya, penelitian ini dapat berkontribusi nyata dalam pengembangan kewirausahaan yang terintegrasi dengan nilai-nilai lokal dan agama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan kewirausahaan untuk mendukung kebijakan pemerintah terutama dalam hal kemandirian finansial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menelaah lebih dalam terkait implementasi pendidikan kewirausahaan di di SMP Al-Islam Krian. Pendekatan kualitatif ini dapat mengungkap makna, proses, dan pengalaman yang kompleks secara nyata melalui telaah deskriptif dan interpretatif [17]. Teknik akumulasi data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, dan telaah dokumen, sehingga membuat peneliti mendapatkan deskripsi yang lengkap mengenai realitas di lapangan. Metode ini bertujuan menggali data lebih dalam untuk menganalisis dinamika penerapan pendidikan kewirausahaan dari segi guru, peserta didik bahkan manajemen sekolah [18].
Penelitian ini dilakukan di SMP Al-Islam Krian yang terletak di Jl. Kyai Mojo No.18, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Lokasi ini sengaja dipilih dengan pertimbangan bahwa sekolah ini telah menerapkan pendidikan kewirausahaan dan sesuai dengan fokus kajian penelitian ini. Program ini memberikan latar belakang yang cocok untuk ditelaah lebih dalam terkait strategi implementasi serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan. Subjek dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan tinjauan tertentu, meliputi keterlibatan langsung subjek dalam merancang dan melaksanakan pendidikan kewirausahaan kewirausahaan di sekolah [19]. Informan dalam penelitian ini di antaranya peserta didik yang ikut aktif dalam pendidikan kewirausahaan, guru pembina kewirausahaan, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta kepala sekolah sebagai penentu kebijakan.
Teknik akumulasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi [20]. Selain wawancara, juga dilakukan pengamatan non-partisipatif secara langsung dalam proses pembelajaran kewirausahaan. Teknik ini memungkinkan peneliti dapat mencatat kegiatan yang berlangsung secara objektif, sehingga dapat menjaga objektivitas dalam proses akumulasi data. Pengamatan difokuskan pada interaksi guru-peserta didik, dinamika pembelajaran, dan praktik kewirausahaan yang dilakukan oleh peserta didik [21]. Sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung untuk menunjang hasil wawancara dan pengamatan. Dokumen yang dianalisis meliputi kurikulum sekolah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), laporan kegiatan kewirausahaan, foto dan video kegiatan, brosur, produk karya peserta didik, dan dokumen sekolah lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan program [22].
Semua data ditelaah menggunakan langkah analisis kualitatif dengan pendekatan model interaktif. Menurut Miles dan Huberman, pendekatan model interaktif memiliki tiga tahapan utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi [23]. Untuk menjamin kevalidan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu membandingkan dan memverifikasi informasi yang didapatkan dari berbagai sumber dan teknik ini bertujuan memperkuat validitas hasil penelitian, data dan hasil analisis yang menyeluruh terkait implementasi nyata dari pendidikan kewirausahaan ini [24].
A.Implementasi Pendidikan Kewirausahaan: Antara Teori dan Praktik
Pendidikan kewirausahaan secara luas telah dianggap sebagai bagian krusial dari struktur pendidikan modern untuk membangun karakter dan keterampilan abad ke-21. Namun kenyataannya dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan ini masih mengalami kesenjangan yang nyata dalam praktiknya. Sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia masih terfokus pada pendekatan yang bersifat teoritis atau sekadar konsep kewirausahaan. Dalam kebanyakan kasus, memang kurikulum yang diterapkan saat ini seringkali terfokus pada teori, sehingga peserta didik sangat terbatas untuk mengekspresikan jiwa kewirausahaannya. Oleh karena itu, tidak heran jika pemaparan konsep lebih diprioritaskan daripada memberikan peluang peserta didik untuk praktik melalui proyek-proyek atau aktivitas lapangan secara langsung. Situasi ini membuat kewirausahaan harusnya menjadi keterampilan penting, kini hanya menjadi sebuah materi yang harus diingat. Akibatnya semangat kewirausahaan peserta didik menjadi menurun [25].
