Login
Section Innovation in Education

Management of Qur’anic Memorization Learning at Al Falah Darussalam Tropodo Islamic Elementary School

Pengelolaan Pembelajaran Hafalan Al-Qur’an di Sekolah Dasar Islam Al Falah Darussalam Tropodo
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Siti Fatimatuz Zuhroh (1), Eni Fariyatul Fahyuni (2)

(1) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Qur’an memorization programs have expanded rapidly within Islamic primary education. Specific Background However, primary schools frequently face challenges in maintaining long-term educational quality due to unstructured management systems and unstandardized evaluations. Knowledge Gap Existing studies mainly focus on memorization techniques or short-term outcomes rather than comprehensive managerial frameworks. Aims This study analyzes the planning, organizing, actuating, and controlling functions of Qur’an memorization management, along with its institutional opportunities and challenges. Results A qualitative case study reveals that structured management featuring regular and specialized takhassus classes, supported by a tiered evaluation system, yields consistent memorization completion rates. Novelty The findings demonstrate that combining program differentiation with multi-tiered controlling mechanisms creates a scalable, structured model for elementary Islamic institutions. Implications Institutional commitment and active parental involvement serve as essential catalysts for sustaining high-quality memorization outcomes in primary education.


Key Findings Highlights

Structured management with differentiated learning streams drives consistent memorization achievement.


Tiered evaluation mechanisms ensure systematic tracking and sustained learning quality.


Institutional leadership combined with active parental involvement strengthens program sustainability.


Keywords : Learning Management, Qur'an Memorization, Islamic Elementary School, Takhassus Class, Educational Evaluation

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan tahfidz Al-Qur’an mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam, baik pada jenjang dasar maupun menengah, yang memasukkan pembelajaran tahfidz ke dalam struktur kurikulumnya. Implementasi pembelajaran tahfidz dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sesuai karakteristik masing-masing satuan pendidikan[1], [2]. Sekolah Islam terpadu, madrasah, hingga homeschooling turut berkompetisi mengembangkan program tahfidz sebagai nilai keunggulan dan citra institusi[3], [4]. Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan berbasis Al-Qur’an turut diperkuat oleh meningkatnya kesadaran akan nilai-nilai Qur’ani sejak dini. Gerakan sosial seperti One Day One Juz (ODOJ) serta maraknya Rumah Tahfidz dan Sekolah Tahfidz berperan dalam membentuk persepsi positif terhadap pembelajaran tahfidz[1], [5]. Bahkan, banyak sekolah tahfidz kini tampil sebagai lembaga modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan sains dengan fasilitas pendidikan yang memadai, menjadikannya pilihan utama bagi masyarakat urban[6].

Perkembangan pembelajaran tahfidz di berbagai lembaga pendidikan Islam masih diiringi berbagai tantangan mendasar, terutama pada aspek manajemen pembelajaran tahfidz yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian memadai. Banyak sekolah melaksanakan program tahfidz dengan semangat tinggi, tetapi sekolah-sekolah tersebut mengalami penurunan mutu atau stagnasi karena tidak memiliki sistem manajemen yang terstruktur dan mendukung kesinambungan proses pembelajaran[7], [8]. Pada praktiknya, sejumlah sekolah belum memiliki standar kurikulum tahfidz yang berjenjang, jadwal pelaksanaan yang stabil, maupun mekanisme pendokumentasian hafalan yang sistematis. Evaluasi hafalan juga sering tidak konsisten antarguru, sehingga perkembangan siswa sulit dipantau secara berkelanjutan. Selain itu, keterbatasan tenaga pendidik yang kompeten dalam pedagogi Al-Qur’an, baik dari aspek bacaan maupun keterampilan mengelola pembelajaran, turut memperlebar kesenjangan antara idealitas desain pembelajaran dan implementasinya di lapangan[2], [3], [7]. Kondisi ini menunjukkan bahwa semangat penyelenggaraan pembelajaran tahfidz tidak selalu sejalan dengan kesiapan institusi dalam mengelolanya secara profesional.

Temuan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran tahfidz sangat ditentukan oleh kualitas manajemen yang diterapkan. Studi di madrasah Yogyakarta mengungkapkan bahwa hanya 5% madrasah yang memasukkan tahfidz ke dalam visi misi, dan efektivitas pelaksanaan program berada di bawah 30%[1] Penelitian lain menunjukka bahwa hafalanhariandan peran aktif guru yang konsisten dapat meningkatkan kualitas hafalan[5]. Di sisi lain, kini sekolah tahfidz modern bukanlah sekadar sekolah spiritual, melainkan telah menjadi bagian dari tren pendidikan Islam yang melibatkan prestasi akademis dan moralitas[6]. Manajemen pembelajaran tahfidz juga mempengaruhi karakteristik Islami, misalnya, disiplin, tanggung jawab, dan kepatuhan siswa[4], [9]. Selain itu, faktor motivasi internal yang diperkuat oleh peran guru, dukungan orang tua, dan lingkungan belajar yang kondusif turut berdampak pada konsistensi hafalan siswa[10].

Manajemen pembelajaran tahfidz pada tingkat sekolah dasar masih menghadapi berbagai keterbatasan yang menghambat kesinambungan pelaksanaannya. Studi di MI Plus Darul Hufadz menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tahfidz masih dilakukan secara manual dan belum distandardisasi, meskipun kegiatan telah berjalan bertahun-tahun[7]. Ketidakstandaran ini berdampak pada lemahnya kontinuitas proses pembelajaran dari tahun ke tahun, karena setiap guru mengembangkan strategi dan dokumentasi yang berbeda-beda. Di sisi lain, pendekatan homeschooling berbasis kebutuhan individu seperti metode STIFIn atau pengaturan waktu hafalan yang lebih spesifik terbukti meningkatkan capaian hafalan[3], sehingga memberi gambaran bahwa pembelajaran yang terencana dan disesuaikan dengan karakter siswa dapat memperkuat keberlanjutan capaian. Penelitian lain menegaskan bahwa penyesuaian strategi dengan kemampuan peserta didik melalui pengelompokan hafalan, penyetoran langsung kepada guru, dan rutinitas pengulangan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih efisien dan berkesinambungan, baik di pesantren maupun di sekolah dasar[11]. Selain itu, integrasi media digital yang mulai diterapkan beberapa lembaga terbukti meningkatkan motivasi dan konsistensi hafalan siswa[12]. Hal ini menunjukkan bahwa kesinambungan pembelajaran tahfidz di era modern memerlukan adaptasi terhadap teknologi tanpa meninggalkan metode tradisional. Dengan kata lain, kesinambungan pembelajaran hanya dapat dicapai apabila manajemen pembelajaran dirancang secara terstruktur, terdokumentasi, adaptif, dan dapat direplikasi oleh setiap guru dari waktu ke waktu.

