Dhiwanti Puspa Putih Wardani (1), Eni Fahriyatul Fahyuni (2)
General Background: Integrated curriculum connects knowledge, skills, and values within meaningful learning. Specific Background: SMA Dea Malela implements an integrated curriculum by connecting scientific, social, language, and Islamic knowledge in classroom learning. Knowledge Gap: Limited studies examine integrated curriculum implementation through planning, classroom practice, and evaluation in the high school context. Aims: This study examines curriculum-integrated learning practices at SMA Dea Malela. Results: Using a descriptive qualitative approach with interviews, observations, and documentation, the study found collaborative planning, contextual and reflective learning, teachers as facilitators, and authentic assessment covering knowledge, skills, and values. Novelty: The study examines integrated curriculum implementation across disciplines within a high school context through interconnected planning, implementation, and evaluation. Implications: Integrated learning requires alignment among curriculum design, classroom practice, evaluation, Islamic values, and students’ real-life contexts.
Key Findings Highlights
Collaborative planning aligns cross-disciplinary learning goals.
Contextual activities connect academic knowledge with Islamic values.
Authentic assessment examines knowledge, skills, attitudes, and character.
Keywords : Integrated Curriculum, Contextual Learning, Islamic Values, Authentic Assessment, Holistic Education
Tantangan pendidikan abad ke-21 menuntut adanya pembelajaran yang mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu secara holistik agar peserta didik tidak hanya memahami pengetahuan secara terpisah, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan konteks kehidupan nyata dan nilai-nilai yang melandasinya.[1] Kurikulum terintegrasi hadir sebagai salah satu pendekatan yang memfasilitasi keterpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam proses pembelajaran.[2]
Pada jenjang pendidikan menengah, implementasi kurikulum terintegrasi menjadi penting karena peserta didik berada pada fase penguatan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta pembentukan karakter.[3] Kurikulum yang terintegrasi memungkinkan peserta didik memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan alam, sosial, dan nilai-nilai yang membimbing perilaku, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan kontekstual.[4]
SMA Dea Malela sebagai salah satu satuan pendidikan menengah di Kabupaten Sumbawa menerapkan kurikulum terintegrasi dalam proses pembelajarannya. Kurikulum ini dirancang untuk menghubungkan berbagai rumpun ilmu dalam pembelajaran, sehingga tidak terjadi dikotomi antara pengetahuan ilmiah, sosial, dan nilai keislaman.[5] Namun, implementasi kurikulum terintegrasi tidak hanya bergantung pada desain kurikulum, tetapi juga pada bagaimana kurikulum tersebut direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi dalam praktik pembelajaran.[6] Oleh karena itu, kajian mengenai implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran di SMA Dea Malela menjadi penting untuk dilakukan.
Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian implementasi kurikulum terintegrasi yang difokuskan pada praktik pembelajaran di tingkat sekolah menengah atas.[7] Penelitian ini tidak hanya menelaah kurikulum terintegrasi sebagai konsep, tetapi mengkaji bagaimana kurikulum tersebut diimplementasikan secara nyata dalam pembelajaran melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu, penelitian ini dilakukan pada konteks sekolah dengan karakteristik lokal yang mengintegrasikan berbagai rumpun ilmu dalam pembelajaran, sehingga memberikan kontribusi empiris yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.[8]
Kajian tentang kurikulum terintegrasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penerapan integrasi kurikulum memiliki kontribusi yang signifikan terhadap keterpaduan proses pembelajaran serta penguatan nilai-nilai pada peserta didik. Penelitian yang dilakukan oleh Nistiti (2022) mengkaji pelaksanaan kurikulum terintegrasi di lingkungan sekolah dan menyoroti pentingnya keterpaduan konsep dalam pembelajaran. Namun demikian, kajian tersebut masih berfokus pada integrasi yang terbatas dalam satu disiplin ilmu atau melalui pendekatan tematik.[9] Sementara itu, penelitian Iswadi, Aslan, dan Sunantri (2022) mengangkat integrasi antara kurikulum umum dan kurikulum keagamaan pada sekolah Islam terpadu berbasis boarding school.Studi ini menekankan integrasi sistem kurikulum sekolah dan pesantren, tetapi konteks pembelajarannya masih terbatas pada jenjang SMP dan lingkungan boarding.[10] Selanjutnya, penelitian Zulham dan Erniati (2025) menelaah integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum terpadu di sekolah Islam terpadu.[4] Penelitian ini menitikberatkan pada integrasi nilai dan karakter dalam pembelajaran, namun belum secara rinci membahas implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran lintas rumpun ilmu di jenjang SMA.
Berdasarkan telaah terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, masih ditemukan sejumlah celah yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Pertama, sebagian besar kajian cenderung menitikberatkan pada pengembangan konsep atau model kurikulum terintegrasi, sementara pembahasan mengenai implementasinya secara nyata dalam praktik pembelajaran di kelas masih relatif terbatas. Kedua, penelitian yang mengangkat integrasi kurikulum pada jenjang sekolah menengah atas belum banyak dilakukan, terutama pada sekolah non-boarding yang memiliki karakteristik dan konteks lokal yang berbeda.Ketiga, kajian yang secara spesifik membahas implementasi kurikulum terintegrasi yang mencakup integrasi berbagai rumpun ilmu dalam pembelajaran melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mengisi celah tersebut melalui kajian mendalam terhadap implementasi kurikulum terintegrasi dalam praktik pembelajaran di SMA Dea Malela. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana kurikulum terintegrasi tidak hanya dirancang, tetapi juga dioperasionalkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Bertolak dari latar belakang dan gap penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, permasalahan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran di SMA Dea Malela. Secara lebih mendalam, Penelitian ini secara cermat menelusuri praktik penerapan kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran di SMA Dea Malela dengan menempatkan proses pembelajaran sebagai satu kesatuan yang utuh. Kajian diarahkan pada bagaimana rancangan pembelajaran disusun dalam kerangka integrasi kurikulum, bagaimana proses pembelajaran berlangsung di ruang kelas melalui pertautan berbagai bidang keilmuan dan nilai, serta bagaimana evaluasi pembelajaran dimaknai dan dijalankan sebagai bagian dari kesinambungan pelaksanaan kurikulum terintegrasi.
Melalui fokus tersebut, penelitian ini berupaya menghadirkan gambaran yang mendalam dan kontekstual mengenai implementasi kurikulum terintegrasi dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Secara khusus, penelitian ini menelaah pola perencanaan pembelajaran yang dikembangkan, mengkaji dinamika pelaksanaan pembelajaran berbasis integrasi kurikulum di kelas, serta menguraikan bentuk evaluasi pembelajaran yang digunakan sebagai instrumen pendukung keberlangsungan dan penguatan kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran di SMA Dea Malela.[11] Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada proses, makna, dan konteks penerapan kurikulum terintegrasi dalam praktik pembelajaran, bukan pada pengukuran kuantitatif.[12] Penelitian dilaksanakan di SMA Dea Malela, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, yaitu pihak-pihak yang terlibat langsung dalam implementasi kurikulum terintegrasi, meliputi kepala sekolah (W1), wakil kepala sekolah bidang kurikulum (W2), serta guru (W3, W4 & W5) yang terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.[13] Wawancara dilakukan untuk menggali informasi mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran dalam penerapan kurikulum terintegrasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran langsung mengenai proses pembelajaran di kelas yang menerapkan kurikulum terintegrasi. Sementara itu, dokumentasi dimanfaatkan untuk melengkapi data penelitian melalui penelaahan dokumen kurikulum, perangkat pembelajaran, serta berbagai dokumen pendukung lain yang relevan dengan fokus penelitian.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menerapkan model analisis interaktif yang berlangsung secara simultan, meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Model ini memungkinkan peneliti untuk memahami data secara bertahap dan berkesinambungan sepanjang proses penelitian.[14] Pada tahap reduksi data, peneliti memilah dan memfokuskan data yang diperoleh agar sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga informasi yang dianalisis benar-benar relevan dengan fokus kajian. Selanjutnya, data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk deskripsi naratif. Penyajian ini dimaksudkan untuk menggambarkan temuan penelitian secara runtut dan kontekstual, sehingga hubungan antar data dapat dipahami dengan lebih jelas dan utuh. Melalui penyajian data yang bersifat naratif, proses implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran dapat diuraikan secara mendalam sesuai dengan realitas yang terjadi di lapangan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk deskripsi naratif untuk memudahkan pemahaman terhadap temuan penelitian. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan keterkaitan antar data yang diperoleh. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu dengan membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber penelitian. Dengan demikian, data yang dihasilkan diharapkan memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.