Penelitian lain mengatakan bahwa penerapan pendidikan kewirausahaan yang efektif bergantung pada penggunaan pendekatan untuk dan melalui kewirausahaan (for and through entrepreneurship) [26]. Sekolah yang menerapkan pendekatan ini dapat mengubah ruang kelas menjadi laboratorium bisnis, sehingga membuat peserta didik dapat berpartispasi langsung secara mandiri dalam simulasi bisnis, uji coba proyek bisnis mandiri, bahkan bekerja sama secara strategis dengan entitas luar. Kesenjangan pada pendekatan ini menunjukkan adanya perbedan yang besar antara lembaga pendidikan yang hanya memberikan pengetahuan (knowledge transfer) secara teori dengan lembaga yang berhasil memadukan kewirausahaan sebagai budaya pembelajaran yang kontinu dan aplikatif [27].
Meskipun memiliki relevansi yang besar, peralihan dari pendekatan teoritis menuju praktis menghadapi banyak tantangan struktural dan operasional. Tantangan ini mencakup keterbatasan sumber daya sekolah, kurangnya keterampilan dan pelatihan khusus bagi guru pembina, serta kurangnya dukungan kebijakan dan kemitraan yang sesuai dengan dunia industri. Namun, ketika tantangan-tantangan ini teratasi dan pelatihan kewirausahaan berbasis praktik dilakukan seacara optimal, maka akan berdampak signifikan dalam mengembangkan kreativitas, inovasi, rasa percaya diri, serta meningkatnya keterampilan vital yang siap menghadapi fluktuasi pasar di masa mendatang [28].
Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan di SMP Al-Islam Krian menjadi penting. Menanggapi kebutuhan zaman dan tantangan di era pasca-pandemi, sekolah ini berusaha melepaskan diri dari perangkap pendekatan teoritis dengan memperkenalkan program "Kelas Khusus Kewirausahaan" mulai tahun 2024. Hal ini berbeda dengan sekolah lainnya, SMP Al-Islam Krian merancang program ini tidak hanya sekadar tambahan intrakurikuler, akan tetapi sebagai Muatan Lokal mandiri yang berfokus pada pembangunan karakter entrepreneur melalui pembelajaran berdiferensiasi dan pengalaman nyata. Bagian selanjutnya akan merinci secara lengkap strategi yang diterapkan sekolah dalam lingkup transisi dari about entrepreneurship menuju through entrepreneurship, serta dinamika tantangan yang terkait.
B.Strategi Implementasi Program Kewirausahaan
a.Perencanaan Program
Hasil penelitian ini menunjukkan implementasi pendidikan kewirausahaan di SMP Al Islam Krian tahun 2024 ini adalah hasil rancangan di masa pandemi COVID-19 yang merupakan upaya strategis untuk peserta didik ketika mengalami kondisi sulit ekonomi, sehingga perlu adanya bekal untuk peserta didik agar terampil, kreatif, inovatif dan mudah dalam penerapkan kewirausahaan yang berlandaskan visi sekolah yaitu “Berakhlak Mulia dan Berprestasi”. Hal ini sesuai dengan perspektif bahwa pendidikan kewirausahaan di kondisi yang tidak pasti ini bukan semata menjadi kemampuan bisnis, tapi juga menciptakan peserta didik yang memiliki karakter siap menghadapi tantangan masa mendatang. Adapun hasil penelitian lainnya yaitu adanya transformasi pola pikir yang mendalam terkait peningkatan kurikulum di SMP Al-Islam Krian ini dengan menjadikan pendidikan kewirausahaan bagian dari mata pelajaran muatan lokal (mulok) yang berdiri sendiri. SMP Al-Islam Krian membentuk sebuah kelas khusus kewirausahaan yang mewadahi peserta didik yang memiliki minat dan bakat di bidang kewirausahaan. Inilah yang membedakannya dengan pendekatan sekolah lain. Keputusan strategi ini menghasilkan dampak manajerial yang positif:
1.Kebijakan Capaian Pembelajaran (CP): Sekolah memiliki kemudahan penuh untuk merancang CP yang spesifik dan terukur, terlepas dari kompetensi dasar mata pelajaran inti.
2.Rekrutmen SDM Berbasis Keterampilan: Strategi perencanaannya antara lain merekrut guru melalui psikotes untuk mengalokasikan minat bisnis dan merekrut guru yang memiliki pengalaman bisnis (praktisi UMKM) meskipun tidak berlatar belakang pendidikan bisnis formal. Sumber daya manusia dan keterampilan yang kompeten dapat meningkatkan kinerja pegawai [29]. Dengan demikian, penempatan SDM yang baik dapat menunjang terlaksananya kelas kewirausahaan ini.