Ketidakterpaduan antara semangat pelaksanaan dan lemahnya sistem manajemen menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan program tahfidz. Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya terkait metode hafalan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor manajerial seperti pembinaan guru, kesinambungan kurikulum, serta struktur evaluasi yang konsisten dan terdokumentasi[3], [7], [9]. Dalam konteks pendidikan, kesinambungan dipahami sebagai kemampuan institusi untuk menjaga keberlangsungan program, manfaat, serta dukungan internal setelah fase awal atau intervensi eksternal berakhir[13]. Kesinambungan ini ditentukan oleh keselarasan program dengan misi lembaga, fleksibilitas terhadap perubahan, dampak nyata bagi peserta didik, serta dukungan pihak eksternal[13], [14]. Kajian terdahulu menunjukkan bahwa perhatian terhadap aspek manajerial pada tingkat sekolah dasar masih terbatas karena penelitian cenderung berfokus pada capaian jangka pendek, metode hafalan, atau konteks pesantren[2], [3], [7], [8], [11], [15]. Kondisi ini berbeda dengan SD Al Falah Darussalam Tropodo yang telah menerapkan manajemen tahfidz secara terstruktur melalui seleksi berbasis tes tahsin, program takhassus, dan evaluasi hafalan yang ketat. Bukti efektivitasnya tampak dari lulusan yang mampu menyelesaikan hafalan delapan hingga sepuluh juz, prestasi dalam lomba tahfidz, serta keberhasilan masuk sekolah lanjutan melalui jalur tahfidz. Standar kompetensi guru juga kuat, ditunjukkan oleh minimal hafalan lima juz dan 80% guru yang telah menguasai 30 juz. Konsistensi ini menunjukkan kematangan manajemen yang layak dikaji lebih mendalam untuk melihat proses perencanaan pembelajaran, pengorganisasian, pelaksanaan pembelajaran termasuk perbedaan kelas tahfidz reguler dengan kelas tahfidz takahassus, dan evalusi pembelajaran diterapkan. Selain itu, penelitian juga melihat peluang dan tantangan yang muncul dalam manajemen pembelajaran tahfidz terutama dalam mejaga target mutu dan keberlanjutan pembelajaran. Penelitian ini diharapkan bisa menghasilkanmodel manajemen pembelajaran tahfidz yang sistematis, adaptif, dan berkualitas.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam, kontekstual, dan menyeluruh praktik manajemen pembelajaran tahfidz yang diterapkan di sekolah. Pendekatan studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti mengkaji secara rinci fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian pembelajaran tahfidz, termasuk peluang dan tantangan yang muncul dalam implementasinya[16]. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive, yaitu di SD Al Falah Darussalam Tropodo. Sekolah ini dipilih karena telah melaksanakan program pembelajaran tahfidz secara konsisten selama lebih dari lima tahun serta memiliki komitmen kelembagaan yang kuat dalam pengelolaannya. Karakteristik tersebut menjadikan sekolah ini relevan sebagai lokasi penelitian untuk mengkaji manajemen pembelajaran tahfidz secara komprehensif. Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pihak-pihak yang dinilai memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam manajemen pembelajaran tahfidz. Informan dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pihak-pihak yang dinilai memiliki pengetahuan, kewenangan, dan keterlibatan langsung dalam manajemen pembelajaran tahfidz. Informan tersebut meliputi kepala sekolah sebagai penentu kebijakan strategis, manajer Al-Qur’an sebagai pengarah dan pengendali mutu program tahfidz, koordinator Al-Qur’an sebagai penanggung jawab teknis pelaksanaan, guru tahfidz sebagai pelaksana pembelajaran di kelas, serta orang tua atau wali siswa sebagai pihak pendukung pembinaan hafalan di rumah[17].

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada para informan dengan fokus pada pengelolaan pembelajaran tahfidz berdasarkan fungsi manajemen, meliputi perencanaan program, pembagian tugas, pelaksanaan pembelajaran, serta sistem evaluasi dan pengawasan. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran tahfidz di kelas reguler dan kelas tahfidz takhassus, termasuk aktivitas guru dan siswa, penerapan metode hafalan, serta dinamika pembelajaran harian. Studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data pendukung berupa jadwal pembelajaran, perangkat pembelajaran, buku mutaba‘ah, arsip evaluasi hafalan, serta data capaian ketuntasan hafalan siswa[16]. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses analisis dilakukan secara berkelanjutan sejak tahap pengumpulan data hingga akhir penelitian agar hasil analisis benar-benar mencerminkan kondisi empiris di lapangan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode, serta melakukan member check kepada informan guna memastikan kesesuaian data yang diperoleh. Selain itu, diskusi dengan sejawat dilakukan sebagai upaya meminimalkan subjektivitas peneliti dan meningkatkan kredibilitas temuan penelitian.

Hasil dan Pembahasan

A.Manajemen Pembelajaran Tahfidz

Manajemen merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Suhardi menjelaskan bahwa fungsi-fungsi manajemen tersebut saling berkaitan dan membentuk suatu siklus kerja manajemen dalam mengelola aktivitas organisasi[18]. Senada dengan itu, Machendrawaty menyatakan bahwa perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian merupakan fungsi utama manajemen yang digunakan untuk memastikan tujuan organisasi dapat dicapai secara optimal[19]. Berdasarkan kerangka tersebut, fungsi manajemen digunakan sebagai alat analisis untuk mengkaji praktik pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo.