A.Gambaran Umum SMA Dea Malela
Berdasarkan hasil observasi awal, SMA Dea Malela merupakan bagian dari Pesantren Modern Internasional Dea Malela yang menerapkan sistem pendidikan berasrama. Lingkungan pendidikan berasrama memungkinkan terjadinya kesinambungan antara pembelajaran formal di kelas dan pembentukan karakter melalui aktivitas keseharian peserta didik.[15] Dengan demikian, integrasi ilmu pengetahuan dan nilai keislaman tidak hanya berlangsung dalam konteks instruksional, tetapi juga terinternalisasi melalui budaya sekolah dan kehidupan kepesantrenan yang dijalani peserta didik secara berkelanjutan.[16]
Kepala sekolah menjelaskan bahwa "pembelajaran di sini itu tidak hanya selesai dikelas, tetapi berlangsung sepanjang hari. Anak-anak belajar melalui kegiatan pesantren, kegiatan malam, dan pembiasaan sehari-hari. (W1) Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa praktik pendidikan di SMA Dea Malela bersifat holistik dan tidak terfragmentasi antara ranah akademik dan non akademik. Hal ini diperkuat oleh keterangan wakil kepala sekolah bidang kurikulum yang menyatakan bahwa "kurikulumnya memang kami desain supaya ada kesinambungan antara ilmu pengetahuan dan nilai agama. Jadi kelas hanya satu bagian saja dari sistem pendidikan kami." (W2)
Dokumen pedoman akademik SMA Dea Malela tahun 2024 juga menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kurikulum nasional melalui proses modifikasi dan integrasi. Modifikasi kurikulum nasional yang dilakukan oleh SMA Dea Malela menunjukkan bahwa kurikulum terintegrasi tidak dipahami sebagai penggantian kurikulum nasional, melainkan sebagai upaya kontekstualisasi kurikulum sesuai dengan visi dan karakter lembaga pendidikan. Integrasi antara ayat-ayat kauliyah dan kauniyah mencerminkan pendekatan epistemologis yang menempatkan ilmu pengetahuan dan nilai keimanan sebagai dua aspek yang saling melengkapi.[17] Pendekatan ini memungkinkan peserta didik memahami ilmu pengetahuan tidak hanya sebagai produk rasional, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.[18]
Dalam wawancara, salah satu guru Agama menyebutkan bahwa " disini ayat-ayat al-Qur'an sering dipakai untuk menguatkan pembelajaran Sains, supaya siswa paham bahwa ilmu tidak berdiri sendiri." (W3) Selain itu, pendekatan kepesantrenan yang melekat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMA Dea Malela memperkuat implementasi kurikulum terintegrasi melalui pembiasaan nilai dan keteladanan.
Interaksi yang intens anatara pendidik dan peserta didik di lingkungan sekolah berasrama membuka ruang pedagogis yang lebih luas untuk menginternalisasikan nilai-nilai keislaman baik dalam proses pembelajaran maupun dalam berbagai aktivitas nonakademik.[19] Kondisi tersebut menegaskan bahwa kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela tidak hanya diwujudkan dalam bentuk dokumen perencanaan, tetapi juga diimplimentasikan melalui praktik pendidikan yang holistik serta berkesinambungan.
Dengan demikian, keberadaan SMA Dea Malela sebagai institusi pendidikan berasrama berbasis pesantren modern berperan sebagai faktor kontekstual yang penting dalam menunjang keberhasilan penerapan kurikulum terintegrasi tersebut. Konteks ini memperlihatkan bahwa keberhasilan integrasi kurikulum sangat dipengaruhi oleh keselarasan antara desain kurikulum, budaya institusi, dan praktik pendidikan sehari-hari.[20]
B.Implementasi Kurikulum Terintegrasi dalam Pembelajaran
Implementasi kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela diwujudkan melalui pengaitan yang sistematis antar rumpun mata pelajaran sains, sosial, keislaman, dan bahasa dalam proses pembelajaran. Integrasi tersebut tidak dimaknai sebagai penggabungan materi secara mekanis, melainkan sebagai upaya membangun keterhubungan konseptual dan nilai agar peserta didik memperoleh pemahaman yang utuh dan bermakna. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran dilaksanakan dengan menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai kerangka rujukan dalam memahami materi umum. Guru mengembangkan pembelajaran lintas rumpun melalui tema-tema yang relevan dengan konteks kehidupan peserta didik pada jenjang kelas X–XII.
Pembelajaran pada kelas X memperlihatkan integrasi antara materi ekologi dalam Biologi dengan konsep manusia sebagai khalifah serta kaidah fiqh lā ḍarar wa lā ḍirār. Pola integrasi ini mengarahkan pembelajaran sains tidak hanya pada penguasaan konsep, tetapi juga pada pembentukan kesadaran etis dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pelaksanaan pembelajaran di kelas XI menampilkan integrasi antara materi energi dan lingkungan dengan isu pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta perspektif etika Islam. Materi fisika tentang energi dikaitkan dengan dampak sosial dan ekologis, sedangkan pada mata pelajaran IPS dan ekonomi peserta didik diajak menganalisis ketimpangan sosial melalui prinsip keadilan dan fiqh muamalah.
Penguatan integrasi pada kelas XII diarahkan pada pengembangan literasi teknologi, sosial, dan kewargaan. Materi teknologi dan media sosial dipadukan dengan pembahasan demokrasi, hak asasi manusia, serta etika berkomunikasi sehingga peserta didik memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peran teknologi sekaligus tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat. Model integrasi lintas rumpun mata pelajaran dapat dipahami melalui analogi “1 + 1 = 2”, yaitu bahwa penggabungan antar mata pelajaran tidak menambah beban materi, tetapi menghasilkan keluaran pembelajaran yang lebih bermakna. Integrasi sains dan nilai keislaman membentuk kesadaran etis, integrasi sosial dan bahasa memperkuat literasi kritis, sedangkan integrasi pengetahuan dan praktik mengembangkan kompetensi akademik yang disertai pembentukan karakter.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, implementasi kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela berlangsung secara kontekstual melalui pengaitan materi pembelajaran dengan nilai keIslaman dan realits social. Kepala sekolah menyatakan bahwa " di sini pembelajaran tidak hanya mengajarkan Sains dan Sosial saja, tetapi juga bagaimana peserta didik memahami nilai-nilai keIslaman dalam kehidupan sehari-hari." (W1) Temuan ini sejalan dengan pandangan Robin Fogarty, yang menegaskan bahwa kurikulum terintegrasi menekankan keterhubungan lintas disiplin ilmu untuk membantu peserta didik membangun pemahaman yang holistik dan bermakna.[21] Dalam konteks SMA Dea Malela, keterhubungan tersebut tampak pada praktik pembelajaran yang mengaitkan konsep-konsep sains, sosial, dan nilai keislaman secara terpadu, sehingga pembelajaran tidak bersifat terfragmentasi.