3.Diferensiasi Pembelajaran: Sekolah menetapkan seleksi peserta didik dengan psikotes untuk membagi peserta didik dalam lima kelompok secara spesifik, seperti Budidaya, Pengolahan (Food & Beverage), Teknologi (Rekayasa), Seni, dan Hidroponik.
Upaya pembagian ini merupakan wujud nyata dari pembelajaran berdiferensiasi yang dapat meningkatkan keterampilan abad ke-21 berdasarkan minat peserta didik, hal ini didukung oleh teori terkait urgensi pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dalam pendidikan [30].
Tabel 1. Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran Kelas VII [1]
b.Implementasi Program
Dalam tataran penerapannya, SMP Al-Islam Krian telah mengimplementasikan pembelajaran yang menitikberatkan pada praktik dengan rasio 70% praktik dan 30% teori. Keunggulan metode Project-based Learning (PjBL) dan Problem-based Learning (PbL) terbukti efektif dalam memperbaiki paradigma peserta didik dari pasif menjadi aktif. Hal ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang telah diterapkan pada pembelajaran IPAS dan terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar peserta didik. [31] Penelitian serupa juga dilakukan di SMP Negeri untuk menelaah penerapan model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menunjukkan kondisi yang efektif dan menyenangkan dalam penerapan PjBL di kelas [32]. Hal ini juga sesuai dengan penelitian terdahulu lainnya yang telah mengimplementasikan model pembelajaran project-based learning berbasis kewirausahaan yang memberikan dampak positif terhadap pemikiran kreatif dan kemandirian peserta didik [33].
Analisis data lapangan menunjukkan bahwa peserta didik akan dilatih untuk menganalisis masalah pasar dengan berpikir kritis sebelum menciptakan solusi produk. Peserta didik yang awalnya menghadapi tantangan psikologis seperti kurang percaya diri dan malu, namun secara lambat laun mampu menghadapinya melalui metode praktik secara langsung dan presentasi proyek.
Hasil penelitian ini mendukung terlaksananya PjBL secara efektif dalam mendorong peserta didik mengambil risiko dan berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Pendekatan ini konsisten dengan konsep Experiential Learning (pembelajaran berbasis pengalaman) yang terfokus bahwa keterampilan kewirausahaan lebih efektif dikembangkan melalui tahapan pengalaman nyata, dibandingkan dengan transfer pengetahuan secara teoretis di dalam kelas [34]. Sekolah telah berhasil menerapkan transisi dari pendekatan about entrepreneurship menuju through entrepreneurship.
Untuk mengoptimalkan rasio praktik sebesar 70%, SMP Al-Islam Krian menerapkan strategi kolaborasi eksternal melalui program guru tamu dari berbagai sektor UMKM dan praktisi profesional. Strategi ini diambil untuk menutupi celah keterbatasan latar belakang bisnis praktis pada guru internal. Sekolah secara rutin menghadirkan mitra praktisi seperti Batik Kenongo untuk pengajaran seni kriya, Chef Hari Purwanto di bidang pengolahan pangan, Content Creator untuk literasi digital dan pemasaran, hingga komunitas Kampung Lali Gadget untuk inovasi kreativitas berbasis nilai lokal.
Kehadiran para pelaku usaha ini tidak hanya bertujuan untuk mentransfer keterampilan teknis (hard skills) dalam pembuatan produk berkualitas, tetapi juga berfungsi sebagai role model yang memberikan motivasi nyata. Melalui berbagi pengalaman (best practices) dan kisah sukses, para guru tamu ini berhasil memicu semangat kewirausahaan (entrepreneurial spirit) siswa, sehingga mereka mampu memvisualisasikan tantangan dan peluang bisnis secara nyata. Integrasi praktisi ke dalam kelas ini terbukti efektif dalam mentransformasi ruang kelas menjadi laboratorium bisnis yang dinamis, sekaligus memperkuat visi sekolah dalam mencetak wirausahawan sukses yang tangguh di masa depan.