Perencanaan pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo disusun melalui proses yang sistematis, kolaboratif, dan berorientasi pada visi lembaga. Berdasarkan hasil wawancara, rapat pengurus yayasan bersama direktur dan manajer Al-Qur’an menetapkan bahwa program tahfidz harus menjadi prioritas karena program tersebut dipandang penting bagi siswa serta selaras dengan visi, misi, dan citra lembaga sebagai institusi Qur’ani. Berdasarkan hasil wawancara, perencanaan dilakukan oleh tiga unsur utama, yaitu kepala sekolah sebagai penanggung jawab kebijakan, manajer Al-Qur’an sebagai pengarah program, dan koordinator Al-Qur’an sebagai pelaksana teknis. Ketiganya bekerja secara terkoordinasi untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan pembelajaran tahfidz berjalan sesuai arah lembaga dalam membentuk generasi Qur’ani yang berakhlak mulia. Pengelolaan yang terstruktur demikian sejalan dengan praktik manajemen tahfidz pada lembaga pendidikan Islam lain, di mana perencanaan menjadi bagian inti dalam keberhasilan program pembelajaran Al-Qur’an[1], [9].

Secara substansial, perencanaan program tahfidz di sekolah ini berangkat dari visi Qur’ani lembaga, yakni menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar dalam seluruh aktivitas pendidikan. Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk perencanaan operasional melalui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), panduan guru tahfidz, dan standar capaian hafalan. Dokumen-dokumen tersebut menjadi pedoman bagi guru dalam mengimplementasikan kegiatan hafalan dan penguatan karakter Qur’ani di kelas. Observasi lapangan menunjukkan bahwa dokumen tersebut tersedia dan digunakan secara aktif oleh para guru, menandakan bahwa perencanaan tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi diimplementasikan dalam kegiatan nyata, sebuah pendekatan yang juga diterapkan pada sekolah berbasis tahfidz di konteks yang sama[20], [21].

Selain penyusunan dokumen, aspek perencanaan juga mencakup penetapan target hafalan yang berbeda antara kelas reguler dan kelas tahfidz takhassus. Kelas reguler memiliki target capaian minimal dua juz, sedangkan kelas tahfidz takhassus menargetkan lima hingga sepuluh juz. Penetapan target yang berbeda ini menunjukkan adanya prinsip diferensiasi dalam perencanaan pembelajaran, yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi siswa. Pendekatan diferensiasi ini juga terbukti meningkatkan capaian hafalan pada penelitian serupa di lembaga tahfidz lainnya[22].

Dari sisi sumber daya manusia, sekolah menetapkan standar seleksi yang cukup ketat baik bagi guru maupun siswa. Guru tahfidz diprioritaskan yang telah menguasai hafalan 30 juz dan mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil. Pada tahap perencanaan, para guru juga mengikuti pembinaan di awal tahun untuk menyamakan pemahaman terkait pembinaan karakter, strategi penguatan motivasi, serta teknik setoran hafalan yang akan diterapkan selama pembelajaran berlangsung. Untuk calon siswa, sekolah mewajibkan tes tahsin sebagai syarat awal sebelum mereka masuk ke tahap pembelajaran hafalan. Ketentuan ini dimaksudkan agar proses menghafal dapat berjalan lebih efektif, karena siswa telah memiliki dasar kemampuan membaca yang memadai. Kebijakan seleksi tersebut menunjukkan pemenuhan standar kualitas SDM yang juga menjadi indikator kesuksesan program tahfidz pada institusi lain[9], [11]. Berdasarkan dokumentasi, kualifikasi guru dan data hasil seleksi siswa terdokumentasi dengan baik oleh koordinator Al-Qur’an.

Berdasarkan temuan penelitian, fungsi perencanaan (planning) dalam manajemen pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo telah dilaksanakan secara sistematis dan terarah. Perencanaan mencakup penetapan target hafalan, penyusunan perangkat pembelajaran, pengelolaan sumber daya manusia, serta diferensiasi program antara kelas reguler dan kelas tahfidz takhassus. Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tahfidz tidak hanya bersifat administratif, tetapi telah berfungsi sebagai instrumen manajerial yang mengarahkan pelaksanaan program sesuai dengan tujuan lembaga, sebagaimana ditegaskan dalam teori fungsi perencanaan manajemen[18], [19].

Pengorganisasian (organizing) merupakan fungsi manajemen yang bertujuan mengatur pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab agar kegiatan organisasi dapat berjalan secara efektif. Suhardi menjelaskan bahwa pengorganisasian yang baik akan menghasilkan struktur kerja yang jelas dan mencegah terjadinya tumpang tindih peran[18]. Machendrawaty juga menyatakan bahwa pengorganisasian diperlukan untuk menyatukan sumber daya manusia dan aktivitas kerja dalam satu sistem yang terarah[19]. Pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antara kepala sekolah, manajer Al-Qur’an, koordinator Al-Qur’an, dan guru tahfidz membuat supervisi, koordinasi dan pembelajaran tahfidz bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan target mutu yang ditetapkan. Kepala sekolah menetapkan arah kebijakan, manajer Al-Qur’an mengawasi mutu pembelajaran, koordinator mengatur teknis kegiatan dan komunikasi dengan orang tua, sedangkan guru melaksanakan pembelajaran dan pembinaan harian. Pola ini mencerminkan efisiensi kerja dan akuntabilitas dalam mencapai tujuan lembaga.

Struktur tersebut sejalan dengan model pengelolaan pembelajaran tahfidz di sekolah dasar Islam yang menempatkan setiap unsur dalam sistem fungsional yang saling melengkapi[20] serta diperkuat oleh temuan bahwa keberhasilan organisasi tahfidz sangat dipengaruhi oleh pembagian peran guru dan usur lain yang berjalan dalam kerangka struktur yang jelas[21]. Dalam konteks manajemen pendidikan Islam, efektivitas organisasi tidak hanya diukur dari pencapaian administratif, tetapi juga dari kemampuan sistem tersebut menjamin peningkatan spiritual dan karakter Qur’ani peserta didik[5], [22].

Komunikasi vertikal antara kepala sekolah, manajer, dan koordinator dilakukan secara rutin untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran, motivasi siswa, serta perkembangan karakter selama kegiatan hafalan. Sedangkan komunikasi horizontal terjalin antarguru tahfidz melalui forum koordinasi mingguan yang membahas perkembangan hafalan, hambatan muraja‘ah, dinamika motivasi siswa, serta strategi pembinaan adab di kelas. Pola komunikasi dua arah ini mencerminkan penerapan collaborative leadership yang memperkuat budaya profesional dan rasa tanggung jawab kolektif[1], [22].