Integrasi pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata peserta didik juga sejalan dengan teori integrasi kurikulum yang dikemukakan oleh James Beane. Beane (1997) menekankan bahwa pembelajaran akan menjadi bermakna apabila peserta didik mampu mengaitkan pengetahuan akademik dengan pengalaman hidup dan konteks sosialnya.[22] Selain itu, guru-guru di SMA Dea Malela menegaskan bahwa proses ini tidak selalu mudah karena membutuhkan kreativitas dalam merancang perangkat ajar. Seorang guru menyatakan bahwa " kami harus menyesuaikan contoh, kasus, dan ilustrasi agar sesuai dengan nilai Islam dan konteks social siswa." (W3) Penerapan nilai-nilai keIslaman secara kontekstual dalam pembelajaran Sains dan Sosial menunjukkan bahwa nilai tidak diperlukan sebagai unsur tambahan, melainkan sebagai bagian yang menyatu dari proses pembelajaran. Temuan ini juga berhubungan dengan pandangan Susan Drake mengenai keterpaduan pengetahuan, nilai, dan keterampilan dalam kurikulum.[23]
Penerapan nilai-nilai keislaman secara kontekstual dalam pembelajaran sains dan sosial menunjukkan bahwa nilai tidak diperlakukan sebagai unsur tambahan, melainkan ditempatkan sebagai bagian yang menyatu dan tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. Dari perspektif observasi pedagogik, temuan penelitian ini juga sejalan dengan teori Johnson bahwa pembelajaran kontekstual yang menempatkan guru sebagai fasilitator yang menghubungkan konsep akademik dengan konteks kehidupan nyata peserta didik.[24] Guru di SMA Dea Malela berperan aktif dalam merancang pembelajaran berbasis diskusi, refleksi, dan keterlibatan peserta didik, sehingga proses pembelajaran mendorong terjadinya dialog antara pengetahuan, nilai, dan pengalaman.
Penerapan evaluasi pembelajaran yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai mencerminkan prinsip kurikulum holistik yang menekankan pentingnya penilaian secara menyeluruh terhadap ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagaimana dikemukakan oleh Ornstein dan Hunkins.[25] Temuan ini mengindikasikan bahwa implementasi kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian hasil akademik, tetapi juga diarahkan pada pembentukan sikap dan karakter peserta didik secara komprehensif.
Integrasi kurikulum di SMA Dea Malela tidak hanya muncul pada tataran struktural dalam proses perencanaan pembelajaran, tetapi sekaligus terwujud dalam dimensi kultural pada praktik pendidikan sehari-hari. Integrasi nilai-nilai keIslaman tampak dalam diskursus kelas, pola interaksi antara guru dan peserta didik, serta dalam kegiatan reflektif yang menyertainya. Dengan demikian, kurikulum tidak dipersepsi semata sebagai dokumen formal, melainkan sebagai praktik sosial yang dinamis atau living kurikulum. Dalam perspektif kajian kurikulum kontemporer, hal ini mengonfirmasi pandangan Wiliam F. Pinar bahwa kurikulum merupakan pengalaman yang dialami (curriculum as lived experience), sehingga implementasinya sangat dipengaruhi oleh budaya sekolah, relasi sosial, dan identitas kelembagaan.[26] Dengan demikian, praktik kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela memperlihatkan bentuk kurikulum yang bersifat organik dan berakar pada nilai-nilai institusi pendidikan, bukan kurikulum yang bersifat mekanis dan terpisah dari kehidupan sekolah.
Penerapan pendekatan lintas disiplin beserta nilai-nilai yang terbentuk di dalam penelitian ini memberikan konsekuensi signifikan bagi penguatan keterampilan abad ke-21 khususnya dalam ranah critical thinking, refleksi, dan kemampuan memahami makna. Ketika peserta didik dipacu untuk menghubungkan konsep akademik dengan problematika sehari-hari, identitas keagamaan, serta dinamika sosial yang lebih luas, mereka secara bertahap mengonstruksi pola pikir yang lebih terstruktur. Kemampuan berpikir tersebut tidak hadir secara tiba-tiba; ia berkembang melalui siklus berulang dalam membaca situasi, mengevaluasi informasi, dan memanfaatkan pengalaman yang dimiliki. Kemampuan tersebut kian krusial di tengah meningkatnya kompleksitas kehidupan kontemporer, yang menuntut individu untuk mampu membaca situasi secara menyeluruh sekaligus menetapkan pilihan secara reflektif. Dilihat dari kerangka teori konstruktivisme, model integrasi seperti ini memungkinkan peserta didik membangun bangunan makna melalui proses internalisasi, interpretasi, dan rekontekstualisasi atas pengetahuan yang mereka peroleh. Oleh karena itu, implementasi kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela tidak hanya selaras dengan tuntutan pedagogic berbasis nilai keislaman, tetapi juga kompatibel dengan diskursus global mengenai pendidikan bermakna dan berorientasi masa depan.
Diagram I. Kurikulum Terintegrasi di SMA Dea Malela
Figure 1.
Diagram kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela menggambarkan studi Islam sebagai pusat orientasi pengetahuan yang menghubungkan berbagai rumpun mata pelajaran. Struktur tersebut menunjukkan bahwa mata pelajaran umum dan keagamaan ditempatkan dalam satu sistem kurikulum yang saling terhubung dan tidak terpisah secara dikotomis. Representasi visual dalam diagram memperlihatkan interaksi langsung antara rumpun sains, sosial, dan bahasa dengan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Interaksi ini memungkinkan peserta didik memahami materi akademik melalui pendekatan ilmiah sekaligus pendekatan etis. Contoh implementasi integrasi tampak pada pembelajaran biologi yang tidak hanya membahas konsep ekosistem, tetapi juga dikaitkan dengan prinsip tanggung jawab manusia terhadap alam. Pembelajaran IPS juga diarahkan untuk menganalisis fenomena sosial dengan merujuk pada nilai keadilan, kemanusiaan, dan akhlak. Fungsi diagram kurikulum terintegrasi berperan sebagai representasi visual praktik integrasi yang berlangsung dalam pembelajaran sehari-hari. Diagram ini menegaskan bahwa kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi dioperasionalkan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang saling berkesinambungan.
Berdasarkan hasil dokumentasi kurikulum, struktur kurikulum SMA Dea Malela dirancang dengan menempatkan studi Islam sebagai pusat orientasi pengetahuan. Dokumentasi kurikulum dan struktur mata pelajaran menunjukkan bahwa mata pelajaran umum dan agama tidak dipisahkan secara dikotomis, tetapi ditempatkan dalam satu kesatuan sistem kurikulum. Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum menjelaskan bahwa “di sini tidak ada pemisahan antara pelajaran agama dan pelajaran umum, karena keduanya dipahami sebagai bagian dari satu kesatuan ilmu.” (W2) Selama wawancara, Kepala Sekolah menyampaikan bahwa “kurikulum ini memang ingin menghilangkan dikotomi ilmu. Jadi bukan lagi agama versus umum, tetapi bagaimana semua ilmu itu diarahkan untuk membentuk kesadaran bahwa belajar itu bagian dari ibadah.” (W1) Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa posisi studi Islam bukan hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai kerangka epistemik yang memberi makna pada pengetahuan lainnya.