Untuk memperdalam pengalaman praktis dan memberikan eksposur langsung terhadap dinamika pasar, SMP Al-Islam Krian mengintegrasikan peserta didik kelas khusus kewirausahaan ke dalam program Sosialisasi dan Promosi Mahasiswa Baru (SPMB). Strategi ini berfungsi sebagai bentuk nyata dari pembelajaran luar kelas yang menuntut siswa untuk menerapkan teori pemasaran dalam situasi sosial yang kompleks. Salah satu aktivitas unggulannya adalah program visitasi ke berbagai instansi SD/MI, di mana siswa tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga mendistribusikan produk es krim hasil produksi mandiri kepada peserta didik di sekolah tersebut. Selain visitasi, keterlibatan siswa diperluas melalui kegiatan roadshow bulanan di berbagai fasilitas umum.
Aktivitas ini dirancang sebagai laboratorium sosial untuk mengasah beragam keterampilan lunak (soft skills) yang esensial, meliputi kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), teknik promosi persuasif, hingga manajemen penjualan langsung (direct selling). Lebih jauh, program ini mengakomodasi keberagaman bakat siswa melalui integrasi aspek kesenian, di mana siswa yang memiliki keterampilan di bidang musik (seperti biola dan vokal) serta seni rupa (seperti lukis wajah) diberikan ruang untuk berekspresi secara publik. Secara psikologis dan pedagogis, pelibatan aktif dalam interaksi publik ini merupakan strategi krusial untuk membangun ketahanan mental (mental toughness) dan meningkatkan efikasi diri (self-confidence) siswa. Dengan menghadapi audiens yang nyata, siswa dilatih untuk mengatasi hambatan komunikasi dan membangun citra diri yang positif, yang pada akhirnya memperkuat karakter kewirausahaan yang tangguh dan adaptif sesuai dengan tuntutan abad ke-21.
c.Evaluasi Ketercapaian Target
Evaluasi ketercapaian target program kewirausahaan di SMP Al-Islam Krian dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif dengan fokus pada pengembangan karakter, bukan sekadar hasil materi. Berikut adalah rincian strateginya:
•Pendekatan Continuous Improvement dan Humanis: Evaluasi program tidak bersifat memberikan hukuman (punishment) atas kegagalan produk yang dibuat siswa, melainkan ditekankan pada perbaikan berkelanjutan melalui refleksi. Hal ini bertujuan untuk menjaga motivasi siswa agar tidak merasa trauma terhadap kegagalan bisnis di usia dini.
•Evaluasi Berbasis Refleksi: Siswa diajak untuk melihat kegagalan sebagai bagian integral dari proses belajar dan perkembangan diri. Fokus evaluasi adalah bagaimana siswa mampu menganalisis masalah dan menemukan solusi (problem solving) dari kendala yang mereka hadapi selama praktik.
•Sidang Proposal dan Gelar Karya: Ketercapaian target juga dievaluasi melalui partisipasi aktif siswa dalam "Sidang Proposal" dan "Gelar Karya". Kegiatan ini berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana siswa mampu merancang ide bisnis, mempresentasikan proyeknya, serta mengomunikasikan nilai-nilai kewirausahaan kepada orang tua dan sekolah.
•Target Kemandirian dan Karakter: Secara manajerial, evaluasi diarahkan untuk menghasilkan mutu lulusan yang tidak hanya mandiri secara finansial di masa depan, tetapi juga memiliki profil pelajar yang berakhlak mulia sesuai visi sekolah.
Secara keseluruhan, sistem evaluasi ini dirancang untuk memastikan transisi siswa dari sekadar memahami teori (about entrepreneurship) menjadi pelaku praktik yang tangguh (through entrepreneurship) melalui proses pemantauan yang berkelanjutan dan suportif.
C.Strategi Implementasi Program Kewirausahaan
Novelty (kebaruan) dari penerapan kewirausahaan di SMP Al-Islam Krian terletak pada integrasi nilai-nilai islami dalam kegiatan bisnis. Strategi ini tidak semata mengajarkan how to sell, tetapi juga how to be a good Muslim entrepreneur. Guru pembina secara konsisten menumbuhkan nilai-nilai akhlaqul karimah dalam setiap kegiatan kewirausahaan:
•Nilai Siddiq (Jujur): Diterapkan untuk menjamin transparansi dalam pengukuran takaran produk dan memberitahu konsumen akan kondisi/cacat produk.
•Nilai Amanah (Tanggung Jawab): Diterapkan untuk menjaga kualitas produk olahan.
•Konsep Rezeki: Penanaman keyakinan bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi rasa kompetitif tidak sehat antar peserta didik serta menanam mentalitas "kompetisi dalam kebaikan".