Secara operasional, pengorganisasian diwujudkan melalui keberadaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Panduan Guru Tahfidz sebagai acuan kerja bagi guru dalam mengelola tahapan kegiatan, metode, dan target hafalan tiap semester. Kedua dokumen ini juga memuat panduan teknis mengenai strategi pembinaan motivasi dan internalisasi karakter sehingga proses pembelajaran tidak hanya berorientasi kognitif tetapi juga afektif. Dokumen tersebut memastikan bahwa kegiatan tahfidz berjalan dengan standar yang sama di seluruh kelas, termasuk pada kelas takhassus yang memerlukan intensitas pembinaan lebih tinggi dibandingkan kelas reguler, serta mendukung kesinambungan mutu pembelajaran[4], [7].

Selain itu, guru tahfidz dikelompokkan berdasarkan kompetensi, sedangkan siswa diklasifikasikan dalam kelas reguler atau takhassus sesuai hasil seleksi dan kemampuan tahsin. Diferensiasi ini tidak hanya berdampak pada penempatan siswa, tetapi juga memengaruhi pembagian guru, pola pendampingan, serta cara sekolah memantau motivasi belajar mereka. Pengelompokan tersebut menunjukkan adanya profesionalisme sekaligus bentuk adaptasi sistem pendidikan Islam dalam memenuhi kebutuhan setiap siswa[6]. Keterlibatan orang tua melalui buku mutaba‘ah harian turut memperkuat hubungan antara rumah dan sekolah. Melalui media ini, orang tua dan guru dapat memantau perkembangan hafalan sekaligus menjaga agar pembinaan motivasi dan karakter Qur’ani tetap berlangsung secara konsisten di kedua lingkungan.

Secara keseluruhan, desain organisasi yang terencana dan partisipatif ini menunjukkan kesesuaian dengan prinsip manajemen pendidikan Islam modern yang menekankan kolaborasi, akuntabilitas, dan keberlanjutan mutu[6], [20], [21]. Struktur yang jelas, koordinasi yang efektif, serta adanya RPP dan Panduan Guru Tahfidz yang juga memuat strategi pembinaan karakter dan motivasi, menjadikan pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo berjalan stabil, terukur, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik, baik pada kelas reguler maupun kelas takhassus. Dengan demikian, struktur dan pembagian peran dalam pembelajaran tahfidz dapat dipahami sebagai bentuk penerapan fungsi pengorganisasian yang efektif, karena mampu mengoordinasikan sumber daya manusia dan aktivitas pembelajaran secara terintegrasi.

Pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang berfokus pada upaya menggerakkan seluruh sumber daya agar rencana yang telah disusun dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Suhardi menyebutkan bahwa actuating berkaitan dengan pengarahan, motivasi, dan kepemimpinan agar anggota organisasi bekerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan[18]. Machendrawaty juga menegaskan bahwa pelaksanaan merupakan tahap penting untuk memastikan rencana dan struktur organisasi dapat berjalan secara efektif[19].

Pelaksanaan pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo merupakan implementasi langsung dari perencanaan yang telah dirancang sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan pembelajaran berlangsung setiap hari dengan jadwal yang teratur dan suasana yang kondusif. Kegiatan tahfidz dilaksanakan pada jam pelajaran pertama saat kondisi fisik dan psikis siswa masih optimal. Penempatan jadwal tahfidz di waktu terbaik ini juga diberlakukan oleh sekolah berbasis tahfidz lainnya untuk menjaga efektivitas hafalan[20], [21]. Dalam praktiknya, pelaksanaan pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian hafalan, tetapi juga pada penguatan karakter dan motivasi siswa. Pada tahap pembukaan, guru membimbing siswa membaca doa, menjaga adab terhadap mushaf, serta menyiapkan sikap mental yang baik sebelum menghafal. Pembiasaan adab ini merupakan bagian dari pembinaan karakter Qur’ani yang terintegrasi dalam seluruh rangkaian pembelajaran, sebagaimana juga diterapkan pada sekolah tahfidz lainnya[4], [7]. Kegiatan harian siswa di sekolah selalu ditanamkan nilai-nilai kebaikan seperti disiplin, sabar, tertib, dan hormat kepada guru. Nilai ini terlihat ketika siswa dengan tertib dan sabar dalam setor hafalan atau menjaga ketenangan dan ketertiban saat pembelajaran berlangsung. Pembiasaan yang rutin ini sangat efektif dalam membentuk karakter Qur’ani siswa.

Di SD Al Falah Darussalam, kelas takhasuss dilaksanakan dengan menyediakan sesi tambahan untuk pembelajaran jika dibandingkan denagn kelas reguler. Waktu sesi tambahan ini adalah setelah istirahat. Kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran intensif untuk memperdalam hafalan. Diferensiasi tersebut diberikan untuk mengakomodasi siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi, sekaligus membantu mereka mencapai target hafalan yang lebih besar, yakni antara lima hingga sepuluh juz. Strategi diferensiasi ini sejalan dengan model kelas tahfidz berjenjang pada sekolah lain yang menerapkan penyesuaian beban hafalan berdasarkan kemampuan peserta didik[23]. Hal ini selaras dengan temuan bahwa kelas tahfidz intensif membutuhkan jam belajar tambahan untuk mencapai target hafalan yang lebih besar[5].

Secara teknis, pelaksanaan pembelajaran terdiri atas beberapa tahapan kegiatan yang terstruktur, yaitu: pembukaan dengan doa bersama, tilawah satu halaman sebagai pembiasaan membaca yang baik, muraja‘ah hafalan sebelumnya, persiapan setoran hafalan baru secara madiri, ziyādah atau setoran hafalan baru secara bergiliran, melakukan muraja‘ah mandiri, menyelesaikan tugas menulis halaman atau ayat yang dihafal, dan pada penutup pembelajaran, guru memberikan koreksi, masukan, motivasi, tugas penguatan hafalan dan berdoa bersama. Pemberian motivasi dilakukan secara natural, berupa kisah para huffaz, penguatan verbal, atau penghargaan sederhana, yang terbukti meningkatkan semangat belajar dan daya juang siswa[1], [24]. Pola kegiatan yang teratur ini menunjukkan bahwa pembelajaran tahfidz telah mengikuti prinsip efisiensi waktu dan kesinambungan proses, sebagaimana praktik umum program tahfidz formal[11].