Proses pengembangan silabus disusun melalui kerja interdisipliner. Melalui pendekatan ini, Biologi dapat dianalisis menggunakan lensa Maqasid al-Syari’ah, Ekonomi dihubungkan dengan Fiqh Mu’amalah, Sejarah diperdalam melalui dinamika peradaban muslim, dan Matematika dipadukan dengan warisan ilmiah tokoh seperti al-Khawarizmi dan al-Biruni. Integrasi tersebut bukanlah proses yang terisolasi, melainkan membuka ruang dialogis antara pengetahuan modern dan khazanah intelektual Islam.
. Isu-isu mutakhir seperti bioetika, krisis lingkungan, dan perkembangan teknologi tidak hanya ditelaah berlandaskan teori ilmiah yang sudah mapan, tetapi turut dipahami melalui sudut pandang Islam yang menempatkan etika, tanggung jawab, serta aspek spiritual sebagai pusat proses pemaknaan realitas. Pendekatan ini mengubah kedudukan sains dalam ranah pendidikan: dari yang semula dipahami sebagai sekadar keterampilan teknis yang perlu dikuasai, menjadi media bagi manusia untuk menafsirkan dan memikul tanggung jawab moralnya. Melalui orientasi tersebut, peserta didik diarahkan untuk memahami sains sebagai aktivitas intelektual sekaligus etis yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Tema-tema kontemporer seperti bioetika, isu lingkungan, dan perkembangan teknologi tidak hanya dikaji melalui kerangka ilmiah konvensional, melainkan juga dievaluasi melalui lensa etika Islam. Seorang guru menyebutkan bahwa “ketika membahas bioteknologi atau kecerdasan buatan, anak-anak tidak hanya belajar teknologinya tetapi juga implikasi etik dan tanggung jawab moralnya.” (W4) Sistem penilaiannya dirancang secara holistik.
Aspek kognitif, proses asesmen diarahkan pada sejauh mana konsep dipahami; pada aspek karakter, indikator yang diukur berkaitan dengan sikap serta tindakan; sedangkan pada aspek keterampilan, penilaian menitikberatkan pada kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Penerapan model ini mengharuskan guru untuk mengintegrasikan pengetahuan ilmiah modern dengan khazanah keilmuan Islam. Selain itu, efektivitas implementasinya sangat ditentukan oleh dukungan institusional, termasuk penyediaan pelatihan profesional yang memadai serta ketersediaan sumber belajar yang relevan. Dengan landasan ini, kurikulum diarahkan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki penguasaan pengetahuan yang solid, tetapi juga kepekaan etis serta identitas keislaman yang kuat, sehingga mampu terlibat dan memberikan kontribusi dalam kehidupan modern tanpa melepaskan nilai-nilai yang diyakini.
C.Perencanaan Pembelajaran dalam Penerapan Kurikulum Terintegrasi
Berdasarkan hasil wawancara dan analisis dokumen perencanaan pembelajaran, perencanaan pembelajaran di SMA Dea Malela disusun melalui mekanisme kolaboratif antara tim kurikulum dan guru lintas mata pelajaran. Proses kolaborasi ini berlangsung dalam bentuk rapat akademik berkala yang membahas penyelarasan indikator, materi, tema integrasi, serta bentuk evaluasi pembelajaran. Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum menjelaskan bahwa “perencanaan itu kami lakukan bersama karena integrasi tidak bisa dikerjakan sendirian oleh satu guru.” (W2) Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan terjadinya kesepahaman konseptual antar guru mengenai arah pembelajaran, tema yang akan dikembangkan, serta bentuk integrasi ilmu dan nilai yang akan diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar.[27] Temuan ini menunjukkan bahwa budaya kerja kolektif dan komunikasi profesional antar guru menjadi prasyarat penting dalam keberhasilan perencanaan kurikulum terintegrasi.[28]
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru merumuskan tujuan pembelajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang.[29] Tujuan pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada penguatan sikap, nilai, dan keterampilan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran di SMA Dea Malela tidak diposisikan sebagai dokumen administratif semata, melainkan sebagai ruang awal internalisasi nilai dan pembentukan karakter peserta didik.[30] Guru secara sadar memasukkan strategi integrasi antara disiplin ilmu umum dan keagamaan ke dalam perencanaan pembelajaran, baik melalui pemilihan materi, metode, maupun kegiatan refleksi nilai, sehingga integrasi kurikulum telah dipertimbangkan sejak tahap perencanaan, bukan hanya muncul secara spontan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dokumen perencanaan pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kontekstual digunakan sebagai strategi utama dalam penerapan kurikulum terintegrasi.[31] Pembelajaran berbasis proyek dipandang efektif sebagai sarana untuk menghubungkan berbagai konsep lintas mata pelajaran sekaligus menanamkan nilai melalui pengalaman belajar yang bersifat autentik.[32] Melalui kegiatan proyek dan pembelajaran kontekstual, peserta didik diarahkan untuk mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan pengalaman nyata serta nilai-nilai moral yang relevan. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak dipahami hanya sebagai proses menguasai materi, tetapi sebagai ruang bagi siswa untuk memberi makna dan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman hidup mereka.
Proses belajar diarahkan agar siswa dapat melihat relevansi anatara apa yang dipelajari dikelas dan realits social yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan begiti, pengetahuan tidak berhenti pada Tingkat konsep, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang bisa diterapkan. Orientasi tersebut sejalan dengan prinsip kurikulum terpadu yang menekankan perluasan konteks dalam proses belajar. Pendekatan ini bukan hanya soal menambahkan atau menggabungkan materi pelajaran, melainkan menyediakan ruang yang lebih besar bagi peserta didik untuk memaknai pengetahuan berdasarkan realitas yang mereka jumpai. Dengan cara demikian, kegiatan belajar bergerak dari aktivitas mengakumulasi informasi menuju praktik memahami keterhubungan antara konsep, pengalaman, dan situasi sosial yang mereka hadapi. Pendekatan tersebut tampak secara konkret dalam tahap perencanaan pembelajaran ISS (Integrated Social Sciences). Berdasarkan hasil wawancara dengan guru ISS, perencanaan dilakukan melalui proses penyusunan tema tematik yang menghubungkan fenomena sosial dan budaya dengan prinsip-prinsip etika Islam. Guru ISS menjelaskan bahwa “tujuan kami adalah supaya anak-anak tidak hanya memahami peristiwa sosial, tetapi juga bisa menimbangnya secara etis.” (W5)
Dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ISS tahun 2024 menunjukkan bahwa proses perencanaan pembelajaran tidak hanya berisi susunan materi ajar, tetapi juga meliputi indikator capaian nilai, daftar rujukan, serta komponen refleksi sosial. Setiap tema pembelajaran dalam dokumen tersebut menyediakan ruang eksplisit untuk memasukkan nilai-nilai Islam, misalnya melalui penyajian sejarah pemikiran Islam, konsep keadilan sosial, dan prinsip akhlak al-karimah sebagai landasan analitis terhadap fenomena sosial. Berdasarkan observasi peneliti pada tahap perencanaan, para guru ISS membangun jembatan konseptual agar peserta didik dapat mengamati realitas sosial melalui dua perspektif sekaligus: perspektif ilmiah untuk menelaah struktur dan dinamika sosial, serta perspektif etis untuk merefleksikan dimensi moral dan kemanusiaannya. Integrasi ini memastikan bahwa pengetahuan sosial tidak berhenti pada tataran abstraksi teoretis, tetapi tetap berkelindan dengan pengalaman hidup keseharian siswa.