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan menjadi bermakna ketika diintegrasikan dengan nilai-nilai islami terutama di lembaga pendidikan berbasis agama. Dengan demikian, kewirausahaan dapat bertransformasi menjadi ladang dakwah bil hal (dengan perbuatan) dengan meyakinkan bahwa bisnis adalah jalan mencari keberkahan, bukan hanya sekadar mencari keuntungan materi [34].
D.Strategi Implementasi Program Kewirausahaan
Meskipun upaya ini telah dikembangkan secara sistematis, namun kenyataan lapangan masih menunjukkan bahwa ada tiga tantangan besar yang muncul pada tahap implementasi. Pertama, tantangan eksternal yang berasal dari perspektif orang tua. Tantangan manajerial terbesar seringkali muncul dari pola pikir beberapa orang tua peserta didik yang masih memandang bahwa prestasi akademik sebagai satu-satunya penilaian, sehingga mereka beranggapan bahwa pendidikan kewirausahaan di jenjang SMP kurang penting. Hasil penelitian ini selaras dengan literatur [32] yang menyatakan besar esensi dukungan orang tua terhadap memotivasi peserta didik; sehingga ketidaksadaran orang tua bisa menjadi kendala berarti bagi peserta didik. Untuk mengatasi masalah tersebut, sekolah mengambil kebijakan strategis dengan mengajak orang tua untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan "Sidang Proposal", hal ini sebagai sebuah usaha mitigasi untuk memadukan frekuensi dan persepsi.
Kedua, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Harus disadari bahwa guru pembina umumnya hanya berlatarbelakang mata pelajaran tertentu dan belum memiliki pengalaman bisnis formal. Kesenjangan keterampilan ini diatasi oleh sekolah dengan strategi kemitraan (partnership strategy), yaitu berkolaborasi dengan praktisi UMKM dan melakukan studi banding. Pendekatan kolaboratif ini dinilai efektif untuk menciptakan pengalaman belajar yang kredibel bagi peserta didik, seperti yang sudah dijelaskan dalam penelitian sebelumnya [35].
Ketiga, tantangan infrastruktur teknis. Spesifikasi media elektronik seperti komputer atau laptop yang tersedia belum sepenuhnya memadai untuk keperluan desain grafis tingkat lanjut. Sehingga sebagai solusi praktis, pemanfaatan teknologi ini dialihkan dengan penggunaan perangkat lunak atau tools yang lebih sederhana dan aksesibel seperti Canva, serta mengoptimalkan fasilitas seperti Kafe Sparkling, kolam budidaya ikan, dan taman hidroponik sebagai laboratorium bisnis nyata untuk praktik langsung.
Secara komprehensif, upaya evaluasi yang ditekankan di sekolah ini tidak bersifat punishment (hukuman) atas kegagalan produk, melainkan continuous improvement (perbaikan berkelanjutan) melalui refleksi. Sehingga, pendekatan humanis ini sangat penting dan cocok untuk menjaga minat peserta didik agar tidak mengalami traumatis terhadap kegagalan bisnis di usia dini [36].
Berikut ini adalah tabel rangkuman strategi implementasi program kewirausahaan yang diterapkan di SMP Al-Islam Krian beserta tantangan yang dihadapi dan responnya terhadap tantangan tersebut.
Tabel 4. Rangkuman strategi, tantangan, dan respon [4]
E.Analisis Kritis dan Evaluasi Strategis Pengembangan Program
Meskipun program kewirausahaan di SMP Al-Islam Krian telah menunjukkan kemajuan signifikan, hasil penelitian mengidentifikasi beberapa celah krusial (gaps) yang memerlukan pembenahan sistematis untuk menjamin keberlanjutan dan kualitas luaran. Pertama, terkait mekanisme seleksi peserta didik, penggunaan instrumen psikotes dinilai belum sepenuhnya akurat dalam memotret potensi riil calon peserta. Temuan di lapangan menunjukkan adanya diskoneksi antara hasil tes formal dengan entrepreneurial intention (niat kewirausahaan) yang kuat dari siswa. Hal ini menegaskan bahwa dalam pendidikan kewirausahaan, faktor motivasi internal dan minat subjektif seringkali menjadi prediktor keberhasilan yang lebih kuat dibandingkan skor kognitif standar. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem mapping kelas yang lebih komprehensif, yang tidak hanya mengandalkan data psikometris tetapi juga mempertimbangkan portofolio minat dan komitmen siswa.