Metode utama yang digunakan meliputi talaqqi, tikrār, dan baca-simak. Metode talaqqi diterapkan ketika siswa menyetorkan hafalan baru di hadapan guru untuk dikoreksi. Metode tikrār digunakan sebagai penguatan hafalan melalui pengulangan berulang-ulang, sedangkan metode baca-simak dilakukan secara klasikal. Beragam metode tersebut juga direkomendasikan dalam penelitian terdahulu karena efektif membantu mempercepat hafalan dan meningkatkan ketepatan pelafalan ayat[3], [7].

Proses pendampingan oleh guru tahfidz menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru memberikan bimbingan personal kepada siswa yang mengalami kesulitan, baik dengan membacakan ayat terlebih dahulu maupun dengan memberikan strategi pengulangan yang sesuai. Pendampingan individual ini sangat terlihat pada kelas tahfidz takhassus yang menuntut bimbingan intensif untuk menjaga kualitas hafalan. Pendekatan personal terbukti berperan besar dalam membantu siswa mencapai target yang ditetapkan[5], [22].

Dalam kegiatan sehari-hari, sekolah menggunakan media sederhana seperti kartu hafalan, kartu muraja‘ah, dan rekaman murottal. Kartu hafalan digunakan untuk mencatat progres, sedangkan murottal membantu siswa memperbaiki makhraj dan tajwid di rumah. Pendekatan sederhana ini sejalan dengan hasil penelitian lain yang menyebutkan bahwa tahfidz tingkat dasar tidak harus bergantung pada media digital untuk mencapai efektivitas pembelajaran[11] dan didukung oleh temuan bahwa penggunaan kartu hafalan dan muraja’ah merupakan media sederhana yang efektif dalam pembelajaran tahfidz awal[7]. Selain itu sekolah juga memberikan kebiasaan harian di lingkungan sekolah seperti penyambutan siswa di gerbang dengan murottal Al-Qur’an, pembiasaan masuk masjid, wudhu, membaca Al-Ma’tsurat pagi, muroja‘ah sebelum doa dhuha, serta muroja‘ah menjelang Dzuhur dan Ashar. Pembiasaan ini memperkuat karakter Qur’ani dan menjaga stabilitas hafalan siswa.

Pelaksanaan yang konsisten, integrasi pembinaan karakter dan motivasi, penerapan diferensiasi kelas takhassus, serta penggunaan metode dan media yang relevan menunjukkan bahwa manajemen pelaksanaan pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo telah berhasil menggabungkan aspek spiritual, pedagogis, dan manajerial dalam satu sistem pendidikan yang utuh. Hal ini menegaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran tahfidz merupakan wujud nyata fungsi actuating, di mana perencanaan dan struktur organisasi diterjemahkan ke dalam tindakan pembelajaran yang terarah dan bermakna.

Dalam manajemen, evaluasi dan pengawasan merupakan bagian dari fungsi pengendalian (controlling), yaitu proses memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan standar yang telah ditetapkan. Suhardi menjelaskan bahwa controlling berfungsi sebagai alat pengendali mutu sekaligus dasar pengambilan tindakan perbaikan[18]. Machendrawaty juga menyatakan bahwa pengendalian diperlukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan dan efektivitas pelaksanaan kegiatan organisasi[19].

Evaluasi dan pengawasan pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo dilakukan secara berjenjang, terstruktur, dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer dan koordinator Al-Qur’an, sistem evaluasi yang diterapkan sekolah mencakup empat tingkatan. Pertama, evaluasi harian yang dilakukan melalui kegiatan setoran hafalan. Kedua, evaluasi setiap lima halaman atau tasmi‘ kecil untuk memastikan kesinambungan hafalan. Ketiga, evaluasi per juz sebagai tolok ukur capaian besar siswa. Keempat, evaluasi resmi yang diselenggarakan dua bulan sekali dengan melibatkan tim penguji internal sekolah. Hasil observasi menunjukkan bahwa mekanisme evaluasi ini berjalan konsisten dan menjadi bagian rutin dari aktivitas pembelajaran tahfidz. Struktur evaluasi berlapis seperti ini sejalan dengan temuan penelitian yang menyebutkan bahwa kontrol mutu hafalan membutuhkan mekanisme monitoring berkala dan terstandar[1], [21]. Mekanisme evaluasi berjenjang ini menunjukkan penerapan fungsi pengendalian yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dalam pembelajaran tahfidz.

Pada evaluasi harian, guru menilai kelancaran, ketepatan tajwid, dan ketahanan hafalan siswa. Penilaian tidak hanya mencakup aspek kognitif hafalan, tetapi juga indikator pembinaan karakter seperti kedisiplinan, ketekunan, dan kejujuran dalam proses muraja‘ah. Guru mencatat hasilnya dalam buku mutaba‘ah yang menjadi sarana komunikasi dengan orang tua. Integrasi aspek karakter dalam evaluasi harian selaras dengan praktik lembaga tahfidz yang menekankan pendidikan adab secara komprehensif[4], [7]. Sementara itu, evaluasi per lima halaman dan per juz bertujuan menilai ketuntasan hafalan siswa dalam rentang waktu tertentu. Evaluasi ini tidak hanya menjadi tolak ukur keberhasilan siswa, tetapi juga berfungsi sebagai bahan refleksi guru terhadap efektivitas metode yang digunakan. Evaluasi formatif dalam proses tahfidz menjadi bagian penting dalam perbaikan strategi pembelajaran dan pelacakan progres hafalan[21].

Tahun Ketuntasan Kelas Tahfidz Reguler (%) Ketuntasan Kelas Tahfidz Takhassus (%)
2021 68 100
2022 100 100
2023 74 100
2024 80
Table 1. Tabel 1. Persentase Ketuntasan Hafalan Siswa Kelas Tahfidz Reguler dan Takhassus

Berdasarkan Tabel 1, terlihat adanya perbedaan tingkat ketuntasan hafalan antara kelas reguler dan kelas tahfidz takhassus. Perbedaan ini menunjukkan bahwa variasi dalam perencanaan, intensitas pelaksanaan, serta sistem pengendalian berdampak langsung terhadap capaian hafalan siswa. Ketidaktuntasan pada kelas reguler tidak dipahami sebagai kegagalan, tetapi sebagai dasar bagi sekolah untuk melakukan penyesuaian strategi pembelajaran dan pendampingan siswa.