Guru ISS menjelaskan bahwa “kami ingin anak-anak bukan hanya paham apa yang terjadi di masyarakat, tapi juga berpikir bagaimana seharusnya mereka bersikap.” (W5). Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran ISS mengandung dimensi disposisional yang menempatkan etika sebagai bagian dari proses konstruksi pengetahuan. Temuan lapangan menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran di SMA Dea Malela pada umumnya telah mencerminkan pemahaman guru yang memadai terhadap landasan filosofis kurikulum terintegrasi. Pemahaman tersebut tercermin dalam pola penyusunan rencana pembelajaran yang tersusun secara terstruktur serta dalam keterlibatan guru dalam kerja kolaboratif untuk menyelaraskan komponen-komponen pembelajaran. Proses ini dipandang penting karena menjadi prasyarat bagi keberlanjutan implementasi kurikulum terintegrasi pada tahap pelaksanaan.
Kejelasan arah dalam perencanaan juga menyediakan kerangka acuan yang konsisten bagi guru untuk menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan sistem nilai secara terpadu, sehingga integrasi tidak bersifat sporadis melainkan sistematik. Dengan demikian, perencanaan tidak semata-mata diperlakukan sebagai prosedur administratif, tetapi turut berfungsi mendorong terbentuknya praktik pembelajaran yang lebih bermakna dan terkait erat dengan realitas kehidupan di kelas.
Penyusunan rencana pembelajaran yang sistematis dan terintegrasi di SMA Dea Malela memainkan fungsi strategis sebagai penghubung antara kebijakan kurikulum tingkat institusi dan implementasinya di kelas. Berdasarkan wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, perencanaan dipandang sebagai instrumen penting untuk memastikan konsistensi orientasi kurikulum. Ia menegaskan bahwa “tanpa perencanaan yang jelas, kurikulum terintegrasi akan berjalan sesuai dengan interpretasi masing-masing guru, yang dapat sangat bervariasi” (W2). Perencanaan yang terstruktur memungkinkan tujuan kurikulum dialihkan menjadi aktivitas pembelajaran yang operasional dan terukur dalam rutinitas sekolah. Dokumen bahan ajar tahun 2024 juga memperlihatkan bahwa setiap mata pelajaran memuat tujuan kognitif, indikator integrasi nilai, serta formulir evaluasi.. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan kurikulum tidak berhenti pada tataran visi, tetapi diterjemahkan dalam bentuk teknis yang dapat dijalankan guru.
Observasi pada rapat koordinasi akademik memperlihatkan bahwa proses ini turut memberikan kerangka kerja yang seragam bagi para guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran terintegrasi, sehingga potensi ketidaksinkronan antar mata pelajaran dapat diminimalisasi. Salah seorang guru ISS menjelaskan bahwa “pertemuan koordinasi itu membuat kami punya pegangan yang sama. Jadi integrasinya tidak hanya ada di kepala masing-masing guru.” (W5) Hal ini menegaskan bahwa kualitas implementasi kurikulum terintegrasi sangat ditentukan oleh kekuatan perencanaan awal yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan pemahaman filosofis terhadap tujuan pendidikan holistik.[32]
Bagan I. Perencanaan Pembelajaran
Figure 2.
Bagan ini menggambarkan proses perencanaan pembelajaran dalam kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela yang dilaksanakan secara sistematis dan kolaboratif. Berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum, proses perencanaan dimulai melalui koordinasi tim kurikulum yang melibatkan diskusi lintas mata pelajaran. Ia menjelaskan bahwa “pertemuan lintas mapel ini bertujuan menyamakan tujuan pembelajaran dan memastikan arah integrasi kurikulum berjalan konsisten.” (W2) Hasil observasi peneliti pada rapat akademik menunjukkan bahwa diskusi lintas mata pelajaran digunakan untuk menyelaraskan tujuan pembelajaran, indikator capaian, dan prinsip integrasi nilai. Pada tahap selanjutnya, guru merancang tema lintas disiplin yang menghubungkan dimensi akademik dengan nilai-nilai Islam. Salah seorang guru ISS menuturkan bahwa “tema-tema itu disusun supaya siswa bisa melihat fenomena sosial dari sisi ilmiah sekaligus nilai Islam.” (W5)
Dokumen perangkat ajar menunjukkan bahwa pada tahap perancangan tema lintas disiplin, guru tidak hanya menetapkan tema, tetapi juga merumuskan mekanisme keterpaduan antarmata pelajaran, strategi integrasi nilai, dan bentuk evaluasi yang sesuai. Mekanisme keterpaduan ini kemudian diwujudkan ke dalam aktivitas pembelajaran, seperti diskusi kelas, studi kasus, dan refleksi nilai, agar integrasi tidak berhenti pada tataran konsep tetapi muncul di dalam praktik pembelajaran. Setelah tema ditetapkan, guru menentukan materi pembelajaran beserta pendekatan yang akan digunakan. Pendekatan yang dipilih antara lain pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kontekstual, yang kemudian dilengkapi dengan kegiatan refleksi nilai. Melalui strategi tersebut, peserta didik didorong untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Pada saat yang sama, mereka diajak merefleksikan nilai-nilai keislaman yang relevan dengan materi yang dipelajari, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga bermuatan etik dan spiritual.
Seluruh rangkaian perencanaan tersebut kemudian dirumuskan secara operasional dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dokumen perencanaan pembelajaran tidak hanya memuat rumusan tujuan instruksional, tetapi juga dirancang untuk merefleksikan integrasi yang seimbang antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu, rencana pembelajaran tersebut mencantumkan tahapan kegiatan belajar yang disusun secara kontekstual dan diselaraskan dengan karakteristik peserta didik. Melalui desain perencanaan yang sistematis ini, proses pembelajaran di kelas memiliki arah yang lebih jelas dan terukur, sehingga mendukung pencapaian tujuan kurikulum terpadu secara konsisten dan berkelanjutan.. Bagan yang disajikan menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran berbasis kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela tidak bersifat parsial, melainkan disusun secara sistematis dan berorientasi pada keterpaduan antara ilmu pengetahuan, nilai, dan proses pembelajaran.
D.Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Terintegrasi
Berdasarkan hasil temuan sebelumnya, analisis dan interpretasi pada bagian ini digunakan untuk menghubungkan praktik pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela dengan teori kurikulum terintegrasi, pembelajaran kontekstual, dan pendidikan berbasis nilai. Pembahasan ini bertujuan untuk menempatkan temuan empiris dalam kerangka teoritik yang relevan sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna dan implikasi implementasi kurikulum terintegrasi dalam praktik pembelajaran.