Kedua, terdapat ketidakseimbangan orientasi (mismatch) pada pengarusutamaan lima bidang kewirausahaan yang ada. Saat ini, atensi program cenderung terkonsentrasi pada bidang pengolahan pangan dan seni, yang tercermin dari dominasi produk es krim serta pemilihan profil guru tamu yang terbatas pada keahlian chef dan pembatik. Kondisi ini menyebabkan stagnasi pada bidang teknologi, budidaya, dan hidroponik, sehingga diversifikasi produk menjadi terhambat. Untuk mencapai Capaian Pembelajaran (CP) yang lebih progresif, kurikulum perlu didesain ulang agar pengembangan produk dilakukan secara linier dan bertahap sejak dini. Target idealnya adalah pada jenjang kelas IX, siswa telah memiliki produk unggulan yang memiliki nilai tawar pasar (market-ready product). Hal ini sangat krusial sebagai bentuk akuntabilitas publik kepada orang tua siswa yang mengharapkan bukti nyata dari investasi pendidikan putra-putri mereka.
Terakhir, aspek sumber daya manusia (SDM) pengajar menjadi tantangan fundamental yang harus segera diatasi. Ketergantungan pada guru bidang studi umum yang tidak memiliki latar belakang atau passion di dunia usaha mengakibatkan bimbingan bersifat administratif belaka, bukan transformatif. Profesionalisme guru pembina perlu ditingkatkan melalui pelatihan intensif atau kolaborasi dengan praktisi industri untuk menumbuhkan mentalitas wirausaha pada pengajar itu sendiri. Tanpa adanya sinkronisasi antara minat guru dan bidang yang diampu, serta pemerataan fokus pada seluruh lini usaha, program kewirausahaan berisiko terjebak pada aktivitas seremonial tanpa kedalaman substansi kompetensi yang diharapkan. Sekolah juga perlu memperluas jaringan kerja sama dengan pelaku UMKM di luar lingkungan sekolah. Langkah ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih luas kepada siswa serta membuka peluang akses sumber daya dan permodalan yang lebih profesional, sehingga program tidak hanya terbatas pada lingkungan internal sekolah.
Berdasarkan penelitian mendalam di SMP Al-Islam Krian ini, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan kewirausahaan di tingkat sekolah menengah sangat terikat pada kebijakan kurikulum dan integrasi nilai. Dari segi manajemen, kebijakan sekolah untuk menjadikan kewirausahaan sebagai Muatan Lokal (Mulok) mandiri terbukti sebagai bagian dari langkah strategis. Kebijakan ini memberikan kemudahan dalam merancang capaian pembelajaran yang lebih adaptif dan fleksibel. Dalam aspek pembelajaran, implementasi model pembelajaran berbasis proyek yang lebih ditekankan pada praktik dapat menumbuhkan karakter peserta didik yang siap menghadapi tantangan dan mengambil risiko. Program kelas khusus kewirausahaan di SMP Al Islam Krian tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk mengejar keuntungan semata, melainkan juga mempraktikkan nilai-nilai islami di dalamnya seperti kejujuran dan amanah dalam berbisnis. Oleh karena itu, bukan hanya sekadar urusan bisnis namun juga ladang keberkahan bagi mereka.
Adapun tantangan terbesar bukan datang dari peserta didik, melainkan faktor eksternal seperti persepsi orang tua yang masih terfokus pada prestasi akademik semata, serta keterbatasan sarana prasarana dan latar belakang bisnis formal dari guru pembina. Secara komprehensif, penelitian ini terfokus pada pentingnya pendekatan yang proporsional bagi sekolah berbasis agama dengan mengintegrasikan keterampilan bisnis modern dengan nilai-nilai spiritual yang kuat untuk menghasilkan mutu lulusan yang tidak hanya mandiri, tetapi juga berakhlak mulia.
Penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan fokus pada dampak jangka panjang dari program kewirausahaan ini terhadap kemandirian ekonomi alumni setelah mereka lulus dari SMP Al-Islam Krian. Mengingat keterbatasan dalam penelitian ini, disarankan bagi peneliti berikutnya untuk menggunakan metode penelitian kuantitatif atau mixed methods guna mengukur secara lebih presisi efektivitas program terhadap pembentukan jiwa entrepreneurship siswa. Selain itu, perbandingan antara strategi kewirausahaan di sekolah Islam dengan sekolah umum lainnya juga bisa menjadi topik yang menarik untuk memperkaya literatur di bidang pendidikan kewirausahaan.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti memanjatkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran penelitian ini. Penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada SMP Al-Islam Krian atas kesempatan dan akses yang diberikan selama proses pengumpulan data. Secara khusus, peneliti berterima kasih kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru pembina kelas khusus kewirausahaan, serta peserta didik yang telah berbagi informasi dan perspektif yang sangat bermakna bagi penelitian ini. Selain itu, apresiasi ditujukan kepada Yayasan Perguruan Al-Islam Krian atas dukungan fasilitasnya, serta para dosen pembimbing dan kolega akademisi atas masukan konstruktif mereka. Semoga segala amal kebaikan dan kerja sama yang terjalin mendapatkan balasan keberkahan dari Allah SWT.
World Economic Forum, “Schools of the Future: Defining New Models of Education for the Fourth Industrial Revolution,” World Economic Forum Reports 2020, no. January, pp. 1–33, 2020. [Online]. Available: www.weforum.org
S. Zubaidah, “STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics): Pembelajaran untuk Memberdayakan Keterampilan Abad Ke-21 [STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics): Learning to Empower 21st Century Skills],” Semin. Nas. Mat. dan Sains, no. September, pp. 1–18, 2019.
D. Junaid and Aminah, “Pengembangan Jiwa Kewirausahaan di Era Millenial sebagai Pembentukan Kapabilitas Kemandirian Berusaha,” J. Hum. Educ., vol. 4, no. 1, pp. 306–311, 2024. [Online]. Available: http://jahe.or.id/index.php/jahe/article/view/600
D. Nugraha, M. A. Wulandari, E. Yuningsih, and N. Setiani, “Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Program Kewirausahaan di Sekolah Dasar,” J. Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 6754–6762, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.2974.
Y. Ardolof Bowo Laksono Toar, “Program Pelayanan Sekolah untuk Mengembangkan Entrepreneur Muda pada SMA Kristoforus II,” J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 4, no. 3, pp. 1–23, 2016.
M. Radisi, A. R. Suleman, M. Noor, and H. Siregar, “Pengembangan Keterampilan Kewirausahaan Digital Mahasiswa UM-Tapsel melalui Pelatihan Intensif di Era Revolusi Industri 4.0,” vol. 4, pp. 40–46, 2024.
Presiden Republik Indonesia, “Perpres No. 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional Tahun 2021–2024,” Peraturan Presiden Republik Indonesia, pp. 1–16, 2022. [Online]. Available: https://jdih.maritim.go.id/cfind/source/files/perpres/2022/perpres-2/salinan-perpres-nomor-2-tahun-2022.pdf
L. H. Affandi, I. M. Sutajaya, and I. G. P. Sudiarta, “Refleksi Kritis atas Penyelenggaraan Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi,” vol. 8, no. April, 2023.
Sarwa, “Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Kewirausahaan Bermuatan Teknopreneur di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” Appl. Microbiol. Biotechnol., vol. 85, no. 1, pp. 2071–2079, 2016.
Sukmah, Rahman Nawir, and Saripuddin, “Penerapan Model Pembelajaran Proyek Kepramukaan untuk Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan Peserta Didik dalam Pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Bantaeng,” J. Ilm. Pena, vol. 15, no. 2, 2023. [Online]. Available: https://ojs.unpatompo.ac.id/index.php/jip
Rosidi, “Implementasi Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Pesantren di MA Al-Qodiri 01 Jember,” Ta’limDiniyah J. Pendidik. Agama Islam, vol. 3, no. 1, pp. 191–211, 2022.
E. Fitriana, “Project-Based Learning,” Pendas J. Ilm. Pendidikan Dasar, vol. 9, no. September, p. 1489, 2024, doi: 10.1007/978-3-031-23161-2_300950.
R. T. Amalia and H. F. O. von Korflesch, Entrepreneurship Education in Indonesian Higher Education: Mapping Literature from the Country’s Perspective, vol. 4, no. 3. Singapore: Springer, 2021, doi: 10.1007/s41959-021-00053-9.
M. P. B. Francisco, M. Hartman, and Y. Wang, “Inclusion and Special Education,” Educ. Sci., vol. 10, no. 9, pp. 1–17, 2020, doi: 10.3390/educsci10090238.