Keterlibatan orang tua merupakan bagian penting dalam sistem pengawasan hafalan. Orang tua mendampingi anak muraja‘ah, memutar murottal, membantu menyimak hafalan, dan menandatangani buku mutaba‘ah setiap hari. Temuan lapangan menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua meningkat signifikan pada siswa kelas takhassus karena target hafalan mereka lebih tinggi. Dokumentasi memperlihatkan bahwa tingkat konsistensi mutaba‘ah berkorelasi dengan stabilitas hafalan, selaras dengan studi empiris bahwa keterlibatan keluarga meningkatkan motivasi dan kualitas hafalan siswa[5], [25]. Keterlibatan orang tua tersebut memperluas fungsi pengendalian karena pengawasan hafalan tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga berlanjut di lingkungan keluarga.

Evaluasi juga diberikan kepada guru tahfidz lewat kegiatan rapat atau supervisi berkala. Kepala sekolah, manajer Al Qur’an, dan koordinator Al-Qur’an mengevaluasi dengan melihat sikap disiplin, metode pengajaran yang digunakan, dan ketepatan dalam mengajar. Evaluasi dilaksanakan pada rapat evaluasi bulanan yang menjadi wadah untuk mencari bahan pertimbangan dan evaluasi bersama sehingga tercipta pembelajaran tahfidz baik. Selain itu, terdapat rapat evaluasi tim Al Qur’an yang dilaksanakan setiap hari Kamis. Rapat ini digunakan untuk saling berkoordinasi dan bertukar pikiran guru tahfidz terkait pembelajaran. Kegiatan Rapat bulanan dan rutin ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebut performa guru yang terjaga merupakan bagaian penting dalam kualitas pembelajaran tahfidz[21]. Selain itu, dalam penelitian lain juga menyebutkan bahwa kualitas pembelajaran tergantung pada kebijakan supervisi guru[1]. Evaluasi terhadap guru tahfidz ini menunjukkan bahwa fungsi pengendalian tidak hanya diarahkan pada siswa, tetapi juga pada kinerja pendidik sebagai pelaksana pembelajaran.

Proses evaluasi di kelas takhasuss dilaksanakan dengan intensitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas reguler. Setoran hafalan dan muraja’ah pada kelas takhasuss dilaksanakan lebih banyak dan lama. Guru sangat aktif dalam mendampingi dan memperhatikan kualitas bacaan dan hafalan siswa. Hal ini dilakukan agar hafalan siswa terjamin kualitas bacaannya dan hafalannya. Diferensiasi pada proses evaluasi ini selaras dengan prinsip kelas berjenjang yang direkomendasikan secara nasional[6], [23]. Perbedaan intensitas evaluasi tersebut menegaskan bahwa sistem pengendalian disesuaikan dengan karakteristik dan target pembelajaran masing-masing kelas.

Secara umum, proses evaluasi dan pengawasan di SD Al Falah Darussalam Tropodo menunjukkan bahwa fungsi controlling dalam manajemen pendidikan berjalan dengan baik dan berpijak pada kebutuhan nyata di lapangan. Evaluasi tidak dipahami sekadar sebagai penilaian terhadap hasil hafalan, tetapi sebagai upaya untuk memastikan bahwa setiap langkah pembelajaran berlangsung dengan bermakna dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendekatan evaluasi dilaksanakan dengan membuat guru, siswa, dan orang tua saling berpartisipasi dalam proses perbaikan mutu pembelajaran. Proses evaluasi yang dilaksanakan dengan dialog, saling bertukar pikirian, serta pengawasan yang dilakukan secara bertahap membuat evaluasi menjadi sarana pengendalian kualitas pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an. Keberhasilan program jangka panjang dalam pembelajaran tahfidz sangat ditentukan oleh keberadaan proses evaluasi yang terus-menerus, adaptif, dan berdampak langsung pada kualitas output[21].

B.Peluang dalam Manajemen Pembelajaran Tahfidz

Manajemen pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo memiliki sejumlah peluang strategis yang memperkuat keberlanjutan dan mutu program. Komitmen kelembagaan menjadi peluang utama, terlihat dari keseriusan sekolah dalam menyiapkan guru tahfidz berkualitas, perangkat ajar lengkap, serta budaya sekolah yang berbasis nilai Qur’ani. Pola ini sejalan dengan temuan bahwa lembaga yang memiliki dukungan kelembagaan kuat umumnya mampu menghasilkan program tahfidz yang lebih stabil dan terencana[1], [26].

Ketersediaan guru tahfidz yang memiliki kompetensi bacaan dan hafalan baik merupakan modal penting, karena kualitas guru terbukti sangat menentukan keberhasilan hafalan siswa. Lingkungan sekolah yang religius, tertib, dan kondusif juga memperluas peluang terciptanya proses pembelajaran yang efektif, sebagaimana dijumpai pada sekolah Islam yang menerapkan sistem tahfidz terpadu[27]. Hal ini didukung oleh data bahwa kualifikasi guru termasuk kemampuan membaca Qur’an dan pengalaman menghafal menjadi prasyarat utama efektivitas pembelajaran tahfidz dan bahwa sekolah tahfiz modern selalu menanamkan budaya religius yang kuat sebagai fondasi pembelajaran[1], [6].

Dukungan orang tua melalui mutaba‘ah harian menjadi peluang signifikan. Keterlibatan keluarga terbukti meningkatkan motivasi belajar, konsistensi muraja‘ah, serta ketahanan hafalan siswa[1], [28]. Karakteristik siswa yang menunjukkan minat tinggi terhadap tahfidz menambah peluang, terutama karena banyak siswa berpotensi menembus jalur prestasi tahfidz seperti beasiswa, perlombaan, dan jalur penerimaan peserta didik baru berbasis hafalan. Di sisi kelembagaan, program tahfidz takhassus menambah peluang pengembangan sekolah. Program ini tidak hanya meningkatkan capaian hafalan hingga lima sampai sepuluh juz, tetapi juga memperkuat citra sekolah sebagai institusi dengan keunggulan khusus bidang tahfidz. Program diferensiasi seperti ini berfungsi sebagai strategi pengayaan yang terbukti meningkatkan prestasi dan menumbuhkan budaya kompetitif sehat[1], [27]. Secara keseluruhan, peluang-peluang tersebut memberikan dasar manajerial yang kuat untuk mempertahankan kesinambungan program tahfidz, meningkatkan prestasi siswa, serta memperluas reputasi sekolah sebagai lembaga pendidikan dasar berbasis tahfidz yang unggul dan kompetitif.