1.Keterkaitan Pelaksanaan Pembelajaran dengan Teori Kurikulum Terintegrasi
Pelaksanaan pembelajaran di SMA Dea Malela menunjukkan bahwa kurikulum terintegrasi tidak hanya dipahami sebagai penggabungan materi lintas mata pelajaran, tetapi sebagai pendekatan pembelajaran yang mengaitkan pengetahuan akademik dengan nilai keislaman dan realitas sosial peserta didik. Hal ini terlihat pada hasil observasi pembelajaran ISS dan Biologi, dimana guru menghubungkan konsep materi dengan fenomena kehidupan sehari-hari sambil menekankan dimensi etika Islam. Seorang guru menjelaskan bahwa “kami ingin siswa memahami pelajaran secara ilmiah, tetapi juga mempertimbangkannya dari sisi etika Islam dan kehidupan sosial mereka.” (W5) Temuan ini sejalan dengan pandangan Fogarty yang menekankan bahwa kurikulum terintegrasi bertujuan membangun keterhubungan antar disiplin ilmu agar peserta didik memperoleh pemahaman yang holistik dan bermakna.[21] Dalam praktiknya, guru tidak menyampaikan materi secara terpisah, tetapi mengaitkan konsep-konsep sains dan sosial dengan nilai-nilai keislaman melalui diskusi reflektif dan contoh kontekstual. Hasil observasi pada pelajaran ISS memperlihatkan bahwa guru memulai pembelajaran dengan mengangkat fenomena sosial aktual, lalu mengaitkannya dengan konsep-konsep sosiologis dan prinsip etika Islam melalui diskusi tanya jawab serta analisis studi kasus. Pada bagian penutup, peserta didik diarahkan untuk merefleksikan implikasi moral dari fenomena yang telah dikaji. Pola pembelajaran yang sejalan juga ditemukan di mata pelajaran Biologi. Observasi menunjukkan bahwa guru mengaitkan konsep ekosistem dengan gagasan hifz al-bi'ah (pemeliharaan lingkungan) dalam kerangka Maqasid al-Syari'ah. Guru menjelaskan bahwa “kami ingin siswa memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sains tetapi juga bagian dari amanah moral.” (W3) Dengan cara demikian, proses pembelajaran memperoleh dimensi pedagogis yang lebih utuh dan bermakna. Kegiatan belajar pun diarahkan untuk menghadirkan pengalaman yang relevan dengan perkembangan personal maupun sosial peserta didik. Melalui pola pembelajaran seperti ini, peserta didik tidak hanya memahami materi secara akademik, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna yang berakar pada realitas kehidupan mereka. Dengan kata lain, pembelajaran berfungsi sebagai medium untuk menghubungkan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya membantu peserta didik memahami materi pelajaran, tetapi juga mendukung perkembangan pribadi dan sosial mereka secara seimbang.[30]
2.Peran Guru sebagai Fasilitator dalam Pembelajaran Kontekstual dan Reflektif
Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru memegang peran kunci dalam keberhasilan pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi. Hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum mengungkapkan bahwa “guru menjadi penghubung antara rancangan kurikulum dan praktik pembelajaran di kelas.” (W2). Observasi di kelas memperlihatkan bahwa guru berperan dalam memfasilitasi integrasi antara materi akademik dengan nilai keislaman melalui pengelolaan diskusi, studi kasus, dan refleksi nilai. Dalam situasi tersebut, guru mengambil posisi sebagai fasilitator yang mendampingi peserta didik dalam menelusuri keterhubungan konsep-konsep dari berbagai disiplin melalui aktivitas diskusi, pemecahan masalah, dan refleksi pembelajaran.[33] Peran tersebut konsisten dengan prinsip pembelajaran kontekstual yang memposisikan guru sebagai penghubung antara materi pelajaran dan realitas kehidupan peserta didik. Melalui pendekatan yang bersifat dialogis dan reflektif, proses pembelajaran menyediakan ruang bagi peserta didik untuk terlibat secara aktif—bukan hanya menyerap informasi secara pasif, tetapi juga mengolah, menafsirkan, dan memaknai pengetahuan berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini serta pengalaman yang mereka alami.Temuan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum terintegrasi menuntut kompetensi pedagogis guru yang melampaui penguasaan materi semata, yaitu kemampuan mengelola pembelajaran yang bermakna dan sarat nilai.[34] Dengan demikian, guru memegang peran strategis sebagai penghubung antara integrasi keilmuan dan internalisasi nilai dalam keseluruhan proses pembelajaran.
3.Respons Peserta Didik dan Dukungan Budaya Sekolah terhadap Implementasi Kurikulum Terintegrasi
Respons peserta didik terhadap implementasi kurikulum terintegrasi menunjukkan tingkat keterlibatan yang cukup aktif, terutama ketika materi pelajaran dihubungkan dengan persoalan nyata serta nilai yang dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari. Temuan observasi pada pembelajaran ISS memperlihatkan bahwa ketika guru menghadirkan fenomena sosial mutakhir, peserta didik menunjukkan antusiasme melalui penyampaian pendapat dan pertanyaan mengenai relevansi fenomena tersebut dengan konteks sosial di sekitar mereka.Seorang peserta didik menyebutkan bahwa “kalau pelajarannya dikaitkan sama kehidupan kita, jadi terasa lebih gampang dan lebih menarik.” (S1). Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pembelajaran yang kontekstual dan bernilai mampu meningkatkan keterlibatan kognitif dan afektif peserta didik secara bersamaan. Guru ISS juga menegaskan bahwa “diskusi nilai membuat anak-anak lebih terlibat dan berani mengeluarkan pendapat, karena mereka merasa ini menyangkut kehidupan mereka.” (W5) Selain itu, pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela didukung oleh budaya sekolah yang menekankan integrasi nilai dalam seluruh aktivitas pendidikan. Observasi kegiatan di asrama dan lingkungan sekolah menunjukkan adanya praktik pembiasaan nilai seperti adab dalam interaksi, kegiatan ibadah berjamaah, serta pembiasaan kebersihan dan kedisiplinan. Guru pendamping asrama menyebutkan bahwa “apa yang diajarkan di kelas itu kemudian dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari di asrama.” (W4) Nilai-nilai yang disampaikan dalam pembelajaran formal diperkuat melalui praktik keseharian di lingkungan sekolah sehingga terjadi kesinambungan antara pembelajaran di kelas dan pembentukan karakter peserta didik. Dokumentasi pedoman akademik SMA Dea Malela tahun 2024 juga menunjukkan adanya desain pendidikan yang menyatukan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu kerangka kurikulum yang holistik. Dukungan institusional ini menunjukkan bahwa implementasi kurikulum terintegrasi tidak berdiri sendiri pada level pembelajaran, tetapi terinternalisasi dalam sistem dan budaya pendidikan sekolah secara menyeluruh.[9]
Keseluruhan hasil pembahasan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela telah merepresentasikan pendekatan pembelajaran holistik yang mengaitkan pengetahuan akademik, nilai keislaman, dan konteks kehidupan peserta didik secara terpadu. Peran guru sebagai fasilitator yang mengelola pembelajaran secara kontekstual dan reflektif menjadi faktor kunci dalam menjembatani integrasi lintas disiplin ilmu dan nilai, sementara keterlibatan aktif peserta didik menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna mampu mengaktifkan ranah kognitif dan afektif secara simultan. Dukungan budaya sekolah yang menekankan integrasi nilai dalam seluruh aktivitas pendidikan semakin memperkuat keberlanjutan implementasi kurikulum terintegrasi, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung sebagai proses instruksional di kelas, tetapi terinternalisasi dalam praktik pendidikan secara institusional. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela dapat dipahami sebagai proses pedagogis yang sistematis dan kontekstual dalam mendukung pembentukan kompetensi akademik dan karakter peserta didik secara seimbang.[17]
E.Evaluasi Pembelajaran Kurikulum Terintegrasi
Berdasarkan hasil wawancara, guru menerapkan evaluasi pembelajaran melalui kombinasi penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru ISS menjelaskan bahwa “nilai siswa tidak hanya dilihat dari tes tertulis, tetapi juga dari bagaimana mereka berdiskusi dan mengambil sikap terhadap isu sosial.” (W5) Dokumen perangkat penilaian menunjukkan adanya penggunaan rubrik penilaian yang mencakup ketercapaian pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam mata pelajaran Biologi, perangkat penilaiannya memuat indikator penguasaan konsep, keterampilan analitis, dan kesadaran ekologis yang sekaligus menunjukkan adanya integrasi nilai-nilai Islam dalam proses evaluasi. Berdasarkan hasil observasi, asesmen tidak hanya diterapkan pada akhir sesi pembelajaran, tetapi juga berlangsung secara berkesinambungan melalui kegiatan tanya jawab, refleksi nilai, diskusi kelompok, serta analisis studi kasus. Model penilaian semacam ini selaras dengan karakter penilaian autentik, yang menilai baik proses maupun hasil belajar secara simultan. Selain itu, praktik evaluasi diperkuat oleh budaya sekolah yang menempatkan dimensi nilai sebagai bagian dari pembentukan karakter. Guru pendamping asrama menyebutkan bahwa “apa yang mereka pelajari di kelas, dinilai lagi dalam bentuk sikap dan kebiasaan di asrama.” (W4). Temuan ini menunjukkan adanya kesinambungan antara evaluasi akademik dan evaluasi karakter.