E. Sriwahyuni, J. Rahmadoni, S. Onia, A. Mustamin, H. Khatimah, and N. Asvio, “Implementation of the Entrepreneurship Program in Preparing Students Become Entrepreneurs,” J. Soc. Work Sci. Educ., vol. 4, pp. 27–43, Jan. 2023, doi: 10.52690/jswse.v4i1.339.
R. E. Apriyanto, S. Suyud, and P. Pujaningsih, “Development of the Entrepreneurship Program Implementation Strategy for Elementary School Students,” J. Prima Edukasia, vol. 12, no. 1, pp. 1–18, 2024, doi: 10.21831/jpe.v12i1.57061.
Kristina, Belajar Mudah Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rumah Media, 2020.
Y. Nur Supriadi, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Klaten: Lakeisha, 2016.
F. Nyimbili and L. Nyimbili, “Types of Purposive Sampling Techniques with Their Examples and Application in Qualitative Research Studies,” Br. J. Multidiscip. Adv. Stud., vol. 5, no. 1, pp. 90–99, 2024.
F. R. Fiantika, Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2022.
G. Siti Romdona and Silvia Senja Junista, “Teknik Pengumpulan Data,” J. Ilmu Sos. Ekon. dan Polit., vol. 3, no. 1, pp. 39–47, 2025.
M. R. Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2020.
M. Salmona and D. Kaczynski, “Qualitative Data Analysis Strategies,” in How to Conduct Qualitative Research in Finance. Cheltenham, U.K.: Edward Elgar Publishing, 2024, pp. 80–96.
W. V. Nurfajriani, “Triangulasi Data dalam Analisis Data Kualitatif Wiyanda,” J. Ilm. Wahana Pendidik., vol. 10, pp. 1–23, 2024.
Aulia et al., “Psikoedukasi Pengembangan Life Skill dalam Pengambilan Keputusan Siswa/I Dayah Al-Huda,” vol. 1, no. 1, pp. 7–13, 2025.
Gibb and A. Price, “A Compendium of Pedagogies for Teaching Entrepreneurship,” 2014.
L. S. Dewi and R. Barkah, “Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Pengalaman Praktis: Sebuah Pendekatan Kolaborasi,” vol. 2, pp. 7–13, 2025.
W. Avianti and E. Pitaloka, “Menanamkan Jiwa Kewirausahaan pada Generasi Muda: Pelatihan Keterampilan Kewirausahaan untuk Ketahanan Bisnis,” vol. 9, no. 1, pp. 1–12, 2024.
Dewi Sukesi and I. Rindaningsih, “Perencanaan Sumber Daya Manusia dan Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai,” Perisai, vol. 2, pp. 195–206, 2023.
H. Mu’minah, “Studi Literatur: Pembelajaran Abad-21 melalui Pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) dalam Menyongsong Era,” Semin. Nas. Pendidikan, FKIP UNMA 2021, pp. 584–594, 2021.
Achmad Junaedi and I. Rindaningsih, “Penerapan Model Pembelajaran PJBL pada Kurikulum Merdeka Belajar di Pasuruan,” Pendas, vol. 9, 2024.
Prahayuningtiyas Sabrina Eka and I. Rindaningsih, “Analisis Implementasi Model Project-Based Learning pada Pembelajaran PAI di SMP Negeri,” Pendas, vol. 10, 2025.
S. R. Marshella, D. Oetomo, I. Ragil, and W. Atmojo, “Project-Based Learning Berbasis Entrepreneurship untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Kemandirian Siswa Kelas X,” vol. 8, no. 4, pp. 613–623, 2024.
J. Tahsinia, Y. Supriani, F. L. Hakim, N. Khoiri, and S. Bahtiar, “Strategi Pengelolaan Kewirausahaan dalam Lembaga Pendidikan,” vol. 6, no. 6, pp. 925–941, 2025.
H. Suryani and Ida Rindaningsih, “Systematic Literature Review (SLR): Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia,” Perisai, vol. 2, pp. 363–370, 2023.
Tunggal, S. Hidayat, A. Baco, and A. Azainil, “Continuous Improvement Strategies for Enhancing the Quality of Learning at SDN 004 Bontang Barat,” vol. 5, no. 3, pp. 498–506, 2025, doi: 10.30596/jcositte.v1i1.xxxx.