C.Tantangan dalam Manajemen Pembelajaran Tahfidz

Di balik sejumlah peluang, terdapat berbagai tantangan yang memerlukan strategi manajerial adaptif. Tantangan utama adalah heterogenitas kemampuan membaca dan menghafal siswa. Temuan di beberapa sekolah dasar Islam menunjukkan bahwa variasi kemampuan membaca dapat memperlambat proses hafalan dan membutuhkan pendampingan intensif[28]. Penelitian lain juga menunjukkan mengenai pola kemampuan awal membaca Al-Qur’an yang berpengaruh langsung terhadap kecepatan hafalan[1]. Kondisi ini juga tampak pada kelas reguler, di mana sebagian siswa memerlukan waktu lebih lama untuk tahsin sebelum masuk tahap hafalan. Keterbatasan waktu belajar menjadi tantangan berikutnya, terutama karena siswa harus menyeimbangkan pembelajaran umum dan tahfidz. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa benturan jadwal dan beban akademik dapat mengganggu konsistensi muraja‘ah siswa di rumah[1], [29]. Ketidakseimbangan ini perlu dikelola melalui penjadwalan fleksibel dan penguatan komunikasi sekolah dengan orang tua.

Tantangan lain muncul dari implementasi program tahfidz takhassus yang membutuhkan guru pendamping kompeten dan ketersediaan waktu bimbingan dua kali sehari. Keterbatasan SDM dapat mengganggu stabilitas program, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian bahwa keberhasilan tahfidz sangat bergantung pada kompetensi dan ketersediaan guru[26], [27]. Keterlibatan orang tua yang tidak merata juga menjadi tantangan. Sebagian keluarga tidak dapat mendampingi anak secara rutin, sehingga progres hafalan kurang stabil. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pendampingan keluarga menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam pembelajaran tahfidz di lembaga pendidikan dasar[28]. Hal ini juga didukung oleh temuan bahwa variasi keterlibatan keluarga berdampak signifikan terhadap stabilitas muraja‘ah dan motivasi siswa[1]. Dari sisi teknis administratif, pengelolaan data hafalan, dokumentasi evaluasi, serta penjadwalan kegiatan sering kali menjadi beban tersendiri bagi guru. Temuan lapangan pada beberapa madrasah menunjukkan bahwa beban administratif yang berat dapat menurunkan fokus guru dalam membimbing hafalan[1], [29]. Secara menyeluruh, tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pembelajaran tahfidz memerlukan strategi komprehensif pada aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Kolaborasi yang kuat antara sekolah, guru, orang tua, serta dukungan kelembagaan jangka panjang menjadi kunci untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan program tahfidz di tingkat sekolah dasar.

Simpulan

Manajemen pembelajaran tahfidz di SD Al Falah Darussalam Tropodo dilaksanakan melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian secara terstruktur. Perencanaan tercermin dalam penetapan target hafalan dan penyusunan perangkat pembelajaran, pengorganisasian tampak pada pembagian peran yang jelas antarunsur sekolah, pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan tahfidz harian yang terstruktur, serta pengendalian dijalankan melalui sistem evaluasi dan monitoring berjenjang. Hasil pengendalian menunjukkan adanya perbedaan capaian ketuntasan antara kelas reguler dan kelas tahfidz takhassus. Kelas tahfidz takhassus memiliki tingkat ketuntasan yang konsisten, sedangkan kelas reguler menunjukkan capaian yang fluktuatif. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa variasi dalam perencanaan, intensitas pelaksanaan, dan sistem pengendalian berdampak langsung terhadap hasil pembelajaran tahfidz. Ketidaktuntasan pada sebagian siswa kelas reguler dipahami sebagai dasar evaluasi manajerial untuk perbaikan strategi pembelajaran, bukan sebagai kegagalan pembelajaran. Peluang dalam manajemen pembelajaran tahfidz meliputi komitmen kelembagaan yang kuat, ketersediaan guru tahfidz yang kompeten, dukungan orang tua, serta keberadaan kelas tahfidz takhassus sebagai program unggulan. Adapun tantangan yang dihadapi mencakup heterogenitas kemampuan siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, variasi keterlibatan orang tua, serta kebutuhan pendampingan intensif. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran tahfidz sangat ditentukan oleh pengelolaan manajemen yang adaptif dan berkelanjutan.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada SD Al Falah Darussalam Tropodo atas izin dan dukungan penuh selama penelitian ini, serta kepada kepala sekolah, manajer, koordinator, guru Al-Qur’an, dan orang tua siswa atas kontribusi data yang diberikan. Dukungan administrasi dan fasilitas dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo turut memfasilitasi terselenggaranya penelitian ini dengan lancar.

References

S. Muawanah, A. Said, R. Furqoni, U. Muzayanah, and Mustolehudin, “Evaluating Mandatory Tahfiz Quran Program Implementation at Madrasah,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 8, no. 2, pp. 239–254, Dec. 2022, doi: 10.15575/jpi.v8i2.20330.

F. Chaniago, A. R. Sulaeman, M. R. Kurnia, and A. H. Syafruddin, “Tahfidz Al-Qur’an: A Study of Learning Management at Integrated Islamic Junior High School,” Jurnal Islamic Educational Management, vol. 9, no. 2, pp. 115–128, 2024, doi: 10.15575/isema.v9i2.40137.

R. Saragih, M. Mesiono, and I. Nasution, “The Management of Tahfidz Al-Qur’an Learning at Homeschooling Public Learning Center,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 6, no. 3, pp. 537–547, Nov. 2021, doi: 10.31538/ndh.v6i3.1704.

T. Alwi, K. Badaruddin, and F. Febriyanti, “Pelaksanaan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an dalam Membentuk Karakter Islami Siswa,” Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 3, pp. 756–766, Aug. 2023, doi: 10.31538/munaddhomah.v4i3.466.

E. Suryana, U. Supriadi, M. Fikri, A. Efriani, and S. Langputeh, “Exploring Memorization Patterns in the Tahfidz and Tarjamah Qur’an Programs,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 10, no. 2, pp. 375–386, Dec. 2024, doi: 10.15575/jpi.v10i2.29969.

J. Jahroni, “The Rise of Tahfiz Schools in Contemporary Indonesia,” Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, vol. 31, no. 1, pp. 1–35, 2024, doi: 10.36712/sijis.v31i1.34120.