1.Evaluasi Pembelajaran sebagai Bagian Integral dari Kurikulum Terintegrasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran di SMA Dea Malela dirancang untuk mencerminkan prinsip kurikulum terintegrasi dengan menilai berbagai aspek pembelajaran secara komprehensif. Evaluasi tidak hanya dilakukan melalui tes tertulis, tetapi juga melalui penilaian kinerja, proyek, portofolio, dan pengamatan sikap peserta didik.[35] Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran tidak diposisikan sebagai tahap akhir pembelajaran semata, melainkan sebagai bagian yang menyatu dengan proses pembelajaran itu sendiri. Praktik evaluasi ini konsisten dengan konsep evaluasi holistik, yang menekankan penilaian proporsional dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.[36] Dalam kerangka kurikulum terpadu, bentuk evaluasi semacam ini memiliki signifikansi tinggi karena tujuan pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan moral, nilai, serta rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Dengan cara tersebut, mekanisme asesmen di SMA Dea Malela mencerminkan upaya institusi dalam menjaga konsistensi antara orientasi kurikulum dan praktik penilaiannya di lapangan.
2.Penilaian Autentik sebagai Sarana Mengukur Integrasi Ilmu dan Nilai
Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru di SMA Dea Malela menggunakan penilaian autentik sebagai salah satu strategi utama dalam mengevaluasi pembelajaran kurikulum terintegrasi.[37] Penilaian autentik dilakukan melalui tugas proyek, presentasi, diskusi, dan refleksi, yang memungkinkan peserta didik menunjukkan pemahaman konsep sekaligus internalisasi nilai dalam konteks nyata. Pendekatan ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan hasil belajar secara lebih bermakna dibandingkan dengan penilaian berbasis tes semata. Penggunaan penilaian autentik menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran diarahkan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan, bukan hanya mengingat informasi.[38] Selain itu, penilaian sikap dan refleksi nilai memungkinkan guru menilai sejauh mana peserta didik mampu mengaitkan pembelajaran dengan nilai keislaman dan realitas sosial. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran berfungsi sebagai sarana untuk menilai keberhasilan integrasi ilmu dan nilai yang menjadi ciri utama kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela.
3.Evaluasi sebagai Umpan Balik untuk Perbaikan Pembelajaran dan Penguatan Karakter
Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran juga dimanfaatkan sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Hasil evaluasi tidak hanya digunakan untuk menentukan capaian belajar peserta didik, tetapi juga sebagai dasar refleksi guru dalam mengevaluasi efektivitas strategi pembelajaran yang telah diterapkan. Praktik tersebut menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran dipahami sebagai proses reflektif yang berlangsung secara berkelanjutan, bukan semata-mata sebagai sarana untuk menentukan nilai akhir.[37] Evaluasi diposisikan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran yang membantu guru dan peserta didik memahami perkembangan belajar secara menyeluruh.
Selain itu, pelaksanaan evaluasi pembelajaran di SMA Dea Malela juga berperan dalam penguatan karakter peserta didik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penilaian terhadap aspek sikap, kedisiplinan, dan tanggung jawab peserta didik diintegrasikan kedalam aktivitas pembelajaran dikelas dan diperkuat melalui praktik budaya sekolah. Konfigurasi ini mengindikasikan bahwa proses evaluasi tidak dibatasi pada pengukuran capaian akademik semata, tetapi juga berfungsi mendukung tujuan pendidikan yang lebih komprehensif, terutama dalam pembentukan karakter dan internalisasi nilai pada pserta didik. Dengan demikian, dalam kerangka kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela, evaluasi tidak hanya diposisikan sebagai instrument untuk menialai hasil belajar, tetap juga sebagai medium untuk mengembangkan peserta didik secara utuh.
Keseluruhan hasil pembahasan menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran dalam kerangka kurilukum terintegrasi di SMA Dea Malela telah dilaksanakan secara komprehensif dengan orientasi pada pengembangan peserta didik secara menyeluruh. Evaluasi tidak dipahami sebagai aktivitas yang terfragmentasi dari proses pembelajaran, tetapi diposisikan sebagai bagian inheren dari keseluruhan desain pedagogis untuk menilai ketercapaian pengetahuan, keterampilan, dan nilai secara proporsional. Dengan cara tersebut, evaluasi berfungsi sebagai instrumen strategis yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Penerapan penilaian autentik memberikan ruang bagi guru untuk mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan sekaligus menginternalisasikan nilai-nilai keIslaman dalam konteks kehidupan nyata. Melalui pendekatan evaluasi yang berorientasi pada pengalaman belajar, peserta didik diarahkan untuk menunjukkan bentuk pemahaman yang tidak hanya bersifat konseptual. Selain itu, pemanfaatan hasil evaluasi sebagai umpan balik menunjukkan adanya proses refleksi yang berlangsung secara berkelanjutan dalam pembelajaran.
Umpan balik tersebut menjadi dasar bagi perbaikan strategi pembelajaran baik oleh guru maupun peserta didik sehingga proses belajar dapat terus berkembang dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang muncul. Berbagai instrumen asesmen dimanfaatkan untuk memperoleh potret yang komprehensif mengenai capaian belajar peserta didik. Penilaian tidak hanya diperlakukan sebagai alat untuk mengukur hasil akademik, tetapi juga sebagai medium refleksi serta perbaikan proses pembelajaran. Selain itu, evaluasi turut berfungsi memperkuat internalisasi nilai dan pembentukan karakter, sebab aspek sikap dan tanggung jawab dinilai secara kontinu. Dengan demikian, implementasi kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela dapat dipandang sebagai proses pedagogis yang berlangsung secara konsisten dan operasional, sekaligus selaras dengan orientasi pendidikan holistik yang menekankan keseimbangan antara penguasaan pengetahuan, penguatan nilai, dan pembentukan karakter peserta didik.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum terintegrasi dalam pembelajaran di SMA Dea Malela telah dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan. Perencanaan pembelajaran di SMA Dea Malela dilakukan secara bersama-sama oleh tim kurikulum dan guru dari berbagai mata pelajaran. Evaluasi pembelajaran tidak diposisikan sebagai kegiatan pengukuran hasil belajar semata, melainkan sebagai bagian yang menyatu dengan keseluruhan proses pembelajaran untuk menilai ketercapaian aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai secara seimbang. Dengan model demikian, proses evaluasi tidak dipandang lagi sebagai bagian penutup dari pembelajaran, tetapi sebagai elemen yang menyatu dalam keseluruhan upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Penerapan asesmen autentik memungkinkan guru menilai sejauh mana peserta didik mampu menerapkan pengetahuan sekaligus menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam situasi kehidupan nyata. Melalui asesmen berbasis pengalaman belajar, siswa diarahkan untuk menunjukkan pemahaman yang bukan hanya bersifat teoretis, tetapi juga dapat diimplementasikan dan relevan dengan konteks kehidupan mereka.
Di sisi lain, pemanfaatan hasil evaluasi sebagai umpan balik menunjukkan adanya proses refleksi yang berlangsung secara berkelanjutan dalam pembelajaran. Umpan balik tersebut digunakan sebagai dasar perbaikan strategi pembelajaran, baik oleh guru maupun oleh peserta didik, sehingga proses belajar dapat terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang muncul. Penggunaan beragam instrumen penilaian dalam evaluasi ini memungkinkan diperolehnya gambaran yang lebih utuh mengenai capaian belajar peserta didik, mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara seimbang.