Prayoga, R. S. Noorfaizah, Y. Suryana, and M. Sulhan, “Manajemen Pembelajaran Tahfidzul Quran Berbasis Metode Yaddain di MI Plus Darul Hufadz Sumedang,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 140–156, Sep. 2019, doi: 10.31538/ndh.v4i2.326.

M. Murniyanto and S. Siswanto, “Tahfidz Learning Management at Pesantren-Based Higher Education,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 6, no. 3, pp. 814–825, Jun. 2022, doi: 10.33650/al-tanzim.v6i3.3481.

S. Sulastri, N. A. Wiyani, and R. S. Anam, “Management of Tahfidz Quran Programs in Shaping Elementary Students’ Character,” el-Tarbawi, vol. 17, no. 1, pp. 41–62, Sep. 2024, doi: 10.20885/tarbawi.vol17.iss1.art3.

N. M. S. A. Nik Abdullah, F. S. M. Sabbri, and R. A. M. Isa, “Exploring Student Motivation in Quranic Memorization in Selected Islamic Secondary Schools (a Case Study),” Al-Hayat: Journal of Islamic Education, vol. 5, no. 1, pp. 100–112, Jun. 2021, doi: 10.35723/ajie.v5i1.161.

N. V. Zulvani, B. B. Wiyono, and A. F. Ubaidillah, “Actualization of Learning Management in Increasing the Effectiveness of Memorization at the Tahfidz Tarbiyatul Qur’an Lawang Islamic Boarding School,” Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 45–58, 2025, doi: 10.29240/jsmp.v9i1.11437.

Nur Sofiana, D. Rizqa Tamia, and M. Adawiyah, “Teacher Management Strategies for Enhancing Hafizh Al-Qur’an Competence in the Digital Era,” el-Tarbawi, vol. 17, no. 2, pp. 120–135, 2024, doi: 10.20885/tarbawi.vol17.iss2.art3.

M. A. Scheirer, “Is Sustainability Possible? A Review and Commentary on Empirical Studies of Program Sustainability,” American Journal of Evaluation, vol. 26, no. 3, pp. 320–347, Sep. 2005, doi: 10.1177/1098214005278752.

M. C. Shediac-Rizkallah and L. R. Bone, “Planning for the Sustainability of Community-Based Health Programs: Conceptual Frameworks and Future Directions for Research, Practice and Policy,” Health Education Research, vol. 13, no. 1, pp. 87–108, Mar. 1998, doi: 10.1093/her/13.1.87.

Al Asy’ari and R. S. El Syam, “The Relationship Between Perpendicular Management and Mastery of Memorizing Al-Qur’an in Haflah Khatmil Qur’an Activities,” Al-Hayat: Journal of Islamic Education, vol. 8, no. 1, pp. 256–268, Jan. 2024, doi: 10.35723/ajie.v8i1.327.

E. Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Aplikasi Disertai Contoh Proposal), 1st ed. Yogyakarta, Indonesia: LP2M Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Press, 2020.

F. Nasution, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: CV. Harfa Creative, 2023.

Suhardi, Pengantar Manajemen dan Aplikasinya. Yogyakarta, Indonesia: Gava Media, 2018.

N. Machendrawaty, Pengantar Ilmu Manajemen. Bandung, Indonesia: CV. Mimbar Pustaka, 2019.

Rizki, “Learning Methodology of Tahfiz Al-Qur’an in Islamic Elementary School,” Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, vol. 5, no. 1, pp. 832–848, Jul. 2023, doi: 10.37680/scaffolding.v5i1.3028.

M. Ayyusufi, A. Anshori, and M. Muthoifin, “Evaluation of the CIPP Model on the Tahfidz Program in Islamic Boarding Schools,” Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 466–484, May 2022, doi: 10.31538/nzh.v5i2.2230.

Nurkholis, “The Principal’s Policy in Improving the Quality of Learning Based on Tahfidz Al-Qur’an at SDI Bustanu Usyuqil Qur’an (BUQ) Lesmana Ajibarang Banyumas,” Fikrotuna: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam, vol. 14, no. 2, pp. 101–115, Oct. 2024, doi: 10.58230/27454312.1087.

M. Mubarok, Ismail, and M. K. Ali, “Tahfidzul Qur’an Learning Innovation Takhassus Tahfidz Class Based on Personalized Mentorship Program,” Jurnal Iqra': Kajian Ilmu Pendidikan, vol. 10, no. 1, pp. 50–65, Apr. 2025.

T. Taufikin, M. A. Fathoni, S. Rahmawati, and A. N. Hidayat, “Parental Emotional Reinforcement-Demands, and the Intrinsic Motivation of Santri in Qur’anic Memorization: A Study in Indonesian Islamic Boarding Schools,” Indonesian Journal on Learning and Advanced Education (IJOLAE), vol. 7, no. 3, pp. 427–444, Sep. 2025, doi: 10.23917/ijolae.v7i3.11193.

M. Hasanah, “The Role of Parents in Children Memorizing the Qur’an in Middle School Based on the Amanatul Ummah Islamic Boarding School,” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education, vol. 2, no. 2, pp. 139–156, Jul. 2021, doi: 10.31538/tijie.v2i2.43.

M. Jannah, Yusrizal, and Khairuddin, “The Principal’s Strategy in Implementing the Tahfidzul Qur’an Program,” Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, vol. 15, no. 3, pp. 3100–3112, Aug. 2023, doi: 10.35445/alishlah.v15i3.2495.

S. A. Lubis, A. Zein, and A. L. Limbong, “Model Tahfidz Alquran di SD Plus Jabal Rahmah Mulia Medan,” Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 11, no. 1, pp. 115–128, Feb. 2022, doi: 10.30868/ei.v11i01.1547.

Salam, Zuhri, and Sumaryati, “Analysis of Qur’an Memorization Learning Using the Talaqqi Method at MI Darul Ishlah: Evaluation and Challenges,” Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 14, no. 2, pp. 88–102, May 2025, doi: 10.30868/ei.v14i02.8266.

M. Yanto, “Management Problems of Madrasah Diniah Takmiliyah Awaliyah Rejang Lebong Old Religious Units in Memorizing Al-Qur’an Juz Amma,” Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 235–248, Jun. 2021, doi: 10.31538/nzh.v4i2.1433.