Evaluasi tidak hanya difungsikan sebagai alat untuk mengukur hasil belajar akademik, tetapi juga sebagai sarana umpan balik bagi guru dan peserta didik dalam rangka perbaikan proses pembelajaran. Selain itu, evaluasi berperan dalam memperkuat internalisasi nilai dan pembentukan karakter, karena aspek sikap dan tanggung jawab dinilai secara berkelanjutan. Dengan demikian, penerapan kurikulum terintegrasi di SMA Dea Malela dapat dipahami sebagai suatu proses pedagogis yang berjalan secara konsisten dan fungsional, serta sejalan dengan tujuan pendidikan holistik yang menekankan keseimbangan antara penguasaan pengetahuan, penguatan nilai, dan pembentukan karakter peserta didik.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan terima kasih kepada SMA Dea Malela atas izin dan dukungan penuh selama penelitian ini, serta kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta guru mata pelajaran INS, ISS dan IIS atas kontribusi data yang diberikan. Dukungan administrasi dan fasilitas dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo turut memfasilitasi terselenggaranya penelitian ini dengan lancar.
Isma et al., “Peta Permasalahan Pendidikan Abad 21 di Indonesia,” vol. 01, no. September, pp. 11–28, 2023.
D. Maslan and A. F. Daulai, “Integrated Curriculum Management in Integrated Undergraduate Programs,” vol. 28, no. 2, pp. 216–232, 2024.
Budiyono, “No Title,” vol. 3, no. 1, pp. 66–84, 2021.
P. Universitas, I. Negeri, D. Palu, Z. Zulham, and E. Erniati, “Integrasi Nilai Islam dalam Desain Kurikulum Terpadu di Sekolah Islam Terpadu,” vol. 0, pp. 650–656, 2025.
T. Supriatin, A. Rubiyad, M. Sofy, S. Ma, S. Ma, and S. Ma, “The Integration of Pesantren and Madrasah Curriculum and Its Implication on Students,” Edumasa: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, pp. 24–33, 2023.
S. Gunagraha et al., “Implementation of Integrated Curriculum Development at Muhammadiyah Plus North Klaten Junior High School,” vol. 16, no. 2, 2024.
W. A. S. Palembang, “No Title,” vol. 11, no. April, pp. 20–27, 2023.
D. I. Yogyakarta, “Manajemen Integrasi Kurikulum pada MA Al-Mumtaz Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta,” vol. 08, no. 01, pp. 113–128, 2022.
N. U. Nistiti and U. N. Surabaya, “Revealing Implementation of an Integrated Curriculum in Indonesian,” no. 2, pp. 174–188.
Kurikulum, D. A. N. Pondok, and P. Di, “Sekolah Menengah Pertama Swasta Islam Terpadu Al-Furqon Tebas Integration of 2013 Curriculum and Boarding on Bookings in Al-Furqon Tebas Integrated Islamic,” vol. 4, no. 2, pp. 69–76, 2022.
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2021.
L. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya, 2019.
J. W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2018.
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2014.
Kusumawati, “Integrasi Kurikulum Pesantren Dalam Kurikulum Nasional Pada Pondok Pesantren Modern,” vol. 2, no. 01, pp. 1–7, 2024.
Mujahid, U. Islam, N. Raden, and M. Said, “Inovasi Kurikulum,” vol. 22, no. 2, pp. 23–36, 2025.
S. Anwar, D. Firmansyah, and D. I. Ashsholihah, “Implementasi Kurikulum SMA Sains Plus Baitul Qur’an Boarding School Sragen,” vol. 5, no. 1, pp. 245–253, 2022.
Nurdin, A. Haris, N. Zainab, and M. Z. Yahaya, “Developing the Islamic Religious Education Curriculum in Inclusive Schools or Madrasah and Its Implementation: A Systematic Literature Review,” vol. 21, no. 1, 2024.
P. D. Madrasah and K. Santri, “Integrasi Kurikulum Pesantren dan Madrasah dalam Meningkatkan Karakter Santri (Studi Kasus di Pondok Pesantren Azzahro),” Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, vol. 8, no. 1, pp. 231–242, 2024.
T. Jayadi, M. Thohri, and F. Maujud, “Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dengan Kurikulum Pesantren dalam Meningkatkan Moderasi Beragama,” pp. 105–119.
R. Fogarty, Ten Ways to Integrate Curriculum. Palatine, IL, USA: Skylight Publishing, 1995.
J. A. Beane, Curriculum Integration: Designing the Core of Democratic Education. New York, NY, USA: Teachers College Press, 1997.
S. M. Drake, Creating Standards-Based Integrated Curriculum: Aligning Curriculum, Content, Assessment, and Instruction. Thousand Oaks, CA, USA: Corwin Press, 2007.
E. B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s Here to Stay. Thousand Oaks, CA, USA: Corwin Press, 2002.
C. Ornstein and F. P. Hunkins, Curriculum: Foundations, Principles, and Issues, 7th ed. Boston, MA, USA: Pearson Education, 2018.
W. F. Pinar, “A Praxis of Presence in Curriculum Theory: Advancing Currere Against Cultural Crises in Education,” New York, NY, USA: Routledge, 2022.
F. Hidayat, “Pengembangan Paradigma Integrasi Ilmu: Harmonisasi Islam dan Sains dalam Pendidikan,” vol. IV, 2015.
R. Z. Mushthofa and S. Aminah, “Integrasi Kurikulum Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan (Implementasi Pasal 17 dan 18, UU No. 18 Tahun 2019),” vol. 09, no. 01, pp. 115–124, 2025.
S. Nadirah, “Kurikulum Pendidikan Islam Integratif: Menghubungkan Ilmu Agama dan Ilmu Modern,” vol. 16, no. 1, pp. 78–91, 2025.
M. Yusuf, N. Ali, and M. A. Nur, “Integrative Curriculum Management in Shaping Muslim Character in Pesantren,” vol. 28, no. 2, pp. 136–149, 2024.
R. W. Sari, L. Syahsiami, and A. Subagyo, “Tinjauan Teoritis Integrasi Agama dan Sains dalam Pendidikan,” vol. 23, no. 01, pp. 19–36, 2025.
A. Hasibuan and D. A. Khairani, “Paradigma Wahdatul Ulum dan Pemahaman Integrasi Ilmu dan Agama pada Pandangan Gen Z di Era Digital,” vol. 5, no. 1, pp. 127–135, 2025.
E. Sulistian, “Transformasi Peran Guru Sekolah Dasar Sebagai Fasilitator Pembelajaran Abad ke-21,” vol. 6, pp. 289–295, 2025.
K. V. Di and S. D. Inpres, “Implementasi Model Pembelajaran Belajar Pendidikan Agama Islam,” pp. 85–104.
Akbar, A. Rezki, E. Putri, and N. U. Rahmatika, “Penerapan Evaluasi Portofolio dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMP Negeri 6 Sukadana,” vol. 5, no. 4, pp. 5567–5575.
S. Dasar, “4 1,2,3,” vol. 6, pp. 1–8, 2025.
N. Puteri et al., “Efektivitas Asesmen Autentik dalam Pembelajaran: The Effectiveness of Authentic Assessment in Learning,” vol. 8, pp. 77–87, 2023.
V. N. April, E. Novi, and K. Zebua, “Analisis Prinsip dan Peran Asesmen Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Peserta Didik,” vol. 1, no. 2, 2024.